LAPORAN LINES PLAN

60 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

1

BAB I. FILOSOFI RANCANGAN

I.1.A Umum

Rencana Garis (Lines Plan) adalah Gabungan dari 3 gambar dua dimensi yang terdiri dari Body Plan(Gambar potongan melintang kapal), Halfbreadth Plan(Gambar potongan membujur kapal yang dilihat dari atas), dan Sheer Plan(Gambar potongan membujur kapal yang dilihat dari samping) yang apabila di gabungkan akan terlihat Rancangan awal dari bentuk kapal yang akan di rancang. Tugas Rencana Garis ini merupakan Mata Kuliah Bersyarat dan mata kuliah prasyarat di Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS. Tugas Rencana Garis adalah Mata Kuliah Prasyarat dari mata kuliah Desain II, Desain III, dan Desain IV.

Dalam pembuatan desain rencana garis dan bukaan kulit ini, dapat menggunakan beberapa metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Namun untuk kali ini dosen menyarankan agar menggunakan metode gambar yaitu metode yang menggunakan diagram untuk menentukan luasan di tiap-tiap stationnya agar dicapai suatu nilai tahanan sekecil-kecilnya yang disesuaikan dengan panjang dan kecepatan kapal. Selain itu dengan metode gambar ini, kita juga dapat menentukan nilai Coeffisien block, Coeffisien prismatik, danCoeffisienmidship. Namun metode ini, diawali dengan perhitungan speed length ratio sehingga setelah ditarik garis sesuai perhitungan tersebut, dapat ditemukan nilai-nilai seperti yang disebutkan diatas. Metode ini biasa disebut sebagai Metode NSP karena dalam pembuatannya menggunakan diagram NSP.

Sebagai pengolah data hitungan dipergunakan program Excel, sedangkan untuk visualisasi penggambaran digunakan AutoCad. Program Excel dan AutoCad dipilih karena hanya program inilah yang merupakan program pendukung pembuatan Rencana Garis dan Bukaan Kulit secara manual sehingga sangat cocok jika digunakan untuk pembelajaran bagi mahasiswa, artinya kedua program tersebut hanya menampilkan input si operator bukannya bekerja otomatis seperti ‘katakanlah’ program Tribone yang merupakan suatu program aplikasi Lines Plan. Karena itu selain proses perhitungan dan tahap – tahap pembuatan Rencana Garis, pada laporan ini juga akan dicantumkan beberapa aplikasi sederhana dari program Excel dan AutoCad.

Dari adanya Tugas Rencana Garis ini, di harapkan mahasiswa dapat meancang / menggambar Rencana Garis & Bukaan Kulit untuk suatu tipe dan ukuran kapal. Dan yang pasti adalah Mahasiswa mengerti step-step untuk mengerjakan Rencana Garis atau Lines Plan. Selain itu, tugas rencana garis ini juga butuh ketelitian yang lebih agar Gambar yang dihasilkan bisa bagus dan lebih presisi.

I.1.B Istilah-Istilah

Ada beberapa istilah – istilah yang dipakai dalam penggambaran rencana garis dan bukaan kulit ini sesuai dengan materi yang telah dipelajari dalam mata kuliah Teori Bangunan dan Konstruksi Kapal. Istilah-Istilah tersebut sesuai dengan penjelasan seperti gambar I.1.B.1 dibawah ini :

(2)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

2

Gambar I.1.B.1

Gambar membujur kapal Keterangan:

After perpendicular (AP)

Garis tegak buritan, adalah garis tegak yang dibuatmelalui linggikemudi bagian belakang. Jika kapaltidakmemiliki linggi kemudi, makagaris tegak itu dibuatmelalui sumbuporos kemudi.

Fore Perpendicular (FP)

Garis tegak haluan, adalah garis yang terletak pada titik potong antara linggi haluan dengan garis air pada sarat muat yang telah di rencanakan.

B (Breadth)

Lebar kapal yang diukur pada sisi dalam plat di tengah kapal (tidak termasuk tebal kulit lambung).

Bwl (Breadth at the waterline)

Lebar yang terbesar yang diukur pada garis air muat.

Boa (Maksimum Breadth)

Lebar terbesar yang diukur dari kulitlambung kapal termasuk jika ada bagiangeladak yang menonjol keluarmelampauilambung.

Gambar I.1.B.2 Gambar melintang kapal

(3)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

3

H (Depth/Height)

Tinggi adalah jarak vertikal yang diukur pada bidang tengah kapal (midship) dari atas keel (lunas) sampai sisi atas geladak di sisi kapal.

T (Draught/Draft)

Sarat yang direncankanyaitu jarak vertikal yang diukur dari sisi atas lunas sampai pada garis air.

Tmax (Draught/Draft maksimum)

Sarat maksimum yaitu tinggi terbesarlambung kapal yang terendam di dalamairdiukur dari garis air muat sampai bagiankapal yang paling rendah.

TF(Fore Draught/Draft)

Sarat di haluan kapal yang diukur pada FP (forward perpendicular).

TA(After Draught/Draft)

Sarat di buritan kapal yangdiukur padaAP (after perpendicular).

TM(Mean Draught/Draft)

Mean draught/draft, sarat rata-rata (TF+TA)/2 danselisih antaraTF danTAdisebutTrim dari kapal.

Vs (Service speeds)

Kecepata dinasadalah kecepatan kapal saat beroperasi  LPP (Length between Perpendicular)

Panjang antara 2 garis tegak yaitu jarak horisontal antara garis tegak depan (haluan/FP) dengan garis tegak belakang (buritan/AP).

Apabila data – data di atas telah diketahui,maka dilakukan suatu perhitungan untuk menentukan:

Length of Water Line (Lwl )

Merupakan panjang garis air yang diukur mulai dari perpotongan linggi buritan dengan garis air pada sarat sampai pada perpotongan linggi haluan dengan garis air pada sarat atau FP (jarak mendatar antara kedua ujung garis muat), yang dirumuskan sebagai pertambahan panjang dari Lpp sebesar 5% yaitu:

L

WL

= ( 1 + 5% ) L

PP

Length of Displacement (Ldisp)

Merupakan panjang kapal imajiner yang terjadi karena adanya perpindahan fluida sebagai akibat dari tercelupnya badan kapal, panjang ini digunakan untuk menentukan seberapa besar luasan – luasan bagian yang tercelup air, pada saat dibagi menjadi dua puluh station. Panjang displacement dirumuskan sebagai panjang rata – rata antara Lpp dan Lwl, yaitu:

L =1

2× (L + L )

Speed Length Ratio (Vs/Ldisp)

Merupakan suatu perhitungan yang digunakan untuk menentukangaris yang terkandung dalam diagram NSPsehinggaluasan di tiap-tiap stationnya agar dicapai suatu nilai tahanan sekecil-kecilnya yang disesuaikan dengan panjang dan kecepatan kapal. Selain itu dengan metode gambar ini, kita juga dapat menentukan

(4)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

4

nilai Coeffisien block, Coeffisien prismatik, dan Coeffisien midship. Dan perlu diketahui bahwa nilai Ldisp dalam feet. Dalam penjelasan ini, diimplementasikan seperti gambar I.1.B.3 dibawah ini:

Gambar I.1.B.3 Gambar diagram NSP  Coeffisien Block of Displacement (CB)

Merupakan nilai kegemukan kapal yang diperoleh dari pembacaan diagram NSP atau perbandingan antara isi karena (volume badankapal yang tercelup dalam air) dengan volume balokdengan panjang L, lebar B dan tinggiT. Apabila dilakukan perhitungan, maka rumus yang digunakan seperti gambar I.1.B.4 dibawah ini:

CB =

Gambar I.1.B.4

Gambar penampang membujur kapal

CB yang rendah umumnya dijumpai pada kapal-kapalcepat sedangkan nilai CB yang besar dijumpai dikapal-kapaltangker pengangkutmuatan minyakmentah.

Coeffisien of Midship(CM)

Merupakan perbandingan antara gading besar (Midship Area) dengan luasan suatu bidang yang lebarnya B dan tingginya T, yang dirumuskan sebagai harga pendekatan terhadap koefisien block displacement. Namun, dalam penentuan nilainya saat perancangan inidiperoleh dari diagram NSP. Adapun perumusan yang digunakan dalam menentukan nilai CM ini, yaitu:

(5)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

5

CM =

.

Gambar I.1.B.5

Gambar penampang melintang kapal

CM yang besar dijumpai pada kapal-kapal sungai dan untuk kapal dengan keperluanmuatan yang besar.

Coeffisien Block of Waterline(WL )

Merupakan perbandingan antara volume kapal dengan hasil kali antara panjang, lebar dan sarat kapal.Coeffisien block ini menunjukkan kegemukan kapal. Rumusnya yaitu:

=( × )

Volume Displacement ( )

Merupakan volume perpindahan fluida (air) sebagai akibat adanya badan kapal yang tercelup dibawah permukaan air, yang dirumuskan sebagai:

 = L x B x T x CB

 L = Panjang karene

 B = Lebar karene

 T = Sarat kapal

 CB = Block coefficient

Selain itu apabila terjadi penambahan berat pada kapal atau diberi muatan, maka Volume Displacementnya berubah, yaitu dengan rumus:

s = C x 

Dimana C adalah koefisien penambahan berat. Nilai C diperoleh dari:

 Perkiraan yang umum digunakan untuk volume lambungkapal adalah 0,6% volume displasmen.

 Volume dari bagian lainnya yang tercelup di bawahpermukaan air 0,075% - 0,15% volume displasmen.

(6)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

6

Gambar I.1.B.6

Gambar penampang membujur kapal

Berat Displacement ( ∆)

Merupakan volume dari air yangdipindahkan oleh badan kapal. Dan istilah seperti ini sama dengan bunyi hukum archimedes, yang rumusnya seperti dibawah ini: ∆ = L x B x T x CBx L = Panjang karene B = Lebar karene  T = Sarat kapal  CB = Block coefficient

 = Berat jenis air

Selain itu apabila terjadi penambahan berat pada kapal atau diberi muatan, maka Berat Displacementnya berubah, sehingga memeiliki rumus perhitungan yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu:

∆s = 

s x

=

L x B x T x CBx x C

Radius Bilga (R)

Merupakan jari-jari yang menunjukkan kelengkungan suatu pelat yang menghubungkan pelat dasar dengan pelat sisi, yang dirumuskan sebagai:

R = √½ [(BxT)-Am]/(1-¼π)

Rumus ini digunakan bilakapal memiliki dasar yang rata. Dan apabila kapal yang didesain memiliki rise of floor, maka digunakan rumus :

R = √ B (2T - a) – 2.BxTxβ 8 ( ½tgφ – πφ / 3600)

(7)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

7

T - a

R

a

B

C

D

E

H

M

G

φ

φ

F

Gambar I.1.B.7 Gambar dasar rata

Gambar I.1.B.8 Gambar memiliki rise of floor Luas Penampang Melintang Tengah Kapal / Midship

(¤)

Merupakan suatu luasan yang terdapat pada bagian tengah kapal, yang dilihat dengan pemotongan secara melintang dan penampang melintang memiliki lebar (B) dan sarat (T). Oleh karena itu, untuk menghitung luasannya digunakan rumus di bawah ini:

(8)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

8

Am = βx T

Gambar I.1.B.9 Gambar I.1.B.10

Gambar Membujur Gambar Melintang

Coeffisien Midship ( Cm / )

Merupakanperbandingan antara luas penampang gading besar yang terendam air dengan luas suatu penampangyang memiliki lebar B dan tinggiT, yang dirumuskan sebagai harga pendekatan terhadap koefisien block displacement, sebesar:

= Am / B x T

CMyang besar dijumpai pada kapal-kapal sungai danuntuk kapal-kapal dengan keperluanmuatan yang besar.

Gambar I.1.B.11

Gambar penampang melintang kapal Coeffisien Prismatik Memanjang

CP adalah perbandingan antara volume badan kapal yangada di bawah permukaan air (isi karene) dengan volumesebuah prisma dengan luas penampang Am dan panjangL. Hal ini dapat dihitung dengan rumus :

CP =  / Am x L

- Harga Cp umumnya

menunjukkankelangsingan bentuk kapal.

- NilaiCp yang besar menunjukkan adanyaperubahan yang kecil dari bentuk penampangmelintang disepanjang L.

Gambar I.1.B.12

(9)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

9

Coeffisien Prismatik Tegak/ Melintang

CVP adalah perbandingan antara volume badan kapal yangada di bawah permukaan air (isi karene) dengan volumesebuah prisma dengan luas penampang AW dan tinggiT. Kemudian untuk menghitung coeffisien ini, maka digunakan rumus :

CvP =  / Aw x T

Gambar I.1.B.13

Gambar penampang membujur kapal Coeffisien Prismatik of Perpendicular (Cp / PP )

P = PP / 

Coeffisien Prismatik of Water Line (Cp / WL )

 WL = WL / 

Coeffisien Prismatik of Displacement (Cp / displ )

 displ = displ / 

Cara pembuatan Rencana Garis ini ada beberapa metode yang bisa diterapkan, yaitu

 Merancang sendiri berdasar pengalaman atau gambar rencana garis kapal yang telah ada

 Dengan metode “Scheltema de Heere” dari buku “Buoyancy and Stability of Ship”, Ir. Scheltema de Heere and Drs. A.R. Baker, 1969,1970.

 Dengan metode NSP berdasar hasil percobaan tangki tarik pada laboratorium di Wageningen, Belanda

 Dengan metode program Software dengan komputer

 Dan dengan metode lainnya.

Pada tugas Rencana Garis saat ini menggunakan metode NSP(Nederlandsche Scheepsbouw Proefstasioen) yang berdasar hasil percobaan tangki tarik pada laboratorium di Wageningen, Belanda. Dalam Perancangan Tugas Rencana Garis ini, akan dijumpai beberapa istilah, yang pastinya istilah di dalam dunia perkapalan. Berikut adalah gambar dari diagram NSP,

(10)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

10

Dan berikut adalah gambaran mengenai hasil akhir Tugas Rencana Garis yang akan dikerjakan,

I.2. Curve of Sectional Area

CSA(Curve of Sectional Area) adalah kurva yang menunjukkan luasan dari kapal tiap stationnya, baik yang di skala maupun yang tidak di skala. Kurva CSA ini terdiri dari sumbu x dan sumbu y, dimana sumbu x adalah panjang kapal dan sumbu y adalah Luasan kapal tiap stationnya.

Yang pertama di lakukan untuk membuat CSA adalah membuat CSA displacement terlebih dahulu. Pada CSA displacement, sumbu x adalah Panjang displacement kapal yang diperoleh dengan rumus L disp = ½ (Lwl + Lpp) dan sumbu y adalah Luasan kapal tiap stationnya yang diperoleh dari perhitungan pada diagram NSP.

Gambar I.2.1 Penampang CSA

(11)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

11

Yang Kedua di lakukan adalah menyesuaikan CSA displacement menjadi CSA Lwl dan CSA Lpp, berikut gambaran penyesuaian CSA tersebut(Cara pembuatan akan di jelaskan pada bab selanjutnya). Selain CSA displacement, CSA Lwl, dan CSA Lpp. Terdapat juga kurva A/2T dan kurva B/2. Seperti yang terlihat pada namanya kurva A/2T didapatkan melalui perhitungan Luasan dibagi 2 dikali Sarat Air. Untuk kurva B/2 didapatkan melalui perhitungan Lebar kapal dibagi 2(Cara pembuatan akan dibahas pada bab selanjutnya)

Gambar I.2.2 Penampang A/2T dan B/2

I.3. Body Plan

Body Plan merupakan gambar potongan melintang kapal yang terdiri dari 2 bagian yaitu sebelah kanan adalah potongan melintang kapal dari haluan ke arah midship (dari station 20 ke station 10) dan sebelah kiri adalah potongan melintang kapal dari buritan ke arah midship (dari station 0 ke station 10). Berikut adalah contoh penggambaran Body Plan di bawah Sarat Air (Atas), dan Body Plan yang fix(Bawah)

Gambar I.3.1

(12)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

12

Gambar I.3.2

Penampang Body Plan keseluruhan

I.4. Halfbreadth Plan

Halfbreadth Plan merupakan potongan membujur kapal secara horizontal yang dilihat dari atas kapal. Halfbreadth Plan bisa diperoleh dari proyeksi Body Plan ke Luasan bidang Garis Air yang terdiri dari sumbu y adalah Lwl dan sumbu x adalah ½ B.. Berikut adalah gambar halfbreadth plan yang setengah jadi

Gambar I.4.1

Half Breadth Plan di bawah sarat

Berikut adalah gambar halfbreadth plan yang sudah selesai beserta sent line dan sudah di proyeksikan dari body plan dan sheer plan,

Gambar I.4.2

(13)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

13

I.5. Sheer Plan

Sheer Plan merupakan potongan vertical kapal secara membujur dari Buttock Line 3 (sisi kapal) hingga buttock line 1 (bagian midship kapal). Sheer Plan

merupakan hasil proyeksi dari Body Plan dan Halfbreadth plan. Pada sheer plan terdapat beberapa bagian, yaitu Bulwark, Main deck, Forecastle Deck(Haluan), Poop deck (Buritan), camber dan bagian lainnya. Berikut merupakan gambaran dari sheer plan secara keseluruhan beserta body plan.

Gambar I.5.1 Sheer Plan

I.6. Geladak utama, geladak akil dan geladak kimbul

 Geladak utama atau Main deck merupakan bagian kapal yang dihitung dengan rumus sheer standar dengan notasi a, b ,c, x, y, dan z dari tinggi kapal (H)

Namun saat ini banyak perancang memakai geladak utama tanpa sheer yaitu mendatar, dalam hal ini perlu diperhitungkan akibatnya terhadap syarat perhitungan lambung

L

y

a = 5,6 ( Lpp/3 + 10 ) b = 22,2 ( Lpp/3 + 10 ) c = 50,0 ( Lpp/3 + 10 ) x = 2,8 ( Lpp/3 + 10 ) y = 11,1 ( Lpp/3 + 10 ) z = 25,0 ( Lpp/3 + 10 )

Rumus sheer standar :

(14)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

14

timbul(freeboard) yaitu koreksi sheer dan tinggi haluan (bow-height). Pada geladak utama juga terdapat lengkung melintangnya(camber) , jelasnya seperti gambar dibawah ini,

• Gambar I.6.1 Penampang Chamber Kapal

Geladak Akil atau Forecastle deck merupakan bagian kapal yang letaknya +/- 2,4 ~ 2,5 meter sejajar dengan geladak utama. Geladak akil digambar mulai sekat tubrukan hingga ke linggi haluan.

Gambar I.6.2 Penampang Haluan Kapal

Geladak Kimbul atau Poop deck merupakan bagian kapal yang hamper sama dengan Geladak Akil, namun jika Geladak Akil ada di bagian haluan, jika Geladak Kimbul ada di bagian buritan kapal. Jaraknya dari main deck sama yaitu +/- 2,4 ~ 2,5 meter dimulai dari sekat kamar mesin hingga ke linggi buritan. Berikut gambaran tentang Poop deck.

(15)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

15

Gambar I.6.3

Penampang Buritan Kapal I.7. Bukaan Kulit

Bukaan Kulit adalahsebuah gambaran susunan plat kapal yang akan dipasang sesuai dengan gambar Rencana Garis yang telah dibuat.

Adapun Susunan Pelat kulit kapal adalah • Pelat Lunas (Keel Plate)

• Pelat Dasar (Bottom Plate / Garboard Strake) • Pelat Bilga(Bilge Strake)

• Pelat Sisi(Side Plate)

• Pelat Lajur sisi atas (Sheer Strake) Berikut adalah gambaran plat pada kulit kapal

Gambar I.7.1 Penampang Konstruksi Kapal Pembagian Pelat Kulit terdapat 3 bagian utama yaitu,

• Bagian Tengah Kapal yang umumnya parallel middle body bentuk pelat banyak yang datar sehingga tidak terlalu rumit bentuknya

• Bagian haluan kapal mempunyai lengkungan pelat yang lebih banyak terlebih bila memakai bulbous bow

• Bagian buritan kapal lengkungan plat sangat kompleks. Karena terdapatr sterntube, lobang tongkat kemudi, seachest, overboard)

(16)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

16

BAB II. DETAIL LANGKAH DAN PERHITUNGAN

II.1. Penentuan ukuran dan dimensi lainnya

Untuk membuat Lines Plan, yang pertama kali harus dilakukan adalah mencari Kapal Pembanding yang nantinya diambil data kapalnya dan data kapal tersebut nantinya akan digunakan sebagai pedoman data kapal atau ukuran kapal baru yang akan dirancang. Data Kapal Pembanding bisa didapatkan di Biro Klasifikasi tiap-tiap Negara seperti BKI, GL, NK, BV, dan banyak lagi yang lainnya. Kemudian pilih data Kapal Pembanding yang sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Pada Tugas Lines Plan ini digunakan data kapal pembanding sebagai berikut:

Data Kapal Pembanding

Register : NK Tahun 1994 Running No. 9108570

Setelah mendapatkan data kapal pembanding yang sesuai dengan ukuran yang diinginkan, data kapal tersebut ditunjukkan kepada Dosen Pembimbing. Jika disetujui maka Dosen Pembimbing akan menentukan dan memberikan data kapal baru yang akan dirancang pada Tugas Lines Plan ini. Sesuai dengan persetujuan Dosen Pembimbing, didapatkan Data Kapal baru yang akan dirancang sebagai berikut:

Data Kapal Yang Dirancang:

Setelah mendapatkan Data Kapal yang akan dirancang, selanjutnya adalah menentukan beberapa dimensi atau ukuran yang sangat diperlukan dalam proses perhitungan kedepannya.

Tipe kapal :Oil Carrier

Nama kapal :ASEI MARU NO.2 Tahun pembangunan :1994

GT : 746 ton Merek, tipe M/E: 1D : 4SA 6 CY DWT: 1969 ton Daya motor : 735 kW Lpp : 69 m RPM : 230

B : 11,8 m Kecepatan dinas (Vs) : knot H : 5,25 m Kecepatan percobaan (Vt): 11,1 knot T : 4,707 m

Tipe kapal Oil Carrier

Panjang (Lpp) 69 m

Lebar (B) 11,8 m

Tinggi geladak (H) 5,25 m Sarat air (T) 4,7 m

(17)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

17

1. Lwl, untuk mendapatkan Lwl menggunakan rumus,

Lwl = Lpp+5%Lpp

= 69 m + (5% x 69 m) = 69 m + 3,45 m = 72,45 meter

2. L displacement, untuk mendapatkan L displacement menggunakan rumus, L displacement = (Lwl+Lpp)/2

= (72,45 m + 69 m)/2 = 70,725 meter = 231.880 feet

3. Vs/√Ldisplacement, hasil perhitungan rumus ini digunakan sebagai pedoman awal untuk mendapatkan beberapa dimensi pada kapal yang dirancang melalui Diagram NSP (sesuai kesepakatan Koordinator pada saat kuliah)

Vs/√Ldisplacement = 11 knot : √231.880 feet = 0,72

4. Setelah mendapatkan Vs/√Ldisplacement, pada NSP kita tarik garis lurus horizontal dari nominal angka Vs/√Ldisplacement,

Sehingga akan didapat beberapa dimensi seperti berikut, 1. Coeffisien Midship of Displacement (

disp ) = 0.9832 2. Coeffisien Block of Displacement (

disp ) = 0.6964 3. Coeffisien Prismatik of Displacement ( φ disp ) = 0.7075

Kemudian setelah mengetahui garis mendatar yang diambil dari nilai speed length ratio, maka dilakukanlah pengambilan prosentase luas tiap station pada diagram NSP, dengan cara mencari titik potong antara garis station pada NSP dan garis mendatar

(18)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

18

tersebut, selanjutnya tarik garis lurus ke atas dari perpotongan tersebut, kemudian prosentase yang didapat dikalikan dengan luas midship (Am) sehingga luasan hasil perkalian tersebut diimplementasikan dalam gambar CSA. Selain itu kita juga dapat menentukan letak LCB dengan cara menentukan titik perpotongan antara garis mendatar Vs/√Ldisp dengan letak titik tekan b, kemudian tarik garis vertikal ke bawah dan dapat diketahui nilai letak titik tekan dalam %Ldisp. Setelah semua data yang diperlukan telah diketahui maka dilakukan perhitungan seperti tabel di bawah ini kemudian dilakukan perhitungan koreksi terhadap data yang ada.

No. Statio n % % Am FS A*FS N A*FS*N 0 0 0,0000 1 0 -10 0 1 10,3697662 5,6544 4 22,617787 -9 -203,56 2 29,5649533 16,1212 2 32,242474 -8 -257,94 3 50,4752904 27,5233 4 110,09307 -7 -770,651 4 69,8801055 38,1044 2 76,208727 -6 -457,252 5 84,514762 46,0844 4 184,33751 -5 -921,688 6 92,9240642 50,6698 2 101,33964 -4 -405,359 7 97,7702136 53,3123 4 213,24935 -3 -639,748 8 99,9238786 54,4867 2 108,97338 -2 -217,947 9 100 54,5282 4 218,1128 -1 -218,113 10 100 54,5282 2 109,0564 0 0 11 100 54,5282 4 218,1128 1 218,1128 12 100 54,5282 2 109,0564 2 218,1128 13 99,5201781 54,2666 4 217,06625 3 651,1987 14 97,0003721 52,8926 2 105,78511 4 423,1405 15 91,1741869 49,7156 4 198,86257 5 994,3129 16 79,0933666 43,1282 2 86,256378 6 517,5383 17 60,6120301 33,0506 4 132,2026 7 925,4182 18 37,3847177 20,3852 2 40,770427 8 326,1634 19 14,177928 7,7310 4 30,923876 9 278,3149 20 0 0,0000 1 0 10 0 ∑1= 2315,2676 ∑2= 460,0549

Setelah data CSA displasement diperoleh maka harus dilakukan koreksi agar sesuai ketelitian dalam mengerjakannya dapat dipantau dengan mudah dan agar hasil yang diharapkan sesuai dengan perhitungan yang akurat. Sebelum menentukan volume displasmen dan letak titik tekan ( Lcb) kita tentukan dulu jarak tiap stationdalam CSA, yaitu :

h = Ldispl / 20 = 3,536 meter

(19)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

19

1. Menentukan Volume Displacement (Vdispl)

Vdispl rumus = Cb. B. Ldispl. T

= 0,696 x 11,8 x 70,725 x 4,7 = 2731,565 m3

Vdispl simpson = 1/3 ∑A*FS h

= 2729,121 m3 Koreksi Volume Displacement

Vdispl = [ Vdispl rumus - Vdispl simson ] / Vdispl rumus * 100% = [ 2731,565 – 2729,121 ] / 2731,565 x 100% = 0,09 % < 0,5 % (Memenuhi) 2. Menentukan nilai Lcb Lcb rumus = Lcb NSP x Ldisp = 1,046% x 72,725 = 0,74 meter Lcb simpson = ( ∑1 / ∑2) x h = (2315,2676/460,0549) x 3,536 = 0,70267 meter Koreksi Lcb

Lcb = ( Lcb rumus - Lcb simsn ) / Ldispl *100% = (0,74 - 0,70267) / 72,725 x100%

= 0.052 % < 0,1 % (Memenuhi) II.2.2. Penggambaran CSA (menggunakan Ldispl)

Setelah mengetahui data-data yang telah dilakukan perhitungan seperti diatas, maka perhitungan tersebut diimplementasikan dalam bentuk gambar yang disebut CSA. CSA (Curve of Sectional Area) adalah gambar kurva luasan tiap station. CSA ini dibuat dengan menggunakan skala 1 cm = 2 m2 agar didapat hasil penggambaran yang proporsional dalam Auto Cad, yaitu seimbang antar panjang Ldisp dengan tinggi luasan tiap station pada CSA. Adapun langkah-langkah pembuatan CSA adalah sebagai berikut:

1. Buat garis horizontal sepanjang Length of Displacement (Ldisp) dengan skala pada bidang koordinat X dan Y Membagi panjang Ldisp menjadi 20 bagian.

2. Pada ordinat dari hasil pembagian Ldisp menjadi 20 buat garis sepanjang data yang ada pada tabel diatas, untuk masing-masing station sesuai nilai X dan Y pada tabel. Bagian yang kita tarik garis kearah vertikal menggunakan skala 1 cm = 2 m2 yang merepresentasikan luasan dari setiap stationnya.

3. Menghubungkan ordinat – ordinat yang didapat mulai dari AP sampai FP sehingga membentuk sebuah kurva yang disebut dengan Curve of Sectional Area Displacement (CSAdisp).Dimana hasil penghubungan garis tersebut menghasilkan garis yang streamline. Kemudian untuk tabel dan penggambaran tersebut masih menggunakan Length of Dispalcement (Ldisp) dimana hanya ada 20 station. Dimana lebih jelasnya dapat dilihat dalam gambar II.2.2.1, yang penggambarannya berdasarkan luas tiap station hasil pembacaan diagram NSP.

(20)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

20

Gambar II.2.2.1

Gambar CSA sesuai perhitungan sebelumnya II.2.3. Penggambaran CSA (menggunakan Lpp) Pada Auto Cad

Penggambaran CSA diatas masih menggunakan Length of Dispalcement, maka untuk pembuatan CSA dengan menggunakan panjang Lpp maka dilakukan proyeksi dari Ldispl kedalam Lpp dan Lwl, yaitu dengan cara :

1. Menentukan titik tengah Ldispyaitu dengan membagi Ldisp menjadi 2 bagian yang sama panjang (station 10).

2. Dari titik tersebut (station 10 dari Ldisp), dibuat garis dengan ukuran ½ Lwl kekiri dan kekanan pada arah horizontal.

3. Grafik CSAdisp diubah untuk panjangnya menggunakan panjang Lwl dan untuk luasan tiap stationnya tetap.

4. Bagian ujung kanan dari garis Lwl merupakan Fore Perpendicular (FP) dari kapal, sehingga pada bagian ini dipakai sebagai acuan dalam pembuatan garis Lpp, yaitu dengan cara melalui titik acuan FP, kemudian tarik garis lurus mengarah ke arah kiri dengan panjang sesuai panjang Lpp kapal yang diketahui, sehingga ditemukannya titik AP (After Perpendicular). Namun dari titik AP ke kiri yaitu penambahan garis sepanjang 5 % Lpp yang dibagi menjadi 2 station yaitu station -1 dan -2.Penambahan inilah yangdisebut sebagai Cant Part, sedangkan station AP sampai station FP adalah Main Part.Jadi Main Part yang ditambah dengan Cant Part adalah Length of Water Line (Lwl ).

(21)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

21

5. Garis Lpp yang telah dibuat dibagi menjadi 20 bagian / station dan pada

station 0 merupakan After Perpendicular (AP) dan pada station 10 merupakan midship kapal yang sesungguhnya.

6. Dengan menggunakan axis Lpp maka diperoleh CSA Perpendicular atau CSA.

Karena terjadi penambahan, maka CSA Perpendicular atau CSA perlu dilakukan koreksi terhadap volume dan letak LCB nya. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat dalam Sketsa cara awal untuk pembentukan seperti cara-cara diatas, yaitu :

1. Dari tengah CSA displasemen kita tarik garis 1/2 Lwl kekiri dan kekanan 2. Ujung garis Lwl pada sebelah kanan kita tarik garis lagi sepanjang Lpp kearah

kiri

Lpp tersebut kita bagi 20 bagian

3. Sisa dari Lwl adalah can part yang kita bagi menjadi 2 bagian yaitu penambahan 5% Lpp.

4. Setelah itu perlebar CSA displacement ke ujung garis Lwl sehingga ada luasan pada tiap station.

Gambar II.2.3.1

Gambar tentang CSA Lpp dan Lwl sesuai perhitungan

Penggambaran CSA diatas menggunakan perhitungan sehingga terbentuk streamline. Dan untuk nilai luasan yang dihasilkan, dapat dilihat seperti tabel II.2 dibawah ini :

(22)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

22

Tabel CSA dariCSA Ldisp ke Lwl dan Lpp

No.

Station Am (Gambar) Am FS Am*FS N Am*FS*N

-2 0 0 0,3 0 -10,6 0 -1 0,9248 1,8496 1,2 2,21952 -10,3 -22,861056 0 2,0248 4,0496 1,3 5,26448 -10 -52,6448 1 6,1443 12,2886 4 49,1544 -9 -442,3896 2 11,915 23,83 2 47,66 -8 -381,28 3 17,1893 34,3786 4 137,5144 -7 -962,6008 4 21,7001 43,4002 2 86,8004 -6 -520,8024 5 24,5315 49,063 4 196,252 -5 -981,26 6 26,1317 52,2634 2 104,5268 -4 -418,1072 7 26,891 53,782 4 215,128 -3 -645,384 8 27,1588 54,3176 2 108,6352 -2 -217,2704 9 27,175 54,35 4 217,4 -1 -217,4 10 27,175 54,35 2 108,7 0 0 11 27,175 54,35 4 217,4 1 217,4 12 27,1178 54,2356 2 108,4712 2 216,9424 13 26,7607 53,5214 4 214,0856 3 642,2568 14 25,8339 51,6678 2 103,3356 4 413,3424 15 23,8255 47,651 4 190,604 5 953,02 16 19,9426 39,8852 2 79,7704 6 478,6224 17 14,6233 29,2466 4 116,9864 7 818,9048 18 8,0088 16,0176 2 32,0352 8 256,2816 19 2,8279 5,6558 4 22,6232 9 203,6088 20 0 0 1 0 10 0 ∑1= 2364,5668 ∑2= -661,62106

Setelah data CSA Ldisp ke Lwl dan Lpp diperoleh maka harus dilakukan koreksi agar sesuai ketelitian dalam mengerjakannya dapat dipantau dengan mudah dan agar hasil yang diharapkan sesuai dengan perhitungan yang akurat. Sebelum menentukan volume lwl dan lcb serta koreksinya maka terlebih dahulu menentukan beberapa hal perhitungan seperti dibawah ini :

 Menentukan lwl (Cblwl)yaitu dengan cara sebagai berikut: lwl = δdispl x ( Ldispl / Lwl )

= 0,696 x ( 70,725 / 72,45 ) = 0,68

(23)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

23

Menentukan h dari panjang Lpp:

h = Lpp / 20 = 69 / 20 =3,45 meter Menentukan Volume Lwl : Vlwl dengan rumus =Lwl x B x T x δlwl =72,45 x 11,8 x 4,7 x 0,68 = 2731,56 m3

Vlwl dengan simpson =1/3 x ∑A*FS x h

= 1/3 x 2364,56 x 3,45 = 2719,25 m3Koreksi Vlwl Koreksi = [ Vsimp - Vlwl ] / Vlwl x 100% = (2731,56 - 2719,25) / 2731,56 x 100% = 0,45 % < 0,5 % (Memenuhi)

Menentukan letak Lcb di setiap masing-masing jenis L, yaitu: Lcb terhadap Фdispl = 0,70267 meter

Lcb terhadap ФLpp =(∑(A*FS)*FM/∑A*FS ) x h

= (-661,621056/ 2364,5668) x 3,45 = -0,97meter

Artinya nilai (-) tersebut menunjukkan bahwa letak Lcb terletak dibelakang midship sepanjang perhitungan diatas

Menentukan Vdisp Lpp Vdisp Lpp = 1/3 h x ∑1 = 1/3 h x 2364,5668 = 2719,252 m3 Penentuan LCB Lpp LCB Lpp = h Lpp x ∑2 / ∑1 = 3,45 x 661,62106/2364,5668 = -0,965

Tanda minus berarti LCB Lpp terletak di belakang midship

Perpindahan midship

(midship CSA-Ldispl menjadi midship CSA-Lpp) = 1.725

koreksi LCB = LCB simson disp 1 - perpindahan midship = -1,022329923

Selisih LCB = (LCB Lpp-LCB Koreksi)/Lpp = (-0,965 +1,022329923)/69 = 0,08% < 0.1% (memenuhi)

II.3. Pembuatan A/2T dan B/2 dalam CSA

A/2T adalah perbandingan antara luasan tiap station dengan dua kali tinggi sarat kapal, untuk mencari nilainya kita bagi luasan tiap station dengan nilai 2T. Fungsi A/2T ini nantinya untuk pedoman dalam membuat bodyplan yaitu dalam tahap selanjutnya. A/2T ini setelah dihitung disetiap stationnya dan ditemukan titiknya, maka titik tersebut dihubungkan

(24)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

24

hingga membentuk garis setengah oval yang streamline. Apabila perhitungan A/2T untuk setiap sationnya dapat dilihat di tabel

No.

Station Am (Gambar) Am A/2T

-2 0 0 0,0000 -1 0,9248 1,8496 0,1968 0 2,0248 4,0496 0,4308 1 6,1443 12,2886 1,3073 2 11,915 23,83 2,5351 3 17,1893 34,3786 3,6573 4 21,7001 43,4002 4,6170 5 24,5315 49,063 5,2195 6 26,1317 52,2634 5,5599 7 26,891 53,782 5,7215 8 27,1588 54,3176 5,7785 9 27,175 54,35 5,7819 10 27,175 54,35 5,7819 11 27,175 54,35 5,7819 12 27,1178 54,2356 5,7697 13 26,7607 53,5214 5,6938 14 25,8339 51,6678 5,4966 15 23,8255 47,651 5,0693 16 19,9426 39,8852 4,2431 17 14,6233 29,2466 3,1113 18 8,0088 16,0176 1,7040 19 2,8279 5,6558 0,6017 20 0 0 0,0000

Kemudian setelah dilakukan perhitungan disetiap stationnya, maka langkah selanjutnya meimplementasikannya dalam bentuk gambar.Dan hal tersebut ditunjukkan dalam gambar II. 3.1.

(25)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

25

Gambar II.3.1

Gambar penampang CSALpp dan Lwl dengan gambar A/2T

Kemudian setelah selesai menggambr A/2T, maka penggambaran dilanjutkan dengan B/2. B/2 adalah lebar keseluruhan suatu kapal dibagi dua. Untuk mengambarkan B/2, maka langkah pertama yang harus ditempuh adalah kita harus menentukan sudut masuk garis air (pada grafik dengan cara menentukan φ pada sumbu x kemudian ditarik garis lurus ke atas sampai memotong garis kontinu pada grafik dan dari titik temu itu kita tarik garis horisontal maka akan mendapatkan nilai sudut masuk garis air), kemudian menentukan nilai B/2 yang mempunyai persen luas 100% kemudian kita tambahkan untuk 1 atau 2 station ke depan dan ke belakang inilah yang dinamakan dengan Paralel Middle Body. Kemudian dari Paralel Middle Body kita desain sendiri garis melengkung yang stream line yang berakhir pada station –2 untuk buritan dan untuk haluan berakhir pada station 20 dan sudut masuk kita tambahkan kira-kira ± 1 cm dari FP. Secara sistematis perhitungannya dapat dilihat seperti dibawah ini :

Dalam menentukan luas bidang garis air,

maka terlebih dahulu harus menentukan nilai a, yaitu:

α = 0,248 + 0,778 x Cblwl

= 0,248 + 0,778 x 0,70263

= 0,7946

Jadi setelah menemukan nilai a, maka menemukan nilai luas bidang garis air (Awl) dapat dicari :

Awl = Lwl x B x a

= 72.45 x 11.8 x 0.776899219 = 664,18 m2

Kemudian menentukan nilai 1/2 Awl yaitu:

1/2 Awl = 1/2 x 664.18 = 332,0894557 m2

Sebelum menentukan sudut masuk, dicari terlebih dahulu :

φlpp = φdis x Ldisp / Lpp = 0,7075 x 70.725/ 69

(26)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

26

= 0,6907

Setelah mendapat nilai-nilai diatas, maka angle of entrance dapat di cari φf

=

φ

lpp + (1.4 -

φ

lpp) x e

= 0,6907 + (1,4 – 0,6907) x0,99%

= 0,6977

Sehingga kerena Cb kapal rancangannya dapat dinamakan kecil, maka digunakan tinjauan garis V, dan ditemukan sudut masuknya adalah 18 derajat

Untuk yang bagian AP, dalam mendesain kita harus benar-benar memperhatikan luas Engine Room yaitu kira-kira dari station –2 sampai 4. terakhir kali setelah gambar B/2 terbentuk maka kita akan memperoleh nilai B/2 tiap station dengan cara mengukur panjang garis vertikal dan dikalikan dengan skalanya. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada Tabel berikut ini :

No. Station A skala Tinggi Koordinat FS Tinggi Koor. X FS -2 0 0 0,5 0 -1 3,025 1,5123 2 3,02 AP 4,145 2,0727 1,5 3,11 1 6,524 3,2619 4 13,05 2 8,149 4,0745 2 8,15 3 9,674 4,8372 4 19,35 4 10,717 5,3585 2 10,72 5 11,216 5,6079 4 22,43 6 11,604 5,8021 2 11,60 7 11,680 5,8400 4 23,36 8 11,800 5,9000 2 11,80 9 11,800 5,9000 4 23,60 10 11,800 5,9000 2 11,80 11 11,800 5,9000 4 23,60 12 11,800 5,9000 2 11,80 13 11,580 5,7900 4 23,16 14 11,454 5,7270 2 11,45 15 10,837 5,4186 4 21,67 16 9,423 4,7117 2 9,42 17 7,500 3,7499 4 15,00 18 5,096 2,5482 2 5,10 19 2,612 1,3060 4 5,22 FP 0,000 0,0000 1 0 ∑Hkord*FS 288,42

(27)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

27

= 9,5 meter

Setelah mendapatkan data seperti di atas maka langkah selanjutnya adalah melakukan koreksi antara data hasil perhitungan dengan data yang didapat dari hasil penggambaran garis air yang datanya terdapat pada tabel. Adapun koreksinya antara AWL hitungan dengan AWL dari tabel hasil penggambaran garis air adalah sebagai berikut :

Menentukan Awl simpson dan Koreksi

Awl Simpson = 1/3 x ∑ Tinggi koor x Fs x h = 1/3 x 478,52x 5,85

= 331,69 m2

Koreksi = (Awl simpson - Awl rumus ) / Awl rumus x 100% = (331,69 - 664,18)/ 664,18x 100%

= 0,121 % < 0,5 % (Memenuhi)

Setelah mengetahui perhitungan yang dilakukan seperti diatas, maka dilakukan penggambaran B/2 dengan hasil penggambaran seperti dibawah ini:

Gambar II.3.2

Gambar penampang CSALpp danLwl dengan gambar A/2T dan B/2

II.4. Pembuatan Bentuk Linggi Haluan dan Buritan

Bentuk Linggi Buritan (Stern)

Bentuk linggi buritan tergantung dari diameter propoller yang dapat diambil = 0,6T – 0,7T, sedangkan diameter boss = 1/6 diameter propeller. Bentuk linggi buritan tergantung konstruksinya, untuk single atau twin-screw, dengan atau tanpa sepatu linggi, bentuk sendok (cruiser) atau terpotong (transom), dan sebagainya.Apabila cara diatas diimplementasikan dalam bentuk skema gambar, maka dapa dilihat seperti gambar dibawah ini :

(28)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

28

Gambar II.4.1

Gambar ukuran bagian linggi buritan kapal

Secara sistematis perhitungannya maka dapat dilihat seperti perhitungan dibawah ini : 1. Menentukan tinggi D: D = 0,69 x T = 0,69 x 6,915 = 4,7714 meter 2. Menentukan tinggi a: a = 0,33 x T = 0,33 x 6,915 = 2,2820 meter 3. Menentukan tinggi e: e = 0,12 x T = 0,12 x 6,915 = 0,8298 meter 4. Menentukan tinggi b: b = 0,35 x T = 0,35 x 6,915 = 2,4203 meter

Dengan dasar perhitungan seperti diatas maka akan didapat penggambaran seperti gambar II.4.2 dibawah ini:

(29)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

29

Gambar II.4.2

Gambar linggi buritan setelah dilakukan perhitungan

Bentuk Linggi Haluan (Stem)

Sebelummembuatgambar selanjutnya maka perlu dilakukan perencanaan terlebih dahulu tentang bentuk dari haluan kapal yang akan kita buat. Untuk tinggi haluan membentuk sudut kemiringan ± 15o terhadap sumbu vertikal. Bentuk dari linggi haluan (stem) harus disesuaikan dengan bow line. Dewasa ini linggi haluan dibuat dari pelat yang bentuknya makin ke atas makin membesar jari-jarinya. Pada tugas rencana garis dan bukaan kulit kali ini tidak menggunakan bulbous bow karena linggi haluan dengan bulbous bow digambar dengan teknik tertentu.Secara hasil penggambaran dan perhitungan, maka dapat dilihat seperti gambar II.4.3 dibawah ini:

Gambar II.4.3

Gambar haluan dengan dilakukan perhitungan

(30)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

30

Gambar II.4.4

Gambar haluan setelah perhitungan

II.5 Pembuatan Body Plan

Sebelum membuat desain Body Plan, perlu dipahami terlebih dahulu bahwa body plan adalah proyeksi station–station pada kapal dari pandangan depan. Penjelasan ini dapat diimplementasikan dalam bentuk gambar, yang penggambarannya seperti gambar II.4.4 dibawah ini :

Gambar II.5.1 Membuat Body Plan

Body Plan merupakan proyeksi bentuk potongan – potongan badan kapal secara melintang pada setiap station dilihat dari depan atau belakang. Potongan – potongan badan kapal ini dibentuk berdasarkan data-data yang didapat berdasarkan data-data Grafik A/2T dan B/2 dengan cara sebagai berikut:

 Membuat kotak sepanjang lebar kapal dan selebar tinggi kapal

 Membagi kotak menjadi dua bagian yang sama. Dimana dibagian tengah pemotongan kotak ini menjadi titik acuan body plan, yaitu Center Line.

Mengukur dan memberikan pembatas terhadap station yang akan dibuat didalam body plan dengan data yang digunakan setiap stationnya berdasarkan data dari tabel II.3.1 dan II.4.2. Untuk station 0-10 diukurkan pada kotak sebelah kiri dan pada kotak sebelah kanan untuk station 11-20.Untuk titik – titik A/2Tdibuat garis vertical ke bawah setinggi T dan untuk titik – titik B/2 dibuat lengkungan – lengkungan Body Plan yang streamline.

Kemudian setelah menggambar beberapa station, maka untuk station yang paralel middle body, penggambarannya sama dengan jari-jari bilga. Jari-jari bilga merupakan kelengkungan sebelah kanan dan kiri bawah kotak. Jari-jari bilga ini

(31)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

31

juga merupakan kelengkungan Body Plan pada station -station yang memiliki nilai B/2 maksimum, Jari – jari ini didapat dari rumus:

Menentukan Radius Bilga Kapal R = √1/2.{(B x T) – Am}/(1-1/4π)

R = √[1/2 {( 11.8 x 4.7)- 54.5282}/(1-1/4π)] = √2.1669

= 1,472meter

 Menentukan Nilai Setengah Lebar Kapal Nilai 1/2 lebar kapal = B / 2

= 5,9 meter

Gambar proyeksi station kedalam body plan

Adapun pada penggambaran body plan perlu diperhatikan tentang kesamaam

luas pada bidang yang dibentuk, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada

gambar II.5.1 dibawah ini:

Gambar II.5.2

Gambar tentang cara pembuatan station pada body plan

Luasan AOB harus sama dengan luasan COE atau memiliki batas toleransi

sebesar 0,5%. Petunjuk kali ini membahas tentang pemeriksaan luasan area

pada Body Plan. Ada beberapa cara untuk mengetahui dan mengubah luasan

pada Body Plan, salah satunya adalah sebagai berikut:

1. Setelah dibuat garis A/2T dan B/2 langkah selanjutnya yaitu menarik garis lengkung Poly Line (sembarang).

2. Lalu pada perpotongannya dengan garis A/2T antara area atas dan bawah dipisah dengan garis Poly Line yang masing – masing areanya tertutup.

3. Untuk mengetahui luasan area pada masing – masing Poly Line, caranya dengan meng-klik salah satu Poly Line, kemudian setelah ter-‘select’ salah satu Poly Lineklik

(32)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

32

kanan pada mouseProperties , maka pada layout AutoCad akan muncul ‘chart’ properties.

4. Untuk langkah selanjutnya hanya perlu menggeser pointer – pointer pada Poly Line hingga kedua area luasannya sama. (Dengan syarat tetap streamline).

5. Setelah menyelesaikan hal itu, maka selanjutnya dibuat buttuck line. Secara sistematis perhitungannya seperti dibawah ini:

Menentukan Jarak Setiap BL : Jarak BL = (1/2 x B )/ 4

= (1/2 x 11,8)/ 4 = 1,475 meter

Setelah melakukan beberapa perhitungan seperti tutorial yang diatas, maka akan didapat penggambaran body plan seperti gambar II.5.2 dibawah ini:

Gambar II.5.3

Gambar body plan setelah dilakukan perhitungan seperti penjelasan diatas II.6 Pembuatan Halfbreadth Plan

Half breadth plan ini merupakan gambar irisan-irisan kapal jika dilihat dari atas, pada setiap garis air (water line) dan penglihatan ini dianggap tampak kapal dengan ½ lebar kapal sesungguhnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar II.6.1 dibawah ini:

Gambar II.6.1

(33)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

33

II.6.1 Half Breadth Plan

Untuk membuat half breadth plan, pada kotak Body Plan dibuat garis horizontal yang disebut sebagai garis water line (WL). Garis – garis ini memiliki ketinggian tertentu yang diukur mulai dari garis dasar pada Body Plan . Pada kapal ini terdapat 9 buah water line yaitu : 0 m WL; 0.5 m WL; 1 m WL; 2 m WL; 3m WL;4 m WL; 5 m WL; 6.9 m WL; dan 8.8m WL.

Selanjutnya diukur jarak tiap kurva masing – masing station dengan center line untuk tiap water linenya.Kemudian dari ukuran-ukuran tersebut dibuat grafik atau kurva yang stream line untuk masing – masing WL. Apabila kurva yang dibuat tidak stream line maka dilakukan perubahan pada Body Plan. Kurva – kuva ini

menggambarkan bentuk separuh kapal yang dilihat dari atas.Pada WL sarat grafik atau kurva nya akan sama dengan grafikB/2.

Membuat Sent Line

Membuat Sent Line dengan cara menarik garis diagonal pada kedua sisi Body Plan dimulai dari center line kesisi bawah center line dan diukur jarak tiap kurva section dengan titk awal garis diagonal tadi. Secara jelasnya dapat dilihat seperti gambar II.6.1.1 dibawah ini

Gambar II.6.1.1

Gambar tentang cara proyeksi station pada body plan ke dalam garis sent line

Setelah data Sent Line didapat kemudian digambarkan dengan cara mengambar garis lurus sepanjang LWLyang dibagi perstationnya dan selanjutnya titik-titik itu digambarkan pada tiap station dengan posisi dibawah garis LWL. Penggambaran garis ini harus secara stream line. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti gambar II.6.1.2 dibawah ini :

(34)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

34

Gambar II.6.1.4

Gambar merupakancara penggambaran half breadth plan dari hasil proyeksi

Pembuatan Half Breadth Plan Secara Keseluruhan

Kemudian setelah menggambar sent line, maka akan dilanjutkan dengan penggambaran WL pada half breadth plan, yaitu hasil proyeksi dari perpotongan tiap station dengan garis WL di body plan baik body plan bagian belakang kapal, maupun depan kapal. Setelah mengetahuinya, maka juga dilakukan penggambaran garis buttock line pada half breadth, yaitu dibagi menjadi 4 garis horizontal yang jaraknya sama. Dimana cara proyeksinya dapat dilihat lebih jelas pada gambar II.6.1.3 dan II.6.1.4 seperti dibawah ini:

Gambar II.6.1.3

Penggambaran cara proyeksi ini untuk setengah lebar kapal, yang terdapat 10 station bagian buritan dari midship.

Gambar II.6.1.4

(35)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

35

Setelah melakukan proyeksi seperti cara diatas hingga perpotongan WL maximum dengan station 20 dan juga memperhatikan stream line gambar, maka akan diperoleh hasil pernggambaran seperti gambar II.6.1.5 dibawah ini:

Gambar II.6.1.5

Gambar half breadth plan secara keseluruhan setelah dilakukan proyeksi dari body plan II.7. Pembuatan Sheer Plan

Sheer plan adalah proyeksi irisan-irisan atau potongan-potongan kapal secara vertical memanjang dilihat dari sisi samping kapal. Maka untuk penggambaran sheer plan ini, diperlukan beberapa tahap penyelesaian gambar, yaitu seperti dibawah ini:

Penggambaran Buttock Line

Buttock line adalah garis yang menyatakan bentuk irisan kapal jika dibuat dari samping. Pembuatannya adalah berdasarkan data pada half breadth plan dan proyeksi dari body plan, yang nantinya titik-titik potong tersebut disambungkan sehingga menjadi sebuah garis yang disebut buttock line. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar II.7.1 di bawah ini:

Gambar II.7.1

Gambar proyeksi half breadth plan

Secara detail penggambaran ini dapat dilakukan dengan cara yaitu pertama kita bagi ½ lebar kapal menjadi 4 bagian yang sama baik pada body plan maupun pada half breadth plan. Lalu dari perpotongan antara garis-garis lurus itu dengan garis-garis air (water lines), kita proyeksikan ke sheer plan, dengan cara menarik garis lurus ke atas. Garis-garis vertikal ini jika dipotongkan dengan garis-garis air (water lines) pada sheer plan yang sesuai pada half bread plan. Selanjutnya juga dilakukan proyeksi dari body plan ke sheer plan, yaitu perpotongan antara garis BL dengan station pada body plan diproyeksikan ke sheer plan, tepatnya di station pada sheer plan yang sesuai dengan station pada body plan yang berpotongan tersebut, maka akan terbentuk titik-titik yang jika dihubungkan akan terbentuk buttock line. Dan juga diperhatikan bahwa tiap-tiap garis baik pada water line maupun pada buttock line harus mempunyai bentuk yang fair dan stream line. Jika tidak,

(36)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

36

maka harus dirubah supaya bisa fair dan stream line. Tentu saja perubahan ini akan berpengaruh pada bagian-bagian sebelumnya, misalnya merubah bodyplan.Untuk lebih jelasnya, maka dapat dilihat seperti gambar II.7.2 dibawah ini:

Gambar II.7.2

Gambar tentang cara pengambaran buttock line dari proyeksi half breadth plan

Gambar II.7.3

Gambar buttock line keseluruhan setelah dilakukan proyeksi body plan dan half breadth plan

II. 8. Pembuatan Geladak utama,Geladak akil dan Geladak kimbul

Membuat Sheer Standart

Untuk membuat sheer standart maka LPP dibagi menjadi 6 bagian. Dimana secara sistematis perhitungannya, dapat dilihat dibawah ini:

Pembagian tinggi geladak = Lpp/6 = 69/6 = 11,5 meter

(37)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

37

Pembagian tersebut meliputi 3 bagian di depan Midship dan 3 di belakang midship. Masing-masing digaris dan dibuat sesuai dengan ukuran peraturan sheer standart , untuk skema caranya seperti gambar II.8.1 dibawah ini:

Gambar II.8.1

Gambar tentang cara penambahan sheer pada kapal

Maka setelah mengetahui cara seperti diatas, maka dilakukan perhitungan seperti dibawah ini:

Di depan Midship

1. Menentukan nilai tinggi x pada main deck X = 2,8 ( Lpp/3 +10)

= 2,8 ( 69/3 + 10) = 92,4 mm

2. Menentukan nilai tinggi y pada main deck Y = 11,1 ( Lpp/3+10 )

= 11,1 ( 69/3 + 10 ) = 366,3 mm

3. Menentukan nilai tinggi z pada main deck Z = 25,0 ( Lpp/3+10 )

= 25,0 ( 69/3 + 10 ) = 825 mm

Di belakang Midship

4. Menentukan nilai tinggi a pada main deck a = 5,6 ( Lpp/3+10 )

= 5,6 ( 69/3 + 10 ) = 184,8 mm

5. Menentukan nilai tinggi b pada main deck b = 22,2 ( Lpp/3+10 )

= 22,2 ( 69/3 + 10 ) = 732,6 mm

6. Menentukan nilai tinggi c pada main deck c = 50,0 ( Lpp/3+10 ) = 50,0( 105,01/3 + 10 ) = 1650 mm

L

pp

E

Lpp/6

Lp

p/

L

p

L

Pa

nja

ng

L

pp

(38)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

38

Pembuatan Camber

Didalam pembuatan camber pada kapal, fungsinya agar terdapat sheer pada kapal, sehingga kapal memiliki alat untuk mengalirkan air yang masuk pada kapal, supaya air yang terdapat pada geladak kapal tidak menumpuk dan tidak mengganggu stabilitas kapal.

Untuk perhitungan nilai camber secara keseluruhan, maka akan didapat: Camber kapal =1/50 B

= 0,236 meter

Membuat Forecastle deck,Poop Deck dan Bulwark Forecastle deck

Forecastle deck merupakan bangunan yang terletak tepat diatas main deck pada bagian haluan yang memiliki ketinggian 2,4-2,5 meter diukur dari geladak utama (upper deck side line), sedangkan untuk panjang dari bangunan ini ditentukan panjangnya mencapai Collision Bulkhead atau 5% sampai 8% Lc. Serta diletakkan tepat pada frame/gading. Apabila diimplementasikan dalam gambar penjelasan tersebut, maka dapat dapat dilihat pada gambar II.8.2.

Gambar II.8.2

Gambar tentang cara peletakkan frame dan peletakkan collision bulkhead pada kapal

Bulwark

Bulwark merupakan pagar yang terbuat dari plat yang terletak pada geladak tepi pada upper deck, forecastle deck dan poop deck yang berfungsi sebagai pembatas untuk sisi kapal pada geladak paling rendah. Direncanakan setinggi 1000 mm diukur pada geladak terendah. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat seperti gambar II.8.3dibawah ini :

(39)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

39

Gambar II.8.3

Gambar penampang Bulwark pada kapal Poop Deck

Poop deck merupakan bangunan yang terletak diatas main deck pada bagian buritan yang memilki ketinggian 2.4 sampai 2.5 meter diukur dari geladak utama (upper deck side line) dan fungsinya untuk geladak kekuatan dalam kapal.Sedangkan untuk panjang dari bangunannya akan dijelaskan pada penjelasan dan gambar II.8.4berikut ini :

Gambar II.8.4

Gambar tentang cara pembagian frame dan peletakkan after peak bulkhead pada kapal Menentukan Letak BULKHEAD

1. Jarak gading pada buritan sampai tabung poros maksimum Amaks < 600mm.

2. Ceruk buritan yaitu dari AP hingga sterntube bulkhead (termasuk di dalamnya perhitungan letak ujung belakang tabung poros.

3. AP diambil sebagai no gading 0.

4. Jarak gading pada daerah sekat tabung poros kearah depan mengikuti rumus : Ao = Lpp/500 + 0.48 Ao < 1000 mm

5. Menurut ketentuan BKI dalam jarak gading antara sekat tabung poros kedepan dipakai jarak tidak boleh lebih dari 1000 mm.

6. Penentuan L rules sesuai dengan peraturan dalam BKI, yaitu dengan cara:

Nilai 96%Lwl = 96% x Lwl = 96% x 72,45 = 69,552 meter Nilai 97% Lwl = 97% x Lwl = 97% x 72,45 = 70,2765 meter

(40)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

40

Karena nilai Lpp kapal lebih kecil dibandingkan nilai L minimal yang berdasarkan ketentuan dari BKI maka nilai L sesuai dengan BKI adalah 69,552 meter.

7.Penentuan L rules sesuai dengan peraturan dalam BKI, yaitu dengan cara: Hc = 0,85 x H = 0,85 x 5.25 = 4,4625 meter Lc1 = 96 % Lwl Lc2 = Lpp pada 0.85 H = 96% x 72.45 Lc2 = 68.9348 = 69,552 meter

Setelah dibandingkan antara nilai Lc1 dengan Lc2 maka diambil yang nilainya terbesar sehingga Lc = 69.552 meter

Untuk penentuan Lc1 ini perlu di implementasikan dalam bentuk gambar agar hasil yang akurat dapat ditemukan, maka proses pencarian dengan bentuk penggambaran, awalnya dilakukan dengan menentukan letak FPnya Lc. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di gambar II.8.5dan seperti dibawah ini:

Gambar II.8.5

Gambar tentang cara penentuan FP dari Lc suatu kapal

Kemudian setelah menentukan FP dari Lc, maka langkah selanjutnya mencari panjag Lc1 dengan cara mengukur panjang antara FP dari Lc sampai AP dari Lpp. Secara lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar II.8.6 seperti dibawah ini :

Gambar II.8.6

Gambar tentang cara penentuan panjang Lc1

FPc

Hc

Lc1

Hc

FPc

x

(41)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

41

8. Penentuan tinggi Bulwark, yaitu sesuai dengan ketentuan BKI, yaitu ± 2,4 − 2,5

sehingga diambil ukuran sebagaiberikut:

9. Perhitungan jarak sekat tabung poros, sekat kamar mesin, sekat tubrukan adalah sebagai berikut:

After Peak Bulkhead / Stern Tube Bulkhead :

Perhitungan sekat dimulai dari AP dan menggunakan jarakgading = 600mm dan jaraknya minimal 3 jarak gading

Gambar II.8.6

Gambar penentuan Sterntube Bulkhead

Jarak sekat tabung poros = 3,591 m dari AP dan terletak pada gading nomor 6

 Sekat kamar mesin

Jarak gading sesuai dengan ketentuan BKI bahwa maksimal 1m antara After peak bulkhead sampai collision bulkhead, yaitu dengan rumus diperoleh:

Ao = Lpp/500 + 0.48 = 69/500 + 0.48

= 0.61 m dibulatkan menjadi 0.6 m untuk jarak gadingnya

Kemudian untuk penentuan panjang kamar mesin, sesua dengan aturan BKI jarak sekat kamar mesin dari AP adalah antara 17% - 20% Lpp dan letaknya harus tepat di nomor gading. Untuk itu secara sistematis perhitungannya seperti dibawah ini:

Tinggi dari geladak utama = 2,4 meter Tinggi tambahan pelat sisi = 200 mm

(42)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

42

Panjang kamar mesin = 17,391% x 69

= 12 m dari AP

 Collision Bulkhead

Sesuai aturan BKI vol II, section 11, A.2.1 bahwa sekat ini terletak pada 0.05 – 0.08 Lcdari FPdan harus tepat di nomor gading, sehingga dalam penentuan sekat tersebut dilakukan perhitungan yang sesuai aturan BKI. Dimana ketetuan lainnya ditunjukkan dengan batas minimal suatu kapal dalam peletakan collusion bulkhead, yaitu

 Apabila kapal memiliki Lc ≤ 200 m, maka BKI mewajibkan untuk peletakan collusion bulhead minimal 0,05 Lc dari FP (FP dari perpotongan Lc dengan linggi haluan).

 Apabila kapal memiliki Lc ≥ 200 m, maka BKI mewajibkan untuk peletakan collusion bulhead minimal 10 m dari FP (FP dari perpotongan Lc dengan linggi haluan).

 Semua kapal barang harus mempunyai jarak peletakkan collusion bulkhead dari FP (FP dari perpotongan Lc dengan linggi haluan) adalah 0,08 Lc

Secara penjelasan dengan skema gambar, dapat dilihat seperti gambar II.8.7 dibawah ini:

.

Gambar II.8.7

Gambar tentang aturan-aturan yang diberikan BKI untuk peletakkan coullison bulkhead

Perhitungan sekat dimulai dari FP dan menggunakan jarakgading = 600mm Jarak sekat tubrukan = 0,069 x Lc

= 0,069 x 69,552

(43)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

43

Gambar II.8.7

(44)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

44

BAB III. RENCANA BUKAAN KULIT

III.1. Umum

Secara garis besar dalam perencanaan pembuatan kapal dibutuhkan pendesainan yang akurat dan teliti, sehingga diperlukan petunjuk yang jelas terhadap pekerja pembuat kapal agar hasil yang dicapai dapat maksimal seperti yang sudah di desain. Dunia modern sekarang banyak berkembang teknologi yang canggih, sehingga apapun yang kita kerjakan pasti tidak harus manual, namun ada alat-alat yang mendukung. Tetapi hal itu akan bernilai percuma, apabila tidak didahului dengan rencana yang sesuai perhitungan, terutama dalam pendesainan kapal, yaitu tidak hanya membutuhkan perencanaan bentuk kapal, namun juga diperlukan rencana pemasangan pelat agar maksimal hasil yang tercapai dan meminimalisir sisa pelat dalam pembuatan kapal. Rencana bukaan kulit merupakan petunjuk yang sangat berguna bagi pekerja untuk mengetahui susunan pelat, ukuran pelat dan tebal masing-masing pelat. Demikian juga saat perbaikan (pergantian) pelat kulit, dapat diketahui bagian kulit kapal yang harus diganti (replating) sesuai peraturan yang diikuti.

Kita tahu bahwa tidak mudah dalam membuat kapal karena pelat kulit kapal berbentuk lengkung sesuai bentuk badan kapal, maka diperlukan teknik khusus yang digunakan untuk mendapatkan ukuran dan bentuk masing-masing lembar pelat secara benar, terutama untuk pengukuran, pemotongan dan pembentukan pelat dari suatu pelat datar yang disesuaikan dengan ukuran dan bentuknya di badan kapal. Ukuran pelat datar haruslah sesuai dengan yang tersedia di gudang galangan atau di pasaran. Umumnya lebar pelat standar adalah 1,5 m, 1,8 m, 2,1 m dan panjang pelat standar adalah 6 m, 9 m, 12 m. Harus diusahakan agar sisa pelat terpotong sekecil mungkin.

Secara umum pelat kulit kapal terdiri dari lajur pelat membujur :

1. Pelat dasar (bottom plating) terdiri dari pelat lunas (keel plate), pelat pengapit lunas (garboard strake) dan pelat bilga (bilge strake).

2. Pelat sisi kulit kapal (side shell plating) terdiri dari pelat sisi (side shell plating) dan pelat lajur sisi atas (sheer strake)

3. Pelat sisi bangunan atas (superstructure) yang menerus dari pelat sisi kapal.

Dalam penyelesaian permasalahan bukaan kulit ini, perlu dilakukan perhitungan agar dalam pembuatan kapal, khususnya pemasangan pelat dapat dikerjakan secara maksimal dan hasilnya akurat. Untuk mendukung dalam perencanaan bukaan kulit, maka dibutuhkan beberapa hala yang harus ada karena perencanaan dapat terlaksana apabila hal yang dibutuhkan dibawah ini dapat dipenuhi, yaitu:

1. gambar rencana garis (lines plan)

2. rencana konstruksi (construction plan / steel plan).

Bahan diatas sangatlah berpengaruh dalam terlaksananya tugas perencanaan bukaan kulit, agar perencanaan yang dihasilkan dapat sesuai dengan aturan-aturan pemasangan pelat

(45)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

45

yang terdapat dalam BKI. Adapun beberapa tahap yang harus diperhatikan dalam perencanaan bukaan kulit pada kapal, yaitu:

III.2. Pembagian Gading Sepanjang Kapal

Dalam tahap ini, pembagian gading disepanjang kapal harus sesuai dengan aturan dalam BKI, yaitu untuk jarak gading yang terdapat dibelakang after peak bulkhead dan didepan collision bulkhead diharuskan maksimal ≤ 600 mm, sedangkan untuk jarak gading yang terdapat diantara after peak bulkhead dan colllision bulkhead harus sesuai dengan aturan perhitungan yang disyaratkan oleh BKI, yaitu:

ao = + ,

Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gamabar III.2.1 dan III.2.2, seperti dibawah ini dibawah ini :

Gambar III.2.1

Gambar III.2.2

Bagian buritan kapal

Bagian haluan kapal

Setelah mengetahui cara seperti, maka sesuai tahap tersebut dilakukan pembagian gading sesuai aturan diatas, dan hasilnya seperti gambar III.2.3dan III.2.4 dibawah ini :

Gambar III.2.3

(46)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

46

Gambar III.2.4

Gambar bagian midshiphingga haluan kapal

III.3. Proyeksi Gading-Gading Ke Dalam Body Plan

Setelah mengetahui letak gading yang telah dibuat sesuai aturan BKI, maka dilakukan proyeksi gading-gading tersebut kedalam gambar body plan, dan untuk hasilnya dapat dilihat seperti gamabr III.3.1 dibawah ini:

Gambar III.3.1

Gambar gading di body plan secara keseluruhan setelah dilakukan proyeksi dari sheer plan dan half breadth plan

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pemnggambaran bukaan kulit ini adalah : 1. Penumpu tengah dan penumpu sisi (centre girder, side girder),pelantaian (floor),

gading melintang (transverse framing) dan senta sisi (side stringer), gading membujur (longitudinals) dan pelintang (transverses), tanktop, pondasi motor

(47)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

47

induk, platform di kamar mesin, sekat melintang dan membujur (bulkhead), geladak kedua dan seterusnya (untuk kapal lebih dari satu geladak) dan konstruksi lainnya.

2. Harus diperhatikan jenis konstruksi kapal: melintang, membujur atau campuran. Hal ini berhubungan dengan syarat klasifikasi tentang jarak minimum antar sambungan pelat dengan alur las lainnya yang berdekatan. Hal ini diatur dalam BKI volume II section 19:Welded Joints.

3. Untuk daerah tengah kapal yang parallel middle body dapat diusahakan pemakaian pelat yang selebar mungkin.

III.4. Perhitungan panjang setiap gading pada body plan

Kemudian setelah menyelesaikan proyeksi gading-gading kedalam gambar body plan, maka dilakukanlah perhingan panjang di setiap gadingnya, yang berfungsi untuk penentuan ukuran pelat yang akan dipasang agar sesuai dengan ketentuan BKI. Namun sebelum menghitung panjang tersebut, maka dilakukan pembagian garis yaitu ditandai tiap perpotongan dengan konstruksi lainnya misalkan tanktop, senta, selanjutnya lengkung gading (half girth) dibeberkan ke garis dasar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti gambar III.4.1 dibawah ini :

Gambar III.4.1

Gambar cara proyeksi disetiap lengkung gading ke bidang dasar untuk pengukuran panjang(Half Girth)

III.5. Penggambaran Alur Pelat Yang Akan Di Pasang

Setelah menyelesaikan tahap diatas, maka akan diketahui lebar pelat disetiap sisi-sisi kapal, yang akan tergambar dengan membentuk sebuah alur pemasangan pelat. Dalam praktek penggambarannya secara jelas dapat dibuat lajur-lajur pelat dimulai dengan pelat lunas (keel), pelat dasar (bottom plating: lajur A, B, C dan D), dilanjutkan dengan pelat bilga (bilge plating: lajur E) dan pelat sisi (side plating: lajur F, G, H, I, J, K) diakhiri pelat lajur sisi lajur atas (sheerstrake). Untuk tahap penggambarannya awalnya pada beberan half girth di bidang dasar, dapat dimulai menggambar lajur pelat, tidak melebihi ukuran pelat datar, mulai pelat lunas, pelat dasar, pelat bilga, pelat sisi dan pelat lajur sisi atas, stelah pelat lunas lajur ditandai a, b, c dan seterusnya. Sambungan lajur baik yang membujur (seam) maupun

a

a

c

c

b

b

(48)

Fatchurrachman Rizki Fauzi – 4212100056

48

melintang (butt) tidak boleh dekat dengan alur las dari hubungan konstruksi lain dengan pelat kulit, misal gading, senta, platform dll. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti gambar III.5.1 dibawah ini :

Gambar III.5.1

Gambar hasil pengukuran panjang disetiap gading pada body plan sehingga menjadi Bukaan kulit

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :