• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI KETEK SEB (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI KETEK SEB (1)"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI

(KETEK)

SEBAGAI SARANA ALTERNATIF

DI KOTA JAMBI

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S.1)

Dalam Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam

OLEH

MUHAMMAD ABDUL HANIF

NIM. AS.101055

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI

(2)

NOTA DINAS

Jambi, 12 Mei 2014

Pembimbing I : Drs. Sayuti, M. Pd. I Pembimbing II : Mailinar, S. Sos, M. Ud Alamat : Fakultas Adab dan Humaniora

Kepada Yth,

Ibu Dekan Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Di_

Jambi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Setelah membaca dan mengadakan perbaikan seperlunya, kami berpendapat bahwa skripsi saudara Muhammad Abdul Hanif yang berjudul Eksistensi Transportasi

Sungai (Ketek) sebagai Sarana Alternatif di Kota Jambi telah dapat diajukan untuk

dimunaqasahkan guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S.1) pada Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Maka dengan ini kami ajukan skripsi tersebut agar dapat diterima dengan baik.

(3)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dimunaqasahkan oleh sidang Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi pada Selasa tanggal 20 Mei 2014 dan telah diterima sebagai bagian dari persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.1) dalam Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam.

Jambi, 10 Juni 2014

(4)

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI

Nama : Muhammad Abdul Hanif

NIM : AS.101055

Pembimbing I : Drs. Sayuti, M. Pd. I

Pembimbing II : Mailinar, S. Sos, M. Ud

Fakultas : Adab dan Humaniora

Jurusan : Sejarah Kebudayaan Islam

Judul Skripsi : “Eksistensi Transportasi Sungai (Ketek) sebagai Sarana

Alternatif di Kota Jambi”

Menyatakan bahwa karya ilmiah/skripsi ini adalah asli bukan plagiasi serta

telah diselesaikan dengan ketentuan ilmiah menurut peraturan yang berlaku.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan

apabila dikemudian hari, ternyata telah ditemukan sebuah pelanggaran plagiasi

dalam karya ilmiah/skripsi ini, maka saya siap diproses berdasarkan peraturan dan

perundang-undangan yang berlaku.

Jambi, 12 Mei 2014

Muhammad Abdul Hanif NIM. AS.101055

(5)

MOTTO





)

فارعاا

:

176

(

Artinya: Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.(QS. Al-A’raf: 176)1

(6)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini aku persembahkan kepada:

Ayah dan Ibu

Yang selalu menjadi cahaya kehidupan ku Menjadi Rembulan di saat datangnya malam

Dan Matahari di saat siang

Tak Lekang panas menyengat tubuhnya demi mencari kehidupan Tak peduli hujan membasahinya demi secerik penghasilan

Tanpa pamrih berjuang

Rela berkorban membanting tulang dengan ketulusan hati yang terdalam Mengasuh, membesarkan, mendidik, membina dan membimbing

Sungguh perjuangan yang melelahkan Semoga ketulusan Ayah dan Ibu

Diridhoi oleh Allah SWT Dengan balasan Surga-Nya

Bapak dan Ibu Guru (Ustadz dan Ustadzah)

Yang selalu menjadi inspirasi ku

Memberi motivasi di saat aku terjatuh, menawarkan harapan di saat aku terbangun Mengingatkan di saat lupa, menasehati di saat salah

dan mengapresiasi di saat benar Semoga jasa-jasa Bapak dan Ibu Guru

Dibalas oleh Allah SWT Dengan keadaan husnul khatimah

Kakak, Adik dan Sahabat-Sahabat Ku

Eni Defiriani, M. Pd, Muhammad Munawar Holil, Qatrunnada Ramadhaniah Dewan Pembimbing (Demisioner)

dan segenap pengurus Asrama Ma’had Al-Jami’ah yang selalu mewarnai kehidupanku

Susah, senang dan sedih bersama Semoga kalian diberikan kebahagian

Dunia dan Akhirat

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis diberikan

kekuatan dan ketegaran dalam menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Eksistensi

Transportasi Sungai (Ketek) sebagai Sarana Alternatif di Kota Jambi”. Shalawat

teriring salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para

sahabat, keluarga dan umatnya sepanjang zaman. Amin ya rabbal ‘alamin.

Selama penyusunan dan penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan,

dukungan dan masukan, baik berupa ide ataupun saran dari berbagai pihak. Untuk itu,

dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang teristimewa

kepada Bapak Zainuddin dan Ibu Zuhriyah selaku orang tua penulis yang selalu

memberikan cinta, do’a dan motivasinya yang luar biasa. Selanjutnya, ucapan

terimakasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan terutama kepada Bapak Drs.

Sayuti, M.Pd.I selaku Pembimbing Skripsi I dan Ibu Mailinar, S.Sos, M.Ud selaku

Pembimbing Skripsi II yang selalu memberikan koreksi dan masukan demi

kesempurnaannya skripsi ini, terima kasih luar biasa. Selanjutnya tak lupa pula penulis

menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dr. Armida, M.Pd

selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Bapak Samsul Huda, M.Ag selaku Wakil

Dekan I, Bapak H. Mislan, M.Pd.I selaku Wakil Dekan II, Ibu Zarfina Yenti, M.Ag

(8)

Aliyas, M.Fil.I selaku Sekretaris Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan

Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, serta para karyawan dan karyawati

Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yang telah

bersusah payah memberikan pelayanan dan berbagi urusan bagi penulis dalam

penyelesaian dan penyusunan skripsi.

Kemudian, terima kasih juga penulis ucapkan kepada Ibu Dra. Umil Muhsinin,

M.Pd (Me’nga) selaku bibi penulis yang selalu mendukung dan memberikan support

serta bantuannya yang tak terhingga kepada penulis selama menempuh jenjang

perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini, terima kasih yang luar biasa. Terima kasih

juga penulis ucapkan kepada seluruh Civitas Akademik Ma’had Al-Jami’ah IAIN

Sulthan Thaha Saifuddin Jambi atas bimbingannya selama ini terkhusus kepada Ust. H.

Abu Mansur Al-Maturidi Lc., M.Hi dan Ummi Shinta Wati MF, M.Pd, terima kasih

yang sedalam-dalamnya atas didikan mentalitasnya sehingga penulis bisa

menyelesaikan skripsi ini dengan tegar. Dan juga kepada sahabat-sahabat perjuangan

Dewan Pembimbing (Demisioner) Ma’had Al-Jami’ah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin

Jambi, Muhammad Ilham S.Ud, Ahmad Mustaniruddin, S.Ud, Suparno, S.Hum, Erick

Pratama, S.Sos, Suprapno, S.Pd.I, Alif Rahman Hakim, S.Pd, Muhammad Halim, S.Ud,

Libra Khusayaini, S.IP, Muhammad Amin, S.E.Sy dan Andes Saputra, S.E,Sy, terima

kasih untuk sharing nya dan semangatnya selama ini serta tidak lupa untuk sahabat

terbaik ku Ardiansah, S.Hum yang selama ini menjadi teman juang dan saing ku selama

(9)

yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan

namanya satu persatu, terima kasih semuanya.

Akhir kata, penulis mohon maaf bila terdapat kekurangan dalam penyusunan

Skripsi ini. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk hasil yang lebih baik di kemudian

hari. Semoga Skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amiin ya rabbal ‘alamin.

Jambi, 12 Mei 2014

Penulis

(10)

ABSTRAK

Hanif, Muhammad Abdul. Eksistensi Transportasi Sungai (Ketek) sebagai Sarana Alternatif di Kota Jambi. Skripsi, Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Pembimbing: (I) Drs. Sayuti, M. Pd. I (II) Mailinar, S. Sos, M. Ud

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan alat transportasi yang modern dan canggih serta kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah berupa pembangunan jembatan, dengan sendirinya akan mengancam keberadaan

ketek sebagai transportasi sungai yang memiliki nilai dan muatan lokal. Hal ini dikhawatirkan akan mematikan jalur transportasi sungai di DAS Batang Hari Kota Jambi. Ketek merupakan sarana yang sangat penting, karena merupakan satu-satunya jenis transportasi angkutan sungai yang berfungsi sebagai sarana transportasi penyeberangan sungai di DAS Batang Hari Kota Jambi.

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana eksistensi transportasi sungai ketek, fungsi transportasi sungai ketek dan persepsi masyarakat tentang eksistensi transportasi sungai ketek sebagai sarana alternatif di Kota Jambi.

Penelitian ini merupakan penelitian etnografi ala James P. Spradley dengan pendekatan emik dan perspekstif kualitatif-fenomenologi. Data diperoleh dari hasil pengamatan berperanserta (observation participant) dan wawancara mendalam

(indept interview) dengan batasan wilayah di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi.

Hasilnya adalah eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi saat ini berada pada tingkat keprihatinan karena mengalami kemunduran. Kemunduran dalam penurunan jumlah transportasi sungai ketek, sistem pelaksanaan (penempatan parkir.berlabuhnya ketek) yang tidak proporsional dan kemunduran dalam mempertahankan nilai budaya masa lalu. Fungsi transportasi sungai ketek di kota Jambi adalah sebagai sarana mata pencaharian hidup, sarana penyeberangan sungai Batang Hari serta sarana lomba dan rekreasi. Persepsi masyarakat tentang eksistensi transportasi sungai ketek di kota Jambi bahwa ketek merupakan urat nadi masyarakat lokal sebagai roda perekonomian dan sebuah tradisi yang sudah mendarah daging, sehingga keberadaan transportasi sungai ketek tetap dipertahankan oleh masyarakat Seberang Kota Jambi.

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

NOTA DINAS ... i

PENGESAHAN ... ii

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ... iii

MOTTO ... iv A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Kegunaan Penelitian ... 10

E. Ruang Lingkup dan Pembatasan Penelitian ... 11

F. Metode Penelitian ... 12

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 12

2. Penentuan Lokasi Penelitian ... 14

3. Penentuan Informan ... 16

4. Jenis dan Sumber Data ... 17

5. Teknik Pengumpulan Data ... 19

6. Teknik Analisis Data ... 23

7. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ... 24

8. Jadwal Penelitian ... 27

BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Eksistensi ... 28

B. Transportasi ... 28

1. Pengertian Transportasi ... 28

2. Unsur-unsur Transportasi ... 30

3. Peranan Transportasi ... 30

4. Jenis-Jenis Transportasi ... 31

5. Konsep Dasar Transportasi ... 31

C. Transportasi dan Kebudayaan ... 32

(12)

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Gambaran Umum Kota Jambi ... 43

1. Kondisi Wilayah Fisik ... 43

2. Batas Administrasi ... 44

3. Kependudukan ... 45

4. Pertumbuhan Ekonomi ... 46

B. Gambaran Umum Wilayah Penelitian ... 47

1. Monografi ... 47

2. Pemerintahan ... 48

3. Penduduk ... 50

4. Sosial, Pendidikan dan Agama ... 53

5. Perumahan dan Perhubungan ... 56

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Eksistensi Transportasi Sungai Ketek di Kota Jambi ... 59

1. Sejarah Munculnya Transportasi Sungai ketek ... 59

2. Macam-Macam Transportasi Sungai di Kota Jambi ... 63

3. Istilah Lain Ketek sebagai Transportasi Sungai ... 69

4. Proses Pembuatan Transportasi Sungai ketek ... 69

5. Jumlah Transportasi Sungai Ketek ... 76

6. Struktur dan Sistem Pelaksanaan Organisasi Ketek ... 79

7. Fungsi Pelabuhan Masa Lalu dan Sekarang ... 82

8. Penumpang dan Aktivitas Transportasi Sungai Ketek ... 85

B. Fungsi Transportasi Sungai ketek di Kota Jambi ... 88

1. Ketek sebagai Sarana Mata Pencaharian Hidup ... 88

2. Ketek sebagai Sarana Penyeberangan Sungai ... 93

3. Ketek sebagai Sarana Lomba dan Rekreasi... 94

C. Persepsi Masyarakat Tentang Eksistensi Transportasi Sungai ketek di Kota jambi ... 95

1. Ketek sebagai Roda Perekonomian ... 95

2. Ketek sebagai Tradisi Masyarakat Lokal ... 97

D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 99

1. Pembahasan Eksistensi Transportasi Sungai Ketek di Kota Jambi ... 99

2. Pembahasan Fungsi Transportasi Sungai Ketek di Kota Jambi ... 101

(13)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 105 B. Rekomendasi ... 105 C. Kata Penutup ... 106

(14)

DAFTAR GAMBAR

BAB I PENDAHULUAN

Gambar 1 Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 13

Gambar 2 Lokasi Penelitian ... 15

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Gambar 1 Struktur Organisasi Kecamatan Pelayangan ... 49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambar 1 Bentuk Struktur Perahu Mesin di Pulau Pandan ... 61

Gambar 2 Bentuk Struktur Transportasi Sungai Ketek di Seberang Kota Jambi ... 63

Gambar 3 Bentuk Tajuk Ketek ... 72

Gambar 4 Bentuk Gading Ketek ... 73

Gambar 5 Bentuk Mal Ketek ... 74

Gambar 6 Bentuk Pisang-pisang Ketek ... 74

Gambar 7 Bentuk Haluan dan Tutup Jgong Ketek ... 75

Gambar 8 Bentuk Buritan dan Tutup Jgong Ketek ... 75

Gambar 9 Struktur Ketek dalam bentuk Kerangka ... 76

Gambar 10 Kondisi Tempat Parkir Roda Dua di Kelurahan Arab Melayu ... 79

Gambar 11 Kondisi Transportasi Sungai Ketek di Kelurahan Arab Melayu ... 81

(15)

DAFTAR TABEL

BAB I PENDAHULUAN

Tabel 1 Jadwal Penelitian ... 27

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Tabel 1 Luas Kecamatan, Kelurahan dan RT di Kota Jambi Tahun 2012 ... 44 Tabel 2 Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin

di Kota Jambi Tahun 2012 ... 45 Tabel 3 Distibusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto

Kota Jambi Atas Dasar Berlaku Tahun 2010-2012 ... 46 Tabel 4 Nama-Nama Pejabat Camat Pelayangan Sampai dengan 2012 ... 48 Tabel 5 Nama-Nama Pejabat Pemerintahan di Dinas Vertikal

Kecamatan Pelayangan 2012 ... 48 Tabel 6 Nama-Nama Pejabat Kelurahan dalam Kecamatan

Pelayangan 2012 ... 50 Tabel 7 Banyaknya Rukun Tetangga, Rumah Tetangga, Penduduk

dan Anggota Rumah Tangga Dirinci Per Kelurahan 2012 ... 51 Tabel 8 Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dirinci Per Kelurahan 2012 ... 52 Tabel 9 Rata-Rata Kepadatan Penduduk Per Km2 Dirinci Menurut

Kelurahan 2012 ... 52 Tabel 10 Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Menurut

Mata Pencaharian ... 53 Tabel 11 Banyaknya Karang Taruna, Unit Olahraga dan Lapangan

di Kecamatan Pelayangan 2012 ... 54 Tabel 12 Jumlah Sekolah, Murid dan Guru di Kecamatan

Pelayangan 2012 ... 55 Tabel 13 Banyaknya Penduduk Menurut Agama Dirinci

Per Kelurahan 2012 ... 55 Tabel 14 Banyaknya Sarana, Peribadatan Dirinci Menurut Jenisnya

Per Kelurahan 2012 ... 56 Tabel 15 Banyaknya Perumahan Penduduk di Kecamatan

Pelayangan Dirinci Per Kelurahan 2012 ... 57 Tabel 16 Persentase Pemakaian Alat Transportasi di Kecamatan

Pelayangan 2012 ... 57 Tabel 17 Banyaknya Alat Transportasi Menurut Kelurahan

(16)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Tabel 2 Banyaknya Transportasi Sungai Ketek Dirinci Per Kelurahan

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas beribu pulau

sepanjang garis khatulistiwa yang menempati peringkat keempat dari 10 negara

berpopulasi terbesar di dunia.1 Tanpa sarana transportasi yang memadai maka akan

sulit untuk menghubungkan seluruh daerah di kepulauan ini.

Transportasi merupakan salah satu sektor kegiatan yang sangat penting karena

berkaitan dengan kebutuhan setiap orang. Kebutuhan ini misalnya kebutuhan untuk

mencapai lokasi kerja, lokasi sekolah, mengunjungi tempat hiburan atau pelayanan,

dan bahkan untuk bepergian ke luar kota. Transportasi tidak hanya mengangkut orang,

tetapi juga untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain.2

Pentingnya peranan transportasi tersebut akan tercermin pada penyelenggaraan

dari peran dan fungsi transportasi itu sendiri yang mempengaruhi semua aspek

kehidupan bangsa dan negara serta semakin meningkatnya kebutuhan jasa transportasi

bagi mobilitas orang dan barang dalam negeri. Disamping itu, transportasi juga

berperan sebagai penunjang, pendorong dan penggerak bagi pertumbuhan daerah yang

memiliki potensi sumber daya alam yang besar tetapi belum berkembang.

1

Lihat CIA World Factbook Tahun 2013 (ilmupengetahuanumum.com/10-negara-dengan-jumlah-penduduk-populasi-terbanyak-di-dunia/), tanggal akses 28 Februari 2013 pukul 10.00 WIB.

2Rizki Permata Sari, Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di Sungai Martapura Kota

(18)

Perkembangan transportasi memungkinkan berbagai kegiatan dapat diangkut

melalui darat, udara ataupun laut dengan jenis angkut yang beragam. Namun yang

perlu diingat, bahwa sebagai fasilitas pendukung kegiatan kehidupan, maka

perkembangan transportasi harus diperhitungkan dengan tepat dan secermat mungkin

agar dapat mendukung tujuan pembangunan secara umum dari satu dearah.3

Transportasi sungai di Indonesia pada umumnya digunakan untuk melayani

mobilitas barang dan penumpang, baik di sepanjang aliran sungai maupun

penyeberangan sungai.4 Sistem perairan sungai yang dapat dilayari harus memenuhi

persyaratan teknis, yakni: kedalaman, kelandaian, dan kecepatan arus tertentu,

sehingga aman dan mudah dilayari. Angkutan sungai sangat menonjol di Kalimantan,

Sumatera dan Papua. Di Kalimantan, angkutan sungai banyak digunakan untuk

kebutuhan angkutan lokal dan perkotaan, terutama di wilayah yang belum tersedia

prasarana transportasi jalan.5

Dalam kacamata sejarah, transportasi/angkutan sungai itu sudah dikenal mulai

zamannya nenek moyang kita selama sudah ribuan tahun yang lalu berprofesi sebagai pelaut. Sejak lama Indonesia telah dikenal sebagai salah satu “negara perahu”

tersohor. Hal ini dapat dibuktikan pada gambar relief yang berupa perahu pada candi

Borobudur, candi Perambanan dan beberapa candi yang lain.6

3Fidel Miro, Perencanaan Transportasi, (Jakarta: Erlangga, 2005), hal. 2.

4Rizki Permata Sari, Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di Sungai Martapura Kota

Banjarmasin, hal. 54.

5A. Taufik Mulyana, Transportasi Air. (Banjarmasin: Fakultas Teknik Universitas Lambung

Mangkurat, 2005), hal. 5.

(19)

Ada yang mengatakan pada awalnya nenek moyang kita membuat perahu

dengan hanya kemampuan yang sederhana, yaitu mengaitkan beberapa batang bamboo

menjadi satu, yang kemudian dikenal sebagai rakit atau gethek. Namun rakit ini hanya

bisa digunakan untuk pelayaran jarak dekat dan hanya cocok untuk pelayaran di

sungai yang tidak ada gelombang. Bentuk rakit merupakan bentuk perahu yang paling

sederhana, tanpa kemudi dan layar. Kemungkinan lain nenek moyang kita jauh

sebelum mengenal perahu masih menggunakan batang pohon pisang yang disatukan

dengan tali atau batang dan digunakan untuk pelayaran yang jarak dekat serta daerah

sungai yang tanpa gelombang. Kedua jenis perahu sederhana tersebut sampai sekarang

masih digunakan oleh penduduk di pedesaan dan pedalaman.7

Indonesia sebagai negara kepulauan dan memiliki kebudayaan dan suku bangsa

yang beragam, maka terdapat berbagai jenis perahu yang sesuai dengan adat dan

tradisi masing-masing daerah. Jenis perahu yang dikenal di Indonesia, antara lain

disebut sampan, biduk, bidar, kora-kora, klotok, ketingting, pancalang, lancing,

kalulus, bahtera, tongkang, janggolan, jung, palari, sandek, paduakang, orembai,

rorehe, sope, balaso-e, eretan, kano dan sekoci. Bentuk perahu-perahu tersebut juga

beragam, ada yang polos, ada yang berwarna-warni dipenuhi hiasan atau ukiran dan

ada yang memiliki ciri tertentu. Perahu-perahu tersebut mempunyai fungsi dan

kegunaan yang bermacam-macam, misalnya perahu yang berfungsi untuk membawa

(20)

hasil tangkapan, membawa barang dagangan, olahraga, transportasi, pesiar, menjaga

keamanan, berperang dan kegunaan lainnya.8

Berkaitan dengan penjelasan tersebut, Jambi merupakan salah satu daerah yang

memiliki sungai terpanjang di pulau Sumatera yaitu Sungai Batang Hari. Daerah

Aliran Sungai (DAS) Batang Hari merupakan DAS terbesar kedua di Indonesia,

mencakup luas areal tangkapan (catchment area) ± 4.9 juta Ha. Sekitar 76 % DAS

Batang Hari berada pada provinsi Jambi, sisanya berada pada provinsi Sumatera

Barat.9

Sungai Batang Hari berasal dari Pegunungan Bukit Barisan dari 2 lokasi

sebagai awalnya sungai yaitu Danau Kerinci (Jambi) dari arah selatan menuju ke

utara-timur menjadi Sungai Batang Tembesi dan Danau Kembar dari arah utara

(Sumbar) menuju selatan-timur yang menjadi Sungai Batanghari Hulu. Kedua sungai

tersebut bertemu di Kota Muara Tembesi dan selanjutnya mengalir ke timur menuju

ke timur bernama Sungai Batanghari melewati Kota Jambi menuju laut di Selat

Berhala.10

Keberadaan Sungai Batang Hari di Provinsi Jambi memberikan ruang lingkup

yang luas terhadap perkembangan transportasi sungai di Kota Jambi. Salah satu jenis

transportasi sungai yang berkembang di Kota Jambi yang sesuai dengan adat dan

tradisi daerahnya adalah transportasi sungai ketek. Transportasi sungai ketek

8Lisbijanto, Kapal Pinisi, hal. 8. 9

Lihat (http://id.wikipedia.org/wiki/Batang_Hari). Tanggal diakses Minggu, 11 Mei 2014 pukul 14.45 WIB.

10Lihat(http://www.pu.go.id/satminkal/dit_sda/profil%20balai/bws/profilebws%20sumatera%20

(21)

merupakan sarana transportasi sungai utama masa lalu dan hingga saat ini masih

dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat di Kota Jambi khususnya di Seberang Kota

Jambi.

Tata ruang kota Jambi memiliki keunikan dibandingkan dengan wilayah lain,

karena dialiri Sungai Batang Hari yang berfungsi sebagai batas alami antara kota yang menjadi pusat pemerintahan dan cenderung “modern” dengan wilayah tradisional,

maka dibutuhkan penanganan khusus dalam hal mobilitas penduduk. Terdapat dua

alternatif penghubung, yaitu jalur darat yang melalui jembatan Aur Duri dan jalur

sungai dengan menggunakan perahu kecil atau ketek.11

Sebelum berkembangnya ketek, pada tahun 1960 transportasi sungai yang

digunakan adalah berupa sampan atau perahu dayung yang terbuat dari kayu.12

Kemudian perahu dayung tersebut berkembang menjadi perahu bermesin yang

awalnya digunakan oleh orang Palembang yang tinggal di daerah Pulau Pandan bagian

Selatan Sungai Batang Hari. Kemudian setelah orang-orang Palembang itu maju, baru

selanjutnya diikuti oleh masyarakat seberang kota Jambi.13 Saat itu lah, Istilah perahu

bermesin berubah menjadi ketek. Namun, saat ini keberadaan transportasi sungai ketek

di Kota Jambi sedang mengalami perkembangan yang diagresif sebagai akibat dari

arus modernisasi yang berkepanjangan tanpa kendali. Hal ini dapat dibuktikan dengan

11Bondan Seno Prasetyadi, dkk, Transportasi Sungai dan Masyarakat Melayu Jambi, ISSN :

18582559 (Depok, Jurnal Universitas Gunadarma, 2005), hal. 12. 12

Lihat Yosephine H. K., Djarot Sadharto W. 2013, Kajian Penggunaan Moda Transportasi Sungai Di Kota Jambi (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2013), hal. 309.

13Hasil wawancara dengan bapak Abdul Kadir. Salah satu tukang ketek di Kelurahan Tengah.

(22)

berbagai ancaman yang datang silih berganti terhadap perkembangan transportasi

sungai ketek yang dimulai pada tahun 1986.

Pada tahun 1986an, Pemerintah Provinsi Jambi berhasil membangun jembatan

Batang Hari I (Aurduri) di ujung barat Kota Jambi. Tujuan pembangunan jembatan ini

adalah untuk memperlancar arus transportasi antar kota dan antar provinsi yang

harapannya dapat berdampak positif pada perkembangan ekonomi daerah. Tetapi

pembangunan jembatan ini berdampak negatif pada penggunaan transportasi sungai

karena mereka beralih pada transportasi darat. Tetapi penurunan pengguna transportasi

sungai ini tidak terlalu besar yaitu sebesar 5-15 %.14

Berdasarkan hasil survey awal peneliti dari informasi di lapangan setelah

dibangunnya Jembatan Batang Hari I (Aurduri) oleh pemerintah Provinsi Jambi,

pendapatan tukang ketek mengalami penurunan.15 Hal ini dikarenakan jasa transportasi

sungai mulai ditinggalkan. Dengan kata lain, terdapat penurunan dari jumlah

penumpang ketek. Hal ini menggambarkan bahwa terjadi peralihan dalam

menggunakan jenis transportasi di kalangan masyarakat, dimana yang mulanya

menggunakan transportasi sungai beralih menggunakan transportasi darat.

Pada tahun 2010, pemerintah kembali berhasil membangun jembatan yang

kedua yaitu Jembatan Batang Hari II yang berada di ujung timur Kota Jambi.

Jembatan ini bertujuan melancarkan transportasi hasil perekonomian sebagai akses

untuk mendukung ekspor-impor daerah menuju pasar global, melayani arus lalu lintas

14Yosephine, Kajian Penggunaan Moda Transportasi Sungai di Kota Jambi, hal. 310.

15Hasil wawancara dengan Bapak Senang. Salah seorang tukang ketek di Kelurahan Tengah.

(23)

timur sumatera dan mempercepat pengembangan wilayah pedalaman pantai timur

Provinsi Jambi dan sekitarnya. Pembangunan ini lagi-lagi memberikan dampak negatif

pada transportasi sungai dimana 30-50% pengguna transportasi sungai beralih

menggunakan transportasi darat.16 Selain itu, hal ini juga mengakibatkan

berkurangnya jumlah ketek yang ada di Kelurahan Tanjung johor dan Tahtul Yaman.

Setelah dibangunnya Jembatan Batang Hari II jumlah ketek yang ada di Tanjung Johor

hanya tersisa tinggal 8 buah dari 30 jumlah total ketek di Kelurahan Tanjung Johor.17

Dan tidak ditemukan lagi keberadaan ketek di Kelurahan Tahtul Yaman.

Pada tahun 2013, Pemerintah kembali membangun jembatan yang ketiga yaitu

Jembatan Gantung yang dibangun oleh Pemerintah Daerah khusus untuk para pejalan

kaki sebagai peningkatan mutu pariwisata Provinsi Jambi. Jembatan ini terletak di

antara kawasan Tanggo Rajo (Ancol) Kecamatan Pasar dengan Kecamatan

Pelayangan tepatnya di Kelurahan Arab Melayu Seberang Kota Jambi yang saat ini

masih dalam tahap proses pembangunan. Dikhawatirkan, dengan adanya

Pembangunan Jembatan Gantung ini akan kembali mengancam keberadaan

transportasi sungai ketek di Kota Jambi, karena letaknya yang tepat berada di

tengah-tengah kawasan sungai penyeberangan ketek.

Dewasa ini, dengan semakin tingginya animo masyarakat seberang yang

cenderung lebih tertarik menggunakan jenis transportasi darat yang lebih canggih dan

berbasis teknologi daripada menggunakan jenis transportasi sungai. Hal ini membuat

16Yosephine, Kajian Penggunaan Moda Transportasi Sungai di Kota Jambi, hal. 310.

17Hasil Wawancara dengan Bapak Ilyas. Salah satu tukang ketek yang ada di kelurahan

(24)

peran dan fungsi transportasi darat lebih banyak diminati oleh masyarakat Seberang

Kota Jambi, sehingga transportasi sungai ketek mulai ditinggalkan dan berada pada

level bawah.

Kehadiran transportasi sungai ketek di Kota Jambi sangat penting. Karena

ketek merupakan satu-satunya jenis transportasi angkutan sungai yang berfungsi

sebagai sarana transportasi penyeberangan di DAS Batang Hari dari seberang kota

menuju kota Jambi atau dari kota menuju Seberang Kota Jambi.

Oleh karena itu, dengan perkembangan alat transportasi yang modern dan

canggih serta kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah berupa pembangunan

jembatan, dengan sendirinya akan mengancam keberadaan ketek sebagai transportasi

sungai yang memiliki nilai dan muatan lokal. Hal ini dikhawatirkan akan mematikan

jalur transportasi sungai di DAS Batang Hari Kota Jambi.

Secara teori, dalam konsep modernisasi pada umumnya modernisasi membawa

kepada perubahan sosial dan pembangunan yang berlangsung menuju ke arah

kemajuan dan pembaruan yang bermakna dan bernilai positif.18 Namun, dalam

perakteknya mengapa modernisasi di Kota Jambi sendiri memberikan dampak negatif

bagi perkembangan transportasi sungai ketek di Kota jambi dan mengapa alat

transportasi sungai ketek di Kota Jambi mengalami kemunduran.

Berangkat dari permasalah ini, penulis merasa tertarik untuk melakukan

sebuah kajian tentang keberadaan transportasi sungai ketek di Kota Jambi terkait

18Nursid Sumaatmadja, Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya dan Lingkungan Hidup.

(25)

dengan kelangsungan masa depan ketek tersebut sebagai ikon transportasi sungai di

DAS Batang Hari. Maka dalam penelitian ini, peneliti akan mencoba melihat

bagaimana eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi, dengan spesifikasi judul

penelitian yaitu “EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI (KETEK) SEBAGAI

SARANA ALTERNATIF DI KOTA JAMBI”.

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini

dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi?

2. Bagaimana fungsi transportasi sungai ketek di Kota Jambi?

3. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap eksistensi transportasi sungai ketek di

Kota Jambi?

C.Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mendeskripsikan bagaimana eksistensi transportasi Sungai ketek di Kota Jambi.

2. Mendeskripsikan bagaimana fungsi transportasi Sungai ketek di Kota Jambi.

3. Mendeskripsikan bagaimana persepsi masyarakat terhadap eksistensi

(26)

D.Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagi objek yang diteliti

a. Diharapkan agar transportasi sungai ketek di kota Jambi mendapatkan

perhatian dan kebijakan dari pemerintah kota maupun provinsi Jambi

sehingga kelangsungan transportasi sungai ketek tersebut lebih menjanjikan

ke depannya.

b. Diharapkan agar transportasi sungai ketek di kota Jambi dikenal lebih luas

oleh masyarakat dalam kota maupun luar kota dan menjadi ikon kota Jambi,

sehingga bisa dikembangkan menjadi transportasi sungai pariwisata di DAS

Batang Hari.

2. Bagi almamater

a. Bisa memberikan sumbangan analisis etnografi tentang transportasi sungai

ketek di Kota Jambi.

b. Bisa menjadi bahan bacaan bagi mahasiswa yang ingin mengetahui perihal

tentang transportasi sungai ketek di Kota Jambi.

c. Bisa menjadi bahan acuan bagi mahasiswa yang tertarik untuk meneliti

lebih jauh lagi tentang transportasi sungai masa lalu di Provinsi Jambi.

3. Bagi penulis

a. Sebagai bahan untuk menambah pengetahuan tentang transportasi sungai

(27)

b. Sebagai bahan pembelajaran untuk mengasah daya berpikir kritis dan

sistematis.

c. Sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana (S.1) di

Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab-Sastra dan Kebudayaan

Islam IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

E. Ruang Lingkup dan Pembatasan Penelitian

1. Ruang Lingkup Penelitian

Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini adalah:

a. Subjek/informan dalam penelitian ini ialah pemilik budaya itu sendiri. Dalam

hal ini tukang ketek dan penumpang ketek yang secara umum merupakan

masyarakat Seberang Kota Jambi.

b. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi.

2. Pembatasan Penelitian

Adapun pembatasan dalam penelitian ini adalah:

a. Eksistensi transportasi sungai ketek sebagai sarana alternatif di kota Jambi.

b. Fungsi transportasi sungai ketek sebagai sarana alternatif di kota Jambi.

c. Persepsi masyarakat tentang eksistensi transportasi sungai ketek sebagai sarana

(28)

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dijelaskan pada sub bab

sebelumnya. maka dalam penelitian ini menggunakan pendekatan emik dengan

perspektif kualitatif. Pendekatan emik adalah pengkategorian fenomena budaya

menurut warga setempat (pemilik budaya).19 Penelitian kualitatif adalah penelitian

yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek

penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik dan

dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus

yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.20 Metode alamiah

yang dimaksud adalah metode-metode yang biasanya dimanfaatkan oleh penelitian

kualitatif seperti wawancara, pengamatan dan pemanfaatan dokumen.

Kemudian, penelitian ini juga menggunakan paradigma fenomenologi dengan

jenis penelitian etnografi baru ala James P. Spradley. Paradigma fenomenologi adalah

sebuah landasan berpikir yang berusaha untuk memahami budaya lewat pandangan

pemiliki budaya atau pelakunya.21 Berbeda dari etnografi modern yang dipelopori

Radcliffe-Brown dan Malinowski yang memusatkan perhatiannya pada organisasi

internal suatu masyarakat dan membanding-bandingkan sistem sosial dalam rangka

untuk mendapatkan kaidah-kaidah umum tentang masyarakat, maka etnografi baru ini

19Baca Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi,

Epistimologi, dan Aplikasi, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2006), hal. 55. 20

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 6.

21Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi,

(29)

memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana berbagai masyarakat

mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan Kemudian

menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan.22 Untuk lebih jelasnya lihat Gambar

1 Pendekatan dan Jenis Penelitian di bawah ini.

PENELITIAN BUDAYA23

Gambar 1

Pendekatan dan Jenis Penelitian

22James P. Spradley, Metode Etnografi, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hal, xii.

23Penelitian budaya merupakan suatu upaya sistematis dan objektif untuk mempelajari suatu

fenomena atau permasalahan dengan tujuan menemukan prinsip-prinsip umum. Yang dimaksud prinsip umum adalah berbagai hal yang didukung oleh sebagian informan budaya. Dalam kaitan ini, prinsip umum berupa kebenaran secara objektif dan logis melalui langkah-langkah matang, pengumpulan data, teknik analisis data, dan simpulan yang meyakinkan. Lihat Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi, dan Aplikasi, hal, 74-75.

Perspektif Kualitatif:

Jenis Penelitian “Etnografi Baru” ala James P.

Spradley:

(30)

2. Penentuan Lokasi Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, penelitian ini dilakukan di Kecamatan

Pelayangan Kota Jambi. Kecamatan Pelayangan adalah salah satu kecamatan yang

terletak di Seberang Kota Jambi setelah Kecamatan Danau Teluk. Tidak seperti

kecamatan-kecamatan lainnya di Kota Jambi, di kecamatan ini cukup banyak

ditemukan transportasi sungai ketek. Hampir setiap kelurahan di kecamatan ini

memiliki transportasi sungai ketek, mulai dari Kelurahan Tengah, Jelmu, Mudung

Laut, Arab Melayu, Tahtul Yaman hingga Tanjung Johor. Berdasarkan hasil observasi

awal bahwa kecamatan ini adalah tempat awal mulanya berkembang transportasi

sungai ketek. Sehingga dipilihlah kecamatan ini sebagai lokasi penelitian.

Setelah lokasi penelitian ditentukan, maka selanjutnya proses memasuki lokasi

lapangan. Mula-mula peneliti akan mengunjungi setiap pelabuhan yang ada di

Kecamatan Pelayangan ini satu-persatu dalam rangka untuk melihat secara garis besar

situasi sosial dan budaya yang ada di setiap pelabuhan-pelabuhan tersebut. Kemudian

peneliti akan mendata jumlah transportasi sungai ketek yang ada di

pelabuhan-pelabuhan tersebut secara keseluruhan. Setelah itu, baru kemudian peneliti memilih

beberapa tukang ketek yang berpengalaman untuk dijadikan sebagai informan utama.

Sebagai catatan, ada 3 pelabuhan ketek yang terletak di Kecamatan Pasar Kota

Jambi yang berfungsi sebagai tempat tujuan berlabuhnya transportasi sungai ketek

yang ada di Seberang Kota Jambi. Pelabuhan-pelabuhan itu adalah Pelabuhan ketek di

(31)

Rajo. Tiga pelabuhan ini juga menjadi lokasi penelitian dalam penelitian ini. Untuk

lebih jelasnya bisa dilihat pada Gambar 2 Lokasi Penelitian di bawah ini.

(32)

3. Penentuan Informan

Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan model snowball

sampling. Model snowball sampling adalah strategi yang dinilai tepat, karena

menentukan jumlah dan sampel tidak semata-mata oleh peneliti. Peneliti bekerjasama

dengan informan, menentukan sampel berikutnya yang dianggap penting.24

Teknik Penyampelan seperti ini Menurut Frey ibarat bola salju yang

menggelinding saja dalam menentukan subjek penelitian. Maksudnya, peneliti

mencari relawan di lapangan, yaitu orang-orang yang mampu diajak berbicara dan dari

mereka data akan diperoleh. Dari mereka pula akan ada penambahan sampel dan atau

subjek, atas rekomendasinya itu, peneliti segera meneruskan ke subjek yang lain.

Jumlah sampel tidak ada batas minimal atau maksimal, yang penting telah memadai dan mencapai “data jenuh”, yaitu tidak ditemukan informasi baru lagi dari subjek

penelitian.25 Adapun informan yang akan dijadikan sebagai sasaran dalam penelitian

ini yaitu sebagai berikut:

1. Tukang Ketek

Tukang ketek yang akan dijadikan sebagai informan adalah tukang ketek yang

berpengalaman, yang sudah lama berkecimpung di dalam dunia ketek, karena

dianggap memiliki pengetahuan yang banyak tentang perkembangan transportasi

sungai ketek. Dalam hal ini biasanya adalah tukang ketek yang sudah memiliki usia

yang cukup tua. Tukang ketek yang berusia tua cenderung lebih berpengalaman

24

Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi, dan Aplikasi, hal. 115.

25Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi,

(33)

daripada tukang ketek yang masih berusia muda. Sehingga diharapkan bisa

memberikan informasi yang akurat terkait dengan masalah penelitian ini.

2. Penumpang ketek

Penumpang ketek yang akan dijadikan sebagai informan dalam penelitian ini

terdiri dari para pedagang, pemuda/pemudi, tuo tengganai, anak-anak sekolahan yang

mayoritas adalah masyarakat di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi, dll.

4. Jenis dan Sumber Data

a. Data Primer

Data Primer yaitu data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh peneliti

dari sumber pertama/utama.26 Menurut Lofland dan Lofland bahwa sumber data utama

dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data

tambahan seperti dokumen dan lain-lain.27 Kata-kata dan tindakan yang dimaksud

adalah kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancari yang

dicatat melalui catatan tertulis atau perekaman video/audio tapes, pengambilan foto

atau film.28 Data primer tersebut merupakan data utama dari hasil pengamatan,

wawancara dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti berkenaan dengan

eksistensi, fungsi dan persepsi masyarakat terhadap transportasi sungai ketek yang ada

di Kota Jambi.

b. Data Sekunder

26

Tim Penyusun Buku Pedoman Skripsi, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Adab-Sastra dan Kebudayaan Islam, (Jambi: IAIN STS Jambi, 2012), hal. 31.

(34)

Data Sekunder yaitu data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh pihak

lain, yang biasanya dalam bentuk publikasi atau jurnal29, dokumen (sumber tertulis),

foto, data statistik. Data sekunder tersebut merupakan data tambahan yang diperoleh

dalam bentuk tertulis yang berkenaan dengan sejarah, letak geografis, demografis, dan

kehidupan sosial budaya (keagamaan, pendidikan, adat-istiadat, dan ekonomi)

masyarakat Kota Jambi. Data sekunder seperti dokumen yang dimaksud tersebut

berupa buku-buku ilmiah, tesis, skripsi, jurnal ilmiah, hasil penelitian lapangan dan

lain sebagainya yang bisa diperoleh dari perpustakaan IAIN STS Jambi, perpustakaan

wilayah kota Jambi, atau di tempat-tempat asrsip lainnya seperti Kantor Dinas

Lembaga Adat Kota, Kantor Dinas BPCB (Badan Penelitian Cagar Budaya) Provinsi,

kantor Camat dan Lurah Seberang Kota Jambi, atau bisa juga diperoleh dari hasil

searching di internet, buku-buku pribadi, pinjaman, dan lain-lain. Bahkan sampai

dokumen-dokumen pribadi subjek penelitian jika ada.

Kemudian, data sekunder lainnya seperti foto, juga digunakan untuk keperluan

penelitian ini. Ada dua kategori foto yang dimanfaatkan dalam penelitian kualitatif,

yaitu foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri.30

Kedua kategori foto tersebut juga akan dijadikan sebagai data tambahan. Sebagai

catatan jika foto tersebut hendak dipublikasikan, maka peneliti akan meminta

persetujuan terlebih dahulu dari pihak-pihak yang terkait. Dan data tambahan lainnya

seperti data statistik juga digunakan sesuai dengan keperluan dalam penelitian ini.

29Tim Penyusun Buku Pedoman Skripsi, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Adab-Sastra

dan Kebudayaan Islam, hal. 31.

(35)

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan Data dalam penelitian ini menggunakan teknik

Observasi/pengamatan, wawancara dan dokumentasi, sebagaimana yang dijelaskan di

bawah ini:

a. Observasi/pengamatan

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang maksimal, maka dalam penelitian

ini, secara peranannya digunakan teknik participant observation (pengamatan

berperanserta). Pengamatan berperanserta, berarti pengamat (peneliti) budaya ikut

terlibat baik pasif ataupun aktif ke dalam tindakan budaya.31 Pengamatan

berperanserta akan lebih memungkinkan peneliti memasuki fenomena yang lebih

dalam. Peneliti tidak hanya mengamati serampangan saja, melainkan ikut terlibat dan

menghayati sebuah fenomena.32 Dalam hal ini, peneliti akan melakukan pengamatan

dengan langsung berperan sebagai penumpang ketek atau bisa jadi sebagai tukang

ketek, sehingga bisa secara langsung melihat, mendengar dan menghayati bagaimana

proses budaya terjadi.

Dengan melakukan pengamatan, peneliti bisa melihat dunia sebagaimana dilihat

oleh subjek penelitian dan memungkinkan peneliti merasakan apa yang dirasakan dan

dihayati oleh subjek penelitian, sehingga memungkinkan pula peneliti menjadi sumber

data. Teknik ini digunakan dengan maksud untuk membentuk pengetahuan yang

diketahui bersama baik dari pihak peneliti maupun subjek penelitian. Walaupun tidak

31

Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi, dan Aplikasi, hal. 136.

32Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistimologi,

(36)

secara keseluruhan menyelami kehidupan subjek penelitian, setidaknya peneliti

memiliki gambaran umum dari pengalaman pribadinya untuk membandingkannya

dengan keterangan-keterangan yang didapatkan dari subjek penelitian ataupun

informan.

Adapun langkah-langkah dalam melakukan proses pengamatan dalam

penelitian ini adalah dengan cara tidak terstruktur. Maksudnya peneliti bisa kapan saja

turun ke lapangan untuk melakukan pengamatan. Dalam proses pengamatan, peneliti

juga melakukan proses wawancara. Hal ini dilakukan ketika kondisinya

memungkinkan. Jadi, antara pengamatan dan wawancara bisa dilakukan secara

bersamaan.

b. Wawancara

Agar dalam proses melakukakan wawancara bisa berjalan dengan lancar,

nyaman, informasi yang didapatkan akurat, dan tidak ada yang merasa tertekan antara

pewawancara dengan terwawancara, maka digunakanlah teknik indepth interview

(wawancara mendalam) atau wawancara tak berstruktur.

Wawancara mendalam biasanya dinamakan wawancara baku etnografi atau

wawancara kualitatif. Wawancara dilakukan dengan santai, informal, dan

masing-masing pihak seakan-akan tidak ada beban psikologis. Wawancara mendalam akan

memperoleh kedalalaman data secara menyeluruh.33

33Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebuda yaan: Ideologi, Epistimologi,

(37)

Teknik pengumpulan data melalui wawancara yaitu teknik bagaimana peneliti

memperoleh informasi secara langsung dari informan berupa keterangan-keterangan

yang sesuai dengan tujuan wawancara. “Wawancara adalah percakapan dengan

maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara

(interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang

memberikan jawaban atas pertanyaan itu”.34

Dalam hal ini peneliti akan mewawancarai langsung pihak-pihak yang terkait

dengan masalah penelitian ini sebagaimana yang telah dijelaskan pada sub bab

sebelumnya yaitu tukang ketek dan penumpang ketek yang secara umum merupakan

masyarakat di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi. Adapun langkah-langkah

dalam melakukan proses wawancara ini, secara umum dijelaskan sebagai berikut:

1) Peneliti akan menentukan siapa orang pertama (informan kunci) yang akan

diwawancari terlebih dahulu.

2) kemudian barulah peneliti menjajaki kepada informan-informan lainnya

untuk diwawancarai dan seterusnya sampai informasi yang diperoleh utuh

dan jelas.

3) Proses wawancara berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak

(pewawancara dan yang akan diwawancarai).

4) Pertanyaan wawancara tidak dibuat secara terstruktur, namun hanya dalam

bentuk gambaran umum saja.

(38)

5) Waktu wawancara tidak dibatasi dan dianggap selesai ketika tidak ada lagi

informasi baru yang didapatkan dari seorang informan.

6) Bahasa yang digunakan pada saat wawancara menggunakan bahasa

sehari-sehari masyarakat setempat (bahasa melayu jambi). Jika kiranya diperlukan

menggunakan bahasa Indonesia, maka peneliti menggunakan bahasa

Indonesia.

7) Suasana dalam proses wawancara pun akan dibuat senyaman-nyaman

mungkin.

8) Alat rekam yang digunakan dalam proses wawancara ini yaitu

menggunakan hand phone tipe Nokia Asha 302.

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah teknik terakhir yang digunakan untuk pengumpulan data

dalam penelitian ini. Di dalam sebuah pendokumentasian, sering dikenal istilah

dokumen, record35, foto, dan video/film. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang

sudah berlalu, bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya menumental dari

seseorang yang berfungsi sebagai bukti bahwa hasil penelitian dari

observasi/pengamatan dan wawancara mengandung nilai yang kredibel. Sebagai

penunjang dalam pendokumentasian, maka akan diperlukan berbagai macam jenis

koleksi foto dan video/film yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. untuk

35Menurut Guba dan Lincoln, “

(39)

pengumpulan data melalui dokumentasi ini diperlukan alat/instrument yang membantu

dalam pengambilan data-data seperti kamera/handycam.

6. Teknik Analisis Data

Setelah data-data diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi

terkumpulkan, maka tahap berikutnya adalah menganalisis data. Analisis Data adalah

upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,

memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari

dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan

memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.36 Adapaun teknik analisis

data dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:37

a. Analisis Domain

Analisis domain dilakukan terhadap data yang diperoleh dari pengamatan

berperanserta/wawancara atau pengamatan deskriptif yang terdapat dalam catatan

lapangan. Pengamatan deskriptif berarti mengadakan pengamatan secara menyeluruh

terhadap sesuatu yang ada dalam latar penelitian.

b. Analisis Taksonomi

Setelah selesai analisis domain, dilakukan pengamatan dan wawancara

terfokus berdasarkan fokus yang sebelumnya telah dipilih oleh peneliti. Oleh hasil

pengamatan terpilih dimanfaatkan untuk memperdalam data yang telah ditemukan

(40)

melalui pengajuan sejumlah pertanyaan struktural. Data hasil wawancara terpilih

dimuat dalam catatan lapangan.

c. Analisis Komponen

Setelah analisis taksonomi, dilakukan wawancara atau pengamatan terpilih

untuk memperdalam data yang telah ditemukan melalui pengajuan sejumlah

pertanyaan kontras. Data hasil wawancara terpilih dimuat dalam catatan lapangan.

d. Analisis Tema

Analisis tema merupakan seperangkat prosedur untuk memahami secara

holistic pemandangan yang sedang diteliti. Sebab setiap kebudayaan terintegrasi

dalam beberap jenis pola yang lebih luas.

7. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Teknik pemeriksaan keabsahan data berfungsi sebagai salah satu usaha untuk

menghasilkan nilai kredibilitas data yang baik. Pemeriksaan keabsahan data

didasarkan atas kriteria tertentu. “Kriteria itu terdiri atas derajat kepercayaan

(kredibilitas), keteralihan, kebergantungan, dan kepastian. Masing-masing kriteria

tersebut menggunakan teknik pemeriksaan sendiri-sendiri.”38

Di dalam buku Lexy J. Moleong yang berjudul Metode Penelitian Kualitatif:

Edisi Revisi dijelaskan bahwa “penerapan kriterium derajat kepercayaan (kredibilitas)

berfungsi untuk melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan

penemuannya dapat dicapai. Selain itu, untuk mempertunjukkan derajat kepercayaan

(41)

hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda

yang sedang diteliti.”39

Dijelaskan kembali di dalam buku tersebut, untuk mendapatkan nilai

kredibilitas (derajat kepercayaan) data yang baik, maka ada beberapa teknik

pemeriksaan di dalamnya, yaitu:40

(1) perpanjangan keikut-sertaan,

(2) ketekunan pengamatan,

(3) triangulasi, dan

(4) pengecekan sejawat

Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik

pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu

untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Menurut

Denzin, ada empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang dimanfaatkan,

yaitu (1) pemanfaatan penggunaan sumber, (2) pemanfaatan penggunaan metode, (3)

pemanfaatan penggunaan penyidik, dan (4) pemanfaatan penggunaan teori.41

Maka berdasarkan penjelasan di atas, dalam penelitian ini digunakan teknik

pemeriksaan keabsahan data melalui teknik triangulasi dengan pemanfaatan

penggunaan sumber. Triangulasi dengan pemanfaatan penggunaan sumber berarti

membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang

(42)

diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal itu

dapat dicapai dengan jalan:42

a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

b. Membandingkan apa yang dikatakan di depan umum dengan apa yang

dikatakannya secara pribadi.

c. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian

dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

d. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai

pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang

berpendidikan menengah, atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.

e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

berkaitan.

8. Jadwal Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 7 bulan mulai dari pembuatan proposal skripsi,

pengajuan proposal skripsi dan penunjukkan Dosen Pembimbing. Setelah itu,

konsultasi Dosen Pembimbing dan Seminar. Kemudian, dilanjutkan dengan perbaikan

hasil seminar, pengesahan judul dan permohonan izin riset. Setelah itu, baru

pengumpulan data, penyusan data, analisis data, penulisan draf skripsi, penyusunan

dan penggandaan. Terakhir ujian skripsi. Lihat Jadwal Penelitian pada Tabel 1 pada

halaman 27.

(43)

Tabel 1

(44)

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Pengertian Eksistensi

Secara bahasa, istilah eksistensi diartikan sebagai “keberadaan” atau

“adanya”.1

Keberadaan atau adanya di sini dalam konteks merujuk kepada ada atau

tidak adanya pengaruh dari keberadaan sesuatu tersebut terhadap sesuatu yang lain

(benda/orang). Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa eksistensi adalah

adanya kehidupan.2

B.Transportasi

1. Pengertian Transportasi

Transportasi berasal dari Bahasa Latin yaitu transportare, dimana trans

berarti seberang atau sebelah lain, dan portare berarti mengangkut atau

membawa.3 Transportasi diartikan sebagai usaha memindahkan, menggerakkan,

mengangkut atau mengalihkan obyek dari satu tempat ke tempat lain, sehingga

obyek tersebut menjadi lebih bermanfaat atau berguna untuk tujuan tertentu.4 Alat

pendukung yang dipakai untuk melakukan kegiatan tersebut bervariasi tergantung

1

Budiono M. A., Kamus Ilmiah Populer Internasional, (Surabaya: Karya Harapan, 2005), hal. 141.

2

Tim Reality, Kamus Praktis Bahasa Indonesia: Edisi Terbaru, (Penerbit: Reality Publisher, 2008), hal. 156.

3Adib Kamaludin, Ekonomi Transportasi (Cetakan Pertama), (Jakarta: Ghalia Indonesia,

1987), hal. 9.

(45)

dari bentuk obyek yang akan dipindahkan, jarak antara suatu tempat ketempat lain

dan maksud obyek yang akan dipindahkan tersebut.5

Secara konteks, “transportasi” mengandung makna/arti yang tidak jauh berbeda dengan makna/arti daripada “angkutan”, hanya saja terkadang antara

tansportasi dan angkutan sering ditemukan dalam susunan kalimat-kalimat dengan

kedudukan dan fungsi yang berbeda. Namun, secara makna memiliki maksud yang

sama. Secara etimologi “angkutan” berasal dari kata “angkut” yang berarti

mengangkat atau membawa, memuat dan membawa atau mengirim.6 Mengangkut

berarti mengangkat dan membawa, memuat atau mengirim. Pengangkutan berarti

pengangkatan atau pembawaan barang atau orang, pemuatan dan pengiriman

barang atau orang yang diangkut. Dengan demikian, angkutan dapat berarti suatu

proses atau gerakan dari satu tempat ke tempat yang lain.7

Berdasarkan ulasan tersebut dapat diartikan bahwa pengangkutan

mengandung pengertian suatu kegiatan memuat barang atau mengangkut orang

yang biasa disebut penumpang, membawa barang atau penumpang ke tempat yang

lain. Bilamana dirumuskan dalam satu kalimat yang dimaksud angkutan adalah

proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat tempat pemuatan ke

tempat tujuan dan menurunkan penumpang/barang dari alat angkut ke tempat yang

telah ditetapkan.8

5

Rizki Permata Sari, Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di Sungai Martapura Kota Banjarmasin, hal. 34.

6Muhammad Abdulkadir, Hukum Pengangkatan, Darat, Laut dan Udara , (Bandung: Citra

Aditya Bhakti, 1994), hal. 19. 7

Martono Eka Budi Tjahjono, Transportasi di Perairan Berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008. (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal. 5-6.

8Martono Eka Budi Tjahjono, Transportasi di Perairan Berdasarkan Undang-undang

(46)

2. Unsur-unsur Transportasi

Transportasi memiliki lima unsur pokok di dalamnya, yaitu:9

a. Ada manusia, sebagai yang membutuhkan transportasi

b. Ada barang yang dibutuhkan manusia

c. Ada kendaraan sebagai sarana/alat angkut

d. Ada jalan sebagai prasarana, dan

e. Organisasi sebagai pengelola transportasi.

3. Peranan Transportasi

Dalam peranannya, tansportasi mampu menciptakan dan meningkatkan

aksebilitas (degree of accessibility) potensi-potensi sumber daya alam yang

awalnya tidak termanfaatkan menjadi terjangkau dan dapat diolah. Kemajuan

transportasi juga akan membawa pada peningkatan mobilitas manusia, dimana

semakin tinggi mobilitas akan semakin tinggi pula tingkat produktivitas. Dengan

peningkatan produktivitas tersebut, maka akan membawa dampak pada kemajuan

perekonomian.10

Dalam aspek sosial budaya, transportasi menyebabkan terjadinya

penyebaran penduduk.11 Dan membuka peluang interaksi satu sama lain untuk

saling mengenal dan menghormati budaya masing-masing.12 Hal demikian, berarti

9Ahmad Munawar, Dasar-dasar Teknik Transportasi, (Yogyakarta: Beta Offset, 2005),

hal. 2. 10

Nur Nasution, Manajemen Transportasi (Edisi Kedua), (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004), hal. 14.

(47)

dapat menciptakan kehidupan bermasyarakat yang beranekaragam dan dituntut

untuk saling bertoleransi satu sama lain.

4. Jenis-jenis Transportasi

Jenis transportasi yang umumnya dikenal dan dikelompokkan menjadi tiga,

yaitu:13

a. Udara, yaitu dengan moda pesawat dan prasarana bandara

b. Air, yaitu dengan moda kapal dan prasarana dermaga atau pelabuhan

c. Darat, yaitu: jalan raya (dengan moda berupa mobil, bus, sepeda motor), jalan

rel (kereta api), dsb.

5. Konsep Dasar Transportasi

Konsep transportasi didasarkan pada adanya perjalanan (trip) antara tempat

asal (origin) dan tujuan (destination). Dalam suatu perjalanan, ada perjalanan yang

merupakan pergerakan yang diawali dari rumah (home based trip) dan ada juga

perjalanan yang asal maupun tujuannya adalah bukan rumah (non-home based

trip).14

13Ahmad Munawar, Dasar-dasar Teknik Transportasi, hal. 2.

14

(48)

C.Transportasi dan Kebudayaan

C. Kluckhohn dalam karangannya berjudul Universal Categories Of Culture

(1953) dengan mengambil intisari dari berbagai kerangka yang ada mengenai

unsur-unsur kebudayaan universal. Unsur-unsur kebudayaan yang dapat ditemukan

pada semua bangsa di dunia berjumlah tujuh buah, yang dapat disebut sebagai isi

pokok dari setiap kebudayaan, yaitu:15

a. Bahasa

b. System pengetahuan

c. Organisasi social

d. System peralatan hidup dan teknologi

e. System mata pencaharian hidup

f. System religi

g. Kesenian.

Dari ketujuh unsur yang disebutkan di atas, salah satunya adalah sistem

mata pencaharian hidup. System mata pencaharian hidup dapat dirinci ke dalam

sub-sub unsur sebagai berikut: perburuan, peladangan, perkebunan, pertanian,

peternakan, perdagangan, industri kerajinan, industry pertambangan, industry jasa,

industry manufaktur, dan lain-lain.16

Secara fungsional, ketujuh unsur kebudayaan itu memiliki fungsi

sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam karangan buku Malinowski tentang

teori fungsionalisme yang berjudul A Scientific Theory of Culture and Other

Essays (1944). Dalam buku itu Malinowski mengembangkan teori tentang fungsi

(49)

unsur-unsur kebudayaan yang sangat Komplex. Tetapi inti dari teori itu adalah

pendirian bahwa segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud

memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri makhluk manusia

yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.17

Menurut Malinowski berbagai unsur kebudayaan yang ada dalam suatu

masyarakat gunanya untuk memuaskan sejumlah hasrat naluri manusia. Karena itu unsur “kesenian”, misalnya, berfungsi untuk memuaskan hasrat naluri manusia

akan keindahan; unsur “system pengetahuan”, berfungsi memuaskan hasrat untuk

tahu.18 Begitu juga dengan unsur “system mata pencaharian hidup”, berfungsi

untuk memuaskan hasrat naluri manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika berkiblat pada pandangan Vansina, yang mengatakan bahwa “Seorang

peneliti budaya perlu memaknai kebudayaan sebagai “proses” dan “produk”.

Kebudayaan sebagai proses perlu dicermati terjadinya transmisi pesan budaya dari

waktu ke waktu. Sedangkan kebudayaan sebagai produk merupakan warisan

generasi masa lalu ke generasi sekarang”.19

Untuk itu, terdapat dua sub

pembahasan dalam memaknai sebuah kebudayaan. Maka dapat dihubungkan

antara transportasi dengan kebudayaan sesuai dengan pandangan Vansina, sebagai

berikut:

a. Kebudayaan sebagai proses

Apabila manusia menemukan suatu tindakan yang terbukti berdayaguna

dalam menanggulangi suatu masalah hidup, maka tingkah laku itu tentu akan

17

Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi 1, (Jakarta: UI Press, 2009), hal. 171. 18Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, hal 88.

19Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi,

(50)

diulanginya lagi tatkala masalah yang sama kembali dialaminya. Pola tingkah laku

itu kemudian dikomunikasikan kepada individu-individu lain dalam kolektifnya,

dan terutama kepada keturunannya sehingga menjadi mantap dan kemudian

menjadi adat yang dijalankan warga kolektif tersebut. Dengan demikian berbagai

pola tindakan manusia yang telah dibakukan menjadi adat-istiadat itu, telah

menjadi bagian dari dirinya melalui proses belajar.20 Dan apabila telah menjadi

bagian dari dirinya tentu telah menjadi bagian dari hidupnya.

Otak manusia telah berevolusi mengembangkan kemampuan akalnya,

sehingga ia mampu membayangkan dirinya maupun peristiwa-peristiwa yang

mungkin menimpanya, dan menentukan pilihannya di antara berbagai alternatif

dalam tingkah lakunya untuk mencapai pendayagunaan yang optimal dalam

mempertahankan hidupnya.21

Transportasi sungai yang ada di Kota Jambi sebagai sarana utama dalam

penyeberangan Sungai Batanghari merupakan salah satu tradisi yang telah lama

berkembang. Hal ini sesuai dengan pendapat masyarakat Melayu Jambi sendiri. “Mereka beranggapan bahwa cara transportasi sungai merupakan tradisi yang

bersifat turun-temurun dan sudah menjadi identitas budaya mereka.”22 Sehingga

tradisi tersebut berkembang menjadi adat dan kemudian telah menjadi bagian

dalam diri setiap orang yang berada di dalam komunitasnya. Berdasarkan

penjelasan di atas, maka komunitas tersebut akan menentukan berbagai alternatif

untuk mencapai pendayagunaan yang optimal dalam mempertahankan hidup

20

Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, hal. 116. 21Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, hal. 116.

22Bondan Seno Prasetyadi, dkk, Transportasi Sungai dan Masyarakat Melayu Jambi,

(51)

mereka. Karena transportasi sungai (ketek) tersebut telah menjadi bagian dari hidup

mereka, sehingga mereka akan mempertahankannya.

Hal ini sejalan dengan pendapat para ahli psikologi tentang dorongan naluri

yang terkandung dalam naluri manusia, mereka semua sependapat bahwa ada

sedikitnya tujuh macam dorongan naluri, satu diantaranya yang akan disebutkan

dalam bagian ini, yaitu: Dorongan untuk mempertahankan hidup. Dorongan ini

merupakan suatu kegiatan biologis yang ada pada setiap makhluk di dunia untuk

dapat bertahan hidup.23

b. Kebudayaan sebagai produk

Menurut antropologi,“kebudayaan adalah seluruh system gagasan dan rasa,

tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat,

yang dijadikan miliknya dengan belajar”.24

Dengan demikian hampir semua tindakan manusia adalah “kebudayaan”,

karena jumlah tindakan yang dilakukannya dalam kehidupan bermasyarakat yang

tidak dibiasakannya dengan belajar (yaitu tindakan naluri, reflex, atau

tindakan-tindakan yang dilakukan akibat suatu proses fisiologi, maupun berbagai tindakan-tindakan

membabibuta), sangat terbatas. Bahkan berbagai tindakan yang merupakan

nalurinya (misalnya makan, minum, dan berjalan) juga telah banyak dirombak oleh

manusia sendiri sehingga menjadi tindakan berkebudayaan. Manusia makan pada

waktu-waktu tertentu yang dianggap wajar dan pantas; ia makan dan minum

dengan menggunakan alat-alat, cara-cara, serta sopan-santun atau protokol yang

Gambar

Gambar 1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Gambar 2   Lokasi Penelitian
Tabel 1 JADWAL PENELITIAN
Tabel 1 Luas Kecamatan, Kelurahan dan RT di Kota Jambi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan yang diperoleh dari persepsi dan preferensi tinggal masyarakat atau alasan utama sehingga mereka tetap memilih bermukim pada area sempadan sungai di

Penelitian ini dilakukan untuk Mengetahui kinerja pelayanan transportasi Bentor di Kota Kotamobagu berdasarkan Persepsi Masyarakat Kota Kotamobagu, maka untuk

Yang dimaksud dengan asas pengakuan terhadap kearifan tradisional masyarakat lokal dalam pengelolaan sumberdaya daerah aliran sungai adalah trrenerimaan oleh