• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsepsi Tujuan Sumber dan Metode Istinb

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Konsepsi Tujuan Sumber dan Metode Istinb"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Konsepsi, Tujuan, Sumber, dan Metode Istinbath Hukum Islam

MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam

Dosen Pengampu : Drs. A. Busyairi, M.Ag.

DISUSUN OLEH:

1. NINDI GALIH SAPUTRI (1401417056) 2. SLAMET SUPRIYANTO (1401417090) 3. AULIA FAATIN DURROTUN N. (1401417429)

ROMBEL 53

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

Hukum Islam merupakan salah satu pilar yang sangat penting dalam agama

Islam. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa hampir di semua sendi kehidupan, baik

dalam lingkungan ibadah maupun muamalah diatur dan dikondisikan sedemikian

rupa oleh hukum Islam.

Berbeda dengan hukum yang lainnya, hukum Islam tidak hanya merupakan

hasil dari pemikiran yang dipengaruhi oleh kebudayaan manusia di suatu tempat

pada suatu masa tetapi dasarnya bersumber dari wahyu Allah SWT., yakni Al –

Qur’an yang kemudian dijelaskan lebih rinci oleh Nabi Muhammad SAW.

melalui sunnah dan hadisnya.

Hukum Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan manusia

lainnya, tetapi juga hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia

dengan dirinya sendiri dan hubungan manusia dengan benda serta alam

sekitarnya.

B. Rumusan masalah

1. Apa pengertian Hukum Islam ?

2. Apa tujuan hukum Islam?

3. Apa saja sumber hukum islam ?

4. Apa metode istinbath hukum islam ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian Hukum islam

2. Untuk mengetahui tujuan hukum islam

3. Untuk mengetahui sumber hukum islam

(3)

BAB II PEMBAHASAN A.Pengertian

Jika kita berbicara tentang hukum, yang terlintas dalam pikiran kita adalah

peraturan atau seperangkat norma yang mengatur tingkah laku manusia dalam

suatu masyarakat. Sedangkan hukum dalam pandangan Islam adalah peraturan

atau norma yang ditetapkan oleh Allah SWT. yang terdapat di dalam Al – Qur’an

lalu di jelaskan oleh Rasullah SAW. dalam hadits. Kemudian, dijabarkan oleh

para ulama.Dengan adanya Hukum – hukum yang ditetapkan oleh Allah untuk

umat – Nya berarti ada batasan – batasan yang harus dipatuhi dalam kehidupan.

Hukum islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah melalui wahyu-Nya

yang terdapat dalam Al-Quran dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai

Rasul-Nya melalui Sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam

kitab-kitab Hadist. Hukum Islam tidak hnaya mengatur hubungan manusia dengan

manusia lain dalam masyarakat, termasuk dirinya sendiri dan benda serta alam

semesta, tetapi juga hubungan manusia dengan Tuhan.

B.Tujuan hukum Islam

Adapun tujuan hukum Islam secara umum adalah mencegah kerusakan pada

manusia dan mendatangkan kemaslahatan bagi mereka, mengarahkan mereka

pada kebenaran untuk mencapai kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di

akhirat kelak, dengan jalan mengambil segala yang bermanfaat dan mecegah atau

menolak yang mudharat, yakni yang tidak berguna bagi hidup dan kehidupan

manusia. Abu Ishaq al – Shatibi merumuskan lima tujuan hukum Islam, yaitu :

1. Memelihara agama

Agama Islam harus terperlihara dari ancaman orang – orang yang akan

merusak akidah, syari’ah dan akhlak atau mencampur adukkan ajaran agama

(4)

2. Memelihara jiwa

Menurut hukum Islam, jiwa itu harus dilindungi. Untuk itu hukum Islam wajib

memelihara hak manusia untuk hidup dan mempertahankan hidupnya.

3. Memelihara akal

Dengan akal manusia dapat memahami wahyu Allah.seseorang tidak akan

mampu menjalankan hukum Islam dengan baik tanpa mempergunakan akal

yang sehat. Untuk itu hukum Islam melarang seseorang meminum minuman

yang memabukkan.

4. Memelihara keturunan

Dalam hukum Islam untuk meneruskan keturunan harus melalui pernikahan

yang syah menurut ketentuan – ketentuan yang ada dalam Al – Qur’an dan Al

– Sunnah dan dilarang melakukan perbuatan zina.

5. Memelihara harta

Kita sebagai Manusia dilindungi haknya untuk memperoleh harta dengan cara

– cara yang halal dan dilarang untuk mengambil harta orang lain.

C. Sumber Hukum Islam 1. Al Qur’an

Al Qur’an berisi wahyu-wahyu dari Allah SWT yang diturunkan secara

berangsur-angsur (mutawattir) kepada Nabi Muhammad SAW melalui

malaikat Jibril. Al Qur’an diawali dengan surat Al Fatihah, diakhiri dengan

surat An Nas. Membaca Al Qur’an merupakan ibadah.

Al Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang utama. Setiap muslim

berkewajiban untuk berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di

dalamnya agar menjadi manusia yang taat kepada Allah SWT, yaitu

menngikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangnannya. Al

(5)

Tuntunan yang berkaitan dengan keimanan/akidah, yaitu ketetapan yantg

berkaitan dengan iman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat, kitab-kitab,

rasul-rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar.Tuntunan yang berkaitan dengan

akhlak, yaitu ajaran agar orang muslim memilki budi pekerti yang baik serta

etika kehidupan.Tuntunan yang berkaitan dengan ibadah, yakni shalat, puasa,

zakat dan haji. Tuntunan yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia

dalam masyarakat.Isi kandungan Al Qur’an

a. Segi Kuantita

Al Quran terdiri dari 30 Juz, 114 surat, 6.236 ayat, 323.015 huruf dan

77.439 kosa kata

b. Segi Kualitas

Isi pokok Al Qur’an (ditinjau dari segi hukum) terbagi menjadi 3 (tiga)

bagian:

1) Hukum yang berkaitan dengan ibadah: hukum yang mengatur

hubungan rohaniyah dengan Allah SWT dan hal – hal lain yang

berkaitan dengan keimanan. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu

Tauhid atau Ilmu Kalam

2) Hukum yang berhubungan dengan Amaliyah yang mengatur hubungan

dengan Allah, dengan sesama dan alam sekitar. Hukum ini tercermin

dalam Rukun Islam dan disebut hukum syariat. Ilmu yang

mempelajarinya disebut Ilmu Fiqih

3) Hukum yang berkaitan dngan akhlak. Yakni tuntutan agar setiap

muslim memiliki sifat – sifat mulia sekaligus menjauhi perilaku –

perilaku tercela.

Bila ditinjau dari Hukum Syara terbagi menjadi dua kelompok:

1) Hukum yang berkaitan dengan amal ibadah seperti shalat, puasa, zakat,

haji, nadzar, sumpah dan sebagainya yang berkaitan dengan hubungan

(6)

2) Hukum yang berkaitan dengan amal kemasyarakatan (muamalah)

seperti perjanjian perjanjian, hukuman (pidana), perekonomian,

pendidikan, perkawinan dan lain sebagainya.Hukum yang berkaitan

dengan muamalah meliputi:

a) Hukum yang berkaitan dengan kehidupan manusia dalam

berkeluarga, yaitu perkawinan dan warisan

b) Hukum yang berkaitan dengan perjanjian, yaitu yang berhubungan

dengan jual beli (perdagangan), gadai-menggadai, perkongsian dan

lain-lain. Maksud utamanya agar hak setiap orang dapat terpelihara

dengan tertib

c) Hukum yang berkaitan dengan gugat menggugat, yaitu yang

berhubungan dengan keputusan, persaksian dan sumpah

d) Hukum yang berkaitan dengan jinayat, yaitu yang berhubungan

dengan penetapan hukum atas pelanggaran pembunuhan dan

kriminalitas

e) Hukum yang berkaitan dengan hubungan antar agama, yaitu

hubungan antar kekuasan Islam dengan non-Islam sehingga tercpai

kedamaian dan kesejahteraan.

f) Hukum yang berkaitan dengan batasan pemilikan harta benda,

seperti zakat, infaq dan sedekah.

Ketetapan hukum yang terdapat dalam Al Qur’an ada yang rinci dan ada

yang garis besar. Ayat ahkam (hukum) yang rinci umumnya berhubungan

dengan masalah ibadah, kekeluargaan dan warisan. Pada bagian ini banyak

hukum bersifat ta’abud (dalam rangka ibadah kepada Allah SWT), namun

tidak tertutup peluang bagi akal untuk memahaminya sesuai dengan perubahan

zaman. Sedangkan ayat ahkam (hukum) yang bersifat garis besar, umumnya

berkaitan dengan muamalah, seperti perekonomian, ketata negaraan,

(7)

hanya berupa kaidah-kaidah umum, bahkan seringkali hanya disebutkan

nilai-nilainya, agar dapat ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman.

Selain ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan hukum, ada juga yang

berkaitan dengan masalah dakwah, nasehat, tamsil, kisah sejarah dan

lain-lainnya. Ayat yang berkaitan dengan masalah-masalah tersebut jumlahnya

banyak sekali.

2. Hadits

Hadits merupakan segala tingkah laku Nabi Muhammad SAW baik berupa

perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (taqrir). Hadits merupakan sumber

hukum Islam yang kedua setelah Al Qur’an. Allah SWT telah mewajibkan

untuk menaati hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan yang disampaikan oleh

nabi Muhammad SAW dalam haditsnya. Hal ini sejalan dengan firman Allah

SWT:

Artinya: “ … Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan

apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, …” (QS Al Hasyr : 7)

Perintah meneladani Rasulullah SAW ini disebabkan seluruh perilaku

Nabi Muhammad SAW mengandung nilai-nilai luhur dan merupakan cerminan

akhlak mulia. Apabila seseorang bisa meneladaninya maka akan mulia pula

sikap dan perbutannya. Hal tersebut dikarenakan Rasulullah SAW memilki

akhlak dan budi pekerti yang sangat mulia. Hadits sebagai sumber hukum

Islam yang kedua, juga dinyatakan oleh Rasulullah SAW:

Artinya: “Aku tinggalkan dua perkara untukmu seklian, kalian tidak akan

sesat selama kalian berpegangan kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunah

rasulnya”. (HR Imam Malik)

Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua memilki tiga fungsi

(8)

a. Memperkuat hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Al Qur’an, sehingga

kedunya (Al Qur’an dan Hadits) menjadi sumber hukum untuk satu hal yang

sama. Misalnya Allah SWT didalam Al Qur’an menegaskan untuk menjauhi

perkataan dusta, sebagaimana ditetapkan dalam firmannya :

Artinya: “…Jauhilah perbuatan dusta…” (QS Al Hajj : 30)

b. Memberikan rincian dan penjelasan terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang

masih bersifat umum. Misalnya, ayat Al Qur’an yang memerintahkan shalat,

membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji, semuanya bersifat garis

besar. Seperti tidak menjelaskan jumlah rakaat dan bagaimana cara

melaksanakan shalat, tidak merinci batas mulai wajib zakat, tidak memarkan

cara-cara melaksanakan haji. Rincian semua itu telah dijelaskan oelh

rasullah SAW dalam haditsnya. Contoh lain, dalam Al Qur’an Allah SWT

mengharamkan bangkai, darah dan daging babi. Firman Allah sebagai

berikut:

Artinya: “Diharamkan bagimu bangkai, darah,dan daging babi…” (QS Al

Maidah : 3)

Dalam ayat tersebut, bangkai itu haram dimakan, tetap tidak

dikecualikan bangkai mana yang boleh dimakan. Kemudian datanglah

hadits menjelaskan bahwa ada bangkai yang boleh dimakan, yakni bangkai

ikan dan belalang. Sabda Rasulullah SAW:

Artinya: “Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah.

Adapun dua macam bangkai adalah ikan dan belalalng, sedangkan dua

macam darah adalah hati dan limpa…” (HR Ibnu Majjah)

c. Menetapkan hukum atau aturan-aturan yang tidak didapati dalam Al Qur’an.

Misalnya, cara menyucikan bejana yang dijilat anjing, dengan

membasuhnya tujuh kali, salah satunya dicampur dengan tanah,

(9)

Artinya: “Mennyucikan bejanamu yang dijilat anjing adlah dengan cara

membasuh sebanyak tujuh kali salah satunya dicampur dengan tanah” (HR

Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Baihaqi)

Klasifikasi Hadits

a. Hadits Shohih, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rawi yang adil,

sempurna ingatan, sanadnya bersambung, tidak ber illat, dan tidak

janggal. Illat hadits yang dimaksud adalah suatu penyakit yang

samar-samar yang dapat menodai keshohehan suatu hadits

b. Hadits Hasan, adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, tapi

tidak begitu kuat ingatannya (hafalannya), bersambung sanadnya, dan

tidak terdapat illat dan kejanggalan pada matannya. Hadits Hasan

termasuk hadits yang makbul biasanya dibuat hujjah untuk sesuatu hal

yang tidak terlalu berat atau tidak terlalu penting.

c. Hadits Dhoif, adalah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih

syarat-syarat hadits shohih atau hadits hasan. Hadits dhoif banyak macam

ragamnya dan mempunyai perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan

banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits shohih atau hasan yang tidak

dipenuhi

Adapun syarat-syarat suatu hadits dikatakan hadits yang shohih, yaitu:

1. Rawinya bersifat adil

2. Sempurna ingatan

3. Sanadnya tidak terputus

4. Hadits itu tidak berilat, dan

5. Hadits itu tidak janggal

3. IJMA’

Ijma’ menurut ulama ushul fiqih adalah kesepakatan semua mujtahid

(10)

mengenai suatu kejadian.[10] Namun, ada beberapa ulama ushul berbeda

pendapat dalam mendefinisikan ijma’ menurut istilah, diantaranya:

a. Pengarang kitab Fushulul Bada’i berpendapat bahwa ijma’ itu adalah

kesepakatan semua mujtahid dari ijma’ umat Muhammad Saw, dalam

sustu masa setelah beliau wafat terhadap hukum syara’.

b. Pengarang kitab Tahrir, Al Kamal bin Hammam berpendapat bahwa ijma’

adalah kesepakatan mujtahid suatu masa dari ijma’ MuhammadSaw,

terhadap masalah syara’.

Syarat-syarat Ijma’ :

a. Yang bersepakat adalah para mujtahid

Para ulama berselisih paham tentang Istilah Mujtahid secara umum,

mujtahid itu diartikan sebagai para ulama yang mempunyai kemampuan

dalam mengistinbath huukm dari dalil-dalil syara’ dalam kitab jam’ul

Jawani, disebutkan bahwa yang dimaksud mujtahid adlah orang yang

faqih, dalam sulam Ushuliyin kata mujtahid diganti dengan istilah ulama

ijma’, sebagaimana menurut pandangan Ibnu Hazm dalam Hikam.Selain

pendapat diatas, ada juga yang memandang mujtahid sebagai ahlu ahli wal

aqdi, dan istilah ini sesuai dengan pendapat al qaqih dalamkitab isbat

bahwa Mujtahid yang diterima fatwanya adalah ahlu ahli wal addi.

b. Yang bersepakat adalah seluruh mujtahid

Bila sebagian mujtahid bersepakat dan yang lainnya tidak meskipun

sedikit, maka menurut jumhur, hal itu tidak bisa dikatakan ijma’, karena

Ijma itu harus mencakup keseluruhan mujtahid.

Sebagian ulama berpendapat bahwa Ijma; itu sah bila dilakukan oleh

sebagian besar mujtahid karena yang dimaksud kesepatakan ijma’

termasuk pula kesepatakan sebagian besar dari mereka, begitu pula

menurut kaidah fiqih, sebagian besar itu telah mencakup hukum

(11)

c. Para muktahid harus umat Muhammad SAW

Para ulama berbeda pendapat tentang arti umat muhammad SAW ada

yang berpendapat bahwa yang dimaksud umat muahmmad SAW adalah

orang mukallaf dari golongan ahli wa al aqdi, ada juga yang berpendapat

bahwa mereka adalah oranng mukallaf dari golongan muhammad SAW.

d. Dilakukan setelah wafatnya Nabi Muhammad

Ijma itu tidak terjadi ketika nabi Masih hidup, karena nabi senantiasa

menyepakati perbuatan para sahabat yang dipandang baik, dan itu

dianggap sebagai syariat.

e. Kesepakatan mereka harus berhubungan dengan syarat

Maksudnya, kesepatakan mereka haruslah kesepakatan yang ada

kaitannya dengan syariat seperti tentang wajib, sunah, makruh, haram dan

lain-lain.

Macam-Macam Ijma a. Ijma’ Sharih

Artinya, semua mujtahid mengemukakan pendapat mereka

masing-masing, kemudian menyepakati salah satunya.

b. Ijma’ Sukuti

Artinya, pendapat sebagian ulama tentang suatu maslah yang diketahui

oleh para mujahid lainnya, tapi mereka diam, tidak menyepakati ataupun

menolak pendapat tersebut secara jelas. Ijma’ sukuti sah apabila

dikatakan memenuhi beberapa kriteria.

Maksud Ijma’ dalam Kitab-Kitab Fiqih

Sebagaimana telah kita ketahui yang dimaksud ijma menurut syara’ itu antara

lain adanya kesepakatan dari semua mujtahid yang hidup dalam satu masa

tentang ketetapan hukum syara’. Dengan demikian, apabila jumhur ulama

menetapkan kesepakatan yang dilakukan oleh sebagian besar ulama, hal itu

(12)

Menurut orang-orang yang selalu mengikuti beberapa permasalahan,

hasil ijma’ itu di adakalanya bersumberkan dari sebagian besar para mujtahid,

tetapi ada juga yang berasal dari kesepakatan imam madzhab. Maka tidaklah

sah untuk menggantungkan diri kepada kitab-kitab fiqih yang didalamnya

terdapat kata ijma’, karena ijma’ tersebut mungkin saja hanya kesepakatan

para ulama yang ada pada suatu madzhab yang ditulis oleh pengarang kitab.

4. QIYAS

Qiyas menurut bahasa adalah pengukuran sesuatu dengan yang lainnya

atau penyamaan sesuatu dengan yang sejenisnya. Ulama ushul fiqih

memberikan definisi yang berbeda-beda bergantung pada pandangan mereka

terhadap kedudukan qiyas dalam istimbath hukum. Dalam hal ini, mereka

terbagi dalam dua golongan berikut ini:

a. Golongan pertama menyatakan bahwa qiyas merupakan ciptaan

manusia yakni pandangan mujtahid.

b. Golongan kedua qiyas merupakan ciptaan syar’i, yakni merupakan dalil

hukum yang berdiri sendiri atau merupakan hujjat ilahiyah yang dibuat

syari’ sebagai alat untuk mengetahui suatu hukum. Qiyas ini tetap ada,

baik dirancang oleh paramujtahid ataupun tidak.

Rukun Qiyas a. Ashl (pokok)

Yaitu suatu peristiwa yang sudah ada nashnya yang dijadikan tempat

mengqiyaskan.

b. Far’u (cabang),

Yaitu peristiwa yang tidak ada nashnya.

c. Hukum Ashl,

Yaitu hukum syara’ yang ditetapkan oleh suatu nash.

(13)

Yaitu suatu sifat yang terdapat pada ashl.

Para ulama yang menetapakan kekuatan qiyas sebagai hujjah dengan

mengambil dalil al-Quran, Sunnah, pendapat dan perbuatan sahabat, juga

illat-illat rasional. Alasan ulama yang menetapkan qiyas:

1. Diantara ayat-ayat al-quran yang digunakan sebagai dalil.

2. Diantara sunnah yang digunakan sebagai dalil

3. Adapun perbuatan dan ucapan para sahabat membuktikan bahwa qiyas

adalah hukum syara’.

D. Metode Istinbath Hukum Islam

Beberapa metode pengambilan hukum itu adalah Ijma’ dan Qiyas, Istihsan,

Al-Maslahat al Musrsalat atau Istihlah, Saddu al-Zari’at

1. Ijma’ dan Qiyas

Ijma adalah kebulatan pendapat (konsensus) ulama besar pada suatu masa

dalam merumuskan sesuatu yang baru sebagai hukum islam. tolak pangkal

perumusannya didasarkan kepada dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Quran

dan Al-Hadist yang shahih, apabila sudah ada Ijma’ maka harus ditaati, karena

hukum baru itu merupakan perkembangan hukum yang sesuai dengan

kebutuhan hidup masyarakat. Perumusannya tidak menyimpang dari dalil

Al-Quran dan Hadist yang shahi, karena Ijma’ tidak merupakan aturan hukum

yang berdiri sendiri.

Sistematika penalaran individual dikenal dengan istilah Qiyas, yaitu

perbandingan antara dua hal yang sejajar karena keserupaannya untuk

menghasilkan satu keputusan hukum. Dalam qiyas, Ijtihad diarahkan untuk

memahami secara akurat persoalan yang hendak dipecahkan dan menemukan

alasan hukum (‘illat) yang menjadi dasar putusan hukum. Dari situ keputusan

(14)

pada saat yang sama mengecualikan masalah-masalah hukum yang tidak

memiliki ‘illat yang serupa.

2. Istihsan

Satu cara lain dalam pelaksanaan ijtihad adalah istihsan. Dibandingkan

dengan dua cara yang telah dijelaskan, ra’y dan qiyas, istihsan tampak lebih

mendekati cara-cara yang dilakukan dalam ra’y. Dalam Istihsan, putusan

hukum dilakukan dengan mengacu pada hukum yang sudah mapan dalam

suatu keadaan tertentu didalam masyarakat, atau bisa pula disebut dengan

tradisi (atsar).

3. Al-Maslahat al Mursalat atau Istihlah

Istihlah merupakan metode penerapan hukum yang kasusnya tidak diatur

secara eksplisit didalam Al-Quran dan hadist. metode ini lebih menekankan pada

aspek maslahat secara langsung. istihlah adalah maslahat yang tidak ditetapkan

di dalam al quran dan hadits,dan tidak pula bertentangan keduanya.

4.Saddu Al-Zari’at

Diartikan sebagai upaya mujtahid untuk menetapkan larangan terhadap

kasus hukum yang pada dasarnya mubah. larangan itu dimaksudkan untuk

menghindari perbhuatan lain atau tindakan lain yang dilarang. artinya,segala

sesuatu yang mubah tetapi akan membawa kepada perbuatan yang lain

haram,hukumnya menjadi haram.contoh nya adalah seorang hakim dilarang

menerima hadiah dari pihak yang sedang perkara sebelum perkara itu

diputuskan, karena dikhawatirkan akan membawa kepada ketidak adilan

(15)

BAB III PENUTUP

A. Simpulan

Hukum islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah melalui

wahyu-Nya yang terdapat dalam Al-Quran dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad

sebagai Rasul-Nya melalui Sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik

dalam kitab-kitab Hadist. Hukum Islam tidak hnaya mengatur hubungan

manusia dengan manusia lain dalam masyarakat, termasuk dirinya sendiri

dan benda serta alam semesta, tetapi juga hubungan manusia dengan Tuhan.

Adapun tujuan hukum Islam secara umum adalah mencegah kerusakan

pada manusia dan mendatangkan kemaslahatan bagi mereka, mengarahkan

mereka pada kebenaran untuk mencapai kebahagiaan hidup manusia di dunia

dan di akhirat kelak, dengan jalan mengambil segala yang bermanfaat dan

mecegah atau menolak yang mudharat, yakni yang tidak berguna bagi hidup

dan kehidupan manusia.

B. Saran

Karena penulisan makalah ini jauh dari sempurna dan demi kemajuan

karya tulis kami ini, kami mengharap kritik dan saran. Apabila ada kesalahan

dalam penulisan bahasa, penyusunan makalah ini kami mohon maaf. Akhir

kata dari kami semoga makalah ini berguna bagi para pembaca pada

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Elmubarok, Zaim dkk. 2016. ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN. Semarang : UNNES Press

Sifa. 2017. Makalah PGSD Konsep Hukum Islam.

www.worldofsifa.blogspot.co.id. Diakses pada 16 April 2018 pukul 15.00.

Khudaifi. 2016. Makalah tentang sumber-sumber hukum.

Referensi

Dokumen terkait

“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.” (Q.S. Ada yang disebabkan

Pada pendederan benih teripang pasir, pemberian pakan hanya dengan penambahan probiotik saja dapat meningkatkan pertumbuhan, sintasan, dan aktivitas enzim (lipase, amilase,

Sesuai dengan hasil penelitian dari efek tanaman beracun terhadap hewan mencit (Yuningsih et al., 2003), bahwa pemberian dengan dosis 1 ml minyak kroton (MK) terhadap 10 ekor

KPK sebagai lembaga negara baru yang dibentuk dengan amanat UU Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan UU KPK, KPK

Berdasarkan uraian hubungan metode cooperative learning time token dengan konsep minat belajar tersebut yang meliputi (1) sikap emosional siswa dalam pembelajaran

Berdasarkan tujuan maka disusun Sasaran-sasaran kegiatan antara lain tersedianya SDM yang handal dan profesional serta fasilitas penelitian dan observasi yang

Fakultas Tarbiyah dan Kependidikan merupakan lembaga akademis yang dikembangkan dari Jurusan Tarbiyah dengan beberapa program studi yang lebih dimantapkan. Arti penting

yang dirancang berkecepatan 40 Knot, analisa stabilitas kapal hydrofoil dalam kondisi air tenang, hydrofoil yang digunakan adalah hydrofoil type T, analisa pemilihan foil dengan