• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUKURAN KEMATANGAN PENYELARASAN STRATEGIS TI-BISNIS DENGAN METODE VAN HOUT STUDI KASUS DI BANK X

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGUKURAN KEMATANGAN PENYELARASAN STRATEGIS TI-BISNIS DENGAN METODE VAN HOUT STUDI KASUS DI BANK X"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUKURAN KEMATANGAN PENYELARASAN STRATEGIS

TI-BISNIS DENGAN METODE VAN HOUT STUDI KASUS DI BANK X

Abraham Aji, Suyoto, Sapty Rahayu

Magister Teknik Infomatika, Universitas Atma Jaya

E-mail: aji763@yahoo.com, suyoto@mail.uajy.ac.id, saptyrahayu@gmail.com

Abstrak

Salah satu faktor penting untuk mencapai apa yang menjadi sasaran bisnis perusahaan adalah keselarasan antara strategi TI dan strategi bisnis. Dengan terciptanya keselarasan strategis TI-bisnis diharapkan bisnis akan mampu untuk bisa tetap kompetitif dalam lingkungan yang terus berubah. Namun hal ini tidak mudah mengingat belum semua perusahaan telah mampu mengangkat nilai TI dan mendapat keluaran yang bersifat strategis, meski perusahaan sudah melakukan pembelanjaan dan menggelontorkan dana yang besar untuk TI. Bank X sebagai salah satu badan usaha swakelola milik pemeirntah yang bergerak di sektor perbankan telah menerapkan TI sebagai salah satu alat untuk mengotomasasi dan mengefisienkan proses bisnis yang ada. Persaingan yang ketat dalam industri perbankan menuntut bank X untuk juga bisa memanfaatkan TI sedemikian rupa sehingga apa yang menjadi sasaran bisnis bank dapat tercapai. Berdasarkan kebutuhan tersebut maka pada kesempatan ini peneliti mencoba melakukan penelitian untuk mengukur konsep keselarasan strategis TI-bisnis di bank X. Saat ini bank X telah mencapai level 3 (tiga) di mana pada level tersebut bank X telah menyelaraskan strategi TI dan bisnis dengan melakukan standarisasi dalam tata kelola, proses-proses dan komunikasi untuk mencapai sasaran bisnis.

Kata kunci: Van Hout, kematangan, keselarasan strategis, strategi, TI, bisnis

Abstract

One of the most important factor which determines the achievement of company’s business goals is the alignment

between IT and business strategy. With the attaining of IT-bisnis strategic alignment it is expected that business would stay competitive in the turbulent environment. In fact, this is not easy to achieved considering that not every companies had been successful to implement this concept, regardless the bulk of investment they have bestowed upon IT. X bank

as one of government’s business entity which operate in financial industry, has long been implementing information

technology as a tool to automate and streamline its existing business process. Fierce competition in banking industri has led an urgency to X bank to manage IT as proficient as possible to achieve its goals. Based on this urgency, the researcher performed a research to asses the IT-business alignment in X bank. The result shows that X bank has achieved level 3, in which X bank has achieved IT-business strategic alignment by standardize its governance, processes, and communication to reach its business goals.

Keyword: Van Hout, maturity, strategic alignment, strategy, IT, business

1.

PENDAHULUAN

Perusahaan-perusahaan masa kini

menghadapai tantangan yang tidak mudah untuk

memenangkan persaingan bisnis yang makin

kompetitif [2]. Perubahan lingkungan yang terus

menerus dan kompetisi yang keras menyebabkan

perusahaan mau tidak mau harus bisa beradaptasi

dengan lingkungan atau gagal dalam dalam bisnis.

Dalam keadaan tersebut, dalam rangka untuk

perusahaan tetap kompetitif, maka perusahaan perlu

untuk meningkatkan praktik dan prosedur dalam

(2)

ketatnya persaingan bisnis, maka

perusahaan-perusahaan berupaya untuk menginvestasikan sumber

daya-sumber daya yang dimiliki dalam merancang dan

mengembangkan strategi guna memenangkan

persaingan. Salah bentuk investasi untuk perancangan

dan pengembangan strategi dalam memenangkan

persaingan bisnis tersebut adalah dengan penerapan

teknologi informasi (TI), hal ini karena

perusahaan-perusahaan telah menyadari bahwa TI tidak hanya

mampu mendukung operasional perusahaan tetapi

juga mampu mendukung perencanaan dan

pengambilan strategis jangka panjang. TI disebut

dapat melahirkan model bisnis baru, menciptakan

keuntungan kompetitif dalam bentuk harga yang lebih

besaring, mengefisienkan proses bisnis internal dan

juga mengubah cara bisnis perusahaan dilaksanakan

[2]. Pendapat ini dikuatkan oleh Helaly [5] bahwa

untuk perusahaan bisa survive dalam persaingan bisnis maka perusahaan harus memiliki nilai lebih

dibandingkan perusahaan lain. TI bisa menjadi faktor

pendiferensiasi antara perusahaan yang satu dan

perusahaan yang lain. Ekstedt dkk. [4] mengatakan

bahwa kunci bagi perusahaan yang sukses adalah

ketika pengerahan teknologi informasi secara efisien

dapat mendukung tercapainya strategi, sasaran dan

kebutuhan bisnis. Konsep ini oleh Shamekh [11]

dipahami sebagai keselarasan strategis TI-bisnis,

bahwa TI bisa memberikan nilai strategis terhadap

bisnis jika saja terjadi keselarasan antara strategi TI

dan bisnis dalam sebuah perusahaan.

Bertumbuhnya pemanfaatan dan kesadaran

akan peran penting TI telah merambah ke berbagai

sektor industri salah satunya adalah di sektor industri

layanan. Salah satu contoh paling gamblang adalah

pemanfaatan TI di industri perbankan di mana melalui

produk-produk terkait TI, bank bisa memberikan

beragam layanan kepada konsumennya [7]. Bank X

sebagai salah satu badan usaha milik pemerintah

dengan skala bisnis regional yang bergerak di sektor

perbankan telah menerapkan TI sebagai salah satu alat

untuk mengotomasi dan mengefisienkan proses bisnis

yang ada. Persaingan yang ketat dalam industri

perbankan menuntut bank X untuk juga bisa

memanfaatkan TI sedemikian rupa sehingga apa yang

menjadi sasaran bisnis bank dapat tercapai. Salah satu

faktor penting untuk mencapai sasaran tersebut adalah

keselarasan antara strategi TI dan tercapainya tujuan

bisnis bank, mengingat dengan terciptanya

keselarasan strategis TI-bisnis diharapkan bank akan

mampu untuk bisa tetap kompetitif dalam lingkungan

yang tersebut berubah. Pada kesempatan ini peneliti

mencoba mengaplikasikan konsep keselarasan

strategis TI-bisnis tersebut dengan melakukan

pengukuran level kematangan penyelarasan strategis

TI-bisnis pada industri perbankan khususnya bank X.

Penelitian ini dilandasi oleh motivasi bahwa dengan

melakukan pengukuran kematangan penyelarasan

strategis TI-bisnis, maka pihak manajemen bank X

dapat melihat gambaran mengenai sejauh mana level

kematangan penyelarasan strategis TI-bisnis di bank

X. Selain itu penelitian ini juga memungkinkan pihak

manajemen untuk dapat mengidentifikasi peluang

pengembangan ke depan sehingga pihak manajemen

bank dapat menerapkan berbagai kebijakan yang

nantinya diharapkan dapat semakin meningkatkan

nilai kompetitif bank X dalam menghadapi persaingan

terhadap bank-bank lain.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Strategi Bisnis

Johnson dkk. dalam Mateko [10] menyebut

(3)

operasional sebuah perusahaan dalam jangka panjang

yang didefinisikan sedemikian rupa sehingga

pengelolaan sumber daya yang dilakukan perusahaan

sesuai dengan lingkungan bisnis yang terus berubah

dan secara khusus terhadap pasar dan para pelanggan,

sehingga ekspektasi seluruh pemangku kepentingan

bisnsi dapat terpenuhi.. Sementara itu Arafat [2]

mendefinisikan strategi bisnis sebagai sebuah cetak

biru yang ingin dicapai perusahaan melalui

pendekatan-pendekatan kompetitif dalam

memposisikan perusahaan di wilayah operasinya.

Arafat [2] kemudian membagi definisi strategi bisnis

ke dalam dua perspektif yakni perspektif ke dalam dan

ke luar. Perspektif ke dalam menyatakan bahwa

strategi bisnis adalah upaya perusahaan dalam

mengendalikan, mengeksploitasi dan memberdayakan

kekuatan yang dimiliki perusahaan itu sendiri,

sehingga perusahaan mampu menyedikan sumber

daya yang sifatnya unik, jarang, tak tergantikan, belum

dijumpai di pasaran dan sulit diimitasi perusahaan

lain. Perspektif ke luar menyatakan strategis bisnis

sebagai kumpulan aktivitas di mana perusahaan

membangun hubungan dengan lingkungan

eksternalnya dan mengelola proses bisnis sehingga

bisnis yang dijalankan perusahaan sesuai dengan

lingkungan di sekitar perusahaan. Perspektif ini

menganjurkan agar perusahaan memahami dan

menganalisis lingkungan bisnis yang akan membantu

perusahaan untuk mengetahui kekuatan, kelemahan

dan memungkinkan perusahaan membedakan antara

peluang dan ancaman yang ada di sekitarnya.

Strategi TI

Luftman [9] mendefinisikan strategi TI sebagai

seperangkat keputusan yang dibuat oleh TI dan

managemen senior di mana keputusan-keputusan

tersebut mewujudkan atau mendorong strategi bisnis.

Strategi TI kemudian akan mengarah pada pengerahan

infrastruktur teknologi dan kompetensi manusia yang

akan mendukung organisasi atau perusahaan untuk

menjadi lebih kompetitif. Thackhrah [14]

menambahkan bahwa strategi TI merupakan

penggunaan sumber-sumber daya teknologi informasi

untuk memfasilitasi arus informasi ke tempat dan

waktu yang tepat yang memungkinkan bisnis

mencapai sasaran-sasarannya. Menurut Issa-Salwe

dkk. dalam Helaly [5] strategi TI adalah tentang

bagaimana mengimplementasikan sistem informasi

sehingga memenuhi persyaratan-persyaratan yang

diajukan organisasi, atau dengan kata lain memenuhi

permintaan atas informasi dan sistem untuk

mendukung keseluruhan strategi bisnis termasuk

rencana-rencana untuk meraih dan memelihara

keuntungan bisnis tersebut. Di lain pihak Chenet dkk.

dalam Helaly [5] mendefinisikan strategi TI sebagai

sudut pandang organisasi dalam berinvestasi,

mengerahkan, menggunakan dan mengelola sistem

informasi. Sementara Gartlan dan Shank [6] lebih

mendefinisikan strategi TI sebagai alat bisnis yang

digunakan untuk membentuk jalur bisnis masa depan

dan mengelola penggunaan dan manajemen

sumber-sumber daya teknologi informasi, hubungan bisnis dan

TI baik eksternal dan internal, dan arus atau

penyimpanan informasi di keseluruhan organisasi.

Pengukuran

Kematangan

Penyelarasan

Strategis TI-Bisnis

Salah satu model yang dapat dimanfaatkan

untuk menilai seberapa jauh organisasi telah mencapai

(4)

model penilaian kematangan penyelarasan strategis

TI-bisnis yang diajukan oleh Van Hout [15]. Model

ini dikembangkan dengan cara mengkombinasikan

beberapa model penilaian yang sudah ada seperti

framework MIT90 oleh Morton dalam Van Hout [15], Strategic Alignment Model oleh Henderson dan Venkrataman dalam Van Hout [15], Strategic

Alignment Maturity Model oleh Luftman dalam Van Hout [15] dan Integrated Architecture Framework atau IAF oleh Maes dkk.dalam Van Hout [15].

Secara umum gambaran dari model keselarasan

strategi TI-bisnis yang dikembangkan oleh Van Hout

[15] dapat ditunjukkan dalam gambar 1. sebagai

berikut:

Gambar 1. Model Keselarasan Startegis TI-bisnis Rancangan Van Hout Sebuah perusahaan dapat memiliki level

kematangan keselarasan strategis TI-bisnis dari level 1

hingga level 5 di mana level 1 merupakan skor

kematangan keselarasan strategis yang terendah dan

level 5 sebagai level tertinggi [9]. Secara ringkas tolak

ukur kematangan keselarasan strategis TI-bisnis dapat

dirangkum pada gambar 2. sebagai berikut:

Level 5

Optimized

Level 4

Improved Process

Level 3

Established Porcess

Level 2

Committed Process

Level 1

Ad Hoc Process

(5)

3. METODE PENELITIAN

Pengambilan data penelitian dilakukan dengan

teknik wawancara dan penyebaran kuesioner kepada

para pimpinan bisnis dan TI bank X. Adapun studi

literatur dilakukan untuk memperdalam pemahaman

teori dan mendukung dalam aplikasi teori tersebut

pada subyek penelitian.

Sebelum kuesioner tersebut disebarkan untuk

pengambilan data, peneliti melakukan uji validitas dan

reliabilitas agar kuesioner yang dimaksud dapat

mengukur apa yang ingin diukur dan menghasilkan

jawaban yang konsisten jika diisi oleh responden yang

berbeda. Uji validitas dan reliabilitas yang dimaksud

divalidasi oleh 5 pakar dalam bidang sistem informasi.

Untuk rumus dan hasil uji tersebut akan dijelaskan

sebagai berikut:

3.1 Uji Validitas

Nilai validitas kuesioner dihitung menggunakan

rumus oleh Lawshe [8] sebagai berikut:

di mana:

CVR: Content Validity Rasio

Mp : banyaknya pakar yang menyatakan sebuah

butir kuesioner relevan

M : jumlah total pakar yang berpartisipasi

Lawshe [8] menyatakan bahwa nilai minimum sebuah

butir kuesioner dinyatakan valid dengan jumlah total

pakar sebanyak 5 orang adalah 0,99. Berikut hasil uji

validitas yang telah dilakukan

:

No

CVR

Interpretasi

No

CVR

Interpretasi

1

1,0

Valid

15

1,0

Valid

2

1,0

Valid

16

1,0

Valid

3

1,0

Valid

17

1,0

Valid

4

1,0

Valid

18

1,0

Valid

5

1,0

Valid

19

1,0

Valid

6

1,0

Valid

20

1,0

Valid

7

1,0

Valid

21

1,0

Valid

8

1,0

Valid

22

1,0

Valid

9

1,0

Valid

23

1,0

Valid

10

1,0

Valid

24

1,0

Valid

11

1,0

Valid

25

1,0

Valid

12

1,0

Valid

26

1,0

Valid

13

1,0

Valid

27

1,0

Valid

14

1,0

Valid

3.2 Uji Reliabilitas

Nilai uji reliabilitas kuesioner dihitung menggunakan rumus dari Christman [3] sebagai berikut:

CVR = Mp

M/2 = (2Mp/M)

1

(6)

di mana:

r KR20 = koefisien korelasi dengan KR20

k = jumlah butir soal

p = proporsi jawaban benar pada butir tertentu

q = proporsi jawaban salah pada butir tertentu (q=1-p)

s2 = varians skor total

Christman [3] mengatakan bahwa jika nilai r di atas 6,0 maka butir-butir kuesioner dapat dinyatakan reliable. Berikut hasil uji relibilitas yang telah dilakukan:

No

R KR

20

Interpretasi

R KR

20

No

Interpretasi

1

1,0

Reliable

1,0

15

Reliable

2

1,0

Reliable

1,0

16

Reliable

3

1,0

Reliable

1,0

17

Reliable

4

1,0

Reliable

1,0

18

Reliable

5

1,0

Reliable

1,0

19

Reliable

6

1,0

Reliable

1,0

20

Reliable

7

1,0

Reliable

1,0

21

Reliable

8

1,0

Reliable

1,0

22

Reliable

9

1,0

Reliable

1,0

23

Reliable

10

1,0

Reliable

1,0

24

Reliable

11

1,0

Reliable

1,0

25

Reliable

12

1,0

Reliable

1,0

26

Reliable

13

1,0

Reliable

1,0

27

Reliable

14

1,0

Reliable

Ada dua tahapan proses yang dilakukan untuk mengukur keselarasan strategis TI-bisnis bank X yaitu:

3.3 Pengukuran Keselarasan Strategis

TI-bisnis Dengan Metode Van Hout (27

sub dimensi

)

Pengukuran keselarasan strategis TI-bisnis di bank X

dilakukan dengan metode Van Hout yang terdiri dari

5 dimensi penentu keselarasan strategis yang dapat

dijabarkan lagi ke dalam 27 sub-subdimensi untuk

kemudian dikonversikan ke dalam sebuah kuesioner

yang berisi 27 butir pertanyaan dan melalui proses

validasi oleh para pakar. Keseluruhan skor yang

didapat akan dihitung nilai reratanya untuk tiap-tiap

subdimensi, kemudian setelah didapatkan nilai rerata

di tiap subdimensi, maka nilai-nilai rerata tersebut

dibuat rerata kembali sehingga didapatkan sebuah skor

akhir yang menyatakan level kematangan

(7)

3.4 Identifikasi & Rekomendasi Peluang

Pengembangan

Dalam

Keselarasan

Strategis TI-bisnis

Untuk dapat mengidentifikasi dan memberikan

rekomendasi bagi pengembangan keselarasan strategis

TI-bisnis bank X maka peneliti mendasarkan pada dua

hal, yaitu (1) skor keselarasan sub-subdimensi tertentu

berdasarkan metode Van Hout [15] secara teoritis

adalah masih kurang/belum optimal dan (2) bahwa

subdimensi yang dimaksud dinyatakan kurang optimal

atau sebagai penghambat keselarasan strategis

TI-bisnis/dirasa masih perlu ditingkatkan oleh pihak

responden, yang mana pernyataan ini didapatkan dari

proses wawancara dengan para responden. Faktor

yang kedua (hambatan keselarasan) ini juga

menggabungkan pertimbangan teori dari Luftman [9]

mengenai enam faktor pemicu dan pengambat

keselarasan strategis TI-bisnis. Dari kedua hal itulah

rekomendasi peluang pengembangan keselarasan

strategi TI-bisnis disusun oleh peneliti, sehingga tidak

setiap subdimensi yang secara teoritis (berdasarkan

metode Van Hout) belum optimal akan

dikelompokkan ke dalam daftar rekomendasi

pengembangan keselarasan strategis TI-bisnis di bank

X. Dengan demikian diharapkan rekomendasi yang

diberikan sifatnya realistis sesuai kebutuhan bank X.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Skor

Kematangan

Penyelarasan

Strategis TI-bisnis di Bank X

Hasil pengukuran keselarasan strategis TI-bisnis di

bank X berdasarkan data yang telah dikumpulkan

menunjukkan bahwa bank X berada di level 3

(established process) dengan skor rerata 3,66 di mana pada level tersebut bank X telah menyelaraskan

strategi TI dan strategi bisnis dengan melakukan

standarisasi dalam tata kelola, proses-proses dan

komunikasi untuk mencapai sasaran bisnisnya.

Tabel 1 menunjukkan skor dan level keselarasan

strategis secara keseluruhan sementara tabel 2, 3, 4, 5,

dan 6 memperlihatkan detil subdimensi yang dinilai

berserta skor reratanya berdasarkan metode Van Hout

[15] yang digunakan.

No

Dimensi

Kode

Skor

Level

1

Kehendak dan Dukungan

INT

3,67

3

2

Kerjasama TI dan bisnis

WOR

4,30

4

3

Pertukaran Informasi TI-bisnis

SHA

3,50

3

4

Proyek dan Perencanaan TI

IPP

3,30

3

5

Performa TI

IPF

3,55

3

Skor Keselarasan

3,66

3

No

Dimensi

Kode

Skor

Level

1

Tujuan Penerapan TI

INT-1a

3,86

3

2

Persepsi Kontribusi TI

INT-1b

4,26

4

3

Keberadaan Visi TI

INT-2a

3,60

3

4

Komunikasi Visi TI

INT-2b

3,80

3

5

Kesesuaian Alokasi Biaya

INT-3a

3,27

3

6

Kesesuaian Alokasi SDM

INT-3b

3,23

3

Skor Keselarasan

3,67

3

Tabel 1. Skor Keselarasan Strategis TI-bisnis Bank X

(8)

No

Dimensi

Kode

Skor

Level

1

Kemudahan Akses Komunikasi CIO-CEO

WOR-1a-1

4,5

4

2

Frekuensi Komunikasi CIO-CEO

WOR-1a-2

4,75

4

3

Frekuensi Komunikasi TI-bisnis

WOR-1b-1

3,75

3

4

Gaya Komunikasi TI-bisnis

WOR-1b-2

4,38

4

5

Kehadiran TI Dalam Rapat Bisnis

WOR-2a-1

3,75

3

6

Derajat Keterlibatan CEO Dalam

IT Plans

WOR-2a-2

4,5

4

7

Kerjasama TI-bisnis Dalam Pembuatan

Prioritas Proyek

WOR-2b

4,43

3

Skor Keselarasan 4,3 4

No

Dimensi

Kode

Skor

Level

1

Pengetahuan TI Atas Bisnis

SHA-1a

3,88

3

2

Pengetahuan TI Terkait Tujuan Bisnis

SHA-1b-1

4,38

4

3

Pengetahuan TI Terkait Rencana Bisnis

SHA-1b-2

3,62

3

4

Pengetahuan Bisnis Terkait TI

SHA-2

3,10

3

Skor Keselarasan

3,50

3

No

Dimensi

Kode

Skor

Level

1

Sponsor Proyek TI

IPP-1

2,0

2

2

Keselarasan Rencana TI dan Bisnis

IPP-2

4,0

4

3

Ketepatan Pembuatan Prioritas Proyek TI

IPP-3a-1

4,4

4

4

Inovasi TI

IPP-3a-2

3,25

3

5

Dasar Inisiasi Proyek TI

IPP-3b

4,125

4

Skor Keselarasan

3,3

3

No

Dimensi

Kode

Skor

Level

1

Kepemimpinan Teknologi

IPF-1a

3,25

3

2

Kreatifitas dan Inovasi Departemen TI

IPF-1b

4,0

4

3

Riwayat Kinerja Departemen TI

IPF-2a

4,38

4

4

Persepsi Kebergunaan Produk/Layanan TI

IPF-2b

3,7

3

5

Skema Bonus Bagi Departemen TI

IPF-3b

3,0

3

Skor Keselarasan

3,55

3

Tabel 3. Skor Dimensi Hubungan Kerja TI dan Bisnis

Tabel 4. Skor Dimensi Pertukaran Informasi

Tabel 5. Skor Dimensi Perencanaan dan Proyek TI

(9)

bank X :

 Dokumentasi IT strategic plan yang

disesuaikan dengan visi, misi dan rencana

strategis perusahaan mengingat visi TI bank X

belum cukup jelas atau belum terdokumenasi.

ITstrategic plan ini penting karena IT strategic plan dapat menjadi dasar bagi perencanaan sebuah perusahaan dalam investasi dan

implementasi TI. Selain itu IT strategic plan bisa dimanfaatkan sebagai tolok ukur

kesuksesan implementasi TI pada suatu

perusahaan serta meminimalkan resiko-resiko

yang mungkin timbul dari adanya implentasi

TI [1].

 Peningkatan posisi yang lebih strategis untuk

departemen TI, agar departemen bisa diikutkan

dalam penjadwalan proyek dan pemahaman

business plans bank X yang selama ini kerap menimbulkan permasalahan kurang

optimalnya IT support akibat dari kurangnya keterlibatan dalam steering committee proyek TI dan rapat-rapat pengambilan keputusan atau

pendiskusian business plan bank X.

 Peningkatan pengetahuan terkait TI di

kalangan bisnis, agar kalangan bisnis mampu

mengeksploitasi potensi TI lebih jauh bagi

keunggulan kompetitif perusahaan, lebih baik

lagi dalam menyusun requirement proyek bersama dengan kalangan TI karena faktor

perbedaan background keilmuan, lebih mampu menjustifikasi sebuah proyek TI dalam

konteks menyeimbangkan antara modal yg

dikeluarkan dan benefit yang didapat, dan

lebih realitis terkait capaian proyek TI

mengenai apa yg bisa diraih dan tidak [15].

bisnis atau kewajiban pemahaman terhadap

ranah TI sampai batas tertentu ketika bank X

mengangkat seorang manajer baru [15].

 Skema bonus yang lebih menarik untuk

departemen TI. Beberapa teori motivasi seperti

teori oleh Herzber dalam Schwalbe [12] dan

French and Raven dalam Schwalbe [12]

menunjukkan bahwa insentif yang lebih

menarik akan meningkatkan motivasi kerja

seseorang meski tidak mutlak pemicunya

hanya berupa nominal uang. Selain itu menurut

Luftman [9] kompensasi finansial adalah salah

satu bentuk program retensi untuk

mengantisipasi tingginya turnover di kalangan professional TI yang dapat berpengaruh pada

keselarasan strategis TI-bisnis. Peluang

pengembangan bisa dilakukan dengan

memberikan penghargaan lebih kepada

departemen TI jika dimungkinkan, sebagai

pendorong motivasi kerja dan untuk lebih

mengikat profesional TI dalam perusahaan

yang bersangkutan.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan serta data

penelitian yang telah diperoleh maka peneliti

mengambil kesimpulan atas penelitian ini sebagai

berikut:

 Penelitian ini menunjukkan bahwa bank X

dalam konteks keselarasan strategis TI-bisnis

berada di level 3 (established process) dengan skor rerata akhir 3,66 yang berarti bahwa bank

X telah mendefinisikan standar dalam tata

kelola, proses-proses dan komunikasi untuk

(10)

Dari kelima dimensi yang diukur (mengacu

pada metode Van Hout) maka subdimensi

sponsor proyek TI (IPP-1) memperoleh skor

terkecil yaitu 2,0, sedangkan subdimensi

frekuensi komunikasi CIO-CEO (WOR-1a-2)

memperoleh skor terbesar yaitu 4,30.

 Penggunaan metode Van Hout [15]

memungkinkan munculnya peluang

pengembangan dalam kerjasama TI-bisnis di

bank X karena dimensi-dimensi dalam metode

tersebut menjabarkan aspek-aspek apa saja

yang berpengaruh dalam relasi TI-bisnis di

sebuah lembaga keuangan.

5.2 Saran

Berdasarkan penarikan kesimpulan dan hasil

penelitian yang telah didapatkan maka peneliti

dapat memberikan saran-saran di antaranya:

 Metode Van Hout [15] masih belum divalidasi

untuk dapat digunakan dalam mengukur

keselarasan strategis TI-bisnis di industri lain

seperti retail, manufaktur, kesehatan dan-lain-lain, di luar industri keuangan. Oleh karena itu

ada peluang bagi peneliti lain untuk melakukan

hal tersebut sehingga penggunaan metode Van

Hout bisa semakin meluas.

 Metode Van Hout [15] mengukur keselarasan

strategis via komunikasi dan belum

mempertimbangkan aspek fleksibilitas

infrastruktur TI seperti pada metode Luftman

[9] yang sudah cukup populer. Hal ini menjadi

peluang bagi peneliti lain untuk

mengembangkan metode yang bersangkutan

dengan menggabungkan dengan

metode-metode lain sehingga aspek-aspek yang diukur

dapat semakin bersifat komprehensif.

6. DAFTAR PUSTAKA

[1]

Amborowati, Armadyah. Tinjauan Sebuah IT Master Plan (Studi Kasus Master Plan

Yogyakarta: STMIK AMIKOM. Diakses 14 Maret 2015.

[2] Arafat, M. (2007). Strategic Alignment Between IT And Business Strategy. (Dissertation Thesis). Unversity of Nottingham. p. 1.

[3] Christman, E., P. (2009). Interpreting Assessement Data: Statistical Techniques That You Can Use. NSTA Press

[4] Ekstedt, dkk. (2005). An Organization-Wide Approach for Assessing Strategic Business and IT Alignment. PICMET proceeding, pp. 1-20, 2005

[5] Helaly, Mohammad. (2012). The Impact of SI/TI Strategy And Business Strategy Alignment On Business Performance In The Palestinian Firns. (Master Thesis). An-Najah National University

[6] Gartland, J., dan Shanks, G. (2007). The Alignment Of Business And Information Technology Strategy In Australia. Australasians Journal Of Information System, Vol. 14, No. 2, June 2007

[7] Ho, S., J., & Mallick, S. K. (2006). The Impact of Information Technology on the Banking Industry: Theory and Empirics. Queen Mary, University of London, UK.

[8] Lawshe, H., C. (1975). Personel Psychology. Blackwell Publishing Limited

[9] Luftman, N., J. (2004). Managing The Information Technology Resource. Pearson Prentice Hall: New Jersey

[10] Mateko, S, N. (2010). The Nature Of Alignment/Fit Between Business Strategy And Maintenance Strategy In Industries In South Africa. (Master Thesis). University of Pretoria. p. 4

[11] Shamekh, R, F. (2008). Business-IT Strategic Alignment Concept In Theory And Practice. (Master Thesis). University of Goteborg. p. 24.

[12] Schwalbe, Kathy. (2011). Managing Information Technology Projects. REVISED Sixth Edition

[13] Taskin, N., dan Verville, J. (2010). An Exploratory Study On Strategic Alignment Of Enterprise Systems And Business Strategies, Performance And Flexibility. 7th International

Conference on Enterprise Sytems, Accounting and Logistic

(11)

Gambar

Gambar 2. Level Kematangan Penyelarasan Strategis TI-Bisnis
Tabel 1. Skor Keselarasan Strategis TI-bisnis Bank X
Tabel 3. Skor Dimensi Hubungan Kerja TI dan Bisnis

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian didapatkan ketuntasan belajar klasikal siswa sebesar 89,29%, ranah sikap siswa sebesar 100% dan ranah keterampilan siswa besar 100%

bahwa untuk melaksanakan urusan wajib pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah khususnya bidang kebudayaan sebagaimana ketentuan Pasal 12 ayat

Variabel karakteristik Pemda yang lain yaitu ukuran Pemda, diferensiasi fungsional, spesialisasi pekerjaan, rasio kemandirian keuangan daerah, dan pembiayaan utang dalam

Tinjauan Hukum Islam DSN terhadap Akad Ijarah Multijasa Pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus pada BMT BIF. Gedongkuning Yogyakarta)

Namun bertolak belakang dengan hasil uji analisis yang dilakukan, diketahui bahwa variabel Ukuran Perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap Earnings Response

Mengkategorikan data yang berhubungan dengan materi genesha bahan galian dan mengkaitkan fungsinya ke dalam ilmu geologi, untuk selanjutnya disimpulkan dengan

Bab ini menguraikan tentang landasan konseptual yang dihasilakn dari analisis terhadap alternatif – alternatif konsep dalam pendekatan perencanaan dan perancangan

Bone Tahun Anggaran 2016 9 Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud Bidang Pengembangan Infrastruktur Pedesaan dan Wilayah Strategis mempunyai fungsi :.. Melaksanakan