• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN WARIS KALALAH DI KELURAHAN M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PELAKSANAAN WARIS KALALAH DI KELURAHAN M"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

11 10 A. Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Pasnelyza Karani dengan judul “Tinjauan Ahli Waris Pengganti Dalam Hukum Waris Islam dan Hukum Waris KUH Perdata”. Setelah di analisis, kesimpulan penelitian tersebut yaitu sistem ahli waris pengganti dalam kedua hukum waris, hukum waris Islam dan hukum waris KUH Perdata terjadi apabila orang yang menghubungkannya kepada pewaris sudah meninggal dunia terlebih dahulu dari pewaris, dan haruslah mempunyai hubungan nasab (pertalian darah) yang sah dengan pewaris.

Penelitian yang kedua yaitu ditulis oleh Suharjo dengan judul “Studi Analisis Pemikiran Muhammad Syahrur tentang Kalalah". Hasil penelitian tersebut yaitu ada perbedaan pendapat antara pemikiran Muhammad Syahrur dengan pemikiran para Ulama klasik tentang Kalalah, baik itu pengertian kalalah, kedudukan saudara baik saudara sekandung, seayah maupun seibu seerta bagian-bagian harta waris yang diterima oleh saudara-saudara.

(2)

No Penulis Judul Fokus Penelitian Metode Hasil Penelitian islam dan hukum waris kuh perdata

Kualitatif sistem ahli waris pengganti dalam kedua hukum waris, hukum waris Islam dan hukum waris KUH Perdata terjadi apabila orang yang menghubungkannya kepada pewaris sudah meninggal dunia terlebih dahulu dari pewaris, dan haruslah mempunyai hubungan nasab (pertalian darah) yang sah dengan pewaris

2 Suharjo Studi Analisis Pemikiran Muhammad Syahrur tentang Kalalah

Bagaimana Analisis Pemikiran Muhammad Syahrur tentang Kalalah

Kualitatif ada perbedaan pendapat antara pemikiran Muhammad Syahrur

(3)

Dari tabel di atas dapat bahwa penelitian terdahulu belum ada yang membahas tentang waris kalalah dengan kompilasi hukum Islam dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

B. Kajian Teoritik

1. Pengertian Waris Kalalah Dalam Pandangan Kompilasi Hukum Islam

Hukum yang mengatur tentang peralihan harta warisan dari pewaris kepada ahli waris dinamakan hukum kewarisan, yang dalam hukum Islam dikenal dengan beberapa istilah seperti: faraidl, Fiqih Mawaris dan lain-lain, yang kesemua pengertiannya oleh para fuqaha (ahli hukum fiqh) dikemukan sebagai berikut :

a. Hasbi Ash-Shiddieqy, hukum kewarisan adalah: Suatu ilmu yang dengan dialah dapat kita ketahui orang yang menerima pusaka, orang yang tidak menerima pusaka, serta kadar yang diterima tiap-tiap waris dan cara membaginya.

b. Abdullah Malik Kamal Bin As-Sayyid Salim, Ilmu fara’id ialah: Ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah fikih dan ilmu hitung yang berkaitan dengan harta warisan dan orang-orang yang berhak yang mendapatkannya agar masing-masing orang yang berhak mendapatkan bagian harta warisan yang menjadi haknya

(4)

“fara’idh adalah bentuk jamak dari ‘faridhah’, sedangkan makna

yang dimaksud adalah mafrudhah, yaitu pembagian yang telah

dipastikan. Al-fara’idh , menurut istilah bahasa adalah ‘kepastian’, sedangkan menurut istilah syara’ artinya bagian-bagian yang telah

dipastikan untuk ahli waris.”

Demikian pula dalam Surat Al-Qashash ayat 58:



Artinya: “Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam

kehidupannya; Maka Itulah tempat kediaman mereka yang

tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian

kecil. dan Kami adalah Pewaris(nya)” (Q.S. Al-Qashash:

58) (DEPAG, 1998:619)

Arti mirats , menurut bahasa adalah berpindahnya sesuatu

dari seseorang kepada orang lain atau dari suatu kaum kepada kaum yang lain (Saebani, 2009:14)

Sedangkan waris menurut hukum Islam ialah proses

pemindahan harta peninggalan seseorang yang telah meninggal, baik berupa benda yang wujud maupun yang berupa hak kebendaan,

(5)

Pengertian dari Kalalah yaitu suatu kasus (abnormal) dimana pewaris mati tanpa adanya keturunan. (Anshori, 2002: 10)

Sedangkan menurut Prof Dr. Amir Syarifuddin mengartikan kalalah adalah seseorang yang meninggal dunia dan tidak

meninggalkan anak. ( Syarifuddin, 2004: 41)

2. Pengertian Waris Kalalah Dalam Pandangan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Sedangkan dalam sistem waris nasional terdapat beberapa pengertian dari waris, seperti menurut pendapat Wirjono Prodjodikoro

(1991: 12) dalam bukunya hukum warisan di indonesia mengatakan bahwa warisan adalah suatu cara penyelesaian perhubungan-perhubungan hukum dalam masyarakat, yang melahirkan sedikit banyak

kesulitan sebagai akibat dari wafatnya seseorang.

Menurut Subekti dalam pokok-pokok hukum perdata tidak

menyebutkan definisi hukum kewarisan, hanya beliau mengatakan asas hukum kewarisan, menurut subekti:

“ Dalam Hukum Waris Kitab Undang-Undang Hukum Perdata berlaku suatu asas, bahwa hanyalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam lapangan hukum kekayaan harta benda saja yang dapat diwariskan. Oleh karena itu hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam lapangan hukum kekeluargaan pada umumnya hak-hak dan kewajiban-kewajiban kepribadian misalnya hak-hak dan kewajiban-kewajiban sebagai seorang suami atau sebagai seorang ayah tidak dapat diwariskan, begitu pula hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang sebagai anggota suatu perkumpulan.” (Ramulyo,2000: 104-105)

Sedangkan menurut Effendi Perrangin dalam bukunya hukum

(6)

harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal serta akibatnya bagi para ahli warisnya (Perrangin, 2007: 3)

Menurut Pitlo bahwa hukum waris adalah kumpulan peraturan yang mengatur hukum mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang,

yaitu mengenai pemindahan kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati dan akibat dari pemindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya, baik dalam hubungan antar mereka dengan mereka, maupun dalam hubungan

antara mereka dengann pihak ketiga (Suparman,2007: 25)

Dalam Burgerlijk Weetbook (BW) tidak ada pemahaman tentang

waris kalalah, disana hanya diterangkan tentang ahli waris pengganti dimana dalam bahasa Belanda menjadi ahli waris “bij plaatsvervulling”.

Di sini dapat diketahui bahwa menurut BW tidak ada definisi yang

jelas tentang waris kalalah.

3. Pembagian Waris Kalalah Menurut Kompilasi Hukum Islam a. Unsur-unsur Hukum Kewarisan Islam

Menurut hukum kewarisan Islam ada tiga unsur yaitu : 1) Pewaris (Muwarits)

Yaitu : Seseorang yang telah meninggal dan meninggalkan sesuatu yang dapat beralih kepada keluarganya yang masih hidup (Syarifuddin,1984: 51)

(7)

atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan Pengadilan, beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan.

2) Ahli Waris (Warits).

Yaitu: Orang yang berhak mendapat warisan karena mempunyai hubungan dengan pewaris, berupa hubungan kekerabatan, perkawinan atau hubungan lainnya dan harus ada ahli waris pada saat pewaris meninggal, tidak boleh mewariskan harta pada orang yang meninggal.

Kompilasi Hukum Islam dalam Pasal 171 huruf c, menyatakan ahli waris adalah : Orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.

3) Warisan (Mauruts)

Yaitu: Sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia, baik berupa benda bergerak maupun benda tak bergerak.

b. Syarat-syarat mewarisi dalam kewarisan Islam

(8)

timbul masalah kewarisan.

Pewarisan hanya berlangsung karena kematian. Mungkin perlu dijelaskan di sini bahwa kematian itu ada beberapa macam antara lain ialah:

a. mati hakiki (mati sejati), ialah hilangnya nyawa seseorang dari jasadnya yang dapat dibuktikan oleh panca indra atau oleh dokter.

b. mati hukmi (mati yang dinyatakan menurut putusan hakim). Pada hakikatnya orang itu kemungkinan masih hidup, atau ada kemungkinan antara hidup atau mati, tetapi menurut hukum dianggap telah mati karena tak tentu lagi di mana hutan rimbanya dia berdiam. (Fatchur, 1975: 79)

c. mati taqdiri, ialah kematian bayi yang baru dilahirkan akibat terjadi pemerkosaan misalnya:

i. kematian bayi yang baru dilahirkan akibat terjadi pemukulan terhadap perut ibunya, atau

ii. pemaksaan ibunya meminum racun, jadi hanya semata-mata karena kekerasan dan tidak langsung terhadap sang bayi (Fatchur,1975: 80)\

(9)

catatan bahwa utang si pewaris dibayar sepanjang harta bendanya cukup untuk membayar utang tersebut.

a. benda berwujud dan bernilai seperti misalnya benda-benda bergerak, seperti mobil, termasuk di dalamnya piutang-piutang, benda wajib (diyah wajibah) yang harus dibayar oleh si pembunuh. Benda-benda tetap seperti rumah, tanah, kebun dan sebagainya.

.b. Hak-hak kebendaan lainnya hak monopoli untuk mendaya gunakan, menarik hasil dari sumber irigasi, pertanian perkebunan dan sebagainya.

c. hak-hak lainnya seperti:

i. hak khiyar, yaitu hak untuk menentukan pilihan antara dua alternative, meneruskan akad jual beli atau diurungkan (ditarik kembali tidak jadi jual beli). Hal ini untuk memikirkan kemaslahatan masing-masing agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari lantaran masih tertipu

(10)

(Ramulyo,2000: 107)

d. hak-hak yang bersangkutan (berhubungan) dengan orang lain di luar kategori di atas, misalnya:

i. hak gadai ii. hak hipotek

iii. hak credit verband

iv. mas kawin yang belum dibayar yang kesemuanya disebut hak ainiyah (dian-ainy).(Fatchur,1975: 37)

3) Yang ketiga harus ada ahli waris pengganti (warits), yaitu orang-orang yang akan menerima harta peninggalan si pewaris yang dapat pula dibagi dalam 5 (lima) golongan:

a. ahli waris sebab (sababiyah) perkawinan antara suami dengan istri

b. ahli waris nasabiyah, yaitu orang-orang yang menerima warisan karena ada hubungan nasab (qarabat), misalnya karena hubungan darah bertalian lurus ke atas, lurus ke bawah maupun pertalian cabang seperti saudara-saudara, paman, bibi dan sebagainya dan sebagainya anak, cucu, cicit, orang tua saudara dan sebagainya.

(11)

d. apabila menangis anak yang baru lahir, maka dia akan mewaris (hadis diriwayatkan oleh Abu Daud). Tidak dapat warisan anak yang baru lahir kecuali ia lahir bersuara. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

e. kematiannya bersamaan misalnya bapak dan anak sama-sama mati tenggelam dalam satu perahu atau kapal, mereka tidak saling mewaris.

c. Golongan-golongan ahli waris dan pembagiannya dalam Kompilasi Hukum Islam

Di dalam Kompilasi Hukum Islam, masalah tentang pembagian ahli waris terdapat di dalam pasal 174, yang isinya

1. Kelompok-kelompok ahli waris terdiri dari a. Menurut hubungan darah:

- Golongan laki-laki terdiri dari: ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman, dan kakek

- Golongan perempuan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan nenek.

b. Menurut hubungan perkawinan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan nenek.

2. Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya: anak, ayah, ibu, janda atau duda.

(12)

193, untuk besar bagiannya seperti di bawah ini:

• Pasal 176

Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separuh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan.

• Pasal 177

Ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada anak, ayah mendapat seperenam bagian.

• Pasal 178

1) Ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih. Bila tidak ada anak atau dua saudara atau lebih, maka ia mendapat sepertiga bagian.

2) Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda atau duda bila bersama-sama dengan ayah.

• Pasal 179

Duda mendapat separuh bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan, maka duda mendapat seperempat bagian.

• Pasal 180

(13)

anak, dan bila pewaris meninggalkan anak, maka janda mendapat seperdelapan bagian.

• Pasal 181

Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan ayah dan anak, maka saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu masing-masing mendapat seperenam bagian. Bila mereka itu dua orang atau lebih maka mereka bersama-sama mendapat sepertiga bagian.

• Pasal 182

Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan ayah dan anak, sedang ia mempunyai satu saudara perempuan kandung atau seayah, maka ia mendapat separuh bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki adalah dua berbanding satu dengan saudara perempuan.

• Pasal 183

(14)

• Pasal 184

Bagi ahli waris yang belum dewasa atau tidak mampu melaksanakan hak dan kewajibannya, maka baginya diangkat wali berdasarkan keputusan hakim atas usul anggota keluarga.

• Pasal 185

1) Ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada si pewaris maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam pasal 173.

2) Bagian bagi ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.

• Pasal 186

Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling mewaris dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya.

• Pasal 187

1) Bilamana pewaris meninggalkan harta peninggalan maka oleh pewaris semasa hidupnya atau oleh para ahli waris dapat ditunjuk beberapa orang sebagai pelaksana pembagian harta warisan dengan tugas:

(15)

b. Menghitung jumlah pengeluaran untuk kepentingan pewaris sesuai dengan pasal 175 ayat (1) sub a, b, dan 2) Sisa dari pengeluaran dimaksud di atas adalah merupakan

harta warisan yang harus dibagikan kepada ahli waris yang berhak.

• Pasal 188

Para ahli waris baik secara bersama-sama atau perseorangan dapat mengajukan permintaan kepada ahli waris yang lain untuk melakukan pembagian harta warisan. Bila ada di antara ahli waris yang tidak menyetujui permintaan itu, maka yang bersangkutan dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Agama untuk dilakukan pembagian harta warisan.

• Pasal 189

1. Bila harta warisan yang akan dibagi berupa lahan pertanian yang luasnya kurang dari 2 hektar, supaya dipertahankan kesatuannya sebagaimana semula, dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama para ahli waris yang bersangkutan. 2. Bila ketentuan tersebut pada ayat (1) pasal ini tidak

(16)

• Pasal 190

Bagi pewaris yang beristri lebih dari seorang, maka masing-masing istri berhak mendapat bagian atas gono gini dari rumah tangga dengan suaminya, sedangkan keseluruhan bagian pewaris adalah menjadi hak para ahli warisnya.

• Pasal 191

Bila pewaris tidak meninggalkan ahli waris sama sekali, atau ahli warisnya tidak diketahui ada atau tidaknya, maka harta tersebut atas putusan Pengadilan Agama diserahkan penguasaannya kepada Baitul Mal untuk kepentingan agama Islam dan kesejahteraan umum.

• Pasal 192

Apabila dalam pembagian harta warisan di antara para ahli waris dzawil furudh menunjukkan bahwa angka pembilang lebih besar dari angka penyebut, maka angka penyebut dinaikkan sesuai dengan angka pembilang, dan baru sesudah itu harta warisan dibagi secara aul menurut angka pembilang.

• Pasal 193

(17)

ahli waris sedangkan sisanya dibagi secara berimbang di antara mereka.

4. Pembagian Waris Kalalah Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

a. Unsur-unsur Hukum Kewarisan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Hukum Perdata yang berlaku di Indonesia sampai saat ini masih memakai ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Kitab Undang-UndangHukumPerdata/KUH (Burgerlijk Wetboek/BW). Dalam KUH Perdata hukum waris merupakan bagian dari hukum harta kekayaan sehingga pengaturan hukum terdapat dalam Buku Ke II KUH Perdata tentang Benda.

Wirjono Prodjodikoro menyatakan bahwa pengertian kewarisan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata memperlihatkan beberapa unsur, yaitu :

a. Seorang peninggal warisan atau erflater yang pada wafatnya meninggalkan kekayaan. Unsur pertama ini menimbulkan persoalan bagaimana dan sampai dimana hubungan seseorang peninggal warisan dengan kekayaannya dipengaruhi oleh sifat lingkungan kekeluargaan, di mana peninggal warisan berada. b. Seseorang atau beberapa orang ahli waris (erfgenaam)

(18)

ada tali kekeluargaan antara peninggal warisan dan ahli waris agar kekayaan si peninggal warisan dapat beralih kepada si ahli waris.

c. Harta Warisan (nalatenschap), yaitu w ujud kekayaan yang ditinggalkan dan beralih kepada ahli waris. Ini menimbulkan persoalan bagaimana dan sampai dimana ujud kekayaan yang beralih itu, dipengaruhi oleh sifat lingkungan kekeluargaan, dimana peninggal warisan dan ahli waris bersama- sama berada.(Ramulyo,2000: 106)

Pada dasarnya, pemahaman di atas sama dengan yang dikemukakan oleh Dr. Eman Suparman dalam bukunya Hukum Waris Indonesia, dimana ada 3 (tiga) unsure dalam kewarisan KUH Perdata, yaitu:

a. Ada seseorang yang meninggal dunia

b. Ada seseorang yang masih hidup sebagai ahli waris yang akan memperoleh warisan pada saat pewaris meninggal dunia; c. Ada sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan

pewaris.(Suparman, 2007: 25)

(19)

b. Syarat-syarat mewarisi dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Menurut R. Subekti bahwa seorang ahli waris mewarisi sejumlah harta pewaris menurut system hukum waris BW ada dua cara, yaitu:

1. Menurut ketentuan undang-undang;

2. Ditunjuk dalam surat wasiat (testamen). (Suparman,2007: 29) Sedangkan syarat-syarat untuk mewarisi sesuai dengan KUH Perdata adalah:

1. Syarat yang berhubungan dengan pewaris

Untuk terjadinya pewarisan maka si pewaris harus sudah meninggal dunia/mati, sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 830 KUH Perdata.

2. Syarat yang berhubungan dengan ahli waris

Orang-orang yang berhak/ ahli waris atas harta peninggalan harus sudah ada atau masih hidup saat kematian si pewaris.

Hidupnya ahli waris dimungkinkan dengan :

1) Hidup secara nyata, yaitu dia menurut kenyataan memang benar-benar masih hidup, dapat dibuktikan dengan panca indra.

(20)

KUH Perdata).

Sedangkan ahli waris yang tidak patut menerima harta warisan adalah:

a. Seorang ahli waris yang dengan putusan hakim telah dipidana karena dipersalahkan membunuh atau setidak-tidaknya mencoba membunuh pewaris;

b. Seorang ahli waris yang dengan putusan hakim telah dipidana karena dipersalahkan memfitnah dan mengadukan pewaris bahwa pewaris difitnah melakukan kejahatan yang diancam pidana penjara empat tahun atau lebih;

c. Ahli waris yang dengan kekerasan telah nyata-nyata menghalangi atau mencegah pewaris untuk membuat atau menarik kembali surat wasiat;

d. Seorang ahli waris yang telah menggelapkan, memusnahkan, dan memalsukan surat wasiat.(Suparman,2007: 39)

Di dalam hukum kewarisan KUH Perdata juga mengenal asas-asas selain yang terdapat pada pasal 830, adapun asas-asas tersebut adalah:

1. Asas individual

(21)

bahwa yang berhak menerima warisan adalah suami atau istri yang hidup terlama, anak beserta keturunannya.

2. Asas bilateral

Asas bilateral artinya bahwa seseorang tidak hanya mewarisi dari bapak saja tetapi juga sebaliknya dari ibu, demikian juga saudara laki-laki mewarisi dari saudara laki-lakinya, maupun saudara perempuannya, asas bilateral ini dapat dilihat dari pasal 850, 853 dan 856 yang mengatur bila anak-anak dan keturunannya serta suami atau istri yang hidup terlama tidak ada lagi maka harta peninggalan dari si meninggal diwarisi oleh ibu dan bapak serta saudara baik laki-laki maupun saudara perempuan.

3. Asas penderajatan

Asas penderajatan artinya ahli waris yang derajatnya dekat dengan si pewaris menutup ahli waris yang lebih jauh derajatnya, maka untuk mempermudah perhitungan diadakan penggolongan-penggolongan ahli waris.(Ramulyo,2000:121) c. Golongan-golongan ahli waris dan pembagiannya

1. Ahli waris

(22)

Suami atau istri yang ditinggalkan/ hidup paling lama ini baru diakui sebagai ahli waris pada tahun 1935, sedangkan sebelumnya suami/ istri tidak saling mewarisi.

b. Golongan kedua, keluarga dalam garis lurus ke atas, meliputi orang tua dan saudara, baik laki-laki maupun perempuan, serta keturunan mereka.

Bagi orang tua ada peraturan khusus yang menjamin bahwa bagian mereka tidak akan kurang dari seperempat bagian dari harta peninggalan, walaupun mereka mewaris bersama-sama saudara pewaris.

c. Golongan ketiga, meliputi kakek, nenek, dan leluhur selanjutnya ke atas dari pewaris.

d. Golongan keempat, meliputi anggota keluarga dalam garis ke samping dan sanak keluarga lainnya sampai derajat keenam.(Suparman,2007: 30)

2. Pembagian hak waris menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Dalam kitab undang-undang hukum perdata, masalah tentang kewarisan terdapat dalam buku ii tentang kebendaan. Pasal-pasal yang membahas tentang kewarisan adalah sebagai berikut:

• Pasal 830

(23)

• Pasal 831

Apabila beberapa orang antara mana yang satu adalah untuk menjadi waris yang lain, karena satu malapetaka yang sama, atau pada satu hari, telah menemui ajalnya, dengan tak dapat diketahui siapakah kiranya yang mati terlebih dahulu, maka dianggaplah mereka telah meninggal dunia pada detik saat yang sama, dan perpindahan warisan dari satu kepada yang lain taklah berlangsung karenanya.

• Pasal 832

Menurut undang-undang yang berhak untuk menjadi ahli waris ialah, para keluarga sedarah, baik sah, maupun luar kawin dan si suami atau istri yang hidup terlama, semua menurut peraturan tertera di bawah ini.

Dalam hal ini, bilamana baik keluarga sedarah, maupun si yang hidup terlama di antara suami istri, tidak ada, maka segala harta peninggalan si yang meninggal menjadi milik Negara, yang mana berwajib akan melunasi segala utangnya, sekedar harga harta peninggalan mencukupi untuk itu.

• Pasal 833

Sekalian ahli waris dengan sendirinya karena hukum memperoleh hak milik atas segala barang, segala hak dan segala piutang si yang meninggal.

(24)

warisnya dan siapakah yang berhak memperoleh hak milik seperti di atas, maka Hakim memerintahkan, agar segala harta peninggalan si yang meninggal ditaruh terlebih dahulu dalam penyimpanan.

Untuk menduduki hak milik seperti di atas, Negara harus minta keputusan hakim terlebih dahulu, dan atas ancaman hukuman mengganti segala biaya, rugi dan bunga, berwajib pula menyelenggarakan penyegelan dan pendaftaran akan barang-barang harta peninggalan dalam bentuk yang sama seperti ditentukan terhadap cara menerima warisan dengan hak istimewa akan pendaftaran barang.

• Pasal 834

Tiap-tiap waris berhak memajukan gugatan guna memperjuangkan hak warisnya, terhadap segala mereka, yang baik atas dasar hak yang sama, baik tanpa dasar sesuatu hak pun menguasai seluruh atau sebagian harta peninggalan, seperti pun terhadap mereka, yang secara licik telah menghentikan penguasaannya.

Ia boleh memajukan gugatan itu untuk seluruh warisan, jika ia adalah waris satu-satunya, atau hanya untuk sebagian, jika ada beberapa waris lainnya.

(25)

terkandung dalam warisan beserta segala hasil, pendapatan dan ganti rugi, menurut peraturan termaktub dalam bab ke tiga buku ini terhadap gugatan akan pengembalian barang milik.

• Pasal 835

Tiap tuntutan demikian gugur karena kedaluarsa dengan tenggat waktu selama tiga puluh tahun.

• Pasal 836

Dengan mengingat akan ketentuan dalam pasal 2 kitab ini, supaya dapat bertindak sebagai waris, seseorang harus telah ada, pada saat warisan jatuh meluang.

• Pasal 837

(26)

• Pasal 838

Yang dianggap tak patut menjadi waris dan karenanya pun dikecualikan dari pewarisan ialah:

1. Mereka yang telah dihukum karena dipersalahkan telah membunuh, atau mencoba membunuh si yang meninggal 2. Mereka yang dengan putusan Hakim pernah dipersalahkan

karena secara fitnah telah mengajukan pengaduan terhadap si yang meninggal,ialah suatu pengaduan telah melakukan sesuatu kejahatan yang terancam dengan hukuman penjara lima tahun lamanya atau hukuman yang lebih berat

3. Mereka yang dengan kekerasan atau perbuatan telah mencegah si yang meninggal untuk membuat atau mencabut surat wasiatnya

4. Mereka yang telah menggelapkan, merusak atau memalsukan surat wasiat si yang meninggal.

• Pasal 839

Tiap-tiap waris, yang karena tak patut telah dikecualikan dari pewarisan berwajib mengembalikan segala hasil dan pendapatan yang telah dinikmatinya semenjak warisan jatuh meluang.

• Pasal 840

(27)

untuk menjadi waris, maka tidaklah mereka karena kesalahan orang tua tadi, dikecualiakn dari pewarisan; namun orang tua itulah sama sekali tak berhak menuntut supaya diperbolehkan menikmati hasil barang-barang dari warisan, yang mana, menurut undang-undang hak nikmat hasilnya diberikan kepada orang tua atas barang-barang anaknya.

• Pasal 841

Pergantian member hak kepada seorang yang mengganti, untuk bertindak sebagai pengganti, dalam derajat dan dalam segala hak orang yang diganti.

• Pasal 842

Pergantian dalam garis lurus ke bawah yang sah, berlangsung terus dengan tiada akhirnya.

Dalam segala hal, pergantian seperti di atas selamanya diperbolehkan, baik dalam hal bilamana beberapa anak si yang meninggal mewaris bersama-sama dengan keturunan seorang anak yang telah meninggal lebih dahulu, maupun sekalian keturunan mereka mewaris bersama-sama, satu sama lain dalam pertalian keluarga yang berbeda-beda derajatnya.

• Pasal 843

(28)

yang lebih jauh.

• Pasal 844

Dalam garis menyimpang pergantian diperbolehkan atas keuntungan sekalian anak dan keturunan saudara laki dan perempuan yang telah meninggal terlebih dahulu, baik mereka mewaris bersama-sama dengan paman atau bibi mereka, maupun warisan itu setelah meninggalnya semua saudara si yang meninggal lebih dahulu, harus dibagi antara sekalian keturunan mereka, yang mana satu sama lain bertalian keluarga dalam perderajatan yang tak sama.

• Pasal 845

Pergantian dalam garis penyimpang diperbolehkan juga dalam pewarisan bagi para keponakan ialah dalam hal bilamana di samping keponakan yang bertalian keluarga sedarah terdekat dengan si meninggal, masih ada anak-anak dan keturunan saudara laki atau perempuan darinya, saudara-saudara mana telah meninggal lebih dahulu.

• Pasal 846

(29)

dalam cabang yang sama pembagian dilakukan kepala demi kepala.

• Pasal 847

Tiada seorang pun diperbolehkan bertindak untuk orang yang masih hidup selaku penggantinya.

• Pasal 848

Seorang anak yang mengganti orang tuanya, memperoleh haknya untuk itu tidaklah dari orang tua tadi, bahkan bolehlah terjadi, seorang mengganti orang lain, yang mana ia telah menolak menerima warisannya.

• Pasal 849

Undang-undang tak memandang akan sifat atau asal dari barang-barang dalam sesuatu peninggalan, untuk mengatur pewarisan terhadapnya.

• Pasal 850

Dengan tak mengurangi ketentuan-ketentuan, dalam pasal 854, 855 dan 859, tiap-tiap warisan yang mana, baik seluruhnya maupun untuk sebagian, terbuka atas kebahagiaan para keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas, atau dalam garis menyimpang harus dibelah menjadi dua bagian yang sama, bagian-bagian mana yang satu adalah untuk sekalian sanak saudara dalam garis si ibu.

(30)

yang satu ke garis yang lain, kecuali apabila dalam salah satu garis tiada seorang keluargapun, baik keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas, maupun keponakan-keponakan.

• Pasal 851

Setelah pembelahan pertama dalam garis bapak dan ibu dilakukan, maka dalam cabang-cabang tak usah diadakan pembelahan lebih lanjut; dengan tak mengurangi hal-hal, bilamana harus berlangsung sesuatu pergantian, setengah bagian dalam tiap-tiap garis adalah untuk seorang waris atau lebih yang terdekat derajatnya.

• Pasal 852

Anak-anak atau sekalian keturunan mereka, biar dilahirkan dari lain-lain perkawinan sekalipun, mewaris dari kedua orang tua, kakek, nenek atau semua keluarga sedarah mereka selanjutnya dalam garis lurus ke atas, dengan tiada perbedaan antara laki atau perempuan dan tiada perbedaan berdasarkan kelahiran lebih dahulu.

(31)

• Pasal 852a

Dalam halnya mengenai warisan seorang suami atau istri yang meninggal terlebih dahulu, si istri atau suami yang hidup terlama, dalam melakukan ketentuan-ketentuan dalam bab ini, dipersamakan dengan seorang anak yang sah dari si meninggal dengan pengertian, bahwa jika perkawinan suami istri itu adalah untuk ke dua kali atau selanjutnya, dan dari perkawinan yang dulu ada anak atau keturunan anak-anak itu, si istri atau suami yang baru tak akan mendapat bagian warisan yang lebih besar daripada bagian warisan terkecil yang akan diterima oleh salah seorang anak tadi atau dalam hal bilamana anak itu telah meninggal lebih dahulu, oleh sekalian keturunan penggantinya, sedangkan dalam hal bagaimanapunjuga, tak bolehlah bagian si istri atau suami itu lebih dari seperempat harta peninggalan si meninggal.

(32)

maka harga hak yang demikian harus ditaksir, setelah mana jumlah tadi harus dihitung menurut harga taksiran itu.

Apa yang diperoleh si istri atau suami yang kemudian menurut pasal ini, harus dikurangkan dalam menghitung akan apa yang boleh menjadi bagiannya, atau akan diperjanjikannya menurut bab ke delapan buku ke satu.

• Pasal 852b

Apabila si suami atau si istri yang hidup terlama mewaris bersama-sama dengan orang-orang lain dari anak-anak atau keturunan-keturunan anak-anak dari perkawinan dulu, maka bolehlah ia menarik seluruh atau sebagian perabot rumah dalam kekuasaannya.

Sekadar perabot rumah itu termasuk dalam warisan, maka harganya harus dikurangkan dari bagian warisan si suami atau istri tadi.

Jika harganya melebihi harga bagian warisan, maka sebagai gantinya harga selebihnya harus dibayar terlebih dahulu kepada sekalian kawan waris si suami atau istri tersebut.

• Pasal 853

(33)

ialah satu bagian untuk sekalian keluarga sedarah dalam garis si bapak lurus ke atas dan satu bagian untuk sekalian keluarga yang sama dalam garis ibu.

Waris yang terdekat derajatnya dalam garis lurus ke atas, mendapat setengah dari bagian dalam garisnya, dengan mengesampingkan segala waris lainnya.

Semua keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas dalam derajat yang sama mendapat bagian mereka kepala demi kepala.

• Pasal 854

Apabila seorang meninggal dunia dengan tak meninggalkan keturunan maupun suami atau istri, sedangkan bapak dan ibunya masih hidup, maka masing-masing mereka mendapat sepertiga dari warisan, jika si meninggal hanya meninggalkan seorang saudara laki atau perempuan, yang mana mendapat sepertiga selebihnya.

Si bapak dan si ibu masing-masing mendapat seperempat, jika si meninggal meninggalkan lebih dari seorang saudara laki atau perempuan, sedangkan dua perempat bagian selebihnya menjadi bagian saudara-saudara laki atau perempuan itu.

• Pasal 855

(34)

ibunya telah meninggal terlebih dahulu, maka si ibu atau bapak yang hidup terlama mendapat setengah dari warisan, jika si meninggal hanya meninggalkan seorang saudara perempuan atau laki; sepertiga dari warisan, jika dua saudara laki atau perempuan yang ditinggalkannya; dan seperempat, jika lebih dari dua saudara laki atau perempuan ditinggalkannya. Bagian-bagian selebihnya adalah untuk saudara-saudara laki atau perempuan tersebut.

• Pasal 856

Apabila seorang meninggal dunia dengan tak meninggalkan keturunan maupun suami atau istri, sedangkan baik bapak maupun ibunya telah meninggal lebih dahulu, maka seluruh warisan adalah hak sekalian saudara laki dan perempuan dari si meninggal.

• Pasal 857

(35)

bagian mereka dari kedua garis; sedangkan mereka yang setengah hanya mendapat bagian dari garis dimana mereka berada. Jika hanya ada saudara-saudara yang setengah saja dari garis yang satu, maka mereka mendapat seluruh warisan dengan mengesampingkan segala keluarga sedarah lainnya dari garis yang lain.

• Pasal 858

Dalam hal tak adanya saudara-saudara laki dan perempuan dan tak adanya pula sanak saudara dalam salah satu garis ke atas, setengah bagian dari warisan menjadi bagian sekalian keluarga sedarah dalam garis ke atas yang masih hidup, sedangkan setengah bagian lainnya, kecuali dalam hal tersebut dalam pasal berikut, menjadi bagian para sanak saudara dalam garis yang lain.

(36)

• Pasal 859

Bapak atau ibu sendiri yang hidup terlama, mewaris seluruh warisan dari anaknya yang meninggal dunia dengan tak meninggalkan keturunan, maupun suami atau istri, maupun pula saudara laki atau perempuan.

• Pasal 860

Dengan perkataan saudara laki dan perempuan dalam bagian ini, selamanya terkandung juga didalamnya sekalian keturunan yang sah dari mereka masing-masing.

• Pasal 861

Keluarga sedarah, yang dengan si meninggal bertalian keluarga dalam garis menyimpang lebih dari derajat ke enam, tak mewaris.

Jika dalam garis yang satu tiada keluarga sedarah dalam derajat yang mengizinkan untuk mewaris, maka segala keluarga sedarah dalam garis yang lain memperoleh seluruh warisan.

• Pasal 862

Jika si meninggal meninggalkan anak-anak luar kawin yang telah diakui dengan sah, maka warisan harus dibagi dengan cara yang ditentukan dalam empat pasal berikut.

• Pasal 863

(37)

seorang suami atau istri, maka anak-anak luar kawin mewaris sepertiga dari bagian yang mereka sedianya harus mendapatnya andai kata mereka anak-anak yang sah; jika si meninggal tak meninggalkan keturunan maupun suami atau istri, akan tetapi meninggalkan keluarga sedarah, dalam garis ke atas, atau pun saudara laki dan perempuan atau keturunan mereka, maka mereka mewaris setengah dari warisan; dan jika hanya ada sanak saudara dalam derajat yang lebih jauh, tiga perempat.

Jika para waris yang sah dengan si meninggal bertalian keluarga dalam lain-lain perderajatan, maka si yang terdekat derajatnya dalam garis yang lain, menentukan besarnya bagian yang harus diberikan kepada si anak luar kawin.

• Pasal 864

Dalam segala hal termaksud dalam pasal yang lalu, warisan selebihnya harus dibagi antara para waris yang sah, dengan cara seperti ditentukan dalam bagian ke dua, dari bab ini.

• Pasal 865

Jika si meninggal tak meninggalkan ahli waris yang sah, maka sekalian anak luar kawin mendapat seluruh warisan.

• Pasal 866

(38)

bagian-bagian yang diberikan kepada mereka menurut pasal 863 dan 865.

• Pasal 867

Ketentuan-ketentuan termaksud di atas tak berlaku bagi anak yang dibenihkan dalam zinah atau dalam sumbang.

Undang-undang memberikan kepada mereka hanya nafkah seperlunya.

• Pasal 868

Nafkah itu diatur selaras dengan kemampuan bapak atau ibunya dan berhubung dengan jumlah dan keadaan para waris yang sah.

• Pasal 869

Apabila bapak atau ibunya sewaktu hidupnya telah mengadakan jaminan nafkah seperlunya guna anak yang dibenihkan dalam zinah atau dalam sumbang tadi, maka anak itu tak mempunyai tuntutan lagi terhadap warisan bapak atau ibunya.

• Pasal 870

(39)

• Pasal 871

Jika seorang anak luar kawin meninggal dunia dengan tak meninggalkan keturunan, maupun suami atau istri, sedangkan kedua orang tuanya telah meninggal lebih dahulu, maka, barang-barang yang dulu diwariskan dari orang tua itu, jika masih ada dalam ujudnya, akan pulang kembali pada keturunan yang sah dari bapak atau ibunya; hal yang demikian itu berlaku juga terhadap hak-hak si meninggal untuk menuntut kembali sesuatu, jika ini telah dijualnya dan uang belum dibayar.

Adapun barang-barang lainnya akan diwaris oleh saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, atau para keturunan mereka yang sah.

• Pasal 872

Undang-undang sama sekali tak memberikan hak kepada seorang anak luar kawin terhadap barang-barang para keluarga sedarah dari kedua orang tuanya, kecuali dalam hal tersebut dalam pasal berikut.

• Pasal 873

(40)

menuntut seluruh warisan untuk diri sendiri dengan mengesampingkan Negara.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil perhitungan alat ialah sistem penggerak excavator dengan daya motor bensin yang digunakan 2 Kw untuk menggerakan pompa hidrolik sehingga daya yang dikeluarkan pompa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi nasabah berdasarkan kondisi geografis tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemilihan produk pembiayaan di BMT

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik lagu anak (LA) secara musikal dengan memperhatikan kata-kata atau lirik yang ada dalam lagu anak

Biaya operasi sistem pembangkit pada umumnya untuk kondisi normal, dikatakan dalam kondisi normal apabila tidak ada pengurangan beban saat kondisi normal di kurangi kondisi

Perencanaan penilaian hasil belajar PPKn terdapat sepuluh indikator, yaitu guru memiliki dokumen, guru mencantumkan kompetensi dasar yang dinilai dalam kisi-kisi,

Alat dinamometer ini dapat digunakan oleh kendaraan beroda empat maupun kendaraan beroda dua (sepeda motor) dan bersifat real time. Data yang didapatkan saat Snap shot

Perlindungan tenaga kerja terhadap aspek keselamatan dan kesehatan kerja dari perspektif etika bisnis ditujukan untuk mengeliminir sumber-sumber bahaya di tempat

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis pengaruh nilai dan gaya hidup terhadap preferensi dan perilaku pembelian buah-buahan impor. Disain yang