WAKTU GMT, WAKTU SETEMPAT, WAKTU DAERAH DAN KAITANNYA
Waktu adalah hal yang sangat penting untuk dikaji dan diperhatikan tentang penggunaannya dalam ritinitas ibadah shalat maupun cara penentuannya. Bahkan Allah telah mengkhususkan waktu dalam salah satu firmannya yakni Surah Al-‘Ashr. Waktu pada awal perkembangannya ditentukan dengan cara mengobservasi secara langsung pergerakan matahari dan bayangan yang dihasilkannya, hingga pada perkembangan selanjutnya waktu diukur dengan berbagai instrumen penunjang berupa jam pasir, jam analog dan jam digital yang ditetapkan berdasarkan perhitungan-perhitungan tertentu. Di Indonesia pembagian waktu didasarkan pada bujur tempat yakni WIB, WITA dan WIT. Hal ini menyebabkan perbedaan waktu salat yang cukup kentara antara satu daerah dengan daerah lain meskipun masih berada pada Daerah Kesatuan Waktu yang sama.
Kata Kunci: Waktu salat, pembagian waktu
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan sebuah negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Hal yang berkaitan dengan aktivitas keagamaan bagi umat Islam telah menjadi bagian besar dari urusan pemerintah dalam penetapannya. Banyak upaya telah dilakukan pemerintah untuk meminimalisir berbagai perbedaan terkhusus pada pelaksanaan ibadah yang dalam hal ini akan menjadi fokus pembahasan adalah waktu salat.
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang waktu dan pemanfaatannya bagi pelaksanaan ibadah salat kian meningkat.
BAHAN DAN METODE
Penelitian mengenai pembuktian perbedaan waktu GMT, waktu daerah di Indonesia dan waktu setempat dilakukan di Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara pada momen Transit Matahari yakni tanggal Rabu 13 September 2017 menggunakan instrumen Rubu’ Al-Mujayyab. Selain itu, data astronomis yang digunakan peneliti diambil dari Software Stellarium.
HASIL
Gambar 1.1. Transit Matahari di Kota Medan di bulan September
Sumber: Stellarium 0.14.2
PEMBAHASAN
1. GMT (Greenwich Mean Time)
teori, tengah hari GMT adalah saat di mana matahari melewati Meridian Greenwich (dan mencapai titik tertinggi di langit di Greenwich). Karena bumi memiliki kecepatan yang tidak teratur dalam orbit lonjongnya, kejadian ini (tengah hari di Greenwich) bisa 16 menit berbeda dari waktu Matahari nyata (apparent solar time) (perbedaan ini dikenal sebagai persamaan waktu / Equation of Time). Namun tengah hari Greenwich ini diambil rata-ratanya sepanjang tahun, dengan menggunakan waktu Matahari.
Dengan berkembangnya Britania Raya sebagai negara maritim, para pelaut mencocokkan jam mereka ke waktu GMT, untuk mengukur jauhnya lokasi bujur mereka dari "meridian Greenwich". Ini tidak memengaruhi jam di atas kapal sendiri, yang mana menggunakan waktu Matahari. Fenomena ini, digabungkan dengan pelaut-pelaut dari negara lain yang menggunakan metode Nevil Maskelyne untuk mengukur jarak bulan berdasarkan pengamatan di Greenwich, akhirnya menuju penggunaan GMT sebagai referensi waktu di seluruh dunia. Walau tidak memengaruhi waktu di tempat, hampir semua zona waktu berdasarkan referensi ini dihitung sebagai beberapa jam (atau setengah jam) lebih cepat atau lebih lambat dari GMT 1.
2. Waktu Setempat
Waktu setempat adalah waktu pertengahan menurut bujur tempat di suatu tempat, sehingga sebanyak bujur tempat di permukaan bumi sebanyak itu pula waktu pertengahan didapati.waktu demikian ini disebut pula dengan Local Mean Time (LMT). Misalnya jam 10 waktu pertengahan di Yogyakarta berbeda dengan jam 10 waktu pertengahan di Jakarta dan berbeda pula dengan jam 10 waktu pertengahan di Medan. Sehingga apabila ada tiga orang masing-masing bertempat tinggal di tiga kota tersebut (Yogyakarta, Jakarta dan Medan) berjanji akan bertemu di suatu tempat pada jam 12 waktu pertengahan, tentunya akan muncul pertanyaan yakni waktu pertengahan menurut mana?, karena ketiga kota tersebut masing-masing memiliki jam 12 waktu pertengahan yang antara satu dengan lainnya berbeda disebabkan oleh bujur tempat ketiga kota tersebut tidak sama. Untuk mengatasi persoalan ini dibuatlah kelompok waktu yang kemudia dikenal dengan nama Waktu Daerah (Zone Time)2.
1 https://id.wikipedia.org/wiki/Waktu_Greenwich
2 Khazin, M. (2004). Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik : Perhitungan Arah Kiblat, waktu salat, awal bulan dan gerhana.
Dengan demikian masing-masing daerah mempunyai bujur kelompok tersendiri dalam pengaturan waktunya di samping itu pula, bagi daerah yang masuk kelompok tertentu. Namun karena ada jarak dengan bujur kelompoknya dapat membuat waktu istiwa’ berdasarkan kedudukan matahari berkulminasi di tempat tersebut jika demikian maka terjadi perbedaan waktu antara waktu di bujur kelompok dengan waktu istiwa’ setempat3.
3. Waktu Daerah
Waktu daerah adalah waktu yang diberlakukan untuk satu wilayah bujur tempat (meridian) tertentu, sehingga dalam satu wilayah bujur yang bersangkutan hanya berlaku satu waktu daerah. Oleh karenanya, daerah dalam satu wilayah itu disebut Daerah Kesatuan Waktu.
Pembagian wilayah daerah kesatuan waktu pada dasarnya berdasarkan pada kelipatan bujur tempat 15˚ (360˚ : 24 jam: 1˚) yang dihitung mulai bujur yang melewati kota Greenwich (λ=0˚).
Berdasarkan keputusan Presiden RI Soeharto Nomor 41 tahun 1987 tanggal 26 November 1987 mencabut Kepres Nomor 243 tahun 1963 Soekarno wilayah Indonesia terbagi atas tiga daerah waktu, yaitu :
a. Waktu Indonesia Barat (WIB) yang berpedoman pada 105˚ BT (GMT+7 jam) meliputi :
1. Seluruh Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera
2. Seluruh Provinsi Daerah Tingkat I Jawa dan Madura
3. Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Barat
4. Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah
b. Waktu Indonesia Tengah (WITA) yang berpedoman pada 120˚ BT (GMT+8 jam) meliputi :
1. Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantar Timur
2. Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan
3. Provinsi Daerah Tingkat I Bali
4. Provinsi Daerah Tingkat I NTB
5. Provinsi Daerah Tingkat I NTT
6. Provinsi Daerah Tingkat I Timor Timur
7. Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi
c. Waktu Indonesia Timur (WIT) yang berpedoman pada 135˚ BT (GMT+9 jam) meliputi:
1. Provinsi Daerah Tingkat I Maluku
2. Provinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya
Dengan waktu daerah semacam ini persoalan seperti di atas dapat teratasi walau dikatakan jam 12 WIB, maka bagi orang Yogyakarta, Jakarta, dan maupun orang Medan adalah sama karena sebagai acuannya adalah bujur tempat (meridian) 105˚ (bukan bujur tempat masing-masing kota itu)4