JURNAL PENELITIAN PERIKANAN INDONESIA
p-ISSN 0853 - 5884
Volume 22 Nomor 2 Juni 2016
Nomor Akreditasi: 653/AU3/P2MI/LIPI/07/2015
(Periode: Agustus 2015 - Agustus 2018)
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia adalah wadah informasi perikanan,
baik laut maupun perairan umum daratan. Jurnal ini menyajikan hasil penelitian sumber daya,
penangkapan, oseanografi, lingkungan, rehabilitasi lingkungan
dan pengkayaan stok ikan.
Terbit pertama kali tahun 1994. Tahun 2006, frekuensi penerbitan
Jurnal ini tiga kali dalam setahun pada
bulan April, Agustus, dan Desember.
Tahun 2008, frekuensi penerbitan menjadi empat kali yaitu pada
bulan MARET, JUNI, SEPTEMBER, dan DESEMBER.
Ketua Dewan Penyunting:
Prof. Dr. Ir. Wudianto, M.Sc. (Teknologi Penangkapan Ikan-Puslitbangkan)
Anggota Penyunting:
Dr. Wijopriono (Puslitbangkan)
Dewan Penyunting:
Prof. Dr. Ir. Ngurah Nyoman Wiadnyana, DEA. (Ekologi Perairan-Puslitbangkan)
Prof. Dr. Ir. M.F. Rahardjo, DEA. (Iktiologi, Ekologi Ikan, Konservasi Sumber Daya Hayati Perairan-IPB)
Dr. Ir. Syahroma Husni Nasution, M.Si (Limnologi-LIPI)
Prof. Dr. Ali Suman (Biologi Perikanan Udang-BPPL)
Dr. Eko Sriwiyono, S.Pi, M.Si. (Teknologi Kapasitas Penangkapan Ikan-IPB)
Mitra Bebestari untuk Nomor ini:
Prof. Dr. Ir. Gadis Sri Haryani (Limnologi-LIPI)
Dr. Ir. Andin Taryoto, M.Si (Sosiologi Perikanan-Sekolah Tinggi Perikanan)
Ir. Duto Nugroho, M.Si. (Teknologi Penangkapan Ikan-Puslitbangkan)
Dr. Priyanto Rahardjo, M.Sc. (Biologi Konservasi-Sekolah Tinggi Perikanan)
Ir. Badrudin, M.Sc. (Komisi Nasional Pengkajian Stok Ikan)
Dr. Ir. Abdul Ghofar, M. Sc. (Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan-UNDIP)
Redaksi Pelaksana:
Dra. Endang Sriyati
Darwanto, S.Sos.
Administrasi:
Ofan Bosman, S.Pi
Alamat Redaksi/Penerbit:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan
Gedung Balitbang KP II, Jl. Pasir Putih II Ancol Timur Jakarta Utara 14430
Telp. (021) 64700928, Fax. (021) 64700929
Website : http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/
jppi
e-mail: [email protected]
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perikanan-Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan-Kementerian Kelautan dan Perikanan.
BEBESTARI PADA
JURNAL PENELITIAN PERIKANAN INDONESIA
1. Prof. Dr. Ir. Husnah, M. Phil. (Toksikologi-Puslitbangkan)
2. Prof. Ir. Badrudin, M.Sc. (Komisi Nasional Pengkajian Stok Ikan) 3. Prof. Dr. Sam Wouthuyzen (Oseanografi Perikanan-LIPI)
4. Prof. Dr. Ir. Endi Setiadi Kartamihardja, M. Sc. (Pengelolaan Perikanan PUD-Puslitbangkan) 5. Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, M. Si. (Metode Penangkapan Ikan-IPB)
6. Prof. Dr. Ir. Indra Jaya (Hidro Akustik Perikanan-IPB)
7. Prof. Dr. Ir. John Haluan, M. Sc. (Sistem Informasi Perikanan-IPB) 8. Prof. Dr. Ali Suman (Biologi Perikanan Udang-BPPL)
9. Prof. Dr. Ir. M.F. Rahardjo (Iktiologi, Ekologi Ikan, Konservasi Sumber Daya Hayati Perairan-IPB) 10. Prof. Dr. Ir. Setyo Budi Susilo, M.Sc. (Penginderaan Jauh-IPB)
11. Prof. Dr. Ir. Gadis Sri Haryani (Limnologi-LIPI)
12. Dr. Ir. Mochammad Riyanto, M.Si. (Teknologi Penangkapan Ikan-IPB) 13. Dr. Ir. Purwito Martosubroto (Komisi Nasional Pengkajian Stok Ikan) 14. Ir. Sasanti R. Suharti M.Sc. (Biologi Kelautan-P2O-LIPI)
15. Dr. Ir. Sudarto, M.Si. (Genetika Populasi-BP2BIH)
16. Dr. Ir. Mohammad Mukhlis Kamal, M. Sc. (Iktiologi, Rekruitmen Ikan, Fisiologi Respirasi, dan Biologi Konservasi Perairan-IPB)
17. Dr. Estu Nugroho (Sumber Daya Genetik Ikan-Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan)
18. Dr. Ir. Zairion, M. Sc. (Pengelolaan Sumber Daya Perikanan-IPB) 19. Dr. Ir. Zainal Arifin, M.Sc. (Kimia Oseanografi-LIPI)
20. Dr. Ir. Mas Tri Djoko Sunarno, MS. (Nutrisi-BPPBAT)
21. Dr. Ir. Abdul Ghofar, M. Sc. (Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan-UNDIP) 22. Drs. Suwarso, M.Si. (Sumber Daya Lingkungan-BPPL)
23. Drs. Bambang Sumiono, M. Si. (Biologi Perikanan-Puslitbangkan) 24. Ir. Duto Nugroho, M.Si. (Teknologi Penangkapan Ikan-Puslitbangkan) 25. Dr. Ir. Andin Taryoto, M.Si (Sosiologi Perikanan-Sekolah Tinggi Perikanan) 26. Dr. Priyanto Rahardjo, M.Sc. (Biologi Konservasi-Sekolah Tinggi Perikanan)
ii
UCAPAN TERIMAKASIH
Redaksi Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia (JPPI) mengucapkan terimakasih kepada para Bebestari yang telah berpartisipasi dalam menelaah naskah yang diterbitkan di jurnal ilmiah ini, sehingga jurnal ini dapat terbit tepat pada waktunya. mitra Bebestari yang berpartisipasi dalam terbitan Volume 22 Nomor 1 Maret 2016 adalah:
1.
Prof. Dr. Ir. Gadis Sri Haryani (Limnologi-LIPI)
2.
Dr. Ir. Andin Taryoto, M.Si (Sosiologi Perikanan-Sekolah Tinggi Perikanan)
3.
Ir. Duto Nugroho, M.Si. (Teknologi Penangkapan Ikan-Puslitbangkan)
4.
Dr. Priyanto Rahardjo, M.Sc. (Biologi Konservasi-Sekolah Tinggi Perikanan)
5.
Ir. Badrudin, M.Sc. (Komisi Nasional Pengkajian Stok Ikan)
6.
Dr. Ir. Abdul Ghofar, M. Sc. (Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan-UNDIP)
KATA PENGANTAR
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia (JPPI) di tahun 2016 memasuki Volume ke-22. Proses penerbitan jurnal ini dibiayai oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan tahun anggaran 2016. Semua naskah yang terbit telah melalui proses evaluasi oleh Dewan Redaksi, Reviewer oleh Bebestari dan editing oleh Redaksi Pelaksana.
Pengelolaan Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia (JPPI) di tahun 2016 mulai mengacu padaOpen Journal System(OJS). Dalam segi tampilan ada sedikit perubahan, yaitu:
1. Pencantuman p-ISSN dan e-ISSN di pojok kanan atas pada halaman kulit muka, halaman judul dan halaman daftar isi terbitan, tanpa titik dua
2. Pencantuman nomor daftar atau barcode ISSN di pojok kanan bawah pada halaman sampul belakang 3. Lembar khusus bebestari
4. Lembar ucapan terimakasih untuk bebestari yang terlibat dalam penelaahan pada tiap nomornya 5. Setiap lembar judul ada tambahan informasi mengenai website, alamat email dan informasi mengenai
jurnal JPPI, serta logo dan cover pada sebelah kiri dan kanannya
Informasi perubahan ini akan ditampilkan pada setiap kata pengantar selama 4 (empat) terbitan.
Penerbitan pertama di Volume 22 Nomor 2 tahun 2016 menampilkan tujuh artikel hasil penelitian perikanan di perairan Indonesia. Ketujuh artikel tersebut mengulas tentang: Analisis Hasil Per Penambahan Baru Perikanan Lobster Pasir (Panulirus homarus) di Perairan Aceh Barat, Dinamika Populasi dan Status Pemanfaatan Udang Windu (Penaeus monodon,Fabricus 1789) di Perairan Aceh Timur, Provinsi Aceh, Kualitas Air, Status Trofik dan Potensi Produksi Ikan Danau Diatas, Sumatera Barat, Evaluasi Stok Kepiting Bakau (Scylla serrata) di Perairan Pati dan Sekitarnya serta Opsi Pengelolaannya, Perbedaan Hasil Tangkapan Hiu dari Rawai Hanyut dan Dasar yang Berbasis di Tanjung Luar, Lombok, Analisis Perikanan Huhate di Perairan Larantuka, Flores, Pendekatan Sosial-Ekologi untuk Penilaian Kesesuaian Lokasi Restocking Panulirus homaruspada Beberapa Perairan di Indonesia.
Diharapkan tulisan ini dapat memberikan kontribusi bagi para pengambil kebijakan dan pengelola sumber daya perikanan di Indonesia. Redaksi mengucapkan terima kasih atas partisipasi aktif para peneliti dari lingkup dan luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan.
iv
e-ISSN 2502 - 6542
p-ISSN 0853 - 5884
JURNAL PENELITIAN PERIKANAN INDONESIA
Volume 22 Nomor 2 Juni 2016
DAFTAR ISI
Halaman i ii iii iv v-vii DAFTAR BEBESTARI...
UCAPAN TERIMAKASIH... KATA PENGANTAR ………... DAFTAR ISI ………..……….. KUMPULAN ABSTRAK ... Analisis Hasil Per Penambahan Baru Perikanan Lobster Pasir (Panulirus homarus) di Perairan Aceh Barat
Oleh: Duranta D. Kembaren, Tri Ernawati dan Bambang Sadhotomo...
Dinamika Populasi dan Status Pemanfaatan Udang Windu (Penaeus monodon,Fabricus 1789) di Perairan Aceh Timur, Provinsi Aceh
Oleh: Dimas Angga Hedianto Astri Suryandari dan Didik Wahju Hendro Tjahjo...
Kualitas Air, Status Trofik dan Potensi Produksi Ikan Danau Diatas, Sumatera Barat
Oleh: Samuel dan Vipen Adiansyah...
Evaluasi Stok Kepiting Bakau (Scylla serrata) di Perairan Pati dan Sekitarnya serta Opsi Pengelolaannya
Oleh: Tri Ernawati, Duranta D. Kembaren dan Bambang Sadhotomo...
Perbedaan Hasil Tangkapan Hiu dari Rawai Hanyut dan Dasar yang Berbasis di Tanjung Luar, Lombok
Oleh: Agus Arifin Sentosa, Nanang Widarmanto, Ngurah N. Wiadnyana dan Fayakun Satria...
Analisis Perikanan Huhate di Perairan Larantuka, Flores
Oleh: Mohamad Adha Akbar Suryanto, dan Setiya Triharyuni...
Pendekatan Sosial-Ekologi untuk Penilaian Kesesuaian LokasiRestocking Panulirus homarus pada Beberapa Perairan di Indonesia
JURNAL PENELITIAN PERIKANAN INDONESIA
Vol. 22 No.2 Juni 2016
KUMPULAN ABSTRAK
Lembar Abstrak
ANALISIS HASIL PER PENAMBAHAN BARU
PERIKANAN LOBSTER PASIR (Panulirus
homarus) DI PERAIRAN ACEH BARAT
Duranta D. Kembaren
JPPI Juni 2016, Vol 22 No. 2, Hal. 61-70 e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Lobster merupakan komoditas ekonomis penting yang tingkat pemanfaatannya sangat intensif sehingga harus dikelola secara berkelanjutan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis hasil per penambahan baru, biomassa per penambahan baru serta menghitung ukuran dan upaya penangkapan lobster yang dapat memberikan hasil per penambahan baru yang optimal. Tulisan ini didasarkan pada hasil penelitian lobster pasir di perairan Aceh Barat yang dilakukan pada tahun 2013. Nilai-nilai biologi populasi dari hasil penelitian tersebut digunakan sebagai data dasar dalam tulisan ini. Analisa model per penambahan baru dilakukan berdasarkan metode Boverton & Holt yang dimodifikasi sesuai saran Pauly sehubungan dengan pertumbuhan lobster yang bersifat allometrik. Hasil analisa menunjukkan bahwa hasil per penambahan baru lobster pasir meningkat seiring meningkatnya upaya sampai mencapai titik maksimum yaitu 90,5 g dan kemudian menurun secara gradual. Pada saat upaya penangkapan tinggi (> 1 tahun-1) dan ukuran tertangkap kecil (Lc < 70 mm), maka hasil per penambahan baru lobster pasir lebih cepat turun dibandingkan dengan pada saat upaya penangkapan rendah dan ukuran tertangkap besar (Lc > 70 mm). Biomassa per rekrut menurun secara signifikan seiring dengan bertambahnya jumlah upaya penangkapan dan kecilnya ukuran lobster yang tertangkap. Biomassa lobster pada saat ini berada pada kondisi 33,2% dari biomassa awal. Jumlah upaya pada saat ini lebih rendah dibandingkan jumlah upaya berdasarkan titik acauan F0.1 (Fcur= 0,77; F0.1= 0,85). Rata-rata ukuran tertangkap yang memberikan hasil per rekrut tertinggi diperoleh pada ukuran panjang karapas 72 mm. Oleh karena itu, disarankan agar ukuran minimum panjang karapas lobster pasir yang boleh ditangkap di perairan Aceh Barat ini sebesar 72 mm. Untuk tujuan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan disarankan untuk melakukan pemantauan ukuran panjang lobster yang tertangkap secara terus menerus agar biomassa lobster tidak menurun dari kondisi saat ini.
Kata Kunci: Hasil per penambahan baru; lobster pasir; Aceh Barat
DINAMIKA POPULASI DAN STATUS
PEMANFAATAN UDANG WINDU (Penaeus
monodon, Fabricus 1789) DI PERAIRAN ACEH TIMUR, PROVINSI ACEH
Dimas Angga Hedianto
JPPI Juni 2016, Vol 22 No. 2, Hal. 71-82 e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu komoditas perikanan udang utama di Kabupaten Aceh Timur dengan nilai ekonomi tinggi. Upaya pemanfaatannya masih banyak dilakukan menggunakan alat tangkap yang cenderung destruktif dan tidak selektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika populasi dan laju eksploitasi udang windu di perairan Aceh Timur pada Januari-Desember 2015. Analisis dengan menggunakan perangkat lunak FiSAT II dilakukan terhadap 6.426 ekor udang windu hasil tangkapan mini beam trawl, serta pukat layang dan langgih (mini bottom trawl) yang pencatatannya dilakukan enumerator secara bulanan. Hasil analisis didapatkan persamaan pertumbuhan udang windu gabungan ( jantan dan betina) adalah CLt= 86,63 [1-e -0,94(t+0,13)]. Laju mortalitas total (Z) tahunan yang
didapatkan pada penelitian ini sebesar 4,09 tahun-1, laju mortalitas alami (M) sebesar 1,31 tahun-1,dan laju mortalitas penangkapan (F) sebesar 2,78 tahun-1. Laju ekploitasi (E) didapatkan sebesar 0,68 tahun-1yang menunjukkan tingkat eksploitasi yang tinggi. Nilai panjang karapas asimptotik (CL”) udang windu jantan dan betina sebesar 65,63 mm dan 86,63 mm dengan laju pertumbuhan (K) untuk udang windu jantan dan betina sebesar 1,0 tahun-1 dan 1,1 tahun-1. Laju eksploitasi udang windu betina lebih tinggi dari pada udang jantan. Pola rekrutmen terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada April dan Agustus. Status stok udang windu, khususnya udang betina, berada pada kondisi lebih tangkap dan rentan terhadap eksploitasi. Upaya pengelolaan dan pemanfaatan udang windu yang lestari di perairan Aceh Timur perlu dilakukan dengan mengurangi laju eksploitasi sekitar 36% dari tingkat eksploitasi yang ada dan mengendalikan penggunaan alat tangkap yang destruktif khususnya di daerah asuhan udang windu.
vi Lembar Abstrak
KUALITAS AIR, STATUS TROFIK DAN POTENSI PRODUKSI IKAN DANAU DIATAS, SUMATERA BARAT
Samuel
JPPI Juni 2016, Vol 22 No. 2, Hal. 83-94 e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Kajian kualitas air, status trofik dan potensi produksi ikan di suatu danau memberikan informasi tentang bagaimana kondisi dan tingkat kesuburan air serta berapa besar kemampuan perairan dapat memproduksi ikan. Penelitian kualitas air, status trofik dan potensi produksi ikan di Danau Diatas, Sumatera Barat, bertujuan untuk mengevaluasi kondisi terkini tentang kualitas dan status trofik perairan danau serta mengestimasi potensi produksi ikannya. Parameter yang diukur adalah parameter fisika, kimia dan biologi perairan terdiri dari suhu, kecerahan, kedalaman, daya hantar listrik, pH, oksigen terlarut, karbondioksida bebas, alkalinitas, amonia, nitrat, fosfat, total fosfor dan klorofil-a. Pengukuran parameter dilaksanakan pada bulan Februari, Mei, September dan November 2015 di lima stasiun pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan perairan Danau Diatas mempunyai kualitas air yang masih baik untuk kehidupan ikan dengan nilai status trofik berkisar antara 37-44, mengklasifikasikan perairan pada tingkat kesuburan rendah-sedang. Rerata potensi produksi ikan sebesar 44 kg/ha/tahun, tergolong pada tingkat potensi produksi ikan yang rendah.
Kata Kunci: Kualitas air, status trofik, potensi produksi ikan, Danau Diatas
EVALUASI STOK KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI PERAIRAN PATI DAN SEKITARNYA SERTA OPSI PENGELOLAANNYA
Tri Ernawati
JPPI Juni 2016, Vol 22 No. 2, Hal. 95-104 e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Eksploitasi kepiting bakau secara berlebihan berdampak pada penurunan populasi kepiting bakau sehingga keberlanjutan stok akan terancam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status stok kepiting bakau di perairan Pati serta kemungkinan pengelolaannya. Penelitian dilakukan pada April-Desember 2015. Data-data parameter pertumbuhan, rata-rata matang gonad, rata-rata pertama kali tertangkap dan lain-lain sebagai bahan input untuk analisa SPR dan Y/R telah diperoleh pada hasil penelitian BPPL (2015). Analisa data dilakukan dengan SPR (Spawning Potential Ratio), Y/R (Yield per Recruit) dan B/R (Biomass per Recruit). Hasil analisa diperoleh SPR sebesar 7%, Y/R sebesar 55,03 gram per recruit (g/r) dan tersisa biomasa per recruit (B/ R) sebesar 7,9% dariBiomassa virgin. Pada F0.1dengan
nilai F sebesar 1,56 diperoleh Y/R sebesar 49 (g/r) dan tersisa B/R sebesar 15% dari biomassa virgin. Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa status stok kepiting bakau di perairan sekitar Pati telah mengalami overfishing. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya yang tepat dan rasional dalam pengelolaan, diantaranya dengan penutupan area penangkapan di nursery ground agar kepiting-kepiting muda memiliki peluang untuk tumbuh dewasa, pengurangan upaya penangkapan sebesar 30 – 43% dari upaya yang ada dan penentuan ukuran minimal yang tertangkap pada lebar karapas sebesar 12 cm.
Kata Kunci: B/R, kepiting bakau, SPR, status stok, Y/R, Pati
PERBEDAAN HASIL TANGKAPAN HIU DARI RAWAI HANYUT DAN DASAR YANG BERBASIS DI TANJUNG LUAR, LOMBOK
Agus Arifin Sentosa
JPPI Juni 2016, Vol 22 No. 2, Hal. 105-114 e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Kegiatan penangkapan hiu sebagai target tangkapan utama bagi perikanan rawai di Tanjung Luar, Lombok Timur berlangsung sepanjang tahun dengan upaya penangkapan yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil tangkapan hiu dari alat tangkap rawai hanyut dan rawai dasar yang dioperasikan oleh nelayan yang berbasis di PPI Tanjung Luar, Lombok Timur. Data tangkapan diperoleh melalui catatan enumerator di Tanjung Luar, Lombok Timur dari Januari – November 2015. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan laju pancingnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju tangkap rawai hiu yang dioperasikan nelayan Tanjung Luar berfluktuasi tiap bulan dengan rerata 12,97±6,131 ekor/hari dan rerata laju pancing 4,32 ± 2,23 ekor/100 pancing.Fishing Power Indexuntuk rawai hanyut dan dasar sebesar 1,00 dan 0,55. Laju tangkap cenderung mulai mengalami peningkatan pada April dan mencapai puncaknya sekitar November. Laju tangkap rawai hanyut lebih tinggi dibandingkan rawai dasar karena frekuensi hiu tertangkap lebih banyak pada rawai hanyut. Jenis hiu hasil tangkapan rawai dasar lebih beragam (26 jenis) dibanding rawai hanyut (18 jenis). Rawai hanyut cenderung lebih banyak menangkap jenis hiu dengan status konservasi rawan dan langka menurut Daftar Merah IUCN serta masuk dalam Appendiks CITES. Total hasil tangkapan hiu didominasi oleh Carcharhinus falciformis (42,12%),Prionace glauca(10,51%) danC. limbatus (10,32%). Jenis C. falciformis dan P. glauca cenderung lebih banyak tertangkap oleh rawai hanyut sedangkan C. limbatus banyak tertangkap oleh rawai dasar.
Lembar Abstrak
ANALISIS PERIKANAN HUHATE DI PERAIRAN LARANTUKA, FLORES
Mohamad Adha Akbar
JPPI Juni 2016, Vol 22 No. 2, Hal. 115-122 e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Informasi mengenai beberapa aspek perikanan huhate sangat diperlukan sebagai bahan untuk perencanaan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan di Larantuka, Flores Timur pada tahun 2014 dengan tujuan untuk menganalisis perikanan huhate sebagai salah satu tulang punggung perikanan TCT. Kegiatan penelitian diprioritaskan pada analisis unit alat tangkap, daerah penangkapan, komposisi hasil tangkapan dan estimasi Total Faktor Produktivitas (TFP) perikanan huhate. Basis data pengukuran adalah himpunan data pendaratan dan observasi lapang. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik armada terdiri dari kapal yang terbuat dari fibreglass dengan kisaran bobot kapal 6 - 30 GT. Daerah penangkapan di sekitar perairan Laut Sawu dan Laut Flores. Hasil tangkapan utama didominansi oleh cakalang (Katsuwonus pelamis) sebanyak 82%, juwana tuna (Thunnusspp.) 17% dan tongkol (Auxisspp.) 1% serta hasil tangkapan ikutan lemadang (Coryphaena hippurus) dan marlin (Makairaspp.) < 1%. Hasil analisis tangkapan per unit upaya (CPUE) memberikan nilai rata-rata sebesar 1,1 ton/trip (0,4-1,7 ton/trip) dengan nilai tertinggi terjadi pada Februari, sedangkan terendah terjadi pada Januari. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tren bulanan CPUE dan nilai TFP.
Kata Kunci: Cakalang; CPUE; TFP; huhate; Flores Timur
PENDEKATAN SOSIAL-EKOLOGI UNTUK
PENILAIAN KESESUAIAN LOKASIRESTOCKING
Panulirus homarusPADA BEBERAPA PERAIRAN DI INDONESIA
Amula Nurfiarini
JPPI Juni 2016, Vol 22 No. 2, Hal. 123-138 e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Stok lobster telah mengalami penurunan di berbagai perairan laut di Indonesia, sehingga memerlukan pemulihan/pengkayaan stok, diantaranya melalui restocking. Pada kenyataannya, kegiatan pemulihan stok melalui restocking yang tanpa diiringi kajian kesesuaian, sering mengalami kegagalan. Untuk itu diperlukan kesiapan lokasi baik secara ekologi maupun sistem sosial masyarakat pemanfaat yang berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan program. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lokasi yang sesuai untukrestockingbenih lobster pasir di beberapa
perairan Indonesia. Penelitian dilakukan di sembilan lokasi mewakili Pesisir Barat Sumatera dan sepanjang pantai Selatan Jawa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survei ekologi dan survei sosial. Kriteria pemilihan calon lokasirestockinglobster mencakup 43 aspek meliputi ekologi, perikanan, kelembagaan dan tata peraturan, kemudian di analisis menggunakan pendekatan pemeringkatan. Hasil penilaian lokasi pada aspek ekologi-perikanan menunjukkan bahwa kesesuaian lokasi penebaran memiliki kisaran nilai 159,2 – 236,7 pada skala 100– 300, sedangkan pada aspek kelembagaan-peraturan berada pada kisaran 152,81–295,41 pada skala yang sama. Jika dibandingkan dengan kriteria pengambilan keputusan terhadap tingkat kesesuaian habitat, menunjukkan sebanyak 17 lokasi berada pada kategori kelayakan tinggi, dan 11 lokasi kategori kelayakan sedang. Prioritas lokasi restocking, terpilih tiga lokasi dengan nilai kelayakan tertinggi yakni perairan Batu Karas dan Pananjung Barat (Pangandaran), serta Perairan Karang Asem (Trenggalek).
105
Copyright © 2016, Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia (JPPI)
Perbedaan Hasil Tangkapan Hiu Dari Rawai Hanyut dan…………..di Tanjung Luar, Lombok (Sentosa, A.A., et al)
Tersedia online di: http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/jppi e-mail:[email protected]
JURNALPENELITIANPERIKANANINDONESIA Volume 22 Nomor 1 Maret 2016
p-ISSN: 0853-5884 e-ISSN: 2502-6542
Nomor Akreditasi: 653/AU3/P2MI-LIPI/07/2015
PERBEDAAN HASIL TANGKAPAN HIU DARI RAWAI HANYUT DAN DASAR YANG
BERBASIS DI TANJUNG LUAR, LOMBOK
THE CATCH COMPOSITION DIFFERENCES OF DRIFT AND BOTTOM LONGLINE
BASED IN TANJUNG LUAR, LOMBOK
Agus Arifin Sentosa*1, Nanang Widarmanto1, Ngurah N. Wiadnyana2dan Fayakun Satria3
1Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Ikan, Jalan Cilalawi No. 01 Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat,
Indonesia-41152,
2Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Gedung Balitbang Kelautan dan Perikanan II, Jl. Pasir Putih II, Ancol
Timur Jakarta Utara, Indonesia-14430
3Balai Penelitian Perikanan Laut, Jl. Muara Baru Ujung, Komp. Pelabuhan Nizam Zachman, Jakarta Utara, Indonesia-14430 Teregistrasi I tanggal: 24 Juni 2016; Diterima setelah perbaikan tanggal: 27 September 2016;
Disetujui terbit tanggal: 03 Oktober 2016
ABSTRAK
Kegiatan penangkapan hiu sebagai target tangkapan utama bagi perikanan rawai di Tanjung Luar, Lombok Timur berlangsung sepanjang tahun dengan upaya penangkapan yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil tangkapan hiu dari alat tangkap rawai hanyut dan rawai dasar yang dioperasikan oleh nelayan yang berbasis di PPI Tanjung Luar, Lombok Timur. Data tangkapan diperoleh melalui catatan enumerator di Tanjung Luar, Lombok Timur dari Januari – November 2015. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan laju pancingnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju tangkap rawai hiu yang dioperasikan nelayan Tanjung Luar berfluktuasi tiap bulan dengan rerata 12,97±6,131 ekor/hari dan rerata laju pancing 4,32 ± 2,23 ekor/100 pancing. Fishing Power Index untuk rawai hanyut dan dasar sebesar 1,00 dan 0,55. Laju tangkap cenderung mulai mengalami peningkatan pada April dan mencapai puncaknya sekitar November. Laju tangkap rawai hanyut lebih tinggi dibandingkan rawai dasar karena frekuensi hiu tertangkap lebih banyak pada rawai hanyut. Jenis hiu hasil tangkapan rawai dasar lebih beragam (26 jenis) dibanding rawai hanyut (18 jenis). Rawai hanyut cenderung lebih banyak menangkap jenis hiu dengan status konservasi rawan dan langka menurut Daftar Merah IUCN serta masuk dalam Appendiks CITES. Total hasil tangkapan hiu didominasi olehCarcharhinus falciformis(42,12%),Prionace glauca(10,51%) danC. limbatus(10,32%). JenisC. falciformisdanP. glaucacenderung lebih banyak tertangkap oleh rawai hanyut sedangkan C. limbatus banyak tertangkap oleh rawai dasar.
Kata Kunci: Elasmobranchii; konservasi; laju tangkap; rawai; Tanjung Luar; Lombok Timur
ABSTRACT
An increase of effort on exploiting shark occurred in Tanjung Luar, East Lombok. This research aims to investigate the differences catch composition difference between drift longline and bottom longline in Tanjung Luar, East Lombok. Catch data were obtained from interview and port sampling on shark landing by enumerators between January to November 2015. Data were analysed descriptively by calculating catch rate and hook rate. The results show that the effort of shark longline was monthly fluctuated, it increased on April and reached the peak in November. The average of catch rate and hook rate were 12,97±6,131 ind/days and 4,32±2,23 ind/100 hooks, respectively. The fishing power index of the drift and bottom longlines were 1,00 and 0,55 respectively. The bottom longline caught more species (26 species) than drift longline (18 species). The drift longline likely caught sharks that catagorized as “Vulnerable” and “Endangered” according to the IUCN
___________________ Korespondensi penulis:
J.Lit.Perikan.Ind. Vol.22 No.2 Juni 2016:
PENDAHULUAN
Perikanan rawai hiu di Tanjung Luar merupakan perikanan artisanal yang mana nelayan penangkap hiu sebagian besar masih bersifat tradisional dengan kekuatan armada kapal yang masih relatif kecil. White et al. (2012) menyatakan bahwa hasil perikanan rawai di Tanjung Luar didominasi oleh tangkapan hiu sekitar 93% dari total tangkapan berdasarkan survei pasar antara tahun 2001 dan 2011. Hiu yang didaratkan di Tanjung Luar umumnya masih utuh dan seluruh bagian tubuhnya dimanfaatkan, tidak hanya siripnya saja.
Zainudin (2011) menyebutkan bahwa sumber daya perikanan hiu di Indonesia telah mengalami penurunan dengan indikator hasil tangkapan per upaya (CPUE) nelayan yang cenderung semakin rendah hingga mencapai 26-50%, lokasi penangkapan yang semakin jauh; sem akin m arak dan tingginya tingkat penangkapan. Penangkapan hiu, sebagaimana penangkapan ikan-ikan Elasmobranchii lainnya, memberikan dampak berupa risiko tinggi bagi keberadaan populasi hiu tersebut (Fahmi & Dharmadi, 2015; Dharmadi et al., 2015). Berdasarkan karakteristik biologinya, hiu sangat rentan terhadap tekanan penangkapan berlebih (Musicket al., 2000; Galluccciet al., 2006) karena siklus hidupnya yang panjang, pertumbuhan dan kematangan kelaminnya yang lambat serta fekunditasnya yang rendah (Last & Steven, 1994; Castroet al., 1999; Stobutzkiet al., 2002). Oleh karena itu, terkait kegiatan penangkapan hiu dengan rawai diperlukan upaya pengembangan dan modifikasi teknologi penangkapan ikan untuk mencegah tertangkapnya hiu-hiu yang berukuran kecil atau masih tahap juvenil (Lack & Sant, 2006).
Tingginya permintaan sirip hiu menyebabkan upaya penangkapan hiu di Indonesia cenderung meningkat, bahkan Indonesia telah menjadi salah satu negara penangkap hiu terbesar di dunia (Lack & Sant, 2011). Blaber et al. (2009) lebih jauh menyebutkan fenomena tangkap lebih pada perikanan hiu Indonesia. Fahmi & Dharmadi (2015) menyatakan bahwa Samudera Hindia bagian Timur merupakan bagian Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 573 yang paling parah mengalami tangkap lebih yang diindikasikan dengan penurunan total tangkapan hiu
yang didaratkan selama periode 2006 – 2010. Daerah penangkapan hiu oleh nelayan Tanjung Luar dengan rawai sebagian besar berada di WPP 573 sehingga penting untuk mengetahui fluktuasi laju tangkap atau yang juga dikenal sebagai hasil tangkapan per satuan upaya pada rawai hiu yang dioperasikan oleh nelayan yang berbasis di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Dharmadi et al. (2013) menyebutkan bahwa sebagian besar jenis hiu dan pari dari berbagai jenis yang didaratkan di Tanjung Luar umumnya tertangkap dengan pancing rawai yang dioperasikan di permukaan (rawai hanyut) dan di dasar perairan (rawai dasar). Rawai tersebut telah dimodifikasi untuk menangkap hiu sehingga sering juga disebut rawai hiu. Widodo & Suadi (2006) menyatakan bahwa laju tangkap dapat digunakan sebagai indeks kelimpahan ikan sehingga dapat menduga ukuran populasi relatif suatu populasi ikan di perairan. Penelitian terkait laju tangkap perikanan hiu di W PP 573 umumnya banyak dilakukan untuk kasus hasil tangkapan sampingan pada perikanan tuna (Prisantosoet al., 2010; Novianto & Nugraha, 2014; Kurniawanet al., 2016). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fluktuasi laju tangkap dari alat tangkap rawai hiu yang dioperasikan oleh nelayan yang berbasis di PPI Tanjung Luar, Lombok Timur. Informasi terkait laju tangkap penting diketahui untuk menganalisis indeks kelimpahan populasi hiu khususnya di daerah penangkapan ikan oleh nelayan Tanjung Luar. Hasil kajian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi pengelolaan sumber daya perikanan hiu yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (Gambar 1). Data diperoleh dari catatan enumerator terkait operasional penangkapan oleh nelayan rawai hiu yang berbasis di PPI Tanjung Luar yang meliputi jumlah trip, jenis rawai (dasar atau hanyut) dan total hasil tangkapan untuk periode Januari hingga November 2015. Identifikasi jenis hiu yang tertangkap dilakukan mengacu panduan identifikasi oleh Compagnoet al. (1998) dan Whiteet al.(2006). 105-114
Red List and CITES’s appendix. The catch composition was dominated by Carcharhinus falciformis (42,12%), Prionace glauca (10,51%) and C. limbatus (10,32%. C. falciformis and P. glauca likely caught by drift longline while C. limbatus caught by bottom longline.
107
Copyright © 2016, Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia (JPPI) Gambar 1.Peta lokasi penelitian di PPI Tanjung Luar.
Figure 1. Site map of research in Tanjung Luar fish landing site. Data hasil tangkapan dan upaya penangkapan
yang diperoleh kemudian dibuat tabulasi untuk menentukan laju tangkap berdasarkan nilai hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan dengan rumus menurut Effendie (2002):
...…1)
Perhitungan laju tangkap dilakukan terhadap rawai hiu yang telah distandardisasi denganFishing Power Index(FPI) terhadap alat tangkap yang efektif dengan rumus menurut Imron (2008):
……2)
Laju pancing juga dihitung berdasarkan jumlah hiu yang tertangkap oleh 100 mata pancing yang dioperasikan pada setiap trip penangkapan hiu.
…...3)
HASIL DAN BAHASAN Hasil
Spesifikasi teknis alat tangkap rawai hanyut (drift longline) dan rawai dasar (bottom longline) yang
digunakan oleh nelayan hiu yang berbasis di PPI Tanjung Luar disajikan dalam Tabel 1.
Selama penelitian tercatat 248 trip penangkapan yang terdiri atas 122 trip dengan rawai hanyut dan 126 trip dengan rawai dasar dengan total tangkapan 4.748 ekor seluruh jenis dan total bobot sekitar 236,5 ton. Nilai laju tangkap yang telah distandardisasi dan laju pancing disajikan dalam Tabel 2 dengan rerata nilai FPI sebesar 1 untuk rawai hanyut dan 0,55 untuk rawai dasar. Tabel 2 menunjukkan fenomena fluktuasi laju tangkap yang cenderung mulai mengalami peningkatan mulai April dan mencapai puncaknya sekitar November kemudian setelah itu mengalami penurunan kembali.
Nilai laju tangkap antara rawai hanyut dengan rawai dasar yang telah distandardisasi mengalami perbedaan yang cukup signifikan (P<0,05) karena perbedaan waktu dan teknik penangkapan. Perbedaan laju tangkap antara rawai hanyut dan rawai dasar dengan satuan individu/100 mata pancing disajikan pada Gambar 2. Laju tangkap rawai hanyut cenderung lebih besar dibandingkan rawai dasar karena rawai hanyut bersifat dinamis dan hanyut mengikuti arus sehingga peluang tertangkapnya hiu relatif lebih besar dibandingkan rawai dasar yang cenderung statis pada lokasi yang telah ditentukan.
Trip Hari Jumlah
(kg) Tangkapan Total
Tangkap
Laju
standar CPUE
i CPUE (FPI)
Index Power
Fishing
pancing mata
100
(ekor) Tertangkap Hiu
Jumlah Pancing
Laju
J.Lit.Perikan.Ind. Vol.22 No.2 Juni 2016:
Tabel 1. Spesifikasi alat tangkap rawai hiu di Tanjung Luar
Table 1. Specification of fishing gear of shark longline in Tanjung Luar
Spesifikasi/
Specification
Rawai Dasar/
Bottom longline
Rawai Hanyut/
Drift longline
Panjang tali utama (m) 3.000 – 4.000 8.000 – 12.000
Panjang tali cabang (m) 4 - 6 4 - 8
Jumlah mata pancing (buah) 30 - 200 250 - 500
Jarak antar pancing (m) 5 - 10 20 – 30
No. mata pancing, panjang, lebar, diameter (mm)
0 – 1 (p: 60 – 65, l: 30 – 35, d: 4)
0 – 1 (p: 60 – 65, l: 30 – 35, d: 4)
Bahan tali Nylon Nylon
Diameter tali utama (mm) 4 - 6 4 - 6
Tabel 2. Laju tangkap rawai hiu yang berbasis di Tanjung Luar Table 2. Catch rate of shark longline based in Tanjung Luar
Bulan 2015/
Month 2015
Total Tangkapan/
Total Catch
Upaya (hari trip)/
Effort (days trip)
Laju Tangkap (ekor/hari) /
Catch Rate (ind/days)
Laju Pancing (ekor/100 pancing)
/Hook rate (ind/100 hooks)
Individu kg
Januari 62 3.264,9 8,0 7,73 0,62
Februari 203 7.077,2 23,2 8,77 2,03
Maret 213 6.582,1 9,5 22,51 2,13
April 328 12.640,7 16,7 19,66 3,28
Mei 456 24.730,9 29,1 15,65 4,56
Juni 602 31.270,6 26,8 22,45 6,02
Juli 388 18.450,2 37,8 10,26 3,88
Agustus 453 23.723,0 37,8 11,97 4,53
September 757 38.320,3 74,1 10,21 7,57
Oktober 537 27.804,6 65,9 8,15 5,37
November 749 42.650,4 141,2 5,31 7,49
Total 4748 236.514,9 470,1 142,66 47,48
Rerata 431,64 21.501,4 42,7 12,97 4,32
Deviasi 222,96 13.159,5 38,8 6,131 2,230
Gambar 2.Perbandingan laju tangkap antara rawai hanyut dengan rawai dasar pada 2015. Figure 2. Catch rate comparison between drift and bottom longline in 2015.
109
Copyright © 2016, Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia (JPPI) Komposisi hasi tangkapan rawai hiu disajikan
dalam Tabel 3. Total hasil tangkapan hiu yang tertangkap rawai, baik hanyut maupun dasar didominasi olehCarcharhinus falciformis(42,12%), Prionace glauca(10,51%) danCarcharhinus limbatus (10,32%) dimana semuanya berasal dari famili Carcharhinidae (requiem shark). Nilai laju pancing
ketiga spesies hiu dominan tersebut disajikan pada Gambar 3. Jenis hiu C. falciformis dan P. glauca cenderung lebih banyak tertangkap oleh rawai hanyut, sedangkanC. limbatusbanyak tertangkap oleh rawai dasar. Laju tangkap masing-masing spesies hiu dominan yang didaratkan di Tanjung Luar berfluktuasi setiap bulannya.
Tabel 3. Komposisi hiu hasil tangkapan rawai
Tabel 3. Sharks catch composition from longline fishing
No Spesies Hiu Status Konservasi
IUCN & CITES
Tangkapan Rawai (ekor)
Hanyut Dasar
1 Alopias pelagicus VU, NE 77 7
2 Alopias superciliosus VU, NE 51 1
3 Carcharhinus albimarginatus NT, NE 16 66
4 Carcharhinus brevipinna NT, NE 47 32
5 Carcharhinus falciformis NT, NE 1741 259
6 Carcharhinus limbatus NT, NE 120 370
7 Carcharhinus melanopterus NT, NE 2 4
8 Carcharhinus obscurus VU, NE 30 100
9 Carcharhinus sorrah NT, NE 5 24
10 Chilosyllium punctatum NT, NE 1 11
11 Galeocerdo cuvier NT, NE 192 201
12 Hemitriakissp. 1 NE - 23
13 Heptranchias perlo NT, NE - 5
14 Hexanchus griseus NT, NE - 2
15 Hexanchus nakamurai DD, NE 1 13
16 Isurus oxyrinchus VU, NE 176 12
17 Isurus paucus VU, NE 45
-18 Orectolobus cf ornatus NE - 39
19 Prionace glauca NT, NE 467 32
20 Pseudotriakis microdon DD, NE - 7
21 Sphyrna lewini EN, Appendix II 193 124
22 Sphyrna mokarran EN, Appendix II 102 28
23 Squalus cfsp. NE - 5
24 Squalussp. NE - 71
25 Squalussp.1 NE - 2
26 Stegostoma fasciatum VU, NE - 1
27 Triaenodon obesus NT, NE 3 40
Total 3269 1479
Keterangan: EN (Langka/Endangered), VU (Rawan/Vulnerable), NT (Hampir Terancam/Near Threatened), DD (Data Kurang/Data Deficient), NE (Tidak Dievaluasi/Not Evaluated).
J.Lit.Perikan.Ind. Vol.22 No.2 Juni 2016:
Gambar 3.Laju tangkap beberapa hiu dominan yang tertangkap rawai di Tanjung Luar. Figure 3. Catch rate for some dominant sharks caught by longline in Tanjung Luar. Bahasan
Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Tanjung Luar merupakan salah satu basis pendaratan hiu terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat, bahkan juga merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia mengingat ikan-ikan bertulang rawan (Elasmobranchii) seperti hiu dan pari menjadi target tangkapan utama bagi nelayan (Blaberet al., 2009; Whiteet al., 2012; Dharmadiet al., 2013). Jenis-jenis hiu yang didaratkan di PPI Tanjung Luar sebagian besar berasal dari nelayan setempat disamping ada pula yang berasal dari nelayan luar yang ingin mendaratkan dan memasarkan hasil tangkapan ikan hiu, baik sebagai target maupun sebagai hasil sampingan (Fahmi & Dharmadi, 2015).
Alat tangkap utama yang digunakan dalam aktivitas penangkapan hiu oleh nelayan yang berbasis di PPI Tanjung Luar adalah rawai hanyut (drift longline) dan rawai dasar (bottom longline). Menurut Sudirman & Mallawa (2004), rawai terdiri atas rangkaian tali utama (main line), pelampung (float) dan tali pelampung (float line) dimana pada tali utama pada jarak tertentu terdapat beberapa tali cabang (branch line) yang lebih pendek dan lebih kecil diameternya, dan di ujung tali cabang terdapat mata pancing (hook) yang berumpan. Pengoperasian alat tangkap rawai oleh nelayan Tanjung Luar umumnya dilakukan sepanjang tahun. Kapal yang digunakan untuk mengoperasikan rawai hiu adalah sebagian besar dari kapal kayu yang berukuran panjang sekitar 14 -15 meter, lebar 1,0 – 1,5 meter dan tinggi 1 meter menggunakan dua buah mesin motor penggerak berdaya masing-masing sekitar 25 - 30 tenaga kuda. Nelayan hiu yang
berbasis di Tanjung Luar umumnya memiliki daerah penangkapan di perairan laut sekitar Pulau Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba hingga Rote yang termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 573.
Bahtiar et al. (2013) menyatakan bahwa rawai merupakan alat tangkap yang efektif karena bersifat pasif dalam pengoperasiannya sehingga tidak merusak sumber daya hayati yang ada di perairan. Namun, pernyataan tersebut perlu ditinjau kembali karena adanya isu internasional terkait hasil tangkapan sampingan (by-catch) terhadap spesies-spesies yang saling berinteraksi secara ekologi seperti studi kasus pada tuna, hiu, pari, penyu, burung laut, mamalia laut dan beberapa ikan spesies lainnya yang memiliki karakteristik sensitif terhadap peningkatan mortalitas akibat penangkapan karena berumur panjang, waktu matang kelamin yang lama dan laju reproduksi yang lambat (Williams, 1997; Gilmanet al., 2008). Informasi terkait laju tangkap hiu dengan rawai perlu diketahui untuk mengetahui seberapa besar dampak penggunaan rawai terhadap perikanan hiu, termasuk perkembangan fluktuasi laju tangkapnya pada setiap periode.
111
Copyright © 2016, Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia (JPPI) memakan umpan dibandingkan rawai dasar yang
pemasangannya di dasar perairan dan cenderung pasif. Selain itu, walau jumlah trip penangkapan dengan rawai dasar lebih banyak dibandingkan dengan rawai hanyut, namun jumlah hari trip rawai hanyut lebih lama dengan wilayah penangkapan yang lebih luas dibandingkan operasional rawai dasar yang cenderung dipasang m enetap sehingga laju tangkapnya lebih rendah.
Standardisasi perhitungan laju tangkap rawai hiu dilakukan karena terdapat perbedaan teknik operasional penangkapan antara rawai hanyut dan rawai dasar dimana rawai hanyut cenderung menangkap jumlah hiu lebih banyak dibandingkan rawai dasar. Laju tangkap rawai hiu terstandardisasi yang dioperasikan nelayan Tanjung Luar berfluktuasi tiap bulan dengan rerata 12,97±6,131 ekor/hari dan rerata laju pancing 4,32±2,23 ekor/100 pancing. Aktivitas penangkapan hiu dilakukan sepanjang tahun namun setiap bulan terdapat fluktuasi laju tangkap yang membentuk pola tertentu. Laju tangkap rawai hiu selama 2015 cenderung menurun sejak Januari hingga Maret namun kemudian mulai mengalami peningkatan pada April dan mencapai puncaknya sekitar November.
Data laju tangkap dapat digunakan sebagai indek kelimpahan ikan di suatu perairan sehingga dapat menjadi indikator daerah dan musim penangkapan ikan (Sparre & Venema, 1999; Effendie, 2002). Kecenderungan naik turunnya laju tangkap dan frekuensi ukuran ikan dapat menunjukkan kondisi stok terhadap tingkat kematian akibat penangkapan (Widodo & Suadi, 2006). Pola musim penangkapan hiu oleh nelayan yang berbasis di Tanjung Luar tersebut cenderung hampir sama dengan laporan Whiteet al. (2012) dan Dharmadiet al.(2013) namun sedikit berbeda dengan Faizahet al. (2013). Musim penangkapan hiu terkait dengan angin monsoon yang menyebabkan musim barat, musim peralihan dan musim timur. Pada periode Maret hingga Oktober sedang terjadi musim peralihan menuju musim timur hingga musim timur selesai dimana pada periode tersebut kondisi laut cenderung tenang. Jumlah armada kapal yang beroperasi pada periode tersebut lebih banyak dibanding saat musim barat karena kondisi ombak/gelombang relatif kecil sehingga memudahkan nelayan dalam upaya penangkapan oleh armada kapal penangkap hiu yang aman (Fahmi & Dharmadi, 2013).
Komposisi tangkapan rawai hiu didominasi oleh Carcharhinus falciformis(42,12%),Prionace glauca (10,51%) danC. limbatus(10,32%) dengan rerata laju pancing antara rawai hanyut dan rawai dasar yang
berbeda (Gambar 3). Hiu kejen/lanjaman (C. falciformis) tercatat dengan laju pancing tertinggi mengingat jenis tersebut merupakan jenis yang dominan tertangkap. Tangkapan C. falciformis dominan karena jenis tersebut merupakan jenis hiu yang umum tertangkap rawai oleh nelayan yang berbasis di Tanjung Luar (Dharmadiet al., 2009; White et al., 2012; Wildlife Conservation Society, 2014) dan mengindikasikan bahwa kelimpahan jenis tersebut di daerah penangkapan hiu oleh nelayan Tanjung Luar di WPP 573 Samudera Hindia relatif melimpah.
Jenis hiu yang bersifat penjelajah samudera (oseanik) umum tertangkap pada rawai hanyut, namun juga terkadang tertangkap pada rawai dasar bersama hiu-hiu dasar. Komposisi tangkapan rawai hanyut terdiri atas 18 jenis hiu lebih sedikit dibandingkan rawai dasar yang mencapai 26 jenis. Hal tersebut dikarenakan rawai hanyut umumnya hanya tertangkap jenis-jenis hiu pelagis/oseanik sementara rawai dasar selain tertangkap hiu pelagis juga tertangkap hiu yang hidup di dekat dasar perairan (demersal) sehingga keragaman jenisnya lebih banyak. Namun jika dilihat dari jumlah total tangkapannya, hasil tangkapan rawai hanyut lebih banyak dibandingkan rawai dasar mengingat sifat mata pancing rawai hanyut yang relatif lebih menarik hasil tangkapan dibandingkan mata pancing rawa dasar yang cenderung tidak bergerak karena tidak hanyut akibat pengaruh arus.
Hasil penelitian tahun 2015 relatif lebih beragam jika dibandingkan dengan laporan Faizahet al. (2013) yang menyebutkan hanya sekitar 14 spesies hiu yang tertangkap oleh rawai hanyut dan 16 spesies oleh rawai hiu dasar di Tanjung Luar. Hal tersebut dapat diduga karena daerah penangkapan pada 2015 relatif lebih luas jika dibandingkan pada 2013 sehingga jenis hiu yang ditangkap lebih beragam. Hasil tangkapan hiu juga berfluktuatif berdasarkan jenis dan waktu.
J.Lit.Perikan.Ind. Vol.22 No.2 Juni 2016:
didominasi oleh jenis hiu tikusan (Alopiasspp.). Hal tersebut menunjukkan jenis hiu dominan sangat terkait dengan habitatnya.
Rawai hanyut cenderung menangkap hiu-hiu pelagis atau oseanik sementara rawai dasar difokuskan untuk menangkap hiu-hiu dasar atau demersal serta fokus pada hiu yang dimanfaatkan untuk diambil minyak hatinya (squalen) seperti hiu-hiu dari famili Hexanchidae, Centrophoridae, dan Squalidae yang umumnya hidup di dasar perairan dekat paparan dan bagian atas lereng benua (White et al., 2006; Dharmadi et al., 2009). Gilmanet al. (2008) menyebutkan bahwa kedalaman rawai dan waktu operasional rawai akan berpengaruh terhadap laju tangkap hiu yang bisa jadi disebabkan oleh perbedaan preferensi habitat (umumnya suhu perairan). Williams (1997) melaporkan bahwa P. glauca dan C. falciformismemiliki CPUE 2,7 dan 6,4 kali lebih besar pada alat tangkap yang dipasang di perairan dangkal atau di dekat permukaan dibandingkan yang dipasang di dasar perairan Barat Pasifik pada perikanan rawai tuna.
Rawai dasar cenderung lebih banyak menangkap jenis hiu dibandingkan rawai hanyut walaupun secara jumlah individu tangkapan lebih dominan. Kondisi tersebut terkait dengan lokasi penangkapannya yang berada di paparan benua. Fahmi & Dharmadi (2013) menyatakan bahwa keragaman tertinggi ikan hiu di Indonesia umumnya berada di daerah paparan benua, mulai dari perairan pantai hingga tepian benua (kedalaman hingga 150 m).
Penangkapan hiu dengan rawai dasar perlu dikelola mengingat jika dilakukan secara masif dan terus-menerus dapat menyebabkan tekanan terhadap keragaman jenis hiu. Hasil tangkapan rawai hanyut walaupun jumlah jenis hiu yang tertangkap relatif lebih sedikit dibandingkan rawai dasar, namun peluang jumlah individu hiu yang tertangkap cukup banyak, terutama dari jenis-jenis hiu pelagis atau oseanik. Namun, rawai hanyut justru banyak menangkap jenis-jenis hiu yang memiliki status konservasi yang perlu perhatian secara teliti berdasarkan Daftar Merah IUCN dan konvensi CITES.
Rawai hanyut cenderung lebih banyak menangkap jenis hiu dengan status konservasi rawan dan langka menurut Daftar Merah IUCN serta masuk dalam Appendiks CITES. Tabel 3 menunjukkan bahwa berdasarkan status konservasinya dalam Red List International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources(Daftar Merah IUCN), 27 jenis hiu yang tertangkap rawai berstatus Hampir Terancam (NT) (44,44%) diikuti oleh statusRawan(VU) (22,22%),
sedangkan berdasarkan CITES terdapat 2 spesies hiu yang masuk dalam Appendix II CITES, yaitu dari kelompok hiu martil (Sphyrnidae), yaituSphyrna lewini danS. mokarran. Jenis hiu hasil tangkapan rawai dasar lebih beragam (26 jenis) dibanding rawai hanyut (18 jenis). Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian mengingat hiu sangat rentan terhadap aktivitas penangkapan yang berlebih (Dulvyet al., 2014). Alat tangkap rawai tidak selektif terhadap jenis tertentu sehingga terdapat peluang jenis hiu yang sudah dilindungi atau populasinya tertekan dapat saja tertangkap. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah tertangkapnya beberapa jenis hiu antara lain dengan mengatur kedalaman pancing dan operasional rawai serta penggunaan mata pancing melingkar (Morgan & Carlson, 2010).
Peraturan terkait upaya pengelolaan perikanan hiu merupakan salah satu alat konservasi yang umum digunakan dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya hiu (Sybersma, 2015; Dharmadiet al., 2015). Terkait hiu sebagai target tangkapan utama, pengaturan penangkapan lebih ditekankan kepada pembatasan upaya penangkapan pada wilayah yang diduga sebagai daerah pemijahan dan pengasuhan serta pada jenis-jenis hiu tertentu yang sudah dibatasi penangkapannya dan terdapat peluang untuk melepaskan kembali hiu yang tertangkap dalam kondisi hidup jika memungk inkan dan tidak membahayakan. Jika dalam kondisi mati, sebaiknya hiu tersebut tetap didaratkan dengan dicatat jenis dan beberapa data pendukung lainnya seperti ukuran tubuh, jenis kelamin dan lain-lain untuk dilaporkan kepada petugas di pelabuhan.
KESIMPULAN
Jenis hiu hasil tangkapan rawai dasar lebih beragam (26 jenis) dibanding rawai hanyut (18 jenis). Rawai hanyut cenderung lebih banyak menangkap jenis hiu dengan status konservasi rawan dan langka menurut Daftar Merah IUCN serta masuk dalam Appendiks CITES. Laju tangkap rawai hiu yang dioperasikan nelayan Tanjung Luar cenderung berfluktuasi setiap bulan dimana mulai mengalami peningkatan mulai April dan mencapai puncaknya sekitar November dengan rerata 12,97±6,131 ekor/ hari dan rerata laju pancing 4,32±2,23 ekor/100 pancing. Laju tangkap rawai hanyut lebih tinggi dibandingkan rawai dasar dengan perbandingan 2 : 1. Total hasil tangkapan didominasi olehCarcharhinus falciformis(42,12%),Prionace glauca(10,51%) dan C. limbatus (10,32%) dimanaC. falciformis dan P. glaucacenderung lebih banyak tertangkap oleh rawai hanyut sedangkan C. limbatus banyak tertangkap oleh rawai dasar.
113
Copyright © 2016, Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia (JPPI) PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan kontribusi dari kegiatan penelitian “Keragaan Upaya Perlindungan dan Konservasi Jenis Hiu di Perairan Nusa Tenggara Barat”, Tahun Anggaran 2015 di Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Ikan. Terima kasih disampaikan kepada seluruh pihak yang telah mendukung terhadap pelaksanaan penelitian. DAFTAR PUSTAKA
Bahtiar, A., Barata, A. & Novianto, D.. (2013). Sebaran laju pancing rawai tuna di Samudera Hindia.J. Lit. Perikan. Ind,19 (4), 195 – 202.
Blaber, S.J.M., Dichm ont, C.M., W hite, W., Buckworth, R., Sadiyah, L, Iskandar, B., Nurhakim, S., Pillans, R., Andamari, R., Dharmadi, & Fahmi. (2009). Elasmobranchs in southern Indonesian fisheries: the fisheries, the status of the stocks and management options.Reviews in Fish Biology and Fisheries,19,367 – 391.
Castro, J.I., Woodley, C.M., & Brudek, R.L. (1999). A preliminary evaluation of the status of shark species(p. 72). FAO. Fisheries Technical Paper No. 380. Rome: Food and Agricultural Organization. Compagno, L.J.V. (1998). Sharks. In K.E. Carpenter & Niem, V.H. (eds).FAO Identification guide for fishery purposes. the living marine resources of the Western Central Pacific. Vol. 2. Cephalopods, Crustaceans, Holuthurians, and Sharks(pp. 1193 – 1366). Rome: Food and Agriculture Organization. Dharmadi, Suprapto, & W idodo, A.A. (2008). Komposisi dan fluktuasi hasil tangkapan ikan cucut dominan yang tertangkap rawai tuna permukaan. J. Lit. Perikan. Ind., 14 (4), 371 – 377.
Dharmadi, Fahmi, & White, W. (2009). Biodiversity of sharks and rays in South-Eastern Indonesia.Ind. Fish. Res. J.,15 (1), 17 – 28.
Dharmadi, Faizah, R., & Sadiyah, L. (2013). Shark longline fishery in Tanjung Luar East Lombok.Ind. Fish. Res. J.,19 (1), 39 – 46.
Dharmadi, Fahmi, & Satria, F. (2015). Fisheries management and conservation of sharks in Indonesia.African Journal of Marine Science,37 (2), 249 – 258.
Dulvy, N.K., Fowler, S.L., Musick, J.A., Cavanagh, R.D., Kyne, P.M., Harrison, L.R., Carlson, J.K., Davidson,
L.NK., Fordham, S.V., Francis, M.P., Pollock, C.M., Simpfendorfer, C.A., Burgess, G.H., Carpenter, K.E., Compagno, L.J.V., Ebert, D.A., Gibson, C., Heupel, M.R., Livingstone, S.R.., Sanciangco, J.C., Stevens, J.D., Valenti, S., & White, W.T. (2014). Extinction risk and conservation of the world’s sharks and rays.eLife Research Article 3, eLife.00590 3. DOI: 10.7554/ eLife.00590. 35 p.
Effendie,M.I.(2002).Biologiperikanan(p.163).Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.
Fahmi, & Dharmadi. (2013).Tinjauan status perikanan hiu danupaya konservasinyadiIndonesia(p.179).Jakarta: DirektoratKonservasiKawasandanJenisIkanDirektorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Fahmi, & Dharmadi. (2015). Pelagic shark fisheries of
Indonesia’s Eastern Indian Ocean Fisheries ManagementRegion.AfricanJournalofMarineScience, 37(2), 259 – 265.
Faizah, R., Sadiyah, L., & Dharmadi. (2013). Komposisi jenis cucut hasiltangkapanrawaicucut yangdidaratkan di PPI Tanjung Luar , Lombok Timur.InKartamihardja et al.(eds).Prosiding Forum Nasional Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan IV. (KSI-PI 43: pp 1 – 11). Purwakarta: Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Ikan.
Galluccci, V.F.,Taylor, I.G., &Erzini, K. (2006). Conservation andmanagement of exploited shark populations based in reproductive value.Can. J. Fish. Aquat. Sci.,63, 931 – 942.
Gilman, E., Clarke, S., Brothers, N., Alfaro-Shigueto, J., Mandelman, J., Mangel, J., Petersen, S., Piovano, S., Thomson, N., Dalzell, P., Donoso, M., Goren, M. & Werner,T. (2008). Shark interactions in pelagic longline ûsheries.Marine Policy,32, 1 – 18.
Imron, M. (2008). Pemanfaatan sumberdaya perikanan demersal yang berkelanjutan di perairan Tegal Jawa Tengah (p. 226).Tesis Pasca Sarjana. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Kurniawan, R., Barata, A., & Nugroho, S.C. (2016). Laju pancing (hook rate), panjang HiuAer (Prionace glauca) dan daerah penangkapannya di Samudera Hindia. In Dharmadi, & Fahmi (eds).Prosiding Simposium Hiu danPari diIndonesia(pp.63-68). Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Lack, M., &Sant, G.(2006).Confrontingshark conservation head on (pp. 35). Cambridge, UK: TRAFFIC International.
J.Lit.Perikan.Ind. Vol.22 No.2 Juni 2016:
Lack, M., & Sant, G. (2011).The Future of Sharks : A Review of Action and Inaction(pp. 41). Washington, D.C.:TRAFFIC International and the Pew Environment Group.
Last, P.R., & Stevens, J.D. (1994).Sharks and rays of Australia(p. 513). Australia: Fisheries Research and DevelopmentCorporation.
Mandelman, J.W., Cooper, P.W., Werner,T.B., & Lagueux, K.M. (2008). Shark bycatchand depredation in the U.S. Atlanticpelagic longlineûshery.Rev.Fish.Biol.Fisheries, 18, 427 – 442.
Morgan,A., & Carlson, J.K. (2010). Capture time, size and hooking mortality of bottom longline-caught sharks. Fisheries Research,101, 32 – 37.
Musick, J.A., Burgess, G,Cailliet, G, Camhi, M, & Fordham, S. (2000). Management of sharks and their relatives (Elasmobranchii).Fisheries,25, 9 – 13.
Novianto, D., Barata, A., & Bahtiar, A. (2010). Efektivitas tali cucut sebagai alat tambahan pada pengoperasian rawai tuna dalam penangkapan cucut.J. Lit. Perikan. Ind., 16 (3), 251 – 258.
Novianto, D., & Nugraha, B. (2014). komposisi hasil tangkapan sampingan dan ikan target perikanan rawai tuna bagian timur Samudera Hindia.Marine Fisheries, 5 (2), 119 – 127.
Prisantoso, B.I., W idodo, A.A., Mahiswara, & Sadiyah, L. (2010). Beberapa jenis hasil tangkap sampingan (bycatch) kapal rawai tuna di Samudera Hindia yang berbasis di Cilacap.J. Lit. Perikan. Ind., 16 (3), 185 – 194.
Setyaji, B, & Nugraha, B. (2012). Hasil tangkap sampingan (HTS) kapal rawai tuna di Samudera Hindia yang berbasis di Benoa. J. Lit. Perikan. Ind., 18 (1), 43-51.
Sparre, P., & Venema, S. (1999). Introduction to Tropical Fish Stock Assesment. (Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis). Alih bahasa: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan). Buku 1: Manual (p. 438). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan.
Stobutzki, I.C., Miller, M.J., Heales, D.S., & Brewer, D.T. (2002). Sustainability of elasmobranchs
caught as bycatch in a tropical prawn (shrimp) trawl ûshery.Fish. Bull.,100, 800 – 821.
Sudirman, & Mallawa, A. (2004). Teknik Penangkapan Ikan (p. 168). Jakarta: Rinneka Cipta.
Sybersma, S. (2015). Review of shark legislation in Canada as a conservation tool.Marine Policy,61, 121 – 126.
White, W.T., Last, P.R., Stevens, J.D., Yearsley, G.K., Fahmi, & Dharmadi. (2006). Economically important sharks and rays of Indonesia (Hiu dan pari yang bernilai ekonomis penting di Indonesia). ACIAR monograph series; no. 124 (p. 329). Canberra: Australian Centre for International Agricultural Research.
White, W.T., Dichmont, C., Purwanto, Nurhakim, S., Dharmadi, West, R.J., Buckworth, R., Sadiyah, L., Faizah, R., Sulaiman, P.S., & Sumiono, B. (2012). Tanjung Luar (East Lombok) Longline Shark Fishery(p. 53). Australia: Australian National Centre for Ocean Resources and Security (ANCORS), University of Wollongong.
Widodo, A.A, & Widodo, J. (2002). Perikanan cucut artisanal di perairan Samudera Hindia, Selatan Jawa dan Lombok. JPPI Sumberdaya dan Penangkapan,8, 75 – 81.
Widodo, A.A., Prisantoso, B.I., & Mahulette, R.T. (2011). Hasil tangkap sampingan (HTS) pada perikanan rawai tuna di Samudera Pasifik.J. Lit. Perikan. Ind., 17 (4), 273 – 284.
Wildlife Conservation Society. (2014).Shark fisheries status and future conservation in Nusa Tenggara Barat and adjacent waters, Indonesia. Wildlife Conservation Society-Indonesia Program.Draft Report.
Williams, P.G. 1997.Shark and related species catch in tuna ûsheries of the tropical Western and Central Paciûc Ocean(p. 21).Tokyo, Japan:FAO Technical Working Group meeting on the Conservation and Management of Sharks.
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
Pedoman Bagi Penulis
UMUM
1. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia memuat hasil-hasil penelitian bidang biologi perikanan, teknologi pemanfaatan sumberdaya ikan, pengkajian potensi dan pemacuan sumberdaya ikan.
2. Naskah yang dikirim asli dan jelas tujuan, bahan yang digunakan, maupun metode yang diterapkan dan belum pernah dipublikasikan atau dikirimkan untuk dipublikasikan di mana saja.
3. Naskah ditulis/diketik dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak diperkenankan menggunakan singkatan yang tidak umum 4. Naskah diketik dengan program MS-Word dalam 2 spasi , margin 4 cm (kiri)-3 cm (atas)- 3 cm (bawah) dan 3 cm (kanan), kertas A4,
font 12-times news roman, jumlah naskah maksimal 15 halaman dan dikirim rangkap 3 beserta soft copynya . Penulis dapat mengirimkan naskah ke Redaksi Pelaksana Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan melalui Website:http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/jppiatau E-mail:[email protected].
5. Dewan Redaksi berhak menolak naskah yang dianggap tidak layak untuk diterbitkan.
PENYIAPAN NASKAH
1. Judul : Naskah hendaknya tidak lebih dari 15 kata dan mencerminkan isi naskah, diikuti dengan nama, instansi dan alamat email korespondensi penulis.
2. Abstrak : Dibuat dengan Bahasa Indonesia dan Inggris paling banyak 250 kata, isinya ringkas dan jelas serta mewakili isi naskah.
3. Kata Kunci : Ditulis dengan Bahasa Indonesia dan Inggris, terdiri atas 4 sampai 6 kata ditulis dibawah abstrak dan dipilih dengan mengacu padaagrovocs.
4. Pendahuluan : Secara ringkas menguraikan latar belakang penelitian, tujuan dan pentingnya penelitian dilakukan.
5. Bahan dan Metode : Secara jelas dan ringkas menguraikan metode penelitian secara rinci dan jelas yang memungkinkan peneliti lain dapat merujuk metode tersebut.
6. Hasil dan Bahasan : Hasil dan bahasanDIPISAH, diuraikan secara jelas serta dibahas sesuai dengan topik atau permasalahan yang terkait dengan judul.
7. Kesimpulan : Disajikan secara ringkas dengan mempertimbangkan judul naskah, maksud, tujuan, serta hasil penelitian dalam bentuk narasi.
8. Persantunan : Memuat ucapan terima kasih terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan penelitian dan penulisan naskah serta pihak yang terlibat dalam pendanaan kegiatan penelitian.
9. Daftar Pustaka : Berisi seluruh pustaka yang disitasi dalam naskah, menggunakan Harvard format APA (American Psychological Association)Disusun berdasarkan pada abjad tanpa nomor urut dengan urutan sebagai berikut. Nama pengarang (dengan cara penulisan yang baku), tahun penerbitan, judul artikel, judul buku atau nama dan nomor jurnal, nama penerbit serta jumlah atau nomor halaman.
Contoh :
Pustaka yang berupa majalah/jurnal ilmiah:
Sunarno, M. T. D., Wibowo, A., & Subagja. (2007). Identifikasi tiga kelompok ikan belida (Chitala lopis) di Sungai Tulang Bawang, Kampar dan Kapuas dengan pendekatan biometrik.J. Lit Perikan. Ind. 13(3), 1-14.
Pustaka yang berupa judul buku:
Fridman, A. (2008).Plasma Chemistry(p. 978). Cambridge: Cambridge University Press
Pustaka yang berupa Prosiding Seminar:
Roeva, O. (2012). Real-World Applications of Genetic Algorithm. In International Conference on Chemical and Material Engineering(pp. 25–30). Semarang, Indonesia: Department of Chemical Engineering, Diponegoro University.
Pustaka yang berupa disertasi/thesis/skripsi:
Istadi, I. (2006). Development of A Hybrid Artificial Neural Network – Genetic Algorithm for Modelling and Optimization of Dielectric-Barrier Discharge Plasma Reactor. PhD Thesis. Universiti Teknologi Malaysia.
Pustaka yang berupa patent:
Primack, H. S. (1983). Method of Stabilizing Polyvalent Metal Solutions.US Patent No. 4,373,104
Pustaka yang berupa HandBook:
Hovmand, S. (1995). Fluidized Bed Drying. In Mujumdar, A.S. (Ed.)Handbook of Industrial Drying
(pp.195-248). 2nd Ed. New York: Marcel Dekker.
10. Tabel : Judul, kepala tabel dan keterangan ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.
11. Gambar : Judul gambar, skema, diagram alir dan potret diberi nomor urut dengan angka, diletakkan di bawah gambar dan disajikan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris (bukan format JPEG).
Gedung Balitbang KP II
Jl. Pasir Putih II Ancol Timur, Jakarta Utara-14430 Telp. (021) 64700928, Fax. (021) 64700929
Website : http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/jppi e-mail: [email protected]
JURNAL PENELITIAN PERIKANAN INDONESIA
Volume 22 Nomor 2 Juni 2016
e-ISSN 2502 - 6542
p-ISSN 0853 - 5884
Halaman
i
ii
iii
iv
v-vii DAFTAR BEBESTARI...
UCAPAN TERIMAKASIH...
KATA PENGANTAR ………...
DAFTAR ISI ………..………..
KUMPULAN ABSTRAK ...
Analisis Hasil Per Penambahan Baru Perikanan Lobster Pasir (Panulirus homarus) di Perairan Aceh Barat
Oleh: Duranta D. Kembaren, Tri Ernawati dan Bambang Sadhotomo...
Dinamika Populasi dan Status Pemanfaatan Udang Windu (Penaeus monodon,Fabricus 1789) di Perairan Aceh Timur, Provinsi Aceh
Oleh: Dimas Angga Hedianto Astri Suryandari dan Didik Wahju Hendro Tjahjo...
Kualitas Air, Status Trofik dan Potensi Produksi Ikan Danau Diatas, Sumatera Barat
Oleh: Samuel dan Vipen Adiansyah...
Evaluasi Stok Kepiting Bakau (Scylla serrata) di Perairan Pati dan Sekitarnya serta Opsi Pengelolaannya
Oleh: Tri Ernawati, Duranta D. Kembaren dan Bambang Sadhotomo...
Perbedaan Hasil Tangkapan Hiu dari Rawai Hanyut dan Dasar yang Berbasis di Tanjung Luar, Lombok
Oleh: Agus Arifin Sentosa, Nanang Widarmanto, Ngurah N. Wiadnyana dan Fayakun Satria...
Analisis Perikanan Huhate di Perairan Larantuka, Flores
Oleh: Mohamad Adha Akbar Suryanto, dan Setiya Triharyuni...
Pendekatan Sosial-Ekologi untuk Penilaian Kesesuaian LokasiRestocking Panulirus homarus
pada Beberapa Perairan di Indonesia