Analisis Konsep Māqaṣid Al-Syarī‘ah dalam Pertimbangan Putusan MK RI No. 46/Puu-Viii/2010 dan Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012 Tentang Status Anak di Luar Nikah.
Teks penuh
Dokumen terkait
Dari penjelasan dan bunyi pasal yang memberi pengertian tentang anak sah maka dapat ditarik kesimpulan bahwa anak luar kawin adalah anak yang lahir dari hasil
(hifz an nasl) tidak dapat dilakukan kecuali hanya melalui pintu pernikahan yang sah, tanpa melalui pernikahan yang sah, maka anak yang dilahirkan hubungan
BAB II HUBUNGAN HUKUM KEPERDATAAN ANTARA ANAK YANG LAHIR DALAM PERKAWINAN YANG SAH DENGAN ORANG TUA SAH DAN AYAH BIOLOGISNYA... Sahnya Perkawinan menurut
Hasilnya, Pertama , dalam Kompilasi Hukum Islam dan KUH Perdata ( Burgerlijk Wetboek ) menjelaskan anak yang lahir dalam pernikahan walaupun tidak tercatatkan adalah anak
Pada dasarnya tidak ada yang membedakan porsi atau pembagian harta warisan antara anak luar kawin dengan anak yang lahir dari perkawinan yang sah apabila
Pasal pasal di atas menjelaskan beberapa hal yaitu: Pertama, anak sah adalah yang dilahirkan dari pernikahan yang sah. Kedua, anak luar kawin adalah anak yang dilahirkan
Jadi bila ada seorang anak yang lahir diluar perkawinan yang sah menurut hukum (misalnya ada anak yang lahir hanya dari perkawinan siri atau lahir di luar perkawinan),
Dalam KUHPerdata, UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam berlaku prinsip bahwa anak sah “demi hukum mempunyai hubungan hukum antara ayah dan ibunya termasuk dengan keluarga