INDONESIA (BUKAN)
NEGARA GAGAL?
Refleksi Seorang Akademisi
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) A Safril
Indonesia (Bukan) Negara Gagal? Refleksi Seorang Akademisi/A Safril Surabaya: Cakra Studi Global Strategis, 2014 [cet. 1, 2014].
vii + 216 hlm. | 15,5x23,5 cm | ISBN: 978-602-7851-39-9
INDONESIA (BUKAN) NEGARA GAGAL? REFLEKSI SEORANG AKADEMISI
Karya A Safril
Cetakan Pertama, November 2014
Hak Cipta @ Cakra Studi Global Strategis (CSGS) Desain Sampul: Mayka Risyayatul Asnawiyah Tata Letak: Shafira Yasmine
Diterbitkan pertama kali di Indonesia oleh Cakra Studi Global Strategis (CSGS)
Jl. Dharmawangsa Dalam Surabaya 60286, Jawa Timur Telp. (031) 5046453; 61016125; Faks. (031) 5012442 E-mail: [email protected]
Website: http://www.hiunair.com
iii
PENGANTAR
Syukur alhamdulillah, atas berkat rahmat Allah SWT, buku berjudul Indonesia (Bukan) Negara Gagal?: Refleksi Seorang Akademisi dapat aku selesaikan. Buku ini merupakan kumpulan opiniku yang terdiri dari 52 tulisan. Semua tulisan yang telah dipublikasikan di situs pribadiku (www.asafril.com) itu merupakan bentuk refleksiku sebagai akademisi Hubungan Internasional dalam meganalisis berbagai fenomena intermestik (internasional-domestik). Publikasi dalam buku ini merupakan upaya untuk semakin menyebarluaskan gagasan-gagasan yang terkandung dalam 52 tulisan itu sehingga diharapkan bermanfaat bagi lebih banyak orang. Judul buku ini diambil dari salah satu dari 52 tulisan tersebut.
Kumpulan opiniku dapat diterbitkan menjadi buku karena peran serta para kolega dosen di Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlangga beserta para staf administrasinya. Selain itu, para mahasiswa juga memiliki kontribusi signifikan dalam serangkaian diskusi denganku.
Aku menyadari, buku ini pasti belum sempurna. Atas dasar itu, masukan dari pembaca sangat aku butuhkan untuk memperbaiki karya ini sehingga semakin berkualitas di kemudian hari. Dengan begitu, aku berharap karya ini bermanfaat luas tidak hanya bagi pembaca, tetapi juga perkembangan Ilmu Hubungan Internasional. Terima kasih.
iv
DAFTAR ISI
Pengantar | iii Daftar Isi | iv
v
vi
1
1
Strategi AS Memerangi ISIS
idato Presiden Barack Obama tentang strategi Amerika Serikat memerangi Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) di Gedung Putih, Rabu (10/9/2014), membuka kembali babak baru perang melawan terorisme. Menyikapi ancaman teror ISIS yang telah memenggal kepala dua warga negaranya (James Foley dan Steven Sotlof), Obama menegaskan bahwa AS
“will degrade and ultimately destroy ISIL through a comprehensive and sustained counter-terrorism strategy.”
Dalam pernyataannya yang disampaikan sehari sebelum peringatan 13 tahun tragedi 9/11, Obama mengungkapkan ada empat strategi yang diputuskan AS.
Pertama, AS akan melancarkan serangan udara sistematis terhadap basis pertahanan ISIS. Kedua, AS bakal meningkatkan dukungan militer dengan mengirimkan tambahan 475 tentara yang bertugas melatih pasukan Irak dan oposisi Suriah untuk bertempur melawan militan ISIS. Ketiga, AS berupaya terus memperkuat kapabilitas antiterornya untuk menangkal serangan ISIS. Keempat, AS tetap menyediakan bantuan kemanusiaan untuk warga sipil yang terusir dari tempat tinggalnya akibat pendudukan ISIS di Irak dan Suriah.
Jika dicermati, strategi Obama serupa tapi tak sama dengan strategi George W. Bush ketika menghadapi Al Qaeda. Kedua presiden itu merespon ancaman jaringan terorisme global dengan aksi militer. Namun, perbedaan lawan yang dihadapi dan skala ancaman yang diterima menjadikan pendekatan mereka tidak sejalan. Jika Bush mengerahkan tentara langsung untuk
2
berperang, Obama lebih cenderung melancarkan serangan udara dan mempersenjatai militer Irak yang kerepotan menumpas ISIS. Tampaknya, pengalaman buruk perang melawan terorisme di masa Bush yang menewaskan ribuan tentara AS menjadi pelajaran berharga bagi Obama untuk tidak mengulangi kesalahan pendahulunya.
Meskipun demikian, derajat peringatan yang ditebarkan Obama kepada dunia setara dengan Bush. Ketika mendeklarasikan perang melawan terorisme pada 20 September
2001, Bush mengatakan “either you are with us, or you are with
the terrorists.” Bush seolah menarik garis batas tegas bahwa mereka yang tidak bergabung dengan AS berarti menyokong teroris. Penegasan hampir mirip dengan diksi berbeda
diungkapkan Obama yang mengatakan “if you threaten
America, you will find no safe haven.” Kata-kata Obama itu mengesankan bahwa AS akan memburu siapapun yang mengancam negara adidaya ini dan memastikan mereka tidak memiliki tempat aman dimanapun mereka berada.
Dengan demikian, Obama telah membuka kembali lembaran lama era Bush yang sebelumnya telah ditutup oleh mantan senator Illinois ini selama enam tahun berkuasa. Walaupun dengan pendekatan lain, Obama meniru langkah
Bush yang cenderung mengandalkan hard power. Hal ini tentu
kontradiktif dengan kebijakan Obama di awal pemerintahannya
yang lebih mengutamakan soft power dalam menangani
berbagai konflik dunia sehingga membuatnya dianugerahi nobel perdamaian pada 2009.
Tantangan
3
di berbagai belahan dunia, ISIS menyerang lawannya dengan pembunuhan sadis yang videonya sengaja disebarkan secara meluas. Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi, penyebaran video semacam itu melalui internet cukup efektif merekrut anggota baru dari seluruh dunia.
Buktinya, banyak orang yang bersimpati pada ISIS dan membenci AS akhirnya bergabung dalam organisasi pimpinan
Abu Bakar al Baghdadi ini. Al Jazeera (19/8) melaporkan, Juli
lalu, ISIS berhasil merekrut anggota baru hingga mencapai 6.000 orang, seribu di antaranya berasal dari Checnya, Timur Tengah, dan Eropa. Di Eropa, Inggris merupakan pusat rekrutmen terbesar. Bahkan, kuat dugaan eksekutor Foley dan Sotlof adalah warga Inggris karena dia berbicara dalam bahasa Inggris fasih dengan aksen British.
Inilah tantangan utama yang harus diatasi AS. Kegagalan dalam mengatasi tantangan ini akan berakibat pada meluasnya jaringan ISIS. Pada gilirannya, hal itu berpotensi mengglobalkan ideologi ISIS sehingga bermunculan sel-sel kecil yang siap menebar teror di sejumlah negara. Untuk menangkalnya, Obama berencana menjalin koalisi dengan negara-negara lain guna
“redouble our efforts to cut off its funding; improve our intelligence; strengthen our defenses; counter its warped ideology; and stem the flow of foreign fighters into, and out of, the Middle East.”
Persoalannya, bukan perkara mudah untuk melaksanakan strategi itu. Sebab, seperti layaknya negara, ISIS mengontrol sebagian wilayah teritorial Irak dan Suriah dengan memberlakukan sistem keamanan ketat. ISIS menguasai segala sumber daya di wilayah itu yang dapat dieksploitasi untuk mendanai operasi mereka. Dengan canggih, ISIS memanfaatkan
media-media sosial seperti Facebook dan Twitter untuk memikat
pengikut-pengikut baru. Saking canggihnya, Roula Khalaf dan
4
menyebutnya “probably more sophisticated than (that of) most
US companies.”
Karena itu, Obama tidak cukup hanya berpikir hard power
dengan menggelar serangan udara seraya mempersenjatai tentara
Irak, tetapi juga harus mengandalkan smart power dengan terus
mempercanggih jaringan sistem informasi AS dan negara-negara lain agar mampu menutup akses ISIS di dunia maya. Jika tidak,
jangan pernah berharap ideologi ISIS mati selamanya.
5
2
Perang Teror ISIS v AS
elang peringatan 13 tahun tragedi 911 pada Kamis, 11 September 2014, Amerika Serikat dihujani teror video pemenggalan kepala dua jurnalisnya, James Foley dan Steven Sotlof, oleh kelompok militan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). Pada 19 Agustus 2014, ISIS mempublikasikan video pemenggalan kepala Foley sekaligus mengancam akan melakukan hal serupa pada jurnalis AS lainnya jika negara ini tidak menghentikan aksi militernya di Syria. Ancaman itu benar-benar diwujudkan seiring dengan jatuhnya Sotlof sebagai korban kedua ISIS.
Dalam video yang dirilis pada Selasa pekan lalu (2/9), militan ISIS kembali mengumandangkan pesan perlawanan
kepada Presiden Barack Obama dengan menegaskan: “I'm back,
Obama, and I'm back because of your arrogant foreign policy towards the Islamic State, because of your insistence on continuing your bombings and on Mosul Dam, despite our serious warnings. So just as your missiles continue to strike our people, our knife will continue to strike the necks of your people.”
Mencermati pernyataan eksekutor Sotlof tersebut, tampak bahwa aksi mengerikan itu sengaja dilakukan ISIS sebagai balasan atas serangan militer yang dilancarkan oleh AS ke wilayah utara Iraq. Sejak Juni lalu, Obama mengirimkan pasukan ke Iraq tidak hanya untuk melindungi kepentingan strategis AS di negara ini, tetapi juga untuk membantu
6
pemerintah Iraq merebut kembali wilayah yang telah dikontrol oleh ISIS.
Kebijakan itu dianggap ISIS sebagai sebuah bentuk terorisme negara yang harus diperangi juga melalui serangan teror. Mengingat ISIS tidak memiliki kapabilitas militer sekuat AS, maka yang bisa mereka lakukan hanyalah membunuh warga negara AS secara sadis dan menyebarkan video pembunuhan itu sebagai pesan ancaman yang mampu menggaungkan teror menakutkan. Karena itu, situasi yang kini terjadi sebenarnya merupakan perang teror antara ISIS dan AS.
Jika dibandingkan, ISIS dan AS sesungguhnya memiliki kekuatan yang sangat tidak seimbang. AS adalah negara
superpower yang mampu memaksa aktor-aktor internasional lain untuk tunduk pada kemauannya. Sementara, ISIS tidak dapat disetarakan dengan negara-negara berdaulat lain yang mampu mengontrol segenap sumber daya dalam wilayah teritorialnya. ISIS hanya memiliki tekad dan semangat jihad salah kaprah yang distimulus oleh identitas keagamaan untuk melawan mereka yang tidak sepaham dengannya. Meskipun menyebut dirinya sebagai negara, pada hakikatnya ISIS bukanlah negara, melainkan sebatas organisasi yang menggunakan agama sebagai simbol identitasnya.
Simbol Identitas
Meminjam istilah Mary Kaldor (2006, 80-82), perlawanan
ISIS terhadap AS dapat disebut sebagai new war. Berbeda
7
Konflik pun kian meluas dan berujung pada timbulnya new war
yang melibatkan simbol-simbol identitas.
Dengan menggunakan Islam sebagai identitasnya, ISIS berupaya menarik minat sebanyak-banyaknya muslim di seluruh dunia untuk bergabung bersamanya. Simbol keislaman berupa bendera yang bertuliskan kalimat tauhid dijadikan alat pemersatu solidaritas sesama muslim untuk mengusir tentara AS dari Iraq dan Syria.
Melalui Youtube, Facebook, Twitter, dan media-media
sosial lain, mereka menggemakan solidaritas sebagai satu umat untuk menjaring dukungan dan merekrut militan-militan baru dari berbagai belahan dunia. Sejauh ini, aksi itu cukup efektif memikat sebagian orang Islam dari berbagai penjuru dunia untuk berdatangan ke kedua negara yang sedang dilanda konflik tersebut. Terbukti, sejumlah negara melaporkan kepergian warganya ke Iraq dan Syria untuk bergabung ISIS.
Dalam laporan resminya, Syrian Observatory for Human Rights mengatakan di antara sekitar 50.000 anggota ISIS di Syria, sepertiga adalah orang asing. Pada Juli lalu, ISIS berhasil merekrut anggota baru hingga mencapai 6.000 orang, seribu di antaranya berasal dari Checnya, Timur Tengah, dan
negara-negara Eropa (Al Jazeera, 19/8). Di Eropa, Inggris merupakan
salah satu pusat rekrutmen terbesar. Tercatat, sekitar 500
muslim Inggris menjadi militan ISIS (Jawa Pos, 7/9). Bahkan,
kuat dugaan eksekutor Foley dan Sotlof adalah warga negara Inggris karena dia berbicara dalam bahasa Inggris fasih dengan aksen British.
Khusus di Indonesia, Kepala Badan Nasional
8
Ancaman Aktual
Semakin membesarnya ISIS berpotensi menjadi ancaman aktual tidak hanya bagi AS, tetapi juga bagi negara-negara lain.
Sebagai negara superpower, AS sebenarnya diharapkan banyak
negara mampu menangkal ancaman ISIS. Tetapi, kenyataannya bukan perkara mudah bagi AS untuk mengalahkan ISIS. Pernyataan Obama di Gedung Putih pada 28 Agustus 2014
bahwa “we don’t have a strategy yet” menyiratkan AS kesulitan
menangani ISIS. Respon Obama atas pemenggalan kepala Sotlof
dengan mengatakan “our objective is clear, and that is to degrade
and destroy ISIS” yang disampaikan di Estonia Rabu pekan lalu (3/9/2014) belum menggambarkan adanya strategi jitu yang
diambil AS (Taipei Times, 4/9/2014).
Dengan demikian, ketika AS kebingungan dalam menghadapi ISIS, dunia tidak seharusnya berharap banyak kepada negara adidaya ini. Karena itu, setiap negara di dunia perlu mengambil strategi preventif untuk menangkal penyebaran ideologi ISIS agar tidak semakin memperbesar jumlah pengikut. Negara harus mempercanggih sistem teknologi informasinya agar mampu menghapus dengan cepat video-video yang disebarkan ISIS di internet karena besar kemungkinan melalui jaringan maya inilah ISIS merekrut anggota. Selain itu, negara harus memperketat arus keluar-masuk warga negaranya ke Iraq dan Syria karena siapapun yang masuk ke wilayah konflik ini dan lantas kembali ke negara asalnya berpotensi
menyebarluaskan ideologi ISIS di dalam negeri.
9
3
Thailand Pasca-Kudeta
udeta militer di Thailand pada Kamis, 22 Mei 2014, semakin menjerumuskan negara ini dalam kisruh politik tak berkesudahan. Dalam pengumuman yang disampaikan kepada publik oleh Panglima Angkatan Bersenjata
Thailand Jenderal Prayuth Chan-ocha, kudeta dilancarkan “...in
order for the country to return to normal quickly” (BBC News, 23/5/2014). Menurut Jenderal Prayuth, kekerasan yang terjadi di Bangkok dan kota-kota lain merupakan alasan utama militer melakukan kudeta untuk menghindari jumlah korban yang terus bertambah.
Sepanjang sejarah Negeri Gajah Putih, inilah kudeta ke-19 yang dilancarkan militer. Kudeta militer pertama kali terjadi pada 1932 ketika sekelompok kecil tentara menggulingkan kekuasaan monarki absolut Raja Prajadhipok. Kudeta yang dikenal dengan Revolusi Siam itu telah mengubah wajah Thailand dari monarki absolut menjadi monarki konstitusional. Sejak saat itu, serangkaian kudeta berulang kali terjadi, termasuk kudeta terakhir yang mengakhiri kekuasaan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pada 19 September 2006.
Kini, delapan tahun kemudian, sejarah gelap Thailand kembali terulang seiring dengan keputusan Jenderal Prayuth mengambil alih pemerintahan. Krisis politik yang berujung kudeta ini bermula dari demonstrasi menuntut pengunduran diri PM Yingluck Shinawatra sejak November tahun lalu. Aksi protes itu dipicu oleh amnesti yang diberikan pemerintah kepada Thaksin. Amnesti yang membatalkan vonis dua tahun
10
penjara yang diterima Thaksin karena kasus korupsi pada 2008 tersebut memungkinkan kakak kandung Yingluck ini pulang dari pengasingannya sebagai orang bebas.
Bagi kubu oposisi, pembebasan Thaksin telah mencederai rasa keadilan rakyat. Selama menjadi PM, pengusaha telekomunikasi itu terbukti menyelewengkan kekuasaan untuk kepentingan kerajaan bisnis dan para kroninya. Karena itu, kepulangan Thaksin ke Thailand tanpa menjalani hukuman dikhawatirkan membuka kesempatan baginya untuk kembali terjun ke panggung politik sehingga berpotensi menyuburkan praktek korupsi. Hal itulah yang ditolak pemimpin oposisi Suthep Thaugsubuan yang lantas mengerahkan massa untuk turun ke jalan. Dampaknya, suhu politik Thailand semakin memanas.
Harapan atas berakhirnya krisis politik sempat menyeruak ketika pada 7 Mei 2014, Mahkamah Konstitusi Thailand memberhentikan Yingluck karena telah menyalahgunakan kekuasaan lantaran mengganti Kepala Keamanan Nasional Thawil Pliensri dengan salah seorang kerabatnya, Priewpan Damapong, pada 2011. Selain itu, Yingluck juga dinyatakan bersalah atas kasus korupsi skema subsidi beras. Namun, alih-alih menyelesaikan masalah, pelengseran Yingluck itu justru diprotes para pendukungnya. Para loyalis keluarga Shinawatra yang mayoritas berasal dari pedesaan menyerbu pusat kota meneriakkan penolakan atas penggulingan Yingluck.
Tak pelak, bentrokan berdarah dengan massa oposisi tidak terhindarkan. Hingga kini, bentrokan antara dua kubu itu telah
menewaskan 28 jiwa dan melukai ratusan orang lainnya (The
11
berkompromi. Namun, setelah dua hari berunding, pemerintah dan oposisi ternyata gagal mencapai kesepakatan.
Bagi militer, ketika kepemimpinan sipil tidak mampu menyelesaikan masalah, kudeta adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan negara. Militer terasa ringan melancarkan kudeta karena meyakini bahwa Raja Bhumibol Adulyadeh yang sangat dihormati rakyat Thailand mendukung penuh keputusan itu. Selama ini, Raja Bhumibol memang tidak pernah bersuara dalam merespon konflik politik negerinya. Namun, kedekatan keluarga kerajaan dengan kubu oposisi dapat dibaca sebagai sinyal penolakan raja atas pemerintahan yang dikuasai keluarga Shinawatra.
Persoalannya, kudeta militer belum tentu bakal menyelesaikan masalah pelik yang dihadapi Thailand sekarang ini. Dalam jangka pendek, kudeta militer memang mampu meredam gejolak politik. Tetapi, dalam jangka panjang, kudeta militer diragukan mampu mengakhiri kisruh politik yang telah berlangsung bertahun-tahun. Apalagi, kebijakan pertama militer setelah kudeta adalah membekukan konstitusi 2007, kecuali pasal-pasal yang terkait dengan kerajaan.
Dengan pembekuan konstitusi, maka Thailand dipastikan kembali ke titik nol. Hukum di negara tetangga kita itu tidak lagi berlandaskan konstitusi, melainkan berdasarkan hukum darurat militer yang telah diberlakukan. Atas dasar itu, militer berhak secara otoriter mengendalikan keadaan di seluruh penjuru negeri, termasuk menangkapi pihak-pihak yang menentang dan melarang pemberitaan media. Tentu, hal ini akan memantik masalah baru dan dapat memicu kecaman dunia internasional.
12
oleh kelompok yang berafiliasi dengan keluarga Shinawatra. Kemungkinan itu besar terjadi mengingat keluarga Shinawatra memiliki basis pendukung kuat di pedesaan yang merupakan masyarakat mayoritas di Thailand.
Namun, meski unggul dalam kuantitas, pendukung Shinawatra kalah dalam kualitas. Meski minoritas, kelompok penentang Shinawatra menguasai akses-akses informasi dan sumber-sumber ekonomi yang dapat digerakkan untuk mengendalikan situasi politik. Mereka akan memanfaatkan kekuasaan militer sekarang untuk berkonsolidasi merebut kekuasaan dari lawan politiknya itu. Mereka juga akan berancang-ancang untuk menggulingkan pemerintahan jika kekuasaan nantinya kembali ke pangkuan keluarga Shinawatra.
Situasi semacam itulah yang bakal dihadapi militer pascakudeta. Jika militer tetap tidak mampu mendorong kedua kubu untuk rekonsiliasi dan menerima apapun hasil pemilu, Thailand akan terus diguncang kekisruhan politik yang tidak
jelas ujungnya.
13
4
Merangkul Asia, Mengepung Tiongkok
unjungan Barack Obama ke Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Filipina pada 24-28 April 2014 semakin
mempertegas hasrat Amerika Serikat untuk
memperkokoh pengaruh geopolitiknya di Asia. Kunjungan kenegaraan Obama itu merupakan babak baru dari serangkaian lawatan sebelumnya ke India, Indonesia, Korea Selatan, dan Jepang pada 2010, serta partisipasi AS dalam East Asian Summit di Bali pada 2011. Obama menganggap kunjungannya kali ini sangat penting setelah dia membatalkan kehadirannya dalam APEC Summit di Bali tahun lalu karena fokus menyelesaikan
shutdown yang diderita pemerintah AS.
Arti Strategis Asia
Dalam hubungan internasional, kunjungan seorang presiden berulang kali ke suatu kawasan tertentu menunjukkan betapa strategisnya kawasan itu bagi negaranya. Bagi AS, Asia adalah kawasan sangat penting yang berpotensi memengaruhi konstelasi ekonomi dan politik global di masa depan. Betapa tidak, sejumlah raksasa ekonomi dunia lahir dan berkembang pesat di Asia satu dekade terakhir. Namun, di balik kemajuan positif itu, stabilitas politik kawasan terancam oleh konflik antara beberapa negara Asia. Karena itu, Obama memandang kehadiran AS di Asia amat strategis untuk mengamankan kepentingan geopolitik negara adidaya ini dengan memanfaatkan negara-negara sekutunya.
14
Sejak menjabat presiden pada 2009, Obama memang langsung mengalihkan fokus politik luar negeri AS dari Timur Tengah ke Asia. Sebelumnya, perang melawan terorisme yang terkonsentrasi di Timur Tengah telah meminggirkan Asia dari radar politik luar negeri AS di masa George W. Bush. Tetapi, krisis global pada 2008 yang membenamkan AS dalam kesulitan ekonomi telah menyadarkan para pengambil kebijakan negara ini untuk berpaling ke Asia yang terbukti memiliki daya tahan ekonomi relatif bagus.
Harus diakui, dibandingkan AS dan Eropa, pertumbuhan ekonomi Asia beberapa tahun ini cukup stabil, berada di kisaran 6-7 persen. Meskipun demikian, kekhawatiran muncul seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun ini. Setelah menikmati kejayaan dengan pertumbuhan hingga dua digit, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal pertama 2014 menurun menjadi 7,3 persen. Situasi inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh AS untuk merangkul Asia demi mengepung Tiongkok agar tidak menjadi kekuatan dominan di kawasan.
Menghambat Laju Tiongkok
15
Secara head to head, pada 2013, nilai total perdagangan AS
dan Tiongkok mencapai USD 562 miliar. Nilai sebesar itu menjadikan Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar kedua AS. Persoalannya, AS mengalami defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok hingga USD 318 miliar. Wajar jika AS berniat mengalahkan Tiongkok tidak dengan berhadapan secara langsung, melainkan melalui strategi pengepungan di Asia sebagai pasar terbesar di dunia (sekitar 4 miliar penduduk). Pengepungan itu tidak terbatas pada menangkal pengaruh ekonomi Tiongkok, tetapi juga mengurung negeri komunis ini dalam sangkar ketidakberdayaan politik.
Hal itu terbukti dari agenda utama pembentukan Trans-Pacific Partnership (TPP) yang diusung Obama dalam pertemuan bilateralnya dengan para kepala negara yang dikunjungi. TPP merupakan blok perdagangan yang digagas AS untuk mengintegrasikan ekonomi 12 negara di kawasan Pasifik tanpa melibatkan Tiongkok. Direncanakan, perwakilan 12 negara tersebut akan bertemu untuk mematangkan pembentukan TPP di Vietnam pada Mei 2014.
16
difungsikan juga sebagai benteng Filipina menghadapi sengketa wilayah melawan Tiongkok.
Mencermati sepak terjang AS itu, tampak jelas bahwa negara ini berniat mengepung Tiongkok dari segala penjuru. Jika Beijing tidak mampu membendungnya, strategi AS itu kemungkinan besar berdampak pada berkurangnya pengaruh Tiongkok di Asia. Sebagai salah satu negara besar di Asia yang diproyeksikan tergabung dalam TPP sekaligus mempunyai hubungan baik dengan Tiongkok, Indonesia harus mewaspadai pertarungan dua raksasa ekonomi global tersebut. Strategi jitu perlu dirumuskan Jakarta agar negara kita tidak sekadar menjadi pengikut AS dan Tiongkok, tetapi juga turut menentukan
dinamika politik dan ekonomi kawasan.
17
5
Skenario Masa Depan Thailand
eputusan pemerintahan Perdana Menteri ad interim Yingluck Shinawatra untuk tetap mengadakan pemilu di tengah gelombang protes kubu oposisi semakin memanaskan suhu politik Thailand. Aksi demonstrasi yang semula hanya terjadi di Bangkok, kini menjalar ke kota-kota lain di Thailand. Unjuk rasa di Bangkok bahkan berhasil melumpuhkan ibukota ini. Demonstran telah menduduki jalan-jalan utama di Bangkok dan menyegel kantor-kantor pemerintah dengan tujuan untuk menghentikan aktivitas pemerintah.
Bagi Yingluck, inilah ujian terberat selama masa kepemimpinannya. Sejak berkuasa pada 2011, pemerintahan Yingluck sesungguhnya relatif tidak mendapatkan gangguan berarti dari kubu oposisi. Namun, amnesti yang diberikan pemerintah kepada mantan PM Thaksin Shinawatra November tahun lalu membangkitkan kemarahan rakyat yang akhirnya turun ke jalan menuntut pengunduran diri Yingluck. Amnesti yang membatalkan vonis dua tahun penjara yang diterima Thaksin karena kasus korupsi pada 2008 tersebut memungkinkan kakak kandung Yingluck ini pulang dari pengasingannya sebagai orang bebas.
Bagi kubu oposisi, pembebasan Thaksin telah mencederai rasa keadilan rakyat. Selama menjadi PM, pengusaha telekomunikasi itu terbukti menyelewengkan kekuasaan untuk kepentingan kerajaan bisnis dan para kroninya. Kudeta militer terhadap Thaksin pada 2006 dipandang sebagai sebuah tindakan politik yang sudah semestinya dijalankan untuk menyelamatkan
18
negara. Karena itu, kepulangan Thaksin ke Thailand tanpa menjalani hukuman dikhawatirkan membuka kesempatan baginya untuk kembali terjun ke panggung politik sehingga berpotensi menyuburkan praktek korupsi.
Akibat konflik politik yang kian panas antara pemerintah dan oposisi, masa depan Thailand kini dihadapkan pada situasi tak menentu. Mencermati sikap pemerintah yang tetap ngotot menyelenggarakan pemungutan suara pada Minggu (2/2), ada dua skenario yang dapat menggambarkan masa depan Thailand pascapemilu. Pertama, konflik berdarah semakin meluas terjadi di seantero negeri sehingga menjerumuskan Thailand dalam instabilitas politik dan keamanan. Kedua, untuk mengembalikan stabilitas, militer akhirnya melancarkan kudeta terhadap pemerintahan Yingluck dan menggantikannya dengan pemerintahan sementara.
Konflik Berdarah
Kengototan pemerintah untuk mengadakan pemilu lantaran Yingluck yakin partai Puea Thai yang dipimpinnya akan menang telak. Keyakinannya itu berlandaskan pada kenyataan bahwa kaum miskin yang tersebar di pedesaan masih setia mendukungnya. Dibandingkan kelas menengah perkotaan yang mendukung Partai Demokrat sebagai pimpinan oposisi, jumlah mereka jauh lebih banyak.
19
Ancaman itu sudah dibuktikan ketika massa oposisi memblokade sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) dalam pemilu pendahuluan pada Minggu, 26 Januari 2014. Akibat blokade itu, 440 ribu dari 2,16 juta pemilih terdaftar tidak dapat menggunakan hak pilihnya. Di samping itu, pemungutan suara tidak dapat dijalankan di 89 dari 375 daerah pemilihan. Di antara 89 daerah pemilihan itu, mayoritas terpusat di Bangkok dan wilayah selatan Thailand yang memang merupakan basis Partai
Demokrat (The Straits Times, 27/1/2014).
Karena itu, jika pemilu tetap dilaksanakan sesuai jadwal, hampir dapat dipastikan situasi serupa akan terjadi. Dampaknya, di satu sisi, pemerintahan tidak dapat terbentuk karena parlemen tidak memenuhi kuorum akibat kegagalan penyelenggaran pemungutan suara di sejumlah daerah pemilihan. Di sisi lain, bentrokan berdarah tidak terhindar karena aparat cenderung represif dalam memadamkan unjuk rasa. Sejauh ini, 10 nyawa telah melayang, termasuk salah seorang pemimpin demonstran yang tewas tertembak di dekat sebuah TPS pemilu pendahuluan di Bangkok. Hal itu mengindikasikan bahwa benih-benih konflik berdarah yang lebih besar sebenarnya sudah mulai bermunculan dan akan mencapai puncaknya pada hari H pelaksanaan pemilu.
Kudeta Militer
20
berdarah. Situasi ini sebenarnya sudah tergambarkan dari simbolisasi ‘kaos merah’ (pendukung pemerintah) versus ‘kaos kuning’ (pendukung oposisi) yang kerap kali memenuhi jalanan kota Bangkok.
Bagi militer, situasi semacam itu jelas merupakan ancaman bagi negara. Alih-alih mampu dan cakap dalam mengelola negara, elit militer justru memandang pemerintahan Yingluck telah menjerumuskan negara dalam perpecahan. Jika dibiarkan, negara dalam kondisi bahaya. Karena itu, Yingluck kemungkinan akan bernasib sama dengan kakaknya, dikudeta oleh militer. Kemungkinan itu sangat terbuka mengingat dalam sejarah Thailand, militer telah melancarkan kudeta sebanyak 18 kali, baik direstui atau tidak oleh raja.
Selama ini Raja Bhumibol Adulyadeh memang tidak pernah bersuara dalam merespon konflik politik negerinya. Namun, kedekatan keluarga kerajaan dengan kubu oposisi dapat dibaca sebagai sinyal penolakan raja atas pemerintahan Yingluck. Hal inilah yang meringankan langkah militer dalam melancarkan kudeta.
Serupa dengan skenario setelah Thaksin dikudeta delapan tahun lalu, pemerintahan Yingluck bakal digantikan oleh pemerintahan sementara yang dibentuk khusus untuk menjalankan agenda reformasi dalam memerangi korupsi dan mempersiapkan pemilu. Persoalannya, masalah akan terus berulang jika ternyata pemilu dimenangkan oleh kubu Yingluck.
Inilah deja vu politik Thailand yang sulit diprediksi ujung
ceritanya.
21
6
Agenda Terselubung AS di Syria
esepakatan Amerika Serikat dan Rusia untuk memusnahkan senjata kimia Syria yang dicapai dalam perundingan antara kedua negara di Jenewa pada Sabtu 14 September 2013, tidak otomatis melenyapkan ancaman perang di Timur Tengah. Bayang-bayang intervensi militer AS ke Syria tetap menghantui seiring adanya kekhawatiran bahwa Presiden Bashar Assad tidak melaksanakan kesepakatan itu. Assad bahkan membantah tentara Syria melancarkan serangan kimia terhadap pemberontak di Distrik Ghouta, Damaskus, pada 21 Agustus 2013, seperti yang dituduhkan AS. Putra mendiang Hafez Assad ini justru menuding oposisi yang menggunakan senjata kimia dalam pertempuran yang menewaskan 1.429 orang tersebut.
Mengantisipasi kemungkinan penolakan Assad itu, Presiden AS Barack Obama bersumpah untuk bertindak secara unilateral
menyerang Syria. Dalam pernyataannya, Obama menegaskan “if
the regime of Syria's President Bashar al-Assad does not live up to the deal Washington reached with Syria's ally Russia, the United States remains prepared to act” (Al Jazeera, 15/9/2013). Jika rencana serangan yang tertunda itu benar-benar dilancarkan AS, perang lebih besar yang melibatkan berbagai negara berpotensi terjadi dalam waktu dekat. Bagi Obama, seiring lampu hijau yang telah dinyalakan Kongres, memulai intervensi militer di Syria bukanlah perkara sulit. Sejalan dengan kesiapsiagaan pasukan AS di Laut Mediterania, tekad Obama untuk mendongkel Assad dari tampuk kekuasaan tampaknya tidak bisa dibendung lagi.
22
Meskipun rencana invasi ke Syria baru mengemuka akhir-akhir ini, AS sesungguhnya telah berniat menyerang negeri Syam ini sejak lama. Hanya saja, sejak perang sipil di Syria pecah pada Maret 2011, Obama tidak memiliki momentum untuk merealisasikan rencana tersebut. Kini, mantan Senator Illinois itu telah mendapatkan momentum setelah muncul dugaan rezim Assad menggunakan senjata kimia. Masalahnya, motif sesungguhnya di balik intervensi itu bukanlah demi alasan kemanusiaan, melainkan untuk memuluskan agenda terselubung AS dalam menguasai Timur Tengah. Jika Syria berhasil dikendalikan, AS akan dapat dengan mudah melumpuhkan Iran dan melindungi Israel di kawasan kaya minyak ini.
Melumpuhkan Iran
Setelah Taliban digulingkan di Afghanistan (2001), Saddam Hussein dieksekusi mati di Irak (2006), dan Osama bin Laden tewas ditembak di Pakistan (2011), Iran kini menjelma menjadi musuh nomor satu AS. Meskipun Iran sekarang dipimpin oleh presiden moderat, Hassan Rouhani, tetapi hal itu tidak menjamin negeri Persia ini bersikap lunak terhadap AS mengingat kendali kekuasaan tetap terpusat pada Pemimpin Tertinggi Ayatullah Khamenei, seorang ulama konservatif penentang Paman Sam. AS menyadari bahwa Iran tidak bisa dilumpuhkan dari dalam, namun harus diawali dari luar. Iran hanya bisa dilumpuhkan jika kaki-kaki pengaruhnya di Timur Tengah berhasil direbut.
23
Pengaruh Iran di Syria semakin menguat karena ditopang oleh Rusia. Bagi Rusia, Syria merupakan mitra strategis yang mampu mengamankan kepentingan negeri Beruang Merah ini di Timur Tengah. Persahabatan Rusia dan Syria telah terjalin lama, bahkan sejak Perang Dingin. Kedua negara ini selalu bahu membahu melawan dominasi AS dan Israel di kawasan. Tidak mengherankan jika Presiden Vladimir Putin ingin
mempertahankan kondisi status quo di Syria. Sebab, perubahan
rezim di negara ini akan berakibat pada meredupnya pengaruh Rusia di Timur Tengah.
Atas dasar itulah, penguasaan atas Syria adalah kebutuhan urgen bagi AS. Menyerang Syria adalah opsi paling memungkinkan dibandingkan menyerbu Iran yang jelas lebih beresiko. Memanfaatkan kondisi Syria yang sedang kacau, AS tentu tidak mau menunggu lebih lama lagi untuk melumpuhkan Iran melalui negara satelitnya. Apabila negeri Mullah itu berhasil dilumpuhkan, Israel pasti terlindungi dengan baik.
Melindungi Israel
Secara geopolitik, posisi Syria sangat strategis. Berlokasi di titik persinggungan antara benua Asia dan Eropa, wilayah Syria berbatasan langsung dengan lima negara penting di Timur Tengah, yakni Israel, Lebanon, Irak, Jordania, dan Turki. Karena
itu, Syria sering dijadikan sebagai negara penyangga (buffer
state) oleh kekuatan-kekuatan politik yang berkepentingan di Timur Tengah.
24
Sejak saat itu, melalui Syria, Iran terus memasok senjata untuk milisi Hizbullah. Alhasil, Hizbullah berkembang menjadi gerakan anti-Zionis yang memiliki kekuatan besar untuk mengancam Israel. Ancaman Hizbullah sangat nyata, terbukti dari serangannya yang menewaskan delapan tentara Israel pada Juli 2006 silam. Meskipun Israel telah berulang kali menggempur Hizbullah, namun organisasi pimpinan Hassan Nasrallah ini tetap mampu bertahan, bahkan berkontribusi besar mengamankan kekuasaan Assad. Karena itu, Israel sangat berharap AS menginvasi Syria secepatnya.
Mencermati konstelasi geopolitik semacam itu, tidak mengherankan jika AS berhasrat menjatuhkan Assad. AS meyakini jika Assad berhasil digulingkan dan digantikan penguasa yang pro negara adidaya ini, kekuatan Iran kian meredup dan Israel semakin terlindungi. Jika kepentingan itu tercapai, dapat dipastikan AS akan mampu mengendalikan
Timur Tengah sepenuhnya.
25
7
Mendorong Rekonsiliasi Mesir
enyerbuan tentara dan polisi Mesir ke kamp konsentrasi massa pendukung Presiden terguling Muhammad Mursi di Rabiah Al Adawiyah Square dan Nahda Square pada Rabu, 14 Agustus 2013, semakin memperparah krisis politik di
negara ini. Stasiun televisi CNN melaporkan setidaknya 235
warga sipil dan 43 polisi tewas dalam insiden berdarah itu. Besarnya jumlah korban tersebut menambah panjang daftar rakyat Mesir yang harus kehilangan nyawanya sejak Mursi dikudeta militer 3 Juli lalu. Hingga kini tercatat lebih dari 500 orang tewas akibat konflik politik Mesir sebulan terakhir. Jumlah itu jauh melebihi korban tewas ketika revolusi Musim Semi Arab berhasil menjatuhkan Husni Mubarak awal 2011 silam.
Tidak mengherankan jika perkembangan terkini Mesir mendatangkan keprihatinan mendalam dari berbagai pihak. Sejumlah pemimpin dunia mengecam insiden Rabu berdarah tersebut. Melalui Menteri Luar Negeri John Kerry, Amerika Serikat menyayangkan terjadinya aksi kekerasan yang dapat
memunculkan “greater instability, economic disaster, and
suffering.” Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton mendesak otoritas Mesir untuk kembali ke jalan demokrasi. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon mendorong semua pihak yang bertikai untuk melakukan
rekonsiliasi secara damai (Al Jazeera, 15/8/2013).
Namun, tentu kecaman masyarakat internasional tidak lantas mengubah keadaan Mesir menjadi lebih baik mengingat
26
di dalam negeri, militer yang kini berkuasa dan Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan pendukung Mursi terus mengumandangkan pesan perlawanan. Bahkan, konflik yang lebih meluas semakin membayangi seiring seruan Ikhwanul Muslimin kepada seluruh rakyat Mesir untuk turun ke jalan
guna menghentikan pembantaian (Jawa Pos, 15/8/2013).
Bisa dibayangkan, jika massa pendukung Mursi merespon seruan itu dengan unjuk rasa yang lebih besar, hampir dapat dipastikan bentrokan berdarah akan kembali pecah. Dalam kondisi demikian, cepat atau lambat, Mesir akan terbenam ke titik nol. Negara yang berada di titik nol bagaikan sebuah negara yang baru saja merdeka. Situasi sosial politik tidak sepenuhnya stabil karena konflik terus meletup di akar rumput. Demokrasi belum terbangun secara memadai karena penguasa masih melakukan berbagai eksperimen untuk menemukan model sistem demokratis yang tepat. Para pemimpin politik tidak pernah berhenti bertikai hingga tak jarang mengorbankan rakyat.
Keadaan semacam itulah yang kini tergambar di Mesir. Betapa tidak, bangunan demokrasi yang mulai tertata melalui pemilihan umum jujur dan adil tahun lalu diruntuhkan militer lewat kudeta terhadap presiden yang terpilih secara sah dan demokratis. Akibatnya, proses demokratisasi harus dimulai dari titik paling awal lagi dengan harapan terciptanya situasi yang kondusif dan stabil. Namun, alih-alih menghadirkan stabilitas di seluruh negeri, yang muncul malah sebaliknya. Aneka aksi kekerasan terjadi dimana-mana dan mencapai puncaknya dalam insiden Rabu berdarah (14/8/2013).
27
negeri ini. Kudeta militer yang dimaksudkan untuk merealisasikan cita-cita revolusi pun juga gagal menjamin masa depan yang cerah bagi keberlanjutan proses demokratisasi Mesir.
Upaya Rekonsiliasi
Untuk mengembalikan demokrasi ke jalurnya yang tepat, rekonsiliasi antara berbagai pihak yang bertikai mutlak dilakukan. Harus diakui, penguasa militer telah gagal menciptakan rekonsiliasi antara berbagai kelompok di Mesir. Bahkan, dalam kubu penguasa pun, elemen-elemen pendukung kudeta kini mulai terpecah belah. Partai Nour yang merepresentasikan politik Islam Salafi memilih hengkang dari kekuasaan. Wakil Presiden Muhammad El Baradei juga memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya. Mereka memprotes praktik otoritarianisme yang dilancarkan militer.
Di luar itu, proses negosiasi dengan Ikhwanul Muslimin mengalami jalan buntu. Tawaran militer untuk mengadakan pemilu yang dipercepat ditolak kubu pendukung Mursi ini. Sebaliknya, tuntutan Ikhwanul Muslimin untuk mengembalikan Mursi ke kursi presiden tidak dapat diterima oleh militer. Dalam kondisi demikian, sukar untuk berharap perdamaian tercipta melalui upaya-upaya rekonsiliasi domestik. Karena itu, dibutuhkan peran lebih besar dari masyarakat internasional untuk mempertemukan pihak-pihak yang bertikai demi menghentikan konflik.
28
Jalan kedua dapat dilakukan secara bilateral oleh negara-negara yang memiliki hubungan baik dengan Mesir. Sebagai negara sahabat, Indonesia harus mengambil peran lebih aktif. Negara kita perlu mengirimkan utusan khusus untuk melakukan proses mediasi. Hal itu penting dilakukan bukan untuk kepentingan Mesir semata, tetapi juga kepentingan Indonesia karena instabilitas Mesir dapat mengancam sekitar 5.000 WNI yang tinggal di negara ini.
Presiden Yudhoyono hendaknya mengambil inisiatif membantu penyelesaian krisis Mesir karena secara historis Indonesia sesungguhnya berhutang budi kepada negeri piramida ini. Di awal kemerdekaan kita tahun 1945, ketika negara-negara lain belum mengakuinya, Mesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia sehingga negara ini dapat berdiri tegak sebagai sebuah negara merdeka di panggung internasional. Modal historis itulah yang dapat dijadikan Indonesia untuk berperan aktif mendorong proses rekonsiliasi
Mesir.
29
8
Indonesia (Bukan) Negara Gagal?
ada 9 Juli 2013, majalah Foreign Policy merilis laporan
Failed States Index (FSI) yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-76 dari 178 negara, turun 13 peringkat dari tahun 2012. Hal itu menandakan adanya perbaikan kondisi di negara ini. Artinya, negara kita sesungguhnya sedang bergerak maju, meskipun hasilnya belum memuaskan.
FSI mengategorikan 178 negara ke dalam empat kelompok,
yakni alert (peringkat 1-35), warning (36-126), stable (127-164),
dan sustainable (165-178). Sesuai dengan kategorisasi tersebut,
Indonesia termasuk dalam kelompok warning. Karena itu,
Indonesia sesungguhnya tidak termasuk negara gagal, tetapi tergolong negara lemah. Namun, potensi menjadi negara gagal tetap terbuka jika tidak ada perbaikan serius di semua sektor.
Kriteria
Untuk mengukur kegagalan dan kelemahan negara, sejumlah pakar memiliki kriteria beragam. Menurut Robert I. Rotberg (2002), negara gagal dicirikan oleh meningkatnya kekerasan politik, hilangnya kontrol atas wilayah perbatasan, merebaknya perang sipil, bobroknya institusi publik, menggejalanya korupsi, menurunnya tingkat pendapatan per kapita, serta langkanya pasokan kebutuhan pangan yang berdampak pada kelaparan dan kekurangan gizi warga negara.
Sebagian besar negara yang berkategori negara gagal berada di Afrika. Di Somalia (peringkat 1), akibat perang sipil yang
30
terjadi sejak 1991, negara ini kolaps. Di Kongo (peringkat 2), kesengsaraan ekonomi dan politik akibat tekanan rezim penguasa yang dilawan pemberontak dengan memanfaatkan kekayaan berlian yang berlimpah membuat negara ini luluh lantak. Di Sudan (peringkat 3) dan Sudan Selatan (peringkat 4), konflik etnis yang memicu partisi Sudan Selatan dari Sudan menjadikan kedua negara ini hancur lebur.
Serupa, tapi tak sama dengan negara gagal, Susan Rice dan Stewart Patrick (2005) mendefinisikan negara lemah sebagai negara yang institusi publiknya tidak begitu dipercaya oleh masyarakat, tidak mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, rentan atas intervensi eksternal, dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup dasar warga negaranya. Mencermati pandangan tersebut, negara lemah tampak memiliki struktur ekonomi, politik, dan sosial lebih kuat dibandingkan negara gagal.
Negara lemah memang memiliki kesulitan ekonomi,
kendala geografis, dan hambatan infrastruktur. Tetapi, negara lemah pada dasarnya kuat, hanya saja menjadi lemah karena
munculnya konflik internal, kesalahan manajemen
pemerintahan, kerakusan penguasa, dan serangan eksternal. Dalam beberapa hal, negara lemah mengabaikan penegakan hukum, membiarkan korupsi terus merajalela, menutup mata atas terjadinya diskriminasi warga negara, dan konflik sosial terus meletup.
31
Ketiga, indikator keamanan yang diukur melalui kemampuan negara dalam menyediakan keamanan fisik bagi warganya dari ancaman konflik kekerasan. Keempat, indikator kesejahteraan sosial yang diukur berdasarkan kemampuan negara untuk memenuhi kebutuhan dasar warganya dalam layanan kesehatan dan pendidikan. Berdasarkan keempat indikator tersebut, Indonesia dapat dikategorikan sebagai negara lemah, bukan negara gagal, apalagi kolaps.
Kelemahan Indonesia
Meskipun dalam kondisi warning, Indonesia sebenarnya
masih lebih baik dibandingkan negara-negara tetangga seperti Myanmar (peringkat 26), Timor Leste (32), Kamboja (41), Papua Nugini (53), Laos (58), dan Filipina (59). Walaupun demikian, tetap saja kondisi Indonesia sangat mencemaskan. Kita seringkali melihat kelemahan negara ini di berbagai sektor.
Harus diakui, negara belum mampu mengentaskan 32 juta penduduk dari kemiskinan. Antrean panjang warga yang ingin mendapatkan bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) adalah cerminan kondisi itu. Tidak terbantahkan pula, lembaga-lembaga politik seperti DPR dan kementerian tidak mampu memenuhi akuntabilitas publik seiring dengan menjamurnya korupsi yang menimbulkan inefektivitas pemerintahan. Buktinya, sejumlah pimpinan partai politik, bahkan menteri, digelandang ke meja hijau akibat menerima kucuran uang haram kasus korupsi impor daging, pembangunan pusat olahraga Hambalang, dan percepatan pembangunan infrastruktur daerah.
32
bangunan gedung sekolah, pembalakan liar, dan lain sebagainya. Semua kelemahan tersebut adalah ancaman potensial bagi negara kita. Apabila tidak ditanggulangi segera, ancaman itu berpotensi meningkat menjadi ancaman aktual yang dapat membenamkan republik ini ke dalam jurang kegagalan.
Agar kondisi buruk itu tidak terjadi, pemerintah harus secepatnya menyelesaikan semua akar masalah yang membelit bangsa ini dan bukannya terlena oleh pujian yang digelontorkan oleh dunia internasional sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia yang berpotensi menjadi kekuatan ekonomi global. Pujian itu hendaknya menjadi cambuk untuk terus memperbaiki diri, bukan untuk kepentingan sesaat, tetapi demi
Indonesia yang lebih maju di masa depan. Semoga!
33
9
Warisan Ahmadinejad, Tantangan
Rouhani
eiring dengan kemenangannya dalam pemilu Iran pada Jumat, 14 Juni 2013, Hassan Rouhani dipastikan terpilih sebagai presiden menggantikan Mahmoud Ahmadinejad. Dalam pemilihan presiden kesebelas sepanjang sejarah Iran itu, Rouhani yang termasuk golongan reformis meraup 18,6 juta suara (50,7 persen), unggul jauh di atas para pesaingnya dari kubu konservatif, Mohammad Bagher Qalibaf (15,3 persen) dan Mohsen Rezaei (12,6 persen). Tiga kandidat lainnya, Ali Akbar Velayati, Saeed Jalili, dan Mohammad Gharazi, memperoleh suara tidak lebih dari 10 persen. Dengan suara mayoritas 50% + 1 ada dalam genggamannya, Rouhani melenggang mulus ke kursi presiden hanya dalam satu putaran.
Kemenangan Rouhani sangat mengejutkan. Sebab, dalam sejumlah jajak pendapat sebelum hari H pilpres, politikus 64 tahun itu memang diprediksi menang, tetapi suaranya tidak bakal mencapai 50 persen. Pada jajak pendapat yang diadakan oleh lembaga survei Aftab misalnya (11/6/2013), Rouhani diperkirakan meraup 27,2 persen, unggul tipis dari Ghalibaf (20,1 persen) dan Mohammed Reza Aref (14,6 persen).
Namun, konstelasi politik mendadak berubah setelah Aref yang berasal dari kelompok reformis mengundurkan diri tiga hari sebelum pilpres. Hal itulah yang akhirnya menyatukan suara reformis dan memecah suara konservatif. Kelompok reformis kian solid dan percaya diri setelah dua mantan
34
presiden, Ali Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mohammad Khatami, menyatakan dukungannya terhadap Rouhani. Dampaknya sangat dahsyat, suara mantan Ketua Dewan Keamanan Nasional Iran itu terkatrol hingga hampir dua kali lipat.
Pertarungan politik Iran memang selalu melibatkan kalangan konservatif dan reformis. Kubu konservatif yang kini berkuasa dan sangat dekat dengan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei cenderung represif dalam politik domestik dan tak segan berkonfrontasi langsung dengan Amerika Serikat di panggung global. Sedangkan, kubu reformis menyerukan adanya kehidupan yang lebih bebas dan berkeinginan menurunkan ketegangan dengan negara-negara Barat yang selama ini mencurigai program nuklir Iran.
Empat tahun terakhir, konflik antara dua kelompok tersebut semakin memanas. Pemicunya adalah terpilihnya kembali Ahmadinejad sebagai presiden setelah memenangkan pilpres 2009 melawan kandidat reformis, Mir Hossein Mousavi. Merasa dicurangi penguasa, Mousavi lantas menggerakkan demonstrasi besar-besaran untuk memprotes hasil pilpres yang berujung pada serangkaian aksi kekerasan di jalan-jalan Teheran. Pemerintahan Ahmadinejad menyikapinya secara represif dengan menangkap Mousavi dan menjebloskannya dalam tahanan rumah hingga kini.
35
kebebasan informasi dibungkam penguasa, kaum muda ini pasti akan berontak.
Karena itu, kemenangan Rouhani sesungguhnya dapat dikatakan sebagai kemenangan kaum muda yang jenuh dengan situasi Iran kontemporer. Betapa tidak, di masa Ahmadinejad, Iran tenggelam dalam kubangan utang yang mencapai US$ 500 miliar, terjerat inflasi 40 persen, dan tercekik oleh pertumbuhan ekonomi negatif. Celakanya, negeri para mullah ini sedang terisolir dalam politik dunia sehingga harapan untuk mendapatkan bantuan ekonomi dari negara-negara maju bagaikan mimpi di siang bolong. Dalam kondisi tidak menguntungkan seperti itulah Ahmadinejad mewariskan pemerintahannya kepada Rouhani.
Tak pelak, tantangan Rouhani ke depan tidak bisa dikatakan ringan. Presiden ketujuh Iran ini tidak hanya dihadapkan pada tantangan serius di dalam negeri, tetapi juga tantangan pelik di luar negeri. Harapan rakyat Iran untuk menikmati kebebasan barangkali dapat diwujudkan Rouhani dengan mudah. Sejak awal, dia telah berjanji untuk memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada rakyat Iran dan membebaskan seluruh tahanan
politik (CNN, 16/6/2013). Tetapi, tentu bukan kebebasan semata
yang diinginkan rakyat Iran. Lebih dari itu, rakyat Iran mengimpikan masa depan ekonomi yang cerah.
36
Moderasi Rouhani mulai tampak ketika dia menyampaikan
pidato kemenangannya dengan menyatakan: “A new
opportunity has been created by this great epic, and the nations who tout democracy and open dialogue should speak to the Iranian people with respect and recognise the rights of the Islamic Republic.” (Al Jazeera, 16/6/2013). Persoalannya, sikap Rouhani yang moderat berkebalikan dengan sikap Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang keras terhadap Barat. Keduanya memiliki sejarah hubungan buruk ketika Rouhani yang menjabat juru runding nuklir Iran (2003-2005) kerapkali mengkritisi kebijakan Khamenei.
Konflik di antara kedua pemimpin tersebut bisa jadi akan muncul kembali jika politik luar negeri Iran tetap dikendalikan penuh sang pemimpin tertinggi, sementara sang presiden terpilih tidak mampu berbuat banyak untuk memenuhi harapan kaum reformis. Jika Rouhani tidak mampu membujuk Khamenei untuk memoderasi sikap Iran, kondisi negara ini tidak akan jauh berbeda dengan semasa dipimpin Ahmadinejad, tetap kritis
terhadap Barat, tetapi dengan suara yang lebih lunak.
37
10
Terorisme dan Media Massa
epanjang Kamis dan Jumat, 9-10 Mei 2013, hampir semua media massa di Indonesia menyajikan berita utama tentang penggerebekan Detasemen Khusus 88 Antiteror terhadap terduga teroris yang terjadi secara serentak di Bandung, Batang, Kendal, dan Kebumen sehari sebelumnya. Dalam operasi antiteror di empat kota itu, Densus 88 berhasil melumpuhkan 20 orang terduga teroris, tujuh di antaranya dalam kondisi tewas. Menurut keterangan pers Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar, kelompok teroris itu merupakan pelaku perampokan tiga cabang Bank Rakyat Indonesia di Batang (18/1/2013), Grobogan (29/3/2013), dan Lampung (22/4/2013) yang menghasilkan dana sekitar Rp 1,88
miliar (Jawa Pos, 10/5/2013).
Aksi kontraterorisme yang terjadi sejak Rabu siang (8/5/2013) hingga Kamis pagi (9/5/2013) tersebut berlangsung dramatis dan menegangkan. Dramatis karena ada seorang ibu beserta anaknya yang selamat meskipun terjebak dalam baku tembak antara polisi dan terduga teroris. Menegangkan karena terduga teroris tidak mau menyerah walaupun telah dibujuk polisi dan memilih untuk melawan dalam pertempuran tak seimbang itu. Tidak mengherankan jika peristiwa tersebut menarik perhatian media massa, baik cetak, elektronik, maupun situs berita online.
Sebagian besar media cetak di negeri ini menempatkan
kejadian itu sebagai headline news di halaman utama.
Sementara, sejumlah media elektronik menjadikannya sebagai
38
breaking news. Bahkan, dua stasiun televisi khusus berita seperti
Metro TV dan TV One menayangkan siaran langsung aksi tembak-menembak antara personel Densus 88 dengan terduga teroris. Di sisi lain, dalam situs berita online, detik demi detik peristiwa tersebut dilaporkan secara rinci dan cepat ke khalayak luas sehingga langsung dikonsumsi publik dalam waktu sekejap.
Intensifnya pemberitaan terorisme di media massa telah berhasil mengalihkan sejumlah isu besar (seperti korupsi) yang sebelumnya banyak diperbincangkan masyarakat. Hal inilah yang memantik kecurigaan sebagian pihak bahwa penangkapan teroris sengaja dilakukan untuk mengalihkan isu. Terlepas dari benar tidaknya dugaan itu, yang jelas segala hal terkait dengan terorisme selalu menjadi perhatian utama media massa. Pasalnya, seperti yang diungkapkan Walter Laquer (2004)
bahwa: “The media are the terrorist’s best friends, ... the
terrorist’s act by itself is nothing, publicity is all.” Fenomena ini
disebut Brigitte Nacos (2002) sebagai “mass-mediated terrorism”.
Relasi Simbiotik
Teroris dan media massa sesungguhnya memiliki relasi simbiotik. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain untuk kepentingan masing-masing. Tentu, ada perbedaan tujuan di antara mereka. Bagi teroris, media massa adalah alat komunikasi paling efektif untuk mencapai tujuannya. Menurut Brian Jenkins (1998), agar menarik perhatian media massa, seringkali teroris mendesain aksinya bagaikan sebuah koreografi drama. Mereka
merancang serangannya secara teaterikal dalam bentuk “script
preparation, cast selection, sets, props, role playing & minute-by-minute stage management” (Weiman & Winn 1994).
39
menebar ketakutan, maka media massa membuat tugas teroris untuk meneror menjadi lebih mudah dilakukan.
Bayangkan saja, untuk menebar ancaman ketakutan secara meluas kepada masyarakat, teroris tidak perlu melancarkan aksi di berbagai tempat. Cukup ledakkan bom di satu tempat atau lawan polisi yang menyerbu hingga titik darah penghabisan, aksi teroris akan diliput secara besar-besaran oleh media massa sehingga otomatis pesan mereka tersebar melintasi batas-batas geografis. Alhasil, publik yang merasa terancam bukan hanya orang-orang yang tinggal di sekitar lokasi kejadian, namun juga mereka yang hidup jauh dari pusat ledakan.
Karena itu, berbeda dengan pelaku kriminal lain yang memilih untuk menutup diri dari publisitas, jaringan teroris sangat senang aksi mereka menghiasi media massa. Hal ini juga dimaksudkan sebagai pesan terselubung kepada jaringan lain agar ikut bergerak melawan musuh. Dengan begitu, kian tampak bahwa eksistensi kelompok teroris sejatinya masih terjaga meskipun telah banyak anggotanya yang tewas atau tertangkap. Pendek kata, publisitas media massa merupakan “oksigen”, “aliran darah”, dan “sahabat baik” teroris. Tanpa media massa, teroris tidak akan mampu hidup.
Sejalan dengan hasrat teroris untuk diberitakan, media massa pun menyambut keinginan itu dalam publikasi
besar-besaran. Dalam konteks ini, “bad news is good news” masih tetap
berlaku dalam pemberitaan media massa. Kejahatan semacam
terorisme dapat dikatakan sebagai good news apabila perhatian
utama hanya menjual koran atau program televisi.
Terorisme merupakan isu seksi yang menjadi perhatian serius masyarakat sehingga liputan tentangnya bakal mampu
meningkatkan rating media massa yang memberitakan. Media
40
negara. Atas dasar pemenuhan keingintahuan publik, maka media massa pasti mengemas pemberitaan soal terorisme secara mendalam.
Selain itu, tidak dapat dipungkiri fakta adanya kelompok orang yang merasa bersimpati pada aksi dan misi jaringan teroris. Meskipun kelompok semacam ini tidak banyak, tetapi bagaimanapun mereka tetaplah konsumen media massa. Bagi media massa, mereka adalah kalangan yang unik lantaran memiliki pandangan berbeda dibandingkan pendapat mayoritas. Karena itu, kadangkala media massa mengeksposnya demi
memenuhi unsur cover both sides dalam pemberitaannya.
Dengan demikian, dapat dipahami jika setiap kali terjadi aksi peledakan bom atau penangkapan teroris, media massa pasti
meliputnya dengan gegap gempita.
41
11
Bom Boston dan Serigala Kesepian
urang dari sepekan, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) berhasil menangkap pelaku serangan bom di dekat garis finish Marathon Boston pada Senin, 15 April 2013. Berdasarkan penyelidikan FBI, aksi pengeboman itu dilancarkan oleh dua bersaudara imigran asal Checnya, Tamerlan Tsarnaev (26 tahun) dan Dzhokhar Tsarnaev (19 tahun). Setelah menjadi buron selama dua hari, jejak mereka akhirnya terlacak setelah merampok sebuah toko dekat kampus Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan menembak mati petugas keamanan kampus bergengsi ini, Kamis malam (19/4/2013) waktu setempat.
Tamerlan tewas setelah baku tembak dengan polisi yang mengejarnya. Sedangkan, Dzhokhar tertangkap dengan luka tembak di leher sehari kemudian (20/4/2013). Sang adik kini dalam kondisi kritis dan dirawat dengan penjagaan ketat di Rumah Sakit Beth Israel Deaconess, Kota Boston. Tembakan yang menembus tenggorokan Dzhokhar dikhawatirkan membuat dia tidak bisa bicara sehingga menyulitkan aparat untuk menginterogasinya. Hal itulah yang membuat motif bom Boston belum terkuak hingga kini. Apalagi, tidak ada satupun kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas pengeboman yang menewaskan tiga jiwa dan melukai 144 orang tersebut.
42
Tiga Spekulasi
Sesaat setelah bom meledak, ada tiga spekulasi yang berkembang terkait pelaku dan motif ledakan itu. Pertama, serangan itu dilancarkan oleh Tehreek-e-Taliban Pakistan sebagai aksi balas dendam atas pendudukan AS di Afghanistan. Tuduhan ini menyusul terbongkarnya rencana serangan bom mobil Taliban di Times Square, New York, pada 2010. Sebagian pejabat AS percaya bahwa kelompok militan yang bermarkas di perbatasan Pakistan dan Afghanistan tersebut berupaya melancarkan serangan kembali seiring kegagalannya tiga tahun lalu. Tetapi, hal ini dibantah oleh juru bicara Taliban Ehsanullah
Ehsan yang menyatakan: “We believe in attacking US and its
allies but we are not involved in this attack. We have no connection to this bombing but we will continue to target them wherever possible.” (AFP, 16/4/2013).
Kedua, Al Qaeda dituding sebagai dalang di balik ledakan yang mengguncang Boston. Tuduhan ini didasari oleh fakta bahwa pelaku menggunakan bom panci, sebuah teknik
pengeboman yang diajarkan Al Qaeda di majalah Inspire. Pada
2010, majalah yang dipublikasikan organisasi pimpinan Ayman
al Zawahiri ini menerbitkan sebuah artikel berjudul “Make a
Bomb in the Kitchen of Your Mom” yang memaparkan cara merakit bom dengan menggunakan panci.
Namun, bukan kebiasaan Al Qaeda melancarkan serangan terorisme tanpa diikuti klaim pertanggungjawaban. Tsarnaev bersaudara juga tidak terbukti memiliki hubungan dengan Al Qaeda. Sasaran yang diserang pun bukan termasuk target operasi
Al Qaeda. Terkait target itu, kepada USA Today (20/4/2013),
Sheikh Omar Bakri, ulama Lebanon pendukung Al Qaeda,
menegaskan bahwa: “... al-Qaeda does not seem to be linked to
43
Ketiga, bukti yang lebih kuat sebenarnya bisa ditelusuri dari latar belakang kedua pelaku yang berasal dari Chechnya, wilayah konflik di bagian utara Rusia. Di kawasan Kaukasus ini, pejuang Chechen sedang berperang untuk memisahkan diri dari wilayah Rusia. Namun, dalam video yang diunggah di sebuah situs internet, Komando Mujahidin Kaukasus membantah keterlibatannya dalam bom Boston karena mereka tidak memerangi AS, melainkan Rusia. Bahkan, Kavkaz Centre, organisasi lain yang mendukung kemerdekaan Checnya,
menyebut Tsarnaev bersaudara sebagai “strange terrorists”.
Lone Wolf Terrorist
Semua bantahan tersebut mengandung arti bahwa kakak beradik Tsarnaev sesungguhnya tidak terkait langsung dengan jaringan atau organisasi apapun. Mereka melakukan pengeboman atas inisiatif pribadi. Namun, inisiatif individu untuk melancarkan aksi teror tentu tidak akan muncul jika tidak ada kekuatan pendorong yang memicu seseorang meledakkan bom di tengah keramaian. Itulah yang sesungguhnya terjadi pada Tsarnaev bersaudara, terutama Tamerlan.
Meskipun tidak pernah bergabung dengan kelompok radikal, tetapi mereka mengalami proses radikalisasi seorang diri (self-radicalization) karena terpengaruh oleh doktrin perlawanan dengan jalan kekerasan yang dikumandangkan oleh para pemimpin radikal melalui berbagai media, terutama
internet. Di laman Youtube miliknya, Tamerlan mengunggah
sejumlah video ceramah agama dari beberapa ulama yang memfatwakan jihad dengan jalan kekerasan. Besar kemungkinan dia terpengaruh ajaran yang salah tersebut.
44
kafir. Bagi sebagian orang Chechen, konflik antara Checnya dengan Rusia yang telah berlangsung selama beberapa generasi dapat diibaratkan sebagai konflik Islam versus Kristen. Dalam pandangan mereka, Rusia dan AS adalah negara Kristen sehingga wajib diperangi. Tamerlan adalah korban dari proses radikalisasi diri yang ditebar para pemimpin radikal melalui aneka media. Akibatnya, semakin banyak bermunculan individu-individu radikal yang siap menebar teror di berbagai tempat, termasuk Indonesia.
Dalam kajian terorisme, individu yang mengalami
self-radicalization dan lantas melancarkan aksi teror disebut lone wolf terrorist. Berbeda dengan anggota jaringan teroris yang
beraksi berdasarkan komando pimpinan, lone wolf terrorist
adalah sosok kesepian yang merencanakan dan melancarkan aksi teror secara mandiri. Karena fokus penanganan terorisme selama ini cenderung menargetkan jaringan besar, gerak-gerik para serigala kesepian menjadi sulit teridentifikasi. Tidak mengherankan apabila ancaman serigala kesepian kadangkala
lebih berbahaya dibandingkan teroris lainnya.
45
12
Sikap Tegas Menentang Israel
erangan Israel ke Jalur Gaza yang telah berlangsung sepekan terakhir belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Alih-alih menurunkan intensitas serangan, Israel justru semakin gencar membombardir Jalur Gaza dengan alasan membalas penembakan roket Hamas ke Tel Aviv, ibukota negara ini. Pertempuran antara Hamas dengan Israel di Jalur Gaza bermula dari pembunuhan pejabat senior Hamas, Ahmad Said Khalil al Jabari, melalui serangan udara Israel Rabu pekan lalu (14/11/2012). Jabari adalah wakil komandan sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin Al Qassam, yang dituding Israel bertanggung jawab atas serangkaian serangan terhadap negara Zionis ini.
Agresi Israel memang tidak sedahsyat aksi serupa (Cast Lead Operation) empat tahun silam yang menewaskan lebih dari 1.700 jiwa. Meski demikian, korban terus berjatuhan dan akan semakin bertambah jika gencatan senjata tidak kunjung terealisasi. Seperti dilansir Al Jazeera, hingga kini, tercatat 84 orang tewas dan lebih dari 700 orang terluka. Mayoritas korban adalah warga sipil Palestina, terutama perempuan dan anak-anak.
Kekhawatiran semakin banyaknya korban yang jatuh semakin memuncak setelah Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu bertekad untuk memperluas serangan di Jalur Gaza. Tekad Netanyahu kian membara seiring dengan dukungan yang diperolehnya dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Seperti biasa, Obama yang baru saja terpilih kembali sebagai
46
presiden AS ini membela Israel melalui pernyataan resminya
bahwa “Israel has every right to expect that it does not have
missiles fired into its territory”(The Telegraph, 18/11/2012). Tidak mengherankan jika dunia internasional, khususnya para pemimpin Timur Tengah berteriak. Presiden Mesir
Mohammad Morsi mengecam agresi itu sebagai “blatant
aggression aganst humanity” (AFP, 17/11/2012). Menteri Luar
Negeri Tunisia Rafik Abdesslem menyatakan, “What Israel is
doing is not legitimate and is not acceptable at all" (The Guardian, 18/11/2012). Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mendesak negara-negara Barat yang selama ini mendukung
Israel untuk “allow the Palestinian nation to control their own
destiny” (Press TV, 19/11/2012). Sementara itu, para pemimpin
Liga Arab menggelar pertemuan darurat di Kairo Sabtu (17/11/2012) dan memutuskan mengirimkan delegasi ke Jalur Gaza untuk menggagas gencatan senjata. Akhir pekan lalu, sejumlah demonstrasi menentang agresi Israel terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Bagi kita di Indonesia, serangan itu merupakan salah satu bentuk penjajahan bentuk baru yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusian sebagaimana diyakini negara ini dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sejak merdeka,
Indonesia dikenal sebagai negara yang konsisten
memperjuangkan nasib bangsa-bangsa terjajah seperti yang pernah dilakukan pada fase dekolonisasi negara-negara Asia dan Afrika pasca-Perang Dunia II di tahun 1950-an. Karena Indonesia telah berkomitmen untuk mendukung kemerdekaan Palestina, maka negara ini harus bersikap tegas dan keras menyikapi agresi Israel ke Gaza.
47
tidak terjadi kemungkinan peperangan terbuka baru.” Sebelumnya, Kamis (15/11/2012) di kantor Kementerian Luar Negeri Jakarta, Menlu Marty Natalegawa mengungkapkan, “Indonesia mendesak seluruh pihak untuk dapat menahan diri dari aksi-aksi lanjutan, sehingga tidak memperburuk situasi dan mengakibatkan korban di kalangan rakyat sipil.”
Pernyataan SBY dan Marty mengindikasikan bahwa Indonesia lebih memilih menyerahkan kasus agresi Israel ke PBB dan negara-negara lain daripada mempelopori upaya untuk mendesak Israel menghentikan serangan ke Gaza. Padahal, sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia yang rakyatnya memiliki solidaritas tinggi terhadap Palestina, banyak negara berharap Indonesia memainkan peran kepemimpinan lebih menonjol. Harapan tersebut semestinya dapat dijadikan modalitas bagi Indonesia untuk berdiplomasi secara lebih aktif mengupayakan perdamaian di bumi Palestina.
Diplomasi Aktif
Diplomasi aktif perlu dilakukan Indonesia dengan menindaklanjuti seruan SBY di forum PBB. SBY dapat meniru langkah Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina di PBB. Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada
1962, Soekarno yang menganggap Palestina sebagai the last
chapter of colonialism dengan lantang mengatakan, “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.”
48
SBY bersikap seperti itu, tetapi setidaknya ada langkah tegas Presiden di PBB.
Langkah tegas itu dapat berupa perintah kepada Duta Besar RI di PBB Desra Percaya untuk melakukan aksi-aksi strategis mendesak Israel menghentikan serangan. Koalisi dengan negara-negara yang mendukung perjuangan Palestina merupakan langkah penting dan mendesak untuk mengimbangi aksi diplomatik Israel yang pasti disokong AS. Koalisi yang dibangun Indonesia hendaknya tidak terbatas pada negara-negara mayoritas muslim karena agresi Israel ke Gaza sesungguhnya tak terkait masalah agama, melainkan masalah kemanusiaan.
Atas nama kemanusiaan, Indonesia dapat menggalang solidaritas antikolonialisme bersama negara-negara berkembang seperti yang pernah dilakukan negara ini melalui Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955. Memori masa lampau dapat diusung kembali demi merealisasikan amanat Konstitusi untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Langkah ini memang tak mudah,
tetapi juga tak mustahil dilakukan.