• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelayanan Publik Sektor Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pelayanan Publik Sektor Pendidikan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1

Policy Brief

Pelayanan Publik Sektor Pendidikan

◦ Tata Kelola Distribusi Guru Proporsional ◦

◦ Tata Kelola Bantuan Operasional Satuan Pendidikan ◦

◦ Tata Kelola Manajemen Berbasis Sekolah ◦

Tulisan ini bertujuan untuk menyampaikan pembelajaran dan rekomendasi berdasarkan penerapan konsep, pendekatan, dan pelaksanaan program tata kelola pelayanan publik di sektor pendidikan yang dilaksanakan oleh USAID-Kinerja dan mencakup tiga bidang:

 Tata Kelola Distribusi Guru Proporsional (DGP) yang dilaksanakan di enam kabupaten di empat provinsi (Aceh, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan).

 Tata Kelola Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) yang dilaksanakan di tiga kabupaten/kota di dua provinsi (Aceh dan Sulawesi Selatan).

 Tata Kelola Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Berorientasi Pelayanan Publik yang dilaksanakan di sembilan kabupaten/kota di empat provinsi (Aceh, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan). Pengalaman Program Kinerja ini diharapkan dapat dijadikan salah satu acuan untuk penyusunan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan publik, khususnya di sektor pendidikan.

Hal ini sejalan dengan konsep Nawacita dan arah kebijakan nasional bidang pendidikan sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019 dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2015.

Konsep dasar program Kinerja adalah peningkatan mutu pelayanan publik yang prima dengan pendekatan yang transparan, akuntabel, partisipatif, dan responsif. Konsep dan

pendekatan tata kelola tersebut dilaksanakan melalui tiga pilar, yakni:

Membangun komitmen pemerintah (policy

advocacy);

Memperkuat penyedia layanan (supply side);

Memperkuat penerima layanan (demand

side).

Membangun komitmen pemerintah

Membangun komitmen pemerintah merupakan upaya pertama agar pelayanan publik dapat menjadi kebijakan pemerintah secara berkelanjutan, baik pusat maupun daerah. Kebijakan ini sebaiknya dituangkan ke dalam peraturan perundangan, perencanaan, dan penganggaran. Di era otonomi daerah sekarang ini, komitmen pemerintah daerah menjadi sangat penting karena pemerintah daerah merupakan ujung tombak pelayanan publik sehingga pemerintah daerah mempunyai mandat untuk merumuskan dan melaksanakan kebijakan pelayanan publik yang prima. Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati/Walikota menjadi instrumen yang efektif untuk menunjukkan bahwa pemerintah daerah mempunyai komitmen dalam peningkatan pelayanan publik. Komitmen dan kebijakan ini akan menjadi jelas ketika pemerintah daerah memasukkan program-program peningkatan pelayanan publik ke dalam perencanaan, baik jangka menengah (RPJMD, Renstra SKPD) maupun tahunan (Renja, RKA SKPD). Hal yang paling penting adalah implementasi, monitoring, dan tindak lanjut laporan hasil monitoring.

(2)

2

Untuk membangun komitmen pemerintah, Kinerja melaksanakan program-program advokasi kebijakan bersama masyarakat yang bernaung dalam forum multi stakeholder (MSF). Tujuannya adalah agar pemerintah, khususnya pemerintah daerah mempunyai kepedulian terhadap peningkatan mutu pelayanan publik dan mendorong munculnya kebijakan nyata di daerah-daerah mitra.

Penguatan pemberi pelayanan

Penguatan pemberi pelayanan dibutuhkan untuk menjamin pelayanan pendidikan kepada masyarakat, orangtua, dan murid disediakan sesuai kebutuhan dan standar pelayanan tertentu yang diatur dalam peraturan perundangan. Dinas

Pendidikan mempunyai mandat untuk menyediakan guru yang mempunyai kompetensi dan anggaran yang cukup untuk setiap unit pelayanan pendidikan (sekolah). Tanpa guru yang cukup dan kompetensi yang memadai, pelayanan pendidikan bermutu sesuai standar, khususnya dalam proses pembelajaran, tidak pernah akan terwujud. Tanpa anggaran yang cukup, sekolah tidak akan mampu menyelenggarakan program dan kegiatan sekolah sehingga penyediaan pelayanan pendidikan menjadi tidak sesuai dengan standar pelayanan minimal dan tidak akan pernah mencapai standar nasional pendidikan.

Kinerja melaksanakan program penguatan penyedia pelayanan di tingkat kabupaten/kota dan di tingkat unit-unit pelayanan. Di tingkat kabupaten/kota Kinerja memperkenalkan pentingnya tata kelola pendidikan untuk meningkatkan mutu pelayanan publik kepada jajaran pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan dan Bappeda. Di bidang tata kelola distribusi guru, Kinerja mendampingi pemerintah daerah dalam penghitungan distribusi guru berdasarkan data yang valid dan mutakhir.

Hasil penghitungan kemudian ditindaklanjuti dengan penyusunan rekomendasi tentang distribusi guru secara proporsional yang ditujukan kepada pengambil keputusan, yakni

Bupati/Walikota. Di beberapa daerah mitra Kinerja, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu, dan Kabupaten Barru, pimpinan daerah telah mengeluarkan Peraturan Bupati tentang Pemerataan dan Penataan Guru PNS berdasarkan hasil penghitungan dan rekomendasi teknis tersebut. Pelaksanaan distribusi guru kemudian dilaksanakan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran pemerintah daerah. Pada tahun 2013 Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu Utara telah memindahkan 128 guru dari sekolah-sekolah dasar yang berkelebihan guru. Setahun kemudian memindahkan57 guru SMP dan SMA.

(3)

3

Begitu juga di bidang tata kelola BOSP. Kinerja mendampingi pemerintah daearah dalam penghitungan kebutuhan per siswa per tahun. Penghitungan ini didasarkan pada tujuan pencapaian standar pelayanan minimal dan standar nasional pendidikan. Hasil penghitungan biaya satuan pendidikan, termasuk kesenjangan antara jumlah biaya yang dibutuhkan dan pembiayaan dari sumber-sumber yang tersedia (BOS), kemudian direkomendasikan kepada pimpinan daerah untuk dijadikan dasar pengambilan kebijakan menutup kesenjangan pembiayaaan tersebut.

Di Kabupaten Bulukumba, pemerintah daerah telah mengeluarkan Peraturan Bupati untuk memayungi kebijakan pengalokasian dana tambahan untuk setiap sekolah. Demikian juga di Kabupaten Simeulue dan Kota Banda Aceh yang telah mengeluarkan Peraturan Bupati/ Walikota, pemenuhan kebutuhan pembiayaan sekolah dilaksanakan secara bertahap. Ketiga daerah tersebut sudah mengalokasikan dana tambahan ke sekolah-sekolah yang bersumber dari APBD untuk memenuhi kesenjangan pendanaan program sekolah.

Di bidang MBS berorientasi pelayanan publik, Kinerja mendorong sekolah-sekolah agar menyelenggarakan kegiatan sekolah berdasarkan pencapaian standar pelayanan serta masukan-masukan dan pengaduan dari murid dan orangtua/wali murid. Pengaduan-pengaduan ini diperoleh melalui survei pengaduan yang dilaksanakan dengan melibatkan ratusan responden masyarakat. Kinerja juga mendorong munculnya kebijakan di tingkat kabupaten/kota agar program MBS berorientasi pelayanan publik dapat diadopsi dan disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya. Di Kota Singkawang, Dinas Pendidikan telah mulai menyebaluaskan praktik-praktik baik MBS berorientasi pelayanan publik ke sekolah-sekolah lain dan merencanakan akan mencakup seluruh sekolah di kota itu. Di Kota Probolinggo, pemerintah kota telah mengeluarkan kebijakan untuk menerapkannya di semua sekolah secara bertahap. Demikian juga pemerintah daerah mitra Kinerja lainnya seperti Kabupaten Barru, Kabupaten Bener Meriah, dan Kabupaten Melawi. Bahkan Kabupaten Sambas, yang

bukan daerah mitra Kinerja untuk MBS, juga tertarik dan telah mulai mengadopsi program MBS berorientasi pelayanan publik melalui pelatihan untuk Kepala Sekolah dan Komite Sekolah yang didanai dari sumebr APBD. Penguatan pengguna pelayanan

Sisi pengguna pelayanan juga perlu untuk diperkuat sehingga dapat mendorong penyedia pelayanan menyediakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan. Pengguna layanan mempunyai hak untuk memperoleh informasi yang benar tentang data dan kegiatan yang diselenggarakan oleh penyedia pelayanan. Pengguna layanan juga berhak atas kesempatan untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan program dan kegiatan di semua tahapan: perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Untuk menjamin agar masyarakat dapat ikut serta secara efektif dalam penyelenggaraan pelayanan pendidikan, Kinerja melaksanakan program penguatan forum multi stakeholder melalui pelatihan, pendampingan, dan mendorong terjadinya kerjasama antara forum dan pemerintah yang berkaitan dengan program DGP, BOSP, dan MBS.

Pada program DGP dan BOSP, forum multi stakeholder berperan dalam:

 Penghitungan sebaran guru dan biaya satuan di setiap sekolah;

 Penyusunan rekomendasi teknis distribusi guru;

 Konsultasi publik kebijakan distribusi guru;

 Pengawalan hingga diterbitkannya regulasi dan petunjuk teknis pelaksanaannya.

Pada program MBS berorientasi pelayanan publik, forum multi stakeholder diwakli oleh Komite Sekolah berperan antara lain dalam hal:

 Penyusunan rencana kerja sekolah (RKS dan RKAS);

 Menyeleggarakan survei pengaduan masyarakat;

 Pengawasan tindak lanjut hasil survei pengaduan;

 Penggalangan dana masyarakat dan dunia industri.

(4)

4

Tata Kelola Distribusi Guru Proporsional

Distribusi guru menjadi isu penting dalam upaya

pemerataan akses dan mutu pendidikan di tanah air sehingga Pemerintah Pusat mengeluarkan Surat Keputusan Bersama 5 Menteri Tahun 2011 tentang Penataan dan Pemeraaan Guru Pegawai Negeri Sipil. Tulisan hikmah pembelajaran ini bertujuan untuk memberi masukan kepada pengambil keputusan, khususnya Pemerintah Kabupaten/Kota untuk menerapkan kebijakan yang dapat memecahkan masalah ketimpangan distribusi guru antar sekolah dan wilayah. Masukan ini didasarkan pada pengalaman Program Kinerja yang membantu enam kabupaten/kota dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan distribusi guru sehingga pelayanan publik bidang pendidikan menjadi lebih merata dan meningkat mutunya.

Ketidakmerataan distribusi guru dan dampaknya

Karakteristik geografis Indonesia menyebabkan distribusi guru antar wilayah tidak merata. Secara geografis, Indonesia memiliki berbagai wilayah sulit yang dikenal dengan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Pada umumnya guru enggan ditempatkan dan bertugas di daerah-daerah tersebut dalam jangka waktu yang lama. Di daerah-daerah itu moda transportasi dan fasilitas hidup – terutama tempat tinggal dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok – sangat terbatas. Akibatnya, guru cenderung terkonsentrasi di daerah-daerah nyaman. Di sisi lain, di daerah-daerah perkotaan pun ketidak-merataan guru antar sekolah kerap terjadi yang disebabkan oleh penempatan dan penataan guru yang lebih didasarkan pada pertimbangan politis dibandingkan kebutuhan sekolah.

Dalam hal penyebaran guru , rasio guru-murid yang rendah, khususnya di tingkat sekolah dasar, tidak otomatis berarti bahwa semua sekolah memiliki jumlah guru yang diperlukan. Bahkan masih banyak sekolah yang kekurangan guru, terutama di daerah terpencil, daerah perbatasan, dan daerah tertinggal. Sebagian besar kabupaten/kota tidak memiliki sistem manajemen guru yang efektif untuk menganalisis kekurangan dan kelebihan guru secara cermat di setiap sekolah. Dinas Pendidikan cenderung

memberi perhatian lebih pada kekurangan guru dibandingkan kelebihan guru.

Ketidakmerataan guru mempunyai dampak negatif pada dua hal. Pertama, pelayanan publik bidang pendidikan di sekolah-sekolah yang kekurangan guru menjadi tidak maksimal karena pada jam pelajaran banyak kelas dibiarkan kosong tanpa kegiatan belajar, kriteria ketuntasan mengajar tidak tercapai, dan akhirnya kompetensi murid menjadi rendah. Kedua, guru-guru yang bertugas di sekolah-sekolah yang berkelebihan guru menjadi tidak aktif dan tidak dapat memenuhi jumlah jam mengajar sesuai standar (24 jam per minggu) karena harus berbagi dengan guru lainnya. Keadaan ini menimbulkan kerugian pada guru karena berpengaruh pada pengembangan karir guru, yakni sertifikasi dan kenaikan pangkat yang mensyaratkan terpenuhinya jam mengajar. Sementara itu dapat diasumsikan bahwa peningkatan jumlah guru akan menunjukkan jumlah murid per rombongan belajar menjadi kecil dan dengan demikian proses pembelajaran lebih efektif. Ada dua aspek terkait dengan situasi tersebut yang memerlukan eksplorasi lebih lanjut, yakni pengangkatan guru baru dan redistribusi guru. Dalam era desentralisasi, tanggung jawab pengangkatan guru menjadi urusan pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah pusat berwenang menetapkan kuota jumlah guru PNS. Kuota untuk guru PNS di semua jenjang sekolah terus meningkat dan menyebabkan terus meningkatnya jumlah guru, terutama di tingkat bsekolah dasar. Untuk sebagiannya, peningkatan ini disebabkan oleh perubahan status guru honorer menjadi guru PNS. Logikanya, hal ini akan menyebabkan menurunnya jumlah guru non-PNS. Namun, kenyataannya di sekolah-sekolah di daerah pedesaan dan terpencil masih banyak ditemukan guru yang berstatus honorer, baik yang dibayar oleh pemerintah daerah, maupun oleh sekolah sendiri.

Pelimpahan wenangan pengelolaan guru ke pemerintah daerah belum disertai dengan peningkatan kapasitas untuk pengelolaan guru, khususnya berkaitan dengan analisis kebutuhan

(5)

5

nyata di setiap tingkat dan jenis sekolah. Hal ini tercermin dari masih banyaknya daerah yang berkelebihan guru kelas (dilihat dari rasio guru untuk jumlah kelas) di tingkat SD, dan guru mata pelajaran tertentu di tingkat SMP dan SMA jika dilihat dari jumlah rombongan belajar dan beban mengajar guru. Padahal saat ini dapat diasumsikan bahwa jumlah anak usia sekolah dasar cenderung terus menurun turun.

Jelaslah bahwa kelebihan guru menyebabkan inefisiensi penggunaan sumber daya. Dalam konteks ini perlu dicatat bahwa banyak kabupaten mengalokasikan dana di sektor pendidikan sekitar 30% sampai 40% dari total anggaran daerah, dan 80% sampai 85% dari porsi itu digunakan untuk membayar gaji/honor dan tunjangan guru.

Kebijakan saat ini

Untuk mengatasi kekurangan guru di daerah 3T, Pemerintah Pusat meluncurkan program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia yang meliputi Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T), Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi dengan Kewenangan Tambahan (PPGT), Kuliah Kerja Nyata di Daerah 3T, Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi Kolaboratif (PPGT Kolaboratif), dan S-1 Kependidikan dengan Kewenangan Tambahan (S-1 KKT). Program-program tersebut memang merupakan jawaban untuk mengatasi berbagai permasalahan pendidikan di daerah 3T. Namun, semua program tersebut merupakan program jangka pendek yang tidak menjawab persoalan lokalitas dan keberlanjutan. Program ini juga menimbulkan masalah baru dalam hal penataan guru di tingkat kabupaten/kota. Pemerintah daerah cenderung lebih mengandalkan pasokan guru dari Pemerintah Pusat dibandingkan mengurai masalah kekurangan dan ketidakmerataan guru serta menemukan solusi dengan mengangkat, menempatkan, dan menata guru secara mandiri sesuai tanggungjawab otonomi pengelolaan pendidikan di daerah.

Program distribusi guru proporsional Kinerja

Dalam bidang distribusi guru, Kinerja membantu enam daerah mitra bersama para pemangku kepentingan dalam:

 Penghitungan dan analisis penyebaran guru;

 Penyusunan rekomendasi kebijakan dan teknis pelaksanaan distrubusi secara proporsional;

 Pelaksanaan inovasi dalam distribusi guru secara proporsional.

Sebagaimana telah disinggung di depan, pendekatan yang digunakan Kinerja dalam program ini adalah transparan, akuntabel, partisipatif, dan responsif. Pengalaman di beberapa daerah menunjukkan bahwa program distribusi guru tidaklah populer dan mempunyai tantangan tersendiri yang kadangkala sulit dihadapi oleh penyelenggara pendidikan. Banyak penolakan dari pihak guru ketika hendak dipindahkan. Pemindahan guru yang dilakukan secara transparan akan menghindari penolakan tersebut. Pemerintah daerah harus menjelaskan secara terbuka kepada guru dan para pemangku kepentingan tentang kondisi sebaran guru, masalah yang ditimbulkannya, dan rencana pemecahannya. Pelibatan guru dan pemangku kepentingan dalam proses distribusi guru menjadi penting.

Kinerja mendorong pemerintah daerah untuk melaksanakan program distribusi guru secara bertanggung jawab. Semua biaya program ditanggung oleh pemerintah daerah, termasuk penyediaan insentif untuk guru yang dipindahkan bilamana diperlukan. Pemerintah daerah juga perlu tanggap terhadap keluhan masyarakat, terutama orangtua/wali murid, tentang ketersediaan guru di sekolah. Tanggapan juga perlu diberikan kepada guru yang dipindahkan ketika menghadapi kesulitan-kesulitan di tempat tugas yang baru.

Proses distribusi guru

Pendampingan Kinerja bersama organisasi mitra dalam program tata kelola distribusi guru proporsional dilaksanakan melalui proses sebagai berikut:

 Pembentukan Tim;

 Penghitungan kondisi sebaran guru antar sekolah dan wilayah;

 Rekomendasi kebijakan;

 Uji publik kebijakan;

(6)

6

 Penetapan kebijakan dan penerbitan regulasi;

 Penyusunan petunjuk teknis;

 Monitoring dan evaluasi.

Seluruh proses tersebut dilaksanakan dengan memegang prinsip-prinsip:

 Dilaksanakan secara transparan dan akuntabel;

 Melibatkan instansi terakit di luar Dinas Pendidikan (Bappeda, BKD, Bagian Keuangan, Bagian Hukum, DPRD);

 Melibatkan forum multi stakeholder;

 Pendampingan intensif.

Hasil yang diharapkan

Diharapkan proses pendampingan tata kelola distribusi guru dapat menghasilkan:

 Data sebaran guru yang, valid, dan mutakhir;

 Analisis distribusi guru di seluruh kecamatan di kabupaten/kota mitra;

 Rekomendasi teknis distribusi guru proporsional;

 Rencana kerja distribusi guru proporsional;

 Skema insentif bagi guru yang ditempatkan di daerah „terpencil‟;

 Peraturan Bupati/Walikota;

 Petunjuk teknis pelaksanaan distribusi guru proporsional;

 Implementasi distribusi guru secara proporsional sesuai rekomendasi teknis;

 Keberlanjutan program dengan dukungan forum multi stakeholder;

 Replikasi praktik-praktik yang baik oleh kabupaten/kota lainnya.

Hasil yang dicapai

Selama sekitar tiga tahun melaksanakan pendampingan program distribusi guru di enam kabupaten mitra, hasil-hasil yang telah dicapai meliputi:

 Semua kabupaten mitra telah melaksanakan penghitungan dan analisis sebaran guru secara

transparan dan partisipatif menggunakan data guru yang valid dan mutakhir;

 Enam kabupaten mitra telah menerbitkan Peraturan Bupati, yakni Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu, Kabupaten Barru, dan Kabupaten Aceh Singkil;

 Kabupaten Luwu Utara telah melaksanakan mutasi 128 guru SD yang kemudian diikuti oleh pemindahan 57 guru SMP dan SMA/SMK;

 Kabupaten Barru juga telah melaksanakan mutasi 326 guru dari semua jenjang sekolah

 Kabupaten Sambas dan Kabupaten Bondowoso sudah menerbitkan Petunjuk PelaksanaanPeraturan Bupati.

Replikasi Program Tata Kelola DGP

Selain melanjutkan dukungan teknis kepada kabupten mitra melalui organisasi mitra pelaksana dan konsultan paruh waktu, Kinerja mendorong kabupaten/kota non-mitra untuk mereplikasi praktik-praktik yang baik penerapan distribusi proporsional. Kinerja menyediakan bantuan teknis terbatas kepada pemerintah daerah yang ingin mereplikasi program ini. Untuk mendukung replikasi, Kinerja juga memperkuat organisasi mitra pelaksana sehingga siap digunakan oleh pemerintah daerah non-mitra. Sampai saat ini Program Tata Kelola DGP telah direplikasi oleh Kabupaten Sampang.

Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman pendampingan Kinerja di enam kabupaten mitra, dapat disimpulkan beberapa hal:

 Pada dasarnya pemerintah kabupaten mempunyai komitmen untuk melaksanakan program distribusi guru, namun membutuhkan perhatian dan bantuan teknis dari pihak luar;

 Distribusi guru dapat dilaksanakan jika proses penghitungan dan perumusan kebijakan dilakukan secara transparan dan partisipatif dengan melibatkan pihak-pihak terkait, termasuk masyarakat yang terhimpun dalam forum multi stakeholder.

 Untuk bisa berperan dalam proses tata kelola distribusi guru proporsional, kapasitas forum

(7)

7

multi stakeholder perlu diperkuat terlebih dahulu.

 Pengelolaan data guru belum berjalan dengan baik di banyak daerah sehingga proses penghitungan sebaran guru yang valid dan mutakhir memerlukan waktu yang cukup lama. Meskipun pemerintah telah menyediakan Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) sebagai sistem database pendidikan terpadu, namun implementasinya perlu terus ditingkatkan;

 Hasil penghitungan dan pemetaan distribusi guru berguna tidak hanya untuk pemerataan guru, namun juga dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan lainnya seperti penggabungan sekolah yang berdekatan, pembelajaran kelas rangkap bagi sekolah dengan jumlah murid sedikit, dan guru kunjung untuk sekolah di daerah sangat terpencil.

(8)

8

Tata Kelola Bantuan Operasional Satuan Pendidikan

Banyak daerah telah meluncurkan program

pendidikan gratis tanpa mengetahui dengan pasti jumlah dana yang dibutuhkan sekolah untuk menyelenggarakan program dan kegiatan yang berkaitan dengan pencapaian standar pelayanan minimal. Itulah sebabnya diperkirakan sekitar 70% sekolah belum mencapai standar pelayanan minimal yang diamanatkan oleh peraturan perundangan.

Bagi sekolah-sekolah yang dana operasional-nya tidak mencukupi, pernyataan sekolah gratis menyulitkan dalam upaya memperoleh dukungan dana dari sumber-sumber lain. Masyarakat beranggapan bahwa dengan program sekolah gratis pemerintah (pusat mapun daerah) telah mampu memenuhi seluruh kebutuhan pembiayaan sekolah.

Pada kenyataannya tidaklah demikian. Sebagai contoh, pada tahun 2012 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan meluncurkan program pendidikan gratis dengan mengalokasi dana sebesar Rp.48.000 per siswa per tahun untuk sekolah dasar. Padahal jumlah itu belum dapat menutup kesenjangan pembiayaan sekolah yang dari hasil penghitungan biaya operasional satuan pendidikan, membutuhkan total biaya Rp.837.000 per siswa per tahun.

Setelah dikurangi dana dari BOS (Rp.580.000) dan pemerintah provinsi, masih ada kesenjangan sebesar Rp.209.222.

Dengan demikian, penitungan BOSP menjadi besar manfaatnya. Bagi sekolah hasil penghitungan BOSP bermanfaat:

 Sebagai masukan untuk pedoman mengenai pembiayaan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005;

 Sebagai pedoman dalam penyusunan rencana dan anggaran sekolah dalam rangka pencapaian standar pelayanan publik, standar pelayanan minimal, dan standar nasional pendidikan;

 Sebagai bahan untuk mengkomunikasikan kebutuhan dana tambahan bagi biaya operasional sekolah dengan pihak-pihak yang berpotensi memberi dana seperti orangtua/ wali murid dan dunia usaha/dunia industri;

 Sebagai pendukung lancarnya proses kegiatan belajar mengajar sesuai dengan SPM dan SNP.

Manfaat penghitungan BOSP yang rinci bagi masyarakat/orangtua adalah sebagai informasi yang transparan dan mudah dimengerti tentang (1) biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh sekolah agar dapat memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu (sesuai standar), dan (2) besarnya dana tambahan yang masih dibutuhkan sekolah untuk menutupi biaya operasionalnya, jika pendapatan sekolah dari pemerintah dan sumber-sumber lain belum mencukupi. Penghitungan BOSP yang rinci, transparan, dan mudah dimengerti akan lebih mudah mendorong partisipasi masyarakat dalam hal pendanaan untuk sekolah. Selain itu masyarakat dapat memperoleh gambaran tentang alokasi penggunaan dana operasional di sekolah, sehingga memberi peluang untuk ikut mengawasi penggunaan dana di sekolah.

(9)

9

Bagi pemerintah, penghitungan BOSP sebagai dasar untuk menghitung kebutuhan pendanaan untuk biaya operasional sekolah dan dapat dijadikan acuan untuk:

 Mengalokasikan dana ke sekolah, misalnya sebagai dana pendamping BOS bilamana masih ada kesenjangan antara BOS dan dana yang dibutuhkan sekolah.

 Melakukan negosiasi guna mendapatkan tambahan dana pendamping BOS pusat dari pemerintah provinsi.

 Menetapkan kebijakan tentang pendanaan pendidikan, misalnya kebijakan diperboleh-kan atau tidaknya penaridiperboleh-kan dana dari orangtua murid jika nilai BOSP lebih tinggi daripada nilai dana BOS pusat ditambah dana pendamping BOS dari APBD Kabupaten/ Kota dan APBD Provinsi.

Dalam hal kebijakan “Sekolah Gratis” perlu diperhatikan bahwa jika sekolah tidak boleh lagi menarik dana dari orangtua/wali peserta didik, maka sekolah harus mendapat dana yang cukup sesuai BOSP dari Pemerintah. Kebijakan “Sekolah Gratis” tanpa pendanaan yang cukup bagi sekolah akan memaksa sekolah memberikan pelayanan pendidikan yang tidak bermutu. Hasil penghitungan BOSP juga bermanfaat bagi DPRD. Secara struktural DPRD merupakan lembaga yang bertugas melakukan pengawasan

terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota. Dalam kaitannya dengan tugas tersebut, DPRD melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap kegiatan pemerintah kabupaten secara keseluruhan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai akhir kegiatan.

DPRD juga berperan aktif dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang APBD dan sangat menentukan dalam persetujuan usulan anggaran baru dari pemerintah daerah setiap tahunnya, meskipun Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 memberi peluang pemerintah daerah untuk menetapkan Rancangan Peraturan Bupati tentang APBD. Jika DPRD tidak menyetujuinya, maka nilai anggaran maksimalnya adalah sejumlah tahun anggaran sebelumnya. Selain menjadi salah satu bentuk sanksi bagi pemerintah daerah, mekanisme tersebut memberi peluang bagi anggota DPRD untuk memainkan perannya dalam mendorong pelaksanaan anggaran berbasis kinerja. Dengan demikian, bagi DPRD hasil penghitungan BOSP dapat dijadikan acuan dalam penganggaran dan pengawasan penggunaan anggaran untuk biaya operasional pendidikan.

Program BOSP Kinerja

Dalam bidang BOSP, Kinerja membantu tiga daerah mitra bersama para pemangku kepentingan dalam:

(10)

10

 Penghitungan dan analisis biaya operasional satuan pendidikan di tingkat SD dan SMP;

 Penyusunan rekomendasi kebijakan dan teknis pengalokasian dana operasional untuk sekolah;

 Pelaksanaan inovasi dalam distribusi guru secara proporsional.

Sama halnya dengan program DGP, pendekatan yang digunakan Kinerja dalam program BOSP adalah transparan, akuntabel, partisipatif, dan responsif seperti digambarkan diagarm di depan. Proses penghitungan BOSP

Pendampingan Kinerja bersama organisasi mitra dalam program tata kelola BOSP dilaksanakan melalui proses sebagai berikut:

 Pembentukan Tim;

 Penghitungan biaya operasional yang dibutuhkan sekolah untuk pencapaian standar-standar secara bertahap.;

 Rekomendasi kebijakan;

 Uji publik kebijakan;

 Publikasi kebijakan;

 Penetapan kebijakan dan penerbitan regulasi;

 Penyusunan petunjuk teknis;

 Monitoring dan evaluasi.

Seluruh proses tersebut dilaksanakan dengan memegang prinsip-prinsip:

 Dilaksanakan secara transparan dan akuntabel;

 Melibatkan instansi terakit di luar Dinas Pendidikan (Bappeda, Bagian Keuangan, Bagian Hukum);

 Melibatkan forum multi stakeholder;

 Pendampingan intensif.

Hasil yang diharapkan

Proses pendampingan tata kelola BOSP dapat menghasilkan:

 Penghitungan biaya opersional satuan yang dibutuhkan sekolah dengan mengacu pada SPM dan SNP;

 Analisis kesenjangan pembiayaan operasional sekolah;

 Rekomendasi teknis pembiayaan operasional sekolah (BOSDA);

 Rencana kerja pengalokasian BOSDA ke sekolah;

 Peraturan Bupati/Walikota;

 Petunjuk teknis pelaksanaan BOSDA;

 Implementasi BOSDA sesuai rekomendasi teknis;

 Keberlanjutan implementasi BOSDA dengan dukungan forum multi stakeholder;

 Replikasi praktik-praktik yang baik oleh kabupaten/kota lainnya.

Hasil yang dicapai

Hingga saat ini hasil-hasil yang telah dicapai oleh daerah mitra Kinerja adalah sebagai berikut:

 Ketiga kabupaten/kota mitra Kinerja telah menyelesaikan penghitungan BOSP secara transparan dan partisipatif dengan melibatkan forum multi stakeholder. Pemerintah daerah juga sudah mengeluarkan Pertaturan Bupati/Walikota.

 Kabupaten Bulukumba sudah mengalokasi BOSDA sesuai hasil penghitungan BOSP sejak tahun 2012 dan berlanjut hingga tahun 2015.

 Kabupaten Simeulue sudah mengalokasi dana tambahan sejak 2011 walaupun belum menutup secara penuh kesenjangan pembiayaan sekolah. Namun pada akhirnya pemerintah daerah sudah memenuhi seluruh kebutuhan pembiayaan sekolah di tingkat SD dan SMP pada 2014.

 Sama halnya dengan Kabupaten Simeulue, pemerintah Kota Banda Aceh juga sudah mengalokasi dana tambahan sejak 2011.

 Dalam pengalokasian dana penunjang pendidikan (DPP) Kabupaten Simeulue dan Kota Banda Aceh menggunakan formula yang membuat alokasi dana menjadi lebih adil bagi semua sekolah.

Berdasarkan pengalaman di Simelue dan Banda Aceh, Kinerja bersama organisasi mitra pelaksana dan MSF mendorong pemerintah daerah lainnya untuk menggunakan formula yang memperhitungkan besar kecilnya sekolah dan tingkat kemajuan sekolah dalam menentukan alokasi dana penunjang pendidikan.

(11)

11

Replikasi Program Tata Kelola BOSP

Disamping melanjutkan dukungan teknis kepada kabupten/kota mitra melalui organisasi mitra pelaksana dan konsultan paruh waktu, Kinerja mendorong kabupaten/kota non-mitra untuk mereplikasi praktik-praktik yang baik penerapan Tata Kelola BOSP. Kinerja menyediakan bantuan teknis terbatas kepada pemerintah daerah tang ingin mereplikasi program ini. Untuk mendukung replikasi, Kinerja juga memperkuat organisasi mitra pelaksana sehingga siap digunakan oleh pemerintah daerah non-mitra. Sampai saat ini Program Tata Kelola BOSP telah direplikasi dan mulai dilaksanakan oleh pemerintah daerah di Kabupaten Sidenreng Rappang, Kota Palopo, Kabupaten Jeneponto, Kota Batu, dan Kabupaten Pakpak Bharat. Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman pendampingan Kinerja di tiga kabupaten/kota mitra, dapat disimpulkan beberapa hal:

 Pemerintah telah menaikkan jumlah dana BOS per sekolah. Kenaikan ini sangat

membantu sekolah-sekolah untuk meningkatkan mutu pelayanannya. Meskipun demikian Program Tata Kelola BOSP tetap diperlukan untuk terus mengantisipasi peningkatan kebutuhan sekolah. Selain itu, mengingat dana BOS masih terbatas pada pemenuhan minimal, hasil penghitungan BOSP yang terus diperbaharui akan sangat berguna bagi pemerintah daerah yang mempunyai komitmen untuk meningkatan mutu pelayanan di atas minimal.

 Sama halnya dengan program DGP, pada dasarnya pemerintah kabupaten mempunyai komitmen untuk melaksanakan program BOSP, namun membutuhkan perhatian dan bantuan teknis dari pihak luar;

 Program Tata Kelola BOSP dapat dilaksanakan jika proses penghitungan, perumusan kebijakan, dan pengalokasian BOSDA dilakukan secara transparan dan partisipatif dengan melibatkan pihak-pihak terkait, termasuk masyarakat, melalui forum multi stakeholder.***

(12)

12

Manajemen Berbasis Sekolah Berorientasi Pelayanan Publik

Di Indonesia, konsep manajemen berbasis

sekolah (MBS) telah diperkenalkan dan dilaksanakan sejak tahun 1997/1998. MBS merupakan wujud otonomi sekolah sejalan dengan kebijakan desentralisasi kewenangan pendidikan dan dimaksudkan agar sekolah mempunyai otonomi yang lebih besar untuk menyelenggarakan program dan kegiatannya dengan mendorong peran serta masyarakat melalui komite sekolah.

Dalam konteks otonomi, sekolah diberi kewenangan untuk mengatur dirinya dan warga sekolah menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundangan. Sekolah diberi wewenang untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya sekolah semaksimal mungkin untuk meningkatkan mutu proses dan output pembelajaran.

Namun, pada praktiknya pelaksanan MBS perlu lebih ditingkatkan. Sebagian besar sekolah melaksanakan MBS apa adanya, belum dilaksanakan secara maksimal, dan belum mengarah pada perbaikan mutu pelayanan. Di sebagian besar sekolah, pengelolaan masih belum transparan dan akuntabel serta tidak partisipatif, apalagi responsif. Oleh karena itu Kinerja berupaya

mendampingi sekolah dan komite sekolah untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan sekolah dan mutu pelayanan sekolah.

Program MBS Kinerja

Konsep utuh MBS mengandung setidaknya tiga komponen yang saling berkaitan, yakni manajemen sekolah, pembelajaran, dan partisipasi masyarakat. Program bantuan teknis Kinerja lebih difokuskan pada dua komponen, yakni manajemen sekolah dan partisipasi masyarakat dengan asumsi bahwa jika dua komponen tersebut bekerja baik, maka akan ada peningkatan komponen pembelajaran. Komponen manajemen cukup luas cakupannya, namun pendampingan Kinerja difokuskan pada perencanaan, penganggaran, dan pelaporan keuangan sekolah.

Tujuan utama pendampingan Kinerja di bidang MBS adalah untuk meningkatkan pelayanan publik sekolah sebagai suatu unit layanan di sektor pendidikan. Upaya peningkatan pelayanan publik ini disertai dengan penguatan sisi pengguna layanan yang difokuskan pada peningkatan peran komite sekolah sebagai forum multi stakeholder di tingkat sekolah. Upaya sekolah dalam peningkatan pelayanan publik harus dilakukan sejak awal, secara

(13)

13

sistematis dan terencana. Oleh karena itu, perencanaan sekolah yang mencakup pencapaian standar pelayanan, standar pelayanan minimal, dan standar nasional pendidikan menjadi sangat penting. Perencanaan dalam konsep MBS berorientasi pelayanan publik harus partisipatif dan responsif. Perencanaan harus dibuat bersama komite sekolah dan berdasarkan data sekolah yang valid dan mutakhir, evaluasi diri sekolah, dan hasil survei pengaduan masyarakat.

Survei pengaduan masyarakat di sekolah tergolong hal baru dan langka. Selama ini sekolah tidak dianggap sebagai unit layanan sebagaimana halnya Pukesmas dan Kantor Pos. Survei pengaduan masyarakat mengacu pada Peraturan Menteri PAN 13/2009 tentang

Pedoman Peningkatan Kualitas Pelayanan

Publik dengan Partisipasi Masyarakat.

Peraturan ini memberi mandat setiap unit

layanan, termasuk sekolah, melaksanakan

survei

pengaduan

masyarakat

untuk

meningkatkan mutu pelayanannya.

Secara umum prinsip MBS berorientasi pelayanan publik yang difasilitasi oleh Kinerja

adalah sebagai berikut:

 Menempatkan sekolah sebagai unit layanan, dimana sekolah sebagai penyedia layanan diwajibkan untuk memberikan pelayanan sesuai standar yang berlaku (Standar Pelayanan Publik, Standar Pelayanan Minimum Pendidikan Dasar, dan Standar Nasional Pendidikan);

 Memberikan ruang partisipasi yang memadai bagi pengguna pelayanan (siswa, orang tua dan masyarakat sekitar) untuk menyampaikan masukan, keluhan dan saran guna peningkatan pelayanan sekolah, melalui survei pengaduan ataupun mekanisme lainnya;

 Proses penyusunan dokumen perencanaan sekolah secara partisipatif, antara pihak sekolah bersama Komite Sekolah;

 Memberikan informasi yang memadai bagi Komite Sekolah tentang perencanaan, penganggaran, dan pendanaan sekolah, termasuk pelaporan keuangannya dan informasi penting lainnya sebagai upaya penerapan transparansi dan akuntabilitas sekolah;

(14)

14

 Pemerintah Daerah – SKPD terkait lebih aktif dalam mendukung upaya peningkatan pelayanan di sekolah;

 Adanya mekanisme monitoring implementasi MBS berorientasi pelayanan publik oleh forum multi stakeholder;

 Keterlibatan media massa, termasuk jurnalis warga, dalam mempublikasikan praktik-praktik yang baik, keluhan, dan saran masyarakat untuk mendukung peningkatan pelayanan publik.

Hasil yang diharapkan

Hasil yang diharapkan dari pendampingan di sekolah-sekolah mitra Kinerja meliputi, namun tidak terbatas pada:

 Data sekolah yang valid dan mutakhir;

 Evaluasi diri sekolah;

 Survei pengaduan masyarakat;

 Janji perbaikan layanan berdasarkan survei pengaduan;

 Rekomendasi perbaikan layanan;

 Perencanaan dan penganggaran sekolah yang partisipatif menggunakan data yang valid dan mutakhir, hasil evaluasi diri sekolah, dan hasil survei pengaduan serta meengakomodasi standar pelayanan, SPM, dan SNP;

 Implementasi rencana sekolah yang transparan dan akuntabel;

 Komite sekolah aktif dalam survei pengaduaan, perencanaan sekolah, dan monitoring tindak lanjut janji perbaikan layanan;

 Laporan kegiatan dan keuangan sekolah terintegrasi, transparan, dan akuntabel;

 Perbaikan pelayanan sekolah;

 Perluasan penerapan praktik-praktik MBS yang baik ke sekolah lain.

Hasil yang dicapai

Bersama organisasi mitra pelaksana, Kinerja, melaksanakan pendampingan pengembangan MBS berorientasi pelayanan publik di 180

sekolah mitra di sembilan kabupaten/kota di empat provinsi (20 sekolah di masing-masing kabupaten/kota).

Pendekatan Kinerja telah menunjukkan manfaat yang cukup signifikan di hampir semua sekolah mitra, baik dari aspek peningkatan partisipasi forum multi stakeholder sekolah, transparansi, akuntabilitas, dan peningkatan kualitas pelayanan sekolah. Sekolah-sekolah menyusun RKS dan RKAS secara partisipatif dan memasukkan program dan kegaiatan menuju pencapaian standar pelayanan serta berdasarkan data yang valid, evaluasi diri sekolah, dan hasil survei pengaduan.

Sekolah-sekolah mitra Kinerja melaksanakan survei pengaduan, menganalisis hasilnya menjadi sebuah indeks pengaduan masyarakat, membuat janji perbaikan layanan dan menindaklanjuti pengaduan yang menjadi wewenang sekolah dan menyampaikan rekomendasi tindak lanjut kepada Dinas Pendidikan. Di Kabupaten Barru, ada sekolah yang menyampaikan rekomendasi kepada instansi lain di luar Dinas Pendidikan, yakni Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk memperbaiki layanan UKS.

Beberapa kepala sekolah menyatakan bahwa survei pengaduan sangat efektif untuk memperbaiki pelayanan sekolah. Tanpa survei pengaduan, mereka tidak mengetahui apa yang menjadi keluhan dan harapan pengguna layanan.

Di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, terlihat jelas perubahan pelayanan sekolah terhadap murid dan siswa. Fasilitas dan kegiatan pembelajaran membaik sehingga murid belajar dengan nyaman. Lingkungan sekolah juga menjadi lebih baik berkat peran serta pemerintah daerah, komite sekolah, dan masyarakat yang tanggap terhadap pengaduan masyarakat.

Beberapa sekolah di Kabupaten Melawi telah berhasil meraih dukungan pendanaan dari orangtua/wali murid, masyarakat, dan dunia industri setelah sekolah menerapkan perencanaan yang transparan dan partisipatif.

(15)

15

Replikasi Program Tata Kelola MBS

Setelah melihat dan merasakan manfaat Program Tata Kelola MBS, beberapa daerah mitra Kinerja menyebarluaskan program ini ke sekolah-sekolah lain seperti di Kota Probolinggo, Kabupaten Jember, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Barru, dan Kota Singkawang. Bahkan Kota Probolingo pada tahun 2014 menerapkan program ini ke semua SD dan SMP.

Sama halnya dengan Program Tata Kelola DGP dan BOSP, selain melanjutkan dukungan teknis Tata Kelola MBS kepada kabupaten/kota mitra melalui organisasi mitra pelaksana dan konsultan paruh waktu, Kinerja mendorong kabupaten/kota non-mitra untuk mereplikasi praktik-praktik yang baik penerapan Tata Kelola MBS. Kinerja menyediakan bantuan teknis terbatas kepada pemerintah daerah tang ingin mereplikasi program ini. Untuk mendukung replikasi, Kinerja juga memperkuat organisasi mitra pelaksana sehingga siap digunakan oleh pemerintah daerah non-mitra. Sampai saat ini Program Tata Kelola MBS telah direplikasi dan mulai dilaksanakan oleh pemerintah daerah di Kabupaten Pacitan, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Mojokerto. Pada tahun

Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman bekerja bersama sekolah dan komite sekolah di berbagai daerah, dapat disimpulkan bahwa:

 Jika diterapkan dengan benar dan sungguh-sungguh, melalui MBS sekolah dapat meningkatkan pelayanannya.

 Di banyak sekolah, penerapan MBS ternyata tidaklah mudah dan memerlukan pendampingan terus menerus. Untuk menjamin keberlanjutan diperlukan komitmen dan dukungan nyata dari Dinas Pendidikan, khususnya pengawas sekolah, dan komite sekolah. Dengan demikian, penguatan di tingkat kabupaten/kota, UPTD, dan komite sekolah menjadi penting.

 Penyelenggaraan sekolah yang transparan, partisipatif, dan akuntabel telah terbukti mampu mendatangkan dukungan dari orangtua/wali murid, masyarakat dan dunia usaha.

 Survei pengaduan, janji perbaikan layanan, dan rekomendasi kepada instansi terkait sangat bermanfaat bagi sekolah untuk meningkatkan pelayanan publik.***

(16)

16

Rekomendasi

Berdasarkan pengalaman pelaksanaan program pendidikan Kinerja, beberapa rekomendasi perlu disampaikan agar tata kelola pendidikan di tingkat kabupaten/kota dan sekolah dapat memenuhi standar pelayanan sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundangan yang berlaku.

Tata Kelola Distribusi Guru Proporsional

1. Pemerintah pusat perlu mengeluarkan regulasi yang lebih kuat agar pemerintah daerah bersedia melaksanakan distribusi dan penataan guru secara lebih baik. SKB 5 Menteri tentang Pemerataan dan Penataan Guru PNS belum cukup efektif. Direkomendasikan agar pemerintah pusat menerbitkan regulasi dalam bentuk Peraturan Pemerintah ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri tantang petunjuk teknisnya.

2. Pemerintah pusat perlu memberi bimbingan teknis bagi pelaksana di daerah sehingga distribusi dan penataan guru dapat dilaksanakan dengan baik.

3. Pemerintah pusat perlu menerapkan insentif bagi daerah-daerah yang siap melaksanakan distribusi dan penataan guru dengan baik. Sebaliknya sanksi juga perlu diterapkan bagi daerah-daerah yang tidak melaksanakannya.

4. Pemerintah daerah harus melaksanakan distribusi dan penataan guru untuk menajamin pelayanan publik di sektor pendidikan, khususnya di sekolah menjadi lebih baik.

5. Dalam melaksanakan distribusi dan penataan guru, pemerintah daerah perlu melibatkan instansi-instansi pemerintah daerah terkait dan masyarakat melalui forum multi stakeholder. Hal ini dimaksudkan agar kebijakan distribusi guru dilaksanakan secara transparan dan akuntabel serta dapat diterima oleh berbagai pihak dan mengurangi dampak yang ditimbulkannya seperti penolakan

oleh masyarakat dan guru yang akan dipindahkan.

6. Dalam pelaksanaan distribusi guru, pemerintah daerah harus mempertimbang-kan berbagai faktor seperti jenjang sekolah, jarak sekolah, biaya ekonomi, sosial dan psikologis.

7. Pemerintah daerah perlu menyediakan skema insentif, terutama bagi guru-guru yang ditempatkan di daerah terpencil. 8. Untuk menjamin keberlangsungan

distribusi dan penataan guru secara proporsional, pemerintah daerah perlu menerbitkan regulasi dalam bentuk Peraturan Bupati/Walikota berikut petunjuk teknis pelaksanaannya.

Tata Kelola Biaya Operasional Satuan Pendidikan

1. Pada 2015 pemerintah pusat sudah meningkatkan alokasi BOS ke sekolah-sekolah yang sangat membantu pencapaian standar pelayanan minimal. Di samping itu pemerintah juga menerapkan formula yang lebih adil bagi sekolah-sekolah dengan jumlah murid sedikit. Namun penghitungan BOSP tetap diperlukan agar pemrintah daerah dapat ikut serta dalam pendanaan sekolah, terutama untuk sekolah-sekolah yang tingkat kemajuan dan kebutuhan berada di atas rata-rata. 2. Apabila dana BOS tidak dapat memenuhi

kebutuhan sekolah, pemerintah pusat perlu menerbitkan peraturan yang mewajibkan pemerintah daerah untuk mengalokasikan dana tambahan ke sekolah-sekolah untuk menutup kesenjangan pembiayaan operasional sekolah.

3. Dalam proses penyusunan kebijakan, penghitungan BOSP dan pelaksanaannya, pemerintah daerah perlu melibatkan masyarakat melalui forum multi stakeholder sesuai prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas sebagaimana diamanatkan oleh peraturan perundangan.

(17)

17

4. Untuk menjamin keberlangsungan alokasi

dana tambahan ke sekolah-sekolah (BOSDA), pemerintah daerah perlu menerbitkan regulasi dalam bentuk Peraturan Bupati/Walikota berikut petunjuk teknis pelaksanaannya.

Tata Kelola Manajemen Berbasis Sekolah

1. Penyelenggara pendidikan di semua tingkatan harus memahami bahwa sekolah merupakan unit pelayaan publik pemerintah di sektor pendidikan sebagaimana disebut dalam Permenpan No.13/2009. Dengan demikian sekolah wajib menyediakan pelayanan bagi murid dan masyarakat sesuai standar pelayanan. 2. Pemerintah pusat perlu menerbitkan

peraturan mengenai pelaksanaan manajamin berbasis sekolah untuk menjamin otonomi sekolah dapat dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat melalui komite sekolah. Hirarki legalitas Kepmendiknas No. 044/U/2002 tidak cukup kuat untuk pelaksanaannya. Demikian juga PP No.17/2010 yang walaupun secara hirarki legalitas cukup kuat, namun tidak secara tegas mengatur tentang keharusan sekolah melaksanakan manajemen berbasis sekolah.

3. Untuk menguatkan pelaksanaan manajamen berbasis sekolah yang berorientasi pelayanan publik, pemerintah daerah perlu menerbitkan peraturan yang mewajibkan sekolah melaksanakan survei pengaduan sebagai bagian dari proses perencanaan dan penganggaran sekolah. Survei pengaduan ini kemudian dilanjutkan dengan janji dan pelaksanaan perbaikan layanan sekolah.

4. Untuk menjamin manajemen berbasis sekolah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, pemerintah daerah perlu menguatkan peran pengawas sekolah untuk dapat melakukan supervisi dan memberi bimbingan teknis kepada sekolah-sekolah, termasuk komite sekolah. Disamping itu, musyawarah kerja kepala sekolah dapat dijadikan forum untuk menguatkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah.

5. Dengan meningkatnya tuntutan agar kepala sekolah dan guru melaksanakan tata kelola MBS dengan baik, maka sudah saatnya manajemen SD mempunyai tenaga administrasi sebagaimana di SMP dan SMA/SMK, sehingga kepala sekolah dan guru dapat mencurahkan lebih banyak waktu dan perhatiannya ke peningkatan mutu tata kelola dan kegiatan pembelajaran.

Referensi

Dokumen terkait

Saya jam satu akan menerima tamu Bapak Abdullah Badawi, Mantan Perdana Menteri Malaysia, yang mengajak Indonesia untuk membangun kerja sama ekonomi negara-negara Islam, di luar

Syawal Gultom,

Hasil ini mengindikasikan bahwa tingkat sanitasi dan sistem manajemen perkandangan yang baik dapat menekan angka kejadian kasus koksidiosis pada pedet sapi bali.. Kata kunci :

Jika Nilai mata uang Rupiah mengalami depresiasi, pastinya yang satu lagi mengalami kenaikan atau istilah yang lebih tepat adalah “apresiasi”.. Penyebab nilai USD

[r]

Salah satu sikap Hugo Chavez dalam melawan neoliberalisme adalah kebijakan nasionalisasi perusahaan minyak swasta di Venezuela, hal ini sangat didukung oleh rakyatnya dimana

Peneliti memilih pendekatan kualitatif karena memang sesuei dengan permasalahan penelitian, karena dengan pendekatan ini akan memungkinkan peneliti mempelajari pengalaman dan

Selain itu ketiga benteng itu (Benteng Rotterdam, Benteng Vredeburg, Benteng Vastenburg) bentuknya sangat mirip yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda, maka