• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan (KDT) Fiqih Khas Mazhab Maliki (Puasa-Haji-Pernikahan) Penulis : Ahmad Sarwat, Lc.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan (KDT) Fiqih Khas Mazhab Maliki (Puasa-Haji-Pernikahan) Penulis : Ahmad Sarwat, Lc."

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan (KDT) Fiqih Khas Mazhab Maliki (Puasa-Haji-Pernikahan) Penulis : Ahmad Sarwat, Lc.,MA

38 hlm

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Judul Buku

Fiqih Khas Mazhab Maliki (Puasa-Haji-Pernikahan)

Penulis

Ahmad Sarwat, Lc. MA

Editor

Fatih

Setting & Lay Out

Fayyad & Fawwaz

Desain Cover

Faqih

Penerbit

Rumah Fiqih Publishing Jalan Karet Pedurenan no. 53 Kuningan

(4)
(5)

Daftar Isi

Daftar Isi ... 5

Bab 2 : Shalat ... 7

1. Meletakkan Tangan Dulu Baru Lutut Waktu Sujud ... 7

2. Basmalah ... 7

3. Duduk Tawarruk Pada Kedua Tasyahud ... 8

4. Tidak Bersedekap ... 9

5. Tidak Ada Doa Istiftah ... 10

6. Gerakan Jari Kanan Kiri ... 10

7. Batas Minimal Shalat Jumat ... 10

8. Wanita Multak Tidak Boleh Jadi Imam ... 11

9. Makmum Boleh Melewati Imam ... 13

10. Takbir Adzan Hanya Dua Kali ... 14

11. Qashar Hukumnya Sunnah ... 14

12. Tidak Ada Air atau Tanah, Gugur Kewajiban Shalat ... 15

13. Shalat Tarawih Lebih Utama di Rumah ... 15

14. Qunut Witir Bid’ah ... 16

15. Shalat Jenazah Disyaratkan Berjamaah ... 17

16. Sujud Sahwi Sesudah Salam ... 17

17. Sunnah Qunut Shubuh Sebelum Ruku’ ... 20

Bab 3 : Puasa ... 22

(6)

2. Puasa Sunnah Harus Tabyit ... 23

3. Sengaja Batalkan Puasa Kena Kafarat ... 24

3. Lupa Makan Minum Mewajibkan Qadha’ ... 25

4. Menyetubuhi Istri Karena Lupa ... 26

5. Bercumbu Terkena Kaffarah ... 27

6. Boleh Pilih Kaffarah ... 27

7. Menolak Kesunnahan Puasa 6 Hari Syawwal .. 28

8. Menolak Kesunnahan Puasa Ayyamul Bidh .... 28

9. Minimal I’tikaf Harus Sehari Semalam ... 28

10. I’tikaf Harus Sambil Puasa ... 29

Bab 4 : Haji ... 31

1. Murtad Harus Haji Lagi ... 31

2. Parfum Tidak Disunnahkan ... 32

3. Tawaf Harus Berjalan Kaki Bagi yang Mampu . 33 4. Melambai ... 33

5. Terlambat Melontar Jamarat ... 34

Bab 5 : Nikah ... 36

(7)

Bab 2 : Shalat

1. Meletakkan Tangan Dulu Baru Lutut Waktu Sujud

Al-Malikiyah berpendapat yang disunnahkan meletakkan kedua tangan terlebih dahulu baru kemudian kedua lututnya. Dalil mereka adalah hadits berikut ini :

َةَريَرُه ِبيَأ نَع

الله ُلو ُسَر َلاَق َلاَق

َلاَف ُكُ ُدَحَأ َدَ َسَ إَذ

إ

ِ

كُبرَي

َدَي ع َضَيلَو ُيرِعَبلإ ُكُبرَي َ َكَم

ِهيَتَبكُر َّ ُثُ ِهي

Dari Abi Hurariah radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasululah SAW bersabda,"Bila kamu sujud janganlah seperti duduknya unta. Hendaklah kamu meletakkan kedua tangan terlebih dahulu baru kedua lutut. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai dan Tirmizy)

2. Basmalah

Pandangan mazhab Al-Malikiyah, basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga tidak boleh dibaca dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan juga baik dalam shalat jahriyah maupun sirriyah.

Dasarnya adalah hadits berikut ini :

ُتْيَّل َص

َفْلَخ

لو ُسَر

َِّللّإ

ِبيَأَو

رْكَب

َرَ ُعَُو

َناَمْثُعَو

ِ ِلَعَو

(8)

إوُن َكََف

َنوُحِتَتْفَي

َةَءإَرِقْلإ

ِدْمَحْل ِبِ

َِّ ِللّ

ِِبَر

َيِمَلاَعْلإ

َل َو

َنو ُرُك ْذَي

ِم ْسِب

َِّللّإ

ِنَ ْحَّْرلإ

ِيِحَّرلإ

ِف

لَّوَأ

ةَءإَرِق

َل َو

ِف

اَهِرِخ أ

Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu

berkata,”Aku shalat di belakang Rasulullah SAW,

Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali

radhiyallahuanhum. Mereka memulai qiraat dengan membaca Al-Hamdulillahirabbil ‘alamin, dan tidak membaca bismillahirramanirrahim di awal qiraat atau di akhirnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada satu pendapat di kalangan ulama mazhab Al-Malikiyah yang membolehkan seseorang membaca basmalah di dalam Al-Fatihah, namun khusus untuk shalat sunnah dan bukan shalat wajib.

3. Duduk Tawarruk Pada Kedua Tasyahud

Para ulama dari kalangan Al-Malikiyah sebagaimana diterangkan di dalam kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir menyunnahkan untuk duduk tawaruk baik pada tasyahhud awal maupun untuk tasyahhud akhir. Dalilnya adalah hadits Nabi :

Dari Ibnu Mas'ud berkata bahwa Rasulullah SAW duduk di tengah shalat dan akhirnya dengan duduk tawaruk.

Al-Imam Al-Qarafi dalam kitab Adz-Dzahirah menyebutkan sebagai berikut :

نىيملإ لهجر بصنيو ضرألإ لى إ هيتيلأأب ضيفي ءإوس هكل سوللجإ

ىسريلإ لهجر نيثيو ضرألإ لي امم امهابه إ رهاظو

(9)

Semua posisi duduk itu sama saja, yaitu meletakkan pantatnya ke tanah, menasahbkan kaki kanan dan ujung ibu jarinya menyentuh

tanah, dan melipat kaki kirinya.1

4. Tidak Bersedekap

Jumhur ulama selain Al-Malikiyah mengatakan bahwa disunnahkan untuk bersedekap, yaitu meletakkan tapak tangan kanan di atas tapak tangan kiri, dengan dalil berikut ini :

ْنَع

َو ِئإ

ِل

ْب

ِن

ُح

رْج

َأ َّن

ُه

َر َأ

ى

َّنلإ

َّ ِب

َر

َف َع

َي

َد ْي

ِه

ِح

َ ْي

َد

َخ

َل

ِف

َّصلإ

َلا

ِة

َو َك

ََّبر

َُّثُ

ْلإ

َت

َح

َف

ِب

َث ْو ِب

ِه

َُّثُ

َو

َض

َع

َي َد

ُه

ُيلإ

ْم

َنى

َع

َل

َك

ِِف ِه

ُيلإ

َ ْسر

ى

َو

ِِرلإ

ْس

ِغ

َو

َّسلإ

ِعا

ِد

Dari Wail bin Hajr radhiyallahuanhu bahwa dia melihat Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ketika memulai shalat, lalu bertakbir dan meletakkan tangan kanannya di atas tapak tangan kirinya, atau pergelangannya atau lengannya. (HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa'i)

Sedangkan Al-Malikiyah tidak menganggap meletakkan tangan di atas dada dan lainnya itu sebagai sunnah. Bagi mazhab ini, posisi tangan

dibiarkan saja menjulur ke bawah. 2

Pendapat ini juga dipilih oleh Hasan al-Bashri, an-Nakhai, Laits bin Sa’ad, Ibnu Juraij, Imam al-Baqir, an-Nashiriyyah. 3

1 Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah

2 Ibnu Abdil Barr, At-Tamhid, jilid 20 hal. 76

(10)

Bahkan mereka mengatakan bahwa hal itu kurang disukai bila dilakukan di dalam shalat fardhu 5 waktu, namun dibolehkan bila dilakukan dalam shalat sunnah (nafilah).

5. Tidak Ada Doa Istiftah

Doa istiftiftah juga seringkali disebut dengan doa iftitah atau do'a tsana'. Semuanya merujuk pada lafadz yang sama. Hukum membacanya adalah sunnah menurut jumhur ulama, kecuali Al-Malikiyah yang menolak kesunnahannya.

6. Gerakan Jari Kanan Kiri

Mazhab Al-Malikyah mengatakan bahwa sunnahnya menggerak-gerakkan jari tangan ke arah kanan dan kiri sepanjang lafadz tasyahhud diucapkan, sebagaimana disebutkan di dalam hadits.1

7. Batas Minimal Shalat Jumat

Mazhab Al-Malikiyah menyebutkan minimal shalat Jumat dikerjakan oleh 12 orang, tetapi kalau dikerjakan hanya oleh satu orang saja, jelas shalat itu tidak sah.

Jumlah ini didapat dari peristiwa yang disebutkan dalam surat Al-Jumu’ah yaitu peristiwa bubarnya sebagian peserta shalat jumat karena datangnya rombongan kafilah dagang yang baru

pulang berniaga. Serta merta mereka

meninggalkan Rasulullah SAW yang saat itu sedang berkhutbah sehingga yang tersisa hanya tinggal 12 orang saja.

(11)

َرَتَو اَ ْيَْل

إ إو ُّضَفنإ إًوْهَل ْوَأ ًةَراَ ِتِ إْوَأَر إَذ

ِ

ِ

إَو

ِ َّللّإ َدنِع اَم ْلُق اًمِئاَق َكوُك

َيِقِزإَّرلإ ُ ْيرَخ ُ َّللّإَو ِةَراَجِِتلإ َنِمَو ِوْهَّللإ َنِِم ٌ ْيرَخ

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri . Katakanlah: 'Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan', dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.(QS. Al-Jumu’ah : 11)

Oleh kalangan Al-Malikiyah, tersisanya 12 orang yang masih tetap berada dalam shaf shalat Jum’at itu itu dianggap sebagai syarat minimal jumlah peserta shalat Jumat. Dan menurut mereka, Rasulullah SAW saat itu tetap meneruskan shalat jumat dan tidak menggantinya menjadi shalat zhuhur.

8. Wanita Multak Tidak Boleh Jadi Imam

Mazhab Al-Malikiyah tegas-tegas menolak perempuan menjadi imam, meski semua jamaahnya wanita, baik dalam shalat fardhu

maupun shalat sunnah. 1

Sedangkan para fuqaha lainnya sepakat bahwa seorang perempuan hanya boleh menjadi imam sesama perempuan saja, sedangkan bila mengimami makmum laki-laki, hukumnya tidak sah. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :

َل

َّنَّمُؤَت

ٌةَأَرْمإ

ًلاُجَر

(12)

Janganlah seorang wanita menjadi imam buat laki—laki. (HR. Ibnu Majah)

َّنُهو ُرِِخَأ

ْنِم

ُثْيَح

َّنُهَرَّخَأ

َُّللّإ

Posisikan para wanita di belakang sebagaimana

Allah SWT memposisikan mereka di

belakang.(HR. Abdurrazzaq)

Sedangkan bila seorang wanita mengimami jamaah yang semuanya wanita, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jumhur ulama yaitu mazhab Hanafiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah membolehkan sepenuhnya.

Dasarnya adalah izin yang Rasulullah SAW berikan kepada Ummu Waraqah kala mengimami shalat fardhu berjamaah dengan makmum yang semuanya terdiri dari wanita.

ْنَع

ِِمُأ

َةَق َرَو

َّنَأ

َّ ِبَّنلإ

َنِذَأ

اَهَل

ْنَأ

َّمُؤَت

َءا َسِن

لْهَأ

اَهِرإَد

Dari Ummu Waraqah radhiyallahuanha bahwa Nabi SAW mengizinkannyua menjadi imam bagi wanita anggota keluarganya. (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Namun mazhab meski membolehkan tetapi mazhab Al-Hanafiyah masih memakruhkan imam perempuan, meski semua jamaahnya perempuan. Dasarnya karena menurut pandangan mereka, wanita adalah orang yang tidak bisa terlepas dari sifat naqsh (kekurangan). Sebagaimana mereka tidak disunnahkan untuk melantunkan adzan dan iqamah, maka mereka juga tidak disunnahkan untuk menjadi imam, meski dengan sesama

(13)

jamaah wanita.

9. Makmum Boleh Melewati Imam

Mazhab Maliki berpendapat boleh saja posisi makmum sedikit melewati imam, asalkan dipastikan makmum masih bisa mengikutinya. Mazhab ini berpendapat bahwa makmum sedikit

lebih ke belakang dar imam hukumnya mandub. 1

Sementar ulama ulama lain mensyaratkan posisi makmum tidak boleh melebihi posisi imam, kecuali mazhab Al-Malikiyah.

Jumhur ulama di antaranya ulama dari mazhab Hanafiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa posisi makmum tidak boleh melewati posisi imam. Paling tidak, minimal posisi makmum sejajar saja dengan degan imam. Dan kalau sampai melewati batas posisi imam, otomatis batal jadi makmum.

Dasar dari ketentuan ini adalah hadits Rasulullah SAW di atas, yaitu tentang fungsi imam yang harus diikuti

اَمنَِّإ

َلِعُج

ُماَمِلإا

مَتْؤُ يِل

ِهِب

Sesungguhnya seseorang dijadikan imam untuk diikuti. (HR. Muslim)

Dan tidak mungkin makmum bisa mengikuti imam kalau posisinya lebih di depan. Karena yang namanya mengikuti gerakan imam itu tidak mungkin berada di depannya, harus ada di belakangnya.

(14)

10. Takbir Adzan Hanya Dua Kali

Pendapat mazhab Al-Malikiyah, yaitu hanya dua kali takbir di awal adzan. Pendapat ini juga didukung dua murid Abu Hanifah, yaitu Abu Yusuf dan Muhammad.

Dasarnya adalah praktek penduduk Madinah. Sebagaimana kita tahu bahwa diantara metode ijtihad mazhab Al-Malikiyah adalah amalu ahlil madinah (ةنيدملا لهأ لمع).

Selain itu ternyata ada riwayat yang lain dari hadits Abdullah bin Zaid, yang ternyata disana

hanya terdapat dua kali takbir di awalnya. 1

Sementara mazhab Al-Hanafiyah,

Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa jumlah takbir di awal adzan empat kali, sebagaimana disebutkan di dalam hadits Abdullah bin Zaid yang bermimpi mendengar adzan, dan juga mimpi yang

dialami oleh Umar bin Al-Khattab.2

11. Qashar Hukumnya Sunnah

Yang masyhur berpendapat bahwa

mengqashar shalat hukumnya sunnah adalah mazhab Malikiyah. Dasarnya adalah tindakan Rasulullah SAW yang secara umum selalu mengqashar shalat dalam hampir semua perjalanan beliau. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu

ِ َص

ْب

ُت

َّنلإ

َّ ِب

َف

َكَ

َن

َل

ُي ِ

ز ْي

ُد

ِف

َّسلإ

َف

ِر

َع

َل

َر

ْك َع

َت

ِ ْي

َو َأ

ُبو

َب

ْك

ِر

1 Al-Bada’i jilid 1 hal. 147

(15)

َو

َُعُ

ُر

َو ُع

ْث َم

ُنا

َك

َذ

َ ِ

ل

Abdullah bin Umar berkata,"Aku menemani Rasulullah SAW, beliau tidak pernah menambah shalat lebih dari 2 rakaat dalam safar, demikian pula Abu Bakar, Umar dan Utsman." (HR. Bukhari Muslim)

Mazhab Abu hanifah mewajibkan qashar bagi orang yang melakukan perjalanan yang telah terpenuhi syaratnya. Istilah lain yang sering digunakan adalah azimah.

Yang berpendapat bahwa mengqashar shalat atau tidak itu merupakan pilihan adalah mazhab As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah.

12. Tidak Ada Air atau Tanah, Gugur Kewajiban Shalat

Sedangkan dalam pandangan mazhab Al-Malikiyah, orang tersebut tidak perlu melakukan shalat, tidak perlu mengulangi bila sudah memungkinkan dan juga tidak perlu mengqadha'. Sebab dalam pandangan mazhab ini, kewajiban shalat gugur dengan sendirinya pada saat tidak ada air dan tanah.1

13. Shalat Tarawih Lebih Utama di Rumah

Dalam pandangan mazhab Al-Malikiyah, shalat tarawih lebih utama dikerjakan di rumah masing-masing dan bukan di dalam masjid. Ada beberapa alasan yang digunakan, di antaranya sabda Rasulullah SAW :

(16)

َةَلا َّصلإ َّل

ِ

إ ِهِتْيَب ِف ِءْرَمْلإ ِةَلا َص َ ْيرَخ َّن

اَف ْ ُكُِتوُيُب ِف ِةَلا َّصل ِبِ ْ ُكُْيَلَع

ِ

َةَبوُتْكَمْلإ

Dari Abu Dzar radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Hendaklah kalian shalat sunnah di rumah-rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat seseorang itu di rumahnya, kecuali shalat fardhu". (HR. Muslim)

Alasan lain yang dikemukakan mazhab Al-Malikiyah tentang lebih utama shalat tarawih di rumah adalah agar terhindar dari riya' ingin dipuji orang.

14. Qunut Witir Bid’ah

Mazhab Al-Malikiyah mengatakan bahwa qunut pada shalat witir hukumnya bid'ah, dan tidak ada masyru'iyah dari Rasulullah SAW.

Pendapat ini juga didukung oleh Abdullah bin

Umar radhiyallahuanhu, dimana beliau

mengatakan bahwa tidak ada perintahnya. Thawus mengatakan hukumnya bid'ah bila dikerjakan.

Namun ada sebagian pendapat dari mazhab ini yang mengatakan bahwa qunut pada shalat witir disunnahkan separuh kedua dari bulan

Ramadhan. 1

Sedangkan Mazhab Al-Hanafiyah mewajibkan qunut pada shalat witir. Dalam hal ini tidak dibedakan apakah shalat witir itu di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan, pendeknya sepanjang waktu, kalau seseorang

(17)

melakukan shalat witir, maka dia wajib membaca doa qunut sebelum ruku', setelah selesai membaca

ayat Al-Quran dalam rakaat itu. 1

Mazhab Asy-Syafi'iyah mengatakan bahwa qunut pada shalat witir hukumnya sunnah, hanya

pada paruh kedua bulan Ramadhan. 2

Sedangkan mazhab Al-Hanabilah, dalam beberapa hal berpendapat sama dengan madzhab As-Syafi'iyah, tentang kesunnahan qunut witir. Namun ada beberapa perbedaan, antara lain bahwa sunnah qunut witir bukan hanya pada paruh akhir bulan Ramadhan, tetap sepanjang tahun, bagi siapa pun yang mengerjakan shalat witir, maka disunnahkan untuk membaca doa qunut pada rakaat terakhir. 3

15. Shalat Jenazah Disyaratkan Berjamaah

Sedangkan Al-Malikiyah mengatakan bahwa disyaratkan harus berjamaah dalam mengerjakan shalat jenazah. Hukumnya mirip dengan shalat Jumat. Dan bila dikerjakan tanpa berjamaah, harus

diulangi lagi dengan berjamaah. 4

Al-Hanafiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah sepakat juga bahwa tidak disyaratkan berjamaah dalam shalat jenazah. Sehingga shalat ini tetap sah meski dikerjakan sendirian atau seorang saja.

16. Sujud Sahwi Sesudah Salam

1 Al-Bahr Ar-Raiq jilid 2 hal. 43

2 Al-Imam An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab

jilid 4 hal. 15

3 Syarah Muntahal Iradat, jilid 1 hal. 226

(18)

Berbeda dengan mazhab-mazhab lainnya, mazhab Al-Malikyah berpendapat bahwa ada dua tempat untuk melakukan sujud sahwi, yaitu sebelum salam dan sesudah salam.

a. Sebelum Salam

Yang dilakukan sebelum salam adalah bila sujud sahwi dikerjakan lantaran karena adanya kekurangan dalam mengerjakan gerakan shalat. Misalnya seseorang terlupa tidak duduk dan bertasyahhud awal setelah dua rakaat shalat dilakukannya, kecuali dalam shalat shubuh yang memang jumlah rakaatnya hanya dua saja.

Maka bila hal itu terjadi, yang harus dilakukan adalah melakukan sujud sahwi sesaat sebelum melakukan salam penutup dari shalatnya. Dalilnya tentang sebelum salam adalah :

نع

ِدْبَع

َِّللّإ

ِنْب

ِ ِ

لاَم

ِنْب

َةَنْيَ ُبُ

َّنَأ

لو ُسَر

َِّللّإ

َماَق

َنِم

َنْثإ

ِ ْيَت

َنِم

ِرْه ُّظلإ

ْمَلَو

ْسِلْ َيَ

اَمُ َنَْيَب

اَّمَلَف

َ

ضَق

ُهَتَلا َص

َدَ َسَ

ْ َسَ

َد

ِ ْيَت

Dari Abdillah bin Malik bin Juhainah bahwa Rasulullah SAW langsung bangun setelah dua rakaat pada shalat Dzhuhur tanpa duduk (tasyahhud awal) di antara keduanya. Ketika beliau sudah selesai shalat (sebelum salam), beliau pun melakukan dua kali sujud (sahwi). (HR. Al-Bukhari)

b. Sesudah Salam

Sedangkan bila penyebabnya karena

kelebihan, maka dalam mazhab Al-Malikiyah, waktu untuk mengerjakan sujud sahwinya

(19)

dilakukan setelah salam.

Misalnya seseorang terlupa dalam shalat sehingga dia mengerjakan lima rakaat dari yang seharusnya empat rakat, baik shalat Dzhuhur, Ashar atau pun Isya'. Maka begitu dia sadar bahwa shalatnya kelebihan rakaat, walau pun sudah salam, disunnahkan untuk mengerjakan dua sujud sahwi. Dalil yang menyebutkan beliau sujud sahwi setelah salam adalah hadits berikut ini :

ِدْبَع

َِّللّإ

ِنْب

دوُع ْسَم

ض

لاَق

:

َّل َص

اَنِب

لو ُسَر

َِّللّإ

ا ًسْ َخَ

اَنْلُقَف

:

َي

لو ُسَر

َِّللّإ

َديِزَأ

ِف

إ

ِةَلا َّصل

؟

لاَق

:

اَمَو

َكإَذ

؟

إوُلاَق

:

َتْيَّل َص

ا ًسْ َخَ

" !

اَمَّن

إ

ِ

َنَأ

ٌ َشَب

ُْكُُلْثِم

ُرُكْذَأ

ََكَم

َنو ُرُك ْذَت

َسْنَأَو

ََكَم

َن ْو َسْنَت

َُّثُ

َدَ َسَ

َِتَدْ َسَ

ِوْه َّسلإ

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahuanhu berkata,"Rasullullah SAW mengimami kami 5 rakaat. Kami pun bertanya,"Apakah memang shalat ini ditambahi rakaatnya?". Beliau SAW balik bertanya,"Memang ada apa?". Para shahabat menjawab,"Anda telah shalat 5

rakaat!". Beliau SAW pun menjawab,

"Sesungguhnya Aku ini manusia seperti kalian juga, kadang ingat kadang lupa sebagaimana kalian". Lalu beliau SAW sujud dua kali karena lupa. (HR. Muslim)

Sedangkan mazhab yang menegaskan bahwa sujud sahwi itu hanya dilakukan sebelum salam adalah Mazhab Asy-Syafi'iyah. Dalam pandangan mazhab ini, apa pun penyebabnya, sujud sahwi tidak dilakukan sesudah salam, melainkan harus

(20)

dilakukan sebelum salam, alias masih di dalam rangkaian ibadah shalat.

Dalilnya sama dengan hadits tentang sujudnya Rasulullah SAW di atas yang dilakukan sebelum salam. Pendapat ini juga diikuti oleh mazhab Al-Hanabilah, dimana mazhab ini mengatakan bahwa semua sujud sahwi dilakukan sebelum salam, dengan dua pengecualian.

17. Sunnah Qunut Shubuh Sebelum Ruku’

Qunut shalat shubuh dalam pandangan mazhab ini bisa dilakukan sebelum ruku' atau pun setelah ruku' pada rakaat kedua. Namun yang lebih diutamakan dilakukan sebelum ruku', setelah selesai membaca ayat Al-Quran dan sebelum takbir intiqal (perpindahan) ke ruku'. 1

Salah satu hikmah kenapa qunut dilakukan sebelum ruku' adalah sebagai bentuk kemurahan kepada orang yang masbuk, yaitu agar tidak tertinggal rakaat. Maksudnya, kalau qunut itu dilakukan sebelum ruku' maka orang yang datang agak terlambat masih bisa ikut ruku' bersama imam, apalagi bila qunutnya agak lama, semakin memberi kesempatan kepada makmum untuk tidak terlewat rakaat.

Sebaliknya, kalau dilakukan setelah ruku', maka makmum yang datang setelah imam bangun dari ruku meski ikut qunut tetap dihitung tidak mendapat rakaat bersama imam.

Hal itu dahulu pernah terjadi di masa Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu, dimana beliau lebih

(21)

suka melakukan doa qunut sebelum ruku', untuk memperpanjang waktu buat jamaah yang terlambat agar bisa ikut satu rakaat bersama imam. Dan hal yang sama terjadi di zaman Utsman bin Al-Affan radhiyallahuanhu, dimana jamaah meminta beliau untuk menempatkan doa qunut sebelum ruku', sebagai kemurahan buat jamaah yang terlambat.1

(22)

Bab 3 : Puasa

1. Satu Niat untuk Satu Puasa

Jumhur ulama mensyaratkan bahwa setiap hari puasa membutuhkan satu niat tersendiri. Sebab dalam pandangan mereka, ibadah puasa itu dihitungnya perhari, bukan satu paket sebulan.

Maka tiap malam Ramadhan harus ada satu niat khusus untuk puasa besoknya. Kalau jumlah hari puasa dalam Ramadhan itu 30 hari, maka kita tiap malam niat selama 30 malam.

Dalil bahwa tiap hari itu berdiri sendiri adalah bila seorang tidak puasa di satu hari dalam rangkaian bulan Ramadhan, tidak merusak puasa hari lainnya.

Sebaliknya, kalau puasa itu dianggap satu paket rangkaian dari awal hingga akhir Ramadhan, konsekuensinya bila batal di satu hari, semua hari pun ikut batal. Seperti satu rukun dalam shalat, bila satu saja tidak dilakukan, maka seluruh rangkaian shalat akan ikut rusak juga.

Namun Al-Malikiyah menentang pendapat ini. Dalam pendiriannya, Al-Malikiyah membolehkan kita berniat satu kali untuk seluruh hari yang ada dalam satu bulan Ramadhan.

(23)

Dalilnya adalah bahwa yang Allah wajibkan bukan hari per hari dalam Ramadhan, melainkan Allah SWT mewajibkan kita puasa untuk satu bulan lamanya.

ْنَمَف

َدِه َش

ُُكُْنِم

َرْه َّشلإ

ُهْم ُصَيْلَف

“…Siapa diantara kalian yang menyaksikan bulan (Ramadhan), maka berpuasalah…” (QS. Al-Baqarah : 185)

2. Puasa Sunnah Harus Tabyit

Mazhab Maliki berbeda dengan semua mazhab lainnya terkait keharusan memabitkan niat untuk puasa sunnah. Dalam pandangan mereka, puasa sunnah pun harus diawali niat pada malam harinya dan tidak bisa disusulkan setelah shubuh.

Pendapat Malikiyah ini didasarkan pada keumuman hadits yang mewajibkan niat sejak malam sebelumnya.

ْنَم

ْمَل

ِتِِيَبُي

َماَي ِِصلإ

َلْبَق

ِعوُل ُط

ِرْجَفلإ

َلاَف

َماَي ِص

َُل

Dari Hafshah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” (HR. Tirmidzy, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).

Sementara mazhab lainnya hanya

mengharuskan tabyit untuk puasa fardu, seperti puasa Ramadhan, qadha’ Ramadhan, nadzar atau kaffarah. Sedangkan untuk puasa sunnah, dibolehkan apabila niatnya menyusul, tidak sejak

(24)

dari malamnya.

3. Sengaja Batalkan Puasa Kena Kafarat

Apabila seorang yang sedang menjalani

ibadah puasa Ramadhan, secara sengaja

melakukan hal-hal yang sekiranya membatalkan puasa, bukan karena lupa juga bukan karena salah mengira, dan juga bukan karena dia mendapat keringanan secara syariah. Seseorang yang secara sengaja berniat untuk membatalkan puasanya, tanpa adanya udzur yang syar’i, maka puasanya bukan hanya batal, tetapi juga diwajibkan untuk membayar denda (kaffarah). Yang berpendapat seperti ini hanya satu madzhab saja yaitu madzhab Al-Malikiyah.

Sedangkan madzhab lainnya seperti Al-Hanafiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah, umumnya tidak mewajibkan denda kaffarat kepada mereka yang secara sengaja membatalkan puasanya, tanpa udzur. Namun mereka sepakat bila seseorang berniat membatalkan puasanya walau pun hanya di dalam hati, maka puasanya memang sudah batal. Dia berkewajiban untuk menggantinya di hari lain.

Kalau kita buatkan tabel dari empat kasus di atas, kira-kira sebagai berikut :

LUPA SALAH SENGAJA DENGAN UDZUR SENGAJA TANPA UDZUR

Tidak batal Batal Batal Batal

Tidak

(25)

Tidak Berdosa Tidak Berdosa Tidak Berdosa Berdosa Tidak Kaffarah Tidak Kaffarah Tidak Kaffarah Bayar Kaffarah

3. Lupa Makan Minum Mewajibkan Qadha’

Orang yang terlupa pada saat berpuasa sehingga dia makan dan minum, dalam pandangan mazhab Maliki meski tidak batas puasanya, namun

tetap diwajibkan mengganti (mengqadha’)

puasanya setelah selesai Ramadhan nanti.1

Dasar istidlal yang digunakan adalah ayat Al-Quran :

َُّثُ

ْإوُّمِتَأ

َماَي ِِصلإ

َلى

ِ

إ

ِلْيلَّلإ

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. (QS. Al-Baqarah : 187)

Dan orang yang makan dan minum di siang hari Ramadhan, meski pun karena terlupa, tetap

dihitung sebagai orang yang tidak

menyempurnakan puasanya hingga malam. Oleh karena itu terkena kewajiban untuk mengganti di hari lain, biar puasanya ‘sempurna’.

Pendapat mazhab ini berbeda dengan tiga mazhab lainnya, Hanafi, Syafi’I dan Hambali. Ketiga mazhab itu tidak mewajibkan qadha’ bagi orang yang makan minum di siang hari Ramadhan karena terlupa. Dasar yang digunakan ketiga mazhab itu adalah hadits berikut ini :

(26)

ْنَم

َ ِسَن

َوُهَو

ٌِئا َص

َ َكَأَف

ْوَأ

َبِ َشَ

َِّتُيْلَف

ُهَمْو َص

اَمَّن

اَف

ِ

ُالله

ُهَمَع ْطَأ

َق َسَو

ُها

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Siapa lupa ketika puasa lalu dia makan atau minum, maka teruskan saja puasanya. Karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sabda Rasulullah SAW dari Abi Hurairah

radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW

bersabda,

ْنَم

َر َطْفَأ

اًمْوَي

ْنِم

َنا َضَمَر

اًي ِ س َن

َلاَف

َءا َضَق

ِهْيَلَع

َل َو

َةَراَّفَك

”Siapa yang berbuka pada saat Ramadhan karena lupa, tidak ada keharusan atasnya untuk mengqadha‘ atau membayar kafarah.” (HR. Ad-Daruquthuny, Al-Baihaqi, Al-Hakim)

4. Menyetubuhi Istri Karena Lupa

Pandangan mazhab Maliki bagi orang yang di siang hari Ramadhan menyetubuhi istrinya karena lupa adalah wajib mengqadha’ puasanya namun tidak terkena kaffarah.1

Posisi itu merupakan posisi di tengah-tengah antara pandangan mazhab Hanafi dan Syafi’i yang berpendapat orang itu tidak terkena kewajiban qadha’ atau pun kaffarah, dengan pendapat mazhab Hambali yang mewajibkan qadha’ dan

1 Al-Faqakih Ad-Dawani, 1/362 dan Al-Mudawwanah

(27)

kaffarah sekaligus.

5. Bercumbu Terkena Kaffarah

Suami istri yang bercumbu di siang hari bulan Ramadhan hingga keluar air maninya, maka selain puasanya batal, juga sudah terkena kewajiban membayar kaffarah.

Dasar pendapat ini adalah pandangan para ulama Malikiyah yang menyamakan inzal atau keluar mani itu dengan jima’. 1

Padahal mazhab lainnya seperti Hanafi, Syafi’I dan Hambali berpendapat bahwa kaffarah itu hanya terkena pada suami istri yang melakukan melakukan jima’ atau hubungan seksual. Kalau hanya keluar mani tanpa jima’, maka batal puasanya namun tidak terkena kaffarah.

6. Boleh Pilih Kaffarah

Ketika suami istri terkena kewajiban kaffarah dari melakukan hubungan seksual di siang hari Ramadhan, pendapat mazhab Maliki berbeda sendiri dari pandangan tiga mazhab lainnya,

khususnya terkait tiga jenis hukumannya.2

Dalam pandangan mereka, tiga jenis hukuman itu sifatnya pilihan. Boleh pilih mana saja yang sekiranya paling sesuai.

Hal ini berbeda dengan pandagan tiga mazhab lainnya, Hanafi, Syafi’I dan Hambali yang wajib diurutkan terlebih dahulu dari yang paling berat, yaitu membebaskan budak.

1 Bidayatul Mujtahid, 1/212

(28)

Kalau diyakini memang sama sekali tidak mampu membebaskan budak, barulah boleh berpindah kepada jenis hukuman kedua, yaitu puasa dua bulan berturut-turut.

Apabila puasa dua bulan berturut-turut pun tidak mampu dilakukan, baru boleh piliha alternatif ketiga, yaitu memberi makan 60 fakir miskin.

7. Menolak Kesunnahan Puasa 6 Hari Syawwal

Mazhab Maliki adalah satu-satunya mazhab yang menolak kesunnahan puasa 6 hari bulan Syawwal. Alasannya bahwa puasa 6 hari Syawwal itu bertentangan dengan amalu ahlil madinah.

Pendapat ini bersumber dari Imam Malik rahimahullah yang merupakan ulama senior di Madinah. Sebab sepanjang hidupnya, Beliau tidak

pernah menyaksikan penduduk Madinah

mengerjakan puasa 6 hari Syawwal. Seandainya memang benar disunnahkan, mustahil penduduk Madinah tidak mengetahuinya.

Sementara 3 mazhab lainnya, yaitu Hanafi, Syafi’I dan Hambali sepakat atas kesunnahan puasa 6 hari Syawwal, berdasarkan banyak hadits shahih.

َكاَذَف ٍلاموَش ْنِم اًّتِس ُهَعَ بْ تَأ مُثُ َناَضَمَر َماَص ْنَم

ِرْهمدلا ُماَيِص

Dari Ayyub Al-Anshari ra, dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda : “orang yang puasa ramadhan lalu dilanjutkan dengan puasa 6 hari dari bulan Syawwal, maka seperti orang yang berpuasa setahun” (HR. Muslim).

8. Menolak Kesunnahan Puasa Ayyamul Bidh 9. Minimal I’tikaf Harus Sehari Semalam

(29)

Dalam bab I’tikaf, mazhab Maliki berbeda sendiri ketika menentukan batas minimalnya. Tidaklah disebut I’tikaf alias tidak sah apabila kurang dari 24 jam atau sehari semalam. Apabila kurang dari sehari semalam, maka i’tikafnya batal dan tidak sah. 1

Kira-kira mirip orang shalat shubuh, minimal harus 2 rakaat. Kalau kurang dari dua rakaat, maka shalatnya dianggap tidak sah.

Sedangkan pandangan jumur ulama tidak sampai mengharuskan sehari semalam. Mazhab Syaf’i dan Hambali membolehkan i’tikaf meski hanya sejenak, atau seukuran tuma’ninah dalam

shalat. Sedangkan mazhab Hanafi hanya

mensyaratkan harus sehari hanya untuk i’ikaf yang hukumnya wajib, kalau hukumnya sunnah maka tidak harus sehari semalam.

10. I’tikaf Harus Sambil Puasa

Jumhur ulama menyepakati bahwa dalam satu ibadah i’tikaf, ada empat rukun yang harus dipenuhi, yaitu orang yang beri’tikaf (mu’takif), niat beri’tikaf, tempat i’tikaf (mu’takaf fihi) dan menetap di dalam masjid.

Namun madzhab Al-Malikiyah menambahkan satu rukun lagi, yaitu puasa. Maksudnya, yang namanya beri’tikaf itu harus dengan cara berpuasa juga.

Sedangkan madzhab Al-Hanafiyah justru hanya memiliki satu saja rukun i’tikaf, yaitu menetap di dalam masjid. Sedangkan rukun-rukun

(30)

yang lainnya, oleh madzhab ini tidak dimasukkan sebagai rukun, melainkan sebagai syarat.

(31)

Bab 4 : Haji

1. Murtad Harus Haji Lagi

Dalam pandangan Mazhab Al-Malikiyah, seorang yang sudah pernah mengerjakan haji wajib, kemudian murtad atau keluar dari agama Islam, bila dia kembali lagi memeluk agama Islam, maka dia wajib berhaji lagi.1

Hal itu lantaran kekafirannya telah

menghapus amal-amalnya yang pernah dikerjakan, termasuk ibadah haji. Pendapat ini didasarkan pada ayat Al-Quran :

ْدِدَتْرَي نَمَو

ِم

ْت َطِبَح َكِئـَلْوُأَف ٌرِف َكَ َوُهَو ْتُمَيَف ِهِنيِد نَع ْ ُكُن

ِراَّنلإ ُباَ ْصَأ َكِئـَلْوُأَو ِةَرِخ لإَو اَيْنُّلدإ ِف ْمُهُلاَ ْعَُأ

اَيِْف ْ ُهُ

َنو ُ ِلداَخ

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah : 217)

ْ ِئَل

َ ُلَ َعُ َّن َطَبْحَيَل َتْكَ ْشََأ

َنيِ ِسِاَخْلإ َنِم َّنَنوُكَتَلَو

(32)

Jika kamu mempersekutukan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar : 65)

Namun Mazhab Asy-Syafi’iyah memandang bahwa orang yang murtad tapi kembali lagi masuk Islam, haji yang pernah dikerjakannya tidak terhapus dan tidak hilang. Sehingga orang itu tidak perlu mengulang hajinya.

2. Parfum Tidak Disunnahkan

Jumhur ulama selain Mazhab Al-Malikiyah menyunnahkan sebelum berihram, diawali dengan memakai parfum atau pewangi. Parfum dalam bahasa Arab disebut ath-thiib (بيطلا), sedangkan

memakai parfum disebut at-tathayyub (بيطتلا).

Tentu yang dimaksud dengan memakai parfum disini bukan ketika sudah mulai berihram, melainkan justru dilakukan sebelum ihram dimulai. Sebab kalau memakai parfum dilakukan setelah mulai berihram, hukumnya justru diharamkan.

Dasarnya adalah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh ibunda mukminin Aisyah radhiyallahuanha berikut ini :

ُتْنُك

ُبِِي َطُأ

لو ُسَر

َِّللّإ

ِهِمإَرْح

ل

ِ

لْبَق

ْنَأ

َمِرْ ُيُ

Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata,”Aku memberi parfum kepada Rasulullah SAW untuk ihramnya sebelum beliau memulai berihram”. (HR. Bukhari dan Muslim)

ِِنَ َكَ

ُر ُظْنَأ

َلى

ِ

إ

ِصيِبَو

ِبي ِِطلإ

ِف

ِقِراَفَم

لو ُسَر

َِّللّإ

َوُهَو

ٌمِرْحُم

(33)

berkata,”Sepertinya Aku melihat kilau parfum pada rambut Rasulullah SAW saat beliau berihram”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan Mazhab Al-Malikiyah adalah satu-satunya mazhab yang tidak menyunnahkan memakai parfum, baik sebelum apalagi ketika sedang berihram. Dalam pandangan mereka, memakai parfum sebelum berihram hukumnya juga terlarang.1

Sedangkan memakai parfum yang bukan di badan tetapi pada pakaian, dalam hal ini menurut pandangan jumhur ulama termasuk hal yang dilarang. Karena termasuk dianggap memakain parfum.

Sedangkan Mazhab As-Syafi’iyah justru menganggapnya sunnah. Asalkan kalau berganti baju yang baru, tidak boleh bila baju itu berparfum.

3. Tawaf Harus Berjalan Kaki Bagi yang Mampu

Mazhab Al-Malikiyah mewajibkan tawaf dengan berjalan kaki. Dan bila dia naik unta atau ditandu, maka dia wajib membayar denda (dam).

Sedangkan tawaf dengan berjalan kaki menurut Mazhab As-Syafi’iyah bukan merupakan syarat tawaf tetapi hukumnya sunnah, sebagaimana hadits Muslim.

4. Melambai

Jumhur ulama memandang bahwa

disunnahkan untuk melambaikan tangan atau mengusapnya bila dimungkinkan, baik ketika mulai

(34)

tawaf atau pun pada setiap kali melewatinya dalam putaran-putaran berikut. Dan juga setelah selesai dari melakukan shalat sunnah dua rakaat tawaf.

Sedangkan Mazhab Al-Malikiyah memandang bahwa yang disunnahkan hanya pada saat akan memulai tawaf di awal saja. Sedangkan pada putaran-putaran berikutnya dipandang sebagai mustahab, selevel di bawah sunnah, dalam istilah mazhab itu.

5. Terlambat Melontar Jamarat

Dalam mazhab Maliki bila seseorang luput dari melempar jumrah sehingga dikerjakan di hari berikutnya, meski masih di hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, atau 13 Dzulhijjah, maka sudah wajib atasnya membayar dam menyembelih

seekor kambing. 1

Pendapat ini agak berbeda dengan pendapat yang ada di dalam mazhab lainnya, yang belum

mewajibkan bayar dam bila seseorang

mengqhadha’ nya masih di hari tasyrik.

Dan hal itu berlaku juga bila seseorang melempar jumrah namun kurang dalam hitungan batunya. Misalnya seharusnya dengan tujuh kerikil untuk tiap jumrah, namun di salah satu jumrah itu, hanya 6 kerikil saja yang bisa dilempar, maka wajiblah atasnya dam.

Wajib membayar dam dalam mazhab ini juga berlaku buat mereka yang tidak mampu melempar sendiri, dan meminta kesediaan orang lain untuk melempar. Artinya, meski sudah diwakilkan, tetap

(35)
(36)

Bab 5 : Nikah

1. Saksi Tidak Termasuk Rukun Nikah

Mazhab Al-Malikiyah menyebutkan bahwa rukun nikah itu ada tiga perkara. Ketiganya itu adalah :

1. Wali nikah

2. Mahallunnikah yaitu suami dan istri 3. Shighah atau ijab qabul

Jumhur ulama baik mazhab Al-Hanafiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa yang termasuk rukun di dalam akad nikah adalah adanya saksi-saksi dalam peristiwa akad itu secara langsung. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

َل

َح َكَِن

َّل

ِ

إ

ِ ِل َوِب

ْي َدِها َشَو

ل ْدَع

Tidak sah sebuah pernikahan tanpa wali dan dua orang saksi yang adil (HR. Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi )

Sedangkan dalam mazhab Al-Malikiyah, adanya persaksian atau hadirnya saksi di dalam sebuah akad nikah hukumnya mustahab, atau disukai. Namun kehadiran para saksi itu bukan termasuk rukun atau syarat dari sebuah

(37)

pernikahan.

Yang menarik, mazhab Al-Malikiyah ini membedakan kedudukan saksi pada saat akad nikah dengan dukhul (لوخد). Dukhul maksudnya adalah melakukan hubungan suami istri secara sah, setelah keduanya diikat dengan akad nikah.

Untuk menghalalkan dukhul, menurut mazhab Al-Malikiyah tetap harus ada isyhad yang menjadi syarat sahnya. Kalau nikah itu hanya akad saja, tanpa dukhul, tidak perlu ada saksi. Tapi kalau kedua pasangan itu mau melakukan hubungan seksual, maka harus ada saksi yang harus hadir demi sahnya akad nikah itu.

Ketentuan ini agak sulit dibayangkan di masa sekarang, atau dalam posisi pernikahan yang normal. Barangkali ketentuan ini lebih mudah dijelaskan ketika ada pasangan yang hanya melaksanakan akad saja, lalu mereka tidak tinggal serumah, seperti ketika Rasulullah SAW menikahi Aisyah radhiyallahuanha.

Beliau dinikahi oleh Rasulullah SAW ketika masih berusia beliau, yaitu menurut salah satu riwayat masih berusia 6 tahun. Dan barulah beliau hidup mendampingi Rasulullah SAW sejak berumur 9 tahun. Ketika mulai hidup serumah dengan beliau SAW, saat itulah disebut dengan dukhul.

(38)

Referensi

Dokumen terkait