• Tidak ada hasil yang ditemukan

Khotbah Membangun Komunitas Yang Erat Da

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Khotbah Membangun Komunitas Yang Erat Da"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Judul : Membangun Komunitas Yang Erat Dalam Gereja Teks : 1 Korintus 12:12-20

Tujuan : Menantang dan membawah setiap jemaat Tuhan untuk mengerti esensi dari kesatuan yang erat antar komunitas orang percaya dalam bergereja, supaya perpecahan tidak akan terjadi, dan tidak ada yang membeda-bedakan orang, tetapi saling menghargai dan menopang. Semua untuk satu tujuan yaitu memuliakan nama Tuhan lewat komunitas yang erat dalam gereja.

Audience : Ibadah Umum

Pendahuluan : Saudara jelas ketika berbicara mengenai komunitas yang erat berarti ada unsur hidup dalam kesatuan, hidup rukun, dan itu berarti tidak ada perpecahan. Semestinya

itu menjadi pegangan dan panggilan kepada setiap umat Tuhan yang telah dipersatukan dalam gereja. Tetapi berbeda dengan jemaat Korintus kalau kita cermati dalam pasal 1. Terjadi perpecahan dalam jemaat local, padahal jemaat Korintus yang memiliki karunia rohani yang lebih, telah dibaptis, dan sudah menjadi orang percaya. kenapa bisa mengalami masalah ini, karena mereka tidak mau membangun satu komunitas yang erat, mereka mengkotak-kotakkan dengan menyukai pemimimpin yang sesuai dengan selera mereka, dan tidak tunduk pada perintah sang Kepala Gereja yaitu Kristus. makanya Paulus mengirimkan surat ini dengan tegas, jelas di 1 Korintus 1:10 bagian akhir dikatakan oleh Paulus yaitu “jangan ada perpecahan di antara kamu (jemaat Korintus), tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir”. Mau menasehati dan menegur jemaat (gereja) Korintus untuk kembali bersatu dengan erat dalam komunitas yang telah dikuduskan oleh Tuhan.

Bagaimanakah dengan jemaat disini? Kita harus waspada, karena iblis tidak mau kita bersatu, iblis ingin gereja terpecah. Makanya teks hari ini 1.Kor 12:12-20, merupakan pengingat dan sekaligus teguran bukan hanya kepada jemaat Korintus yang sudah terpecah, agar kembali lagi bersatu. Tetapi juga kepada jemaat Tuhan disini agar terus memperat komunitas orang percaya dalam gereja, supaya tidak mengulang kejadian seperti jemaat Korintus.

(2)

1. Penjelasan : T yang pertama adalah: “tidak membeda-bedakan” ayat 12-14. Saudara Firman Tuhan yang telah kita baca, khususnya di ayat 12 mau menyatakan bahwa kita semua itu dianalogikan seperti organ manusia, kita memiliki satu tubuh tetapi memiliki organ dan banyak sekali elemen-elemen didalamnya, itu juga yang Paulus mau gambarkan bahwa kita satu dalam tubuh Kristus, meskipun dalam gereja terdiri dari berbagai anggota jemaat. Mau menyatakan kesamaan dalam Kristus, tidak ada perbedaan. Ada kesatuan di dalam Kristus, meskipun dalam komposisi jemaat terdiri dari berbagai latar belakang budaya dan suku. Tetapi telah disatukan dalam tubuh Kristus, itulah gereja

perkumpulan umat percaya yang dipanggil keluar oleh Kristus untuk satu tujuan.

Dunia pun mengajarkan demikian, ada yang tahu dengan slogan orang Indonesia yaitu “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” berarti betapa indah kesatuan itu, sehingga dunia sekuler pun mengadopsinya. Tetapi sebelum orang Indonesia membuat formula itu, tujuan kesatuan telah dirumuskan terlebih dahulu oleh Yesus. Tujuan agar jemaat tidak terpecah itu sebenarnya menjadi sebuah keharusan dan bersifat rohani, karena Yesus pun mengajarkan demikian dalam Yohanes 17:21, kesatuan menjadi salah satu pengajaran dan perintah dari Yesus sendiri, jadi ketika tidak mau bersatu, berarti perlu dipertanyakan apakah kita sudah ada benih ilahi atau masih dalam jerat iblis. Kalau mengaku percaya pada Yesus, semestinya taat juga pada Yesus melalaui mengikuti teladan hidup-Nya di Yohanes 17:21.

Konteks pada ayat ini membicara jemaat Korintus yang sudah percaya, tetapi tidak mampu melakukan apa yang menjadi keharusan tersebut. Tidak tunduk pada Roh Kudus yang Yesus berikan. Mereka masih membedaka-bedakan latar belakang, memilah-milah mana orang Yahudi dan Yunani, membeda-bedakan dari status social. Paulus mau menghapus strara social dan asumsi yang special dari setiap jemaat Korintus, menganggap kaum Yahudi lebih ataupun Yunani. Mereka tidak sadar akan identitas “aku adalah gereja”, tubuhku adalah bait Allah, jadi kalau tubuh bait Allah maka melakukan apa yang Allah kehendaki dan ada benih ilahi dalam diri. Tetapi mengapa jemaat Korintus tidak sadar, sehingga sibuk membedaka-bedaka, sehingga perpecahan pun tidak terhelakan. Saudara apakah hal membeda-bedakan masih terjadi di gereja tempat kita bersekutu ini atau sudah

(3)

perhatian khusus bagi setiap kita, jika benih jahat itu sudah mulai ada, cepat-cepat minta Tuhan hilangkan. Kita jangan ada sedikit pun sifat membeda-bedakan, kita semua sama diciptakan oleh Tuhan menurut gambar-Nya (kej.1:27).

Kita semua juga sama dibaptis dalam satu Roh, kata Roh diayat 13 menunjukkan kepada Roh Kudus sebagai materai/tanda, dimana kita telah menerima baptisan atau telah lahir baru. Dalam pengertian telah dipertobatkan atau ditarik keluar dari kegelapan menuju terang-Nya, dan itu biasa dimengerti dengan ekklesia atau gereja, ketika orang mengetahui hal ini dia bisa mengerti bahwa gereja orang yang dikuduskan dan dipersatukan, jadi

dipersatukan tidak ada unsur perbedaan, semua satu/setara dalam Roh. Karena sama-sama dipanggil/ditebus oleh Yesus dan langsung menjadi bagian dari tubuh Kristus. Makanya di

ayat 13 dikatakan telah menjadi satu tubuh, berarti semua orang percaya disatukan dalam tubuh Krsitus. Kita semua sama dalam ras, status social, kekayaan, atau bahkan jenis kelamain (Gal.3:28) bukanlah hal yang menguntungkan atau merugikan karena kita menjadi satu tubuh dan melayani satu Tuhan.

Aplikasi : Kita semua telah menjadi satu komintas orang percaya dalam gereja, untuk itu langkah awal untuk terus membangun komunitas yang erat adalah dengan tidak membeda-bedakan antar jemaat. Karena Sang Pencipta menganggap kita semua sama-sama telah diangkat menjadi anak-Nya dan dipersatukan dalam satu tubuh Kritus, itu berarti kita adalah keluarga Allah yang terdiri dari berbagai individu. Tidak ada manusia yang bisa membanggakan diri. Dan itu mengajarkan bahwa Yesus sendiri tidak membeda-bedakan dan Ia menginginkan keeratan dalam komunitas. Bagaimanakah dengan kita hanya sebagai ciptaan dan hanya diangkat oleh Yesus. Terus kita masih mau sombong dan bangga dengan segala latar belakang dan strata social yang disandang, masih mau membeda-bedakan. Saudara berhentilah melakukan demikian, itu hanya akan membuat imanmu tidak bertumbuh dan dampaknya tidak akan memberkati komunitas bergereja dimana anda berada, otomatis itu dosa dan tidak mempermuliakan nama Tuhan.

2. Penjelasan : T yang kedua adalah “terus ciptakan keindahan melalui keanekaragaman” ayat 15-17.

(4)

terdapat banyak anggota tubuh lainnya, memang jelas, kalau hanya terdapat mata, kita akan mengalami kematian, karena tidak bisa makan, karena tidak mungkin makan lewat mulut. Disitu harus membutuhkan organ yang lain. Dalam perbedaan itu akan menghadirkan satu kerja sama yang indah dan akan mengeratkan tali komunitas khususnya antar sesama umat Tuhan.

Ilustrasi : Saudara saya punya satu gambaran. Indonesia adalah Negara yang dikepalai oleh Presiden, kita semua pasti tahu nama Presindennya adalah Jokowi. Saudara tugasnya seorang Presiden itu sangat penting dan dia adalah centralnya dalam menyetujui

segala proyek untuk melaksanakan pembanguan dalam Negara ini. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah Jokowi bekerja sendiri? Tentu tidak, ia memilih menteri atau staf

kabinet kerja yang mahir dibidangnya, yang mahir dibidang ekonomi diberikan mandat jadi menteri ekonomi, semua punya keahlian dan tugas sendiri untuk menopang satu komunitas kerja yang dikepalai oleh Jokowi. Kalau tidak ada menteri, staf, maupun kepala daerah maka matilah Jokowi, akan sangat kelelahan, bingung karena belum tentu Jokowi menguasi semua bidang, dan tentunnya Negara Indonesia akan cepat rapuh atau terpecah. Karena tidak ada kerja sama.

Saudara sama halnya dengan kita didalam satu komunitas di gereja, tidak ada satu individu yang hebat bisa membuat gereja itu menjadi terbangun ke arah yang baik, sekalipun dia pandai, kaya, dan jabatan gerajawinya tinggi. Pasti membutuhkan anggota yang lain yang notabenenya berbeda dalam hal pandangan dan kemahiran, semua untuk mengisi posisi dimana si ketua tidak bisa mengerjakan. Pasti perdebatan ada, perbedaan pendapat selalu ada, mungkin sampai marah-marahan juga ada, tetapi itulah yang akan menciptakan sebuah keindahan, karena kalau tidak ada perbedaan, buat apa kita sibuk-sibuk untuk mencitapkan sebuah keharmonisan, tetapi karena kita dalam gereja terdiri dari berbagai macam orang, berbagai macam kealihan, dan latar belakang, untuk itulah kita semua harus menciptakan keindahan melalui keanekaragaman tersebut. Kehebatan dari eratnya sebuah komunitas, bukan karena keseragaman setiap orang didalamnya, tetapi karena semua yang berbeda itu mau sama-sama saling menghargai dan rendah hati ingin menciptakan hubungan yang erat,

agar semua tugas dapat berjalan dan tidak ada perpecahan.

(5)

membeda-bedakan karunia antar jemaat. Makanya Paulus mengumpamakan ketika ada yang berkata “andaikata kaki berkata: karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh, dan juga telinga berkata karena bukan mata, aku tidak temasuk tubuh pula” kalimat ini mau menjelaskan betapa jemaat Korintus kehilangan arah dalam melihat dirinya dan anggota jemaat lain, tidak mampu memaknai dengan jelas bahwa mereka itu semua sama dan tidak ada bedanya di dalam tubuh Kristus. Dan ketika hal itu terus mewabah, maka tidak lagi mengerjakan tugas gereja, karena sibuk dengan hal begitu, dan akhirnya tidak memuliakan nama Tuhan.

Saudara terkadang tanpa kita sadari dan intropeksi diri, kita seringkali sama dengan orang Korintus, kita malu dengan diri kita dan melihat orang lain banyak talenta, ataupun kita

yang sombong dengan talenta makanya melihat orang lain tidak berarti. Saudara kalau ada yang masih demikian, harus cepat bertobat, karena ketika anda bertindak demikian, berarti dirimu sedang dimurkai oleh Tuhan dan anda akan memunculkan suatu perpecahan.

Saudara apakah anda ingat dengan Musa, ia tidak percaya bahwa ada potensi dalam dirinya, kalau kita lihat begitu dahsyat dia memimpin umat Israel dalam perjalanan keluar dari tanah perbudakan dan perjalanan di padang gurun. Tetapi sebelumnya dia tidak percaya diri, dia mengatakan tidak pandai berbicara, bukankah itu seperti menghina Tuhan (lihat di Kitab Keluaran). ketika Tuhan memberimu talenta meskipun sedikit, atau anda dari latar belakang dan stratas social yang biasa-biasa saja, pakailah itu untuk menciptakan suasana yang indah dalam gereja. Bukan sebagai sarana dimana anda membeda-bedakan, atau mengkotak-kotakan jemaat. Dengan membuat kelompok, yang bisa nyanyi disini, yang tidak bisa disana. Atau yang orang batak dengan orang batak, kita tidak boleh bergabung dengan orang jawa karena akan berbeda. Itu tidak boleh saudaraku, anda sudah tidak lagi memahami keindahan atau tidak lagi mengerti komunitas yang erat dalam tubuh Kristus, ingat Kristus tidak terpecah. Maka anda pun tidak boleh berpecah, bersyukurlah dengan perbedaan itu.

Satu hal lagi kita jangan sekali-kali seperti penggambaran Paulus di ayat 17, yaitu semua ingin menjadi mata, tetapi yang menjadi pertanyaan dimanakah pendengaran atau telinga itu. Saudara terkadang hal-hal ini yang membuat gereja tidak erat dan perpecahan pun menguat.

(6)

Aplikasi : Saudara kita tidak perlu mengejar semua harus sama, itu tidak akan indah. Semua telah dipercayakan oleh Tuhan memiliki talenta yang demikian, menyandang status social yang demikian, dan berada dari latar belakang yang berbeda. Kita hanya perlu bersyukur atas semuanya itu, dan mari ciptakan keindahan dalam keanekaragaman dengan tidak membanding-badingkan dirimu dengan orang lain. Kita harus tahu ketika perbedaan itu ada di gereja, itu karena atas perkenaan Tuhan. Tuhan sudah mengatur segalanya, karena dia mencintai semua orang. Tidak seperti dirimu yang egosentris, makanya perpecahan pun terjadi. Mari kita sama-sama membangun satu komunitas yang erat dalam gereja dengan

saling menghargai dan menghormati keindahan/keunikan dirimu dan orang lain, maka kita akan mengetahui keanekaragaman dalam satu tubuh Kristus indah. Saling menghargai dan

mau melayani Tuhan dengan segala perbedaan yang ada diantara kita, maka itu akan sangat memuliakan nama Tuhan. karena Tuhan mencintai komunitas orang percaya yang erat.

3. Penjelasan : Kita telah mempelajari dua poin dari singkatan TTS, T yang pertama yaitu tidak membeda-bedakan, dan T yang kedua adalah terus ciptakan keindahan melalui keanekaragaman, dan yang terakhir adalah S kepanjangannya yaitu “saling menopang/peduli dalam satu komunitas”. Saudara ketiga poin ini tidak bisa dipisahkan. Poin yang terakhir ini sebagai puncak untuk cara kita membangun komunitas yang erat dalam gereja. (dalam ayat 18-20).

Berbicara mengenai cara/kiat dalam membangun satu komunitas yang erat dalam gereja, berarti mau mengatakan harusnya ada penopang supaya suatu bangunan itu bisa kuat. Dalam buku „9 tanda gereja yang sehat‟ mengatakan kasih akan terungkap dan kesatuan dihasilkan bila para anggota gereja dengan aktif saling bersimpati. Saya tambahkan bukan hanya bersimpati, tetapi ada empati. Mau merasakan atau membantu jemaat yang kurang atau lemah. Kita yang diatas, yang lebih tahu harus rendah hati mengajarkan kepada orang lain. Yang di anguerahkan oleh Tuhan melalui main alat music, bisa bernyanyi, mari luangkan waktu mengajari yang lain, bukan menyombongkan talenta atau karunia yang engkau miliki. Terus bagi yang tidak belum tahu, jangan jadi rendah diri, itu hal yang sangat hina di hadapan Tuhan, anda mungkin diberikan oleh Tuhan talenta yang lain. Contoh anda

(7)

Konteks dari ayat 18 kalau kita cermati itu suasananya lagi memanas, dimana Paulus sedang menentang dan menyatakan salah kepada jemaat Korintus yang terlalu membesar-besarkan karunia rohani yang diterima. Jadi ketika ada seseorang jemaat tidak mendapatkan karunia tersebut maka timbulah sikap rendah diri dan yang menerima karunia itu timbul sifat kesombongan. Karunia rohani yang muncul ada diayat-ayat sebelumnya yaitu 1 Kor.12:10, salah satu contohnya karunia mengadakan mukjizat. Hal-hal itu yang dipermasalahkan, bukannya itu hanya karena pemberian dari Tuhan. Hal ini terus dipermasalahkan, sehingga menimbulkan perpecahan dalam jemaat Korintus, maka artinya mereka telah memetingkan

karunia daripada hidup kudus dalam hubungan antar jemaat. Lupa diri, jemaat terlalu sibuk dengan karunia itu, sehingga melupakan pentingnya praktik hidup, praktik hidup yang Paulus

tegaskan ialah erat bersatu dalam satu komunitas yang telah ditebus oleh darah Kristus. Ilustrasi : Saudara hal seperti itu seringkali terjadi, saya mempunyai satu cerita, apakah ada petugas atau orang kebersihan yang sering mengangkut sampah anda dirumah? pasti ada. Petugas kebersihan tersebut apakah pangkatnya tinggi, atau gajinya tinggi, ataupun memiliki jenjang studi yang tinggi, tentu tidak. Kita melihatnya dia sebelah mata, tidak menghargainya, malahan marah-marah ketika ia terlambat mengambil sampah atau lupa karena si petugas itu sedang sakit. Bukankah itu menunjukkan kita membutuhkan pertolongannya, dan bukankah kita sebagai seorang percaya harus bersikap baik juga ketika petugas tidak datang, kita jangan langsung bertindak marah, tetapi sabar dan peduli.

Saudara terkadang kita seperti itu, bukan. Didalam gereja terdiri dari berbagai-bagai macam keahlian dan talenta yang Tuhan berikan, tetapi kita merasa hebat sendiri, sehingga melihat yang lain tidak berguna. seperti juga yang dikatakan oleh pak Billy Kristanto dalam bukunya, terkadang ada beberapa orang Kristen tidak mau bergabung dengan anggota lainnya, karena merasa diri bisa, dan tahu segalanya, sehingga bisa berjuang membuat gereja itu jadi baik. Apakah kita demikian? Anda perlu intropeksi diri. Dan kembali pada jalan yang benar.

Didalamnya gereja kita terdiri dari hamba Tuhan, majelis, jemaat, dan para pekerja-pekerja mungkin secara organisasi ada yang lebih tinggi, tetapi apakah itu akan dijadikan

(8)

mulai timbul dosa iri hati, atau rendah diri, maka terjadilah saling sikut-menyikut, maka perpecahan akan menghampiri kita.

Suadara bukankah jelas tertulis dalam ayat 19 kita memang mengingini satu anggota, kita ingin individualisme (single fighter) menonjol sendiri, sehingga Paulus bertanya terus dimanakah tubuh? Sebenarnya yang benar satu tubuh, tetapi banyak anggota. Tubuh disini dalam bahasa Yunani memakai kata σῶμα soma, atau dalam bahasa Inggris body (tubuh/badan). Saudara ada hal jelas dalam arti itu, tubuh yang dimakudkan yaitu tubuh yang hidup, karena tubuh itu adalah milik Kristus yang tidak kelihatan, dan tubuh itu

didalamnya menyerap berbagai macam anggota, tubuh yang dimaksud soma adalah tubuh yang tidak pernah berdiri sendiri, ada anggota lain yang mendukungnya untuk tetap

terbangun dan tidak runtuh. Satu kesatuan dalam satu tubuh, yang terdiri dari berbagai sel atau diartikan Paulus berbagai anggota jemaat. Jadi jelas kata yang dipakai Paulus, karena mengindikasikan satu tubuh tetapi harus terdiri dari banyak anggota supaya ada kehidupan. Hal ini mau membuktikan pada kita, bahwa dalam gereja harus saling menopang, tubuh membutuhkan anggota untuk bertahan hidup. Diayat 23 bagian akhir, bagaimana kita memberikan perhatian, perhatian disini adalah dalam bahasa Inggri lebih jelas yaitu diperlakukan berarti ada tindakan yang peduli kepada orang-orang demikian.

Kita harus saling menopang satu sama lainnya, supaya kehidupan komunitas dalam gereja semakin erat, dan dalam keeratan itu akan adanya keharmonisan yang nantinya akan membuat gereja semakin hidup, karena komunitas didalamnya tidak terpecah, maka tugas gereja pun akan berjalan, karena kalau semua sibuk membeda-bedakan, mempermasalahkan perbedaan dalam gereja, atau tidak saling menolong. Maka tugas gereja tidak berjalan, karena sibuk dengan hal yang sudah nyata-nyatanya salah dan harus dihindarkan, seperti pesan dari firman hari ini. maka itu layak disebut gereja yang sedang sekarat dan yang sedang mempermalukan nama Tuhan.

Ditutup dengan ayat 20 memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Perbedaan ada, dan anggota di gereja itu pasti berbeda dan mempunyai karunia yang berbeda pula. Hal itu tidak boleh dijadikan sebuah celah untuk terjadinya perpecahan, tetapi diayat

(9)

gereja, supaya tidak ada perpecahan. Dan gereja akan semakin sadar, bahwa membangun komunitas yang erat itu adalah panggilan setiap kita umat percaya. Panggilan dari Yesus sendiri, itu berarti kita harus tunduk dan mau mengikuti, karena jika mau taat melakukan itu akan menyenangkan hati Tuhan Yesus.

Aplikasi : Komunitas didalam gereja akan semakin erat, jika sesama anggota gereja saling menopang satu dengan yang lain, sama-sama bertumbuh, jadi tidak ada yang ketinggalan, karena saling share dan saling membantu lewat memberikan pengajaran, yang mahir main music mengajarkan kepada yang lain, yang tidak bisa apa-apa mau belajar kepada

yang mempunyai talenta lebih, bukan iri hati. Yang diberikan Tuhan talenta dibagiannya sendiri, mau mengerjakan dengan sepenuh hati untuk pelayanan, bukan sombong dan mau

hebat sendiri. Mau meluangkan waktu untuk peduli dan memperhatikan sesama anggota dalam gereja, tidak individualisme. Hal-hal demikian harus terus diterapkan agar bisa terjalin sebuah hubungan yang erat antar komunitas orang percaya dalam gereja.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian tentang jaringan komunikasi dalam komunitas punk dalam memper-erat hubungn antar sesama komunitas punk di kota Blitar terdapat tiga permasalahan yaitu: (1)

Mengacu pada permasalahan tersebut, salah satu solusi yang ditawarkan yaitu dengan membangun web portal komunitas gereja berbasis crowdsourcing, di mana para umat

Fenomena sakuren senantiasa muncul dalam peristiwa budaya padi, ritual adat, dan kehidupan sehari-hari komunitas Ciptagelar.. Lahan kering dan lahan basah adalah salah

Berdasarkan hasil penelitian aktivitas tolong menolong, kerjasama, kerukunan dan keharmonisan sangat erat di dalam kehidupan masyarakat di Desa Durin Simbelang.

Pemanfaatan Media Komunikasi Punk di Kota Semarang oleh anggotanya, dalam rangka menjaga keharmonisan antar komunitas, dilakukan dengan menempuh kegiatan berkomunikasi

“Menjaga Kesucian dan Keharmonisan Alam Bali Beserta Isinya, untuk Mewujudkan Kehidupan Krama Bali yang Sejahtera dan Bahagia, Sakala-Niskala Menuju Kehidupan Krama Bali

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) tahun 2000 memposisikan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) sebagai wadah yang tepat bagi Gereja untuk berperan serta

Anita Rohmatur Rizki, D0212015, POLA KOMUNIKASI KOMUNITAS DALAM MEMBANGUN KONSEP DIRI POSITIF (Studi Deskriptif Kualitatif Pola Komunikasi Komunitas Stroke Happy