Gambaran Kualitas Hidup Pasien Kanker
Pediatrik Usia Sekolah
FRANSISCA M. SIDABUTAR, ANGGIE REGIA ANANDARI, EZRA C., INGRID KARLI, YUSNITA KATAGORI, HENNY E. WIRAWAN
Program Studi Magister Psikologi, Universitas Tarumanagara
Diterima 6 Januari 2012; Direview 9 Januari 2012; Disetujui 16 Januari 2012
KORESPONDENSI: Fransisca M. Sidabutar, S.Psi
Email:
ABSTRACT
Having high quality of life is a challenge for school-age children (6-12 years old) who suffer from cancer. They have to undergo cancer treatments that bring pain and negative side-effects for years. Repeated hospitalization also separates them from family and school, the essential contexts in school-age children development. By using qualitative approach
with interview and observation, this research intended to get quality of life description in ive school-age children who
were undergoing cancer treatments. The result shows that the subject who had the most severe side effects from cancer treatments could also have good quality of life in physical, psychological, social, and cognitive dimension. This research suggests volunteers and medical staffs to give chances for pediatric patients to study and interact in their room in the hospital and provide more psychological therapy schedule to help the children to cope with negative emotion they experience during the treatment.
Key words: quality of life, school-age children, cancer
ABSTRAK
Memiliki kualitas hidup yang tinggi merupakan tantangan tersendiri bagi anak usia sekolah (6-12 tahun) yang mengalami kanker. Hal ini disebabkan mereka harus menjalani proses pengobatan kanker yang menyakitkan serta menimbulkan efek samping yang negatif dan menahun. Pengobatan kanker juga memisahkan anak dari keluarga dan sekolah. Padahal, kedua konteks tersebut adalah konteks yang sentral dalam menjalani tugas perkembangannya sebagai anak usia sekolah. Dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara dan observasi, penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran kualitas hidup lima anak usia sekolah yang sedang menjalani pengobatan kanker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun subyek mengalami dampak pengobatan yang berat, ia tetap dapat memiliki
kualitas hidup yang baik pada dimensi isik, psikologis, sosial, dan kognitif. Saran bagi relawan dan staf medis agar
menyediakan kesempatan bagi pasien anak untuk belajar dan saling berinteraksi di dalam kamar di rumah sakit, serta penambahan jadwal terapi psikologis untuk membantu anak menangani emosi negatif yang dialaminya selama proses pengobatan.
Kata kunci: kualitas hidup, anak usia sekolah, kanker
PENDAHULUAN
yang mengalami kanker menghadapi situasi yang berbeda dibandingkan dengan pasien di usia kanak-kanak awal atau remaja. Dengan kemampuan kognisi yang semakin berkembang namun belum matang, anak usia sekolah harus menghadapi isu tentang kematian, perpisahan, kehilangan, serta pergumulan tentang kemampuan dan kendali untuk tetap hidup.2
Selain itu, bagi anak usia sekolah, keluarga, sekolah, dan teman-teman sebaya menjadi konteks yang sentral pada perkembangan anak.3 Padahal,
ketika harus menjalani perawatan di rumah sakit, pasien terpaksa harus berpisah dengan mereka. Perkembangan motorik, emosional, dan kognitif juga berkembang dengan pesat pada periode ini.3
Sementara, proses pengobatan kanker yang intrusif dapat menimbulkan efek samping yang berdampak pada berbagai ranah perkembangan anak.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, banyak penelitian pada populasi kanker pediatrik kini diarahkan pada pemahaman kualitas hidup pasien. Penelitian tentang kualitas hidup pasien kanker
pediatrik membantu mengidentiikasi kebutuhan
mereka, terutama saat mereka harus menghadapi dampak negatif akibat pengobatan kanker.4 Namun,
sebagian besar penelitian tentang kualitas hidup sebelumnya yang ditemukan oleh peneliti dilakukan secara kuantitatif. Padahal, kualitas hidup adalah konstruksi yang bersifat subyektif dan fenomenologis sehingga sebenarnya lebih cocok diteliti dengan metode penelitian kualitatif.4 Oleh karena itu,
penelitian kali ini akan mencoba mendapatkan gambaran kualitas hidup pasien kanker pediatrik usia sekolah melalui metode penelitian kualitatif.
Kualitas hidup adalah evaluasi individu tentang fungsi dan kesejahteraan dirinya di berbagai ranah kehidupan sesuai dengan budaya, nilai, dan harapan individu tersebut.4 Tinggi rendahnya kualitas hidup
tidak identik dengan kuantitas hidup, misalnya panjangnya usia atau tingkat ketahanan hidup pasien. Pasien yang memiliki usia lebih pendek bisa jadi memiliki kualitas hidup lebih tinggi dibandingkan pasien yang berusia lebih panjang.4 Kualitas hidup
juga tidak tergantung pada status kesehatan, functional status, dan tingkat keparahan penyakit.4
Pada penelitian ini, peneliti memilih menggunakan lima dimensi kualitas hidup dari James Varni.5
Dimensi pertama adalah simtom penyakit dan dampak pengobatan. Dimensi ini mencakup paparan simtom dan efek samping yang muncul akibat penyakit dan pengobatannya. Dimensi kedua adalah
fungsi isik, yang meliputi status fungsional isik
subyek dalam kehidupan sehari-hari. Dimensi ketiga adalah fungsi psikologis, yang mencakup gambaran tekanan emosional, kekhawatiran, dan self-esteem subyek. Dimensi keempat adalah fungsi sosial. Fungsi ini mencakup aspek-aspek interpersonal yang terkait dengan pengobatan kanker. Dimensi terakhir adalah fungsi kognitif, yang meliputi dampak negatif penyakit dan pengobatan kanker terhadap fungsi kognitif subyek.
Kualitas hidup anak secara umum dipengaruhi oleh banyak faktor.6 Faktor pertama adalah kondisi
global yang meliputi lingkungan makro yang berupa kebijakan pemerintah dan asas-asas dalam masyarakat yang memberikan kebijakan perlindungan bagi anak. Faktor kedua adalah kondisi eksternal yang meliputi lingkungan tempat tinggal (cuaca, musim, polusi, kepadatan penduduk), status sosial ekonomi, pelayanan kesehatan, dan pendidikan orang tua. Faktor ketiga adalah kondisi interpersonal. Faktor ini meliputi hubungan sosial antar-anggota keluarga, seperti orang tua, saudara kandung, bahkan saudara lain yang tinggal serumah dan teman sebaya yang tinggal di sekitar rumah anak. Faktor keempat adalah
kondisi personal yang mencakup dimensi isik,
mental, dan spiritual pada diri anak sendiri, yaitu genetik, umur, kelamin, ras, gizi, hormonal, stres, motivasi belajar dan pendidikan anak, serta pengajaran agama.
Penelitian sebelumnya terhadap anak usia sekolah yang mengalami kanker mendapatkan bahwa diagnosis, pengobatan, dan prognosis kanker mempengaruhi perkembangan anak usia sekolah. Pada saat mendapat diagnosis, sebelumnya anak usia sekolah berusaha mengatasi ketakutan akan kehilangan kendali dan ketakutan akan kematian. Anak-anak ini memiliki pengertian yang lebih tentang penyakit mereka, tapi anak masih percaya bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang salah atau tertular sehingga mengidap kanker.7 Pengalaman dengan kanker juga menjadi pengalaman yang signiikan bagi anak usia
sekolah karena menyebabkannya harus terpisah dari teman-teman, sekolah, dan aktivitas normal yang sebelumnya ia jalani.2 Menghadapi hal ini, terdapat
beberapa reaksi emosional yang umum terjadi pada anak usia sekolah, seperti naik-turunnya mood, perasaan berbeda dari orang lain, pemikiran tentang kematian, bahkan perilaku regresif.2
MATERI DAN METODE PENELITIAN
atau stadium kanker dengan harapan mendapatkan data yang bervariasi dan memperkaya pemahaman kualitas hidup dari berbagai kondisi pasien kanker pediatrik. Namun, peneliti membatasi usia subyek penelitian ini, yaitu usia sekolah atau 6-12 tahun. Desain deskriptif digunakan dalam penelitian dengan mengumpulkan informasi melalui wawancara dan observasi semi-terstruktur yang diolah secara kualitatif.
HASIL DAN ANALISIS
Tabel 1 yang memaparkan deskripsi umum tiap subyek. Setiap nama subyek telah disamarkan.
Setiap subyek memiliki perbedaan dalam simtom penyakit dan dampak pengobatan. J dan An mengalami rasa sakit akibat kanker yang lebih berat dibandingkan subyek lainnya, misalnya mual, muntah, sakit kepala, sakit perut, sariawan, bibir kering, dan kerontokan rambut. Sedangkan ditinjau dari dampak pengobatan, Ar adalah subyek yang paling mengalami dampak negatif karena sebagian tulang di wajah dan beberapa bagian dalam mulutnya sudah diangkat untuk mengobati tumor di tubuhnya. Hal yang berbeda dialami oleh S yang hanya merasakan dampak negatif dari pengobatan yang dijalaninya, yaitu bertambah gemuk dan rasa mual setelah kemoterapi. Sedangkan E mengaku tidak merasakan dampak negatif apapun dari pengobatannya.
Ditinjau dari fungsi isik, semua subyek dilarang
untuk melakukan kegiatan yang dapat membuat tubuh mereka lelah. Di luar itu, setiap subyek
memiliki perbedaan. S dan Ar memiliki fungsi isik
yang lebih baik dibandingkan subyek lainnya karena mereka tidak membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan sebagian besar aktivitas sehari-harinya.
J dan E masih membutuhkan bantuan orang lain hanya bila kondisi kesehatannya sedang menurun.
Sedangkan An memiliki fungsi isik yang lebih
rendah. Hal ini disebabkan ia tidak dapat berjalan sehingga membutuhkan bantuan untuk melakukan hampir seluruh aktivitasnya dan ia juga jarang keluar dari rumah atau kamar di rumah sakit karena
keterbatasan fungsi isiknya ini.
Sedangkan fungsi psikologis setiap subyek berjalan dengan cukup adaptif meskipun mereka mengalami kanker dan dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu lama. Ar adalah subyek yang memiliki fungsi psikologis paling baik. Ia mengaku tidak mengalami emosi negatif sebagai imbas dari pengobatan penyakitnya. Begitu pula dengan E yang meskipun mengaku khawatir akan kondisi kesehatannya, tetap menunjukkan emosi positif dalam pergaulan dengan teman-temannya. An dan S memiliki fungsi psikologis yang cukup baik, dan menjadi semakin baik lagi bila mereka bisa mengatasi kemarahan serta perasaan bosan di rumah sakit dengan baik. Hal yang sama juga ditemukan pada J yang dapat berfungsi lebih baik lagi bila dapat mengatasi kekhawatiran, kesedihan, dan kemarahannya kepada teman-teman yang memperlakukannya secara berbeda.
Setiap subyek juga memiliki fungsi sosial yang baik. Mereka semua tetap bergaul dengan teman sebayanya, memiliki relasi dengan keluarga, dan mendapat dukungan dari orang-orang di rumah sakit, terutama relawan yayasan kanker. Namun, J menghadapi tantangan yang lebih besar daripada subyek lainnya karena ia diperlakukan berbeda oleh teman-temannya di luar rumah sakit. Tantangan dalam fungsi sosial juga dihadapi oleh An yang lebih jarang bergaul di rumah sakit dibandingkan
subyek lainnya. Keterbatasan fungsi isiknya turut
Tabel 1: Deskripsi umum subyek
Kategori J E An S Ar
Usia 9 tahun 6 tahun 8 tahun 11 tahun 12 tahun
Jenis kelamin Perempuan Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki
Agama Islam Katolik Protestan Islam Islam
Urutan kelahiran Anak ke-2 dari 3 bersaudara
Suku bangsa Sunda Jawa- Jakarta Batak Sunda Jawa-Sunda
Pendidikan SD kelas 3 Belum sekolah SD kelas 3 SD kelas 5 SMP kelas 1
Kategori J E An S Ar
Tanggal vonis kanker 5 Mei 2007 29 Januari 2009 4 Oktober 2011 9 Agustus 2011 28 Juli 2005
Jenis kanker
yang diderita Kanker mata, stadium 4
berdampak pada fungsi sosialnya. An jarang bergaul karena lebih banyak berada di kamar rumah sakit,
karena kondisi isiknya yang terbatas. Sedangkan E,
Ar, dan S cukup beruntung karena memiliki banyak teman dan tidak dibedakan oleh teman-teman mereka tersebut meskipun mereka mengalami kanker.
Ditinjau dari fungsi kognitifnya, sebagian besar subyek tetap memiliki fungsi kognitif yang baik. Ar memiliki fungsi sosial yang paling baik dibandingkan subyek lainnya karena ia tetap bersekolah secara normal meskipun mengalami kanker. J juga menunjukkan fungsi sosial yang baik, dilihat dari keikutsertaannya di kegiatan belajar di rumah sakit dan ingatannya yang baik terhadap pelajarannya di sekolah dulu. Sedangkan S menghadapi tantangan fungsi kognitif karena ia melupakan pelajaran dahulu, sementara ia mulai bersekolah secara normal. Begitu pula dengan An, yang meskipun tidak melupakan pelajaran dahulu dan tidak menjadi pelupa, namun justru tidak mengikuti kegiatan belajar secara normal di sekolah maupun di rumah sakit. Di sisi lain, E mengalami tantangan fungsi kognitif yang lebih besar dibandingkan subyek lainnya. Ia mengaku kini menjadi lebih pelupa dibandingkan dahulu.
DISKUSI
Terdapat keunikan pada kualitas hidup setiap pasien kanker pediatrik usia sekolah yang menjadi subyek dalam penelitian ini. Namun, bila kualitas hidup kelima subyek dibandingkan dan kemudian disusun dalam peringkat, Ar adalah subyek yang memiliki kualitas hidup paling baik dibandingkan subyek lainnya. Ar memang menghadapi dampak pengobatan yang paling berat dibandingkan keempat subyek yang lain. Ia mengalami tumor jinak dan diharuskan menjalani operasi berkali-kali hingga mengangkat sebagian tulang dan beberapa bagian di mulutnya. Meskipun begitu, ia tetap memiliki
fungsi isik, fungsi psikologis, fungsi sosial, dan
fungsi kognitif yang lebih baik. Ia tidak memerlukan bantuan orang lain dalam aktivitas sehari-hari, tidak mengalami emosi negatif selama proses pengobatan, tetap memiliki banyak teman, dan tidak dibedakan oleh teman-temannya meskipun ia sakit, serta tetap bersekolah secara normal.
Peneliti melihat bahwa kondisi interpersonal dan kondisi personal subyek menjadi faktor utama yang membedakan kualitas hidup di antara mereka. Faktor interpersonal yang meliputi hubungan sosial antar anggota keluarga, seperti orang tua, saudara kandung, bahkan saudara lain yang tinggal serumah dan
teman sebaya yang tinggal di sekitar rumah anak turut mempengaruhi kualitas hidup anak.6 Hal ini
dapat diamati pada ketiga subyek yang memiliki kualitas hidup tertinggi, yaitu Ar, E, dan S. Meskipun
mengalami kanker yang membuat kondisi isik
mereka agak berbeda dengan anak-anak sebayanya yang sehat, mereka tetap memiliki banyak teman dan tidak dibeda-bedakan oleh teman-temannya. Secara
keseluruhan, kondisi isik mereka juga mendukung
mereka untuk tetap bergaul. Meskipun tubuh mereka lebih lemah sehingga tidak boleh melakukan kegiatan yang terlalu berat dan melelahkan, mereka tetap dapat berinteraksi dan bermain sebagaimana anak-anak pada umumnya.
Di samping itu, faktor personal yang mencakup
dimensi isik, mental, dan spiritual pada diri anak juga
mempengaruhi perbedaan kualitas hidup antar-subyek.6
An adalah subyek yang memiliki kualitas hidup paling rendah dibandingkan subyek lainnya. Hal ini disebabkan ia paling banyak mengalami dampak negatif akibat pengobatan kanker dan paling terbatas
fungsi isiknya dibandingkan subyek lainnya. Dampak negatif pengobatan dan keterbatasan isik tersebut
turut mempengaruhi fungsi psikologis, sosial, dan kognitif An. Ia sering marah-marah bila tidak segera dilayani permintaannya, jarang bergaul, dan tidak bersekolah di rumah maupun rumah sakit karena
keterbatasan isiknya. Sedangkan subyek lainnya
yang tidak mengalami keterbatasan dalam fungsi
isik memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Hal ini
disebabkan mereka tidak mengalami dampak negatif dari pengobatan yang mereka jalani sebanyak yang dialami An. Tiap pasien kanker anak dapat mengalami efek samping pengobatan yang berbeda, tergantung pada kondisi tubuh mereka masing-masing.1
Selanjutnya, bila ditinjau dari teori perkembangan anak usia sekolah, pemenuhan tugas perkembangan juga mempengaruhi perbedaan kualitas hidup antar-subyek. Sebenarnya, Ar mengalami dampak negatif pengobatan yang lebih berat dari An. Sebagian tulang dan organ di daerah mulut Ar sudah diangkat secara permanen melalui operasi. Sedangkan An memang saat ini tidak bisa berjalan, padahal kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Bila
ditinjau dari tugas perkembangan isik anak usia sekolah, keterbatasan isik An lebih mempengaruhi
kualitas hidupnya dibandingkan kecacatan yang dialami Ar. Anak usia sekolah mengembangkan banyak keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk keseimbangan, seperti berlari, meloncat, dan melempar.8
Sementara, Ar tetap dapat melakukan kegiatan isik
meskipun kondisi mulutnya cacat.
Dari segi perkembangan emosi, menurut tugas perkembangan anak usia sekolah adalah mengungkapkan perasaannya dalam perilaku yang dapat diterima secara sosial.9 Anak usia sekolah mulai belajar
untuk mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya melalui proses peniruan dan latihan yang dipengaruhi oleh orang tua. Ditinjau dari hasil penelitian, J adalah subyek yang mengalami emosi negatif paling banyak dibandingkan subyek lainnya. Peneliti melihat bahwa rendahnya kualitas hidup J turut dipengaruhi oleh ketidakmampuannya untuk mengungkapkan emosi negatifnya secara sesuai. J mengaku mengalami kekhawatiran, kesedihan, dan rasa marah selama proses pengobatan. Emosi-emosi negatif tersebut cenderung hanya dipendam dalam dirinya sehingga tidak dapat diatasi secara tuntas.
Anak usia sekolah juga memiliki tugas perkembangan untuk bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. Dalam pergaulan dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam sosialisasi, seperti belajar mematuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak bergantung pada orang dewasa, belajar bekerja sama, mempelajari tingkah laku yang dapat diterima oleh lingkungan, belajar menerima tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat, serta mempelajari olah raga dan permainan kelompok.8 Tugas perkembangan
inilah yang juga mempengaruhi J dan An untuk tidak memiliki kualitas hidup sebaik subyek lainnya. Mereka memang memiliki banyak teman, namun relasi mereka dengan teman-temannya tidaklah sebaik subyek lainnya. J diperlakukan dengan berbeda
karena perbedaan isiknya akibat pengobatan kanker,
yaitu mata kanannya memerah seperti mata kucing. Sedangkan An sebenarnya memiliki banyak teman dan tidak diperlakukan secara berbeda oleh mereka,
namun isiknya yang terbatas menghalanginya untuk
bergaul secara aktif dengan anak-anak sebayanya. Ia cenderung hanya bermain sendirian di rumah sakit atau di rumah karena keterbatasan geraknya.
SARAN
Berdasarkan setiap kesimpulan dan diskusi penelitian ini, peneliti akan memberikan saran berkaitan dengan penelitian selanjutnya dan saran praktis terkait penanganan kualitas hidup pasien kanker pediatrik usia sekolah. Penelitian selanjutnya bisa meneliti keterkaitan antara tingkat keparahan penyakit kanker dengan kualitas hidup penderitanya.
Pada penelitian ini, subyek yang mengalami kanker pada stadium awal justru memiliki kualitas hidup lebih rendah daripada subyek yang mengalami kanker pada stadium lanjut. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi apa saja hal-hal yang secara
spesiik membuat pasien kanker pediatrik stadium
lanjut memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Selain itu, untuk menambah kekayaan hasil penelitian, penelitian berikutnya dapat meneliti bagaimana peran orang tua dalam meningkatkan atau justru menurunkan kualitas hidup anaknya yang mengalami kanker pediatrik. Penelitian kali ini tidak
mendapatkan data yang secara spesiik menggambarkan
hal tersebut. Padahal, ditinjau dari teori perkembangan,
fungsi isik, psikologis, sosial, dan kognitif anak usia
sekolah sangat dipengaruhi oleh relasinya dalam keluarga, terutama dengan orang tuanya.
Penelitian selanjutnya juga dapat menyertakan dimensi spiritual pada kualitas hidup pasien kanker pediatrik. Hal ini disebabkan salah satu subyek dalam penelitian ini, yaitu An, sempat mencetuskan pendapatnya bahwa penyakit kankernya adalah hukuman dari Tuhan. Teori kualitas hidup yang digunakan dalam penelitian ini memang tidak menyertakan dimensi spiritual, namun teori lain dari World Health Organization Quality of Life Group, menyertakan dimensi spritual dalam kualitas hidup pasien.10
Saran terakhir berkaitan dengan penanganan emosi negatif yang dialami anak sebagai dampak pengobatan kanker yang dijalaninya. Pihak rumah sakit dapat menyediakan sarana bagi anak untuk belajar mengungkapkan emosinya dengan adaptif. Salah satunya melalui terapi seni, baik seni musik maupun seni gambar. Terapi musik sendiri telah dilakukan secara rutin di rumah sakit tempat penelitian ini diadakan, namun intensitasnya hanya sekali seminggu dengan satu orang terapis sehingga hanya bisa melayani sebagian kecil pasien anak di rumah sakit tersebut. Oleh karena itu, ada baiknya jadwal terapi musik dibuat menjadi dua kali seminggu dengan tiga orang terapis. Setiap anak dapat mengikuti terapi selama 40-60 menit setiap pertemuan, sehingga setiap anak mendapat kesempatan mengikuti terapi setidaknya satu kali seminggu.
Sedangkan terapi seni juga telah dilakukan di rumah sakit ini, namun yang menjadi targetnya adalah ibu pasien kanker pediatrik. Peneliti menyarankan agar pasien anak pun dapat diikutsertakan dalam terapi seni ini. Melalui gambar, terapis dapat menggali pemahaman dan pengalaman anak selama menjalani pengobatan kanker untuk selanjutnya memberi dukungan emosional dan edukasi yang tepat sasaran bagi setiap anak. Selain terapi musik dan seni, pihak rumah sakit sebenarnya juga bisa memberikan terapi cerita (story-telling therapy) di mana anak dibacakan sebuah buku cerita dan kemudian berdiskusi mengenai pesan moral yang ada di dalamnya. Terapis dapat memilihkan cerita-cerita yang memotivasi anak untuk terus berjuang menghadapi kanker atau cerita edukatif tentang kanker anak. Namun, lagi-lagi, terapi ini tergantung pada keberadaan sumber daya yang dapat memfasilitasi agar terapi ini dilakukan secara kontinu di rumah sakit.
Daftar Pustaka
1. Izraeli, S., & Rechavi, G. Cancer in Children – An Introduction. Kreitler, S. & Weyl Ben Arush, M.. Psychosocial Aspect of Pediatric Oncology. Chichester: John Wiley & Sons. 2004
2. Sourkes, B.M & Proulx, R. My Family and I Are In This Together. Baider, L., Cooper, C. L. & De-Nour, A. K. Cancer and The Family (2nd ed).
Chichester: John Wiley & Sons. 2000
3. Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. Human Development (8th ed.). New York: McGraw-Hill. 2002.
4. Kreitler, S., & Kreitler, M. M. Quality of Life in Children With Cancer: Definition, Assessment, and Results. Kreitler, S. & Weyl Ben Arush, M.. Psychosocial Aspect of Pediatric Oncology. Chichester: John Wiley & Sons. 2004
5. Varni, J. W., Rode, C. A., Seid, M., Katz, E. R., Friedman-Bender, A., & Quiggins D. J. L. The Pediatric Cancer Quality of Life Inventory-32 (PCQL-32): Feasibility and Range of Measurement. Journal of Behavioral Medicine. 1999.
6. 4. Lindstrom, B. Measuring and Improving Quality of Life for Children. Lindstrom, B. & Spencer, N. Social Paediatrics. Oxford: Oxford University Press. 1995
7. Drell, M. J., & White, T. J. H. Children’s Reaction to Illness and Hospitalization. Sadock, B. J. & Sadock, V. A. Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry Volume 2 (7th ed.). Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins. 2004
8. 5. Munandar, S.C.U. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Grasindo. 1999.
9. 10. Yusuf, S. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2004.