120
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/edaj
STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING SENTRA BATIK KAYU
BOBUNG DAN BATIK KAYU KREBET
Dwiyanti1, Lesta Karolina Br. Sebayang2 1PT Candrika Ekanantha Parajaya, Indonesia
2Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang, Indonesia Info Artikel ________________ Sejarah Artikel: Diterima Maret 2017 Disetujui April 2017 Dipublikasikan Mei 2017 ________________ Keywords:
IE Matriks, SME Batik Craft, SWOT Analysis
__________________
Abstrak
___________________________________________________________________
Persaingan antar sentra terjadi karena adanya perbedaan daya saing antar kedua sentra. Penelitian yang dilakukan yaitu analisis dan strategi peningkatan daya saing kajian sentra kerajinan batik kayu Bobung dan Sentra Kerajinan Batik Kayu Krebet. Tujuan dari penelitian ini adalah mendiskripsikan, menganalisis faktor internal dan eksternal yang ada di dalam sentra dan merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan daya saing dari kedua sentra. Metode yang dilakukan adalah metode analisis SWOT dan matriks IE. Populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha UMKM kerajinan batik kayu, terdiri dari 18 pengusaha batik kayu sentra Krebet dan 13 pengusaha sentra Bobung. Berdasarkan identifikasi lingkungan internal pada UMKM kerajinan batik kayu, didapatkan bahwa kekuatan utamanya adalah adanya inovasi produk dari corak dan bentuk. Berdasarkan analisis dan identifikasi lingkungan eksternal pada UMKM kerajinan batik kayu, didapatkan peluang utamanya adalah jumlah wisatawan yang meningkat sedangkan ancaman utamanya adalah adanya produk subtitusi. Perumusan alternatif strategi dengan menggunakan matriks SWOT menghasilkan alternatif strategi yang paling utama adalah strategi SO untuk meraih peluang yang ada, dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki yakni adanya inovasi produk. Perumusan berdasarkan matriks IE didapatkan adanya strategi utama yaitu strategi pertumbuhan.
Abstract
________________________________________________________________
Competition among Sentra happens because there are differences between two Sentra. The conducted research is about analyzing and building competitive strategy base study of wooden batik craft of Bobung and Sentra Kerajinan Batik Kayu Krebet. The aim of this research is to describe, and formulate strategy to intensify each of those two Sentras. The method that this research used is concept analysis method. SWOT analysis, and IE matrix. The population used for this research are SME entrepreneurs of wooden batik craft, there are 18 entrepreneurs of wooden batik craft and 13 entrepreneurs of Sentra Bobung. Based on the identification of internal environment that SME of wooden batik craft, that the main opportunity of wooden batik craft is product innovation of design and shape. Based on the analyze and internal identification, there is increasing number of visitors and the main threat of it is there is substitute product. The main strategy for formulating alternative with SWOT matrix produces the main strategy that there is still opportunity to reach SO, with harnessing the strength that they own. Formulating based on IE matrix produced the main strategy that is growth strategy.
© 2017 Universitas Negeri Semarang
Alamat korespondensi: Gedung L2 Lantai 2 FE Unnes
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229 E-mail: [email protected]
121 PENDAHULUAN
Pemerintah Indonesia saat ini sedang mengunggulkan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor yang memberikan sumbangan besar bagi devisa negara. Keseriusan pemerintah diwujudkan dalam program Visit Indonesia sejak tahun 2008 untuk meningkatkan jumlah kunjungan pariwisata ke Indonesia. Kemudian pada tahun 2009 hingga tahun 2013 dicanangkan sebagai kelanjutan dari program tersebut di setiap daerah tujuan wisata. Pariwisata merupakan industri baru dalam penyediaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, bahkan dalam menyediakan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Selain itu, sektor pariwisata juga tidak sedikit
memberikan sumbangan terhadap pendapatan nasional maupun pendapatan daerah.
Adanya pariwisata yang berkembang juga akan memiliki dampak yang positif terhadap inovasi sektor pendukung pariwisata di setiap daerah wisata yang nantinya akan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Tren pariwisata terhadap tenaga kerja di industri pariwisata setiap tahunnya mengalami kenaikan dari tahun 2010 sebesar 6,87 % hingga pada tahun 2014 mencapai 9,00%. Sumbangan yang cukup besar terhadap PDB ini seharusnya bisa dikembangkan lebih jauh lagi sebagai faktor penggerak sektor perekonomian lain di tiap daerah sebagai unggulan daerah.
Tabel 1. Dampak Ekonomi Makro Berdasarkan Neraca Satelit Pariwisata Nasional ( NESPARNAS), 2010-2014
Sumber : NESPARNAS 2010-2014
Keterangan : Angka dalam triliun rupiah kecuali tenaga kerja dalam juta orang dan share dalam persen (%)
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi yang menjual banyak obyek wisata, diantaranya adalah wisata sejarah terdapat beberapa peninggalan sejarah pada zaman penjajahan, kemudian ada wisata alam yang terdapat di wilayah selatan Provinsi D.I Yogyakarta. Secara geografis bagian selatan terdapat beberapa pantai, selain itu juga terdapat wisata seni dan budaya serta kuliner khas daerah.
Pengembangan kepariwisataan di Kabupaten/Kota Indonesia terutama Provinsi D.I Yogyakarta telah mengalami kemajuan sangat pesat baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal ini dapat dilihat dari semakin berkembang dan bertambahnya sarana dan prasarana pendukung pariwisata. Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai tujuan wisata juga memiliki keanekaragaman budaya serta
2010 2011 2012 2013 2014 Pariwisata 565.15 648.49 709.18 790.01 828.99 Nasional 11,956.62 14,934.02 16,595.58 18,280.75 19,651.81 Share 4.73 4.34 4.27 4.32 4.32 Pariwisata 261.06 296.97 326.24 365.02 391.49 Nasional 6,422.92 7,427.09 8,241.86 9,083.97 9,765.27 Share 4.06 4 3.96 4.02 4.01 Pariwisata 7.44 8.53 9.35 9.61 10.32 Nasional 108.21 109.96 110.81 112.76 114.63 Share 6.87 7.75 8.46 8.52 9 Pariwisata 84.8 96.57 105.93 118.34 126.87 Nasional 1,831.09 230,721 2,572.45 2,850.39 3,049.92 Share 4.63 4.14 4.12 4.15 4.16 Parwista 9.35 10.72 11.77 13.26 14.21 Nasional 225.1 278.28 308.29 337.63 361.26 Share 4.16 3.85 3.82 3.93 3.93 Dampak terhadap PDB Dampak Terhadap Tenaga Kerja Dampak terhadap Upah/gaji Dampak Terhadap Pajak Tak Langsung Tahun Komponen Output Dampak Terhadap Output
122 keindahan alam yang dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk datang. Tujuan wisata tidak hanya terpaku pada Kota Yogyakarta, akan tetapi tersebar di setiap Kabupaten/Kota di D.I Yogyakarta.
Berkembangnya pariwisata di Provinsi D.I Yogyakarta memberikan dampak positif terhadap wisata di Kabupaten/Kota dengan banyaknya tujuan wisata baru. Potensi yang di miliki salah satu Kabupaten/Kota yang ada di Yogyakarta sangat beragam mulai dari kuliner, kerajinan, seni dan budaya. Upaya pengembangan pariwisata memungkinkan untuk pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah dengan berbagai keunggulan yang dapat dikembangkan. UMKM diharapkan dapat terus tumbuh dan bersaing sehingga kedepannya dapat diperoleh perekonomian yang berasas ekonomi kerakyatan, yaitu sistem ekonomi yang berbasasis pada kekuatan ekonomi rakyat. Ekonomi rakyat sendiri adalah sebagai kegiatan ekonomi atau usaha yang dilakukan oleh rakyat kebanyakan (popular) dengan swadaya mengelola sumber daya ekonomi apa saja yang dapat di usahakan dan di kuasainya, selanjutnya disebut sebagai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Hariyadi).
Salah satu UMKM yang dapat dikembangkan potensinya adalah kerajinan batik kayu yang berada di Dusun Bobung, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Kerajinan batik merupakan salah satu kerajinan asli Indonesia yang memiliki corak khas sebagai cerminan dari kekayaan budaya nasional Indonesia (Bonita,2013). Kerajinan batik kayu yang berada di sentra batik kayu Bobung, Gunungkidul bukan satu-satunya yang ada di Provinsi D.I Yogyakarta. Kerajinan batik kayu sejenis juga terdapat di Dusun Krebet, Bantul. Adanya persaingan antar kedua sentra kerajinan batik kayu yang sama maka harus ditangani dengan strategi-strategi yang tepat agar tidak kalah dalam bersaing dengan pengusaha lain yang berada di sentra sejenis.
Kajian penelitian ini adalah komoditas kerajinan batik kayu di Provinsi D.I Yogyakarta. Kerajinan batik kayu sendiri adalah seni membatik di atas pahatan kau. Kerajinan ini
menjadi salah satu tujuan wisata di DIY. Sentra batik kayu yang terkenal berada di Dusun Krebet, meskipun sentra sejenis juga ada di Dusun Bobung. Kedua sentra ini menghasilkan produk kerajinan batik kayu yang sama. Namun, terdapat keunggulan tersendiri diantara kedua sentra sehingga memiliki peminatnya masing-masing. Kesamaan hasil produksi ini menimbulkan munculnya daya saing di kedua sentra.
Analisis strategi perlu dilakukan untuk meningkatkan daya saing di kedua sentra. Alasan mendasar dilakukan analisis strategi ialah untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan masing-masing sentra dalam upaya peningkatan daya saing, sehingga nantinya dapat memberikan masukan pengembangan sentra agar lebih baik. Berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
Bagaimana Strategi Peningkatan Daya Saing Sentra Batik Kayu Bobung dan Sentra Batik Kayu Krebet.
Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui strategi untuk meningkatkan daya saing yang dimiliki oleh kedua sentra sebagai pengembangan UMKM pendukung pariwisata. METODE PENELITIAN
Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah mix method dengan menggunakan data primer dan sekunder yang berkaitan dengan sentra batik kayu Bobung dan sentra batik kayu Krebet. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampel purposif. Sampel purposif disebut juga judgement sampling adalah sampel yang dipilih secara cermat dengan mengambil orang atau objek penelitian yang selektif dan mempunyai ciri-ciri spesifik (Sugiyono, 2010)Teknik pengambilan sampel Purposive
Sampling dengan 13 responden dari Sentra
Bobung dan 18 responden dari Sentra Krebet. Analisis yang digunakan untuk menentukan strategi menggunakan analisis SWOT.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis lingkungan merupakan salah satu proses yang harus dilaksanakan dalam manajemen strategis yang bertujuan untuk
123 mengidentifikasi lingkungan sentra kerajinan batik kayu di Bobung Kabupaten Gunungidul dan kerajinan batik kayu di Krebet, Bantul. Lingkungan UMKM ini terdiri dari lingkungan internal dan lingkungan eksternal.
Lingkungan Internal
Analisis lingkungan internal dilakukan dengan meninjau faktor-faktor yang terdapat di dalam sentra kerajinan batik kayu untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kecenderungan-kecenderungan yang berada didalam usaha. Analisis ini terfokus untuk mendapatkan faktor-faktor kunci yang merupakan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh sentra tersebut untuk peningkatan daya saing. Sentra kerajinan batik kayu di Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Bantul dapat memanfaatkan kekuatan dan mengatasi kelemahan yang ada berdasarkan hasil analisis tersebut. Faktor-faktor internal yang dimiliki meliputi aspek manajemen, pemasaran, keuangan, produksi atau operasi serta sumber daya manusia.
Lingkungan Eksternal
Analisis lingkungan eksternal sentra kerajinan batik kayu Bobung, Gunungkidul dan sentra kerjajinan batik kayu Krebet dilakukan dengan meninjau faktor-faktor di luar usaha untuk mengidentifikasi kecenderungan-kecenderungan yang berada di luar kontrol usaha yang dijalankan dan biasanya lebih cepat mengalami perubahan. Analisis ini terfokus untuk mendapatkan informasi faktor-faktor kunci yang menjadi peluang dan ancaman utama yang dihadapi sentra kerajinan batik kayu Bobung, Gunungkidul dan batik kayu Krebet Bantul. Faktor-faktor eksternal ada yang memberikan pengaruh langsung dan ada yang memberikan pengaruh tidak langsung bagi
sentra. Faktor-faktor eksternal dapat dibagi menjadi lima kekuatan, yaitu ekonomi; sosial, budaya, demografi, dan lingkungan; politik, pemerintahan, dan hukum, teknologi dan lingkungan sentra.
Strategi Peningkatan Daya Saing Sentra Batik Kayu Bobung dan Sentra Batik Kayu Krebet
Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal, maka diperoleh beberapa faktor yang berupa kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness) yang berpengaruh pada sentra kerajinan batik kayu. Faktor-faktor strategis internal yang menjadi kekuatan bagi sentra kerajinan batik kayu adalah :
Adanya spesialisasi pekerjaan 1) Kualitas produk sudah sesuai konsumen 2) Tenaga kerja dekat dengan lokasi usaha 3) Kemudahan akses bahan baku
4) Adanya inovasi (bentuk) produk
5) Tenaga kerja terampil dan berpengalaman Sedangkan faktor-faktor strategis internal yang menjadi kelemahan bagi sentra kerajinan batik kayu adalah :
1) Kurangnya media promosi 2) Akses ke lokasi yang cukup sulit
Berdasarkan identifikasi faktor-faktor strategis internal, selanjutnya disusun matrik IFAS dan dilakukan pembobotan kemudian peringkatan pada masing-masing variabel kekuatan dan kelemahan. Setelah diperoleh nilai bobot dan peringkat rata-rata tiap variabel, dapat diketahui bobot skor rata-rata dari tiap variabel. Berdasarkan nilai bobot skor rata-rata dari tiap variabel tersebut dapat diketahui kekuatan utama dan kelemahan utama sentra kerajinan batik kayu Bobung dan sentra kerajinan batik kayu Krebet.
Tabel 2. Analisis Matriks IFAS Sentra Kerajinan Batik Kayu Bobung
Faktor Strategis Internal
Bobot rata-rata Skor rata-rata Skor terbobot Kekuatan
124 B
Kualitas produk sudah sesuai selera
konsumen 0.116 3.85 0.447
C Tenaga kerja dekat dengan lokasi usaha 0.125 4.69 0.586
D Kemudahan akses bahan baku 0.101 4.77 0.482
F Adanya inovasi produk 0.119 4.77 0.568
G Tenaga terampil dan berpengalaman 0.140 4.23 0.592
Jumlah skor terbobot kekuatan 3.268
Kelemahan
H Kurangnya media promosi 0.104 1.46 0.152
I Akses ke lokasi sulit 0.131 1.46 0.191
Jumlah skor terbobot kelemahan 0.343
Total IFAS 3.611
Berdasarkan Tabel 2 hasil opini responden terhadap faktor strategis internal, maka kekuatan utama bagi usaha kerajinan batik kayu di Kabupaten Gunungkidul adalah adanya spesialisasi pekerjaan dan tenaga kerja yang terampil dan berpengalaman dengan bobot skor rata-rata sebesar 0,594 dan 0,592. Pada faktor strategis internal tersebut memiliki bobot rata-rata dan rating rata-rata-rata-rata tertinggi untuk variabel kekuatan yang artinya bahwa responden menganggap bahwa faktor tersebut merupakan kekuatan yang paling penting dibandingkan faktor kekuatan yang lain dan juga merupakan kekuatan mayor bagi usaha kecil. Kelemahan utama bagi usaha kerajinan batik kayu di Gunungkidul akses ke lokasi yang sulit dengan
bobot skor rata-rata sebesar 0,191 dimana bobot skor rata-rata tersebut tertnggi untuk variabel kelemahan. Akan tetapi, secara keseluruhan berdasarkan hasil akhir analisis matrik IFAS, total skor rata-rata tertimbang dari matriks IFAS sebesar 3,611 yang terdiri dari nilai total bobot skor rata-rata kekuatan sebesar 3,268 dan kelemahan sebesar 0,343. Hal ini menunjukkan posisi internal usaha kerajinan batik kayu berada di atas rata-rata dalam kekuatan internal secara keseluruhan, yaitu di atas 2,5. Dapat disimpulkan bahwa usaha kerajinan batik kayu Bobung di Kabupaten Gunungkidul mampu memanfaatkan kekuatan yang dimiliki dan mampu mengatasi kelemahan yang ada.
Tabel 3. Analisis Matriks EFAS Sentra Kerajinan Batik Kayu Bobung
Faktor Strategis Eksternal
Bobot rata-rata Skor rata-rata Skor terbobot Peluang
A Kondisi perekonomian mendukung 0.151 3.69 0.557
B Jumlah wisatawan meningkat 0.155 3.62 0.561
C Teknologi yang semakin modern 0.147 3.69 0.542 D Pemberian jasa pelatihan dari dinas terkait 0.151 3.77 0.569
Jumlah skor terbobot peluang 2.230
Ancaman
E Adanya produk subtitusi 0.131 3.62 0.474
125 Faktor Strategis Eksternal
Bobot rata-rata Skor rata-rata Skor terbobot G Adanya pesaing dari daerah lain 0.127 3.38 0.429
Jumlah skor terbobot Ancaman 1.396
Total EFAS 3.626
Berdasarkan Tabel 3 hasil penilaian responden terhadap faktor strategis eksternal, maka peluang utama bagi usaha kerajinan batik kayu adalah pemberian jasa pelatihan dari dinas terkait dengan bobot skor rata-rata sebesar 0,569, dimana bobot skor rata-rata tersebut tertinggi untuk variabel peluang. Pada faktor strategis eksternal tersebut memiliki bobot rata-rata tertinggi yang artinya bahwa responden menganggap bahwa faktor tersebut merupakan faktor strategi eksternal yang paling penting
dibandingkan faktor lain. Sedangkan ancaman utama yang dihadai usaha kerajinan batik kayu Bobung adalah regenerasi tenaga kerja yang sulit dengan bobot skor rat-rata sebesar 0.492, dimana bobot skor rata-rata tersebut tertinggi untuk variabel ancaman. Adapun total skor rata-rata tertimbang dari matriks EFAS sebesar 3.626 yang terdiri dari nilai total bobot skor rata-rata peluang sebesar 2,230 dan ancaman sebesar 1,396.
Tabel 4. Matriks IFAS Usaha Kerajinan Batik Kayu Krebet, Bantul
Faktor Strategis Internal
Bobot rata-rata Skor rata-rata Skor terbobot Kekuatan
A Adanya spesialisasi pekerjaan 0.14 3.33 0.466 B Kualitas produk sesuai selera konsumen 0.097 3.56 0.345 C Tenaga kerja dekat dengan lokasi usaha 0.4 3.5 1.400
D Kemudahan akses bahan baku 0.099 3.5 0.347
E Adanya inovasi produk 0.106 3.56 0.377
F Tenaga kerja terampil dan berpengalaman 0.113 3.5 0.396
Jumlah skor terbobot kekuatan 3.331
Kelemahan
G Kurangnya media promosi 0.104 1.28 0.133
H Sulit menambah modal usaha 0.111 1.33 0.148
I Lokasi yang sulit dijangkau 0.113 1.44 0.163
Jumlah skor terbobot kelemahan 0.443
Total IFAS 3.774
Berdasarkan Tabel 4 hasil opini responden terhadap faktor strategis internal, maka kekuatan utama bagi usaha kerajinan batik kayu di Kabupaten Bantul adalah tenaga kerja dekat dengan lokasi dengan bobot skor rata-rata sebesar 1,400. Pada faktor strategis internal
tersebut memiliki bobot rata dan rating rata-rata tertinggi untuk variabel kekuatan yang artinya bahwa responden menganggap bahwa faktor tersebut merupakan kekuatan yang paling penting dibandingkan faktor kekuatan yang lain dan juga merupakan kekuatan mayor bagi usaha
126 kecil. Kelemahan utama bagi usaha kerajinan batik kayu di Bantul adalah lokasi yang sulit dijangkau dengan bobot skor rata-rata sebesar 0,163 dimana bobot skor rata-rata tersebut tertnggi untuk variabel kelemahan. Akan tetapi, secara keseluruhan berdasarkan hasil akhir
analisis matrik IFAS, total skor rata-rata tertimbang dari matriks IFAS sebesar 3.774 yang terdiri dari nilai total bobot skor rata-rata kekuatan sebesar 3,331 dan kelemahan sebesar 0,443.
Tabel 5. Tabel EFAS Usaha Kerajinan Batik Kayu Krebet, Bantul Faktor Strategis Eksternal
Bobot rata-rata Skor rata-rata Skor terbobot Peluang
A Kondisi perekonomian mendukung 0.143 3.56 0.509
B Konsumsi masyarakat akan kerajinan meningkat 0.119 3.72 0.443
C Jumlah wisatawan meningkat 0.125 3.67 0.459
D Pemberian jasa pelatihan dari dinas terkait 0.161 3.72 0.599
Jumlah skor terbobot peluang 2.009
Ancaman
E Fluktuasi bahan baku dan penolong 0.353 2.72 0.960
F Adanya produk subtitusi 0.113 2.72 0.307
G Adanya pesaing yang sama dari daerah lain 0.134 2.44 0.327 H Regenerasi tenaga kerja produktif 0.119 2.56 0.305
Jumlah skor terbobot ancaman 1.899
Total EFAS 3.909
Berdasarkan Tabel 5 hasil penilaian responden terhadap faktor strategis eksternal, maka peluang utama bagi usaha kerajinan batik kayu adalah pemberian jasa pelatihan dari dinas terkait dengan skor terbobot sebesar 0,599 dimana bobot skor rata-rata tersebut tertinggi untuk variabel peluang. Pada faktor strategis eksternal tersebut memiliki bobot rata-rata tertinggi yang artinya bahwa responden menganggap bahwa faktor tersebut merupakan faktor strategi eksternal yang paling penting dibandingkan faktor lain. Sedangkan ancaman utama yang dihadapi usaha kerajinan batik kayu Krebet adalah fluktuasi bahan baku dengan bobot skor rat-rata sebesar 0.960 dimana bobot skor rata-rata tersebut tertinggi untuk variabel ancaman.
Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa sentra Bobung dan sentra Krebet berada pada kuadran I, rekomendasi strategi yang dapat
diberikan adalah strategi agresif, diterapkan melalui strategi pertumbuhan .
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Perkembangan Sentra Batik Kayu Bobung dan Sentra Batik Kayu Krebet
Sentra batik kayu merupakan salah satu kelompok usaha kecil dan menengah dalam memproduksi kerajinan batik kayu yang cukup berkontribusi dalam perekonomian Provinsi D.I Yogyakarta. Usaha batik yang tergabung dalam sentra memiliki potensi dalam penyerapan tenaga kerja dan mengurangi pengangguran khususnya di Dusun Bobung dan Dusun Krebet. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan usaha batik kayu yang tergabung dalam sentra terdapat pada lingkungan internal dan eksternal. Lingkungan internal merupakan cerminan kekuatan dan kelemahan dari suatu organisasi dari usaha dan dapat mencerminkan
127 kemampuan manajemen untuk mengelola usaha. Hal ini dapat menunjukkan kemampuan manajemen untuk mengelola usaha. Hal ini dapat menunjukkan kekuatan sumber daya manusia, meliputi segala aspek material dan non material yan dimiliki. Faktor internal dalam penelitian ini terdapat 5 variabel yaitu manajemen, bahan baku, tenaga kerja, teknologi, dan pemasaran. Kelima variabel tersebut setelah dianalisis mempunyai persentase cukup besar dalam mempengaruhi perkembangan usaha batik kayu Bobung dan batik kayu Krebet. Variabel-variabel tersebut kemudian menjadi kekuatan dan kelemahan untuk menentukan strategi yang tepat untuk meningkatakan daya saing usaha kerajinan batik kayu Bobung dan batik kayu Krebet.
Lingkungan eksternal merupakan kondisi perusahaan yang dapat mempengaruhi perkembangan perusahaan dalam menjalankan usahanya. Faktor eksternal diidentifikasi terdapat 4 variabel yaitu kondisi ekonomi, sosial budaya, dukungan pemerintah, pesaing dan pangsa pasar. Semua variabel lingkungan eksternal tersebut di analisis hasilnya yang mempunyai pengaruh dan dijadikan peluang dan ancaman bagi perkembangan usaha batik kayu Bobung dan batik kayu Krebet yang tergabung dalam sentra.
1. Kekuatan Sentra Batik Kayu Bobung dan Sentra Batik Kayu Krebet
Penentuan faktor-faktor kekuatan dari lingkungan internal berdasarkan dari penelitian awal yaitu melalui kuesioner dan wawancara dengan pihak yaitu pemilik usaha batik kayu yang tergabung dalam sentra Bobung dan sentra Krebet. Kemudian dilakukan pengolahan data dengan cara menyusun ranking dan pembobotan dari data yang diperoleh. Berdasarkan hasil yang diperoleh mengenai kekuatan dari usaha batik kayu yang tergabung dalam sentra.
Usaha batik kayu di Dusun Bobung diperoleh aspek kekuatan dengan faktor indikator batik kayu Bobung memiliki spesialisasi pekerjaan dengan skor pembobotan sebesar 0,594. Hal tersebut menunjukkan bahwa usaha batik kayu Dusun Bobung yang tergabung
dalam sentra memiliki spesialisasi pekerjaan dalam pembuatan produknya dengan baik.
Usaha batik kayu di Dusun Krebet diperoleh aspek kekuatan dengan faktor indikator batik kayu Krebet mempunyai tenaga kerja yang dekat dengan lokasi usaha memperoleh skor pembobotan sebesar 1,400. Tenaga kerja yang dekat dengan lokasi usaha sangat menguntungkan bagi pengusaha maupun lingkungan masyarakat sekitar. Dengan tersedianya tenaga kerja yang dekat dengan lokasi usaha dapat mengurangi biaya produksi. 2. Kelemahan Sentra Batik Kayu Bobung dan
Sentra Batik Kayu Krebet
Kelemahan usaha batik kayu yang terdapat di Dusun Bobung dan batik kayu Dusun Krebet adalah akses ke lokasi yang sulit dengan skor pembobotan sebesar 0,191 dan 0,163. Akses ke lokasi yang sulit memungkinkan konsumen lebih memilih alternatif / subtitusi produk yang sejenis sehingga dapat mengurangi penjualan. Akses ke lokasi yang sulit juga menjadikan produk kurang dikenal oleh masyarkat maupun wisatawan. Perlu adanya penyediaan angkutan umum yang menjangkau lokasi kedua sentra.
3. Peluang Sentra Batik Kayu Bobung dan Batik Kayu Krebet
Penentuan faktor kekuatan dari lingkungan eksternal berdasarkan dari penelitian awal digunakan untuk menentukan faktor peluang dan ancaman terhadap usaha batik kayu. Selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan cara menyusun ranking dan pembobotan dari data yang diperoleh.
Peluang yang dimiliki oleh usaha batik yang tergabung dalam sentra batik kayu Bobung dan batik kayu Krebet adalah adanya pemberian pelatihan dari dinas terkait dengan skor terbobot sebesar 0, 569 dan 0, 599. Dengan adanya pemberian pelatihan dari dinas terkait diharapkan pengusaha dan tenaga kerja lebih kreatif dan inovatif untuk mengembangkan produk serta pemasaran sehingga dapat meningkatkan daya saing yang dimiliki.
4. Ancaman Sentra Batik Kayu Bobung dan Batik Kayu Krebet
128 Faktor indikator regenerasi tenaga kerja sulit menjadi ancaman terbesar bagi batik kayu yang ada di Dusun Bobung . Faktor indikator regenerasi tenaga kerja sulit memperoleh skor pembobotan sebesar 0,492. Tenaga kerja usia produktif yang ada di Dusun Bobung lebih memilih untuk bekerja di luar daerah karena mereka melihat bahwa bekerja di pabrik atau di daerah lain bisa lebih meningkatkan penghasilan mereka. Apabila hal ini berlangsung secara terus menerus maka produksi batik kayu Bobung akan berkurang.
Faktor indikator fluktuasi bahan baku dan penolong menjadi ancaman terbesar bagi batik kayu di Dusun Krebet, dengan skor pembobotan sebesar 0,960. Seringnya kenaikan harga bahan baku terjadi karena persediaan bahan baku di pasar berkurang dan juga adanya kenaikan harga-harga secara umum. Kenaikan bahan baku ini membuat pengusaha bingung untuk menaikkan harga jual produk mereka.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Daya Saing Sentra
Dimensi-dimensi dalam model diamond
porter berdasarkan faktor kondisi, faktor
permintaan, faktor strategi perusahaan dan persaingan, faktor pemerintah yang paling berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan sentra.
1. Faktor kondisi yang menjadi faktor daya saing sentra Bobung dan Krebet antara lain,
Sumber daya manusia dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam proses produksi batik kayu. Tenaga kerja yang dimiliki kedua sentra berasal dari lingkungan sekitar sentra dan umumnya mereka sudah memiliki keahlian dan ketrampilan dikarenakan sudah tumbuh di dalam lingkungan sentra sejak kecil. Tenaga kerja yang di dekat dengan lokasi juga meminimalkan biaya produksi. Sumber daya fisik menggambarkan adanya ketersediaan peralatan produksi yang diperlukan untuk menunjang perkembangan batik kayu. Sumber produk menggambarkan keunikan produk batik yang dihasilkan. Produk batik kayu yang kedua sentra miliki memiliki ciri khas tersendiri. Pengusaha yang ada di kedua sentra memiliki
motif tersendiri sehingga berbeda dari pengusaha lainnya. Lokasi menggambarkan letak dari UMKM terhadap pihak-pihak terkait yang berkepentingan, terutama konsumen. Sentra batik Bobung berada 10 Km dari Kota Wonosari, akan tetapi akses menuju lokasi tidak dilalui angkutan umum, jalan yang menanjak menuju sanggar-sanggar anggota sentra juga menyulitkan konsumen. Sentra Krebet berada di dekat pusat KotaYogyakarta, akses menuju lokasi jalannya sudah di aspal. Angkutan umum juga jarang di jumpai di sana sehingga konsumen maupun wisatawan di haruskan membawa kendaraan pribadi. Memperhatikan lokasi sentra sangat penting untuk kemudahan pembeli dan menjadi faktor utama bagi kelangsungan usaha. Lokasi yang strategis akan menarik perhatian pembeli. Menurut Frans (2003), letak atau lokasi akan menjadi sangat penting untuk memenuhi kemudahan pelanggan dalam berkunjung, konsumen akan mencari jarak tempuh terpendek.
2. Faktor Permintaan
Sumber permintaan merupakan asal dari permintaan produk batik kayu yang di hasilkan oleh kedua sentra. Permintaan batik kayu umumnya berasal dari sekitar daerah Yogyakarta, untuk espor keluar daerah dan keluar negeri. Pengembangan pasar juga menggambarkan upaya yang dilakukan oleh pengusaha atau pengrajin untuk memperbaiki kualitas. Sentra batik kayu Bobung dan batik kayu Krebet memiliki beragam inovasi produk batik menyesuaikan keinginan pasar, mulai dari peralatan rumah tangga, hiasan rumah dan
souvenir. Kualitas produk ditunjukkan oleh
kesesuaian spesifikasi desaiinya. Jadi sutu perusahaan memiliki daya saing apabila perusahaan itu menghasilkan produk yang berkualitas dalam arti sesuai kebutuhan pasar (Muhardi,2007).
3. Faktor industri terkait
Letak industri pendukung dan terkait dengan jarak antar industri pendunkung dengan UMKM. Letak bahan baku yang di perlukan untuk produksi batik kayu berasal dari lingkungan sentra, para pengusaha menanam pohon yang digunakan sebagai bahan baku di
129 pekarangan rumah, akan tetapi untuk persediaan bahan baku dalam memenuhi permintaan pelanggan para pengusaha memasok bahan baku dari Klaten, Banyumas, Bali dan Jawa Timur. 4. Faktor strategi perusahaan
Strategi perusahaan menggambarkan strategi yang di jalankan oleh industri untuk memenangkan persaingan. Strategi yang di gunakan salah satunya adalah promosi. Sentra Krebet memiliki strategi promosi online yang lebih baik dari sentra Bobung. Media online yang dimiliki sentra Krebet berupa web desa Krebet, dapat diakses di www.krebet.com. Sedangkan sentra Bobung masih belum aktif melakukan promosi melalui media online. Sunarto (2004) mengatakan bahwa promosi penjualan mendorong pembelanjaan atau penjualan produk dan jasa, yang mana promosi penjualan ini mencakup variasi yang luas dari alat promosi yang di desain untuk merangsang respons pasar lebih cepat salah satunya adalah media online. 5. Faktor Pemerintah
Pembinaan pengembangan sumber daya manusia dilakukan berupa pelatihan desain dan motivasi kewirausahaan. Pengrajin dan pengusaha yang tergabung di dalam sentra sebagian besar sudah pernah mengikuti pelatihan yang di adakan oleh Dinas Koperasi dan Perindustrian, pelatihan ini di adakan secara rutin dengan bergantian setiap pengusaha. Pelatihan yang diberikan salah satunya adalah kemampuan dalam peningkatan teknologi produksi maupun pemasaran. Teknologi dalam proses produksi ini salah satunya alat pengering yang di berikan oleh Disperindag kepada Sentra Bobung. Pengadaan pameran di dalam lingkup Provinsi DIY dan di luar daerah maupun ke luar negeri.
SIMPULAN
Perumusan alternatif strategi dengan menggunakan matrik IE pada Usaha Mikro Kecil Menengah yang ada di sentra kerajinan batik kayu Bobung dan sentra kerajinan batik kayu Krebet didapatkan posisi pada kuadran I dengan strategi paling baik diterapkan yaitu strategi pertumbuhan. Berdasarkan kuadran
SWOT, didapatkan posisi pada kuadran I yang berarti pada posisi agresif, dan strategi yang tepat pada posisi ini adalah strategi pertumbuhan (Growth Oriented Strategy). Berdasarkan kuadran posisi I maka, alternatif strategi yang sesuai dengan tabel SWOT adalah strategi S-O (Strength
– Opportunities) yaitu dengan memanfaatkan
kekuatan yang dimiliki sentra kerajinan batik kayu untuk meraih peluang yang ada, dengan pengembangan pasar dan adanya inovasi produk.
Adapun saran yang dapat diberikan kepada sentra kerajinan baik kayu Bobung, dan sentra kerajinan batik kayu Krebet adaah (1) Upaya peningkatan daya saing di sentra kerajinan batik kayu Bobung dapat lebih maksimal dengan mengaktifkan kembali paguyuban pengusaha kerajinan dengan sentra kerajinan batik kayu Krebet, (2) Festival kerajinan batik kayu dijadikan agenda rutin di sentra Bobung seperti halnya dengan yang ada di sentra Krebet, (3) Permasalahan kedua sentra ini adalah akses menuju lokasi yang tidak dilewati oleh angkutan umum, maka sebaiknya pemerintah menyediakan angkutan yang menjangkau kedua desa tersebut, (4) Pengusaha dapat memanfaatkan adanya teknologi yang ada saat ini untuk media promosi online guna memperluas pangsa pasar ke luar Provinsi DIY, (5) Pemerintah (Bappeda, Dinkop UMKM, Disperindag, Pemprov DIY), lembaga pendidikan, pengusaha dan masyarakat dapat bekerjasama dalam menarik minat remaja usia produktif untuk melestarikan budaya yang mereka miliki. Sehingga mereka tidak keluar daerah untuk mencari pekerjaan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Undang-undang No 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Website:http://www.scribd.com/doc/5029 088/UU-No20-Tahun-2008. (Diunduh tanggah 19 Maret 2016)
Bonita,Farah (2013). STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL KERAJINAN BATIK DI KOTA SEMARANG. Economics Development
130
Analysis Journal, 2(3).
doi:10.15294/edaj.v2i3.1978
David, FR. 2008. Manajemen Strategis Konsep. Edisi Ketujuh Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Indeks.
Depbudpar.2014. Neraca Satelit Pariwisata Nasional (Nesparnas) 2014. Pusat Pengelolaan Data dan Sistem Jaringan. Jakarta.
Hunger, J.David & Thomas L. Wheelen. 2003. Manajemen Strategis. Terjemahan Julianto Agung Edisi Kedua Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Andi
Imam, Hariyadi.2003.Pengelolaan Kredit Mikro Melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Keluarga. BKKBN
Irawan dan M. Suparmoko. 2002.Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta: BPFE UGM Muhardi. 2007. Strategi Operasi: Untuk Keunggulan
Bersaing. Yogyakarta: Graha Ilmu
Rangkuti, F. 2005. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Cetakan Keempat belas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Smecda.2007.Kajian Efektifitas Model Pertumbuhan
Klaster Bisnis UKM Berbasis
Agribisnis.Diunduh pada tanggal 10 Mei 2016 pada pukul 20:00 WIB dari http://www.smecda.com/kajian/files/hslk ajian/KAJIAN%20EFEKTIFITAS%20MO DEL%20PENUMBUHAN%20KLASTER %20BISNIS%UKM/bab_2.pdf
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Bisnis: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.