• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN TEORITIS"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN TEORITIS 2.1Perpustakaan Umum

Untuk lebih memahami perpustakaan umum serta pentingnya keberadaan perpustakaan umum, maka pada bagian ini akan dijelaskan mengenai perpustakaan umum tujuan, fungsi dan peran perpustakaan umum dalam Pelestarian Budaya Bangsa.

2.1.1Pengertian Perpustakaan Umum

Perpustakaan umum merupakan salah satu sumber informasi yang didirikan bagi kepentingan masyarakat luas. Perpustakan menurut UU No. 43 tahun 2007 pasal 6 ayat 1 adalah “Institusi pengelola karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku, guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan referensi para pemustaka”. Sejalan dengan hal tersebut Sutarno (2003, 32) juga menyatakan bahwa, “Perpustakaan umum adalah lembaga pendidikan yang menyediakan sumber belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat tanpa membedakan suku, agama, jenis kelamin dan pendidikan”. Sedangkan menurut Hermawan (2006, 30), “Perpustakaan umum pada dasarnya didirikan oleh masyarakat, untuk masyarakat dan didanai dengan dana masyarakat”. Selain itu menurut Pamuntjak (2000, 3), “Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang menghimpun koleksi buku, bahan cetakan serta rekaman lain untuk kepentingan masyarakat umum”.

Dari beberapa pendapat para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perpustakaan umum merupakan suatu lembaga yang didirikan oleh masyarakat dan untuk masyarakat, yang menyediakan berbagai macam informasi dan bacaan yang beraneka ragam untuk semua tingkatan dan lapisan masyarakat umum, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia.

(2)

2.1.2 Tujuan Perpustakaan Umum

Pada dasarnya perpustakaan umum diselenggarakan dengan beberapa tujuan yang ingin dicapai. Menurut Hermawan (2006, 31) tujuan perpustakaan umum antara lain:

1. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menggunakan bahan pustaka yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesejahteraan.

2. Menyediakan informasi yang murah, mudah, cepat dan tepat yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

3. Membantu dalam pengembangan dan pemberdayaan komunitas melalui penyediaan bahan pustaka dan informasi.

4. Bertindak sebagai agen kultural, sehingga menjadi pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.

5. Memfasilitasi masyarakat untuk belajar sepanjang hayat.

Sedangkan Manifesto Perpustakaan Umum yang dikeluarkan oleh UNESCO dalam Hasugian (2009, 77) menyatakan bahwa perpustakaan umum mempunyai empat tujuan utama yaitu:

1. Memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik. 2. Menyediakan informasi yang cepat, tepat dan murah bagi masyarakat,

terutama informasi mengenai topik yang berguna bagi mereka dan yang sedang hangat dibicarakan dalam kalangan masyarakat.

3. Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, sejauh kemampuan tersebut dapat dikembangkan dengan bantuan bahan pustaka.

4. Bertindak sebagai agen kultural artinya perpustakaan umum merupakan pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya. Perpustakaan umum bertugas menumbuhkan budaya masyarakat sekitarnya dengan cara menyelenggarakan pameran budaya, ceramah, pemutaran film dan penyediaan informasi yang dapat meningkatkan keikutsertaan, kegemaran dan apresiasi masyarakat terhadap segala bentuk seni.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diketahui dan disimpulkan bahwa pada dasarnya perpustakaan umum bertujuan memberikan kesempatan bagi masyarakat umum untuk mendapatkan informasi, yang dapat membantu meningkatkan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik. Perpustakaan umum menyediakan sumber informasi yang cepat, murah dan tepat mengenai topik-topik yang sedang hangat di kalangan

(3)

masyarakat maupun topik yang berguna bagi kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu perpustakaan juga turut membina masyarakat menumbuhkan budaya daerah sekitar dengan cara menyelenggarakan pameran budaya, dan menyediakan informasi dalam bentuk bacaan atau lainnya yang dapat meningkatkan keikutsertaan, kegemaran dan apresiasi masyarakat terhadap segala bentuk seni budaya daerah.

2.1.3 Fungsi Perpustakaan Umum

Penyelenggaraan perpustakaan dengan tujuan yang telah dijabarkan sebelumnya, dapat terlaksana apabila perpustakaan umum telah menjalankan fungsinya dengan baik. Fungsi perpustakaan selalu dikaitkan dengan jenis dan misi perpustakaan tersebut. Menurut Yusuf (1996, 21) fungsi perpustakaan umum dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Fungsi edukatif, yaitu perpustakaan umum menyediakan berbagai jenis bahan bacaan berupa karya cetak dan karya rekam untuk dapat dijadikan sumber belajar dan menambah pengetahuan secara mandiri.

2. Fungsi informatif, yaitu perpustakaan umum sama dengan berbagai jenis perpustakaan lainnya, yaitu menyediakan buku-buku referansi, bacaan ilmiah populer berupa buku dan majalah ilmiah serta data-data penting lainnya yang diperlukan pembaca.

3. Fungsi kultural, yaitu perpustakaan umum menyediakan berbagai bahan pustaka sebagai hasil budaya bangsa yang direkam dalam bentuk tercetak/terekam. Perpustakaan merupakan tempat penyimpanan dan terkumpulnya berbagai karya budaya manusia yang setiap waktu dapat diikuti perkembangannya melalui koleksi perpustakaan.

4. Fungsi rekreasi, yaitu perpustakaan umum bukan hanya menyediakan bacaan-bacaan ilmiah, tetapi juga menghimpun bacaan-bacaan hiburan berupa buku-buku fiksi dan majalah hiburan untuk anak-anak, remaja dan dewasa. Bacaan fiksi dapat menambah pengalaman atau menumbuhkan imajinasi pembacanya dan banyak digemari oleh anak-anak dan dewasa.

Dalam fungsinya yang lain Hasugian (2009, 82) menyatakan bahwa, “Fungsi perpustakaan secara umum adalah sebagai penyimpanan, pendidikan, penelitian, informasi, dan kultural”. Sejalan dengan pendapat tersebut Sulistyo-Basuki (1993: 7) juga menyatakan bahwa, “Tujuan perpustakaan berfungsi sebagai agen kultural, artinya perpustakaan umum sebagai pusat utama kehidupan berbudaya masyarakat sekitarnya dan menumbuhkan apresiasi budaya masyarakat”.

(4)

Dari uraian yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa perpustakaan umum memiliki fungsi utama edukatif, informatif, kultural, rekreatif yang mengarah kepada pelestarian hasil budaya umat manusia. Dimana sasaran dari pelaksanaan fungsi perpustakaan ini adalah terbentuknya masyarakat yang mempunyai budaya membaca dan belajar sepanjang hayat.

2.1.4 Peran Perpustakaan dalam Pelestarian Budaya Bangsa

Bangsa Indonesia sangat kaya dengan berbagai macam budaya dari suku bangsa yang beragam. Kebudayaan merupakan unsur sejarah yang penting bagi sebuah bangsa. Bangsa yang besar menghargai warisan sejarah kebudayaannya Menurut Saputra (2013, 1),

Warisan atau khazanah budaya bangsa merupakan karya cipta, rasa, dan karsa masyarakat di seluruh wilayah tanah air Indonesia yang dihasilkan secara sendiri-sendiri maupun akibat interaksi dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaanya dan terus berkembang sampai saat ini.

Seiring dengan perjalanan waktu dan zaman, banyak peninggalan bersejarah yang hilang, rusak bahkan terlupakan. Oleh karena itu diperlukan upaya dalam pelestarian peninggalan budaya. Sangat disayangkan apabila saat ini literatur tentang Indonesia justru banyak ditemukan di Universitas Laiden, Belanda dan di Universitas Cornell, New York AS (Saputra, 2014, 1). Sudah seharusnya pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia berupaya untuk melestarikan warisan yang tidak ternilai harganya itu agar tidak musnah, hancur, lapuk, dipindahtangankan, ataupun hilang karena dicuri, dirampas baik dengan terang-terangan maupun secara halus. Menurut Arif (2006, 2),

Pelestarian warisan budaya bangsa dapat diartikan sebagai suatu kegiatan berkelanjutan dalam menjaga kumpulan kekayaan akal-budi, pengetahuan, dan budaya bangsa untuk tetap hidup dan bermanfaat bagi masyarakat masa kini dan masa yang akan datang.

Sedangkan menurut Hinani (2002, 2) “Perpustakaan memiliki peran kebudayaan sebagai wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa untuk memajukan kebudayaan nasional melalui penyediaan berbagai koleksinya”. Oleh sebab itu upaya

(5)

pelestarian khazanah budaya nasional secara tidak langsung dapat menjadi upaya menjaga martabat bangsa Indonesia di mata Internasional.

Perpustakaan berperan sebagai wahana pelestari sikap budaya manusia dari masa ke masa. Menurut Hasugian (2009, 95), Perpustakaan bertugas menyimpan khasanah budaya bangsa serta tempat untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat”. Sedangkan menurut Astutiningtyas (2006, 11) “Perpustakaan yang hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan tidak akan memberikan pengaruh yang berarti dalam upaya pelestarian warisan budaya berupa nilai-nilai luhur”. Maka disinilah perpustakaan sangat berperan tidak hanya sekedar gedung atau ruang penyimpanan hasil pemikiran, ide atau gagasan seseorang, tetapi juga sebagai wahana pelestari budaya bangsa dalam upaya memajukan kebudayaan nasional. Melaksanakan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap budaya bangsa, contohnya dengan mengadakan pameran budaya, pertunjukan seni daerah dan menyediakan informasi dalam bentuk bacaan atau lainnya.

Pernyataan mengenai keberadaan perpustakaan sebagai lembaga yang berfungsi melestarikan budaya tertuang dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan yang menyatakan bahwa pemerintah provinsi dan kabupaten/kota berkewajiban untuk menyelenggarakan dan mengembangkan perpustakaan umum daerah berdasar kekhasan daerah masing-masing dan keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Perpustakaan sebagai sistem pengelolaan rekaman gagasan, pemikiran, pengalaman dan pengetahuan manusia, mempunyai fungsi utama melestarikan hasil budaya umat manusia tersebut, khususnya yang berbentuk dokumen karya cetak dan karya rekam.

Sebenarnya pemerintah juga sudah mulai menyadari arti penting kebudayaan dan peran perpustakaan dalam pelestariannya. Untuk itu pemerintah mengaturnya dalam berbagai produk perundang-undangan. Menurut Dwiyanto (2006, 1) setidaknya hingga saat ini telah ada dua undang dan satu rancangan undang-undang Perpustakaan Nasional terkait dengan peran perpustakaan dalam pelestarian khazanah budaya bangsa. undang-undang tersebut yaitu sebagai berikut:

(6)

1. UU hak cipta,

Sejak diundang-undangkan pada tahun 1982 undang-undang hak cipta di Indonesia mengalami beberapa kali revisi, saat ini UU yang berlaku yaitu UU No.19 Th 2002. Terkait dengan kegiatan pelestarian ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu, berapa lama hak cipta itu berlaku atas karya dan bagaimana dengan karya yang tidak diketahui penciptanya. Negara juga memegang hak cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah dan benda budaya nasional lainnya, folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi dan karya seni lainnya.

2. UU serah simpan karya cetak dan karya rekam,

Pemerintah telah membuat UU No. 4 th 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam dilengkapi dengan PP No. 70th 1991 Pasal 4 ayat (c) UU No. 4th 1990, menyatakan salah satu tujuan perpustakaan adalah menyediakan wadah bagi pelestarian hasil budaya bangsa, baik berupa karya cetak, maupun karya rekam, melalui program wajib serah simpan karya cetak dan karya rekam sesuai dengan undang-undang serah simpan karya cetak dan karya rekam. Kewajiban serah-simpan karya cetak dan karya rekam yang diatur dalam Undang-undang ini bertujuan untuk mewujudkan "Koleksi Deposit Nasional" dan melestarikannya sebagai hasil budaya bangsa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

3. Rancangan UU perpustakaan, termasuk juga keputusan presiden mengenai pembentukan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk mewujudkan koleksi deposit nasional. Sejak tahun 2005 PERPUSNAS mulai menyusun rancangan undang-undang perpustakaan. Terkait dengan pelestarian, sebelumnya PERPUSNAS menggunakan istilah pelestarian pustaka budaya bangsa sesuai dengan istilah yang diundangkan dalam Keppres No. 67 th 2000. Namun pada RUU perpustakaan istilah ini diganti menjadi pelestarian khazanah budaya bangsa. Untuk mempertegas fungsi perpustakaan sebagai pelestari khazanah budaya bangsa, UU No. 4/90 akan dilebur dalam undang-undang perpustakaan yang baru ini, termasuk didalamnya pengaturan dengan mengenai hak cipta, terutama yang dimiliki Negara. RUU Perpustakaan masih dalam bentuk draft, untuk itu perlu diadakan pengkajian lebih mendalam dan evaluasi dari berbagai pihak sebelum disahkan.

Terkait dengan peran dan keberadaan perpustakaan dalam menyelenggarakan dan mengembangkan perpustakaan umum berdasarkan kekhasan daerah. Pemerintah melalui Badan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga telah memilih enam Provinsi yang dianggap mampu menjadi pusat unggulan kebudayaan lokal. Daerah yang telah ditunjuk menjadi Center Of Excellent dalam pelestarian budaya lokal tersebut adalah provinsi Riau sebagai pusat informasi kebudayaan Melayu, Jawa

(7)

Tengah sebagai pusat kebudayaan di seluruh pulau Jawa, Bali sebagai pusat informasi kebudayaan yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan menjadi pusat kebudayaan di seluruh pulau Sulawesi, Papua barat sebagai pusat kebudayaan wilayah Papua dan Provinsi Kalimantan Timur sebagai pusat kebudayaan seluruh pulau Kalimantan yang meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perpustakaan diselenggarakan selain berperan sebagai wahana pelestari berbagai jenis khazanah budaya bangsa, juga berperan membina dan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah masing-masing dan karya anak bangsa yang ada di Indonesia serta dapat mewariskan budaya tersebut kepada setiap generasi baik dalam bentuk karya tulis, karya cetak maupun karya rekam.

2.2 Pelayanan Perpustakaan Umum

Pelayanan perpustakaan menjadi suatu aspek penting di perpustakaan karena pelayanan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam menyelenggarakan perpustakaan. Menurut Sutarno (2006, 90) “Pelayanan perpustakaan merupakan kegiatan yang memberikan layanan yang baik sebagaimana dikehendaki oleh pemakai dalam pemberian informasi”. Sedangkan menurut Murniaty (2011, 2)

“Pelayanan perpustakaan dapat diartikan sebagai kegiatan memberi bantuan pada pengguna untuk dapat memperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Termasuk didalamnya pemberian bantuan terhadap penggunaan seluruh sarana dan fasilitas yang tersedia di perpustakaan.”

Dapat disimpulkan bahwa pelayanan perpustakaan merupakan kegiatan yang berkaitan dengan memberikan bantuan dengan menawarkan jasa dan koleksi kepada pengguna sebagai upaya pihak perpustakaan untuk menyampaikan informasi kepada pengguna secara tepat dan maksimal. Jika dikaitkan dengan Layanan Bilik Melayu maka dapat diartikan bahwa semua kegiatan pemberian bantuan kepada pengguna baik dalam bentuk penawaran koleksi maupun penggunaan sarana dan prasarana lainnya yang telah disediakan Layanan Bilik Melayu untuk memenuhi kebutuhan pengguna.

(8)

2.2.1Unsur-unsur Pelayanan di Perpustakaan

Suatu perpustakaan dapat dikatakan baik apabila telah memberikan pelayanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pengguna. Dalam menjalankan pelayanan yang tepat sasaran tersebut tentunya ada beberapa unsur yang harus dipenuhi. Menurut Mudhoffir (1986, 64) “Pelayanan di perpustakaan memiliki empat unsur, yaitu: koleksi, fasilitas atau sarana, staff atau pustakawan dan pengguna”. Keempat unsur tersebut harus terlaksana dengan baik agar menghasilkan pelayanan yang diharapkan. Sedangkan menurut Soeatminah (1992, 130) “Kegiatan layanan dapat menjadi tolok ukur keberhasilan perpustakaan, namun layanan juga harus didukung dengan pembinaan koleksi dan tenaga pelayanan”. Dengan mengacu pada kedua pendapat tersebut maka untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada pengguna,perpustakaan harus memenuhi beberapa unsur seperti koleksi, sarana dalam layanan dan pustakawan.

Selain itu untuk melihat apakah suatu pelayanan yang disediakan perpustakaan tersebut baik dan berkualitas Masruri menyatakan (2003, 167) ada lima aspek pokok yang harus diperhatikan sebagai berikut:

1. Keandalan (realibility), kemampuan lembaga untuk melaksanakan jasa layanan dengan tepat dan percaya.

2. Keresponsifan (responsiveness), merupakan kemauan untuk membantu pemustaka dalam memberikan jasa yang cepat dan tanggap.

3. Keyakinan (assurance), merupakan pengetahuan dan kesopanan pustakawan serta kemampuan untuk dapat menimbulkan kepercayaan, keyakinan dalam hati pemustaka.

4. Empati (emphaty), merupakan kepedulian, memberikan perhatian bagi semua pelangggan.

5. Berwujud (tangibles), berupa penampilan fisik, peralatan, perabotan, personal dan media komunikasi.

Dengan menyediakan layanan yang memperhatikan aspek di atas maka diharapkan organisasi perpustakaan dan sumber daya manusia dapat memberikan pelayanan yang konkrit dan sesuai standar yang dijanjikan kepada pengguna. Unsur-unsur dalam pelayanan tersebut akan dibahas pada uraian berikut:

(9)

2.2.2Jenis Layanan

Layanan di sebuah perpustakaan merupakan suatu hal yang penting dalam penyelenggaraan perpustakaan. Menurut Darmono (2001, 134) “Layanan perpustakaan adalah menawarkan semua bentuk koleksi yang dimiliki perpustakaan kepada pemakai yang datang ke perpustakaan dan meminta informasi yang dibutuhkannya”. Sedangkan menurut Sutarno (2006, 90) “Layanan di perpustakaan dapat menjadi barometer keberhasilan penyelenggaraan perpustakaan karena kegiatan ini berhubungan langsung dengan masyarakat”. Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa layanan perpustakaan merupakan kegiatan penawaran jasa dan koleksi sesuai dengan kebutuhan pengguna untuk memperoleh informasi sesuai dengan kebutuhannya.

Layanan pengguna juga merupakan salah satu kegiatan pokok di perpustakaan. Menurut Soetminah (1992, 130) “Layanan yang diberikan oleh perpustakaan kepada pengguna merupakan tolok ukur keberhasilan kerja sebuah perpustakaan”. Hal ini terjadi karena kegiatan layanan merupakan kegiatan yang mempertemukan langsung pustakawan dengan penggunanya, penilaian dan persepsi pengguna akan muncul ketika kegiatan tersebut berlangsung. Menurut Suwarno (2009, 60) “Interaksi seorang pustakawan terhadap pemakainya merupakan pelayanan personal yang berarti bagaimana cara pelayanan yang diberikan”. Hal inilah yang dapat menjadi penilaian perpustakaan dimata pengguna. Interaksi yang terjadi antara pengguna dan pustakawan dalam kegiatan layanan di perpustakaan dapat menimbulkan persepsi baik dan buruk oleh pengguna.

Dalam memberikan layanan kepada pengguna perpustakaan juga perlu menentukan sistem layanan yang akan digunakan, hal ini dilakukan agar pengguna dapat memanfaatkan layanan dan koleksi perpustakaan dengan baik. Penentuan sistem layanan yang digunakan tentu harus sesuai dengan kebutuhan perpustakaan. Menurut Darmono (2001, 137) sistem layanan perpustakaan ada dua yaitu:

1.Sistem layanan terbuka (Opened Access).

Menurut Rahayuningsih (2007, 93), “Sistem layanan terbuka adalah sistem yang memungkinkan pengguna masuk kedalam ruang koleksi untuk memilih dan

(10)

mengambil sendiri koleksi yang diinginkan”. Sistem layanan terbuka memberikan kebebasan kepada pengguna perpustakaan memilih dan mengambil sendiri pustaka yang dikehendakinya dari ruang koleksi. Keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan sistem layanan terbuka adalah:

a. Pemakai bebas memilih bahan pustaka yang dibutuhkan langsung pada jajaran koleksi.

b. Pemakai dapat menemukan koleksi lain yang sesuai atau menarik minat langsung pada jajaran koleksi sehingga dapat meningkatkan minat baca pemakai.

c. Pemakai dapat langsung mencari alternatif lain dengan subjek yang sama pada jajaran koleksi secara cepat.

d. Tidak memerlukan petugas yang banyak untuk melayani pengambilan koleksi. Sedangkan kerugian atau kelemahan dari sistem layanan terbuka adalah:

a. Frekwensi kerusakan lebih besar.

b. Kemungkinan bahan pustaka hilang lebih tinggi.

c. Terjadi kerusakan koleksi, susunan buku menjadi tidak teratur. Sehingga pustakawan harus lebih sering menyusun buku. (Sjahrial, 2000, 33)

2.Sistem layanan tertutup (Closed Access),

Sistem layanan tertutup menurut Soeatminah (1992, 131) adalah “Suatu sistem layanan yang tidak memperbolehkan pengunjung masuk keruang koleksi, pengunjung diperbolehkan mencari koleksi pada katalog yang telah disediakan dan dengan bantuan pustakawan untuk mengambilkannya”. Pada sistem layanan tertutup setiap pengguna harus mengetahui terlebih dahulu pengarang atau judul buku subjek yang diinginkan kemudian meminta petugas perpustakaan mencarikannya keruang koleksi. Adapun keuntungan menggunakan sistem layanan tertutup adalah:

a. Susunan koleksi akan tetap rapi karena hanya petugas perpustakaan yang dapat masuk kejajaran koleksi.

b. Terjadinya kehilangan dan kerusakan bahan perpustakaan dapat diperkecil. c. Ruangan perpustakaan yang disediakan tidak perlu luas.

d. Untuk koleksi yang sangat rentan terhadap kerusakan maka sistem ini sangat sesuai.

Sedangkan kerugian menggunakan sistem layanan tertutup

a. Dalam menemukan bahan pustaka pengguna hanya dapat mengetahui ciri-ciri kepengarangan dan ciri-ciri fisik bahan pustaka yaitu judul, pengarang, ukuran buku dan jumlah halaman.

(11)

b. Judul buku yang dipilih melalui katalog kartu maupun online tidak selalu menggunakan buku yang dimaksud.

c. Pengguna tidak dapat melakukan browsing dijajaran rak.

d. Jika peminjam banyak, dan tugas perpustakaan relativ terbatas hal ini membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak (Sjahrial, 2000, 33)

Berdasarkan uraian tersebut maka dapat diketahui bahwa sistem layanan yang diberlakukan di perpustakaan ada dua macam yaitu sistem layanan terbuka dan sistem layanan tertutup. Sistem layanan terbuka memungkinkan pengguna untuk memilih koleksi langsung dirak sebaliknya sistem layanan tertutup tidak memperbolehkan pengguna memilih langsung kerak melainkan pencarian melalui katalog dan bantuan pustakawan. Sistem yang akan digunakan disebuah perpustakaan berkaitan dengan bagaimana cara perpustakaan memberikan kesempatan pada pengguna untuk menemukan dan memanfaatkan informasi yang dimiliki perpustakaan tersebut

Selain menentukan sistem yang akan digunakan dalam layanan pengguna. Perpustakan terutama perpustakaan umum harus memilik layanan yang beraneka ragam, sesuai dengan kebutuhan pengguna yang juga berbeda-beda dan bermacam-macam. Menurut Hermawan (2006, 31) jenis-jenis layanan perpustakaan umum antara lain:

1. Layanan pendidikan, perpustakaan menyediakan koleksi dan informasi yang dibutuhkan pengguna dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan. 2. Layanan informasi, melalui perpustakaan umum perpustakan akan

mendapatkan layanan informasi dengan mudah, murah dan cepat. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan aktifitas masyarakat.

3. Layanan rekreatif, perpustakaan umum memberikan layanan bagi pengguna yang memungkinkan pengguna perpustakaan menggunakan waktu luangnya untuk berekreasi, baik melalui bahan pustaka tertulis maupun media.

Sedangkan menurut Sutarno (2006, 92), “Ada beberapa layanan yang dapat dikembangkan oleh perpustakaan antara lain: layanan informasi, layanan penelitian, layanan rekreasi, sirkulasi, referensi, penelusuran literatur, bimbingan pemakai, dan lain sebagainya”. Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa pada umumnya jenis layanan yang ada di perpustakaan disediakan berdasarkan kebutuhan pengguna. Layanan yang umumnya disediakan oleh pihak perpustakaan antara lain terdiri dari layanan sirkulasi, layanan referensi, layanan deposit, layanan audiovisual,

(12)

layanan terbitan berseri dan layanan anak. Keberhasilan suatu perpustakaan dapat diukur dari bagaimana perpustakaan menyajikan berbagai pelayanan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Dari beberapa pendapat di atas, maka yang dimaksud dengan layanan adalah menawarkan beraneka ragam jenis koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan kepada pengguna dengan sistem layanan yang telah ditentukan sesuai kebutuhan informasi pengguna. Jika dikaitkan dengan Layanan Bilik Melayu Maksudnya adalah menawarkan berbagai jenis koleksi yang tersedia pada Layanan Bilik Melayu baik dalam bentuk cetak maupun karya rekam sesuai dengan kebutuhan pengguna Layanan Bilik Melayu.

2.2.3 Koleksi

Koleksi perpustakaan merupakan salah satu unsur yang penting. pelayanan perpustakaan tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh koleksi yang tepat. Menurut Siregar (2002, 2), “Koleksi perpustakaan adalah semua bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah dan disimpan untuk disajikan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan pengguna akan informasi”. Kelengkapan koleksi disebut juga sebagai salah satu faktor utama yang dapat digunakan sebagai indikator suksesnya pelayanan karena kelengkapan koleksi di perpustakaan dapat menjawab kebutuhan informasi pengguna.

Untuk dapat memberikan pelayanan, perpustakaan harus berupaya menyediakan koleksi dan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Menurut Sutarno (2006, 75) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyediakan koleksi perpustakaan antara lain:

1. Kerelevanan, jenis koleksi yang akan dilayankan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna perpustakaan.

2. Berorientasi kepada pengguna perpustakaan. 3. Kelengkapan koleksi.

4. Kemutakhiran koleksi.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan yang dimaksud dengan koleksi adalah semua bahan yang dikumpulkan dan disajikan kepada pengguna demi

(13)

memenuhi kebutuhan informasi pengguna dengan tetap memperhatikan aspek kelengkapan dan kemutakhiran informasi tersebut, jika dikaitkan dengan Layanan Bilik Melayu maka maksudnya adalah semua bahan yang dikumpulkan, diolah, disimpan serta disajikan pihak Layanan Bilik Melayu dengan memperhatikan ketersediaan dan kelengkapan koleksi yang ada demi pemenuhan kebutuhan informasi pengguna Layanan Bilik Melayu. Selain itu keberagaman jenis koleksi yang dimiliki oleh Layanan Bilik Melayu tentu juga dapat memberikan alternatif yang lebih banyak bagi pengguna untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. 2.2.4Pustakawan

Perpustakaan tentu tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya tenaga professional yang berperan dalam pelaksanakan kegiatan perpustakaan. Perpustakaan yang dilengkapi sarana dan fasilitas yang lengkap, koleksi bahan pustaka yang memadai, apabila tidak ditunjang oleh pustakawan yang mampu bekerja secara professional, maka perpustakaan tersebut tidak akan berarti. Menurut Suhernik (2006, 73),

Pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan.

Sedangkan menurut Hasugian (2009, 138), “Pustakawan adalah seseorang yang bekerja di perpustakaan yang memiliki keahlian dan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan dalam bidang perpustakaan dan informasi”. Berdasarkan pendapat ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang bertanggung jawab melaksanakan kegiatan pelayanan di perpustakaan yang telah memperoleh pendidikan mengenai perpustakaan dan informasi. Untuk dapat disebut sebagai pustakawan harus memenuhi beberapa persyaratan. Pustakawan Indonesia yang ideal harus memiliki beberapa persyaratan. Menurut Suhernik (2006: 73) ada beberapa persyaratan antara lain sebagai berikut:

1. Aspek professional. Pustakawan Indonesia berpendidikan formal ilmu pengetahuan. Pustakawan juga dituntut gemar membaca, trampil, kreatif, cerdas, tanggap, berwawasan luas, berorientasi ke depan, mampu menyerap

(14)

ilmu lain, objektif (berorientasi pada data) generalis di satu sisi, tetapi memerlukan disiplin ilmu tertentu di pihak lain, berwawasan lingkungan, mentaati etika profesi pustakawan, mempunyai motivasi tinggi, berkarya di bidang kepustakawanan dan mampu melaksanakan penelitian dan penyuluhan,

2. Aspek kepribadian dan perilaku. Pustakawan indonesia harus bertakwa kepada tuhan yang maha esa, bermoral pancasila, mempunyai tanggung jawab sosial dan kesetiakawanan, memiliki etos kerja yang tinggi, mandiri, loyalitas yang tinggi terhadap profesi, luwes, komunikatif dan bersikap suka melayani, ramah dan simpatik, terbuka terhadap kritik dan saran, selalu siaga dan tanggap kemajuan dan perkembangan ilmu dan teknologi, berdisiplin tinggi dan menjunjung tinggi etika pustakawan indonesia.

Disamping persyaratan di atas, agar layanan yang diberikan kepada pengguna lebih berhasil menurut Soeatminah (1992, 132) pustakawan juga harus memiliki persyaratan sebagai berikut:

1. Memiliki kemampuan dan kemauan dalam melayani pengguna dengan ramah, baik, sopan, teliti dan tekun.

2. Berpenampilan menyenangkan.

3. Pandai bergaul sehingga orang lain merasa diperhatikan. 4. Memiliki pengetahuan yang luas.

5. Dan lain sebagainya.

Dari penjelasan yang telah diuraikan, maka dapat diketahui bahwa setiap pustakawan yang bertugas di perpustakan harus mampu bekerja secara profesional, berpenampilan menyenangkan serta memiliki kepribadian yang ramah sehingga pengguna yang berkunjung merasa diperhatikan. Apabila dikaitkan dengan Layanan Bilik Melayu maksudnya adalah seseorang yang bertanggung jawab melaksanakan kegiatan pelayanan pada Layanan Bilik Melayu yang memiliki amanat dan beperan besar dalam pelaksanaan kegiatan pada layanan tersebut. Pustakawan yang bertugas pada Layanan Bilik Melayu diminta untuk mampu bersikap baik dalam memberikan bantuan ataupun bimbingan secara tepat dan cepat kepada pengguna. Berdasarkan tugas yang diamanatkan tersebut maka pustakawan Layanan Bilik Melayu juga bertanggung jawab dalam pelestarian budaya bangsa sehingga dapat membantu meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah.

(15)

2.2.5Fasilitas atau Sarana Perpustakaan

Fasilitas perpustakaan merupakan sarana yang disediakan oleh perpustakaan dalam memudahkan pengguna memanfaatkan perpustakaan. Menurut Yusup (2009, 467),” Fasilitas perpustakaan adalah segala peralatan dan perabotan serta berbagai alat bantu lainnya yang disediakan perpustakaan, berfungsi sebagai fasilitas untuk memudahkan pemanfaatan koleksi informasi dan sumber informasi yang ada di perpustakaan”. Fasilitas tersebut antara lain:

1. Gedung dan Ruangan Perpustakaan.

Dalam kegiatan dan pelaksanakan perpustakaan diperlukan gedung dan ruangan. Keadaan ruang perpustakaan juga merupakan salah satu hal yang penting dalam penyelenggarakan perpustakaan. Gedung dan ruangan tidak bisa dipisahkan dari perpustakaan menurut Sulistyo-Basuki dalam Lasa (2005, 147) “Perpustakaan bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual”. Sedangkan Siregar (2007, 14) menyatakan bahwa ruang baca adalah “Ruangan yang dipergunakan oleh pengguna/pengunjung perpustakaan untuk membaca bahan perpustakaan yang diperlukan”. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ruang perpustakaaan adalah bagian dari gedung perpustakaan yang dipergunakan pengguna dalam kegiatan memanfaatkan layanan dan koleksi perpustakaan.

2. Perabot dan Perlengkapan Perpustakaan.

Perabot dan perlengkapan di perpustakaan tergantung pada jenis atau sistem layanan yang diterapkan untuk layanan kepada pengguna. Menurut Siregar (2007, 18) perabot adalah:

Barang-barang yang berfungsi sebagai wadah atau wahana penunjang fungsi perpustakaan seperti meja, kursi, rak, buku dan lain-lain. Sedangkan perlengkapan adalah barang-barang yang merupakan perlengkapan dari suatu komponen dan kegiatan perpustakaan antara lain mesin tik, komputer, layar proyektor dan lain-lain.

Sedangkan menurut Sulistyo-Basuki (1993, 309) Perabot dan perlengkapan bergerak mencakup barang-barang untuk umum, ruang kerja, pemberian jasa serta

(16)

barang tambahan lainnya. Adapun perlengkapan, peralatan dan perabot utama sebuah perpustakaan menurut Sutarno (2006, 85) yaitu:

a. Rak bahan pustaka: buku, majalah, surat kabar, pandang dengar (audio visual).

b. Lemari katalog; ukurannya disesuaikan dengan ukuran kartu katalog. c. Meja kursi untuk para pembaca di ruang baca, bentuknya dapat

bermacam-macam.

d. Meja sirkulasi/layanan.

e. Mesin tik untuk pembuatan kartu katalog dan surat-surat. f. Meja kerja pengolahan dan untuk pegawai.

g. Lemari penitipan tas/ barang. h. Papan pamer (display).

i. Alat baca khusus untuk koleksi tertentu. j. Lemari arsip untuk tata usaha.

k. Papan pengumuman. l. Kotak saran.

m. Jam dinding.

n. Troli pembawa bahan pustaka. o. Komputer, dan lain-lain.

Dapat disimpulkan bahwa perabot dan perlengkapan perpustakaan adalah barang-barang yang disediakan berdasarkan jenis layanan untuk menunjang fungsi dan kebutuhan perpustakaan.

3. Sarana Penelusuran Informasi.

Perpustakaan sebagai lembaga yang menawarkan jasa dalam bentuk informasi harus menyediakan sarana yang diperlukan dalam penelusuran. Agar setiap informasi dan bahan pustaka dapat dengan mudah dan cepat ditemukan. Katalog perpustakaan merupakan salah satu sarana dalam penelusuran dan temu balik informasi. Menurut Sulistyo-Basuki (1993, 315), “Katalog perpustakaan adalah daftar buku dalam sebuah perpustakaan atau dalam sebuah koleksi”. Sarana penelusuran informasi tidak hanya berupa katalog menurut Soeatminah (1992, 52), “Jasa penelusuran di perpustakaan juga meliputi pembuatan fotokopi dari informasi yang diperoleh”. Tanpa adanya sarana penelusuran informasi di perpustakaan pengguna akan mengalami kesulitan dalam mengakses informasi yang ada di perpustakaan.

Seiring perkembangan zaman katalog mengalami perubahan yang lebih baik. Awalnya katalog hanya dapat diakses secara manual tetapi sekarang dapat diakses

(17)

secara online. Katalog yang aksesnya dilakukan secara online merupakan katalog komputer terpasang atau disebut juga Online Public Access Catalogue (OPAC). Menurut Hasugian (2009, 155) “OPAC adalah suatu sistem temu balik informasi berbasis komputer yang digunakan pengguna untuk menelusur koleksi suatu perpustakaan atau informasi lainnya”.

Berdasarkan uraian tersebut maka dapat diketahui bahwa perpustakaan perlu menyediakan alat penelusuran agar dapat mempermudah pengguna dalam menemu balikkan informasi. Jasa penelusuran tersebut dapat disediakan oleh perpustakaan dengan membuat katalog baik secara manual maupun penelusuran secara online. Dari uraian tersebut, apabila dikaitkan dengan Layanan Bilik Melayu maka maksudnya adalah segala sarana yang berkaitan dengan peralatan dan perabotan yang disediakan perpustakaan pada Layanan Bilik Melayu seperti ruangan yang dilengkapi perabotan utama (rak buku, lemari, meja, kursi) dan sarana penelusuran informasi (katalog dan mesin fotokopi) untuk mempermudah pengguna memanfaatkan Layanan Bilik Melayu.

2.3 Layanan Deposit

Salah satu fungsi perpustakaan umum adalah sebagai pusat deposit. Untuk lebih memahami mengenai Layanan Deposit pada perpustakaan maka pada bagian ini akan diuraikan mengenai pengertian Layanan Deposit, tujuan dan fungsi Layanan Deposit serta jenis koleksi Layanan Deposit.

2.3.1 Pengertian Layanan Deposit

Layanan deposit berfungsi menyimpan hasil karya yang diterbitkan suatu daerah. Menurut Hasmaniah (1998, 15), “Deposit yaitu pusat penyimpan bahan pustaka yang menyangkut suatu daerah, baik yang diterbitkan didaerah tersebut maupun ditempat lain”. Sedangkan dalam Buku Panduan Koleksi Perpustakaan Daerah (1992, 30), “Koleksi deposit adalah pusat penyimpanan bahan pustaka yang diterbitkan di wilayah propinsi dimana perpustakaan daerah berdominasi: bahan perpustakaaan yang berisi tentang aspek-aspek di wilayah tersebut”. Oleh karena itu perpustakaan harus bisa menyediakan layanan yang dapat mendukung perkembangan

(18)

pendidikan dan budaya di daerah tersebut serta mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya budaya bangsa.

2.3.2 Tujuan dan Fungsi Layanan Deposit

Layanan yang dimiliki oleh perpustakaan memiliki tujuan dan fungsi masing-masing. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 telah dijelaskan mengenai tujuan serah simpan bahwa “Kewajiban serah-simpan karya rekam film ceritera atau film dokumenter bertujuan untuk mewujudkan koleksi nasional dan melestarikannya sebagai hasil budaya bangsa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Sedangkan menurut Nasution (1990, 2) dinyatakan bahwa tujuan koleksi deposit daerah adalah:

1. Agar perpustakaan wilayah menjadi pusat informasi yang lengkap tentang daerahnya sehingga setiap perpustakaan wilayah mampu memberikan jawaban dan informasi tentang daerah dimana perpustakaan itu berada.

2. Agar perpustakaan wilayah dapat melakukan pengumpulan, pelestarian dan pengorganisasian semua jenis bahan pustaka yang bersifat kedaerahan dari daerahnya masing-masing baik yang sudah pernah terbit, terekam ataupun dalam bentuk manuskrip dan lain-lain.

3. Agar perpustakaan wilayah dapat meningkatkan kegiatan penelitian dan penginventarisasian terhadap bahan pustaka yang sudah pernah dipublikasikan dengan bekerja sama dengan semua instansi dan masyarakat yang relevan. 4. Agar perpustakaan wilayah dapat menimbulkan usaha menggali dan meneliti

sumber-sumber informasi daerah yang potensial untuk menunjang pembangunan bangsa.

5. Meningkatkan upaya penerbitan bibliografi dan penyebaran informasi tentang daerahnya masing-masing.

6. Menyempurnakan sarana untuk pelaksanaan layanan bahan pustaka dan informasi daerah secara regional dan nasional.

Berdasarkan tujuan layanan deposit tersebut maka dapat diketahui fungsi dari layanan deposit adalah sebagai pusat pelestarian hasil budaya bangsa, baik dalam bentuk fisik maupun dari segi kandungan informasinya. Serta meningkatkan penerbitan dan penyebaran hasil karya anak bangsa yang diterbitkan di daerah dan menjadi pusat informasi daerah yang lengkap bagi masyarakat sekitar.

(19)

2.3.3 Jenis Koleksi Layanan Deposit

Pada layanan deposit terdapat beberapa jenis koleksi, menurut Nasution dalam Huda (2007, 18) jenis koleksi deposit adalah:

1. Terbitan pemerintah sendiri seperti peraturan daerah, surat-surat keputusan, pidato-pidato resmi, lembaran negara, statistik, dan laporan tahunan.

2. Hasil-hasil penelitian dari segala bidang yang dilaksanakan di daerah, hasil seminar, lokakarnya, temukarya, dan bahan lain yang serupa baik dari intansi pemerintah dan swasta.

3. Hasil terbitan perpustakaan daerah, katalog induk, accession list, majalah-majalah yang diterbitkan oleh perpustakaan daerah.

4. Buku-buku dokumen langka tentang daerah, peta bahan kartografis daerah dan perjalanan.

5. Tulisan dan ringkasan lengkap atau rekaman lengkap tentang kepariwisataan dan hal-hal yang lain yang berkaitan dengan turisme, tentang sejarah daerah, tentang silsilah keturunan suatu bangsa disuatu daerah kemudian tentang hasil-hasil penelitian sejarah dan tentang kebudayaan, kesusasteraan dan bahasa daerah.

6. Rekaman musik tradisional dan ciptaan-ciptaan baru di daerah rekaman kegiatan penelitian sejarah lisan baik kaset, slide, film, video, dan rekaman tarian daerah serta permainan rakyat.

Sedangkan jenis koleksi layanan deposit menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 1991 salah satunya diperoleh dari hasil serah simpan karya cetak dan karya rekam. Dalam hal ini dinyatakan bahwa,

“Terdapat tujuh jenis karya cetak yang wajib diserahkan kepada Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Umum Daerah yang terdiri dari: buku fisik, buku non fisik, buku rujukan, karya artistik, karya ilmiah yang dipublikasikan, majalah, surat kabar, peta, brosur dan karya cetak lain yang ditetapkan oleh Kepala Perpustakaan Nasional”.

Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 Jenis karya rekam film ceritera atau film dokumenter yang diserah-simpankan kepada Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah “terdiri dari atas karya intelektual dan artistik yang direkam dan digandakan dalam bentuk media karya rekam, pita, piringan, dan bentuk media karya rekam lain sesuai dengan perkembangan teknologi”.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa jenis koleksi deposit biasanya diperoleh melalui serah simpan karya cetak dan karya rekam, berupa

(20)

terbitan pemerintah, hasil-hasil penelitian, hasil terbitan perpustakaan daerah, tulisan, buku-buku dokumen langka dan rekaman. Apabila dikaitkan dengan Layanan Bilik Melayu yang juga dikenal sebagai Layanan Deposit maka dapat diartikan bahwa Layanan Bilik Melayu merupakan salah satu layanan yang disediakan oleh perpustakaan umum yang bertujuan melestarikan berbagai kandungan informasi dari hasil karya anak bangsa yang diterbitkan di daerah Riau baik berupa karya cetak maupun karya rekam.

2.4Persepsi

Manusia mempunyai persepsi yang berbeda terhadap suatu kejadian. Untuk lebih memahami bagaimana persepsi bisa terjadi, maka pada bagian ini akan dijelaskan pengertian persepsi, proses pembentukan persepsi, pengelompokkan persepsi dan dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi.

2.4.1 Pengertian Persepsi

Perbedaan pengetahuan yang dimiliki maupun pengalaman yang dialami oleh seseorang terhadap suatu kejadian, mengakibatkan seseorang memiliki persepsi yang berbeda terhadap suatu kejadian. Persepsi berasal dari kata percipere yang berarti menerima, perception, pengumpulan, penerimaan, pandangan. Persepsi menurut Mulyana (2002, 167) adalah “Proses internal yang memungkinkan seseorang memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku”. Sedangkan menurut Suwarno (2009, 52), “Persepsi adalah suatu proses membuat penilaian atau membangun kesan mengenai berbagai macam hal yang terdapat di lapangan penginderaan seseorang”. Sementara itu Rakhmat (2001, 51) juga mendefenisikan, “Persepsi sebagai suatu pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan meyimpulkan informasi, menafsirkan pesan dan memberikan makna pada stimulasi inderawi (sensory stimuly)”.

Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah proses diterimanya rangsangan berupa objek maupun peristiwa yang menimbulkan kesan yang dapat mempengaruhi penilaian dan perilaku seseorang.

(21)

Pada dasarnya persepsi merupakan proses kognitif yang dialami setiap orang ketika berusaha memahami informasi yang diterima. Jika dikaitkan dengan Persepsi pengguna Layanan Bilik Melayu maka maksudnya adalah penilaian pengguna Layanan Bilik Melayu tentang berbagai macam hal yang diterima pada saat melakukan kegiatan dan interaksi pada Layanan ini.

2.4.2Proses Pembentukan Persepsi

Proses terjadinya persepsi dapat dikatakan sebagai suatu proses yang unik karena menggambarkan sesuatu yang terkadang berbeda dengan kenyataan. Proses tersebut dapat dikatakan sebagai praduga atau anggapan sesaat. Proses terjadinya persepsi dapat dimulai dari objek yang menimbulkan rangsangan hingga dapat disadari dan dimengerti. Menurut Kenneth dalam Mulyana (2002, 169) “Ada tiga aktivitas dalam proses persepsi yaitu seleksi, organisasi, dan interpretasi”. Sedangkan menurut Thoha (2003, 145) proses terbentuknya persepsi didasari pada beberapa tahapan:

1. Stimulus atau rangsangan. Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan pada suatu stimulus atau rangsangan yang hadir dari lingkungannya.

2. Registrasi. Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik yang berupa penginderaan dan syaraf seseorang berpengaruh melalui alat indera yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang terkirim kepadanya. Kemudian mendaftar semua informasi yang terkirim kepadanya tersebut.

3. Interprestasi. Interprestasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya. Proses interprestasi bergantung pada cara pendalamannya, motivasi dan kepribadian seseorang.

Sedangkan menurut Widyatun (1999, 111), “Proses terjadinya persepsi adalah karena objek yang merangsang untuk ditangkap oleh panca indera objek menjadi perhatian panca indera kemudian objek perhatian tadi dibawa ke otak hingga terjadi kesan atau respon, respon dibalikkan ke indera berupa tanggapan atau persepsi hasil kerja indera berupa pengalaman hasil pengolahan otak”.

(22)

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa proses persepsi terjadi ketika individu mendapatkan stimulus atau rangsangan kemudian individu melakukan seleksi terhadap stimulus yang mengenainya, dan disini berperannya perhatian yang kemudian menjadi respon dalam pikiran manusia. Respon sebagai reaksi terhadap stimulus tersebut dan kemudian terjadilah persepsi. Apabila dikaitkan dengan Layanan Bilik Melayu maka proses pembentukan persepsi pengguna Layanan Bilik Melayu terjadi ketika pengguna berkunjung dan menemukan objek yang dapat merangsang panca indera atau melakukan interaksi kemudian terjadilah proses registrasi dalam diri pengguna yang menghasilkan respon dalam bentuk pengalaman positif maupun pengalaman negatif.

2.4.3Pengelompokan Persepsi

Pengelompokkan persepsi secara garis besar dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu persepsi mengenai benda dan persepsi sosial. Menurut Suwarno (2009, 53) yang membedakan persepsi benda dan persepsi sosial adalah

Sifat dari unsur-unsur mediasi atau pengantar, kemajemukan stimulinya dan peranan dari proses kontruksi dalam pemberian makna. Objek stimulus persepsi benda bersifat nyata dan dapat diraba. Unsur perantaranya terbatas seperti gelombang cahaya, suara, suhu dan gerakan lain yang pada umumnya merupakan gerakan fisik. Sedangkan persepsi sosial bisa terjadi karena kontak secara tidak langsung, cerita orang lain, surat kabar, radio dan lainnya.

Sedangkan jenis-jenis persepsi pada manusia menurut Mulyana (2002, 171) sebenarnya terbagi dua, yaitu persepsi terhadap objek (lingkungan fisik) dan persepsi terhadap manusia (persepsi sosial). Kedua jenis persepsi tersebut mempunyai perbedaan, perbedaan tersebut mencakup:

1. Persepsi terhadap objek (lingkungan fisik),

Persepsi lingkungan fisik merupakan proses penafsiran terhadap objek-objek tidak bernyawa yang ada disekitar lingkungan kita. Terkadang dalam mempersepsikannya lingkungan fisik, kita melakukan kekeliruan, karena indera kita terkadang menipu kita, itulah yang disebut ilusi. Persepsi terhadap objek ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor: latar belakang pengalaman, latar belakang budaya, latar belakang psikologis, latar belakang nilai, keyakinan dan harapan, dan yang terakhir adalah kondisi faktual alat-alat indera.

(23)

2. Persepsi terhadap manusia (persepsi sosial).

Persepsi sosial adalah proses menangkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita lihat alami dalam lingkungan kita. Oleh karena manusia bersifat emosional, sehingga penilaian terhadap orang akan mengandung resiko. Persepsi saya terhadap anda mempengaruhi persepsi anda terhadap saya, dan pada gilirannya persepsi anda terhadap saya juga akan mempengaruhi persepsi saya terhadap anda, dan begitu seterusnya, setiap orang mempunyai gambaran berbeda mengenai realitas disekelilingnya. Karena setiap orang mempunyai persepsi berbeda terhadap lingkungan sosialnya.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa persepsi pada umumnya dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu persepsi benda dan persepsi sosial. Masing- masing persepsi memiliki rangsangan dan proses yang juga berbeda. Jika dikaitan dengan Layanan Bilik Melayu maka persepsi pengguna terbagi atas persepsi terhadap objek atau benda yaitu fasilitas atau sarana yang disediakan oleh Layanan Bilik Melayu dan persepsi terhadap manusia yaitu terhadap pustakawan layanan Bilik Melayu.

2.4.4Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Banyak hal yang dapat mempengaruhi proses pembentukan persepsi pada diri seseorang. Tidak semua informasi atau rangsangan yang diterima menjadi persepsi atau penilaian yang sama oleh setiap orang. Menurut Suwarno (2009, 57) faktor yang mempengaruhi perbedaan informasi yang diterima antara lain:

1. Stereotip, yaitu pandangan tentang ciri-ciri tingkah laku dari masyarakat tertentu.

2. Persepsi diri, yaitu pandangan terhadap diri sendiri yang dapat mempengaruhi pembentukan kesan pertama.

3. Situasi dan kondisi, yaitu pandangan terhadap seseorang yang dipengaruhi oleh situasi atau kondisi tertentu.

4. Ciri yang ada pada diri orang lain, yaitu daya tarik fisik seseorang yang dapat menimbulkan penilaian khusus pada saat pertama kali bertemu.

Sedangkan menurut Walgito (2004, 89), faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain:

1. Objek yang dipersepsi (stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor). Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai

(24)

syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor. Namun stimulus terbesar datang dari luar individu.

2. Alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf (untuk menerima stimulus) disamping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Dan sebagai alat untuk mengadakan respon deperlukan syaraf motoris.

3. Perhatian (untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi), yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktifitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek. Dari hal-hal tersebut dapat dikemukakan bahwa untuk mengadakan persepsi adanya beberapa faktor yang berperan yaitu: objek atau stimulus yang dipersepsi, alat indera dan syaraf-syaraf serta pusat susunan syaraf yang merupakan syarat biologis, dan perhatian, yang merupakan syarat psikologis. Berdasarkan uraian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi maka dapat disimpulkan bahwa seseorang dapat saja melakukan persepsi yang berbeda antara satu dengan yang lain. Faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut bisa saja bersumber dari dalam dirinya sendiri atau bahkan faktor dari luar.

Jika dikaitkan dengan pengguna Layanan Bilik Melayu maka faktor yang dapat mempengaruhi persepsi Layanan Bilik Melayu adalah pandangan pengguna terhadap situasi dan kondisi layanan yang berasal dari diri sendiri berdasarkan pengalamannya mengunjungi layanan ini dan juga dapat dipengaruhi oleh tingkah laku atau pengalaman dari orang lain.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil kategorisasi tersebut dapat diartikan bahwa secara umum subjek penelitian dari kelompok siswa SMK memiliki kesiapan untuk mengatasi tugas yang

Cara kedua untuk menemukan makna dalam hidup adalah dengan menhayati sesuatu -seperti kebaikan, kebenaran dan keindahan- dengan menghayati alam dan budaya atau, atau

Berdasarkan asumsi dasar yang kedua, ketiga, dan keempat, kita dapat menghitung usia atau waktu pisah bahasa Batak Toba dan bahasa Pakpak Dairi kalau diketahiu prosentase

Berdasarkan beberapa pemaparan pendapat ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa materi yang relevan untuk layanan bimbingan belajar di SMP adalah kegiatan

PROGRAM SKA & IPTB KOLEKTIF - IAI JAKARTA, OKTOBER 2010 SERTIFIKASI KEAHLIAN ARSITEK – IZIN PELAKU TEKNIS

Model pembelajaran kooperatif tipe NHT berbantuan kartu papan bermagnet dapat dijadikan pertimbangan oleh guru dalam mengajar materi operasi bilangan bulat karena model

kasus anak zina di KUA kecamatan Sedati dengan hukum Islam yang dijadikan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini. Bab kelima merupakan bab terakhir atau penutup

LANGSUNG (Kontak) INSIDEN • Program dan standar tak sesuai • Kepatuhan pelaksana an Faktor peroranga Faktor kerja Unsafe action dan unsafe condition