• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKNA FIGURATIF DALAM DIALOG FILM IMPERFECT KARYA ERNEST PRAKASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKNA FIGURATIF DALAM DIALOG FILM IMPERFECT KARYA ERNEST PRAKASA"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

MAKNA FIGURATIF DALAM DIALOG FILM IMPERFECT

KARYA ERNEST PRAKASA

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh

Bernadetha Venty Dwi Cahyani NIM: 174114028

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Kita tidak perlu sempurna untuk dapat bahagia

-Rara “Imperfect”-

One of the lesson that I grew up with was to always stay true to yourself and never let what somebody else says distract you from your goals

-Michelle Obama-

Let’s live while doing the things we like

-Oh Sehun-

Skripsi ini dipersembahkan kepada:

Tuhan Yesus dan Bunda Maria,

Bapak dan Mama (Yohanes Mursidi dan Anastasia),

Kakak (Maria Lelysia Efrita), dan

(3)

ix ABSTRAK

Cahyani, Bernadetha Venty Dwi. 2021. “Makna Figuratif Dalam Dialog Film Imperfect Karya Ernest Prakasa”. Skripsi Strata Satu (S-1). Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

Skripsi ini membahas makna figuratif dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna figuratif dan wujud satuan kebahasaan makna figuratif dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa.

Teori yang digunakan adalah teori dalam bidang semantik, yaitu makna figuratif dan teori linguistik tentang satuan kebahasaan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah teknik simak bebas libat cakap. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan ortografis. Kemudian, teknik analisis data yang digunakan adalah teknik perluas. Metode yang dipilih dalam penyajian data adalah penggunaan bahasa secara informal atau verbal.

Hasil penelitian ini adalah ditemukan sembilan jenis makna figuratif yang terdapat dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa. Kesembilan jenis tersebut adalah perbandingan, metafora, alegori, personifikasi, metonimia, sinekdoke, idiom, depersonifikasi, dan hiperbola. Kemudian, wujud satuan kebahasaan makna figuratif yang terdapat dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa adalah kata, frasa, kalusa, dan kalimat.

(4)

x ABSTRACT

Cahyani, Bernadetha Venty Dwi 2021. “The Figurative Meaning In Imperfect Film Dialogue By Ernest Prakasa” Thesis for Bachelor Degree. Faculty of Literature. Sanata Dharma University.

This thesis discusses about the figurative meaning in Imperfect film dialogue by Ernest Prakarsa. The purpose of this research was to describe the figurative meaning and form linguistic units of figurative meaning in Imperfect film dialogue by Ernest Prakarsa.

The theory used in this research was the theory in semantics, namely figurative meaning and linguistic theory about linguistic units. Data collection method used in this research was the observation method. The technique used to collect the data was the free-to-speak listening technique. Data analysis method in this research was orthographic equivalent methods. Then, the data analysis technique used was expansion technique. The method chosen in presenting data was informal or verbal language. The results of this research were found nine types of figurative meanings contained in Imperfect film dialogue by Ernest Prakarsa. The nine types were comparison, metaphor, allegory, personification,

metonymy, synekdoke, idiom, depersonification, and hyperbole. Then the form of

linguistic units of figurative meaning in Imperfet film dialogue by Ernest Prakarsa were words, phrases, clauses and sentences.

(5)

xi DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... ii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iv

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi ABSTRAK ... ix ABSTRACT ... x DAFTAR ISI ... xi BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1Latar Belakang ... 1 1.2Rumusan Masalah ... 4 1.3Tujuan Penelitian ... 5

1.4Manfaat Hasil Penelitian ... 5

1.5Tinjauan Pustaka ... 6 1.6Landasan Teori ... 8 1.6.1 Makna Figuratif ... 8 1.6.2 Satuan Kebahasaan ... 11 1.7 Metode Penelitian ... 13 1.8 Sistematika Penyajian ... 15

(6)

xii

BAB II MAKNA FIGURATIF DALAM DIALOG FILM IMPERFECT

KARYA ERNEST PRAKASA ... 16

2.1 Pengantar ... 16

2.2 Makna Figuratif Perbandingan ... 16

2.3 Makna Figuratif Metafora ... 25

2.4 Makna Figuratif Alegori ... 34

2.5 Makna Figuratif Personifikasi ... 37

2.6 Makna Figuratif Metonimia ... 45

2.7 Makna Figuratif Sinekdoke ... 47

2.8 Makna Figuratif Idiom... 51

2.9 Makna Figuratif Depersonifikasi ... 54

2.10 Makna Figuratif Hiperbola ... 58

BAB III WUJUD SATUAN KEBAHASAAN BERMAKNA FIGURATIF DALAM DIALOG FILM IMPERFECT KARYA ERNEST PRAKASA .. 61

3.1 Pengantar ... 61

3.2 Wujud Satuan Kebahasaan Bermakna Figuratif Berupa Kata .. 61

3.3 Wujud Satuan Kebahasaan Bermakna Figuratif Berupa Frasa 64

3.4 Wujud Satuan Kebahasaan Bermakna Figuratif Berupa Klausa 68 3.5 Wujud Satuan Kebahasaan Bermakna Figuratif Berupa Kalimat 72 BAB IV PENUTUP ... 82

4.1 Kesimpulan ... 82

(7)

xiii

DAFTAR PUSTAKA ... 83 LAMPIRAN ... 85

(8)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

Film merupakan salah satu media hiburan dan pembelajaran. Menurut KBBI V (2019), film adalah selaput tipis yang dibuat dari seluloid untuk tempat gambar negatif (yang akan dibuat potret) atau untuk tempat gambar positif (yang akan dimainkan di bioskop). Film juga diartikan sebagai lakon (cerita) gambar hidup. Dari definisi tersebut, film adalah sebuah benda yang sangat rapuh. Sedangkan film sebagai lakon artinya adalah film tersebut mempresentasikan sebuah cerita dari tokoh tertentu secara utuh dan berstruktur. Kedua istilah inilah yang sering dikaitkan dengan drama, yakni sebuah seni peran yang divisualkan (Mabruri, 2018:1-2).

Di Indonesia, terdapat banyak film yang menarik dan bahkan ada yang mencapai jutaan penonton. Hal ini tentu sangat membanggakan Negara Indonesia. Banyak sekali produser-produser film Indonesia yang sukses dengan film mereka. Salah satu contohnya adalah Ernest Prakasa. Ernest Prakasa adalah seorang pelawak tunggal berkebangsaan Indonesia. Ia mulai dikenal sejak meraih peringkat ketiga dalam acara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) pada 2011. Dari panggung stand up comedy, Ernest merambah industri film. Ia mengawali kiprahnya sebagai aktor dan kini ia lebih dikenal sebagai penulis dan sutradara. Ernest juga sering mendapatkan pujian dan penghargaan atas film-filmnya. Salah satunya ia berhasil meraih Piala Citra untuk kategori Penulis Skenario Asli Terbaik pada festival Film Indoneia (FFI) 2017. Ernest selalu membuat film

(9)

dengan tema yang ringan dan mengangkat permasalahan umum yang terjadi di masyarakat. Sehingga orang-orang yang menonton dapat menangkap makna atau pesan yang ingin disampaikan dalam film tersebut. Hal inilah yang membuat orang-orang menyukai film buatan Ernest.

Karya-karya Ernest yang terkenal adalah Cek Toko Sebelah, Susah Sinyal, Imperfect, dan lainnya. Semua film tersebut memiliki dialog yang sangat sederhana tetapi memberikan pesan yang mendalam bagi para penontonnya. Salah satu film yang memiliki banyak sekali penonton adalah Imperfect. Imperfect adalah film yang menceritakan tentang seorang wanita bernama Rara yang selalu mendapatkan sindiran tentang badannya yang gemuk. Hal ini ia rasakan sejak kecil. Bahkan sang ibu juga terus-terusan menekan Rara supaya diet agar terlihat lebih cantik. Menurut Rara tubuh itu tidak menentukan seseorang cantik atau tidak, yang menentukan adalah hatinya. Tetapi saat Rara mendapat tawaran untuk menjadi manager di tempat kerjanya, ia memutuskan untuk merubah penampilannya. Ia pun melakukan diet keras dan mulai melakukan beberapa perawatan tubuh.

Setelah ia mendapatkan hasil yang diinginkan, Rara akhirnya diterima sebagai manager di tempat kerjanya. Ia merasa senang. Apalagi teman kerjanya yang dulu selalu menyindir dia sekarang malah memuji kecantikan Rara. Karena terlalu senang dengan kecantikannya, Rara pun lupa dengan karakternya yang tulus. Rara jadi lebih mementingkan tubuhnya dibandingkan hal-hal lain. Ia pun ditinggal pacarnya yang sangat tulus mencintainya apa adanya. Mulai saat itu, Rara jadi tidak fokus saat bekerja, ia juga dijauhi oleh sahabatnya. Akhirnya Rara

(10)

pun merubah sikapnya itu. Ia tetap merawat tubuhnya tetapi tidak lupa bahwa hati yang tulus adalah kunci kecantikan bagi setiap perempuan.

Dari sinopsis singkat di atas, dapat dilihat bahwa terdapat pesan yang dapat dijadikan pelajaran bagi kehidupan setiap orang. Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui dialog antartokoh dalam setiap adegan yang diperankan dalam film tersebut. Selain itu terdapat juga dialog yang disampaikan dengan maksud yang berbeda dari yang telah diucapkan. Dalam hal ini dialog tersebut mengandung makna figuratif. Makna figuratif adalah makna bentuk kebahasaan yang menyimpang dari referennya (Wijana, 2011:17). Penyimpangan makna tersebut memiliki maksud supaya memperoleh efek tertentu atau makna khusus. Salah satu contohnya makna figuratif dalam dialog film Imperfect dapat memberikan efek menghibur bagi para penontonnya. Kemudian, efek tersebut juga dapat lebih memperjelas maksud dari makna bentuk kebahasaan yang diucapkan. Berikut ini contoh makna figuratif dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa.

(1) Prita : Aah bacot lu, udah diam! Makin lama ntar, pala lo boros listrik nih!.

Pada dialog (1) yang menyebabkan boros listrik adalah kepala. Tetapi kepala adalah bagian dari anggota tubuh yang tidak dapat dihubungkan dengan listrik. Kepala juga bukan merupakan alat elektronik. Maksud dari dialog (1) adalah Prita berkata kepada temannya yang setiap hari mencatok rambutnya. Hal tersebut membuat Prita kesal karena alat catok jika digunakan terlalu sering akan menyebabkan pemborosan listrik. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Prita dengan harapan supaya temannya tersebut berhenti untuk mencatok rambut setiap hari.

(11)

Selain makna figuratif, permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini adalah wujud satuan kebahasaan bermakna figuratif dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa. Berikut contoh penjelasan wujud satuan kebahasaan yang terdapat pada dialog (1).

Pada dialog (1) terdapat dua kalimat. Dua kalimat tersebut adalah sebagai berikut.

(1a) Aah bacot lu udah diam!

(1b) Makin lama ntar, pala lo boros listrik nih!

Dari dua kalimat di atas, yang mengandung makna figuratif adalah kalimat (1b). Kalimat (1b) dapat dijabarkan berdasarkan satuan lingualnya. Berikut adalah penjabarannya.

Makin lama ntar, pala lo boros listrik nih!

Ket S P Pel

Setelah dijabarkan, dapat dilihat bahwa makna figuratif terdapat pada pala lo boros listrik. Tuturan tersebut adalah klausa yang terdiri dari subjek, predikat, dan pelengkap.

Penelitian ini dilakukan berdasarkan dua alasan. Pertama, penelitian mengenai dialog dalam film Imperfect karya Ernest Prakasa belum pernah ada sebelumnya. Kedua, makna figuratif sebenarnya adalah makna yang seringkali muncul pada percakapan sehari-hari tanpa disadari dan terkadang tuturan yang mengandung makna figuratif memiliki maksud dan tujuan yang sangat penting. Hal inilah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini.

(12)

Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.2.1 Bagaimana makna figuratif dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa?

1.2.2 Bagaimana wujud satuan kebahasaan bermakna figuratif dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa?

1.3Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna figuratif dan satuan kebahasaan makna figuratif dalam dialog film Imperfect. Secara khusus, tujuan penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:

1.3.1 Mendeskripsikan makna figuratif yang terdapat dalam dialog Film Imperfect karya Ernest Prakasa.

1.3.2 Mendeskripsikan wujud satuan kebahasaan bermakna figuratif dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa.

1.4Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini berupa deskripsi makna figuratif dan wujud satuan kebahasaan makna figuratif dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa. Dengan demikian, manfaat teoretis dan praktis penelitian ini adalah sebagai berikut.

Secara teoretis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan teori dalam bidang semantik, yaitu menyumbangkan teori makna figuratif. Selain

(13)

itu, penelitian ini juga dapat memberikan sumbangan dalam linguistik, yaitu mengidentifikasi satuan-satuan lingual.

Hasil penelitian ini memberikan sumbangan praktis dalam bidang komunikasi dan pembelajaran bahasa. Dalam bidang komunikasi verbal, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai panduan strategi berkomunikasi. Dalam bidang pembelajaran bahasa hasil penelitian ini dapat memperkaya bahan pembelajaran tentang makna kata, frasa, klausa, dan kalimat.

1.5Tinjauan Pustaka

Penelitian mengenai makna figuratif pernah dilakukan oleh Rahmanto (2017), Yakob (2018), dan Sinabutar, dkk (2019). Kemudian, penelitian mengenai teori semantik pernah dilakukan oleh Oktavia (2019).

Rahmanto (2017) pernah melakukan penelitian tentang Penggunaan Bahasa Figuratif dalam novel Kabut Pantai Anyer karya Anny Djati W. Penelitian ini mendeskripsikan latar sosiokultural pengarang, struktur yang membangun, penggunaan bahasa figuratif, dan implementasi hasil penelitian novel Kabut Pantai Anyer karya Anny Djati W sebagai pembelajaran sastra di SMA. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Latar sosiokultural pengarang yakni Anny Djati W lahir di Yogyakarta, 25 September 1953, (2) Tema novel ini tentang balas dendam karena perselingkuhan. Fakta cerita dalam penelitian ini: Alur novel ini adalah alur maju. Tokoh dalam novel ini adalah Atila, Dewi Retnoningsih (Mama), Dokter Agung Lukito, AKBP Rusdy Baharudin, dan Jasmine. Latar waktu yang terjadi adalah tahun 2009. Latar tempat

(14)

secara umum berada di Jakarta dan Banten. Latar sosial mengambil latar sosial pada kehidupan keluarga Atila yang berasal dari keluarga menengah ke atas, (3) Penggunaan bahasa figuratif yakni, majas, idiom, dan peribahasa, (4) Implementasi novel Kabut Pantai Anyer karya Anny Djati W dalam pembelajaran sastra di SMA khususnya kelas XI yaitu menggunakan SK 7 Memahami berbagai hakikat, novel Indonesia/ novel terjemahan, dan KD 7.2 Menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/ novel terjemahan.

Yakob (2018) dalam artikelnya meneliti bahasa figuratif. Ia meneliti eksistensi bahasa figuratif dalam cerita pendek Sungai karya Nugroho Notosusanto. Tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh Yakob adalah untuk mendeskripsikan dan mengetahui jenis-jenis bahasa figuratif yang terdapat dalam cerpen "Sungai" karya Nugroho Notosusanto. Penelitian ini termasuk dalam bentuk kajian tekstual dengan metode deskriptif. Hasil penelitian yang ditemukan oleh Yakob menunjukkan bahwa cerpen “Sungai” sarat dengan berbagai jenis figuratif. Jenis-jenis figuratif yang terdapat di dalam cerpen “Sungai” sangat variatif.

Penelitian yang menggunakan teori semantik dilakukan oleh Oktavia (2019). Dalam penelitian ini objek material yang digunakan adalah judul film Azab di Indosiar. Penelitian ini membahas tentang makna-makna semantik yang terkandung pada judul film azab di Indosiar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan teknik sadap yang melakukan pengamatan secara langsung. Hasil analisis dari penelitian ini adalah dari 15 data judul film azab yang diperoleh dari 4 makna sinonimi, 2 makna akronim, 2 makna bentuk

(15)

yang diplesetkan, 4 makna kata berulang, 3 makna kiasan dan 5 faktor pendorong adanya ragam bahasa penulisan judul film azab.

Penelitian yang menggunakan teori tentang makna figuratif dilakukan oleh Sinabutar, dkk (2019). Ia mendeskripsikan aspek kebahasaan dalam Novel Supernova karya Dewi Lestari. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka, simak dan catat. Kemudian teknik untuk menganalisis data adalah dengan analisis mengalir yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gaya bahasa figuratif yang unik menimbulkan efek estetis pada pembaca yaitu penggunaan idiom, metafora, simile, personifikasi dan hiperbola. Hal tersebut menunjukkan bahwa Dewi Lestari sebagai penulis mampu menunjukkan pemanfaatan bahasa yang spesifik dan lain dari yang lain dalam menciptakan karya sastra. Hal tesebut menghasilkan style tersendiri yang menjadi ciri khusus Dewi Lestari dalam menuangkan gagasannya melalui novel Supernova.

Setelah melakukan tinjauan pustaka, saya menemukan penelitian-penelitian tentang makna figuratif dan teori semantik. Namun, saya belum menemukan penelitian yang menggunakan film Imperfect karya Ernest Prakasa sebagai objek material. Oleh karena itu, saya memilih film Imperfect karya Ernest Prakasa sebagai objek material dan makna figuratif sebagai objek formal.

1.6Landasan Teori 1.6.1 Makna Figuratif

(16)

Figuratif adalah bersifat kiasan atau lambang (KBBI V, 2019). Wijana (2011:17) mengatakan makna figuratif adalah makna bentuk kebahasaan yang menyimpang dari referennya. Maksud yang diucapkan belum tentu sesuai dengan yang dikatakan. Misalnya, frasa “panjang tangan”. Frasa tersebut memiliki makna suka mencuri. Bukan berarti memiliki tangan yang panjang. Frasa tersebut juga sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, makna figuratif sering sekali muncul dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari.

Makna figurattif merupakan gaya bahasa kiasan yang mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan hidup (Pradopo, 1990:61-62). Pradopo (1990:62-79) membagi makna figuratif menjadi tujuh jenis, yaitu:

1) Perbandingan

Perbandingan atau perumpamaan (simile) adalah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti: bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, sepantun, penaka, se, dan kata-kata pembanding lainnya.

2) Metafora

Metafora merupakan bahasa kiasan seperti perbandingan tetapi tidak menggunakan kata-kata pembanding. Metafora melihat sesuatu dengan perantaraan benda lain. Metafora menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain, misalnya kaki gunung, anak bawang, kutu buku, dan lain sebagainya.

(17)

Perumpamaan atau perbandingan epos adalah perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang yang dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat-kalimat atau frase-frase yang berturut-turut. Biasanya kalimat atau frase-frase tersebut sangat panjang, misalnya jenis makna ini terdapat dalam satu buah puisi yang keseluruhan isinya mengandung perumpamaan epos.

4) Alegori

Majas alegori merupakan gaya bahasa yang menggunakan penggambaran atau kiasan untuk menerangkan sesuatu. Alegori ini sesungguhnya adalah metafora yang dilanjutkan. Majas alegori banyak ditemukan dalam beberapa karangan fiksi seperti syair, macam-macam cerpen dan novel. Gaya bahasa ini juga ditemukan dalam sajak-sajak Pujangga Baru.

5) Personifikasi

Personifikasi adalah gaya bahasa yang mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat seperti hidup seperti manusia. Contoh: Setiap pagi alarm handphone bernyanyi membangunkanku dari kesiangan.

6) Metonimia

Metonimia dalam bahasa Indonesia sering disebut kiasan pengganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut (objek) atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungn dengannya untuk menggantikan objek tersebut. Misalnya, Saya sekarang lebih senang menggunakan Gojek ketimbang menaiki ojek pengkolan karena lebih murah dan lebih aman. Kata Gojek sudah erat kaitannya dengan ojek online.

(18)

7) Sinekdoke

Sinekdoke adalah bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting dari suatu hal untuk benda atau hal itu sendiri. Misalnya, Baru kali ini ia menunjukkan batang hidungnya. Frase batang hidung yang merupakan sebagian dari anatomi manusia digunakan untuk mewakili orang atau manusia itu sendiri.

1.6.2 Satuan Kebahasaan

Bahasa tersusun secara sistematis dan terdiri dari satuan-satuan yang berkombinasi dengan pola dan aturan-aturan tertentu. Satuan tersebut disebut satuan lingual atau satuan kebahasaan. Satuan kebahasaan diurutkan mulai dari yang terkecil hingga terbesar, yaitu fon, fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana (Eriyanti dkk, 2020: 11-12). Satuan kebahasaan yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat. Berikut pengertian kata, frasa, klausa, dan kalimat:

a. Kata

Menurut Baryadi (2011:17), kata dapat didefinisikan dari tiga sudut padang. Pertama, dari posisinya dalam satuan-satuan gramatikal, kata adalah satuan gramatikal yang terdiri dari satu morfem atau lebih dan dapat menjadi unsur langsung pembentuk frasa atau kalimat. Kedua, kata adalah deretan bunyi atau fonem yang mengandung arti ketika diucapkan dalam satu kecapan, hal ini dilihat dari sudut bahasa lisan. Ketiga, dari sudut bahasa tulis, kata adalah deretan huruf yang penulisannya dalam kalimat dibatasi oleh spasi dan deretan huruf ini mengandung arti.

(19)

Menurut Ramlan (2005: 138-139), frasa adalah satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi unsur klausa, yaitu S, P, O, PEL, atau KET. Misalnya, frase gedung kantor ini. Frasa ini terdiri dari tiga kata, yaitu kata gedung, kantor, dan ini. Kata ini berkaitan dengan kata gedung kantor sehingga frasa itu terdiri dari dua unsur, yaitu unsur gedung kantor dan kata ini, dan mungkin juga kata ini berkaitan dengan kata kantor, sehingga frasa gedung kantor ini terdiri dari dua unsur, yaitu kata gedung dan frasa kantor ini.

c. Klausa

Menurut Chaer (2009: 41-44), klausa adalah konstruksi kalimat yang minimal terdiri dari satu predikat. Predikat ini boleh diikuti subjek, objek, pelengkap, dan keterangan. Klausa dapat dibedakan menjadi klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang dapat menjadi kalimat bebas. Sedangkan klausa terikat adalah klausa yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kalimat bebas. Biasanya klausa terikat diawali dengan konjungsi subordinatif. Contoh:

(2) Dia terjatuh ketika sedang bermain sepeda klausa bebas klausa terikat

Keterangan: ketika konjungsi subordinatif d. Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa yang berupa kata atau kumpulan kata yang disertai intonasi yang menunjukkan bahwa kesatuan itu sudah lengkap. Kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda Tanya (?),

(20)

dan tanda seru (!). Setiap kalimat mewakili satu gagasan utama (Chaer, 2009:44). Contoh:

(3) Ani membaca majalah di ruang tamu.

1.7Metode Penelitian

Langkah dalam penelitian ini dilakukan dengan menonton film Imperfect karya Ernest Prakasa. Kemudian melakukan transkrip. Setelah itu, membaca hasil transkrip dan mencari dialog yang mengandung makna figuratif. Selanjutnya, dialog-dialog tersebut disatukan menjadi data yang akan dianalisis. Data tersebut akan dijelaskan maknanya. Langkah terakhir yaitu menarik kesimpulan dari penjelasan tersebut.

Menurut Muhammad (2014:39), objek penelitian terbagi menjadi dua, yaitu objek formal dan objek material. Objek formal yang saya gunakan adalah makna figuratif. Objek material yang peneliti gunakan adalah film Imperfect karya Ernest Prakasa. Karena makna figuratif merupakan teori tentang makna, maka data yang digunakan adalah dialog yang mengandung makna figuratif yang terdapat dalam film Imperfect karya Ernest Prakasa.

Film-film karya Ernest Prakasa sering mengangkat cerita tentang kehidupan masyarakat sehari-hari. Sehingga penonton yang menonton filmnya selalu merasa bahwa merekalah yang sedang berada dalam film tersebut. Salah satu film karya Ernest adalah Imperfect. Data yang peneliti ambil dibatasi hanya pada film Imperfect karya Ernest Prakasa. Peneliti memilih film ini karena film ini tayang pada tahun 2019 yang berarti merupakan film yang masih tergolong film baru dan

(21)

belum banyak yang meneliti film ini. Selain itu, film ini banyak menggunakan kata, frasa, klausa, dan kalimat yang mengandung makna figuratif dan dapat diteliti. Sumber data penelitian adalah film Imperfect karya Ernest Prakasa.

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak. Menyimak merupakan aktivitas penyimakan dengan menggunakan metode simak (Muhammad 2014:204). Objek material yang digunakan dalam penelitian ini berupa dialog dalam film, maka metode yang digunakan adalah metode simak. Penerapan metode ini dilakukan dengan cara membaca dan memahami inti dari dialog yang sudah ditranskrip. Dalam penelitian ini, teknik untuk mengumpulkan data adalah teknik simak bebas libat cakap. Teknik ini berarti peneliti hanya berperan sebagai pengamat penggunaan bahasa oleh para informannya. Dia tidak terlibat dalam peristiwa pertuturan yang bahasanya sedang di teliti (Kesuma, 2007:44).

Klasifikasi data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu jenis-jenis makna figuratif dan wujud satuan kebahasaan makna figuratif. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan ortografis. Metode padan ortografis adalah metode padan yang alat penentunya berupa bahasa tulis. Metode padan ortografis berguna untuk menentukan identitas satuan kebahasaan yang tertulis (Kesuma, 2007:49). Misalnya metode ini dapat menentukan identitas satuan kebahasaan yang mengandung makna figuratif.

Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik perluas. Teknik ini adalah teknik analisis data dengan cara memperluas satuan kebahasaan yang dianalisis dengan menggunakan satuan kebahasaan tertentu. Perluasan tersebut

(22)

dapat ke kiri atau ke kanan. Teknik perluas digunakan untuk membuktikan makna satuan kebahasaan yang dianalisis (Kesuma, 2007:59). Misalnya contoh dialog (1). Dialog (1) dapat diperluas menjadi sebagai berikut.

(1c) Aah bacot lu, udah diam! Makin lama ntar, rambut di pala lo tebal banget. Jadi kalau dicatok setiap hari bisa jadi boros listrik nih!.

Untuk menyajikan hasil analisis data, peneliti menerapkan salah satu metode penyajian hasil analisis data. Metode yang dipilih adalah penyajian kaidah penggunaan bahasa secara informal atau verbal. Menurut Kesuma (2007:71), metode ini merupakan metode yang menyajikan hasil analisis data dengan menggunakan bahasa dengan kata-kata atau kalimat-kalimat. Hasil analisis data dalam penelitian ini akan disajikan dalam bentuk kata-kata atau kalimat-kalimat.

1.8Sistematika Penyajian

Tugas akhir ini terdiri atas empat bab. Pada bab I diuraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat hasil penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, dan metode penelitian. Bab II berisi jenis makna figuratif yang terdapat dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa. Pada bab II ini diuraikan dengan dialog setiap adegan yang terdapat makna figuratif, kemudian akan diberikan penjelasan. Bab III berisi wujud satuan kebahasaan bermakna figuratif yang terdapat dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa. Pada bab III ini diuraikan dengan makna figuratif yang terdapat dalam dialog film Imperfect, kemudian akan diberikan penjelasan mengenai wujud satuan kebahasaan dari makna figuratif tersebut. Bab IV merupakan bab penutup. Bab IV berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian

(23)

16 BAB II

MAKNA FIGURATIF DALAM DIALOG FILM IMPERFECT KARYA ERNEST PRAKASA

2.1 Pengantar

Bab II ini membahas tentang jenis-jenis makna figuratif dalam dialog film Imperfect karya Ernest Prakasa. Berdasarkan analisis data, ditemukan sembilan jenis makna figuratif, yaitu perbandingan, metafora, alegori, personifikasi, metonimia, sinekdoke, idiom, depersonifikasi, dan hiperbola.

2.2 Makna Figuratif Perbandingan

Berikut adalah makna figuratif perbandingan dalam dialog Film Imperfect karya Ernest Prakasa.

(4) Monik Mama Monik Nora : : : :

Uuu to cute?? Uu lucu banget!! Eeeh hehehehe…

Putiih banget, kayak gula kapas hahaha… Iya he e benerr..

(Durasi: 00:00:14) (5) Mama : Duh, pusing mama lihat kamu udah kayak paus terdampar gini. Bangun, mandi terus dandan ya! Udah rame tuh di bawah.

(24)

(6) Rara Ms. Michelle Rara Ms. Michelle Rara Ms. Michelle Lulu Rara : : : : : : : :

Ee.. berasa agak buru-buru aja?

Oke oke, kita pelanin deh ya. Kapan terakhir treadmill Ra?

Um.. waktu SD. Di gym?

Gak, di mall. Lagi ada pameran alat fitness. Okay. Ya udah kalo gitu aku nanti balik lagi ya.

Apaan nih? Pelan bener kayak keong.

Ini kan baru pertama! Lu, udah! Lu, udah! Hey! Lulu! Aduh! Mas, Mbak, tolong. Aduh!

(Durasi: 00:47:36) (7) Rara Mba Tari Rara Lulu Rara : : : : :

Mba, bisa cepetan gak ya?

Tenang ya, Mba. Rileks aja rileks. Lu, ini gak sakit kan?

Dikit, kayak digigit semut.

Oh.. digigit semut. (kertas waxing ditarik dari kulit) Anjiiing!! Semut apaan ini, Lu!

(Durasi: 00:52:33) (8) Teddy Dika Teddy Dika : : : :

Ya ampun dia waxing.. Astaga!

Lo jangan mau kalah tu rame banget kayak bubaran pabrik

Kampret Lu! Ya ampun!

(Durasi: 00:53:43) (9) Neti

Prita

:

:

Ya elah! Nyatok mulu kayak wanita karir! Lihat noh bak kamar mandi, penuh ama rambut Lu semua.

Tuh kan, Mar? gue bilang juga apa? Udah gak usah dicatok lagi ya? Ntar pala Lo botak!

(Durasi: 01:00:49) (10) Maria Prita Maria : : :

Ya habis gimana? Saya juga malu kalau rambut macam brokoli begini.

Nggak kok. Brokoli kan ijo.

Iyo, siapa yang bilang brokoli itu ungu? (Durasi: 01:01:00)

(25)

(11) Ali Teman Ali Ali Ibu Ali : : : :

Eh ada telp eey, sedot WC, sedot WC, Sini! Halo, kang sedot WC! Iya sini dong! Temen-temen gue pada kayak tahi nih Hahahaha... Ada tahi ngambang, Ada tahi ngondek. Ada juga nih tahi yang begini nih ah...

Apa tuh?

Taichi, Apaan sih, Ma?

Mumpung tai’ pada ngumpul, Mak siram aja sekalian.

(Durasi: 01:51:06)

Dialog (4) mengandung makna figuratif perbandingan. Makna tersebut dapat dilihat dalam tuturan putiih banget, kayak gula kapas hahaha…. Kata kayak memiliki arti yang sama dengan kata ‘bagai’ dan ‘seperti’. Maksud dari dialog tersebut adalah tokoh Monik (tantenya Rara dan Lulu) mengatakan bahwa kulit Lulu berwarna putih seperti gula kapas. Jadi, makna figuratif perbandingan dalam dialog (4) adalah putih banget, kayak gula kapas. Dalam hal ini yang dibandingkan adalah warna kulit Lulu dengan warna gula kapas. Perbandingan tersebut digunakan untuk memperjelas warna kulit Lulu. Dialog (4) dapat diperluas sebagai berikut.

(4a) Monik Mama Monik Nora : : : :

Uuu to cute?? Uu lucu banget!! Eeeh hehehehe…

Warna kulitnya putiih banget, kayak gula kapas hahaha…

Iya he e benerr..

Dialog (4) sudah diperluas menjadi dialog (4a). Dari dialog (4a) tersebut dapat dilihat maksud dari Monik yang mengatakan bahwa warna kulit Lulu putih seperti gula kapas.

Kemudian, dialog (5) mengandung makna figuratif perbandingan. Makna tersebut dapat dilihat dalam tuturan kamu udah kayak paus terdampar gini. Kata

(26)

kayak memiliki arti yang sama dengan kata ‘bagai’ dan ‘seperti’. Maksud dari dialog tersebut adalah seorang ibu yang pusing melihat anaknya memiliki badan yang sangat gemuk. Kemudian ketika tidur, anaknya tidur dengan posisi semaunya dengan kamar yang berantakan. Hal inilah yang membuat sang ibu menyebut anaknya seperti paus terdampar. Jadi, makna figuratif perbandingan dalam dialog (5) adalah kamu udah kayak paus terdampar. Dalam hal ini yang dibandingkan adalah kamu yaitu adalah tubuh Rara (tokoh utama) yang gemuk dengan badan ikan paus yang besar. Perbandingan tersebut digunakan untuk memperjelas kondisi Rara saat bangun tidur. Dialog tersebut diucapkan oleh sang ibu dengan rasa marah karena sang anak tidak mau mendengarkan ibunya untuk menurunkan berat badan. Dialog (5) dapat dijabarkan sebagai berikut.

(5a) Mama : Duh, pusing mama lihat kamu. Mama sudah suruh kamu untuk menrunkan berat badan, tapi berat badanmu malah nambah terus. Coba lihat badan kamu udah kayak paus terdampar gini. Bangun, mandi terus dandan ya! Udah rame tuh di bawah. Dialog (5) sudah diperluas menjadi dialog (5a). Dari dialog (5a) tersebut dapat dilihat maksud dari sang ibu yang menyampaikan kepada anaknya (Rara) bahwa sebaiknya Rara menurunkan berat badannya dan lebih rajin merapikan kamarnya supaya tidak disamakan dengan ikan paus yang terdampar.

Selanjutnya, dialog (6) mengandung makna figuratif perbandingan. Hal tersebut dapat dilihat dari dialog yang diucapkan oleh Lulu. Dialog tersebut terdapat tuturan pelan bener kayak keong. Kata kayak memiliki arti yang sama dengan kata ‘bagai’ dan ‘seperti’. Maksud dari dialog tersebut adalah Lulu (adik Rara) sedang mengajarkan Rara untuk menurunkan berat badan. Saat

(27)

mengucapkan dialog tersebut, adegannya adalah Rara sedang olahraga treadmill. Kemudian Lulu datang menghampiri Rara dan melihat bahwa Rara sedang treadmill dengan kecepatan yang sangat lambat. Oleh karena itulah Lulu menyebut Rara seperti keong karena keong berjalan dengan sangat lambat. Jadi, makna figuratif perbandingan dalam dialog (6) adalah Rara pelan seperti keong. Dalam hal ini yang dibandingkan adalah cara berjalan Rara di treadmill dan cara berjalan keong yang sangat pelan. Perbandingan tersebut digunakan untuk memperjelas cara Rara berjalan di treadmill ketika olahraga. Dialog (6) dapat diperluas sebagai berikut.

(6a) Rara Ms. Michelle Rara Ms. Michelle Rara Ms. Michelle Lulu Rara : : : : : : : :

Ee.. berasa agak buru-buru aja?

Oke oke, kita pelanin deh ya. Kapan terakhir treadmill Ra?

Um.. waktu SD. Di gym?

Gak, di mall. Lagi ada pameran alat fitness. Okay. Ya udah kalo gitu aku nanti balik lagi ya.

Apaan nih? Kakak kok jalan di treadmillnya pelan bener, udah kayak keong yang kalau jalan pelan banget.

Ini kan baru pertama! Lu, udah! Lu, udah! Hey! Lulu! Aduh! Mas, Mbak, tolong. Aduh!

Dialog (6) sudah diperluas menjadi dialog (6a). Dari dialog (6a) tersebut dapat dilihat maksud dari Lulu yang menyampaikan kepada kakaknya (Rara) bahwa jika Rara ingin menurunkan berat badan, sebaiknya ketika berjalan di treadmill jangan terlalu pelan. Hal tersebut akan memperlambat proses penurunan berat badan.

Dialog (7) mengandung makna figuratif perbandingan. Makna tersebut dapat dilihat dalam tuturan Dikit, kayak digigit semut. Kata kayak memiliki arti

(28)

yang sama dengan kata ‘bagai’ dan ‘seperti’. Maksud dari dialog tersebut adalah tokoh Lulu mengatakan kepada Rara bahwa saat diwaxing rasa sakitnya tidak terlalu sakit. Lulu mengibaratkan rasa sakit diwaxing sama dengan rasa sakit ketika digigit semut. Hal ini dilakukan supaya Rara tidak takut saat diwaxing. Jadi, makna figuratif perbandingan dalam dialog (7) adalah sedikit. Kayak digigit semut. Dalam hal ini yang dibandingkan adalah rasa sakit ketika diwaxing dengan rasa sakit ketika digigit semut. Dialog (7) dapat diperluas sebagai berikut.

(7a) Rara Mba Tari Rara Lulu Rara : : : : :

Mba, bisa cepetan gak ya?

Tenang ya, Mba. Rileks aja rileks. Lu, ini gak sakit kan?

Rasa sakitnya dikit, kayak digigit semut.

Oh.. digigit semut. (kertas waxing ditarik dari kulit) Anjiiing!! Semut apaan ini, Lu!

Dialog (7) sudah diperluas menjadi dialog (7a). Dari dialog (7a) tersebut dapat dilihat maksud dari Lulu yang mengatakan bahwa rasa sakit ketika diwaxing sama seperti ketika digigit semut. Lulu mengatakan hal tersebut agar Rara tidak takut untuk waxing. Padahal sebenarnya rasa sakit waxing lebih sakit dari rasa sakit ketika digigit semut.

Selanjutnya, dialog (8) mengandung makna figuratif perbandingan. Makna tersebut dapat dilihat dalam tuturan rame banget kayak bubaran pabrik. Kata kayak memiliki arti yang sama dengan kata ‘bagai’ dan ‘seperti’. Maksud dari dialog tersebut adalah tokoh Teddy mengatakan kepada Dika bahwa bulu di tangan Dika sangat lebat. Hal tersebut diibaratkan dengan situasi ketika para pekerja di pabrik bubar. Karena orang yang bekerja di pabrik sangat ramai, maka Teddy menyamakan situasi tersebut dengan kondisi bulu di tangan Dika yang

(29)

sangat banyak. Jadi, makna figuratif perbandingan dalam dialog (8) adalah rame banget kayak bubaran pabrik. Dalam hal ini yang dibandingkan adalah kondisi bulu di tangan Dika yang banyak dan lebat dengan kondisi ramai ketika para pekerja pabrik bubar. Dialog (8) dapat diperluas sebagai berikut.

(8a) Teddy Dika Teddy Dika : : : :

Ya ampun dia waxing.. Astaga!

Lo jangan mau kalah tu lihat bulu di tangan lo rame banget kayak bubaran pabrik.

Kampret Lu! Ya ampun!

Dialog (8) sudah diperluas menjadi dialog (8a). Dari dialog (8a) tersebut dapat dilihat maksud dari Teddy yang mengatakan bahwa bulu di tangan Dika sangat banyak sehingga ia mengibaratkannya dengan kondisi ramainya pabrik ketika para pekerja pulang secara bersamaan.

Setelah itu, terdapat dialog (9) yang mengandung makna figuratif perbandingan. Makna tersebut dapat dilihat dalam tuturan Nyatok mulu kayak wanita karir! Kata kayak memiliki arti yang sama dengan kata ‘bagai’ dan ‘seperti’. Maksud dari dialog tersebut adalah tokoh Neti mengatakan kepada Maria bahwa Maria setiap hari menyatok rambutnya seperti wanita karir yang mengutamakan penampilan. Padahal Maria adalah seorang pegawai di salah satu toko hijab. Jadi, makna figuratif perbandingan dalam dialog (9) adalah Nyatok mulu kayak wanita karir. Dalam hal ini yang dibandingkan adalah perilaku Maria yang merupakan seorang pegawai biasa di salah satu toko hijab dengan perilaku seorang wanita karir yang selalu mengutamakan penampilan. Dialog (9) dapat diperluas sebagai berikut.

(30)

(9a) Neti

Prita :

:

Ya elah! Tiap hari Nyatok mulu udah kayak wanita karir aja, penampilan terus yang diutamakan! Lihat noh bak kamar mandi, penuh ama rambut Lu semua. Tuh kan, Mar? gue bilang juga apa? Udah gak usah dicatok lagi ya? Ntar pala Lo botak!

Dialog (9) sudah diperluas menjadi dialog (9a). Dari dialog (9a) tersebut dapat dilihat maksud dari Neti yang berbicara dengan tokoh Maria dan memberitahukan secara tidak langsung untuk berhenti menyatok rambut. Secara tersirat Neti ingin menyampaikan bahwa sebaiknya Maria tidak perlu menyatok rambutnya setiap hari. Hal ini dikarenakan dapat membuat rambutnya jadi lebih sering rontok. Hal tersebut tentu merupakan sesuatu yang merugikan.

Dialog (10) juga mengandung makna figuratif perbandingan. Makna tersebut dapat dilihat dalam tuturan rambut macam brokoli begini. Kata macam dalam tuturan tersebut memiliki arti yang sama dengan kata ‘bagai’ dan ‘seperti’. Maksud dari dialog tersebut adalah tokoh Maria merasa malu dengan rambutnya yang keriting dan mengembang. Hal inilah yang membuat Maria menyamakan rambutnya dengan bentuk sayur brokoli. Jadi, makna figuratif perbandingan dalam dialog (10) adalah rambut macam brokoli. Dalam hal ini yang dibandingkan adalah wujud dari rambut Maria dengan bentuk sayur brokoli. Dialog (10) dapat diperluas sebagai berikut.

(10a) Maria Prita Maria : : :

Ya habis gimana? Saya juga malu kalau bentuk rambut saya macam bentuk brokoli begini.

Nggak kok. Brokoli kan ijo.

(31)

Dialog (10) sudah diperluas menjadi dialog (10a). Dari dialog (10a) tersebut dapat dilihat maksud dari Maria yang mengatakan bahwa ia merasa malu dengan rambutnya yang berbentuk seperti brokoli.

Berikutnya dialog (11) juga mengandung makna figuratif perbandingan. Makna tersebut dapat dilihat dalam tuturan temen-temen gue pada kayak tahi nih Hahahaha.... Kata kayak dalam tuturan tersebut memiliki arti yang sama dengan kata ‘bagai’ dan ‘seperti’. Maksud dari dialog tersebut adalah tokoh Ali mengatakan bahwa perilaku temannya itu menyebalkan. Karena sudah sangat tidak menyukai temannya tersebut, Ali mengatakan bahwa perilaku temannya seperti tahi (kotoran) yang dirasa sangat menjijikkan yang harus disingkirkan secepatnya. Bahkan pada dialog setelahnya Ali menjelaskan perikalu temannya itu sudah bisa dikategorikan ke dalam jenis-jenis tahi (kotoran), seperti tahi ngambang dan tahi ngondek. Jadi, makna figuratif perbandingan dalam dialog (11) adalah temen-temen gue pada kayak tahi. Dialog (11) dapat diperluas sebagai berikut. (11a) Ali Teman Ali Ali Ibu Ali : : : :

Eh ada telp eey, sedot WC, sedot WC, Sini! Halo, kang sedot WC! Iya sini dong! Temen-temen gue nyebelin semua ga ada yang bener

udah pada kayak tahi nih yang harus

disingkirin Hahahaha... Ada tahi ngambang, Ada tahi ngondek. Ada juga nih tahi yang begini nih ah...

Apa tuh?

Taichi, Apaan sih, Ma?

Mumpung tai’ pada ngumpul, Mak siram aja sekalian.

(32)

Dialog (11) sudah diperluas menjadi dialog (11a). Dialog (11a) tersebut dapat dilihat maksud dari Ali yang mengatakan bahwa perilaku menyebalkan teman-temannya sama seperti tahi/kotoran yang harus dibuang dan tidak berguna.

2.3 Makna Figuratif Metafora

Berikut adalah makna figuratif metafora dalam dialog Film Imperfect karya Ernest Prakasa. (12) Rara Dika Rara : : : Kamu telat!

Lima menit doang??

Lima menit itu siksaan tahu!

(Durasi: 00:05:46) (13) Lulu Lulu Rara Lulu Rara Lulu Rara : : : : : : :

(di dalam video Instagram) Tuh lihat kulitku jadi cerah bercahaya kan? Padahal ini aku baru sekali pakai loh.

Kak bangun tu kak di suruh sarapan sama mama. Aduh duh duh (sambil pura pura menutup mata) aduh kulit kamu cerah dan bercahaya banget sih aduh!

Apaan sih kak?

Kamu kan emang putih dari lahir.

Kamu mau punya kulit cerah dan bercahaya seperti aku? Makanya pakai krim mutiara yang (dilempar bantal sama Rara) Aaargh...

Uuu pembohongan publik.

(Durasi: 00:13:35) (14) Irene

Marsha :

:

Sha, Lo tu baru kan, tapi langsung meroket. Gue yakin Lo pasti gantiin Mba Sheila. Rara mana pantes mimpin kita?

Mimpin? Belajar dandan dulu gimana? Hahaha... (Durasi: 00:28:48) (15) Dika

Rara : :

Maaf ya, jalan kaki. Ya kalau cari pacar tu jangan anak kampung.

Gak papa. Anak kampung-nya baik.

(33)

(16) Endah Maria Endah : : :

Mantap. Ah, kamu masih mending rambut yang keriting kan bisa di catok. Saya gigi yang keriting susah nyatoknya tahu.

Pakai behel toh. Mahal. (Durasi: 00:40:27) (17) Teddy Dika Teddy Dika Teddy : : : : :

Ya, Lu harus ambil resiko , kayak gua dulu. Ikut-ikut lomba?

Iya, emang nyebelin sih. Effort di awal, udah gitu belum tentu menang.

Ya, okelah. Tapi buat nambah-nambahin nih. Kalau lagi nolak-nolak job lempar lah ke gua, yak?

Gak janji ya.

(Durasi: 00:43:40) (18) Mas 1 Mas 2 Mas 1 Mas 2 Mas 1 : : : : :

Ini Mba mba yang waktu itu bukan sih? Huh, kurus banget? Diet kali, ya? Kena muntaber kayaknya dia mah.

Cewek gue mahal-mahal perawatan, kalah ama yang muntaber. Makanya muntaber. (Durasi: 01:05:08) (19) Lulu Rara Lulu Rara Mama : : : : :

Eh siapa yang kecentilan??

Ee.. Lo gak usah ngelak deh, udah jelas-jelas juga!! Heh.. jelas? Yang jelas adalah Kak Dika terlalu baik buat kakak! Dan kakak tuh gak layak buat dapetin Kak Dika!

Eh Lo tahu apa soal layak gak layak hah? Lu tuh udah jadi anak emas dari lahir!

Kakak! (Durasi: 01:31:54) (20) Endah Neti : :

Eh, tapi Net. Lihat atuh. Ternyata gigi saya teh gak keriting-keriting banget, yah?

Mm.. Nggak sih. Lebih ke ikal ajah, bergelombang. (Durasi: 01:46:48)

Dialog (12) mengandung makna figuratif metafora. Makna figuratif metafora dalam dialog (12) adalah lima menit itu siksaan. Jika dilihat lima menit

(34)

menunjukkan keterangan waktu, yaitu berlangsung selama lima menit. Namun, dalam dialog (12), lima menit merupakan perilaku menyiksa. Dalam hal ini, maksud dari dialog (12) adalah tokoh Dika yang merupakan pacarnya Rara terlambat lima menit ketika menjemput Rara di rumah. Selama lima menit tersebut, Rara bertemu dengan teman-teman mamanya yang selalu membahas tubuh Rara yang gemuk. Maka dari itu, Rara merasa tidak nyaman dengan bahasan tersebut. Jadi, menurutnya lima menit keterlambatan Dika adalah siksaan baginya. Dialog (12) dapat diperluas sebagai berikut.

(12a) Rara Dika Rara : : : Kamu telat!

Lima menit doang??

Selama lima menit itu temannya mama bahas

tentang tubuh aku. Aku ngga suka, sama aja kayak siksaan tahu!

Dialog (12) sudah diperluas menjadi dialog (12a). Dari dialog (12a) tersebut dapat dilihat maksud dari Rara yang menyampaikan kepada Dika bahwa selama lima menit itu ia merasa tidak nyaman dengan teman-teman mamanya yang membahas tentang tubuhnya Rara. Hal yang paling tidak disukai Rara adalah ketika seseorang membahas tentang tubuhnya yang gemuk. Jadi, yang dibandingkan dalam dialog (12) adalah rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh Rara selama lima menit ia berbicara dengan teman mamanya dengan rasa tidak nyaman ketika Rara merasa disiksa. Oleh karena itu, selama lima menit Rara mengobrol dengan teman mamanya, ia merasa seperti disiksa dengan perkataan yang sangat tidak disukai oleh Rara.

Kemudian, terdapat tiga makna figuratif metafora dalam dialog (13). Makna figuratif metafora dalam dialog (13) adalah sebagai berikut.

(35)

(13a) Tuh lihat kulitku jadi cerah bercahaya kan?

(13b) Aduh duh duh aduh kulit kamu cerah dan bercahaya banget sih aduh! (13c) Kamu mau punya kulit cerah dan bercahaya seperti aku?

Ketiga tuturan di atas masing-masing mengandung makna figuratif metafora yang memiliki maksud dan arti yang sama. Tuturan (13a) adalah tuturan yang diucapkan oleh Lulu dalam sebuah video Instagram. Dalam video tersebut Lulu sedang mengiklankan sebuah produk kecantikan yang dapat membuat kulit menjadi lebih putih dan halus. Pada adegan dalam film Imperfect ini, Rara sedang menonton video tersebut. Kemudian, Lulu datang menghampiri Rara untuk mengajak sarapan. Tanpa menjawab Lulu, Rara pun dengan bercanda langsung menanggapi Lulu dengan tuturan (13b). Setelah itu, Lulu pun tidak mau kalah dan dengan spontan langsung memperagakan video iklannya dengan tuturan (13c). Dapat disimpulkan dari ketiga tuturan tersebut makna figuratif metaforanya adalah kulit cerah bercahaya. Dalam hal ini, warna kulit yang putih dan jenis kulit yang halus diibaratkan dengan sinar matahari yang cerah bercahaya. Ketika cuaca cerah, matahari akan bersinar terang. Jadi, alasan menyebut kulit cerah bercahaya berarti menunjukkan bahwa kulit tersebut sangat halus dan akan memancarkan cahaya terang seperti sinar matahari. Hal yang dibandingkan adalah warna kulit Lulu yang putih dan bersih dengan warna cahaya matahari yang terang dan cerah. Dialog (13) dapat diperluas sebagai berikut.

(13d) Lulu Lulu Rara Lulu : : : :

(di dalam video Instagram) Tuh lihat kulitku jadi cerah bercahaya kan? Padahal ini aku baru sekali pakai loh.

Kak bangun tu kak di suruh sarapan sama mama. Aduh duh duh (sambil pura pura menutup mata) aduh

kulit kamu kayak sinar matahari, cerah dan bercahaya banget sih aduh.

(36)

Rara Lulu Rara : : :

Kamu kan emang putih dari lahir.

Kamu mau punya kulit cerah dan becahaya seperti aku?? Makanya pakai krim mutiara yang (dilempar bantal sama Rara) Aaargh...

Uuu pembohongan publik.

Dialog (13) sudah diperluas menjadi dialog (13d). Dari dialog (13d) tersebut dapat dilihat maksud dari Rara yang mengatakan bahwa kulit Lulu seperti sinar matahari yang cerah dan bercahaya hingga dapat menyilaukan mata. Hal ini dapat dilihat dari adegan Rara yang mengatakan dialog tersebut sembari menutup matanya dengan tangan seolah-olah seperti melihat matahari.

Dialog (14) juga mengandung makna figuratif metafora. Makna figuratif metafora dalam dialog (14) adalah meroket. Jika dilihat meroket dalam dialog (14) bukan berarti ‘menembakkan roket’, melainkan suatu capaian dalam hal karir yang meningkat dengan pesat. Dialog (14) dapat diperluas sebagai berikut.

(14a) Irene

Marsha :

:

Sha, Lo tu baru kan, tapi karir lo meningkat pesat, langsung meroket. Gue yakin Lo pasti gantiin Mba Sheila. Rara mana pantes mimpin kita? Mimpin? Belajar dandan dulu gimana? Hahaha...

Dialog (14) sudah diperluas menjadi dialog (14a). Dari dialog (14a) tersebut dapat dilihat maksud dari tokoh Irene yang menyampaikan kepada Marsha bahwa karier Marsha selama bekerja di perusahaan meningkat dengan pesat. Jadi, dalam hal ini yang dibandingkan adalah kecepatan karier Marsha yang meningkat dengan sangat pesat dengan kecepatan roket saat meluncur.

Dialog (15) mengandung makna figuratif metafora. Makna figuratif metafora dalam dialog (15) adalah anak kampung. Jika dilihat anak kampung

(37)

bukan berarti ‘anaknya kampung’ atau ‘kampung yang memiliki seorang anak’. Namun, anak kampung dalam dialog (15) memiliki arti seseorang yang berasal dari kampung atau desa. Dialog (15) menyatakan bahwa Dika adalah seseorang yang berasal dari desa. Kemudian, ia juga tinggal di kota, tetapi pemukiman yang ia tinggali adalah pemukiman sederhana dengan suasana yang mirip dengan di desa. Hal yang dibandingkan adalah keadaan tokoh Dika yang selalu hidup dalam kesederhanaan dengan keadaan anak kampung yang juga hidup dalam kesederhanaan. Oleh karena itu, tokoh Dika menyebut dirinya sebagai anak kampung. Dialog (15) dapat diperluas sebagai berikut.

(15a) Dika Rara

: :

Maaf ya, jalan kaki. Yaa kalau cari pacar tu jangan anak yang berasal dari kampung.

Gak papa. Anak kampungnya baik.

Dialog (15) sudah diperluas menjadi dialog (15a). Dari dialog (15a) tersebut dapat dilihat maksud dari Dika yang menyampaikan kepada pacarnya (Rara) bahwa jika mencari pacar itu jangan anak kampung yang hidupnya penuh perjuangan dan hanya bisa tinggal di pemukiman yang sederhana. Hal tersebut diucapkan oleh tokoh Dika karena menjadi anak kampung itu hidupnya susah dan perlu perjuangan lebih. Tetapi Rara dengan spontan menjawab bahwa berpacaran dengan anak kampung seperti Dika tidak apa-apa karena Dika adalah orang yang baik.

Berikutnya terdapat dua dialog yang memiliki makna figuratif metafora yang sama, yaitu dialog (16) dan dialog (20). Makna figuratif metafora dalam dialog (15) dan dialog (20) adalah gigi keriting. Makna figuratif ini yang dibandingkan adalah bentuk gigi yang tidak rata atau tidak rapi dengan rambut

(38)

yang keriting. Dalam kehidupan sehari-hari rambut yang keriting dianggap tidak rapi. Hal inilah yang membuat tokoh Endah menyebut giginya keriting karena giginya tidak rapi. Dialog (16) dan (20) dapat diperluas sebagai berikut.

(16a) Endah Maria Endah : : :

Mantap. Ah, kamu masih mending rambut yang keriting kan bisa dicatok. Saya gigi yang ngga rapi kayak rambut keriting susah nyatoknya tahu.

Pakai behel toh. Mahal.

(20a) Endah Neti

: :

Eh, tapi Net. Lihat atuh. Ternyata gigi saya teh lumayan rapi, gak keriting-keriting banget, yah? Mm.. Nggak sih. Lebih ke ikal ajah, bergelombang.

Dialog (16) dan dialog (20) sudah diperluas menjadi dialog (16a) dan (20a). Dari dialog (16a) dapat dilihat maksud dari Endah yang mengatakan bahwa giginya tidak rapi seperti rambut yang keriting. Kemudian, pada dialog (20a) Endah juga mengatakan bahwa giginya lumayan rapi dan tidak terlalu keriting seperti rambut. Jadi, dalam kedua dialog tersebut yang dibandingkan adalah rambut keriting dengan gigi yang tidak rapi seperti rambut keriting.

Dialog (17) mengandung makna figuratif metafora. Makna figuratif metafora dalam dialog (17) terdapat pada tuturan kalau lagi nolak-nolak job lempar lah ke gua. Maksud dari tuturan tersebut adalah jika sedang menolak pekerjaan sebaiknya pekerjaannya diberikan ke yang lain. Kata melempar merupakan kata kerja yang berarti membuang sesuatu jauh-jauh. Dalam dialog (17) bukan berarti lempar job memiliki arti melempar pekerjaan jauh-jauh, melainkan memberikan pekerjaan tersebut kepada yang lebih membutuhkan. Melempar sesuatu juga memiliki arti memberikan sesuatu kepada orang lain. Jadi,

(39)

hal yang dibandingkan adalah tindakan melempar pekerjaan yang berarti memberikan pekerjaan kepada orang lain dengan tindakan melempar sesuatu yang berarti memberikan sesuatu tersebut kepada orang lain. Dialog (17) dapat diperluas sebagai berikut.

(17a) Teddy Dika Teddy Dika Teddy : : : : :

Ya, Lu harus ambil resiko , kayak gua dulu. Ikut-ikut lomba?

Iya, emang nyebelin sih. Effort di awal, udah gitu belum tentu menang.

Ya, okelah. Tapi buat nambah-nambahin nih. Kalau lagi nolak-nolak job lempar lah ke gua, Yak? Kasi kerjaan ke gua.

“Gak janji ya.”

Dialog (17) sudah diperluas menjadi dialog (17a). Dari dialog (17a) tersebut dapat dilihat tokoh Dika yang sangat membutuhkan pekerjaan dan berharap temannya (Teddy) jika menolak pekerjaan, pekerjaan tersebut dapat diberikan ke Dika. Dengan demikian, bukan berarti pekerjaan tersebut dilempar jauh-jauh, tetapi diberikan kepada Dika.

Selain itu, dialog (18) juga mengandung makna figuratif metafora. Makna figuratif metafora dalam dialog (18) terdapat dalam tuturan kalah sama yang muntaber. Maksud dari dialog (18) adalah tokoh Mas 1 berbicara dengan Mas 2. Mereka membahas tentang diet yang dilakukan oleh Rara. Rara berhasil menurunkan berat badannya secara drastis. Hal ini yang membuat kedua tokoh tersebut membicarakan dietnya Rara bahkan disamakan dengan orang yang terkena penyakit muntaber. Kemudian tokoh Mas 2 membandingkan hal tersebut dengan pacarnya yang sudah bayar mahal untuk perawatan tetapi tidak dapat sekurus Rara. Ia mengatakan bahwa pacarnya tersebut kalah sama yang muntaber.

(40)

Dalam hal ini bukan berarti Mas 2 membandingkan pacarnya dengan penyakit muntaber, melainkan ia membandingkan pacarnya dengan orang lain yang dapat kurus lebih cepat karena muntaber. Jadi, hal yang dibandingkan adalah seorang perempuan yang kurus karena perawatan mahal dengan seorang perempuan yang kurus karena terkena penyakit muntaber. Dialog (18) dapat diperluas sebagai berikut. (18a) Mas 1 Mas 2 Mas 1 Mas 2 Mas 1 : : : : :

Ini Mba mba yang waktu itu bukan sih? Huh, kurus banget? Diet kali, ya? Kena muntaber kayaknya dia mah.

Cewek gue mahal-mahal perawatan, kalah sama dia yang kurus karena sakit muntaber.

Makanya muntaber.

Dialog (18) sudah diperluas menjadi (18a). Dari dialog (18a) tersebut dapat dilihat maksud dari Mas 2 yang membandingkan pacarnya dengan orang lain yang dapat kurus dengan cepat karena muntaber.

Selanjutnya,, dialog (19) mengandung makna figuratif metafora. Makna figuratif metafora dalam dialog (19) adalah anak emas. Jika dilihat anak emas bukan berarti ‘anaknya emas’ atau ‘emas yang memiliki seorang anak’. Namun, anak emas dalam dialog (19) memiliki arti anak kesayangan atau anak yang paling disayang. Dialog (19) menunjukkan adegan perkelahian antara Rara dan Lulu. Perkelahian tersebut sebenarnya terjadi karena adanya kesalahpahaman. Rara yang sangat marah pun menyebut Lulu sebagai anak emas dari lahir karena Rara merasa bahwa Lulu selalu mendapatkan perhatian yang lebih daripada dia. Ibu mereka selalu lebih sayang kepada Lulu karena memiliki tubuh yang cantik dan mengganggap bahwa Lulu adalah anak yang berharga. Emas termasuk dalam

(41)

benda yang sangat berharga karena memiliki nilai jual yang tinggi. Oleh karena itu, Lulu disamakan dengan emas yang berharga. Dalam hal ini yang dibandingkan adalah Lulu yang adalah seorang anak yang berharga dengan emas yang memiliki nilai yang berharga. Dialog (19) dapat diperluas sebagai berikut.

(19a) Lulu Rara Lulu Rara Mama : : : : :

Eh siapa yang kecentilan??

Ee.. Lo gak usah ngelak deh, udah jelas-jelas juga!! Heh.. jelas? Yang jelas adalah Kak Dika terlalu baik buat kakak! Dan kakak tuh gak layak buat dapetin Kak Dika!

Eh Lo tahu apa soal layak gak layak hah? Lu tuh udah jadi anak emas dari lahir! Anak yang berharga dan selalu disayang sama semua orang!

Kakak!

Dialog (19) sudah diperluas menjadi dialog (19a). Dari dialog (19a) tersebut dapat dilihat maksud dari Rara yang mengatakan bahwa Lulu adalah anak yang berharga dan selalu disayang oleh banyak orang. Dengan demikian, hal yang dibandingkan dalam dialog (19) adalah seorang anak yang berharga dengan benda yang berharga, yaitu emas.

2.4 Makna Figuratif Alegori

Berikut adalah makna figuratif alegori dalam dialog Film Imperfect karya Ernest Prakasa. (21) Dika Ibu Siska Dika Ibu Siska Dika Ibu Siska : : : : : :

Ada lagi bu kira-kira yang bisa kami bantu? Ada sih hehe..

Apa tuh?

Cariin saya suami dong? (Rara dan Dika saling lihat-lihatan)

Pasti Ibu Siska yang terlalu milih-milih nih? Percaya sama zodiak-zodiak ya?

(42)

Dika Ibu Siska Dika Ibu Siska Dika Ibu Siska Dika Ibu Siska Rara Dika Rara Ibu Siska : : : : : : : : : : : : Euu.. Shio! Shio..

Saya kan monyet air, jadi cocoknya tu ama tikus tanah, tanah ama air jadi nyerrep gitu lo.. Hmm...

Dari kemarin ketemunya haha tikus api tikus logam jadi gak nyerrep.. mental. Hehehe.. ada? Iya nanti kalau saya ketemu tikus tanah saya kabari ya bu

Hehehe...

(melihat ke sekumpulan anak duduk-duduk) Sebentar ya

Iya, nyari tikus tanah ya? Hahaha.. Nggak! Hahaha...

Hahahaha...

(Durasi: 00:08:00)

Dialog (21) mengandung makna figuratif alegori. Pada dialog tersebut terdapat tuturan yang diucapkan oleh Ibu Siska yang mengatakan bahwa ia adalah monyet air. Dalam hal tersebut, yang dimaksud dengan monyet air adalah shio atau lambang hewan dalam tahun lahir. Kemudian Ibu Siska melanjutkan dialognya dengan mengatakan bahwa monyet air cocok dengan tikus tanah. Ia mengibaratkan bahwa jika tanah bertemu air akan menyerap sehingga jika ia bertemu dengan orang dengan shio tikus tanah akan cocok menjadi pasangannya. Kemudian, Ibu Siska melanjutkan perumpamaannya tersebut dengan mengatakan bahwa ia sejak dulu hanya bertemu dengan orang dengan shio tikus api dan tikus logam. Ia juga mengibaratkan dengan air dan logam kemudian air dan logam yang tidak dapat menyatu.

Dengan demikian, metafora yang dilanjutkan dalam dialog (21) adalah shio monyet air dan tikus tanah yang kemudian dikaitkan dengan air dan tanah yang jika disatukan dapat meyatu. Kemudian, shio tikus api dan tikus logam yang

(43)

dikaitkan dengan api dan logam yang jika disatukan dengan air tidak akan menyatu. Ibu Siska menggunakan perumpamaan tersebut untuk lebih memperjelas maksud dari tuturan yang ia ucapkan. Dialog (21) dapat diperluas sebagai berikut.

(21a) Dika Ibu Siska Dika Ibu Siska Dika Ibu Siska Dika Ibu Siska Dika Ibu Siska Dika Ibu Siska Dika Ibu Siska Rara Dika Rara Ibu Siska : : : : : : : : : : : : : : : : :

Ada lagi bu kira-kira yang bisa kami bantu? Ada sih hehe..

Apa tuh?

Cariin saya suami dong? (Rara dan Dika saling lihat-lihatan)

Pasti Ibu Siska yang terlalu milih-milih nih? Percaya sama zodiak-zodiak ya?

Saya gak percaya sama zodiak. Euu..

Shio! Shio..

Saya kan shionya monyet air, jadi cocoknya tu sama orang dengan shio tikus tanah, ibarat tanah sama air jadi nyerrep gitu lo..

Hmm...

Dari kemarin ketemunya haha orang yang shionya tikus api, shionya tikus logam jadi gak nyerrep.. api sama logam kalau ketemu tanah jadi mental. Hehehe.. ada?

Iya nanti kalau saya ketemu tikus tanah saya kabari ya bu

Hehehe...

(melihat ke sekumpulan anak duduk-duduk) Sebentar ya

Iya, nyari tikus tanah ya? Hahaha.. Nggak! Hahaha...

Hahahaha...

Dialog (21) sudah diperluas menjadi dialog (21a). Dari dialog tersebut sudah diperjelas bahwa pembahasan shio monyet air dan shio tikus tanah berlanjut dengan adanya pembahasan air dan tanah yang jika disatukan akan menyatu atau air akan menyerap ke dalam tanah. Kemudian juga terdapat pembahasan shio tikus api dan shio tikus logam yang dikaitkan dengan api dan logam yang jika disatukan dengan air tidak akan menyatu atau tidak cocok.

(44)

2.5 Makna Figuratif Personifikasi

Berikut adalah makna figuratif personifikasi dalam dialog Film Imperfect karya Ernest Prakasa.

(22) George Lulu George Lulu George Lulu : : : : : :

Kamu pakai baju ini?? Ee.. emangnya kenapa?

Beb, kamu pernah pakai baju ini, ingat gak? Bulan lalu di instagram aku? Remember?? Oh, ehm, ya udah kalau gitu aku ganti dulu ya.

Iyah.. I think so. Eh beb by the way nanti kita cafenya tuh backgroundnya warna putih jadi kalau bisa pakai baju jangan warna putih atau off-white gitu nanti you know warnanya mati, Okeh!

Oke. (Durasi: 00:06:36) (23) Penata Busana Dika Penata Busana : : : Ee Dik! Apa?

Itu kayaknya bajunya keramaian deh, diganti yang warna coklat aja.

(Durasi: 00:10:04) (24) Maria Prita Maria Prita Maria : : : : : Sudah belum?

Sabar Maria, kagak bisa cepet-cepet kalau mau bagus!

Sebetulnya bisa cepat, Kalau ko pakai dua mata, ini poni di buka dulu.

Aaa.. malu! Ntar tompel gue ke mana-mana! Tompelmu itu di situ-situ saja, tidak ada tompel di dunia ini yang pergi ke mana-mana.

(Durasi: 00:21:35) (25) Rara : Udah nasi, digoreng lagi, double nih

dosanya. Gimana mau kurus? Itu Lu habis gak? (Durasi: 00:38:25) (26) Teddy Dika Teddy : : :

Lu kenapa sih stress banget kayak orang dikejar utang.

Ya emang lagi dikejar utang... nyokap gua. Oh, sorry ya.

(45)

(Durasi: 00:43:24) (27) Endah Maria Endah Maria Endah Maria Endah Prita Endah Maria : : : : : : : : : :

Eh, Maria! Lihat itu foto kamu teh menik cantik pisan!

Aaa Endah, cantikkan ko! Nggak ah, cantikkan juga kamu! Tidak, Endah, cantikkan ko! Cantikkan kamu!

Setahu ko memang paling bisa, tapi masalahnya tetap cantikkan ko!

Cantikkan kamu!

Ini cantik lewat-lewat doang nih gak ada yang mau mampir ke gua. Ha?

He.. Iya he, Kamu juga cantik, Prit? Ko cantik.

(Durasi: 01:47:06)

Dialog (22) di atas mengandung makna figuratif personifikasi. Makna figuratif personifikasi dalam dialog (22) adalah warnanya mati. Menurut KBBI V (2019), warna adalah sebuah corak rupa, seperti hijau dan biru atau kesan yang diperoleh mata dari pantulan cahaya oleh benda-benda yang dikenainya. Warna bukan merupakan makluk hidup yang dapat mati. Namun, dalam dialog (22) warna disamakan dengan makhluk hidup yang dapat mati. Warnanya mati dalam dialog (22) memiliki arti sebuah warna yang kurang menarik untuk dilihat atau beberapa warna yang jika dipadu padankan kedua warna tersebut akan menyatu dan salah satu warna dianggap menghilang atau diibaratkan mati. Dalam dialog tersebut, dapat dilihat maksud dari tokoh George yang mengatakan supaya pacarnya (Lulu) untuk tidak memakai baju berwarna putih. Hal ini dikarenakan warna latar dari kafe yang akan mereka datangi adalah berwarna putih. Jika Lulu memakai baju berwarna putih akan memberikan kesan yang kurang menarik. Bahkan Lulu seolah-olah tidak kelihatan karena warna pakaian yang dikenakan

(46)

menyatu dengan warna latar kafe. Jadi, kata mati dalam dialog (22) diartikan sebagai suatu keadaan yang ketika dilihat dengan mata akan memberikan kesan yang kurang menarik dan dapat hilang dari pandangan atau tidak terlihat. Dialog (22) dapat diperluas sebagai berikut.

(22a) George Lulu George Lulu George Lulu : : : : : :

Kamu pakai baju ini?? Ee.. emangnya kenapa?

Beb, kamu pernah pakai baju ini, ingat gak? Bulan lalu di instagram aku? Remember??

Oh, ehm, ya udah kalau gitu aku ganti dulu ya. Iyah.. I think so. Eh beb by the way nanti kita

cafenya tuh backgroundnya warna putih jadi kalau bisa pakai baju jangan warna putih atau off-white gitu nanti you know warnanya mati ntar penampilanmu kurang menarik pas kita foto-foto trus kamu bakalan kayak menyatu dengan latar dinding, Okeh!

Oke.

Dialog (22) sudah diperluas menjadi dialog (22a). Dari dialog (22a) tersebut dapat dilihat maksud dari George yang menyarankan agar Lulu tidak memakai baju berwarna putih karena warna latar kafenya adalah dominan putih. Hal tersebut dilakukan George supaya ketika mereka berfoto, hasil fotonya akan terlihat lebih menarik.

Berikutnya, dialog (23) juga mengandung makna figuratif personifikasi. Makna figuratif personifikasi dalam dialog (23) adalah bajunya keramaian. Kata ramai memiliki arti keadaan ketika suatu tempat dipenuhi oleh banyak orang. Kata baju dalam dialog (23) diibaratkan sebagai tempat yang penuh dengan orang. Dalam hal ini, maksud dari dialog (23) adalah keadaan ketika seorang model memakai baju dengan motif dan warna yang sangat beragam. Oleh karena itu,

Referensi

Dokumen terkait

S.2 Analisis gaya bahasa perumpamaan pada kalimat (18), yakni pengarang menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan menggunakan kata seperti, bagai,

Pada etnis Tionghoa, primordialisme dapat terlihat dari penggunaan warna, benda khas. etnis seperti lampion dan angpao, pakaian khas etnis yaitu baju cheongsam,

Kalimat di atas merupakan salah satu gaya bahasa perbandingan sebagai perumpamaan karena menggunakan kata bagai sebagai penghubungnya. Jika dilihat dari segi fungsinya,

Tindak Tutur dan Pilihan Kata dalam Bahasa Humor Rubrik Komedi Misteri pada Majalah Wahana Mistis Edisi Oktober Desember 2004.. Surabaya: JBSI

Strategi penerjemahan dengan menggunakan kata yang lebih umum dilakukan dengan cara mencari istilah dalam bahasa sasaran yang cakupannya lebih luas