• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRIORITAS PENDIDIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PRIORITAS PENDIDIKAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN

2303 - 0852

PRIORITAS PENDIDIKAN

Edisi 4

Jul - Sept

2013

Media Informasi dan Penyebarluasan Praktik Pendidikan yang Baik

USAID PRIORITAS: Mengutamakan Pembaharuan, Inovasi, dan Kesempatan bagi Guru, Tenaga Kependidikan, dan Siswa

Dr. Sri Minda Murni, MS

Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) secara khusus meminta USAID PRIORITAS untuk mengembangkan software SIMPK (Sistem Informasi Manajemen Kabupaten/Kota) dan software pelaporan BOS (Biaya Operasional Pendidikan). SIMPK sendiri, rencananya akan digunakan untuk membantu pemetaan SPM pendidikan di 110 kabupaten kota. Sedangkan software pelaporan BOS yang telah disimulasikan bersama manajer BOS yang berasal dari 550 kabupaten/kota, dianggap dapat memudahkan sekolah membuat laporan keuangan yang akuntabel. Berita lengkapnya di halaman 3. (Anw)

Software Aplikasi SIMPK

dan Pelaporan BOS

PRIORITAS Education Policy Workshop di Amerika yang Diikuti Rektor LPTK, Kemenko Kesra, dan Kemdikbud

Adaptasi Inovasi Pembelajaran di LPTK dan Sekolah

”Dekatkan LPTK

dengan Sekolah”

Dr. Sri Minda Murni

dosen Universitas Negeri Medan (Unimed) berbagi

pengalaman tentang metode pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) kepada konsorsium LPTK di Grand Angkasa International Hotel, Medan, Rabu (21/8).

Setelah mengikuti pelatihan Praktik yang Baik dalam Pembelajaran di SMP/MTs untuk dosen pedagogi LPTK, Ia ingin mengubah metode perkuliahan di kampusnya dengan pendekatan CTL. ”Pengalaman saya mempraktikkan CTL di sekolah, seluruh siswa sangat aktif kegiatan praktik dan mereka berhasil mencapai tujuan belajar,” urainya dengan antusias.

Menurut dosen yang mengajar di Program Pascasarjana Unimed itu, USAID PRIORITAS berhasil mendekatkan LPTK dengan sekolah. ”Kami dapat mengetahui secara langsung berbagai keberhasilan dan permasalahan yang ada di sekolah sebagai bahan perkuliahan bagi mahasiswa di LPTK,” katanya lagi. (Eh/Rep)

Kunjungi:

www.prioritaspendidikan.org

Para Rektor Mitra LPTK berkesempatan melihat dari dekat inovasi pendidikan yang dikembangkan di perguruan tinggi dan sekolah di Amerika.

REKTOR LPTK Mitra USAID

PRIORITAS, perwakilan Kemenko Kesra dan Kemdikbud yang berjumlah 18 orang diundang secara khusus mengunjungi Program Pendidikan di Amerika yang dikemas dalam acara PRIORITAS Education Policy Workshop (16-20/9). Para delegasi

pendidikan Indonesia itu diajak untuk melihat dari dekat berbagai inovasi yang dilakukan universitas, sekolah, dan lembaga pendidikan di Amerika, seperti melihat pembelajaran di kelas, pemanfaatan teknologi untuk pendidikan, dan model pengembangan profesi guru Amerika.

Peserta diajak mengunjungi dua perguruan tinggi ternama, Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang aktif mendukung peningkatan mutu pendidikan di sekolah Amerika. Di Harvard University, peserta mengikuti kuliah singkat Prof. Paul Revile tentang pengalaman Kota Massachusetts dalam mereformasi pendidikannya.

Pada kunjungan ke MIT, peserta mengikuti kuliah

singkat dari Prof. Dr. Vijay Kumar, Direktur Educational Innovation and Technology dan Prof. Dr. Richard Larson, tokoh di BLOSSOMS (Blended Learning Open Source Science or Math Studies atau Pembelajaran Terpadu dengan Sumber Belajar Terbuka untuk Studi Matematika atau IPA). Selama ini MIT terlibat aktif dalam mengembangkan teknologi untuk bidang pendidikan.

Peserta juga diajak melihat proses pembelajaran di Columbkille School, Natick High School dan Eagle View Elementary School. Mereka menemukan berbagai inovasi yang dikembangkan di perguruan tinggi, diterapkan secara konsisten di sekolah. ”Banyak hal yang dapat kita adaptasi untuk dikembangkan seperti program BLOSSOMS,” kata Prof. Dr. Muchlas Samani Rektor Unesa yang ikut dalam rombongan. Berita lainnya di halaman 4-5. (Fs/Anw)

(2)

2 - Prioritas Pendidikan: Edisi 4/ Juli - September/ 2013

USAID PRIORITAS dan 16 LPTK Mitra Kembangkan Bahan Sumber Pengayaan Kurikulum Guru Pra-Jabatan

Persiapkan Calon Guru yang Pandai Konten dan Mengajarkannya

Jakarta - Materi dan metode

pembelajaran merupakan materi perkuliahan yang wajib diperoleh mahasiswa LPTK. Materi kuliah tersebut diberikan untuk membekali mahasiswa agar siap menjadi guru yang kompeten dalam mengajar. Hanya saja dalam praktiknya, mahasiswa sering mengalami kesulitan dalam menggabungkan antara materi dengan metode mengajar yang dipelajari. Dampaknya, ketika mengajar mereka tidak bisa memanfaatkan metode yang relevan untuk memfasilitasi siswa mencapai kompetensi.

Salah satu tawaran solusinya, dosen perlu memodelkan cara mengajar dengan metode/pendekatan yang relevan kepada mahasiswa. Perkuliahan harus menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa tentang cara mengajar dengan baik. Hal itu mengemuka dalam diskusi Pre-Service Teacher Training Curriculum Initial Workshop yang mengundang 48 dosen LPTK mitra USAID PRIORITAS di Hotel Atlet Jakarta (2-5/7).

Diskusi berbagi pengalaman itu, mengawali tahapan kegiatan

pengembangan bahan sumber pengayaan dan kurikulum guru pra jabatan (pre-service teacher) di LPTK. Ada tiga topik besar yang dibahas, yaitu membaca di kelas awal SD, Matematika SMP, dan IPA SMP. Peserta berbagi pengalaman tentang subjek materi dan proses perkuliahan di LPTK, termasuk menyusun draf kerangka bahan sumber pengayaan tersebut.

Dari sesi presentasi dan diskusi, para peserta memperoleh gambaran tentang perkuliahan di LPTK. Dari diskusi ini kemudian ditentukan prioritas atau hal-hal

penting yang perlu dikembangkan dalam lokakarya tersebut. Selanjutnya peserta dibagi dalam tiga kelompok besar. Di setiap kelompok mereka mulai memetakan materi perkuliahan dan mengidentifikasi kesenjangan yang selama ini terjadi. Mereka juga mencari berbagai sumber referensi dan informasi untuk mengisi kesenjangan yang terjadi.

Menurut Lynne Hill, Adviser Pembelajaran USAID PRIORITAS, ada 2 hal penting dalam bahan sumber pengayaan yang dikembangkan dalam lokakarya ini. Pertama, tentang peran dosen dalam memfasilitasi mahasiswa memahami konten mata kuliah. Kedua, peran dosen dalam membantu mahasiswa cara mengajar di sekolah.

”Penting sekali bagi guru atau dosen fokus pada cara mengajarkan konten dengan baik. Proses yang juga penting dipelajari mahasiswa adalah bagaimana cara memahami konten dan cara

mengajarkannya kepada siswa. Bahan yang

sedang kita kembangkan dapat membantu mahasiswa memahami konten dan cara mengajarnya kepada siswa,” katanya. (Anw)

Newsletter PRIORITAS PENDIDIKAN diterbitkan oleh USAID PRIORITAS sebagai media penyebarluasan informasi dan praktik yang baik dalam bidang pendidikan. Kunjungi

situs kami: www.prioritaspendidikan.org. Manfaatkan berbagai praktik pendidikan yang baik, seperti ide dan pengalaman pembelajaran yang berhasil, penelitian tindakan kelas, video praktik yang baik, karya anak, dan diskusi online forum sekolah. Alamat Redaksi: Gedung Ratu Plaza, Lt. 25.Jl. Jenderal Sudirman Kav 9. Jakarta 10270. Telp: 21) 722 7998, Faks: (62-21) 722 7978. Artikel berupa gagasan atau pengalaman praktik yang baik dalam bidang pendidikan dapat dikirimkan melalui email [email protected]. Naskah ditulis dalam format Microsoft Word dengan jumlah kata 350--550. Lampirkan foto dalam format JPG yang relevan dengan tulisan.

USAID PRIORITAS: Prioritizing Reform, Innovation, and Opportunities for Reaching Indonesia’s Teachers, Administrators, and Students

”Langkah Maju untuk Persiapkan Guru Berkualitas”

PENGEMBANGAN bahan

sumber untuk pengayaan

kurikulum di LPTK ini, dinilai Prof. Dr. Nuryanie Rustaman, Dosen Universitas Pendidikan Indonesia – sebagai perwakilan dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti)

Kemdikbud merupakan langkah maju yang dikembangkan LPTK dan USAID PRIORITAS. ”Program seperti ini sangat ditunggu oleh kami dosen di LPTK. Kita dapat memperkuat dan memperkaya proses perkuliahan bagi para calon guru. Apalagi dengan pelaksanaan kurikulum 2013 kita dapat memperkaya bahan sumber kurikulum untuk meningkatkan kemampuan calon guru dalam mengajar,” kata guru besar dari FMIPA itu.

Apresiasi juga disampaikan oleh Prof. Dr. Ani Rusilowati dosen Unversitas Negeri Semarang (UNNES). “Kegiatan

pemodelan dalam perkuliahan memang sangat perlu dilakukan sehingga mahasiswa mendapatkan banyak contoh cara mengajar dengan metode yang inovatif. Saya juga terapkan pada perkuliahan di S2 dan S3 di kampus UNNES,” ujarnya.

Lokakarya ini telah menghasilkan beberapa topik utama untuk dikembangkan lebih lanjut. Para peserta telah mendapatkan masukan tentang apa yang perlu diajarkan dan bagaimana mengajarkannya dalam perkuliahan bagi calon guru di LPTK. Langkah berikutnya, informasi yang telah terkumpul akan diolah tim USAID PRIORITAS untuk dikaji lebih lanjut kesenjangan apa lagi yang masih ada. Selanjutnya hasil tim tersebut akan dibahas kembali dan dirinci dalam lokakarya di setiap provinsi mitra yang melibatkan 16 LPTK mitra.

“USAID PRIORITAS akan mengorganisasikan kegiatan untuk mengembangkan bahan sumber pengayaan tersebut di setiap LPTK. Targetnya, produk dapat selesai pada Januari 2014, untuk mulai dilatihkan kepada para dosen,” kata Lynne Hill Adviser Pembelajaran USAID PRIORITAS.

(Anw)

Perkaya Materi Perkuliahan yang Relevan dengan K-13

PENYUSUNAN bahan sumber pengayaan kurikulum guru pra jabatan yang melibatkan dosen-dosen dari 16 LPTK, dirancang agar relevan dengan pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13). Dengan bahan itu, lulusan LPTK diharapkan mampu mengimplementasikan pembelajaran IPA, Matematika, dan Membaca yang sesuai kurikulum 2013 dan menerapkan pendekatan pembelajaran aktif. Dalam penyusunan bahan pengayaan tersebut, para guru yang berhasil mengimplementasikan praktik yang baik dalam pembelajaran juga diundang untuk terlibat.

Sabar Nurohman, M.Pd dosen Universitas Negeri Yogyakarta mengapresiasi lokakarya yang dilakukan USAID PRIORITAS. Sabar mengaku baru pertama sekali berkolaborasi dengan guru untuk membuat bahan ajar LPTK. “Selama ini dosen dan guru berkolaborasi untuk membuat bahan ajar yang digunakan oleh sekolah. Tapi ini dibalik, dosen berkolaborasi dengan guru untuk membuat bahan ajar di LPTK. Ini pengalaman yang menarik,” tukasnya. (Anw/Eh)

Perkuliahan yang baik diharapkan dapat menjadi model bagi mahasiswa LPTK.

Prof. Nuryanie Rustaman

Prioritas Pendidikan: Edisi 4/ Juli - September/ 2013 - 3

Lihat Capaian SPM di Tingkat Sekolah

Kemdikbud Apresiasi SIMPK USAID

PRIORITAS untuk Petakan SPM

Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(Kemdikbud) mengapresiasi aplikasi Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Kabupaten/Kota (SIMPK) USAID PRIORITAS pada presentasi penggunaan aplikasi tersebut di Gedung E, Kantor Kemdikbud (17/9). Presentasi ini dilakukan oleh USAID PRIORITAS yang difasilitasi oleh Kabag Hukum dan

Kepegawaian, Setditjen Dikdas Ibu Sri Renani Pantjastuti. Hadir dalam presentasi itu perwakilan Setditjen Dikdas Kemdikbud, data pokok pendidikan (Dapodik) Dikdas Kemdikbud, dan lembaga donor, seperti ADB dan AusAID. USAID PRIORITAS diminta secara khusus mempresentasikan SIMPK untuk

digunakan dalam pemetaan standar pelayanan minimum (SPM) di 110 kabupaten/kota di Indonesia.

SIMPK merupakan alat yang dikembangkan untuk mendukung kabupaten/kota dalam menyusun kebijakan pendidikan berdasarkan data yang akurat. Aplikasi ini

menggunakan Dapodik sebagai sumber data yang sudah tersedia di kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Keunggulan aplikasi ini antara lain dapat menghitung secara langsung jumlah sekolah yang telah atau belum memenuhi SPM dari seluruh sekolah di kabupaten/kota. Untuk pemetaan ini, sekolah tidak perlu melakukan entri data ulang karena data telah tersedia di Dapodik. Kabupaten/kota juga dapat melakukan analisis lebih mendalam dengan melihat distribusi tingkat capaian SPM antar wilayah di dalam kabupaten/kota.

Hanya saja belum semua indikator dihitung dengan SIMPK karena keterbatasan data yang tersedia di Dapodik. Hal ini

langsung direspon oleh Tim Dapodik Dikdas. Bapak Supriyatno, S.Pd., M.A, Kepala Sub Bagian Data dan Informasi

DAPODIK, Sesditjen Dikdas Kemdikbud menyampaikan bahwa beberapa indikator SPM yang belum tersedia di Dapodik akan disempurnakan pada Dapodik 2014.

Bapak Liberti Marpaung perwakilan dari Setditjen Dikdas Kemdikbud mengusulkan perlunya mengadopsi SIMPK untuk merespon permintaan laporan pencapaian SPM Pendidikan dari UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan). “SIMPK perlu dikembangkan tidak hanya untuk kabupaten/kota, tetapi juga untuk UKP4 yang saat ini kami masih belum mampu menjawab permintaan mereka terkait tingkat capaian SPM Pendidikan,” usulnya. Melihat pentingnya aplikasi program berbasis Excel tersebut, salah satu peserta

mengusulkan SIMPK dapat disebarluaskan ke seluruh Indonesia melalui situs Kemdikbud.

(Aff/Vh)

Dr. Afiffudin dari USAID PRIORITAS mempresentasikan SIMPK di Gedung E Kemdikbud.

SELAMA ini masih banyak sekolah

yang mengalami kesulitan dalam membuat pelaporan BOS (biaya operasional sekolah). Pelaporan BOS yang dibuat dengan cara manual juga memerlukan waktu yang cukup lama. Apalagi dengan banyaknya data dan transaksi yang perlu dicatat, membuat pengerjaannya menjadi semakin kompleks. Untuk memudahkan dalam pembuatan laporan BOS, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bekerjasama dengan USAID PRIORITAS mengembangkan perangkat lunak aplikasi pengelolaan dan pelaporan BOS 2013.

Selain untuk mempermudah pengadministrasian dan pelaporan, perangkat lunak ini juga bermanfaat untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana BOS. Perangkat lunak ini mampu menghasilkan laporan untuk masyarakat, sehingga

masyarakat bisa tahu bagaimana sekolah menggunakan dana BOS. Perangkat lunak BOS 2013 tidak hanya untuk

mengadministrasikan dan melaporkan dana sekolah yang bersumber dari BOS Pusat, tetapi juga untuk melaporkan multi-sumber keuangan. Artinya semua sumber keuangan sekolah diadministrasikan dan dilaporkan secara terintegrasi. Dengan demikian, kasus-kasus pembayaran ganda bisa dihindari.

Pada demonstrasi penggunaan perangkat lunak

tersebut dihadapan tim teknis BOS Kemdikbud, perangkat lunak yang berbasis program excel itu dinilai praktis, sangat informatif, mudah dijalankan, dan bermanfaat, terutama dalam memberikan kemudahan bagi pengelola sekolah dalam mengelola dan melaporkan

BOS. ”Kita akan mengujicoba penggunaan perangkat lunak ini secara terbatas. Dalam tiga bulan ke depan, diharapkan sudah bisa digunakan oleh seluruh sekolah di Indonesia,” kata Ahmad Badar tim teknis BOS Kemdikbud (23/8).

Sekolah juga tidak perlu membeli atau menghadirkan tenaga ahli untuk menggunakan perangkat lunak ini. “Cukup dengan membaca panduannya, kami yakin sekolah sudah dapat menjalankan aplikasi ini,” kata Handoko Widagdo Whole School Development Specialist USAID PRIORITAS yang terlibat aktif dalam pengembangan perangkat lunak tersebut. Nantinya perangkat lunak tersebut dapat diunduh melalui situs BOS nasional. (Hw/Anw)

Permudah Sekolah Buat Laporan BOS yang Akuntabel

550 Manajer BOS Nilai Sangat Membantu

Tampilan menu utama perangkat lunak (software) pelaporan

BOS yang dikembangkan USAID PRIORITAS.

PELATIHAN pembuatan laporan keuangan sekolah dengan menggunakan perangkat lunak Aplikasi BOS 2013 yang digelar di empat wilayah, Jakarta, Solo, Bandung, dan Makassar, melibatkan setidaknya 550 manajer BOS. Mereka umumnya adalah para pejabat di dinas pendidikan seperti kepala bidang dan kepala seksi yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan program BOS di daerah. Setelah mengikuti proses pelatihan, para peserta menyampaikan aplikasi tersebut sangat membantu.

”Perangkat lunak ini mempermudah sekolah untuk mengadministrasikan dana BOS. Pembuatan laporan keuangan menjadi semakin mudah dan menghemat waktu,” kata beberapa manajer BOS. Aplikasi tersebut juga dinilai dapat meningkatkan tertib administrasi karena memuat laporan sekolah dari multi sumber dan mudah diakses oleh masyarakat. (Anw)

PRIORITAS - Nasional

PRIORITAS - Nasional

(3)

USAID PRIORITAS dan 16 LPTK Mitra Kembangkan Bahan Sumber Pengayaan Kurikulum Guru Pra-Jabatan

Persiapkan Calon Guru yang Pandai Konten dan Mengajarkannya

Jakarta - Materi dan metode

pembelajaran merupakan materi perkuliahan yang wajib diperoleh mahasiswa LPTK. Materi kuliah tersebut diberikan untuk membekali mahasiswa agar siap menjadi guru yang kompeten dalam mengajar. Hanya saja dalam praktiknya, mahasiswa sering mengalami kesulitan dalam menggabungkan antara materi dengan metode mengajar yang dipelajari. Dampaknya, ketika mengajar mereka tidak bisa memanfaatkan metode yang relevan untuk memfasilitasi siswa mencapai kompetensi.

Salah satu tawaran solusinya, dosen perlu memodelkan cara mengajar dengan metode/pendekatan yang relevan kepada mahasiswa. Perkuliahan harus menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa tentang cara mengajar dengan baik. Hal itu mengemuka dalam diskusi Pre-Service Teacher Training Curriculum Initial Workshop yang mengundang 48 dosen LPTK mitra USAID PRIORITAS di Hotel Atlet Jakarta (2-5/7).

Diskusi berbagi pengalaman itu, mengawali tahapan kegiatan

pengembangan bahan sumber pengayaan dan kurikulum guru pra jabatan (pre-service teacher) di LPTK. Ada tiga topik besar yang dibahas, yaitu membaca di kelas awal SD, Matematika SMP, dan IPA SMP. Peserta berbagi pengalaman tentang subjek materi dan proses perkuliahan di LPTK, termasuk menyusun draf kerangka bahan sumber pengayaan tersebut.

Dari sesi presentasi dan diskusi, para peserta memperoleh gambaran tentang perkuliahan di LPTK. Dari diskusi ini kemudian ditentukan prioritas atau hal-hal

penting yang perlu dikembangkan dalam lokakarya tersebut. Selanjutnya peserta dibagi dalam tiga kelompok besar. Di setiap kelompok mereka mulai memetakan materi perkuliahan dan mengidentifikasi kesenjangan yang selama ini terjadi. Mereka juga mencari berbagai sumber referensi dan informasi untuk mengisi kesenjangan yang terjadi.

Menurut Lynne Hill, Adviser Pembelajaran USAID PRIORITAS, ada 2 hal penting dalam bahan sumber pengayaan yang dikembangkan dalam lokakarya ini. Pertama, tentang peran dosen dalam memfasilitasi mahasiswa memahami konten mata kuliah. Kedua, peran dosen dalam membantu mahasiswa cara mengajar di sekolah.

”Penting sekali bagi guru atau dosen fokus pada cara mengajarkan konten dengan baik. Proses yang juga penting dipelajari mahasiswa adalah bagaimana cara memahami konten dan cara

mengajarkannya kepada siswa. Bahan yang

sedang kita kembangkan dapat membantu mahasiswa memahami konten dan cara mengajarnya kepada siswa,” katanya. (Anw)

Newsletter PRIORITAS PENDIDIKAN diterbitkan oleh USAID PRIORITAS sebagai media penyebarluasan informasi dan praktik yang baik dalam bidang pendidikan. Kunjungi

situs kami: www.prioritaspendidikan.org. Manfaatkan berbagai praktik pendidikan yang baik, seperti ide dan pengalaman pembelajaran yang berhasil, penelitian tindakan kelas, video praktik yang baik, karya anak, dan diskusi online forum sekolah. Alamat Redaksi: Gedung Ratu Plaza, Lt. 25.Jl. Jenderal Sudirman Kav 9. Jakarta 10270. Telp: 21) 722 7998, Faks: (62-21) 722 7978. Artikel berupa gagasan atau pengalaman praktik yang baik dalam bidang pendidikan dapat dikirimkan melalui email [email protected]. Naskah ditulis dalam format Microsoft Word dengan jumlah kata 350--550. Lampirkan foto dalam format JPG yang relevan dengan tulisan.

USAID PRIORITAS: Prioritizing Reform, Innovation, and Opportunities for Reaching Indonesia’s Teachers, Administrators, and Students

”Langkah Maju untuk Persiapkan Guru Berkualitas”

PENGEMBANGAN bahan

sumber untuk pengayaan

kurikulum di LPTK ini, dinilai Prof. Dr. Nuryanie Rustaman, Dosen Universitas Pendidikan Indonesia – sebagai perwakilan dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti)

Kemdikbud merupakan langkah maju yang dikembangkan LPTK dan USAID PRIORITAS. ”Program seperti ini sangat ditunggu oleh kami dosen di LPTK. Kita dapat memperkuat dan memperkaya proses perkuliahan bagi para calon guru. Apalagi dengan pelaksanaan kurikulum 2013 kita dapat memperkaya bahan sumber kurikulum untuk meningkatkan kemampuan calon guru dalam mengajar,” kata guru besar dari FMIPA itu.

Apresiasi juga disampaikan oleh Prof. Dr. Ani Rusilowati dosen Unversitas Negeri Semarang (UNNES). “Kegiatan

pemodelan dalam perkuliahan memang sangat perlu dilakukan sehingga mahasiswa mendapatkan banyak contoh cara mengajar dengan metode yang inovatif. Saya juga terapkan pada perkuliahan di S2 dan S3 di kampus UNNES,” ujarnya.

Lokakarya ini telah menghasilkan beberapa topik utama untuk dikembangkan lebih lanjut. Para peserta telah mendapatkan masukan tentang apa yang perlu diajarkan dan bagaimana mengajarkannya dalam perkuliahan bagi calon guru di LPTK. Langkah berikutnya, informasi yang telah terkumpul akan diolah tim USAID PRIORITAS untuk dikaji lebih lanjut kesenjangan apa lagi yang masih ada. Selanjutnya hasil tim tersebut akan dibahas kembali dan dirinci dalam lokakarya di setiap provinsi mitra yang melibatkan 16 LPTK mitra.

“USAID PRIORITAS akan mengorganisasikan kegiatan untuk mengembangkan bahan sumber pengayaan tersebut di setiap LPTK. Targetnya, produk dapat selesai pada Januari 2014, untuk mulai dilatihkan kepada para dosen,” kata Lynne Hill Adviser Pembelajaran USAID PRIORITAS.

(Anw)

Perkaya Materi Perkuliahan yang Relevan dengan K-13

PENYUSUNAN bahan sumber pengayaan kurikulum guru pra jabatan yang melibatkan dosen-dosen dari 16 LPTK, dirancang agar relevan dengan pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13). Dengan bahan itu, lulusan LPTK diharapkan mampu mengimplementasikan pembelajaran IPA, Matematika, dan Membaca yang sesuai kurikulum 2013 dan menerapkan pendekatan pembelajaran aktif. Dalam penyusunan bahan pengayaan tersebut, para guru yang berhasil mengimplementasikan praktik yang baik dalam pembelajaran juga diundang untuk terlibat.

Sabar Nurohman, M.Pd dosen Universitas Negeri Yogyakarta mengapresiasi lokakarya yang dilakukan USAID PRIORITAS. Sabar mengaku baru pertama sekali berkolaborasi dengan guru untuk membuat bahan ajar LPTK. “Selama ini dosen dan guru berkolaborasi untuk membuat bahan ajar yang digunakan oleh sekolah. Tapi ini dibalik, dosen berkolaborasi dengan guru untuk membuat bahan ajar di LPTK. Ini pengalaman yang menarik,” tukasnya. (Anw/Eh)

Perkuliahan yang baik diharapkan dapat menjadi model bagi mahasiswa LPTK.

Prof. Nuryanie Rustaman

Lihat Capaian SPM di Tingkat Sekolah

Kemdikbud Apresiasi SIMPK USAID

PRIORITAS untuk Petakan SPM

Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(Kemdikbud) mengapresiasi aplikasi Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Kabupaten/Kota (SIMPK) USAID PRIORITAS pada presentasi penggunaan aplikasi tersebut di Gedung E, Kantor Kemdikbud (17/9). Presentasi ini dilakukan oleh USAID PRIORITAS yang difasilitasi oleh Kabag Hukum dan

Kepegawaian, Setditjen Dikdas Ibu Sri Renani Pantjastuti. Hadir dalam presentasi itu perwakilan Setditjen Dikdas Kemdikbud, data pokok pendidikan (Dapodik) Dikdas Kemdikbud, dan lembaga donor, seperti ADB dan AusAID. USAID PRIORITAS diminta secara khusus mempresentasikan SIMPK untuk

digunakan dalam pemetaan standar pelayanan minimum (SPM) di 110 kabupaten/kota di Indonesia.

SIMPK merupakan alat yang dikembangkan untuk mendukung kabupaten/kota dalam menyusun kebijakan pendidikan berdasarkan data yang akurat. Aplikasi ini

menggunakan Dapodik sebagai sumber data yang sudah tersedia di kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Keunggulan aplikasi ini antara lain dapat menghitung secara langsung jumlah sekolah yang telah atau belum memenuhi SPM dari seluruh sekolah di kabupaten/kota. Untuk pemetaan ini, sekolah tidak perlu melakukan entri data ulang karena data telah tersedia di Dapodik. Kabupaten/kota juga dapat melakukan analisis lebih mendalam dengan melihat distribusi tingkat capaian SPM antar wilayah di dalam kabupaten/kota.

Hanya saja belum semua indikator dihitung dengan SIMPK karena keterbatasan data yang tersedia di Dapodik. Hal ini

langsung direspon oleh Tim Dapodik Dikdas. Bapak Supriyatno, S.Pd., M.A, Kepala Sub Bagian Data dan Informasi

DAPODIK, Sesditjen Dikdas Kemdikbud menyampaikan bahwa beberapa indikator SPM yang belum tersedia di Dapodik akan disempurnakan pada Dapodik 2014.

Bapak Liberti Marpaung perwakilan dari Setditjen Dikdas Kemdikbud mengusulkan perlunya mengadopsi SIMPK untuk merespon permintaan laporan pencapaian SPM Pendidikan dari UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan). “SIMPK perlu dikembangkan tidak hanya untuk kabupaten/kota, tetapi juga untuk UKP4 yang saat ini kami masih belum mampu menjawab permintaan mereka terkait tingkat capaian SPM Pendidikan,” usulnya. Melihat pentingnya aplikasi program berbasis Excel tersebut, salah satu peserta

mengusulkan SIMPK dapat disebarluaskan ke seluruh Indonesia melalui situs Kemdikbud.

(Aff/Vh)

Dr. Afiffudin dari USAID PRIORITAS mempresentasikan SIMPK di Gedung E Kemdikbud.

SELAMA ini masih banyak sekolah

yang mengalami kesulitan dalam membuat pelaporan BOS (biaya operasional sekolah). Pelaporan BOS yang dibuat dengan cara manual juga memerlukan waktu yang cukup lama. Apalagi dengan banyaknya data dan transaksi yang perlu dicatat, membuat pengerjaannya menjadi semakin kompleks. Untuk memudahkan dalam pembuatan laporan BOS, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bekerjasama dengan USAID PRIORITAS mengembangkan perangkat lunak aplikasi pengelolaan dan pelaporan BOS 2013.

Selain untuk mempermudah pengadministrasian dan pelaporan, perangkat lunak ini juga bermanfaat untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana BOS. Perangkat lunak ini mampu menghasilkan laporan untuk masyarakat, sehingga

masyarakat bisa tahu bagaimana sekolah menggunakan dana BOS. Perangkat lunak BOS 2013 tidak hanya untuk

mengadministrasikan dan melaporkan dana sekolah yang bersumber dari BOS Pusat, tetapi juga untuk melaporkan multi-sumber keuangan. Artinya semua sumber keuangan sekolah diadministrasikan dan dilaporkan secara terintegrasi. Dengan demikian, kasus-kasus pembayaran ganda bisa dihindari.

Pada demonstrasi penggunaan perangkat lunak

tersebut dihadapan tim teknis BOS Kemdikbud, perangkat lunak yang berbasis program excel itu dinilai praktis, sangat informatif, mudah dijalankan, dan bermanfaat, terutama dalam memberikan kemudahan bagi pengelola sekolah dalam mengelola dan melaporkan

BOS. ”Kita akan mengujicoba penggunaan perangkat lunak ini secara terbatas. Dalam tiga bulan ke depan, diharapkan sudah bisa digunakan oleh seluruh sekolah di Indonesia,” kata Ahmad Badar tim teknis BOS Kemdikbud (23/8).

Sekolah juga tidak perlu membeli atau menghadirkan tenaga ahli untuk menggunakan perangkat lunak ini. “Cukup dengan membaca panduannya, kami yakin sekolah sudah dapat menjalankan aplikasi ini,” kata Handoko Widagdo Whole School Development Specialist USAID PRIORITAS yang terlibat aktif dalam pengembangan perangkat lunak tersebut. Nantinya perangkat lunak tersebut dapat diunduh melalui situs BOS nasional. (Hw/Anw)

Permudah Sekolah Buat Laporan BOS yang Akuntabel

550 Manajer BOS Nilai Sangat Membantu

Tampilan menu utama perangkat lunak (software) pelaporan

BOS yang dikembangkan USAID PRIORITAS.

PELATIHAN pembuatan laporan keuangan sekolah dengan menggunakan perangkat lunak Aplikasi BOS 2013 yang digelar di empat wilayah, Jakarta, Solo, Bandung, dan Makassar, melibatkan setidaknya 550 manajer BOS. Mereka umumnya adalah para pejabat di dinas pendidikan seperti kepala bidang dan kepala seksi yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan program BOS di daerah. Setelah mengikuti proses pelatihan, para peserta menyampaikan aplikasi tersebut sangat membantu.

”Perangkat lunak ini mempermudah sekolah untuk mengadministrasikan dana BOS. Pembuatan laporan keuangan menjadi semakin mudah dan menghemat waktu,” kata beberapa manajer BOS. Aplikasi tersebut juga dinilai dapat meningkatkan tertib administrasi karena memuat laporan sekolah dari multi sumber dan mudah diakses oleh masyarakat. (Anw)

PRIORITAS - Nasional

PRIORITAS - Nasional

(4)

PRIORITAS - Nasional

Prioritas Pendidikan: Edisi 4/ Juli - September/ 2013 - 5

PRIORITAS Education Policy Workshop yang digelar di Boston dan Washington, Amerika pada 16-20 September 2013 memberikan kesan menarik bagi para Rektor LPTK Mitra USAID PRIORITAS dan pemangku kepentingan pendidikan yang mengikuti acara tersebut. Para peserta juga diajak melakukan kunjungan ke beberapa sekolah. Rektor Unesa, Prof. Dr. Muchlas Samani menuliskan pengalamannya melihat proses pembelajaran di sekolah Amerika.

Jum'at, 20 September 2013 saya

beserta rombongan diajak ke Eagle View Elementary School. Sekolahnya terletak di Fairfax County Virginia. Kira-kira 1 jam perjalanan dengan mobil dari Georgetown Suites, hotel tempat saya menginap.

Di sekolah, setelah mendengarkan penjelasan wakil kepala sekolah, guru, serta melihat kelas, saya sungguh mendapat pelajaran berharga. Yang ingin dicapai sekolah itu adalah kompetensi anak sebagai critical thinker (pemikir kritis), creative thinker (pemikir kreatif), problem solver (pemecah masalah), dan good character (berkarakter baik). Hal itu dikaitkan dengan kehidupan nyata agar anak memiliki kecakapan hidup (life skills).

Mengajarkan Berpikir Tingkat Tinggi

Ketika mengunjungi kelas V, saya melihat para siswa sedang membaca dan di mejanya ada selembar kertas yang dibagi menjadi dua kolom. Di bagian atas kolom kiri ada

tulisan WHAT ARE YOU CONFUSED ABOUT (apa yang belum dipahami) dan untuk kolom kanan tertulis kalimat WHAT IS YOUR INNER VOICE (apa suara batinmu). Saya amati apa yang dilakukan siswa. Ternyata setelah membaca mengisi kolom tersebut. Apa yang masih bingung atau belum paham ditulis di kolom kiri dan apa yang komentar/pertanyaan ditulis pada kolom kanan.

Setelah selesai atau mungkin waktunya habis, siswa berkumpul duduk di karpet dan gurunya duduk di kursi di depan. Ada dua orang guru lain, yang ternyata merupakan guru “khusus” yang bertugas membantu anak berkebutuhan khusus. Misalnya yang lambat belajar (slow learner) dan yang belum pandai membaca.

Apa yang dikerjakan? Ternyata guru menayangkan lembar demi lembar dari bacaan di papan pintar (smart board). Dan siswa diminta mengajukan apa yang belum dipahami (what are you confused about?) dan apa komentar/pertanyaan (what is your inner voice). Hampir semua anak mengangkat tangan setiap guru menanyakan. Dan guru menanggapinya dengan bagus. Jadi apa yang ditulis di kertas folio tadi diajukan secara lisan waktu itu. Sunggguh contoh bagus, bagaimana mengembangkan berpikir kritis (critical thinking).

Ketika saya masuk di kelas II, siswa sedang duduk di karpet dan guru memandu pelajaran. Siswa ditanya, bagaimana cara mendapatkan teman (how to get friends). Bagaimana kalau ada orang lain yang mengajak berteman. Anak kelas II tentu masih berusia sekitar 7-8 tahun.

Jawabannya macam-macam. Tampak sekali guru mendorong anak untuk mencari cara mendapatkan teman yang cocok. Mungkin itu bagian dari berpikir kreatif (creative thinking). Juga bagaimana kalau ada orang yang belum dikenal tetapi mengajak berteman. Bagaimana kalau anak sebenarnya tidak senang. Sepertinya kemampuan memecahkan masalah (problem solving) yang sedang dipupuk.

Di dinding kelas II juga ada pajangan yang tampak seperti buatan siswa. Dalam kertas folio itu tertulis kalimat I AGREE BECAUSE... (Saya setuju karena....). I DISAGREE BECAUSE.... (Saya tidak setuju karena....) Saya tidak tahu bagaimana pelaksanaan pengisian titik-titik itu. Namun dari tulisan yang ada saya menduga siswa diberi suatu contoh

pendapat atau ungkapan dan diminta mengajukan pendapat setuju atau tidak setuju dan harus diberi penjelasan mengapa setuju atau tidak setuju.

Saya meyakini itu untuk mengembangkan

kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order

thinking). Untuk mengerjakan isian tersebut, menurut Bloom anak harus berpikir sampai tahap evaluasi. Melihat apa yang terjadi di Eagle View Elementary School jadi jadi tercenung. Ternyata kita dapat mengembangkan kemampuan berpikir tinggi, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir kreatif dan

memecahkan masalah anak SD bahkan TK. Saya jadi teringat apa yang saya lihat di kelas TK di Columbkille School di Boston. Guru musik TK membawa gitar dan biola. Anak diminta menunjuk apa yang sama dan apa yang berbeda. Bukankah itu

mengembangkan kemampuan analisis untuk anak kecil. Semoga kita dapat belajar dari pengalaman tersebut. ***

Pembelajaran Berpikir Tingkat Tinggi di Sekolah Amerika

Catatan Rektor Unesa, Prof. Dr. Muchlas Samani Ikuti PRIORITAS Education Policy Workshop

Pertanyaan yang merangsang siswa kelas awal menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi

Keterangan Foto:

1. Memanfaatkan setiap sudut kelas untuk belajar dan memfasilitasi anak berani menyampaikan gagasannya.

2. Guru sedang memandu satu kelompok dalam membaca

berpasangan. Siswa diminta secara bergantian membacakan buku cerita, dan saling memberikan umpan balik.

3. Sudut baca di kelas dirancang mudah diakses anak, menarik, dan setidaknya 2000 judul buku tersedia dalam satu kelas.

PRIORITAS - Nasional

4 - Prioritas Pendidikan: Edisi 4/ Juli - September/ 2013

Lessons Learned dari PRIORITAS Education Policy Workshop di Amerika

Setelah mengikuti rangkaian kegiatan lokakakarya, para Rektor LPTK mitra, perwakilan Kemenko Kesra, dan Kemdikbud membuat lessons learned (pelajaran yang dapat dipetik) khususnya tentang

pengembangan profesi guru untuk dikembangkan di Indonesia. Berikut adalah catatannya.

 Program pendidikan profesi guru (PPG) di LPTK dan sekolah lab/mitra harus yang berkualitas sehingga para calon guru dapat magang dan belajar dari model yang baik. Guru pamong dipilih dari guru yang terbukti berhasil dalam mengajar dan memiliki komitmen untuk menjadi teman belajar yang baik bagi calon guru.

 Pembelajaran membaca di sekolah sangat menentukan dan harus diperkuat. Sekolah yang dilatih dalam program keterampilan membaca dapat menjadi sekolah model bagi sekolah lainnya. Anak harus diajarkan keterampilan membaca sejak dini. (Contoh dari sekolah dasar Eagle View, Fairfax County, dimana anak diajarkan keterampilan untuk memroses suatu bacaan dengan berdialog dengan diri sendiri. Jadi keterampilan membaca dianggap suatu kegiatan di mana siswa aktif berproses dan berinteraksi dengan teks yang dibaca).

Professional Learning community di Indonesia seperti KKG dan MGMP masih belum maksimal. Program KKG/MGMP harus dibangun bottom up (vs regulasi dari atas – top down).

 Kita sudah mengetahui teorinya tetapi seringkali praktiknya tidak bagus. Misalnya pelaksanaan pembelajaran berpusat pada siswa atau kegiatan MGMP di mana

pelaksanaannya masih tidak maksimal.

Rekomendasi

 Menghimpun sekolah yang punya komitmen dan energi (guru mitra, dosen) untuk mengembangkan perangkat sebagai bahan melatih calon guru untuk dipakai di PPG dan di sekolah praktiknya. Bisa dimulai dengan sekolah lab dan sekolah mitra LPTK, serta mencoba menggunakan konsep 'BLOSSOMS' dengan mahasiswa calon guru.

 Kemdikbud berencana untuk melatih sekitar 1,6 juta guru. Pendekatan yang digunakan adalah sedikit bicara, banyak praktik. Saat ini sudah tersedia buku latihan dan buku siswa. USAID

PRIORITAS diharapkan membuat video

pembelajaran aktif kelas 1, kelas 4 SD, SMP dan SMA. Melalui video diharapkan guru dapat melihat dan

mengembangkannya di kelas, seeing is believing (melihat dulu baru percaya).

Tindak lanjut

 Setiap peserta membuat rencana tindak lanjut yang konkret dengan mengadopsi prinsip, konsep atau pendekatan yang sekiranya dapat diterapkan di LPTK masing-masing dari hasil lokakarya kebijakan pendidikan di Amerika.

 Sekitar 3 bulan lagi, semua peserta akan berkumpul lagi bersama dengan koordinator teknis di LPTK yang biasa terlibat dalam kegiatan USAID

PRIORITAS) untuk membahas progress tindak lanjut LPTK. (Fs)

Melihat dari dekat proses pembelajaran di sekolah Amerika.

Mengikuti kuliah Prof. Paul Reville, Direktur Harvard Graduate School of Education.

Prof. Unifa presentasikan pengembangan profesi guru Indonesia di USAID Washington.

Belajar tentang pengembangan teknologi pembelajaran di MIT.

Dokumentasi PRIORITAS Education Policy Workshop

Mendapat penjelasan strategi program pendidikan USAID seperti membaca untuk kelas awal, penelitian, dan best practices.

Mengamati pembelajaran membaca di Daniels Run Elementary.

Belajar tentang kemitraan universitas dan sekolah yang berdampak pada peningkatan mutu pembelajaran di Columbkille School.

Guru Fairfax County Schools sedang memandu siswanya belajar membaca. Guru Fairfax County Schools sedang memandu siswanya belajar membaca. Mendapat penjelasan strategi program

pendidikan USAID seperti membaca untuk kelas awal, penelitian, dan best practices.

Belajar tentang kemitraan universitas dan sekolah yang berdampak pada peningkatan mutu pembelajaran di Columbkille School.

Belajar tentang pengembangan teknologi pembelajaran di MIT.

Mengamati pembelajaran membaca di Daniels Run Elementary.

Berfoto bersama para rektor, perwakilan Kemenko Kesra, Kemdikbud, USAID, RTI International, dan EDC di Harvard Graduate School of Education.

Berfoto bersama para rektor, perwakilan Kemenko Kesra, Kemdikbud, USAID, RTI International, dan EDC di Harvard Graduate School of Education.

(5)

PRIORITAS - Nasional

PRIORITAS Education Policy Workshop yang digelar di Boston dan Washington, Amerika pada 16-20 September 2013 memberikan kesan menarik bagi para Rektor LPTK Mitra USAID PRIORITAS dan pemangku kepentingan pendidikan yang mengikuti acara tersebut. Para peserta juga diajak melakukan kunjungan ke beberapa sekolah. Rektor Unesa, Prof. Dr. Muchlas Samani menuliskan pengalamannya melihat proses pembelajaran di sekolah Amerika.

Jum'at, 20 September 2013 saya

beserta rombongan diajak ke Eagle View Elementary School. Sekolahnya terletak di Fairfax County Virginia. Kira-kira 1 jam perjalanan dengan mobil dari Georgetown Suites, hotel tempat saya menginap.

Di sekolah, setelah mendengarkan penjelasan wakil kepala sekolah, guru, serta melihat kelas, saya sungguh mendapat pelajaran berharga. Yang ingin dicapai sekolah itu adalah kompetensi anak sebagai critical thinker (pemikir kritis), creative thinker (pemikir kreatif), problem solver (pemecah masalah), dan good character (berkarakter baik). Hal itu dikaitkan dengan kehidupan nyata agar anak memiliki kecakapan hidup (life skills).

Mengajarkan Berpikir Tingkat Tinggi

Ketika mengunjungi kelas V, saya melihat para siswa sedang membaca dan di mejanya ada selembar kertas yang dibagi menjadi dua kolom. Di bagian atas kolom kiri ada

tulisan WHAT ARE YOU CONFUSED ABOUT (apa yang belum dipahami) dan untuk kolom kanan tertulis kalimat WHAT IS YOUR INNER VOICE (apa suara batinmu). Saya amati apa yang dilakukan siswa. Ternyata setelah membaca mengisi kolom tersebut. Apa yang masih bingung atau belum paham ditulis di kolom kiri dan apa yang komentar/pertanyaan ditulis pada kolom kanan.

Setelah selesai atau mungkin waktunya habis, siswa berkumpul duduk di karpet dan gurunya duduk di kursi di depan. Ada dua orang guru lain, yang ternyata merupakan guru “khusus” yang bertugas membantu anak berkebutuhan khusus. Misalnya yang lambat belajar (slow learner) dan yang belum pandai membaca.

Apa yang dikerjakan? Ternyata guru menayangkan lembar demi lembar dari bacaan di papan pintar (smart board). Dan siswa diminta mengajukan apa yang belum dipahami (what are you confused about?) dan apa komentar/pertanyaan (what is your inner voice). Hampir semua anak mengangkat tangan setiap guru menanyakan. Dan guru menanggapinya dengan bagus. Jadi apa yang ditulis di kertas folio tadi diajukan secara lisan waktu itu. Sunggguh contoh bagus, bagaimana mengembangkan berpikir kritis (critical thinking).

Ketika saya masuk di kelas II, siswa sedang duduk di karpet dan guru memandu pelajaran. Siswa ditanya, bagaimana cara mendapatkan teman (how to get friends). Bagaimana kalau ada orang lain yang mengajak berteman. Anak kelas II tentu masih berusia sekitar 7-8 tahun.

Jawabannya macam-macam. Tampak sekali guru mendorong anak untuk mencari cara mendapatkan teman yang cocok. Mungkin itu bagian dari berpikir kreatif (creative thinking). Juga bagaimana kalau ada orang yang belum dikenal tetapi mengajak berteman. Bagaimana kalau anak sebenarnya tidak senang. Sepertinya kemampuan memecahkan masalah (problem solving) yang sedang dipupuk.

Di dinding kelas II juga ada pajangan yang tampak seperti buatan siswa. Dalam kertas folio itu tertulis kalimat I AGREE BECAUSE... (Saya setuju karena....). I DISAGREE BECAUSE.... (Saya tidak setuju karena....) Saya tidak tahu bagaimana pelaksanaan pengisian titik-titik itu. Namun dari tulisan yang ada saya menduga siswa diberi suatu contoh

pendapat atau ungkapan dan diminta mengajukan pendapat setuju atau tidak setuju dan harus diberi penjelasan mengapa setuju atau tidak setuju.

Saya meyakini itu untuk mengembangkan

kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order

thinking). Untuk mengerjakan isian tersebut, menurut Bloom anak harus berpikir sampai tahap evaluasi. Melihat apa yang terjadi di Eagle View Elementary School jadi jadi tercenung. Ternyata kita dapat mengembangkan kemampuan berpikir tinggi, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berpikir kreatif dan

memecahkan masalah anak SD bahkan TK. Saya jadi teringat apa yang saya lihat di kelas TK di Columbkille School di Boston. Guru musik TK membawa gitar dan biola. Anak diminta menunjuk apa yang sama dan apa yang berbeda. Bukankah itu

mengembangkan kemampuan analisis untuk anak kecil. Semoga kita dapat belajar dari pengalaman tersebut. ***

Pembelajaran Berpikir Tingkat Tinggi di Sekolah Amerika

Catatan Rektor Unesa, Prof. Dr. Muchlas Samani Ikuti PRIORITAS Education Policy Workshop

Pertanyaan yang merangsang siswa kelas awal menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi

Keterangan Foto:

1. Memanfaatkan setiap sudut kelas untuk belajar dan memfasilitasi anak berani menyampaikan gagasannya.

2. Guru sedang memandu satu kelompok dalam membaca

berpasangan. Siswa diminta secara bergantian membacakan buku cerita, dan saling memberikan umpan balik.

3. Sudut baca di kelas dirancang mudah diakses anak, menarik, dan setidaknya 2000 judul buku tersedia dalam satu kelas.

PRIORITAS - Nasional

Lessons Learned dari PRIORITAS Education Policy Workshop di Amerika

Setelah mengikuti rangkaian kegiatan lokakakarya, para Rektor LPTK mitra, perwakilan Kemenko Kesra, dan Kemdikbud membuat lessons learned (pelajaran yang dapat dipetik) khususnya tentang

pengembangan profesi guru untuk dikembangkan di Indonesia. Berikut adalah catatannya.

 Program pendidikan profesi guru (PPG) di LPTK dan sekolah lab/mitra harus yang berkualitas sehingga para calon guru dapat magang dan belajar dari model yang baik. Guru pamong dipilih dari guru yang terbukti berhasil dalam mengajar dan memiliki komitmen untuk menjadi teman belajar yang baik bagi calon guru.

 Pembelajaran membaca di sekolah sangat menentukan dan harus diperkuat. Sekolah yang dilatih dalam program keterampilan membaca dapat menjadi sekolah model bagi sekolah lainnya. Anak harus diajarkan keterampilan membaca sejak dini. (Contoh dari sekolah dasar Eagle View, Fairfax County, dimana anak diajarkan keterampilan untuk memroses suatu bacaan dengan berdialog dengan diri sendiri. Jadi keterampilan membaca dianggap suatu kegiatan di mana siswa aktif berproses dan berinteraksi dengan teks yang dibaca).

Professional Learning community di Indonesia seperti KKG dan MGMP masih belum maksimal. Program KKG/MGMP harus dibangun bottom up (vs regulasi dari atas – top down).

 Kita sudah mengetahui teorinya tetapi seringkali praktiknya tidak bagus. Misalnya pelaksanaan pembelajaran berpusat pada siswa atau kegiatan MGMP di mana

pelaksanaannya masih tidak maksimal.

Rekomendasi

 Menghimpun sekolah yang punya komitmen dan energi (guru mitra, dosen) untuk mengembangkan perangkat sebagai bahan melatih calon guru untuk dipakai di PPG dan di sekolah praktiknya. Bisa dimulai dengan sekolah lab dan sekolah mitra LPTK, serta mencoba menggunakan konsep 'BLOSSOMS' dengan mahasiswa calon guru.

 Kemdikbud berencana untuk melatih sekitar 1,6 juta guru. Pendekatan yang digunakan adalah sedikit bicara, banyak praktik. Saat ini sudah tersedia buku latihan dan buku siswa. USAID

PRIORITAS diharapkan membuat video

pembelajaran aktif kelas 1, kelas 4 SD, SMP dan SMA. Melalui video diharapkan guru dapat melihat dan

mengembangkannya di kelas, seeing is believing (melihat dulu baru percaya).

Tindak lanjut

 Setiap peserta membuat rencana tindak lanjut yang konkret dengan mengadopsi prinsip, konsep atau pendekatan yang sekiranya dapat diterapkan di LPTK masing-masing dari hasil lokakarya kebijakan pendidikan di Amerika.

 Sekitar 3 bulan lagi, semua peserta akan berkumpul lagi bersama dengan koordinator teknis di LPTK yang biasa terlibat dalam kegiatan USAID

PRIORITAS) untuk membahas progress tindak lanjut LPTK. (Fs)

Melihat dari dekat proses pembelajaran di sekolah Amerika.

Mengikuti kuliah Prof. Paul Reville, Direktur Harvard Graduate School of Education.

Prof. Unifa presentasikan pengembangan profesi guru Indonesia di USAID Washington.

Belajar tentang pengembangan teknologi pembelajaran di MIT.

Dokumentasi PRIORITAS Education Policy Workshop

Mendapat penjelasan strategi program pendidikan USAID seperti membaca untuk kelas awal, penelitian, dan best practices.

Mengamati pembelajaran membaca di Daniels Run Elementary.

Belajar tentang kemitraan universitas dan sekolah yang berdampak pada peningkatan mutu pembelajaran di Columbkille School.

Guru Fairfax County Schools sedang memandu siswanya belajar membaca. Guru Fairfax County Schools sedang memandu siswanya belajar membaca. Mendapat penjelasan strategi program

pendidikan USAID seperti membaca untuk kelas awal, penelitian, dan best practices.

Belajar tentang kemitraan universitas dan sekolah yang berdampak pada peningkatan mutu pembelajaran di Columbkille School.

Belajar tentang pengembangan teknologi pembelajaran di MIT.

Mengamati pembelajaran membaca di Daniels Run Elementary.

Berfoto bersama para rektor, perwakilan Kemenko Kesra, Kemdikbud, USAID, RTI International, dan EDC di Harvard Graduate School of Education.

Berfoto bersama para rektor, perwakilan Kemenko Kesra, Kemdikbud, USAID, RTI International, dan EDC di Harvard Graduate School of Education.

(6)

6 - Prioritas Pendidikan: Edisi 4/ Juli - September/ 2013

PRIORITAS - Nasional

Prioritas Pendidikan: Edisi 4/ Juli - September/ 2013 - 7

Kantor Pusat RTI di Amerika Terkesan

dengan Pembelajaran di MI Asih Putera

Eddie Story, Senior Vice President,General

Counsel, and Corporate Secretary RTI International terkesan dengan pembelajaran di MI Asih Putera, Cimahi, Jawa Barat.

Cimahi – USAID PRIORITAS Jawa Barat. Tiga pejabat Research

Triangle Institute (RTI) International dari Kantor Pusat North Carolina, Amerika Serikat, terkesan dengan kunjungannya yang melihat langsung proses

pembelajaran di MI Asih Putera. Ketiga tamu penting yang secara khusus ingin melihat langsung dampak program di sekolah mitra USAID PRIORITAS itu adalah Edward “Eddie” Story (Senior Vice President, General Counsel, and Corporate Secretary), Mohammad Ali (Senior Director-Chief Procurement Officer), dan Dan Segal (International Counsel). ”Saya melihat semua siswa tampak menikmati proses belajar di kelas. Hal itu sangat penting untuk membuat siswa dapat belajar dengan baik,” kata Eddie Story kepada para tamu yang ikut dalam kunjungan (11/7).

Beliau juga menyampaikan

apresiasinya atas dampak positif program USAID PRIORITAS di MI Asih Putera. ”Apa yang kami bayangkan mengenai sekolah binaan kami itu terwujud di MI Asih Putera. Praktik pendidikan di madrasah ini memenuhi apa yang kami dambakan,” katanya lagi.

Rombongan tamu disambut langsung oleh pihak sekolah, perwakilan dinas pendidikan, Kepala Kemenag Kota Cimahi, dan staf USAID PRIORITAS. Pada saat berkeliling kelas, semua menyaksikan proses pembelajaran yang hari itu merupakan hari pertama masuk kelas tahun ajaran baru. Semua berdecak

kagum saat melihat karya siswa kelas awal berupa tulisan pendek pengalaman berlibur, yang sudah terpajang di dinding kelas, hasil belajar pagi hari itu.

Setelah berkeliling kelas, kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan singkat untuk berbincang terkait program USAID PRIORITAS. Dalam pertemuan tersebut juga hadir Drs. H. Hilmi Riva'i, M.Pd Kepala Kemenag Kota Cimahi, Hj. Hartati, S.Pd., M.Si Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Iis Siti Aisyah, S.S Kepala MI Asih Putera, Ibu Anindya Dhian Komite Sekolah, dan beberapa guru dan siswa MI Asih Putera.

Kepala sekolah, Komite, Pejabat Dinas dan Kemenag memberikan komentar atas pertanyaan, ”Bagaimana pendapat bapak dan ibu terhadap program USAID PRIORITAS?” Mereka memberi

komentar hampir sama, yaitu menyambut baik dan berterima kasih bahwa sekolah ini dipilih sebagai mitra program.

Mereka siap mendukung pelaksanaan program, misalnya akan mengijinkan para guru untuk mengikuti pelatihan dan mendorong mereka untuk menerapkan hasilnya di kelas. ”Pelaksanaan program USAID PRIORITAS sangat membantu kami dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kami berharap banyak madarasah dan sekolah yang dapat terlibat dalam program USAID PRIORITAS,” kata Hilmi Rivai, Kepala Kemenag Kota Cimahi. (Anw)

20 Daerah Mitra Kohor 2

Siap Lakukan Inovasi

MEMASUKI program Kohor 2, USAID PRIORITAS

memperluas kemitraan program dengan menambah 20 daerah mitra yang tersebar di tujuh provinsi. Jumlah ini menambah 69 daerah mitra DBE dan USAID PRIORITAS yang sudah bergabung sejak Kohort 1. Jadi, pada tahun 2013, secara keseluruhan ada 89 daerah mitra kabupaten/kota. Jumlah ini masih akan bertambah dengan rencana bergabungnya Provinsi Papua.

Daerah mitra baru tersebut akan melakukan serangkaian kegiatan seperti asesmen pendidikan, penilaian kemampuan membaca kelas awal (EGRA), koordinasi program dengan seluruh pemangku kepentingan pendidikan, seleksi fasilitator daerah, pelatihan dan pendampingan sekolah, analisis pemerataan distribusi guru, penghitungan biaya satuan pendidikan.

Perkuat Koordinasi dengan Pemerintah

Pertengahan Agustus 2013 USAID PRIORITAS menugaskan Ruwiyati Ahmadi yang ditunjuk sebagai Technical Coordinator with GOI yang juga berkantor di Kemdikbud. Dia akan membantu memperkuat koordinasi dan sinergi program dengan Pemerintah.

Pada saat berkoordinasi dengan Prof. Dr. Ibrahim Bafadal Direktur Pembinaan SD, USAID PRIORITAS diharapkan menjadi satu tim kerja dengan Kemdikbud. Sementara Dr. Didik Suhardi, Direktur Pembinaan SMP terkait sinkronisasi program, USAID PRIORITAS diminta terlibat dalam PPMBS (program peningkatan

mutu berbasis sekolah) Direktorat

PSMP. Hal itu juga sejalan dengan program USAID PRIORITAS yang mendampingi sekolah untuk menerapkan praktik yang baik dalam pembelajaran dan manajemen berbasis sekolah.

Drs. Khamim, M.Pd Kasubdit Program Direktorat PSMP dan Drs. Didik Prabangkat, MA Kasubdit Kurikulum Direktorat PSD berharap USAID PRIORITAS dapat terlibat dalam pelatihan kurikulum 2013. Sementara Drs. Rochmat, MA Kasubdit Kerjasama dan Kelembagaan, Direktorat Pendidikan Madrasah, Kementerian Agama (Kemenag) menyarankan perlunya

membentuk tim teknis pelaksana program (implementing agency) di Kemenag. Hal ini akan dijadikan dasar bagi Kemenag untuk dapat mengalokasikan dana sebagai pendamping program.

”Termasuk bila jumlah MI dan MTs mitra USAID

PRIORITAS di setiap daerah mencapai 20%, maka setiap kantor wilayah Kemenag bisa mengajukan anggaran ke Kemenag Pusat untuk melakukan diseminasi di tahun 2014,” katanya.

(Ra/Anw)

Pertemuan USAID PRIORITAS Sulawesi Selatan dengan Bappeda, Dinas Pendidikan, Kemenag, DPRD, dan PGRI Kabupaten Tana Toraja.

Kudus. Berkat konsistensinya menerapkan praktik yang baik

dalam pembelajaran, Abdul Rochim, M.Pd guru SMPN 1 Kudus, Jawa Tengah berhasil meraih Juara 1 Guru Berprestasi tingkat Nasional Tahun 2013. Pak Rochim, demikian guru IPA yang juga Fasilitator USAID PRIORITAS itu biasa dipanggil, sejak tahun 2007 dia menjadi fasilitator daerah program USAID DBE yang kini dilanjutkan menjadi program USAID PRIORITAS.

Dia mengaku banyak mendapatkan inspirasi dari

keterlibatannya sebagai fasilitator dalam program USAID. ”Saya telah menerapkan semua hasil pelatihan USAID di dalam pembelajaran. Konsistensi itulah yang mengantarkan saya berhasil menjadi juara di tingkat nasional,” cerita pak Rochim.

Sebelumnya, pada April 2013, pak Rochim ditetapkan sebagai Juara 1 Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Kudus. Kemudian, Juni 2013 berkompetisi dengan 35 guru terbaik dari

kabupaten/kota di Jawa Tengah, dia ditetapkan menjadi Juara 1 tingkat provinsi. Lalu pada Agustus 2013, dia berhasil menjadi juara 1 tingkat nasional. Karya Ilmiahnya yang mengangkat tema Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna (Better Teaching and Learning-BTL) dalam Aplikasi Pembelajaran di Kelas, dinilai Prof. Dr. Ahmad Slamet, salah satu dewan juri, karya tersebut relevan dengan tuntutan kurikulum 2013.

Setelah melalui tahapan penilaian portofolio, tes tertulis, presentasi karya ilmiah, dan wawancara, akhirnya pengumuman disampaikan. Fasilitator USAID PRIORITAS tersebut dinobatkan menjadi juara 1 guru berprestasi tingkat nasional. Yang menarik, pak Rochim bersanding dengan kepala sekolahnya, H. Oky Sudarto yang juga menjadi kepala sekolah beprestasi tingkat nasional. “BTL yang dikembangkan Program USAID mampu menjawab tantangan kurikulum 2013. Itulah yang membuat saya yakin menggunakan program yang dikembangkan USAID sebagai tema dalam karya tulis ilmiah lomba guru berprestasi,” paparnya bersemangat. (Shs)

Pak Rochim mendapatkan penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Moh Nuh atas keberhasilannya menjadi guru berprestasi tingkat nasional Tahun 2013.

PRIORITAS - Nasional

Fasilitator USAID PRIORITAS Raih Juara 1 Guru Berprestasi Nasional

Kuota CPNS 2013 dan Pengalaman Pendampingan PPG

PENDEKATAN Penataan dan

Pemerataan Guru (PPG) yang

dikembangkan oleh USAID PRIORITAS semakin menarik, sejalan dengan keluarnya kuota CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) untuk kabupaten/kota. Dari informasi awal hampir semua

kabupaten/kota mengajukan usulan formasi CPNS. Namun sebagian besar (lebih dari 60%) kabupaten/kota tidak diberikan kuota untuk merekrut CPNS.

Menurut Dr. Aos Santosa, Spesialis Tata Kelola dan Manajemen Pendidikan USAID PRIORITAS, ada dua syarat yang mengikat bagi kabupaten/kota untuk mengajukan formasi CPNS, yaitu 1) belanja pegawai (belanja tidak langsung) tidak lebih dari 50% dari total APBD, dan 2) daerah tersebut telah melakukan distribusi pegawai, khusus untuk pendistribusian guru diatur dalam Peraturan Bersama 5 Menteri tahun 2011.

Mengapa penataan guru menjadi penting dikaitkan dengan formasi PNS? Karena sebagian besar PNS yang ada di kabupaten/kota adalah guru. Jika guru ditata dengan baik, akan berdampak pada penataan PNS secara keseluruhan.

Dari pengalaman pendampingan analisis distribusi guru di daerah mitra USAID PRIORITAS, menunjukkan sebagian besar kabupaten kota mengalami kelebihan guru, terutama guru

matapelajaran di SMP dan SMA dan

distribusinya tidak merata.

Sementara kekurangan guru hanya terjadi pada guru kelas di SD.

Dari 23 kabupaten mitra USAID, hanya 5 kabupaten (22%) yang mendapat kuota CPNS 2013, yaitu: 1) Kabupaten Bantaeng, 2)

Kabupaten Semarang, 3) Kabupaten Mojokerto, 4) Kabupaten Serang, dan, 5) Kabupaten Nias Selatan. Ke lima kabupaten tersebut kekurangan guru kelas yang cukup signifikan, salah satu diantaranya adalah Kebupaten Semarang, kabupaten ini telah melakukan pendistribusian PNS, khususnya guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, serta guru Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model guru rangkap sekolah. Model guru rangkap sekolah dapat mengatasi dua masalah sekaligus, yaitu mengatasi kekurangan guru dan juga dalam rangka pemenuhan jam mengajar guru, yaitu minimal 24 jam.

Sampai saat ini, USAID PRIORITAS telah memfasilitasi analisis distribusi guru pada 23 kabupaten/kota dengan

menggunakan perangkat lunak sederhana dan memanfaatkan data yang sudah ada di sekolah, yaitu DAPODIK (Data Pokok Pendidikan) yang diperbaharui setiap semester. Hasil pemetaan menujukkan bahwa kekurangan guru tidak selalu harus menambah guru, karena banyak sekolah, terutama SD yang jumlah siswanya sangat

sedikit, yaitu rasio siswa terhadap rombongan belajar kurang dari 8 (seperempat SPM).

”Jika kekurangan guru terjadi pada sekolah kecil, tidak perlu menambah guru, tetapi dengan memilih beberapa opsi kebijakan yang cocok, misalnya pengajaran kelas rangkap, penggabungan sekolah kecil yang berdekatan, penerimaan siswa baru berkala, dan guru kunjung,” jelas Aos.

Selama ini dengan program PPG, daerah mitra USAID PRIORITAS merasa terbantu dalam menata pemerataan guru. Seperti yang diutarakan Ashari,M.Pd., Kepala Bidang Tenaga Pendidik Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. “Program PPG sangat membantu kami dalam upaya peningkatan mutu pendidikan,” katanya. (Ash/Arz) Penataan guru menjadi bagian upaya untuk pemerataan mutu pendidikan.

(7)

PRIORITAS - Nasional

Kantor Pusat RTI di Amerika Terkesan

dengan Pembelajaran di MI Asih Putera

Eddie Story, Senior Vice President,General

Counsel, and Corporate Secretary RTI International terkesan dengan pembelajaran di MI Asih Putera, Cimahi, Jawa Barat.

Cimahi – USAID PRIORITAS Jawa Barat. Tiga pejabat Research

Triangle Institute (RTI) International dari Kantor Pusat North Carolina, Amerika Serikat, terkesan dengan kunjungannya yang melihat langsung proses

pembelajaran di MI Asih Putera. Ketiga tamu penting yang secara khusus ingin melihat langsung dampak program di sekolah mitra USAID PRIORITAS itu adalah Edward “Eddie” Story (Senior Vice President, General Counsel, and Corporate Secretary), Mohammad Ali (Senior Director-Chief Procurement Officer), dan Dan Segal (International Counsel). ”Saya melihat semua siswa tampak menikmati proses belajar di kelas. Hal itu sangat penting untuk membuat siswa dapat belajar dengan baik,” kata Eddie Story kepada para tamu yang ikut dalam kunjungan (11/7).

Beliau juga menyampaikan

apresiasinya atas dampak positif program USAID PRIORITAS di MI Asih Putera. ”Apa yang kami bayangkan mengenai sekolah binaan kami itu terwujud di MI Asih Putera. Praktik pendidikan di madrasah ini memenuhi apa yang kami dambakan,” katanya lagi.

Rombongan tamu disambut langsung oleh pihak sekolah, perwakilan dinas pendidikan, Kepala Kemenag Kota Cimahi, dan staf USAID PRIORITAS. Pada saat berkeliling kelas, semua menyaksikan proses pembelajaran yang hari itu merupakan hari pertama masuk kelas tahun ajaran baru. Semua berdecak

kagum saat melihat karya siswa kelas awal berupa tulisan pendek pengalaman berlibur, yang sudah terpajang di dinding kelas, hasil belajar pagi hari itu.

Setelah berkeliling kelas, kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan singkat untuk berbincang terkait program USAID PRIORITAS. Dalam pertemuan tersebut juga hadir Drs. H. Hilmi Riva'i, M.Pd Kepala Kemenag Kota Cimahi, Hj. Hartati, S.Pd., M.Si Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Iis Siti Aisyah, S.S Kepala MI Asih Putera, Ibu Anindya Dhian Komite Sekolah, dan beberapa guru dan siswa MI Asih Putera.

Kepala sekolah, Komite, Pejabat Dinas dan Kemenag memberikan komentar atas pertanyaan, ”Bagaimana pendapat bapak dan ibu terhadap program USAID PRIORITAS?” Mereka memberi

komentar hampir sama, yaitu menyambut baik dan berterima kasih bahwa sekolah ini dipilih sebagai mitra program.

Mereka siap mendukung pelaksanaan program, misalnya akan mengijinkan para guru untuk mengikuti pelatihan dan mendorong mereka untuk menerapkan hasilnya di kelas. ”Pelaksanaan program USAID PRIORITAS sangat membantu kami dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kami berharap banyak madarasah dan sekolah yang dapat terlibat dalam program USAID PRIORITAS,” kata Hilmi Rivai, Kepala Kemenag Kota Cimahi. (Anw)

20 Daerah Mitra Kohor 2

Siap Lakukan Inovasi

MEMASUKI program Kohor 2, USAID PRIORITAS

memperluas kemitraan program dengan menambah 20 daerah mitra yang tersebar di tujuh provinsi. Jumlah ini menambah 69 daerah mitra DBE dan USAID PRIORITAS yang sudah bergabung sejak Kohort 1. Jadi, pada tahun 2013, secara keseluruhan ada 89 daerah mitra kabupaten/kota. Jumlah ini masih akan bertambah dengan rencana bergabungnya Provinsi Papua.

Daerah mitra baru tersebut akan melakukan serangkaian kegiatan seperti asesmen pendidikan, penilaian kemampuan membaca kelas awal (EGRA), koordinasi program dengan seluruh pemangku kepentingan pendidikan, seleksi fasilitator daerah, pelatihan dan pendampingan sekolah, analisis pemerataan distribusi guru, penghitungan biaya satuan pendidikan.

Perkuat Koordinasi dengan Pemerintah

Pertengahan Agustus 2013 USAID PRIORITAS menugaskan Ruwiyati Ahmadi yang ditunjuk sebagai Technical Coordinator with GOI yang juga berkantor di Kemdikbud. Dia akan membantu memperkuat koordinasi dan sinergi program dengan Pemerintah.

Pada saat berkoordinasi dengan Prof. Dr. Ibrahim Bafadal Direktur Pembinaan SD, USAID PRIORITAS diharapkan menjadi satu tim kerja dengan Kemdikbud. Sementara Dr. Didik Suhardi, Direktur Pembinaan SMP terkait sinkronisasi program, USAID PRIORITAS diminta terlibat dalam PPMBS (program peningkatan

mutu berbasis sekolah) Direktorat

PSMP. Hal itu juga sejalan dengan program USAID PRIORITAS yang mendampingi sekolah untuk menerapkan praktik yang baik dalam pembelajaran dan manajemen berbasis sekolah.

Drs. Khamim, M.Pd Kasubdit Program Direktorat PSMP dan Drs. Didik Prabangkat, MA Kasubdit Kurikulum Direktorat PSD berharap USAID PRIORITAS dapat terlibat dalam pelatihan kurikulum 2013. Sementara Drs. Rochmat, MA Kasubdit Kerjasama dan Kelembagaan, Direktorat Pendidikan Madrasah, Kementerian Agama (Kemenag) menyarankan perlunya

membentuk tim teknis pelaksana program (implementing agency) di Kemenag. Hal ini akan dijadikan dasar bagi Kemenag untuk dapat mengalokasikan dana sebagai pendamping program.

”Termasuk bila jumlah MI dan MTs mitra USAID

PRIORITAS di setiap daerah mencapai 20%, maka setiap kantor wilayah Kemenag bisa mengajukan anggaran ke Kemenag Pusat untuk melakukan diseminasi di tahun 2014,” katanya.

(Ra/Anw)

Pertemuan USAID PRIORITAS Sulawesi Selatan dengan Bappeda, Dinas Pendidikan, Kemenag, DPRD, dan PGRI Kabupaten Tana Toraja.

Kudus. Berkat konsistensinya menerapkan praktik yang baik

dalam pembelajaran, Abdul Rochim, M.Pd guru SMPN 1 Kudus, Jawa Tengah berhasil meraih Juara 1 Guru Berprestasi tingkat Nasional Tahun 2013. Pak Rochim, demikian guru IPA yang juga Fasilitator USAID PRIORITAS itu biasa dipanggil, sejak tahun 2007 dia menjadi fasilitator daerah program USAID DBE yang kini dilanjutkan menjadi program USAID PRIORITAS.

Dia mengaku banyak mendapatkan inspirasi dari

keterlibatannya sebagai fasilitator dalam program USAID. ”Saya telah menerapkan semua hasil pelatihan USAID di dalam pembelajaran. Konsistensi itulah yang mengantarkan saya berhasil menjadi juara di tingkat nasional,” cerita pak Rochim.

Sebelumnya, pada April 2013, pak Rochim ditetapkan sebagai Juara 1 Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Kudus. Kemudian, Juni 2013 berkompetisi dengan 35 guru terbaik dari

kabupaten/kota di Jawa Tengah, dia ditetapkan menjadi Juara 1 tingkat provinsi. Lalu pada Agustus 2013, dia berhasil menjadi juara 1 tingkat nasional. Karya Ilmiahnya yang mengangkat tema Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna (Better Teaching and Learning-BTL) dalam Aplikasi Pembelajaran di Kelas, dinilai Prof. Dr. Ahmad Slamet, salah satu dewan juri, karya tersebut relevan dengan tuntutan kurikulum 2013.

Setelah melalui tahapan penilaian portofolio, tes tertulis, presentasi karya ilmiah, dan wawancara, akhirnya pengumuman disampaikan. Fasilitator USAID PRIORITAS tersebut dinobatkan menjadi juara 1 guru berprestasi tingkat nasional. Yang menarik, pak Rochim bersanding dengan kepala sekolahnya, H. Oky Sudarto yang juga menjadi kepala sekolah beprestasi tingkat nasional. “BTL yang dikembangkan Program USAID mampu menjawab tantangan kurikulum 2013. Itulah yang membuat saya yakin menggunakan program yang dikembangkan USAID sebagai tema dalam karya tulis ilmiah lomba guru berprestasi,” paparnya bersemangat. (Shs)

Pak Rochim mendapatkan penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Moh Nuh atas keberhasilannya menjadi guru berprestasi tingkat nasional Tahun 2013.

PRIORITAS - Nasional

Fasilitator USAID PRIORITAS Raih Juara 1 Guru Berprestasi Nasional

Kuota CPNS 2013 dan Pengalaman Pendampingan PPG

PENDEKATAN Penataan dan

Pemerataan Guru (PPG) yang

dikembangkan oleh USAID PRIORITAS semakin menarik, sejalan dengan keluarnya kuota CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) untuk kabupaten/kota. Dari informasi awal hampir semua

kabupaten/kota mengajukan usulan formasi CPNS. Namun sebagian besar (lebih dari 60%) kabupaten/kota tidak diberikan kuota untuk merekrut CPNS.

Menurut Dr. Aos Santosa, Spesialis Tata Kelola dan Manajemen Pendidikan USAID PRIORITAS, ada dua syarat yang mengikat bagi kabupaten/kota untuk mengajukan formasi CPNS, yaitu 1) belanja pegawai (belanja tidak langsung) tidak lebih dari 50% dari total APBD, dan 2) daerah tersebut telah melakukan distribusi pegawai, khusus untuk pendistribusian guru diatur dalam Peraturan Bersama 5 Menteri tahun 2011.

Mengapa penataan guru menjadi penting dikaitkan dengan formasi PNS? Karena sebagian besar PNS yang ada di kabupaten/kota adalah guru. Jika guru ditata dengan baik, akan berdampak pada penataan PNS secara keseluruhan.

Dari pengalaman pendampingan analisis distribusi guru di daerah mitra USAID PRIORITAS, menunjukkan sebagian besar kabupaten kota mengalami kelebihan guru, terutama guru

matapelajaran di SMP dan SMA dan

distribusinya tidak merata.

Sementara kekurangan guru hanya terjadi pada guru kelas di SD.

Dari 23 kabupaten mitra USAID, hanya 5 kabupaten (22%) yang mendapat kuota CPNS 2013, yaitu: 1) Kabupaten Bantaeng, 2)

Kabupaten Semarang, 3) Kabupaten Mojokerto, 4) Kabupaten Serang, dan, 5) Kabupaten Nias Selatan. Ke lima kabupaten tersebut kekurangan guru kelas yang cukup signifikan, salah satu diantaranya adalah Kebupaten Semarang, kabupaten ini telah melakukan pendistribusian PNS, khususnya guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, serta guru Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model guru rangkap sekolah. Model guru rangkap sekolah dapat mengatasi dua masalah sekaligus, yaitu mengatasi kekurangan guru dan juga dalam rangka pemenuhan jam mengajar guru, yaitu minimal 24 jam.

Sampai saat ini, USAID PRIORITAS telah memfasilitasi analisis distribusi guru pada 23 kabupaten/kota dengan

menggunakan perangkat lunak sederhana dan memanfaatkan data yang sudah ada di sekolah, yaitu DAPODIK (Data Pokok Pendidikan) yang diperbaharui setiap semester. Hasil pemetaan menujukkan bahwa kekurangan guru tidak selalu harus menambah guru, karena banyak sekolah, terutama SD yang jumlah siswanya sangat

sedikit, yaitu rasio siswa terhadap rombongan belajar kurang dari 8 (seperempat SPM).

”Jika kekurangan guru terjadi pada sekolah kecil, tidak perlu menambah guru, tetapi dengan memilih beberapa opsi kebijakan yang cocok, misalnya pengajaran kelas rangkap, penggabungan sekolah kecil yang berdekatan, penerimaan siswa baru berkala, dan guru kunjung,” jelas Aos.

Selama ini dengan program PPG, daerah mitra USAID PRIORITAS merasa terbantu dalam menata pemerataan guru. Seperti yang diutarakan Ashari,M.Pd., Kepala Bidang Tenaga Pendidik Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. “Program PPG sangat membantu kami dalam upaya peningkatan mutu pendidikan,” katanya. (Ash/Arz) Penataan guru menjadi bagian upaya untuk pemerataan mutu pendidikan.

Gambar

Foto dari kiri ke kanan: 1. Siswa melakukan percobaan; 2. Guru mendampingi siswa menulis laporan; 3
Foto dari kiri ke kanan: 1. Siswa melakukan percobaan; 2. Guru mendampingi siswa menulis laporan; 3

Referensi

Dokumen terkait

Development, Corporate Secretary, Public Relations, Manufacturing, serta karyawan potensial dari fungsi lainnya pada level manajer yang ingin meningkatkan skill membuat dan

YANG AKAN MENJADI ASSET SDM EFEKTIF DALAM MENGHADAPI MASALAH & TANTANGAN HARIAN DI PERUSAHAAN.. 1 2 3

Penilaian pembaca mengenai sampul dan ilustrasi yang terdapat pada buku #88 Love Life memiliki kategori baik, karena responden yang menjawab tampilan sampul, bahan sampul

Berdasarkan Pasal 55 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 sebagaimana telah diubah dengan

Seiring dengan perkembangan lembaga kursus ini, proses akademik yang selama ini dijalankan dirasa kurang efektif dan efisien dan membutuhkan suatu sistem yang baru karena

Hasil penelitian menunjukkan variabel content, timeliness, technology, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komisaris independen komite audit dan kualitas

Agar dapat mengasilkan keputusan yang tepat untuk prediksi penjualan alat medis yang sesuai dengan kebutuhan manager dan membantu dibidang penjualan, Maka penulis

Tujuan dari studi ini adalah mengembangkan suatu konsep penerapan sanitasi berdasarkan Persyaratan Umum Sanitasi pada sebuah industri lapis legit di Semarang sehingga