Report DNS TFCA Bahasa Complete

14 

Teks penuh

(1)

Sisa Pembayaran Utang RI

Tahun 1970-an

Dialihkan untuk Membiayai Konservasi

Hutan Sumatera

ke AS

(2)

Anggapan yang menilai bahwa manfaat utama “debt-for-nature swap”

bukan

berorientasi untuk pengurangan utang, melainkan untuk menyediakan dana

tambahan guna mendukung konservasi hutan, tidak sepenuhnya bisa diterima.

“Debt-for-nature swap”

seharusnya mengedepankan solusi menang-menang

(win-win solution), yakni secara bersamaan mampu menciptakan pengurangan

beban pembayaran utang secara riil dan tersedianya penyediaan dana tambahan

untuk konservasi hutan.

(3)

I.

Latar Belakang

Pada tanggal 30 Juni 2009, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat menandatangani

perjanjian “debt-for-nature swap” (DNS) lewat pengaturan“the US Tropical Forest Conservation Act”

(TFCA) tahun 1998—selanjutnya disingkat DNS TFCA.

Dalam siaran pers Kedutaan Besar Amerika Serikat (30 Juni 2009) disebutkan bahwa perjanjian DNS

TFCA akan mengurangi pembayaran utang Pemerintah Indonesia ke Pemerintah Amerika Serikat

senilai hampir US$30 juta selama delapan tahun ke depan. Sebagai gantinya, Pemerintah Indonesia

berkomitmen mengalihkan angsuran pembayaran sisa utangnya tersebut ke rekening sebuah “Trust

Fund” (Dana Perwalian) senilai hampir US$30 juta juga, yang kemudian menjadi dana hibah (grants)

untuk digunakan sebagai dana konservasi hutan Sumatera—selanjutnya disebut “Trust Fund” DNS

TFCA.

Perjanjian DNS TFCA disebutkan dapat terwujud melalui kontribusi Pemerintah Amerika Serikat senilai

US$20 juta dan masing-masing sebesar US$1 juta dari Conservation International (CI) dan Yayasan

Keanekaragaman Hayati (KEHATI). Kontribusi CI dan KEHATI tersebut merupakan “harga kontribusi”

yang harus dibayarkan (swap fee share) oleh kedua organisasi non-pemerintah tersebut dalam

kedudukannya sebagai mitra DNS TFCA (swap partner).

Separuh dari dana kontribusi CI untuk membayar kewajiban sebesar US$1 juta kepada Pemerintah

Amerika Serikat tersebut berasal dari kontribusi Arifin Panigoro, anggota Board CI dan pemilik Medco

Group, sisanya diperoleh dari dana CI sendiri. Sementara, KEHATI mengandalkan sumber dana dari

hasil pengelolaan dan investasi dana lembaga itu sendiri.

Greenomics Indonesia—organisasi non-pemerintah yang memfokuskan kegiatannya pada riset

ekonomi dan keuangan sumber daya alam—tertarik untuk mempelajari beberapa isu pokok dalam

program DNS TFCA tersebut, di antaranya meliputi: a) mekanisme perjanjian DNS TFCA, b) profil utang

bilateral Pemerintah Indonesia yang yang dilibatkan dalam perjanjian DNS TFCA, c) beban

pembayaran utang Pemerintah Indonesia dengan adanya perjanjian DNS TFCA, dan d) pengelolaan

(4)

Tabel 1: Profil Utang DNS TFCA (dalam ribu dolar AS)

II.

Utang Pemerintah Indonesia Tahun 1970-an

DNS TFCA melibatkan enam utang Pemerintah Indonesia ke Pemerintah Amerika Serikat yang

ditandatangani—di antaranya oleh Adam Malik selaku Menteri Luar Negeri Indonesia ketika

itu—pada tahun 1974-1976. Rentang waktu pembayaran utang (utang pokok dan bunga)

tersebut adalah selama 40-41 tahun, yang pembayaran angsurannya dijadwalkan berakhir pada

tahun 2016-2017 (lihatTabel 1).

Tabel 1 menunjukkan bahwa sisa utang Pemerintah Indonesia dari enam utang tersebut per Juni

2009 adalah sebesar US$31,11 juta—masing-masing utang pokok sebesar US$27,71 juta dan

utang bunga US$3,40 juta. Sebelum ada perjanjian DNS TFCA, Pemerintah Indonesia terus

melakukan pembayaran utang tersebut secara angsuran (utang pokok dan bunga) selama 32-33

tahun, yang dijadwalkan akan lunas pada tahun 2016/2017. Untuk Transmisi dan

Distribusi Fase II di Jawa Barat

Untuk Daerah Pedalaman

Sumber: Greenomics Indonesia (Mei 2010), diolah dari berbagai sumber

(5)

Profil keenam utang yang dilibatkan dalam perjanjian DNS TFCA tersebut ternyata tidak diketahui

secara jelas dan rinci oleh pihak KEHATI—baik sebagai mitra (swap partner) dan administrator

program DNS TFCA. Bahkan, anggota Komite Pengawas DNS TFCA (Oversight Committee) yang

mewakili Pemerintah Indonesia—pihak yang menandatangani perjanjian “Forest Conservation

Agreement” program DNS TFCA—juga mengaku tidak mengetahui profil keenam utang tersebut.

Sehingga tak mengherankan jika dalam kegiatan sosialisasi program DNS TFCA dengan para

pemangku kepentingan relevan (relevant stakeholders) di Pulau Sumatera, profil keenam utang

Pemerintah Indonesia yang dilibatkan dalam program DNS TFCA sama sekali tidak menjadi salah

satu pokok bahasan. Diyakini bahwa para pemangku kepentingan di Pulau Sumatera yang akan

terkait dengan implementasi program DNS TFCA ini, dipastikan tidak mengetahui soal profil utang

Pemerintah Indonesia ke Pemerintah Amerika Serikat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transparansi terhadap utang-utang Pemerintah yang

dilibatkan dalam perjanjian DNS TFCA tidak terjadi.

III.

“Pengakuan” Pengurangan Utang

Paragraf keempat perjanjian DNS TFCA antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika

Serikat menyepakati untuk mengakui (recognizing) bahwa kontribusi Pemerintah Amerika Serikat

sebesar US$20 dan ditambah US$2 juta dari CI dan KEHATI adalah merupakan biaya untuk

mengurangi pembayaran utang pokok dan bunga yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia kepada

Pemerintah Amerika Serikat sebesar US$29,92 juta, yang memungkinkan pembayaran utang oleh

Pemerintah Indonesia sejumlah US$29,92 juta dapat dialihkan (redirected) untuk mendukung

konservasi hutan Indonesia—dalam hal ini hutan di Pulau Sumatera.

Dalam Perjanjian DNS TFCA tersebut, disebutkan bahwa kontribusi dari pihak Pemerintah

Amerika Serikat—dalam hal ini Departemen Keuangan Amerika Serikat (US Treasury) dan

kontribusi dari CI/KEHATI tersebut dinyatakan “membatalkan” utang Pemerintah Indonesia

sebesar US$29,92 juta (outstanding obligations) di pembukuan USAID (pihak yang bertindak atas

nama Pemerintah Amerika Serikat ketika Pemerintah Indonesia menandatangani perjanjian

(6)

Setelah “pembatalan” utang Pemerintah Indonesia di pembukuan USAID tersebut dilakukan,

maka status kewajiban pembayaran sisa keenam utang Pemerintah Indonesia tersebut diubah;

menjadi kewajiban baru pembayaran utang Pemerintah Indonesia kepada Pemerintah Amerika

Serikat (new obligations).

Perubahan status tersebut dilakukan dengan cara; Departemen Keuangan Amerika Serikat

mentransfer uang sejumlah US$20 juta dari rekening restrukturisasi utang Departemen Keuangan

Amerika Serikat ke rekening USAID. Pembayaran di muka terhadap utang Pemerintah Indonesia

tersebut oleh pihak Departemen Keuangan Amerika Serikat itu disebut sebagai bentuk

pembayaran pengurangan utang (debt reduction payment).

Pembayaran di muka oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat terhadap utang Pemerintah

Indonesia tersebut dapat dilakukan jika CI dan KEHATI menyetor uang masing-masing sebesar

US$1 juta (swap fee share) ke rekening USAID. Setelah pembayaran sebesar US$20 juta oleh

Departemen keuangan Amerika Serikat dan sebesar US$2 juta oleh CI dan KEHATI ke rekening

USAID dilakukan, maka utang Pemerintah Indonesia sebesar US$29,92 juta tersebut dianggap

lunas dalam pembukuan USAID.

Konsekuensi dari transaksi tersebut, maka “kepemilikan” utang Pemerintah Indonesia “pindah

majikan”—dari USAID ke Departemen Keuangan Amerika Serikat dan CI/KEHATI dalam suatu

perjanjian DNS TFCA. Transaksi tersebut juga mengubah kewajiban pembayaran utang

Pemerintah Indonesia, dari yang seharusnya membayar US$29,92 juta ke rekening USAID sebagai

bentuk angsuran pelunasan utang (outstanding obligations), dialihkan pembayarannya ke

rekening “Trust Fund” DNS TFCA (new obligations) melalui sebuah“perjanjian pengalihan

pembayaran utang” (debt swap agreement). Pemerintah Indonesia berkewajiban mentransfer ke

rekening “Trust Fund” DNS TFCA selama delapan tahun ke depan (Agustus 2009 hingga

2016/2017).

Terhadappembayaran utang bernomor referensi 497-T-035, hanya sekitar50% dari kewajiban

pembayaran utang Pemerintah Indonesia tersebut yang dialihkan untuk “Trust Fund” DNS TFCA,

sisanya Pemerintah Indonesia tetap harus mentransfer ke rekening USAID dalam bentuk

(7)

497-W-032

Tabel 2: Kewajiban Pembayaran Utang oleh Pemerintan Indonesia Pasca Perjanjian DNS TFCA (dalam ribu dolar AS)

Untuk Transmisi dan Distribusi Fase II di Jawa Barat

Untuk Daerah Pedalaman

Sumber: Greenomics Indonesia (Mei 2010), diolah dari berbagai sumber

Tabel 2 menjelaskan bahwa secara riil, total pembayaran utang yang dilakukan oleh Pemerintah

Indonesia kepada Pemerintah Amerika Serikat—baik itu kewajiban pembayaran utang “tanpa”

perjanjian DNS TFCA (outstanding obligations) maupun kewajiban baru pembayaran utang

“dengan” perjanjian DNS TFCA (new obligations) adalah tetap, tak berubah satu dolar pun, yakni

tetap sebesar US$31,11 juta—di mana sejumlah US$29,92 juta ditransfer ke rekening “Trust

Fund” DNS TFCA, dan sisanya ke rekening USAID.

“Pembelian” enam jenis utang Pemerintah Indonesia ke USAID (outstanding obligations) oleh

Departemen Keuangan Amerika Serikat dan CI/KEHATI sebesar US$22 juta dianggap (lebih

kurang) “mewakili” nilai sekarang (present value) dari kewajiban pembayaran utang Pemerintah

(8)

Artinya, nilai “pembelian” utang Pemerintah Indonesia sebesar US$22 juta tersebut juga dinilai

sebagai bentuk investasi sekarang, yang jika dihitung nilai masa depannya (future value), dapat

melebihi nilai US$29,92 juta. Nilai uang masa depan diperhitungkan nilai uangnya (time value of

money), mengingatpembayaran sisa enam utang Pemerintah Indonesia sebesar US$29,92 juta ke

rekening “Trust Fund” DNS TFCA dilakukan secara angsuran hingga tahun 2016/2017. Sementara,

Departemen Keuangan Amerika Serikat dan CI/KEHATI mengeluarkan uang tunai pada saat

sekarang sebesar US$22 juta untuk “membatalkan” enam utang Pemerintah Indonesia sebesar

US$29,92 juta di pembukuan USAID.

Dengan mengacu pada pertimbangan kalkulasi tersebut, maka dianggap kewajiban pembayaran

utang oleh Pemerintah Indonesia dalam perjanjian DNS TFCA sebesar US$29,92 juta ke rekening

“Trust Fund” DNS TFCA secara angsuran tersebut dianggap sama saja dengan pembayaran utang

dengan “harga” yang lebih murah (reduced debt payment).

Sementara itu, terhadap nilai selisih nominal sebesar US$7,92 juta—yakni selisih antara nilai

pembayaran di muka yang dibayarkan oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat dan

CI/KEHATI sebesar US$22 juta dan nilai angsuran total yang dibayarkan oleh Pemerintah

Indonesia sebesar US$29,92 juta—dianggap sebagai biaya dana DNS TFCA (cost of the DNS TFCA

funds).

Namun, pihak Kementerian Keuangan Pemerintah Indonesia tetap menilai bahwa perjanjian DNS

TFCA tersebut tidak menurunkan sedikit pun beban pembayaran utang Pemerintah Indonesia,

karena secara riil, pembayaran utang tetap dilakukan seperti sebelumnya (tanpa ada perjanjian

DNS TFCA) , dengan skedul dan jumlah yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada rekening

yang pembayaran utang yang diubah—dari sebelumnya membayar ke rekening USAID, beralih ke

rekening “Trust Fund” DNS TFCA.

Tak heran jika dalam perjanjian DNS TFCA, terkesan kuat bahwa Departemen Keuangan Amerika

Serikat dan CI/KEHATI membutuhkan “pengakuan pengurangan utang” dengan mengakui bahwa

nilai US$22 juta yang telah mereka keluarkan di muka untuk “membeli” utang Pemerintah

(9)

adalah merupakan biaya pengurangan utang Pemerintah Indonesia kepada Pemerintah Amerika

Serikat—baik utang pokok maupun bunga—senilai senilai US$29,92 juta.

Perlu diperhatikan bahwa salah satu pertanyaan penting dalam setiap program DNS adalah

seberapa besar beban pengurangan pembayaran utang negara debitur dalam membayar

kembali utangnya. Sehingga, manfaat DNS tidak hanya dilihat dari adanya pengalihan transfer

pembayaran utang untuk dana konservasi alam, akan tetapi harus juga memperhatikan sejauh

mana beban pembayaran utang di negara debitur bisa dikurangi secara riil.

Jika hanya mengandalkan perhitungan nilai uang sekarang (present value) dan nilai uang masa

depan (future value) untuk menggambarkan pengurangan pembayaran utang Pemerintah

Indonesia (reduced debt payment) serta menonjolkan sisi “pembatalan utang” Pemerintah

Indonesia di pembukuan USAID lewat mekanisme “pembelian utang”, maka esensi pengurangan

beban pembayaran utang Pemerintah Indonesia, tetap tidak terjadi secara riil.

Pada kenyataannya, pembayaran utang yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia—baik itu

skedul pembayaran utang maupun jumlahnya—persis sama dengan sebelum atau sesudah

adanya perjanjian DNS TFCA.

IV.

Dipertanyakan, Tidak Mengutamakan Solusi Menang-Menang

Anggapan yang menilai bahwa manfaat utama DNS TFCA bukan berorientasi untuk pengurangan

utang, melainkan untuk menyediakan dana tambahan guna mendukung konservasi hutan, tidak

sepenuhnya bisa diterima. DNS TFCA seharusnya mengedepankan solusi menang-menang

(win-win solution), yakni secara bersamaan mampu menciptakan pengurangan beban pembayaran

utang secara riil dan tersedianya penyediaan dana tambahan untuk konservasi hutan.

Tidak munculnya manfaat dari segi pengurangan beban pembayaran utang Pemerintah

Indonesia dalam perjanjian DNS TFCA tentu menimbulkan pertanyaan. Alasan sederhananya

adalah keenam utang Pemerintah Indonesia tersebut adalah utang-utang Pemerintah Indonesia

kepada Pemerintah Amerika Serikat yang dibuat pada tahun 1970-an, dan Pemerintah Indonesia

(10)

Pertanyaan susulan lainnya adalah peranan hutan Indonesia selama 32-33 tahun—rentang waktu

pembayaran utang dan bunga yang sudah dilakukan kepada Pemerintah Amerika Serikat—tidak

menjadi pertimbangan penting dalam perjanjian DNS TFCA. Padahal, hutan Indonesia selama

periode angsuran tersebut, telah “secara gratis” melakukan fungsi penyerapan emisi yang

dikeluarkan oleh industri dunia, termasuk emisi dari industri Amerika Serikat.

Memang Indonesia mendapatkan dana tambahan untuk konservasi hutannya, namun

Pemerintah Amerika Serikat, CI, dan KEHATI juga mendapatkan publisitas yang baik dari

perjanjian DNS TFCA, di samping tetap memiliki kewenangan kontrol yang kuat dan penuh

terhadap pengelolaan dan penggunaan uang sebesar US$29,92 juta, yang akan diangsur oleh

Pemerintah Indonesia. Publisitas yang baik yang diterima oleh Pemerintah Amerika Serikat juga

dengan mudah bisa dikaitkan dengan membangun opini bahwa Pemerintah Amerika Serikat telah

ikut berpartisipasi dalam segi pendanaan dalam mengurangi emisi Indonesia dari sumber

deforestasi.

Perlu digarisbawahi bahwa pelibatan utang-utang Pemerintah Indonesia tahun 1970-an dalam

perjanjian DNS TFCA akan menuai pertanyaan-pertanyaan kritis dari publik—apalagi jika

diketahui bahwa perjanjian DNS TFCA tersebut ternyata tidak memberikan pengurangan beban

pembayaran utang Pemerintah Indonesia secara riil.

V.

Kerancuan, Pengelolaan “Trust Fund” DNS TFCA oleh Bank HSBC Singapura

Pembayaran sisa enam utang Pemerintah Indonesia secara angsuran dengan jumlah total

US$29,92 juta, ditransfer ke rekening pengelola “Trust Fund” DNS TFCA (Debt Service Account),

yakni HSBC Bank, yang bertindak sebagai pengelola “Trust Fund” tersebut (trustee),

berkedudukan di Singapura.

Secara umum, alasan pemilihan model pengelolaan “Trust Fund” dengan menunjuk Bank HSBC di

Singapura sebagai “trustee” tersebut, dikarenakan Indonesia tidak memiliki Undang-Undang

“Trust Fund”. Usulan pembentukan sebuah Yayasan berbadan hukum Indonesia sebagai

(11)

Badan hukum Yayasan secara legal sangat otonom dalam mengelola dana, sehingga kontrol

dari pihak Pemerintah Amerika Serikat bisa sangat terbatas. Di samping itu, Pemerintah

Amerika Serikat juga keberatan jika dana hasil dari DNS TFCA dikenakan pajak jika penempatan

dana tersebut di Indonesia.

Penempatan “Trust Fund” DNS TFCA di Bank HSBC Singapura tersebut didasarkan atas

perjanjian antara Komite Pengawas (Oversight Committee/OC)—yang terdiri dari perwakilan

Pemerintah Indonesia, Pemerintah Amerika Serikat, CI, dan KEHATI—dengan pihak Bank HSBC

Singapura. KEHATI bertindak secara hukum mewakili OC, sehingga KEHATI berperan dalam

melakukan penarikan dana “Trust Fund” tersebut atas nama OC, dan kemudian menyalurkan

ke penerima dana (grantees).

Peranan KEHATI tersebut telah melampaui peranannya sebagai mitra DNS TFCA (swap

partner). Seharusnya, Bank HSBC Singapura—karena berstatus sebagai “trustee”—atas

instruksi tertulis OC—dapat berinteraksi langsung dalam penyaluran dana kepada para pihak

penerima dana (grantees), tidak melalui KEHATI sebagai anggota OC. Kenyataannya, KEHATI

“mewakili” Bank HSBC Singapura dalam penyaluran dana ke para penerima dana, dengan

menyandang status sebagai administrator.

Secara umum, peranan yang dilakukan KEHATI adalah; OC mengeluarkan instruksi tertulis

untuk penarikan dana kepada KEHATI, kemudian KEHATI sebagai pihak yang mewakili OC,

meneruskannya ke Bank HSBC Singapura untuk penarikan dana. Kemudian, pihak Bank HSBC

Singapura mentransfer sejumlah uang yang dimintakan tersebut ke rekening KEHATI.

Tahap berikutnya, KEHATI mentransfer ke rekening para penerima dana—baik itu LSM

lingkungan, organisasi kemasyarakatan, dan dalam kondisi tertentu dapat berupa kegiatan

yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia.

Fakta di atas menunjukkan secara jelas bahwa Bank HSBC Singapura tidak berperan sebagai

pengelola dana (trustee) seperti layaknya sebagai pengelola dana “Trust Fund”. Bank tersebut

(12)

Posisi KEHATI sebagai salah satu anggota OC, telah “diperluas”. Sebagai anggota OC, KEHATI juga

“ditugasi” sebagai “pengurus” (administrator), yang di antaranya berperan sebagai penarik dana

ke Bank HSBC Singapura, sebagai penerima transfer dari Bank HSBC Singapura, dan sebagai

penyalur dana ke para penerima dana (grantees).

Kondisi tersebut di atas menunjukkan kerancuan dalam pengembangan model pengelolaan

“Trust Fund” DNS TFCA. Posisi KEHATI telah berada pada titik “conflict of interest”. Biaya

manajemen sekretariat (management expenses) DNS TFCA di KEHATI sebagai kantor sekretariat

administrator DNS TFCA, ditetapkan sebesar US$350,000 per tahun, dengan management fee

untuk KEHATI sebesar 4% per tahun dari total biaya tersebut. Aturan mainnya, pihak KEHATI—

sebagai mitra DNS TFCA (swap partner) dan anggota OCtidak diperbolehkan menerima dana

DNS TFCA.

VI.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan

1. Profil utang-utang Pemerintah Indonesia yang dilibatkan dalam perjanjian DNS TFCA tidak

menjadi bagian utama yang dikonsultasikan secara terbuka dengan para pihak terkait—baik

sebelum maupun setelah perjanjian DNS TFCA ditandatangani. Utang-utang yang akan

dilibatkan dalam mekanisme perjanjian DNS TFCA hanya dibahas dan disepakati oleh pihak

Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Perekonomian, Departemen Keuangan

Amerika Serikat, dan USAID.

2. Pemerintah Indonesia tidak mendapatkan pengurangan beban pembayaran utang secara

riil—baik utang pokok dan bunga—dalam perjanjian DNS TFCA. Pengurangan pembayaran

utang hanya berupa “pengakuan” dalam perjanjian DNS TFCA, yang didasarkan atas

perhitungan nilai uang sekarang (present value) dan nilai uang masa depan (future value).

3. Perjanjian DNS TFCA antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat tidak

menciptakan solusi menang-menang. Fokus dari perjanjian tersebut lebih mengutamakan

pada penyediaan dana tambahan untuk konservasi hutan Indonesia—dalam hal ini hutan

(13)

4. Penempatan dan pengelolaan “Trust Fund” DNS TFCA pada Bank HSBC Singapura

menimbulkan kerancuan. Bank HSBC Singapura yang ditunjuk sebagai pengelola dana

(trustee) ternyata tidak berperan sebagai pengelola dana. KEHATI diperankan sebagai

administrator yang bertidak seperti pengelola dana. Peranan tersebut menimbulkan konflik

kepentingan. Sehingga, penempatan dan pengelolaan “Trust Fund” DNS TFCA tidak

memberikan model terbaik (best practice) dalam pengelolaan sebuah “Trust Fund”, yang

dananya berasal dari sebuah perjanjian DNS.

Rekomendasi

1. Profil utang Pemerintah Indonesia yang akan dilibatkan dalam perjanjian DNS—tidak hanya

DNS TFCA—seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan para pihak terkait, tidak hanya

menjadi bahasan pihak Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Perekonomian,

Departemen Keuangan Amerika Serikat, dan USAID. Penentuan kriteria utang yang dapat

diikutsertakankan dalam perjanjian DNS perlu dibangun guna menciptakan kredibilitas

perjanjian-perjanjian DNS.

2. Pemerintah Indonesia perlu membuat sebuah “kertas negosiasi” yang solid pada setiap

perjanjian DNS untuk meyakinkan negara-negara kreditur agar dalam perjanjian DNS harus

menyertakan pengurangan beban pembayaran utang Pemerintah Indonesia secara riil.

3. Pemerintah Indonesia perlu memperhatikan konsep solusi menang-menang dalam perjanjian

DNS, agar setiap perjanjian DNS tidak hanya memperhatikan kontribusi dana untuk konservasi

alam di Indonesia, namun juga secara berimbang memperhatikan kontribusi terhadap

pengurangan beban pengurangan utang Pemerintah Indonesia secara riil.

4. Pemerintah Indonesia harus mengupayakan agar “Trust Fund” yang bersumber dari hasil

(14)

Untuk informasi selanjutnya, silakan hubungi:

Elfian Effendi

Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia

Jl. Gandaria Tengah VI No. 2 Kebayoran Baru Jakarta 12130 Tel: +62 21 7279 7226 Fax: +62 21 7280 1148

Email: elfian@greenomics.org

Figur

Tabel 1: Profil Utang DNS TFCA               (dalam ribu dolar AS)
Tabel 1 Profil Utang DNS TFCA dalam ribu dolar AS . View in document p.4
Tabel 2: Kewajiban Pembayaran Utang oleh Pemerintan Indonesia Pasca Perjanjian  DNS TFCA
Tabel 2 Kewajiban Pembayaran Utang oleh Pemerintan Indonesia Pasca Perjanjian DNS TFCA. View in document p.7

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :