• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES BERPIKIR KREATIF DALAM KEGIATAN P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROSES BERPIKIR KREATIF DALAM KEGIATAN P"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1

GEOMETRI UNTUK SISWA KELAS XI SMAN 1 NGRAYUN

PONOROGO

Andi Navianto1), Subanji2), dan Santi Irawati2) 1. Guru Matematika SMA Negeri 1 Ngrayun Ponorogo

2. Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Malang

[email protected], [email protected], [email protected]

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan proses berpikir kreatif yang terjadi pada siswa dalam kegiatan pengajuan masalah (problem posing). Dari informasi yang diberikan, siswa diminta untuk membuat soal yang berkaitan dengan konsep lingkaran. Subjek penelitian ini adalah siswa yang mampu membuat soal baru yang berbeda dengan soal yang dibuat siswa lain dan berbeda dengan pernah didapatkan siswa. Kemudian dilakukan wawancara pada subjek penelitian untuk mengungkap proses berpikir kreatif siswa saat membuat soal. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa siswa menerjemahkan (translating) informasi yang diberikan ke pengetahuan yang dimiliki dan ke topik yang diinginkan. Ketika siswa tidak mampu dalam menerjemahkan maka siswa menambah informasi (add object). Selanjutnya hasil translating dijadikan bahan bagi siswa untuk membuat soal-soal. Selain menambah informasi, siswa juga mengubah informasi (edit information) yang ada dalam proses pembuatan soal. Siswa mengajukan soal baru hasil dari (1) modifikasi soal yang pernah didapatkan siswa, (2) modifikasi soal yang telah dibuat siswa di nomor sebelumnya, (3) kombinasi dari modifikasi soal yang pernah didapatkan dan soal yang telah dibuat siswa di nomor sebelumnya.

Abstract. The purpose of this study is to describe the process of creative thinking of students in the activities of the filing of the problem (problem posing). From the information given, the students are asked to create questions related to the concept of the circle. The subjects were students who are able to create new and different about the matter are made different from the other students and the students never obtained. Then do the interview on the subject of research to uncover students' creative thinking process when creating matter. From the results of the study found that students translate (translating) the information given to knowledge and to the desired topic. When students are not able to translate the students add information (add object). Furthermore, the results for students in translating material used to make the questions. In addition to adding information, students also change information (edit information) is in the process of making matter. Students propose new problems result from (1) modifications that had been learned about the students, (2) the modifications that have been made about the students in the previous number, (3) a combination of modification of questions that had been learned and questions that have been made the students in the previous number.

(2)

Secara umum kreativitas dimiliki setiap siswa (Lee, 2005; Leikin, 2009;

Pelczer & Rodríguez, 2011; Mohamed dkk, 2012). Menurut Munandar (1990:48)

kreativitas dapat dilakukan oleh siapa saja. Hasil penelitian Kim (2005) juga

mendapatkan bahwa tidak ada hubungan tingkat IQ seseorang dengan tingkat

kreativitasnya. Dapat disimpulkan setiap siswa dimanapun siswa bersekolah,

siswa memiliki kreativitas. Setiap siswa mampu berkreasi walau dengan tingkat

yang berbeda-beda.

Di Indonesia, pengembangan kreativitas siswa juga termuat dalam UU

SISDIKNAS tahun 2003. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran, guru harus

mengupayakan dan menyediakan kesempatan seluas-luasnya bagi pengembangan

kreativitas siswa. Sehingga bakat-bakat yang dimiliki siswa menjadi modal

munculnya kreativitas siswa (Sriraman, 2005). Karena menurut Gomez (2007)

perencanaan pembelajaran yang tidak baik akan mengakibatkan hilangnya potensi

kreativitas yang dimiliki siswa yang luar biasa. Untuk itu diperlukan pemahaman

guru bagaimana proses berpikir siswa dalam membangun kreativitas.

Banyak pendapat terkait definisi kreativitas. Menurut Torrance (1969:4)

kreativitas didefinisikan sebagai proses dalam menangkap adanya masalah atau

kesenjangan informasi, membentuk ide atau hipotesis, menguji dan memodifikasi

hipotesis, serta mengkomunikasikan hasilnya. Dalam pandangan Silver (1997)

kreativitas erat kaitannya dengan kedalaman dan fleksibilitas pengetahuan yang

sering dihubungkan dengan kerja jangka panjang. Dari pendapat Torrance (1969)

dan Silver (1997) dalam kreativitas terjadi proses berpikir saat membangun

ide-ide dari informasi yang ada berdasarkan pengetahuan yang dimiliki seseorang.

Kreativitas siswa akan berbeda-beda sesuai dengan tingkat kemampuan ataupun

pengaruh lingkungannya.

Torrance (1969) dan Silver (1997) menilai kreativitas meliputi 3 aspek

yaitu kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan. Pendapat berbeda disampaikan De

Bono (1991) yang menekankan kreativitas pada aspek kebaruan. Menurut De

Bono (1991:110) kreativitas berkenaan dengan perubahan, inovasi, penemuan,

(3)

juga disampaikan Leikin (2009), Pelczer dan Rodríguez (2011), danSriraman

(2004).

Dari beberapa pendapat ahli , kreativitas dapat didefinisikan sebagai

kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah atau memunculkan ide baru

berdasarkan data atau informasi yang ada. Dalam kreativitas dituntut untuk

memunculkan dugaan-dugaan, pertanyaan-pertanyaan dan alternatif penyelesaian

masalah yang tentunya logis dan sesuai dengan konsep matematika. Kreativitas

yang muncul masing-masing orang berbeda-beda berdasarkan pengetahuan dan

pengalaman yang dimiliki.

Menurut Pehnoken (1997), kreativitas terjadi pada semua bidang

termasuk matematika. Penelitian-penelitian mengenai kreativitas dalam

matematika telah banyak dilakukan. Diantaranya penelitian mengenai bagaimana

meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa (Brunkala, 2009; Leikin, 2009;

Silver, 1997; Siswono, 2004), karakteristik kreativitas matematika (Sriraman,

2004; Nadjafikhah dkk, 2012) dan pengidentifikasian tingkat berpikir kreatif

siswa (Siswono, 2004; Siswono dan Budayasa, 2006).

Menurut Silver (1997) salah satu kegiatan yang sangat berhubungan

dengan kreativitas adalah adalah problem posing (pengajuan masalah). Kegiatan

pengajuan masalah (problem posing) adalah meminta siswa untuk membuat soal

atau masalah berdasar informasi yang diberikan. Informasi yang diberikan

dapat berupa tulisan maupun gambar. Penelitian mengenai hubungan kreativitas

dengan problem posing telah banyak dilakukan. Siswono (2004) mengidentifikasi

proses berpikir kreatif siswa SMP dalam pengajuan masalah Matematika dengan

Model Wallas dan Creative Problem Solving (CPS). Yuan dan Sriraman (2010)

mengeksplorasi dan membandingkan kreativitas siswa China dengan siswa USA

melalui tugas problem posing. Kontorovich dkk (2011) mendapatkan indikator

minat siswa mempengaruhi tingkat kreativitas siswa dalam pengajuan masalah.

Pelczer dan Rodríguez (2011) menggunakan problem posing mendapatkan

wawasan tentang kreativitas siswa dan mengidentifikasi jenis kreativitas. Sedang

Singer dkk (2011) menyatakan kemampuan siswa menghasilkan masalah baru

(4)

Dalam kegiatan problem posing, menurut Pittalis dkk (2004) dan Christou

dkk (2005) terjadi empat proses kognitif yaitu memilih (filtering/selecting),

menerjemahkan (translating), memahami dan mengatur (comprehending), dan

mengubah (editing) informasi kuantitatif. Menurut Chua dan Wong (2012) ada

empat tindakan siswa terhadap informasi pada soal yaitu mengubah informasi

(edit information), menambah informasi ( add object), menambah informasi yang

tidak berpengaruh dalam penyelesaian masalah (over conditioning), dan membuat

asumsi tidak tertulis (implicit assumption).

Dalam studi pendahuluan yang peneliti lakukan, peneliti mendapatkan

soal-soal yang dibuat siswa terdapat pertanyaan-pertanyaan yang sama dan

berbeda antar masing-masing siswa. Peneliti juga mendapatkan banyak siswa

menambahkan informasi dalam membuat soal dan beberapa siswa

menerjemahkan informasi yang diberikan ke bentuk tertentu. Dari kegiatan

pengajuan soal ini, banyak dan beragam soal yang dibuat siswa menunjukkan ide

yang muncul pada masing-masing siswa tidak sama. Peneliti melihat adanya

proses berpikir yang berbeda-beda pada masing-masing siswa.

Dari penelitian-penelitian mengenai hubungan kreativitas dan problem

posing, peneliti belum mendapatkan penelitian yang mengungkap proses berpikir

kreatif yang terjadi pada siswa ditinjau dari proses pembuatan soal yang

dikemukakan Pittalis dkk (2004), Christou dkk (2005), dan Chua dan Wong,

2012). Sebagai upaya mengembangkan kreativitas siswa maka memahami

terjadinya berpikir kreatif siswa sangat diperlukan. Dari uraian di atas, peneliti

akan melakukan penelitian kualitatif tentang bagaimana terjadinya berpikir

kreatif pada siswa dalam kegiatan pengajuan masalah (problem posing) materi

geometri yaitu lingkaran di SMAN 1 Ngrayun.

Peneliti memilih materi geometri karena dalam geometri juga terdapat

banyak topik yang dapat digunakan untuk kegiatan pengajuan soal. Salah satu

bentuk bangun datar yang dipelajari dan dikenal siswa adalah lingkaran. Melalui

kegiatan pengajuan soal pada materi lingkaran dapat dilihat kreativitas siswa

sebagai hasil pembelajaran yang telah didapatkan siswa (Silver, 1997). Panaoura

dan Gagatsis (2009) juga menyampaikan bahwa guru perlu memahami bagaimana

(5)

Pemilihan materi lingkaran juga didasarkan siswa SMAN 1 Ngrayun kelas XI

baru saja mendapatkan materi lingkaran. Sehingga melalui kegiatan pengajuan

soal merupakan upaya melihat proses berpikir kreatif siswa dalam mengkaitkan

materi lingkaran yang telah didapatkan di jenjang SD dan SMP maupun dikaitkan

dengan kehidupan nyata.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono

(2013:13) penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif artinya data yang terkumpul

berbentuk kata-kata atau gambar. Jenis data pada penelitian ini berupa data tertulis

dan data verbal. Data tertulis diperoleh dari hasil lembar tugas siswa. Dalam

waktu 60 menit siswa diberi tugas untuk membuat soal sebanyaknya beserta

solusinya dari informasi yang diberikan (Gambar 1)

Gambar 1. Instrumen Lembar Tugas

Hasil lembar tugas dalam penelitian ini yang diperhatikan adalah soal-soal

yang dibuat siswa. Soal-soal yang diperhatikan adalah soal matematika yang

berhubungan konsep lingkaran. Siswa yang membuat soal dengan kriteria (1)

menggunakan informasi yang diberikan (Torrance, 1969:4; Silver,1997) , (2)

berbeda dengan soal yang dibuat siswa lain (Yuan dan Sriraman, 2010), dan (3)

berbeda dengan soal yang ada di buku pegangan atau yang pernah didapat siswa

(Pelczer dan Rodriguez, 2011) dapat dipertimbangkan sebagai subjek. Sedang

untuk data verbal diperoleh dari hasil wawancara dan dokumentasi menggunakan

(6)

memenuhi , yaitu subjek kelompok atas, subjek kelompok menengah, dan subjek

kelompok bawah. Masing-masing kelompok diwakili oleh dua subjek.

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa SMAN 1 Ngrayun Ponorogo kelas

XI Program Ilmu Alam. Waktu pelaksanaan penelitian pada semester genap tahun

2013/2014. Subjek penelitian merupakan siswa kelas XI IPA1. Kelas ini dipilih

karena telah mendapat pembelajaran materi lingkaran.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Banyak soal yang dibuat siswa berbeda-beda di masing-masing kelompok.

Dari soal-soal yang dibuat siswa ditemukan soal yang tidak berhubungan dengan

konsep lingkaran namun berkaitan dengan pembuatan soal lain. Selain itu,

ditemukan juga soal yang tidak menggunakan informasi yang diberikan. Pada

siswa kelompok atas secara umum soal yang dibuat menggunakan informasi yang

diberikan. Namun ditemukan soal yang yang tidak berhubungan dengan konsep

lingkaran di masing-masing subjek. Pada siswa kelompok menengah, ada soal

yang dibuat S3 tidak menggunakan informasi yang diberikan. Sedang soal yang

dibuat S4 terdapat soal yang tidak berhubungan dengan konsep lingkaran. Pada

siswa kelompok bawah, ada satu dari lima soal yang dibuat S5 tidak berhubungan

dengan konsep lingkaran sedang empat dari tujuh soal yang dibuat S6 tidak

menggunakan informasi yang diberikan.

Dari soal-soal siswa yang berhubungan dengan konsep lingkaran dan

menggunakan informasi yang diberikan ditemukan soal-soal baru. Soal baru ini

berbeda berdasarkan penelusuran soal yang ada di buku dan keterangan siswa.

Banyak soal baru yang dibuat siswa kelompok atas lebih banyak dibanding siswa

kelompok lain. Ditemukan soal-soal baru yang dibuat siswa di semua kelompok

memiliki kesamaan yang mengkaitkan luas daerah persegi panjang dengan luas

daerah lingkaran.

Pada siswa kelompok atas, S1 menghasilkan dua soal baru sedang S2

menghasilkan tiga soal baru. Ide pembuatan S1 mengenai pengurangan luas daerah

(7)

Pembuatan soal baru oleh S2 berasal dari ide mengenai garis singgung lingkaran,

perpotongan dua garis dan pembagian luas daerah persegi panjang dengan luas

daerah lingkaran. Secara umum S1 dan S2 mampu menggunakan informasi yang

ada untuk membuat soal baru. Pada pembuatan soal S1 menambah informasi.

Sedang S2 tidak menambah informasi seperti yang dilakukan S1. S2 hanya

mengubah informasi. S1 dan S2 juga membuat soal baru dengan mengkaitkan

dengan soal sebelumnya.

Pada siswa kelompok menengah, S3 dan S4 masing-masing menghasilkan

satu soal baru. Inti pertanyaannya sama yaitu luas lapangan yang tidak digunakan

atau daerah sisa. Tapi informasi dan ide pembuatannya berbeda. S3 mengajukan

soal yang menanyakan luas daerah rumput berbentuk lingkaran yang tidak dapat

dijangkau kambing. Pada soal ini S3 membuat daerah berpagar berbentuk

lingkaran pada lapangan rumput dan mengikat kambing di pagar lingkaran. Ide

soal dari adanya lingkaran dalam dan lingkaran luar. Sedang S4 menanyakan luas

lapangan rumput yang tidak dapat dijangkau kambing dan tidak dibangun kolam

berbentuk lingkaran. S4 menambah informasi berupa kolam berbentuk lingkaran

dalam lapangan rumput. S4 juga memindah letak kambing di lapangan sehingga

dapat membentuk lingkaran. S4 membuat soal baru ini berasal dari ide mengenai

luas daerah yang tidak diarsir pada bangun persegi atau persegi panjang. Dalam

pembuatan soal baru S3 dan S4 juga mengkaitkan dengan soal sebelumnya.

Pada siswa kelas bawah, S5 menghasilkan satu soal baru. Di soal ini S5

menambah informasi bangunan menara yang alasnya berbentuk lingkaran.

Penambahan informasi tersebut bertujuan untuk mebuat variasi soal. Selain itu

tampaknya juga untuk menyesuaikan dengan konsep lingkaran. S6 juga

menghasilkan dua soal baru. S5 dan S6 menggunakan informasi yang ada untuk

membuat soal baru selain mengubah dan menambah informasi. Namun

penambahan informasi yang dilakukan S6 tidak semuanya menghasilkan soal

baru. Selain soal yang dihasilkan tidak memiliki kaitan sama sekali dengan

informasi yang ada. Tampaknya penambahan informasi untuk menyesuaikan soal

(8)

Pembahasan

Di awal kegiatan problem posing, terjadi proses menerjemahkan

(translating process) informasi ke pengetahuan yang dimiliki (Pittalis dkk, 2004;

Christou dkk, 2005). Semua subjek mentransfer lapangan rumput dan ukuran

lapangan rumput sebagai persegi panjang beserta ukuran panjang dan lebar

(Gambar 2).

Gambar 2. Soal yang dibuat S4

Tapi S3 dan S6 tidak mampu menerjemahkan informasi pada konsep

lingkaran sedang subjek lain memandang daerah jajahan kambing yang diikat

merupakan daerah berbentuk juring atau lingkaran dengan panjang tali kambing

sebagai jari-jarinya. Sehingga S3 dan S6 menambah informasi agar sesuai dengan

pengetahuan yang dimiliki. Penambahan informasi (add object) merupakan salah

satu kegiatan dalam problem posing yang dikemukakan Chua dan Wong (2012).

Sebagai contoh penambahan informasi yang dilakukan S3 adalah menggambar

lingkaran di lapangan rumput (Gambar 3)

Gambar 3. Penambahan Informasi Oleh S3

Kemudian hasil translating digunakan subjek untuk membuat soal. Soal

yang telah dibuat subjek menjadi ide pembuatan soal baru. Hal ini dilakukan S1,

(9)

modifikasi S1 dan S5 menambah informasi (add object). Misalkan S5 menambah

informasi berupa bangunan menara di lapangan rumput pada pembuatan soal

nomor 4 (Gambar 4). Jadi apa yang dilakukan S1, S2 dan S5 seperti yang

dikemukakan Silver (1997) dimana siswa memeriksa soal-soal yang telah dibuat

lalu siswa menemukan gagasan untuk membuat soal baru yang berbeda.

Gambar 4. Soal yang dibuat S5

Soal yang diajukan subjek juga merupakan hasil modifikasi soal yang

pernah didapatkan. Jadi perumusan soal dibangun dari soal lama dengan sudut

pandang baru (Pelczer dan Rodríguez, 2011). Subjek memodifikasi soal untuk

menyesuaikan dengan informasi dan hasil translating sebagaimana dilakukan S1,

S2, S3, dan S4. Modifikasi yang dilakukan subjek sebagaimana dikemukakan Chua

dan Wong (2012) adalah menambah (add object) dan mengubah informasi(edit

information). Pengubahan informasi (edit information) telah dilakukan subjek

pada pembuatan soal-soal sebelumnya. Sehingga soal baru yang diajukan subjek

merupakan hasil modifikasi soal yang pernah didapatkan dan kombinasi soal-soal

yang telah dibuat subjek. Sebagai contoh soal nomor 5 yang di S4 (Gambar 5).

Pada pembuatan soal ini, S4 menambah informasi berupa kolam ikan berbentuk

lingkaran. Selain itu, S4 juga menyertakan informasi luas lapangan rumput dan

(10)

Gambar 5. Soal nomor lima yang dibuat S4

Hal yang menarik adalah proses S6 dalam membuat soal. Yang tampak

berbeda dibanding subjek lainnya adalah soal yang diajukan S6 tidak memiliki

kaitan dengan soal-soal sebelumnya. S6 menggambar “garis hubung” pada

kambing A di lapangan rumput (Gambar 6). Soal yang dibuat S6 langsung soal

baru dimana S6 langsung memodifikasi soal yang pernah didapat dengan hasil

translating(Gambar 7). Pada pembuatan soal S6 mencantumkan informasi yang

tidak mempengaruhi penyelesaian (over conditioning) yaitu panjang tali kambing

A (Chua dan Wong, 2012).

Gambar 6. Penambahan informasi oleh S6

Gambar 7. Soal yang dibuat S6

Dalam pembuatan soal siswa menerapkan pengetahuan untuk membuat

soal yang hanya memuat satu topik tertentu atau melibatkan beberapa topik.

Secara umum kegiatan problem posing mampu mengembangkan kemampuan

siswa dalam melihat koneksi antar topik dari masalah yang ada (Mousley, 2004;

Chua dan Wong, 2012). Hal ini tidak berlaku jika siswa tidak mampu menangkap

dan menerjemahkan masalah yang ada ke bentuk yang diinginkan sebagaimana

dialami S3. Soal yang dibuat siswa kecuali S3 memuat hubungan antara

unsur-unsur lingkaran dan persegi panjang. Soal S3 hanya mengenai lingkaran. Namun

ketika siswa mampu menerjemahkan lebih dari satu bentuk maka akan didapatkan

(11)

Pada kegiatan problem posing ini tampak S2 mampu membuat soal baru

yang lebih banyak dengan topik yang berbeda yaitu soal nomor empat dan tujuh.

S2 tidak hanya menerjemahkan daerah jelajah kambing sebagai luas lingkaran tapi

juga daerah jelaljah kambing dapat menghasilkan persinggungan dua lingkaran.

Munculnya soal nomor empat dan tujuh berasal dari ide mengenai garis singgung

lingkaran dan perpotongan dua garis. Sehingga terlihat kegiatan problem posing

memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuan matematika siswa dan

mengkonsolidasikan konsep dasar (Lavy dan Shriki, 2007). Selain itu tampaknya

banyak soal baru yang dibuat S1 merupakan bentuk kedalaman pengetahuan yang

dimiliki S2 (Silver, 1997). S1 sebagai siswa kelompok atas memiliki pengetahuan

yang lebih dibanding siswa yang lain.

Pada kegiatan problem posing tampak siswa melihat dan mengingat

kembali pengetahuan-pengetahuan yang telah didapat sehingga siswa dapat

mengkaitkan pengetahuan satu dengan yang lainnya. Hal ini sesuai pendapat

Knott (2010) bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa adalah bentuk

refleksi terhadap pengetahuan yang dimiliki siswa. Siswa akan mengkaitkan

informasi yang diterima dengan pengetahuan yang dimiliki. Xia dkk (2008) juga

mengutarakan dengan kegiatan problem posing dapat melihat kemampuan siswa

dalam membangun kesadaran terhadap masalah. Melalui kegiatan problem posing

dapat dilihat juga bagaimana siswa membangun pemahaman matematika (Lin,

2004).

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa siswa melakukan proses translating di awal kegiatan problem

posing. Proses translating ditunjukkan dengan siswa menerjemahkan informasi

yang diberikan ke pengetahuan yang dimiliki dan ke topik yang diinginkan.

Ketika siswa tidak mampu dalam menerjemahkan maka siswa menambahkan

informasi (add object). Tujuan penambahan informasi adalah untuk menyesuaikan

(12)

Selanjutnya hasil translating dijadikan bahan bagi siswa untuk membuat

soal-soal. Siswa membuat soal baru dari satu soal yang telah dibuat. Siswa

memodifikasi satu soal yang telah dibuat dengan melakukan penambahan

informasi (add object) sehingga menghasilkan soal yang berbeda. Soal baru yang

diajukan siswa juga dapat merupakan hasil modifikasi soal yang pernah

didapatkan. Siswa memodifikasi soal dengan menambah (add object) dan

mengubah informasi(edit information). Pengubahan informasi (edit information)

telah dilakukan siswa pada pembuatan soal-soal sebelumnya. Sehingga soal baru

yang diajukan siswa merupakan hasil modifikasi soal yang pernah didapatkan dan

kombinasi soal-soal yang telah dibuat siswa. Selain itu, soal baru juga dapat

merupakan hasil modifikasi soal yang pernah didapatkan siswa.

Proses pembuatan soal baru sangat dipengaruhi pengetahuan yang dimiliki

siswa. Pengetahuan yang dimiliki menjadi dasar siswa dalam menangkap dan

menerjemahkan informasi. Pengetahuan juga menjadi ide dalam pembuatan soal

baru. Semakin luas pengetahuan yang dimiliki siswa maka memungkinkannya

untuk membentuk soal baru yang lebih banyak.

Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka perlu adanya penelitian yang lebih

banyak dan mendalam lagi tentang proses berpikir kreatif untuk mendapatkan

informasi tentang cara siswa menghubungkan informasi dan pengetahuan yang

siswa dalam rangka menghasilkan sesuatu yang baru. Selain itu, dalam proses

pembelajaran di sekolah guru harus mengupayakan dan menyediakan kesempatan

seluas-luasnya bagi pengembangan kreativitas siswa. Dengan pengembangan

kreatifitas siswa dibekali kemampuan untuk beradaptasi dengan kemajuan jaman.

DAFTAR RUJUKAN

Brunkalla, Kai, 2009. How To Increase Mathematical Creativity- AnExperiment. The Montana Mathematics Enthusiast, ISSN 1551-3440, Vol. 6,

(13)

Christou, C., Mousoulides, N., Pittalis, M., & Pitta-Pantazi, D., Sriraman, B. 2005. An Empirical Taxonomy of Problem Posing. ZDM 2005 Vol. 37 (3).

Chua, P.H., & Wong, K.Y. 2012. Characteristics of Problem Posing of Grade 9 Students on Geometric Tasks. In J. Dindyal, L. P. Cheng & S. F. Ng (Eds.), Mathematics education: Expanding horizons (Proceedings of the 35th annual conference of the Mathematics Education Research Group of Australasia) pp 202-209. Singapore: Merga.

De Bono, Edward.1991. Enam Topi Berpikir. Jakarta: Binarupa Aksara

Gomez, Jose G. 2007. What Do We Know About Creativity? The Journal of Effective Teaching, Vol. 7, No.1, 2007 31-43.

Kim, Kyung Hee. 2005. Can Onl y Int elli gent Peopl e Be Creative? The Journal of Secondar y Gift ed Education Vol. XV I, No. 2/3, Winter/Spring 2005, pp. 57–66.

Knott, L, 2010. Problem Posing from the Foundations of Mathematics. The Montana Mathematics Enthusiast, ISSN 1551-3440, Vol. 7, nos.2&3, pp.413-432 2010.

Kontorovich, I., Koichu, B., Leikin, R., & Berman, A. (2011). Indicators of creativity in mathematical problem posing: How indicative are they? In

M. Avotiņa, D. Bonka, H. Meissner, L. Ramāna, L. Sheffield & E.

Velikova (Eds..)Proceedings of the 6 th International Conference Creativity in Mathematics Education and the Education of Gifted Students (pp. 120-125). Latvia: Latvia University

Lavy,I dan Shriki, A. 2007.Problem Posing As A Means For Developing

Mathematical Knowledge Of Prospective Teachers. In Woo, J. H., Lew, H. C., Park, K. S. & Seo,D. Y. (Eds.). Proceedings of the 31st Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education, Vol. 3, pp. 129-136. Seoul: PME.

Lee, Kyung-Hwa. 2005. The relationship between creative thinking ability and creative personality of preschoolers. International Education Journal, 6(2), 194-199. ISSN 1443-1475.

Leikin, Roza , 2009. Exploring Mathematical Creativityusing Multiple Solution Tasks. Creativity in Mathematics and the Education of Gifted Students, pp 129–145, Tersedia di :

(14)

Lin, Pi-Jen, 2004. Supporting Teachers On Designing Problem-Posing Tasks As

A Tool Of Assessment To Understand Students’ Mathematical Learning. Proceedings of the 28th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education, 2004 Vol 3 pp 257–264.

Mohamed, A., Maker, C.J., & Lubart, T. 2012. Exploring the Domain Specificity of Creativity in Children: The Relationship between a Non-Verbal Creative Production Test and Creative Problem-Solving Activities.

Turkish Journal of Giftedness and Education, Volume 2, Issue 2, 84-101.

Mousley, Judith . 2004. An Aspect Of Mathematical Understanding: The Notion

Of “Connected Knowing” . Proceedings of the 28th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education, 2004 Vol 3 pp 377–384.

Munandar, Utami, 1990. Mengembangkan bakat dan kreativitas anak sekolah. Jakarta: Gramedia

Nadjafikhah,M., Yaftian, N., & Bakhshalizadeh, S. 2012. Mathematical creativity: some definitions and characteristics. Procedia - Social and Behavioral Sciences 31 (2012) 285 – 291.

Panaoura, G dan Gagatsis, A. 2009. The Geometrical Reasoning Of Primary And Secondary School Students. Proceedings of CERME 6, January 28th-February 1st 2009 pp 746-756.

Pehnoken, E. 1997. The State-of-Art in Mathematical Creativity. Zentralblatt für Didaktik der Mathematik (ZDM)–The International Journal on

Mathematics Education. Tersedia:

http://www.emis.de/journals/ZDM/zdm973a1.pdf, diakses 5 Januari 2014.

Pelczer, Ildikó & Rodríguez, Fernando Gamboa .2011.Creativity assessment in school settings through problem posing tasks. The Montana Mathematics Enthusiast, ISSN 1551-3440, Vol. 8, nos.1&2, p.383-398.

Pittalis, M., Christou, C., Mousoulides, N., & Pitta-Pantazi, D. 2004. A Structural Model For Problem Posing. Proceedings of the 28th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education, 2004 Vol 4 pp 49–56.

Silver, E. A. 1997. Fostering Creativity through Instruction Rich in

(15)

http://www.emis.de/journals/ZDM/zdm973a3.pdf , diakses 10 September 2013.

Singer, F.M., Pelczer,I., & Voica, M. 2011. Problem Posing And Modification As A Criterion Of Mathematical Creativity. Dalam T. Rowland & E.

Swoboda (Eds.) CERME 7. Tersedia di:

http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/30177663/CERME7_ WG7_Singer_Pelczer_Voica.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRT WSMTNPEA&Expires=1387554993&Signature=mDBv9j7MSAxUyW7 oV68ZrWbHFk8%3D&response-content-disposition=inline, di akses 27 Juli 2013

Siswono, Tatag Y.E., (2004). Identifikasi Proses Berpikir Kreatif Siswa dalam Pengajuan Masalah (Problem Posing) Matematika Berpandu dengan Model Wallas dan Creative Problem Solving (CPS). Buletin Pendidikan Matematika Volume 6 Nomor 2, Oktober 2004.Prodi Pend. Mat. FKIP UNPATTI Ambon.

Siswono, T.Y.E., dan Budayasa, I K. 2006. Implementasi Teori Tentang Tingkat Berpikir Kreatif Dalam Matematika. Makalah disajikan dalam Seminar Konferensi Nasional Matematika XIII dan Konggres Himpunan

Matematika Indonesia di UNES Semarang.

Sriraman, Bharath. 2004. The Characteristics of Mathematical Creativity. The Mathematics Educator 2004, Vol. 14, No. 1, 19–34.

Sriraman, Bharath. 2005. Are Giftedness and Creativity Synonyms in

Mathematics? The Journal of Secondary Gifted Education Vol. XVII, No. 1, Fall 2005, pp. 20–36.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta

Torrance, E.P. 1969. Creativity What Research Says to the Teacher. Washington DC: National Education Association.

Xia, X., Lii, C., & Wang, B. 2008. Research on Mathematics Instruction Experiment Based Problem Posing. Journal of Mathematics Education December 2008, Vol. 1, No. 1, pp.153-163.

Yuan, Xianwe dan Sriraman, B K. Lee .2010. An Exploratory Study Of

Relationships Between Students’ Creativity And Mathematical Problem -Posing Abilities The Elements of Creativity and Giftedness in

(16)

Gambar

Gambar 1. Instrumen Lembar Tugas
Gambar 2. Soal yang dibuat S4
Gambar 4. Soal yang dibuat S5
Gambar 6. Penambahan informasi oleh S6

Referensi

Dokumen terkait

Klik menu File, Open, atau klik toolbar Open atau tekan tombol Ctrl+O , sehingga muncul kotak dialog berikut:.. Klik kotak Look in untuk menentukan lokasi (drive dan

K arakteristik utama yang kelima dari persekutuan adalah participation in partnership profit maka laba rugi persekutuan harus dibagi kepada para sekutu secara adil, artinya adil

[r]

Tulisan ini bertujuan memberikan gambaran tentang: 1) praktik kepemimpinan di Madrasah Al-Khairat Kendek, Banggai Laut; 2) Praktik manajemen di Madrasah Al-Khairat

Sedangkan menurut Simamora (2013) fungsi manajemen ini lebih menekankan bagaimana manajer mengarahkan dan menggerakkan semua sumber daya untuk mencapai tujuan yang

Kurangnya kinerja karyawan juga disebabkan karena tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepada karyawan cukup banyak, sehingga waktu untuk memberikan dukungan ataupun

Objektif kajian ini adalah untuk mengenal pasti faktor-faktor fizikal yang menggalakkan persekitaran pemulihan di fasiliti kesihatan dan mengenal pasti perspektif pengguna

Dari hasil pengamatan analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa pemberian NPK Mutiara terhadap tinggi tanaman menunjukkan pengaruh tidak nyata pada umur amatan 3 MST dan 6