• Tidak ada hasil yang ditemukan

Siklus Air di Bumi solear

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Siklus Air di Bumi solear "

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Siklus Air di Bumi

Daur hidrologi sering juga dipakai istilah water cycle atau siklus air. Suatu sirkulasi air yang meliputi gerakan mulai dari laut ke atmosfer, dari atmosfer ke tanah, dan kembali ke laut lagi atau dengan arti lain siklus hidrologi merupakan rangkaian proses berpindahnya air permukaan bumi dari suatu tempat ke tempat lainnya hingga kembali ke tempat asalnya.

Siklus Air, ini pertama kali digambarkan oleh Bernard Manessy pada tahun 1580 dikatakan Air menguap dari laut membentuk awan, awan bergerak kedaratan,lalu turun hujan, hujan ini mengalir lagi ke laut dan kembali menguap , dan siklusnya terpenuhi. Semua orang berfikir abad 7 SM kepercayaan Meltis dia berkata bahwa percikan air laut, dibawa oleh angin, dan terbawa ke daratan sebagai hujan. Orang-orang tidak tahu bagaimana Air Bawah Tanah ,Sumber mata air darimana mereka datang? Jadi mereka berfikir karena daya dorong angin pada air lalu jatuh ke daratan sebagai hujan, dan air hujan ini meresap ke dalam tanah, dan kembali ke laut melalui jalan rahasia.inilah teori Decrates. Teori ini dipercayai sampai abad 17. Teori Aristoteles dipercayai sampai abad 19, Aristoteles mengatakan bahwa Air menguap dari tanah, lalu berkondensasi di dalam gua besar di pegunungan,kemudian gua ini membentuk sebuah danau dan memunculkan sebuah mata air. Setelah perkembangan zaman, diketahui sekarang siklus air mempunyai tahapan sebagai berikut :

1. Penguapan

Penguapan adalah proses perubahan air dari cair ke gas. Ketika matahari memanaskan air di sungai, danau atau lautan, ia menyediakan energi yang cukup untuk memecahkan ikatan hidrogen antara molekul-molekul air.Molekul-molekul individu naik melalui udara ke atmosfer, dalam bentuk uap air atau uap.

Hanya air tawar yang dapat membuat jalan sampai ke awan, air laut akan meninggalkan garam, mineral dan logam ketika menguap.

2. Kondensasi

Kondensasi adalah proses mengubah air dari gas ke cair. Saat uap air naik, menjadi lebih dingin dan mengalami perubahan kembali menjadi tetesan air cair kecil. Ini bergabung bersama untuk membentuk awan.

Air selalu berputar di sekitar, melalui dan di atas bumi. Ini disebut siklus air alami – gerakan air yang kontinu antara tanah, laut, sungai dan anak sungai dan atmosfer. Saat air bergerak melalui siklus, perubahan status dari cairan (air hujan, air laut) ke gas (uap air) dan kembali ke cairan.Cairan juga dapat membekukan dan menjadi padat (es atau salju). Proses alami ini menghilangkan beberapa kotoran air, terus-menerus mengisi persediaan air tawar bumi – itu adalah cara planet kita mendaur ulang air.

(2)

3. Air hujan

Air hujan adalah ketika hujan, salju, hujan salju atau hujan es jatuh dari langit. Ketika begitu banyak air mengembun sehingga udara tidak dapat mendukung berat, air jatuh dari awan ke bumi. Tergantung pada suhu udara, air dapat mengambil bentuk cair (hujan), atau bentuk padat (salju, hujan salju atau hujan es).

4. Infiltrasi

Infiltrasi terjadi ketika air jatuh kembali ke Bumi, di mana sebagian membasahi ke dalam tanah. Hal ini kemudian dikumpulkan di bawah tanah di lapisan batuan, pasir atau kerikil yang disebut akuifer – air ini dikenal sebagai air tanah. Tanah akhirnya merembes ke bagian bawah sungai, memberikan aliran air bahkan setelah hujan berhenti.

Air di dalam tanah juga dapat diserap oleh akar tanaman. Air ini berjalan melalui daun tumbuhan, di mana sebagian digunakan dalam proses fotosintesis.

5. Limpasan

Limpasan adalah ketika air tidak meresap ke dalam tanah, tapi mengalir di tanah sebagai gantinya. Air ini disebut air permukaan atau limpasan, dan mengumpul di sungai yang mengalir ke sungai-sungai besar.

6. Transpirasi

Transpirasi saat air menguap dari tanaman, terutama melalui daun mereka. Hal ini akan mengembalikan uap air kembali ke udara.

Kita harus tahu bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu. At Thariq [86:11]

“Demi langit yang mengandung hujan.”

(3)

atmosfer bumi tidak hanya menurunkan hujan tetapi juga bermanfaat untuk memantulkan gelombang radio sehingga kita dapat berkomunikasi, menonton tv, dll, selain itu juga bermanfaat untuk memantulkan sinar ultraviolet matahari, dan masih banyak lagi.

Al Hijr[15:22]

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.”

Dalam ayat tersebut disebutkan sifat angin yang mengawinkan dan terbentuknya hujan karenanya. Hingga awal abad ke 20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran “mengawinkan” dari angin dalam pembentukan hujan.

Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi sebagaimana berikut:Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. . Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan.

Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.

Dalam ayat ini menjelaskan tentang air laut. Allah memilih kata ‘asin’ dalam ayat tersebut, karena masih berhubungan dengan siklus air. Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa air sungai membawa bermacam-macam mineral ke laut, salah satunya adalah garam. Ketika air laut menguap, hanya airnya saja yang menguap, sedangkan garam tetap tertinggal. Melalui proses siklus yang berulang selama jutaan tahun, maka air laut menjadi asin seperti sekarang..

An Nur [24:43] Al Waqiah [56:70]

(4)

“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-dipalingkan-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”

Al Rum [30:24]

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.”

Al Rum [30:48]

(5)

Al Araf [7:57]

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”

Al Furqon [25:48]

“Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,”

Al Fatir [35:9]

“Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.”

Al Jasiyah [45:5]

“dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.”

(6)

gumpalan seperti gunung-gunung, hari ini apabila sesorang naik Pesawat Terbang mereka akan menyadari ketika pesawat terbang terbang di atas awan, dia melihat ke awan dibawahnya dia akan melihat bahwa awan-awan itu akan nampak sebanyak gunung-gunung. Al Qur’an mengatakan ini 1400 tahun yang lalu. Tidak ada pesawat udara 1400 tahun yang lalu. Dalam ayat-ayat tersebut, setelah awan bergerombol seperti gunung maka awan akan keberatan massanya dan jatuh ke bumi disebut dengan hujan dapat berbentuk butiran es. Hal ini benar hujan dapat turun dalam bentuk es di tempat yang beriklim subtropis, sedang, dan dingin.

Ayat di atas juga menghubungkan awan, es dan terjadinya petir atau kilat. Apakah es merupakan faktor penentu pembentukan kilat? Mari kita kaji sebuah buku berjudul: Meteorology Today. Di sana diterangkan bahwa sebuah awan akan menjadi bermuatan listrik ketika bongkahan es jatuh melalui daerah di dalam awan yang berisi kristal es dan tetes air super-dingin. Ketika tetes-tetes air ini bertumbukan dengan bongkahan es, mereka langsung membeku dan melepaskan panas. Panas ini menjadikan permukaan bongkahan es lebih hangat dari kristal-kristal es di sekelilingnya. Ketika bongkahan es bertumbukan dengan kristal-kristal es, sebuah peristiwa penting terjadi: elektron mengalir dari benda yang lebih dingin ke benda yang lebih hangat. Karenanya, kini bongkahan es menjadi bermuatan negatif. Hal serupa juga terjadi saat tetesan air super-dingin bertumbukan dengan bongkahan es dan melontarkan butiran-butiran halus es bermuatan positif. Partikel-partikel yang lebih ringan dan bermuatan positif ini kemudian terangkat ke bagian atas dari awan. Sementara itu, bongkahan es yang kini bermuatan negatif jatuh turun dan berkumpul di bagian bawah awan. Karena itulah kini terjadi perbedaan muatan listrik antara bagian atas dan bawah awan. Muatan negatif ini kemudian dilepaskan dalam bentuk kilat atau petir.

Al Mu’minun [23:18]

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.”

Al Zukhruf [43:11]

“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”

(7)

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”

Kadar dalam hujan ini pun sekali lagi telah ditemukan melalui penelitian modern. Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 trilyun ton air per tahun. Angka ini ternyata sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun. Hal ini berarti air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut “ukuran atau kadar” tertentu. Kehidupan di bumi bergantung pada siklus air ini. Bahkan sekalipun manusia menggunakan semua teknologi yang ada di dunia ini, mereka tidak akan mampu membuat siklus seperti ini.

Per tahunnya, air hujan yang menguap dan turun kembali ke Bumi dalam bentuk hujan berjumlah “tetap” yakni 513 triliun ton. Jumlah yang tetap ini dinyatakan dalam Al Qur’an dengan menggunakan istilah “menurunkan air dari langit menurut kadar”. Tetapnya jumlah ini sangatlah penting bagi keberlangsungan keseimbangan ekologi dan, tentu saja, kelangsungan kehidupan ini,.

Al Furqon [25:49]

”agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.”

Al Waqiah [56:68]

(8)

Al Waqiah [56:69]

“Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?”

Al Mulk [67:30]

“Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?".”

Dalam ayat tersebut, tegas dikatakan bahwa air yang kita minum adalah air yang diturunkan dari langit. Hasil penelitian menyebutkan bahwa air tawar yang kita minum berasal dari hujan. Air tersebut turun melalui siklus peredarannya, sehingga tersedia air tawar di hulu pegunungan. Awalnya ia berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, dan kabut.

Al-Quran tidak langsung menjelaskan air yang kita minum berasal dari sungai, sumur atau danau. Tapi, ia diturunkan berupa air hujan. Dan, dari hujan inilah terbentuk sumber-sumber air limpasan yaitu air permukaan yang akan mengaliri sungai-sungai , mengisi sumur-sumur, dan memenuhi danau.

Al Zumar [39:21]

”Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. “

Al Yasin [36:34]

“Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,”

Al Waqiah [56:70]

(9)

Al Qaf [50:9]

“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam,”

Dalam ayat ini menunjukkan manfaat air tanah untuk tumbuh-tumbuhan. Untuk tumbuh, tumbuh-tumbuhan melakukan proses fotosistesis dengan menguapkan air yang diserapnya dari akar ke daun. Tumbuhan dapat menyerap air dari dalam tanah karena adanya air tanah. Air tanah ada karena air hujan meresap ke dalam tanah. Proses penguangan dari tumbuhan ini disebut transpirasi.

Referensi

Dokumen terkait

Pengamatan simpanan karbon pada kopi Robusta kopi Arabika di KP Andung- sari pada berbagai umur tanaman dengan penaung tunggal yaitu lamtoro disajikan pada Tabel 5. Hasil

Tabel 12 mengungkapkan bahwa dengan jumlah skor sebesar 70,077, maka indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan perizinan dan investasi di KPPI Kota Jambi

Pertamina (Persero) Unit Pemasaran I Medan telah melaksanakan program tanggung jawab sosial perusahaan di bawah divisi khusus dibawah tanggung jawab Manajer Keuangan dan Humas

Merawat anggota keluarga dengan penyakit mental dapat menyebabkan tekanan psikologis yang cukup besar dan mempengaruhi kesehatan mental anggota keluarga perempuan

pada virtualisasi server menggunakan proxmox telah berhasil dilakukan yaitu dengan indikasi bahwa Virtual Machine ( VM ) telah berhasil pindah ketika salah satu

Pandangan lama melalui proses menyampaikan (transfer) yang kadang-kadang sering diartikan sempit, hanya terbatas sebagai proses menyampaikan atau memindahkan

Perpu dibuat oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, dengan ketentuan sebagai berikut: a.. Perpu harus diajukan ke DPR dalam persidangan

Dalam rangka memperoleh kompetensi tersebut para mahasiswa UNNES wajib mengikuti proses pembelajaran lapangan melalui kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) meliputi