• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perspektif Negara Singapura Malaysia dan (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perspektif Negara Singapura Malaysia dan (2)"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Perspektif Negara Singapura, Malaysia dan Indonesia serta Organisasi

Internasional tentang Hukum Teknologi Informasi (Cyberlaw)

Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Ujian Tengah Semester Mata

Kuliah Hukum E-Commerce

Dosen Pengampu : Bp. Munawar Kholil, SH., M.Hum

Oleh :

SARAH MEILITA INDRANI

NIM : E0013375

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

DAFTAR ISI

COVER

DAFTAR ISI

BAB 1 : Pendahuluan

1. Latar Belakang...1

2. Rumusan Masalah...4

3. Tujuan Penulisan...4

4. Manfaat Penulisan...4

BAB II : Tinjauan Pustaka

1. Negara Singapura...5

2. Negara Malaysia...6

3. Negara Indonesia...7

4. Organisasi Internasional...8

5.

Hukum Teknologi Informasi

(cyberlaw)...

9

BAB III : Pembahasan

1. Pengaturan Hukum Teknologi Informasi

(cyberlaw)

di negara Singapura,

Malaysia dan Indonesia...10

2. Pengaturan Hukum Teknologi Informasi

(cyberlaw)

pada Organisasi

Internasional...20

BAB IV : Penutup

1. Kesimpulan...22

2. Saran...22

DAFTAR PUSTAKA

(3)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbagai penemuan di bidang teknologi, informasi dan komunikasi saat ini memungkinkan orang menggunakan internet melalui komputer pribadi atau media elektronik lainnya. Kemajuan-kemajuan yang dicapai manusia tersebut telah banyak memberikan kemudahan-kemudahan dan manfaat bagi manusia dalam upayanya untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Teknologi informasi saat ini selain digunakan oleh manusia secara individual, juga digunakan oleh korporasi, pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya untuk berbagai aktivitas baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, bisnis, pemerintahan dan lain sebagainya.

Teknologi informasi saat ini sudah bersifat global, terutama dengan digunakannya internet. Teknologi informasi dan media elektronika telah mengubah perilaku masyarakat dan peradaban manusia secara global. Perkembangan dan kemajuan dari teknologi informasi yang melanda dunia saat ini dapat dirasakan di berbagai negara, termasuk negara kita Indonesia. Perpaduan antara media elektronika dengan teknologi informasi telah memacu percepatan globalisasi yang mana dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial yang secara signifikan berlangsung dengan cepat. Globalisasi yang timbul sudah menyatu dengan berbagai aspek kehidupan manusia seperti di bidang sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan, ekonomi dan nilai-nilai budaya lainnya. Perkembangan dan kemajuan teknologi informasi yang sedemikian pesatnya telah menyebabkan perubahan pada aktivitas kehidupan manusia dalam berbagai bidang yang kemudian berdampak pada lahirnya bentuk-bentuk perbuatan hukum baru yang berkaitan dengan teknologi informasi. Dalam bidang sosial dan ekonomi perkembangannya begitu pesat dengan didorong oleh adanya perkembangan teknologi informasi ini. Bahkan dapat kita lihat bahwa hubungan-hubungan sosial dan ekonomi di masyarakat, terutama masyarakat internasional, boleh dikatakan dewasa ini memasuki suatu masyarakat yang berorientasi pada informasi.

(4)

pemalsuan data, penipuan online, hingga penyebarluasan informasi asusila yang biasa disebut dengan

cyber-porn.

Banyaknya permasalahan-permasalahan yang dapat terjadi sebagai akibat dari perkembangan teknologi informasi ini, menjadi salah satu hal yang menjadi pembahasan bagi pemerintah setiap negara di dunia. Perlu dibentuk sebuah peraturan hukum yang nantinya dapat mengakomodir setiap persoalan yang timbul akibat dari pekermbangan teknologi ini. Cybercrime tentu menuntut adanya

cyberlaw yang prinsip-prinsip utamanya adalah sebagai berikut1 :

1. Memberi rasa aman terhadap setiap warga masyarakat, baik masyarakat dalam dunia nyata maupun dalam dunia maya.

2. Cyberlaw harus dapat memberikan rasa keadilan untuk beraktivitas dalam masyarakat dunia maya. Hal ini untuk melindungi kepentingan sesama anggota masyarakat dunia maya.

3. Cyberlaw diharapkan dapat melindungi hak-hak intelektual maupun hak-hak materiil lainnya dari setiap masyarakat dunia maya.

4. Cyberlaw diharapkan dapat memberikan efek jera terhadap pelaku-pelaku cybercrime dengan sanksi-sanksi hukuman yang dibenarkan dalam masyarakat dunia maya, maupun sanksi-sanksi hukum positif yaitu sanksi yang diberikan sesuai dengan kehidupan nyata, terhadap pelaku kriminal dalam masyarakat dunia maya tersebut.

Hukum dibutuhkan oleh masyarakat untuk menjadi senjata dalam menghadapi kejahatan yang sedang terjadi dan berkembang dalam masyarakat. Kehadiran hukum dalam kehidupan masyarakat sangatlah penting, karena dimensi fungsinya bukan hanya mencegah tetapi juga menindak perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat seperti tindak asusila, perilaku-perilaku yang merugikan sesama, dan yang membahayakan masa depan peradaban manusia. Kejahatan dunia maya

(cybercrime) merupakan salah satu bentuk dimensi baru dari kejahatan masa kini yang mendapat perhatian yang sangat luas dari dunia internasional. Munculnya cybercrime ini merupakan suatu fenomena yang memerlukan penanggulangan secara cepat dan akurat.

Penanganan dengan hukum pidana merupakan salah satu cara yang dapat dipergunakan untuk mengatasi jenis kejahatan baru ini terutama dengan kebijakan kriminalisasi yang tepat dengan memperhatikan segala aspek mulai dari pertanggung-jawaban pidana, aspek yurisdiksi, pemidanaan sampai dengan perbaikan terhadap ketentuan-ketentuan yang sudah ada, dan penyusunan undang-undang khusus mengenai kejahatan dunia maya atau cybercrime. Namun cybercrime ini apabila diterapkan dengan berdasarkan pada undang-undang tindak pidana konvensional tidak menjadi suatu hal yang dapat dibenarkan, melainkan perlu diatur undang-undang yang khusus untuk menangani

(5)

cybercrime ini sebagaimana telah disebutkan diatas yaitu undang-undang tersebut disebut dengan

cyberlaw. Peristilahan yang dipergunakan untuk hukum yang mengatur kegiatan dalam dunia maya atau biasa disebut dengan cyberspace selain istilah cyberlaw antara lain adalah2 :

1. The law of the internet

2. The law of information and technology

3. Information technology law

4. The telecommunication law

5. Lex informatica

Berdasarkan permasalahan serta latar belakang yang telah penulis paparkan diatas, maka penulis tertarik untuk lebih mendalami serta mempelajari tentang hukum dunia maya atau cyberlaw

yang kemudian penulis tuangkan dalam bentuk makalah dengan judul : “Perspektif Negara Singapura, Malaysia dan Indonesia serta Organisasi Internasional tentang Hukum Teknologi Informasi (Cyberlaw)”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan dari latar belakang yang telah penulis jabarkan diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya perkembangan teknologi informasi juga menimbulkan pada timbulnya kejahatan-kejahatan baru yang terjadi di dunia maya atau biasa disebut dengan cybercrime, sehingga perlu adanya pengaturan hukum terkait dengan teknologi informasi yang dipergunakan untuk menanggulangi kejahatan dunia maya. Sehingga untuk lebih memberikan pemahaman serta pengetahuan tersebut, maka dalam penulisan makalah ini akan membahas mengenai pengaturan hukum teknologi informasi (cyberlaw) dengan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan hukum teknologi informasi di negara Singapura, Malaysia dan Indonesia?

2. Bagaimana pengaturan hukum teknologi informasi di Organisasi Internasional ?

C. Tujuan Penulisan

(6)

1. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaturan hukum mengenai teknologi informasi di Singapura dan Indonesia.

2. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Organisasi Internasional mengatur mengenai hukum teknologi informasi.

D. Manfaat Penulisan

(7)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Negara Singapura

Singapura adalah negara yang terletak di Asia Tenggara dan juga sebagai anggota ASEAN, dengan luas wilayah kurang lebih 618 km persegi, beribukota di Singapura, bentuk pemerintahan Republik, hari kemerdekaan 9 Agustus, kepala negara Presiden, kepala pemerintahan Perdana Menteri, lagu kebangsaan “Majulah Singapura“, bahasa yang digunakan: Melayu, Cina, Inggris dan Tamil, Agama: Islam, Konghucu, Budha, Hindu dan Kristen, mata uang Dolar Singapura (S$), Bandar udara internasional “Changi”, perusahaan penerbangan “Singapura Airlines (SIA).

Singapura merupakan negara kepulauan, menjadi koloni Inggris hingga tahun 1959. Pada tahun 1963 dibentuk negara Malaysia yang meliputi Persekutuan Tanah Melayu (di semenanjung Malaysia), Singapura, Serawak dan Sabah. Tetapi pada tanggal 9 Agustus 1965 Singapura memisahkan diri dari Malaysia dan membentuk negara yang berdiri sendiri. Bergabung menjadi anggota negara persemakmuran (Common wealth) Inggris sejak 22 Desember 1965.

Singapura terletak antara Indonesia dan Malaysia. Secara astronomis terletak pada 1 derajat 15 Lintang Utara dan 104 Bujur Timur. Letaknya sangat strategis menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di pantai Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dan lalu lintas udara Eropa – Asia di bagian utara dan Australia di bagian selatan. Memiliki iklim khatulistiwa yang hangat dan lembap, musim penghujan dan kemarau tidak banyak bedanya.

(8)

Presiden adalah simbolis dan kekuasaan pemerintahan berada di tangan perdana menteri yang merupakan ketua partai politik yang memiliki kedudukan mayoritas di parlemen.

2. Pengertian Negara Malaysia

Jika di Indonesia ada Pancasila yang memuat sila dasar, ternyata Malaysia juga memiliki dasar yang disebut “Rukun Negara”. Rukun Negara Malaysia juga memuat 5 sila, yaitu sebagai berikut:

1. Kepercayaan Kepada Tuhan 2. Kesetiaan kepada raja dan negara 3. Keluhuran perlembagaan

4. Kedaulatan Undang-undang 5. Kesopanan dan kesusilaan

Malaysia merupakan bekas jajahan Inggris yang memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 31 Agustus 1957. Malaysia terdiri atas 9 kesultanan (dperintah oleh Sultan) dan 4 negara bagian (diperintah oleh Yang Dipertuan Negeri atau Gubernur). Kesultanan di Malaysia adalah : Johor, Kedah, Selangor, Kelantan, Negeri Sembilan, Pahang, Perak, Perlis dan Trengganu. Negara bagian di Malaysia adalah : Malaka, Pulau Penang, Sabah dan Serawak.

Sebagai bekas jajahan Inggris, Malaysia tetap mempertahankan tradisi hukum kebiasaan Inggris ( Common Law Sistem ). Tradisi ini berdiri ditengah-tengah sistem hukum Islam (yang dilaksanakan oleh pengadilan atau Mahkamah Syari’ah) dan hukum adat berbagai kelompok penduduk asli. Malaysia merupakan salah satu dari sekian banyak Coomonwealth Country atau negara-negara persemakmuran Inggris. Semua negara2 persemakmuran mengadopsi sistem hukum Inggris yang biasa disebut dengan sistem hukum Anglo-Saxon atau juga Common Law.

Prinsip aturan hukum yang dipraktekkan di Malaysia secara umum mengikuti hukum administratif Inggris sebagaimana dikembangkan dalam pengadilan Malaysia. Keputusan yang dibuat administrator dan pengadilan harus berada dalam lingkup kebijaksanaan atau yurisdiksi yang diberikan. Mereka harus mengikuti prinsip ‘keadilan alami’ (natural justice). Keadilan alami yaitu keadilan dengan berdasarkan pada nilai-nilai keadilan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.

(9)

3. Pengertian Negara Indonesia

Pancasila adalah filosofi dasar negara Indonesia. Pancasila terdiri atas lima dasar yang berhubungan dan tidak dapat dipisahkan, adalah :

1. Ketuhanan yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Indonesia merupakan negara demokrasi yang dalam pemerintahannya menganut sistem presidensiil, dan Pancasila ini merupakan jiwa dari demokrasi. Demokrasi yang didasarkan atas lima dasar tersebut dinamakan Demokrasi Pancasila. Dasar negara ini, dinyatakan oleh Presiden Soekarno (Presiden Indonesia yang pertama) dalam Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Hukum Indonesia adalah keseluruhan kaidah dan asas berdasarkan keadilan yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat yang berlaku sekarang diIndonesia. Sebagai hukum nasional, berlakunya hukum Indonesia dibatasi dalam wilayah hukum tertentu, dan ditujukan pada subyek hukum dan objek hukum tertentu pula. Subyek hukum Indonesia adalah warga negara Indonesia dan warga negara asing yang berdomisili di Indonesia. Sedangkan objek hukum Indonesia adalah semua benda bergerak atau tidak bergerak, benda berwujud atau tidak berwujud yang terletak di wilayah hukum Indonesia.

Hukum Indonesia sebagai perlengkapan masyarakat ini berfungsi untuk mengintegrasikan kepentingan-kepentingan anggota masyarakat sehingga tercipta ketertiban dan keteraturan. Karena hukum mengatur hubungan antar manusia dengan manusia, manusia dengan masyarakat dan sebaliknya, maka ukuran hubungan tersebut adalah keadilan.

Hukum Indonesia pada hakikatnya merupakan suatu sistem, yang terdiri dari unsur-unsur atau bagian-bagian yang satu sama lain saling berkaitan dan berhubungan untuk mencapai tujuan yang didasarkan pada UUD 1945 dan dijiwai oleh falsafah Pancasila. Sebagai satu sistem, sistem hukum Indonesia telah menyediakan sarana untuk menyelesaikan konflik diantara unsur-unsurnya. Sistem hukum Indonesia juga bersifat terbuka, sehingga di samping faktor di luar sistem seperti: ekonomi, politik, sosial dapat mempengaruhi, sistem hukum Indonesia juga terbuka untuk penafsiran yang lain

4. Pengertian Organisasi Internasional

(10)

organisasi antar pemerintah. Definisi yang diberikan Konvensi ini adalah sempit, karena membatasi diri hanya pada hubungan antara pemerintah. Penonjolan aspek antar pemerintah ini kiranya dimaksudkan untuk membedakan antara organisasi-organisasi antar pemerintah (inter-governmental organizations-IGO’s) dan organisasi-organisasi non-pemerintah (non(inter-governmental organizations-NGO’s). Perumusan definisi yang sempit ini mungkin didasarkan atas keberhatihatian, karena dibuatnya definisi yang baku akan melahirkan konsekuensi hukumnya baik di tingkat teori maupun praktis.3

Organisasi internasional atau organisasi antar pemerintah merupakan subjek hukum internasional setelah negara. Negara-negaralah sebagai subjek asli hukum internasional yang mendirikan organisasi-organisasi internasional. Walaupun organisasi-organisasi ini baru lahir pada akhir abad ke-19, akan tetapi perkembangannya sangat cepat setelah berakhirnya Perang Dunia II. Fenomena ini berkembang bukan saja pada tingkat universal tetapi juga pada tingkat regional.

Kehadiran organisasi internasional, memiliki kaitan yang sangat erat dengan hukum internasional yang diterapkan di era modern saat ini. Status organisasi internasional sebagai subjek hukum internasional yang membantu proses pembentukan hukum internasional itu sendiri, dapat dikatakan sebagai alat untuk memaksakan agar kaidah hukum internasional ditaati. Hukum internasional secara umum dapat didefinisikan sebagai keseluruhan hukum yang sebagian besar terdiri dari prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah perilaku yang terhadapnya negaranegara merasa dirinya terikat untuk menaati, dan karenanya, benar-benar ditaati secara umum dalam hubungan negara satu sama lain.4

5. Pengertian Hukum Teknologi Informasi (cyberlaw)

Hukum Teknologi Informasi (Cyberlaw) adalah aspek hukum yang meliputi setiap aspek yang berhubungan dengan orang perorangan atau subyek hukum yang menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi yang dimulai pada saat mulai online. Cyberlaw sendiri merupakan istilah yang berasal dari sendiri merupakan istilah yang berasal dari cyberspace law.

Cyberlaw sangat dibutuhkan dalam kaitannya dngan upaya pencegahan tindak pidana atau untuk menangani tindak pidana. Ruang lingkupnya berkaitan dengan persoalan-persoalan atau aspek hukum dari e-commerce, nama domain, pengamanan internet, hak cipta, dan lain sebagainya.5

BAB III

3 DR. Boer Mauna, Hukum Internasional: Pengertian, Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global, Edisi ke-2, PT Alumni, 2005, hal. 462

4 J.G. Starke, Pengantar Hukum Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, 1989, hal. 1. 5 Agum Ojo, Pengertian Cyberlaw dan Cybercrime,

(11)

PEMBAHASAN

A. Pengaturan Hukum Teknologi Informasi (cyberlaw) di negara-negara Asia Tenggara

Cyberlaw adalah aspek hukum yang istilahnya berasal dari cyberspace law, yang ruang lingkupnya meliputi setiap aspek yang berhubungan dengan orang perorangan atau subyek hukum yang menggunakan dan memanfaatkan teknologi internet yang dimulai pada saat mulai "online" dan memasuki dunia cyber atau maya. Cyber Law juga didefinisikan sebagai kumpulan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang berbagai aktivitas manusia di cyberspace (dengan memanfaatkan teknologi informasi).

1. Singapura

Singapura secara aktif mendukung upaya global dalam memberantas kejahatan dunia maya dengan berpartisipasi dalam skema seperti Wassenaar Arrangement yang mempromosikan perang melawan terorisme, dan menjadi anggota dari organisasi seperti

World Intellectual Property Organization (WIPO) yang mempromosikan tentang Hak Kekayaan Intelektual. Singapura juga bersekutu dengan persyaratan Hukum Konvensi Budapest meskipun tidak menandatanganinya. Singapura sebagai negara yang memiliki budaya cukup kompleks dikarenakan disana terdapat percampuran antara budaya barat dan timur, serta sebagai pusat perekonomian kawasan Asia-Pasifik, maka Singapura tentu perlu memerangi kejahatan dunia maya dengan pengaturan-pengaturan yang ketat. Sikap inilah yang dapat mendorong bagi negara-negara berkembang untuk menyelaraskan dengan upaya hukum dan penegakan hukum internasional. Dengan demikian, berpotensi untuk memperluas jangkauan dari hukum internet internasional, dan membantu untuk mencegah korban dari pengguna internet yang tidak bertanggung jawab baik secara lokal maupun global.

Untuk meminimalisir perbuatan kejahatan dunia maya dalam lingkup yang lokal, Singapura telah memberlakukan dan mengamandemen beberapa peraturan hukum untuk dapat terus mengikuti perkembangan jaman. The Electronic Transactions Act (ETA)

(12)

Seperti halnya yurisdiksi-yurisdiksi di wilayah Asia-Pasifik dan seluruh dunia, Singapura memiliki beberapa peraturan perundang-undangan yang membahas mengenai kejahatan komputer dan teknologi komputer seperti internet.6 Salah satu peraturan di Singapura yang membahas mengenai cybercrime adalah Computer Misuse Act. Diperkenalkan pada tahun 1993, The Computer Misuse Act (CMA) adalah tanggapan utama badan legislatif Singapura mengenai kejahatan dunia maya atau cybercrime, namun disana terdapat beberapa perbedaan. Seperti contohnya pada definisi dari komputer yang digunakan oleh Undang-Undang Singapura yang juga menarik pada The Criminal Law Amendement Act 1985 of Canada serta The Evidence Act 1929 of South Australia. Seperti halnya definisi dari “data” yang digunakan oleh Undang-Undang Singapura adalah "data" means representations of information or of concepts that are being prepared or have been prepared in a form suitable for use in a computer7 yang artinya adalah data adalah representasi dari informasi atau konsp yang sedang disiapkan atau disusun dalam bentuk yang sesuai untuk digunakan dalam komputer. Definisi tersebut membantu untuk memperjelas penerapan dari Undang-Undang untuk berbagai bentuk teknologi digital. Secara umum, definisi tersebut secara luas disusun sedemikian rupa agar tidak usang atau ketinggalan jaman dan tetap bisa digunakan mengikuti dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Banyak pengaturan-pengaturan yang sudah dituliskan dalam CMA namun untuk mengatasi hal-hal lain seperti perkembangan teknologi jaman sekarang yang mana sudah terdapat perlindungan dalam mengakses situs yang tidak dibenarkan. Seperti halnya memberikan password dimana hanya orang-orang yang sudah terdaftarlah yang dapat masuk ke situs tersebut, namun bagi yang tidak terdaftar tidak dapat masuk, namun tetap saja banyak orang yang menyalahgunakan hal tersebut. Sehingga dengan demikian, Undang-Undang di Singapura selain CMA juga terdapat penal code atau biasa dikenal dengan KUHP. Perbuatan-perbuatan yang demikian tersebut memungkinkan seseorang untuk menggunakan identitas palsu guna memasuki situs tersebut dengan itikad yang tidak baik seperti mungkin brupaya untuk mencuri dana atau lain sebagainya.

Dalam Pasal 10 ayat (2) CMA8 memperluas jangkauan teritorialnya sehingga apabila tindakan persiapan untuk melakukan cybercrime dilakukan di luar wilayah negara Singapura, maka hal tersebut tetap berada dibawah Undang-Undang atau dengan kata lain dapat diadili

6 Gregor Urbas, An Overview of Cybercrime Legislation and Cases in Singapore, Asian Law Institute Faculty of Law – National University of Singapore, ASLI Working Paper No. 001, 2008

(13)

dengan CMA ini. Sehingga dengan pengaturan yang demikian, CMA telah memberikan legislasi efek ekstra-teritorial. CMA ini terus berkembang dan mengalami revisi untuk mengakoodasi bentuk-bentuk kejahatan dunia maya. CMAdan penal code telah digunakan untuk menangani kasus penipuan.

Singapura telah secara konsisten memperbaharui hukum untuk menanggapi kejahatan-kejahatan dunia maya, dan juga telah menyelaraskannya dengan komunitas masyarakat internasional atau secara global. Singapura juga memperluas yurisdiksi teritorial dalam hukumnya untuk membantu mengatasi kejahatan dunia maya baik itu secara lokal maupun internasional. Singapura disebut-sebut sebagai negara dengan hukum kejahatan dunia maya yang begitu ketat dan sangat rinci.

2. Malaysia

Perkembangan Hukum Teknologi Informasi di Malaysia dapat dikaitkan degan ambisi nasional Malaysia untuk menjadi bangsa yang benar-benar dikembangkan pada tahun 2020. Sejalan dengan ambisi tersebut, Malaysia memulai proyek Multimedia Super Corridor (MSC) yang merupakan inisiatif nasional yang dirancang untuk memenuhi ambisi negara dengan asumsi bahwa status negara Malaysia akan maju pada tahun 2020.

Oleh karena itu, untuk mengembangkan Malaysia menjadi negara maju denga masyarakat yang berbasis pada Teknologi Informasi, pembuatan hukum yang menangani masalah-masalah teknologi menjadi penting. Sejalan dengan ini, pemerintah Malaysia mengambil langkah dengan memberlakukan cyberlaw yang saat ini terdapat 6 peraturan hukum di Malaysia untuk mengaktualisasikan secara nasional. Cyberlaw di Malaysia terdiri dari beberapa yaitu9 :

1. COMPUTER CRIME ACT 1997

Pemerintah Malaysia sangat tegas ksiapannya dalam membangun masyarakat yang berbasis pendidikan dengan difasilitasi teknologi informasi. Computer Crime Act 1997 ini disahkan sebagai tanggapan terhadap kejahatan teknologi informasi dan untuk memperkuat pencegahan penyalahgunaan komputer. Computer Crime Act 1997

ini modelnya sama dengan United Kingdom Computer Misuse Act 1990 dengan beberapa modifikasi. Fokus utamanya adalah mengenai kegiatan hacking dan dampak negatifnya pada kehidupan sosial-ekonomi dsn politik di Malaysia. Selain itu juga mengatur mengenai pencucian uang, pemalsuan, pembajakan, narkoba, penggelapan

9 DSP Mahfuz Bin Dato’ Ab. Majid as Royal Malaysia Police, Cybercrime : Malaysia,

(14)

pajak, perjudiann, pemerasan, pelacuran, dan lain sebagainya. Ruang lingkup kejahatan teknologi informasi tak terbayangkan (sangat luas dan tidak dapat diprediksi). Hacker komputer paling sering melakukan penghapusan pada informasi atau data yang disimpan dalam sistem komputer sebagai sebuah keisengan atau untuk melakukan penipuan. Bentuk kegiatan kriminal online merupakan ancaman serius bagi e-commerce dan aktivitas online lainnya. Banyak perusahaan di Malaysia yang menghabiskan dana begitu besar untuk meningkatkan keamanan sistem perusahaannya atau mengantisipasi adanya kejahatan di masa depan yang masih dalam prediksi, yang tidak ada jaminan akan terjadi atau tidak.10

Computer Crime Act 1997 ini seakan memberikan perlindungan kepada transaksi online serta melindungi sistem komputer itu sendiri terhadap akses tidak sah dan niat kriminal yang disengaja untuk merusak sistem dengan kegiatan kriminal seperti hacker dan lain sebagainya. Bahkan baru-baru ini ada laporan mengenai kejahatan komputer yang berusaha melibatkan beberapa bank di Malaysia. Pada 21 Agustus 2000 terdapat laporan bahwa pelanggan pada Maybank mendapati e-mail

dari seseorang yang mengatasnamakan Maybank, dimana dalam e-mail tersebut menawarkan penggunaan “Maybank 2 u online tools” yang dapat di unduh pada website maybank2u.rvx.net.11

2. COMMUNICATIONS AND MULTIMEDIA ACT 1998 (CMA)

Konvergensi teknologi juga mngakibatkan konvergensi industri berikut : telekomunikasi, penyiaran, komputasi dan konten. Dimana sebelumnya masing-masing tersebut diatur dalam beberapa bagian yang berbeda dari undang-undang seperti The Telecommunication Act 1950 and The Broadcasting Act 1988. Namun peraturan tersebut tidak dapat mengatasi perkembangan sekarang dan menghabat pertumbuhan industri baru sehingga dibuatlah Communication and Multimedia Act 1998. Kegiatan dan layanan yang diatur dalam Undang-Undang ini mencakup penyiaran tradisional, telekomunikasi dan layanan online. Communication and Multimedia Act 1998 yang mulai berlaku pada tanggal 1 April 1999, menyediakan kerangka praturan untuk memenuhi konvergensi telekomunikasi, industri penyiaran dan komputasi dengan tujuan antara lain untuk membuat Malaysia menjadi pusat global utama.12

10 Zaiton Hamin, 2004, The Legal Response Computer Missuse in Malaysia – The Computer Crimes Act 1997, UTM Law Review 2

11 Yusuf Ibrahim Arowosaiye, 2013, Evolution of Malaysian Cyber Laws and Mechanism for Secured Online Transactions, Pandecta, Vol. 8, No. 2

(15)

3. MALAYSIAN COMMUNICATIONS AND MULTIMEDIA COMMISSION ACT 1998

Malaysian Communication and Multimedia Commission Act 1998

merupakan undang-undang pertama mengenai teknologi informasi yang disahkan pada tahun 1998 dan berlaku juga pada tahun yang sama. Fungsi dari dibentuknya Undang-Undang ini adalah untuk mengawasi dan mengatur komunikasi dan kegiatan multimedia di Malaysia serta untuk menegakkan hukum yang relevan. Peran Undang-undang ini sangat penting yaitu untuk menerapkan dan mempromosikan tujuan nasional dari pemerintah Malaysia dalam sektor komunikasi dan multimedia. Sejak pemerintah mengimplementasikan Malaysian Communication and Multimedia Commission Act 1998, diharapkan untuk memainkan peran utama dalam mengatur kegiatan e-commerce di Malaysia.13

4. DIGITAL SIGNATURE ACT 1997

Perkembangan hukum teknologi informasi di Malaysia tidak akan lengkap tanpa berlakunya Digital Signature Act 1997. Alasannya adalah bahwa kemajuan teknologi informasi dan integrasi di hampir semua aspek usaha manusia seperti perdagangan dan e-commerce yang menggunakan media elektronik. Penggunakan kertas secara tradisional menjadi suatu hal yang sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat sekarang. Hal tersebut dikarenakan saat ini banyak masyarakat yang memanfaatkan media elektronik dimana ketika melakukan engiriman maupun penerimaan dokumen dapat dilakukan melalui e-mail. Penggunaan e-mail dirasa sangat simple dimana tidak perlu biaya yang banyak, pengiriman hanya dilakukan dalam hitungan detik saja dan dpat disimpan secara ringkas dalam satu folder di komputer maupun alat elektronik lainnya. Kenyataan bahwa transaksi online tidak membutuhkan lagi kertas-kertas secara tradisional, sehingga kebutuhan untuk pengakuan hukum terkait tanda tangan digital menjadi relevan. Hal tersebut juga didasarkan apabila Malaysia benar-benar bercita-cita untuk menjadikan masyarakatnya adalah masyarakat berbasis teknologi.

Kenyataan sebagaimana dijabarkan diatas mengarahkan berlakunya Digital Signature Act 1997 di Malaysia. Digital Signature Act 1997 diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1998, ini merupakan hukum yang mengatur mengenai e-commerce

dimana dalam Digital Sigature Act 1997 ini menyediakan jalan unntuk bertransaksi online secara aman dengan menggunakan tanda tangan digital. Undang-undang ini

(16)

menyediakan kerangka kerja untuk perizinan dan regulasi Otoritas Sertifikasi dan memberikan pengakuan hukum untuk tanda tangan digital dimana tanda tangan digital ini dapat juga dijadikan sebagai bukti ketika beracara di pengadilan. Tujuan utama dari Undang-Undang ini adalah untuk mendorong transaksi elektronik dan mengekang pemalsuan dan penipuan di dunia maya. Tujuan Utama dari Digital Signature Act 1997 adalah sebagai berikut

1. Untuk meminimalkan kasus tanda tangan digital dan mengaktifkan otentikasi terpercya informasi berbasis komputer

2. Untuk mengaktifkan dan mendorong verifikasi dari tanda tangan digital 3. Memungkinkan adanya perdagangan online

4. Dan untuk memberikan hukum guna melindungi pihak-pihak dalam bertransaksi online.

Mengingat banyak ketakutan dalam hal ketidakamanan tanda tangan digital di Malaysia terhadap pencurian, sabotase dan penggunaan tanda tangan digital yang tidak sah serta yang paling penting adalah perlindungan bagi pihak, semua itu diurus dalam Digital Signature Act 1997.14

5. COPYRIGHT ACT (AMENDMENT) 1997

Tekad Malaysia untuk membuat masyarakatnya menjadi masyarakat maju yang berbasis teknologi membuat Pemerintahan Malaysia tidak membuang waktu lagi dimana mereka mulai mengamandemen WIPO Copyright Treaty of 1996

kedalam hukum hak cipta setempat. Dengan demikian, barulah Communication and Multimedia Act 1998 yang memasukkan unsur WIPO Copyright Treaty of 1996

diperkenalkan.

Sebagai perubahan dari Copyright Act 1987 dimana Copyright Act 1997 ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 1999. Ketentuan ini bertujuan untuk memastikan perlindungan yang memadai bagi Hak Kekayaan Intelektual perusahaan. Selain itu juga untuk melindungi ekspresi pikiran dan ide-ide kreatif seseorang dari penyalinan yang tidak sah maupun penambahan unsur yang tidak memiliki ijin dari pembuat orisinilnya.

6. TELEMEDICINE ACT 1997

Perkembangan teknologi informasi di Malaysia tidak hanya terbatas pada pemerintahan dan perekonomian namun juga sampai pada sektor pendidikan dan

(17)

pelayanan kesehatan. Perkembangan teknologi informasi di bidang pelayanan kesehatan dikenal dengan nama “Telemedicine” atau “e-medicine”. Istilah tersebut berarti penyediaan informasi dan pelayanan kesehatan melalui penggunaan telekomunikasi atau sarana elektronik maupun digital.15

3. Indonesia

Hukum teknologi informasi di Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyediakan alat hukum yang mengatur isu penting terkait dengan penggunaan teknologi informasi untuk transaksi elektronik, mengelola data elektronik dan mentransfer data elektronik. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mengatur :

a. Definisi yang terdapat dalam Undang-Undang : Informasi elektronik, dokumen elektronik, transaksi elektronik, sistem elektronik, dan komputer.

b. Substansi hukum : akses tidak sah, gangguan data, gangguan sistem, penyalahgunaan perangkat, pemalsuan, dan penipuan.

Juga beberapa hukum yang berhubungan dengan kejahatan teknologi informasi antara lain Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, memberikan ketentuan yang berhubungan dengan pornografi anak. Ketentuan dalam Undang-Undang No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi antara lain melarang setiap orang untuk memproduksi, membuat, memperbanyak, mendistribusikan, menawarkan, memperdagangkan. Kemudian selain itu juga ada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta menyediakan ketentuan tentang pelanggaran hak cipta.16

Saat ini Indonesia telah memiliki cyberlaw untuk mengatur dunia maya berikut sanksi bila terkaji cybercrime baik di wilayah Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia yang akibatnya dirasakan di Indonesia. Cybercrime terus berkembang seiring dengan revolusi teknologi informasi yang membalikkan paradigma lama terhadap kejahatan konvensional ke arah kejahatan virtual dengan memanfaatkan instrumen elektronik tetapi akibatnya dapat dirasakan secara nyata.

Penanggulangan cybercrime oleh aparat penegak hukum sangat dipengaruhi oleh adanya peraturan perundangundangan. Terdapat beberapa perundangundangan yang berkaitan

15 Puteri Nemei Jahn Kassim, 2008,”The Development E-Medicine in Malaysia and Ethical Implications”.http://manis-portal.kpwkm.gov.my/docs/shared/KPWKM/Kajian%20Inventori

%20Penyelidikan%20Pembangunan%20Sosial%20di%20Malaysia%202001-%202005/I0147.pdf, diakses pada Selasa 5 April 2016 pukul 20:00

16 Departemen Komunikasi dan Teknologi Informasi Republik Indonesia, Cybercrime Legislation of Indonesia, Octopus Interface Conference – Cooperation Against

(18)

dengan teknologi informasi khususnya kejahatan yang berkaitan dengan Internet sebelum disahkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Penegakkan hukum cybercrime sebagaimana telah dilakukan Mabes Polri pada tahun 2007 di atas dilakukan dengan menafsirkan cybercrime ke dalam perundang-undangan KUHP dan khususnya undang-undang yang terkait dengan perkembangan teknologi informasi seperti:17

a. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi b. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

c. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang

d. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme

Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Secara umum Undang-Undang ini mengatur tentang segala sesuatu mengenai data elektronik dan pemanfaatannya untuk kepentingan umum. Pada awal pembentukannya undang-undang ini menuai banyak kontroversi karena dianggap akan mematikan kebebasan untuk mengekspresikan diri di cyberspace. Dalam undang-undang ini secara rinci dijelaskan mengenai segala perbuatan yang digolongkan sebagai cybercrime, jenis-jenis perbuatan ini diatur dalam Pasal 27sampai Pasal 37.18

Prinsip utama UU ITE adalah yurisdiksi karena tidak serta merta dapat diterapkannya Yurisdiksi territorial dalam cyberspace. Artinya ruang lingkup dari UU ITE adalah global/luas. Asas-asas dalam UU ITE antara lain :

1. Asas Kepastian Hukum

Landasan hukum bagi pemanfaatan TI dan Transaksi Elektronik serta segala sesuatu yang mendukung penyelenggaraannya yang mendapatkan pengakuan hukum di dalam dan di luar pengadilan.

2. Asas Manfaat

Asas bagi pemanfaatan TI dan Transaksi Elektronik, diupayakan untuk mendukung proses berinformasi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

3. Asas Kehati-hatian

17 Ahmad S Daud, Kebijakan Penegakan Hukum Dalam Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Teknologi Informasi, Lex Crimen, 2013, Vol. II, No. 1

(19)

Landasan bagi pihak yang bersangkutan harus memperhatikan segenap aspek yang berpotensi mendatangkan kerugian, baik bagi dirinya maupun bagi pihak lain dalam pemanfaatan TI dan Transaksi elektronik.

4. Asas Itikad Baik

Asas yang digunakan para pihak dalam melakukan transaksi elektronik tidak bertujuan untuk secara sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakibatkan kerugian bagi pihak lain tanpa sepengetahuan pihak lain.

5. Asas Kebebasan Memilih Teknologi

Asas pemanfaatan TI dan Transaksi Elektronik tidak terfokus pada penggunaan Teknologi tertentu sehingga dapat mengikuti perkembangan.

Beberapa aspek penting yang terkait dengan aspek pidana yang perlu diatur secara jelas antara lain19 :

1. Tanggung jawab penyelenggara sistem elektronik, perlu dilakukan pembatasan atau limitasi atas tanggung kawab sehingga tanggung jawab peneyelenggara tidak melampau kewajaran;

2. Informasi elektronik dan tanda tangan yang dihasil oleh suatu sistem informaasi, termasuk print out-nya harus dapat menjadi alat bukti dipengadilan;

3. Perlindungan hukum terhadap bank sentral dan lembaga perbankan/keungan, penerbit kartu kredit/kartu pembayaran dan lembaga keungan lainnya dari kemungkinan adanya gangguan dan ancaman kejahatan elektronik;

4. Ancaman pidana yang bersifat deterren terhadap tindak kejahatan elektronik (Cybercime), sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap integritas sistem dan nilai investasi yang telah dibangun dengan alokasi sumber daya yang cukup besar.

B. Pengaturan Hukum Teknologi Informasi (cyberlaw) pada Organisasi Internasional

Beberapa organisasi yang memberikan kontribusi dalam perkembangan hukum e-commerce di tingkat Internasional antara lain20 :

1. UNICTRAL (United Nations Commission on International Trade Law) : Berperan utama dalam mengembangkan model hukum untuk transaksi e-commerce.

Didirikan oleh PBB tahun 1966 untuk menyelaraskan hukum perdagangan internasional, merupakan badan hukum inti PBB yang bekerja membuat undang-undang perdagangan. Pada 19 Nazarudin Tianotak, URGENSI CYBERLAW DI INDONESIA DALAM RANGKA PENANGAN CYBERCRIME DISEKTOR PERBANKAN, Jurnal Sasi, 2011, Vol. 17, No. 4

(20)

tahun 2001, UNCITRAL menciptakan Undang-Undang Tanda Tangan Elektronik yang fokus pada kontrak elektronik, penyelesaian sengketa secara online, menghilangkan hambatan hukum dalam pengembangn perdagangan elektronik di instrumen perdagangan internasional.

2. OECD (The Organisation for Economic Co-operation and Development) : Mengenai perpajakan internet, perlindungan konsumen e-commerce dan privasi.

Tumbuh dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi Eropa, yang diberikan bantuan oleh Amerika-Kanada untuk Eropa setelah Perang Dunia II. Didirikan pada tahun 1961. Tujuannya adalah untuk membangun ekonomi yang kuat di negara-negara anggotanya, meningkatkan sistem pasar, memperluas perdagangan bebas.

E-commerce telah menjadi fokus area untuk OECD karena sifatnya yang lintas batas dan berpotensi untuk semua negara di bidang pertumbuhan ekonomi, perdagangan dan meningkatkan kondisi sosial. OECD telah mengembangkan kebijakan di bidang infrastruktur telekomunikasi dan jasa perpajakan, perlindungan konsumen, keamanan jaringan, privasi dan perlindungan data.

OECD Action Plan for Electronic Commerce yang didukung anggotanya pada tahun 1998, fokusnya pada pembangunan kepercayaan bagi konsumen, menetapkan aturan dasar pasar digital, meningkatkan infrasturktur untuk informasi e-commerce dan memaksimalkan pemanfaatan e-commerce.

3. WIPO (The World Intellectual Property Organization) : Mengenai hak cipta dan merek dagang yang melibatkan nama domain.

WIPO merupakan organisasi internasional yang mempromosikan dan melindungi karya seni, ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkantor pusat di Swiss, WIPO adalah salah satu dari 16 badan-badan khusus PBB. WIPO mengelola 23 perjanjian internasional yang berhubungan dengan aspek yang berbeda dari perlindungan kekayaan intelektual.

WIPO membuat agenda digital untuk menanggapi persoalan-persoalan internet, teknologi informasi dan sistem kekayaan intelektual. Melalui diskusi internasional dan negosiasi, WIPO merumuskan cara baru dimana karya-karya intelektual dapat disebarluaskan, sementara pada saat yang sama juga memastikan bahwa hak-hak pencipta tetap dilindungi.

(21)

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

(22)

tangan elektronik sebagai alat verifikasi, dan autentikasi yang sah suatu dokumen elektronik, serta pengaturan perbuatan-perbuatan yang dilakukan dalam cyberspace sebagai suatu tindak pidana.

Tidak hnya pada negara saja, namun juga bagi organisasi internasional, pengaturan terkait teknologi informasi ini menjadi penting untuk dilakukan. Pelopornya adalah UNCITRAL kemudian diikuti oleh organisasi internasional lainnya. Karena cakupan materi dari cyberlaw yang begitu luas sehingga hal tersebut menjadi penting bagi organisasi internasional untuk merumuskannya lebih detail. Seperti kita tahu beberapa organisasi internasional seperti pembahasan diatas telah memiliki kekhususan masing-masing sehingga dapat menjadi acuan.

B. Saran

Pengaturan terkait teknologi informasi ini adalah penting, dan tidak dapat hanya dilakukan satu kali saja, perlu adanya pengamatan pada lingkungan sekitar terkait dengan perkembangan teknologiinformasi ini. Sehingga dapat kemudian menyesuaikannya dengan melakukan revisis pada undang-undang. Perkembangan teknologi informasi tidak dapat diprediksi sehingga perlu diteliti dan ditinjau scara berkala. Selain itu, pemahaman mengenai peraturan terkait teknologi informasi ini masih perlu disosialisasikan pada masyarakat serta penegak hukum, karena masih banyak ditemui dalam kenyataan bahwa masyarakat minim pengetahuan dan pemahaman terkait dengan adanya peraturan teknologi informasi ini.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Tim PPHN,

Perancangan Pembangunan Hukum Nasional Bidang Teknologi

Informasi dan Komunikasi,

Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum

dan Hak Asasi Manusia RI, Jakarta, 2010

2.

E. Saefullah Wiradipradja,

Perspektif Hukum Internasional tentang ”cyberlaw”

dalam buku Cyberlaw : Suatu Pengantar,

ELISP II, Jakarta, 2002

3.

DR. Boer Mauna, Hukum Internasional: Pengertian, Peranan dan Fungsi Dalam Era

Dinamika Global, Edisi ke-2, PT Alumni, 2005

4.

J.G. Starke, Pengantar Hukum Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, 1989

5.

Agum Ojo,

Pengertian Cyberlaw dan Cybercrime,

https://www.academia.edu/8500842/Pengertian_Cyber_Law_and_Cyber_Crime_Cyb

er_Law

6.

Gregor Urbas,

An Overview of Cybercrime Legislation and Cases in Singapore

, Asian

Law Institute Faculty of Law – National University of Singapore, ASLI Working

Paper No. 001, 2008

(23)

8.

Gregor Urbas,

An Overview of Cybercrime Legislation and Cases in Singapore

, Asian

Law Institute Faculty of Law – National University of Singapore, ASLI Working

Paper No. 001, 2008

9.

DSP Mahfuz Bin Dato’ Ab. Majid as Royal Malaysia Police,

Cybercrime : Malaysia

,

http://www.skmm.gov.my/skmmgovmy/media/General/pdf/DSP-Mahfuz-Majid-Cybercrime-Malaysia.pdf

10.

Zaiton Hamin, 2004,

The Legal Response Computer Missuse in Malaysia – The

Computer Crimes Act 1997

, UTM Law Review 2

11.

Yusuf Ibrahim Arowosaiye, 2013,

Evolution of Malaysian Cyber Laws and

Mechanism for Secured Online Transactions,

Pandecta, Vol. 8, No. 2

12.

Arrif and Chuan, 1998,

Multimedia Super Corridor

, Leeds Publications

13.

P.S SAGAL, 2001,

Electronic Commerce Law in Malaysia,

Journal of Law and

Information Science, Vol 11, No 1

14.

Puteri Nemei Jahn Kassim, 2008,

”The Development E-Medicine in Malaysia and

Ethical Implications”.

http://manis-portal.kpwkm.gov.my/docs/shared/KPWKM/Kajian%20Inventori%20Penyelidikan

%20Pembangunan%20Sosial%20di%20Malaysia%202001-%202005/I0147.pdf

15.

Departemen Komunikasi dan Teknologi Informasi Republik Indonesia,

Cybercrime

Legislation of Indonesia

, Octopus Interface Conference – Cooperation Against

Cybercrime, Council of Europe, Stasbourg, 23-25 March 2010

16.

Ahmad S Daud,

Kebijakan Penegakan Hukum Dalam Upaya Penanggulangan

Tindak Pidana Teknologi Informasi

, Lex Crimen, 2013, Vol. II, No. 1

17.

Galuh Kartiko,

Pengaturan Terhadap Yurisdiksi Cybercrime ditinjau dari Hukum

Internasional

, Jurnal Trunojoyo, 2013, Vol. 20, No. 1

18.

Nazarudin Tianotak,

URGENSI CYBERLAW DI INDONESIA DALAM RANGKA

PENANGAN CYBERCRIME DISEKTOR PERBANKAN

, Jurnal Sasi, 2011, Vol. 17,

No. 4

Referensi

Dokumen terkait

Dengan di tandatangani surat persetujuan ini, maka saya menyatakan bersedia / tidak bersedia untuk berperan serta menjadi responden dalam penelitian dengan judul “Gambaran

LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat) adalah sebuah unit kegiatan yang berfungsi mengelola semua kegiatan penelitian dan pengabdian kepada

diibaratkan seperti teknologi penginderaan jarak jauh menggunakan citra satelit yang digunakan untuk mendeteksi potensi sumber daya alam di suatu titik lokasi,

Hasil dari pemeriksaan terhadap adsorben sentrifugal suhu pemanasan 300 °C terlihat pada Tabel 4.4 yang menggambarkan bahwa konsentrasi NOx yang cenderung lebih stabil walaupun

Pentingnya persediaan itu dalam suatu perusahaan, antara lain dengan persediaan yang cukup, maka perusahaan dapat terhindar dari resiko kerugian karena kebutuhan para

Dengan menerapkan metode pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi komputer (seperti SPC) akan memberikan suatu model yang berbasis unjuk kerja, hal ini

Bidang Pembudayaan Olahraga mempunyai tugas menyelenggaraan perumusan kegiatan serta koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kegiatan dibidang pengelolalaan

Dapat menjadi sumber ilmu tambahan untuk berbagai pihak misalnya Aparatur penegak hukum seperti Polisi, Hakim, dan Jaksa yang mengawal jalannya penyelesaian kasus-kasus