• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politik Identitas Etnik Jawa Di Sumatera Utara Chapter III IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Politik Identitas Etnik Jawa Di Sumatera Utara Chapter III IV"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

ANALISIS PEMIKIRAN DAN KEKUATAN POLITIK IDENTITAS ETNIK JAWA DI SUMATERA UTARA

3.1 Masyarakat Jawa di Sumatera Utara

Sikap hidup masyarakat Jawa pada umumnya tidak terlepas dengan

budaya Jawa. Orang Jawa dikenal dengan tatakrama, tentram dan penyabar. Hal ini dapat dikatakan bahwa budaya Jawa telah mengakar beratus-ratus tahun dan

telah mendarah daging bagi masyarakat Jawa. Sikap masyarakat Jawa memiliki

identitas tersendiri yang dilandasi dengan nasihat-nasihat dari nenek moyang

sampai turun menurun hingga digunakan pada masyarakat yang serba modern ini

dan lebih lanjutnya pada pendidikan budi pekerti yang mengajarkan tentang

kepribadian, sopan santun dalam bersikap dan berbicara.

Sikap masyarakat Jawa di Sumatera Utara tidak berfokus pada gaya

masyarakat Jawa di Pulau Jawa. Keadaan masyarakat Jawa di Pulau Jawa lebih

cenderung kepada budaya yang mendominasi dibandingkan dengan budaya lain.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak SukirmantoKetua Satgas Joko Tingkir:

“...Di pulau Jawa, orang Jawa menjunjung nilai-nilai toleran antara budaya lain, bahkan etnis lain menggunakan bahasa sehari-hari dengan bahasa Jawa dan hubungan kekerabatan terjunjung tinggi seperti menghadiri kematian baik agama islam maupun kristen katholik. Intinya tidak ada perbedaan atau terkotak-kotak. Sedangkan di Sumatera Utara masih membawa isme tersendiri.”81

Dalam kehidupan, masyarakat Jawa menghendaki keselarasan dan

keserasian dengan pola pikir hidup saling menghormati. Dengan hal seperti ini

81

(2)

akan menumbuhkan kerukunan baik di lingkungan rumah tangga maupun di luar

rumah tangga atau di dalam masyarakat luas. Namun, pola kehidupan masyarakat

Jawa di Sumatera Utara tidak sesuai lagi pada koridornya, Sebagaimana yang di

ungkapkan oleh Bapak Shoibul AnshorDewan Pakar FKWJ:

“Orang Jawa lebih mengutamakan budaya yang dia miliki. Maka tidaklah heran di sekitar wilayah tempat tinggalnya berbahasa dengan menggunakan bahasa Jawa kromo (Jawa kasar). Padahal dia sudah berakulturasi dengan lingkungan tempat tinggal yang memiliki budaya masing-masing seperti karo, mandailing, batak, melayu dan lainnya. Seakan-akan budaya Jawa yang ada.”82

“...konsekuensi orang Jawa berpindah ke sumatera harus menerima akulturasi budaya..”

Jika melihat pernyataan yang di ungkapkan oleh Bapak Sukirmanto dan

Bapak Shoibul Anshor memiliki perbedaan, bahwa keadaan masyarakat Jawa

yang dominan, mengharuskan masyarakat Sumatera Utara harus sama seperti

keadaan masyarakat di pulau Jawa yang sehari-hari menggunakan bahasa Jawa.

Sedangkan Shoibul Anshor mengikuti keadaan lingkungan dimana tempat orang

Jawa itu tinggal. Hal ini diperjelas oleh pernyataan Bapak RujitoSeketaris Umum

Satgas Joko Tingkir:

83

Tujuan orang Jawa datang ke Sumatera untuk mencari nafkah dalam

memenuhi kebutuhan hidup bukan berpolitik. Seiring bertambah jumlah orang

Jawa yang di perkerjakan pada perkebunan tembakau deli, menjadikan jumlah

orang Jawa meningkat. Oleh karena itu, prinsip hidup orang Jawa adalah dimana

82

Hasil wawancara bersama Bapak Shohibul Anshor di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Juma’at, 05 Mei 2017 Pukul 17.00 Wib.

83

(3)

bumi di pijak disitu langit dijunjung. Ada tiga hal prinsip yang dipegang dalam

asas kehidupan orang Jawa84

“...paguyuban Jawa di bentuk untuk keseduluran orang Jawa atau membangun tali persaudaraan (hablumminannas) di Sumatera Utara.”

pertama, orang harus sadar bahwa hidupnya selalu bergantung kepada orang lain. Sebab seseorang tidak dapat hidup sendiri dan

untuk itu seseorang harus menjalin hubungan baik dengan siapa pun. Kedua,

orang harus selalu bersedia membantu sesamanya. Ketiga, orang harus bersifat

konform yaitu selalu ingat bahwa seseorang sebaiknya jangan berusaha menonjol atau melebihi orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini diperjelas oleh

Bapak Ruslan Ketua Umum Pendawayang mengatakan:

85

3.1.1 Sikap Politik Masyarakat Jawa di Sumatera Utara

Dalam segi politik,sikap masyarakat Jawa yang ada di Sumatera Utara

sangat berbeda dengan masyarakat Jawa di pulau Jawa. Hal ini diungkapkan oleh

Bapak RuslanKetua Umum Pendawa:

“...orang Jawa di Sumatera Utara belum tentu memilih orang Jawa. Ada faktor lain yang membuat orang Jawa belum tentu memilih orang Jawa. Adanya calon kepala daerah yang maju dari kalangan keluarga, tetangga dan . Keadaan yang rumpun di Sumatera Utara sikap orang Jawa lebih fleksibel dan mengedepankan sikap nasionalis misal: pada saat pemilihan gubernur tahun 2008, Syamsul yang berpasangan dengan Gatot, Abdul Wahab Dalimunthe dengan Romo Syafi’i dan Tri Tamtomo dengan Benny Pasaribu membuat suara orang Jawa pecah yang di menangkan oleh Syamsul. Hal ini merupakan bukti bahwa politik Jawa di Sumatera Utara lebih rumpun...”86

84

Thomas Wiyasa Bratawijaya. 1997. Mengungkap dan Mengenal Budaya Jawa, Jakarta: PT.Pradnya Paramita, Hal.82-83

85

Hasil wawancara bersama Bapak Ruslan di Jl. Garu III, Gg. Meranti, Senin, 08 Mei 2017 Pukul 11.30

86

(4)

Pernyataan yang disampaikkan oleh Bapak Ruslan terlihat bagaimana

keadaan sikap masyarakat Jawa di Sumatera Utara mengikuti akulturasi budaya

lingkungan tempat tinggalnya. Sehingga belum tentu orang Jawa yang

mencalonkan diri untuk berkontestasi di pemilihan umum legislatif maupun

pemilihan kepala daerah di pilih oleh orang Jawa. Pada tahun 2013 orang Jawa

terwakili pada pemilukada Sumatera Utara oleh Soekirman, Jumiran Abdi dan

gatot Pujo Nugroho. Sehingga menimbulkan perebutan suara diantara ke tiga

calon tersebut yang mengatasnamakan pemimpin berasal etnis Jawa. Jumlah

dominan orang Jawa di Sumatera Utara akibat dari pekerja buruh di perkebunan

oleh kolonial Belada dan program transmigrasi pemerintahan orde baru menjadi

ladang perebutan para tokoh. Tokoh-tokoh yang maju dianggap mewakili etnis.

Padahal etnik telah berubah menjadi kelompok kepentingan yang dianggap

memiliki kepentingan-kepentingan politik maupun ekonomi. Hal ini diperjelas

oleh Bapak Warno Ketua Umum PATRIdalam wawancara:

“Orang Jawa selalu manut ( tunduk ) dari sikap kebiasaan orang Jawa..”87

Demokrasi mengubah pola sikap dari orang Jawa itu sendiri. Keterbukaan

Orang Jawa pada semua suku menjadikan orang Jawa diperhitungkan dalam

pencalonan legislatif maupun kepala daerah. Keikutsertaan orang Jawa dalam

ranah politik khususnya di Sumatera Utara mengembangkan politik aspirasi dari

masyarakat Jawa. Selain itu, terjunnya orang Jawa dalam ranah politik

87

(5)

mengingatkan di dalam diri orang mempunyai kepribadian pemimpin. Hal ini

diungkapkan oleh Bapak Rujito Seketaris Umum Satgas Joko Tingkirdalam

wawancara mengatakan:

“...orang-orang Jawa yang akan terjun ke dalam politik harus memiliki :

ing ngarso sung tulodo (di depan memberi teladan), ing madyo mangun karso (di tengah-tengah membangkitkan), tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan).”88

88

Hasil wawancara bersama Bapak Rujito di jl. Sei Batang Serangan No.23, Selasa, 25 April 2017 pukul 13.10 Wib.

Pernyataan yang disampaikan oleh Bapak Rujito memperjelas

faktor-faktor orang Jawa yang terjun ke dalam politk. Faktor tersebut menjadi landasan

yang di miliki dalam kepribadian orang Jawa dalam membangun keadaan politik

pada wilayahnya. Kita ketahui Clifford Geertz membagiJawa atas tiga golongan

yaitu: abangan, santri dan priyayi. Golongan yang dikatakan Clifford Geertz tidak

mencermin orang Jawa di Sumatera Utara. Orang Jawa Sumatera Utara tidak

membuat perbedaan kelas menengah, bawah dan religi. Sebab mereka sudah

berakulturasi dengan budaya di Sumatera Utara. Tapi mengenai kepekaan dan

mengerti tentang politik dan perkembangan politik adalat elit etnis Jawa atau

petinggi paguyuban. Sedangkan masyarakat Jawa biasa tidak memahami

mengenai politik. Bagi mereka, urusan politik tidak diambil pusing yang mereka

tahu hanya mencari nafkah dan pada waktu pemilu, memilih sesuai dengan

keinginan masing-masing. Seperti halnya yang di ungkapkan oleh Bapak Ruslan

(6)

“...Masyarakat Jawa dalam perpolitikan sebagian mengerti dan sebgaian tidak memahami. Kalangan bawah tidak begitu peduli kepada perpolitikan yang ada di Sumatera Utara. Mereka hanya mencari nafkah untuk kelurga sedangkan kalangan atas lebih memahami kepada politik bahkan haus dengan kekuasaan..”89

“...tugas para pemimpin paguyuban untuk memberikan pengarahan kepada masyarakat Jawa kalangan bawah untuk tidak buta pada politik. Kaderisasi tidak harus sampai pada kabupaten atau kecamatan saja melainkan ke desa-desa. Meskipun sangat jauh di lakukan tetapi ini menjadi bagian untuk mepersatukan warga Jawa sehingga orang Jawa tidak terdoktrin oleh faktor-faktor lainnya.”

Pemahaman politik dan penjelasan tentang politik tidak sebagian

masyarakat Jawa mengetahui. Banyak dari kalangan masyarakat bawah Jawa

kesadaran akan pemahaman politik tidak mendapatkan pelajaran. Hal ini

diungkapkan oleh Bapak WarnoKetua Umum PATRI,

90

Masyarakat Jawa yang ada di Sumatera Utara perlu direvitalisasi baik

dalma bidang sosial, ekonomi terkhusus bidang politik. Politik cara yang tepat

merevitalisasi orang Jawa untuk membangkitkan marwah Jawa. Paguyuban

menjadi faktor dalam merevitalisasi sikap masyarakat Jawakendati jumlah orang

Jawa mayoritas, sehingga masyarakat keturunan Jawa kalangan bawahtidak

terpinggirkan dan menjadi objek dari etnis lain. Kebanggaan hanya dilihat dari

segi jumlah, tetapi optimalisasi untuk membulatkan satu persepsi sulit di raih.

Politik menjadi wadah untuk pemberdayaan masyarakat Jawa. Eksistensi orang

Jawa dapat disalurkan dengan adanya paguyuban-paguyuban Jawa di Sumatera

89

Hasil wawancara bersama Bapak Ruslan. Ruslan di Jl. Garu III, Gg. Meranti, Senin, 08 Mei 2017 Pukul 11.30 Wib.

90

(7)

Utara. Bukan menjadi hal yang mudah mencari figur orang Jawa yang layak

menjadi pemimpin.Setidaknya,memiliki keteladanan dan diikuti oleh masyarakat

yang dipimpinnya. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Shoibul AnshorDewan Pakar

FKWJ dalam wawancara mengatakan:

‘Belum paham orang Jawa tentang modal dan sosial networking. Dia mempunyai sesutau yang berharga tetapi tidak tahu mengaturnya.”91

“...pada dasarnya manusia menginginkan kekuasaan untuk berkembang dan maju. Maka mereka ikut dan terjun ke politik untuk menjadi seorang pemimpin dan populer. Untuk mencapai semua itu mereka ikut ke dalam , partai politik bahkan mencalonkan diri dalam pilkada.”

Pernyataan yang disampaikan oleh Bapak Shohibul Anshor terlihat

bagaimana keadaan masyarakat Jawa yang belum mengerti dengan hal-hal politik.

Salah satu cara yang dapat merevitalisasi orang Jawa tersebut masuk ke dalam

partai politik, - politik maupun mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Sehingga

popularitas bukan dilihat dari jumlah yang dominan melainkan keterlibatan dalam

perpolitikan untuk mempengaruhi keputusan-keputusan pemerintah. Hal ini

diperjelas oleh Bapak WarnoKetua Umum PATRI dalam wawancara mengatakan:

92

Sifat dari alon-alon waton kelaton saat ini mulai nampak, perlahan-lahan

tapi pasti dalam melaksanakan sesuatu. Munculnya tokok-tokoh politik Jawa

dalam kancah perpolitikan di Sumatera Utara memunjukkan sikap identitas orang

91

Hasil wawancara dengan Bapak Shohibul Anshor di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Juma’at, 05 Mei 2017 Pukul 17.00 Wib.

92

(8)

Jawa. Hal ini diungkapkan oleh Bapak RuslanKetua Umum Pendawa

menyatakan:

“...dahulunya orang Jawa tidak pd atau istilahnya minder. Orang Jawa dulu hanya berfokus untuk kehidupan keluarga. Karena tujuan mereka ke Sumatera Utara bukan berpolitik namun mencari nafkah. Saat ini, keadaan terbalik banyak orang-orang Jawa terjun ke dalam politik atau masuk ke dalam partai politik serta menduduki jabatan-jabatan tinggi di pemerintah seperti: Wagirin Arman (ketua DPRD Sumut), Sulitianto (wakil Bupati langkat), Budiono (wakil Bupati Langkat), Soekirman ( Bupati Serdang Berdagai)...”93

Keikutsertaan orang Jawa dalam perpolitikan Sumatera Utara tidak

terlepas juga dari sikap utama yan terkandung dalam syair megatruh antara

lain:94ing ngarsa ambengkas karya (bila kita diberi kepercayaan oleh pimpinan, maka harus dilaksanakan tugas secara tuntas dan penuh tanggug Jawab), ing madya tansah ambudidya (selalu berupaya bagaimana kita dapat mengatasi masalah dengan baik) dan ing wuri tansah sumadya (selalu siap melaksanakan tugas sewaktu-waktu mendapat perintah tanap alasan.

Selain itu sikap orang Jawa nrimo ing pandum atau lebih dikenal dengan istilah menerima apa yang telah diberikan, karena segala sesuatu sudah diatur.

Maka tidaklah heran orang Jawa diperhitungkan dalam pencalonan legislatif

maupun eksekutif dan ini merupakan faktor politik identitas Jawa di Sumatera

Utara muncul.

93

Hasil wawancara bersama BapakRuslan Jl. Garu III, Gg. Meranti, Senin, 08 Mei 2017 Pukul 11.30 Wib.

94

(9)

3.2Pemikiran Politik Identitas Etnik Jawa di Sumatera Utara

Wong Jawa di Sumatera memiliki nilai etis filosofi sebagai dasar

pemikiran yang digunakan orang Jawa sebagai pedoman kehidupan dari warisan

ajaran leluhur seperti kutipan filosofi serat Wedhatma yang berbunyi:

Ngelu iku kalakone, kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara. Angkara gung neng angga anggung gumulung, gegolonganira, triloka lekere kongsi, yen den umbar ambabar dadi rubeda. Basa ngelmu mupakate lan panenmu, pasahe lan tapa, yen satriya tanah Jawi, kuna-kuna kang ginilut tripakara. Lila lamun kelangan nora gegetun, trima yen ketaman, sakserik sameng dumadi, tri legawa nalangsa srah ing bathara95

Selain itu, ungkapan rawe ing gawe mengandung maksud suka bekerja atau cepat kaki ringan tangan. Orang yang berjiwa rame ing gawe pantang menyerah. Negara akan maju dan berkembang dengan keringat orang yang suka

berkerja. Prokduktivitas kerja akan menolong orang lain untuk sama-sam

merasakan rembesan keringat hasil kerjanya. Dimana-mana saja orang dapat

memberi kalau dia mempunyai. Kalau tidak punya maka apa yang lantas akan .

Ajaran ini benar-benar meresap di relung hati sanubari orang Jawa yang

melakukan perantauan sekitar abad ke 19, 20 dan orde baru. Semangat orang Jawa

yang bersedia melakukan mobilitas antarpulau pada awal abad 20 dilandasi oleh

konsep ilmu laku, jangka-jangkah, jangkaning jaman. Sikap asketis intelektual ini banyak dihayati orang Jawa yang ada di tanah perantauan. Sehingga para

perantauan Jawa cukup akomodatif dan adaptif dengan lingkungan baru.

95

(10)

diberikan, selain kerja yang tekun, kerja keras merupakan sarana untuk berbuat

baik dan berguna bagi masyarakat dan merupakan perilaku yang teramat mulia.

Orang akan menghargai pihak lain yang mau bekerja dengan tekun dan tulus.

Orang yang rame ing gawe tidak akan merongrong pihak lain, apalagi jika diimbangi dengan sikap tidak mengharapkan balas jasa.96

Sepi ing pamrih artinya mengosongkan ambisi pribadi yang dapat merugikan orang lain. Orang yang terlalu banyak ambisi biasanya akan

melakukan tindakan yang tega mengorbankan orang lain. Menjegal dan menyepak

pada kawan seiring dan menjilat pada atasan adalah contoh buruk orang yang

berambisi tinggi dengan memakai jalan ilegal. Nglurung tanpa bala artinya mendatangi lawan tanpa mengerahkan massa. Pemimpin politik, tokoh adat, dan

pemuka agama pasti mempunyai pengikut. Kalau ada suatu masalah selalu

mengerahkan massa, maka yang akan terjadai adalah konflik dan bentrok antar

pengikut.97

Pemimpin yang menghadiri pengerahan massa dan tidak pamer,

sebenarnya lebih efektif dan terhormat karena terhindar dari adanya perpecahan.

Sementara itu, orang lain yang melihatnya pun tidak merasa takut, terancam dan

kuatir. Baginya yang terpenting adalah segala maksud tercapai. Esensi diplomat

ulung menekankan hasil yang damai. Efektifitas dan efisiensi seorang diplomat

dapat dicapai dengan pengorbanan.98

96Ibid,

hlm.136.

97Ibid,

hlm.189.

98

(11)

Kini muncul tokoh-tokoh Jawa Sumatera Utara yang bersebaran di tanah

rantau antara lain: Gatot Pujo Nugroho (Mantan Gubernur Sumatera Utara),

Soekirman (Bupati Serdang Bedagai), Kasim Siyo ( Mantan Komisaris Bank

Pemangunan daerah (BPD)Sumatera Utara), Sudarwanto (Mantan Wakil Bupati

Labuhan Batu), Wagirin Arman (Ketua DPRD Sumatera Utara), Budiono (

Mantan Wakil Bupati Langkat), Sulistianto (Wakil Bupati Langkat). Pikiran,

Tindakan dan karya mereka merupakn aktualisasi yang konkrit dari politik

identitas etnik Jawa yang terbangun di Sumatera Utara. Hal ini terlihat dalam hasil

wawancara dengan Bapak Warno Ketua Umum PATRI yang mengatakan:

“Pada dasarnya manusia harus berpolitik tidak harus diam saja yang menjadikan kita lebih maju. Orang Jawa harus lebih unggul dengan motivasi-motivasi dan munculnya tokoh Jawa dalam politik...”99

Politik identitas etnik Jawa bersemi Di Sumatera Utara tidak terlepas juga

dari seniman-seniman budaya Jawa yang berkontribusi mengembangkan budaya

Jawa di Sumatera seperti: kentropak, ludrug, keroncong dan lain-lainya. Kesenian Orang Jawa yang berakulturasi di Sumatera Utara tidak membuat etnis asli

Sumatera Utara Melayu dan Batak menolak perpindahan dari Pulau Jawa ke

Sumatera Utara hingga jumlah penduduk etnis Jawa lebih besar dibandingkan

etnis asli melayu dan batak. Runtuhnya orde baru tahun 1998, dinamika politik di

daerah memasuki babak baru. Aktor, institusi dan budaya lokal bermunculan

kembali dan mulai memainkan peran di dalam politik lokal.

99

(12)

lokalatau seringkali disebut sebagai kesenian tradisionalbukan hanya bentuk

hiburan populer yang dalam rentang waktu partikularmampu menyuguhkan

kegembiraan maupun sarana untuk keluar darikepenatan hidup. Kesenian lokal

juga bisa menjadi bentuk pengikat yangmempertemukan imajinasi sebuah

komunitas ataupun masyarakat terkaitselera estetik dan identitas yang dimaknai

melalui bermacam gerak tari,permainan peran, maupun tembang. Lebih dari itu,

melalui kesenian lokal,makna-makna kultural yang ditujukan untuk kepentingan

politis pembentukanidentitas bisa dikonstruksi.

Aktor-aktor lokal yang terorganisir seperti paguyuban terjun ke dalam

politik dengan simbol-simbol kultur mereka. Sebuah glorifikasi masa lampau

untuk kepentingan masa kini.Hal ini diungkapkan Bapak Ruslan Ketua Umum

Pendawa dalam wawancara,

“Efek dari kondisi politik yang ada di Indonesia. Jika pada saat orde baru para paguyuban yang ingin terjun ke ranah politik masih berpikir panjang. Sedangkan sekrang sudah era keterbukaan dan paguyuban menjadi kelompok-kelompok yang di perhitungkan dalam setiap pemilu dalam mendapat dukungan...”100

100

Hasil wawancara bersama Bapak Ruslan di Jl. Garu III, Gg. Meranti, Senin, 08 Mei 2017 Pukul 11.30 Wib.

Era keterbukaaan dimanfaatkan kalangan organisasi yang berlatarbelakang etnis,

agama dan lainnya. Adanya aspirasi lokal yang terkesampingkan, karena dicap

tidak nasionalis dan berlawanan dengan gagasan persatuan. Hal ini diungkapkan

Bapak WarnoKetua Umum PATRI dalam wawancara:

(13)

Pernyataan Bapak Warno menjelaskan bagaiman keadaan orang-orang

Jawa dan suku lain yang ada di daerah-daerah terpencil tidak menjadi sorota

pembangunan peemerintah. Masyarakat Jawa kalangan bawah tidak mengerti

mengenai politik. Mereka hanya mengetahui politik aspirasi yaitu menyampaikan

keadaan sosial, kesejahteraan dan infastruktur yang ada di kampung mreka.

Keadaan ini memunculkan sikap kesukuan bahwa ketika pemerintahan di pegang

dari etnik batak maka pembangunan lebih banyak kepada daerah suku tersebut,

jika dari kalangan melayu, pembangunan cenderung daerah-daerah timur. Sikap

kesukuan timbul adanya rasa membangkitkan identitas etnis. Hal ini

diungkapakan Bapak Jumadi Ketua Umum PPPS-SU dalam wawancara :

“...identitas muncul untuk menunjukkan jati diri dari kelompok maupun individu. Identitas muncul dari strategi, pola, bahkan landasan yang suku lain tidak memilikinya, sehingga ada rasa bahwa inilah suku kami, inilah identitas kami...”

Terbangunnya identitas tidak terlepas dari informasi dan komunikasi

terbentuk. Media salah satu sumber informasi dan komunikas terwujudnya politik

identitas. Hal ini diungkapkan Bapak ShohibulDewan Pakar FKWJ,

“..., identitas terbangun dari sebuah opini dan mediasi..”101

Berbagai macam bentuk terbentuknya politik identitas Jawa di Sumatera

Utara. Jumlah orang Jawa dominan di Sumatera Utara menjadi unsur dari identitas

etnik Jawa dan jumlah paguyuban yang begitu banyak serta orang Jawa yang

101

(14)

masuk ke dalam partai politik . Hal ini diungkapkan Bapak Warno Ketua Umum

PATRI dalam wawancara

“Dengan tumbuhnya paguyuban seperti jamur, bahwa orang Jawa sudah pandai ber. Oleh karena itu dari bisa mendapatkan wawasan politik sehingga orang-orang yang di dalam paguyuban pun sekarang ini ingin terjun dalam ranah politik..”102

“...Secara kuantitatif orang Jawa berkembang, secara kualitatif memang berkembang mutunya orang Jawa yang menjadi dosen, dokter, PNS dan lainnya. Selain itu munculnya komunitas-komunitas Jawa yang dikenal paguyuban menambah identitas ditambah lagi pada tahun 2013 keberhasilan etnik Jawa menjadi pemimpin di Sumatera Utara yang memunculkan kebanggaan tersendiri bagi orang Jawa.”

Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Bapak RudjitoSeketaris Umum

Satgas Joko Tingkir yang mengatakan:

103

“...tokoh-tokoh Jawa yang memberikan warna perpolitikan para orang Jawa seperti pak sukardi sebagai pengagas di pujakesuma dan keberhasilan orang Jawa dalam menduduki posisi di pemerintahan, sehingga memberikan pengaruh bagi politik Jawa. Jika dahulu orang Jawa hanya ikut-ikutan saja, sekarang kita mengatur strategi bagaimana memenangkan pemilukada di daerah-daerah. Generasi penerus sekarang lebih peka terhadap politik ditambah lagi dengan adanya paguyuban-Peran pemikiran tokoh-tokoh Jawa di perpolitikan Sumatera Utara sebagai

wujud politik aspirasi yang memiliki jumlah dominan dan keterlibatan orang Jawa

di ranah politik menduduki institusi pemerintahan. Adanya upaya memberikan

semangat pada orang Jawa dalam perpolitikan di Sumatera Utara. Hal ini

diungkaapkan Bapak WarnoKetua Umum PATRI yang mengatakan:

102

Hasil wawancara bersama Bapak Warno di Stikel Helvetia, Rabu, 10 Mei 2017, Pukul 13.12 Wib.

103

(15)

paguyuban yang dapat memberikan warna bagi orang Jawa dalam politik.”104

Identitas Jawa di Sumatera Utara berkembang secara universal dari

perubahan rezim otoriter. Otonomi daerah menjadi salah satu faktor menguatnya

identitas di ranah lokal. Ada beberapa hal yang diungkapkan Bapak Kasim Siyo

Tokoh Jawa Sumatera Utara dalam bentuk pola:105

Bagan 3.1 Pola Timbulnya Politik Identitas Etnik Jawa di Sumatera Utara

104

Hasil wawancara bersama Bapak Warno di Stikel Helvetia, Rabu, 10 Mei 2017, Pukul 13.12 Wib.

105

Hasil wawancara bersama Bapak Kasim Siyo di Pasca Sarjan Universitas Panca Budi, Selasa, 25 April 2017 Pukul 10.25 Wib.

Organization and Network

Informacition and Comunicattion

Trust

(16)

Organization disini adalah paguyuban. Peran paguyuban di ranah politik memiliki pengaruh yang besar. Kekuatan jumlah masa yang besar, tidaklah heran

jika paguyuban diperhitungkan dalam ranah politik pemilu. Selain itu, paguyuban

menjadi alat dalam memenangkan calon eksekutif maupun legislatif. Adanya

unsur etnisitas yang dianggap sebagai putera daerah dan mewakili masyarakat

etnis. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Shoibul AnshorDewan Pakar FKWJ yang

mengatakan:

“...mereka memiliki paguyuban atau komunitas yang dapat diakses dalam pemilihan umum dengan simbol-simbol dan unsur lainnya. Sehingga para calon kandidat meminang atau berduet dalam pemilu.”106

“...Pendawa mendukung Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho dan pada tahun 2013 Pendawa kembali mendukung Gus Irawan dan Soekirman” Pernyataan Bapak Shoibul Anshor diperjelas oleh Bapak RulsanKetua

Umum Pendawa yang mengatakan:

107

“...Politik identitas dimunculkan juga sebagai menghasut pemikiran pemilih dengan menggunakan simbol-simbol budaya agar dapat mengambil hati masyarakat, sehingga orang lain tertarik.”

Struktur paguyuban mempunyai tingkatan dari pimpinan wilayah,

pimpinan daerah, pimpinan cabang hingga pimpinan ranting. Tingkatan menjadi

perluasan network dengan masyrakat Jawa lainnya. Nantinya perluasan network

di kalangan masyrakat Jawa untuk mengasut pemikiran masyarakat Jawa

menentukan pilihannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak RuslanKetua

Umum Pendawa:

108 106

Hasil wawancara bersama Bapak Shohibul Anshor di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Juma’at, 05 Mei 2017 Pukul 17.00 Wib.

107

(17)

Strategi yang dibangun setelah dari pembentukan paguyuban dan network

juga melalui informasi dan komunikasi. Komunikasi dan informasi terbentuk dari

kegiatan paguyuban Jawa seperti: syukuran, punggahan, arisan. Selain itu,

komunikasi dan informasi masyarakat Jawa disampaikan dari Radio Jawa Pro

88.4 Fm sebagai upaya melestarikan budaya Jawa dan penyiarannya dilakukan

dengan bahasa Jawa. Pertemuan-pertemuan seperti ini berguna untuk menelaah

pengaruh paguyuban dengan anggota yang dihadapi dan di dalam usaha mereka ada tujuan. Dalam segi politik, kelompok dengan jumlah pengurus besar memobilisasi suara dalam pemilihan umum. Sebagaimana yang diungkapkan oleh

Bapak Sukirmanto Ketua Satgas Joko Tingkir mengatakan:

“...jumlah orang Jawa yang banyak. Sehingga para politis maupun kandidat calon yang berpasangan dengan orang Jawa akan di pilih oleh orang Jawa...”109

108

Hasil wawancara bersama Bapak Ruslan di Jl. Garu III, Gg. Meranti, Senin, 08 Mei 2017 Pukul 11.30 Wib.

109

Hasil wawancara bersama Bapak Sukirmanto di Seketariat Satgas Joko Tingkir , Kamis, 13 April 2017 pukul 09.30 Wib

Trust atau kepeercayaan, sebagai harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran, perilaku kooperatif yang muncul dari dalam paguyuban yang

didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama anggota paguyuban. Adanya

trust akan terlahir solidaritas kuat yang mampu membuat masing-masing individu bersedia mengikuti aturan, sehingga ikut memperkuat rasa kebersamaan.

Kepercayaan orang lebih dititik beratkan padafigur seseorang dan loyalitas dalam

membangun wilayah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak JumadiKetua

(18)

“Tinggal memaknai dan juga figurnya. Jika figurnya bisa di terima dari paguyuban tersebut yang memiliki andil besar untuk memenangkan dalam pertarungan politik itu. Tapi jika orangnya tidak loyal belum tentu juga membangun Sumatera Utara...”110

“...tahun 2013 keberhasilan etnik Jawa menjadi pemimpin di Sumatera Utara yang memunculkan kebanggaan tersendiri bagi orang Jawa.”

Ketika orang sudah percaya, timbul rasa kebersamaan mendorong

tokoh-tokoh politik Jawa dalam ranah politik yang di muat pada pemilihan umum.

Pemilihan umum bisa dikatakan sebagai wadah kompetisi antar etnis. Sikap

primodial untuk memilih berdasarkan faktor lingkungan, etnis dan peran

paguyuban bersama-sama mendukung tokoh politik Jawa sebagai putera daerah

serta mewakili etnis. Eksistensi etnis menguat ketika keberhasilan calon

memenangkan kompetisi pemilihan umum. Sebagaimana dikatakan oleh Bapak

RudjitoSeketaris Umum Satgas Joko Tingkir,

111

Pernyataan Bapak Rudjito sebagaimana kita lihat, bahwa mencapai

identitas memiliki kekuasaan yang besar. Kekuasaan bukan saja memasuki

instansi pemerintahan, paguyuban juga ada kekuasaan. Jumlah anggota dan

struktur paguyuban dari tingkat wilayah, daerah, ranting dikatakan sebagai

kekuasaan. Pola ini digunakan elit politik paguyuban dalam hal identitas. Strategi

terbangun dalam politik identitas juga ada, jumlah paguyuban dan populasi orang

Jawa di Sumatera Utara salah satu faktor utama. Selain itu, terbentuk jaringan

110

Hasil wawancara dengan Bapak Jumadi di RRI Gatot Subroto, Rabu, 10 Mei 2017 Pukul 16.05 Wib.

111

(19)

dengan partai politik dari aktor paguyuban yang masuk ke dalam partai polik,

perkawinan antar etnis akibat akulturasi budaya di Sumatera Utara.

Bukti konkrit keberhasilan paguyuban Jawa menguatnya politik identitas

etnik Jawa di Sumatera Utara adalah Pujakesuma. Kegiatan sederhana dari ritual

pembersihan keris-keris yang dilakukan setiap malam selasa kliwon hingga terjun

ke ranah politik. Alat untuk menunjukkan identitas paling cepat adalah politik.

Pada tahun 2005, pemilu labuhan batu sebelum terjadinya pemekaraan, awal dari

keikutsertaan paguyuban Jawa pujakesuma terjun ke politik. Saat itu, orang Jawa

diwakili oleh Sudarwanto sebagai Calon Wakil Bupati Labuhan Batu. Sudarwanto

merupakan Ketua pujakesuma Labuhan Batu, keterwakilan Sudarwanto wajah

baru politik Jawa di Sumatera Utara. Stigma bahwa orang Jawa ndeso, isin di perlihatkan oleh Sudarwanto yang sebagi guru honorer.

Dinamika politik lokal dari pergulatan etnis di Labuhan Batu dimenangkan

oleh Tengku Wilian dan Sudarwanto. Hal ini menunjukkan bahwa kedua

pasangan itu menggalang suara pemilih berdasarkan kesedoloran etnik, Tengku Wiliam dari etnik Melayu dan Sudarwanto dari etnik Jawa. Berikut adalah tabel

(20)

Tabel 3.1

Perolehan Suara Pilkada Langsung di Labuhan Batu tahun 2005

No. Nama Calon Kepala Daerah Jumlah Suara

1. Sa’alaudin Alian Enteng 169.698

2. Tengku Wilian dan

Sudarwanto

211.537

3. Amatullah Naas 37.603

Sumber: Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat 2005dalam Salim, Kamaruddin. 2015. “Politik Identitas Di Maluku Utara”, Jurnal Kajian Politik dan Masalah Pembangunan, Volume 11, No. 2, 2015, hlm.56.

Adanya desentralisasi, lahirnya pemerintahan lokal yang menyebabkan

terjadi pembagian kewenangan dan tersedianya ruang gerak yang memadai untuk

memaknai kewenangan yang diberikan kepada unit pemerintahan yang lebih

rendah yakni pemerintahan lokal. Sedangkan Demokratisasi adalah sebuah proses

dari perubahan struktur dan tatanan pemerintahan yang otoriter kearah yang

struktur yang tatanan lebih demokratis, namun melahirkan kebebasan yang terjadi

di dalam masyarakat dengan mengenal adanya unsur minoritas dan mayoritas.

Oleh karena itu, politik sebagai wadah atau tempat kontestasi pergulatan identitas,

budaya sebagai simbol dari identitas. Sebagaimana yang diungkapkan Bapak

(21)

“Dalam politik ujungnya dalah kekuasaan. Sehingga peluang-peluang tersebut ada pada orang yang punya kemampuan, latar belakang dan strategi dalam politik. Budaya dan politik tinggal menempatkan saja. Politik menyampaikan aspirasi dalam mencapai tujuan, sedangkan budaya adalah identitas yang lebih kental dengan jati diri atau latar belakang budaya tersebut.”112

“...meraka merasa kondisi yang berat ini adalah sesuatu yang dapat diubah jika kita berkuasa. Dalam sosiologi ada yang disebut dengan relative definition, hak-haknya merasa dirampas dan jika di perjuangkan secara normal tidak akan berhasil. Untuk mendapatkan relative definition kembali mereka mendirikan paguyuban-paguyuban. Sehingga nanti siapa pun yang maju dalam pemilukada mereka menjadi tolak ukur dari para calon.”

Tidak hanya Bapak Jumadi yang beranggapan untuk mencapai suatu identitas

melaui kekuasaan, sama halnya yang disampaikan oleh Bapak Shoibul Anshor

Dewan Pakar FKWJ sebagai berikut:

113

Politik dianggap sebagain jalan cepat mencapai suatau identitas untuk

menunjukkan kebanggaan, meskipun nantinya nilai kesukuan itu akan pudar

ketika telah mendapatkan kemenangan pesta demokrasi. Undur kesuskuan muncul

bukan dalam hal meningkatkan budaya melainkan kekuasaan elit politik dan elit

paguyuban. Hal ini langkah yang tepat dalam memasukkan unsur-unsur budaya.

Kondisi Sumatera Utara yang multikultural dan sifat masyrakat Indonesia yang

tidak terlepaskan dengan agama dan etnis hal yang mudah menunjukkan identitas.

Jumlah yang dominan belum sepenuhnya dikatakan identitas, jika tidak

menunjukkan nilai kesukuannya. Identitas bisa dikatakan ada, apabila nilai

112

Hasil wawancara dengan Bapak Jumadi di RRI Gatot Subroto, Rabu, 10 Mei 2017 Pukul 16.05 Wib.

113

(22)

kesukuan sudah diketahui banyak orang. Selain itu, adanya kekuatan yang

dimiliki dari etnik.

3.3Kekuatan Politik Identitas Etnik Jawa di Sumatera Utara

Perubahan sistem pemerintahan dari sentralistik tergantikan dengan sistem

desentalisasi sangat kuat merubah konfigurasi politik di tingkat lokal. Distribusi

kekuasaan ke tingkat lokal menjadikan isu primordialisme menjadi basis

dealektika para elit lokal. Betapa isu etnik, agama, dan kebudayaan sebagai

kekuatan politik dan faktor penentu dalam memobilisasi pilihan-pilihan komunitas

untuk melanggengkan pertarungan dalam memenangkan kompetisi menjadi

kepala daerah. Penguatan partisipasi politik warga dan masyarakat dalam

mengartikulasikan kepentingan politiknya bersamaan dengan hasrat untuk

memperkokoh simbol-simbol primordialisme sebagai kekuatan politik. Relasi

antara perebutan kekuasan elit dengan dorongan untuk penguatan identitas

primordialisme jelas terlihat pada isu pilkada dan pemekaran daerah114

Etnik Jawa memiliki populasi 33,4% dari 12.985.075 penduduk Sumatera

Utara yang. berkisar sekitar 43.355.705 keberadaan orang Jawa di Sumatera

Utara

. Etnis

menjadi senjata yang masif pada kalangan elit politik lokal berbasis kesukuan dan

etnis juga sebagai alat negoisasi politik.

115

114

Henk Shulte Nordholt dkk, Op.cit., hlm.129. 115

sp2010.bps.go.id, Op.cit.,

(23)

Utara. Sebagai wadah melesatarikan budaya Jawa, orang Jawa mendirikan

paguyuban. Kegiatan-kegiatan paguyuban seperti arisan, syukuran, punggahan

dan lain-lain. Kegiatan tersebut tidak memiliki manfaat yang besar, sebab

kenikmataan kegiatan hanya dirasakan oleh etnik Jawa dan manfaat pada etnik

lain tidak ada. Padahal orang Jawa di Sumatera Utara berakulturasi budaya

dengan etnik lain. Bahasa yang digunakan berbeda dengan bahasa Jawa di Pulau

Jawa. Oleh karena itu, paguyuban terjun ke dalam politik meningkatkan harkat

dan martabat orang Jawa, membangun Sumatera Utara sebagai tanah kelahiran

dan meningkat ksejahteraan orang-orang Jawa yang ada di pedalaman desa yang

sulit terjangkau. Sebagaiman yang dikatakan oleh Bapak Sukirmanto Ketua

Satgas Joko Tingkir mengatakan:

“Perlu di sadari dahulunya paguyuban Jawa hanya perkumpulan arisan, syukuran, menghadiri undangan tidak mempunyai arti. Keikutsertaan Jawa dalam kegiatan politik sering dengan perkembangan zaman dan tidaklah bukan meningkatkan harkat dan martabat. Orang Jawa ke depan ikut andil pada perpolitikan di Sumatera Utara pada peningkatan pembangunan, ekonomi dan agraris.”116

“...melihat jumlah orang Jawa dominan di Sumatera Utara timbulnya hasrat dari paguyuban joko tingkir untuk menciptakan dan mendukung orang-orang Jawa yang terjun ke dalam politik. Sebab selama ini politik Sebagaimana pernyataan yang disampaikan oleh Bapak Sukirmanto, sama halnya

yang disampaikan oleh Bapak Rudjito Seketaris Umum Satgas Joko

Tingkirsebagai berikut:

116

(24)

aspirasi orang Jawa belum tersampaikan seperti kesejahteraan, keadaan sosial terutama politik agraria...”117

“...Muncul paguyuban joko tingkir merupakan wadah pelatihan orang-orang Jawa yang akan terjun ke dalam politik. Tidak cukup hanya mendapat gelar dari universitas tanpa ilmu dari ber. Oleh karena itu ada skema-skema yang di ajarkan paguyuban joko tingkir sperti rakerda, musda yang mirip dengan institusi pemerintahan agar orang Jawa yang terjun dalam dunia politik dapat memberikan usulan, gagasan secara de facto bukan hanya berbicara belaka saja. Hal ini menjadi bekal untuk terjun dalam ranah politik. Sehingga makna dari paguyuban bukan hanya sekedar makan, kumpul-kumpul, tapi adanya paguyuban memberikan Paguyuban sebagai tempat perkumpulan orang Jawa juga sebagai kekuatan

politik. Pengurus paguyuban yang terstruktur di dalam ad/art paguyuban memiliki

pengurus tingkat wilayah, daerah dan ranting. Saat ini, hampir semua paguyuban

terjun ke dalam politik meskipun kader-kader paguyuban masuk ke dalam partai

politik seperti Wagirin Arman Pengurus Pujakesuma dari Partai Golkar,

Sukirmanto Ketua Umum Satgas Joko Tingkir dari Partai Demokrat, Jumadi

Ketua Umum Perkumpulan Persaudaraan Putera Solo dari Partai Keadilan

Sejahtera (PKS). Perubahan landasan paguyuban yang semula berdiri meningkat

budaya Jawa di Sumatera Utara, tempat bersilaturahmi (kumpul-kumpul) yang

sekarang ini terjun ke ranah politik. Sehingga muncul stigma modal yang ada, tapi

tidak digunakan. Hal ini diungkapakan oleh Bapak RudjitoSeketaris Umum

Satgas Joko Tingkir dalam wawancara:

117

(25)

edukasi bagi para anggota khususnya orang-orang Jawa yang masih minim terhadap politik...”118

“...Paguyuban joko tingkir juga pernah di dekati oleh para calon kepala daerah dan legislatif dengan diiming-imingi bantuan pembinaan...”

Paguyuban bukan seperti partai politik yang dapat mengusung kader partai

ke ranah eksekutif dan legislatif. Paguyuban sebagaiwadah pembelajaran kepada

pengurus dan masyarakat etnis Jawa. Selain itu, paguyuban memiliki massa

sebagai kekuatan calon untuk dapat memilih calon dari latara belakang etnis Jawa.

Apalagi saat ini, paguyuban dilirik para calon legislatif dan kepala daerah untuk

mendukung keikutsertaan pada pemilu. Hal ini diungkapkn oleh Bapak Rudjito

Seketaris Umum Satgas Joko Tingkirdalam wawancara:

119

Pemilukada ajang pergulatan etnis di Sumatera Utara. Etnis Jawa dianggap

memiliki kekutaan dari segi populasi penduduk dan pagyuban. Pada Tahun 2008

dan tahun 2013 skema yang terbangun tidaklah berbeda. Para kandidat calon

berpasangan deng etnis Jawa yang berasumsi menarik minat pemilih. Sehingga

etnis Jawa diperebutkan banyak pihak. Paguyuban sebagai tempat sarana

negosiasi politik diantara para kandidat meskipun melanggar ad/art paguyuban.

Namun untuk menunjukkan identitas sebagai etnis pendatang, pola budaya

dimasukkan dalam politik. Sehingga calon yang berpasangan dengan etnik Jawa

mengatasnamakan keterwakilan dan aspirasi dari etnik Jawa bisa juga disebut

118

Hasil wawancara bersama Bapak Rujito di jl. Sei Batang Serangan No.23, Selasa, 25 April 2017 pukul 13.10 Wib.

119

(26)

mengklaim. Adapun pasangan calon berpasangan dengan etnik Jawa tidak

berbeda dari tahun pilgub 2008 hingga pilgub 2013 yang dimuat dalam bentuk

tabel sebagai berikut:

Tabel 3.2

Nama-Nama Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Tahun 2008 dan 2013 Mewakili Etnik

No. Nama Pasangan Calon Gubernur dan

Wakil Gubernur Tahun 2008

Etnik Persentase Nama Pasangan Calon Gubernur

H. Fadly Nurzal, S.Ag

Mandailin

Ir. H. Tengku Erry Nuradi

Jawa – Melayu

(27)

H. Gatot Pujo Nugroho, ST

Sumber:Syamsul-Gatot Memenangi Pilkada Sumut - News Liputan6.com dan https://jebpartners.wordpress.com/2013/03/17/inilah-hasil-lengkap-rekapitulasi-pilgub-sumut-di-33-kota-dan-kabupaten/

Adanya demokrasi, timbul yang dominan berkuasa dan sulit untuk

dipungkiri maupun diubah, karena sistem pemilihan umum berdasarkan jumlah

terbanyak bukan musyawarah dan mufakat. Kekuataan yang dicari dengan jumlah

yang besar. Penduduk Sumatera Utara yang didominasi oleh etnik Jawa berkisar

38,8 % menjadi kekuatan dalam meraih kekuasaan politik. Tabel diatas

mendeskripsikan kekuatan Jawa di perebutkan oleh calon kepala daerah yang

tidak beretniskan Jawa. Meskipun dalam pemilihan umum etnis bukan merupakan

salah satu kriteria, namun dari keterwakilan etnis dalam pemilukada

memperhitungkan suara pemilih pada etnis tersebut. Sebagaimana yang dikatakan

oleh Bapak Warno Ketua Umum PATRI dalam wawancara:

“... Jawa bukan dikatakan kuat saja dalam bentuk jumlah tapi potensi orang Jawa untuk membangun Sumatera Utara mempunyai peran aktif.”120

“ jumlah yang banyak akan menyumbang pemikiran yang banyak dalam pembangunan Sumatera Utara...”

Hal yang sama juga dikatakan oleh Bapak Rudjito Seketaris Umum Satgas

Joko Tingkirdalam wawancara mengatakan

121

120

(28)

Politik identitas etnik Jawa di Sumatera Utara tidak terlepas juga dari

kekuatan paguyuban Jawa yang ada. Rasa kepemilikan terhadap

kesamaan-kesamaan secara kolektifitas mewujudkan kelompok yang mengatasnamakan

bahwa kami adalah Jawa (in group) sedangkan sesuatu yang diluar persamaan sebagai kategori pembeda membentuk konsep out group. Melalui rasa persamaan etnik Jawa ingin ditunjukkan bahwa siapa saja yang merupakan bagian dari kami.

Sedangkan dengan adanya keberadaan mereka bukan merupakan bagian dari

kami. Sehingga nantinya membentuk kesadaran masyarakat untuk berikatan

berdasarkan kelompoknya. Sebagaiman yang disampaikan oleh Bapak

Sukirmanto Ketua Satgas Joko Tingkir dalam wawancara mengatakan:

“Kekuatan masyarakat Jawa terbangun ketika adanya keterwakilan orang Jawa dalam kontestasi pemilihan umum...”122

No.

Tabel 3.3

Etnik Jawa, Toba dan Angkola-Mandailing Menurut Kabupaten/Kota di Sumatera Utara Tahun 2010

Kabupaten

Etnik

Jawa Toba Angkola-

Mandailing

Lainnya

1. Nias 0.07% 0.07% 0.02% 99.85%

121

Hasil wawancara bersama Bapak Rujito di jl. Sei Batang Serangan No.23, Selasa, 25 April 2017 pukul 13.10 Wib.

122

(29)

2. Mandailing Natal 7.23% 2.56% 78.23% 11.98%

3. Tapanuli Selatan 6.56% 14.67% 67.51% 11.25%

4. Tapanuli Tengah 6.53% 56.47% 4.96% 32.05%

5. Tapanuli Utara 0.82% 95.54% 0.37% 2.28%

6. Toba Samosir 1.99% 94.94% 0.25% 2.82%

7. Labuhan Batu 41.55% 14.29% 25.07% 19.09%

8. Asahan 58.84% 20.72% 5.42% 15.02%

9. Simalungun 45.20% 29.07% 2.21% 23.53%

10. Dairi 1.76% 72.15 0.43% 25.66%

11. Karo 9.65% 10.61% 0.68% 79.06%

12. Deli Serdang 51.81% 10.82% 6.68% 30.68%

13. Langkat 56.66% 2.13% 3.09% 38.12%

14. Nias Selatan 0.05% 0.24% 0.02% 99.69%

15. Hubang Hasundutan 0.33% 91.55% 0.09% 8.03%

16. Pakpak Bharat 1.39% 13.37% 0.15% 85.09%

17. Samosir 0.62% 97.65% 0.03% 1.70%

18. Serdang Bedagai 54.75% 12.63% 4.50% 28.12%

19. Batu Bara 38.48% 12.30% 2.44% 46.78%

20. Padang Lawas 11.49% 3.15% 80.02% 5.34%

21. Labuhan Batu Selatan 48.80% 14.52% 29.00% 7.68%

22. Labuhan Batu Utara 46.30% 25.49% 15.70% 12.51%

23. Nias Utara 0.11% 0.24% 0.03% 99.62%

24. Nias Barat 0.11% 0.09% 0.01% 99.79%

25. Sibolga 6.81% 47.39% 6.40% 39.41%

(30)

27. Pematang Siantar 25.45% 45.95% 6.53% 22.07%

28. Tebing Tinggi 40.65% 13.74% 11.16% 34.45%

29. Medan 33.19% 17.12% 10.16% 39.52%

30. Binjai 52.09% 5.87% 9.11% 32.93%

31. Padang Sisempuan 11.31% 14.48% 64.91% 9.29%

32. Gunung Sitoli 1.03% 1.15% 0.38% 97.43%

33. Padang Lawas Utara 10.62% 7.25% 75.80% 6.33%

Total 33,47% 20.83% 13.54% 32.16%

Sumber:http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:Ag1eZWmOSJJ:akhirmh.blogsp ot.com/2012/10/data-etnik-angkola-mandailingdi_7372.html+& cd = 9&hl= id&ct=clnk&gl=id.

Berdasarkan hasil data diatas dapat dilihat bagaimana penyebaran etnik

Jawa di masing-masing wilayah. Heterogenitas masyarakat secara otomatis dapat

memperlihatkan basis konstituen serta bagaimana melihat kecendrungan

masyarakat memilih berdasarkan kompesisi etniskandidat yang diusung. Maka

ada upaya untuk mempercepat adanya sentimen etnis sangat besar terjadi. Setiap

kelompok masyarakat ingin menunjukkan pengaruh bahkan dalam lobi-lobi

politik. Tidak bisa dipungkiri semakin majemuknya masyrakat dengan

heterogenitas etnis di dalamnya. Maka kondisi tersebut dapat saja dimanfaatkan

oleh komoditas politik yang berkompetisi untuk menggunakannya sebagai alat

untuk mencapai kemenangan. Modal dukungan dari segmen emosional dan etnis

merupakan suatu hal yang justru menjadi garapan oleh tiap kandidat yang

(31)

3.3.1 Peran Paguyuban

Paguyuban Jawa yang ada di Sumatera Utaramenjaditempat perkumpulan

orang-orang Jawa yang ada di Sumatera Utara. Sifat orang Jawa yang berkumpul,

bersama dan paguyuban merupakan wadahnya. Namun secara tidakl angsung, hal

tersebut semaki n memperkuat identitas etnik dari masing-masing etnik yang ada

di Sumatera Utara, dimana hal ini mendorong terbentuknya polarisasi masyarakat

di Sumatera. Paguyuban berdiri juga meningkatkan budaya Jawa Di Sumater

Utara. Sebab, terjadinya akulturasi budaya orang Jawa di Sumatera Utara

menyebabkan orang Jawa lupa pada kulturnya sendiri. Maka tidkalah heran Bhasa

Jawa di Pulau Jawa dengn bahsa Jawa di Sumatera Utara adanya perbedaan

seperti panjenengan (kamu) bahasa Jawa di Pulau Jawa, sedangkan di Sumatera

Utara kue (kamu). Haonocoroko yang tidak tahu pada orang Jawa di Sumatera

Utara dan nilai-nilai kutur Jawa tidak di regenarasi pada muda-mudi Jawa. Kultur

lama-kelamaan menajdi pudar. Paguyuban menjadi salah satu wadah mengenalka

budaya pada generasi selanjutnya seperti: wayang kulit, reog, ketoprak dan

menggunakan bahasa Jawa dalam kehdupan sehari-hari. Sebagaimana yang

dikatakan oleh Bapak Shoibul Anshor Dewan Pakar FKWJdalam wawancara:

“ ...adanya paguyuban sebagai upaya meningkatkan budaya...”123

Selainitu, Peran paguyuban Jawa sangat penting dalam pembangunan di

Sumatera Utara. Jumlah orang Jawa yang dominan dan banyaknya juga orang

Jawa yang masih Pra-sejahtera dalm kehidupan ekonomi di pedesaan.

123

(32)

Sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak Suki rmantoKetua Satgas Joko Tingkir

dalam wawancara:

“Peran paguyuban sangat penting dalam pembangunan Sumatera Utara khususnya satgas joko tingkir dalam kesejahteraan masyrakat. Karena jumlah orang Jawa di Sumatera Utara sangat besar dibandingkan etnis lain. Meskipun kader joko tingkir berbeda partai politik, namun perbedaan itu bukan menjadi hambatan untuk meningkat kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara.”124

“Tercipta satgas joko tingkir merupakan satuan tugas dari pujakesuma. Karena selama ini program pujakesuma tidak terealisasi sampai ke bawah lapisan masyrakat. Namun tidak diterimanya joko tingkir sebgai satuan tugas pujakesuma menjadikan joko tingkir membuat paguyuban tersendiri. Secara politik, melihat jumlah orang Jawa dominan di Sumatera Utara timbulnya hasrat dari paguyuban joko tingkir untuk menciptakan dan mendukung orang-orang Jawa yang terjun ke dalm politik. Sebab selama ini politik aspirasi orang Jawa belum tersampaikan seperti kesejahteraan, keadaan sosial terutama politik agraria...”

Jumlah penduduk Jawa yang dominan tidak dapat satu paguyuban yang

mengurusi orang Jawa hingga samapi ke pedesaan. Banyak jumlah paguyuban

bukan dikarenakna perpecahan antara kubu yang satu dengan lainnya. Tapi

ketidak sangguppan mengelola besarnya jumlah orang Jawa di Sumatera Utara.

Paguyuban pada umumnya menjadi sarana tolong-menolong dan saling bertukar

informasi. Dimana melalui paguyuban, masyarakat dapat mengakses sumberdaya

ekonomi saling menginformasikan dan menolong sesama etnis dengan tujuan

peningkatan ekonomi maupun kesejahteraan mereka. Hal ini diungkapkan oleh

Bapak Rudjito Seketaris Umum Satgas Joko Tingkirdalam wawancara:

125 124

Hasil wawancara bersama Bapak Sukirmanto di Seketariat Satgas Joko Tingkir , Kamis, 13 April 2017 pukul 09.30 Wib.

125

(33)

Bentuk kepedulian paguyuban Jawa melihat kondisi Sumatera yang

semakin lama kurang membaik. Pembangunan yang direncanakan hanya bisa di

nikmati sesaat tanpa ada upaya perbaikan seperti infarstruktur jalan. Selain itu,

pembangunan daerah-daerah terpinggirkan tidak diwacanakan dalam Anggaran

Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Ada upaya ketimpangan yang kita lihat pada

pemimpin Sumatera Utara. Jika gubernur dari latar belakang etnis berbeda, maka

pembanguna pada daerah-daerah yang mendominasi etnisnya. Jika seperti itu

jumlah orang Jawa yang dominan bisa saja menduduki pemerintahan Sumatera

Utara dan membangun daerah-daerah yang berlatar belakang etnik Jawa.

Ketidakmauan generasi muda Jawa kembali kepada kampung halaman mengubah

keadaan atau kehidupan orang-orang Jawa di daerah-daerah terpencil. Karean

hasil dari daerah itu yang natinya menghidupi kebutuhan di kota-kota Sumatera

Utara. Sebagimana yang dikatakan oleh Bapak RudjitoSeketaris Umum Satgas

Joko Tingkir dalam wawancara:

“...Selama ini kita lihat tidak adanya regenerasi pembangunan yang merata

baik di kalangan orang Jawa. Desa-desa semakin tertinggal bahkan tidak ada lagi

yang mau tinggal di desa.”126

Selain itu, paguyuban menjadi sarana mediasi kepada pemerintah baik

dalam bentuk kritikan maupun saran dalam melihat pembangunan yang ada di

Sumatera Utara. Saran dan kritikan dapat diungkapkan pada rapat pimpinan

126

(34)

wilayah, rapat pimpinan daerah maupun kegiatan silaturahmi dengan warga

masyarakat. Hal ini dilakukan sebagai tanda kepedulian paguyuban kepada

masyarakat Jawa kalangan bawah. Selama ini, kalangan bawah sulit

menyampaikan kritikan dan opini kepada pemerintah. Sebagaimana yang

dikatakan oleh Bapak Jumadi Ketua Umum PPPS-SUdalam wawancara:

“...kepekaan paguyuban melihat situasi perpolitikan di sumut dapat memberikan kritikan atau saran kepada pemerintahan sumatera utara dengan fakta yang ada.”127

Sumber:Facebook DPW Pendawa Sumut

Gambar 3.1 Kegiatan Gotong Royong Paguyuban Pendawa

Pembersihan makam kuburan muslim menjelang kedatangan bulan suci Sebagai salah satu bukti kegiatan yang dilakukan paguyuban Jawa yang

ada di Sumatera Utara adalah:

127

(35)

Ramadhan yang dilakukan rutin setiap tahun oleh Paguyuban Pendawa.

Kegiatan ini, mempererat antara pengurus dan masyarakat yang ada di Pasar 3

Medan Perjuang. Selain itu juga Paguyuban Pendawa bekerjasama dengan Dinas

Kebersihan Kota medan membersihkan parit-parit yang ditumpukki

sampah-sampah di daerah Ring Road. Paguyuban bukan saja terlibat dalam politik namun

masalah sosial tetap peka juga di lingkungan sekitar.

Selain sebagai tempat berkumpul, paguyuban juga bergeraka di bidang

simpan pinjam yang disebut koperasi. Sarana koperasi didirikan untuk

memberikan modal bagi masyarakat Jawa yang berwirausaha, membuka

perkebunan, sawah dan lainnya. Perkumpulan Persaudaraan Putera solo (PPPS)

merupakan salah satu paguyuban membuka koperasi. Tujuan paguyuban ini

membuka koperasi melihat masyrakat Jawa yang pada umumnya masih

berpenghasilan rendah dan mahalnya bunga meminjam di bank seperti gambar

dibawah ini:

(36)

Perkumpulan Persaudaraan Putera Solo (PPPS) tidak memberatkan bunga

dari peminjaman modal kepada masyarakat Jawa dan hasil bunganya sebagai

kegitaan dari Perkumpalan Persaudaraan Putera Solo. Ketika kita meminjam, hasil

bunga pinjamannya dirasakan oleh msayarakat Jawa juga untuk membiayai

kegiatan paguyuban baik dalam rangka punggahan, gotong royong dan seni

(37)

BAB IV PENUTUP

4.1Kesimpulan

Bab ini merupaka bab terakhir dari penelitian yang berisikan deskripsi dan

interpretasi dari hasil penelitian serta kesimpulan-kesimpulan yang didapatkan

serta jawaban dari pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan. Ada beberapa

kesimpulan yang bisa ditarik pada bagian penutup ini, antara lain:

1. Politik Identitas etnik Jawa di Sumatera Utara muncul tidak terlepas dari

filosofi-flisofi orang Jawa alon-alon waton kelakon (perlahan-lahan tapi pasti), Hamangku sebagai sikap dan pandangan yang harus berani bertanggung jawab terhadap kewajibannya, hamengku sebagai sikap dan pandangan yang harus berani ngrengkuh (mengaku sebagai kewajibannya

dan hamengkoni dalam arti selalu bersikap berani melindungi dalam segala situasi. Seorang pemimpin, dia harus selalu sung tuladha (memberi teladan) ketika berada di depan untuk memberikan contoh yang baik

dalam bentuk sikap, ucapan, dan tindakan yang selalu konsisten. Manakala

seorang pemimpin berada di tengah-tengah rakyatnya, dia harus mangun karsa (memberi semangat) agar rakyat tidak mudah putus asa jika menghadapi segala macam cobaan. Ketika dia ada di belakang dia harus

(38)

2. Politik identitas etnik Jawa di Sumatera Utara muncul dari keterwakilan

tokoh-tokoh Jawa terjun ke dalam politik antara lain: Gatot Pujo Nugroho

(Mantan Gubernur Sumatera Utara), Soekirman (Bupati Serdang Bedagai),

Kasim Siyo (Mantan Komisaris Bank Pemangunan daerah (BPD)Sumatera

Utara), Sudarwanto (Mantan Wakil Bupati Labuhan Batu), Wagirin

Arman (Ketua DPRD Sumatera Utara), Budiono ( Mantan Wakil Bupati

Langkat), Sulistianto (Wakil Bupati Langkat).

3. Jumlah yang dominan orang Jawa di Sumatera Utara sebagai kekuatan

untuk menduduki kekuasaan dan diperhitungkan oleh calon-calon kepala

daerah

4. Keberadaan paguyuban berjumlah 38 menciptakan jaringan etnik Jawa

dari pusat hingga ranting bahkan partai politik untuk menciptakan

identitas dari etnik Jawa.

5. Pola kegiatan yang dilakukan oleh paguyuban melalui acara suroan,

syukuran, punggahan, koperasi, bakti sosial dan arisan untuk

mengefektifkan orang Jawa.

4.2SARAN

1. Kepada paguyuban, jangan dijadikan paguyuban tempat untuk mencari

sebuah kekuasaan atau kepentingan kelompok maupun individu.

(39)

Sumatera yang belum banyak mengetahui honocoroko, bahasa Jawa

toto,kromo bukan landasan politik.

2. Jumlah yang dominan tidak dijadikan identitas dan simbol-simbol Jawa

tidak diklaim bahwa saya adalah putera terbaik Jawa yang akan mewakili

orang-orang Jawa di Sumatera Utara dala Pemilihan Kepala Daerah.

3. Orang Jawa di Sumatera Utara harus bersatu, pemilihan langsung tidak

dijadikan perpecahan paguyuban satu dengan paguyuban lainnya. Sebab

Jawa di Sumatera Utara sudah memiliki modal sosial dan network.

4. Tidak ada lagi perpecahan di dalam paguyuban akibat tidak menduduki

Gambar

Tabel 3.1
Tabel 3.2
Tabel 3.3
Gambar 3.1 Kegiatan Gotong Royong Paguyuban Pendawa Pembersihan makam kuburan muslim menjelang kedatangan bulan suci

Referensi

Dokumen terkait

yang khas dan hanya ditemukan pada upacara perkawinan orang Jawa Deli.. Oapat disimpulkan bahwa tradisi yang dilaksanakan oleh orang Jawa

Prihatmoko, Joko, Pemilihan Kepala daerah Langsung: Filosofi, Sistem dan Problema Penerapan di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005 Poerwantana.. Partai politik

menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi saya yang berjudul POLITIK IDENTITAS MUSLIM KAMPUNG JAWA TERHADAP PARTAI KEADILAN SEJAHTERA DI KOTA DENPASAR adalah karya

9 Besarnya migrasi Suku Batak Toba dan Suku Jawa menjadikan mereka penduduk yang.. dominan di wilayah

Budaya organisasi merupakan suatu kekuatan sosial yang tidak.. tampak, yang dapat menggerakkan orang-orang dalam suatu

Addin Kurnia Putri, D0309003, Studi Etnografi Politik Identitas Etnis Bawean di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur Skripsi, Surakarta: Fakultas Ilmu Sosial

Demikian juga yang terjadi di Jawa Barat, politik identitas kesundaan ini mulai bangkit di era reformasi ini, baik dalam bentuk perdebatan wacana tentang kesundaan,

Implikasi politik dari resistensi terhadap minoritas muslim kampung Jawa salah satunya, yaitu identifikasi terhadap dirinya sebagai muslim cenderung untuk memilih partai yang