56 MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN PERFIKIR KRITIS MELALUI
METODE PEMBELAJARAN IMPROVE Mujib
Pendidikan Matematika, IAIN Raden Intan
ABSTRAK
Fakus pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengembangan kemampuan berpikir kritis matematis siswa melalui metode pembelajaran IMPROVE. Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan populasi siswa kelas VII SMP PGRI Kec. Sukarame Kota Bandar Lampung tahun pelajaran 2015/2016, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII yang berasal dari dua kelas pada masing-masing kelas dipilih secara random. Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tes kemampuan berpikir kritis matematis tehadap matematika. Analisis data menggunakan uji beda yaitu uji-t dan uji ANAVA dua jalur. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis kelompok siswa yang memperoleh pembelajaran IMPROVE lebih baik dari pada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Pada siswa yang memperoleh pembelajaran IMPROVE, siswa katagori atas memiliki peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis yang lebih baik daripada siswa kategori tengah dan siswa kategori bawah, sedangkan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kategori bawah lebih baik daripada siswa kategori tengah. Terdapat intraksi antara factor pembelajaran dengan kategori kemampuan siswa terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis matematisnya.
Kata kunci: kemampuan berpikir kritis matematis dan metode pembelajaran IMPROVE
PENDAHULUAN
57 suatu pengertian. Pada lain pihak keahlian adaptif lebih menekankan pandangan kemampuan siswa dalam memecahkan tugas-tugas matematis secara efisien, kreatif, dan fleksibel menggunakan strategi pemecahan yang berbeda dan bermakna (Baroody & Dowker, 2003).
Terkait dengan standar NCTM dan Working Mathematically, Mendiknas juga merumuskan Peraturan Mendiknas No 23 tahun 2006 tentang standar kelulusan siswa. Peraturan tersebut menyebutkan bahwa untuk pelajaran matematika di SMP, standar yang diharapkan adalah siswa dapat menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai potensi atau kemampuan yang dimilikinya, dapat menunjukkan kemampuan untuk menganalisis serta mampu memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat menunjukkan kemampuan berpikir kritis, logis, kreatif dan inovatif. Sejalan dengan hal tersebut menurut Sumarmo (2006), pembelajaran dalam matematika ditujukan dan diarahkan untuk mengembangkan (1) kebiasaan dan sikap belajar atau disposisi matematis berkualitas yang tinggi. (2) kemampuan berpikir kritis matematis, serta suatu sikap atau prilaku obyektif dan terbuka (open mind); (3) kemampuan berpikir matematis yang meliputi: komunikasi, pemecahan masalah, penalaran,pemahaman, dan koneksi matematis.
58 (doing math) adalah menghitung, sedangkan contoh yang kompleks atau tinggi dari kegiatan matematis (doing math) adalah pembuktian matematis.
Kemampuan melaksanakan mathematical thinking matematis merupakan makna dari kemampuan matematis (mathematical ability).Berpikir matematis dapat digolongkan menjadi dua jenis berdasarkan kedalaman atau tingkat kompleksitas kegiatan matematis yang terlibat, yaitu: tingkat tinggi (high order mathematical thinking atau high level mathematical thinking) dan tingkat rendah (low order mathematical thinking atau low level mathematical thinking). Berdasarkan beberapa pengertian di atas, daya matematis memiliki cakupan yang lebih nyata dibandingkan dengan penalaran matematis atau dapat dikatakan berpikir matematis (Del Mas, 2002).
Memunculkan berbagai ide atau gagasan-gagasan yang bersifat asli (original), luwes (flexible) dan lancar (fluent) dalam pengambilan kesimpulan serta memikirkan kemungkinan penyelesaian lainnya akan dilakukan oleh siswa saat mereka melakukan proses berpikir untuk menyelesaikan masalah matematika berkaitan dengan analogi atau perbedaan, mengenali keterkaitan atau hubungan antar konsep, kemampuan mengulang atau mengingat, menyadari adanya hubungan sebab akibat.
Salah satu kegiatan berpikir yang termuat dalam proses berpikir adalah berpikir kritis. Suatu proses yang berpusat atau bermuara pada pembuatan dan penarikan kesimpulan atau keputusan yang logis tentang tindakan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dipercaya atau diyakini merupakan pengertian berpikir kritis. Berpikir kritis lebih menekankan pada pertanyaan tentang kebenaran jawaban, fakta, atau informasi yang ada dan bukan sekedar mencari jawaban. Hal ini tentu mendorong siswa untuk dapat menemukan alternatif atau solusi terbaiknya. Kemampuan berpikir kritis mutlak dibutuhkan siswa dalam menyelesaikan masalah karena, dengan kemampuan berpikir kritis, siswa mampu menyelesaikan masalah dengan beberapa interpretasi melalui eksplorasi suatu masalah, menangkap masalah sebagai tanggapan terhadap suatu situasi, dan mengemukakan pendapat dirinya sendiri.
59 gagasan, membandingkan strategi solusi dengan pengalaman atau teori terdahulu. Mengkonstruksi gagasan dan membuat kesimpulan perlu dilakukan siswa saat strategi telah dipilih oleh siswa. Pengembangan suatu gagasan yang dimiliki siswa akan dapat ditambah atau diperinci secara detil suatu obyek, gagasan, atau situasi. Setelah melalui tahapan tersebut siswa akan memperoleh solusi kemudian, solusi tersebut perlu diperiksa dan dikembangkan strategi alternatif. Pendapat lain dikemukakan oleh Noer (2010) bahwa, kemampuan pemecahan masalah matematis dalam kerangka kurikulum matematika Singapura digambarkan sebagai sebuah segilima beraturan dengan masing-masing sisi menggambarkan komponen yang mendukungnya, yakni: (1) Konsep, (2) Pemrosesan (termasuk di dalamnya keterampilan berpikir dan heuristik), (3) Metakognisi (termasuk di dalamnya kemandirian belajar), (4) Sikap, dan (5) Keterampilan. Apabila kelima komponen ini dikuasai dengan baik maka kemampuan pemecahan masalah matematis dapat dicapai.
Pada masa transisi siswa mulai dapat dilatih untuk berpikir hipotesis, proporsional, evaluatif, analitis, sintesis, kritis dan logis serta mampu memahami konsep secara abstrak dan jika dilihat dari perkembangan mental tersebut siswa SMP sudah mulai mampu untuk diajak berpikir ketingkat penalaran yang lebih tinggi yaitu kearah berpikir kritis bukan hanya ditingkat berpikir dasar saja, sehingga alangkah lebih baiknya bila pembelajaran yang dilaksanakan di SMP disesuaikan dengan taraf berpikir siswa.
60 kesadaran akan apa yang siswa pahami sehingga secara tak langsung akan berakibat pada kemampuan berpikir kritis siswa.
Metode IMPROVE dalam Pembelajaran Matematika
Metode pembelajaran IMPROVE merupakan metode yang setiap kata dalam akronimnya merupakan langkah pembelajaran. Menurut Kramerski (Mevarech & Armany, 2008) penjabaran dari akronim di atas mempresentasikan semua tahap dalam metode ini, yaitu: mengantarkan konsep baru, pertanyaan metakognitif, latihan, mereviu dan mengurangi kesulitan, penguasaan materi, melakukan verifikasi, dan pengayaan.
Metode pembelajaran IMPROVE merupakan singkatan dari semua langkah-langkah dalam pengajaran Kramerski (Mevarech & Armany, 2008),yaitu: 1. Introducing the new concepts
Kata pertama dari metode pembelajaran IMPROVE yaitu introducing the new concept atau memperkenalkan konsep baru. Mengantarkan konsep baru dalam metode pembelajaran IMPROVE berbeda dengan mengantarkan konsep baru pada pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran dengan menggunakan metode tradisional, seorang guru mengantarkan konsep baru dengan cara ceramah di depan kelas dan para siswa mendengarkan apa yang dikatakan guru. Cara tersebut merupakan proses pembelajaran yang berpusat pada guru, sedangkan pada pembelajaran dengan metode pembelajaran IMPROVE, seorang guru mengantarkan konsep baru tidak memberikan bentuk akhir atau bentuk jadinya saja, melainkan materi kajian baru diberikan kepada siswa dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang membuat siswa lebih terlibat aktif agar siswa dapat menggali kemampuan diri mereka sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu digunakan oleh guru untuk membimbing siswa dalam memahami konsep atau materi yang diajarkan. Misalnya, rumus apa saja yang kalian ketahui?, bagaimana penggunaan rumus-rumus tersebut? dan lain sebagainya.
2. Metacognitive questioning
61 masalah, pertanyaan tentang pengembangan hubungan antara pengetahuan lalu dan sekarang, pertanyaan menggunakan strategi penyelesaian masalah yang tepat dan pertanyaan refleksi pada saat menyelesaikan masalah. Pertanyaan metakognitif merupakan pertanyaan yang diajukan oleh guru kepada siswa. Pertanyaan metakognitif yang dapat diajukan kepada siswa menurut Mevarech & Kramarski antara lain:
1) Pertanyaan pemahaman
Pertanyaan ini berhubungan dengan teori yang menjadi materi dalam pembelajaran. Misalnya, mengenai apa keseluruhan masalah ini?. Berhubungan dengan pengetahuan teori mengenai masalah yang akan dipecahkan. Contohnya: seorang guru memberikan permasalahan kepada siswa mengenai suatu materi, setelah itu guru bertanya kepada siswa, “Apa masalah ini?”. Pada proses ini, metakognitif siswa berjalan. Siswa berfikir, untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Siswa memilah-milah semua yang telah dipelajarinya dan menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.
2) Pertanyaan koneksi
Pertanyaan koneksi merupakan pertanyaan mengenai apa yang siswa dapat sekarang dengan apa yang telah didapatnya dahulu. Misalnya, “Apakah masalah sekarang sama atau berbeda dari pemecahan masalah yang telah Anda lakukan di masalalu?”.Apabila seorang siswa diajukan pertanyaan seperti itu, secara tidak langsung proses metakognitif terjadi. Siswa akan mengingat permasalahan apa yang pernah siswa dapat, bagaimana siswa memecahkan masalah tersebut dan membandingkannya dengan permasalahan yang baru.
3) Pertanyaan strategi
62 yang tepat untuk memecahkan permasalahan. Selain itu, siswa juga harus mengetahui alasan mengapa diamemilih cara tersebut. Ini akan melatih siswa mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
4) Pertanyaan refleksi
Pertanyaan ini mendorong siswa untuk mempertimbangkan cara atau strategi yang telah diajukannya. Misalnya,“Apakah strategi itu merupakan solusi yang masukakal untuk memecahkan masalah ini?”. Dalam hal ini siswa menimbang kembali solusi yang diajukannya. Ini bertujuan agar siswa teliti dalam menjawab berbagai permasalahan.
3. Practicing
Setelah memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membangun pengetahuan siswa, siswa diberi pertanyaan metakognitif, selanjutnya siswa diajak untuk berlatih memecahkan masalah secara langsung. Hal ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan penguasaan materi dan mengasah kemampuan serta keterampilan siswa karena belajar dengan cara melakukan lebih bermakna dari pada belajar dengan cara membaca atau mendengar. Guru memberikan latihan kepada siswa berupa soal-soal atau permasalahan.
4. Reviewing and Reducing Difficulties
Biasanya pada saat latihan langsung, siswa banyak mengalami kesulitan atau kesalahan. Pada tahap ini guru mencoba melakukan reviu terhadap kesalahan-kesalahan yang dihadapi siswa dalam memahami materi dan memecahkan soal-soal atau permasalahan. Selanjutnya guru memberikan solusi untuk menghadapi kesulitan yang ada.
5. Obtaining mastery
Setelah melakukan pembelajaran, guru memberikan tes kepada siswa. Tes ini bertujuan untuk mengetahui penguasaan materisiswa. Melihat hasil tes tersebut, guru dapat melihat siswa mana yang sudah menguasai materi dan siswa mana yang belum menguasai materi.
6. Verification
63 mencapai batas kelulusan dikategorikan sebagai siswa yang sudah menguasai materi, sedangkan siswa yang belum mencapai batas kelulusan maka dikategorikan sebagai siswa yang belum menguasai materi.
g. Enrichmentand remedial
Tahap akhir dari metode pembelajaran IMPROVE adalah melakukan pengayaan terhadap siswa yang belum mencapai batas kelulusan atau belum menguasai materi. Hal ini dilakukan dengan kegiatan remedial. Dalam melaksanakan pembelajaran dengan metode pembelajaran IMPROVE, guru pertama kali harus memperkenalkan konsep baru pada siswanya dengan menggunakan tehnik pertanyaan metakognitif. Kemudian siswa dilatih untuk menggunakan 4 jenis pertanyaan yang ditunjukan pada diri sendiri (Mevarech& Fridkin, 2006) yaitu: 1). Pemahaman terhadap soal, 2). Koneksi soal, 3). Strategi dalam menyelesaikan soal, dan 4). Refleksi soal.
METODE PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian kuasi eksperimen karena peneliti melakukan pemberian perlakuan kepada subjek penelitian untuk selanjutnya ingin diketahui pengaruh perlakuan tersebut, tetapi peneliti tidak mengelompokkan subjek secara acak, tetapi menerima keadaan subjek apa adanya. Desain penelitian ini berbentuk:
Kelompok eksperimen O X O
Kelompok control O O
Keterangan:
X : Metode Pembelajaran IMPROVE
O : Tes yang diberikan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa (pretes = postes)
64 mendapatkan dua kelas pada dua kelompok yang memiliki kemampuan yang sama.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. Analisis Kemampuan awal berfikir Kritis Mataematis
Hasil skor pretes kemampuan berfikir kritis matematis siswa diperoleh sebelum pembelajaran diberikan, baik pada kelompok pembelajaran IMPROVE baik kelompok pembelajaran Konfensional. Berdasarkan pengolahan terhadap skor pretes, diperoleh skor minimum (Xmin), skor maksimum (Xmaks), skor rerata ( ), persentase (%) dan simpangan baku (s) seperti pada table berikut:
Tabel 1. Hasil Pretes Kelompok Pembelajaran IMPROVE dan Kelompok Pembelajaran Konvensional
Kelompok Jmh siswa
Skor Ideal
Pretes
Xmin Xmaks % s
Pembelajaran
IMPROVE 32
36
0,00 12,00 5,062 11,111 3,047 Pembelajaran
Konvensional 31 8,00 28,00 16,063 10,676 4,989
65 terjadi pada kelompok pembelajaran konvensional, skor kemampuan berpikir kritis matematis siswa sudah mencapai lebih tinggi dari 25%.
Untuk melihat sebaran data normal atau tidak, dapat dilakukan dengan pengujian statistik One-Sampel Kolmogorov-Smirnov. Menganalisis kenormalan pada data pretes siswa kelompok pembelajaran IMPROVE dalam penelitian ini menggunakan SPSS for Windows versi 18. Dengan kreteria uji, pada taraf signifikasi tolak H0 jika p-value lebih kecil dari .
Tabel 2. Hasil uji Normalitas Skor Pretes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siwa Kelompok Pembelajaran IMPROVE dan Kelompok Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran IMPROVE
Pembelajaran Konvensional N
Kolmogorov-Smirnov Z Asymp.Sig.(2-tailed)
32 0,477 0,977
31 0,774 0,587
Sesuai dengan tabel 2 tersebut, hasil pengujian statistik di peroleh nilai signifikasi (sig) sebesar 0,977 untuk pretes kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada kelompok pembelajaran IMPROVE dan 0,587 untuk sekor pretes kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada kelompok pembelajaran konvensional. Pada taraf signifikasi =0,05, teryata nilai signifikansi kedua sampel tesebut lebih besar dari , dapat disimpulkan hipotesis nol yang menyatakan sampel berasal dari populasi yang berdistibusi normal diterima. Jadi kedua kelompok data skor pretes kemampuan berpikir kritis matematis tersebut berdistribusi normal.
Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas Varians Skor Pretes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelompok Pembelajaran IMPROVE dan kelompok Pembelajaran Konvensional
F Sig Kesimpulan
0,312 0,578 Homogen
66 kelompok data adalah homogen diterima. Hasil perhitungan uji statistik Compare Mean Independent Samples Test selengkapnya dapat dilihat dapa Tabel berikut: Tabel 4. Hasil uji perbedaan Dua rerata pretes Kemampuan Berpikir Kritis
Matematis Siswa Kelompok Pembelajaran IMPROVE dan Kelompok Pembelajaran Konvensional
t Df Sig
-0,154 61 0,878
Berdasarkan Tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa nilai signifikasi (Sig) sebesar 0,878 lebih besar dari nilai = 0,05, berarti kedua kelompok data skor pretes kemampuan berpikir kritis matematis ini memiliki rerata kemampuan awal berpikir kritis matematis yang tidak berbeda, sehingga kedua kelompok kelas yaitu kelas pembelajaran IMPROVE dan kelas pembelajaran Konvensional memiliki kemampuan yang sama.
b. Analisis Kemampuan akhir berfikir Kritis Matematis
Hasil skor postes kemampuan berfikir kritis matematis siswa merupakan skor yang diperoleh setelah pembelajaran diberikan baik pada kelompok pembelajaran IMPROVE baik kelompok pembelajaran Konfensional. Berdasarkan pengolahan terhadap skor pretes, diperoleh skor minimum (Xmin), skor maksimum (Xmaks), skor rerata ( ), persentase (%) dan simpangan baku (s) seperti pada table berikut:
Tabel 5. Hasil Postes Kelompok Pembelajaran IMPROVE dan Kelompok Pembelajaran Konvensional.
Kelompok Jmh siswa
Skor Ideal
Pretes
Xmin Xmaks % s
Pembelajaran
IMPROVE 32
36
8,00 28,00 16,0623 44,6175 4,989 Pembelajaran
Konvensional 31 4,00 27,00 13,2258 36,7383 6,520
67 berbeda. Prsentase skor kelompok pembelajaran IMPROVE 7,8792% lebih tinggi daripada kelompok pembelajaran konvensional. Kelompok pembelajaran IMPROVE memiliki presentase skor 44,618% sedangkan kelompok pembelajaran konvensional 36,738%. Presentase skor diperoleh dari hasil bagi skor rerataan dengan skor idieal dikali 100%. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan berfikir kritis matematis siswa pada kelompok pembelajaran IMPROVE yang diberi pembelajaran IMPROVE baru mencapai 44,618% sedangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelompok pembelajaran konvensional hanya 36,738%. Perbedaan pada kelompok pembelajaran IMPROVE dan pembelajaran konvensional tersebut melalui analisis statistic deskriptif masih perlu dilakukan uji perbedaan rerata untuk menunjukan bahwa rerata skor postes kedua kelompok berbeda atau secara signifikan.
Untuk melihat sebuah data normal atau tidak, pada data postes dilakukan dengan pengujian statistik One-Sampel Kolmogorov-Smirnov menggunakan SPSS for Windows versi 17.
Tabel 6. Hasil uji Normalitas Skor Postes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siwa Kelompok Pembelajaran IMPROVE dan Kelompok Pembelajaran Konvensional signifikasi (sig) sebesar 0,661 untuk skor postes kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada kelompok pembelajaran IMPROVE dan 0,465 untuk sekor postes kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada kelompok pembelajaran konvensional. Pada taraf signifikasi =0,05, teryata nilai signifikansi kedua sampel tesebut lebig besar dari , dapat disimpulkan kedua kelompok data skor postes kemampuan berpikir kritis matematis tersebut berdistribusi normal.
Tabel 7. Hasil Uji Homogenitas Varians Skor Postes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelompok Pembelajaran IMPROVE dan kelompok Pembelajaran Konvensional
F Sig Kesimpulan
68 Berdasarkan tabel 7 di atas, untuk uji homogenitas varians terlihat nilai Levene Statistic (F) sebesar 5,010 dengan nilai signifikansi sebesar 0,029. Nilai signifikasi tersebut lebih besar dari taraf signifikasi ( ) = 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol yang menyatakan varians populas kedua kelompok data adalah homogen diterima. Hal ini sesui dengan pendapat Trihendradi (2009) menyatakan bahwa nilai signifikansi yang lebih besar dari = 0,05 kedua kelompok adalah homogen.
Hasil perhitungan uji statistik Compare Mean Independent Samples Test selengkapnya dapat dilihat dapa Tabel berikut:
Tabel 8. Hasil uji perbedaan Dua rerata postes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelompok Pembelajaran IMPROVE dan
Kelompok Pembelajaran Konvensional
t Df Sig.(2-tailed)
1,943 61 0,057
Berdasarkan Tabel 8 diatas dapat diketahui bahwa nilai signifikasi (Sig.2-tailed) sebesar 0,057 lebih besar dari nilai = 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol yang menyatakan tidak terdapat perbedaan antara rerataan kedua kelompok ditolak. Berarti kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran IMPROVE secara statistik lebih baik daripada kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.
c. Aalisis Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis
69 Tabel 9. Rerata N-gain Kemampuan berpikir Kritis Matematis
Pembelajaran Katagori
Berdasarkan tabel 9 di atas dapat diperoleh:
1. Rerata N-gain berpikir kritis matematis siswa menggunakan pembelajaran IMPROVE lebih tinggi 0,346 dari rerataan N-gain kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.
2. Katagori siswa kelampok atas, tengah dan bawah pada pembelajaran IMPROVE memiliki rerata N-gain kemampuan berpikir kritis tergolong sedang.
3. Pada kelompok atas rerata N-gain kemampuan berpikir kritis matematis menggunakan pembelajaran IMPROVE (0,557) lebih tinggi disbandingkan dengan rerata N-gain kemampuan berpikir kritis matematis yang menggunakan pembelajaran konvensional (0,499).
4. Pada siwa kelompok tengah, rerata N-gain kemampuan berpikir kritis matematis yang menggunakan pembelajaran IMPROVE (0,340) lebih tinggi disbanding N-gain kemampuan berpikir kritis matematis yang menggunakan pembelajaran Konvensional (0,231).
5. Pada siswa kelompok bawah, rerata N-gain kemampuan berpikir kritis matematis yang menggunakan pembelajaran IMPROVE (0,145) lebih tinggi dibandingkan dengan rerata N-gain kemampuan berpikir kritis matematis yang menggunakan pembelajaran konvensional (0,076).
70 Sampel Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan bantuan SPSS for windows versi 18.
Tabel 10. Uji Normalitas Distribusi Data N-gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siwa Berdasakan Pembelajaran
N-gain Pembelajaran
Berdasarkan tabel 10 di atas hasil pengujian statistic diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,951 untuk N-gain kemampuan berpikir kritis matematis siwa pada kelompok pembelajaran IMPROVE yang diberi pembelajaran konvensional 0,503 untuk N-gain kemampuan berpikir kritis matematis. Pada taraf signifikasi = 0,05 nilai signifikasi kedua sampel tersebut lebih besar dari nilai sehingga dapat disimpulkan hipotesis nol menyatakan sampel N-gain berasal dari populasi yang berdistribusi normal diterima. Sehingga kedu kelompok kemampuan berpikir kritis matematis berdasarkan pembelajaran tersebut berdistribusi normal.
Tabel 11. Uji Normalitas Distribusi Data N-gain Kemampuan berfikir Kritis Matematis Siswa berdasarkan Kategori Siswa
N-gain
71 Tabel 12. Uji Normalitas Distribusi Data N-gain Kemampuan Berpikir Kritis
Matematis Siswa Berdasarkan Pembelajaran dan Kategori Pengetahuan Siswa
Tabel diatas hasil pengujian statistik diperoleh nilai singnifikasi (sig) sebesar 0,799 untuk skor N-gain kemampuan bepikir kritis matematis siswa pada kelompok siswa yang diberi pembelajaran IMPROVE dengan katagori atas, 0,531 untuk skor N-gain kemampuan berpikir kritis matematis kelompok IMPROVE dengan katagori tengah, dan 0,992 untuk skor N-gain kemampuan berpikir kritis matematis kelompok IMPROVE dengan katagori bawah. 0,840 untuk skor N-gain kemampuan bepikir kritis matematis siswa pada kelompok siswa yang diberi pembelajaran konvensional dengan katagori atas, 0,835 untuk skor N-gain kemampuan berpikir kritis matematis kelompok konvensional dengan katagori tengah, dan 0,996 untuk skor N-gain kemampuan berpikir kritis matematis kelompok konvensional dengan katagori bawah. Pada taraf singnifikasi = 0,05 nilai singnifikasi keenam sampel tersebut lebih besar dari nilai sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol yang menyatakan sampel N-gain berasal dari distribusi normal diterima. Setelah menguji kenormalan data, kedua data diuji homogenitasnya untuk melihat apakah kedua data tersebut memiliki varians yang sama atau homogen digunakan uji Homogenety of Variavces (levene Statistic). Tabel 13. Hasil Uji Homogenitas Varians Skor N-gain Kemampuan Berpikir
Kritis Matematis Siswa
F Sig. Kesimpulan
0,218 0,642 Homogen
72 signifikasi tersebut lebih besar dari taraf singnifikasi = 0,05 sehinga dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol yang menyatakan varians populasi keenam kelompok data adalah homogen diterima. Artinya keenam kelompok data gain kemampuan bepikir kritis matematis memiliki varians yang homogen.
Selanjutnya kelompok data N-gain dengan statistik ANOVA dua jalur ini untuk melihat pengaruh langsung dilakukan dengan SPSS for Windaws versi 18 menggunakan General Linear Model (GLM) – Univariate.
Tabel 14. Hasil Uji ANOVA Dua Jalur N-gain Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Menurut Pembelajaran Dan Kategori Siswa
Source
Type III sum of squares
df Mean
Square F Sig
Corrected Model 1,627a 5 .325 60.766 .000
Intercept 5,591 1 5.591 1044.014 .000
Pembelajaran .092 1 .092 17.108 .000
Kategori-siswa 1.499 2 .750 139.957 .000
Pembelajaran*
Kategori –Siswa .008 2 .004 .783 .000
Error 0.305 57 .005
Total 7.745 63
Corrected Total 1.932 62 R Squared = ,842 (Adjusted R Squared = ,828
Berdasarkan tabel diatas dipeoleh signifikasi (sig) sebesar 0,000 nilai signifikasi tersebut lebih kecil dari nilai = 0,05 sehingga terdapat intraksi antara faktor metode pembelajaran dan katagori pengetahuan siswa terhadap kemampuan berpikir kritis matematis. Secara grafik, intraksi antara faktor pembelajaran dan factor katagori siswa sebagai berikut:
73 Gambar di atas menunjukan adanya perbedaan kemampuan berpikir kritis matematis yang signifikan antara siswa kelampok atas, kelompok tengah dan kelompok bawah pada siswa yang memperoleh pembelajaran IMPROVE. Gambar tersebut menujukkan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran IMPROVE lebih baik pada siswa dengan kategori pengetahuan awal siswa atas dan bawah daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Pada pembelajaran IMPROVE, kemampuan berpikir kritis matematis siswa menunjukkan perbedaan yang besar. Gambar tersebut menunjukan intraksi antara factor metode pembelajaran dengan kategori pengetahuan siswa. Dengan demikian pembelajaran IMPROVE dan kategori pengetahuan siswa secara bersama-sama mempengaruhi peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir kritis matematis kelompok siswa yang memperoleh metode pembelajaran IMPROVE lebih baik daripada kelompok siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.
2. Pada siswa yang memperoleh pembelajaran IMPROVE, siswa katagori atas memiliki peningkatan kemampuan berpikir kritis yang lebih baik daripada siswa kategori tengah dan siswa katagori bawah, sedangkan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa katagori bawah lebih baik dari pada siswa katagori tengah sehingga terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara siswa kelompok atas, kelompok tengah, dan kelompok bawah pada siswa yang memperoleh kedua metode pembelajaran. 3. Ditinjau dari intraksi antara factor pembelajaran dan katagori kemampuan
74 DAFTAR PUSTAKA
Baroody, A. J, & Dowker,A (2003) The Development of Arithmetic Concepts and Skills: Constructing Adaptive Expertise. Mahwah, N.J: Lawrence Erlbaum Associates.
DelMas, R. C (2002).initial fractions learning by frouth- and the fifth-grades student: Acomparison of the effect of using commercial curricula with the effect of using the rational project curriculum. Journal for Research in Mathematics Education,33(2),111-144
Kilpatrick, J., Swafford, J., & Findell, B. (2001). Adding it up. Helping children lern mathematics. Washington, D. C.: National Academy Press.
Liliastari (2002) pengembangan model Pembelajaran Kimia untuk Meningkatkan Strategi Kognitif Mahasiswa Calon Guru dalam Meningkatkan Berpikir Konseptual Tingkat Tinggi. Laporan Penelitian Hibah Bersaing IX Perguruan Tinggi Tahun Ajaran 2001-2002. Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia.
Mevarech, Z & Amrany, C. (2008) Immediate and Delayed Effects of Metacognitive Intruction on Regulation of Cognition and Mathematics Achevement. Metacognition Learning, 3, 147-157.
Noer, S. H. (2010). Peningkatan Kemampuan Berfikir Kritis, Kreatif, dan Reflektif (K2r) Matematis Siswa Smp Melalui Pembelajaran Berbasi Masalah. Disertai pada SPs UPI Bandung: tidak di terbitkan
Sabandar, J. (2009a). Berpikir Reflektif. Tersedia:http://math.sps.upi.edu/wp-content/uploads/2009/11/Berpikir-Reflektif.pdf.[4 Februari2010].
Sumarno, U. (2006). Kemandirian belajar: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Dikembangkan pada Peserta Didik. Makalah. (tidak diterbitkan)