Volume I, No. 2, July 2012 I 6 9
Islam di Tiongkok dan China Muslim
di Jawa Pada Masa Pra-Kolonial
Belanda
1S u m a n to Al Qu rtu by2
Abs tra ct: Chin ese M uslim com m un ity play a role in the history of Islam i- zation in Java, so it should be raised "Theory of Chin a" in the history of the en try an d dev elopm en t of Islam in the region . So far, the discussion of Islam ization theory is alw ay s associated w ith the Middle East / Arab and India only - like pioneer of the theory of Arab/ M iddle East is Craw furd, Keijzer, N aim ann, de Hollander, in cluding som e Indonesia-M alay histo- rian s like Hasjm i, al-Attas, Ham ka, Djajadin in grat an d M ukti Ali. W hile adv ocates of the In dia theory am ong others are Pijn apel, H urgronje, M orison, Kern , W insted, Fatim i, Vlekke, Gonda and Srhrieke. Alm ost no historian s w ho argue explicitly that the Islam ization in Java com es from China. Though both "Theory of In dia" an d the M iddle East, especially Saudi H adram aut aren ’t free of w eakn esses.
Ka ta Ku n ci: Jaw a, Chin a, Islam
Saya in gin m en gawali tulisan in i den gan m en gutip sebuah teks klasik Chin a dalam buku M in g Shi (“Sejarah Dinasti Min g”) dan Yin g-y ai Shen -lan m en gen ai m asyarakat Chin a yan g berm ukim di J awa, yakn i oran g-oran g dari Kan ton (Kwan gchou), Zhan gzhou (Chan g-chou), Quan zhou (Chuan - chou) dan kawasan Chin a Selatan yang telah m en in ggalkan Tion gkok dan m enetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir sebelah tim ur terutam a Tuban, Gresik dan Surabaya. Men urut kedua teks in i, keban yakan dari oran g-oran g Chin a yan g m en diam i pesisir utara J awa Tim ur pada awal abad ke-15 tersebut berkehidupan sangat layak serta —dan in i yan g palin g m en arik— sebagian di an tara m ereka telah m em eluk agam a Islam dan taat beribadah (Mills, 1970 :93; Groen develdt, 1960 :49). Berikut kutipan teks Ying-y ai
1 Disampaikan dalam Pidato Kebudayaan di IAIN Walisongo Semarang, 28 Mei
2011 Memperingati Ulang Tahun ke 18 Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Justisia Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang.
2 Sumanto Al-Qurtuby, Alumnus Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri
Shen g-lan yang ditulis oleh seorang Chin a Muslim bernam a Ma Huan:
“In this country there are three kin ds of people: 1) the Moham - m edan s, who have com e from the west and have established them selves here, their dress an d food is clean and proper; 2) the Chinese, bein g all people from Can ton , Chan g-chou, Chuan -chou (the later two places situated in Fukien , n ot far from Am oy) who have run away an d settled here, what they eat an d use is also very fin e an d m an y of them have adopted the Moham m edan religion and observe its precepts; 3) the n atives, who are very ugly an d un couth, they go about with un com bed heads and n aked feet and believe devoutly in devils, theirs bein g one of the coun tries called devil-coun tries in Buddhist books. The food of these people is very dirty an d bad, its for in stan ce sn akes, an ts an d all other of in sects an d worm s, which are kept a m om en t before the fire an d than eaten ; the dog; then have in their houses eat an d sleep together with them , without bein g disgusted at all”.3
Kesaksian Ma H uan m en gen ai oran g-oran g Chin a dari Kan ton , Zuan gzhou dan Quan zhou yan g telah m em eluk agam a Islam di atas sebetuln ya bukan lah hal an eh, m en gin gat daerah-daerah tersebut di Chin a sen diri m erupakan kan ton g-kan ton g um at Islam sebagai akibat persin ggun gan an tara Chin a den gan Arab. Lo H sian g Lin dalam studin ya “Islam in Canton in the Sung
Period” m en yebutkan bahwa oran g Chin a telah m en gen al Islam sejak m
asa-m asa palin g awal dari perkeasa-m ban gan agaasa-m a in i, yakn i abad ke-7 M. Chinese
Annals dari Din asi Tan g (618 -960 ) juga m en catat adan ya pem u- kim an
um at Islam di Kan ton , Zhan gzhouw, Quan zhou dan pesisir Chin a Selatan lain . Ada ban yak buku yan g telah m en gulas ten tan g sejarah perkem - ban gan Islam di Tion gkok in i. An tara lain : Islam in China (Broom hall Marshall, 190 5), M uslim in Chin a (C. Sell, 1913), H istory of the M uslim in China (Muham m ad Fu, 1930 ), The Spread of Islam in China (Ibrahim Tien Yin Ma, 1970 ). Adapun buku-buku yan g relatif baru tentan g perkem bangan China Muslim kon tem porer di Tion gkok dapat dibaca dalam beberapa karya
3 Terjemahan bebas teks ini adalah “Di negeri ini (maksudnya, Jawa) ada tiga
Volume I, No. 2, July 2012 I 71
akadem ik yan g ditulis an tropolog Dru Gladn ey, al, (1) M uslim Chin ese dan (2) Dislocating Chin a.
Men urut karya-karya di atas ditam bah den gan berbagai catatan resm i berba- gai din asti di Tion gkok, pem ukim an oran g-oran g Arab, Persia, dan Marocco sudah ada sejak Din asti Tan g di awal abad ke-7. Pada waktu itu kaisar m en yediakan area khusus un tuk para pedagan g asin g (term asuk oran g- oran g Arab) yan g disebut Fan Fan g. Pada m asa in ilah terjadi kon tak pertam a kali Tion gkok den gan m asyarakat Islam . Di m asa Din asti Tan g, khususn ya di era kekaisaran Tai Tsu (618 -626) dan Tai Tsung (627-649), kebudayaan, kesen ian dan sastra di Tion gkok m aju pesat. Karen a itu tidak heran jika Nabi Muham m ad pernah bersabda: “Tuntutlah ilm u sam pai ke negeri Chin a”. Khalifah Usm an bahkan pern ah m en gutus duta Islam yan g dipim pin Sa’ad Bin Abi Qaqqash un tuk m en jalin persahabatan dengan Dinasti Tang (konon dikabarkan Sa’ad in i m en in ggal di Tiongkok).
Ketika Din asti Son g berdiri di awal abad ke-10 (90 7-1276), hubungan den gan Islam Arab, Persia, dan Afrika Utara terus berlan jut bahkan sem akin intensif. Dilaporkan lebih dari 10 ,0 0 0 “keluarga asing” (term asuk m asya- rakat Muslim dari Tim ur Ten gah) m en diam i kawasan Fan Fan g yan g disediakan khusus un tuk “oran g-oran g asin g” in i. Kaum Muslim m en dapat m om en tum ketika Din asti Yuan berkuasa di Tion gkok (1277-1367). Din asti Yuan yan g didom in asi oleh kaum Mongol in i tidak percaya kepada etn is H an (etn is m ayoritas di Tion gkok), dan sebagai gan tin ya m em prom osikan oran g Muslim (juga Yahudi) dari Arab dan Tim ur Ten gah di posisi-posisi tin ggi, baik di pem erin tahan m aupun m iliter, gun a m en gon trol dan m en jaga kaum H an . Oran g-oran g Muslim in i kem udian kawin -m awin den gan gadis-gadis lokal Chin a sehin gga sem akin ban yak jum lah m ereka pada m asa Yuan in i. Karena itu ada pepatah di Tiongkok: “In the Yuan Dyn asty, Muslim s were all over the un iverse” (i.e. Chin a). Pada m asa Yuan in i juga Daulah Abasiyah yan g berpusat di Baghdad ditaklukkan oleh ten tara H ulagu Khan . Oran g- oran g yan g Muslim Sem it yan g ditaklukkan itu kem udian dibawa ke Tion g- kok untuk dipekerjakan di pem erin tahan , perkapalan , kesen ian , dan kem i- literan .
Pun cak perkem ban gan Islam di Tion gkok terjadi pada m asa Din asti Min g (1368 -1643) sehin gga Din asti Min g in i serin g disebut sebagai “Islam ic
regim e”. Sejarah Islam pada m asa Din asti Min g in i telah ditulis den gan baik
m an ya, dan m en gaku sebagai “H an ” un tuk, m em in jam kalim at Aliya Ma Lyn n dalam Muslim s in Chin a, “pacify an d unify the country ”. Laksam ana Chin a Muslim Chen g H o yan g m elegen da itu juga hidup m asa Min g in i.
Dem ikian lah sejarah sin gkat eksisten si Islam di Tion gkok. Bukti historis yan g tidak terelakkan ten tan g eksisten si kaum Muslim di kawasan in i adalah adan ya dua buah m asjid kun o di Kan ton (yan g dim aksud adalah Masjid Kwan g Tah Se = “Masjid Berm en ara Megah” dan Chee Lin Se=“Masjid Bertan duk Satu”) yan g m en urut beberapa sejarawan m erupakan m asjid kedua tertua di dun ia setelah Masjid Nabawi yan g diban gun Muham m ad di Madin ah (Tien Yin g Ma, 1979; Israeli & J ohn s (ed.), 198 4; Broom hall, 190 5). Masjid Kwang Ta Se di Kan ton itu adalah m asjid pertam a yan g diban gun diluar kawasan Arab! Den gan dem ikian in form asi yan g m erupakan kesak- sian lan gsung Ma H uan m en gen ai kom un itas Muslim Chin a dari Kan ton , Zhan gzhou dan Quan zhou di pelabuhan-pelabuhan Gresik, Tuban dan Sura- baya pada awal abad ke-15 seperti disebutkan di awal paragraf ini adalah hal yan g wajar dan tidak m en gejutkan .
Sejarah Islam di Tion gkok m en galam i m asa-m asa suram ketika Din asti Min g dihan curkan oleh oran g-oran g Man churia yan g kem udian m en dirikan Di- n asti Qin g (1644-1911). Pada m asa in i terjadi pem ban taian besar-besaran terhadap um at Islam . Para kaisar juga m em aksa um at Islam un tuk kem bali ke ajaran leluhur Chin a: Kon fusian ism e. Sebagai akibatn ya ban yak oran g- oran g Islam yan g m elakukan kon versi atau pin dah agam a. Karen a keke- jam an rezim pula, m aka terjadi ban yak pem beron takan yan g dilakukan kaum Muslim pada sem asa Qin g in i. Kon flik baru m ereda setelah Dr. Sun Yat Sen pada tahun 1911 berhasil m elakukan revolusi m en ggulin gkan Din asti Qin g. Dr. Sun Yat Sen in i kem udian m en dirikan sebuah negara baru Tion g- kok di atas fon dasi dem okrasi m odern yan g m en ghidupkan kem bali kebe- basan beragam a. Ia juga m en yatukan lim a etn is utam a Tion gkok: H an , Man - cu, Mon gol, H ui, dan Tibet. Di bawah pem erin tahan n asion alis dem okratik, m ereka m enikm ati hak-hak dan kewajiban yan g sam a sebagai warga n egara.
Pem erin tahan Nasion alis Dem okratik in i berakhir pada tahun 1949 setelah Tion gkok dikuasai kaum kom un is. Setelah diduduki kom un is, pem erin tahan n asion alis in i kem udian m em in dahkan m arkasnya dari Nanjing ke Taipei (Taiwan ) sam pai sekaran g. Di bawah kekuasaan kom un is pim pin an Mao Tse Tun g, sem ua agam a dibum ihan guskan dan digan ti den gan ideologi m aterial- ism e. Baru setelah kom un is dipim pin oleh Den g Xiaopin g pada 1970 -an , agam a-agam a di Chin a bisa bern afas lega lagi.
Volume I, No. 2, July 2012 I 73
Tetapi m en urut statistik resm i pen duduk tahun 1936, terdapat sekitar 48 juta Muslim dan 42 ribu m asjid. Berdasarkan jum lah in i, PBB m en gesti- m asi pada tahun 20 0 9, pen duduk Muslim di Tion gkok m en capai sekitar 140 juta. J um lah in i jauh lebih besar dari pen duduk Muslim di Iran , Irak, Arab Saudi, Mesir dll. Men gin gat sejarah Islam yan g begitu awal tiba di Tingkok dan “hubun gan dagan g” (dan politik) an tara din asti-din asti Tion gkok dan J awa (dan Nusan tara), m aka bukan lah hal an eh jika m ereka ban yak berpe- ran dan m ewarn ai sejarah keislam an di Nusan tara.
***
Dalam setiap pem bicaraan m en gen ai apa yan g disebut “Islam isasi Nusan - tara,” para sejarawan (apalagi yan g awam ) selalu m erujuk pada Arab atau In dia sebagai n egara yan g berperan besar dalam m em perken alkan corak keislam an di n egeri ini. Pan dangan in i sudah lam a m en gakar dalam ben ak setiap Muslim . Karen a teori Arab atau In dia/ Gujarat in i diajarkan sejak Sekolah Dasar bahkan para guru n gaji di pon dok, m adrasah, m asjid selalu “m eritualkan ” pan dan gan in i. Ada yan g m en an ggapi den gan santai-san tai saja dan m en gan ggap han ya sebagai “hiburan sejarah” tetapi ada yan g m en an ggapi den gan serius bahkan sangat serius sam pai pada taraf m eyakin i teori Arab in i. Apalagi kelom pok “Islam puritan ” akan berusaha m ati-m atian m em bela teori Arab dalam proses islam isasi Nusan tara dan berusaha sekuat ten aga un tuk m enolak teori lain . Mereka berpandan gan , den gan m em perta- han kan teori Arab m aka dapat m en jaga wajah “oten tisitas keislam an ” (kem urn ian Islam ). Sebalikn ya, jika proses keislam an di Nusantara in i dila- kukan oran g-oran g selain Arab m aka akan dapat “m en odai” keislam an .
oran g Chin a Muslim . Bahkan peran Chin a in i lebih m eyakin kan ketim ban g oran g-oran g Arab khususn ya H adram aut sebagaim an a yan g selam a in i dipe- gan gi sem en tara um at Islam .
H am pir sem ua sejarawan m eyakin i bahwa proses islam isasi J awa terjadi pada ben tan gan abad ke-14 sam pai 16. Di J awa, ren tan gan abad in i m em an g san gat pen tin g sebab m asa-m asa in i m erupakan proses pen guatan basis- basis Islam . Islam tidak lagi tam pil sebagai “com m un ity ” yan g sporadis te- tapi sudah m en jadi “society ” yan g terstruktur den gan sistem yang cukup ba- ik dan rapi. Pada m asa in i juga terjadi ton ggak sejarah yan g pen tin g di J awa: Kerajaan Majapahit han cur un tuk kem udian berdiri kerajaan -kerajaan Islam (v orstendom m en ) di pesisir utara J awa yan g berpusat di Dem ak. Gam baran sosiologis J awa pada m asa itu term asuk pergolakan politik yan g terjadi di dalam n ya, secara m en arik dipaparkan Pram oedya An an ta Toer dalam Arus
Balik: Sebuah Epos Pasca Kejay aan N usan tara di Aw al Abad ke-16. Dalam
karya in i, Pram m en yebut beberapa tokoh Chin a Muslim pen tin g pada abad ke-16 yan g berperan besar dalam proses perkem ban gan Islam di J awa.
Di an tara m ereka adalah Liem Mo H an (Babah Liem ). Babah Liem in i tidak han ya m en gerahkan kekuatan Chin a un tuk m elawan Portugis tetapi juga diken al sebagai arsitek sejum lah m asjid kun o di J awa seperti Masjid Man ti- n gan di J epara. Babah Liem in i adalah seorang China Muslim , pem uka Nan Lun g (“Naga Selatan ”—sebuah organ isasi m asyarakat Chin a Ran tau yan g m em pertahan kan lem baga peradaban dan kebudayaan n egeri leluhurn ya) yan g san gat dihorm ati oleh m asyarakat Chin a di sepan jan g pan tai utara pulau J awa. Organ isasi Nan Lun g diben tuk setelah ekspedisi Chen g H o yan g m elegenda itu. Oleh Nan Lun g dan m asyarakat Chin a, ia dian gkat m en jadi pen ghubun g an tara Lao Sam (Lasem ) den gan Toa-lan g (Sem aran g), juga dian gkat m en jadi duta m asyarakat Chin a un tuk Dem ak. Liem Mo H an atau Babah Liem bukan lah satu-satun ya oran g Chin a Islam yan g m em egan g peran pen ting yan g diceritakan Pram , beberapa Chin a Muslim lain juga ia sebut seperti Coa Mie An dan Gouw En g Cu. Yan g belakan gan in i adalah ketua m asyarakat Chin a sekaligus sesepuhn ya di Lao Sam atau Lasem di awal abad ke-16.
Volume I, No. 2, July 2012 I 75
ia diserahkan kepada Gouw En g Cu untuk dididik di Lao Sam (Arus Balik, 367). Alasan lain yan g digun akan Pram un tuk m em perkuat argum en tasin ya adalah fakta sejarah bahwa Sun an Kalijaga lebih m em bela Dem ak m ati- m atian ketim ban g Tuban . Ken apa? “Sebab Dem ak adalah rezim Chin a”.
Tidak jelas sum ber-sum ber yan g dipakai Pram un tuk m elakukan rekon - struksi sejarah in i. Karen a ia m em an g tidak m en yebutkan n ya. Tetapi papar- an n ya sungguh rasion al dan m eyakin kan dan sesuai den gan catatan -catatan asin g hasil pen gam atan lan gsun g m en gen ai m asyarakat Chin a yan g m en dia- m i di pesisir J awa. Baik pen gem bara portugis, Tom e Pires, Ma H uan dari Chin a m aupun Loedwicks dari Belan da sam a-sam a m en yaksikan eksisten si Chin a Islam di pesisir J awa in i. Yan g jelas, ten tan g in form asi gen ealogi Sun an Kalijaga in i, Pram tam pak berlawan an den gan in form asi historiogafi lokal J awa Ten gah terutam a Babad Tan ah Djaw i dan Serat Kan da, juga
Tem bang Babad Dem ak. Dalam teks-teks in i, Sun an Kalijaga disebut
sebagai an ak kan dun g Adipati Tuban , Arya Teja bukan an ak Brawijaya dari Putri Chin a yan g dititipkan kepada Arya Teja. Sebalikn ya, babadbabad m en ceritakan an ak Brawijaya dari Putri Chin a itu (m en urut n askah Serat
Kan da bern am a Sio Ban Chi, putri seoran g Chin a Muslim yan g bern am a
Syekh Ben ton g) bern am a J in Bun alias Raden Patah, Raja Dem ak pertam a. Oleh Brawijaya, Putri Chin a Muslim ah in i diserahkan kepada Arya Dam ar (bukan Arya Teja), raja m uda di Palem ban g. Di san alah Raden Patah yan g legen daris itu dilahirkan .
Pram bukan lah oran g pertam a yan g m en giden tifikasi ke-Chin aan Sun an Kalijaga. J auh sebelum n ya, sudah ada beberapa sejarawan dan ahli yan g berpen dapat bahwa Sun an Kalijaga yan g m en em pati posisi terhorm at dalam m asyarakat Islam J awa itu seoran g Chin a. Prof. Muljan a, sejarawan UI dalam buku klasikn ya yan g kem udian dibredel pem erin tah Orde Baru,
R untuhny a Keradjaan H indu-Djaw a dan Tim buln y a N egara-N egara Islam di N usan tara berdasarkan teks “kron ik kelen ten g Sam pokon g” (oleh Graaf &
Pigeaud, dua sejarawan gaek Belan da disebut Catatan Tahun an Melayu atau
M alay Annals) juga m en gatakan bahwa Sun an Kalijaga adalah seoran g
Muslim Chin a, beberapa n am a lain yan g disin yalir seoran g Muslim Chin a juga disebutn ya seperti Ki Agen g Gribig yan g m enurutn ya bern am a Siauw Dji Bik, Ki Agen g Pen gging (H eng Pa H in g), Sun an Bon an g (Bo Bin g Nan g) dan Sultan Pajan g (Na Pao Tjin g).
Apakah Pram dan beberapa ahli di atas sedan g berfan tasi ketika m en giden - tifikasi “keChin aan ” sejum lah n am a beken dalam sejarah islam isasi J awa abad ke-15/ 16—abad di m an a agam a Islam sedan g berproses un tuk m en un - jukkan eksisten sin ya sebagai agam a baru? Pen dapat Pram , juga lain n ya, tidak bisa disalahkan 10 0 %, juga tidak bisa diben arkan 10 0 %. Sebab, sejarah bukan lah soal ben ar dan tidak ben ar tetapi soal rasion al dan tidak rasion al, m asuk akal dan tidak m asuk akal. Sejarah adalah sebuah in terpretasi atas peristiwa m asa lam pau. Karen a itu keben aran sejarah adalah relatif. Kita tidak bisa m en gklaim bahwa pen dapat Si A salah dan Si B ben ar. Terlepas dari sahih dan tidakn ya data yan g dipakai para ahli di atas, yan g jelas berbagai an alisis kesejarahan m en un jukkan bahwa oran g-oran g Chin a, pada kurun itu (abad ke-15/ 16), m em an g m em egan g peran cukup sign ifikan di ham pir segala bidan g: pertukan gan , pern iagaan / perdagan gan , pelayaran / n avigasi dan hal-hal yan g terkait den gan wilayah kepolitikan . Oran g-oran g Chin a yan g m en diam i J awa in i m erupakan im bas (side effect) dari hubungan J awa-Chin a yan g sudah diban gun sejak klasik.
***
Relasi J awa (teks Chin a: She-po, Zhaowa) den gan Chin a (Tion gkok), baik dalam pen gertian hubun gan diplom atik an tar-kedua n egara/ kerajaan m au- pun kon tak dagan g m em an g sudah berlan gsun g sejak klasikjauh sebelum Islam datan g ke kawasan ini(Wolters, 1967;Schrieke, 1960 ;Leur, 1955;Vlekke, 1943). H ubungan tersebut terus berlan jut saat Chin a dikuasai Din asti Min g (1368 -1644 M), sebuah rezim yan g m em beri apresiasi cukup besar terhadap kom un itas Muslim di san a. Saat itulah terjadi arus perhubun gan yan g cukup in ten sif J awa-Chin a. Buku M in g Shi (“Sejarah Din asti Min g”) di satu sisi dan kisah-kisah yan g disusun sewaktu pelayaran Chen g H o terutam a risalah
Yin g-y ai Shen g-lan yan g ditulis Ma Huan (sekitar tahun 1416) di pihak lain
Volume I, No. 2, July 2012 I 77
secara pasti—suatu hal yan g disen gketakan dan tak terselesaikan sejak eks- pedisi Kertan egara dari Sin gasari tahun 1275 saat m elawan Melayu.
Perlu diketahui bahwa eksisten si Chin a Islam pada abad ke-15/ 16 tersebut tidak han ya di J awa Tim ur saja seperti disaksikan Ma H uan (seperti saya sebutkan di awal paragraf in i), m elain kan ham pir m erata di sepan jan g pesisir utara (“Pan tura”) J awa. Pen gelan a Belan da, Loedewicks, yan g m e- n gunjun gi Ban ten pada abad ke-16 seperti dicatat Sutterheim dalam uraian kesarjan aan n ya ten tan g Keraton Majapahit, juga m en yaksikan eksisten si kom un itas Chin a Islam in i yan g dalam dokum en VOC disebut geschoren
Chin eezen (oran g-oran g Chin a cukuran ). Kesaksian atas eksisten si Chin a
Islam di J awa bahkan Asia Ten ggara pada bentan gan abad ke-15/ 16 juga diberikan Ibn u Batutta, pen gem bara asal Maghrib yan g pada perten gahan abad ke-15 berkelilin g dun ia m en elusuri daerah pesisir dari Arab sam pai Chin a dan Asia Ten ggara seperti tertuan g dalam buku R ihlah ibn Bathutah yan g diedit Thalal H arb.
In form asi yan g m erupakan hasil pen gam atan lan gsun g di atas ben ar-ben ar m en dukun g tradisi J awa m en gen ai awal m ula pen yebaran agam a Islam di J awa. Tradisi-tradisi yan g pada um um n ya tersim pan dalam babad-babad yan g disusun kem udian (zam an Mataram Islam ) m eskipun uraian n ya diseli- m uti pen uh m itos tetapi yan g dikem ukakan n ya ialah suasan a kosm opolitan yan g pada waktu itu terdapat di pelabuhan -pelabuhan pesisir dan m asya- rakat baru yan g sedan g terben tuk itu pada perkem ban gan berikutn ya m am pu m en desak dan m erun tuhkan kekuasaan agraris Majapahit di peda- lam an . Bahkan ada beberapa teks lokal yan g m en yebut secara eksplisit keberadaan Muslim Chin a pada awal perkem ban gan agam a Islam di J awa seperti ditun jukkan dalam Babad Tan ah Djaw i, Serat Kan danin g R in ggit
Purw a, Carita (Sejarah) Lasem , Babad Cerbon, H ikay at Hasanuddin dan
Patah adalah seoran g raja yan g berobsesi m en jadikan Dem ak sebagai Negara Maritim Islam yan g tan gguh di J awa. Obsesin ya itu kan das setelah Tren g- gan a (teks M alay Ann als: Tun g Ka Lo) wafat tahun 1546 dalam sebuah per- tem puran m elawan Pan arukan yan g bersekon gkol den gan Portugis. Sem en - tara para pen ggan tin ya tidak m em iliki kualifikasi sebagai leader yan g cakap, bahkan antar-keturun an Raden Patah terlibat kon flik pan jan g dan berdarah- darah sam pai akhirn ya Sen apati (Sutawijaya) berhasil m en ghem paskan J aka Tin gkir dan m en dirikan im perium Mataram Islam di pedalam an J awa.
Selain babad, kesaksian pen gem bara asin g ten tan g eksisten si Chin a Islam di atas juga paralel den gan tradisi lisan yan g berkem ban g dalam m asyarakat J awa. Cerita tutur di berbagai daerah pesisir J awa m en yebutkan adan ya tokoh-tokoh Chin a Islam yan g berperan cukup besar dalam proses islam isasi di kawasan in i seperti kisah Cie Gwie Wan , “tan gan kan an ” Sultan H adlirin sekaligus peletak dasar tradisi sen i ukir di J epara yan g populer den gan sebutan Sunggin g Badar Duwun g karen a keahlian nya di bidan g sen i ukir (m akam n ya ada di kom pleks Astan a Sultan H adlirin , J epara). Bahkan m en urut teks lokal pesisiran , Serat Kandaning R inggit Purw a, m en yebut Sultan H adlirin (Suam i Ratu Kalin yam at) sen diri seoran g Chin a Muslim bern am a Win tan g. Sem ula ia seoran g pedagan g kaya yan g kapaln ya beran - takan akibat seran gan badai, sem en tara ia sen diri terdam par di tem pat yan g bern am a J ung Mara (kem udian m en jadi J epara). Kon on , pen gusaha Chin a bern am a Win tan g in i kem udian diislam kan Sun an Kudus m elalui guide yang juga seoran g Muslim Chin a bern am a Rakim dan digan ti n am an ya m en jadi H adlirin (n am a in i artin ya “pen datan g”).
Volume I, No. 2, July 2012 I 79
Cerita lisan Chin a Islam ini tidak tan ya di J awa saja tetapi juga Bali. Dalam tradisi lokal m asyarakat Islam Bali, salah satu an ggota Wali Tujuh (sem acam tradisi Walison go di J awa) adalah seoran g Muslim Chin a bern am a Syekh Abdul Qodir Muham m ad alias The Kwan Pao Lie. Makam n ya berada di desa Tem ukus (Labuan Aji), Kecam atan Banjar, Kabupaten Bulelen g, Sin garaja, Bali. Makam in i diken al den gan sebutan “Keram at Karan grupit” (Zen , 1998 : 46). Bahkan , Tan Yeok Seon g dalam uraian kesarjanaann ya tentan g Nyai Gede Pin atih m en yebutkan bahwa perem puan kuat dan saudagar kaya di Gresik in i yan g dalam tradisi lokal diken al sebagai ibu an gkat Sun an Giri adalah seorang China Muslim ah keturun an Shih Chin Chin g, seorang
ov erlord (yang dipertuan besar) Chin a di Palem ban g yan g bern am a Shih Ta
Nian g Tzi Pi Na Ti. Nam a Pin atih adalah v erbastering (perubahan kata) dari teks Chin a Pi Na Ti (Seong, 1963:399-40 8 ). Nyai Gede Pin atih in ilah yan g m em -back up dan a buat kejayaan Giri Kedaton (kerajaan Giri).
Sejarawan Belan da yan g sepan jan g hayatn ya didedikasikan un tuk m en ulis historisitas J awa, De Graaf, juga berpen dapat bahwa Sun an Giri (Raden Paku), m eskipun bukan Chin a tapi ban yak m em pekerjakan oran g-oran g Chin a sebagai pegawai sipil dan m iliter un tuk m en gelola kerajaan n ya, Istan a Giri (Giri Kedaton ). Dalam risalahn ya, Soerabaja in de X VII eeuaw van
Kon in krijk tot R egen tschap (“Surabaya dalam abad ke-17 dari Kerajaan
sam pai Kabupaten ”), Graaf juga m en catat .ada sekitar 40 Chin a Muslim yan g dipekerjakan Sun an Dalem (Prabu Satm ata), pen guasa kedua Giri Kedaton . Babad Tan ah Djaw i (ed. Balai Pustaka, IX, 67/ 68 ) juga m en ceri- takan ten tang para pen gikut Giri saat berperan g m elawan Pangeran Pekik dari Surabaya (m en an tu Sultan Agun g) terdiri atas kecuali para m odin , san tri, ketib dan pen ghulu juga diikuti sekitar 20 0 ten tara China Muslim . Bahkan , m en urut sebagian riwayat yan g diakui kesahihan n ya, pan glim a peran g Giri terakhir saat berperan g m elawan Mataram adalah seoran g Chin a Muslim yan g bern am a En drasen a. Ia adalah an ak pun gut Pan em bahan Kawistuwa atau Mas Wetan , pen ggan ti Sun an Prapen . Tokoh in i sam pai sekaran g m asih diken al dalam lem baran sejarah Tan ah J awa (Budim an , 1979:23).
Patut diketahui bahwa eksisten si Chin a Islam pada awal perkem ban gan agam a Islam di J awa in i tidak han ya ditun jukkan oleh kesaksian-kesaksian para pen gem bara asin g, sum ber-sum ber Chin a, teks lokal J awa m aupun tradisi lisan saja m elain kan juga dibuktikan den gan berbagai pen in ggalan kepurbakalaan Islam di J awa yan g m en gisyaratkan adan ya pen garuh Chin a yan g cukup kuat sehin gga m en im bulkan dugaan bahwa pada ben tan gan abad ke-15/ 16 telah terjalin apa yan g disebut Sin o Jav an ese M uslim
m asjid kun o Man tin gan J epara, m en ara m asjid di peChin an Ban ten , kon struksi pin tu m akam Sun an Giri di Gresik, arsitektur keraton Cirebon beserta tam an Sun yaragi, kon struksi Masjid Dem ak terutam a soko tatal pen yan gga m asjid beserta lam ban g kura-kura, kon struksi Masjid Sekayu di Sem arang dan sebagain ya sem uan ya m en unjukkan keterpengaruhan budaya Chin a yan g kuat. Dan pen in ggalan kesejarahan yan g tak terelakkan dari m asyarakat Chin a Muslim ialah dua m asjid kun o yan g berdiri m egah di J akarta, yakn i Masjid Kali An gke yan g dihubun gkan den gan Gouw Tjay dan Masjid Kebun J eruk yan g didirikan Tam ien Dosol Seen g dan Nyon ya Cai. Dalam Masjid Sekayu (m asjid tertua di Sem arang, Aboebakar Atjeh dalam
Sedjarah M esdjid (1955) m en yebutn ya Masjid Pekayuan ) terdapat lukisan /
tulisan Chin a yan g berada di keran gka atap (blan dar) m asjid. Bukti-bukti kesejarahan in i belum term asuk kelen ten g-kelenten g kun o kon troversial yan g diduga kuat oleh sem en tara sejarawan sebagai bekas m asjid yan g diban gun m asyarakat Chin a pada abad ke-15/ 16. Kelen ten g- kelen ten g yan g dim aksud ialah Kelenten g Ancol di J akarta (juga disebut Kelenten g Nyai Ron ggen g), Kelen teng Talan g di Cirebon , Kelenteng Gedun g Batu (Sam po- toalan g/ Sam pokon g) di Sim on gan -Sem aran g, Kelen ten g Sam pokon g di Tuban dan Kelen ten g Mbah Ratu di Surabaya.
Kelenteng Nyai Ronggeng di An col (juga disebut Kelen ten g Bahtera Bhakti yan g terletak kira-kira 25 m eter dari Sirkuit An col) dihubun g-hubun gkan den gan seoran g Muslim Chin a yan g m en jadi juru m asak Chen g Ho (diken al den gan Sam Po Swie Soe). Kisahn ya, pada waktu Chen g Ho ekspedisi ke Sun da Kelapa (n am a J akarta tem po doeloe), san g juru m asak in i kem udian jatuh cin ta den gan pen ari ron ggen g setem pat yan g bern am a Sitiwati. Karen a sudah saling “jatuh cin tron g”, akhirnya, keduanya m enikah sam pai m en in ggal dan dikuburkan di kom pleks kelenten g bersam a m ertuan ya yan g bern am a Said Areli. Cerita lisan in i dirilis ulan g oleh Lee Khoon Choy dalam
In don esia Betw een M y th an d Reality . Dua sejarawan Peran cis, Den n ys
Volume I, No. 2, July 2012 I 8 1
serta m akam Kyai Cun drik Bum i yan g diduga sebagai pen gawal Chen g H o. Dalam Kelenteng itu pula terdapat sebuah bedug yan g berisi kata-kata m utiara aksara/ bahasa Chin a: m o’len lan in g yang berarti “diam -diam m em ben arkan al-Qur’an den gan suara” (Am bary, 20 0 1:28 3). Kelen ten g in i kem udian m en jadi m egah seperti tam pak saat in i setelah tan ah kom pleks Sim on gan —tem pat situs Kelen teng Sam Po Kong— berhasil dibeli oleh Oei Tjie Sien , ayah Oei Tion g H am , saudagar kaya yan g terken al den gan julukan “Raja Gula Nusan tara” sekitar tahun 18 79 dari seoran g tuan tan ah Yahudi bern am a Yohan es (Zhi, 1992:37-38 ).
Cerita m isterius seputar kelen ten g in i juga terdapat di Cirebon , tepatn ya m en gen ai Kelenten g Talang. Dalam tradisi m asyarakat setem pat, kelen ten g in i m ulan ya kon on diban gun oleh Tan Sam Cai alias Muham m ad Syafi’i alias Tum en ggun g Arya Dipa Wiracula (m en teri keuan gan di zam an Kesultan an awal Cirebon ). In dikasi bahwa kelenteng ini sem ula m erupakan m asjid m enurut Tan Tjie Tek, penjaga kelenten g, an tara lain arah kelen ten g yan g m en ghadap kiblat, adan ya sum ur dan padasan (tem pat berwudlu), tulisan kaligrafi bergaya Chin a, m im bar khotbah serta tem pat pen gim am an yan g m en jorok ke dalam . Tem pat in i kem udian dialihfun gsikan un tuk periba- datan um at Kon g H u Cu (baca, berubah fun gsi m enjadi kelen ten g) oleh seorang China kaya raya Cirebon bern am a Mayor Tan Tjie Kie (18 53-1920 ) yan g saat itu m en jabat ketua Perhim pun an Kon g J u Kwan berdasarkan surat Gouvern ur H in dia Belan da Besluit tan ggal 22/ 7/ 18 98 No.3. Akhirn ya, dibuatlah m eja altar Kon ghucu sekitar tahun 1960 -an oleh Kho Sin Soan .
pertam a Din asti Min g, Hun g Wu, di akhir abad ke-14 m elakukan tin dakan pem erasan dan kekerasan terhadap kelas m en en gah, pen gusaha dan peda- gan g sukses di Chin a yan g m em ban gkan g dari kewajiban m em bayar pajak pada n egara. Peristiwa politik in i telah m en gakibatkan terjadin ya pelarian m odal (kapital) dan m igrasi besar-besaran ke luar n egeri sekaligus telah m en gubah status pelan cong tem poral Chin a m en jadi ekspatriat perm an en di n egara baru yan g dihun in ya (Seagrave, 1999).
Selain dua peristiwa politik besar tersebut, kem ungkinan lain adanya m asya- rakat Chin a Islam di J awa sebelum abad ke-17 ialah saat terjadi ekspan si politik Chin a-Mon gol ke J awa tepatn ya Sin gasari pada akhir abad ke-13 (kata sebagian sejarawan tahun 1292). Ekspedisi politik yan g terdiri atas 20 .0 0 0 ten tara Chin a-Mon gol in i awaln ya dim aksudkan sebagai aksi balas den dam kepada Kertan egara pada akhirn ya gagal total setelah m ereka berhasil dikelabui Raden Wijaya yan g kem udian m en dirikan Majapahit. Pen gkaitan Chin a Islam di J awa den gan sisa-sisa ten tara Chin a-Mon gol yan g berhasil lolos dari gem puran Wijaya in i bukan tan pa alasan . Sebab, seperti ditun jukkan dalam studi J itsuo Kuwabara bahwa beberapa elite Muslim m em egan g peran cukup sign ifikan pada m asa kekuasaan Din asti Yuan (Mon gol) di Chin a. Para elite Muslim in i berhasil m em pen garuhi beberapa kebijakan Chin a-Mon gol un tuk m elakukan ekspan si teritorial ke J epan g, Korea, Cam pa dan J awa (Kuwabara, 1928 ). Bahkan , seperti ditulis beberapa sejarawan , wakil pan glim a peran g rezim Chin a-Mon gol ialah seorang Muslim yan g bern am a Alaudin Musafari (Ma, 1979; Khan , 1967). Dari sin i m en im bulkan dugaan kuat bahwa sebagian ten tara Chin a-Mon gol yan g turut serta dalam ekspan si tersebut ialah oran g-oran g Chin a Muslim . Dugaan in i sem akin kuat setelah m elihat pada dekade berikutn ya di pesisir utara J awa berm un culan tradisi ten tan g Chin a Islam yan g dikaitkan den gan n egeri “Mun ggul” (m aksudn ya, Mon gol).
Volume I, No. 2, July 2012 I 8 3
sebagian Chin a Islam yan g turut serta dalam rom bon gan Chen g H o in i en g- gan pulan g kem bali ke negerin ya baik karen a alasan pen gem ban gan bisn is di daerah baru yan g din ilai lebih m en jan jikan atau faktor ken yam an an politik m aupun alasan doron gan keagam aan un tuk m en yebarkan syi’ar Islam di “n egeri kafir”. J ejak-jejak historis yan g ditaburkan Chen g H o in i begitu tera- sa m en yen gat dalam kehidupan m asyarakat J awa yan g tidak han ya m un cul lewat tradisi lisan m elalui tokoh m itos Kyai Dam puawan g tetapi juga bebe- rapa pen in ggalan kesejarahan seperti ban gun an m ercusuar di Cirebon m au- pun berbagai kelen ten g kun o di pesisir utara J awa yan g dikaitkan den gan Chen g H o, seperti dipaparkan di atas.
Para im igran Chin a di atas yan g sebagian besar laki-laki in i kem udian m en g- adakan perkawin an den gan perem puan lokal baik den gan perem puan ban g- sawan keraton m aupun rakyat biasa seperti yan g terjadi pada seoran g Chin a Muslim yan g kem udian dalam tradisi setem pat diken al den gan “Babah Chi- n a” yan g kawin den gan pen ari ron ggeng di daerah Sun da Kelapa. Dari inte- raksi lewat perkawin an silan g in i, kem udian m un cul istilah Chin a Peran akan sebagai im ban gan dari Chin a Totok. Migran Chin a yan g sebagian besar laki- laki in i disebabkan perem puan pada saat itu tidak boleh bepergian jauh apa- lagi ke m an can egara baik karen a adat setem pat m aupun laran gan dari Kai- sar Chin a. Istilah “n yon ya Chin a” yan g m un cul di J awa pada abad perte- n gahan sebetuln ya m engacu kepada perem puan pribum i yan g dikawin de- n gan laki-laki Chin a. Dan kata “n yon ya” sen diri berasal dari kata H okkian ,
n io’a atau n iow a yang berarti “perem puan ” (Liem Tien J oe, 1933). Tradisi
kawin silan g Chin a-J awa yan g begitu m aklum di m asa pra-kolon ial itulah yan g m en yebabkan dulu oran g J awa m erasa ban gga m en yatakan dirin ya sebagai keturun an Chin a.
m asih keturun an Tan Kim H an alias Syekh Abdul Qodir al-Shin iy yan g pern ah m em im pin laskar Dem ak saat m elawan Majapahit bersam a Sun an Ngudung (ayah Sun an Kudus) dan Maulan a Ishak (kon on ayah Sun an Giri). Apakah pern yataan Gus Dur in i “historis” atau sekedar berm uatan “politik” saja han ya dia yan g tahu. Tetapi fakta sejarah Muslim Chin a-J awa in i tidak bisa terban tahkan .
***
Dari paparan sin gkat di atas kiran ya cukup beralasan jika dikatakan bahwa kom un itas Muslim China turut m em ain kan peran dalam proses sejarah Islam isasi di J awa sehin gga patut dim un culkan “Teori Chin a” dalam sejarah m asuk dan berkem ban gn ya Islam di kawasan in i. Sejauh ini, pem bicaraan tentang teori Islam isasi selalu dikaitkan den gan Tim ur Ten gah/ Arab dan In dia saja —sebuah teori yan g sudah m en jadi klasik dan klise. Pelopor teori Arab/ Tim ur Ten gah ialah Crawfurd, Keijzer, Naim ann , de Hollan der, term a- suk beberapa sejarawan In don esia-Melayu seperti H asjm i, al-Attas, H AM- KA, Djajadin in grat dan Mukti Ali. Sem en tara pen yokon g teori India an tara lain ialah Pijn apel, H urgron je, Morison , Kern , Win sted, Fatim i, Vlekke, Gon da dan Srhrieke (Drewes, 198 5; Azra, 1999). J adi ham pir dipas- tikan tidak ada sejarawan yan g berpen dapat secara eksplisit bahwa Islam isasi Nusan tara dan J awa khususn ya yan g m enjadi fokus tulisan ini berasal dari Chin a. Padahal baik “Teori In dia” m aupun Tim ur Ten gah khususn ya Arab H adram aut tidak luput dari kelem ahan .
Pem bela Teori In dia han ya didasarkan pada sejum lah argum en yan g sifatn ya hipotetik, m isaln ya kon struksi m asjid klasik den gan atap susun seperti ben tuk m eru pada ban gunan beribadah oran g H indu. In i m en un jukkan ada pen garuh In dia pada kebudayaan Islam . Teori Arab H adram aut lebih lem ah lagi. Van den Berg dalam studin ya, Le Hadhram out Et. Les Colonies Arabes
Dans L’Archipel In dien (“H adram ut dan Kolon i Arab di Nusan tara”)
m en yatakan bahwa para sayyid dan syarif dan oran g-oran g Arab H adram aut lainn ya baru m en un jukkan eksisten sinya di J awa pada tahun -tahun terakhir abad ke-18 padahal keislam an berproses di J awa sejak abad ke-15/ 16. Oran g-oran g Arab in i m ulai m en etap di J awa setelah tahun 18 20 . Kem udian sejak tahun 18 70 arus m igrasi oran g-oran g Arah ke Nusan tara bertam bah ban yak setelah m en ggun akan tekn ologi pelayaran kapal uap (Berg, 198 9: 67-78 ). Ban din gkan an alisis Berg in i dengan fakta sejarah kom unitas China Islam yan g sudah m en diam i pesisir J awa sebelum abad ke-15.
Volume I, No. 2, July 2012 I 8 5
tiran hidup oran g-oran g (yan g m en diam i) J awa saat arus balik m em balik. J awa yan g sem ula m en guasai n egeri-n egeri di Utara kem udian berbalik: Utara yan g “m en ggagahi” J awa di Selatan . Dalam situasi pem balikan arus in i, oran g-oran g Chin a yan g m en etap di J awa m em iliki peran yan g tidak bisa direm ehkan. Mereka dengan sekuat ten aga berusaha m en gem balikan citra J awa yan g sudah m ulai redup itu dari pen etrasi ban gsa “Atas An gin ” yaitu Portugis yang m alan g m elin tan g m en guasai perdagan gan , pelayaran , sen - jata, dan terus m eran gsek ke pusat-pusat strategis di J awa. Oran g-oran g Chin a m em an g pan tas m elakukan pem belaan m ati-m atian teritorial J awa— sebuah kawasan yan g sudah lam a dihunin ya. Kehadiran Portugis dipan dan g dapat m elem ahkan hubun gan Chin a-J awa yan g selam a in i tertanam begitu kukuh dalam kehidupan m asyarakat. Kerjasam a apik Chin a-J awa in i dibuk- tikan den gan berbagai penin ggalan kepurbakalaan Islam yan g ban yak beror- n am en Chin a seperti saya paparkan pada paragraf di atas.
Pram tidak sedan g berfan tasi—m eskipun karyan ya ditulis dalam ben tuk fiksi—ketika m en guran gi oran g-oran g Chin a yan g berperan besar dalam sejarah islam isasi J awa abad ke-15/ 16. Berbagai an alisis kesejarahan m e- n unjukkan den gan jelas bahwa di J awa, pada kurun waktu, oran g-oran g Chi- n a m em ang m em egan g peran an cukup sign ifikan di bidan g perniagaan , pe- layaran / n avigasi dan hal-hal lain yan g terkait den gan wilayah kepolitikan. Dan kita tahu, Dem ak yan g pada waktu itu m em egan g hegem oni teritorial J awa dikuasai oran g-oran g Chin a yan g berobsesi m en dirikan Negara Mari- tim Islam yan g tan gguh di sean tero Nusan tara. Itulah sebabn ya, ketika ge- rom bolan Portugis, n egara yan g juga m em pun yai reputasi di bidan g pen - jelajahan di awal abad ke-16 (tepat tahun 1511) berhasil m erebut Malaka yan g m erupakan pusat tran saksi bisn is in tern asion al yan g bergen gsi saat itu, oran g-oran g Chin a in i geram , dan akhirnya m ereka berkolaborasi den gan rezim Dem ak dan J epara dan Tuban un tuk m en gusir Portugis dari Malaka— m eskipun gagal. Dalam episode pertem puran yan g heroik itu tidak han ya oran g Chin a Islam saja yan g terlibat di dalam n ya tetapi juga oran g-oran g Chin a n on -Islam .
lurian yan g m en ggan ti n alar n asion al. Maka lahirlah m istik J awa yan g m en- jam ur dan m em budaya pada perilaku m an usia. Dalam dekapan rezim Mata- ram , m istik dan klen ik tum buh subur. Kekuasaan m aritim yan g m em bara dan din am is bergan ti m en jadi kekuasaan agraris yan g lesu dan statis.
Pada saat J awa sedan g dirun dun g duka dan pertikaian in tern al yan g m erun - cin g itu, Belan da datan g dan lan gsun g m em baca situasi. Persekutuan J awa- Chin a dipan dan g dapat m en gan cam n iatan m ereka un tuk m en guasai n egeri rem pah-rem pah in i. Maka politik pun dim ain kan , dan m eletuskan tragedi
Chinezenm oord (“pem ban taian oran g-oran g China”) di Batavia tahun 1740 —
peristiwa yan g m en gan tarkan lebih dari 10 .0 0 0 n yawa oran g Chin a m ela- yan g. Tragis. Sejak itu, oran g-oran g Chin a di “keran gken g” dalam sebuah
gheto-gheto yan g kem udian diken al den gan pecin an. Mereka terisolasi dari
publik ram ai. Sepi-sun yi. Putuslah hubun gan harm on i J awa-Chin a. Pada saat yan g bersam aan , rezim Chin a pun bergan ti. Oran g-oran g asin g dari Man churia m en guasai dataran Tion gkok sejak 1644. Mereka adalah ban gsa yan g tidak bersim pati sam a sekali den gan Islam karen a dian ggap sebagai bian g keladi ron tokn ya kekaisaran Min g. Peran g terbuka pun tidak bisa terelakkan . Oran g-oran g Chin a Islam kem udian m en jadi sasaran am uk ban gsa Man chu yan g sedan g kalap. Mereka yan g berada di peran tauan segera dititahkan pulan g, jun g-jung pun dibakar habis.
Seirin g den gan itu didatan gkan gelom ban g baru im igran China yan g ber- haluan Kon fusian is. Maka, gen ap sudah pen deritaan oran g-oran g Chin a ran - tau yan g sebagian besar beragam a Islam . Sem en tara di J awa, kon flik an ti Chin a terus berkecam uk. Di Kudus sekitar tahun 1916 kem bali terjadi huru-hara an ti Chin a seolah m en gin gatkan tragedi 1740 . Dan pun cakn ya, ketika rezim yan g m en am akan diri Orde Baru m em proklam irkan Chin a sebagai “otak” PKI yan g kem udian diikuti den gan pem bun uhan , pem - ban taian dan pem usn ahan yan g berkaitan den gan Chin a. Segala produksi kebudayaan yan g berkaitan den gan Chin a dileburkan term asuk karya-karya in telektual yan g m en gulas historisitas Chin a den gan berbagai kon tribusin ya. Buku Prof. Muljan a, R un tuhn ja Keradjaan Hin du-Djaw a dan Tim buln ja N
egara-n egara Islam di N usaegara-n tara yaegara-n g m eegara-n gulas historisitas Chiegara-n a Islam di J awa
diberedel den gan Keputusan Djaksa Agun g No. Kep. 0 43/ DA/ 1971. Pem bun uhan fisik dan n on fisik atas kom un itas Chin a in i m en yebabkan citra m ereka tetap bopen g di m ata rakyat. Ujun gn ya, setiap pen gun gkapan yan g berusaha m en yuguhkan sisi-sisi teran g m ereka ditutup rapat. Digem bok. Sejarah Chin a Islam di J awa adalah bagian dari sisi teran g yan g sudah sekian lam a “dim um ikan” oleh san g rezim . Fakta historis Chin a Islam dian ggap bukan fakta m elain kan pem bualan sejarah.
Volume I, No. 2, July 2012 I 8 7
borok Chin a: ten tan g kom un ism e, ten tan g keserakahan , ten tan g keculasan , ten tan g kekikiran dan seterusn ya. Seolah tidak ada sisi baik dari m ereka m eski han ya secuil. Propagan da itu begitu am puh, m en yen tuh ke dalam relun g-relun g kalbu yang palin g dalam dari m asyarakat “pribum i”. Akibat- n ya, kem un culan Chin a Islam dian ggap asin g, an eh, seolah datan g dari du- n ia lain . Chin a sun at an eh, Chin a m asuk m asjid an eh, Chin a baca Al-Qur’an an eh. Oran g Chin a dipan dan g tidak berhak m en yan dan g predikat Islam den gan segala ritual dan tradisin ya. Chin a iden tik dan diiden tikkan den gan klen ten g, hio, pem uja Tao, Baron gsai, Toapekon g. Karen a itu sebuah ide yan g m en gungkapkan ten tan g peran an Chin a dalam sejarah Islam isasi J awa juga dipan dan g sebagai igauan dan bualan yan g “sesat dan m en yesatkan ”.
Realitas potitik yan g getir in i ditam bah m arakn ya sejum lah organ isasi Islam yan g m en gusun g ideologi oten tisism e sejak awal abad ke-20 . Otentisism e adalah sebuah ideologi yan g m en gan ggap keoten tikan Islam diukur dari Arab. Keislam an dari luar Arab dipan dan g tidak m em iliki derajat kesahihan . Ideologi in i berkem ban g luas di In don esia setelah sejum lah organ isasi Islam puritan di Tim ur Ten gah, In dia dan Afrika Utara di abad ke-19 m am pu m en guasai kon stituen m asyarakat Islam . Kelom pok Islam puritan in ilah yan g m em -back up teori asal-usul (gen ealogi) keislam an di Nusan tara (term asuk J awa) berasal dari Arab. Melalui sim posium n asion al bertajuk “Sejarah Masuk dan Berkem bangnya Islam di Nusantara” yang digelar sejak 1960 -an sejum lah argum en tasi disusun rapi. H asiln ya? Islam di Nusan tara datan g lan gsun g dari Arab bahkan Mekkah yan g dibawa para sy arif, say y id,
sy eikh dan habib —sebuah kesim pulan yan g tergesa-gesa. J auh sebelum
ban gsa Arab m en jam ah J awa, oran g-oran g Chin a Islam sudah m en un jukkan eksisten sin ya sebagai kelas m en en gah bergen gsi di pulau in i. Han ya saja, jejak historis China Islam in i diabaikan begitu saja. Tetapi kebenaran fakta sejarah tidak dapat dielakkan m eski runtuh berkepin g-keping. Ini bukan rekonstruksi baku karena m em ang sejarah tidak bisa “dibakukan” m eski dapat “dibukukan ”.
Arus Balik telah m en gisahkan jejak-jejak historis Chin a Islam yan g tidak
n ism e dan kebejatan Sayid H abibullah Alm asawa, ten tan g kelicikan Sun an Rajeg. Dalam Arus Balik Pram m en gajarkan ten tan g realitas hidup yan g m em an g tidak lepas dari tipu m uslihat, dari kelicikan . Maka waspada m en - jadi kata kun ci. Tipu m uslihat dan kelicikan itu tidak hanya datang dari “luar” yan g asin g tapi juga dari “dalam ” yang akrab. Karena tipu m uslihat itu pula orang-orang petani desa akhirn ya m en jadi korban propagan da Sun an Rajeg alias Ron ggo Ishak. Dan karen a kuran g waspada, Adipati Tuban berhasil “diken cin gi” Sayid H abibullah al-Masawa. Tapi baik Sun an Rajeg m aupun si Sayid pada akhirn ya m ejadi korban kelicikan dan tipu m uslihat yan g ia pasang sen diri. Dan justru yan g m en ghabisi keduan ya adalah oran g- oran g desa yan g sem ula ia an ggap bodoh. Di sin i Pram lan tas berpetuah, “kesalahan oran g-oran g pan dai adalah m en gan ggap oran g lain bodoh dan kesalahan oran g-oran g bodoh adalah m en gan ggap oran g lain pan dai” (Arus
Balik, 246).
Pram , dalam n ovel sejarah Arus Balik setebal 760 halam an in i seolah in gin m en gatakan bahwa kem un duran J awa berakar kuat pada peran gkap- peran gkap tipu m uslihat yan g dim ain kan / dipasan g para “agen sejarah lokal” sen diri (baca, J awa) dan bukan orang asin g seperti Portugis/ Peran ggi. Narasi sejarah yan g digam barkan begitu apik. Sebagaim an a karya yan g lain , dalam Arus Balik in i Pram juga m en gan dalkan kekuatan bahasa dan im ajin asin ya. Keduan ya m en jadiwahan a gaya bercerita Pram yan g den gan kem ahiran kepujan ggaan n ya m am pu m en jalin dan m em ilin -m ilin fakta dan fiksi sam bil tetap bersikukuh pada hakekat kebenaran sejarah. Melihat realitas getir di J awa in i, Pram bukan m en an gisi kebesaran m asa lalu, tidak pula m erin dukan kejayaan purbakala, tetapi dia bern ostalgia dengan m asa depan yan g cerah. Bagin ya sejarah m erupakan cerm in palin g jern ih, refe- ren si terpercaya un tuk suatu perubahan gun a m em ban gun m asa depan yan g lebih baik. Itulah isi palin g substan sial Pram bila ia m en gorek-ngorek seja- rah. Di situlah kecin taan n ya pada rakyat dan tan ah tum pah darahn ya begitu kuat m eski rezim m en gerdilkan n ya.
Volume I, No. 2, July 2012 I 8 9 Biblio gra fi:
_ _ _ _ _ , Islam ic State in Jav a 150 0 -170 0 : A Sum m ary , Bibliography and
In dez (KITLV, 1976).
Atm odarm in to, R. Babad Dem ak dalam Tafsir Sosial Politik (J akarta, 20 0 0 ).
Babad Tanah Djaw i (J akarta: Balai Pustaka, 1939-1941), Seri No. 128 9, 24
J ilid.
Broom hall, M. Islam in Chin a: A N eglected Problem (Lon don , 190 5).
Budim an , Am en , Masy arakat Islam Chin a di In donesia (Sem aran g, 1979).
Choy, Lee Khoon , Indon esia Betw een My th an d Reality (Singapura, 1977).
Djajadin in grat, H osein , Tin jauan Kritis tentan g Sejarah Ban ten (J akarta, 198 3).
Edel, J ., H ikay at H asan uddin (Meppel, 1938 ).
Graaf, H .J . & Pigeaud, “Chin ese Muslim s in J ava in the 15th& 16thCen turies: The Malay An n als of Sem aran g and Cerbon ,” Mon ash Paper on Southeast Asia, 12, 198 4.
Groen develdt, W.P., H istorical N otes on Indonesia an d M alay a Com piled
from Chin ese Sources (J akarta, 1960 ).
H irth, F & Rockhill, W.W., Chau Ju Kua: H is W orks on The Chin ese an d
Arab Trade in The 12th& 13thCenturies (Taipei, 1965).
J oe, Liem Thian , R iw ay at Sem arang (Sem aran g, t.th).
Kuwabara, J itsuo, “On P’u Shou Ken g with a Gen eral Sketch of The Arabs an d Chin a”, dalam M em oir of the Research Departm en t of the Toy o
Bun ko, ii, 1928 .
Lan , Nio J oe, Tion gkok Sepan djan g Abad (J akarta, 1952).
Laporan Akhir Pen elitian ten tan g M enelusuri Jejak-jejak Sejarah Islam di Kotam ady a Sem aran g (Sem aran g, 1997/ 1998 ).
Lin , Lo H sian g, “Islam in Can ton in the Sun g Period: Som e Fragm entary Records”, dalam F.S. Dran ke & Wolrfarm (ed.), Sy m posium on
H istorical Archeological an d Lin guistics: Studies on Southern Chin a, Southeast Asia an d the Hon g Kon g R egion (H on g Kon g, 1967).
Lom bard, Den n ys, N usa Jaw a Silang Buday a (J akarta, 1996).
Ma, Ibrahim Tien Yin g, Perkem bangan Islam di Tiongkok (J akarta, 1979).
1970 ).
Muljan a, Slam et, R un tuhn ja Keradjaan H in du-Djaw a dan Tim buln ja N ega-
ra-n egara Islam di N usan tara (J akarta, 1968 ).
Palin dun gan , M.O.,.Tuanku Rao (J akarta: Penerbit Tan djun g Pen gharapan , 1969).
Pires, Tom e, Sum a Orien tal, Edited by Arm an do Cortesao (Lon don , 1944).
Seon g, Tan Yeok, Chin ese Elem en t in the Islam ization of Southeast Asia: A
Study of the Stran ge Story of N jai Gede Pin atih the Gran d Lady of Gresik (Taipei, 1963).
Serat Kandan in g Rin ggit Purw a, Men urut Naskah Tan gan LOr 6379
(Leiden : Perpustakaan Un iversitas Leiden , t.th), disalin oleh Marson o
Toer, Pram odya An an ta, Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejay aan
N usan tara di Aw al Abad ke-16 (J akarta, 20 0 1).
Wardi, S., Koem poelan Cerita Lam a dari Kota W ali (Penerbit Wahju, 1950 ).
Zen , Thoyib, M an aqib W ali Tujuh di Bali dan R aja-raja Islam di In don esia (Kediri, 1998 )