MAKALAH
MK. HukumdanPeraturanKelautanPerikanan
“PeraturanMenteriNomor 2/PERMEN-KP/2015
TentangLaranganPenggunaanAlatPenangkapanIkanPukatHela( Trawls)danPukat Tarik (SeineNets) di Wilayah
PengelolaanPerikanan Negara Republik Indonesia”
OLEH :
DANIEL SINAMBELA 135080601111097
M REZA ALFI RAHMANDIKA 135080601111100
SYAMSINARDI YUSUF 135080601111106
CRISMADHISTI PRASHINTIA 135080601111107
MEINA FACHMI ILMAN 135080601111108
SITI HAJAR ARFAH 135080601111115
AHMAD NAUFAL 135080607111007
PIPIT RETNO WIJAYANTI 135080607111015
AISYAH YUNINDA Y 145080600111016
JUNIARTI HERVINA DEWI 145080601111046
WULAN CAHYA AYUNINGTYAS 145080601111065
IMROATUL MUFIDAH 145080601111071
KELAS : K01
PROGAM STUDI ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
LATAR BELAKANG
Negara Indonesia merupakankepulauandenganpanjanggarispantailebihdari 95.000 km danjugamemilikilebihdari 17.504 pulau. Sehingga Indonesia
dikategorikankedalam Negara yang
memilikikekayaansumberdayaperairantinggidengansumberdayahayatiperairan yang beranekaragam. Keanekaragamansumberdayaperairan Indonesia meliputisumberdayaikanmaupunsumberdayaterumbukarang. (Burke et al, 2002 dalamZainarlan, 2007). Kekayaansumberdayahayatiperairan Indonesia yang tinggiakanbermanfaatjikadilakukansecara optimal danbertanggungjawab. Pemanfaatansumberdayahayatiperairaninidapatdilakukanmelalui proses
penangkapanbertanggungjawabdimana proses
pemanfaatansumberdayaperikananbersifatekonomisdariperairansecarabertanggungjawa b. Dalammelakukan proses penangkapan, nelayanharusmengikutiperaturan yang berlakudenganmaksuduntukmenjaminterlaksananyaaspekkonservasi,
pengelolaandanpengembanganefektifsumberdayahayatiakuatikberkenaandenganpelesta rian.
Sumberdayaperikanansebagaiusahamilikbersama (common property)
memungkinkanmasuknyanelayanbarukewilayah areal
penangkapanikanakanmembuatintensitaspenangkapanakanbertambah. Namundemikian,
karenajumlahpotensiperairanterbataspadaakhirnyaakanmenurunkanproduksihasiltangka
pan per unit usaha. Untukmeningkatkanproduksi,
makanelayanakanterusberusahameningkatkankapasitaspenangkapandenganmenambahj umlahalattangkap (Clark et al.,1985). Bilainiterjadipenangkapanikansecaraberlebihan (biological overfishing) terjadisecarabersamadengankelebihaninvestasi (economic verfishing).
Denganadanyadampaktersebutmakadiperlukansebuahregulasiuntukmelindungi
sumberdayaperairanterutamavulnerable
spesiesyang
diakibatkaneksploitasimaupunalattangkapdestruktif.
Di
dalammakalahiniakandibahastentanglaranganpenggunaantentangalatalatpenangk
apanikanPukatHela (Trawls) danPukat Tarik (SeineNets) di wilayahpengelolaanperikananPadatanggal 9 Januari 2015, MenteriKelautandanPerikanantelahmengundangkanPeraturanMenteriNomor
2/PERMEN-KP/2015 tentanglaranganpenggunaanalatpenangkapanikanPukatHela (Trawls) danPukat Tarik (SeineNets) di wilayahpengelolaanperikanan Negara Republik Indonesia. Pro dan kontra penerapan pelaksanaan Permen KP Nomor : 2/PERMEN-KP/2015 masih terus berlangsung. Seluruh masyarakat perikanan yang menjadikan perikanan sebagai sumber penghidupan (livelyhood) merasakan beragam implikasi dengan terbitnya PerMen ini.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 2 tahun 2015 didasari oleh penurunan Sumber Daya Ikan (SDI) yang mengancam kelestarian, sehingga demi keberlanjutannya perlu diberlakukan pelarangan penggunaan alat penangkapan ikan Pukat Hela (trawls) dan Pukat Tarik (seine nets), sehinggatujuan dari PerMen ini adalah demi kelestarian dan kemajuan sektor perikanan, bukan untuk mematikan mata pencaharian nelayan.Pada kondisi sumber daya ikan yang mengalami tangkap lebih dan kerusakan habitat seperti di Indonesia saat ini, pemberlakukan PERMENKP No. 2 tahun 2015 akan berdampak pada pemulihan stok dan habitat sumber daya ikan. Hal ini akan meningkatkan hasil tangkap per satuan usaha (CpUE) dari nelayan karena stok mengalami pemulihan (heal the ocean).
Alat Penangkap Ikan Yang Dilarang Dioperasikan Oleh Peraturan Menteri
Kelautan dan Perikanan No. 2/PERMEN-KP/2015 Tanggal 9 Januari 2015
Pada Pasal 2, setiap orang dilarang menggunakan alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dan alat penangkapan ikan pukat tarik (seine nets) di seluruh Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.Pada Pasal 3, dijelaskan mengenai jenis alat tangkap yang dilarang. Jenis alat tangkap yang dilarang adalah :
1. Alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, terdiri dari:
b. Pukat hela pertengahan (midwater trawls);
c. Pukat hela kembar berpapan (otter twin trawls);
d. Pukat dorong.
2. Pukat hela dasar (bottom trawls) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri dari:
a. Pukat hela dasar berpalang (beam trawls);
c. Pukat hela dasar dua kapal (pair trawls);
d. Nephrops trawls,
e. Pukat hela dasar udang (shrimp trawls), berupa pukat udang.
3. Pukat hela pertengahan (midwater trawls), sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri dari:
b. Pukat hela pertengahan dua kapal (pair trawls); dan
c. Pukat hela pertengahan udang (shrimptrawls).
d. Pada Pasal 4 ayat (1) Alat penangkapan ikan pukat tarik (seine nets) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 terdiri dari:
b. Pukat tarik berkapal (boat or vessel seines). Pukat tarik berkapal (boat or vessel seines) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari:
1. Dogol (Danish Seines);
2. Scottish Seines;
3. Pair Seines;
4. Payang;
6. Lampara Dasar.
Alat-alat di atas dilarang untuk digunakan dengan alasan karena dapat merusak lingkungan seperti terumbu karang dan ekosistem dari baby fish (bibit ikan), serta menangkap para baby fish tersebut sebelum siap ditangkap.
Dampak
Dampak yang ditimbulkan dari peraturan menteri perikanan dan kelautan nomor 2 PERMEN-KP/2015 sebagai berikut :
1. Dampak Sosial
a. Pengangguran
Peraturan Menteri ini menimbulkan kapal alat tangkap cantrang tidak bolehberoperasi, hal ini menyebabkan akan menimbulkan pengangguran bagi anak buah kapal. Setiap satu kapal cantrang terdiri dari 15 anak buah kapal. Untuk kapal cantrang di Kabupaten Pati ada 200 lebih kalau kapal ini dilarang untuk melaut itu artinya ada 3000 orang yang kehilangan pekerjaan
b. Kesejahteraan nelayan menurun
c. Kejahatan
Lingkungan yang tidak aman
Psikologi pengusaha dan anakbuah kapal yang mengalami stress
Pemilik kapal cantrangkebingungan atas pelarangankapal cantrang untuk melaut
Demo dan kerusuhan yangberkepanjangan Dampak Ekonomi
2. Penghasilan nelayan menurun
a. Kesulitan keuangan untuk membayar angsuran bank
b. Membutuhkan dana yang mahal untuk mengganti jenis alat tangkap
3. Hasil tangkapan menurun
a. Daya beli masyarakat pesisir menurun
b. Lembaga keuangan akan terancam karena sebagian besar pendanaan kapal berasal dari
pinjaman dari Bank atau lembaga keuangan.
c. Mati nya perusahaan lainnya yang mendukung bisnis cantrang sebagai berikut:
1) Perusahaan Es Balok akan terancam gulung tikar
2) Perusahaan pelet ikan yang menggunakan bahan baku dari ikan yang berasal dari
alat tangkap cantrang
3) Pengusaha yang berjualan jenis ikan cantrang
4) Pengusaha air untuk pembuatan es
5) Jasa angkut (Truk Tangki)
4. SPBN akan mengalami penurunan pendapatan
Rekomendasi
hasil tangkapan ikan secara nyata (dugaan sekitar 30%) dan penghasilan atau sumber mata pencaharian sebagian besar nelayan di Indonesia. Disisi lain Pemerintah ingin melaksanakan pembangunan perikanan berkelanjutan dengan menjaga populasi ekosistem laut. Berdasarkan hal tersebut, maka rekomendasi yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Pemerintah harus kontinyu dalam mensosialisasikan Permen NO. 2/PERMEN-KP/2015 kepada nelayan di seluruh Indonesia dengan melibatkan pemerintah daerah, tokoh-tokoh masyarakat di setiap daerah.
2. Terus membangun kesadaran masyarakat dalam melaksanakan pembangunan perikanan berkelanjutan berbasis ekosistem, dimana sumber daya perikanan tidak boleh di eksploitasi habis tapi juga dijaga untuk generasi berikutnya.
3. Ijin alat tangkap dan operasi penangkapan dilarang dalam kurun waktu tertentu (moratorium)
4. Perlunya pemerintah menanggung biaya untuk konversi alat tangkap yang dilarang menjadi alat tangkap yang tidak dilarang