BAHAN RUJUKAN PENANGGAP
Konsep Perluasan Kawasan Industri dan
Permukiman Tanpa Alih Fungsi Lahan
Pertanian Guna Menjaga
Sustainable
Development
dalam Rangka Ketahanan
Pangan Nasional
DIREKTUR TATA RUANG DAN PERTANAHAN KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS
OUTLINE BAHAN RUJUKAN
PENANGGAP
I. Kondisi Indonesia
A. Kondisi Pertanian dan Kependudukan B. Tantangan Lahan Pertanian
C. Alih Fungsi Lahan Pertanian
D. Konsentrasi Pengembangan Industri di Pulau Jawa E. Status Penetapan Perda RTRW
II. Persoalan Pokok
III. Usulan Penyelesaian
A. Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian
B. Usulan Strategi Pengembangan Industri di Luar Pulau Jawa III. Lampiran:
A. Kilasan UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian
B. Kilasan UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
C. Zona Industri dalam RDTR
D. Program Aksi Jokowi-JK terkait Pertanian E. Kemiskinan dan Kerawanan Pangan
F. Lahan Pertanian dan Kemiskinan
A. Kondisi Pertanian dan
Kependudukan
Luas Daratan Indonesia (hasil kesepakatan bersama BIG):
Luas wilayah darat NKRI: 1.890.739 Km
2(sumber: Surat BIG No. B-3.4/SESMA/IGD/07/2014, 3 Juli 2014)
Luas wilayah lahan sawah di Pulau Jawa (2010):
34.442,82 km
2
Luas wilayah lahan sawah di luar Pulau Jawa (2012): 46.880,63 km
2(sumber: Pusdatin Kementerian Pertanian, diakses pada 22 Agustus 2014)
Jumlah Penduduk Indonesia (BPS):
Menurut hasil proyeksi penduduk Indonesia tahun 2010-2015, maka
penduduk Indonesia pada tahun 2025 akan mencapai 293,88 juta
jiwa, berarti akan mengalami kenaikan 56,24 juta jiwa dari penduduk
tahun 2010.
Sebanyak 60% beban penduduk Indonesia ada di Pulau Jawa.
B. Tantangan Lahan
Pertanian
Keterbatasan lahan yang ada mendorong praktik
alih fungsi lahan pertanian untuk
pembangunan
Pertumbuhan penduduk yang menyebabkan penambahan kebutuhan
pangan dan lahan produksi pangan
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Widjanarko, dkk (2006) selama
Pelita VI tidak kurang dari 61.000 Ha lahan sawah telah berubah menjadi penggunaan lahan nonpertanian. Luas lahan sawah tersebut telah beralih fungsi menjadi perumahan (30%), industri (65%), dan sisanya (5%)
beralih fungsi penggunaan tanah lain.
Penelitian yang dilakukan Irawan (2005) menunjukkan bahwa laju alih
fungsi lahan di luar Jawa (132 ribu Ha per tahun) ternyata jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan di Pulau Jawa (56 ribu ha per tahun). Sebesar 58,68 persen alih fungsi lahan sawah tersebut ditujukan untuk kegiatan nonpertanian dan sisanya untuk kegiatan bukan sawah. Alih fungsi lahan sebagian besar untuk kegiatan pembangunan perumahan dan sarana publik.
Menurut data Kementerian Pertanian (Kementan), lahan pertanian di
Indonesia mengalami penyusutan setiap tahun dengan kisaran 50-100 ribu hektar per tahun. Penyusutan ini dikarenakan alih fungsi menjadi lahan industri, perumahan dan perkantoran, dengan penyusutan terbesar terjadi di Pulau Jawa, seiring kebijakan kepala daerah yang membuka pusat industri dan pembangunan infrastruktur.
(Pernyataan Kasubdit Optimasi Rehabilitasi Dan Konservasi Lahan pada Direktorat Jenderal Perluasan dan Pengelolaan Lahan Kementan, M . Husni dalam Ekspose Penas XIV di Stadiun Kanjuruhan Malang, Senin, 09 Juni 2014 (dikutip dari http://www.jatimprov.go.id))
C. Alih Fungsi Lahan
Pertanian
D. Konsentrasi
Pengembangan Industri di
Pulau Jawa (1)
Kendala pembangunan industri di Pulau Jawa:
kompetisi
penggunaan lahan
oleh berbagai sektor, khusunya
s
ektor pertanian lahan basah
yang dengan yield
tertinggi di seluruh Indonesia
Dampak pembangunan industri di Pulau Jawa:
1. Menurunkan daya dukung Pulau Jawa yang sudah sangat
rendah dibandingkan dengan pulau-pulau besar lainnya
2. Meningkatkan konsentrasi penduduk di Pulau Jawa
Namun,
pulau Jawa
memiliki
seluruh faktor
pendukung produksi
yang diperlukan oleh sektor
industri. Faktor pendukung lain adalah kedekatan dengan
pasar dengan dengan hub penyebaran ke pasar
internasional.
D. Konsentrasi
Pengembangan Industri di
Pulau Jawa (2)
Kesenjangan kontribusi per pulau akan semakin tajam
bila industri dikembangkan di Pulau Jawa
Pulau 198
Sumatera 29.3 26.7 23.9 21.5 22.3 22.7 23.8 Jawa 51.0 56.0 58.2 60.1 59.9 59.0 57.6 Kalimantan 9.8 8.7 8.9 8.9 8.9 94 9.3 Sulawesi 4.7 4.0 4.0 4.1 4.1 4.1 4.7
KONTRIBUSI PDB PER PULAU TAHUN 1982-2012 (dalam persen)
Sumber: Presentasi Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi daerah pada Raker Penyusunan RT RPJMN 2015-2019
E. Status Penetapan Perda
RTRW (sampai dengan 01
Agustus 2014)
No.
Provinsi yang Belum Menetapkan
Perda RTRW
Perda
1 Sumatera Utara No. 7 Tahun 2003 2 Riau No. 10 Tahun
1994 3 Sumatera Selatan No. 14 Tahun
2006 4 Kep. Riau No. 10 Tahun
1994
5 Kalimantan Barat No. 5 Tahun 2004 6 Kalimantan Tengah No. 8 Tahun 2003 7 Kalimantan Selatan No. 9 Tahun 2000 8 Kalimantan Timur No. 12 Tahun
1993 TOTAL PROVINSI: 8 PROVINSI
76%
24%
Status Penetapan RTRW Provinsi
Telah Ditetapkan Belum Ditetapkan
25 Provinsi 8 Provinsi
Total: 33 Provinsi
Alasan, Pola dan Proses Alih
Fungsi Lahan Pertanian
Alasan
Sumber: Kajian Direktorat Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas tahun 2006 tentang Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian
• Secara cepat apabila alasanya:
– kebutuhan sektor ekonomi yang menghasilkan surplus ekonomi jauh lebih tinggi
– memenuhi kebutuhan dasar (prasarana umum yang diprogramkan pemerintah, atau lahan tempat tinggal pemilik bersangkutan)
• Secara lambat apabila alasannya:
– Degradasi fungsi lahan sawah misal karena kerusakan jaringan irigasi
• Sistematis, apabila alih fungsi dilakukan untuk pembangunan kawasan industri, perkotaan, pemukiman, jalan raya, perkantoran. Pola ini
mengakibatkan alih fungsi dalam skala besar
• Sporadis, apabila dilakukan sendiri oleh pemilik lahan sawah. Pola ini mengakibatkan alih fungsi dalam skala kecil dan terpencar.
• Progesif, artinya lahan sawah di sekitar lokasi yang telah dikonversi dalam waktu relatif singkat cenderung akan beralihfungsi pula dengan luas yang cenderung meningkat.
Persoalan Alih Fungsi Lahan
1. Belum optimalnya instrumen pengendalian pemanfaatan ruang yaitu RDTR, dimana selama ini pemberian izin pemanfaatan ruang masih banyak hanya mengacu kepada RTRW sehingga kurang
operasional sebagai acuan perizinan dan pengendalian alih fungsi lahan.
2. Masih terdapatnya perbedaan persepsi mengenai LP2B
menyangkut : (i) Kriteria lahan yang menjadi bagian dari LP2B; dan (ii) Luasan minimal lahan yang perlu dipertahankan sebagai LP2B. Disamping itu, baru tersedia peta skala 1:10.000 hanya untuk sawah.
3. Berbagai kebijakan pengendalian alih fungsi lahan pertanian dipertanyakan efektivitasnya, hal ini terutama diakibatkan oleh berbagai regulasi yang berkaitan yang tidak berpihak pada
petani, antara lain pengaturan tata niaga, kebijakan harga, tarif ekspor-impor akibatnya, nilai tukar petani semakin kecil dan daya belinya menjadi kian lemah. Dengan kata lain selama mata
pencaharian di bidang pertanian dipandang tidak
menguntungkan, akan sulit mengendalikan alih fungsi lahan pertanian.
A. Pengendalian Alih Fungsi
Lahan Pertanian (1)
A1. Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian
Optimalisasi pengendalian pemanfaatan ruang melalui
akselerasi penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
Perlunya alokasi efisien untuk:
penetapan luasan minimal LP2B
penetapan lahan cadangan yang dapat digunakan oleh sektor lain
Optimalisasi LP2B, melalui:
Percepatan penyusunan peta LP2B
Pendetailan pedoman pemberian insentif dan disinsentif LP2B
Pentingnya keberadaan PP Perwilayahan Industri sebagai
turunan dari UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.
A2. Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian
Berdasarkan Kategori Wilayah
Kategori 1: Wilayah dengan ancaman konversi sawah telah mencapai level sangat tinggi sehingga pengendaliannya sangat tinggi (Jawa dan Bali)
Kategori 2: Wilayah yang status ancaman konversi lahan sawah termasuk tinggi sehingga urgensi pengendaliannya termasuk tinggi (Sumbar, NTB, dan Sulsel)
Kategori 3: Wilayah dengan status ancaman konversi lahan sawah sedang samapi rendah sehingga urgensi
pengendaliannya termasuk sedang (Sumsel, Kalbar, Sulut, dan Gorontalo)
A. Pengendalian Alih Fungsi
Lahan Pertanian (2)
A. Pengendalian Alih Fungsi
Lahan Pertanian (3)
Sumber: Kajian Direktorat Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas tahun 2006 tentang Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian
A2. Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian
Berdasarkan Kategori Wilayah
Kategori 1
• Kompensasi
terhadap kerugian akibat hilangnya manfaat dari sifat multi fungsi;
• Pengembangan/reha bilitasi infrastruktur ; • Bantuan tehnis
pengembangan teknologi ;
• Kebijakan harga (subsidi input dan output) :
• Asuransi pertanian; dan
• Keringanan pajak.
Kategori 2
• Kompensasi
terhadap kerugian akibat hilangnya manfaat dari sifat multi fungsi;
• Pengembangan/reha bilitasi infrastruktur; • Bantuan tehnis
pengembangan teknologi;
• Kebijakan harga (subsidi input dan output);
• Asuransi pertanian;
Kategori 3
• Pengembangan/reha bi-litasi infrastruktur; • Bantuan tehnis
pengembangan teknologi; dan • Kebijakan harga
(subsidi input dan output).
B. Usulan Strategi
Pengembangan Industri di
Luar Pulau Jawa (1)
Pembangunan industri di luar Pulau Jawa merupakan
pilihan yang baik, untuk:
1. Penyebaran penduduk yang saat ini terkonsentrasi di
Pulau Jawa
2. Peningkatan kontribusi pulau-pulau di luar Pulau Jawa
pada pertumbuhan nasional
3. Mendekatakan industri dengan sumber bahan baku
yang banyak tersebar di luar Jawa.
B. Usulan Strategi
Pengembangan Industri di
Luar Pulau Jawa (2)
Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan industri
baru yang diharapkan berimplikasi pada
berkembangnya pusat-pusat permukiman.
Penguatan sistem industri melalui kebijakan
‘pengembangan industri hulu yang harus dibarengi
dengan pengembangan industri hilir’ sehingga alur
produksi dan pergerakan dapat terjadi di luar Pulau
Jawa.
Perlu diperhatikan bahwa pengembangan industri di
luar Pulau Jawa ini harus diimbangi dengan adanya
pengendalian pemanfaatan ruang yang baik (melalui
RDTR) sehingga tetap menjaga daya dukung lahan.
A. Kilasan UU No. 3 Tahun
2014 tentang
Rencana Induk
Pembangunan Industri
Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional:
Sejalan dengan RPJP
Disusun untuk jangka 20 tahun dengan waktu PK 5
tahun
Memperhatikan RTRWN, RTRWP, dan RTRWK
Ditetapkan dengan PP
Rencana Induk Pembangunan Industri Provinsi
mengacu pada Rencana Induk Pembangunan Industri
Nasional dan kebijakan Industri Nasional
RPI Kab/kota mengacu pada RIPINas dan kebijakan
Industri Nasional (tidak mengacu pada RPI Prov).
Perwilayahan
Industri
Tujuan: Percepatan penyebaran pemerataan
pembangunan industri ke seluruh NKRI
Dilaksanakan melalui:
Pengembangan wilayah pusat pertumbuhan
industri
Pengembangan kawasan peruntukan industri
Pembangunan kawasan industri
Pengembangan sentra industri kecil dan
menengah
•
Ketentuan lebih lanjut diatur melalui PP
Lokasi Industri
Untuk mendukung keg industri yang efisiensi dan efektif di wilayah pusat
pertumbuhan industri dibangun kawasan industri sebagai infrastruktur industri
Perusahaan Industri yang akan menjalankan Industri wajib berlokasi di Kawasan Industri, namun dikecualikan bagi Perusahaan Industri yang akan menjalankan Industri dan berlokasi di daerah kabupaten/kota yang:
a.belum memiliki Kawasan Industri;
b.telah memiliki Kawasan Industri tetapi seluruh kaveling Industri dalam Kawasan Industrinya telah habis;
Pengecualian terhadap kewajiban berlokasi di Kawasan Industri juga berlaku bagi:
a.Industri kecil dan Industri menengah yang tidak berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan hidup yang berdampak luas; atau
b.Industri yang menggunakan Bahan Baku khusus dan/atau proses produksinya memerlukan lokasi
Perusahaan Industri yang dikecualikan dan Perusahaan Industri
menengah wajib berlokasi di kawasan peruntukan Industri.
B. Kilasan UU No. 41 Tahun
2009
tentang Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan
Amanat LP2B
Amanat LP2B dalam UU No. 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang
“Penataan ruang kawasan perdesaan diarahkan
untuk Pertahanan kawasan
lahan abadi
pertanian pangan
untuk ketahanan pangan”
(Pasal 48 Ayat (1) huruf e)
Penetapan LP2B
Pasal 9 ayat (2):
Perencanaan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dilakukan pada:
- Kawasan pertanian pangan berkelanjutan; - Lahan pertanian pangan berkelanjutan; dan
- Lahan cadangan pertanian pangan berkelanjutan.
Pasal 23Ayat (1):
Penetapan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan Nasional diatur dalam Peraturan Pemerintah mengenai Rencana Tata Ruang Nasional
Pasal 23 Ayat (2):
Penetapan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan provinsi diatur dalam Peraturan Daerah mengenai Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi
Pasal 23 Ayat (3):
Penetapan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan
Kab/Kota diatur dalam Peraturan Daerah mengenai Rencana
Fungsi dan Manfaat
RDTR
Fungsi
Kendali mutu pemanfaatan ruang wilayah Kab/kota berdasarkan RTRW Acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari kegiatan
pemanfaatan ruang yang diatur dalam RTRW
Acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang
Acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang, dan
Acuan dalam penyusunan RTBL
Manfaat
Penentuan lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai kesamaan fungsi dan
lingkungan permukiman
Alat operasionalisasi dalam sistem pengendalian dan pengawasan, pelaksanaan
pembangunan fisik kab/kota yang dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, swasta, dan/atau masyarakat.
Ketentuan intensitas pemanfaatan ruang untuk setiap bagian wilayah sesuai
dengan fungsinya di dalam struktur ruang kab/kota secara keseluruhan, dan
Ketentuan bagi penetapan kawasan yang diprioritaskan untuk disusun program
pengembangan kawasan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya pada tingkat BWP/sub BWP.
Sumber: Lampiran Permen PU No. 20 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan RDTR dan PZ
Posisi Industri dalam
RDTR
Dalam
rencana pola ruang RDTR
sudah
diamanatkan zona industri dalam zona budi
daya.
Pada setiap zona telah ditentukan
kriteria
perencanaan
yang berisi hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam merencanakan zona bagi
kegiatan spesifik yang akan dilakukan
1. Pembangunan Kualitas SDM;
2. Membangun kedaulatan pangan berbasis pada Agribisnis Kerakyatan;
3. Daulat energi berbasis kepentingan nasional; 4. Penguasaan Sumber Daya Alam;
5. Membangun pemberdayaan Buruh;
6. Membangun penguatan sektor Keuangan berbasis nasional; 7. Penguatan investasi sumber domestik;
8. Penguatan kapasitas fiskal negara Penguatan infrastruktur; 9. Pembangunan ekonomi maritim;
10. Penguatan Sektor Kehutanan;
11. Membangun tata ruang dan lingkungan yang berkelanjutan; 12. Membangun perimbangan pembangunan kawasan;
13. Membangun karakter dan potensi Wisata;
14. Mengembangkan kapasitas perdagangan nasional; 15. Pengembangan industri manufaktur.
Program Aksi Berdikari Dalam
Bidang Ekonomi (Jokowi -JK)
Kami akan membangun kedaulatan Pangan berbasis pada Agribisnis Kerakyatan melalui:
1. Penyusunan kebijakan pengendalian atas import pangan melalui
pemberantasan terhadap ‘mafia’ impor yang sekedar mencari keuntungan pribadi/ kelompok tertentu dengan mengrobankan kepentingan pangan ansional. Pengembangan eksport pertanian berbasis pengolahan pertanian dalam negeri,
2. Penanggulangan Kemiskinan pertanian dan pertanian dalam negeri melalui: a) Pencanangan 1.000 desa berdaulat benih hingga tahun 2019
b) Peningkatan kemampuan petani, organisasi tani dan pola hubungan dengan pemerintah, terutama petani, organisasi tani dan pola hubungan dengan pemerintah, terutama pelibatan aktif perempuan petani/ pekerja sebagai tulang punggung kedaulaatan pangan;
c) Pembanguna irigasi, bendungan, sarana jalan dan tranpsortasi, serta pasar dan kelembagaan pasar secara merata. Rehabilitasi jaringan irigasi yang rusak terhadap 3 juta ha pertanian dan 25 bendungan hingga tahun 2019 d) Peningkatan pembangunan dan atraktivitas ekonomi pedesaan yang
ditandai dengan peningkatan investasi dalam negeri sebesar 15 %/ tahun dan rerata umur petani dan rakyat Indonesia yang bekerja di pedesaan semakin muda
Program Aksi Berdikari Dalam
Bidang Ekonomi: Kedaulatan Pangan
Jokowi – JK (1)
Kami akan membangun kedaulatan Pangan berbasis pada Agribisnis Kerakyatan melalui:
3. Komitemen kami untuk implementasi reforma agrarian melalui:
a. Akses dan Aset reform Pendistribusian asset terhadap [etani melalui distribusi hak atas tanah petani melalui land reform dan program kepemilikan lahan bagi petani dan buruh tahni; menyerahkan lahan sebesar 9 juta ha;
b. Meningkatkan akses petani gurem terhadap kepemilikan lahan pertanian dari rata-rata 0.3 ha menjadi 2.0 ha per KK tani, dan pembukaan 1 juta ha lahan pertanian kerong di luar Jawa dan Bali
4. Pembangunan Agri-Bisnis Kerakyatan melalui Pembangunan Bank Khusus untuk Pertanian, UMKM dan Koperasi.
Program Aksi Berdikari Dalam
Bidang Ekonomi: Kedaulatan Pangan
Jokowi – JK (2)
Data Penduduk Miskin (1)
Year Number Of Poor People (Million) Percentage of Poor People Urban Rural Urban+Rural Urban Rural Urban+Rural
2005 12.40 22.70 35.10 11.68 19.98 15.97 2006 14.49 24.81 39.30 13.47 21.81 17.75 2007 13.56 23.61 37.17 12.52 20.37 16.58 2008 12.77 22.19 34.96 11.65 18.93 15.42 2009 11.91 20.62 32.53 10.72 17.35 14.15 2010 11.10 19.93 31.02 9.87 16.56 13.33 March 2011 11.05 18.97 30.02 9.23 15.72 12.49 March 2012 10.65 18.49 29.13 8.78 15.12 11.96 March 2013 10.33 17.74 28.07 8.39 14.32 11.37
March 2014 10.51 17,77 28,28 8.34 14.17 11.25
Sumber: Susenas, 2005 s/d 2014
Mayoritas Penduduk Miskin berada di Perdesaan
Data Penduduk Miskin (2)
BPS me-release jumlah penduduk miskin pada
bulan Maret 2014 sebesar 11,25%, dengan
60%
diantaranya
bekerja
di
sektor pertanian
dan
sebagian besar
pertanian pangan
. Di sisi lain
pertumbuhan ekonomi sektor pertanian di bawah
rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yaitu
hanya 2% per tahun.
Kerawanan Pangan &
Kemiskinan
Untuk itu angka garis kemiskinan di Asia yang ideal diperkirakan sebesar $1,51/orang/hari.
a. Dengan menggunakan angka kemiskinan tersebut maka menjadikan tingkat kemiskinan Asia pada tahun 2010
bertambah 9,8% dari 20,7% menjadi 30,5%. Dengan demikian jumlah orang yang mengalami kemiskinan ekstrem juga
bertambah menjadi 343,20 juta orang dan khusus untuk
Indonesia tingkat kemiskinan akan bertambah sebesar 9,9%. Pada tahun 2030 kemiskinan akan menjadi sebesar 17,1%.
b. Kemudian bila dampak kerawanan pangan ikut dipertimbangkan maka tingkat kemiskinan ekstrem di Asia pada 2010 akan naik 4,0% atau tambahan kelompok miskin sebesar 140,52 juta
orang. Hal ini disebabkan harga pangan di negara berkembang Asia meningkat lebih cepat daripada Indeks Harga Konsumen umum di kebanyakan negara.
Sumber: ADB mengenai “Key Indicators for Asia and the Pasific 2014
Lebih dari 70 persen aset nasional
produktif yang sebagian besar berupa tanah hanya dikuasai 0,02 persen penduduk (Winoto, 2007). Dari 13,5 juta hektar lahan
perkebunan sawit, 65 persen dikuasai perusahaan perkebunan, termasuk perusahaan negara (Sawit Watch, 2013). Di kehutanan, terdapat 531 izin pengelolaan hutan dengan luas lahan mencapai 35,8 juta hektar
untuk perusahaan kehutanan. Untuk hutan kemasyarakatan, hutan desa, dan hutan rakyat hanya ada 57 izin dengan penguasaan lahan 0,32 juta hektar (Sirait, 2014).
Sepanjang 2004-2012 terjadi 618
konflik agraria di seluruh wilayah Indonesia, dengan areal konflik seluas 2.399.314,49 hektar
melibatkan 731.342 kepala keluarga, utamanya di wilayah
pedesaan/pedalaman (KPA, 2012).
Kesenjangan
dan
ketegangan
penguasaan,
pemilikan dan
pemanfaatan
tanah antara
unit-unit
penguasaan
tanah skala
besar
(perusahaan,
badan
kehutanan, dll)
berbanding
dengan
unit rumah
tangga petani
skala kecil
(petani
gurem
,
petani tak
bertanah,
atau
buruh tani)
Pada tahun 2012, 76 % orang miskin
bekerja di sektor pertanian di
pedesaan (45,87 % atau 2,838 juta orang berada di Jawa), sementara itu lahan pertanian untuk orang miskin semakin menyempit.
Antara 2003-2013, terjadi
penurunan 5,04 juta petani yg menguasai dibawah 0,1 ha. Sementara itu, pertumbuhan perusahan pertanian dari 4011
(2003) menjadi 5486 (2013). Hal ini tidak disertai dengan meningkatnya luasan lahan yang digarap oleh
rumah tangga petani miskin, tetapi ditandai pula dgn terjadinya alih profesi/migrasi petani ke sektor lain (sektor informal, buruh lepas, TKI, dll).
Terjadinya percepatan konversi
lahan pertanian menjadi non-pertanian. Dalam periode 1992– 2002, laju tahunan konversi lahan baru 110.000 hektar. Selanjutnya, pada periode 2002-2006 melonjak menjadi 145.000 hektar per tahun. Artinya, selama 15 tahun laju
penyusutan lahan pertanian mencapai 1,935 juta ha atau 120.000 ha/tahun (Khudori).