TINJAUAN ENDAPAN BATUBARA DI DAERAH SOMIANGGA DAN SEKITARNYA KABUPATEN WAROPEN PAPUA

Teks penuh

(1)

DAN SEKITARNYA KABUPATEN WAROPEN PAPUA

Maran Gultom

STEM Akamigas, Jl. Gajah Mada No. 38, Cepu E-mail: gultommaran@gmail.com

ABSTRAK

Batubara sebagai bahan baku energi yang banyak dibutuhkan, maka perlu diupayakan penemuan ca-dangan baru seperti di daerah Somiangga dan sekitar Kabupaten Waropen Papua.Tujuan penelitian untuk mengetahui sumber daya endapan batubara di daerah penelitian dan prospek pengemba-ngannya di masa yang akan datang.Penelitian dilakukan dengan metode orientasi medan, melakukan pengamatan singkapan batuan, struktur geologi, pengukuran strike/dip lapisan batuan dan penguku-ran tebal seam batubara. Geomorfologi daerah penelitian, yakni satuan pedatapenguku-ran alluvial, satuan perbukitan bergelombang landai, satuan perbukitan terjal. Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari endapan aluvial menempati pedataran aluvial, batulempung sisipan batupasir, lanau menempati perbukitan bergelombang landai, dan menindih secara tidak selaras semu satuan konglomerat aneka bahan seperti batupasir, batulempung, batulanau, konglomerat dan batuan vulkanik menempati satu-an geomorfologi perbukitsatu-an terjal. Struktur geologi daerah penelitisatu-an, terdapat struktur perlapissatu-an, perlipatan dan patahan pada batu lempung Wapoga. Jumlah seam batubara di daerah penelitian ada tiga seam dengan ketebalan 0.50. m, 0,80 m dan 1,20 m. Pada sebaran batulempung Wapoga dan si-sipan konglomerat seluas 1 km2diperkirakan sumber daya sebesar sebesar 2,500.000 ton.

Kata kunci : geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, seam batubara, sumber daya batubara ABSTRACT

Coal as the energy raw materials needed too much, therefor necessary to improve the new coal re-sources such as in Waropen regency Papua. Surveying purposed to estimate the coal rere-sources and it’s development prospect in future. The surveying method based on the field orientation, look for the out crops of rocks and coal, the indication of geological structure, to measure the strike /dip the sedi-mentary rocks and coal thichness. The surveying area geomorphology, namely alluvial flat unit, undulating hill unit, steep hill unit. The area surveying stratigraphy namely alluvial deposites on the alluvial flat, claystone alternate with sand stone, silt on the hill undulating, discorformity to covered the conglomerate with composed by sandstone,claystone,conglomerate and volcanic rock on the steep hill. The geological structure of surveying area are layer structure, fold and fault structure on the Wapoga claystone. Thera are three coal seam on the surveying area with thichness 0,50 m, 0,80 m and 1,20 m . In one km2area for Wapoga claystone and alternate with conglomerate distribution, the

coal resources is equal 2,500.000 ton.

Key words : geomorphology, stratigraphy, geologycal strycture, coal seam, coal resource. 1. PENDAHULUAN

Batubara sebagai bahan baku energi yang banyak dibutuhkan, maka perlu diupayakan pe-nemuan cadangan baru. Dari hasil laporan pe-nelitian terdahulu, informasi keberadaan en-dapan batubara di daerah Somiangga dan se-kitarnya Kabupaten Waropen Papua sangat terbatas1). Secara administratif, daerah

pene-litian termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Waropen Provinsi Papua terletak tepatnya pada koordinat 2º22’30’’ Lintang Selatan s/d 2º45’00’’ Lintang Selatan; 136º22‘30’’ Bujur Timur s/d 136º30’00’’ Bujur Timur. Dari Jakarta dapat ditempuh dengan meng-gunakan pesawat berbadan lebar ke Biak dan dilanjutkan dengan menggunakan pesawat u-kuran twin otter ke Serui. Dari Serui ke

(2)

Wa-ropen ditempuh dengan menggunakan pela-yaran perintis, dilayari secara teratur setiap hari pergi pulang dengan waktu tempuh 3 jam. Selanjutnya dari Waropen menuju hulu Sungai Wotoa, Sungai Epawa dan Sungai Budewa yang terletak di sebelah selatan dari Waropen. Tujuan dari penelitian adalah un-tuk mengetahui sumber daya endapan batu-bara di daerah penelitian dan prospek pe-ngembangannya di masa yang akan datang.

Ada tiga lintasan penelitian yakni Su-ngai Wotoa, SuSu-ngai Epawa dan SuSu-ngai Bu-dewa yang terletak di daerah Somiangga dan sekitarnya Kabupaten Waropen. Pada linta-san Sungai Wotoa, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama dua hari ke arah hulu sungai. Pada lokasi Sungai Epawa, per-jalanan dari Desa Urfas Waropen menuju desa Somiangga dengan carter speed boat selama 3 jam. Selanjutnya naik truck ke arah hulu Sungai Epawa hingga 40 km ke arah Wapoga.Perjalanan dilanjutkan dengan ber-jalan kaki menelusuri sungai Epawa. Pada lintasan yang ketiga, perjalanan ke arah Ti-mur dari Sungai Epawa selama tiga hari me-nuju sungai Amiwa dan Sungai Budewa.

Geomorfologi daerah penelitian terdiri dari tiga satuan geomorfologi, yakni peda-taran alluvial menempati bagian barat lem-bar peta, disusun oleh satuan endapan alu-vial. Berikutnya adalah satuan geomorfologi perbukitan bergelombang landai, menempati bagian tengah lembar penelitian, yang disu-sun oleh satuan batulempung. Satuan perbu-kitan terjal, menempati bagian timur dan tenggara lembar penelitian, disusun oleh satuan konglomerat dan batuan vulkanik lainnya.

Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari endapan aluvial menempati pedataran alu-vial, batu lempung sisipan batu pasir, lanau menempati perbukitan bergelombang landai, dan menindih secara tidak selaras semu satuan konglomerat aneka bahan seperti batu pasir, batulempung, batulanau, konglomerat dan batuan vulkanik menempati satuan geo-morfologi perbukitan terjal. Struktur geologi daerah penelitian, terdapat struktur perla-pisan, perlipatan dan patahan pada batu

lem-Sejarah geologi, satuan endapan konglo-merat dan vulkanik merupakan endapan ke-rak Samudera Pasifik, terdiri dari selang-se-ling batupasir, batulempung tipis, konglome-rat dan sedimen piroklastik lainnya yang ter-lipat dan diikuti intrusi vulkanik purba. Di-tindih secara tidak selaras oleh satuan batuan lempung Wapoga sisipan batupasir dan ba-tulanau.

Satuan batu lempung Wapoga yang ber-lapis, karena pengaruh tektonik kompresif ke arah Timur Laut – Barat Daya hingga rotasi dari Timur ke Barat, mengalami perlipatan dan tersesarkan arah Timur Laut – Barat Da-ya. Sayap timur antiklin Wapoga mengalami penurunan dan tertutup oleh satuan endapan piroklastik yang berasal dari intrusi vulkanik purba. Terdapat intrusi vulkanik yang mem-bantu proses koalifikasi endapan batubara yang terdapat pada satuan batu lempung se-hingga kualitasnya makin baik 4). Terdapat

tiga seam batubara masing-masing dengan tebal 1 meter, 0,80 meter dan 0,50 meter pa-da satuan batu lempung Wapoga selang-se-ling konglomerat.

2. METODE

Sebelum melakukan peninjauan lapa-ngan, perlu terlebih dahulu dilakukan studi literatur dan laporan hasil penelitian batuba-ra terdahulu. Adapun metode penelitian dila-kukan dengan prinsip pemetaan geologi per-mukaan yakni dengan cara melakukan orien-tasi di lapangan3). Sebagian lintasan

meng-ikuti jalan raya serta menelusuri sungai yang menjadi daerah target penelitian. Selama o-rientasi lapangan dilakukan pengamatan ter-hadap singkapan batuan dan struktur geolo-gi, pengukuran strike/dip lapisan batuan dan batubara serta pengukuran tebal seam batu-bara.

Orientasi lapangan akan dilakukan sete-lah dilakukan kajian geologi regional kemu-dian diikuti dengan interpretasi geomorfolo-gi, stratigrafi, struktur geologeomorfolo-gi, jumlah seam batubara dan perhitungan sumber daya batu-bara. Sumber daya batubara dihitung berda-sarkan interpretasi jumlah seam, strike/dip

(3)

serta tebal seam pada suatu luas penyebaran tertentu2).

3. PEMBAHASAN

Dari hasil interpretasi dan peninjauan di lapangan, geologi daerah Somiangga dan se-kitarnya terdiri dari geomorfologi yang beru-pa satuan pedataran alluvial, satuan perbuki-tan bergelombang landai, satuan perbukiperbuki-tan terjal. Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari endapan alluvial, batulempung sisipan batupasir dan batulanau (Gambar 1 dan 2). Satuan ini menindih secara tidak selaras sa-tuan konglomerat. (Gambar 3 dan 4).

Gambar 1. Singkapan batulempung selang seling batupasir, batulanau. warna abu-abu terang, kedudukan N 220ºE/45 º

Gambar 2. Singkapan batupasir selang seling batulempung warna abu-abu

terang, kedudukan N 220ºE/45 º

Gambar 3. Bagian hulu sungai Wotoa ditandai bongkah-bongkah lava vulkanik

Gambar 4. Singkapan batu lempung Wapoga ditindih secara tidak selaras

satuan konglomerat Dewewa

Pada struktur geologi daerah penelitian, terdapat struktur perlapisan, perlipatan dan patahan pada batu lempung Wapoga (Gam-bar 5 dan 6).

Gambar 5. Singkapan batulempung Wapoga terdapat offset struktur geologi

(4)

Gambar 6. Singkapan batulempung Wapoga, diperkirakan inti antiklin

Di daerah penelitian, pada satuan batu-lempung Wapoga, ditemukan seam batubara setebal 50 cm. Penilaian sementara adalah kurang prospek untuk ditindak lanjuti. Seba-ran batubara pada batuan konglomerat De-wewa merupakan daerah prospek karena pa-da satuan ini ditemukan enpa-dapan batubara yang lebih tebal. Untuk sementara ada dua seam dengan ketebalan 100 cm dan 80 cm. Pada satuan konglomerat, setelah overbur-den 5 m ditemukan seam batubara 100 cm, pada interburden 5 – 10 meter ditemukan se-am batubara 80 cm.

Satuan Konglomerat Dewewa (Tpd) di-tindih secara secara selaras atau tidak selaras semu oleh satu batu lempung Wapoga. Perlu penelitian lanjut pada kandungan fosil untuk mengetahui kontak stratigrafi. Asumsi lama, satuan batulempung Wapoga merupakan sa-tuan pembawa batubara.Dari pengamatan la-pangan, didapat bahwa satuan konglomerat merupakan satuan batuan pembawa batu-bara, yakni pada sisipan batupasir halus, ba-tulanau dan batulempung. Dari hasil penye-lidikan umum batubara di daerah hulu su-ngai Wotoa, hulu Susu-ngai Epawa dan susu-ngai Budewa ditemukan singkapan batubara se-bagai berikut :

1. Didaerah hulu Sungai Wotoa, terletak pada koordinat 136º29’35,06” BT dan 02º26’47.05” LS,tebal kedudukan strike N 45ºE/5º berwarna hitam dengan tebal 50 cm. Sebagai tanah penutup berupa endapan piroklastik, ke arah timur kon-tak dengan satuan vulkanik (Gambar 7).

ini terletak pada sayap timur antiklin Wotoa yang berarah Timur Laut-Barat Daya.

Gambar 7. Singkapan batubara tebal 50 cm kedudukan N 45º E/5º di hulu

Sungai Wotoa

2. Di daerah hulu Sungai Epawa, terletak pada koordinat 138,4263º Bujur Timur dan 2,65368º Lintang Selatan ditemu-kan ketebalan 80 cm dengan kedududitemu-kan N 225ºE/5º (Gambar 8 dan 9). Warna hitam dan tanah penutup berupa satuan lempung selang-seling dengan batu pa-sir. Dari interpretasi geologi, singkapan ini terletak pada sayap barat antiklin Wotoa, berarah Timur Laut-Barat Daya. 3. Didaerah hulu Sungai Budewa endapan

batubara ditemukan dua seam dengan tebal masing–masing 80 cm, pada ba-gian atasnya ditemukan batubara hingga tebal 100 cm dengan kedudukan strike /dip N225º E/5º.

Gambar 8. Singkapan batubara di bagian hulu Sungai Epawa

(5)

Gambar 9. Singkapan batubara di bagian hulu Sungai Epawa kedudukan N 45º E / 5º

dengan ketebalan 1 meter.

Gambar 10. Singkapan konglomerat di hulu Sungai Epawa. Terlihat air terjun sebagai gejala struktur patahan di daerah penelitian

4. Endapan batubara yang tersingkap di bagian hulu Sungai Wotoa terletak pada satuan batuan lempung sisipan batupasir dan batulanau. Di daerah hulu Sungai E-pawa dan Sungai Budewa endapan ba-tubara menempati satuan batuan kong-lomerat, sisipan batupasir dan batulanau (Gambar 10). Ke arah Tenggara pada satuan konglomerat Dewewa diperkira-kan adiperkira-kan ditemudiperkira-kan endapan batubara yang lebih tebal dan prospek untuk di-tindaklanjuti ke tahap eksplorasi. Secara kasat mata, endapan batubara ditemu-kan pada dua satuan batuan yakni satuan batu lempung Wapoga dan satuan ba-tuan konglomerat Dewewa dengan si-sipan batu pasir halus, batulanau dan batulempung.

5. Dari rekonstruksi perlapisan pada linta-san sungai Wotoa, pada satuan batulem-pung Wapoga diperkirakan ditemukan

struktur antiklin dengan arah sumbu Ti-mur Laut-Barat Baya (Gambar 6). Pada sayap antiklin bagian timur, terjadi am-blesan dan diikuti sesar naik. Pada blok yang naik (hanging wall) terdapat sisi-pan batu bara setebal 50 cm. Selanjut-nya tererosi dan ditindih secara tidak se-laras oleh konglomerat Dewewa.

Apabila tebal satuan batu lempung Wa-poga hingga 600 meter maka batubara ter-letak pada sayap antiklin bagian timur paling atas yakni ke arah hulu sungai Wotoa hampir sentuh dengan konglomerat Dewewa. Kete-balan tipis kurang lebih 50 cm dan agak ku-sam.

Endapan batubara lainnya terdapat pada satuan batuan konglomerat Dewewa pada si-sipan batupasir halus, batulanau dan batu-lempung. Di daerah hulu Sungai Epawa de-ngan ketebalan 80 cm. Endapan batubara di-temukan di daerah hulu Sungai Budewa pa-da satuan batuan konglomerat. Apa-da dua se-am batubara yakni paling atas 100 cm dan di bawahnya dengan interburden 5 – 10 m dite-mukan seam batubara 80 cm. Sebaran enda-pan batuan konglomerat Dewewa menjadi semakin menarik untuk diteliti karena ada-nya penemuan endapan batubara di dalam-nya. Dengan demikian jika endapan batubara ditemukan pada sebaran batulempung Wa-poga dan pada sisipan konglomerat seluas 1 km2 maka ditemukan sumber daya batubara

hingga 2.500.000 ton. Penelitian ke arah eks-plorasi dapat ditindaklanjuti hingga detail, mengingat sebaran satuan konglomerat De-wewa melampar ke arah timur (Lembar Be-oga) dan ke arah selatan (Lembar Nabire) dan menurut perkiraan peta geologi lembar Waren, ketebalannya mencapai 1000 meter. Dengan demikian sangat prospek untuk di-teliti lebih lanjut.

4. SIMPULAN

Ada tiga satuan morfologi di daerah pe-nelitian yakni satuan morfologi dataran ren-dah yang ditempati oleh endapan alluvial, lo-kasi di bagian Barat dan Utara lembar pene-litian.Satuan morfologi bergelombang landai pada bagian tengah disusun oleh satuan

(6)

ba-tulempung Wapoga. Satuan morfologi ber-gelombang sedang, ditempati oleh satuan ba-tuan konglomerat. Stratigrafi ada tiga saba-tuan yakni endapan alluvial menempati pedata-ran rendah, satuan batulempung sisipan ba-tupasir dan batulanau menempati morfologi bergelombang rendah dan satuan konglome-rat terdiri dari aneka bahan sisipan batupasir halus, batulanau dan batulempung menem-pati satuan morfologi perbukitan bergelom-bang sedang. Endapan batubara pada satuan batulempung kurang prospek untuk ditindak-lanjuti karena tipis dan kualitasnya kurang baik. Pada satuan konglomerat, batubara terdapat pada sisipan batupasir halus dan batu lempung. Jumlah seam batubara di daerah penelitian ada tiga seam dengan tebal masing-masing 0,5 m, 0,80 m dan 1,20 m yang ditemukan pada sebaran batulem-pung Wapoga dan pada sisipan konglomerat seluas 1 km2 maka diperkirakan terdapat

sumber daya batubara sebesar 2.500.000 ton. Disarankan untuk melakukan penelitian batubara lebih lanjut pada satuan konglome-rat Dewewa mengingat sebaran batuan ini sangat luas. Hal itu mengindikasikan bah-wa tonase sumber daya/cadangan batubara adalah sangat besar dan prospek untuk di-tindaklanjuti ke arah eksplorasi maupun eks-ploitasi di masa yang akan datang. Sebagai langkah awal disarankan untuk melak-sanakan pemetaan detail skala 1 : 5.000 s.d. 1 : 1.000 sebaran satuan konglomerat De-wewa di daerah hulu Singai Budewa Desa Somiangga Kabupaten Waropen.

5. DAFTAR PUSTAKA

1. Hakim, A.S., Harahap, B.H. Peta Geo-logi lembar Waren, Irian Jaya. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geo-logi; 1994.

2. Thomas, L. Handbook of Practical Coal Geology. England: Dargo Associate Ltd Geological and Coal Resources Consul-tants; 1992.

3. Rauf. A. Eksplorasi Tambang. Yogya-karta: Jurusan Teknik Pertambangan Fa-kultas Teknologi Mineral Universitas

4. Sukandarrumidi. Batubara dan gambut, Yogyakarta: Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada; 1995.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :