• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penentuan kadar c-organik limbah secara spektrofotometri uv-vis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penentuan kadar c-organik limbah secara spektrofotometri uv-vis"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMEN SPEKTROSKOPI LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMEN SPEKTROSKOPI

PERCOBAAN II PERCOBAAN II

PENENTUAN NILAI C-ORGANIK SAMPEL AIR LIMBAH PENENTUAN NILAI C-ORGANIK SAMPEL AIR LIMBAH MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE

OLEH OLEH

NAMA

NAMA : : FIRDAYANTI FIRDAYANTI NURDINNURDIN STAMBUK

STAMBUK : : F1C1 F1C1 15 15 022022 KELOMPOK

KELOMPOK : II : II (DUA)(DUA) ASISTEN

ASISTEN : : NUR NUR MALA MALA FAARIUFAARIU

JURUSAN KIMIA JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS MATMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI KENDARI

(2)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan. Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi, sehingga tidak ada kehidupan seandainya di bumi tidak ada air. Namun demikian, air dapat menjadi malapetaka bilamana tidak tersedia dalam kondisi yang benar, baik kualitas maupun kuantitasnya. Air yang bersih sangat didambakan untuk keperluan hidup sehari-hari, keperluan industri, kebersihan sanitasi kota dan lain sebagainya.

Pencemaran lingkungan berhubungan erat dengan limbah. Permasalahan limbah timbul karena tidak seimbangnya produksi limbah dengan pengolahannya dan semakin menurunnya daya dukung alam sebagai tempat pembuangan limbah. Pertumbuhan industri dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Dampak dari industrialisasi adalah menghasilkan produk dan hasil samping yang tidak diinginkan berupa limbah.

Limbah-limbah yang dihasilkan dari industri dapat berupa limbah cair,  padat maupun gas. Limbah-limbah yang dihasilkan ini dapat membahayakan kesehatan manusia karena dapat membawa suatu penyakit, merugikan secara ekonomi karena dapat menimbulkan kerusakan pada benda atau bangunan maupun tanaman-tanaman, dapat merusak atau membunuh kehidupan dalam air seperti ikan dan sebagainya serta menimbulkan bau yang busuk dan pemandangan yang kurang sedap. Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukan  praktikum yang berjudul penentuan nilai C-Organik terhadap sampel air limbah

(3)

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada percobaan ini adalah bagaimana cara menentukan nilai C-Organik dalam sampel air limbah menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis?

C. Tujuan

Tujuan pada praktikum ini adalah untuk mengetahui cara menentukan nilai C-Organik dalam sampel air limbah menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis.

D. Manfaat

Manfaat pada praktikum ini adalah dapat mengetahui caramenentukan nilai C-Organik dalam sampel air limbah menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis.

(4)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Seiring dengan kemajuan teknologi industri, semakin berkembang produk yang dihasilkan, sehingga dapat dirasakan peningkatan manfaat bagi kehidupan manusia. Suatu pengaruh lain dari perkembangan tersebut, yang tidak bermanfaat, yaitu limbah industri sebagai hasil samping buangan, yang dialirkan ke perairan  bebas, misalnya sungai. Apabila hasil buangan tersebut tidak diolah dengan benar dan sempurna, akan memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi lingkungan sekitar, sehingga timbullah masalah pencemaran lingkungan. Beberapa jenis zat yang biasa terdapat dalam hasil buangan industri adalah logam  berat timbal (Pb), kadmium (Cd) dan tembaga (Cu) yang dihasilkan oleh industry

tertentu (Rahmawati dkk., 2015).

Pengukuran kandungan bahan organik dapat ditentukan berdasarkan kandungan suatu bahan C-organik. C-Organik merupakan perekat butiran lepas dan sumber utama nitrogen, fosfor dan belerang. C-Organik cenderung mampu meningkatkan jumlah air yang dapat ditahan di dalam tanah dan jumlah air yang tersedia pada tanaman. Akhirnya C-organik merupakan sumber energi bagi jasad mikro. Tanpa bahan organik semua kegiatan biokimia akan terhenti (Argita dan Mangkoedihardjo, 2016).

Analisis spektrofotometri merupakan suatu metode analisis kimia yang  paling banyak digunakan. Pengguanaan analisis kuantitatif yang banyak digunakan adalah spektrofotometri UV-Vis. Spektrofotometri UV-Vis memberikan kemudahan dalam pengukuran, kepekaan, presisi dan selain itu

(5)

instrumen ini relatif mudah dan mudah dalam pengoperasiannya (Fereja dkk., 2015).

Spektrofotometri UV-Vis penggunaan sinarnya dibagi dua yaitu, ultraviolet (UV) dan Visible (tampak). Panjang gelombang pada sinar UV yaitu 200-400 nm sedangkan panjang gelombang pada sinar visible (tampak) yaitu 400-800 nm. Pengukuran spektrofotometri menggunakan alat spektrofotometer yang melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis (Adeeyinwo dkk., 2013).

Hasil pengukuran yang diperoleh menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis, data yang diperoleh dapat dihitung menggunakan persamaan regresi linier, y = ax+b. Dimana y = absorban / luas daerah di bawah kurva, x = konsentrasi (μg/mL), a = intersep / titik potong pada sumbu Y, dan b = slope (Chandra dkk., 2017).

(6)

III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin 30 Oktober 2017 pada pukul 13.00-17.10 WITA dan bertempat di Laboratorium Kimia Analitik, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, gelas ukur, pipet ukur,  filler , labu takar 50 mL dan 25mL, pipet tetes dan spektofotometer UV-Vis.

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah K 2Cr 2O7  1 N, H2SO4 pekat, larutan glukosa, sampel air limbah dan akuades.

(7)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan 1. Data Pengamatan

Hasil Pengukuran Absorbans Larutan Standar

 No. Larutan Standar Abs 1 Abs 2

1 0 0 0 2 100 0.184 0.171 3 150 0.106 0.447 4 550 0.197 0.480 5 1500 0.364 0.446 6 3000 0.439 0.561

Pengukuran Absorbans Sampel

Sampel Abs 1 Abs 2 Abs 3 Abs rata-rata A 0.155 0.464 0.604 0.30575 B 0.181 0.531 0.534 0.31150 2. Grafik Kurva Standar Hubungan Konsentrasi dengan Absorbans

y = 0.00013x + 0.10417 R² = 0.82474 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500

(8)

3. Analisis Data

Dari kurva kalibrasi standar didapatkan kurva dengan nilai R 2  paling tinggi, yaitu pada grafik 1 dengan persamaan linear (y = 0.00013x + 0.10417) dimana (y) menyatakan nilai pengukuran absorbansi (x) menyatakan kadar C-Organilk dalam sampel.

1. Diketahui : y = 0.30575 (sampel A) a = 0,00013  b = 0,10417 Ditanyakan : x = ...? Penyelesaian: yA1 = ax + b 0,30575 = 0,00013x + 0,10417 0,00013x = 0,30575 - 0,10417 X = 0,20158 0,00013 = 1550,6153 ppm 2. Diketahui : y = 0,31150 (sampel B) a = 0,00013  b = 0,10417 Ditanyakan : x = ...? Penyelesaian: yB1 = ax + b 0,31150 = 0,00013x + 0,10417 0,00013x = 0,31150 - 0,10417 X = 0,20733 0,00013 = 1594,8461 ppm

(9)

B. Pembahasan

Penentuan C-organik merupakan suatu cara analisis senyawa organic dengan menentukan kadar karbon secara total dalam senyawa organik tersebut dari hasil proses oksidasi sempurna. Karbok organik dalam air dan limbah cair terdapat dalam bentuk senyawa organik. Keberadaan senyawa karbon dalam air lazim diukur melalui uji BOD ( Biochemical Oxygen Demand ) dan uji COD (Chemical Oxygen Demand ), namun terdapat cara lain untuk pengukuran karbon organic secara total yaitu penentuan karbon organic total.

Percobaan kali ini yaitu penentuan nilai C-organik sampel air limbah menggunakan metode spektrofotometri UV-Visible. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui cara menentukan nilai C-organik dari sampel air limbah dengan memanfaatkan metode spektrofotometri UV-Visible. Sampel yang digunakan adalah air limbah dari rumah makan (sampel A) dan air limbah dari pelelangan (sampel B). Selain dalam penentuan nilai C-organik ini dibutuhkan larutan standar sebagai larutan pembanding yang telah diketahui konsentrasi, pada praktikum ini digunakan larutan standar glukosa. Larutan standar glukosa ini divariasikan konsentrasinya mulai dari 0 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 550 ppm, 1500 ppm dan 3000 ppm. Larutan standar kemudian diukur absorbansnya dengan masing-masing konsentrasi diukur sebanyak 2 kali yang bertujuan untuk melihat presisi dan akurasi dari instrument yang digunakan. Dari hasil pengamatan diperoleh nilai absorbans untuk konsentrasi 0 ppm adalah 0 sebab belum ada zat yang bisa diserap oleh instrumen spektrofotometer UV-Vis. Selanjutnya untuk glukosa 100

(10)

hasil yang diperoleh ini dapat dikatakan masih memiliki presisi yang baik karena kedekatan hasil yang diperoleh. Selanjutnya pada konsentrasi 150 ppm, diperoleh nilai absorbans 0,106 dan 0,447. Nilai yang diperoleh ini tidak presisi sebab hasilnya tidak berdekatan dan tidak akurat sebab nilai yang diperoleh pada absorbans 1 berada dibawah konsentrasi yang 100 ppm dimana seharusnya semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula absorbans yang diperoleh.  Namun untuk konsentrasi-konsentrasi selanjutnya, yaitu 550, 1500 dan 300 ppm.  Nilai yang diperoleh mengalam peningkatan yang dapat diindikasikan bahwa hasil

yang diperoleh akurat walaupun presisinya tetap kecil.

Tahap selanjutnya adalah menentukan absorbans dari sampel A dan sampel B dengan 3 kali pengukuran untuk masing-masing sampel. Untuk sampel A diperoleh nilai absorbans rata-rata adalah 0,30575 dan nilai absorbans rata-rata untuk sampel B adalah 0,31150. Data tersebut kemudian dimasukkan dalam  persamaan regresi linear larutan standar yaitu y = 0,00013x + 0,10417 sehingga

nilai C-organik sampel dapat ditentukan. Dari data yang diperoleh, konsentrasi sampel A adalah 1550,6153 ppm dan sampel B adalah 1594,8461 ppm. Berdasarkan data yang diperoleh ini dapat diketahui bahwa kandungan C-organik  pada sampel air limbah pelelangan ikan lebih besar daripada sampel air limbah

(11)

V. KESIMPULAN

Berdasarkan tujuan dan hasil pengamatan, maka dapat disimpulkan bahwa nilai C-organik dalam sampel air limbahrumah makan adalah 1550,6153 ppm dan sampel air limbah pelelangan ikan adalah 1594,8461 ppm.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Adeeyinwo, C.E., Okorie N.N. dan Idowu G.O., 2013, Basic Calibration of UV/ Visible Spectrophotometer,  International Journal of Science and Technology, 2(3)

Argita, D. dan Sarwoko M., 2016, Fitoremediasi Tanah Inceptisols Tercemar Limbah Laundri dengan Tanaman Kenaf ( Hibiscus cannabinus  L.),  Jurnal Purifikasi,16(1)

Chandra, B., Harrizul R. dan Edwin A., 2017, Pengembangan dan Validasi Metode Analisis Propanolol HIdroklorida Tablet dengan Metode Absorbansi dan Luas Daerah di Bawah Kurva Secara Spektrofotometri Ultraviolet, Jurnal Farmasi Higea, 9(1)

Fereja, T.H., Muluneh F.S. dan Tizita Y.M., 2015, UV-Visible Spectrophotometric Method Development and Quantification of Ciprofloxaciline in Tablets Dosage Form,  American Journal of  Pharmacy and Pharmacology,2(1)

Rahmawati, Baharuddin H. dan Siti N., 2015, Analisis Kadar Timbal (Pb) dalam Daging Kerang Bakau ( Polymesoda erosa) dan Kerang Darah ( Anadara  granosa) di Perairan Salule Pasangkayu, Sulawesi Barat, J. Akad. Kim.,

Referensi

Dokumen terkait

Pada analisis kuantitatif daging buah delima ( Punica granatum L.) dilakukan dengan penetapan kadar vitamin C secara spektrofotometri UV-Vis dengan panjang

Telah dilakukan penelitian Analisis Kadar Vitamin C dalam Produk Olahan Buah Salak ( Salacca zalacca ) secara Spektrofotometri UV – Vis.. Tujuan penelitian ini adalah

antioksidan buah pinang secara spektrofotometri UV- Vis. Prosedur dimulai dengan menyiapkan sampel pinang dengan tiga keadaan, kering, basah dan cair. Penentuan

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “PENENTUAN ION LOGAM Cr DALAM AIR TANGKI REAKTOR MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS” adalah

ANALISIS KANDUNGAN FOSFAT DALAM AIR SUNGAI SEKARBELA SECARA SPEKTROFOTOMETRI

Penentuan Kadar Rhodamin B pada Blush On dengan Spektrofotometri

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah kadar kalsium dalam minuman yoghurt dengan metode spektrofotometri

Penetapan kadar flavonoid total ekstrak etanol umbi wortel (Daucus corata L.) dengan metode spektrofotometri