BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
A. Pengertian muamalahPengertian muamalah
Dr. Kaelany HD., MA mengatakan dalam bukunya, Islam Agama Universal, Dr. Kaelany HD., MA mengatakan dalam bukunya, Islam Agama Universal, bahwa ajaran Islam sangatlah luas. Ulama dengan berlandaskan hadist membagi bahwa ajaran Islam sangatlah luas. Ulama dengan berlandaskan hadist membagi ajaran Islam tersebut dalam tiga pokok bahasan, yaitu Aqidah, Syari’ah (ibadah ajaran Islam tersebut dalam tiga pokok bahasan, yaitu Aqidah, Syari’ah (ibadah dan muamalah), dan Akhlak.
dan muamalah), dan Akhlak. Sya
Syari’ri’ah ah adaadalah lah sebsebutautan n terterhadhadap ap pokpokok ok ajaajaran ran AllAllah ah dan dan RasRasulnulnya ya yayangng mer
merupaupakan kan jaljalan an ataatau u pedpedomaoman n hidhidup up manmanusiusia a daldalam am melmelakakukaukan n hubhubungunganan vertical kepada Pencipta, Allah SWT, dan juga
vertical kepada Pencipta, Allah SWT, dan juga kepada sesama manusia.kepada sesama manusia. Ada dua pendekatan dalam mendefinisikan Syari’ah, yaitu antara lain: Ada dua pendekatan dalam mendefinisikan Syari’ah, yaitu antara lain:
11.. DDaarri i sseeggi i ttuujjuuaann, , SSyyaarrii’’aah h mmeemmiilliikki i ppeennggeerrttiiaan n aajjaarraan n yyaanngg me
menjnjagaga a kekehohormrmatatan an mamanunusisia a sesebabagagai i mamakhkhluluk k tetermrmululia ia dedengnganan memelihara atau menjamin lima hal
memelihara atau menjamin lima hal penting, yaitu:penting, yaitu: a)
a) MenjaMenjamin kebmin kebebasebasan beraan beragama (Bgama (Berkeerketuhatuhanan Yannan Yang Maha Eg Maha Esa)sa) b)
b) MenjaMenjamin kemin kehiuphiupan yaan yang layng layak (mak (memeliemelihara jhara jiwa)iwa) c)
c) MenjaMenjamin kelamin kelangsungsungan hngan hidup keidup keluargluarga (menja (menjaga keaga keturunturunan)an) d)
d) MenjaMenjamin kmin kebebebebasan asan berpberpikir (mikir (memelemelihara ihara akalakal)) e)
e) MenjaMenjamin kehimin kehidupadupan dengn dengan tersean tersediandianya lapaya lapangan kengan kerja yang prja yang pantaantass (memelihara harta)
(memelihara harta)
Lima hal pemeliharaan itu akan menjadi ukuran dari lima hukum Islam, Lima hal pemeliharaan itu akan menjadi ukuran dari lima hukum Islam, seperti wajib, sunnat, haram, makruh, dan mubah.
seperti wajib, sunnat, haram, makruh, dan mubah. 22.. DDiittiinnjjaau u ddaarri i sseeggi i kkllaassiiffiikkaassii..
Terdiri dari ibadah dan
Terdiri dari ibadah dan muamalah.muamalah. 1)
1) Pengertian muamalah menurut bahasaPengertian muamalah menurut bahasa
Etiomologi: Etiomologi:
Muamalah dari kata (
Muamalah dari kata (للممععاا) yang merupakan istilah yang digunakan untuk ) yang merupakan istilah yang digunakan untuk mengungkapkan semua perbuatan yang dikehendaki mukallaf. muamalah mengungkapkan semua perbuatan yang dikehendaki mukallaf. muamalah mengikuti pola (
mengikuti pola (ةة ََََففََ ُُ) yang ) yang bermakna bermakna bergaul (bergaul (لل ُُععََتتّّاا)) Terminologi:
Terminologi:
Muamalah adalah istilah yang
Muamalah adalah istilah yang digunakan untuk permasalahan selain ibadah.digunakan untuk permasalahan selain ibadah.
2)
aa)) AArrtti i lluuaass Menurut Ad-Dimyathi : Menurut Ad-Dimyathi :
“Suatu aktivitas keduniaan untuk mewujudkan keberhasilan akhirat” “Suatu aktivitas keduniaan untuk mewujudkan keberhasilan akhirat” Menurut Yusuf Musa :
Menurut Yusuf Musa :
“Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita’ati dalam hidup “Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita’ati dalam hidup bermasyaraka
bermasyarakat t untuk menjaga kepentingan manusia”untuk menjaga kepentingan manusia”
“Segala peraturan yang diciptakan Allah untuk mengatur hubungan “Segala peraturan yang diciptakan Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam
manusia dengan manusia dalam kehidupannykehidupannya”a” Menurut Dr.Abdul Sattar Fathullah Sa’id :
Menurut Dr.Abdul Sattar Fathullah Sa’id :
“Fiqh muamalat ialah hukum syari’ah yang berkaitan dengan transaksi “Fiqh muamalat ialah hukum syari’ah yang berkaitan dengan transaksi manu
manusia sia mengmengenai enai jual jual beli, gadai, beli, gadai, perdaperdaganggangan, an, pertapertanian, nian, sewa sewa--menyewa, perkongsian, perkawinan, penyusuan thalak, iddah, hibah menyewa, perkongsian, perkawinan, penyusuan thalak, iddah, hibah && hadiah, washiat, warisan, perang dan
hadiah, washiat, warisan, perang dan damai”.damai”.
Jadi, muamalah dalam arti luas adalah “Aturan-aturan Allah untuk Jadi, muamalah dalam arti luas adalah “Aturan-aturan Allah untuk men
mengatgatur ur manmanusiusia a dadalam lam kaikaitantannya nya dendengan gan uruurusan san dunduniawiawi i daldalamam pergaulan sosial”.
pergaulan sosial”. Dal
Dalam am konkontektekss muamalahmuamalah dadalalam m mamaknkna a luluasas, , IbIbnu nu AbAbididinin
membagi muamalah kepada 5 bidang membagi muamalah kepada 5 bidang
1)
1) Mu’awadhah MaliyahMu’awadhah Maliyah (hukum kebendaan)(hukum kebendaan)
2)
2) Munakahat (Hukum perkawinan)Munakahat (Hukum perkawinan) 3)
3) Muhasanat (Hukum Acara)Muhasanat (Hukum Acara) 4)
4) Amanat dan ‘Ariyah (Pinjaman)Amanat dan ‘Ariyah (Pinjaman) 5)
5) Tirkah (harta warisan)Tirkah (harta warisan) bb)) AArrtti i sseemmppiitt
Menurut Khudhari Byk : Menurut Khudhari Byk :
“Semua akad yang membolehkan manusia saling
“Semua akad yang membolehkan manusia saling menukar manfaatnya”menukar manfaatnya” Menurut Rasyid Ridha :
Menurut Rasyid Ridha : “Tukar menuk
“Tukar menukar barang atau sesuar barang atau sesuatu yang bermaatu yang bermanfaat nfaat dengan cara yadengan cara yangng ditentukan”
ditentukan” Menurut
Menurut Dr.Mustafa Dr.Mustafa Ahmad Ahmad Zarqa,Zarqa, “Hu
“Hukumkum-hu-hukum kum tententantang g peperburbuataatan n manmanusiusia a yanyang g beberkarkaitaitan n dedengangann hu
hububungngan an sesesasama ma mamanunusisia a memengngenenai ai haharta rta kekekakayayaanan, , hahak-k-hahak k dadann penyelesaia
penyelesaian n sengketa”.sengketa”.
Jadi muamalah dalam arti sempit adalah “Aturan-aturan Allah yang Jadi muamalah dalam arti sempit adalah “Aturan-aturan Allah yang meng
mengatur atur hubuhubungan manusia ngan manusia dengdengan an manumanusia sia daladalam m mempmemperoleeroleh h dandan me
mengengembambangkngkan an harharta ta benbenda” da” ataatau u “at“aturauran n tententantang g kegkegiatiatan an ekekonoonomimi manusia”
manusia”
Ibadah wajib berpedoman pada sumber ajaran Al-Qur’an dan Al-Sunnah, yaitu Ibadah wajib berpedoman pada sumber ajaran Al-Qur’an dan Al-Sunnah, yaitu harus ada contoh (tatacara dan praktek) dari Nabi Muhammad SAW. Konsep harus ada contoh (tatacara dan praktek) dari Nabi Muhammad SAW. Konsep ibadah ini berdasarkan kepada
ibadah ini berdasarkan kepada mamnu’ mamnu’ (dilarang atau haram). Ibadah ini antara(dilarang atau haram). Ibadah ini antara
lai
aa)) AArrtti i lluuaass Menurut Ad-Dimyathi : Menurut Ad-Dimyathi :
“Suatu aktivitas keduniaan untuk mewujudkan keberhasilan akhirat” “Suatu aktivitas keduniaan untuk mewujudkan keberhasilan akhirat” Menurut Yusuf Musa :
Menurut Yusuf Musa :
“Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita’ati dalam hidup “Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita’ati dalam hidup bermasyaraka
bermasyarakat t untuk menjaga kepentingan manusia”untuk menjaga kepentingan manusia”
“Segala peraturan yang diciptakan Allah untuk mengatur hubungan “Segala peraturan yang diciptakan Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam
manusia dengan manusia dalam kehidupannykehidupannya”a” Menurut Dr.Abdul Sattar Fathullah Sa’id :
Menurut Dr.Abdul Sattar Fathullah Sa’id :
“Fiqh muamalat ialah hukum syari’ah yang berkaitan dengan transaksi “Fiqh muamalat ialah hukum syari’ah yang berkaitan dengan transaksi manu
manusia sia mengmengenai enai jual jual beli, gadai, beli, gadai, perdaperdaganggangan, an, pertapertanian, nian, sewa sewa--menyewa, perkongsian, perkawinan, penyusuan thalak, iddah, hibah menyewa, perkongsian, perkawinan, penyusuan thalak, iddah, hibah && hadiah, washiat, warisan, perang dan
hadiah, washiat, warisan, perang dan damai”.damai”.
Jadi, muamalah dalam arti luas adalah “Aturan-aturan Allah untuk Jadi, muamalah dalam arti luas adalah “Aturan-aturan Allah untuk men
mengatgatur ur manmanusiusia a dadalam lam kaikaitantannya nya dendengan gan uruurusan san dunduniawiawi i daldalamam pergaulan sosial”.
pergaulan sosial”. Dal
Dalam am konkontektekss muamalahmuamalah dadalalam m mamaknkna a luluasas, , IbIbnu nu AbAbididinin
membagi muamalah kepada 5 bidang membagi muamalah kepada 5 bidang
1)
1) Mu’awadhah MaliyahMu’awadhah Maliyah (hukum kebendaan)(hukum kebendaan)
2)
2) Munakahat (Hukum perkawinan)Munakahat (Hukum perkawinan) 3)
3) Muhasanat (Hukum Acara)Muhasanat (Hukum Acara) 4)
4) Amanat dan ‘Ariyah (Pinjaman)Amanat dan ‘Ariyah (Pinjaman) 5)
5) Tirkah (harta warisan)Tirkah (harta warisan) bb)) AArrtti i sseemmppiitt
Menurut Khudhari Byk : Menurut Khudhari Byk :
“Semua akad yang membolehkan manusia saling
“Semua akad yang membolehkan manusia saling menukar manfaatnya”menukar manfaatnya” Menurut Rasyid Ridha :
Menurut Rasyid Ridha : “Tukar menuk
“Tukar menukar barang atau sesuar barang atau sesuatu yang bermaatu yang bermanfaat nfaat dengan cara yadengan cara yangng ditentukan”
ditentukan” Menurut
Menurut Dr.Mustafa Dr.Mustafa Ahmad Ahmad Zarqa,Zarqa, “Hu
“Hukumkum-hu-hukum kum tententantang g peperburbuataatan n manmanusiusia a yanyang g beberkarkaitaitan n dedengangann hu
hububungngan an sesesasama ma mamanunusisia a memengngenenai ai haharta rta kekekakayayaanan, , hahak-k-hahak k dadann penyelesaia
penyelesaian n sengketa”.sengketa”.
Jadi muamalah dalam arti sempit adalah “Aturan-aturan Allah yang Jadi muamalah dalam arti sempit adalah “Aturan-aturan Allah yang meng
mengatur atur hubuhubungan manusia ngan manusia dengdengan an manumanusia sia daladalam m mempmemperoleeroleh h dandan me
mengengembambangkngkan an harharta ta benbenda” da” ataatau u “at“aturauran n tententantang g kegkegiatiatan an ekekonoonomimi manusia”
manusia”
Ibadah wajib berpedoman pada sumber ajaran Al-Qur’an dan Al-Sunnah, yaitu Ibadah wajib berpedoman pada sumber ajaran Al-Qur’an dan Al-Sunnah, yaitu harus ada contoh (tatacara dan praktek) dari Nabi Muhammad SAW. Konsep harus ada contoh (tatacara dan praktek) dari Nabi Muhammad SAW. Konsep ibadah ini berdasarkan kepada
ibadah ini berdasarkan kepada mamnu’ mamnu’ (dilarang atau haram). Ibadah ini antara(dilarang atau haram). Ibadah ini antara
lai
(hubungan kita dengan sesama manusia dan lingkungan), masalah-masalah dunia, (hubungan kita dengan sesama manusia dan lingkungan), masalah-masalah dunia, seperti makan dan minum, pendidikan, organisasi, dan ilmu pengetahuan dan seperti makan dan minum, pendidikan, organisasi, dan ilmu pengetahuan dan teknologi, berlandaskan pada prinsip “boleh” (jaiz) selama tidak ada larangan teknologi, berlandaskan pada prinsip “boleh” (jaiz) selama tidak ada larangan yang tegas dari Allah dan
yang tegas dari Allah dan Rasul-Nya.Rasul-Nya. Berkaitan dengan hal di atas
Berkaitan dengan hal di atas (mu’amalah), Nabi Muhammad SAW mengatakan:(mu’amalah), Nabi Muhammad SAW mengatakan:
“Bila dalam urusan agama (aqidah dan ibadah) Anda contohlah saya. Tapi, “Bila dalam urusan agama (aqidah dan ibadah) Anda contohlah saya. Tapi, dalam urusan dunia Anda, (teknis mu’amalah), Anda lebih tahu tentang dunia dalam urusan dunia Anda, (teknis mu’amalah), Anda lebih tahu tentang dunia Anda.”
Anda.”
Dalam ibadah, sangat penting untuk diketahui apakah ada suruhan atau Dalam ibadah, sangat penting untuk diketahui apakah ada suruhan atau contoh tata cara, atau aturan yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. contoh tata cara, atau aturan yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Apabila hal itu tidak ada, maka tindakan yang kita lakukan dalam ibadah itu Apabila hal itu tidak ada, maka tindakan yang kita lakukan dalam ibadah itu akan jatuh kepada
akan jatuh kepada bid’ahbid’ah, dan setiap perbuatan bid’ah adalah, dan setiap perbuatan bid’ah adalah dhalalah (sesat)dhalalah (sesat)..
Sebaliknya dalam mu’amalah yang harus dan penting untuk diketahui adalah Sebaliknya dalam mu’amalah yang harus dan penting untuk diketahui adalah apakah ada larangan tegas dari Allah dan Rasul-Nya, karena apabila tidak ada, apakah ada larangan tegas dari Allah dan Rasul-Nya, karena apabila tidak ada, hal tersebut boleh saja dilakukan.
hal tersebut boleh saja dilakukan.
Dalam hal ini, Dr. Kaelany juga menjelaskan adanya dua prinsip yang perlu Dalam hal ini, Dr. Kaelany juga menjelaskan adanya dua prinsip yang perlu kita perhatikan, yaitu:
kita perhatikan, yaitu: 1.
1. ManusManusia dilaria dilarang “meang “mencipnciptakatakan agaman agama, termas, termasuk sistuk sistem ibadem ibadah dan tatah dan tataa caranya, karena masalah agama dan ibadah adalah hak mutlak Allah dan caranya, karena masalah agama dan ibadah adalah hak mutlak Allah dan p
parara a RaRasusul-l-NyNya a yayang ng diditutugagasi si memenynyamampapaikikan an agagamama a ititu u kekepapadada ma
masysyararakakatat. . MaMaka ka memencncipiptatakakan n agagamama a dadan n ibibadadah ah adadalalah ah bibid’d’ahah.. Sedangkan setiap bid’ah adalah sesat.
Sedangkan setiap bid’ah adalah sesat. 2.
2. AdaAdanya kebnya kebebebasaasan n dasdasar dalaar dalam m menmenempempuh uh hidhidup ini, yaitu hal-up ini, yaitu hal-hahal l yayangng be
berkarkaitaitan n dendengan gan masmasalaalah h mu’mu’amaamalahlah, , sepseperterti i perpergaugaulan lan hidhidup up dandan kehidupan dalam masyarakat dan lingkungan, yang dikaruniakan Allah kehidupan dalam masyarakat dan lingkungan, yang dikaruniakan Allah kepada umat manusia (Bani Adam) dengan batasan atau larangan tertentu kepada umat manusia (Bani Adam) dengan batasan atau larangan tertentu yang harus dijaga. Sebaliknya melarang sesuatu yang tidak dilarang oleh yang harus dijaga. Sebaliknya melarang sesuatu yang tidak dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya adalah bid’ah.
Allah dan Rasul-Nya adalah bid’ah. Dala
Dalam m menjmenjalanalankan kan kesekesehariaharian, n, pentpenting ing bagi kita bagi kita untuuntuk k mengmengingaingat t duadua prinsip di atas. Ibadah tidak dapat dilakukan dengan sekehendak hati kita karena prinsip di atas. Ibadah tidak dapat dilakukan dengan sekehendak hati kita karena semua ketentuan dan aturan telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, serta semua ketentuan dan aturan telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, serta contoh dan tata caranya telah diajarkan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya. contoh dan tata caranya telah diajarkan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya. Melakukan sesuatu dalam ibadah, yang tidak ada disebutkan dalam Al-Qur’an Melakukan sesuatu dalam ibadah, yang tidak ada disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah berarti melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Sunnah berarti melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah SWT, dan ini
SWT, dan ini sungguh merupakasungguh merupakan perbuatan yang sesat.n perbuatan yang sesat.
Namun dalam beberapa hal, tentu ada hal yang harus diperhatikan sesuai Namun dalam beberapa hal, tentu ada hal yang harus diperhatikan sesuai dengan perkembangan zaman. Di sini lah implikasi dari mu’amalah itu sendiri. dengan perkembangan zaman. Di sini lah implikasi dari mu’amalah itu sendiri. Selama tidak ada larangan secara tegas di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, hal Selama tidak ada larangan secara tegas di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, hal yang dipertimbangkan itu boleh dilakukan. Hal ini telah diterangkan oleh Rasul yang dipertimbangkan itu boleh dilakukan. Hal ini telah diterangkan oleh Rasul dal
dalam am sabsabdandanya ya yanyang g sudsudah ah ditdituliulis s di di ataatas. s. SebSebagagai ai concontoh toh adaadalah lah dadalamlam keh
mengadakan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan binatang Unta sebagai kendaraan. Akan tetapi hal itu tidak mungkin sama dalam kehidupan zaman modern ini. Dan karenanya, menggunakan kendaraan bermotor diperbolehkan karena tidak ada larangan dari Allah dan Rasul-Nya
(tidak tertera larangan yang tegas dalam Al-Qur’an dan Sunnah).
PEMBAHASAN
A. Implementasi Muamalah Dalam Sejarah Modern
Jika berbicara mengenai peradaban, maka Islam sebagai sebuah agama
tidak dapat
dipisahkan dari munculnya peradaban modern dunia. Jika kita sederhanakan,p eradaban modern adalah peradaban yang sudah lebih maju sesuai dengan tuntutan
zaman dan memberikan kontribusi positif bagi kehidupan manusia. Sejarah tel ah
mencatat Islam sebagai sebuah agama telah membuktikan mampu menandingi peradaban dunia. Pada abad ke-8 hingga abad ke-12, wilayah yang peradabann
ya
dianggap paling maju adalah wilayah Timur Tengah, dengan Baghdad sebagai ibu kotanya. Baghdad yang saat itu dikuasai oleh kekhalifahan Abbasiyah adalah model era keemasan peradaban. Kemajuan peradaban muncul seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan implementasi nilai moral dalam kehidupan. Sehingga barometer suatu peradab an
dapat terukur dari sejauh mana kemajuan ilmu pengetahuan dan moral di suatu wilayah. Sebagai contoh, kita melihat
di daerah Makkah pada masa pra kenabian Muhammad Saw., saat itu terkenal dengan masa jahiliyah (bodoh).
Keterbelakangan
penduduknya dalam ilmu pengetahuan membawa pada peradaban yang terpur uk. Bukan hanya karena kebodohan para penduduknya saja, tetapi nilai moral, akhlak dan sikap terpuji juga telah memudar bahkan hilang dalam diri mereka. Sehingga tidak muncul adanya interaksi sosial yang sehat dan saling sinergi. Begitu pula di daratan Eropa pada abad ke-16, otoritas gereja begitu membelenggu para ilmuwan dalam berpendapat dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Terjadi pengekangan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dengan dogma dan doktrin yang dilakukan oleh gereja. Hal
tersebut memicu munculnya the dark age di wilayah Eropa yang membawa
kepada keterpurukan peradaban. Tetapi di masa kekhalifahan Abbasiyah membuktikan bahwa Islam mampu membangun peradaban maju di dunia. Pada sebuah kerajaan yang menjadikan Islam sebagai dasar pemerintahannya. Islam merupakan agama yang universal dan menyeluruh. Agama yang berisikan ajaran mengenai pola kehidupan manusia baik dalam tataran fungsi
ukhrawi maupun duniawi.
Agama yang bukan hanya mengatur pola hubungan manusia dengan Tuhannya tetapi mengatur pula hubungan antar sesama manusia dan seluruh alam semesta. Islam merupakan agama yang selalu mengajak umatnya agar selalu proaktif terhadap fenomena kehidupan yang terjadi. Menganjurkan kepada pemeluknya agar selalu menginisiatif dan memberikan kemaslahatan bersama. Sehingga, tak salah jika Islam merupakan agama
peradaban. Islam memberikan keleluasaan kepada para ilmuwan dan ulama untuk mempelajari seluruh fenomena kehidupan. Bukan hanya itu, Islam memberikan keutamaan kepada siapa pun yang senantiasa mempelajari ilmu.
Ditambah lagi semangat mengamalkan
hadits Rasul Saw. yang menyebutkan bahwa seorang terbaik adalah yang palin g banyak memberikan manfaat bagi bersama.
Sabda Rasulullah Saw:
Yang artinya “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain”. (HR. Ath-Thabrani)
Sehingga para ilmuwan dan ulama pun berlomba-lomba menghadirkan manfaat dan kemaslahatan bagi bersama. Mereka mengkaji dan menulis berbagai bidang ilmu yang didasari dari pemahaman mereka terhadap ajaran Islam. Diantara bidang ilmu dalam Islam, fiqih muamalah yang lebih banyak membahas tentang kehidupan dan interaksi antar sesama. Sehingga wajar jika fiqih muamalah juga memberikan kontribusi dalam membangun peradaban Islam. Lalu bagaimana fiqih muamalah mampu
memberikan andil terhadap pemahaman
yang utuh dalam menjadikan peradaban yang modern dan maju. Sejarah sudah membuktikannya betapa Islam mampu menjadikan peradaban maju. Tetapi rea lita Islam saat ini yang sudah sangat jauh dari kondisi pada abad ke-12 silam. Kondisi ini pula memperlemah keyakinan umat Islam sendiri terhadap ajarannya.
Cakupan dan Ruang Lingkup Muamalah di Zaman Modern
Sebagaimana telah dibahas, pengertian fiqih muamalah adalah ilmu ya
ng bersumber dari Quran dan
Al-Sunnah yang mengatur hubungan interaksi antar sesama manusia demi terciptanya kemaslahatan bersama. Jika melihat hal tersebut, kajian dalam interaksi sosial tentu memiliki cakupan yang luas. Sehingga wajar jika fiqih muamalah memiliki andil besar dalam membangun peradaban Islam. Adapun cakupan dari fiqih muamalah terdiri dari hukum keluarga (al-ahwal al -syakhsiyah), hukum privat/perdata/sipil (al-qanun al-madani), hukum pidana (al-qanunal-jaza`i), hukum politik (siyasah syar’iyyah) dan hukum
internasional (al-qanun al-dauli). (Ensiklopedi Hukum Islam, 1997: 357)
1. Al-Ahwal al-Syakhsiyah
Dalam al-ahwal al-syakhsiyah
dibahas mengenai tuntunan membina keluarga. Tuntunan tentang bagaimana meminang (khitbah), menikah, bercerai (thalaq) dan hubungan diantara suami dengan istri dan keluarganya. Saat ini hukum tentang keluarga ini dibahas dalam fiqih munakahat. Termasuk ahwal al-syakhsiyah meliputi masalah waris dan wasiat.
2. Al-Qanun al-Madani
Al-qanun al-madani yaitu hukum yang menyangkut kebendaan, seperti jual beli,sewa menyewa, pinjam meminjam, syarikat (kongsi perusahaan). Termasuk didalamnya dibahas tentang hak d
an syarat pelakunya. Masalah inilah yang lebih banyak dibahas dalam fiqih muamalah.
3. Al-qanun al-jaza`i
Al-qanun al-jaza`i yaitu hukum pidana yang mengatur cara melindungi
dan menjaga
keselamatan hak dan kepentingan masyarakat terhadap yang lainnya dari perbuatan yang tidak dibenarkan hukum. Para ulama membahas masalah
ini lebih dalam pada fiqih jinayah atau hudud,seperti aturan tentang qishas, zina, pencurian dan membuat kekacauan.
4. Siyasah syar’iyyah
Siyasah syar’iyyah
membahas masalah politik atau mengatur hubungan antara
negara dan pemerintahan dengan warganya yang meliputi pemimpin negar a,menegakkan pemerintahan dan syarat dan kewajiban dalam negara dan pemerintahan.
5. Al-qanun al-dauli
Al-qanun al-dauli ini meliputi pengaturan masalah hukum privat dan hukum public internasional. Di dalamnya juga dibahas masalah penggolongan non-muslim kepada al-harb (musuh yang boleh diperangi), zimmi (non muslim yang boleh tinggal di negara Islam) dan musta`min
(non muslim yang berada di negara Islam karena ada kepentingan). Termasuk di sini pula dibahas hubungan dan suasana perang (jihad).
Demikanlah cakupan secara umum dari fiqih muamalah. Sangat
lengkap dan begitu
terperinci pembahasannya. Sehingga sangat wajar jika dengan syariah mampu membangun peradaban. Hanya kembali lagi kepada umat Islam itu sendiri sebagai pelaku.
B. Tantangan, Ancaman, dan Solusi Implementasi Muamalah
1. Tantangan dan ancaman
Jika melihat kelengkapan fiqih muamalah Islam, kita meyakini bahwa solusi dari semua permasalahan adalah Islam. Mengapa tidak, Islam yang
memiliki tuntunan yang
begitu luas dan menyeluruh pasti akan sangat tepat jika kita aplikasikan dan implementasikan. Kita yakin Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin,
sehingga kita yakin jika Islam akan menyelamatkan umat dalam menjalani hidup dan kehidupan. Dengan ber-Islam kita akan terjaga dan terpelihara dari segala yang dapat merugikan diri. Islamlah ajaran yang terbaik dan termulia jika dibandingkan dengan segala ajaran yang ada di dunia ini.
Sabda Rasulullah Saw.:
Yang artinya
“Islam itu tinggi/mulia tidak ada yang menandingi ketinggiannya”.
Tetapi sayang umat Islam sendiri belum secara maksimal berupaya implementasi
dari ketinggian dan kemulian Islam ini. Mayoritas umat Islam belum menemu kan hakikat dan makna di balik kalimat indah rahmatan lil ‘alamin dan ya’lu wa la yu’la. Sehingga dalam kenyataan kedudukan Islam tidak lebih baik,
tidak lebih tinggi bahkan tidak lebih mulia dari ajaran atau tuntunan yang lainnya. Bahkan jika kita melihat keberadaan umat Islam dan negara Islam terbalik pencitraannya sebagai agama yang agung dan mulia. Sinyalemen ini pernah disampaikan oleh Syekh Muhammad Abduh, ia berkata “Islam itu
terhalang oleh (perilaku) kaum muslimin itu sendiri”.
Hal ini senada dengan apa yang disampaikan H. Rahardjo Tjakraningra t (2005), bahwa dari segi tampilan umat Islam amat terbalik dari pencitraan
ajarannya yang
indah dan mulia. Ini sebagai akibat kelemahan dan kesalahan umat Islam dala m menerapkan ajaran-ajaran Allah ‘Azza wa Jalla di muka bumi.Selain itu,
salah satu ciri majunya peradaban Islam adalah perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan. Ada garis lurus antara peradaban dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Sementara saat ini umat Islam sedang mengalami kemunduran prestasi
dalam bidang ilmu pengetahuan. Umat Islam kehilangan semangat mencari il mu
pengetahuan. Terlebih dengan adanya dikhotomi ilmu pengetahuan, umat Isla m semakin terpecah dan tidak merasa jika itu adalah bagian dari ibadah. Umat Islam kini lebih banyak menguasai ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari kebudayaan dan cara pandang Barat yang sekuler.
Tantangan lain peran fiqih muamalah dalam membangun peradaban Islam adalah melemahnya loyalitas dan kebanggaan umat Islam terhadap ajaran Islam itu sendiri. Adanya ghazwul fikri (perang pemikiran) yang berhasil merasuki cara berpikir umat Islam sehingga merasa bahwa pandangan
hidup Barat lebih baik. Penyesatan opini oleh kaum orientalis dan modernis secara gencar dilakukan sehingga umat Islam merasa ajaran Islam sudah kuno dan tidak tepat lagi dengan perkembangan zaman sementara pandangan hidup yang berdasarkan sekulerisme, matrealisme, liberalisme dan faham lainnya dianggap lebih kekinian dengan tuntutan zaman.
Bahkan lebih keras, Abul Hasan Ali Nadwi (1985) menegaskan bahwa masalah
sebenarnya di hadapan Islam sekarang bukan hanya masalah kemerosotan mor al, kekendoran ibadah, ketaatan yang berlebihan, diabaikannya praktek- praktek
keagamaan dan peniruan kebudayaan orang asing. Memang semua itu adalah hal penting, tetapi masalah sebenarnya adalah kepercayaan dan ketidakpercayaan. Yakni, apakah Islam akan terus hidup atau dicampakkan. Peperangan yang terjadi di dunia muslim sekarang adalah perang antara matrealisme Barat dan Islam sebagai wahyu terakhir dari Tuhan.
Berpegang pada ungkapan think globally and act locally,
apa yang nampak di hadapan umat Islam kita memulai langkah konkrit dengan mengimplementasikan Islam di ranah yang lebih kecil di lingkungan kita. Kita
sebagai pendidik memilki andil yang
besar dalam membangun peradaban Islam. Terlebih salah satu tantangan utam
a dewasa ini adalah ilmu pengetahuan.
Langkah awal dimulai dengan membentuk sistem yang mendukung kepada internalisasi muamalah Islam di kalangan pelajar. Mulai dari kurikulum yang mendukung, kebijakan termasuk stake holder yang memiliki visi implementasi Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya dalam pendidikan harus menjadi sebuah pembelajaran yang memberikan
makna bagi anak didik kita. Dimulai dengan memberikan pengetahuan (to know),
kemudian memberikan pemahaman yang utuh (to understanding), mengupaya
kan pelaksanaan secara praktek (to
do) dan menerapkan nilai hingga menjadi sebuah
keyakinan diri (to be). Begitu pula dengan memberikan keteladanan sehingga
seimbang antara teori dan praktek.
Dengan kata lain kita membutuhkan pendidikan karakter yang berlandaskan Islam untuk membangun peradaban. Memulai dengan menjadikan fiqih muamalah isu penting di kalangan pelajar. Memberikan pemahaman yang utuh dan menyeluruh tentang fiqih muamalah, sehingga diharapkan tidak lagi tabu bahkan lebih familiar lagi dengan fiqih muamalah. Mengenalkan pelajar dengan kondisi saat ini lalu menghubungkan dengan solusi yang
selalu tersedia dalam Islam. Sehingga anak akan lebih mudah memahami fiqih muamalah.
Mengajarkan anak untuk selalu berpikir ilmiah. Menerapkan bahwa
segala sesuatu
pasti ada landasannya. Dan Islam adalah ajaran yang mempelopori untuk berpi kir ilmiah. Tidak ada dalam fiqih muamalah yang didasari keisengan semuanya di dasari keilmiahan. Dengan ini diharapkan anak tidak asal meniru budaya lain tanpa meneliti terlebih dahulu, apa lagi bagi anak memiliki
kecenderungan meniru sangat tinggi.
Menanamkan kebanggaan terhadap Islam dan fiqih muamalah. Memba ngun loyalitas anak terhadap Islam dengan memberikan pengetahuan tentang keutamaan dan keunggulan ajaran Islam. Hal ini pula bisa terbangun dengan
tidak memisahkan
antara ilmu agama dan ilmu umum. Buatlah pengertian bahwa Islam adalah kesempurnaan dan menyeluruh semua aspek kehidupan. Diantara pendekatan pembelajaran yang efektif dalam mensosialisasikan fiqih muamalah di kalangan peserta didik adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual.
Adapun strategi yang dapat digunakan ketika menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: (Johnson, 2008:21) 1. Pembelajaran berbasis masalah, diharapkan peserta didik mampu
mengobservasi dan menganalisa permasalahan kemudian memberikan solu si sesuai dengan semangat fiqih muamalah Islam.
2. Menggunakan konteks yang beragam, untuk memberikan pemahaman yan g utuh dan wawasan yang luas.
3. Mempertimbangkan kebhinekaan siswa.
4. Memberdayakan siswa untuk belajar mandiri, untuk menguatkan pemaha man anak dalam menemukan solusi dari permasalahan.
5. Belajar melalui kolaborasi.
6. Menggunakan penilaian autentik.
Sedangkan untuk langkah-langkah penerapan pendekatan kontekstual di dalam kelas menurut Sagala (2005:92) adalah sebagai berikut:
1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry (menemukan sendiri)
untuk semua pokok bahasan.
3. Mengembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya. 4. Menciptakan masyarakat belajar.
5. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. 6. Melakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
Dari sini kemampuan kita sebagai pendidik dituntut. Wawasan dan pengetahuan menjadi modal utama dalam menginternalisasi muamalah Islam di kalangan pelajar. Dan yang paling utama menjadikan diri kita teladan dalam mengamalkan Islam sebagai jati diri kita.
C. Muamalah sebagai Sistem Terbaik
Muamalah dalam bahasa arab diambil dari kata ‘amala yang artinya
berbuat atau bertindak. Sedangkan pengertian muamalah secara ringkas disebutkan dalam Ensiklopedia Hukum Islam, yaitu hubungan kepentingan antar sesama manusia yang di dalam Al-Quran disebut dengan hablun minan naas (Ensiklopedia HukumIslam, 1997: 356). Dengan kata lain fiqih
muamalah adalah konsep atau ilmu yang bersumber dari Quran dan Al-Sunnah yang mengatur hubungan interaksi antar sesama manusia.
Konsep yang berisikan hukum-hukum syar’i mengenai pola hubungan
interaksi antar sesama manusia dengan tujuan meraih manfaat
dan kemaslahatan bersama.
Ulama berbeda pendapat tentang pembagian fiqih hukum Islam, ulama Mazha b Hanafi membagi kepada tiga, yaitu fiqih ibadah, fiqih muamalah dan
fiqih jinayah. Sedangkan ulama Mazhab Syafi’i membaginya kepada empat, yaitu fiqih ibadah, fiqih muamalah, fiqih munakahah dan fiqih ‘uqubah.
Walaupun demikian para ulama
sepakat jika secara pokok fiqih hukum Islam terbagi menjadi wilayah ibadah d an
wilayah muamalah. Wilayah ibadah lebih kepada aturan tentang kehidupan se cara individu dengan Tuhannya, sedangkan wilayah muamalah mengatur hubungan interaksi antar sesama manusia. Adanya pembagian hukum Islam secara pokok kepada wilayah ibadah dan wilayah muamalah menunjukan kesempurnaan Islam. Kesempurnaan sebuah agama ya ng
mengatur hidup dan kehidupan seluruh makhluk Allah Swt. Aturan Islam akan memberikan rahmat bagi seluruh alam semesta, rahmatan lil ’alamin.
Firman Allah SWT :
Yang artinya
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Al-Anbiya [21]: 107).
Kehadiran Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah Allah SWT yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Beliau menyampaikan ajaran yang telah terangkum dalam Al-Quran dan Al-Sunnah. Dengan ajaran ini Rasulullah Saw. mampu mengubah negara Arab yang jahiliyah menjadi sebuah peradaban yang disegani dunia. Dimulai dari pembentukan aqidah dan keyakinan kemudian membentuk masyarakat sosioreligi. Pembentukan masyarakat sosial religi dengan dasar Islam membawa kepada persoalan baru. Persoalan- persoalan ini kemudian membawa adanya tuntunan-tuntunan yang terangkum
dalam kajian fiqih muamalah.
Berbeda dengan fiqih ibadah yang lebih kepada doktrin, sehingga dalam tata caranya tidak boleh ada kreasi baru (bid’ah). Sementara dalam fiqih muamalah, para pemikir (fuqaha) dibolehkan memberikan solusi baru yang tidak bertentangan dengan dasar dalam Al-Quran dan Al-Sunnah.
Seperti ketika ada seorang sahabat yang menanyakan tentang masalah penanaman benih kurma, Rasulullah SAW menjawab:
Yang artinya “Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian. Sedangkan apa yang terkait dengan urusan agama kalian, maka itu kepadaku”. (HR. Muslim).
Sepeninggal Rasulullah SAW seiring perkembangan zaman munculah Fuqaha dan para ilmuwan yang lebih banyak mengembangkan solusi-solusi dari permasalahan yang lebih rumit. Para Fuqaha membuat interpretasi
terhadap ayat-ayat Al-Quran untuk
memberikan jawaban terhadap masalah yang ada. Di bidang fiqih muamalah-lah permasamuamalah-lahan ini dibahas yang kemudian menjadi kajian interpretasi terhadap sumber Al-Quran dan Al-Sunnah. Konsep utama dalam fiqih muamalah adalah kemaslahatan bersama. Islam sangat memperhatikan kemaslahatan bersama, tidak
melihat strata sosial, gender, tingkat pendidikan bahkan terhadap makhluk selain manusia pun sangat diperhatikan oleh Islam. Dengan keharusan mengacu kepada kemaslahatan bersama, kemudian muncul adanya maqashid syar’I (tujuan hukum islam) yang menjadi acuan para fuqaha dalam
mengambil ijtihad (pendapat).
Inilah keunggulan fiqih muamalah, bahwa tidak ada agama lain yang memiliki tuntunan dalam seluruh aspek kehidupan seperti Islam. Dari semenjak bangun
tidur, ke
kamar mandi, seluruh aktifitas hingga hendak tidur kembali Islam memiliki tuntunannya. Bahkan Islam memiliki tuntunan tentang pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Sekali lagi tuntunan tersebut ada bertujuan untuk kemaslahatan bersama, karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.
Imam Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat fi Ushuli al-Syari’ah¸
menyebutkan bahwa
kemaslahatan bagi manusia adalah tujuan dari syariah yang disebut
maqashidsyari’ah.
Maqashid syari’ah tidak keluar dari tiga pokok perkara, yaitu dharuriyat
(sangat penting/primer), hajiyat (kebutuhan/skunder) dan tahsinat (hiasan/tersier). (Asy-Syathibi: 202)
1. Dharuriyat adalah sesuatu yang mesti ada demi kemaslahatan
dunia dan agama. Apabila perkara dharuri ini tidak ada, maka tidak ada keberlangsungan kemaslahatan dunia dan agama, bahkan mengarah kepada kematian. Ada 5 (lima) hal yang termasuk perkara dharuriyat ini, yaitu memelihara keberagamaan, jiwa, keturunan, harta dan akal.
2. Hajiyat adalah sesuatu yang dibutuhkan demi kemaslahatan manusi
a. Apabila perkara hajiyat ini tidak terpenuhi, maka akan terjadi kesusahan
dan kepayahan saja
tetapi tidak sampai kehilangan nyawa. Diantara perkara
hajiyat ini adalah adanya tuntunan rukhshah (keringanan) dalam menjalankan ibadah, seperti boleh berbukashaum bagi yang sakit. Dalam muamalah seperti adanya tuntunan pinjam meminjam (qiradh) dan lain sebagainya.
3. Tahsinat
adalah sesuatu yang menjadikan lebih layak dan lebih bagus dan
menghindarkan sesuatu yang membuat jelek dan kotor. Termasuk perkara tahsinat ini adalah budi pekerti dan akhlak terpuji, seperti sopan santun, adab-adab, tidak boleh membunuh perempuan dan anak kecil ketika berperang dan lain sebagainya.
Inilah keunggulan Islam, terkhusus dalam fiqih muamalah. Islam mem berikan kesempatan yang luas kepada fuqaha dan para ilmuwan untuk
mengembangkan ilmu
yang berkaitan dengan interaksi sosial, tetapi yang perlu mendasarinya adalah Al-Quran dan Al-Sunnah.
Kesimpulan dari dasar itu adalah kemaslahatan bersama, bukan individualis seperti faham yang ada di barat diwakili dengan hedonisme,
liberalisme dan matrealisme.
Dalam sejarah tercatat bahwa permulaan peradaban Islam dibangun ketika hijarahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Berbeda dengan ketika
periode
yang menekankan masalah aqidah dan penanaman keyakinan. Periode Madina h disebut juga periode syari’ah karena di Madinah banyak turun ayat dan
aturan tentang syari’ah termasuk syari’ah muamalah. Disinilah kita bisa melihat bagaimana syari’ah muamalah yang kemudian dikaji lebih mendalam melalui fiqih muamalah menjadi salah satu pilar utama dalam membangun peradaban Islam. Dan yang luar biasa, bahwa dasar fiqih muamalah itu adalah kemaslahatan bersama. Membangun peradaban maju dan modern tentu didasari adanya sinergi yang positif di dalam umat dan hal tersebut terbangun ketika ada tuntunan yang mengarah kepada kemaslahatan bagi umat itu sendiri.
D. Gagasan Menegakkan Syariat Islam
Kita telah mengetahui bahwa Islam merupakan agama
rahmatan lil ‘alamin.
Semakna dengan ini, bahwa tuntunan dalam Islam sangat up to date dengan
perkembangan zaman. Meski diturunkan 14 abad silam, Islam senantiasa menj adi solusi terhadap problematika kehidupan saat ini. Allah SWT sudah menegaskan hal ini dalam Al-Quran.
Firman Allah Swt.:
Yang artinya “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.(An-Nahl [16]: 89)
Melihat demikian ada rasa optimis akan munculnya peradaban yang m aju dan modern dengan dasar dan landasan agama Islam. Maryam Jamilah seorang pemikir yang lahir dan berkembang di Barat pernah menulis mengenai prospek kebangkitan Islam menjadi peradaban didasarkan beberapa alasan,
sebagai berikut: (Jamilah, 1985:83)
1. Sumber dasar Islam, al-Quran dan al-Sunnah adalah bahan yang tidak terkotori dan utuh. Tak ada satu agama pun yang dapat menyanggah kelebihan ini.
2. Ajaran Islam itu bersifat menyeluruh dan lengkap, mencakup segalanya da n sama sekali mandiri. Maka Islam tidak mentoleransi keterbukaan (eclecticism) dan kompromi dengan budaya mana pun yang bertentangan dengan prinsip-prinsipnya. Islam sendiri memberikan tuntunan yang cukup untuk kehidupan sebagai suatu keseluruhan. Islam tak hanya menerangkan kepada kita apa yang seharusnya dilakukan, tetapi juga secara khusus menerangkan bagaimana cara melakukannya. Ajaran-ajaran sebenarnya pada agama lain bersifat terbatas, kaku dan terpecah- pecah.
3. Ketetapan hati untuk memelihara dan menyebarluaskan Islam dalam kemurnian aslinya praktis telah dilaksanakan secara berkesinambungan
pada setiap sejarah
periode Islam, di setiap negara muslim, oleh serangkaian mujaddid
(pembaharu). Meski usaha para modernis dibantu oleh ilmuwan dan politisi
untuk memaksakan pemahaman mereka yang menyimpang tentang Islam. Alhamdulillah, selalu menjumpai rintangan kuat pada setiap sisi dari orang-orang yang tak tertipu oleh kemunafikan ini serta yang berkeyakinan hati memelihara keutuhan Islam yang tak ternoda.
4. Di seluruh dunia Islam sebagian besar penduduk menghendaki Islam dan sekali saja suatu kepemimpinan yang membangkitkan semangat muncul, mereka akan siap untuk mengikutinya dengan penuh semangat.
Dengan demikian Islam sudah sangat jauh mempersiapkan sebuah pera daban modern dan maju. Ini harus menjadi keyakinan kita, bahwa Islam lah
yang terbaik.
Optimisme ini sudah sangat beralasan untuk bisa meyakinkan bahwa Islam ak an mampu membangun peradaban yang maju dan modern. Diantara sebagian kecil solusi Islam, misalnya tentang aturan jilbab dan menutup aurat yang tidak ada dalam agama lain
aturan sedetail dalam Islam. Di sejumlah negara sekuler menjadikan stigma buruk terhadap tuntunan ini dengan menyebutkan bahwa Islam mengekang kebebasan perempuan dengan pakaian jilbab. Dalam Islam masalah menutp aurat ini sudah termasuk dalam kategori dharuriyat (penting / primer), yaitu memelihara keturunan. Karena di mulai dari pakaian
yang seronoklah berakibat adanya kebebasan yang kebablasan.
Hj. Irene Handono (2004) menjawab isu tentang jilbab bagi perempuan ini dengan menyebutkan bahwa di dunia Islam, seksualitas dan percintaan tidak dipamerkan di jalan-jalan. Pornografi tidak bisa diterima. Gadis-gadis muslimah yang menikah tidak mau melakukan hubungan seks sebelum menikah. Kebanyakan mempelai wanita yang menikah masih perawan saat menikah. Hj. Irene Handono menegaskan alasan nya,
menutup aurat dari sudut pandang Islam, logis saja bahwa kita tidak berusaha memancing sesuatu hal yang tidak kita inginkan terjadi.
Bukti lain tentang keutamaan muamalah Islam. Masa keemasan Islam
pada abad
ke-8 dimulai ketika khalifah sebagai pemegang pemerintahan memberikan kesempatan luas para ulama yang giat mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sehingga ada sinergis dan simbiosis kuat antara pemerintah dan penduduknya. Berbeda dengan pemerintahan gereja di wilayah Eropa pada
abad ke-16.
Munculnya renaisans (pencerahan) karena adanya benturan dengan
pihak
sebagai pemegang politik pemerintahan. Dari sini munculah sekulerisme. Jika kita
meyakini faham lain selain Islam lebih baik, tentu tidak muncul dari kekecewa an
terhadap lingkungan saat itu. Terbukti sekulerisme, matrealisme, komunisme d an lainnya muncul karena kekecewaan terhadap gereja. Berbeda dengan Islam yang justru memunculkan keyakinan bahwa Islam memang yang terbaik. Sebagaimana telah disebutkan bahwa fiqih muamalah berlandaskan kemaslahatan bersama.
Oleh karena itu, Islam sangat melarang riba karena sangat merugikan disalah satu pihaknya. Berbeda dengan komunisme, kapitalisme dan
matrealisme yang merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap agama
Kristen yang diwakili oleh
gereja saat itu. Faham kapitalisme menghalalkan segala cara agar berhasil mer aih
keuntungan besar tanpa memperhatikan yang lain, terutama masyarakat ekono mi kecil. M. Fazlurrahman Anshari menjelaskan bahwa analisa terhadap falsafah peradaban Barat akan menyingkap landasan peradaban mereka. (Anshari, 1985: 129).
Landasan peradaban Barat sungguh bertentangan dengan perdaban Islam, sebagai berikut:
1. Sudut pandang metafisis, pada matrealisme. Sementara dalam Islam meyakini bahwa ada yang menguasai dan mengatur seluruh alam semesta ini, yaitu Allah. Dan Dia-lah yang memberikan rezeki dengan sangat adil. Rezeki tidaklah bisa diukur dengan materi. Konsep syukur yang dimiliki Islam mengajarkan makna yang lebih dalam dari sekedar materi.
2. Sudut pandang psikologis, pada sensasionisme (faham serba inderawi). Seni dan modenya membuktikan fakta ini dengan jelas. Tidak memerlukan keramahan, sopan santun dan adab-adab yang membawa kepada semangat kinerja seperti dalam Islam.
3. Sudut pandang etika, pada kemanfaatan dan syahwat. Hanya mengejarkep uasan diri dan melupakan kemaslahatan bersama. Sementara Islammening gikan nilai dan akhlak terpuji.
4. Sudut pandang ekonomi, pada eksploitasi masyarakat manusia yang belum berkembang, kapitalisme dan komunisme. Sementara Islam menjunjung
tinggi
moral dan kemaslahatan bersama, saling menghargai dan menolong serta berbasiskan usaha dan ikhtiar.
5. Sudut pandang politik, pada pertentangan ras dan pemisahan berdasarkan warna kulit. Sementara Islam memandang sama setiap orang dan tidak membeda-bedakan secara ras atau fisik.
Kita sebagai umat Islam hanya perlu mengkaji Islam terus menerus.
Karena dengan
mengkaji Islam kita akan mendapatkan kebaikan. Jangan sampai kita melemah kan Islam yang begitu mulia karena kita merasa Islam sudah tidak layak lagi. Sudah sangat jelas Islamlah yang terbaik dan menjadi solusi bagi semua
problem ke
Sementara Barat sendiri adalah peradaban yang tumbuh dan berkembang dari kombinasi beberapa unsur yaitu filsafat dan nilai-nilai kuno Yunani dan
Romawi, serta
agama Yahudi dan Kristen yang dimodifikasi oleh bangsa Eropa. Sedangkan I slam adalah peradaban yang lahir dan tumbuh berdasarkan pada wahyu yang memproyeksikan sebuah pandangan hidup yang sempurna, yang dipahami, ditafsiri,
dijelaskan dan dipraktekkan sehingga membentuk tradisi intelektual dimana il mu
pengetahuan religius dan rasional diintegrasikan dalam bangunan ilmu yang mengandung nilai-nilai dan konsep-konsep yang berguna bagi pembentukan kehidupan yang aman, tenteram dan damai. (Zarkasyi, 2007)
E. Implementasi Muamalah Dalam Sistem Hukum Islam
Manusia dijadikan Allah SWT sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus berusaha mencari karunia Allah yang ada dimuka bumi ini sebagai sumber ekonomi. Allah SWT berfirman
Artinya : “ Dan Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS Az Zumar : 39)
1. Jual-beli
Jual beli dalam bahasa Arab terdiri dari dua kata yang mengandung makna berlawanan yaitu Al Bai’ yang artinya jual dan Asy Syira’a yang
artinya Beli. Menurut istilah hukum Syara, jual beli adalah penukaran harta (dalam pengertian luas) atas dasar saling rela atau tukar menukar suatu benda (barang) yang dilakukan antara dua pihak dengan kesepakatan (akad) tertentu atas dasar suka sama suka (lihat QS Az Zumar : 39, At Taubah : 103, hud : 93)
a) Hukum Jual Beli
Orang yang terjun dalam bidang usaha jual beli harus mengetahui hukum jual beli agar dalam jual beli tersebut tidak ada yang dirugikan, baik dari pihak penjual maupun pihak pembeli. Jual beli hukumnya
mubah. Artinya, hal tersebut diperbolehkan sepanjang suka sama suka. Allah berfirman.
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.”(QS An
Nisa : 29
Hadis nabi Muhammad SAW menyatakan sebagai berikut. ﺩاﺮﺗ ﻊﻴﺒا مﻨﺇ
)
ﻯ ﺮ ﺨ ﺒ ا ﻩ ا ﻮ ﺮ )
Artinya : “Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika suka suka sama suka.”(HR Bukhari)
ﻗﺮفتﻴ ﻢ ﺭﻴﺨ ﺑ ﻥعﻴﺒﺃ )
ﻢ ﺴ م ﻭ ﻯ ﺮ ﺨ ﺒ ا ﻩ ا ﻮ ﺮ )
Artinya : “ Dua orang jual beli boleh memilih akan meneruskan jual beli mereka atau tidak, selama keduanya belum berpisah dari tempat akad.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang melakukan jual beli dan tawar menawar dan tidak ada kesesuaian harga antara penjual dan pembeli, si pembeli boleh memilih akan meneruskan jual beli tersebut atau tidak. Apabila akad (kesepakatan) jual beli telah dilaksanakan dan terjadi pembayaran, kemudian salah satu dari mereka atau keduanya telah meninggalkan tempat akad, keduanya tidak boleh membatalkan jual beli yang telah disepakatinya.
b) Rukun dan syarat Jual Beli
Dalam pelaksanaan jual beli, minimal ada tiga rukun yang perlu dipenuhi. 1) Penjual atau pembeli harus dalam keadaan sehat akalnya
Orang gila tidak sah jual belinya. Penjual atau pembeli melakukan jual beli dengan kehendak sendiri, tidak ada paksaan kepada keduanya,
atau salah satu diantara keduanya. Apabila ada paksaan, jual beli tersebut tidak sah.
2) Syarat Ijab dan Kabul
Ijab adalah perkataan untuk menjual atau transaksi menyerahkan, misalnya saya menjual mobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Kabul
adalah ucapan si pembeli sebagai jawaban dari perkataan si penjual, misalnya saya membelimobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Sebelum
akad terjadi, biasanya telah terjadi proses tawar menawar terlebih dulu. Pernyataan ijab kabul tidak harus menggunakan kata-kata khusus. Yang diperlukan ijab kabul adalah saling rela (ridha) yang direalisasikan dalam bentuk kata-kata. Contohnya, aku jual, aku berikan, aku beli, aku ambil, dan aku terima. Ijab kabul jual beli juga sah dilakukan dalam bentuk tulisan dengan sarat bahwa kedua belah pihak berjauhan tempat, atau orang yang melakukan transaksi itu
diwakilkan. Di zaman modern saat ini, jual beli dilakukan dengan cara memesan lewat telepon. Jula beli seperti itu sah saja, apabila si pemesan sudah tahu pasti kualitas barang pesanannya dan mempunyai
keyakinan tidak ada unsur penipuan. 3) Benda yang diperjualbelikan
Barang yang diperjualbelikan harus memenuhi sarat sebagai berikut :
• Suci atau bersih dan halal barangnya
• Barang yang diperjualbelikan harus diteliti lebih dulu • Barang yang diperjualbelikan tidak berada dalam proses
penawaran dengan orang lain
• Barang yang diperjualbelikan bukan hasil monopoli yang
merugikan
• Barang yang diperjualbelikan tidak boleh ditaksir
(spekulasi)
• Barang yang dijual adalah milik sendiri atau yang diberi
kuasa
• Barang itu dapat diserahterimakan
c) Perilaku atau sikap yang harus dimiliki oleh penjual 1) Berlaku Benar (Lurus)
Berperilaku benar merupakan ruh keimanan dan ciri utama orang yang beriman. Sebaliknya, dusta merupakan perilaku orang munafik. Seorang muslim dituntut untuk berlaku benar, seperti dalam jual beli, baik dari segi promosi barang atau penetapan harganya. Oleh karena itu, salah satu karakter pedagang yang terpenting dan diridhai Allah adalah berlaku benar.
Dusta dalam berdagang sangat dicela terlebih jika diiringi sumpah atas nama Allah.“Empat macam manusia yang dimurkai Allah, yaitu penjual yang suka bersumpah, orang miskin yang congkak, orang tua
renta yang berzina, dan pemimpin yang zalim.”(HR Nasai dan Ibnu Hibban)
2) Menepati Amanat
Menepati amanat merupakan sifat yang sangat terpuji. Yang dimaksud amanat adalah mengembalikan hak apa saja kepada pemiliknya. Orang yang tidak melaksanakan amanat dalam islam
sangat dicela.
Hal-hal yang harus disampaikan ketika berdagang adalah penjual atau pedagang menjelaskan ciri-ciri, kualitas, dan harga barang dagangannya kepada pembeli tanpa melebih-lebihkannya. Hal itu dimaksudkan agar pembeli tidak merasa tertipu dan dirugikan.
3) Jujur
Selain benar dan memegang amanat, seorang pedagang harus berlaku jujur. Kejujuran merupakan salah satu modal yang sangat penting dalam jual beli karena kejujuran akan menghindarkan diri dari
hal-hal yang dapat merugikan salah satu pihak. Sikap jujur dalam hal timbangan, ukuran kualitas, dan kuantitas barang yang diperjual belikan adalah perintah Allah SWT. Firman Allah.
Artinya : Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu
kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” (QS Al A’raf : 85)
Sikap jujur pedagang dapat dicontohkan seperti dengan menjelaskan cacat barang dagangan, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui. Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya
“Muslim itu adalah saudara muslim, tidak boleh seorang muslim apabila ia berdagang dengan saudaranya dan menemukan cacat, kecuali diterangkannya.”
Lawan sifat jujur adalah menipu atau curang, seperti mengurangi takaran, timbangan, kualitas, kuantitas, atau menonjolkan keunggulan barang tetapi menyembunyikan cacatnya. Hadis lain meriwayatkan
dari umar bin khattab r.a berkata seorang lelaki mengadu kepada rasulullah SAW sebagai berikut “ katakanlah kepada si penjual, jangan menipu! Maka sejak itu apabila dia melakukan jual beli, selalu
diingatkannya jangan menipu.”(HR Muslim) 4) Khiar
Khiar artinya boleh memilih satu diantara dua yaitu meneruskan
kesepakatan (akad) jual beli atau mengurungkannya (menarik kembali atau tidak jadi melakukan transaksi jual beli). Ada tiga macam khiar yaitu sebagai berikut.
a) Khiar Majelis
Khiar majelis adalah si pembeli an penjual boleh memilih antara meneruskan akad jual beli atau mengurungkannya selama keduanya masih tetap ditempat jual beli. Khiar majelis ini berlaku pada semua macam jual beli.
b) Khiar Syarat
Khiar syarat adalah suatu pilihan antara meneruskan atau mengurungkan jual beli setelah mempertimbangkan satu atau dua hari. Setelah hari yang ditentukan tiba, maka jual beli harus ditegaskan untuk dilanjutkan atau diurungkan. Masa khiar syarat selambat-lambatnya tiga hari
c) Khiar Aib (cacat)
Khiar aib (cacat) adalah si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya, apabila barang tersebut diketahui ada cacatnya. Kecacatan itu sudah ada sebelumnya, namun tidak diketahui oleh si penjual maupun si pembeli. Hadis nabi Muhammad SAW. Yang artinya : “Jika dua orang laki-laki mengadakan jual beli, maka masing-masing boleh melakukan khiar selama mereka belum berpisah dan mereka masih berkumpul, atau salah satu melakukan khiar, kemudian mereka sepakat dengan khiar tersebut, maka jual beli yang demikian itu sah.” (HR Mutafaqun
alaih) 2. Riba
Bagi manusia yang tidak memiliki iman, segala sesuatunya selalu dinilai dengan harta (materialisme). Manusia berlomba-lomba untuk memperoleh harta kekayaan sebanyak mungkin. Mereka tidak memperdulikan dari mana datangnya harta yang didapat, apakah dari sumber yang halal atau haram. Salah satu contoh perolehan harta yang haram adalah sesuatu yang berasal dari pekerjaan memungut riba. Hadis nabi Muhammad SAW
menyatakan sebagai berikut. Yang artinya : “Dari Abu Hurairah r.a ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Akan tiba suatu zaman, tidak ada seorang pun, kecuali ia memakan harta riba. Kalau ia memakannya secara
langsung ia akan terkena debunya.” (HR Ibnu Majah)
Kata riba (ar riba) menurut bahasa yaitu tambahan (az ziyadah) atau
kelebihan. Riba menurut istilah syarak ialah suatu akad perjanjian yang terjadi dalam tukar menukar suatu barang yang tidak diketahui syaraknya. Atau dalam tukar menukar itu disyaratkan menerima salah satu dari dua barang apabila terlambat. Riba dapat terjadi pada hutang piutang, pinjaman, gadai, atau sewa menyewa. Contohnya, Fauzi meminjam uang sebesar Rp 10.000 pada hari senin. Disepakati dalam setiap satu hari keterlambatan, Fauzi harus mengembalikan uang tersebut dengan tambahan 2 %. Jadi hari berikutnya Fauzi harus mengembalikan hutangnya menjadi Rp 10.200. Kelebihan atau tambahan ini disebut dengan riba.
Allah SWT berfirman.
Artinya : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama
dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah :
275)
Allah telah melarang hamba-Nya untuk memakan riba, Allah juga menjanjikan untuk melipatgandakan pahala bagi orang yang ikhlas mengeluarkan zakat, infak dan sedekah. Allah SWT berfirman.
Artinya : “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”(QS Al Baqarah : 276)
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah Supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Ali Imran : 130)
Hadis nabi Muhammad SAW yang artinya : “Dari Jabir r.a ia berkata : Rasulullah SAW telah melaknati orang-orang yang memakan riba, orang yang menjadi wakilnya (orang yang memberi makan hasil riba), orang yang
menuliskan, orang yang menyaksikannya, dan (selanjutnya) nabi bersabda, mereka itu semua sama saja.” (HR Muslim)
Beberapa ayat dan hadis yang telah disebutkan menunjukan bahwa Islam sangat membenci perbuatan riba dan menganjurkan kepada umatnya agar didalam mencari rezeki hendaknya menempuh cara yang halal.
Ulama fikih membagi riba menjadi empat bagian, yaitu sebagai berikut. 1. Riba fadal
Riba fadal yaitu tukar menukar dua buah barang yang sama jenisnya, namun tidak sama ukurannya yang disyaratkan oleh orang yang menukarnya. Contohnya tukar menukar emas dengan emas atau beras dengan beras, dan ada kelebihan yang disyaratkan oleh yang menukarkan. Supaya tukar menukar seperti ini tidak termasuk riba harus memenuhi tiga syarat sebagai berikut.
• Barang yang ditukarkan harus sama • Timbangan atau takarannya harus sama • Serah terima harus pada saat itu juga.
2. Riba nasiah
Riba nasiah yaitu tukar menukar barang yang sejenis maupun yang tidak sejenis atau jual beli yang pembayarannya disyaratkan lebih oleh penjual dengan waktu yang dilambatkan. Contohnya, salim membeli arloji seharga Rp 500.000. Oleh penjualnya disyaratkan membayarnya tahun depan dengan harga Rp 525.000
3. Riba yad
Riba yad yaitu berpisah dari tempat akad jual beli sebelum serah terima. Misalnya, orang yang membeli suatu barang sebelum ia menerima barang tersebut dari penjual, penjual dan pembeli tersebut telah berpisah
Berikut syarat-syarat jual beli agar tidak menjadi riba.
a) Menjual sesuatu yang sejenis ada tiga syarat, yaitu:
serupa timbangan dan banyaknya tunai, dan
timbang terima dalam akad (ijab kabul) sebelum meninggalkan majelis akad.
b) Menjual sesuatu yang berlainan jenis ada dua syarat, yaitu:
• tunai dan
• timbang terima dalam akad (ijab kabul) sebelum meninggalkan
majelis akad.
Riba diharamkan oleh semua agama samawi. Adapun sebab diharamkannya karena memiliki bahaya yang sangat besar antara lain sebagai berikut.
Riba dapat menimbulkan permusuhan antar pribadi dan
mengikis habis semangat kerja sama atau saling menolong sesama manusia. Padahal, semua agama, terutama Islam menyeru kepada manusia untuk saling tolong menolong, membenci orang yang mengutamakan kepentingan diri sendiri atau egois, serta orang yang mengeksploitasi orang lain.
Riba dapat menimbulkan tumbuh suburnya mental
pemboros yang tidak mau bekerja keras dan penimbun harta di tangan satu pihak. Islam menghargai kerja keras dan menghormati orang yang suka bekerja keras sebagai saran pencarian nafkah.
Riba merupakan salah satu bentuk penjajahan atau
perbudakan dimana satu pihak mengeksploitasi pihak yang lain. Sifat riba sangat buruk sehingga Islam menyerukan agar manusia suka mendermakan harta kepada saudaranya dengan baik jika saudaranya membutuhkan harta.
3. Hukum Islam tentang Kerja sama Ekonomi (Syirkah)
Saat ini umat Islam Indonesia, demikian juga belahan dunia Islam (muslim world ) lainnya telah menerapkan sistem perekonomian yang berbasis
nilai-nilai dan prinsip syariah ( Islamic economic system) untuk dapat
diterapkan dalam segenap aspek kehidupan bisnis dan transaksi ekonomi umat. Keinginan ini didasari oleh kesadaran untuk menerapkan Islam secara utuh dan total.
a. Pengertian Musyarakah
Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana atau amal (expertise) dengan kesepakatan bahwa
keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
i. Dasar Hukum
Landasan hukum dari musyarakah ini antara lain : ﻢﻫف
ﺀﻛﺮﺸ ﻲﻓ
ﺙﺛ
Artinya : “… maka mereka berserikat pada sepertiga …” (QS An
Bersabda Rasulullah yang artinya : “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : sesungguhnya Allah azza wajalla berfirman : Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satunya
tidak menghianati lainnya.” (HR Abu Daud)
Hadis tersebut menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba-hambanya yang melakukan perkongsian atau kerja sama selama pihak-pihak yang bekerja sama tersebut saling menjunjung tinggi
amanat kebersamaan dan menjauhi pengkhianatan.
Berdasarkan dalil-dalil diatas, musyarakah ( syirkah) dapat
diartikan dua orang atau lebih yang bersekutu (berserikat) dimana uang yang mereka dapatkan dari harta warisan, atau mereka kumpulkan diantara mereka, kemudian diinvestasikan dalam perdagangan, industri, atau pertanian dan lain-lain sepanjang sesuai
dengan kesepakatan bersama dan hal tersebut hukumnya boleh. ii. Syarat-syarat musyarakah
Dalam bersyarikah ada 5 syarat ayng harus dipenuhi yaitu sebagai berikut:
1. Benda (harta dinilai dengan uang)
2. Harta-harta itu sesuai dalam jenis dan macamnya 3. Harta-harta dicampur
4. Satu sama lain membolehkan untuk membelanjakan harta itu
5. Untung rugi diterima dengan ukuran harta masing-masing.
iii. Jenis-jenis musyarakah
Ada dua jenis musyarakah yakni musyarakah pemilikan dan musyarakah akad (kontrak)
1. Musyarakah pemilikan tercipta karena warisan, wasiat, atau kondisi lainnya yang mengakibatkan pemilikan satu aset oleh dua orang atau lebih. Dalam musyarakah ini, kepemilikan dua orang atau lebih, berbagi dalam sebuah aset nyata dan berbagi pula keuntungan yang dihasilkan oleh aset tersebut.
2. Musyarakah akad tercipta dengan cara kesepakatan dimana dua orang atau lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah. Mereka pun sepakat berbagi keuntungan dan kerugian. Musyarakah akad terbagi menjadi ‘inan, mufawadah, a’mal, wujuh, dan mudarabah.
Syirkah ‘inan adalah kontrak antara dua orang atau
lebih. Setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam kerja, keuntungan dan kerugian yang dibagi sesuai dengan kesepakatan diantara mereka
Syirkah mufawadah adalah kontrak kerja sama
antara dua orang atau lebih. Setiap pihak memberikan dana yang jumlahnya sama dan berpartisipasi dalam kerja, keuntungan dan kerugian dibagi secara sama besar
Syirkah a’mal adalah kontrak kerjasama dua orang
berbagi keuntungan dari pekerjaan itu. Misal dua orang arsitek menggarap sebuah proyek
Syirkah wujuh adalah kontrak antara dua orang atau
lebih yang memiliki reputasi dan prestise baik dalam bisnis. Mereka membeli barang secara kredit dari suatu perusahaan dan menjual barang tersebut secara tunai. Keuntungan dan kerugian dibagi berdasarkan jaminan yang disediakan masing-masing.
Pada bidang perbankan misalnya, penerapan musyarakah dapat berwujud hal-hal berikut ini.
1. Pembiayaan proyek. Musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan dimana nasabah dan bank sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek tersebut. Setelah proyek itu selesai, nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati
2. Modal ventura. Pada lembaga keuangan khusus yang dibolehkan melakukan investasi dalam kepemilikan perusahaan, musyarakah diterapkan dalam skema modal ventura. Penanaman modal dilakukan untuk jangka waktu tertentu dan setelah itu bank melakukan divestasi atau menjual bagian sahamnya, baik secara singkat maupun bertahap.
4. Mudarabah (bagi hasil)
Mudarabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama ( sahibul mal ) menyediakan seluruh (100 %) modal, sedangkan
pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudarabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau
kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.
a) Dasar Hukum
Secara umum landasan dasar syariah mudarabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha. Hal ini tampak dalam ayat dan hadis berikut ini. Allah berfirman dalam surat al-Muzammil yang artinya : “…
dan dari orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT…” (Al Muzammil : 20)
Adanya kata yadribun pada ayat diatas dianggap sama dengan akar
kata mudarabah yang berarti melakukan suatu perjalanan usaha. Surah tersebut mendorong kaum muslim untuk melakukan upaya atau usaha yang telah diperintahkan Allah SWT.
Hadis nabi Muhammad yang artinya : “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Abbas bin Abdul Muthalib jika memberikan dana ke mitra usahanya secara mudarabah mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya, atau membeli ternak. Jika menyalahi peraturan tersebut, maka yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikan syarat syarat
tersebut kepada rasulullah SAW. Dan rasulullah pun membolehkannya.”(HR Tabrani).
b) Jenis-jenis mudarabah
Secara umum, mudarabah terbagi menjadi dua jenis yakni mudarabah mutlaqah dan mudarabah muqayyadah.
a) Mudarabah mutlaqah
Mudarabah mutlaqah adalah bentuk kerjasama antara pemilik modal ( sahibul mal ) dan pengelola (mudarib) yang cakupannya
sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis. Dalam pembahasan fikih ulama salafus saleh seringkali dicontohkan dengan ungkapan if’al ma syi’ta (lakukan
sesukamu) dari sahibul mal ke mudarib yang memberi kekuasaan sangat besar.
b) Mudarabah Muqayyadah
Mudarabah muqayyadah adalah kebalikan dari mudarabah mutlaqah. Si Mudarib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu, atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali mencerminkan kecenderungan umum si Sahibul Mal dalam
memasuki jenis dunia usaha.
Adapun dari sisi pembiayaan, mudarabah biasanya diterapkan untuk bidang- bidang berikut.
a) Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa
b) Investasi khusus disebut juga mudarabah muqayyadah, yaitu sumbe investasi yang khusus dengan penyaluran yang khusus pula dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh sahibul mal.
Mudarabah dan kaitannya dengan dunia perbankan biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan. Sisa penghimpunan dana mudarabah biasanya diterapkan pada bidang-bidang berikut ini.
Tabungan berjangka, yaitu dengan tabungan yang dimaksudkan untuk tujuan khusus, seperti tabungan haji, tabungan kurban, dan deposito berjangka.
Deposito spesial ( special investment ), yaitu dana dititipkan kepada
nasabah untuk bisnis tertentu, misalnya murabahah atau ijarah saja.
Mudaroban yang berkaitan dengan dunia Pertanian ialah : 1. Musaqah (paroan kebun)
Yang dimaksud musaqah adalah bentuk kerja sama dimana orang yang mempunyai kebun memberikan kebunnya kepada orang lain (petani) agar dipelihara dan penghasilan yang didapat dari kebun itu dibagi berdua menurut perjanjian sewaktu akad
Musaqah dibolehkan oleh agama karena banyak orang yang membutuhkannya. Ada orang yang mempunyai kebun, tapi dia tidak dapat memeliharanya. Sebaliknya, ada orang yang tidak mempunyai kebun, tapi terampil bekerja. Musaqah memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak yakni pemilik kebun dan pengelola sehingga sama-sama memperoleh hasil dari kerja sama-sama tersebut. Hadis menjelaskan sebagai berikut yang artinya : “Dari Ibnu Umar: Sesungguhnya nabi Muhammad SAW telah memberikan kebun beliau kepada penduduk khaibar agar dipelihara oleh mereka dengan perjanjian, mereka akan
diberi sebagian dari penghasilannya, baik dari buah-buahan atau hasil petani (palawija).” (HR Muslim)
2. Muzaraah
Muzaraah adalah kerjasama dalam pertanian berupa paroan sawah atau ladang seperdua atau sepertiga atau lebih atau kurang, sedangkan benih(bibit tanaman)nya dari pekerja (petani). Zakat hasil paroan ini
diwajibkan atas orang yang punya benih. Oleh karena itu, pada muzaraah zakat wajib atas petani yang bekerja karena pada hakekatnya dialah (si petani) yang bertanam, yang mempunyai tanah seolah-olah mengambil sewa tanahnya, sedangkan pengantar dari sewaan tidak wajib mengeluarkan zakatnya.
3. Mukhabarah
Mukhabarah kerjasama dalam pertanian berupa paroan sawah atau ladang seperdua atau sepertiga atau lebih atau kurang, sedangkan benihnya dari pemilik sawah/ladang. Adapun pada mukhabarah, zakat diwajibkan atas yang punya tanah karena pada hakekatnya dialah yang bertanam, sedangkan petani hanya mengambil upah bekerja.
Penghasilan yang didapat dari upah tidak wajib dibayar zakatnya. Kalau benih dari keduanya, zakat wajib atas keduanya yang diambil dari jumlah pendapatan sebelum dibagi. Hukum kerja sama tersebut diatas diperbolehkan sebagian besar para sahabat, tabi’in dan para imam
.
5. Perbankan yang Sesuai dengan Prinsip Hukum Islam
Lahirnya ekonomi Islam di zaman modern ini cukup unik dalam sejarah perkembangan ekonomi. Ekonomi Islam berbeda dengan ekonomi-ekonomi yang lain karena lahir atau berasal dari ajaran Islam yang mengharamkan riba dan menganjurkan sedekah. Kesadaran tentang larangan riba telah menimbulkan gagasan pembentukan suatu bank Islam pada dasawarsa kedua abad ke-20 diantaranya melalui pendirian institusi sebagai berikut.
1. Bank Pedesaan (Rural Bank) dan Bank Mir-Ghammar di Mesir tahun 1963 atas prakarsa seorang cendikiawan Mesir DR. Ahmad An Najjar
2. Dubai Islamic Bank (1973) di kawasan negara-negara Emirat Arab 3. Islamic Development Bank (1975) di Saudi Arabia
4. Faisal Islamic Bank (1977) di Mesir
5. Kuwait House of Finance di Kuwait (1977) 6. Jordan Islamic Bank di Yordania (1978)
Bank non Islam yang disebut juga bank konvensional adalah sebuah lembaga keuangan yang fungsi utamanya menghimpun dana untuk disalurkan kepada yang memerlukan dana, baik perorangan atau badan usaha guna investasi dalam usaha-usaha yang produktif dan lain-lain dengan sistem bunga.
Sedangkan Bank Islam yang dikenal dengan Bank Syariah adalah sebuah lembaga keuangan yang menjalankan operasinya menurut hukum (syariat) Islam dan tidak memakai sistem bunga karena bunga dianggap riba yang diharamkan oleh Islam. (QS Al Baqarah : 275-279)