• Tidak ada hasil yang ditemukan

7 PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PENGELOLA PER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "7 PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PENGELOLA PER"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

7.1 Kajian Peraturan dan Kebijakan Pengelolaan

Pengaturan dan pengelolaan perikanan tangkap di wilayah perbatasan belum secara spesifik diatur dalam perundang-undangan yang ada. Peraturan yang ada mengatur pengelolaan wilayah perbatasan secara umum atau pengelolaan perikanan dan belum mengatur pengelolaan perikanan secara spesifik di wilayah perbatasan. Perundang-undangan yang mengatur tersebut diantaranya adalah :

(1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia

Undang-undang ini menjelaskan mengenai pengertian landas kontinen, eksploitasi dan pengelolaannya. Dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan landas kontinen adalah dasar laut dan tanah dibawahnya diluar perairan wilayah Republik Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Prp. Tahun 1960 sampai kedalaman 200 meter atau lebih, dimana masih mungkin diselenggarakan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam. Lebih jauh dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kekayaan alam adalah mineral dan sumber yang tak bernyawa lainnya didasar laut dan/atau di dalam lapisan tanah dibawahnya bersama dengan organisme hidup yang termasuk dalam jenis sedinter yaitu organisme yang pada masa perkembangannya tidak bergerak baik diatas maupun dibawah dasar laut atau tak dapat bergerak kecuali dengan cara selalu menempel pada dasar laut atau lapisan tanah dibawahnya (pasal 1). Dalam melaksanakan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam di landas kontinen harus diindahkan dan dilindungi kepentingan kepentingan pertahanan dan keamanan nasional, perhubungan, telekomunikasi dan transmisi listrik dibawah laut, perikanan, penyelidikan oceanografi dan penyelidikan ilmiah lainnya dan cagar alam.

(2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia

(2)

undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia (pasal 2). Apabila Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia tumpang tindih dengan zona ekonomi eksklusif negara-negara yang pantainya saling berhadapan atau berdampingan dengan Indonesia, maka batas zona ekonomi eksklusif antara Indonesia dan negara tersebut ditetapkan dengan persetujuan antara Republik Indonesia dan negara yang bersangkutan (pasal 3).

Pasal 4 UU ini menyatakan bahwa di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Republik Indonesia mempunyai dan melaksanakan :

1) Hak berdaulat untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi, pengelolaan dan konservasi sumber daya alam hayati dan non hayati dari dasar laut dan tanah di bawahnya serta air diatasnya dan kegiatan-kegiatan lainnya untuk eksplorasi dan eksploitasi ekonomis zona tersebut, seperti pembangkitan tenaga dari air, arus dan angin.

2) Yurisdiksi yang berhubungan dengan (1) pembuatan dan penggunaan pulau-pulau buatan, instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan lainnya (2) penelitian ilmiah mengenai kelautan (3) perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. 3) Hak-hak lain dan kewajiban-kewajiban lainnya berdasarkan Konvensi Hukum

Laut yang berlaku.

Dalam rangka melaksanakan hak berdaulat, hak-hak lain, yurisdiksi dan kewajiban-kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 diatas, aparatur penegak hukum Republik Indonesia yang berwenang, dapat mengambil tindakan-tindakan penegakan hukum sesuai dengan Undang undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, dengan pengecualian sebagai berikut :

(3)

2) Penyerahan kapal dan/atau orang-orang tersebut harus dilakukan secepat mungkin dan tidak boleh melebihi jangka waktu 7 (tujuh) hari, kecuali apabila terdapat keadaan force majeure.

3) Untuk kepentingan penahanan, tindak pidana yang diatur dalam Pasal 16 dan Pasal 17 termasuk dalam golongan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (4) huruf b Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.

(3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut)

Sesuai dengan namanya UU ini merupakan bentuk pengesahan sekaligus persetujuan terhadap konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut. Konvesi itu sendiri berisi sebagian kodifikasi ketentuan-ketentuan hukum laut yang sudah ada, misalnya kebebasan-kebebasan di Laut Lepas dan hak lintas damai di Laut Teritorial, sebagian pengembangan hukum laut yang sudah ada, misalnya ketentuan mengenai lebar Laut Teritorial menjadi maksimum 12 mil laut dan kriteria Landas Kontinen dan sebagian melahirkan rejim-rejim hukum baru, seperti asas Negara Kepulauan, Zona Ekonomi Eksklusif dan penambangan di Dasar Laut Internasional.

Konvensi ini sangat penting bagi Indonesia karena merupakan bentuk pengakuan terhadap Negara Indonesia sebagai Negara Kepulauan. Negara Kepulauan sendiri menurut Konvensi ini adalah suatu negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih gugusan kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain. Konvensi menentukan pula bahwa gugusan kepulauan berarti suatu gugusan pulau-pulau termasuk bagian pulau, perairan diantara gugusan pulau-pulau tersebut dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lainnya demikian eratnya sehingga gugusan pulau-pulau, perairan dan wujud alamiah lainnya tersebut merupakan suatu kesatuan geografi dan politik yang hakiki, atau secara historis telah dianggap sebagai satu kesatuan demikian.

(4)

kegiatan lain yang sah dari negara-negara tetangga yang langsung berdampingan, serta kabel laut yang telah ada di bagian tertentu perairan kepulauan yang dahulunya merupakan Laut Lepas. Hak-hak tradisional dan kegiatan lain yang sah tersebut tidak boleh dialihkan kepada atau dibagi dengan negara ketiga atau warga negaranya.

(4) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia

Undang undang ini menegaskan bahwa yang dimaksud perairan Indonesia adalah laut teritorial Indonesia beserta perairan kepulauan dan perairan pedalamannya (pasal 1 ayat 4). Segala perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia, dengan tidak memperhitungkan luas atau lebarnya merupakan bagian integral dari wilayah daratan Negara Republik Indonesia sehingga merupakan bagian dari perairan Indonesia yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik Indonesia (pasal 2 ayat 2). Dijelaskan pada pasal 3 bahwa perairan Indonesia meliputi laut teritorial yaitu jalur laut selebar 12 (dua belas) mil laut yang dikukur dari garis pangkal kepulauan Indonesia, perairan Kepulauan Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi dalam garis pangkal lurus kepulauan tanpa memperhatikan kedalaman atau jaraknya dari pantai dan perairan pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah dari pantai-pantai Indonesia, termasuk kedalamannya semua, bagian dari perairan yang terletak pada sisi darat dari suatu garis penutup.

(5)

negara yang bersangkutan di perairan tersebut melalui suatu perjanjian bilateral (pasal 22 ayat 1). Pemanfaatan, pengelolaan, perlindungan dan pelestarian lingkungan perairan Indonesia dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan nasional yang berlaku dan hukum internasional (pasal 23 ayat 1)

(5)Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan

Undang undang ini merupakan penyempurnaan dari UU No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan. Cakupan UU ini meliputi hal-hal yang terkait dengan pengelolaan perikanan. Pengelolaan perikanan sendiri didefinisikan oleh undang-undang ini sebagai semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumber daya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati. Pengelolaan perikanan dilakukan berdasarkan asas manfaat, keadilan, kebersamaan, kemitraan, kemandirian, pemerataan, keterpaduan, keterbukaan, efisiensi, kelestarian; dan pembangunan yang berkelanjutan.

(6)

distribusi keluar masuk obat ikan, konservasi, pencemaran akibat perbuatan manusia, plasma nutfah, penelitian dan pengembangan perikanan dan ikan hasil rekayasa genetik.

(6) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Undang-undang ini terkait dengan pengelolaan perikanan tangkap di perbatasan karena wilayah Nunukan yang berbatasan dengan Malaysia berada di wilayah pesisir. Undang undang ini menjelaskan bahwa pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah suatu proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil antarsektor, antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (pasal 1 ayat 1). Sedangkan pasal 1 ayat 7 menyatakan bahwa perairan pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna.

Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil serta proses alamiah secara berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(7) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per. 05/Men/2007 tentang Penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan

(7)

tersebut, kapal pengawas perikanan dapat menghentikan, memeriksa, membawa, dan menahan kapal perikanan yang diduga atau patut diduga melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sistem pemantauan kapal perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.

(8) Peraturan tentang Minapolitan

Program pengembangan kawasan minapolitan adalah salah satu program yang digulirkan kementerian Kelautan dan Perikanan. Oleh Karena Itu, maka dikeluarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.12/Men/2010 Tentang Minapolitan. Pertimbangan dikeluarkannnya aturan ini adalah dalam rangka mendorong percepatan pembangunan sektor kelautan dan perikanan perlu dilakukan pengembangan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan yang terintegrasi, efisien, berkualitas, dengan konsepsi minapolitan dan bahwa dalam pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan dengan konsepsi minapolitan perlu dikembangkan kawasan Minapolitan untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan keunggulan komparatif dan kompetitif daerah sesuai dengan eksistensi kegiatan pra produksi, produksi, pengolahan dan/atau pemasaran secara terpadu, holistik, dan berkelanjutan.

Dalam konteks penetapan lokasi pelaksanaan program minapolitan, maka Menteri Kelautan dan Perikanan mengeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan no 39 tahun 2011 yang merupakan perubahan dari kepmen no 32 tahun 2010 tentang penetapan Kawasan Minapolitan. Peraturan tersebut menetapkan 223 Kabupaten/Kota pada 33 Provinsi sebagai daerah pengembangan kawasan Minapolitan. Pengembangan kawasan minapolitan sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA dilaksanakan secara bertahap dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Kabupaten Nunukan merupakan salah satu kabupaten yang ditetapkan menjadi kawasan minapolitan.

(8)

ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan ; sedangkan kawasan minapolitan adalah suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung lainnya.

(9) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per. 16/Men/2006 tentang Pelabuhan Perikanan

Peraturan ini menjelaskan mengenai aspek perencanaan, pembangunan, pengoperasian, pengelolaan, dan pengusahaan pelabuhan perikanan. Pelabuhan Perikanan mempunyai fungsi mendukung kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan, sampai dengan pemasaran. Fungsi-fungsi tersebut dapat berupa pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan dan kapal pengawas perikanan, pelayanan bongkar muat, pelaksanaan pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan, pemasaran dan distribusi ikan, pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan, pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan, pelaksanaan kegiatan operasional kapal perikanan, pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sumber daya ikan, pelaksanaan kesyahbandaran, pelaksanaan fungsi karantina ikan, publikasi hasil riset kelautan dan perikanan, pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari, pengendalian lingkungan (kebersihan, keamanan, dan ketertiban (K3), kebakaran, dan pencemaran).

(10) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 6 Tahun 2008 yang Diubah menjadi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.14/Men/2008 Tentang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela di Perairan Kalimantan Timur Bagian Utara

(9)

wilayah perairan Kalimantan Timur bagian utara; alat penangkapan ikan pukat hela merupakan alat penangkapan ikan yang sesuai dengan karakteristik dan/atau kondisi geografis wilayah perairan Kalimantan Timur bagian utara;

Peraturan ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Penangkapan ikan adalah kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, dan/atau mengawetkannya. Sedangkan ayat 2. Menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Pukat hela adalah semua jenis alat penangkapan ikan berbentuk jarring berkantong, berbadan dan bersayap yang dilengkapi dengan pembuka jarring yang dioperasikan dengan cara ditarik/dihela menggunakan satu kapal yang bergerak.

Kegiatan penangkapan ikan di perairan Kalimantan Timur bagian utara dapat dilakukan dengan menggunakan kapal pukat hela. Daerah operasi kapal pukat hela terdiri atas (i) Jalur I, meliputi perairan di atas 1 (satu) mil sampai dengan 4 (empat) mil yang diukur dari permukaan air pada surut terendah dan (ii) Jalur II, meliputi perairan di atas 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil yang diukur dari permukaan air pada surut terendah. Jalur I hanya diperbolehkan bagi pengoperasian kapal pukat hela dengan ukuran sampai dengan 5 (lima) gross tonnage (GT) dan Jalur II hanya diperbolehkan bagi pengoperasian kapal pukat hela dengan ukuran sampai dengan 30 (tiga puluh) GT. Setiap kapal pukat hela yang wilayah operasinya di jalur I dapat beroperasi di jalur II dan/atau di atas 12 (dua belas) mil, dan kapal pukat hela yang wilayah operasinya di jalur II dapat beroperasi di atas 12 (dua belas) mil. Setiap kapal pukat hela yang wilayah operasinya di jalur II dilarang beroperasi di jalur I.

Setiap kapal pukat hela wajib mendaratkan ikan hasil tangkapannya di pelabuhan pangkalan. Pelabuhan pangkalan tersebut meliputi Pangkalan Pendaratan Ikan Sebatik, Pangkalan Pendaratan Ikan Pulau Bunyu, Pelabuhan Perikanan Pantai Tarakan dan Pelabuhan Perikanan Mansapa-Nunukan.

(10)

Tana Tidung atau Kota Tarakan. Setiap orang atau badan hukum Indonesia yang melakukan penangkapan ikan wajib memiliki izin tertulis dari (i) Gubernur, untuk kapal pukat hela dengan ukuran di atas 10 (sepuluh) GT sampai dengan 30 (tiga puluh) GT dan (ii) Bupati atau Walikota, untuk kapal pukat hela dengan ukuran 5 (lima) GT sampai dengan 10 (sepuluh) GT. Kewajiban memiliki izin dikecualikan bagi kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan kecil dan/atau nelayan yang memiliki sebuah kapal pukat hela berukuran di bawah 5 (lima) GT.

Ketersediaan daya dukung sumber daya ikan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat dievaluasi setiap tahun sekali oleh Direktur Jenderal. Hasil evaluasi merupakan dasar pertimbangan penetapan kebijakan Menteri dalam pemberian alokasi jumlah kapal pukat hela yang dapat diizinkan.

(11) Permen no 14 tahun 2011 tentang Usaha Perikanan Tangkap

(11)

Tabel 30 Hasil analisis isi peraturan perikanan

(12)

Timur Bagian Utara. Namun demikian aturan ini pun belum sepenuhnya memberikan jaminan pengelolaan perikanan tangkap yang baik yang memberikan peluang pencapaian tujuan pengelolaan yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, pendapatan daerah dan kelestarian sumberdaya ikan. Kebijakan pemberlakuan ini pada satu sisi merupakan upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan IUU fishing yang dilakukan oleh nelayan-nelayan asing dari Malaysia dimana sebagian besar menggunakan alat tangkap trawl. Daerah penangkapan nelayan Malaysia ini relatif berdekatan dengan perairan Indonesia yang seringkali mereka memasuki perairan Indonesia secara illegal. Akibatnya sumberdaya ikan yang ada di perairan Indonesia sebagian besar ditangkap oleh mereka dengan alat tangkap yang lebih produktif seperti trawl. Sementara nelayan-nelayan Indonesia, karena terhalang oleh aturan pelarangan penggunaan trawl (Kepres no 39 tahun 1980 mengenai Pelarangan Trawl), hanya menggunakan alat tangkap yang relatif sederhana dengan tingkat produktivitas penangkapan yang lebih rendah. Oleh karena itu, kebijakan yang mengizinkan pengoperasian pukat hela (pada dasarnya trawl) merupakan alternatif solusinya.

Namun demikian ternyata ada faktor sosial ekonomi masyarakat relatif tidak menjadi bahan pertimbangan dalam pemberlakuan aturan ini dimana terdapat keterikatan nelayan Nunukan kepada para pemilik modal dari luar Malaysia (sebagaimana telah dijelaskan bab sebelumnya). Sebagian besar nelayan Nunukan mendapatkan modal dari para pemilik modal Malaysia melalui perantaraan para pedagang pengumpulnya. Semua ketentuan dan harga ditetapkan oleh para pemilik modal ini. Nelayan Nunukan lebih berperan sebagai buruh saja. Akibatnya kebijakan yang membolehkan penggunaan pukat hela di perairan ini tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pendapatan nelayan setempat karena adanya keterikatan permodalan dan pemasaran kepada para pemilik modal dari Malaysia tersebut.

7.2 Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan

(13)

Peningkatan dan pengembangan kapasitas kelembagaan diyakini akan memperlancar jalannya berbagai fungsi kelembagaan, baik fungsi-fungsi di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, hukum maupun di bidang lingkungan hidup. Berjalannya fungsi-fungsi kelembagaan dalam bidang-bidang tersebut secara optimal dipahami akan mampu mengentaskan lembaga-lembaga yang ada dari krisis multidimensi (Purwaka, 2006 dalam Lopulalan, 2009). Dalam konteks kelembagaan, peran pemerintah relatif dominan yang mencakup (i) penetapan tujuan pengelolaan, (ii) mendefinisikan dan menyediaan pengetahuan untuk pengelolaan dan (iii) mendorong implementasi kebijakan (Nielson et al, 2004).

Strategi pengembangan kelembagaan pengelola perikanan di wilayah perbatasan dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu penetapan fungsi dan manfaat perikanan tangkap, tujuan pengelolaan, prasyarat pengelolaan dan hukum dan kelembagaan yang diperlukan.

1) Fungsi dan manfaat perikanan tangkap di wilayah perbatasan

Pada dasarnya perikanan tangkap sebagai salah satu sektor yang cukup dominan dan strategis di wilayah perbatasan Nunukan mempunyai fungsi yang sangat strategis yaitu penyangga bagi ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat wilayah perbatasan. Penyangga bagi ketahanan ekonomi disebabkan karena perikanan tangkap dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat. Aktifitas perikanan tangkap dapat membangkitkan aktifitas perekonomian lainnya yang terkait dengan aktifitas penangkapan ikan baik itu pra penangkapan ikan (penyediaan kapal penangkapan, alat tangkap, dan bahan perbekalan melaut) dan pasca penangkapan seperti pengolahan, distribusi dan pemasaran produk hasil tangkapan. Oleh karena itu, dengan banyaknya aktifitas yang menjadi turunan dari aktifitas penangkapan ikan, maka penangkapan ikan dapat memberikan dampak pengganda bagi perekonomian masyarakat Kabupaten Nunukan. Disamping itu, perikanan tangkap juga dapat menjadi sumber pendapatan negara dari berbagai jasa yang dihasilkan.

(14)

diantara kelompok masyarakat Nunukan maupun antara kelompok masyarakat Nunukan dengan kelompok masyarakat Tawau Malaysia. Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya, sebagian besar nelayan baik di Nunukan maupun Tawau berasal dari suku bangsa yang sama yaitu Bugis Sulawesi Selatan. Karakteristik sosial mereka relatif sama sehingga memudahkan dalam berkomunikasi dan menyelasaikan konflik sosial yang mungkin timbul.

2) Tujuan pengelolaan perikanan tangkap di wilayah perbatasan

Pada dasarnya prinsip dasar tujuan pengelolaan perikanan tangkap adalah tercapainya pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Prinsip perikanan tangkap yang bertanggung jawab mengacu pada Tata Laksana Perikanan yang Bertanggung Jawab (Code of Conduct for Responsible Fisheries) yang dikeluarkan oleh PBB dan telah diratifikasi Pemerintah RI. Prinsip dari CCRF ini yang kiranya relevan dengan pengelolaan perikanan di wilayah perbatasan diantaranya adalah adanya upaya kehati-hatian (precautionary approach) dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan, mengembangkan kerjasama pengelolaan, tukar menukar informasi antar instansi dan negara, memperhatikan kelestarian lingkungan, penanganan over fishing, pengaturan sistem perizinan penangkapan dan membangun sistem Monitoring, Controlling dan Surveillance (MCS), integrasi perikanan ke dalam pengelolaan wilayah pesisir. Disamping itu, tujuan pengelolaan juga mengacu pada prinsip keberlanjutan (sustainability) dimana prinsip ini mengandung tiga pilar utama yaitu tujuan ekonomi (pertumbuhan yang berkelanjutan, sosial (pengentasan kemiskinan dan pemerataan dan ekologi (pengeloaan sumberdaya ikan)

Tujuan pengelolaan perikanan tangkap di wilayah perbatasan pada dasarnya dapat mengacu pada tujuan pengelolaan perikanan pada UU no 31 tahun 2004 tentang Perikanan. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa tujuan pengelolaan perikanan adalah :

1. Meningkatkan taraf hidup nelayan dan pembudidaya ikan kecil 2. Meningkatkan penerimaan dan devisa negara

3. Mendorong perluasan dan kesempatan kerja

(15)

6. Meningkatkan produktivitas, mutu, nilai tambah dan daya saing 7. Meningkatkan bahan baku untuk industri pengolahan ikan

8. Mencapai pemanfaatan sumberdaya ikan, lahan pembudidayaan ikan, dan lingkungan sumberdaya ikan secara optimal

9. Menjamin kelestarian sumberdaya ikan, lahan pembudidaya ikan dan tata ruang

Review terhadap tujuan-tujuan pengelolaan perikanan tersebut menghasilkan bahwa orientasi pengelolaan perikanan lebih dominan untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi sebagaimana disajikan pada Tabel 31. Tujuan sosial dan ekologi masih belum banyak dielaborasi dengan baik.

Tabel 31 Pengelompokkan tujuan pengelolaan perikanan

Item Tujuan pengelolaan

Ekonomi Sosial Ekologi

1. Meningkatkan taraf hidup nelayan dan pembudidaya ikan kecil

2. Meningkatkan penerimaan dan devisa negara √

3. Mendorong perluasan dan kesempatan kerja √

4. Meningkatkan ketersediaan dan konsumsi sumber protein ikan

5. Mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya ikan √

6. Meningkatkan produktivitas, mutu, nilai tambah dan daya saing

7. Meningkatkan bahan baku untuk industri pengolahan ikan √

8. Mencapai pemanfaatan sumberdaya ikan, lahan pembudidayaan ikan, dan lingkungan sumberdaya ikan secara optimal

9. Menjamin kelestarian sumberdaya ikan, lahan pembudidaya ikan dan tata ruang

Berdasarkan karakteristik pemanfaatan sumberdaya perikanan di wilayah perbatasan dimana aspek IUU fishing dan perdagangan hasil tangkapan ke luar negeri, maka tujuan pengelolaan perikanan tangkap di wilayah perbatasan ditekankan pula pada kedua aspek tersebut yaitu :

- Meningkatkan pendapatan nelayan dan negara melalui penyempurnaan sistem perdagangan hasil tangkapan ke luar negeri

(16)

- Meningkatkan kerjasama antara Indonesia dan Malaysia dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan.

3) Prasyarat pengelolaan

Pengelolaan perikanan tangkap di perbatasan merupakan suatu sistem dan proses dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan. Keberhasilan pencapaian tujuan akan sangat ditentukan oleh terpenuhinya berbagai prasyarat pengelolaan. Prasyarat tersebut meliputi :

- Adanya landasan hukum/peraturan yang menjadi pijakan bagi berbagai aktifitas pemanfaatan.

- Sumberdaya manusia (human capital) yang mampu menjalankan pengelolaan perikanan tangkap di wilayah perbatasan

- Sarana dan prasarana (Man made capital) yang memadai untuk bisa berjalannya pengelolaan perikanan tangkap di wilayah perbatasan.

4) Hukum dan Kelembagaan yang diperlukan

Berdasarkan pada tujuan yang hendak dicapai maka diperlukan peraturan-peraturan yang mengatur mengenai upaya-upaya pencapaian tujuan pengelolaan perikanan tangkap di wilayah perbatasan.

Tabel 32 Tujuan yang ingin dicapai dan aturan tambahan

Tujuan yang ingin dicapai Aspek yang perlu ditambahkan

Meningkatkan pendapatan nelayan dan negara melalui penyempurnaan sistem perdagangan hasil tangkapan ke luar negeri

Pengaturan khusus mengenai sistem perdagangan komoditas perikanan di wilayah perbatasan

Menjaga kelestarian sumberdaya ikan di wilayah perairan perbatasan melalui penanganan praktek IUU Fishing

Sistem koordinasi antar instansi yang lebih efektif dalam menangani praktek IUU Fishing

Meningkatkan kerjasama antara

Indonesia dan Malaysia dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap

(17)

Tabel 33 Kegiatan dan fungsi kelembagaan

Diskimpraswil Diskimpraswil Diskimpraswil Diskimpraswil Diskimpraswil

Gambar

Tabel 30 Hasil analisis isi peraturan perikanan
Tabel 33 Kegiatan dan fungsi kelembagaan Fungsi

Referensi

Dokumen terkait

Pemecahan/penyelesaian masalah merupakan.. poses penerimaan tantangan dan kerja keras untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jadi aspek penting dari makna masalah

Melihat kebutuhan di SMA Kemala Bhayangkari 1 Kubu Raya di bidang pelayanan Bimbingan Konseling maka dirancang sebuah sistem informasi yang diharapkan bisa diterapkan dan

Dari hasil penelitian ini kami menyimpulkan bahwa umur pemakaian peralatan transformator distribusi PT.PLN (Persero) Rayon Makassar berdasarkan metode replacement

Jika Peraturan Walikota telah diubah lebih dari satu kali, Pasal I memuat, selain mengikuti ketentuan pada Nomor 4 huruf a, juga tahun dan nomor dari Peraturan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis indikator keberhasilan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dari aspek satuan kelengkapan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tingkat kelayakan sarana prasarana ruang praktik dapur secara keseluruhan dalam kategori sangat layak, pemenuhan aspek

Hasil kromatogram menunjukkan bahwa minyak daun salam dari Sukabumi lebih harum ditandai dengan senyawa adanya nerolidol yang memiliki puncak peak lebih tinggi

Berdasarkan hasil penngamatan pemberian pakan cacing sutra ( Tubifek sp) pada ikan gurami ( Osphoronemus gouramy ) pada strata vertikal dalam wadah akuarium dapat