• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendimensian dan Evaluasi Kinerja Jaringan Telekomunikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pendimensian dan Evaluasi Kinerja Jaringan Telekomunikasi"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

1

Jaringan bebas rugi

Jaringan bebas rugi

Ruting

Ruting

Pendimensian dan optimasi jaringan

Pendimensian dan optimasi jaringan

Evaluasi NNGOS dengan metoda Gaudreau

Evaluasi NNGOS dengan metoda Gaudreau

Parameter kinerja

Parameter kinerja

Pendimensian dan Evaluasi Kinerja

Pendimensian dan Evaluasi Kinerja

(2)

2

Jaringan bebas rugi (Closs)

Jaringan bebas rugi (Closs)

Jaringan yang memberikan keadaan bahwa

Jaringan yang memberikan keadaan bahwa

setiap saluran masuk yang menginginkan

setiap saluran masuk yang menginginkan

saluran keluar selalu dapat mencapai

saluran keluar selalu dapat mencapai

(menduduki) setiap saluran keluar yang

(menduduki) setiap saluran keluar yang

(3)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

3

Jaringan bebas rugi

Jaringan bebas rugi

dgn elemen gandeng bertangga satu

dgn elemen gandeng bertangga satu

Berkas masuk

Berkas keluar

Jumlah titik silang = N2

(4)

4 4

Jaringan bebas rugi

Jaringan bebas rugi

dgn elemen gandeng bertangga dua

dgn elemen gandeng bertangga dua

1

Switch A Switch B

N N

N = kn N = mp

Agar terbentuk jaringan bebas rugi, maka N saluran masuk dari switch A harus dapat dihubungkan/disambungkan ke N saluran keluar dari switch B

Ada sebanyak n2.m titik silang

Jumlah titik silang pada switch A = n2.m.k

Ada sebanyak n.p.k titik silang

Jumlah titik silang pada switch B = n.p.k.m

(5)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

5 5

Jaringan bebas rugi

Jaringan bebas rugi

dgn elemen gandeng bertangga tiga

dgn elemen gandeng bertangga tiga

• Akan ditinjau keadaan-keadaan yang memberikan kemungkinan terdapatnya Akan ditinjau keadaan-keadaan yang memberikan kemungkinan terdapatnya hubungan antara 1 saluran masuk tertentu di switch A (kita sebut S) dengan

hubungan antara 1 saluran masuk tertentu di switch A (kita sebut S) dengan

satu saluran keluar tertentu di switch C (kita sebut D) yang masih bebas

(6)

6

Jaringan bebas rugi

Jaringan bebas rugi

dgn elemen gandeng bertangga tiga (2)

dgn elemen gandeng bertangga tiga (2)

• Keadaan 1Keadaan 1

– Dari n saluran masuk di salah satu switch A (misalnya A1), (n-1) saluran sudah sibuk, Dari n saluran masuk di salah satu switch A (misalnya A1), (n-1) saluran sudah sibuk, tinggal S yang akan menghubungi D (misalnya di C1)

tinggal S yang akan menghubungi D (misalnya di C1)

– Dari n saluran keluar di switch C1, (n-1) saluran sudah sibuk, tinggal D yang masih Dari n saluran keluar di switch C1, (n-1) saluran sudah sibuk, tinggal D yang masih bebas dan akan dihubungi S

bebas dan akan dihubungi S

– Salah satu kasus : (n-1) saluran yang sibuk di switch A1 tersebut berhubungan Salah satu kasus : (n-1) saluran yang sibuk di switch A1 tersebut berhubungan dengan (n-1) saluran yang sibuk di switch C1

dengan (n-1) saluran yang sibuk di switch C1

– Dalam keadaan ini, S hanya dapat berhubungan dengan D bila ada switch B ke n. Dalam keadaan ini, S hanya dapat berhubungan dengan D bila ada switch B ke n. Berarti jumlah switch B adalah sebanyak n (kalau tidak disediakan switch B yang

Berarti jumlah switch B adalah sebanyak n (kalau tidak disediakan switch B yang

ke-n, S tak dapat menghubungi D)

n, S tak dapat menghubungi D)

(7)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

7 7

Jaringan bebas rugi

Jaringan bebas rugi

dgn elemen gandeng bertangga tiga (3)

dgn elemen gandeng bertangga tiga (3)

• Keadaan 2Keadaan 2

– Dari (n-1) saluran masuk yang sibuk di switch A1, (n-2) saluran berhubungan dengan Dari (n-1) saluran masuk yang sibuk di switch A1, (n-2) saluran berhubungan dengan (n-2) saluran keluar di switch C1 dan 1 saluran berhubungan dengan 1 saluran bukan

(n-2) saluran keluar di switch C1 dan 1 saluran berhubungan dengan 1 saluran bukan

dari switch C1

dari switch C1

– Dari (n-1) saluran keluar yang sibuk di switch C1, (n-2) saluran berhubungan dengan Dari (n-1) saluran keluar yang sibuk di switch C1, (n-2) saluran berhubungan dengan (n-2) saluran masuk di switch A1 dan 1 saluran berhubungan dengan 1 saluran bukan

(n-2) saluran masuk di switch A1 dan 1 saluran berhubungan dengan 1 saluran bukan

dari switch A1

dari switch A1

A1 n+1 C1

(8)

8 8

Jaringan bebas rugi

Jaringan bebas rugi

dgn elemen gandeng bertangga tiga (4)

dgn elemen gandeng bertangga tiga (4)

• Keadaan 3 (the worst)Keadaan 3 (the worst)

– Dari (n-1) saluran masuk yang sibuk di switch A1 maupun di C1, tak ada yang Dari (n-1) saluran masuk yang sibuk di switch A1 maupun di C1, tak ada yang dipakai untuk hubungan antara switch A1 dengan switch C1

dipakai untuk hubungan antara switch A1 dengan switch C1

(9)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

9 9

Jaringan bebas rugi

Jaringan bebas rugi

dgn elemen gandeng bertangga tiga (5)

dgn elemen gandeng bertangga tiga (5)

• Jadi untuk memperoleh jaringan bebas rugi, jumlah saluran keluar di tiap switch A harus Jadi untuk memperoleh jaringan bebas rugi, jumlah saluran keluar di tiap switch A harus paling sedikit sebesar (2n-1). Hal ini berarti jumlah switch B juga sebanyak (2n-1)

paling sedikit sebesar (2n-1). Hal ini berarti jumlah switch B juga sebanyak (2n-1)

• Jumlah titik silangnya :Jumlah titik silangnya : X3(N,n)=2kn(2n-1)+mk

X3(N,n)=2kn(2n-1)+mk22=(2n-1)(2N+k=(2n-1)(2N+k22)=(2n-1)N(2+(N/n)=(2n-1)N(2+(N/n22)) ; dimana N=kn)) ; dimana N=kn

• Untuk harga N tertentu, jumlah titik silang tergantung atas jumlah saluran per switch A Untuk harga N tertentu, jumlah titik silang tergantung atas jumlah saluran per switch A (=n)

Switch A Switch B

(10)

10 10

Jaringan bebas rugi

Jaringan bebas rugi

dgn elemen gandeng bertangga tiga (6)

dgn elemen gandeng bertangga tiga (6)

Mencari jumlah titik silang minimumMencari jumlah titik silang minimum

X3(N,n)/X3(N,n)/n=0, jadi 2nn=0, jadi 2n3 3 – Nn + N = 0; sehingga – Nn + N = 0; sehingga

N = 2n

N = 2n33/(n-1) /(n-1) 2n 2n22 (untuk n besar) (untuk n besar)

Ambil harga n=(N/2)Ambil harga n=(N/2)1/21/2, maka jumlah titik silang total :, maka jumlah titik silang total :

X[N,(N/2)

X[N,(N/2)1/21/2]=[2(N/2)]=[2(N/2)1/21/2-1].N.[2+{N/(N/2)}]={2(N/2)-1].N.[2+{N/(N/2)}]={2(N/2)1/21/2-1}4N-1}4N

=2.(2N)

(11)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

11

Jaringan bebas rugi umum

Jaringan bebas rugi umum

Jaringan bebas rugi 5 tingkat dapat dibuat dengan cara Jaringan bebas rugi 5 tingkat dapat dibuat dengan cara mengganti setiap switch B (dari jaringan bebas rugi 3 mengganti setiap switch B (dari jaringan bebas rugi 3

tingkat) dengan jaringan bebas rugi 3 tingkat BCD tingkat) dengan jaringan bebas rugi 3 tingkat BCD

1

Switch A Switch BCD

(12)

12 12

Jaringan bebas rugi umum (2)

Jaringan bebas rugi umum (2)

• Jumlah switch B =k1, saluran masuknya=n1, maka k=k1.n1; saluran keluar switch B = Jumlah switch B =k1, saluran masuknya=n1, maka k=k1.n1; saluran keluar switch B = (2n1-1)

(2n1-1)

• D-E simetris dengan B-A, dan tiap switch C memiliki saluran masuk k1 dan saluran keluar k1D-E simetris dengan B-A, dan tiap switch C memiliki saluran masuk k1 dan saluran keluar k1

• Maka setiap switch BCD mempunyai titik silang sebesar (2n1-1).k.(2+(k/(n1)Maka setiap switch BCD mempunyai titik silang sebesar (2n1-1).k.(2+(k/(n1)22))))

1

Switch B Switch C

(13)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

13 13

Jaringan bebas rugi umum (3)

Jaringan bebas rugi umum (3)

• Jumlah titik silang total jaringan bebas rugi 5 tingkatJumlah titik silang total jaringan bebas rugi 5 tingkat

– X5(N,n,n1)=2kn(2n-1)+(2n-1) (2n1-1).k.(2+(k/(n1)X5(N,n,n1)=2kn(2n-1)+(2n-1) (2n1-1).k.(2+(k/(n1)22))

=(2n-1){2N+[(2n1-1)N/n][2+(N/n.n =(2n-1){2N+[(2n1-1)N/n][2+(N/n.n1122)]})]}

• Untuk memperoleh nilai minimumnya digunakan persamaan Untuk memperoleh nilai minimumnya digunakan persamaan X5/ X5/  n= n= X5/ X5/ 

n1=0 ; dari sini akan diperoleh harga-harga n dan n1 yang memberikan X

n1=0 ; dari sini akan diperoleh harga-harga n dan n1 yang memberikan X

(titik silang) yang minimum

(titik silang) yang minimum 1

Switch A Switch BCD

(14)

14

Routing

Routing

Kinerja jaringan tergantung pada faktor :

Kinerja jaringan tergantung pada faktor :

Konfigurasi jaringan

Konfigurasi jaringan

Trafik yang ditawarkan

Trafik yang ditawarkan

(15)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

15

Definisi ruting

Definisi ruting

– Proses pencarian jalan yang bebas di jaringan bagi Proses pencarian jalan yang bebas di jaringan bagi

suatu panggilan untuk disambungkan dari asal ke tujuan suatu panggilan untuk disambungkan dari asal ke tujuan

Ruting berisi penentuan :

Ruting berisi penentuan :

– Aturan pencarian jalan yang dapat dipakai bagi suatu Aturan pencarian jalan yang dapat dipakai bagi suatu hubungan panggilan dari asal-tujuan

hubungan panggilan dari asal-tujuan

– Pemilihan jalan yang akan dipakai dari jalan yang Pemilihan jalan yang akan dipakai dari jalan yang tersedia atau penentuan ketidakberhasilan suatu tersedia atau penentuan ketidakberhasilan suatu

panggilan bila tak ada lagi jalan yang dapat dipakai panggilan bila tak ada lagi jalan yang dapat dipakai

– Apakah hubungan akan diadakan atau tidak pada jalan Apakah hubungan akan diadakan atau tidak pada jalan yang tersedia

(16)

16

Macam-macam ruting

Macam-macam ruting

Suatu panggilan yang datang memiliki

Suatu panggilan yang datang memiliki

kemungkinan untuk memilih satu dari

kemungkinan untuk memilih satu dari

beberapa jalan yang tersedia

beberapa jalan yang tersedia

Ada dua cara memilih jalan

Ada dua cara memilih jalan

Secara berurutan (sequence)

Secara berurutan (sequence)

Dikenal sebagai alternate routingDikenal sebagai alternate routing

Menurut “harga” dari jalan

Menurut “harga” dari jalan

Harga bisa tetap (fixed), tetapi biasanya dihitung dari Harga bisa tetap (fixed), tetapi biasanya dihitung dari hasil pengamatan beberapa komponen (kondisi)

hasil pengamatan beberapa komponen (kondisi) jaringan

jaringan

(17)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

17

Fixed alternate routing Fixed alternate routing

• Bentuk ruting paling tuaBentuk ruting paling tua • ContohContoh

• Kemungkinan urutan jalanKemungkinan urutan jalan

– ODOD

– OADOAD

– OACDOACD

– OATCDOATCD

• Bila OD sibuk, coba OADBila OD sibuk, coba OAD

• Bila OD dan AD sibuk, coba OACDBila OD dan AD sibuk, coba OACD

• Bila OD,AD dan AC sibuk, coba OATCD Bila OD,AD dan AC sibuk, coba OATCD

O D

A C

T

(18)

18

Tempat panggilan hilang (loss),tergantung pada sistem Tempat panggilan hilang (loss),tergantung pada sistem pengendalian penyambungan yang dipakai. Misalkan pengendalian penyambungan yang dipakai. Misalkan

dipakai

dipakai Succesive Office Control Succesive Office Control (SOC) (SOC)

– Misalkan OD,AD, dan CD sibuk, sedangkan OA dan AC bebas, maka Misalkan OD,AD, dan CD sibuk, sedangkan OA dan AC bebas, maka panggilan yang sudah sampai di C akan hilang

panggilan yang sudah sampai di C akan hilang

– Misalkan OD,AD,AC,dan TC sibuk, sedangkan AT bebas, maka Misalkan OD,AD,AC,dan TC sibuk, sedangkan AT bebas, maka panggilan yang sudah sampai di T akan hilang

panggilan yang sudah sampai di T akan hilang

O D

A C

T

(19)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

19

Alternate routing dapat pula dinamis

Alternate routing dapat pula dinamis

Urutan pilihan berubah-ubah

Urutan pilihan berubah-ubah

Alternate routing yang dinamis dan

Alternate routing yang dinamis dan

menentukan rute berdasarkan kondisi

menentukan rute berdasarkan kondisi

menjadi

menjadi

adaptive routing

adaptive routing

Tetapi alternate routing yang dinamis belum

Tetapi alternate routing yang dinamis belum

tentu

(20)

20

Fixed Hierarchical Routing (FHR)

Fixed Hierarchical Routing (FHR)

Karena sentral memiliki hirarkiKarena sentral memiliki hirarki

Jalan yang dapat dipilih : P1-P2,P1-S2-P2,P1-S1-P2,P1-S1-Jalan yang dapat dipilih : P1-P2,P1-S2-P2,P1-S1-P2,P1-S1-S2-P2,P1-S1-T2-S2-P2,P1-S1-T1-S2-P2,P1-S1-T1-T2-S2-P2 S2-P2,P1-S1-T2-S2-P2,P1-S1-T1-S2-P2,P1-S1-T1-T2-S2-P2

Keuntungan : tidak ada loop cycleKeuntungan : tidak ada loop cycle

SL1 P1 S1 T1

(21)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

21

Dynamic Non-Hierarchical Routing (DNHR)

Dynamic Non-Hierarchical Routing (DNHR)

• Tiap sentral sama derajatnya (tidak ada hirarki)Tiap sentral sama derajatnya (tidak ada hirarki)

• Suatu berkas dapat sebagai High Usage (HU) bagi aliran trafik tertentu, Suatu berkas dapat sebagai High Usage (HU) bagi aliran trafik tertentu, sekaligus dapat menjadi Final Choice/Last Choice route (FC/LC) bagi

sekaligus dapat menjadi Final Choice/Last Choice route (FC/LC) bagi

aliran trafik lain

aliran trafik lain

• Jalan alternatenya dapat terdiri dari 2 atau 3 link seriJalan alternatenya dapat terdiri dari 2 atau 3 link seri

• Dengan membatasi link untuk alternate route hanya 2 potong secara Dengan membatasi link untuk alternate route hanya 2 potong secara seri, maka dijamin tidak ada

seri, maka dijamin tidak ada loop cycleloop cycle (tak ada sentral yang dilalui (tak ada sentral yang dilalui sampai 2 kali atau lebih) dan tidak begitu peka terhadap beban lebih

sampai 2 kali atau lebih) dan tidak begitu peka terhadap beban lebih

(22)

22

Dynamic Non-Hierarchical Routing (DNHR) (2)

Dynamic Non-Hierarchical Routing (DNHR) (2)

Kedinamisan DNHR ditunjukkan oleh : pilihan

Kedinamisan DNHR ditunjukkan oleh : pilihan

urutan ruting berubah berdasarkan besar trafik

urutan ruting berubah berdasarkan besar trafik

yang diperoleh dari prakiraan (secara off-line).

yang diperoleh dari prakiraan (secara off-line).

Harga trafik yang didapat dari prakiraan tersebut

Harga trafik yang didapat dari prakiraan tersebut

berubah-ubah, sehingga dipakai untuk merubah

berubah-ubah, sehingga dipakai untuk merubah

urutan pilihan ruting. Bila cara prakiraan trafik

urutan pilihan ruting. Bila cara prakiraan trafik

tersebut berdasarkan kondisi jaringan dan

tersebut berdasarkan kondisi jaringan dan

updte

updte

cycle

cycle

-nya cukup pendek, maka ruting dinamis ini

-nya cukup pendek, maka ruting dinamis ini

disebut juga

disebut juga

adaptive routing

adaptive routing

Cara pengaturan

Cara pengaturan

Crank Back

Crank Back

– Panggilan yang sudah sampai ke sentral tertentu dapat Panggilan yang sudah sampai ke sentral tertentu dapat dikembalikan ke sentral sebelumnya karena jalan

dikembalikan ke sentral sebelumnya karena jalan seterusnya mendapat blocking, kemudian panggilan seterusnya mendapat blocking, kemudian panggilan

(23)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

23 23

Path Loss Sequence (PLS)

Path Loss Sequence (PLS)

GRAPH yang digunakan untuk menggambarkan ruting dan GRAPH yang digunakan untuk menggambarkan ruting dan sekaligus pengendalian penyambungannya

sekaligus pengendalian penyambungannya

Contoh : suatu gambar jaringan yang hanya dilengkapi Contoh : suatu gambar jaringan yang hanya dilengkapi dengan informasi ruting berupa garis panah

dengan informasi ruting berupa garis panah

1 2

A

3 4

(24)

24

Path Loss Sequence (PLS) (2)

Path Loss Sequence (PLS) (2)

PLS untuk pasangan O-D : 1-2PLS untuk pasangan O-D : 1-2

1 2

A

3 4

B

1

2

L

A 2

(25)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

25

Path Loss Sequence (PLS) (3)

Path Loss Sequence (PLS) (3)

PLS untuk pasangan O-D : 1-3PLS untuk pasangan O-D : 1-3

1 2

A

3 4

B

1

3

B 3

L

A

L

B 3

(26)

26

Path Loss Sequence (PLS) (4)

Path Loss Sequence (PLS) (4)

PLS untuk pasangan O-D : 1-4PLS untuk pasangan O-D : 1-4

1 2

A

3 4

B

1 B 4

L

A

L

(27)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

27

Pengendalian penyambungan

Pengendalian penyambungan

Proses pentransferan panggilan dan letak loss yang terjadiProses pentransferan panggilan dan letak loss yang terjadi

Bil diperoleh berkas saluran yang bebas, panggilan bisa Bil diperoleh berkas saluran yang bebas, panggilan bisa langsung ditransfer ke sentral berikutnya atau menunggu langsung ditransfer ke sentral berikutnya atau menunggu

informasi berikutnya tentang ada atau tidaknya jalan bebas informasi berikutnya tentang ada atau tidaknya jalan bebas

seterusnya

seterusnya conditional selection conditional selection

Macam-macam pengendalian penyambunganMacam-macam pengendalian penyambungan

– Succesive Office Control (SOC)Succesive Office Control (SOC)

• Pada tiap sentral terdapat kemungkinan terjadinya loss (trafik hilang)Pada tiap sentral terdapat kemungkinan terjadinya loss (trafik hilang)

• Pengendalian penyambungan selalu ditransfer ke sentral berikutnyaPengendalian penyambungan selalu ditransfer ke sentral berikutnya

– Originating Office Control (OOC)Originating Office Control (OOC)

• Kemungkinan trafik hilang hanya di sentral 1 (originating office) dari Kemungkinan trafik hilang hanya di sentral 1 (originating office) dari pasangan O-D

pasangan O-D

– OOC dengan OOC dengan Spill ForwardSpill Forward (OOC dengan pelimpahan ke depan) (OOC dengan pelimpahan ke depan) • Selain sentral asal, masih terdapat beberapa sentral lainnya (tidak Selain sentral asal, masih terdapat beberapa sentral lainnya (tidak

semuanya) yang dapat memberikan cabang loss

(28)

28

Pengendalian penyambungan (2)

Pengendalian penyambungan (2)

Contoh PLS untuk OOC dengan

Contoh PLS untuk OOC dengan

Spill Forward

Spill Forward

– O-D : 1-2O-D : 1-2

1

2

L

(29)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

29

Pengendalian penyambungan (3)

Pengendalian penyambungan (3)

Contoh PLS untuk OOC dengan

Contoh PLS untuk OOC dengan

Spill Forward

Spill Forward

– O-D : 1-3O-D : 1-3

1

3

B 3

L

A B 3

(30)

30

Pengendalian penyambungan (4)

Pengendalian penyambungan (4)

Contoh PLS untuk OOC dengan

Contoh PLS untuk OOC dengan

Spill Forward

Spill Forward

– O-D : 1-4O-D : 1-4

1 B 4

L

A B 4

(31)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

31

Influence Graph

Influence Graph

Penggambaran jaringan dengan graph selain dapat Penggambaran jaringan dengan graph selain dapat

menunjukkan ruting dan pengendalian penyambungan, menunjukkan ruting dan pengendalian penyambungan,

juga dapat digunakan untuk melihat ada tidaknya loop juga dapat digunakan untuk melihat ada tidaknya loop

Contoh suatu jaringan di bawah iniContoh suatu jaringan di bawah ini

B C

D O

(32)

32

Influence Graph (2)

Influence Graph (2)

PLS (SOC) untuk O-DPLS (SOC) untuk O-D

O D

B D

C D

B D

L L

L

(33)

EL 372 Rekayasa TrafikEL 372 Rekayasa Trafik

33

Influence Graph (3)

Influence Graph (3)

PLS (SOC) untuk O-D dimodifikasi supaya ada loopPLS (SOC) untuk O-D dimodifikasi supaya ada loop

O D

C D

B D

O D

L L

L

Dengan gambar PLS ini sulit untuk melihat

(34)

34

Influence Graph (4)

Influence Graph (4)

Pasangan O-D tanpa loop

Pasangan O-D tanpa loop

Pasangan O-D dengan loop

Pasangan O-D dengan loop

O,D O,B

O,C C,D

C,B

B,D

O,D O,C

B,D C,B

Gambar

Gambar di atas memperlihatkan cara mendapatkan jaringan bebas rugi dengan elemengandeng bertingkat dua

Referensi

Dokumen terkait

Dari pengamatan secara fisik langsung kelapangan dan melalui data kondisi jaringan Daerah Irigasi (DI) Pada daerah Irigasi Tungkub DAS Sungi khususnya pada saluran primer

Dari hasil pengukuran throughput dan delay secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa mode enkripsi AES-128-CBC merupakan mode enkripsi yang memberikan throughput terbesar dan

Peramalan konsumsi listrik untuk kelompok tarif rumah tangga di Provinsi Bali yang dilakukan dengan JST MLP - terdiri dari 1 lapisan input , 1 lapisan tersembunyi dan 1 lapisan

Dari hasil analisis diperoleh bahwa kondisi simpang saat ini tidak mampu melayani arus lalu lintas yang masuk keluar simpang, dibuktikan dengan nilai derajat kejenuhan, D

arsip yang ada.indikasi kinerja pegawai perpustakaan masih rendah dapat dilihat. dari kehadiran pada jam kerja yang sudah ditentukan dan efektivitas jam

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja konselor dalam proses konseling secara umum sudah tergolong baik, namun pada beberapa aspek masih banyak kelemahan

Apakah dimensi saluran drainase existing dijalan Teluk Banyur dan Jalan Swakarya III, Kelurahan Kekalek Jaya, kota Mataram masih mampu menampung debit air yang

Hasil analisisnya adalah (1) Tabel variables entered/removed, tidak terdapat Variables Removed, yang berarti variabel bebas dimasukkan ke dalam perhitungan regresi; (2) R Square