BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Ekonomi negara-negara di dunia memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Dalam hal ini terdapat suatu klasifikasi dimana ada yang disebut Negara maju, Negara berkembang dan Negara miskin. Negara maju menguasai berbagai sektor produktif yang mendorong laju pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Tersedianya tenaga ahli dan teknologi yang memadai menyokong negara maju untuk tumbuh ke arah yang lebih maju. Sementara itu, negara-negara berkembang memiliki kelemahan-kelemahan yang menyebabkan mereka kesulitan untuk membangun perekonomiannya.
Dunia ini dihuni oleh segelintir negara-negara kaya. Mereka memanfaatkan sumber daya alam dari negara-negara terbelakang untuk diberdayakan. Selanjutnya, bahan baku yang diperoleh dari negara-negara terbelakang diolah menjadi produk jadi kemudian dijual kembali.
Teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Pada abad-19 banyak ahli ekonomi yang menganalisis dan membahas, serta mengemukakan teori-teori tentang tingkat-tingkat pertumbuhan ekonomi. Antara lain Retrich List, Brunohilder Brand, dan Walt Whitman Rostow.
Walt Whitman Rostow dalam bukunya : De Stages of Economic Growth mengemukakan bahwa proses pertumbuhan ekonomi dapat dibedakan dalam 5 tahap dan setiap negara di dunia dapat digolongkan ke dalam salah satu tahap dari 5 tahap pertumbuhan ekonomi tersebut. Pembangunan ekonomi menjadi sesuatu yang mahal bagi negara-negara terbelakang. Oleh karena itu, kita harus membentuk strategi untuk mengatasi hambatan-hambatan yang ada di negara kita.
1.2 Rumusan Masalah
1. Jelaskan tahap-tahap perkembangan ekonomi menurut ahli ? 2. Jelaskan tentang pendekatan struktural ?
3. Jelaskan pendekatan pembangunan berimbang ? 4. Jelaskan pendekatan pembangunan tak berimbang ?
5. Jelaskan perbedaan pendekatan pembangunan berimbang dan pembangunan tak berimbang ?
6. Jelaskan teori klasik pembangunan ekonomi?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui tentang tahap-tahap perkembangan ekonomi menurut ahli
2. Untuk mengetahui tentang pendekatan struktura
3. Untuk mengetahui pendekatan pembangunan berimbang 4. Untuk mengetahui pendekatan pembangunan tak berimbang
5. Untuk mengetahui perbedaan pendekatan pembangunan berimbang dan pembangunan tak berimbang
6. Untuk mengetahui teori klasik pembangunan ekonomi
BAB II PEMBAHASAN
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu keniscayaan yang akan terjadi sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masing-masing negara di dunia tentunya mengalami perbedaan tahap perkembangan atau pertumbuhan ekonomi, hal itu tidak lain disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbeda-beda. Misalnya negara-negara eropa yang dapat dikatakan sebagai negara modern. 1
Teori tentang tahap perkembagan ekonomi terutama berasal dari negara Jerman dan muncul pada abad ke-19 sebagai reaksi terhadap sistem persaingan yang ada di Inggris. Ahli yang mengemukakan teori ini adalah Frederich List, Bruno Hilderbrand, Karl Bucher, W.W Rostow2 meskipun analisnya berbeda
tetapi tahap perkembanganya sebenarnya sejalan.
2.1.1. Frederich List
Friedrich List sebenarnya adalah seorang penganut paham Laissez faire yang berpendapat bahwa sistem atau paham ini dapat menjamin alokasi sumber daya yang optimal 3 Dengan kata-kata lain perkembangan ekonomi hanya
terjadi apabila dalam masyarakat terdapat kebebasan dalam organisasi politik dan kebebasan perorangan.
Tetapi ia menghendaki adanya proteksi pemerintah bagi industri-industri yang masih lemah. Suatu hal yang dapat dimengerti karena dia menghendaki berkembangnya industri di Jerman yang pada waktu itu masih jauh tertinggal dibandingkan dengan di Inggris.Dengan demikian menurut Friedrich List perkembangan ekonomi yang sebenarnya tergantung kepada peranan pemerintah, organisasi swasta dan lingkungan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.
Friedrich List meneliti tahap-tahap pertumbuhan ekonomi dari segi perkembangan teknik produksi atau perilaku masyarakat dalam berproduksi. 1 Michael P. Todaro, Pembangunan Ekonomi di dunia ketiga, ed 1 (Jakarta : Ghalia Indonesia 1983) Halaman 36
2 Malayu S.P. Haasibuan, Ekonomi Pembangunan dan Perekonomian Indonesia (Bandung: CV.Armico,1987), 64
Tahap-tahap menurut Friderich List adalah a.Tahap primitif biadab
b.Tahap berternak c.Tahap pertanian
d.Tahap pertanian dan pabrik
e.Tahap pertanian pabrik dan perdagangan. 4
Ia juga berpendapat Negara yang berhawa sedang paling cocok untuk kegiatan industri. Alasannya karena kepadatan penduduknya yang sedang, tetapi merupakan pasar yang cukup luas. Serta sistem pertanian yang sudah efisien sehingga sebagian penduduk dapat dipindahkan ke sektor industri. Dengan demikian standar hidup penduduk sektor pertanian cukup tinggi, untuk menampung hasil sektor industri
Akhirnya bila suatu negara mempunyai bermacam-macam sumber alam maka hendaknya mengusahakan eksploitasi bahan - bahan mineral. Menurutnya, yang terpenting adalah perkembangan sektor industri (pabrik) untuk perkembangan ekonomi, meskipun awalnya diperlukan perlindungan yang cukup tinggi
Sedangkan di daerah tropis paling cocok untuk kegiatan pertanian5. Daerah
tropis tidak cocok untuk industri, karena umumnya jumlah penduduknya sangat banyak dan sektor pertanian belum begitu efisien serta persediaan sumber alam sangat sedikit.
2.1.2 Bruno Hilderbrand
Bruno Hildebrand mengkritik Friedrich List dan berdasarkan pengalaman Inggris dia mengatakan bahwa perkembangan masyarakat atau ekonomi bukan
karena sifat-sifat produksi atau konsumsi, tetapi karena perubahan-perubahan dalam metoda distribusi yang digunakan.Dia menganalisis proses pertumbuhan ekonomi dari segi evolusi alat-alat tukar, yaitu:
(1) Perekonomian barter
(2) Perekonomian uang, dan
(3) Kredit6
Tetapi disini Hilderbrand tidak mengemukakan bagaimana tahap sistem distribusi tersebut berkembang menuju ke tahap berikutnya.7
2.1.3 Karl Bucher
Tokoh ini mencoba untuk mensintesiskan antara pendapat List dan Hilderbrand. Perkembangan Ekonomi menurutnya melalui 3 tingkatan yaitu :
a. Produksi untuk kebutuhan sendiri
b.Perekonomian kota, dimana pertukaran sudah meluas
c.Perekonomian nasional dimana peranan pedagang tampak makin penting Jadi, barang itu diproduksi untuk pasar. Merupakan gambaran tentang evolusi di negara Jerman .8
2.1.4 W.W Rostow
Rostow mengkonsepkan proses pembangunan menjadi lima tahap utama dan setiap negara-negara di dunia dapat digolongkan kedalam salah satu dari kelima pertumbuhan ekonomi yang dijelaskannya. Adapun kelima tahap tersebut adalah: Masyarakat tradisonal (the traditional society), prasyarat untuk lepas landas (the procondition for take off), lepas landas (the take off), Gerakan kearah
kedewasaan (the drive to maturity), dan masa konsumsi tinggi (The age of high
massconsumption).9
Dalam membedakan kelima tahap tersebut rostow menggolongkannya berdasarkan pada ciri-ciri perubahan keadaan ekonomi, politik, dan sosial yang terjadi. Menurut rostow pembangunan ekonomi atau tranformasi suatu masyarakat tradisional menuju masayarakat modern merupakan suatu proses yang multidimensional. Dimana perubahan ini bukan hanya bertumpu pada perubahan ekonomi dari agraris ke industri saja, melainkan juga perubahan pada sosial, budaya, politik, ekonomi bahkan agama.10
1. Masyarakat Tradisonal (The Traditional Society)
Tahap tradisional adalah suatu masyarakat yang strukturnya berkembang didalam fungsi produksi yang terbatas, dalam artian masyarakat masih menggunakan cara-cara produksi yang relatif masih primitif dan cara hidup masyarakat yang masih dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dicetuskan oleh pemikir yang tidak rasional, tetapi oleh kebiasaan yang dilakukan scara terus menerus.
Menurut rostow dalam masyarakat tradisional ini produksi perkapita masih sangat terbatas dan sumber daya produksi utama adalah sektor pertanian, sehingga sangat kecil kemungkinan untuk mengadakan mobilitas vertikal dikarenakan kedudukan masayarakat tidak akan jauh berbeda dengan kedudukan ayahnya dan sistem mobilitasnya umumnya berdasarkan sistem warisan (pemeberian).
Dalam segi politik masayarakat tradisional umunya tuan tanahlah yang memiliki otoritas tertinggi hal itu tidak lain karena pemilik tanah merupakan stratifikasi tertinggi dalam masayarakat tradisonal. Kalau dilihat sistem ilmu pengetahuan dalam masyarakat ini cenderung menyelsaikan persoalan dengan
9 M.L. Jhingan, Ekonomi pembangunan dan perencanaan (Jakarta : PT. Raja Grafindo persada ) 142
cara-car yang kurang rasional dan masih menggunakan cara berpikir budayawi dari tadisi turun temuurun.
Tahap ini adalah tahap paling awal dari pertumbuhan ekonomi, yang menurut Rostow mempunyai karakteristik sebagai berikut:
(a) Kebiasaan-kebiasaan lama menentukan organisasi dan metoda produksi.
(b) Dampak sains teknologi terhadap kegiatan ekonomi relatif kecil.
(c) Masyarakat merasa tidak memerlukan perubahan.
2. Prasyarat untuk Lepas Landas (The Procondition for Take Off)
Tahap prasyarat lepas landas ini adalah masa transisi dimana ketika suatu masyarakat telah mempersiapkan dirinya, atau dipersiapkan dari luar untuk mencpai pertumbuhan yang mempunyai kekuatan untu terus berkembang. Tahap prasyarat lepas landas ini dibagi menjadi sua tipe oleh Rostow. Yang pertama adalah tahap yang dilakukan dengan mengubah masyarakat tradisional yang telah ada, sedangkan yang kedua adalah brown free yaitu Amerika, Kanada, Australia, Selandia baru, dimana mereka tidak perlu merubah sistem tradisional dikarenakan masyarakat itu terdiri dari imigran-imigran yang diperlukan sebagai tahap masa prasyarat lepas landas.11
a. Pembangunan: Perubahan yang Bersifat Multidimensi
Sebagaimana telah dinyatakan Rostow bahwa pembangunan merupakan suatu proses yang kompleks dan saling berhubungan. Misalnya saja argumen yang mengatakan bahwa tabungan akan mempercepat pembangunan, hal itu tentunya tidak akan terlaksana jika perubahan tersebut tidak diikuti oleh perubahan lain dalam masayarakat, misalnya saja cara penggunaan tabungan dengan sebaik baiknya. Karena jika ditelaah secara multidimensi maka akan terjadi hubungan
yang kompleks, misalnya tabungan akan mempercepat pembangunan melalui investasi dan tentunya akan terciptanya sarana dan prasarana umum, peningkatan kualitas pendidika dan penemuan-penemuan baru dalam bidang teknogi dan sosial.
b. Perombakan Struktur Ekonomi
Struktur ekonomi ini sangat penting bagi pembangunan ekonomi suatu negara, sehingga kemajuan dalam bidang pertanian, pertambangan, dan sebagainya harus diiringi dengan penananaman modal. Sehingga di negara pra landas ini untuk berkembang maka dibutuhkan sistem pertanian, pertambangan yang matang dan kemudian seiring perkembangannaya yang memerlukan pengolahan bahan mentah maka akan didirikan pabrik yang mengolah bahan-bahan tersebut.
c. Peran Sektor Pertanian
Kemajuan pertanian ini diperlukan untuk menjamin ketersediaan bahan makanan bagi penduduk yang bertambah dan agar penduduk kota yang banayak akibatindustrialisasi itu dapat memperoleh bahan makanan yang cukup. Selain itu sektor pertanian yang surplus akan diekspor sebagai modal unutk membeli alat-alat produksi yang mendukung industrialisasi.
d. Peran Sektor Prasarana
Rostow berpendapat bahwa pada tahap transisi ini memerlukan banyak modal yang digunakan untuk membangun sarana dan prasaranan (infrastruktur). Parasaranan mempunyai tiga ciri kusus diantaranaya, masa antara pembangunan dan pemetikan hasil pembangunan sangat panjang, pembangunan memerlukan biaya yang besar, dan manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh masayarakat.
e. Ciri Kepemimipinan
masayarakat industri. Rostow juga menambahkan bahwa masyarakat dunia transisi ini kan berkembang jika mendapat tekanan dari negara-negara maju, karena sangat sulit sekali berkembang jika hanya dipengaruhi secara internal saja.
Adapun karakteristik masyarakat atau negara yang berada pada tahap ini antara lain adalah sebagai berikut:
(a) Sikap mental tradisional masyarakat secara perlahan-lahan mulai berkurang.
(b) Saving dan investasi meningkat secara teratur dan mendasar serta melampaui laju pertumbuhan penduduk.
(c) Introduksi teknologi maju
(d) Munculnya pahma nasional sebagai reaksi terhadap internvensi dan
dominasi asing12
3. Lepas Landas (The Take Off)
Dalam tahap lepas landas merupakan berlangsungnya perubahan yang besar dan drastis dalam masayarakat misalnya, revolusi politik, revolusi ekonomi ataupun perkembangan inovasi-inovasi teknologi dan autput produksi.13 Adapun
ciri-ciri tahap lepas landas adalah sebagai berikut:Terwujudnya kenaikan dalam penanaman modal yang produktif dari lebih kurang 5% menjadi 10% dari produk nasional bruto
Terjadi peningkatan satu atau beberapa sektor industri dengan tingkat laju perkembangan yang tinggi.Adanya platform politik, sosial, dan intitusional baru yang akan menjamin berlangsungnya, segala tuntutan perluasan sektor modern dan potensi ekonomi ekstern.
a. The Inner Structure of the take off
Selanjutnya Rostow menganalisis the inner structure of the take off, yaitu perubahan-perubahan lain yang mengikuti kenaikan tingkat penanaman modal, yang terjadi dalam masa lepas landas. Perubahan yang terpenting dalam penanaman modal adalah kenaikan tingkat dana yang dipinjamkan, dan kenaikan itu berasal dari dua sumber. Pertama, adanay aliran pendaoatan termasuk perubahan dalam distribusi pendapatan dan impor modal.Sedankan sumber kedua adalah penanaman kembali keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari sektor-sektor yang sudah menagalami perkembangan yang pesat.
Pengusaha (enterpreneurs) merupakan hal yang terpenting dalam masa lepas landas ini, dimana mereka akan melakukan inovasi dan penanaman modal diberbagai sektor. Karena pada dasarnya produktivitas pertanian harus ada sebelum masa lepas landas maka akan muncul berbagai golongan petani yang mengolah pertanian secara modern.
b. Peran Leadeing Sector
Diberbagai perkembangan ekonomi negara umumnya dipicu oleh sektor primer yang merupakan sektor utama munculnya industrialisasi, hal ini dikarenakan hasil yang diproduksinya menghasilkan biaya yang besar bagi pembangunan suatu negara. Jenis-jenis industri primer ini disetiap negara tidaklah sama, misalnya di Inggris yang dipicu oleh kain katun, di swedia dipicu oleh industri kayu, di denmark peternakan, di jepang industri sutra dan sebagainya.
Menurut Rostow waktu yang diperlukan dalam periode ini berkisar antara 20 sampai dengan 30 tahun. Untuk take off suatu negara harus memenuhi tiga syarat (karakteristik) berikut.
(a) Investasi Netto meningkat sekitar dua kali lipa hingga menjadi di atas 10
persen dari GNP atau pendapatan nasional
(b) Berkembangnya satu atau beberapa sektor (industri) manufaktur penting
(c) Hadirnya secara cepat suatu kerangka politik, sosial dan organisasi yang
menampung hasrat ekspansi di sektor modern dan menumbuhkan daya dorong kepada pertumbuhan
Jadi take-off itu didahului oleh suatu rangsangan atau dorongan kuat, seperti misalnya perkembangan suatu sektor penting atau revolusi politik yang membawa perubahan mendasar dalam proses produksi, atau kenaikan proporsi investasi netto menjadi lebih dari 10,0 persen dari GNP yang melampaui laju pertumbuhan penduduk.
Perkiraan Rostow mengenai jangka waktu take-off yang dilalui oleh beberapa negara Revolusi Industri dan sekaligus merupakan awal berdirinya ilmu ekonomi. Seperti diketahui Inggris adalah negara tempat lahirnya revolusi industri dan sekaligus ilmu ekonomi. Pada periode tersebut di Inggris, disamping lahirnya ilmu ekonomi juga terdapat beberapa kemajuan yang sangat mendasar dalam bidang sains dan teknologi, misalnya ditemukannya mesin uap, kapal api, kereta api, mesin pintal benang serta beberapa kemajuan teknik produksi terutama dalam industri tekstil.
Pada saat di Inggris sedang terjadi revolusi industri (revolusi ekonomi), di Perancis berlangsung pula suatu revolusi sosial yang lebih dikenalkan dengan sebutan revolusi Prancis.Revolusi Perancis memberikan perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap sikap mental masyarakat serta institusi-institusi yang ada di negara itu.Seperti diketahui perubahan struktur dan tatanan masyarakat ini merupakan prasyarat atau prakondisi yang diperlukan dalam tahap take-off.
4. Gerakan Kearah Kedewasaan (The Drive to Maturity)
kemunduran. Sektor primer dalam tahap ini ditentukan oleh teknologi, kekayaan alam dan juga kebijakan pemerintah.
Rostow mengumukakan suatu oerkiraan kasar mengenai masa dimana tahap gerakan kearah dewasaan yang dicapai oleh berbagai negara:
Negara Tahun Negara Tahun
Inggris 1850 Swedia 1930
Amerika 1900 Jepang 1940
Jerman 1910 Rusia 1950
Perancis 1910 Kanada 1950
Dalam menganalisis ciri-ciri tahapan ini, rostow menekankan penelaahannya pada coran perubahan sektor pelopor industri di berbagai nega maju dan ia menunjukkan bahwa setiap negara memiliki perbedaan disetiap jenis sektor pelopornya, misalnya jika Inggris industri tekstil digantikan oleh industri baja, batu bara, peralatan teknik berat. Sedangkan Dijerma dan di Amerika jaringan rel kereta api digantika dengan industri baja dan industri peralatan berat.
Periode ini memerlukan waktu sekitar 40 atau 50 tahun. Karakteristik suatu perekonomian yang berada dalam periode ini adalah sebagai berikut:
(a) Teknologi produksi sudah matang
(b) Rentangan produksi semakin meluas
(c) Struktur dan keahlian tenaga kerja mengalami perubahan
(d) Kepemimpinan dunia usaha mengalami perubahan
(e) Adanya gejala kebosanan masyarakat terhadap kemajuan industrialisasi
5. Masa Konsumsi Tinggi (The Age of High Massconsumption).
terdapat perkembangan yang pesat dalam konsumsi masyarakat, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.14
Karakteristiknya secara garis besar adalah sebagai berikut:
(a) Pemenuhan produk-produk kebutuhan pokok bukan lagi merupakan
problema utama.
(b) Perhatian masyarakat lebih ditujukan kepada masalah-masalah konsumsi dan
kesejahteraan masyarakat dalam arti luas, tidak lagi pada masalah produksi seperti pada peridoe sebelumnya. Dengan kata lain pada tahap ini keseimbangan perhatian masyarakat sudah beralih dari penawaran ke permintaan. Jumlah barang-barang konsumsi yang dibutuhkan oleh masyarakat (konsumen) sudah semakin banyak yang dapat dipenuhi. Konsumsi barang-barang konsumsi tahan lama, seperti mobil, kulkas dan peralatan rumah tangga lainnya menjadi semakin populer.
(c) Adanya migrasi ke pinggiran kota
(d) Suasana persaingan semakin tajam terutama dalam hal: (i) memperbesar
kekuasaan dan pengaruh ke luar negeri; (ii) menciptakan kemakmuran yang lebih merata bagi penduduk, misalnya melalui penerapan sistem pajak progresif, peningkatan jaminan sosial dan pengadaan fasilitas hiburan bagi para pekerja; dan (iii) Mempertinggi tingkat konsumsi masyarakat.Kecenderungan kepada konsumsi besar-besaran barang-barang yang tahan lama (durable goods), ketiadaan pengangguran dan peningkatan kesadaran akan jaminan sosial membawa perekonomian kepada laju pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi.
Ada tiga kekuatan yang nampak cenderung meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam periode ini, yaitu: (i) Penerapan kebijaksanaan nasional untuk meningkatkan kekuasaan dan pengaruh melampaui batas-batas nasional; (ii) Keinginan untuk menjadi suatu negara kesehateraan (welfare state) dengan pemerataan pendapatan nasional yang lebih adil melalui pajak progresif, peningkatan jaminan sosial dan fasilitas hiburan bagi para pekerja; serta (iii)
Keputusan untuk membangun pusat perdagangan dan sektor-sektor penting seperti mobil, rumah murah dna berbagai peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik dan sebagainya.
Secara historis, Amerika Serikat adalah negara pertama (1920) yang mencapai tahap kelima ini, diikuti oleh Inggris (1930-an), Jepang dan Eropa Barat (1950-an).
2.2 Model Perubahan Struktural
Teori-teori perubahan struktural memusatkan perhatian pada mekanisme yang sekiranya akan memungkinkan negara-negara yang masi terkebelakang untuk mentransformasikan struktur perekonomian dalam negeri mereka dari pola perekonomian pertanian subsisten tradisional yang hanya mampu mencukupi keperluan sendiri ke perekonomian yang lebih modern, lebih berorientasi ke kehidupan perkotaan, dan lebih bervariasi, serta memiliki sector industri manufaktur dan sector-sektor jasa yang tangguh. Model perubahan struktural tersebut dalam analisisnya menggunakan perangkat-perangkat neoklasik berupa konsep-konsep harga dan alokasi sumber daya, serta metode ekonometrik untuk menjelaskan terjadinya proses transpormasi. Aliran ini didukung oleh teori dari W. Arthur Lewis dengan teorinya yaitu “surplus tenaga kerja dua sektor” (two sector surplus labor) dan Hollis B. Chenery dengan analisa empirisnya tentang “Pola-pola Pembangunan” (patterns of development).15
2.2.1 Teori Pembangunan Lewis a. Model Dasar
Salah satu model teoritis yaitu Transformasi Struktural yang mula-mula urumuskan oleh W. Arthur Lewis kemudian diubah dan diformalkan oleh John Fei dan Gustav Ranis. Model dua sektor Lewis pada intinya membahas proses
Menurut model pembangunan Lewis perekonomian yang terbelakang terdiri dari dua sektor, yaitu:
1. Sektor tradisional yaitu sektor pedesaan subsisten yang kelebihan penduduk dan ditandai dengan produktivitas marjinal tenaga kerja = 0, merupakan suatu fakta bahwa sebagian tenaga kerja ditarik dari sektor pertanian dan sektor tersebut tidak akan kehilangan outputnya sedikitpun16.
2. Sektor industri perkotaan modern yang tingkat produktivitasnya tinggi dan menjadi tempat penampungan tenaga kerja yang ditransfer sedikit demi sedikit dari sektor subsiste
Perhatian utama dari model ini diarahkan pada terjadinya proses pengalihan tenaga kerja, serta pertumbuhan output dan peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor yang modern. Lewis berasumsi bahwasanya tingkat upah didaerah perkotaan sekurang-kurangnya harus 30% lebih tingi daripada pendapatan di daerah-daerah pedesaan untuk memaksa para pekerja pindah dari desa asalnya ke kota. Pada tingkat upah didaerah yang konstan, maka kurva penawaran tenaga kerja pedesaan dianggap relative sempurna.
Lewis mengemukakan dua asumsi perihal sektor tradisional. Pertama, adanya surplus tenaga kerja, atau MPLA = 0
Kedua, semua pekerja didaerah pedesaan menghasilkan output yang sama sehingga tingkat upah riil di daerah pedesaan ditentukan oleh produktivitas tenaga kerja rata-rata bukan produktivitas tenaga kerja marjinal (seperti pada sektor modern).
Rangkaian proses pertumbuhan berkesinambunga atas sektor modern dan perluasan kesempatan kerja, diasumsikan akan terus berlangsung sampai semua surplus tenaga kerja pedesaan diserap habis oleh sektor industry. Selanjutnya, tenaga kerja tambahan yang berikutnya hanya dapat ditarik dari sektor pertanian dengan biaya yang lebih tinggi karena hal tersebut pasti akan mengakibatkn merosotnya produksi pangan. Hanya penurunan rasio tenaga kerj terhadap tanah
secara drastis sajalah yang akan mampu membuat produk marjinal tenaga kerja desa menjadi tidak sama dengan nol. Dengan demikian, tingkatr upah serta kesempatan kerja disektor modern terus mengalami pertumbuhan, maka kemiringan kurva penawaran tenaga kerja bernilai positif. Transformasi struktural perekonomian itupun pada akhirnya pasti beralih dari perekonomian pertanian tradisional yang berpusat didaerah pedesaan menjadi sebuah perekonomian industri modern yang berorientasikan kopada pola kehidupan perkotaan.
b. Kritik terhadap model Lewis
1. Model ini secara implisit mengasumsikan bahwa tingkat pengalihan tenaga kerja dan penciptaan kesempatan kerja disektor modern pasti sebanding dengan tingkat akumulasi modal sektor modern. Semakin cepat tingkat akumulasi modal, semakin tinggi tingkat pertumbuhan sektor modern dan semakin cepat pula penciptaan lapangan kerja baru. Akan tetapi, apa yang akan terjadi seandainya keuntungan para kapitalis tersebut justru diinvestasikan kembali dalam bentuk barang-barang modal yang lebih canggih dan lebih hemat tenaga kerja.17
2. Adanya dugaan bahwa dipedesaan terjadi kelebihan tenaga kerja, sedangkan didaerah perkotaan terjadi penyerapan factor-faktor produksi secara optimal (full employment). Akan tetapi, para ahli ekonomi pembangunan pada saat ini, pada umumnya kelihatan telah sepakat bahwa asumsi surplus tenaga kerja diperkotaan secara empiris lebih sahih daripada asumsi sebaliknya yang dikemukaan oleh Lewis.18
3. Dugaan tentang pasar tenaga kerja yang kompetitif disektor modern akan menjamin keberadaan upah riil diperkotaan yang konstan sampai pada suatu titik dimana surplus penawaran tenaga kerja habis terpakai, tidak dapat diterima. Penentuan tingkat upah pasar tenaga kerja pekotaan di
17 M.L. Jhingan, Ekonomi pembangunan dan perencanaan (Jakarta : PT. Raja Grafindo persada ) 161
hamper semua negara sedang berkembang adalah upah yang diberikan cendrung meningkat sangat besar dari waktu ke waktu, baik secar absolute maupun secara relatif, yakni apabila dibandingkan dengan rata-rata pendapatan didaerah pedesaan. Kecendrungan tetap terjadi sekalipun ada kenaikan tingkat pengangguran di sektor modern dan produktivitas marjinal yang rendah atau nol di sektor pertanian. Factor-faktor kelembagaan seperti halnya kekuatan tawawr menawar organisasi atau serikat buruh, skala gaji pegawai negeri, dan praktek-praktek penerimaan tenaga kerja oleh perusahaan-perusahaan multinasional cenderung untuk menghapuskan atau meniadakan kekuatan-kekuatan kompetitif yang terjadi dipasar tenaga kerja sektor modern dinegara-negara Dunia Ketiga.
4. Bahwa apabila kita memperhitungkan adanya bias penghematan tenaga kerja pada sebagian besar ahli teknologi modern, adanya sejumlah pelarian modal keluar negari, tidak adanya surplus tenaga kerja di daerah pedesaan, semakin merajalelanya surplus tenaga kerja didaerah perkotaan, dan terus bertambahnya kecendrungan peningkatan upah secara cepat di sektor modern, bahkan juga ditengah terjadinya pengangguran terbuka, maka model dua-sektor dari Lewis meskipun sangat berharga sebagai penggambaran konsep awal proses pembangunan tentang interaksi perubahan sektoral agaknya memang memerlukan serangkaian modifikasi secara besar-besaran, baik itu dalam asumsi-asumsi maupun dalam analisisnya agar benar-benar cocok dengan kenyataan-kenyataan yang ada di negara-negara Dunia Ketiga.
Namun, berlainan dengan model Lewis dan pandangan duolisme tentang pembangunan, pola atau teori ini menyatakan bahwa peningkatan tabungan dan investasi merupakan syarat yang harus dipenuhi, akan tetapi tidak akan memadai jika harus berdiri sendiri dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Pola ini juga mensyaratkan bahwa selain akumilasi modal untuk mengadakan sumberdaya fisikmaupun sumberdaya manusia, diperlukan juga suatu rangkaian perubahahan yang saling berkaitan dalam struktur perekonomian negara bersangkutan demi terselenggaranya transisi yang bersifat mendasar dari system ekonomi tradisional ke system ekonomi modern. Perubaha-perubahan yang bersifat struktural ini melibatkan seluruh fungsi ekonomi termasuk transformasi produksi dan perubahan komposisi permintaan konsumen, perdagangan internasional dan sumber daya, serta perubahan dalam factor-faktor sosioekonomi seperti proses urbanisasi, pertumbuhan dan sebaran distribusi penduduk di negara yang bersangkutan.
2.3 Pendekatan Pembangunan Berimbang
Yang dimaksud dengan ekonomi pembangunan seimbang adalah pembangunan yang dilakukan secara merata diberbagai daerah, sehingga setiap daerah mencapai tingkat kelanjutan pembangunan seimbang itu sebagai usaha pembangunan yang menumpahkan perhatian yang seimbang terhadap sektor industri maupun sektor pertanian19, sehinga kedua-dua sektor tersebut bukan saja
dapat berkembang dengan baik, tetapi juga saling mendorong perkembangan lainnya.
dapatlah didefinisikan sebagai usaha pembnagunan yang berusahan mengatur program penanaman modal secar sedemikian rupa, sehingga sepanjang proses pembangunan tidak akan timbul hambatan hambatan yang bersumber dari penawaran maupun permintaan.
2.3.1 Teori Pembangunan Seimbang : Pandangan Rosenstein-Rodan Dan Nurkse
Teori pembnagunan seimbang terutama harus dikaitkan kepada pemikiran Rosenstein-Rodan dan Nurkse .Istilah pembangunan seimbang diciptakan oleh Nurkse, tetapi teori dikemukakan oleh Rosenstein-Rodan, yang menulis gagasan untuk menciptakan program pembangunan di Eropa Selatan dan Tenggara dengan mengadakan industrialisasi secara besar besaran20. Rosenstein-Rodan beranggapan
bahwa mengadakan industrialisasi didaerah yang kurang berkembang merupakan cara untuk menciptakan pembahagian pendapan yang lebih merata di dunia dan untuk meningkatkan pendapatan didaerah semacam itu dengan lebih cepat dari pada didaerah yang lebih kaya.
Scitiovsky mengartikan pengertian ekonomi ekstern itu untuk sebagai jasa jasa yang diperoleh dengan percuma oleh sesuatu industri dari satu atau beberapa industri lainnya.Dengan demikian apabila suatu perusahanan memperoleh ekonomi.
Menurut Rosenstein-Rodan, pembangunna industri secara besar besaran akan menciptakan tiga macam ekonomi ekstern: yang diakibatkan oleh perluasan pasar, karna industri yang sama letaknya berdekatan, dan karna adanya industri lain dalam perekonomian tersebut.
Pendapatan Nurksetidak banyak berbeda dengan Rosenstein-Rodandalam mengemukakan alasan tentang perlunya menjalankan program pembangunan seimbang. Dalam analisanya tersebut ia menekankan bahwa penbangunan ekonomi bukan saja menghadapi kesukaran dalam memperoleh modal yang
diperlukan, tetapi juga dalam mendapatkan pasaran untuk barang barang yang dihasilkan oleh berbagai industri yang akan dikembangkan.
2.3.2 Teori Pembangunan Seimbang: Pandangan Scitovsky Dan Lewis
Dalam analisis yang khusus membahas mengenai ekonomi ekstern Scitovsky menunjukan tentang terdapat dua konsep atau pengertian dari ekonomi ekstern dan tentang manfaat yang terdapat dalam perekonomian. Mengenai hal yang pertama, ia membedakan pengertian ekonomi ekstern kepada: (i) seperti yang terdapat dalam teori keseimbangan (equilibrium theory) dan (ii) seperti yang terdapat dalam teori pembangunan. Dalam teori keseimbangan, atau dalam teori ekonomi konvensionil, ekonomi ekstern diartikan sebagai perbaikan efesiensi yang terjadi pada suatu industri sebagai akibat industri sebagai akibatdari perbaikan teknologi yang diciptakan pada industri lain. Oleh Scitovsky ekonomi eksternseperti ini dinamakan sebagai ekonomi ekstern teknologis ( technological external economies). Di samping itu hubungan interdependensi di antara berbagai industri dapat pula menciptakan ekonomi ekstern keuangan (pecuniary external economies),yaitu kenaikan keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan yang bersumber dari tindakan tindakan perusahaan lain.
Analisa Lewis dalam menunjukan tentang perlunya pembnagunan seimbang ditekankan kepada menunjukan keuntungan yang akan di peroleh dari terciptanya interdependensi yang efesian di antara berbagai sekto, yaitu di antara sektor pertanian dan sektor industri, dan di antara sektor dalam negeri dan luar negeri.menurut Lewis, banyak masalah akan timbul apabila usaha pembangunan di antara berbagai sektor, berbagai corak ketidak setabilan dan gangguan terhadap kelancaran kegiatan ekonomi akan timbol. Akhirnya ini akan memperlambat peroses pembangunan.
Di samping itu, masalah lain adalah kesulitan untuk menjual barang barang hasil industri dengan menguntungkan kenaikan harga barang pertanian akan mendorong kepada kenaikan upah di sektor minimum sedangkan hasil hasilindustri tidak dapat dinaikan untuk menjaga agar pasaran tetap tersedia.
Selanjutnya Lewis menujukan pula tentang pentingnya pembangunan seimbnag diantara sektor produksi yang menghasilkan barang barang untuk keperluan dalam negeri sektor produksi yang menghasilkan barang barang eksport.
Fungsi penting lain dari sektor eksport adalah untuk mengatasi masalah terbatasnya pasar didalam negeri. Mengembangkan sektor eksport tindakan menghadapi masalah yang serumit seperti di sektor pertanian dan industri yang menghasilkan barang barang untuk keperluan dalam negeri. Perkembangan sektor eksport akan mendorong perkembangan sektor dalam negeri karena: (i) beberapa fasilitas yang digunakan untuk mempelancar kegiatan eksport seperti pengembangan sistem komunikasi, jaringan pengankutan dan fasilitas latihan atau pendidikan dapat di gunakan oleh sektor dalam negeri dan (ii) dengan menarik tenga kerja dari sektor dalam negeri, sektor eksport akan mendorong sektor dalam negeri untuk menciptakan inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas. Eksport dapat pula memperlancar perkembnagan ekonomi karna ia memungkinkan perkembangan import.
2.3.3 Thesis Usaha Minimum Kritis
Pengertian kedua dari thesis usaha minimum kritis dikemukakan leibenstein.Thesis usaha minimum kritisnya lebih kompleks dari pada pengertian pertama yang baru dijelaskan diatas.Leibenstein mendari bahwa faktor faktor yang menghambat pembangunan ekonomi, dan yang menyebabkan sesuatu negara yang tetap berada pada tingkat pembnagunan dan tingkat pendapatan perkapita yang rendah. Dalam teorinya leibenstein membedakan faktor faktor yang mempengaruhi lajunya pembnagunan ekonomi menjadi dua golongan: (i) kekuatan kekuatan yang menaikan pendapatan perkapita ( per capita income raising forces), (ii) kekuatan kekuatan yang menurunkan pendapatan perkapita.
Yang tercipta sebagai akibat dari adanya usaha usaha pembnagunan yang terakhir adalah akibat dari usaha usaha untuk memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat. Usaha seperti ini akan mengurangi tingkat kematian dan dengan demikian mempercepat lajunya tingkat pertambahan untuk mempertahankan tingkat pendapatan perkapita harus menjadi bertambah tinggi.
2.3.4 Beberapa Kritik Terhadap Teori Pembangunan Seimbang
Khusus terhadap teori pembangunana seimbang seperti yang dikemukakan oleh Rosentein-Rodan dan Nurkse, singer mengkritik pandangan yang menekankan tentang perlunya menciptakan pembangunan yang serentak di berbagai industri. pandangan ini dianggap oleh singer sebagai kebijaksanaanp embangunan yang menekankan usaha pengembangan sektor industri secarabesar besaran dan melupakan sektor pertaniaan. Cara pendekatan pembangunan demikian dikritik oleh singer karena walaupun teori tersebut menyadari mengenai corak struktur perekonomian negara negara bergembang, tetapi teori tersebut mengabaikan implikasi yang ditimbulkan oleh struktur kegiatan ekonomi tersebut terhadap pelaksaan program pembangunan seimbang di sektor industri.
program pembangunan seimbang, merupakan kecaman yang paling pentingyang dikemukakan oleh Hirschman. Dalam kecamannya Hirschman antara lain berpendapat bahwa di satu pihak teori pembangunan seimbang sangatmeragukan kemampuan negara negara berkembang, tetapi dilain pihak mereka membuat pengharapan pengharapan yang sama sekali tidak realitis mengenai daya kreatif negara negara tersebut. teori pembangunan seimbang, menurut Hirschman, mengabaikan kenyataan sejarah yang menunjukan bahwa secara perlahan kegiatan industri modern telah mulai berkembang pada masa lalu, dan telah sanggup menggantikan beberapa industri rumah tangga maupun menghasilkan barang barang yang pada mulanya diimport.
Selanjutnya Hirschman menyatakan bahwa bersamaan dengan sikap yang samgat meragukan kemampuan negara negara berkembang akan dapat menyediakan tenaga ahli yang cukup, yang dalam waktu bersamaan sanggup mendirikan berbagai industri, sehingga masing masing industri tersebut mempunyai pasar yang cukupluas untuk hasil produksinya.21
Pembangunan seimbang lainnya juga mengakui bahwa perkembangan berbagai industri secara serentak akan menciptakan ekonomi ekstern kepada setiap industr,sehingga akan menciptakan efesiensi dan keuntungan yang lebih tinggi kepada masing masing industri tersebut. Tetapi disamping itu Hirscma dan Fleming mengemukankan pula kemungkinnan timbulnya diseknomian ekstern dalam pelaksanaan pembangunan seimbang. Hirschman menunujukkan kemungkinnan tercitanya disekonomian ekstern di dalam kegiatan kegiatan ekonomi yang sudah ada sebelum kebijaksanaan pembnagunan seimbang dilaksanakan. Pembangunan seimbnag akan menghancurkan cara cara tradisional dalam kehidupan masyarakat, dalam kegiatan produksi dan dalam cara cara berkembnag masyarakat.
Hirschman dan Streeten, di samping itu mengemukakan kritis terhadap teori pembangunan seimbang, mengemukakan pula tori pembangunan tidak
seimbang adalah programpembnagunan yang lebih sesui untuk mempercepat proses pembnagunan di negara negara berkembang. Apabila di telaah alasan alasan yang dikemukan oleh kedua dua pengkritik teori pembangunan seimbang tersebut, terutama Hirschman, pada hakekatnya gagasan untuk melaksanakan pembnagunan seimbang di dasarkan kepada tiga pertimbangan, yaitu: (i) secar historis membangunan ekonomi yang telah berlaku coraknya tidak seimbnag, (ii) untuk mempertinggi efesiensi penggunaan sumber sumber daya yang tersedia, dan (iii) pembangunan tidak seimbang akan menciptakan bottlenecks atau gangguan gangguan dalm proses pembangunan, yang akan menjadi pendorong bagi pembangunan selanjutnya.
Pembangunan tidak seimbang di anggap lebih sesuai untuk dilaksanakandi negara negara berkembang karna negara negara tersebut menghadapi masalah kekurangan sumber sumbur daya. Dengan melaksanakan program pembangunan tidak seimbang, usaha pembangunan pada sesuatu waktu tertentu dipusatkan kepada beberapa kegiatan yang akan mendapat mendorong penanaman modalterpengaruh (induced investment) diberbagai kegiatan lain pada masa berikutnya. Dengan demikian pada setiap tingkat pembangunan sumber sumber daya yang sangat langka dapat digunakan dengan lebih efisien.
Akhirnya pemandangan mengenai perlunya melaksanakan program pembangunan tidak seimbang didasarkan kepada keyakinan bahwa pembangunan tidak seimbang akan menciptakan gangguan ganguan dan ketidak seimbangan dalam kegiatan ekonomi. Keadaan itu akan menjadi galakan untuk melaksanakan lebih banyak penanaman modal pada masa yang akan datang.
penanaman modal dalam industri tersebut, dan selanjutnya penanaman modal yang dilakukan akan menghapuskan keuntungan.
2.4 Pendekatan Pembangunan Tak Berimbang
Teori pendapatan tak berimbang adalah lawan dari doktrin pertumbuhan berimbang menurut konsep ini, invensi seyogyanya dilakukan pada sector yang terpilih daripada secara serentak disemua sector ekonomi. Tidak ada satupun Negara terbelakang yang mempunyai modal dan sumber lain dalam kuantitas sedimikian besar untuk melakukan investasi secara serentak pada semua sector. Oleh karena itu, investasi harus dilakukan pada beberapa sector atau industry yang terpilih saja agar cepat berkembang dan hasil ekonominya dapat digunakan untuk pembangunan sector lain. Dengan demikian perekonomian secara berangsur bergerak dari lintasan pertumbuhan tak berimbang kearah pertumbuhan berimbang. Ahli ekonomi seperti Singer, Kindleberger, dan lain-lain mengungkapkan pendapat mereka yang menukung doktrin pertumbuhan tak berimbang.
Menurut Rostow, agar suatu ekonomi dapat melampaui tahap masyarakat tradisional dan mencapai tingkat landas maka yang penting ia melakukan investasi produktif 5% hingga 10% atau lebih ini hanya mungkin jika investasi dilakukan pada 1 atau 2 sektor ekonomi utama saja. Hal ini akan mendorong perekonomian industry-industri terkait .Doktrin ini lawan dari pertumbuhan berimbang,konsep ini menyatakan investasi seyogyanya dilakukan disektor terpilih daripada serentak di semua sektor ekonomi.
Hirschman berpendapat bahwa dengan sengaja tidak menyeimbangkan perekonomian sesuai strategi yang telah dirangcang cara terbaik untuk capai pertumbuhan di negara terbelakang dengan investasi pada industri atau sektor perekonomian yang strategis akan hasilkan kesemaptan investasi baru dan buka jalan bagi pembangunan ekonomi lebih lanjut.
1. mencegah investasi convergent yang ambil ekonomi eksternal lebih banyak dari yang diciptakannya
2. mendorong rangkaian investasi divergent yang ciptakan ekonomi eksternal lebih besar dari yang diambilnya.
Melimpahkan perekonomian melalui (MOS) Modal Overhead Sosial yang diartikan terdiri dari jasa atau pelayanan pokok tanpa kegiatan produksi primer,sekunder,dan tersier yang tidak berfungsi,yang didalamnya termasuk investasi di bidang pendidikan,kesehatan masyarakat,perhubungan,angkutan dan bidang lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Hirschman anjurkan pendirian industri tahap akhir dahulu,dalam indsutri,negara yang sedang berkembang tak perlu usahakan semua tahap produksi secara serentak tapi dapat impor pabrik converting,assembling,dan mixing bagi sentuhan terakhir produk yang hampir jadi.
Keterbatasan :
1. Kurang perhatian pada komposisi,arah dan saat pertumbuhan tidak berimbang,Paul streeten kritik teori ini bahwa permasalahan pokonya bukan takkeseimbangan perlu ciptakan atau tidak,ia tunjukan Hirschman tidak menaruh perhatian cukup pada komposisi arah dan saat pertumbuhan tak berimbang22
2. Abaikan perlawanan,Hirchsman abaikan reaksi lembaga-lembaga di negara terbelakang
3. Diluar kemampuan negara terbelakang,kritik terhadap teori Nurkse juga berlaku pada teorinya sendiri bahwa investasi ciptakan ketidakseimbangan dengan demikian ciptakakn tekanan dan tegangan pada proses pertumbuhan dapat diatasi melalui mekanisme perangsangan
4. Kekurangan fasilitas dasar,seperti dapatkan tenaga teknis,bahan mentah,dan fasislitas dasar sperti tenaga dan pengangkutan.
5. Kekurangan mobilitas faktor,dinegara belakang sulit pindahkan sumber dari satu sektor ke sektor lain
6. Timbulnya tekanan inflasi,jikas investasi dalam dosis besar dalam perekonomian di bidang strategis pendapatan akan naik, cendrung tingkatkan permintaan akan barang konsumen relatif pada penwarannya. 7. Dampak kaitan tidak didasarkan data,dampak kaitan lemah karna tidak
didasarkan data di negara terbelakang dimana fasilitas overhead sosial tak dibangun selama satu generasi atau lebih
8. Terlalu banyak penekanan pada keputusan investasi,pengambilan keputusan merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi tapi negara terbelakang tidak hanya perlukan keputusan investasi tapi juga keputusan administratif.
2.5 Pendekatan Pembangunan Berimbang VS Pendekatan Pembangunan tak Berimbang
Debat pembangunan pada 1940-an hingga 1960-an berkenaan dengan konsep balanced growth versus unbalanced growth. Oleh para penganjurnya, esensi dari konsep balanced growth adalah modal (capital) atau investasi harus ditanamkan dalam “berbagai sektor” yang saling mendukung satu sama lain. Ragnar Nurkse (1953) memandang strategi ini sebagai satu-satunya jalan untuk melepaskan diri dari lingkaran setan kemiskinan. Tesis ini mendukung tesis big push theory (Paul Rosenstein-Rodan), bahwa suatu strategi “gradualisme” akan mengalami kegagalan. Perlu ada upaya untuk mengatasi inersia yang inheren dalam ekonomi yang stagnan. Situasinya dianalogikan dengan sebuah mobil yang macet di tengah salju: mobil itu tidak akan bergerak dengan sedikit dorongan perlahan-lahan ia memerlukan suatu dorongan yang kuat (a big push).
untuk pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, tesis the big push terlalu gloomy bagi LDCs: mereka tidak memiliki keahlian untuk melakukan suatu upaya yang masif.
Kekurangan utama dalam negara terbelakang (LDC) tidak terletak pada suplai tabungan, tetapi keputusan untuk berinvestasi oleh para entrepreneurs dan pembuat keputusan. Kemampuan untuk berinvestasi tergantung pada jumlah dan keberadaan investasi .Hirschman percaya bahwa negara-negara miskin memerlukan suatu strategi pembangunan yang mendorong keputusan investasi.
Ia menyatakan bahwa karena risorsis dan kemampuan terbatas, tesis big push lebih masuk akal jika diterapkan secara strategik dalam industri tertentu. Pertumbuhan kemudian akan menyebar dari satu sektor ke sektor lainnya.
2.6 Teori Klasik Pembangunan Ekonomi
Teori pertumbuhan ekonomi mempunyai keelokan yang dingin,kesederhanaan yang terpuji, kerapihan setiap lembar rambut di tempatnya. Teori-teori pembangunan ekonomi tidak mempunyai sebab adanya keanekaragaman manusia dan situasi-situasi nasional, karakter beberapa fakta pembangunan yang sulit ditangkap, dan kepentingan yang diberikan oleh para ahli toritis itu sendiri, teori pembangunan dapat terpencar-pencar, tidak disiplin, sama dengan kemiskinan masa yang mereka selidiki untuk dijelaskan. 23
Sebagai sebuah proses, pembangunan ekonomi melibatan beberapa perubahan di dalam komposisi berbagai keluaran dan masukan dari suatu ekonomi. Perubahan-perubahan ini sebaliknya membentuk bagian dari focus pembangunan pada perbaikan keseluruhan di dalam kondisi manusia menjadi miskin secara mayoritas. Maksut pembangunan adalah peleburan menjadi berbagai harapan yang produktif dan satu yang memnuhi kegiatan semua orang yang ingin berperan serta-umumnya penduduk dewasa. Kegiatan yang produktif ini bertindak lebih dari satu fungsi: mereka menghasilkan pendapatan pribadi
(yang diubah menjadi barang dan jasa untuk konsumsi); mereka memberikan pusat disekeliling manakeluhuran dan kehormatan diri manusia kadang-kadang diukur, dan mereka memungkinkan beberapa orang bekerja atas nama lembaga yang lebih besar dari merka jika mereka mimilih untuk melakukan yang demikian itu.
Teori Ekonomi Klasik secara umum dianggap sebagai aliran modern pertama dalam sejarah pemikiran ekonomi. Teori ekonomi klasik mulai berkembang sekitar pada abad ke-18. Adam Smith merupakan pemikir utama dari ekonomi klasik. Sebuah karya milik Adam Smith yaitu The Wealth of Nations
pada tahun 1776 dianggap sebagai penanda dimulainya era ekonomi klasik. Ekonomi klasik menyatakan bahwa pasar bebas akan mengatur dirinya sendiri jika tidak ada campur tangan dari pihak apapun. Ekonomi klasik menekankan pada penerapan harga yang fleksibel baik dari segi upah maupun barang. Postulat lainnya yang ditekankan oleh ekonomi klasik adalah keseimbangan antara tabungan dan investasi dengan asumsi bahwa suku bunga fleksibel akan selalu menjaga ekuilibrium. Aliran ekonomi klasik mengemuka hingga pertengahan abad ke-19 dan kemudian digantikan oleh aliran ekonomi neoklasik (1870)
Teori ekonomi klasik mempunyai beberapa ciri-ciri yaitu sebagai berikut: Perekonomian yang didasarkaan pada sistem bebas berusaha (Laissez Faire) artinya mempunyai kemampuan untuk kembali ke posisi keseimbangan secara otomatis. Terjadi tangan bebas atau pasar bebas dalam mencapai keseimbangan sehingga terjadi “full employment” atau kesempatan kerja penuh (tidak ada pengangguran).
meningkatkan upah. Ada beberapa tokoh yang mengemukakan pendapatnya tentang teori ekonomi klasik, diantaranya:
1. Adam Smith (1723-1790)
Adam Smith berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi bertumpu pada adanya pertumbuhan penduduk. Dengan adanya pertumbuhan penduduk maka akan terdapat pertambahan output dan pertambahan hasil. Teori ini terdapat dalam bukunya yang berjudul An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of
Nations.24
2. Thomas Robert Malthus (1766-1834)
Menurut Thomas Robert Malthus, perkembangan perekonomian suatu negara ditentukan oleh pertambahan jumlah penduduk. Karena dengan bertambahnya jumlah penduduk secara otomatis jumlah permintaan terhadap barang dan jasa akan bertambah. Selain itu, perkembangan ekonomi suatu negara juga memerlukan kenaikan jumlah kapital untuk investasi yang terus menerus.
3. David Ricardo (1772-1823)
David Ricardo berpendapat bahwa faktor pertumbuhan penduduk yang semakin besar hingga dua kali lipat akan menyebabkan jumlah tenaga kerja melimpah. Kelebihan tenaga kerja akan mengakibatkan upah menjadi turun. Upah tersebut hanya dapat digunakan untuk membiayai taraf hidup minimum sehingga perekonomian akan mengalami kemandegan (statonary state). Teori ini dituangkannya dalam bukunya yang berjudul The Principles of Political and
Taxation.
4. John Stuart Mill (1806-1873)
John Stuart Mill merupakan salah satu tokoh yang menganut sistem kebebasan. Beliau berpendapat bahwa masalah perekonomian merupakan masalah sosial. Selain itu beliau juga mengemukakan tentang bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya dan ikut serta dalam kemakmuran negaranya dengan berbagai cara seperti meningkatkan produksi, mencintai produk negeri sendiri serta masalah distribusi barang dan jasa.
5. Karl Max (1818-1883)
Teori yang dikemukakan oleh Karl Max menitikberatkan pada kekurangan konsumsi yang akan melumpuhkan kemampuan produksi. Produksi yang berlebihan secara umum akan menimbulkan runtuhnya teori kapitalisme.
Semua pendapat dari para tokoh memiliki tujuan yang sama yaitu bagaimana cara untuk mengembangkan perekonomian suatu negara dan bisa mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Jika kebutuhan masyarakat terpenuhi maka negara tersebut dapat dikatakan sebagai negara yang maju dan sejahtera.Menurut teori ilmu ekonomi klasik, masalah pokok ekonomi masyarakat dapat digolongkan menjadi tiga permasalahan penting, yaitu:
1. Masalah Produksi
Untuk mencapai kemakmuran, barang-barang kebutuhan harus tersedia diantara masyarakat. Karena masyarakat sangat heterogen maka barang-barang yang tersediapun juga beragam jenisnya sehingga akan muncul permasalahan bagi produsen, yaitu barang apa saja yang harus diproduksi. Selain itu akan muncul kekhawatiran bagi produsen apabila memproduksi suatu barang tertentu tetapi tidak dikonsumsi masyarakat.
2. Masalah Distribusi
Agar barang dan jasa yang telah dihasilkan dapat sampai kepada orang yang tepat maka dibutuhkan sarana serta prasarana distribusi yang baik.
Hasil produksi yang telah didistribusikan kepada masyarakat yang idealnya dapat dikonsumsi dan digunakan oleh masyarakat yang tepat pasti digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang tepat pula. Persoalan yang muncul apakah barang tersebut akan dikonsumsi dengan tepat oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkannya atau menjadi sia-sia karena tidak terjangkau oleh masyarakat sehingga proses konsumsi tidak berjalan sebagai subjek ekonomi
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Teori tentang tahap perkembagan ekonomi terutama berasal dari negara Jerman dan muncul pada abad ke-19 sebagai reaksi terhadap sistem persaingan yang ada di Inggris. Ahli yang mengemukakan teori ini adalah Frederich List, Bruno Hilderbrand, Karl Bucher, W.W Rostow meskipun analisnya berbeda tetapi tahap perkembanganya sebenarnya sejalan.
3. ekonomi pembangunan seimbang adalah pembangunan yang dilakukan secara merata diberbagai daerah, sehingga setiap daerah mencapai tingkat kelanjutan pembangunan seimbang itu sebagai usaha pembangunan yang menumpahkan perhatian yang seimbang terhadap sektor industri maupun sektor pertanian sehinga kedua-dua sektor tersebut bukan saja dapat berkembang dengan baik, tetapi juga saling mendorong perkembangan lainnya.
4. Teori pendapatan tak berimbang adalah lawan dari doktrin pertumbuhan berimbang menurut konsep ini, invensi seyogyanya dilakukan pada sector yang terpilih daripada secara serentak disemua sector ekonomi. Tidak ada satupun Negara terbelakang yang mempunyai modal dan sumber lain dalam kuantitas sedimikian besar untuk melakukan investasi secara serentak pada semua sector.
5. Debat pembangunan pada 1940-an hingga 1960-an berkenaan dengan konsep balanced growth versus unbalanced growth. Oleh para penganjurnya, esensi dari konsep balanced growth adalah modal (capital) atau investasi harus ditanamkan dalam “berbagai sektor” yang saling mendukung satu sama lain sedangkan menurut unbalanced growth investasi hanya ditanam dalam sektor strategis tertentu yang merupakan leading sector, dan ini akan menciptakan peluang investasi lebih lanjut. Ini merupakan jalan terbaik untuk pertumbuhan ekonomi.
6. Teori Ekonomi Klasik secara umum dianggap sebagai aliran modern pertama dalam sejarah pemikiran ekonomi. Teori ekonomi klasik mulai berkembang sekitar pada abad ke-18. Adam Smith merupakan pemikir utama dari ekonomi klasik. Sebuah karya milik Adam Smith yaitu The
Wealth of Nations pada tahun 1776 dianggap sebagai penanda dimulainya
era ekonomi klasik.