Oleh : Nur’ainy AM
*Abstrak
Pidana mati tidak pernah habis untuk diperdebatkan, masing-masing dilandasi dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Bagi yang pro berusaha mempertahankan dengan alasan bahwa pidana mati sesuai dengan ajaran agama (Islam), UUD 1945 dan Pancasila, sementara yang menolak berargumen bahwa hukuman mati tidak berperikemanusiaan, bertentangan dengan konstitusi, tidak memberi kesempatan berbuat baik ataupun hakim dapat keliru dalam putusannya. Terlepas dari pro dan kontra, sampai saat ini Indonesia masih membutuhkan ancaman pidana mati sebagai salah satu wujud untuk merealisasikan tujuan pemidanaan. Disamping itu dengan pertimbangan bahwa negara Indonesia mempunyai kekhususan karena daerahnya sangat luas dan plural dengan alat-alat kepolisian yang kurang memadai dibandingkan Eropa Barat. Politik hukum pidana di negri Belanda yang telah menghapus pidana mati tahun 1870 tidak diikuti oleh Indonesia, terbukti hingga saat ini pidana mati masih terpampang baik dalam KUHP maupun di luar KUHP seperti UU No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, UU No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika, UU No. 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan yang terbaru Perpu No. 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Tulisan ini mencoba memaparkan alasan-alasan yang dikemukakan baik yang setuju ataupun yang tidak menyetujui pidana mati, tujuan pemidanaan menurut hukum positif maupun hukum Islam. Juga dikemukakan beberapa peraturan yang mencantumkan sanksi mati bagi pelakunya sebagai salah satu ilustrasi bahwa pidana mati sampai saat ini masih pantas diberlakukan.
A. Pendahuluan
Pidana mati saat ini mencuat kembali untuk diperdebatkan, setidaknya setelah Presiden Megawati menolak grasi enam terpidana mati kasus pembunuhan dan narkotika yang tertuang dalam Keppres
No. 20/G, tanggal 3 Februari 2003 lalu. Gugatan ini pernah juga terjadi sewaktu Kusni Kasdut penjahat kelas kakap dieksekusi mati di Surabaya tanggal 16 Februari 1980. Mentri Kehakiman Ismail Saleh pernah mengatakan “bahwa agaknya masalah hukuman mati masih sering menjadi bahan diskusi tidak saja dikalangan masyarakat luas, kalangan ahli hukum dinegri ini tampaknya masih memiliki pandangan yang berbeda tentang diterapkan hukuman mati, sehingga layak atau tidaknya hukuman mati diterapkan di Indonesia barangkali masih
memerlukan perdebatan panjang1
Mereka yang tidak menyetujui pidana mati beralasan bahwa hukuman penghilangan nyawa manusia itu bertentangan dengan konstitusi khususnya Pasal 28 I Amandemen II UUD 1945 : “hak untuk hidup, hak untuk disiksa…adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam bentuk apapun.” Landasan hukum yang dijadikan pijakan tersebut ternyata masih belum mampu menyentuh pandangan sebagian orang karena dalam kacamata publik penerapan hukuman yang terberat ini masih relevan dicantumkan dan dipertahankan. Mengutip pendapatnya Stone “man is thinking and cultural animal, so law must be enforced or they will be outlaws forever” ( manusia adalah hewan berpikir dan berbudaya, maka hukum harus dipaksakan kalau tidak mereka akan menjadi pelanggar hukum untuk selamanya ).
Dari hasil jajak pendapat Kompas2 sebagian besar ( 76 persen )
responden tetap menyetujui pidana mati diterapkan kepada terpidana kasus-kasus berat, dan hanya 20 persen responden saja yang menolak diterapkan pidana terberat ini. Sementara itu tidak kurang dari 71 persen responden setuju terhadap kebijakan Presiden Megawati yang menolak grasi enam terpidana mati. Perlu diketahui salah satu tujuan pemidanaan adalah membalas pelaku sesuai dengan pidana yang ia lakukan, karena itu pidana mati masih efektif untuk diberlakukan terutama delik-delik yang mengakibatkan kematian atau yang menyinggung rasa kemanusiaan. Oleh pemerintah pidana mati tetap
1Yogya Post, 28 September 1991
2Jajak pendapat yang diadakan Litbang Kompas tanggal 13, 14 Februari 2003 dengan responden 853 dan sampling error : - 3,4 %. Untuk lebih jelasnya baca Kompas, 17 Februari 2003, p. 1, 4, 7 dan 8.
diancamkan bagi pelaku baik delik yang terdapat dalam KUHP maupun delik di luar KUHP seperti psikotropika diancam mati melalui UU No. 5 tahun 1997, narkotika dengan UU No.22 tahun 1997, korupsi dengan UU No. 31 tahun 1999 yang telah diubah dengan UU No. 20 tahun 2001 serta terorisme melalui Perpu No. 1 tahun 2002 dipidana dengan hukuman mati.
Terlepas dari pro dan kontra tersebut, ada satu hal yang harus diingat bahwa kontroversi tersebut tidak akan pernah berakhir seiring dengan adanya kejahatan itu sendiri yang tidak pernah hilang. Bukankah Emile Durkheim pernah berucap bahwa kejahatan adalah gejala yang normal dan inheren dari dalam bentuk masyarakat manusia? Juga Frank Tannenbaum berkata bahwa crime ia as eternal as society.
Tulisan ini mencoba mengemukakan berbagai argumen dari mereka yang pro dan yang kontra disertai tujuan dari hukuman dan mengapa sampai saat ini Indonesia masih mempertahankan pidana mati dalam beberapa peraturannya.
B. Tujuan Pemidanaan
Pada hakekatnya semua teori tentang fungsi dan tujuan diadakannya institusi hukuman atau pidana itu sama yaitu untuk mengembalikan ketertiban hukum yang dimiliki oleh masing-masing anggota masyarakat. Dengan adanya tindak kejahatan mengakibatkan ketertiban, ketentraman dan keamanan menjadi terganggu, pergaulan hidup masyarakat menjadi rusak dan hak-hak milik masing-masing anggota masyarakat menjadi tidak terjamin. Ingat kasus Sumanto pemakan mayat, masyarakat tidak menerima kembalinya Sumanto sekeluar dari penjara nantinya disebabkan pelaku telah mengganggu, merusak keamanan dan ketertiban masyarakat setempat. Kejahatan yang dilakukan Sumiarsih beserta keluarganya yang dengan biadab membunuh keluarga Letkol (Mar) Purwanto, raja ekstasi Ang Kiem Soei si pemilik perusahaan barang haram terbesar kedua didunia, adalah
pantas menerima ganjaran berupa hukuman mati untuk
mengembalikan ketentraman yang telah dirampas sebagai balasan atas perbuatan yang dilakukan.
A.Z. Abidin menulis bahwa hukum pidana itu merupakan cermin suatu masyarakat yang merefleksi nilai-nilai yang menjadi dasar
masyarakat itu. Bila nilai-nilai itu berubah, hukum pidana juga berubah. Hukum pidana secara tepat disebut sebagai one of the most faithful mirros of a given civilization, reflecting the fundamental values on which latter rest.3
Penjatuhan pidana sebagai suatu nestapa kepada pelanggar hanya merupakan obat terakhir ( ultimum remedium ) yang hanya dijalankan jika usaha-usaha lain sudah tidak berjalan.
Ada pertanyaan lama dan belumterjawab secara memuaskan, apakah sebenarnya tujuan penjatuhan pidana itu sendiri ? Ada yang menjawab supaya pelaku jera, untuk membalas akibat pidana yang dilakukan ataupun untuk memperbaiki diri penjahat. Kalau untuk membuat jera, tampaknya semakin banyak orang yang dihukum semakin tinggi tingkat kejahatan yang artinya pidana yang ia peroleh tidak menjadikan pelaku atau calon pelaku takut dengan sanksinya. Lihat kasus korupsi yang notabene dalam peraturannya diancam dengan pidana mati, namun vonis aneh yang lahir berupa putusan bebas seperti yang dialami Syahril Sabirin, Ida Bagus Oka, kasus BLBI Bank Modern dengan terdakwa Samadikun Hartono atau kasus serupa lainnya.4 Kalau tujuannya untuk memperbaiki penjahat, tentu cukup
dengan dipidana bersyarat ( percobaan ) atau pidana pengawasan. Menurut Andi Hamzah dan A. Sumangelipu tujuan untuk memperbaiki penjahat sehingga dapat menjadi warga negara yang baik sesuai jika terpidana masih ada harapan untuk diperbaiki terutama delik-delik tanpa korban ( victimless crime ) seperti homoseks, mucikari dan sejenisnya.5 Untuk kejahatan yang sangat menyinggung rasa
kemanusiaan, seperti pembunuhan, pemerkosaan, terorisme dan kasus-kasus berat lainnya maka sangat sulit untuk menghilangkan sifat jera atau diperbaiki melalui pidana penjara, oleh karena itu pembalasannya dengan menghukum mati sebanding dengan perbuatan yang telah dilakukan.
3A.Z. Abidin, Bunga Rampai Hukum Pidana, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1983), p. iii.
4Baca “Vonis Aneh Untuk Koruptor di Tahun 2002”, Tabloid Gugat No. 211 Tahun V 30 Des 2002 – 5 Januari 2003, p. 7.
5Andi Hamzah, A. Sumangelipu, Pidana Mati di Indonesia di Masa Lalu, Kini dan di Masa Depan,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), p. 14.
Ada tiga teori pidana yang sama-sama mengemukakan alasan tujuan pemidanaan yaitu :
1. Teori Absolut atau Teori Pembalasan atau Teori Retributif
Menurut teori ini, pidana dimaksudkan untuk membalas tindak pidana yang dilakukan seseorang. Muladi dan Barda Nawawi Arif memberikan komentarnya sebagai berikut : “pidana merupakan akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang yang
melakukan kejahatan. Jadi dasar pembenaran dari pidana
terletak pada adanya atau terjadinya kejahatan itu sendiri.”6
Senada dengan komentar diatas, Andi Hamzah juga memberikan pendapatnya sebagai berikut :
“teori pembalasan mengatakan bahwa pidana tidaklah bertujuan untuk yang praktis, seperti memperbaiki penjahat. Kejahatan itu sendiri yang mengandungunsur unsur untuk dijatuhi pidana. Pidana secara mutlak ada karena dilakukannya suatu kejahatan. Tidaklah perlu memikirkan manfaat penjatuhan pidana.”7
Dari apa yang dikemukakan ahli hukum pidana tersebut dapat disimpulkan bahwa pidana hanya untuk pidana, dengan kata lain pidana tidaklah ditujukan pada hal lain kecuali pidana itu sendiri.8 Dengan
demikian adalah adil jika terpidana menderita dengan pembalasan itu, sesakit korban yang diperlakukan secara tidak manusiawi.
2. Teori Relatif atau Teori Tujuan atau Teori Utilitarian
Secara garis besar tujuan pidana menurut teori relatif bukanlah sekedar pembalasan tetapi juga mewujudkan ketertiban dalam masyarakat. Mengutip pendapatnya Muladi dan Barda Nawawi Arif sebagai berikut :
6Muladi, Barda Nawawi Arif, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, (Bandung: Alumni, 1984), p. 10-11.
7Andi Hamzah, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia dari Retribusi ke Reformas,(Jakarta: Pradnya Paramita, 1986), p. 27-28.
8Djisman Samosir, Fungsi Pidana Penjara dalam Sistem Pemidanaan di Indonesia, (Bandung: Bina Cipta, 1992), p. 9.
“pidana bukanlah sekedar untuk melakukan pembalasan atau pengimbalan pada orang yang telah melakukan tindak pidana, tetapi mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat. Jadi dasar pembenaran adanya pidana menurut teori ini adalah terletak pada tujuannya. Pidana dijatuhkan bukan “quia peccatum est” (karena orang
membuat kejahatan) melainkan “nepeccetur” (supaya orang jangan melakukan kejahatan )”9
Berdasarkan ungkapan Muladi dan Barda Nawawi Arif itu, artinya teori relatif ini berusaha membina terpidana agar menjadi manusia berguna dalam masyarakat serta berusaha mewujudkan ketertiban di masyarakat, karena dikatakan tujuan pidana supaya orang jangan melakukan kejahatan.
3. Teori Gabungan
Tujuan pidana menurut teori gabungan selain membalas kesalahan penjahat juga dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dengan mewujudkan ketertiban. Van Bemmelem sebagaimana dikutip Djisman Samosir mengatakan :
“pembenaran pidana terletak pada pembalasan.Hanya yang salah boleh dipidanapidana itu sesuai dengan delik yang dilakukan…harus menjatuhkan pidana hanya terhadap orang yang bersalah dan beratnya pidana tidak boleh melebihi beratnya pelanggaran, terhadap mana dilakukan tuntutan.” 10
Walaupun terdapat perbedaan pendapat mengenai tujuan pidana, namun ada satu hal yang tidak dapat dibantah bahwa pidana merupakan salah satu sarana untuk mencegah kejahatan serta memperbaiki terpidana. Dengan demikian pidana mati dapat dikatakan sebagai salah satu upaya pembalasan dari pidana yang ia lakukan sekaligus dapat mencegah agar masyarakat tidak mengikuti untuk melakukan tindak pidana. Penulis sepakat bahwa pidana harus sesuai dengan delik yang dilakukan yang artinya pidana mati juga hanya dijatuhkan pada mereka yang melanggar delik-delik yang jelas diancam dengan pidana mati.
9Muladi, Barda Nawawi Arif, Teori-Teori dan…, p. 16. 10Djisman Samosir, Fungsi Pidana…, p. 13.
Dalam Islam essensi pemberian hukuman bagi pelaku suatu
jarimah ( tindak pidana ) dapat dijabarkan sebagai berikut : 11
Pertama
, untuk memelihara masyarakat. Dalam hal ini pentingnyahukuman adalah sebagai upaya menyelamatkan masyarakat dari perbuatan pelaku jarimah. Kejahatan dianggab suatu penyakit yang ada pada masyarakat, supaya tidak menyebar atau menular penyakit tersebut harus diobati dengan menjauhkan pelaku dari masyarakat. Dengan dijauhkannya pelaku berarti penderitaan bagi yang berbuat kejahatan, namun demikian kepentingan umum ( orang banyak ) harus didahulukan daripada kepentingan perorangan. Dalam hukum positif hal ini disebut prevensi umum.
Kedua
, sebagai upaya pencegahan atau prevensi khusus bagi pelaku.Jika seseorang melakukan tindak pidana, dia akan menerima balasan yang sesuai dengan perbuatannya. Dengan balasan tersebut diharapkan pelaku akan jera karena rasa sakit akan penderitaannya serta tidak akan mengulangi perbuatannya di masa mendatang, disamping itu orang lain juga tidak meniru sebab akibat yang sama akan dikenakan kepada peniru.
Ketiga
, sebagai upaya pendidikan dan pengajaran ( ta’dib dan tahdzib ).Hukuman ini juga sebagai upaya mendidik pelaku agar menjadi orang yang baik sekaligus anggota masyarakat yang baik pula. Pelaku diajarkan bahwa perbuatan yang ia lakukan telah mengganggu hak orang lain baik moril, materiil ataupun perkosaan atas hak orang lain. Usaha mendidik pelaku jarimah ini selanjutnya ia dapat mengetahui akan kewajiban dan hak orang lain.
Keempat
, hukuman sebagai balasan atas perbuatan. Menjadi suatukepantasan setiap perbuatan dibalas dengan perbuatan lain yang sepadan, baik dibalas dengan perbuatan baik, jahat dibalas dengan kejahatan pula dan itu sesuatu yang adil. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Zalzalah ayat ( 7,8 ) : “Barangsiapa berbuat kebaikan walaupun sebiji sawi akan dibalas dengan kebaikan pula. Dan barangsiapa yang membuat kejahatan walau sebiji sawi akan mendapatkan balasan berupa kejahatan pula.”
11Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayah), (Bandung: Pustaka Setia, 2000), p. 64-66.
Kalau tujuan-tujuan penjatuhan hukuman tersebut tidak tercapai, upaya terakhir dalam hukum positif adalah menyingkirkan penjahat melalui pidana penjara seumur hidup atau hukuman mati. Hukum Islam juga berpendirian sama, kalau dengan cara pendidikan tidak menjerakan pelaku dan justru membahayakan masyarakat, hukman ta’zir bisa diberikan dalam bentuk hukuman mati atau penjara tidak terbatas.
C. Pro dan Kontra
Dalam sejarahnya gagasan penghapusan pidana mati telah lama disuarakan yaitu sekitar abad XVII oleh Beccaria yang dengan gigih dan alasan yang dianggap rasional pada masanya mengakibatkan pemerintah Belanda menyetujui dihilangkannya pidana pokok terberat ( mati ) dalam KUHP pada tanggal 17 September 1870, Statblad No. 162/1870. Setelah itu berturut-turut pidana mati dilenyapkan di negara Venesuela (1849), Columbia (1864), Italia (1890), Brasilia (1891) dan Equador (1895).12Namun politik hukum pidana di negri Belanda tahun 1870
tersebut ternyata tidak diikuti didaerah koloni ( Indonesia ), karena menurut tanggapan kebanyakan ahli-ahli hukum pidana keadaan khusus di Indonesia menuntut supaya penjahat-penjahat yang terbesar dapat dilawan dengan pidana mati. Dalam suatu daerah yang begitu luas, didiami rakyat yang heterogen, alat-alat kepolisian tidak dapat menjamin keamanan seperti di Eropa Barat.13 Kalau diperhatikan
negar-negara Asia seperti Malaysia, Singapura, Philipina, Muangthai, Pakistan termasuk Indonesia masih mencantumkan pidana matinya dalam KUHP sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya yang masih membutuhkan adanya pidana mati tersebut.
Lemaire menulis bahwa perancang Wetbook van Strafrecht (WvS) atau KUHP mempunyai alasan yang kuat mempertahankan pidana mati di Indonesia yang diungkapkannya sebagai berikut:14
12Baca Moehadi Zainal, Pidana Mati Dihapuskan atau Dipertahankan (Yogyakarta: PT Hanindita, 1984), p. 2.
13Andi Hamzah, A. Sumangelipu, Pidana Mati…, p. 23. 14Ibid., p. 24.
“bahwa Indonesia (Hindia Belanda) sebagai negri jajahan yang mempunyai ruang lingkup yang luas, dengan susunan penduduk yang sangat beranekaragam yang pada hakekatnya mempunyai keadaan yang berlainan dengan Nederland dan bahaya akan gangguan terhadap tertib hukum di Indonesia lebih besar dan lebih mengancam daripada di Nederland. Susunan pemerintahan dan sarana sarana untuk melaksanakan kekuasaan di Indonesia (Hindia Belanda) jauh berbeda dengan di Nederland dan negara-negara di Eropa. Berdasarkan itulah makasenjata seperti pidana mati mempunyai watak menakutkan yang tidak terdapat pada pidana perampasan kemerdekaan (pidana penjara) tidak boleh dilepaskan.”
Apa yang diungkapkan Lemaire tersebut merupakan suatu pencerminan bahwa proses penegakan hukum di Indonesia jelas berbeda dengan negara Eropa yang notabene tidak diintervensi oleh legislative maupun eksekutif. Lain halnya di Indonesia meskipun dikatakan bahwa peradilan bebas dan tidak memihak, dalam prakteknya masalah kolusi, korupsi dan nepotisme maupun mafia peradilan terus berjalan dan kurang mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Jika pidana mati ingin dihapuskan dikuatirkan proses penegakan hukum semakin mundur, angka kejahatn terus melonjak, para penjahat dan pejabat korupsi terus berkeliaran mencari mangsa baru, karena seberapapun besarnya kejahatan yang mereka lakukan pidana mati tidak akan pernah menghampiri.
Para perancang WvS menjelaskan pendirian mereka selanjutnya bahwa barulah kalau pengalaman telah membuktikan bahwa ketertiban hukum di Indonesia dipertahankan dengan merumuskan tanpa perlu dijatuhkannya pidana mati untuk kejahatan-kejahatan berat, maka akan tiba waktunya untuk menghapuskan pidana mati ini sebagaimana halnya di Nederland.15
Apakah setelah hampir 58 tahun Indonesia merdeka tertib hukum sudah berjalan, sehingga sudah saatnya pidana mati dihapuskan? Kalau saja pidana mati ini dapat diganti dengan jenis pidana lain yang sama beratnya mungkin tidak ada masalah.
Ada beberapa alasan yang dilontarkan mereka untuk menghapuskan pidana mati di Indonesia, antara lain :
1. Pidana Mati itu bertentangan dengan konstitusi khususnya Pasal 28
I Amandemen II UUD 1945 : “hak untuk hidup, hak untuk disiksa…adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.” Kecaman ini dilontarkan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi Manusia ( Demos) Asmara Nababan, Kordinator Lembaga Pemerhati HAM (Imparsial) Munir dan ahli hukum Gayus Lumbuun. 16 2. Mantan Wakil Presiden Adam Malik juga tidak menyetujui pidana
mati terhadap segala bentuk tindak pidana, baik tindak pidana subversi maupun tindak pidana biasa. Menurut beliau hanya Tuhan yang berhak mencabut nyawa manusia sehingga manusia tidak
boleh melampaui kekuasaan Tuhan.17
3. Banyak jalan untuk menegakkan rasa keadilan masyarakat. Kalau hukuman mati sudah dijatuhkan maka tidak dapat dirubah lagi, nyawa sudah melayang dan lenyaplah kesempatan untuk memperbaiki diri. Jadi pidana mati itu sendiri bukan harga mati yang baku tetapi ada jalan keluarnya, demikian dikatakan Adnan Buyung Nasution.18
4. Himpunan Anti Hukuman Mati ( HATI ) yang salah satu
anggotanya R.O. Tambunan mengemukakan bahwa aparat hukum adalah manusia yang tidak terlepas dari berbuat salah, kondisi peradilan yang masih rapuh, hukuman mati menyangkut hak hidup yang diperoleh dari Tuhan, pidana mati bertentangan dengan
Pancasila dan pelaksanaan hukuman mati sudah kuno.19
5. Beccaria orang pertama yang berhasil menghapuskan pidana mati di
negri Belanda tahun 1870 menentang hukuman mati karena bertentangan dengan contra sosial, sebab hidup adalah sesuatu yang tidak dapat dihilangkan secara legal dan membunuh adalah adalah tercela, karena pembunuhan yang manapun juga yang mengizinkan
16Tentang hal ini baca Kompas, 17 Februari 2003, p. 7. 17Ibid.
18Moehadi Zainal, Pidana Mati …, p. 28. 19Ibid.
untuk pidana mati didalam contra sosial adalah immoral dan makanya tidak sah.20
Sementara itu bagi mereka yang menyetujui ( pro ) pidana mati, alasan-alasan yang dikemukakan oleh mereka yang anti ( kontra ) dapat dipatahkan dengan argumen yang dianggab lebih kuat. Pertimbangan atau alasan yang pro adalah sebagai berikut :
Pertama
, pidana mati tidaklah bertentangan dengan konstitusi UUD1945 21 karena dalam Pasal 28 J ayat (2) Amandemen II UUD 1945
telah mengadakan pembatasannya. Adapun bunyinya adalah sebagai berikut :
“Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk dengan pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.”
Bunyi aturan dalam Pasal 28 J ayat (2) tersebut secara tidak langsung menghendaki setiap orang yang telah melampaui batas kebebasannya ( baca : melanggar hukum ) sehingga mengganggu kebebasan orang lain, maka ia wajib tunduk dengan undang-undang yang melarang perbuatan pidana yang telah dilakukan. Artinya jika pelaku menghilangkan hak hidup orang lain, maka demi keadilan dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama dan undang-undang yang dilanggar adalah sah jika pelaku divonis dengan pidana mati.
Kedua
, dengan menjatuhkan pidana mati bukan berarti manusia telahmelampaui kekuasaan Tuhan, karena pada dasarnya pidana mati itu adalah pidana yang ditetapkan oleh syari’at Islam dengan dekrit Allah SWT yang sama sekali tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun. Salah satu eksistensinya dapat dilihat dalam Al Qur’an surat Al- Baqarah 178, 179, dan 194, serta surat Al-Maidah 45.
20Andi Hamzah, A. Sumangelipu, Pidana Mati di Indonesia …, p. 36. 21Baca “Komnas HAM Belum Bersikap Soal Hukuman Mati”, Kompas, 18 Februari 2003, p. 6.
Dalam syari’at Islam tindak pidana ( jarimah ) dibagi menjadi tiga bagian 22 yaitu :
a. Jarimah Hudud
Jarimah hudud adalah suatu jarimah yang bentuknya telah ditentukan syara sehingga terbatas jumlahnya. Selain ditentukan bentuknya ( jumlahnya ) juga ditentukan hukumannya secara jelas baik melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lebih dari itu, jarimah ini termasuk jarimah yang menjadi hak Tuhan yang pada prinsipnya adalah jarimah yang menyangkut masyarakat banyak. Oleh karena itu, hak Tuhan identik dengan hak jama’ah atau hak masyarakat maka pada jarimah hudud ini tidak dikenal pemaafan atas pembuat jarimah, baik oleh perorangan yang menjadi korban jarimah maupun negara. Dengan demikian sanksi yang dijatuhkan oleh hakim harus tidak ada keraguan sedikitpun dalam penerapannya, seperti yang disebutkan dalam kaedah : “hindari hukuman had (hudud) karena ada keraguan ( syubhat ),” sebab sanksi jarimah hudud menyangkut hilangnya nyawa atau hilangnya anggota badan si pembuat jarimah.
b. Jarimah Qishash/Diyat
Menurut arti katanya qishash adalah akibat yang sama yang dikenakan kepada orang yang dengan sengaja menghilangkan jiwa atau melukai atau menghilangkan anggota badan orang lain.23 Seperti halnya
jarimah hudud, jarimah qishash/diyatpun telah ditentukan jenisnya maupun besarnya hukuman. Perbedaannya jika jarimah qishash/diyat menjadi hak perorangan atau hak adami yang membuka kesempatan pemaafan bagi si pembuat jarimah oleh orang yang menjadi korban, wali atau ahli warisnya. Dengan diberinya maaf itu gugurlah reaksi pidana yang seharusnya dijatuhkan, demikian dikatakan TM. Hasbi Ash Shiddieqy.24 Sebaliknya penjatuhan hukuman qishash akan dilaksanakan
22Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam …, p. 26-31. 23Ibid., p. 29
24Bambang Poernomo, Ancaman Pidana Mati Dalam Hukum Pidana di Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 1982), p. 10.
jika si korban atau ahli warisnya tidak memaafkan pembuat jarimah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah 178:
“Hai orang-orang yang beriman,sesungguhnya diwajibkan kepada kamu qishash untuk soal pembunuhan, orang merdeka dengan merdeka, budak dengan budak, wanita dengan wanita, tetapi kalau seorang kamu dimaafkan oleh sanak saudaranya hendaknya kamu membalas kebaikan mereka itu, karena itu adalah suatu keringanan dari Tuhan Yang Maha Pengasih.”
Selanjutnya dalam Surat Al-Maidah 45 juga dinyatakan: “Aku telah perlakukan atas mereka Kitab Taurat, yaitu bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, luka dengan luka pula. Tetapi apabila ada salah seorang dari keluarganya memberi maaf adalah pahala baginya.”
Qishash ditujukan agar pembuat jarimah dijatuhi hukuman setimpal sebagai balasan atas perbuatannya itu, sebagaimana tertuang dalam firman Allah Surat Al-Baqarah 194 : “Barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah dia seperti dia menyerang kamu.” Dari bunyi ayat tersebut pelaksanaan hukuman qishash harus sesuai dengan apa yang diterima korban, tidak boleh melebihi apa yang dilakukan pelaku terhadap korban. Dengan demikian pelaku pembunuhan juga harus menerima hukum bunuh ( pidana mati ) sesuai dengan yang diterima korban. Melebihi hukuman dianggab sebagai perbuatan yang melampaui batas ketentuan dan tidak dikehendaki pembuat syari’at. Menurut Rahmat Hakim,25 qishash ini merupakan hukuman terbaik
sebab mencerminkan keadilan dan keseimbangan sehingga pembuat mendapat imbalan yang sama dan setimpal dengan perbuatannya.
c. Jarimah Ta’zir
Ta’zir merupakan suatu bentuk jarimah yang sanksi jarimah serta macam jarimahnya ditentukan penguasa, karena berkaitan dengan perkembangan masyarakat serta kemaslahatannya. Oleh karena itu, jarimah ta’zir juga sering disebut jarimah kemaslahatan umum,26 yang
mempunyai sifat sementara karena bergantung pada keadaan dan dapat
25Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam…, p. 29. 26Ibid., p. 31.
dianggab jarimah kalau memang diperlukan. Sebaliknya dapat pula dianggab bukan jarimah kalau dikehendaki demikian, karena pada dasarnya ta’zir penguasa itu bukan suatu perbuatan yang dilarang mengerjakannya, namun keadaan menyebabkan perbuatan itu dilarang.
Dengan landasan yang jelas tersebut menandakan bahwa tidak kekuasaan Allah yang dilampaui oleh manusia, justru manusia diperintahkan melaksanakan sanksi-sanksi yang telah didekritkan Allah sesuai dengan jarimahnya, yang mana salah satunya berwujud pencabutan nyawa manusia.
Ketiga
, pidana mati tidak bertentangan dengan Pancasila disebabkanpidana mati diadakan dengan maksud antara lain sebagai sarana untuk melindungi kepentingan umum yang bersifat kemasyarakatan yang dibahayakan oleh kejahatan dan penjahat yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Pidana mati dapat dipergunakan sebagai alat yang radikal untuk mencegah tindakan-tindakan diluar batas-batas perikemanusiaan.
N.N. Temadja jaksa yang menuntut mati Kusni Kasdut ( penjahat yang melarikan diri dari penjara setelah membunuh dan merampok museum di Jakarta yang kemudian menembak alat negara di Semarang ketika hendak ditangkap ) mengemukakan alasannya sebagai berikut: “Perikemanusiaan hendaknya dipandang dari sudut orang-orang yang mempunyai perikemanusiaan. Asas perikemanusiaan justru diadakan untuk melindungi hak-hak asasi, dan bukanlah diadakan untuk melindungi orang-orang yang tidak menghargai hak asasi orang lain.”27 Jadi jika pidana mati dikatakan tidak berperikemanusiaan suatu
hal yang keliru, karena memutuskan orang untuk dihukum mati mewakili rasa kemanusiaan yang dialami korban. Sementara itu Bismar siregar juga memberikan komentarnya sebagai berikut:
“…nilai-nilai kemanusiaan itu sangat relatif, ada nilai-nilai komunisme, Pancasila, individualisme dan agama. Perbedaan pandangan tentang nilai inilah yang menimbulkan kesulitan dalam menemukan kesamaan pendapat, sebab tempat mulainya sudah berbeda. Pancasila itu yang disesuaikan dengan agama. Pancasila itu ada dasarnya yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan adalah istilah agama.
Memang pidana mati tidak bisa dijadikan tangkal untuk tidak adanya lagi kejahatan, tetapi bila dikatakan bahwa pidana mati tidak efektif ini tidak dapt dibenarkan. Dan kalau dikatakan pidana mati tidak ilmiah dan kuno, itu ilmiah dan kuno menurut ukuran apa, yang ilmiah dan tidak kuno ukurannya apa. Bagi orang Islam hukuman mati itu ilmiah dan tidak mengenal kuno, sebab ketentuan itu berasal dari Tuhan, sedangkan orang pasti tidak mungkin ada yang berani mengatakan Tuhan itu kuno, kecuali orang yang tidak waras.”28
Satu lagi pernyataan Bismar Siregar yang pernah memvonis mati Carl Albert Togas di wilayah Pengadilan Negri Jakarta Utara Timur yang dianggab relevan dalam mensikapi pidana mati yaitu : “kalau seorang membunuh orang lain, berarti ia membunuh seluruh umat manusia. Kalau menyelamatkan nyawa seseorang berarti menyelamatkan seluruh umat. Kalau membunuh si pembunuh berarti menyelamatkan seluruh umat.” 29 Dengan berbagai pernyataan tersebut berarti tidak ada tempat
jika pidana mati dikatakan bertentangan dengan Pancasila ataupun kuno alias ketinggalan zaman.
Keempat
, jika ada pernyataan bahwa hakim sebagai manusia biasa bisakeliru atau salah dalam menjatuhkan hukuman, hal ini tidak selamanya benar. Yang namanya keliru bukanlah hal biasa yang bisa terus-terusan terjadi, apalagi bagi hakim yang setiap hari bergelut dengan hukum yang merupakan keahliannya. Disamping itu karena profesinya, cukup beralasan untuk mengharapkan dalam menjatuhkan putusan akan bersikap super hati-hati, terlebih dalam menjatuhkan vonis mati. Juga tidak dapat dilupakan bahwa jumlah pidana mati yang dijatuhkan di Indonesia selama ini hanya sedikit, jadi kemungkinan untuk keliru juga sangat kecil. Dari data yang dikumpulkan Lembaga Pemerhati Hak Asasi Manusia ( Imparsial ), saat ini ada 62 orang yang sedang menjalani proses hukum dengan ancaman pidana mati, 42 orang diantaranya tengah menunggu eksekusi pidana mati. Dari 62 orang
28Baca Moehadi Zainal, Pidana Mati…, p. 33. 29Forum Keadilan No. 24, Februari 1990, p. 19.
tersebut, 20 orang diantaranya dalam kasus narkoba ( 5 orang WNI ) yang disidangkan di Tangerang.30
Andaikatapun hakim yang memeriksa di tingkat pertama (Pengadilan Negri) ternyata telah keliru mengambil keputusan, masih terbuka kesempatan untuk memperbaikinya di tingkat Banding (Pengadilan Tinggi). Jika di tingkat Banding juga masih tetap khilaf, masih ada upaya hukum Kasasi untuk mengoreksinya di Mahkamah Agung oleh hakim-hakim yang lebih profesional dan berpengalaman. Katakanlah kalaupun di tingkat kasasi juga tetap salah, masih ada upaya hukum luar biasa yang terakhir yaitu Peninjauan Kembali.31 Perlu
ditambahkan dengan adanya pasal 56 KUHAP yang mewajibkan setiap pejabat negara menunjuk penasehat hukum bagi terdakwa yang diancam dengan pidana mati, sangat besar artinya guna menghindari kekhilafan hakim dalam menjatuhkan vonis.
D. Pidana Mati: Masih Pantaskah?
Berbicara layak atau tidak layak, pantas atau tidak pantas tergantung dari sudut mana dan siapa yang memandangnya. Meskipun pro dan kontra tidak pernah henti diperdebatkan, toh sampai saat ini pidana mati masih terpampang baik dalam KUHP maupun peraturan diluar KUHP. Bahkan dalam Rancangan KUHP Nasionalpun pidana mati masih tetap dicantumkan yang merupakan pidana eksepsional dimana tidak termasuk dalam satu pasal bersama-sama dengan jenis pidana pokok lain, hanya diterapkan pada hal-hal tertentu saja. Hal ini menurut Muladi merupakan kebijaksaan yang tepat sebagai wujud kompromi untuk memuaskan kelompok abolisionis ( kelompok anti ) dan kelompok retentionis ( kelompok pro ).32
Meskipun Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB ) tidak menyetujui pidana mati yang dinyatakan dalam International Covenant
30Kompas, 17 Februari 2003, p. 8.
31Upaya Peninjauan Kembali ini juga ditempuh oleh Jurit terpidana mati kasus pembunuhan asal Palembang setelah grasinya ditolak Presiden Megawati, karena ia mendapatkan novum ( bukti baru ) berupa satu berkas perkara yang sama disidangkan di dua tempat yaitu PN Sekayu dan PN Palembang. Baca Republika, 26 Februari 2003, p. 11
on Civil and Right, namun mengakui kontroversi terhadap hukuman
mati karenanya oleh Ecosoc diusahakan pula “The Safeguards
Guaranteeing Protection of Right of Those Facing the Death Penalty”
(perlindungan untuk menjamin hak mereka yang menghadapi pidana mati ) yang isinya agar didalam melaksanakan pidana mati dilakukan dengan ekstra hati-hati, kemungkinan adanya permohonan ampunan, perubahan pidana dan pelaksanaan yang manusiawi.
Berbekal menimbang pendapat dari kelompok yang pro, penulis sepakat bahwa pidana mati masih harus tetap dicantumkan dalam beberapa peraturan baik dalam KUHP maupun diluar KUHP sebagai Pidana Khusus atau Pidana dengan sanksi istimewa terhadap delik-delik yang bersifat istimewa pula. Adapun delik-delik yang diancam dengan pidana hilangnya nyawa terdapat dalam peraturan-peraturan berikut ini :
1. Dalam KUHP tercantum dalam Buku II tentang Kejahatan
a. Pasal 104 : makar terhadap presiden dan wakil presiden
b. Pasal 111 ayat (2) : membujuk negara asing untuk bermusuhan atau berperang
c. Pasal 124 ayat (3) : pada waktu perang menyerahkan kepada kekuasaan musuh, menyebabkan atau memudahkan atau menganjurkan huruhara
d. Pasal 140 (3) : makar terhadap raja atau kepala-kepala negara sahabat yang direncanakan atau berakibat mati
e. Pasal 340 : pembunuhan berencana
f. Pasal 365 (4) : pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan luka berat atau mati
g. Pasal 444 : pembajakan di laut, di pesisir dan di sungai yang mengakibatkan kematian
h. Pasal 479 k ayat (2) : pembajakan pesawat yang mengakibatkan matinya orang atau hancurnya pesawat
i. Pasal 479 O ayat (2) : dengan sengaja melakukan kekerasan dalam
pesawat yang menyebabkan matinya orang atau hancurnya pesawat.
2. Pasal 59 ayat (2) UU No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika yang bunyinya adalah :
“Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terorganisasi dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama 20 ( dua puluh ) tahun dan pidana denda Rp 750.000.000,00 ( tujuh ratus lima puluh juta rupiah ).”
Jadi yang dapat dipidana mati sebagaimana yang dimaksud ayat (1) adalah mereka yang tanpa hak menggunakan, memprpoduksi,
mengedarkan, mengimpor, memiliki, menyimpan dan/atau
membawa psikotropika golongan I yang dilakukan secara terorganisasi.33
3. Pasal 80 ayat (1) huruf a, ayat (3) huruf a ; Pasal 81 ayat (3) huruf a ; Pasal 82 ayat (1) huruf a, ayat (2) huruf a dan ayat (3) huruf a UU No. 22/1997 tentang Narkotika.
Salah satu dari bunyi peraturan tersebut dalam Pasal 80 ayat (1) huruf a berbunyi :
“Barangsiapa tanpa hak dan melawan hukum memproduksi, mengolah, mengekstraksi mengkonversi, merakit atau menyediakan narkotika golongan I, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 ( dua puluh ) tahun atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).” 34
4. Pasal 2 ayat (2) UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi : “Dalam hal tindak pidana
33Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku ( Pasal 1 angka 1 ). Psikotropika dikelompokkan dalam 4 golongan, untuk lebih jelasnya tentang daftar psikotropika golongan I-IV baca UU No. 5/1997 (Jakarta: Sinar Grafika, 2002), p. 131-138.
34Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadarn, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Untuk narkotika dikelompokkan menjadi 3 golongan, lebih lanjut baca UU No. 22/1997, (Jakarta: Sinar Grafika, 2002), p. 74-80.
korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.” 35
Dengan demikian pidana mati berlaku bagi setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara ( ayat 1). Ini harus dilakukan dalam keadaan tertentu yaitu keadaan yang dapat dijadikan alasan pemberatan pidana bagi pelaku tindak pidana korupsi, seperti tindak pidana tersebut dilakukan terhadap dana-dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan krisis ekonomi dan moneter serta pengulangan tindak pidana korupsi. 36
5. Pasal 6 Perpu No. 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang bunyinya sebagai berikut :
“Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana terror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban-korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas umum atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.”
Selain apa yang sudah diuraikan sebelumnya baik itu yang berupa pro dan kontra ataupun peraturan-peraturan yang mencantumkan pidana mati, ternyata sebagian besar publik tetap menyetujui pidana mati dalam kasus-kasus tertentu. Hal ini dapat kita
35Karena terdapat berbagai interpretasi terhadap UU No. 31/1999, akhirnya UU ini dirubah dengan UU No. 20/2001, namun pasal 2 ayat (2) substansinya tetap hanya penjelasannya yang berubah.
36Baca penjelasan Pasal 2 ayat (2) UU No. 20/2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
lihat hasil dari jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas tanggal 13, 14 Februari 2003 pada tabel dibawah ini :37
Setuju atau Tidak Pidana Mati Diterapkan ( Dalam Persen )
No. K a s u s Setuju Tidak
Setuju Tidak Tahu 1 Pembunuhan 79,5 17,6 2,9 2 Pemerkosaan 64,5 31,5 4,0 3 Terorisme 78,7 15,0 6,3 4 Pengedar/pemilik narkoba 77,8 20,0 2,2 5 Pecandu narkoba 21,2 77,0 1,8 6 Korupsi 60,4 34,7 4,9 7 Makar/Subversif 32,9 54,3 12,8 8 Separatis/pemberontakan 34,7 57,0 8,3 n : 853 sampling error : - 3,4 %
Dalam jajak pendapat tersebut, ternyata sebagian besar ( 76 persen ) responden tetap menyetujui pidana mati yang diterapkan bagi terpidana kasus-kasus berat, dengan alasan hukuman mati dapat membuat jera pelaku maupun orang lain, untuk mengurangi tindak kejahatan dalam masyarakat dan untuk menegakkan hukum di masyarakat. Sementara itu hanya 20 persen responden yang menolak dengan pertimbangan alasan kemanusiaan bahwa pidana mati terlalu kejam, menutup kesempatan bertaubat dan memperbaiki diri juga masalah hidup dan mati urusannya Tuhan. Dilain pihak tidak kurang dari 71 persen responden setuju terhadap kebijakan Presiden Megawati yang menolak grasi enam terpidana mati.38
Dari data tersebut juga diperoleh keterangan bahwa
kasus-kasus berat seperti pembunuhan berencana, terorisme,
pengedar/pemilik narkoba serta korupsi layak mendapatkan hukuman mati. Bahkan delik perkosaan yang notabene dalam Pasal 278 KUHP
37Baca Kompas, 17 Februari 2003, p. 1, 8. 38Ibid.
ancaman maksimalnya 12 tahun penjara, juga disetujui publik pelakunya diancam pidana mati ( 65 persen ). Gagasan seperti ini beberapa tahun yang lalu sempat diusulkan oleh organisasi wanita bahwa pemerkosa harus dihukum mati, terlebih saat ini trend pemerkosaan semakin merajalela. Ingat kasus pemerkosaan di Klaten yang menyebabkan korbannya tewas, perkosaan di lingkungan keluarga ( bapak menggagahi anak gadisnya, anak memperkosa ibu kandungnya ) dan sejenisnnya. Jika hal ini tidak ditanggapi dengan membenahi perangkat hukum yang ada, maka akan semakin banyak calon pelaku ataupun calon korban yang berjatuhan.
Selanjutnya akan diketengahkan beberapa kejahatan yang oleh sebagian masyarakat dianggab pantas untuk menerima hukuman mati di Indonesia dalam tabel berikut ini: 39
Kejahatan Yang Pantas Dihukum Mati
Tindak Pidana Persen
1. Pembunuhan Berencana 32,4 2. Narkoba 29,2 3. Terorisme 11,7 4. Perkosaan/pelecehan seksual 10,4 5. Korupsi 9,1 6. Perampokan 1,9 7. Makar/ penggulingan 0,4
8. Tidak ada yang pantas 0,8
9. Tidak tahu/jawab 4,2
n : 853 sampling error : - 3,3 %
Kejahatan-kejahatan dalam data tersebut seperti pembunuhan berencana, narkoba, terorisme, korupsi dan makar semua ancaman hukumannya adalah pidana mati, sementara perkosaan/pelecehan seksual dan perampokan masih diancam dengan hukuman penjara. Jadi kejahatan yang dianggab pantas dihukum mati oleh publik menunjukkan prosentase tertinggi pada pembunuhan berencana ( 32,4 persen ), diikuti kejahatan yang dewasa ini semakin menggila, dengan diketemukannya pabrik ekstasi terbesar kedua didunia di Tangerang ( 29,2 persen ), selanjutnya Tragedi Bom Bali yang mengilhami
pemerintah secara darurat mengeluarkan Perpu No. 1 tahun 2002 tentang Terorisme ( 11,7 persen ), makar yang notabene dalam Pasal 104 KUHP diancam hukuman mati justru hanya mendapat 0,4 persen dari responden. Responden merasa lebih pantas memandang delik perkosaan/pelecehan seksual ( 10,4 persen ) dan delik perampokan ( 1,9 persen ) untuk mendapat nilai prosentase lebih dibandingkan makar atau penggulingan. Hal ini dapat dipahami karena makar lebih berbau politik yang erat bersentuhan dengan pemimpin suatu pemerintahan, sedangkan delik terhadap nyawa manusia secara pribadi lebih patut dipertahankan, namun bukan berarti nyawa suatu pemimpin tidak mendapat tempat.
E. Sekilas Tentang Eksekusi Mati
Ada berbagai cara untuk melaksanakan putusan hakim dalam hal terpidana dihukum mati, seperti memakai kursi listrik di salah satu negara bagian Amerika, menggunakan gas beracun, di Perancis memakai alat pemenggalan kepala atau biasa disebut quilotine, atau digantung seperti halnya Indonesia dulu ( Pasal 11 KUHP ). Namun seiring dengan situasi zaman yang berubah, pasal 11 KUHP inipun tidak relevan lagi dengan perkembangan keadaan serta jiwa revolusi Indonesia, sehingga berdasarkan Penetapan Presiden ( Penpres ) No. 2 tahun 1964 tereksekusi mati tidak lagi digantung oleh algojo, melainkan ditembak sampai mati.
Penpres No. 2 tahun 1964 dengan Lembaran Negara 1964 No. 38 yang selanjutnya berubah menjadi Undang-Undang, mengatur tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati Yang Dijatuhkan oleh Pengadilan Dilingkungan Peradilan Umum dan Militer, dilakukan dengan cara ditembak sampai mati ( Pasal 1 ) oleh sebuah Regu Penembak dari Brigade Mobile yang terdiri dari seorang Bintara, dua belas Tamtama dibawah pimpinan seorang Perwira, dan tidak menggunakan senjata organiknya ( Pasal 10 ayat 1, 2 ). Pada kasus pembunuhan yang melibatkan ibu ( Sumiarsih ), bapak ( Djais Adi Prayitno ), anak ( Sugeng ), serta menantu ( Adi Saputro ) di Surabaya tahun 1988 sekitar 15 tahun yang lalu menghantarkan sekeluarga menghadap regu tembak. Eksekusi mati pertama telah dilaksanakan dibawah peradilan militer terhadap Adi Saputro yang kebetulan anggota
polisi, kemudian menyusul kematian sang bapak sebelum eksekusi karena sakit tahun 2001 di LP Kalisosok Surabaya, saat ini tinggal ibu dan anak yang tengah menghitung hari menanti eksekusi. Sebenarnya Sumiarsih, Sugeng dan Djais (alm) adalah “ orang-orang yang beruntung” yang diuntungkan oleh peraturan lama (Orde Baru) dimana mereka diperkenankan mengajukan grasi lebih dari satu kali. Grasi pertama tahun 1995 ditolak oleh Presiden Soeharto tertuang dalam Keppres No. 22/1995 tanggal 28 Juni 1995, namun setelah grasi ditolak tidak ada realisasinya yang mana eksekusi tidak segera dijalankan yang berakibat beban penderitaan semakin panjang. Selanjutnya di tahun 2003 mereka mencoba peruntungan untuk mengajukan permohonan grasi kepada Presiden Megawati yang diyakini karena berjenis kelamin perempuan berharap hukumannya berubah, namun perjuangan mereka tetap berstatus terpidana mati yang dituangkan dalam Keppres No. 20/G, tanggal 3 Februari 2003 lalu. Saat ini sudah ada UU Grasi yang baru yang disetujuioleh DPR dan disahkan Presiden tahun 2002, dimana terpidana mati hanya sekali saja mengajukan permohonan keringanan hukuman kepada Presiden.
Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) pelaksanaan eksekusi Sumiarsih dan Sugeng akan berlangsung “istimewa”, ditembak mati secara bersamaan, ditempat yang sama namun di hadapan regu tembak yang berbeda. Artinya pihak kejaksaan selaku pelaksana eksekusi akan meminta bantuan Brimob untuk menyiapkan dua regu tembak yaitu 26 personel yang memiliki kualifikasi sebagai penembak jitu. Karena tereksekusinya dua orang, maka keduanya diikat pada tiang penyangga yang berbeda namun pada posisi berjajar, dan jarak antara regu tembak dengan masing-masing terpidana paling jauh 10 meter. Adapun sasaran tembak adalah dengan membidikan senjatanya ( hanya satu senjata yang berisi peluru sungguhan, lainnya peluru hampa ) pada jantung terpidana, jika masih menampakkan tanda belum mati maka komandan regu akan menyelesaikannya dengan menempelkan pistol di kepala tepat diatas telinga terpidana ( Pasal 14).
Seberapa ngeri, seberapa pedih bila maut datangnya dapat diketahui dengan pasti yaitu tiga kali dua puluh empat jam sebelum eksekusi terpidana sudah harus diberitahu ( Pasal 6 ) dan eksekusi akan dijalankan disuatu tempat dalam daerah hukum pengadilan yang
menjatuhkan putusan dalam tingkat pertama ( Pasal 2 ). Dikatakan disuatu tempat berarti lokasi tepatnya dirahasiakan untuk menghindari massa terutama yang anti pidana mati, juga untuk memudahkan selaku eksekutor menyelesaikan tugasnya. Namun lokasinya di daerah hukum Pengadilan Negri setempat, seperti Sumiarsih dan Sugeng eksekusi akan dilaksanakan di wilayah Surabaya. Sehubungan lokasinya dirahasiakan, maka pelaksanaan pidana mati dilakukan secara tertutup tidak dimuka umum ( Pasal 9 ) dilakukan sesederhana mungkin.
Dalam mengkritisi masalah eksekusi ini ada hal- hal yang perlu direvisi ataupun mencari alternatif pengganti cara yang lebih “manusiawi” seperti yang diinginkan PBB seumpama “ditembak mati” diganti dengan cara “disuntik mati” yang terkesan lebih santun meski terpidana pernah mengambil nyawa orang tanpa permisi. Sebaliknya saat maut akan diambil secara legal oleh negara, sebaiknya ada orang terdekat yang ikut menyaksikan setidaknya memberi do’a penuntun sampai aliran suntikan menghentikan nafasnya. Dibandingkan dengan ditembak mati ada aliran darah yang benar-benar menampakkan kematian yang mengerikan, dengan disuntik mati tanda kematian tidak timbul secara jelas karena tidak ada yang luka dalam tubuhnya.
Selain itu berbekal pengalaman yang dialami keluarga Sumiarsih yang dapat mengajukan grasi dua kali, diakibatkan kejaksaan tidak segera menindaklanjuti untuk dieksekusi sesegera mungkin. Efek lainnya pihak terpidana mati ataupun keluarganya semakin menanggung penderitaan baik psikologis maupun sosilogis, ingat terpidana mati Toegiman dalam kasus Solo berdarah harus mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di tahanan karena tidak kuat mental salah satunya tidak ada kepastian kapan eksekusi dijalankan setelah hampir 10 tahun menanti di hotel prodeo. Oleh karena itu, sebaiknya setelah grasi ditolak secepatnya eksekusi dijalankan dengan cara menyebut batas akhir waktu eksekusi, seperti halnya di Malaysia eksekusi dilaksanakan selambat-lambatnya satu tahun setelah putusan hakim mempunyai kekuatan hukum tetap atau di Indonesia setelah grasi Presiden turun. Dengan cepatnya proses eksekusi juga memperpendek penderitaan, kegalauan dan kegamangan nasib si terpidana mati, mengurangi anggaran negara yang berpuluh-puluh
tahun dihabiskan untuk membiayai terpidana mati sekaligus sebagai wujud penegakan hukum di Indonesia.
F. Penutup
Berdasarkan uraian diatas, pidana mati memang selalu menimbulkan masalah baik yang menyetujui untuk tetap dicantumkan dalam kejahatan-kejahatan yang tertentu dengan didukung oleh berbagai alasan, demikian pula bagi kelompok yang anti hukuman mati bersuara keras menentang hukuman ini dihapuskan di Indonesia dengan landasan yang dianggab kuat dan rasional. Terlepas dengan pro dan kontra, sampai saat ini pemerintah masih memandang perlu untuk tetap mempertahankan pidana pencabutan nyawa manusia dalam beberapa peraturannya termasuk dalam Rancangan KUHP Nasional.
Jika selama ini pelaksanaan pidana mati berdasarkan peraturannya dilakukan dengan cara ditembak sampai mati, sebaiknya peraturan ini direvisi menggantinya dengan cara yang lebih manusiawi semisal disuntik mati. Demikian pula perlu diperhatikan masalah waktu penantian menunggu eksekusi mati diperpendek dengan menyebutkan dalam peraturan batas akhir eksekusi. Dengan jalan demikian akan mengurangi beban penderitaan dan anggaran negara untuk membiayai hidup di LP selakigus menegakan hukum demi keadilan khususnya mereka yang akan mati.
Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Semarang: PT Tanjung Mas Inti, 1992.
A. Z. Zainal, Bunga Rampai Hukum Pidana, Jakarta: Pradnya Paramita, 1983.
Andi Hamzah, A. Sumangelipu, Pidana Mati di Indonesia di Masa Lalu, Kini dan di Masa Depan, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985.
______, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia dari Retribusi ke Reformasi,
Jakarta: Pradnya Paramita, 1986.
Bambang Poernomo, Ancaman Pidana Mati dalam Hukum Pidana di
Indonesia, Yogyakarta: Liberty, 1982.
Djisman Samosir, Fungsi Pidana Penjara dalam Sistem Pemidanaan di Indonesia,Bandung: Bina Cipta, 1992.
Hermann Mostar, Peradilan yang Sesat, Jakarta : Grafiti Pers, 1983.
Muladi, Barda Nawawi Arif, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, Bandung: Alumni,1984
Moehadi Zainal, Pidana Mati Dihapuskan atau Dipertahankan, Yogyakarta: Hanindita, 1984
Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam ( Fiqih Jinayah ), Bandung: Pustaka Setia, 2000.
R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ) serta
Komentar-komentar nya Lengkap Pasal demi Pasal, Bogor: Politeia, 1986 UUD 1945 Hasil Amandemen dan Proses Amandemen UUD
1945 Secara Lengkap( Pertama 1999 – Keempat 2002 ), Jakarta: Sinar Grafika, 2002
Undang-Undang No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Bandung: Citra Umbara, 2002
Undang-Undang Narkotika ( UU No. 22/1997 ) dan Psikotropika ( UU No.5 tahun 1997), Jakarta: Sinar Grafika, 2002
Surat Kabar / Majalah:
Forum Keadilan No. 24, Februari 1990
Kedaulatan Rakyat, 11, 12, 13, 14 Februari 2003 Kompas, 17, 18 Februari 2003
Liberty No. 2152, Tanggal 21-28 Februari 2003 Novum, April 1990
Republika, 26 Februari 2003
Tabloid Gugat No. 211 Tahun V, 30 Desember 2002 – 05 Januari 2003 Yogya Post, 28 September 1991