11 1. Pengertian Pembiayaan
Berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 10 tahun 1998 Pasal 1 Ayat 12, yang dimaksud pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi
hasil.1Pembiayaan atau financing, yaitu pendanaan yang diberikan oleh
suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung
investasi yang telah di rencanakan.2
2. Jenis-jenis pembiayaan
Pembiayaan dilihat dari tujuan penggunaan, pembiayaan dibagi menjadi tiga jenis sebagai berikut :
a. pembiayaan investasi, yaitu pembiayaan yang diberikan oleh bank
syariah kepada nasabah untuk pengadaan barang-barang modal (aset tetap) yang mempunyai nilai ekonomis lebih dari satu tahun.
1
Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta :Kencana Prenadamedia Group, 2011), Cet.ke-1, h. 106
2 Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, Islamic Banking, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010}.
b. pembiayaan modal kerja, yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja yang biasanya habis dalam satu siklus usaha.
c. pembiayaan konsumsi, yaitu pembiayaan yang diberikan kepada
nasabah untuk membeli barang-barang untuk keperluan pribadi dan tidak untuk keperluan usaha.
Pembiayaan dilihat dari jangka waktunya, pembiayaan di bagi menjadi tiga jenis :
a. Pembiayaan jangka pendek, yaitu pembiayaan yang diberikan dengan
jangka waktu maksimal satu tahun. Pembiayaan jangka pendek biasanya diberikan oleh bank syariah untuk membiayai modal kerja perusahaan yang mempunyai siklus usaha dalam satu tahun, dan pengembaliannya disesuaikan dengan kemampuan nasabah.
b. Pembiayaan jangka menengah, yaitu pembiayaan yang diberikan
dengan jangka waktu antara satu tahun hingga 3 tahun.
c. Pembiyaan jangka panjang, yaitu pembiayaan yang jangka waktunya
lebih dari tiga tahun.
Pembiyaan dilihat dari sektor usaha, di bagi menjadi lima jenis :
a. Sektor Industri, pembiyaan yang diberikan kepada nasabah yang
bergerak dalam sektor industri, yaitu sektor usaha yang mengubah bentuk dari bahan baku menjadi barang jadi atau mengubah suatu barang lain menjadi barang lain yang memiliki faedah lebih tinggi.
b. Sektor perdagangan, yaitu pembiayaan ini diberikan kepada pengusaha yang bergerak dalam perdangan, baik perdangan kecil, menengah, dan besar.
c. Sektor pertanian, pertanakan, perikanan, dan perkebunan, yaitu
pembiayaan ini diberikan dalam rangka meningkatkan hasil sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan, serta perikanan.
d. Sektor Jasa, beberapa pembiayaan sektor jasa antara lain :
Jasa pendidikan Jasa rumah sakit Jasa angkutan Jasa lainya
e. Sektor perumahan, yaitu pembiayaan untuk pembangunan perumahan.
Cara pembayaran kembali dipotong dari rumah yang telah terjual. Pembiayaan dilihat dari segi jaminan, di bagi menjadi dua jenis :
a. Pembiayaan dengan jaminan, yaitu jenis pembiayaan yang didukung
dengan jaminan (agunan) yang cukup. Agunan atau jaminan dapat digolongkan menjadi jaminan perorangan, benda berwujud, dan benda tidak berwujud.
b. Pembiayaan tanpa jaminan, yaitu pembiayaan ini diberikan oleh bank
syariah atas dasar kepercayaan.
Pembiayaan dilihat dari jumlahnya, pembiayaan dibagi menjadi antara lain:
a. Pembiayaan Retail, yaitu pembiayaan yang diberikan kepada individu atau pengusaha dengan skala usaha sangat kecil. Jumlah pembiayaan yang dapat diberikan hingga Rp 350.000.000,-.(tiga ratus lima puluh juta rupiah).
b. Pembiayaan Menengah, yaitu pembiayaan yang diberikan kepada
pengusaha pada level menengah, dengan batasan antara Rp 350.000.000,- (tiga ratus lima puluh juta rupiah) hingga Rp 5.000.000.000,- (lima milyar).
c. Pembiayaan Korporasi, yaitu pembiayaan yang diberikan kepada
nasabah dengan jumlah nominal yang besar dan diperuntukkan kepada
nasabah besar(korporasi).3
B. Murabahah
1. Pengertian Murabahah
M.Umer Chapra mengemukakan bahwa murabahah merupakan
transaksi yang sah menurut ketentuan syariat apabila risiko transaksi tersebut menjadi tanggung jawab pemodal sampai penguasaan atas barang
(possesion) telah dialihkan kepada nasabah.4
Murabahah adalah transaksi jual beli suatu barang sebesar harga
perolehan barang ditambah dengan margin yang disepakati oleh para
3Ismail, op.cit., h.113-119
4Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Islam, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti,2007), Cet.
pihak, dimana penjual menginformasikan terlebih dahulu harga perolehan
kepada pembeli.5
2. Landasan Hukum Murabahah
a.
Firman Allah, QS. An-Nisa[4] : 29 :
. . .
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. . .”
b. Firman Allah, QS. Al-Baqarah [2]:280:
...
“ Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan...”
c.
Hadis Nabi SAW :َ ع َ ه ََ أ َ ب َ ً َ َ س َ ع َ ي َ د َ َ لا َ خ َ د َ ر َ ي َ َ ر َ ض َ ً َ َ الل َ َ ع َ ى َ ً ََ أ َ ن َ َ ر َ س َ ى َ ل َ َ الل َ َ ص َ ل َ عَى َ لَ ي َ ً َ َ و آَ ل َ ً َ َ و َ س َ ل َ مَ َ ق َ لا َ : ََ إ َ و َ م اَا َ لَ ب َ ي َ ع َ َ ع َ ه ََ ت َ ر َ ضا َ ( ر اَياو يبل ًَقه ابحَهبَاًَححصوًَجامَهباو ن )
“ Dari Abu Sa’id al-Khudriy bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka.” (HR. Al-Bayhaqiy dan Ibnu Majah, dan dinilai sahih oleh ibnu Hibban)
5Muhamad, Manjemen Dana Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), Cet. Ke-2,
3. Skema Pembiayaan Murabahah
(1) Negosiasi & Persyaratan
(2) Akad Jual Beli
(6) Bayar
(5) Terima Barang & dokumen
(3) Beli Barang ( ( 4) Mengirim barang
Keterangan:
1. Bank syari’ah dan nasabah melakukan negosiasi tentang rencana
transaksi jual beli yang akan dilaksanakan. Poin negosiasi meliputi jenis barang yang akan dibeli, kualitas barang, dan harga jual.
2. Bank syari’ah melakukan akad jual beli dengan nasabah, di mana
bank syari’ah sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Dalam akad jual beli ini, ditetapkan barang yang menjadi objek jual beli ini, ditetapkan barang yang menjadi objek jual beli yang telah dipilih oleh nasabah, dan harga jual barang.
3. Atas dasar akad yang dilaksanakan antara bank syari’ah dan
nasabah, maka bank syari’ah membeli barang dasupplier/penjual.
Pembelian yang dilakukan oleh bank syari’ah ini sesuai dengan keinginan nasabah yang telah tertuang dalam akad.
NASABAH BANK
SYARIAH
4. Supplier mengirimkan barang kepada nasabah atas perintah bank syari’ah.
5. Nasabah menerima barang dari supplier dan menerima dokumen
kepemilikan barang tersebut.
6. Setalah menerima barang dan dokumen, maka nasabah melakukan
pembayaran.6
C. Pembiayaan Modal Kerja Syari’ah 1. Pengertian Pembiayaan Modal Kerja
Pembiayaan Modal Kerja (PMK) Syari’ah adalah pembiayaan jangka pendek yang diberikan kepada perusahaan untuk membiayai kebutuhan modal kerja usahanya berdasarkan prinsip-prinsip syari’ah.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan analisa pemberian pembiayaan antara lain :
a. Jenis usaha
b. Skala usaha
Besarnya kebutuhan modal kerja suatu usaha sangat bergantung kepada skala usaha yang dijalankan.
a) Tingkat kesulitan usaha yang dijalankan. Beberapa pertanyaan
yang harus dijawab dalam melakukan analisis pembiayaan antara lain :
1) Apakah proses produksi membutuhkan, tenaga ahli/ terdidik/
terlatih dengan menggunakan peralatan yang canggih?
2) Apakah perusahaan memiliki tenaga ahli dan peralatan yang dibutuhkan untuk menunjang proses produksi?
3) Apakah perusahaan memiliki sumber pasokan bahan baku yang tetap yang dapat menjamin kesinambungan proses produksi?
4) Apakah perusahaan memiliki pelanggan tetap ?
b) Karakter transaksi dalam sektor usaha yang akan dibiayai
2. Analisis Kelayakan Pembiayaan di Bank Syari’ah 1. Tujuan Analisis Pembiayaan
Analisis pembiayaan di bank syari’ah bertujuan untuk :
a. Menilai kelayakan usaha calon peminjam
b. Menekan resiko akibat tidak terbayarnya pembiayaan
c. Menghitung kebutuhan pembiayaan yang layak
2. Prinsip Analisis Pembiayaan
Prinsip analisis pembiayaan merupakan pedoman-pedoman yang harus di perhatikan oleh pejabat pembiayaan bank syari’ah pada saat melakukan analisis pembiayaan, yaitu :
a. Character, artinya sifat atau karakter nasabah pengambil
pembiayaan. Hal ini yang perlu ditekankan pada nasabah di bank syari’ah adalah bagaimana sifat amanah, kejujuran, kepercayaan seorang nasabah. Kegunaan penilaian karakter adalah untuk mengetahui sejauh mana kemauan nasabah untuk memenuhi
kewajibanya (williness to pay) sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan.
b. Capacity, artinya kemampuan nasabah untuk menjalankan
usahanya guna memperoleh laba sehingga dapat mengembalikan pinjaman/pembiayaan dari hasil yang di hasilkan. Penilaian ini
bermanfaat untuk mengukur sejauh mana calon mudharib mampu
melunusi utang-utangnya (ability to pay) secara tepat waktu, dari
usaha yang diperolehnya. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan :
Pendekatan historis, yaitu menilai past performance, apakah
menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu. Pendekatan
finansial, yaitu menilai latar belakang pendidikan para pengurus.
Pendekatan yuridis, yaitu secara yuridis apakah calon mudharib
mempunyai kapasitas untuk mewakili badan usaha untuk melakukan perjanjian pembiayaan dengan bank atau tidak. Pendekatan manajerial, yaitu untuk menilai sejauh mana
kemampuan dan ketrampilan customer melaksankan fungsi-fungsi
manajemen dalam memimpin perusahaan. Pendekatan teknis, yaitu
untuk menilai sejauh mana kemampuam calon mudharib
mengelola faktor-faktor produksi.
c. Capital, artinya besarnya modal yang diperlukan peminjam. Hal ini
juga termasuk struktur modal, kinerja hasil dari modal bila debiturnya merupakan perusahaan, dan segi pendapatan jika debiturnya merupakan perorangan.
d. Collateral, artinya jaminan yang telah dimiliki yang diberikan
peminjam kepada bank. Penilaian terhadap collateral meliputi
jenis, lokasi, bukti kepemilikan dan status hukumnya. Penilaian
terhadap collateral dapat ditinjau dari dua segi : Segi ekonomis,
yaitu nilai ekonomis dari barang yang diagunkan. Segi yuridis, yaitu apakah agunan tersebut memenuhi syarat-syarat yuridis untuk dipakai sebagai agunan.
e. Condition of economy, artinya keadaan meliputi kebijakan
pemerintah, politik, segi budaya yang mempengaruhi
perekonomian. Penilaian terhadap kondisi ekonomi dapat dilihat dari : Keadaaan konjungtur, Peraturan-peraturan Pemerintah Situasi, politik dan perekonomian dunia Keadaan lain yang
mempengaruhi pemasaran.7
3. Kelayakan Pemberian Pembiayaan
Adapun aspek-aspek yang sangat diperhatikan atau sebagai dasar pertimbangan pembiayaan adalah sebagai berikut :
1. Surat Permohonan Pembiayaan
Dalam surat permohonaan berisi jenis pembiayaan yang diminta nasabah, untuk berapa lama, berapa limit/plafon yang diminta, serta sumber pelunasan pembiayaan berasal dari mana. Di samping itu, surat pun dilampiri dengan dokumen pendukung antara lain indetitas
7 Binti Nur Aisyah, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah (Yogyakarta : Kalimedia,
pemohon, legalitas (akta pendirian/perubahan, surat keputusan Menteri, perizinan-perizinan), bukti kepemilikan agunan.
2. Proses Evaluasi
Proses penilaian dimaksud meliputi hal-hak berikut :
a) Didasarkan pada surat permohonan yang lengkap.
b) Proses penilaian, proses ini dapat dilakukan melalui beberapa
tahapan kantor bank islam, utamanya jika bank islam tersebut adalah bank umum yaitu sebagai berikut :
1) Kantor Pusat/ Kanwil
a) Permohonan dari Kantor Cabang
b) Unit penilaian dari Kantor Pusat/ Wilayah melakukan
review atas permohonan nasabah yang telah dilakukan penilaian/ analisis oleh Kantor Cabang.
c) Komite Pembiayaan (Kantor Pusat/Wilayah)
d) Keputusan
e) Unit Penilai (Kantor Pusat/Wilayah) meneruskankan
keputusan Kantor Pusat/Wilayah ke Kantor Cabang yang bersangkutan.
f) Keputusan diterima Kantor Cabang, dengan macam
keputusan:
1) Ditolak
(a) Persetujuan Kanpus/Kanwil diteruskan ke pemohonan (b) Penandatangan akad (c) Pengamanan Pembiayaan (d) Realisasi (e) Pemantauan (f) Pelunasan/perpanjangan 2) Kantor Cabang
a) Pembuatan nota/memo penilaian oleh Unit Penilai Kantor
Cabang
b) Proses pengembilan keputusan oleh Komite Pembiayaan
Keputusan:
(1) Ditolak
(2) Disetujui
(a) Oleh Unit Penilai
(b) Penandatanganan akad pembiayaan
(c) Pengamanan Pembiayaan
(d) Realisasi pembiayaan
(e) Pemantauan
(f) Pelunasan/perpanjangan/tambahan palfon/lainnya
c) Format memo/nota penilaian
Format memo atau nota penilaian calon nasabah yang akan dibayai oleh bank islam, mencakup hal-hal berikut ini.
1) Inforamsi Umum, hal yang diperlukan oleh bank islam antara lain:
a) Perusahaan : nama, alamat kantor/pabrik/gudang,
bidang usaha.
b) Status Hukum : PT, CV, Firma, perorangan,
koperasi
c) Pemegang Saham : nama dan porsi saham yang
dimiliki
2) Aspek Legalitas, aspek yang diperlukan oleh Bank
Islam antara lain : SIUP(Surat Izin Usaha
Perdangangan), TDP (Tanda Daftar Perusahaan),
SITU(Surat Ijin Tempat Usaha), HO(Hinder
Ordanantie/Ijin Gangguan).
3) Aspek Manjemen, aspek yang diperlukan oleh Bank
Islam antara lain: Sturuktur Organiasasi, Reputasi
perusahaan, Independensi, Integritas, Mangement
Police dan Control, Umur dan tingakat kesehatannya,
Gaya manajemen, Tipe manajemen.
4) Aspek Pemasaran, aspek yang diperlukan oleh Bank
Islam antara lain : Produk, Pemasaran dan Kompetisi
5) Aspek Sosial Ekonomi, aspek yang diperhatikan oleh
Bank Islam antara lain : Manfaat perusahaan, Dampak lain.
6) Aspek tenaga kerja, aspek yang diperhatikan oleh bank Islam antara lain : Tenaga kerja yang dibutuhkan
skilledunskillled labour, dari mana berasal, dapatnya
menyerap/mengurangi pengangguran sekitar.
7) Aspek Teknis, aspek yang diperhatikan oleh Bank
Islam antara lain: lokasi usaha, bangunan gedung kantor/ gedung, mesin yang dipergunakan, teknologi,
layout mesin, kelengkapan alat yang dimiliki.
8) Aspek Keuangan, aspek yang diperhatikan oleh Bank
Islam antara lain : Sifat laporan keuangan, kewajaran laporan keuangan, analisis rasio, analisis sumber dana penggunaan dana, proyeksi aliran kas, perhitungan modal kerja, perhitungan pembiayaan investasi.
9) Aspek Komersil, aspek yang diperhatikan oleh Bank
Islam antara lain : apakah produknya mudah dijual, apakah bahan mentah tersedia banyak dan mudah didapat, kemudahan prosesing.
10) Agunan/Jaminan, hal yang diperhatikan oleh Bank
Islam antara lain : status kepemilikan, status hukum, nilai transaksi
11) Analisis resiko, hal yang diperhatikan oleh Bank Islam
antara lain : Apa resiko potensial yang mungkin timbul, bagaimana solusi untuk menanganinya
12)Pertimbangan
13)Kesimpulan
Berdasarkan kesuluran evaluasi/penilian, dapat ditarik suatu kesimpulan apakah proyek layak/ tidak untuk dibiayai
14)Saran
Unit kerja pemroses dapat memberikan saran diterima dengan persyaratan apa atau ditolak dengan alasan apa
15)Keputusan
Keputusan diambil oleh Komite Pembiayaan.8