• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERENCANAAN TATA RUANG LANSKAP DI PEDESA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERENCANAAN TATA RUANG LANSKAP DI PEDESA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PERENCANAAN TATA RUANG

LANSKAP DI PEDESAAN

Perencanaan Tata Kelola Lahan Berskala Kecil

dalam sebuah Kerangka Hukum

*

Oleh Cut Augusta Mindry Anandi

&

Chris PA Bennett

1

I

ndonesia merupakan satu dari beberapa negara di dunia yang kaya akan keanekaragaman hayati, dengan simpanan karbon dan lahan gambut. Dari perspektif lanskap, kawasan hutan dan

lahan gambut berada paling banyak di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Jika ketiga pulau tersebut digabung akan menjadi kawasan dengan simpanan karbon terbesar di wilayah iklim tropis (Betha et al. 2013; Page et al. 2010) dan hutan hujan tropis ketiga terbesar tersisa di dunia (Broich et al. 2011). Hingga kini, ancaman deforestasi dan degradasi terus terjadi di kawasan-kawasan strategis ini dari berbagai aktifitas dari sektor swasta yang mencakup aktifitas pertambangan, ekspansi agroindustry, dan penebangan kayu dan juga dari pihak masyarakat setempat dengan kegiatan cocok tanam.

Pendekatan lanskap penggunaan lahan yang berkelanjutan semakin banyak diterapkan. Tata guna lahan semacam ini dipandang sebagai pendekatan yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun dalam penerapannya sering menghadapi tantangan. Ada banyak contoh kasus yang gagal karena area yang sangat luas dan tidak terkendali, konflik lintas batas, biaya tinggi dan koordinasi antar lembaga yang tidak memadai. Saat ini fokusnya pada pendekatan sub-lanskap yang memiliki tiga tingkatan yurisdiksi zonasi tata ruang. Pertama, rencana tata ruang di tingkat kabupaten;

Kedua, berlandasan di dalam distrik, yurisdiksi pengelolaan penggunaan lahan; Ketiga, kelompok desa yang berada pada lingkungan biofisik serupa dalam wilayah kabupaten dan semua tanah negara dan swasta. Penerapan dari pendekatan ini seperti proyek USAID-LESTARI di Aceh dianggap strategis untuk pembangunan konservasi dan ekologi dalam lanskap yang lebih luas.

Kata kunci: Indonesia, tata ruang bentang alam, pemetaan partisifatif, perencanaan wilayah desa, titik balik, pembagian wilayah, alokasi pemanfaatan lahan

* Berdasarkan makalah “Upstream to Downstream:

Jurisdictional Sub-Landscape Approach Towards Sustainable Land Use Planning” disajikan pada Konfrensi Tahunan Bank Dunia berjudul Tanah dan Kemiskinan Dengan tema”Responsible Land Governance: Towards an Evidence-based Approach”, Washington DC 20-34 March 2017

1 Cut Augusta MA, Sustainable Land Use Planning

(2)

(Chomitz dan Griffiths 1996; Hansen et al. 2010; Sunderlin et al. 2005).

Berbagai LSM, instansi pemerintah dan pihak swasta, berupaya untuk mencapai titik temu dalam pendekatan atau kebijakan yang paling mungkus untuk menyeimbangkan kepentingan pelestarian alam dan pembangunan.. Lambin dkk. (2014) berpendapat bahwa intervensi efektif harus dapat mengim-plementasikan rencana yang mengha-silkan perubahan positif di tingkat dasar. Pendekatan berbasis lanskap dianggap dapat memberikan solusi yang saling menguntungkan seumua pemangku kepentingam dalam bidang pengelolaan penggunaan lahan. Pendekatan ini terus digunakan pemerintah, LSM, dan sektor swasta sebagai sarana untuk mencapai pembangunan yang berbasis penggunaan lahan secara berkelanjutan (Proforest 2016). Proyek pengembangan konservasi terintegrasi atau Integrated Conser-vation Development Project (ICDP) dan proyek Restorasi Bentang Alam (Forest

Landscape Restoration - FLR) adalah

contoh proyek yang memprioritaskan setiap pemangku kepentingan di dalam dan di sekitar wilayah lanskap yang terkena dampak sebagai bagian dari upaya penyadaran, meskipun dengan tingkat kesuksesan yang berbeda (Sayer 2005; Dudley dkk. 2005).

Instansi pemerintah Indonesia se-sungguhnya telah berpengalaman mene-rapkan pendekatan lanskap, meskipun dengan target sectoral yang konven-sional. Sebagai contoh, Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK) mengidentifikasi daerah aliran sungai (DAS) untuk delineasi wilayah

adminis-trative bagi pengelolaan lahan hutan. Demikian pula Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang mempertimbangkan konektivitas lintas batas kabupaten dan provinsi dalam upaya pembangunan infrastruktur dan pembangunan secara umum. Dan contoh terakhir, Kementerian Desa Pemba-ngunan Daerah Tertinggal dan Trans-migrasi (Kemendesa) membuat gugusan desa berdasar potensi komoditas per-tanian, wisata, dan arah pembangunan.

Namun demikian, pendekatan lanskap tidak terbebas dari kontroversi. Secara positif, pendekatan ini lebih berpeluang memberikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bersamaan tugas menjaga kelestarian hutan dan pengelolaan sumber daya alam untuk pemenuhan kepentingan semua pihak; masyarakat setempat, pihak swasta, dan pemerintah (Reed et al. 2016). Pende-katan ini mengakui setiap pemangku kepentingan untuk semua jenis penggu-naan lahan (Perhutanan, hutan tanam, pertanian) di dalam dan di luar lingkup wilayah, bagaimana para pihak dapat saling berhubungan dan memanfaatkan satu sama lain (Sayer et al 2013; Frost et al 2006). Pendekatan ini diakui memiliki keunggulan dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah-masalah kolektif yang kerap terjadi di area tertentu.

(3)

dimana pemerintah di tiap wilayah ad-ministratif bekerja secara egosentris dengan kepentingan dan kewenangan yang berbeda-beda. Tantangan lainnya terkait dengan komitmen dan waktu yang tidak sebentar (Dudley et al. 2005).

Masyarakat yang tinggal di pinggir hutan, misalnya, masih melakukan praktek berladang dengan cara “tebas-bakar”, karena itu penyuluhan intensif untuk meningkatkan kesadaran harus diprioritaskan untuk mengubah sikap dan kebiasaan agar lahan dapat diman-faatkan dengan lebih baik. Selanjutnya, membangun kerjasama antara pemangku kepentingan turut membutuhkan kerja keras agar tidak semata-mata dan selama usia proyek yang biasanya terbatas lima sampai sepuluh tahun. Di banyak kasus, ketika masa proyek berakhir, masih ada kesenjangan pemahaman tentang proyek di antara instansi pemerintah dan masya-rakat sehingga initiative tidak berlanjut.

Makalah ini mencoba membahas pendekatan pendekatan berdasarkan lanskap berskala kecil, pada tahap sub-lanskap yang dilakukan sebagai bagian dari proyek USAID LESTARI (2015-2019). Dimana saat ini USAID LESTARI melakukan intervensi di tiga provinsi di Indonesia, yaitu Lanskap Leuser di Provinsi Aceh, Lanskap Katingan-Kahayan di Kalimantan Tengah, dan dataran rendah Papua, terutama dataran rendah Lorenz dan Mappi-Boven Digoel, masing-masing dengan variasi tanah kaya mineral, lahan gambut, dan area gambut. Tiap lanskap dicirikan dengan mata pencaharian utama dan masalah biofisik, seperti, kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah, sumber

daya air di Aceh, dan masyarakat tra-disional di Papua.

Pembahasan tulisan ini di fokuskan pada lanskap Leuser Aceh, 70% dari total arealnya yang masih berupa hutan, meskipun kawasan hutan terus mengha-dapi ancaman di sekitar pinggirannya. Sejak awal tahun 1970-an, hutan nasio-nal sudah dibagi fungsinya, untuk hutan produksi, hutan lindung, dan Taman Nasiomal Gunung Leuser (TNGL) ditetapkan pada tahun 1980-an. Dari sudut pandang lanskap, wilayah resapan air memainkan peranan penting dalam menentukan batas administrative untuk Kesatuan Pengelola Hutan (KPH III, V, dan VI), dan merupakan sumber kehi-dupan masyarakat (perikan air tawar, kegiatan pertanian) dan air minum. Namun, Karena pengelolaan tata guna lahan yang buruk di daerah resapan air, termasuk hutan, mau tidak mau, banjir dan longsor menjadi bencana tiap tahun-nya. Di Aceh, semua desa terletak di hilir sungai dan di sekitar wilayah hutan. Banjir dan longsor menjadi perhatian pemangku kepentingan lokal, sementara kekhawatiran pemerintah mencakup penebangan liar dan meningkatnya jumlah pengusaha kecil yang tertarik untuk mengubah lahan kelolanya men-jadi kebun kelapa sawit.

Dengan pembahasan ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang tahapan proses intervensi di lokasi pilot sehingga dapat direplikasi khususnya pada wilayah dengan kondisi biofisik dan social yang mirip. Terutama suatu

(4)
(5)

Implementasi kegiatan di lakukan di tingkat desa yang berbatasan dennen kawasan hutan. Desa-desa dipilih berda-sarkan kedekatan lokasi dan isu atau potensi serupa seperti perlindungan daerah aliran sungai. Di kebanyakan, sisi pembangunan desa di perbatasan hutan cukup lamban. Budaya subsisten masya-rakat ini terfokus pada kebutuhan jangka pendek dan tidak memiliki rencana masa depan. Pada saat yang sama, mereka mengalami kesulitan mendapatkan pendampingan untuk praktik pertanian yang baik, dan panduan untuk memper-baiki desa, karena komunitas ini keba-nyakan berada di daerah terpencil.

PRINSIP PENDEKATAN

BERBASIS LANSKAP

Dalam memahami berbagai tantangan dan potensi pendekatan lanskap dalam usaha menyeimbangkan kebutuhan mata pencaharian, konservasi, dan pemba-ngunan, maka mengidentifikasi elemen-elemen dasar yang akan mendukung perbaikan jangka panjang pada pengelo-laan penggunaan lahan di lapangan sangatlah penting. Dimulai dari “rencana di atas kertas” kemudian direalisasikan kedalam penerapan secara pragmatis dan bertahan lama. Pendekatan tersebut dilakukan dalam kerangka kerja berda-sarkan tiga tingkatan dasar yurisdiksi zonasi tata ruang - yang Pertama, ren-cana tata ruang di tingkat kabupaten; Kedua, yurisdiksi pengelolaan lahan, termasuk kawasan produksi maupun konservasi dan tanah negara maupun pribadi, dan; Ketiga, gugusan desa dengan karakteristik biofisik yang

serupa. Dalam implementasinya, setidak-nya ada lima prinsip kerja yang perlu ditaati (Bennett & Suhardi 2017)

Konektifitas antar Sektor Pentingnya melakukan kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan yang berbeda (instansi pemerintah lintas sector, masyarakat dan pelaku bisnis) dalam pembangunan adalah suatu keniscayaan. Pembentukan Forum Multipihak atau

(6)

Contoh lainnya adalah forum MSF untuk pengelolaan DAS. Dimana ang-gota perlu sepaham bahwa DAS adalah suatu ekosistem tersendiri dan berjasa pada kehidupan. Forum tersebut dapat menjadi sarana untuk menyatukan pemahaman bahwa baik dan buruknya kualitas DAS akan mempengaruhi kehidupan masyarakan di hilir. Karena itu, MSF menjadi wadah yang dapat mendorong semua pihak untuk menya-dari bahwa kegiatan produksi yang bersifat ekstraktif di hulu kelak berkon-tribusi pada bencana di hilir, seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan.

Kenali Instrumen Perencanaan yang Ada

Langkah strategis ini untuk menge-nali berbagai peraturan dan instrumen perencanaan yang ada. Di Indonesia, instrument-instrumen perencanaan tersebut wajib ada tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten hingga desa dan sudah ditentukan fungsinya dimana memiliki prioritas pembangunan yang berbeda2. Misalnya, menurut sudut pandang sectoral, terdapat rencana yang terfokus pada tata kota dan pengelolaan hutan disusun sebagai acuan pemba-ngunan jangka menengah dan panjang. Proses membuat instrument ini telah melalui Kajian Lingkungan Hidup Stra-tegis (KLHS) yang dilakukan secara partisipatori oleh instansi pemerintah

terkait dan para ahli.

Inisiatif yang ditetapkan harus seda-pat mungkin menghindari penyusunan program dan rencana baru yang mungkin tidak sesuai dengan instrumen yang ada, yang belum tentu segera diterima oleh pemerintah daerah. Terutama di negara-negara dengan sistem desentralisasi, unit otonom yang menjalankan pemerintahan dan pembangunan di tingkat lokal me-miliki kewenangan dalam mengatur peraturan dan mungkin berbeda dengan pemerintah pusat. Prinsip kedua ini menuntun kita ke tahap selanjutnya dari pendekatan sub-lanskap.

Sesuaikan dengan Yurisdiksi Seperti yang telah dijelaskan sebe-lumnya instrumen-instrumen perenca-naan adalah pedoman resmi pemerintah dalam pembangunan. Rencana tata ruang provinsi dan kabupaten adalah yang utama di Indonesia karena memberikan arahan rencana pembangunan dan alokasi wilayahnya (kawasan industry, kawasan pertanian, kawasan permu-kiman, kawasan hutan, perlindungan DAS, dan sebagainya). Pada tingkat mikro di wilayah dengan alokasi ka-wasan hutan secara khusus pengelolanya memiliki kewenangan tersendiri. Penge-lolanya adalah KPH yang mengatur kawasan lindung dan produksi; dan BKSDAE yang mengatur taman nasional. Masing-masing pengelola memiliki rencana tata ruang tersendiri dan tipe pengelolaan yang berbeda. Terlepas dari perbedaan pengelolaan dan kewe-nangan, maka secara umum pengelolaan-nya dikoordinasikan dengan pembuat keputusan tingkat nasional yang terkait.

2 Instrumen perencanaan diantaranya Rencana

(7)

Harmonisasi proyek intervensi dengan rencana pembangunan pemerin-tah yang jelas akan memberikan ke-kuatan hukum agar dampaknya dapat bertahan paska proyek. Berpatokan pada hirarki wilayah Kabupaten, yurisdiksi pengelolaan penggunaan lahan, baik yang berada di lahan negara untuk konservasi atau produksi yang berada di tanah negara maupun lahan pihak swasta. Di daerah-daerah perbatasan hutan, pemba-ngunan yang sesuai dengan instrumen yang ada akan membantu upaya perbai-kan tata guna lahan dan hutan. Pada tahun 1970-an, kawasan hutan di zonasi-kan di atas kertas berdasarzonasi-kan tutupan vegetasi dan keadaan biofisik. Dalam prosesnya, alokasi yang dibuat tidak disertai dengan pengakuan formal bagi masyarakat yang sudah tinggal di ka-wasan tersebut. Hal ini menyebabkan berbagai masalah muncul terkait keti-dakpastian tenurial, terutama pada penggunaan lahan masyarakat untuk pertanian dan penggembalaan di dalam zona-zona hutan. Partisipasi masyarakat dan harmonisasi dengan instrument yang ada dapat memperbaiki pembagian batas desa, penggunaan lahan, dan pem-bangunan desa yang sesuai.

Mengembangkan Kumpulan sub-Lanskap dalam sub-Lanskap.

Cakupan wilayah kerja dapat menen-tukan keberhasilan suatu proyek inter-vensi. Suatu lanskap dapat merupakan satu kesatuan yang terkoneksi dari ekosistem, hutan, koridor spesies, DAS, dan komoditas agrikultur. Tanpa

delineasi yang tegas, wilayah cakupan akan menjadi terlalu besar dan tidak

terkontrol. Fokus pada sub-lanskap, dapat memberikan prioritas yang spesifik bertujuan untuk mengatasi masalah yang paling mendesak di wilayah target yang memiliki unsur konektivitas yang kuat dengan elemen-elemennya. Ukuran sub-lanskap harus cukup kecil agar dapat dikelola secara efisien dan menemukan sinergi antar aktifitas namun wilayahnya harus cukup besar sehingga dapat dire-plikasi. Misalnya, pembentukan kawasan perdesaan yang terdiri dari lima sampai sepuluh desa yang saling tergantung terhadap manfaat lingkungan dari DAS di dalam kabupaten yang sama yang mendu-kung mata pencaharian yang

berkelanjutan.

Verifikasi dan Akuntabilitas Dampak Lanskap

Langkah ini bertujuan untuk mening-katkan data penggunaan lahan yang akan digunakan untuk menjustifikasi, meman-tau dan verifikasi yang lebih baik untuk pengambilan keputusan di tingkat tapak dan tingkat atas, yang terkait dengan penggunaan lahan. Salah satu isu utama yang tersisa di daerah tropis adalah konflik pada penggunaan lahan karena alokasi hutan di perbatasan hutan (Barbier and Burgess 1997), dan ketidakpastian tenurial (Larson dkk 2013), dan tata pemerintahan yang lemah (Lambin dkk 2014), yang juga terjadi di Indonesia (Departemen Kehutanan 2008).

(8)

publik untuk menunjukkan proses, kemajuan,dampak berbasis hasil. Hal tersebut penting bagi berbagai pihak khususnya pemegang ijin dan pemberi ijin pemanfaatan lahan agar mengetahui informasi terkait kondisi lanskap. Seba-gai contoh, adanya data titik api, bekas kebakaran, pembangunan jalan yang tidak seharusnya, dimana data-data yang tersedia dapat membuat perbandingan antar yang non-faktual (spasial) dengan data dasar (Temporal). Tantangannya adalah jika data dan indikator berbeda metodenya, maka tidak diakui oleh pembuat kebijakan sebagai capaian yang ditargetkan.

Pada skala yang lebih kecil, proses ini bisa dimulai di desa yang berada sekitar hutan. Untuk mengoptimalkan peman-faatan lahan, masyarakat harus mendo-rong proses perencanaan tata ruang desa. Melibatkan perwakilan pihak swasta, masyarakat dan pemerintah untuk meluruskan pengelolaan peman-faatan lahan yang bertubrukan, merupa-kan pendekatan untuk perbaimerupa-kan data geospasial tata guna lahan yang lebih baik dimana dapat menyelesaikan seng-keta lahan

IMPLEMENTASI TINGKAT

SUB-LANSKAP KAWASAN

DESA SEBAGAI MODEL

YANG DAPAT DIREPLIKASI

Lima prinsip di atas melandasi tiga jenjang yang saling terkait pada proses implementasi yang dilakukan secara paralel pada tingkat sub-lanskap. Dengan demikian, kerangka kerja ini menerap-kan tiga tingkatan yurisdiksi zonasi

perencanaan tata ruang dasar di lokasi pilot. Kegiatan dilakukan pada sub-lanskap kawasan desa karena keterikatan masyarakat.

Dinamika komunitas desa pinggir hutan dengan budaya, kepercayaan dan lokasi tempat tinggal dapat

mempengaruhi bagaimana masyarakat desa memperlakukan lingkungannya, sebagai pelindung atau sebaliknya(Colfer dkk.1996). Bagi masyarakat yang tinggal di hutan, terdapat persepsi mereka untuk melindungi hutan sebagai bagian dari hubungan spiritual, dan number mata pencaharian seperti hasil hutan bukan kayu (HHBK). Juga terdapat masyarakat yang reaktif, mengaggap hutan berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan dan peningkatan pendapatan, Membuka hutan untuk produksi per-tanian masih banyak dilakukan, seperti praktik pertanian tradisional berladang, yang melakukan tebang dan bakar karena terbatasnya pengetahuan tentang teknologi pertanian (Padoch dkk., 1998). Selain itu, pembukaan hutan juga meru-pakan bagian dari cara untuk melakukan klaim atas lahan di daerah hutan (Fox dkk., 2009; Angelsen, 1995). Persepsi yang saling bertentangan ini dapat terjadi di satu sub-lansekap yang sama sehingga mengarah pada konflik lahan antar berbagai pihak yang terus menerus.

Jenjang satu - Perencanaan tata ruang kawasan perdesaan

(9)

di Indonesia. Pada wilayah yurisdiksi desa terdapat tanah negara yang dua per tiganya berstatus kawasan hutan negara dan tanah swasta/pribadi. Pada tahun 2013, dikeluarkan keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35 turut mengako-modasi pengakuan penunjukan tanah adat. Karena itu tata ruang memberikan wadah untuk pembagunan desa yang terarah. Dalam konteks peraturan, perencanaan tata ruang dalam desa tertuang dalam undang-undang3 dan peraturan menteri4.

Idealnya, rencana pembangunan di desa harus terkait dengan rencana pembangunan di kabupaten/kota induk. Ini terkait sebagai perangkat yang digu-nakan untuk mendukung proses pemba-ngunan yang terfokus dan tepat sasaran. Ironisnya, rencana pembangunan kerap kali tidak terhubung satu sama lain, sehingga memperlambat proses pemba-ngunan. Salah satu contoh penting dari perangkat pembangunan di tingkat desa di Indonesia adalah Rencana Pemba-ngunan Jangka Menengah Desa

(RPJMDes). RPJMDes wajib disusun dan dirumuskan sebagai acuan daam menen-tukan alokasi dana desa. Pemerintah kabupaten menggunakan RPJMDES untuk pertimbangan program dan dana yang dibutuhkan desa. Terkait peman-faatan dana, desa cenderung fokus pada kebutuhan saat ini seperti perbaikan

prasarana dan prasarana umum seperti akses transportasi, atau balai pertemuan masyarakat. Terkadang aktifitas ini semakin mendorong pembukaan lahan hutan.

Dalam implementasi proyek,

RPJMDES menjadi pintu masuk kegiatan di desa. Hal ini merupakan langkah strategis, karena pemerintah Indonesia mewajibkan setiap desa memiliki renca-na pembangurenca-nan erenca-nam tahun ke depan yang diakomodir dalam dokumen

RPJMDES. Dalam penyusunannya proyek intervensi membantu desa dalam pen-dampingan masyarakat, dan menyadar-tahukan adanya keterkaitan pemba-ngunan desa dengan perlindungan dan pengelolaan hutan dan laan seperti kegiatan pemantauan hutan, mening-katkan komoditas pertanian yang akan mendukung konservasi hutan, kegiatan perlindungan DAS atau kegiatan siaga bencana.

Sebagai masukan untuk perencanaan tata ruang desa dalam RPJMDES, Proyek Lestari juga melakukan pemetaan partisi-patif untuk zonasi desa. Zonasi tersebut merupakan upaya untuk mengendalikan pemanfaatan lahan di sekitar daerah aliran sungai dan kawasan hutan. Menu-rut FAO, zonasi bertujuan “memisahkan area dengan potensi dan kendala pemba-ngunan yang serupa.” Proses ini bertu-juan untuk meningkatkan pengelolaan penggunaan lahan sebagai fokus utama, ada peningkatan kebutuhan untuk pengendalian penggunaan lahan lebih lanjut di tingkat masyarakat pedesaan, untuk mendefinisikan ulang dan menin-jau kembali zona hutan yang ada yang ditetapkan oleh negara untuk tata kelola

3 Undang-undang No.6/2014 Tentang Desa

4 Terdapat dua peraturan kementrian: a.

(10)

hutan oleh KPH dan BKSDAE. Peman-faatan lahan dan kesepakatan zonasi yang disetujui akan memperlambat dampak negatif pada kualitas daerah aliran sungai dan mendukung keseim-bangan lingkungan alam sekitar (Lee 2009).

Proses partisipasi sangatlah penting dalam kegiatan zonasi. Perencanaan tata ruang dan rencana pembangunan partisi-patif akan menampung informasi dalam konteks lokal dan untuk mendapatkan dukungan langsung dari masyarakat (Valencia -Sandoval 2010). Negoisasi zonasi di masyarakat merupakan pende-katan yang digunakan dalam perenca-naan pengguperenca-naan lahan sebagai bagian dari REDD+ untuk mendorong penge-lolaan sumber daya berkelanjutan di Laos ( Bourgoin dkk 2012). Di daerah tangkapan air Konto Atas di Indonesia, kebijakan zonasi di desa dilakukan untuk mendukung petani dalam intensifikasi lahan berdasarkan teori land sparing dan

land sharing, (penyisihan dan pembagian

lahan). Partisipasi masyarakat dalam zonasi membantu menangkap perbedaan ide dan penetapan zona lahan berdasar-kan skenario yang dibuat oleh masyara-kat yang mencerminkan hasil biofisik, tenaga kerja dan nilai ekonomi (Lusiana et al 2012). Hal ini sesuai dengan arahan pemerintah melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri 114/2014 tentang pemba-ngunan desa, yang menekankan partisi-pasi masyarakat, dalam pengumpulan informasi, rencana pengembangan program, dan perencanaan tata ruang desa yang memprioritaskan optimalisasi penggunaan lahan, mempertimbangkan nilai-nilai ekonomi, timbal balik

terha-dap dampak lingkungan, dan mengiden-tifikasi tantangannya.

Sebagai lokasi pilot, dua desa terpilih yaitu Babah Lhung dan Alue Selasih di Kabupaten Abdya5. Kedua desa memiliki cakupan hutan terluas di Abdya (Aceh Barat Daya). Fokus kegiatan adalah zonasi pengelolaan lahan dan hutan yang berbasis DAS. Kedua desa mencakupi lahan swasta dan kawasan hutan negara untuk produksi, perlindungan dan konservasi. Sedangkan kondisi DAS di wilayahnya, yaitu DAS sangat penting untuk kemaslahatan di hulu desa hingga hilir, yang merupakan ibukota kabupaten Aceh Barat Daya (ABDYA)

Di tingkat kabupaten, terdapat empat DAS di Abdya (lihat Table 2). Intervensi dilakukan di DAS Susoh, salah satu DAS utama yang menghubungkan Taman Nasioal Gunung Leuser, KPH V dan kawasan perkotaan Blangpidie di Kabu-paten Abdya. DAS Susoh juga merupa-kan bagian dari kawasan irigasi kewe-Tabel 1 Daerah Aliran Sungai di Aceh Barat Daya beserta luasannya

Daerah Aliran Sungai Luas

(DAS) (Ha)

a. DAS Seumayam 35.438,51

b. DAS Manggeng 38.083,08

c. DAS Susoh 24.789,51

d. DAS Batee 89.893,93

5 Gampong Babah Lueng memiliki total luasan

(11)

nangan nasional. Pengelolaan di sekitar DAS Susoh dapat menjadi model yang ideal yang terkait dengan biofisik Leuser yang lebih luas dalam kabupaten Abdya dan berpotensi memperoleh dukungan politis untuk direplikasi.

Kegiatan zonasi dilakukan dengan pendampingan intensif tim di desa dan konsultasi rutin dengan perwakilan apparat pemerintah dan pemuda desa, dinas terkait serta KPH dan TNGL. Sejauh ini, selain koordinasi di desa, sekitar 50 kepala desa di DAS Susoh telah bertemu untuk memastikan masya-rakat memiliki visi yang sama mengenai pendekatan yang digunakan.

Tim di desa terdiri dari para pemang-ku-kepentingan yang dapat mengajak masyarakat untuk berkolaborasi. Keha-diran masyarakat akan mendukung kualitas zonasi yang kaya dengan pema-haman budaya setempat, yang mungkin sudah menerapkan penataan ruang secara adat. Tim menggali tata wilayah adat yang diterapkan tetapi tidak disadari masyarakat sebagai tata ruang. Sebagai contoh, lokasi yang dikeramatkan dan dilarang untuk melakukan kegiatan apapun dan kawasan untuk kegiatan berburu, dan lokasi yang tidak boleh dibuka/ditebas. Informasi seperti ini akan sangat bermanfaat untuk mem-bangun pemahaman yang sama di antara anggota tim agar memperoleh dukungan dari masyarakat. Membawa informasi ini pada proses zonasi dapat mengangkat pengelolaan lahan saat ini untuk rasio-nalisasi tata wilayah yang valid. Sebagai tambahan, hal ini dapat membangun rasa kepemilikan dari masyarakat. Tim ini adalah perumus yang melakukan analisa

informasi yang diberikan dari pertemuan warga (dijelaskan berikut), melakukan penelusuran lapangan, menganalisa dan yang akan memantapkan zonasi hingga finalisasi. Dalam proses zonasi ini kami lakukan pertemuan sebanyak lima kali dalam periode lima Bulan.

Secara paralel, juga diselenggarakan pertemuan kelompok dimana peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok yang mewakili kelompok perempuan, lansia, pemuda, dan petani. Pertemuan ini dimaksudkan agar para peserta mendapat gambaran keterkaitan antara kehidupan masyarakat, rencana pemba-ngunan desa dan kelestarian lingkungan (misalnya kualitas aiar sungai, hutan dan kualitas lahan). Tiap kelompok membuat tabel identifikasi ruang di desa, peman-faatan lahan di desa (hutan adat, hutan keramat, HHBK, habitat spesies ter-tentu, pertanian), kawasan yang secara historis berbahaya, tempat-tempat penting di desa, lokasi kegiatan mata pencaharian, kapasitas kawasan dengan menggunakan bahasa daerah setempat. Berdasarkan peta tersebut, tiap kelom-pok membuat analisis kondisi dari tiap penggunaan lahan tersebut, apakah ada bencana yang terjadi di kawasan terse-but, apa elemen yang terpenting pada kawasan tersebut (seperti sungai, bukit, bakau, lahan gambut), potensi yang ada, dan bagaimana hal-hal itu mempengaruhi kehidupan kita. Dalam pertemuan ini Tim menggunakan citra satelit yang tersedia untuk membantu visualisasi.

(12)

sehingga sebagian besar lokasi dapat dijangkau. Hampir semua pemukiman desa dan pertanian aktif dicakup oleh citra dari World View (30cm) tahun 2014 dan 2016 yang diperoleh dari hibah NASA. Sedangkan wilayah pertanian hingga hutan yang tidak ter-cover, menggunakan LANDSAT (30m) tahun 2017, Sentinel (10m) tahun 2017.

Selanjutnya, tim desa berperan aktif dalam proses pembuatan zonasi. Dalam tiap pertemuan tim desa didorong untuk menyuarakan pendapat masyarakat baik yang pro-dan –kontra dari zona yang diusulkan karena mungkin dapat ber-dampak pada kepentingan masyarakat. Tabel prioritas disusun untuk mencatat hasil diskusi yang terjadi. Penelusuran lapangan dilakukan untuk memastikan bahwa visualisasi komunitas mewakili kenyataan yang ada di lapangan.

Tahap selanjutnya adalah memproses data secara teknis dengan menggunakan perangkat pemetaan. Ahli teknis dari Tim melanjutkan proses transfer data, menggunakan perangkat lunak ArcGIS. Data yang digunakan dalam pembuatan zonasi berdasar tabel informasi dari pertemuan warga, penelusuran lapangan, dan analisa sederhana tim desa dalam rencana pemanfaatan lahan dan pem-bangunan desa. Produk akhir untuk zonasi dituangkan pada peta skala 1:5000 sesuai arahan pemerintah yang disajikan kepada masyarakat dan pe-mangku kepentingan lain (pemerintah, swasta). Karena kedua desa sering mengalami kendala teknis seperti tenaga listrik, keterbatasan waktu, maka Tim menyiapkan peta hasil diskusi dalam A0 yang dilapisi plastik, untuk dibawa pada tiap pertemuan.

(13)

Pembahasan lanjutan dilakukan dengan melibatkan warga, KPH dan wakil dari pemerintah kecamatan dan kabupaten. Pembahasan ini menjadi suatu kesempatan bagi warga untuk melakukan justifikasi atas pembagian pemanfaatan lahan yang sudah ada dan yang akan datang berdasarkan blok KPH, zona taman nasional, atau dengan wila-yah penyangga lainnya yang digunakan oleh pihak swasta (misalnya perusahaan minyak kelapa sawit, karet). Dalam membuat zonasi desa, Tim mengacu pada zona utama KPH6 dan taman

nasional7, yang terbagi ke dalam zona lindung, zona sakral, zona rehabilitasi, dan zona lain seperti zona tradisiional (wilayah yang dikramatkan), dan zona wisata (jika ada). Pada tiap zona, komu-nitas warga menentukan peraturan sendiri seperti larangan, dan syarat-syarat untuk pemanfaatan lahan atau pembukaan lahan. Sebagai contoh pada zona yang dilindungi, kegiatan dibatasi hanya untuk mengumpulkan hasil HHBK dan melarang segala kegiatan pertanian. Pengajuan zonasi dapat bermanfaat untuk melampirkan tata kelola desa yang Kesempatan warga melakukan justifikasi atas pembagian pemanfaatan lahan yang sudah ada dan yang akan datang berdasarkan blok KPH

6 Peraturan Pemerintah Indonesia No. 6/2007

tentang Tata Kelola Hutan dan Rencana Pengelolaan Hutan, dan Pemanfaatan Hutan

7 Peraturan Menteri Kehutanan P.56/Menhut-II/

(14)

lebih jelas sebagai pemenuhan syarat sketsa desa pada RPJMDES. Tim desa dapat memanfaatkan zona untuk peng-gunaan dana desa dan rencana pem-bangunan yang terarah, misalnya per-mohonan pengembangan wisata.

Jenjang kedua– Rasionalisasi dan Harmonisasi Zonasi Hutan Negara dan Tanah Swasta

Langkah ini bertujuan untuk mengin-dentifikasi dan memastikan diakuinya blok KPH, zonasi taman nasional dan ajuan zonasi desa. Pada wilayah studi, KPH, –sebagai unit pengelola hutan di tingkat sub-lanskap, baru terbentuk. Dari segi operasi, KPH ini dalam proses menyusun rencana kerja (RPHJP) yang akan menentukan blok (blocking). Dari segi intervensi, kegiatan ini dikaitkan dengan jenjang pertama. Pengajuan zonasi di tingkat desa memungkinkan untuk berkontribusi memberi masukan pada bloking KPH yang berada di wila-yah yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Dalam mengoperalisasikan KPH yang baru dibentuk, sering ditemukan ber-bagai kesulitan. Alokasi blocking merupa-kan salah satu dari tantangan tersebut. Karena bekerja antar lintas kabupaten, maka akan terdapat masalah yang ber-beda yang perlu diatasi, terutama di tingkat masyarakat karena perbedaan budaya setempat, ketergantungan pada hasil hutan dan tenurial di kawasan hutan. Di Aceh, masalah yang sering ditemui adalah ketidak-jelasan batas antara wilayah hutan lindung dan ka-wasan pertanian. Banyak ditemukan pertanian masyarakat terdapat di dalam

blok kawasan produksi KPH atau ka-wasan mencari HHBK berada di dalam hutan lindung.

Pada tingkat sub-lansekap, Tim juga memfasilitasi KPH agar memahami dinamika pemanfaatan lahan dari para pemangku-kepentingan. Menjembatani kerjasama antara KPH, perwakilan taman nasiional, mayarakat di wilayah kerja dilakukan dengan beberapa cara, seperti pelibatan dalam penyusunan RPJMDES dan RPHJP. Sebagai balasan, zonasi yang telah ditentukan oleh masya-rakat sekitar KPH akan berkontribusi sebagai bahan pertimbangan untk mem-perjelas alokasi pemanfataan lahan hutan dan pembagian blok RPHJP. Hal ini juga akan mendukung penyebaran informasi mengenai tata ruang agar dapat memper-baiki pengelolaan sumber daya alam (SDA) serta pemberian izin pemanfaatan hutan. Potensi manfaat jangka panjang adalah membuka kesempatan kerjasama pengelolaan antara KPH dan masyarakat yang terdampak seperti skema masyara-kat hutan (HKm), dukungan yang lebih kuat untuk memasarkan masyarakat NTFP, dan kerjasama lainnya yang berbasis ekonomi.

Jenjang ketiga– Perencanaan Tata Ruang Kabupaten yang Rinci

(15)

sinkronisasi8. Capaian itu dilakukan dengan proses spasial untuk pengajuan zonasi dengan rasionalisasi dan harmo-nisasi pemanfaatan lahan antara desa dan kawasan pengelolaan hutan. Kebijakan dan ketersediaan data diteruskan dengan Inisiatif USAID-LESTARI yakni memba-ngun suatu perangkat skrining perijinan SDA (sustainability screening tool - SST) yang memberikan kepastian zonasi di dalam wilayah perijinan dapat turut diharmonisasikan dengan batas zonasi pemanfaatan lahan yang terkait dengan izin tersebut. Misalnya mencerminkan perkiraan jarak ke kawasan yang rentan seperti hutan lindung tau zona riparian. Dengan membangun sistem ini, zonasi yang ada dapat digunakan untuk keterbu-kaan data yang akan mempermudah jalur koordinasi dan pengambilan keputusan.

Untuk singkronisasi, program inter-vensi mempelajari kesesuaian dengan

program pemerintah. intervensi turut memberi kontribusi pada kajian ling-kungan hidup strategis (KLHS) yang akan menjadi masukan dalam rencana tata ruang daerah jangka panjang (RTRW) atau menengah (RPJM). Fungsi KLHS yang sesuai dengan Program intervensi, memberikan ruang untuk mempelajari potensi kawasan di setiap sektor terma-suk perlindungan dan konservasi ling-kungan hidup. Dengan identifikasi kawasan konservasi yang terdapat pada sub-lanskap, Tim dapat mengkaitkan kawasan terkait dengan program pemerin-tah yang memberikan kekuatan hukum.

Di lanskap Abdya, identifikasi wila-yah prioritas dalam RTRW untuk tata kelola lingkungan adalah DAS. Tim bekerjasama secara intensif dengan Badan Koordinasi Perencanaan Ruang Daerah (BKPRD) Kabupaten9. Dalam hal Table 2 Bandingan luas fungsi lahan yang terdampak oleh

KSK DAS Susoh dan RTRWK Abdya Qanun 17/2013

8 Perpres 9 tahun 2016 tentang percepatan

pelaksanaan kebijakan satu peta.

9 BKPRD merupakan tim yang terdiri dari

(16)

rencana tata ruang, pihak pemerintah mengakui pentingnya perlindungan pada DAS di Abdya guna mendukung kegiatan ekonomi seperti pertanian dan memini-malisir potensi banjir. Berdasarkan pemahaman ini, pemerintah setempat menguatkan satu sub-lanskap DAS Susoh sebagai fokus tata kelola lahan dan hutan sebagai Kawasan Strategis Kabupaten. Kawasan Strategis asalah kawasan yang ditetapkan sebagai bernilai untuk kepen-tingan nasional, provinsi atau kabupaten secara khusus; alamnya, secara ekonomi, dan terkait pertahanan seperti taman nasional, daerah aliran sungai dan ka-wasan komoditas potensial. Kaka-wasan yang ditetapkan ini diperkuat dengan tanda tangan Bupati. Untuk pengelolaan kawasan strategis, pemerintah wajib menyusun rencana tata ruang tersendiri, Rancangan Tata Ruang Kawasan Stra-tegis Kabupaten (RTRKSK) namun terkait dengan RTRWK (Table 2). Menggunakan kendaraan RTRKSK ini, kami mengkaitkan proses zonasi di desa (jenjang kesatu) yang berada di hulu DAS. Dengan memusatkan perhatian

pada perlindungan DAS, pendekatan ini juga secara langsung mempengaruhi perbaikan tata kelola pemanfaatn lahan di desa dan hutan.

Data di bagian luar bersumber dari RTRWK Abdya (187.252ha) dan bagian dalam wilayah cakupan KSK DAS Susoh (25.207ha)

Terdapat sekitar 56 desa yang ber-dampingan dengan DAS Susoh. Setelah melalui pembahasan selama enam bulan, DAS Susoh sebagai KSK ditandantangani oleh Bupati pada Desember 2016. Dengan penandatangan resmi ini maka secara undang-undang, pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab untuk menjaga DAS dan meminimalisir dampak dari kegiatan dari hulu hingga hilir.

(17)

Abdya. Kawasan perkotaan Blangpidie berada di hilir DAS dimana ketergan-tungan masyarakat tinggi.

Dalam menyusun RDTR, bantuan yang diberikan Tim adalah membantu pengembangan kapasitas dalam menyu-sun dokumen, teknis pemetaan dan analisis. Produk akhir dari RDTR adalah dokumen dengan kekuatan hukum peraturan bupati. Melalui proses RDTR yang terfokus pada arus hilir di kawasan perkotaan, dan KSK untuk kawasan hulu, maka pemerintah akan memiliki landasan untuk menghubungkan tata kelola lahan dan hutan serta pemba-ngunan kawasan pedesaan dan kawasan perkotaan yang terfokus pada perlin-dungan DAS Susoh.

(18)

bahwa pendekatan yang inovatif ini, samasekali tidak bertenatangan dengan peraturan yang telah ada, bahkan me-ningkatkan kemungkinan adanya penga-kuan dan menghormati batas zonasi dan melaporkan para pengambil keputusan seperti peraturan Kawasan Perdesaan yang sedang disusun oleh Kementerian ATR.

KESIMPULAN

Berdasarkan kegiatan yang dilakukan, Proyek Lestari sepakat bahwa pende-katan lansekap adalah pendepende-katan menjanjikan. Pendekatan sub-lanskap di kawasan yang lebih kecil terlihat lebih efektif dalam mencapai target. Meski demikian, perlu diakui adanya ketidak-pastian akan keberlanjutan dampak program intervensi. Tanpa menyangkal kenyataan yang terjadi di lapangan, bahwa berbagai masalah kepentingan sektoral dapat muncul. Di tingkat desa, masyarakat khawatir terhadap kepemi-likan lahan terutama yang berada di kawasan hutan. Perlu penjelasan beru-lang bahwa zonasi adalah salah satu cara untuk mendapatkan alternatif solusi bersama pengelola hutan.

Dalam pelaksanaan pendekatan sub-lanskap, Proyek Lestari merujuk pada lima prinsip untuk implementasi pro-gram yang terarah dan efektif. Prinsip ini diterapkan pada tiga jenjang yang dilaku-kan secara paralel. Setiap jenjang mem-pengaruhi satu sama lain untuk keber-hasilan program. Pada jenjang pertama, mengangkat proses zonasi dalam proses perencanaan tata ruang desa dapat menstimulasi proses perbaikan tata

(19)

masya-rakat desa dan pemerintah setempat. Pemahaman yang sama antar semua pihak juga harus konsisten dan dipupuk untuk membangun komitmen selama proses kegiatan berlangsung•

REFERENSI

Angelsen, A., (1995), Shifting Cultivation and “Deforestation”: A Study from Indonesia, World development, vol. 23, no. 10, pp. 1713-1729

Barbier, E., & Burgess, J. (1997). The Economics of Tropical Forest Land Use Options. Land Economics, 73(2), 174-195. doi:10.2307/3147281 Bennett, C.P.A. & Suryadi, S (2017).

Function and Status in Conflict: Over-coming sectoral barriers to multi-stakeholder collaboration for sustain-able landscapes. Jurnal LESTARI, Ed.2, 2017.

Betha, R., Pradani, M., Lestari, P., Joshi, U. M., Reid, J. S., Balasubramanian, R., (2013), Chemical speciation of trace metals emitted from Indonesian peat fires for health risk assessment, Atmos-pheric Research, vol. 122, pp. 571–578 Broich, M., Hansen, M., Stolle, F., Potapov,

P., Margono, B. A., & Adusei, B. (2011). Remotely sensed forest cover loss shows high spatial and temporal variation across Sumatera and Kali-mantan, Indonesia 2000–2008. Envi-ronmental Research Letters, 6(1), 014010.

Chomitz, K. M., & Griffiths, C. (1996). Deforestation, shifting cultivation, and tree crops in Indonesia: nationwide patterns of smallholder agriculture at the forest frontier. Poverty, Environ-ment, and Growth. World Bank, Washington DC.

Colfer, C. J. P., Woelfel, J., Wadley, R. L., & Harwell, E. (2001). Assessing people’s

perceptions of forests: Research in West Kalimantan, Indonesia. People managing forests: the links between human well-being and sustainability, 135-154.

Directorate General of Forestry Planning Ministry of Environment and Forestry (2012) Regulation P.5/VII-WP3H/2012 on the technical guidelines of forest governance and forest management plan of Protected Forest Management Unit (KPHL) and Production Forest management unit (KPHP)

Dudley, N., Mansourian, S., Vallauri, D., (2005), Forest restoration in lands-capes: beyond planting trees eds. Mansourian, S., & Vallauri, D., Springer Science & Business Media.

Fox, J., Fujita, Y., Ngidang, D., Peluso, N., Potter, L., Sakuntaladewi, N., Sturgeon, J., Thomas, D. (2009), Policies, Political-Economy, and Swidden in Southeast Asia, Human Ecology, Vol. 37, Issue 3, pp. 305–322

Government of Indonesia (2007), Govern-ment of Indonesia regulation number 6 year 2007 on forest governance, forest work plan and forest use

Government of Indonesia (2007), National constitution number 26 year 2007 on spatial planning

Government of Indonesia (2014), National constitution number 6 year 2016 on Village

Hansen, M. C., Stehman, S. V., & Potapov, P. V. (2010). Quantification of global gross forest cover loss. Proceedings of the National Academy of Sciences, 107(19), 8650-8655.

Kompas (2016) Pemda berinovasi Tidak Dapat Pidana. Kompas, edisi cetak, 2016 April 20, hal. 4.

(20)

(2014) Effectiveness and synergies of policy instruments for land use govern-ance in tropical regions, Global Envi-ronmental Change, Vol. 28: 129-140 Larson, A.M., Brockhaus, M., Sunderlin,

W.D., Duchelle, A., Babon, A., Dokken, T., Pham, T.T., Resosudarmo, I.A.P., Selaya, G., Awono, A. and Huynh, T.B., (2013) Land tenure and REDD+: The good, the bad and the ugly. Global Environmental Change, 23(3), pp.678-689.

Mahar, D. J., & Ducrot, C. E. (1998). Land-use zoning on tropical frontiers: emerging lessons from the Brazilian Amazon, The World Bank, Wa-shington, D.C.

Ministry of Forestry (2006), Regulation Nomor P. 56 /Menhut-II/2006 on the guidelines of National Park zones Ministry of Forestry (2008) Consolidation

report reducing emissions from defo-restation and forest degradation in indonesia, accessed online on https:// www.forestcarbonpartnership.org/ sites/forestcarbonpartnership.org/files/ IFCA_Consolidation_report_REDD_ Indonesia.pdf (28 January 2017) Ministry of Home Affairs (2014) Ministry

of home affairs regulation number 114 year 2014 on village development Ministry of village, development of

dis-advantage areas and transmigration (2015), Regulation of Ministry of village, development of disadvantage areas and transmigration number 21 year 2015 on Priority-setting on the use of the Village Fund for year 2016 Padoch, C., Harwell, E., Susanto, A., (1998),

Swidden‚ Sawah‚ and In-Between: Agricultural Transformation in Borneo, Human Ecology‚ Vol. 26‚ No. 1

Page, S. E., Rieley, J. O., Banks, C. J., (2010), Global and regional importance of the tropical peatland carbon pool, Global Change Biology, vol. 17, issue 2 Proforest (2016) Introduction to

land-scape or jurisdictional initiatives in commodity agriculture, accessed online at http://www.proforest.net/en/publi- cations/introduction-to-landscape-or- jurisdictional-initiatives-in-commodity-agriculture, 01 December 2016 R.S. de Groot, R. Alkemade, L. Braat, L.

Hein, L. Willemen (2010) Challenges in integrating the concept of ecosystem services and values in landscape planning, management and decision making, Ecological 7 260–272

Sayer, J. , Sunderland, T., Ghazoul, J., Pfund, J., Sheil, D., Meijaard, E., Ventera, M., Boedhihartono, A.G., Day, M., Garcia, C., van Oosten, C.,Buck, L.E. (2013), Ten principles for a landscape ap-proach to reconciling agriculture, conservation, and other competing land uses, PNAS, vol 110, no.21 Sunderlin, W. D., Angelsen, A., Belcher, B.,

Burgers, P., Nasi, R., Santoso, L., & Wunder, S. (2005). Livelihoods,

forests, and conservation in developing countries: an overview. World de-velopment, 33(9), 1383-1402. USAID LESTARI (2016), Restoring

peat-land hydrology in Indonesia to reduce fire and haze, LESTARI Brief No. 04, 27 Juli 2016

Valencia-Sandoval, C., Flanders, D. N., Kozaka, R.A., (2010) Participatory landscape planning and sustainable community development:

Gambar

Tabel 1 Daerah Aliran Sungai di AcehBarat Daya beserta luasannya
GAMBAR 3  Proses Pemetaan dengan Kelompok Perempuan
Table 2 Bandingan luas fungsi lahan yang terdampak olehKSK DAS Susoh dan RTRWK Abdya Qanun 17/2013

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini akan membangun suatu aplikasi yang digunakan untuk mendiagnosa penyakit berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaaan hematologi di RSUD Curup Kabupaten Rejang

Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah mengetahui kinerja bioflux oil sebagai modifier pada campuran asbuton, di mana bioflux oil tersebut dibuat

Dari beberapa uraian diatas penulis ingin meneliti beberapa pertemuan antara pasangan Spanyol Carolina Marin dan Cina Li Xuerui dengan cara menganalisis

Upaya yang Dilakukan dalam Peran Pembelajaran PPKn dalam Membina Sikap Toleransi Keagamaan Peserta Didik ... Hambatan-Hambatan yang Di Hadapi Peran Pembelajaran PPKn dalam

Berdasarkan grafik di atas diperoleh nilai dari ukuran pertama kali tertangkap untuk ikan Swanggi selama penelitian adalah sebesar 182 mm.. Untuk menduga ukuran ikan tersebut

Disamping melalui jumlah biji pada setiap buah, ciri-ciri buah lain yang dapat digunakan untuk membedakan kultivar pamelo adalah ukuran dan bentuk buah, bentuk ujung

Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk/material

Perpustakaan memiliki peran untuk mengembangkan minat dan budaya membaca serta membangkitkan kesadaran tentang pentingnya belajar tanpa batasan umur.Perpustakaan haruslah