PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERTIF TIPE JIGSAW DAN MODELPEMBELAJARAN LANGSUNG
( DIRECT INSTRUCTION )
TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA DI SMP DUTA BANGSA JAKARTA BARAT
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Matematika
Disusun oleh :
SUMIATY
NPM : 20108300012
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA SEKOLAH TINGGI DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
KUSUMA NEGARA JAKARTA
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada penulis, sehingga penyusunan proposal skripsi yang berjudul meningkatkan hasil belajar ini dapat terselesaikan.
Proposal skripsi yang berjudul “Perbedaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Model Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction) terhadap hasil belajar matematika kelas VII pada Standar Kompetensi segitiga di SMP Duta Bangsa Jakarta Barat ” ini ditulis guna memenuhi tugas sebagai syarat melakukan penelitian dan penyusunan skripsi di STKIP KUSUMA NEGARA JAKARTA.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan proposal skripsi ini, terutama kepada :
1. Dr. H. Sugiharto, selaku Ketua STKIP Kusuma Negara Jakarta.
2. Dr. Hj. Sri Rahayu Pudjiastuti, M.Pd., sebagai Pembantu Ketua I STKIP Kusuma Negara Jakarta.
3. Drs. Suharto, M.Pd., sebagai Ketua Jurusan Matematika STKIP Kusuma Negara Jakarta.
4. Ir. Sutan Deni Johan, MM., sebagai pembimbing yang telah memberikan motivasi dan membimbing dalam menyelesaikan proposal skripsi ini.
5. Seluruh dosen dan staf STKIP Kusuma Negara Jakarta yang telah banyak memberikan dukungan dalam menyelesaikan proposal skripsi ini.
6. Saudara dan temanku yang telah banyak memberikan bantuan dan motivasi dalam menyelesaikan proposal skripsi ini.
Semoga bantuan yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan imbalan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penulis dimasa yang akan datang.
Akhirnya penulis berharap mudah-mudahan proposal skripsi ini dapat memberikan banyak manfaat bagi penulis khususnya dan bagi dunia pendidikan pada umumnya.
Jakarta, September 2013 Penulis
ABSTRAK ………... LEMBAR PENGESAHN
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 2
C. Pembatasan Masalah ... 3
D. Perumusan Masalah ... 3
E. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESA PENELITIAN A. Deskripi Teori ... 5
1. Hakikat Hasil Belajar ... 5
2. Hakikat Model Pembelajaran Tipe Jigsaw ... 9
3. Hakikat Model Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction )... 11
4. Materi / Matematika ... 14
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar ... 15
6. Materi yang terkait dengan penelitian ... 17
B. Kerangka Berfikir ... 18
C. Hipotesis Tindakan ... 18
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tujuan Penelitian ... 19
C. Metode Penelitian ... 19
D. Desain Penelitian ... 20
E. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 20
1. Populasi ... 20
2. Sampel Penelitian ... 21
3. Teknik Pengambilan Sampel ... 21
2. Pengujian Instrumen ... 21 G. Teknik Analisis Data ... 24 H. Hipotesis Statistik ... 29
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berkembangnya suatu negara sangatlah ditentukan oleh kualitas dan kuantitas dari komponen yang ada didalamnya yaitu masyarakat, sebagai panentu masa depan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehimgga sebagai salah satu sarana dalam memajukan dan mencerdaskan bangsa adalah diwujudkan dengan adanya pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan melalui pembelajaran tidak terlepas dari upaya memberdayakan potensi siswa sebagai peserta didik dan sebagai bagian dari masyarakat belajar. Proses pembelajaran disekolah saat ini sedapat mungkin dilaksanakan dan dikembangkan berdasarkan strategi pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Sejalan dengan upaya tersebut perlu penerapan strategi yang efektif dan mengaktifkan siswa,sehingga siswa dapat menemukan hubungan antara informasi – informasi yang mereka pelajari.
Merosotnya kualitas pendidikan banyak mendapatkan sorotan dari masyarakat, para pendidik serta pemerintah, sehingga pendidikan hendaknya melihat jauh kedepan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik. Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik dalam menerima materi pelajaran yang berpengaruh pada prestasi siswa. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi prestasi didik itu sendiri,yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu. Dalam arti yang substansial,bahwa proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi guru dan kurang memberi akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya.
Dalam pembelajaran umum, khususnya matematika, sangatlah di perlukan banyak strategi pembelajaran yang tepat dan dapat melibatkan siswa seoptimal mungkin, baik secara intelektual maupun emosional. Sehingga siswa atau peserta didik lebih memahami jelas dan tidak terkesan abstrak dengan apa yang dipelajari didalam kelas, karena pengajaran Matematika menekankan pada keterampilan
diharapkan dapat mengembankan pola berpikir ilmiahnya yang mencakup sikap jujur dan obyektif terhadap fakta serta sikap ingin tau yang selalu berkembang, yang kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.
Jika melihat pada pelaksanaan pembelajaran di kelas, penggunaan pembelajaran yang bervariasi masih sangat rendah dan guru cenderung menggunakan metode ceramah dan mengurangi ketertarikan siswa pada setiap kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan terhadap model-model pembelajaran sangatlah di perlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru serta penyerapan materi pembelajaran oleh siswa. Sedangkan pembelajaran student centered membutuhkan proses belajar dan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan kurikulum yang mendukung pembelajaran, untuk mengembangkan pembelajar yang mandiri yang mampu memberdayakan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Oleh karenanya peneliti ingin mengetahui apakah perbedaan suatu pembelajaran yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan model pembelajaran langsung ( Direct Instruction ) yang dapat membantu siswa untuk mendapatkan hasil belajar seperti yang diharapkan
Dari permasalahan diatas maka penulis mengdakan penelitian dengan judul:
“ Perbedaan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dan Model Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction ) terhadap hasil belajar matematika di SMP Duta Mas Jakarta Barat.”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas maka beberapa masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut
1. Apakah penting mempelajari pelajaran matematika ?
2. Apakah semua murid kelas VII mengalami kesulitan dalam belajar matematika ?
3. Apakah penggunaan model pembelajaran jigsaw akan berpengaruh pada hasil belajar siswa ?
4. Apakah model Direct Instruction mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar matematika ?
5. Apakah model pembelajaran Jigsaw dan Direct instruction dapat diterapkan di semua sekolah?
6. Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran Jigsaw dengan model pembelajaran Direct Instruction ?
7. Apakah keunggulan atau kelemahan dari model pembelajaran Jigsaw dan model pembelajaran Direct Instrution ?
8. Apakah perbedaan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dan model pembelajaran lansung, terhadap hasil belajar matematika di kelas VII SMP Duta Mas Jakarta Barat ?
C. Pembatasan Masalah.
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini hanya dibatasi pada perbedaan model pembelajaran dengan menggunakan tipe Jigsaw dan model pembelajaran langsung (Direct Instruction ) terhadap hasil belajar matematika di kelas VII SMP Duta Mas Jakarta Barat.
D. Perumusan Masalah
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi mahasiswa penelitian ini berguna untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar sarjana pendidikan dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi saat mengajar. 2. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat berguna bagi guru sebagai
bahan pertimbangan dalam menerapkan strategi pembelajaran untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.
3. Bagi masyarakat pada umumnya hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penelitian lebih lanjut bagi yang ingin meneliti masalah pendidikan
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESA PENELITIAN
A. Deskripsi Teori
1. Hakikat Hasil Belajar Matematika
Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi). Teori yang dikembangkan dalam komponen ini meliputi antara lain teori tentang tujuan pendidikan, organisasi kurikulum, isi kurikulum dan modul-modul pengembangan kurikulum. Kegiatan atau tingkah laku belajar terdiri dari kegiatan psikis dan fisis,yang saling bekerja sama secara terpadu dan komprehensif integral. Sejalan dengan itu belajar dapat dipahami sebagai usaha untuk berlatih supaya mendapatkan suatu kepandaian. Dalam implementasinya, belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku,dan ketrmpilan dengan cara mengolah bahan ajar. Para ahli psikologi atau guru-gurul pada umumnya memandang belajar kelakuan yang berubah. Pandangan ini memisahkan pengertian yang tegas antara proses belajar dengan kegiatan yang semata-mata bersifat hafalan.1
Hal-hal pokok dalam pengertian belajar adalah belajar itu membawa perubahan tingkah laku karena pengalaman dan latihan,perubahan itu pada pokoknya didapatkan kecakapan baru, dan perubahan itu terjadi karena usaha yang disengaja. Aliran psikologi kognitif menganggap bahwa belajar pada dasarnya merupakan peristiwa mental, bukan behavioral yang bersifat jasmaniah.
Menurut Gagne (1970), mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia
1 Dr.H.Syaiful Sagala, konsep dan makna pembelajaran.(Jakarta : Bumi Aksara,2000)
mengalami situasi tersebut ke waktu setelah ia mengalami situasi tadi. Gagne berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dalam diri dan luar dimana keduanya saling berinteraksi.2
Sedangkan menurut pendapat Carl R. Rogers (ahli psikoterapi) menerangkan bahwa praktek belajar menitik beratkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafal pelajaran.
Jerome s. Brunner beranggapan bahwa belajar merupakan pengembangan kategori-kategori dan pengembangan suatu sistem pengkodean (coding). Berbagai kategori-kategori saling berkaitan sedemikian rupa sehingga setiap individu mempunyai model yang unik tentang alam. A;asan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran adalah
1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan wajar untuk belajar, siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4. Belajar yang bermakna bagi masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar.keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dengan melakukan pengubahan diri secara terus-menerus.
5. Belajar yang optimal akan terjadi bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses belajar.
6. Belajar mengalami (experiential learning) dapat terjadi bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri.
7. Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh3.
perubahan tingkah laku bukan dilihat dari perubahan sifat-sifat fisik misalnya tinggi dan berat badan, kekuatan fisik misalkan untuk mengangkat. Yang terjadi sebagai satu perubahan fisiolagis dalam besar otot atau efesiensi dari
proses sirkulasi dan respirasi. Perubahan ini tidak termasuk belajar, perilaku berbicara, menulis, bergerak, dan lainnya memberi kesempatan kepada manusia untuk mempelajari perilaku-perilaku seperti berpikir, merasa, mengingat, memecahkan masalah, berbuat kreatif dan lainnya, perubahan ini termasuk hasil belajar. Sedangkan istilah pengalaman membatasi macam-macam perubahan perilaku yang dapat dianggap mewakili belajar.
Proses lain yang menghasilkan perubahan perilaku, yang tidak termasuk belajar adalah kematangan, yaitu perubahan perilaku disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan diri dari organisma-organisma secara fisiologis. Pemikiran belajar mengacu pada proses :
1. Belajar tidak hanya sekedar menghapal, siswa harus mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.
2. Anak belajar dan mengalami, anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.
3. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan (subject matter)
4. Pengetahuan tidak bisa dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proporsi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. 5. Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru. 6. Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah menemukan sesuatu yang
berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide.
7. Proses belajar dapat mengubah struktur otak, perubahan strktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang.
Belajar merupakan proses terbentuknya tingkah laku baru yang disebabkan individu merespon lingkungannya. Melalui pengalaman pribadi yang tidak termasuk kematangan. Pertumbuhan atau instink. Belajar sebagai proses akan terarah kepada tercapainya tujuan (goal oriented) dari pihak siswa maupun dari
pihak guru. Tujuan itu dapat diidentifikasi dan bahkan dapat diarahkan sesuai dengan maksud pendidikan.4
Secara harfiah pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan mempelajari, dan perbuatan menjadikan orang atau mahluk hidup belajar. Pembelajaran merupakan suatu proses atau upaya menciptakan kondisi belajar dalam mengembangkan kemampuan minat dan bakat siswa secara optimal, sehingga kompetensi dan tujuan belajar dapat tercapai.
Kompetensi dan tujuan pembelajaran akan tercapai secara optimal apabila pemilihan dan pendekatan metode, strategi, dan model-model pembelajaran tepat dan disesuaikan dengan materi. Tingkat kemampuan siswa, karakteristik siswa. Kemampuan sarana dan prasarana dan kemampuan guru dalam menerapkan secara tepat guna pendekatan, metode, strategi, dan model-model pembelajaran. Dalam proses pembelajaran guru dapat selektif dalam menerapkan, memilih atau menggabungkan beberapa pendekatan, metode, strategi, dan model-model pembelajaran.5
Pembelajaran merupakan suatu proses terjadinya interaksi belajar dan mengajar dalam suatu kondisi tertentu yang melibatkan beberapa unsur, baik unsur ekstrinsik maupun intrinsik yang melekat pada diri siswa dan guru termasuk lingkungan. Penjelasan ini sejalan dengan undang-undang No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interksi peserta didik dan pendidik dan sumber belajar pada satu lingkungan belajar6.
Kegiatan pembelajaran adalah kegiatan yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya belajar pada peserta didik dalam suatu kegiatan dapat perilaku pada diri peserta didik sebagai hasil dari suatu pengalaman.7
4 Ibid,h.39
5 Prof.Dr. La Iru S.H,Si dan La Ode Safiun S.Pd, M.Pd. Analisis penerapan pendekatan,metode,strategi dan model-model pembelajaran. DIY : Multi presindo
6 Undang-undang 2003 nomor 20 tahun 2003 tentang sistim pendidikan nasional
Istilah matematika dari bahasa yunani “mathein” yang artinya mempelajari. Matematika timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan manusia yang berhubungan dengan ide, proses, penalaran. Matematika tidak hanya berhubungan dengan secara operasinya, melainkan juga unsur ruang sebagai suatu istilah yang disebut ilmu kuantitas. Lebih lanjut Jujun S. Suriasumantri berpendapat “matematika memungkinkan ilmu yang mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ketahap kuantitatif”.8
Sebagai pendidik atau pengajar senantiasa ingin mengetahui apakah tujuan yang diharapkan sudah tercapai dan sejauh manakah pelajaran atau materi yang diberikan kepada siswa dapat dipahami dengan melihat dari hasil yang didapatkan oleh para siswa.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:250), hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesainya bahan pelajaran.
Menurut Hamalik (2006 : 30), hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah, dua diantaranya adalah kognitif, dan afektif. Perinciannya adalah sebagai berikut :
1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan penilaian.
2. Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi 5 jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai9.
8 Jujun S. Suria Sumamtri. Filsafat Ilmu. (Jakarta : Sinar Harapan.1984). H.143 9 Juprimalino. Blogspot.com/2012.02/definisi pengertian hasil
belajar,html.12.05
pertemuan
Dengan mengacu pada semua indikator yang telah ditetapkan pada setiap kompetensi dasar (KD). Dari hasil penilaian beberapa pertemuan pada pembelajaran kompetensi dasar (KD) akhirnya akan diperoleh suatu gambaran pencapaian kompetensi tiap peserta didik yang mencakup semua indikatornya.
2. Hakikat Model Pembelajaran Tipe Jigsaw
Arihi,L.S (2009): pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dalam kelompok – kelompok kecil.Pembelajaran kooperatif memiliki dua aspek Maning ((1992) mengklasifikasikan kedua aspek tersebut yaitu :
1. Dimungkinkannya lingkungan yang kooperatif yang mendidik dan memacu siswa untuk bersaing satu sama lain dan bukan hanya sekedar bekerja sama
2. Mengidentifikasikan bahwa belajar kooperatif bila diimplikasikan secara umum mempunyai potensi memberikan kontribusi secara umum,kontribusi positif kepada kemampun akademik,keterampilan social ,dan kepercayaan diri.
Roger & David ( Lie,2007 ) mengatakan tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning.Untuk mencampai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan yaitu, saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.10
Jigsaw adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari tim – tim heterogen yang beranggotakan 4-5 orang siswa, materi pelajaran yang diberikan pada siswa dalam bentuk teks setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tersebut kepada anggota tim lain. Jigsaw didesain untuk
meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarnnya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang
diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan menjabarkan materinya tersebut kepada anggota kelompoknya yang lain.11
Anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk berdiskusi (antar ahli) saling membantu satu sama lain tentang topik pelajaran yang ditugaskan kepada mereka, kemudian siswa itu kembali pada kelompoknya masing-masing (kelompok asal) untuk menjelaskan kepada anggota kelompoknya yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya 11
(dalam pertemuan ahli).
Ilustrasi pembelajaran kelompok dalam metode jigsaw yang dimodifikasi dalam bentuk bagan Nur (2002).
Langkah-langkah Pembelajaran Jigsaw sebagai berikut.
1. Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5 sampai 6 orang).
2. Materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa subbab.
3. Setiap anggota kelompok membaca subbab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya. Misalnya, jika materi yang disampaikan mengenai sistem ekskresi. Maka seorang siswa dari satu kelompok mempelajari tentang ginjal, siswa yang lain dari kelompok satunya mempelajari tentang paru-paru, begitu pun siswa lainnya mempelajari kulit, dan lainnya lagi mempelajari hati.
4. Anggota kelompok lain yang telah mempelajari subbab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
5. Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali kekelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.
6. Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siwa dikenai tagihan berupa kuis individu.
bisa menjelaskan/menerangkan apa yang dia ketahui pada saat diskusi penyelesaian soal yang diberikan pada kelompok ahli kepada teman kelompok asal serta siswa yang lemah dapat dibantu dalam menyelesaikan masalah. Kelemahan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah ramainya kondisi kelas. Keadaan kondisi kelas yang ramai, sehingga membuat siswa yang bingung dan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah pembelajaran yang baru. Pada pembelajaran tipe jigsaw ada ketergantungan siswa pada temannya dan siswa yang lemah memungkinkan menggantungkan pada siswa yang pandai.
3. Hakekat Model Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction )
Pembelajaran langsung merupakan terjemahan dari Direct Instruction.
Pembelajaran langsung digunakan olehpara peneliti untuk merujuk pada pola-pola pembelajaran di mana guru banyak menjelaskan konsep atau keterampilan kepada sejumlah kelompok siswa.
Roy Killen (1998), Direct Instruction merujuk pada teknik pembelajaran ekspositori (pemindahan pengetahuan dari guru kepada murid secara langsung,misalanya melalui ceramah,demonstrasi,dan tanya jawab) yang melibatkan seluruh kelas.
Tujuan utama pembelajaran langsung adalah untuk memaksimalkan penggunaan waktu belajar siswa. Beberapa temuan dalam teori perilaku adalah pencapaian siswa yang dihubungkan dengan waktu yang digunakan oleh siswa dalam belajar dan kecepatan siswa untuk berhasil dlam mengerjakan tugas sangat positif. Dengan demikian model pembelajaran langsung, dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar struktur dan berorientasi pada pencapaian akademi.12
Sintaks model pembelajaran langsung menurut Bruce dan Weil (1996) yaitu:
No Tahapan Uraian
1 Orientasi 1.Kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relavan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
2.Mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pembelajaran.
3.Memberikan penjelasan atau arahan mengenai kgiatan yang akan dilakukan
4.menginformasikan materi /konsep yang akan di gunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran
5.menginformasikan kerangka pelajaran
2 Presentasi 1.Penyajian materi dalam langkah-langkah pendek sehingga materi dapat dikuasai siswa dalam waktu relatif singkat
2.Memberi contoh-contoh konsep 3.Pemodelan atau peragaan keterampilan dengan cara demonstrasi atau dengan penjelasan langkah-langkah kerja
4.Menjelaskan ulang hal-hal yang sulit
5 Tahap latihan mandiri Melakukan kegiatan latihan secara mandiri
Sintaks pembelajaran langsung yang dikemukakan savin(2003) yaitu:
No Tahapan Uraian
1 Menginformasikan tujuan dan orientasi balajar
Guru menginformasikan hal-hal yang harus di pelajari dan kinerja siswa yang diharapkan. 2 Mereviu pengetahuan dan
keterampilan prasyarat
Guru mengajukan pertanyaan untuk mengungkapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai oleh siswa 3 Menyampaikan materi
pelajaran
Guru menyampaikan materi,dan menyajikan informasi
4 Melaksanakan bimbingan Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman siswa dan mengoreksi kesalahan konsep
5 Memberi latihan Guru memberi kesempatan kepada siswa melatih keterampilannya atau menggunakan informasi baru secara individu atau kelompok 6 Menilai kinerja siswa dan
memberikan umpan balik
Guru memberikan reviu terhadap hal-hal yang telah dilakukan siswa.
Kelebiahn model pembelajaran langsung yaitu:
1. Guru dapat mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa
3. Dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan pengatahuan faktual yang sangat terstruktur
4. Merupakan satu cara efektif untuk mengajarkan keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang kemampuannya masih rendah
5. Dapat menjadi cara untuk menyampaikan informasi yang banyak dalm waktu yang singkat dan dapat diakses secara setara oleh seluruh siswa 6. Merupakan cara yang bermanfaat untuk menginformasikan kepada siswa
yang tidak suka membaca atau yang tidak memiliki keterampilan dalam menafsirkan informasi
7. Dapat diguanakn untuk membangun model pembelajaran tertentu 8. Menekankan kegiatan mendengar dan mengamati
9. Bergantung pada kemampuan refleksi guru dan dapat terus-menerus mengevaluasi dan memperbaikinya
Keterbatasan model pembelajaran langsung yaitu:
1. Bersandar pada kemampuan siswa untuk mengasimilasikan informasi melaui kegiatan mendengar,mengamati,dan mencatat.
2. Sulit untuk mengatasi perbedaan dalam hal kemampuan,pengetahuan awal,tingkat pembelajaran dan pemahaman,gaya belajar,atau ketertarikan siswa.
3. Soswa memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat secara aktif,sulit mengembangkan keterampilan sosial,dan interpersonal mereka.
4. Guru memainkan peran pusat,kesuksesan startegi tergantung pada image guru.
5. Memberi siswa cara pandang guru mengenai materi disusun dan disintesis tidak selalu dapat dipahami oleh siswa.
6. Melibatkan banyak komunikasi satu arah.
dan luas segitiga Contoh :
1. Pak joko mempunyai kebun berbentuk segitiga dengan panjang tiap sisi tanah 8m,12m,14m. Pak joko ingin memberi rumput yang mengelilingi kebunnya. Berapakah keliling kebun pak joko...?
Pembahasan : K = 8 + 12 + 14 = 34 m
2. Keliling segitiga sama sisi yang panjang sisinya 9,6 cm adalah…..? Pembahasan : K = 9,6 + 9,6 + 9,6 = 28,8 cm
3. Diketahui luas segitiga 385 m². Jika alas suatu segitiga 22 m, maka tingginya adalah…..?
Pembahasan:
Diket L = 385 m² a = 22 m Ditanya t = ?
Jawab L = 12 * a * t
385 = 1
2 * 22 * t 385 = 11 t
35 = t
B. Ke rangka Berfikir
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang khusus dirancang guna mengetahui perbedaan model pembelajaran dengan menggunakan Jigsaw dan
menerapkan ini pembelajaran ini siswa akan termotivasi untuk dapat menemukan generalisasi dan memahami benar materi yang disampaikan oleh guru. Sehingga akan membangkitkan rasa ingin tahu untuk menemukan sendiri jawaban dari suatu soal yang diberikan. Dengan demikian siswa akan merasa senang, termotivasi, tertarik dan bersikap positif terhadap pembelajaran matematika. Akhirnya minat siswa untuk mengetahui lebih dalam tentang matematika akan semakin besar dan diharapkan hasil belajar akan meningkat.
Berdasarkan landasan teori diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan model pembelajaran tipe Jigsaw dan model pembelajaran Direct Instruction pada siswa dapat mempengaruhi hasil belajar pada pokok bahasan segitiga pada SMP Duta Mas kelas VII
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh positif pada penerapan model pembelajaran dengan tipe Jigsaw dan Direct Instruction akan mempengaruhi hasil belajar pada materi segitiga, sehingga aktivitas siswa kelas VII SMP Duta Mas tahun ajaran 2013-2014 serta kinerja guru dapat ditingkatkan.
A. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah perbedaan hasil belajar yang menggunakan metode pendekatan ekspositori dan menggunakan metode heuristik. Sehingga dapat mencapai ketuntasan belajar siswa dan mengetahui ada tidaknya pengaruh yang dapat meningkatkan keterampilan siswa pada poses pembelajaran terhadap perkembangan siswa.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Duta Mas yang beralamat di Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2013 - 2014.
C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan peneliti dalam penelitian adalah metode kualifikasi dengan quasi eksperimen. Quasi eksperimen merupakan eksperimen yang memiliki perlakuan (treatments), pengukuran-pengukuran dampak (outcome measure), dan unit-unit eksperimen (experimental unit) namun tidak menggunakan penempatan secara acak. Data hasil eksperimen dikumpulkan dan dianalisis dengan menggunakan teknik statistik. Tujuan dari eksperimen ini adalah untuk mengetahui apakah Perbedaan Metode Pembelajaran Dengan Menggunakan model Jigsaw dengan model Direct Instruction Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII Pada Pokok Bahasan segitiga di SMP Duta Mas yang dilakukan dengan cara memberikan tes.
D. Desain Penelitian
Rx : Kelas yang dipilih secara random (acak)
Ry : Kelas pembanding yang dipilih secara random (acak)
M : Kelas yang diajarkan dengan proses pembelajaran seperti biasa p : Kelas yang diajarkan dengan menerapkan PBMP pada siswa X : Hasil belajar dengan proses pembelajaran seperti biasa Y : Hasil belajar dengan menerapkan PBMP pada siswa
E. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi
Populasi merupakan sekelompok objek penelitian yang dijadikan sebagai somber data dalam suatu penelitian balk secara kuantitatif maupun kualitallf, daripada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat .-- sifatnya.
Populasi adalah somber data atau disebut juga wilayall generallsasi yang terdiri atas objek dan subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh pendidik untuk inejnr)elqlarl dan keniudiai-, ditarik kesimpulan.
a. Populasi Target
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Duta Mas tahun ajaran 2013- 2014, yaitu sebanyak 60 siswa, yang terbagi dalam 2 kelas yaitu VII (2 kelas)
b. Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau adalah seluruh siswa kelas VII SMP Duta Mas yang terdaftar pada tahun ajaran 2013-2014.
2. Sampel penelitian
Sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti atau sebagian dari jumlah objek dalam suatu penelitian. Pada penelitian ini diambil kelas VII A dengan 30 siswa sebagai kelas kontrol dan kelas VII B dengan 30 siswa sebagai kelas eksperimen. Jadi jumlah respon sampel dalam penelitian ini adalah 60 siswa.
3. Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini menggunakan pengambilan sampel dengan Random Cluster.
F. Instrumen Penelitian 1. Instrumen
Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini digunakan instrument tes objektif. Tes objektif adalah tes yang pemeriksaanya dapat dilakukan secara objektif.13 Tes ini bertujuan untuk mendapatkan hasil belajar siswa dengan tipe
soal pilihan ganda yang terdiri dari 30 butir soal dengan empat pilihan jawaban yang tersedia. Skor untuk setiap soal adalah 1 untuk jawaban yang benar dan 0 untuk jawaban yang salah. Untuk variabel hasil belajar akan dilakukan validitas dan reliabilitas.
2. Pengujian Instrumen a. Validitas Soal
Validitas dalam instrument ini adalah validitas (content validity) yaitu tes sebuah pengukuran tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan mencari validitas instrument variabel X dan Y dalam bentuk (tes objektif) dengan menggunakan rumus kolerasi poin biserial14 sebagai
berikut :
13 Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta Bumi Aksara), h 164
Keterangan
Ypbi : Koefisien kolerasi point biserial
Mp : Rata – rata skor total yang menjawab benar pada butir soal Mt : Rata – rata skor total
St : Standar deviasi skor total
p : Proporsi siswa yang menjawab benar pada butir soal q : proporsi siswa yang menjawab salah pada setup butir soal Kriteria : jika Ypbi > y table, maka soal valid
b. Relibilitas Soal
Relibilitas yang berarti sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya yang berhubungan dengan koefisien tes. Instrument yang baik adalah instrument yang dapat memberikan data yang sesuai dengan kenyataan. Karena instrument yang digunakan dalam bentuk tes, maka koefisien reliabilitas dapat dihitung dengan menggunakan rumus Kader dan Richardson (KR-20)15 sebagai berikut :
r11=
(
n n−1)
(
S−
∑
pqS
)
Keterangan :
r11 : Relibilitas tes secara keseluruhan
n : Banyaknya item
p : Proporsi subjek yang menjawab item benar q : Proporsi subjek yang menjawab item salah Ypq : Jumlah hasil perkalian antara p dan q
S : Standar deviasi dari tes (standar deviasi adalah akar varians, jadi S2
disebut varians)
15 Ibid. h 100
r11 = 0,800 – 1,00 : sangat tinggi
r11 = 0,600 – 0,800 : tinggi
r11 = 0,400 – 0,600 : cukup
r11 = 0,200 – 0,400 : rendah
r11 = 0,000 – 0,200 : sangat rendah
c. Taraf Kesukaran
Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya sesuatu soal disebut Indeks kesukaran (difficulty index)16. Besamva indeks kesukaran antara 0,00
sampai dengan 1,00. Indeks kesukaran ini menunjukan taraf kesukaran soal. Soal dengan indeks kesukaran :
0,00 = Soal itu terlalu sukar 1,00 = Soal itu terlalu mudah
Dalam indeks kesukaran ini diberi symbol P (proporsi). Dengan demikian maka soal dengan P = 0,70 lebih mudah jika dibandingkan dengan P = 0,20. Sebaliknya soal dengan P = 0,30 lebih sukar daripada soal dengan P = 80.
Rumus mencari P :17
P= B JS
Dimana:
P = indeks kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab jawab soal itu dengan benar JS = jumlah seluruh siswa peserta tes
d. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan semua soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah).18
Angka yang menunjukan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi disingkat D. Ada 3 (tiga) titik pada daya pembeda yaitu :
-1,00 0,00 1,00
Daya pembeda negative daya pembeda rendah daya pembeda tinggi Cara menentukan daya pembeda dengan cara membagi kelompok menjadi 2 kelompok yaitu:
1) Kelompok atas (upper group) 2) Kelompok bawah (lower group)
Jika seluruh kelompok diatas dapat menjawab soal tersebut dengan benar, sedangkan kelompok bawah menjawab dengan salah, maka soal tersebut mempunya D paling besar, yaitu 1,00. Sebaliknya jika semua kelompok atas menjawab dengan salah, tapi semua kelompok bawah menjawab dengan benar, maka nilai D yaitu 1,00. Tetapi sebaliknya jika siswa kelompok atas dan siswa kelompok bawah sama-sama menjawab salah, maka soal tersebut mempunyai nilai D yaitu 0,00. Karena tidak mernpunyai daya pembeda sama sekali.
Rumus mencari D :
Ja = banyaknya peserta kelompok atas Ja = banyaknya peserta kelompok bawah
Bb = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar
18 IIbid. h 211
Pa = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar Pb = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
G. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul dari hasil tes akan disusun dan diolah untuk mendapatkan perbedaan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran tematik dan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran ekspositori.
Data disusun dari nilai terkecil hingga nilai terbesar dalam sebuah data kelompok menjadi table frekuensi dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Penyajian Data
a. Menentukan rentangan (R)
Rentangan = data terbesar — data terkecil
b. Menentukan banyak kelas interval dengan aturan strurges (K) Banyak kelas = 1 + 3,3 log n
c. Menentukan panjang kelas ( P )
P=R K
Dimana :
P = panjang kelas R = Range K = banyak kelas
d. Pengelolaan Data
Data yang telah disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dikembangkan menjadi ukuran penyebaran data dan ukuran pemusatan data dengan rumus statistik sebagai berikut :
a. Mean
Untuk memperoleh mean dapat diperoleh dengan menggunakan rumus:
X=
∑
fiXi∑
fiDimana :
X = mean atau nilai rata-rata Xi = nilai tengah tiap interval
fi = frekuensi yang sesuai dengan kelas Xi b. Median (Me)
Untuk memperoleh median dapat diperoleh dengan menggunakan rumus:
Me=b+p
(
1
2N−
∑
FioF me
)
Dimana :
b = tepi bawah kelas median p = panjang interval
N = jumlah frekuensi
∑
Fio = jumlah frekuensi sebelum kelas median F me = frekuensi kelas medianc. Modus (Mo)
Untuk memperoleh modus dapat diperoleh dengan menggunakan rumus :
Mo=b+p
(
d1 d1+d2)
Dimana :
b = tepi bawah kelas modus
d I = selisih frekwensi kelas dengan frekwensi sebelum kelas modus d2 = selisih frekwensi kelas dengan frekwensi sesudah kelas modus p = panjang interval kelas
d. Standar Varians
S2
∑
fi = Jumlah frekuensi yang sesuai dengan kelas Xi = nilai tengah tiap intervalx = mean atau nilai rata-rata n = banyaknya subjek pengikut tes e. Standar deviasi
Untuk memperoleh standar deviasi dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:
S=
√
nn∑
Fixi 2−
(
∑
fixi)
2n(n−1)
Dimana :
S = standar deviasi
∑
fi = jumlah frekuensi yang sesuai dengan kelas xi Xi = nilai tengah tiap intervalx = mean atau nilai rata-rata n = banyaknya subjek pengikut tes
3. Teknik Analisis llensvaratan Data a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang dipilih berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas dengan uji lilifors statistik, dengan rumus sebagai berikut :
Z=xi−x s
Dimana:
Z = nilai baku Xi = skor
x = rata-rata skor dari kelompok s = standar deviasi
Hipotesis yang digunakan dalam uji normalitas adalah sebagai berikut: Lo : data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal Li : data sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal Kriteria pengujian : Tolak Ho, jika Lo > L tabel, selain itu Ho diterima
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas adalah melakukan pengujian terhadap kesamaan beberapa sampel, yaitu seragam atau tidaknya varians sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama. Populasi-populasi dari varians yang sama besar dinamakan populasi dengan varians yang homogeny. Dalam hal lainnya disebut populasi dengan varians yang heterogen.
Hipotesis uji homogenitas sebagai berikut :
H0:a1
H1 = Hipotesis Tandingannya
#Menentukan nilai F hitung menggunakan Fisher
F=varians sampel terbesar varians sampel terkecil
#kriteria penm ian adal A Terima hipotesis Ho jika
peluang C,dk pembilang =n dan dk penyebut =m. Dalam hal lainnya Ho ditolak jika
F ≥ F1
2a
(
v1, v2)
Dengan F1
2a
(
v1, v2)
didapat daftar distribusi F dengan peluang1 2a sedangkan derajat kebebasan v1 dan v2 masing-masing sesuai dengan dk
pembilang dan penyebut seperti biasa a = taraf nyata.
H. Hipotesis Statistik
Untuk dapat mengetahui adanya perbedaan hasil belajar matematika antara kelas eksperimen dengan kelas control atau pembanding maka digunakan rumus sebagai berikut :
t= x1−x2 sgab
√
1n1+ 1
n2
Dimana
Sgab=
√
(
n1−1)
S12
+
(
n2−1)
S22(
n1+n2)
−2Nilai t dapat dilihat pada table distribusi t dengan derajat infinitive (inf=(x)).
Dengan hipotesis sebagai berikut :
H0:μx=μy H1:μx≠ μy
Dimana :
H0 = hasil belajar keliling dan luas persegi dan persegi panjang yang diajarkan
dengan menggunakan pembelajaran tematik sama dengan hasil belajar keliling dan luas persegi dan persegi panjang dengan menggunakan pembelajaran ekspositori.
H1 = hasil belajar keliling dan luas persegi dan persegi panjang siswa yang
diajarkan dengan menggunakan pembelajaran tematik lebih tinggi dan berbeda secara signifikan jika dibandingkan basil belajar keliling dan luas persegi dan persegi panjang siswa dengan menggunakan pembelajaran ekspositori.
μx = rata-rata nilai tes matematika kelas eksperimen (menggunakan
pembelajaran tematik )
μy = rata-rata nilai tes matematika kelas control/pembanding (menggunakan
pembelajaran ekspositori )
Kriteria pengujian :
Terima H0 jika −t1−
1
2a<t<t1−
1
2a , dimana t1−
1
2a didapat dari daftar
distribusi t dengan dk = (n1 + n2 – 2 ) dan peluang
(
1−1
2a
)
. Untuk harga-hargat lainnya H0 ditolak.
Arikunto Suharsimi. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Mudjiono Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
La Iru, La Ode Safiun. 2012. Analisis Penerapan Pendekatan, Metode, Strategi dan Model-Model Pembelajaran. DIY : Multi Presindo.
Jujun S. Suriasumantri. 1984. Filsafat Ilmu. Jakarta : Sinar Harapan.
Hasan Alwi. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Undang-Undang 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Matematika Tim. 2006. Pedoman Penulisan Skripsi. Jakarta : STKIP Kusuma Negara Jakarta.