• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Struggle Monument in Surakarta An Ex

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "The Struggle Monument in Surakarta An Ex"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

The Struggle Monument in Surakarta

(An Examination the Meaning of Aesthetics and image)

Agus Nur Setyawan1 dan SP Gustami2

Program Studi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Program Pascasarjana universitas Gadjah Mada

ABSTRACT

There are so many artistic monument building that were built in Surakarta, included the struggle monument that commemorate to the heroism act of rakyat Surakarta during the time of Perang Kemerdekaan in Indonesia. As a symbolic communication media, those monument buildings are representing some ideological ideas of the initiator.

By multidiscipline approaches, this examination purposes to get the hidden ideas behind the presentation and location staging of the monuments. As the field research, the examination based on the artifact monuments as the main data, besides some verbal and content data that have been collected from some other resources and references to be a supporting data.

Based on the critical analysis to the aesthetics and image presentation, the struggle monument building that were built in Surakarta, are show the discrepancy locations that gave some

1

Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. 2

(2)

consequences to their limited forming the artistic achievement. On the other hand, they also gave a certain consequence to a social distance, between the audience and the symbolic presentation, in the process of symbolic personification and symbolic identification to the spirit of the struggle, that are served by the artistic monument building. The appearance of the monuments are also reflecting and representing the disharmony and miscommunication among the subject of Perang Kemerdekaan.

Key words: monument, symbol, and meaning.

MONUMEN KEJUANGAN DI SURAKARTA (KAJIAN MAKNA CITRA DAN ESTETIKA)

I

Selama masa pemerintahan Orde baru, 1966-1998, banyak

dibangun berbagai monumen menghiasi wajah kota-kota besar di Jawa

khususnya, tidak terkecuali di Surakarta. Di antara sekian banyak

bangunan monumen yang terdapat di kota Surakarta, monumen yang

dibangun sebagai media komunikasi simbolis dalam konteks revolusi

kemerdekaan Indonesia, dapat ditemui beragam bentuk bangun dan

penyajian monumen sebagai citraan peran kejuangan rakyat Surakarta,

selama masa perang kemerdekaan antara 1945-1949.

Di luar fungsi fisiknya yang secara visual memberikan ciri-ciri

identitas sudut kota, atau landmark,1 serta perannya sebagai ekspresi

(3)

pengejawantahan masa lampau, masa kini dan masa akan datang,2

perwujudan seni bangun monumen sekaligus mengusung kepentingan

ganda, yakni dalam aspek fungsi sosialnya sebagai sarana cermin

masyarakat yang merefleksikan nilai-nilai sosial, budaya maupun

politik, di samping juga sebagai

sarana pewarisan (transform) nilai tertentu yang dianggap penting dari

satu kelompok dan generasi, kepada kelompok dan generasi lainnya.

Perwujudan seni bangun monumen, dalam presentasinya bisa

berupa bangunan tunggal seperti bentuk tugu, patung, atau batu

prasasti, maupun hadir melalui sekelompok bangunan yang disusun

dari beberapa unsur bangunan lain. Terkait dengan perwujudan seni

bangun monumen sebagai ekspresi simbolis, atau dengan kata lain

media komunikasi simbolis, Bennedict R. O’G. Anderson menyebutnya

sebagai pusaka atau wasiat yang menghubungkan secara spesifik

tipe-tipe tertentu masa lalu dan masa depan,3 dalam perannya mewadahi

identitas simbolik yang merupakan kebutuhan eksistensial manusia

dalam hidup social, ekonomi, politik, dan keagamaan.4

Ragam gaya perwujudan dan penyajian monumen kejuangan di

Surakarta merupakan manifestasi peran kejuangan rakyat Surakarta

dalam masa mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, yang

semenjak diproklamasikan masih dirongrong oleh upaya pendudukan

bangsa Jepang dan Belanda. Terkait dengan permasalahan di atas,

keberadaan seni bangun monumen kejuangan di Surakarta menarik

(4)

dibangunnya sejumlah monumen kejuangan itu. Kedua, penting untuk

dicermati ciri-ciri dan karakteristik gaya seni bangun monumen

kejuangan yang dihaddirkan, dalam tautannya dengan pemaknaan citra

simbolisnya. Ketiga, penting untuk dipahami adanya sejumlah aspek

yang mempengaruhi cara perwujudan dan penempatan monumen yang

sebagian besar tidak pada lokasi strategis (baca, lokasi umum atau

public area), sebaliknya di tempat tersembunyi seperti halaman rumah

tinggal atau instansi tertentu. Atau dalam rumusan penelitian sebagai

berikut:

1. Peristiwa penting apa yang mendasari dan melatar belakangi

dibangunnya sejumlah monumen kejuangan di Surakarta?

2. Bagaimana ciri-ciri dan karakteristik gaya seni bangun monumen

kejuangan di Surakarta dihadirkan, dikaitkan dengan pemaknaan

simbolisnya?

3. Mengapa penempatan monumen kejuangan di surakarta, yang

mengemban misi menyampaikan nilai pesan kejuangan kepada

khalayak, sebagian besar tidak didirikan pada lokasi umum, akan

tetapi di tempat tersembunyi?

Dengan menjawab berbagai persoalan penelitian sebagaimana

dirumuskan di muka, penelitian diarahkan untuk beberapa tujuan

sebagai berikut:

1. untuk mengetahui latar belakang peristiwa dibangunnya

(5)

2. berupaya untuk mendapatkan pemahaman secara

komprehensif makna pesan komunikasi simbolis yang

dihadirkan dalam wujud estetika seni bangun monumen,

dalam kaitannya dengan eksistensi kejuangan pelakunya;

3. untuk memberikan kontribusi minimal dalam konteks

pembahasan karya seni rupa khalayak (public art) di Indonesia

yang masih sangat langka; dan

4. secara pragmatis memberikan kontribusi kritis terhadap

sistem dan pola perwujudan serta penempatan karya seni rupa

khalayak secara memadai.

Mengingat kelangkaan kajian seputar permasalahan monumen di

Indonesia, maka hasil penelitian ini diharapkan akan menambah kosa

pustaka seni rupa, khususnya menyangkut karya seni rupa khalayak. Di

samping itu dapat memberikan manfaat pemahaman yang semakin luas

dan kaya bagi perencanaan dan pengembangan tata kota. Betatapun,

ketika sebuah seni bangun dihadirkan pada suatu kota, terlebih lagi

dalam fungsi peran mediasi simbolisnya yang sarat dengan makna nilai

pesan moralitas, maka sejumlah kaidah dan prinsip yang mendasarinya

haruslah menjadi pertimbangan penting.5

II

GAYA, dalam bahasa Jawa gaya bisa diartikan sebagai langgam,

menunjukkan suatu ciri umum tertentu (khas) dari beragam objek

sejenis; atau karya dari orang yang sama, karya suku atau bangsa yang

(6)

suatu gejala kesamaan atau setidaknya kemiripan antara objek yang

satu dengan lainnya. Selain menunjukkan kekhasan dan ciri-ciri objektif

(gaya bentuk), gaya juga bisa menunjukkan kekhasan atau ciri-ciri

suatu jaman (gaya jaman). Atau merupakan suatu ragam (cara, rupa,

bentuk, dsb) yang khusus (mengena.i tulisan, karangan, pemakaian

bahasa, bangunan rumah, dsb.).6 Di samping pengertian umum di atas,

sebagaimana dikutip Yasraf amir Piliang,7 Hadjinicolau lebih memilih

memakai kata ideologi visual, yakni suatu cara tertentu dalam

memadukan elemen-elemen formal dan tematik satu gambar pada satu

keperluan yang khusus.

Kata monumen,

8

pada umumnya merujuk kepada bangunan

atau arsitektur yang mengemban misi spiritual dengan harapan

mapu memberikan inspirasi kepada khalayak penghayat melalui

perwujudannya yang dihadirkan secara unik, khas dengan

penggayaan melalui suatu kaidah penciptaan tertentu sehingga

lahir

sebagai

suatu

bentuk

ekspresi

simbolis.

Dalam

kehadirannya, monumen nyaris selalu mengandung istilah

monumental. Secara fisik kata monumental bisa berarti memiliki

skala besar (dalam ukuran), sedangkan secara spiritual ia terkait

dengan suatu peristiwa “besar” yang memiliki nilai penting:

apakah nilai kejuangan, kepahlawanan, kesetiaan dan sebagainya,

sehingga patut dikenang, diteladani dan disebarluaskan kepada

(7)

Seni bangun monumen kejuangan di Surakarta memiliki

cara penyajian yang khas dan bernada “menyimpang” dari kaidah

pilihan lokasi penempatan maupun perwujudannya. Untuk

memahami lebih jauh aspek-aspek terkait dengan fenomena

objektif keberadaannya, tulisan ini diawali dengan studi lapangan

untuk mendapatkan gambaran pendahuluan seputar objek kajian,

kemudian diikuti dengan studi kepustakaan sebagai langkah

pendalaman aspek keterkaitan historis yang melatar belakanginya,

kemudian kembali ke lapangan untuak mencermati artefak yang

ada, dalam kerangka mengkaji secara kritis estetika struktur

bentuk bangun monumen yang terdapat di kota Surakarta.

Langkah pendalaman dengan sengaja dilakukan secara berulang

antara studi yang satu kepada studi lainnya, untuk mendapatkan

kekayaan nuansa dan kesahihan (validity) data yang diperlukan.

III

Ketika sebuah metafora visual atau simbol melintasi batas budaya

pemakainya, atau pemaknanya, ia telah menjadi simbol yang universal.

Sebagaimana dicontohkan McCleod,9 dalam dunia komik misalnya,

smbol-simbol visual yang dipakai para komikus dalam melukiskan emosi

subjeknya telah dapat diterima dan menjadi simbol universal. Dalam

satu dan lain hal, pembangunan monumen dengan seluruh atribut dan

(8)

(korps) guna memperluas identitas diri. Sebagaimana dijelaskan oleh

McCleod,

“…identitas dan kesadaran kita tertanam dalam berbagai benda mati yang ada didalam keseharian hidup ini. Misalnya pakaian yang kita kenakan dapat mengubah cara orang lain melihat kita dan bagaimana kita melihat DIRI SENDIRI ….(Sic.)

Lebih jauh McCleod memerinci, dalam semua kasus, kesadaran

akan diri sendiri muncul mencakup objek yang menjadi perpanjangam

identitas kita. Sebagaimana sesuatu yang nirkasatmata, identitas

sebagai sebuah gagasan merupakan sebuah konsep. Dikaitkan dengan

seni bangun monumen, meski monumen hadir dengan spesifikasi

bentuk fisik yang menjadi wadah gagasan, ia lahir dan berawal dari

sebuah konsep. Monumen dengan segala kompleksitas bentuknya hadir

sebagai satu upaya mencitrakan (visualized) suatu konsep. Pada tahap

selanjutnya, konsep berkaitan erat dengan pemaknaan. Lalu ketika

konsep pemaknaan suatu gagasan dihadirkan secara kongkrit, ia akan

melahirkan suatu sistem penandaan (secara semiotis) apakah itu

sekedar menjelma sebagai indeks, apakah sebentuk ikon ataukah

sebagai sebuah simbol. Mengikuti rumusan McCleod di atas, suatu

upaya pencitraan atau pengejawantahan konsep makna ke dalam

bentuk seni bangun monumen, merupakan upaya pemilik gagasan

untuk mengajak khalayak ikut mengidentifikasikan dirinya melalui

monumen. Perjalanan proses gagasan menuju konsep, dan selanjutnya

mengkristal dan menjelma sebagai makna, berlangsung dalam satu

(9)

konsep menjadi sebuah bentuk yang indeksikal, ikonis, atau simbolis.

Dengan kata lain, kegiatan abstraksi yang mungkin berbentuk

penyederhanaan atau penggayaan, merupakan suatu proses

pencanggihan yang mengkristalisasikan gagasan dan konsep penggagas,

sehingga visinya terwakili (represented) dan terwadahi pencitraannya.

Uraian di atas secara jelas menunjukkan, bahwa dibutuhkan

keterlibatan pihak lain di luar diri penggagas, yaitu khalayak atau publik

dalam memfungsikan simbol secara baik. Dalam penjelasan lain, ketika

sebuah bentuk rupa mendapatkan kesepakatan maknawinya, ia telah

menjelma menjadi sebuah bahasa, yang oleh dukungan potensi

simboliknya, menjelma sebagai sebuah metafora visual, atau sebuah

simbol visual. Lebih jauh lagi, pada saat sebuah metafora visual, atau

sebuah simbol telah melintasi suatu batas budaya pemakai atau

pemaknannya, ia telah menjadi simbol yang universal.

IV

Terdapat beragam gaya perwujudan dan lokasi penempatan seni

bangun monumen yang mewarnai keberadaan sejumlah monumen

kejuangan di Surakarta, meliputi gaya monumen prasasti, yakni

pencitraan yang mengacu pada perwujudan prasasti kuno, yüpa 10

misalnya, yakni semacam tugu peringatan dengan inskripsi peringatan

sebagai komponen pokok. Dalam hal monumen kejuangan di Surakarta

berpola prasasti, memiliki kecenderungan berstruktur bentuk

sederhana, menempati lokasi tempat di mana peristiwa yang diperingati

(10)

Sedangkan unsur inskripsi merupakan presentasi dominan. Kedua,

monumen dengan gaya perwujudan menhir dan atau obelisk11 juga hadir

dalam wujud sederhana. Satu hal yang membedakan dengan pola

monumen prasasti adalah skala ukurannya yang besar, di samping

peletakannya di ruang ekslusif (non public area). Ketiga adalah gaya

monumen figuratif yang menggambarkan bentuk figur secara realistis,

baik tokoh tertentu maupun anonim. Keempat merupakan perwujudan

ideal monumen sebagai gaya perpaduan. Pola gaya monumen perpaduan

diciptakan dengan cara menyusun beberapa bangunan dalam satu

konfigurasi tunggal. Unsurnya meliputi bangunan abstrak,

patung-patung figuratif, dan unsur kelengkapan lain, seperti bangunan prasasti

yang diletakkan terpisah dari bangunan utama, gapura, kesemuanya

diolah dirancang dalam suatu kompleks bangunan dengan lahan luas.

Munculnya beragam gaya citraan dan penempatan monumen,

didominasi oleh tempat tersembunyi dan eksklusif, banyak dipengaruhi

oleh latar belakang situasi psikologis yang terjadi pada masa di mana

peristiwa yang diperingati itu berlangsung. Sebagaimana sejarah

mencatat, peristiwa kejuangan penting yang menjadi identitas dan

jatidiri (eksistensi) warga atau rakyat Surakarta, terutama dalam

kaitannya dengan pergolakan perang kemerdekaan, meliputi peristiwa

perebutan kekuasaan Jepang dan pertempuran di markas Kenpeitai

yang mengakibatkan pemuda Arifin gugur, peristiwa serangan umum 4

hari di Sala12 7-10 Agustus 1949 yang mengakibatkan banyak korban

gugur di kalangan sipil, serta peristiwa perundingan perjanjian gencatan

(11)

Sala khususnya, berlangsung dalam suasana kebingungan dan

ketegangan di kalangan para pejuang, sehubungan dengan

dikeluarkannya dua perintah siasat dari dua komandan berbeda. Satu

dari Mayor Akhmadi selaku komandan SWK 106/Arjuna,13 satu lainnya

dari Letkol Slamet Riyadi, komandan Wehrkreise I. 14 Suasana

ketegangan dan ketidak harmonisan komunikasi yang terjadi antara

kelompok pasukan TP di satu pihak dan kelompok pasukan TNI di pihak

lain, menyelimuti suasana batin kedua kelompok pasukan bukan saja

pada masa pertempuran, bahkan hingga ke masa pembangunan

monumen yang berlangsung antara tahun 1974 hingga 1986.

V

Munculnya beragam bentuk perwujudan dan penyajian

monumen kejuangan di Surakarta, pada satu sisi mencoba

menampilkan kebersamaan peran kejuangan antara sipil-militer,

namun sebagaimana tampak dalam perwujudan estetisnya,

penggunaan dan penempatan ikonografi pejuang lebih didominasi

oleh peran ketokohan militer. Dalam cara itu, mitos kebersamaan,

atau dalam bahasa politis orde baru disebut kemanunggalan

sipil-militer yang dalam masa perjuangan terjalin antara kelompok

tentara pelajar (TP), sebagai personifikasi peran sipil, di satu

pihak, dengan kelompok tentara atau TNI sebagai personifikasi

(12)

monumen kejuangan dalam beberapa hal digambarkan sebagai

terjalin padu, pada kenyataan presentasi estetisnya dalam bentuk

bangun monumen beserta kelengkapan atributnya justru semakin

melegitimasi adanya diskprepansi peran kejuangan. Sebagai

contoh, Monumen Perjuangan 45 di Banjarsari, personifikasi

tokoh-tokoh yang ditampilkan berupa Kyai, dan rakyat, juga

figure/sosok perawat dan pemuda, cenderung lebih bersifat politis.

Dengan kata lain, seni bangun monumen itu cenderung untuk

diberi peran sebagai konstruksi simbolisasi spirit kesatuan dan

persatuan, daripada sebagai konstruksi simbolis kenyataan

empirik yang terjadi di medan sesungguhnya. Dapat dikatakan,

monumen di atas lebih menampakkan gejala

pseudo symbolism

dalam nuansa politis, di mana tokoh-tokoh kyai dan rakyat

ditampilkan, meski keduanya bukanlah sosok riel yang terlibat

langsung dalam pertempuran dan perjuangan fisik yang

sesungguhnya. Pada kasus ini, keduanya tampak lebih diarahkan

bagi kepentingan pengembangan spirit kebersamaan (sebagai

representasi ragam keterwakilan rakyat), dibandingkan tampilan

realitas empirik dari peristiwa yang sebenarnya, yang lebih banyak

melibatkan/mengorbankan rakyat sipil tanpa status ketokohan

tertentu.

Solidaritas kesatuan yang muncul dan nampak dalam cara

(13)

patung tokoh Slamet Riyadi, monumen Perjuangan Gerilya

surakarta, dan monumen patung tokoh Gatot Soebroto,

menunjukkan adanya disparitas solidaritas kesatuan, antara

kesatuan TP dengan kesatuan TNI. Hal itu tampak pada cara

penokohan dan sekaligus penempatan monumen yang cenderung

memilih lokasi-lokasi eksklusif pada wilayah teritori militer

sendiri, daripada wilayah publik sebagai tempat ideal dalam

meletakkan seni bangun monumen yang selayaknya memang

ditujukan bagi kepentingan publik, daripada kepentingan korps

dan kesatuannya sendiri.

VI

Seni bangun monumen sebagai perwujudan ekspresi

simbolis yang dalam peran fungsi sosialnya menjelma sebagai

media komunikasi simbolis, merupakan suatu bentuk ideologi

visual

dalam

cara

mana

seseorang

atau

kelompok

mengekspresikan,

mengidentifikasikan

kepada

orang

dan

kelompok lainnya. Dalam cara ini, beragam perwujudan seni

bangun monumen kejuangan yang tersebar di kota Surakarta,

merupakan citraan dari suatu bentuk ekspresi simbolis yang

dijadikan sebagai instrumen ideologisasi, dalam hal ini ideologi

militer. Sebagaimana tampak dari cara dan moda pencitraan

(14)

bangun monumennya yang dominan pada lokasi-lokasi ekslusif di

halaman

institusi

resmi

(halaman

markas

Korem

074

Warastratama, dan halaman rumah sakit Slamet Riyadi).

Sebaliknya perwujudan seni bangun monumen yang merupakan

representasi peran kejuangan kelompok sipil (TP) dominan hadir

dalam perwujudan sederhana, dan ditempatkan pada lokasi-lokasi

yang tersembunyi, karena mengandalkan dan mendasarkan pada

prioritas lokasi tempat di mana peristiwa yang diperingati pernah

berlangsung.

Gaya seni bagnun monumen kejuangan di Surakarta

sebagai representasi peran kejuangan rakyat Swurakarta,

sekaligus

merefleksikan

kenyataan

terembunyi

ketidak

harmonisan relasi sipil-militer.

Betapapun upaya peneyebarluasan dan pewarisan nilai

luhur pengorbanan dan dedikasi para pelaku kejujangan dalam

perwujudan

monumen,

realitas

perupaan

simbolisnya

kontraprestasi dengan maksud dan tujuan dibangunya monumen

tersebut. Dikaitkan dengan prinsip dan kaidah penciptaan seni,

sebagai karya seni rupa khalayak, moda pencitraan monumen

kejuangan yang sarat dengan ikonnografi militeristik diserta moda

penempatannya pada lokasi eksklusif, pada kenyataannya justrtu

menciptakan kesenjangan sosial (social distance) antara khalayak

(15)

moda pencitraan simbolisme kejuangan itu merefleksikan bentuk

otoritas pemaknaan nilai kejuangan yang secara hegemonis

didominasi oleh militer, yang sekaligus menempatkan peran sipil

dalam posisi subordinan.

1

Agus Dermawan T., menyebutnya sebagai tanda-tanda tempat yang menjadi tengara, atau titik indah suatu kota, “Tanda Tanda Tempat yang Bernama Landmark,” dalam Katalog Gelar Karya Sayembara Landmark (Jakarta: P.T. Pembangunan Jaya Ancol, 2001), 4.

2

Sidharta dan Eko Budiarjo, Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno bersejarah Surakarta

(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1986).

3

Bennedict R. O’G. Anderson,

Kuasa Kata Jelajah Budaya Budaya Jawa

. Terj.

Revianto Budi Santosa (Yogyakarta: Mata Bangsa, 2000), 367

.

4

Abdul Munir Mulkan, “Konflik dalam Budaya Idenitas dan perkembangan

Politik di Indonesia,”dalam Media, Militer,`Politik (Yogyakarta: Galang Press, 2002), 31.

5

Hadi Sabari Yunus, Struktur Tata Ruang Kota (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000).

6

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga (Jakarta; Balai Pustaka, 1996), 297. 7

Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika, TafsirCultural atas Matinya Makna (Yogyakarta: Jalasutra, 2003)198.

8(monument) merupakan suatu padan kata yang berarti mengenang kembali

suatu peristiwa atau seseorang, berasal dari bahasa Latin “monumentum” atau monimentum; monere (old France) to remind Encyclopaedia of Britanica. Volume 15 (A Society of Gentlemen In Scotland, Chicago, London, Toronto, Geneva, Sidney, Tokyo, Manila: William Benton Publisher, 1765), 804.

9

Scot McCleod, Understanding Comics, The Invisible Art. Terj. S. Kinanti (Jakarta: Kepustakaan Popular Gramedia, 2001), 24-59.

10

SejarahAwal, Indonesian Heritage (Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International Inc., 2002), 52.

11

Obelisk semacam tugu yang terbuat dari batu granit merah, dengan tinggi bisa mencapai 24 meter. Obelisk didirikan sebagai penghormatan bangsa Mesir kuno (2613-2694 SM) terhadap dewa matahari, Re sebagai kelengkapan dari

bangunan candi atau piramid. EncyclopediaBritanica.CD-Rom (2002).

12

Periksa Sadikun Sugihwaras (ed.), Ofensif TNI Empat Hari di kota Sala dan Sekitarnya, Serangnan Umum TNI Empat Hari di Sala 7-10 Agustus 1949

(16)

13

No. 1/8/Swk/A-3/Ps-49, tanggal 5 Agustus 1949.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilaksanakan atas asumsi bahwa pembangunan karakter siswa dapat dilaksanakan melalui Pembelajaran Pendidikan Kewargangaraan dan proses habituasi, sehingga

[r]

Citra lahan terbangun diklasifikan ke dalam empat kategori yaitu lahan terbuka, lahan terbangun kurang rapat (warna magenta), lahan terbangun rapat (warna ungu), dan

Dari berbagai macam permasalahan yang dialami oleh orang tua yang memiliki anak Autism Spectrum Disorder (ASD) dalam penyesuaian diri pada orang tua yang memiliki

Nyeri persalinan merupakan proses fisiologis, terjadinya disebabkan oleh kontraksi uterus yang dirasakan bertambah kuat dan paling dominan terjadi pada kala I

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil penelitian adalah sebagai berikut: 1) Semakin tinggi fraksi volume penguat, maka kompaktibilitas komposit semakin tinggi.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tekanan penyebab trauma yang dialami oleh tokoh Ajo Kawir, dampak trauma yang diderita, dan mendeskripsikan bentuk

Dengan meng-klik shape bertuliskan next pada lembar KDB dan KLB, maka selanjutnya akan ditampilkan hasil perhitungan biaya proyek, pendapatan dan pengeluaran