• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komparasi Analitik Keberadaan Militer da

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Komparasi Analitik Keberadaan Militer da"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

“KOMPARASI ANALITIK KEBERADAAN MILITER DALAM SISTEM

POLITIK TURKI DAN MESIR: KEDIGDAYAAN DAN REPOSISI DALAM

NEGOSIASI DEMOKRASI”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Perbandingan Politik

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Yahya Muhaimin, MA

Ayu Diasti Rahmawati, MA

Disusun Oleh :

Siti Khotimah 15/381154/SP/26766

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sudah bukan lagi menjadi hal baru jika tatanan politik di berbagai negara dikendalikan oleh aktor-aktor sentral. Hal ini senada dengan penjelasan Max Lane bahwa setidaknya telah terjadi sejak Perang Petani di Jerman, dimana pada saat itu masyarakat mengalami kesulitan untuk menahan para petinggi birokrat, tuan tanah atau junker, dan petinggi tentara; untuk tidak terus bercokol dalam puncak kekuasaan. Ketiga aktor tersebut disebut oleh Max Lane sebagai para “petinggi lama”, yang mengindikasikan bahwa kasus serupa telah terjadi bahkan sebelum peristiwa yang dirujuk (Perang Petani) terjadi. Dijelaskan bahwa ketiga aktor tersebut menghambat aliran aspirasi dari masyarakat demi perubahan positif yang emansipatoris. Alhasil, akomodasi aspirasi tak lebih dari sekelumit proses menyampaikan argumen egosentris dan merumuskan “kebijakan” atas kepentingan para elit itu sendiri. Dalam konteks tersebut seolah mereka (para elit) menganggap bahwa perubahan dapat mereka sutradarai.1

Dalam perkembangannya, aktor-aktor yang mengendalikan kekuasaan tersebut bersifat dinamis dan relatif di antara satu negara dengan negara yang lain. Di Jepang misalnya, aktor yang dimaksud hanyalah merujuk pada kalangan politisi, birokrat, dan pengusaha mengingat kealpaan lembaga formal militer dalam negara tersebut. Sedangkan di negara yang lain, bisa jadi hanya satu atau dua entitas yang menjalankan peran dominan. Di Turki misalnya, peran militer sangat kuat terlebih pada era dimana kudeta masih sering terjadi. Militer berperan dalam merencanakan penumbangan atas rezim yang dinilai tidak lagi layak menjalankan pemerintahan. Oleh karenanya, posisi tawar yang dimiliki militer sangat tinggi, dan menduduki strata politik spesial yang tidak dapat diisi entitas lain. Hal serupa juga terjadi di Mesir dimana militer menududuki jabatan formal pemerintahan, termasuk menjadi presiden. Di sisi lain, militer menghalau gerakan dari masyarakat yang pro demokrasi dan revolusi, sehingga pemerintahan militeristik ini bersifat otoritarian. Keberadaan militer dalam politik Turki dan Mesir tak jarang disebut dengan istilah “ruling but not governing”2 merujuk pada kedigdayaan yang dimiliki,

termasuk dalam memengaruhi kebijakan, mengontrol sikap pemerintah, dan melakukan dominasi atas preferensi politik masyarakat. Namun ternyata, monopoli yang dijalankan oleh militer mengalami

1 M. Lane, Peran Kaum Muda dalam Perjuangan Mengakhiri Militerisme, dalam K. Liebknecht, Militerisme dan Anti Militerisme, Ire Press, Yogyakarta, 2004, p. v.

(3)

tantangan. Salah satu tantangan yang paling besar adalah tuntutan demokrasi dari masyarakat domestik maupun lembaga regional-internasional, termasuk serangkaian revolusi dari masyarakat Mesir.

1.2 Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang yang telah dijelaskan, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:

“Bagaimanakah Perbandingan Dinamika Keberadaan Miiliter dalam Sistem Politik Turki dan Mesir Modern?

1.3 Landasan Konseptual

1.3.1 The Higher Circles of the Power Elite, C. Wright Mills

Dalam bukunya yang berjudul The Power Elite, Mills menjelaskan bahwa dalam suatu negara (dengan studi kasusnya di Amerika Serikat) terdapat entitas tertentu yang menduduki posisi sebagai elit politik. Entitas tersebut diantaranya adalah pemerintah, pengusaha, dan militer yang disebut sebagai the higher circles. Mereka saling berhubungan satu sama lain dan membentuk pola segitiga kekuasaan. Ketiga elit politik tersebut memiliki sumber daya, akses, dan juga pengalaman yang berbeda satu dengan yang lain. Alhasil dengan kelebihan yang dimiliki, mereka memonopoli pendanaan (ekonomi), power atau kekuasaan, dan prestis yang berguna untuk meningkatkan posisi tawar antar satu sama lain. Para elit politik tersebut tak jarang berhubungan dalam bidang sosial ataupun ekonomi, termasuk dalam proses pengambilan kebijakan politik.3

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya masalah masalah seperti diatas maka penulis akan melakukakan penelitian dengan judul “ANALISIS PENGARUH PDRB, IPM, TINGKAT PENGANGGURAN DAN BELANJA PEMERINTAH

Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat langsung mengendap, terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya

Guru membahas tugas rumah yang diberikan pada pertemuan yang lalu. Dilanjutkan menunjukkan gambar pelangi pada siswa dan menjelaskan materi tentang cahaya

Negara Republik Indoensia adalah negara berdasarkan hukum yang demokratis, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bukan

Analisis (antai Marko) yaitu alat analisis yang dapat digunakan, misalnya untuk meramalkan pangsa pasar saat ini dan masa datang. !eknik  yang digunakan dalam analisis

Mendemonstrasikan dasar-dasar dan symbol pada system hidrolik  Teknik penggantian Komponen  Prosedur pengecekan hasil perbaikan  Mengumpulkan data tentang dasar-dasar system

Pada waring mesh size 3 mm, di awal masa peme- liharaan tidak terjadi peningkatan pertumbuhan yang signifikan, namun pada minggu ketiga terjadi per- tambahan panjang

Metoda Analisis Komponen Utama (Principal Components Analysis) digunakan untuk mengekstraksi faktor. Pengumpulan data opini responden, tabulasi data dan analisa