• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika Bisnis Kasus Mahkamah Konstitusi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Etika Bisnis Kasus Mahkamah Konstitusi"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MATA KULIAH

ETIKA DAN TATA KELOLA

ANALISA KASUS: MAHKAMAH KONSTITUSI

Kelas H131

KelompokIV:

1.

Gusman Jusanto

2.

Kisia Revin Anggehta

3.

Kresno Adityowibowo

4.

Kurnia Ibnu Azhari

5.

Laninca Swarintha Christine

6.

Laura

(2)

A.

Latar Belakang

Menurut Ghillyer, etika bisnis adalah penerapan standard-standard etika dalam situasi bisnis, dan dalam penerapannya tidak boleh dipisahkan dari standard-standard moral atau konsep-konsep etika umum, serta penerapan di dalam maupun di luar situasi bisnis seharusnya sama saja. Pihak yang akan menerima dampak dari perilaku tidak etis adalah para pemangku kepentingan atau stakeholders.

Tidak semua stakeholder akan menerima dampak dari tindakan tidak etis. Penentuan dapat diketahui dari jenis tindakan organisasi dan sampai sejauh mana tindakan tersebut akan mempengaruhi para

stakeholders. Saat ini tengah terjadi krisis etika di dalam dunia bisnis. Rekam jejak organisasi-organisasi dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa tingkat tanggung jawab para pekerja dalam memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya kepada para stakeholders sangat rendah. Hal ini menyebabkan banyak peneliti percaya bahwa sebenarnya dunia bisnis kurang memiliki rasa beretika, bahkan ada yang beranggapan bahwa etika bisnis adalah suatu oxymoron, atau dua kata yang saling bertentangan.

Namun demikian, telah disadari bahwa suatu organisasi harus memulai perbaikan dari dalam organisasi itu sendiri dan memiliki kode etiknya sendiri. Menurut Ethics Resource Center (ERC), kode etik adalah panduan untuk menunjang pengambilan keputusan setiap hari dalam dunia kerja, yang menjelaskan landasan dari suatu organisasi, yaitu misi, nilai, dan prinsipnya, sehingga dapat membantu manajer, pegawai, dan para stakeholders mengerti bagaimana menerjemahkannya menjadi keputusan, perilaku, dan tindakan sehari-hari.

Dilema etika adalah situasi ketika keputusan yang diambil tidak bisa dikatakan sungguh-sungguh benar atau salah, melainkan bisa dibilang merupakan keputusan benar atau benar. Etika dilema dapat diselesaikan dengan pertama-tama mengenali jenis konflik yang sedang dihadapi, yaitu:

- Kebenaran versus Kesetiaan

- Jangka pendek versus Jangka panjang

- Keadilan versus Belas kasihan

- Individual versus Masyarakat

Setelah menemukan jenis konflik yang dihadapi, langkah selanjutnya adalah melakukan tiga prinsip resolusi, yaitu:

- Ends-Based: Keputusan terbaik untuk sebanyak mungkin orang.

- Rules-Based: Yang terjadi jika semua orang memutuskan hal yang sama

- The Golden Rule: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.

Keputusan yang diambil dengan langkah-langkah di atas lebih baik dari pada mengambil keputusan berdasarkan perasaan.

Saul Gellerman mengidentifikasi empat rasionalisasi yang dapat mengarah kepada pelanggaran, yaitu: 1. Keyakinan bahwa aktivitas yang dilakukan masih dalam batas etika dan hukum yang wajar, dengan

kata lain tidak terlalu ilegal atau amoral.

2. Keyakinan bahwa aktivitas yang dilakukan adalah maksud baik dari individu atau perusahaan.

(3)

4. Keyakinan bahwa aktivitas yang dilakukan adalah untuk membantu perusahaan, sehingga perusahaan akan memaafkan, bahkan melindungi karyawan yang terlibat.

B.

Kasus

Pada bulan Oktober 2013, Indonesia digemparkan oleh tertangkap tangannya mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu Akil Mochtar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang mana sebelum kasus ini mencuat ke permukaan, kita semua masih memiliki "Trust" kepada satu satunya lembaga yang selama ini dianggap bersih dan kredibel. Namun rupanya mimpi indah itu ternyata hanya mimpi dan hanya berlangsung sekejap saja, kenyataannya lembaga yang seharusnya beretika tersebut rupanya sudah melupakan etika dan malah melanggar etika, Dan berikut ini adalah cuplikan dari berita yang dibuat oleh Metro TV News, pada hari kamis 03 Oktober 2013.

Metrotvnews.com, Jakarta: Akhirnya Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan enam tersangka dari 13 orang yang diperiksa dalam kasus suap sengketa pemilukada di Mahkamah Konstitusi yaitu Pilkada di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah dan Pemilukada Kabupaten Lebak, Banten.

Dalam kasus Pemilukada Kabupaten Gunung Mas, KPK menetapkan tersangka yaitu Ketua MK Akil Mochtar dan anggota DPR Komisi II Fraksi Partai Golkar Chairun Nisa selaku penerima dan dijerat dengan Pasal 12 C atau Pasal 6 ayat 2 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. KPK juga menetapkan pemberi yaitu Bupati Kabupaten Gunung Mas Hambit Bintih dan Pengusaha di Palangkaraya Cornelis Nalau, dan menjerat mereka dengan Pasal 6 ayat 1 jo pasal 55 ayat 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Dalam kasus dugaan suap Pemilukada Lebak, KPK menetapkan Akil Mochtar dan advokat Susi Tur Andayani sebagai penerima dan dijerat pasal 12 C atau Pasal 6 ayat 2 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Untuk pemberi yang dijadikan tersangka adalah adik kandung Gubernur Banten dan suami Wali Kota Tangerang Selatan yaitu Tubagus Chaeri Wardhana atau dikenal Wawan dan kawan-kawan.

Wawan dijerat Pasal 6 ayat 1 UU Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. KPK menduga Wawan tidak bekerja sendiri melainkan ada pihak-pihak lain yang terlibat. Dalam kasus itu, KPK sudah menandatangani kepentingan upaya paksa lainnya seperti pengeledahan, penyitaan, dan pencekalan.

Ua g ya g disita u tuk Gu u g Mas seba yak 8 ribu dolar “i gapura da U“$ ribu atau sekitar Rp3 miliar. Sedangkan di Lebak sebesar Rp1 miliar yang disimpan dalam travel bag berwarna biru dengan pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu. Untuk yang Rp3 miliar merupakan one for all atau sekaligus, sedangkan Rp iliar erupaka bagia dari proses, kata Ketua KPK Abraha “a ad di Gedu g KPK, Jakarta / .

Menurut Samad, kasus suap Akil tidak akan mempengaruhi jalannya kasus lain seperti Century, Hambalang, SKK Migas. Satgas yang ditunjuk di kasus ini tidak menangani kasus Century dan Hambalang. Walaupun jumlah penyidik terbatas, namun bukan menjadi alasan tidak bergerak cepat walaupun mungkin akan tertatih-tatih. (Raja Eben Lubis)

C.

Analisa Kasus

(4)

etika dan harus menyelesaikannya dengan resolusi yang ada. Berikut adalah justifikasi perilaku tidak etis dari stakeholders yang ada dan resolusi yang harus dilakukan terkait perilaku tersebut.

1. Akil Mochtar sebagai oknum dari Mahkamah Konstitusi (MK) menerima suap untuk memenangkan salah satu calon bupati secara tidak fair. Akil Mochtar memiliki kepentingan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompok. Aktivitas menerima suap adalah hal yang tidak etis walaupun calon bupati tersebut sudah dalam posisi menang. Dilema etika yang mungkin dialami adalah memilih antara individual atau masyarakat.

Resolusi yang bisa dipakai adalah End Based dan Golden Rule Based. Dalam hal Endsd Based, Akil Mochtar seharusnya mempertimbangkan bahwa kegiatan menerima suap adalah tidak adil bagi salah satu pihak, baik penggugat ataupun tergugat. Selain itu, masyarakat juga akan dirugikan karena mereka akan dipimpin oleh seorang yang dengan leluasa melakukan tindak korupsi. Dalam hal Golden Rule Based, Akil Mochtar seharusnya melihat dari sisi masyarakat, yaitu apakah beliau sebagai salah satu masyarakat akan rugi apabila seorang ketua Mahkamah Konstitusi menerima suap dan mengakibatkan seorang koruptor menjabat sebagai bupati suatu kabupaten. Karena perbuatan menerima suap tersebut tidak etis, maka Akil Mochtar sebaiknya tidak menerima suap tersebut. 2. Penyuap dalam hal ini Bupati Gunung Mas dan Gubernur Banten yang memiliki kepentingan agar diri

dan kelompoknya menjadi pemenang di pemilihan kepala daerah maupun bupati. Menyuap adalah perbuatan yang melanggar etika karena akan banyak sekali pihak yang dirugikan, yaitu kompetitor dan masyarakat. Bupati dan Gubernur mengalami dilema antara kepentingan individual dan kepentingan masyarakat. Apabila suap tersebut diterima dan menyebabkan mereka mendapatkan posisi yang diinginkan, pengusaha-pengusaha di balik mereka akan banyak mendapat keuntungan dari kebijakan beberapa tahun ke depan. Selain itu, pihak bupati dan gubernur juga akan mendapatkan bagian keuntungan dari para pengusaha. Masyarakat, dalam hal ini, akan menjadi pihak yang paling dirugikan karena belum tentu bupati dan gubernur yang menang karena aktivitas penyuapan sesuai dengan harapan masyarakat itu sendiri.

Resolusi yang akan dipakai adalah Rule Based, dan Golden Rule Based. Dilihat dari resolusi Rule Based, pada dasarnya, semua orang tidak akan ada yang menyukai aktivitas suap dalam hal ini. Dilihat dari resolusi Golden Rule Based, calon kepala daerah lebih baik melihat bahwa apabila dia berada pada masyarakat, tentu masyarakat menginginkan pemimpin yang tidak menyuap siapapun dalam keadaan apapun.

(5)

Resolusi untuk konflik di atas yang seharusnya dilakukan oleh Bupati/ Gubernur terpilih adalah dengan

Ends-based: Keputusan terbaik untuk sebanyak mungkin orang. Pemenangan suatu proyek seharusnya dilakukan berdasarkan suatu kompetisi antar penyedia jasa tanpa adanya keberpihakan pada salah satu peserta lelang. Dimana hasil dari kompetisi itu adalah keputusan yang terbaik untuk sebanyak mungkin orang.

Selain dari para stakeholders yang sudah disebutkan di atas, terdapat pula stakeholders lainnya yang mendapatkan dampak dari perilaku tidak etis yang sudah disebutkan sebelumnya, yaitu:

1. Masyarakat yang telah kehilangan rasa kepercayaannya terhadap Ketua Mahkamah Konstitusi, sebagai orang yang diharapkan memiliki standar moral dan etika yang tinggi, dengan adanya kasus suap ini maka seketika telah meruntuhkan moralitas dan etika atas jabatan yang diembannya, dengan kejadian ini maka akan semakin menguatkan krisis kepercayaan terhadap integritas MK. Selain itu, masyarakat didaerah baik yang telah memberikan hak suara atau tidak, karena masyarakat menghendaki dirinya dipimpin oleh orang orang yang mementingkan kepentingan masyarakat atau bersama diatas kepentingan pribadi atau golongan, dengan kasus ini berarti masyarakat dibohongi karena nyata-nyata mereka jika sudah berkuasa pasti akan mementingkan dirinya dan kelompoknya terlebih dahulu setelah itu baru masyarakat.

2. Negara yang memberikan dukungan dana demi terselenggara proses pemilihan yang jujur, bersih dan adil. Namun dengan kasus ini berarti negara dirugikan sangat banyak karena dana yang dikeluarkan sangat besar, terlebih lagi kalau proses pemilihan harus diulang karena mengikuti keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Selain dengan kejadian ini , citra negara kita menjadi bertambah jelek di mata dunia.

3. Mahkamah Konstitusi yang menjadi lembaga pemutus akhir dari semua pemilihan bupati atau kepala daerah yang bermasalah menjadi tercoreng, dan otomatis para pegawai yang bekerja juga ikut tercoreng.

D. Kesimpulan

Kasus di atas dapat dilihat sebagai salah satu contoh kondisi dalam dunia bisnis yang dikatakan bertentangan dengan etika. Terdapat kepentingan pribadi dari oknum para stakeholders yang menyebabkan dunia bisnis tersebut menjadi tidak beretika, atau yang bisa disebut sebagai dilema etika. Pelanggaran etika disebabkan adanya dilema etika yang tidak dapat diselesaikan dengan baik yang dialami oleh banyak pejabat dan pemimpin Lembaga Negara Tinggi di Indonesia.

Untuk menyelesaikan permasalahan dilema etika ini diperlukan resolusi yang berbeda-beda sesuai dengan dilema etika yang dihadapi.

Stakeholders Perilaku Dilema Etika Resolusi

(6)

mereka akan dipimpin oleh seorang yang dengan leluasa melakukan tindak korupsi.

Golden Rule Based: Akil Mochtar seharusnya melihat dari sisi masyarakat, yaitu apakah beliau sebagai salah satu masyarakat akan rugi apabila seorang ketua Mahkamah Konstitusi

Rule-Based: pada dasarnya, semua orang tidak akan ada yang menyukai aktivitas suap dalam hal ini.

Golden Rule Based: calon kepala daerah lebih baik melihat bahwa apabila dia berada pada masyarakat, tentu masyarakat menginginkan

sebanyak mungkin orang. Hasil dari kompetisi yang berjalan benar dalam PILKADA atau PILBUP seharusnya adalah keputusan yang terbaik untuk sebanyak mungkin orang.

Selain para stakeholders yang sudah disebutkan di atas, perlu diperhatikan pula dampak yang dihadapi oleh stakeholders lainnya akibat dari perilaku tidak etis yang sudah dilakukan, sehingga etika bisnis, yaitu penerapan standard-standard etika dalam situasi bisnis, dan dalam penerapannya tidak boleh dipisahkan dari standard-standard moral atau konsep-konsep etika umum, serta penerapan di dalam maupun di luar situasi bisnis seharusnya sama saja, dapat berjalan dengan baik.

E.

Daftar Pustaka

- Ghillyer, Andrew. W. (2014), Business Ethics Now, 4th edition, McGraw-Hill.

Referensi

Dokumen terkait