• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi Indikator Konsep Kota Layak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Identifikasi Indikator Konsep Kota Layak"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Identifikasi Indikator Konsep Kota Layak Huni di Kota Surabaya dengan Metode Importance Performance Analysis” sebagai tugas dari mata kuliah Ekonomi Kota.

Penulis berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu dalam proses penyusunan dan penyelesaian makalah ini. Dan terima kasih kami sampaikan kepada :

1. Dosen Mata Kuliah Ekonomi Kota Bapak Ir Eko Budi Susanto, Lic. Rer. reg yang dan Ibu Vely Kukinul Siswanto, S.T, M.T, M.Sc yang telah memberi tugas serta membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini.

2. Bapak Dwija selaku Kabag Bappeko beserta staff yang turut membantu dalam pengisian kuisioner ini

3. Masyarakat Kota Surabaya serta rekan - rekan yang telah membantu terselesainya makalah ini.

Tujuan dari pembuatan mata kuliah ini adalah diharapkan penulis dapat menyimpulkan bagaimana tingkat pelayanan eksisting dan tingkat kepentingan Kota Surabaya menuju Kota Layak Huni dengan menggunakan metode analisis kinerja kepentingan atau Importance Performance Analysis.

Demikian makalah Ekonomi Kota ini yang kiranya masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat memberikan masukan informasi serta wacana yang bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya.

Surabaya, Mei 2015

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2

BAB I ... 5

1.1 Latar Belakang... 5

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan ... 6

1.4 Sistematika Penulisan ... 6

BAB II... 8

2.1 Pengertian Livable City...8

2.2 Prinsip Livable City ... 9

2.3 Livable City di Indonesia ...10

2.4 Metode

Importance Performance Analysis (IPA)

...11

BAB III...15

3.1 Gambaran Umum Wilayah...15

3.2 Kerangka Berfikir...16

3.2 Uji Validitas dan Reabilitas ...17

3.3 Skor Kepuasaan Pelanggan ...19

3.4 Analisis Importance Performance Analysis (IPA)...21

3.5 Hasil Wawancara (Data Kualitatif)...22

BAB IV ...26

4.1 KESIMPULAN ...26

4.2 SARAN ...26

DAFTAR PUSTAKA...27

(4)

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL

Gambar 1. Kuadran Prioritas ...13

Gambar 2. Contoh skor nilai dan kepuasan...14

Gambar 3. Peta Kota Surabaya...15

Gambar 4. Diagram Pelaksanaan Penelitian...16

Gambar 5. Diagram Cartesius pengukuran kepuasan masyarakat maupun stakeholder ...21

Tabel 1.

Most Livable City Index

2009 & 2011... 11

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Kota dapat diartikan sebagai pusat – pusat kegiatan manusia yang bersifat sosial maupun yang bersifat ekonomi. Semakin besar sebuah kota, maka semakin besar juga permasalahan - permasalahan yang dihadapai perkotaan tersebut yang salah satunya adalah permasalahan ekonomi yang sering menjadi prioritas utama dalam perkembangan sebuah perkotaan.

Permasalahan – permasalahan ekonomi kota merupakan bentuk ketimpangan dari disparitas pembangunan antara wilayah kota dan desa. Salah satu dampak dari disparitas pembangunan antar wilayah ini menyebabkan masyarakat desa cenderung melakukan urbanisasi. Urbanisasi masyarakat desa ke kota ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan dan mencari pekerjaan. Ketika kebutuhan dan kesempatan mendapatkan pekerjaan tidak didapatkan ketika masyarakat desa menjadi masyarakat urban, permasalahan perkotaan mulai muncul dari permasalahan tersebut. Perkotaan tidak mampu menyediakan sarana perumahan dan permukiman, munculnya degradasi lingkungan pada perkotaan, permsalahan lapangan pekerjaan, serta masalah ketersediaan sarana dan prasarana transportasi yang layak yang dapat menimbulkan perkotaan tersebut menjadi terganggu sehingga bedampak pada ekonomi kota tersebut.

Selain itu permasalahan - permasalahan ekonomi kota kedepannya juga dapat menimbulkan berbagai macam tantangan yang harus dipecahkan oleh

Stakeholder- Stakeholder

terkait, seperti pemerintah kota yang bersangkutan maupun masyarakat yang ada di dalam kota tersebut. Sehingga kota tersebut dapat berkembang dengan baik dan dapat membuat masyarakat yang ada di perkotaan tersebut bisa nyaman tinggal dengan segala kebutuhan yang terpenuhi.

(6)

Dengan begitu, Kota Surabaya menjadi daya tarik bagi pendatang – pendatang dari desa untuk mencari pekerjaan di kota. Sehingga adanya proses urbanisasi ini menyebabkan kepadatan penduduk Kota Surabaya semakin meningkat yang berimbas pada kondisi kelayak hunian tinggal di kota Surabaya. Karena inti dari permasalahan dalam ekonomi kota salah satu tantangan yang dihadapi adalah tingkat kelayak hunian maka peneliti disini ingin mengetahui bagaimana tingkat kelayak hunian kota surabaya berdasarkan kondisi pada sekarang dibandingkan dengan tingkat kepentingan yang diinginkan nantinya.

1.2

Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dasar tentang kota layak huni?

2. Bagaimana aspek kriteria dalam penentuan serta penilaian kota layak huni?

3. Apa saja indikator yang menjadi alat analisa kinerja kepentingan dalam penentuan kota layak huni pada kota surabaya?

4. Bagaimana tingkat pelayanan eksisiting dan tingkat kepentingan dalam penentuan kota layak huni pada kota surabaya?

1.3

Tujuan

1. Mengetahui tentang pengertian dasar tentang kota layak huni sebelum menganalisis kriteria apa saja yang emmpengaruhi kota layak huni tersebut

2. Dapat menjelaskan apa saja kriteria yang berpengaruh dalam penentuan kota layak huni tersebut

3. Dapat menyebutkan dan menjelaskan indikator yang menjadi alat analisa kinerja kepentingan dalam penentuan kota layak huni tersebut

4. Dapat menganalisa hasil dari analisis kinerja kepentingan yang menghubungkan antara tingkat pelayanan eksisting dan tingkat kepentingan dalam penentuan kota layak huni tersebut.

1.4

Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini menjelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sistematika penulisan pada makalah ini.

(7)

Berisi tentang konsep dasar teori terkait kota layak huni, kriteria kota layak huni dan penjelasan tentang teknik analisa kinerja kepentingan dalam penentuan kota layak huni. BAB I I I PEMBAHASAN

Berisi tentang pembahasan mengenai analisa kinerja kepentingan yang membahas tentang tingkat pelayanan eksisting dan tingkat kepentingan dalam penentuan kota layak huni di kota surabaya

BAB I V PENUTUP

(8)

BAB I I

TI NJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Livable C ity

“A Livable City is a city where I can have a healthy life and where I have the chance for

easy mobility – by foot, by bicycle, by public transportation, and even by car where there is no

other choice…The Livable City is a city for all people. That means that the Livable City should be

attractive, worthwhile, safe for our children, for our older people, not only for the people who

earn money there and then go and live outside in the suburbs and in the surrounding

communities. For the children and elderly people it is especially important to have easy access

to areas with green, where they have a place to play and meet each other, and talk with each

other. The Livable City is a city for all. (D. Hahlweg, 1997)”

Kota layak huni atau

Livable City

adalah dimana masyarakat dapat hidup dengan nyaman dan tenang dalam suatu kota. Menurut Hahlweg (1997), kota yang layak huni adalah kota yang dapat menampung seluruh kegiatan masyarakat kota dan aman bagi seluruh masyarakat. Menurut Evan (2002), konsep

Livable City

digunakan untuk mewujudkan bahwa gagasan pembangunan sebagai peningkatan dalam kualitas hidup membutuhkan fisik maupun habitat sosial untuk realisasinya. Dalam mewujudkan konsep

Livable City

harus didukung dengan sustainable city, agar perencanaan ruang kota dapat terwujud sesuai rencana. Dalam konteks keberlanjutan adalah kemampuan untuk mempertahankan kualitas hidup yang dibutuhkan oleh masyarakat kota saat ini maupun masa depan.

“Therefore a Livable City is also a ‘sustainable city’: a city that satisfies the needs of the

present inhabitants without reducing the capacity of the future generation to satisfy their

needs( E. Salzano, 1997)”

.

Livable City

adalah kota dimana ruang umum yang merupakan pusat kehidupan sosial dan fokus keseluruh masyarakat (Salzano,1997). Menurut Evan (2002), konsep

Livable City

digunakan untuk mewujudkan bahwa gagasan pembangunan sebagai peningkatan dalam kualitas hidup membutuhkan fisik maupun habitat sosial untuk realisasinya.

“…there are those social groups for whom a Livable City is one where those elements

have been preserved or renewed which have always been an integral part of people friendly

places. These are, as Peter Smithson once beautifully said ‘relationships between streets and

buildings, and buildings amongst themselves, and trees, and seasons of the year, and

(9)

kenyamanan hidup bagi masyarakat kota. Pemulihan ekologi dapat memperbaiki lingkungan dalam

Livable City

dan

sustainability. Livable City

harus menciptakan dan menjaga lingkungan yang bersih.

“The coin of livability has two faces. Livelihood is one of them. Ecological sustainability is

the other. Livelihood means jobs close enough to decent housing with wages commensurate

with rents and access to the services that make for a healthful habitat. Livelihoods must also be

sustainable. If the quest for jobs and housing is solved in ways that progressively and

irreparably degrade the environment of the city, then the livelihood problem is not really being

solved. Ecological degradation buys livelihood at the expense of quality of life, with citizens

forced to trade green space and breathable air for wages.To be livable, a city must put both

sides of the coin together, providing livelihoods for its citizens, ordinary as well as affluent, in

ways that preserve the quality of the environment. (P. Evans, 2002)”

Pengertian

Livable City

dari perspektif orang-orang adalah kota yang layak huni dimana masyarakat kota dapat mencari pekerjaan, melayani kebutuhan dasar termasuk air bersih dan sanitasi, memiliki akses untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang layak, hidup dalam komunitas yang aman dan lingkungan yang bersih. Dapat dikatakan bahwa

Livable

City

merupakan gambaran sebuah lingkungan dan suasana kota yang nyaman sebagai tempat tinggal dan sebagai tempat untuk beraktifitas yang dilihat dari berbagai aspek, baik aspek fisik (fasilitas perkotaan, prasarana, tata ruang, dll) maupun aspek non-fisik (hubungan sosial, aktivitas ekonomi, dll).

2.2 Prinsip Livable City

Dalam mewujudkan kota yang layak huni atau

Livable City

harus mempunyai prinsip-prinsip dasar. Prinsip dasr ini haru dimiliki oleh kota-kota yang inggin menjadikan kotanya sebagai kota layak huni dan nyaman bagi masyarakat kota. Berikut ini merupakan prinsip-prinsip dasar untuk mewujudkan

Livable City

:

1. Menurut Lennard (1997), prinsip dasar untuk

Livable City

adalah:

 Tersedianya berbagai kebutuhan dasar masyarakat perkotaan (hunian yang layak, air bersih, listrik).

 Tersedianya berbagai fasilitas umum dan fasilitas sosial (transportasi publik, taman kota, fasilitas ibadah/kesehatan/ibadah).

(10)

 Keamanan, Bebas dari rasa takut.

 Mendukung fungsi ekonomi, sosial dan budaya.  Sanitasi lingkungan dan keindahan lingkungan fisik.

2. Menurut Douglass (2002), dalam

Livable City

dapat dikatakan bertumpu pada 4 (empat) pilar, yaitu:

 Meningkatkan sistem kesempatan hidup untuk kesejahteraan masyarakat.  Penyediaan lapangan pekerjaan.

 Lingkungan yang aman dan bersih untuk kesehatan, kesejahteraandan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Good governance.

2.3

Livable City di I ndonesia

Untuk mengetahui persepsi warga kota mengenai tingkat kenyamanan kota-kota besar di Indonesia maka Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) melakukan penelitian Indonesia Most

Livable City

Index (MLCI) 2011. Kegiatan ini merupakan sebuah indeks tahunan yang menunjukkan tingkat kenyamanan warga kota untuk tinggal, menetap dan beraktivitas di suatu kota yang ditinjau dari berbagai aspek perkotaan. Indeks ini dihasilkan dengan dengan pendekatan : ”

Snapshot, Simple and Actual

” yang dilakukan di 15 kota besar di Indonesia, yaitu Yogyakarta, Denpasar, Makasar Manado, Surabaya, Semarang, Banjarmasin, Batam, Jayapura, Bandung, Palembang, Palangkaraya, Jakarta, Pontianak dan Medan. Kriteria indikator yang digunakan IAP dalam melakukan penelitian ini adalah terdiri dari 26 indikator yang dikelompokkan ke dalam 9 kriteria utama, yaitu:

a. Aspek Tata Ruang (Tata Kota, RTH), b. Aspek Lingkungan (Kebersihan, Polusi), c. Aspek Transportasi (Jalan, Angkutan), d. Aspek Fasilitas Kesehatan,

e. Aspek Fasilitas Pendidikan,

f. Aspek Infrastruktur – Utilitas (Listrik, Air, Telekomunikasi), g. Aspek Ekonomi (LapanganKerja, LokasiKerja),

h. Aspek Keamanan,

(11)

Dari penelitian ini didapatkan hasil dari Indonesia Most

Livable City

Index 2011 adalah dengan index rata-ratanya 54,26% penduduk yang merasa nyaman tinggal dikotanya.

“Ini

memperlihatkan bahwa kota-kota tersebut masih berada dalam kondisi yang jauh dari ideal,

(IAP, 2011)”

Hasil index di atas meningkat dibandingkan dengan hasil penelitian MLCI pada tahun 2009 yang sangat jauh dari ideal, yaitu dengan jumlah index rata-ratanya sebesar 54,17%.

Tabel 1. Most Livable City I ndex 2009 & 2011

Kota 2009 2011

2.4

Metode I mportance Performance Analysis ( I PA)

(12)

2003).

IPA

mempunyai fungsi utama untuk menampilkan informasi berkaitan dengan faktor-faktor pelayanan yang menurut konsumen sangat mempengaruhi kepuasan dan loyalitas mereka, dan faktor-faktor pelayanan yang menurut konsumen perlu ditingkatkan karena kondisi saat ini belum memuaskan.

Importance Performance Analysis (IPA)

secara konsep merupakan suatu model multi-atribut. Tehnik ini mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan penawaran pasar dengan menggunakan dua kriteria yaitu kepentingan relatif atribut dan kepuasan konsumen. Penerapan teknik

Importance Performance Analysis

dimulai dengan identifikasi atribut-atribut yang relevan terhadap situasi pilihan yang diamati. Daftar atribut-atribut dapat dikembangkan dengan mengacu kepada literatur-literatur, melakukan interview, dan menggunakan penilaian manajerial. Di lain pihak, sekumpulan atribut yang melekat kepada barang atau jasa dievaluasi berdasarkan seberapa penting masing-masing produk tersebut bagi konsumen dan bagaimana jasa atau barang tersebut dipersepsikan oleh konsumen.

(13)

Gambar 1. Kuadran Prioritas Keterangan :

 Menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap mempengaruhi pelanggan, termasuk unsur–unsur jasa yang dianggap sangat penting, namun produk tidak sesuai keinginan pelanggan sehingga tidak puas.

 Menunjukkan unsur pokok yang sudah ada pada produk sehingga wajib dipertahankan serta dianggap sangat penting dan memuaskan.

 Menunjukkan faktor yang kurang penting pengaruhnya bagi pelanggan, keberadaannya biasa–biasa saja dan dianggap kurang penting serta kurang memuaskan.

 Menunjukkan faktor yang mempengaruhi pelanggan kurang penting namun pelaksanaannya berlebihan, dianggap kurang penting tetapi sangat memuaskan.

(14)

Gambar 2. Contoh skor nilai dan kepuasan

(15)

BAB I I I

PEMBAHASAN

3.1

Gambaran Umum Wilayah

Surabaya merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia memiliki luas sekitar 326,37 km2 dan secara astronomis terletak di antara 07°21’ Lintang Selatan dan 112°36’ s/d 112°54’ Bujur Timur. Sebagian besar wilayah Surabaya merupakan dataran rendah dengan ketinggian 3 – 6 meter di atas permukaan air laut, kecuali di sebelah Selatan dengan ketinggian 25 – 50 meter di atas permukaan air laut.

Gambar 3. Peta Kota Surabaya

Batas Administrasi :

Utara : Selat madura dan Kab. Bangkalan Timur : Selat Madura

(16)

Populasi penduduk Kota Surabaya sampai dengan bulan Juni 2005 mencapai 2.701.312 jiwa, yang terdiri dari penduduk laki – laki sejumlah 1.358.610 jiwa dan penduduk perempuan sejumlah 1.342.702 jiwa, dengan tingkat kepadatan 8.277 jiwa / km2. Secara administrasi pemerintahan kota Surabaya dikepalai oleh Walikota yang juga membawahi koordinasi atas wilayah administrasi Kecamatan yang dikepalai oleh Camat. Jumlah Kecamatan yang ada di kota Surabaya sebanyak 31 Kecamatan dan jumlah Kelurahan sebanyak 163 Kelurahan dan terbagi lagi menjadi 1.363 RW (Rukun Warga) dan 8.909 RT (Rukun Tetangga).

Secara topografi Kota Surabaya merupakan dataran rendah yaitu 80,72 % (25.919,04 Ha) dengan ketinggian antara -0,5 – 5m SHVP atau 3 – 8 m LWS, sedang sisanya merupakan daerah perbukitan yang terletak di Wilayah Surabaya Barat (12,77%) dan Surabaya Selatan (6,52%). Adapun 8 kemiringan lereng tanah berkisar 0 - 2% daerah dataran rendah dan 2 - 15 % daerah perbukutan landai. Jenis batuan yang ada terdiri dari 4 jenis yang pada dasarnya merupakan tanah liat atau unit-unit pasir. Sedang jenis tanah, sebagian besar berupa tanah alluvial, selebihnya tanah dengan kadar kapur yang tinggi (daerah perbukitan). Sebagaimana daerah tropis lainnya, Surabaya mengenal 2 musim yaitu musim hujan dan kemarau. Curah hujan rata-rata 172 mm, dengan temperatur berkisar maksimum 30° C dan minimum 25° C. (Stasiun Pengamat Perak 1/Tahun 2004).

3.2

Kerangka Berfikir

Gambar 4. Diagram Pelaksanaan Penelitian

M ulai Survey

Pendahuluan St udi Lit erat ur

(17)

3.2

Uji Validitas dan Reabilitas

Uji ini dilakukan guna menguji apakah terdapat kesenjangan (gap) antara Harapan dengan Persepsi dalam variabel yang dianalisis. Uji dilakukan dengan membedakan nilai Mean antara Harapan dengan Persepsi dan perbedaan tersebut berlangsung dalam kelompok sampel yang sama (pelanggan sama, mengisi kuesioner sama). Nilai Mean tiap variabel diinput ke dalam SPSS, berlaku untuk variabel Harapan dan variabel Persepsi.

Guna menguji ada tidaknya gap, digunakan Wilcoxon Signed-Rank Test. Uji ini diciptakan oleh Frank Wilcoxon tahun 1945. Uji ini diterapkan pada data-data yang sifatnya non parametrik seperti data tidak berdistribusi normal dan diukur dengan skala yang lebih rendah dari interval.

Wilcoxon Signed-Rank Test diterapkan jika terdapat 2 perangkat skor yang ingin diperbandingkan. Skor-skor tersebut berasal dari partisipan yang sama. Skor yang berbeda adalah skor Harapan dan skor Persepsi. Partisipan yang sama adalah Pelanggan yang sama.

Uji validitas dapat dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung (corrected item total correlation) dengan r tabelnya. Apabila nilai r hitung > r tabel dan nilai r positif, maka butir atau pertanyaan tersebut dikatakan valid, Ghozali (2005). Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai corrected item total correlation adalah korelasi product moment yang dituliskan dengan rumus:

(18)

sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah cukup baik. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan koefisien Cronbach Alpha dengan rumus sebagai berikut Arikunto (2006) :

Uji Wilcoxon Signed-Rank Test dilakukan dengan menggunakan SPSS. Tata tertib dalam melakukan uji ini dengan SPSS adalah:

1. Buat 2 variabel baru yaitu : (a) Mean Harapan tiap Responden dan (b) Mean Persepsi tiap Responden.

2. Klik menu Analyze > Nonparametric Tests > 2 Related Samples.

3. Pada jendela Two-Related Samples Test masukkan Mean Harapan ke Variable 1 dan Mean Persepsi ke Variable 2.

4. Pastikan Test Type Wilcoxon sudah terceklis. 5. Klik OK.

Pembuktian uji diterjemahkan ke dalam Hipotesis deskriptif berikut:

 H0 : Tidak ada kesenjangan antara Harapan dengan Persepsi pelanggan.

 H1 : Ada kesenjangan antara Harapan dengan Persepsi pelanggan. Atau, dalam bentuk Hipotesis Statistik berikut :

 H0 : d = 0, artinya tidak ada gap antara Persepsi dengan Harapan.

 H1 : d ≠ 0, artinya ada gap antara Persepsi dengan Harapan pelanggan. Di mana Hipotesis Statistik berlaku tatkala kondisi berikut terpenuhi :

 Jika zhitung < ztabel pada tingkat signifikansi 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak.  Jika zhitung > ztabel pada tingkat signifikansi 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima

(19)

I nterpretasi :

Dengan signifikansi sebesar 0.05 dapat diketahui nilai z tabel 1,96 dan dibandingkab debgan nilai Zscore sehingga menolak Ho dan menerima H1, dan artinya Ada kesenjangan antara Harapan dengan Persepsi pelanggan. Sehingga berdasarkan Uji Validitas dan Uji Reabilitas dapat dilanjutkan dengan analisis kinerja kepentingan (Importance Performance Analysis) atau menganalisis data dengan Skor Kepuasan Pelanggan.

3.3

Skor Kepuasaan Pelanggan

Secara keseluruhan skor kepuasan pelanggan tiap atribut dapat disimpulkan sebagai berikut:

Tabel 2. Skor nilai kepuasan pelanggan

Pernyataan

Skor

Persepsi Ekspetasi Tingkat Kepuasan Aspek Tata Ruang

(20)

RTH 3.8 4.4 -0.6

(21)

3.4

Analisis I mportance Performance Analysis ( I PA)

Pada bagian ini dibahas mengenai pemetaan dari nilai kinerja (x) dan harapan (y), dari hasil tersebut maka akan terbentuk matriks yang terdiri dari empat buah kuadran yang masing-masing kuadran menggambarkan skala prioritas dalam mengambil kebijakan baik berupa peningkatan kinerja atau mempertahankan kinerja Surabaya menjadi Kota Layak Huni. Berikut adalah data sebaran kinerja dan harapan Masyarakat maupun Stakeholder:

Gambar 5. Diagram Cart esius pengukuran kepuasan masyarakat maupun stakeholder

Dari gambar tersebut maka dapat diinterpretasikan sebagai berikut: 1. Kuadran A

(22)

2. Kuadran B

Kuadran B menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap penting dan memuaskan masyarakat maupun stakeholder yang sudah dilaksanakan dengan baik oleh Kota Surabaya menjadi Kota Layak Huni. Variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran ini adalah:

a. Aspek Tata Ruang – Tata Kota

b. Aspek Tata Ruang – Ruang Terbuka Hijau c. Aspek Transportasi - Jalan

d. Aspek Fasilitas Kesehatan e. Aspek Fasilitas Pendidikan

f. Aspek Infrastruktur Utilitas - Listrik

g. Aspek Infrastruktur Utilitas - Telekomunikasi h. Aspek Ekonomi – Lapangan Kerja

Dengan demikian item-item tersebut perlu dipertahankan kinerjanya oleh Surabaya untuk menjadi Kota Layak Huni.

3. Kuadran C

Kuadran C menunjukkan faktor yang dianggap kurang penting oleh masyarakat dan tidak terlaksanakan dengan baik oleh Surabaya untuk menjadi Kota Layk Huni. Variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran ini adalah :

a. Aspek Lingkungan - Kebersihan b. Aspek Lingkungan - Polusi c. Aspek Infrastruktur Utilitas - Air d. Aspek ekonomi – Lokasi kerja e. Aspek Keamanan

f. Aspek Sosial - Kebudayaan g. Aspek Sosial – Interaksi Warga

Dengan demikian item-item diatas dapat diabaikan/mempunyai skala prioritas pembenahan bagi kota Surabaya dalam menuju Kota Layak Huni.

3.5

Hasil Wawancara (Data Kualitatif)

(23)

adalah akademisi yang menegerti mengenai perencanaan Kota Surabaya dan juga mengerti perbedaan antara Surabaya dan kota kota lain di dunia sehingga dapat lebih mudah untuk membandingkan antara Kota Surabaya dengan kota lain di dunia, selain itu responden lain adalah masyarakat dari Kota Surabaya yang sudah lama menetap di Kota Surabaya yaitu lebih dari lima tahun supaya dalam penelitian ini dapat mengetahui persepsi dari masyarakat Surabaya apakah mereka nyaman tinggal di Surabaya dan juga mengerti keseluruhan tentang Surabaya karena sudah lama tinggal di Kota Surabaya.

(24)

masyarakat selain dari daerah lain yang berurbanisasi ke Surabaya sehingga angka pengangguran di Kota Surabaya masih tinggi. Jika ditinjau dari aspek keamanan kota Surabaya sebenarnya sudah aman karena dilihat tidak adanya tawuran antar pelajar, maupun tawuran antar warganya sehingga dapat dikatakan aman tetapi jika dilihat dari kriminalitasnya memang di beberapa titik Surabaya masih terdapat pencuri dan pembegal tapi sebenarnya itu kebanyakan berasal dari Madura jadi pemerintahan sendiri kesusahan untuk mencegah kriminalitas tersebut. Dan jika ditinjau dari aspek sosial sebenanrnya Surabaya sudah beruapaya untuk mewujudkan green community tersebut yaitu dengan cara membuat lomba antar kampong dengan tema kebersihan. Dari situ kita bisa dapat manfaat lingkungannya dan dapat mewujudkan livable city.

Selain mewawancarai badan perencanaan Kota Surabaya, kami juga mewawancarai seorang akademisi yang mengerti tentang perencanaan yang baik dalam mewujudkan livable city dan juga mengerti keseluruhan Surabaya. Beliau adalah seorang seketaris jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota yaitu Bu Rulli Pratiwi Setiawan. Beliau menilai bahwa Kota Surabaya belum dapat dikatakan livable city karena masih kurang dalam aspek tranportasi, dan keamanannya. Beliau juga menambahkan kota yang layak huni harus harus menyediakan tempat rekreasi yang bersifat open space atau terbuka bukan hanya mall saja yang menjadi tempat rekreasinya. Berikut merupakan hasil wawancara pembuat makalah dengan Bu Rulli mengenai Surabaya.

(25)

puskesmas juga miliki standart ISO sehingga pelayanan kesehatan di Surabaya sudah baik. Jika ditinjau dari aspek ketersediaan fasilitas pendidikan Surabaya juga sudah baik dan dapat mengakomodasi seluruh penduduk dari Kota Surabaya. Dari aspek utilitas, ketesediaan listrik dan telekomunikasi sudah 99% artinya hampir seluruhnya masyarakat di Kota Surabaya sudah terpenuhi listrik dan telekomunikasinya tetapi ketersediaan air bersih hanya sebesar 80% karena masih terdapat beberapa kelurahan yang belum mendapatkan supply air bersih seperti kenjeran, sidotopo wetan dan beberapa di Surabaya Utara. Jika ditinjau dari pemenuhan aspek ekonomi yaitu ketersediaan lapangan pekerjaan di Surabaya sendiri sebenarnya masih kurang ditambah lagi dengan bonus demografi yaitu penambahan jumlah angka usia produktif makanya sekarang ini banyak sekali mengupayakan untuk wirausaha untuk menyediakan lapangan pekerjaan baru. Jika ditinjau dari aspek keamanan, Surabaya masih kurang aman karena tingkat kriminalitas di Surabaya masih tinggi dan dapat dirasakan sendiri ketidakaman kita ketika berjalan dimalam hari, lalu banyak sekali pencurian motor di beberapa titik di Surabaya.

(26)

BAB I V

KESI MPULAN

4.1

KESI MPULAN

Berdasarkan analisis kinerja kepentingan atau Importance Performance Analysis dapat disimpulkan bahwa dalam menuju Kota Surabaya menjadi Kota Layak Huni prioritas yang perlu diutamakan adalah tentang aspek transportasi pada angkutan sedangkan untuk aspek yang perlu dipertahankan seperti Aspek Tata Ruang – Tata Kota, Aspek Tata Ruang – Ruang Terbuka Hijau, Aspek Transportasi – Jalan, Aspek Fasilitas Kesehatan, Aspek Fasilitas Pendidikan, Aspek Infrastruktur Utilitas – Listrik, Aspek Infrastruktur Utilitas – Telekomunikasi, Aspek Ekonomi – Lapangan Kerja sedangkan aspek seperti Aspek Lingkungan – Kebersihan, Aspek Lingkungan – Polusi, Aspek Infrastruktur Utilitas – Air, Aspek ekonomi – Lokasi kerja, Aspek Keamanan, Aspek Sosial – Kebudayaan, Aspek Sosial – Interaksi Warga dapat diabaikan dalam menuju Surabaya menjadi Kota Layak Huni karena aspek tersebut dinilai berlebihan menurut masyarakat maupun stakeholder.

Selain itu, Berdasarkan analisis kualitatif dengan mewawancarai beberapa responden dapat disimpulkan bahwa Kota Surabaya sudah dapat dikatakan layak huni oleh beberapa responden terkait, ditunjukkan dengan penilaian berbagai aspek menuju kota layak huni yang dinilai baik akan tetapi dinilai kurang pada beberapa aspek seperti aspek transportasi khususnya transportasi massal (angkutan umum). Dalam menuju kota layak huni, pemenuhan kebutuhan transportasi massal memang diperlukan untuk mendukung kriteria kota yang livable. Dengan begitu disarankan prioritas ke depan kota Surabaya lebih mengedepankan konsep Transportasi massal dengan moda monorail dan trem.

4.2

SARAN

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Oktaviani, Desi. 2012.

Pengembangan Industri Berbasis Perikanan dengan Pendekatan

Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Tuban

. Surabaya: Institut Teknologi

Sepuluh Nopember

Branch, Melville C, 1995 :

Perencanaan Kota Kompresif

. Yogyakarta : Gajah Mada

University Press.

Douglass, Mike.2002. From global intercity competition to cooperation for livable cities

and economic resilience in Pacific Asia. Environment and Urbanization

2002 14:

53.

Evans, Peter.

2002.

Livable

Cities? The Politics of Urban Livelihood and

Sustainability

.University of California Press, Berkeley.

Hahlweg, D. 1997. “The City as a Family” In Lennard, S. H., S von Ungern Sternberg, H.

McCarthy, Mark. 2002.

Urban Development And Health Inequalities. Scand J Public

Health

2002 30: 59.

Salzano, E. 1997. “Seven Aims for the

Livable City

” in Lennard, S. H., S von

Ungern-Sternberg, H. L. Lennard, eds.

Making Cities Livable

. International Making Cities

Livable Conferences. California, USA: Gondolier Press

Santoso, Eko Budi. 2010.

Strategi Pengembangan Perkotaan Di Wilayah

Gerbangkertosusilo Berdasarkan Pendekatan Daya Saing Wilayah

Palej, A. 2000. “Architecture for, by and with Children: A Way to Teach

Livable City

Paper presented at the

International Making Cities Livable Conference

, Vienna,

Austria, 2000.

Wheeler, Stephen M

. 2004. Planning For Sustainability, Creating Livable, Equitable, And

(28)

LAMPI RAN KUI SI ONER

Bapak / Ibu yang saya hormati,

Ekononomi kota merupakan salah satu kunci dalam peningkatan kemampuan dan kesejahteraan masyarakat kota dalam bidang ekonomi. Salah satu konsep tantangan dan peluang dalam ekonomi kota ini adalah Livable City (Kota layak Huni). Dengan strategi Livable City ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi kota kaitannya dengan tingkat kenyamanan dalam suatu kota yang dapat meningkatkan produktivitas kerja yang berimbas pada ekonomi kota Surabaya dengan dilakukan penilaian dari masyarakat, maupun stakeholder yang berkepentingan terhadap kondisi eksisting serta bagaimana tingkat kepentingannya. Data tersebut selanjutnya digunakan dalam penelitian untuk tugas mata uliah Ekonomi Kota.

Atas perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu, saya sampaikan terimakasih.

Tata Kota Kondisi penataan kota yang disesuaikan dengan RTRW dan RDTRK

RTH Kondisi Ruang Terbuka

Hijau di Kota Surabaya Aspek Lingkungan

Kebersihan Kondisi lingkungan di Kota Surabaya

Polusi Meliputi polusi udara, polusi air, limbah baik cair maupun padat

Aspek Transportasi

(29)

provinsi, kota, dan lokal

Lokasi Kerja Kedekatan jarak terhadap lokasi kerja

Aspek Keamanan Tingkat kriminalitas di Kota Surabaya

Aspek Sosial

Kebudayaan Kebiasaan masyarakat di Kota Surabaya

Interaksi Warga Hubungan antar interaksi warga

Petunjuk:

(30)

PERNYATAAN TENTANG TI NGKAT PELAYANAN EKSI STI NG

Berikut ini merupakan pernyataan terkait tingkat pelayanan yang sebenarnya di lapangan.

Skor: 1. Sangat tidak baik 2. Tidak baik

3. Cukup baik 4. Baik

5. Sangat baik

Jawablah pernyataan berikut sesuai petunjuk diatas

(31)

PERNYATAAN TENTANG TI NGKAT KEPENTI NGAN

Berikut ini merupakan pernyataan terkait tingkat kepentingan untuk pengembangan.

Skor: 1. Sangat tidak penting 2. Tidak penting

3. Cukup penting 4. Penting

5. Sangat penting

Jawablah pernyataan berikut sesuai petunjuk diatas.

Gambar

Tabel 1. Most Livable City I ndex 2009 & 2011
Gambar 1. Kuadran Prioritas
Gambar 2. Contoh skor nilai dan kepuasan
Gambar 3. Peta Kota Surabaya
+4

Referensi

Dokumen terkait

Data diperoleh melalui tiga cara yaitu memeriksa hasil perkerjaan mahasiswa (tugas, kuis, UTS/UAS), hasil rekaman pembelajaran, dan hasil tanya jawab. Hasil perkerjaan

Penyelenggaraan pendidikan di Kota Padangsidimpuan dikembangkan untuk mendorong peningkatan daya saing, melalui penyediaan sistem penyelenggaraan pendidikan yang

penting, tetapi yang lebih penting mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri. 1) Teknik-teknik konseling psikoanalisis diarahkan untuk mengembangkan

Dengan mengamati gaya mengajar klasik guru dan faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa diantaranya oleh gaya mengajar klasik guru, diharapkan dapat diketahui seberapa

Teknik ini dilakukan untuk mengungkap fenomena berkaitan dengan implementasi kurikulum muatan lokal berbasis pesantren di SMP Negeri Kudu, yang meliputi tahap persiapan,

sebagai bagian wilayah NKRI sebagaimana diatur dalam Pasal 18 (1) Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945, melainkan diatur sendiri di dalam

Pengakuan penghasilan diakui dalam laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi dimasa depan yang berkaitan dengan peningkatan aset dan penurunan kewajiban

Judul : Peningkatan Keterampilan Fungsional bagi Warga Belajar Kejar Paket B Setara SLTP di Kecamatan Semarang Selatan. Program : Dana Rutin Tahun : 2002 Status :