• Tidak ada hasil yang ditemukan

JEJARING SOSIAL KAUM WARIA DALAM CYBERSO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "JEJARING SOSIAL KAUM WARIA DALAM CYBERSO"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

JEJARING SOSIAL KAUM WARIA DALAM CYBERSOCIETY

(Studi Kasus Pada Waria Yogyakarta Dalam Menggunakan Facebook Sebagai Media Pencari Partner Seksual)

Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret

2015

Avina Citra Dewanti D0310013

ABSTRACT

The purpose of this research is to know the social network form the Yogyakarta Transexual in cybersociety, Transexual Yogyakarta who use social media facebook to look for sexual partners, factors that affect the transexual Yogyakarta to find sexual partners and problems faced by the Yogyakarta transexual and the efforts taken in using social media facebook.

This author using public sphere concept. The theory was explained by Habermas about public sphere. Public Sphere is an area to assemble, to establish union independently and to express opinion independently. Facebook is a public sphere used to establish interaction with others freely and then created a network called social network. The method used was qualitative one with Case Study approach. Techniques of collecting data used were in-depth interview and observation. Meanwhile, the sampling technique used was purposive sampling one. Technique of analyzing data used was an interactive model of analysis, and to validate the data, source triangulation was used.

The result of research showed that Yogyakarta transexual using facebook to establish interaction with others freely and then they created a network. The network created between Yogyakarta transexuals and their partner in facebook were a friendship network and a sexual contact networks. Facebook was a free public sphere, so many the Yogyakarta transexual using social media facebook to look for sexual partner because it would be more beneficial than looking for it in the field.

Keywords: Social network, Transexual, Cybersociety, Sexual Partner

PENDAHULUAN

(2)

masyarakat, baik masyarakat yang ada di kota maupun masyarakat yang ada di desa dapat menikmati fungsi dari kemajuan teknologi ini. Perkembangan teknologi internet dengan jejaring sosialnya telah membentuk suatu masyarakat baru dalam wujud virtual. Masyarakat ini merupakan wajah lain dari masyarakat nyata yang disebut cybersociety. Dengan memanfaatkan situs-situs media sosial yang saat ini banyak menyebar di masyarakat seperti: GoogleTalk, AIM, Yahoo, Multiply, Bbm, My Space, Friendster, Path, Whatsapp, Facebook, dan Twitter masyarakat dapat dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain dari berbagai daerah, bahkan berbagai negara dan penyebaran informasi dapat dilakukan dengan cepat ke berbagai penjuru dunia. Menggunakan media sosial tersebut juga dapat mempermudah dalam memperoleh informasi yang diinginkan. Selain itu, cybersociety juga mempermudah dalam bertransaksi dan dapat dimanfaatkan sebagai lahan bisnis.

Di dalam cybersociety ini juga terdapat undang-undang untuk mengarahkan individu agar beretika atau berattitude yang baik dan benar dalam berinteraksi dengan orang lain. Indonesia mempunyai undang-undang yang mengatur hal tersebut yaitu pada UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). UU ITE ini mengatur berbagai hal terkait kegiatan di dunia maya, termasuk pelanggaran keasusilaan, penghinaan atau pencemaran nama baik, penyebaran kebencian berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), dan lain lain.

Dari data yang diperoleh dari CheckFacebook diketahui audiens facebook di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 31,7 juta, tepatnya 31.784.080. Dengan populasi online 100 persen, Indonesia menguasai 5,56 persen dari total pengguna facebook di dunia. Sedangkan berdasarkan data terakhir yang diperoleh dari statistik 2014 menyatakan bahwa pada tahun 2014 pengguna facebook di Indonesia bertambah menjadi 63,2 juta. Banyaknya pengguna facebook di Indonesia menandakan bahwa facebook sangat mudah untuk diakses oleh berbagai kalangan. Memanfaatkan facebook untuk menunjukkan eksistensi dirinya ke publik tidak hanya dilakukan oleh individu yang berstatus laki-laki maupun perempuan, namun mereka yang berstatus sebagai transgender (waria) ternyata juga banyak yang memanfaatkan media sosial facebook ini.

Minimnya ruang lingkup untuk menunjukkan eksistensi diri para waria di dalam masyarakat nyata membuat waria lebih memilih untuk menunjukkan eksistensi diri mereka di dunia maya. Sehingga banyak para waria yang memanfaatkan salah satu kecanggihan teknologi masa kini yakni dengan menggunakan media sosial facebook untuk meningkatkan eksistensinya di dunia maya serta memudahkan mereka dalam menjalin hubungan serta berkomunikasi dengan orang-orang yang ada disekitarnya.

(3)

publik virtual seperti facebook inilah semakin mempermudah mereka dalam menentukan partner seksualnya.

Dengan adanya fenomena ini peneliti tertarik untuk mengetahui bentuk-bentuk jejaring sosial dalam cybersociety pada kaum waria Yogyakarta, waria Yogyakarta memanfaatkan media sosial facebook dalam mencari partner seksual, faktor-faktor yang mempengaruhi waria Yogyakarta dalam menggunakan media sosial facebook untuk mencari partner seksual dan permasalahan yang dihadapi waria Yogyakarta serta upaya yang dilakukan dalam menggunakan media sosial facebook.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan konsep Ruang Publik (Public Sphere). Term “publik sphere” atau ruang publik lahir dari karya Jurgen Habermas pada tahun 1989 melalui buku yang berjudul The Structural Transformation of the Publik Sphere: An Inquiryinto a Category of Gourgeois Society. Ruang publik tersebut pada dasarnya merupakan ruang yang tercipta dari kumpulan orang-orang tertentu (private people) dalam konteks sebagai kalangan borjuis yang diciptakan seolah-oleh sebagai bentuk penyikapan terhadap otoritas publik. Teori tersebut dijelaskan Habermass bahwa ruang publik merupakan suatu arena untuk berkumpul, berserikat secara bebas dan menyatakan serta menyalurkan opini-opini individu secara bebas. Facebook merupakan ruang publik yang digunakan untuk menjalin interaksi dengan orang lain secara bebas yang kemudian mereka membentuk suatu jejaring, jejaring itu yang dinamakan dengan Jejaring Sosial.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah jenis penelitian yang bersifat kualitatif dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus, yaitu bentuk penelitian yang memberikan ciri tunggal terhadap data yang sedang dipelajari dan menghubungkan keanekaragaman fakta-fakta terhadap kasus yang tunggal itu (Slamet, 2006: 10).

Lokasi penelitian dilakukan di Kota Yogyakarta yaitu pada komunitas waria yang ada di Yogyakarta. Waria-waria yang ada di Yogyakarta terbagi dalam banyak komunitas serta lembaga waria seperti IWAYO, LSM Kebaya, EbenEzer, dan komunitas-komunitas kecil lainnya.

Data primer dalam penelitian ini didapat dari wawancara mendalam dengan waria yang termasuk dalam komunitas waria yang ada di Yogyakarta, terutama pada waria pengguna facebook selain itu data primer juga di peroleh dari wawancara dengan seseorang yang menjadi partner facebook mereka. Data ini juga dilengkapi dengan data foto/gambar untuk melengkapi data primer.

Teknik pengambilan sample pada peneltian ini menggunakan purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Sampel ditentukan berdasarkan pada ciri tertentu yang dianggap mempunyai hubungan erat dengan ciri populasi. Peneliti dengan sengaja menentukan anggota sampelnya berdasarkan kemampuan dan pengetahuannya tentang keadaan populasi. Pengertian sengaja di sini adalah bahwa peneliti telah menentukan informan dengan anggapan atau pendapatnya sendiri sebagai sampel penelitiannya, peneliti tahu persis siapa yang akan dipilih sebagai sampel (Susanto, 2006: 120-121).

(4)

sedang diteliti. Dalam tahapan awal ditentukan satu orang informan kunci (key informant) yang dianggap paling mengetahui waria pengguna facebook lainnya yakni dengan cara menggali informasi dari ketua komunitas waria yang memiliki eksistensi yang tinggi diantara para waria sekaligus pengguna media sosial facebook, yang mana juga dijadikan sebagai informan pertama.

Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Validitas data dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi data atau sering disebut trianggulasi sumber, menurut Patton (1987) trianggulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Moleong, 2002 : 178).

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif. Model analisis interaktif terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (Miles dan Huberman, 1992 : 20).

HASIL PENELITIAN

Karakteristik Partner yang disukai Waria

Dalam menentukan partnernya di facebook waria memiliki kriteria partner yang mereka sukai dan yang pada akhirnya mereka akan pilih. Di sini waria memiliki hak kebebasan dalam memilih partnernya seperti pada konsep ruang publik Habermas, yakni konsep ruang publik tersebut mendambakan kebebasan untuk mengakses informasi adalah hak setiap masyarakat, sehingga setiap lapisan masyarakat memiliki hak yang sama untuk mengakses bahkan menyebarluaskan informasi. Berikut beberapa karateristik partner yang disukai waria pada media sosial facebook.

1) Faktor ekonomi

Dalam penelitian ini telah ditemukan bahwa pada waria Yogyakarta mereka lebih menyukai tamu-tamu yang mampu membayar mereka tinggi. Faktor ekonomi merupakan karakteristik utama para waria Yogyakarta dalam menentukan partnernya. Baik itu menentukan partner yang ada di cyberspace maupun di dunia nyata. Pada media sosial facebook ini faktor ekonomi merupakan prioritas utama para waria Yogyakarta dalam menentukan partnernya. Berdasarkan penelitian sebelumnya milik Puji Laksono (2012), dikatakan bahwa dalam bisnis cyberprostitution dilihat dari segi ekonominya sangatlah menguntungkan, sebab para pekerja seks dapat meraup keuntungan yang banyak dari melakukan prostitusi di dunia maya. Sehingga pada waria Yogyakarta yang mendapatkan partner dari media sosial facebook ini dapat meraup keuntungan yang lebih banyak dibandingkan dengan mencari partner secara langsung.

2) Tempat Tinggal

(5)

berasal dari Yogyakarta sendiri, mereka tidak menutup kemungkinan untuk menerima tamu yang berasal dari luar Yogyakarta. Yang terpenting ialah keseriusan partner untuk bertemu dan berinteraksi secara langsung dengan waria tersebut di Yogyakarta.

3) Rasa Nyaman

Kenyaman dalam menjalin hubungan merupakan salah satu hal yang disukai waria dalam memilih partnernya.Waria ingin dirinya dianggap serta dihargai seperti manusia pada umumnya. Karena waria juga ingin menjalin hubungan antara partner dan waria tersebut tidak hanya hubungan dalam sekejap tetapi bisa menjalin hubungan pertemanan hingga seterusnya.

Grup Facebook Sebagai Wadah Inspirasi Para Waria Yogyakarta

Berdasarkan term ruang publik karya Jurgen Habermas (1989) tertulis bahwa pada dasarnya ruang publik merupakan ruang yang tercipta dari kumpulan orang-orang tertentu. Begitu pun grup komunitas pada facebook ini merupakan ruang publik yang tercipta dari kumpulan orang-orang tertentu. Grup pada facebook tersebut merupakan bentuk langkah para waria untuk membentuk interaksi yang lebih luas lagi dengan orang lain di cybersociety ini. Grup tersebut memiliki sifat bebas dan terbuka. Grup tersebut merupakan salah satu bentuk wadah interaksi para waria dengan orang lain. Pada waria Yogyakarta mereka memiliki beberapa grup komunitasnya di facebook yang membantu mereka dalam berinteraksi dengan orang sekitarnya. Banyak manfaat yang dirasakan para waria dengan adanya grup tersebut, seperti dengan adanya grup tersebut dapat berbagi informasi serta kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan oleh para Waria Yogyakarta sehingga dapat mengubah sedikit demi sedikit stigma negatif masyarakat terhadap waria. Selain itu terdapat beberapa waria yang juga memanfaatkan grup tersebut untuk mencari partner mereka. Pada setiap grup-grup waria tersebut terdapat aturan-aturan tertentu yang dibuat oleh para admin grup sehingga para waria pun harus taat pada aturan yang telah diatur oleh admin grup tersebut.

Jejaring Waria dan Partner di Facebook

(6)

sesama anggotanya daripada dengan kelompok orang-orang yang saling terhubung dalam bagian jejaring lainnya (Christakis, 2010:15).

Kemudian para partner tersebut menjalin hubungan dengan para waria-waria Yogyakarta sehingga meluaslah jejaring mereka dan terbentuklah jejaring sosial antara waria dan partnernya. Proses-proses perkenalan antara waria dan partner pun biasanya dimulai dengan aktifnya si partner dalam berkomunikasi dengan si waria. Misalnya, seperti partner mengirimkan pesan di kotak masuk facebook waria terlebih dahulu.

Tahap-Tahap Waria Mendapatkan Partner Dari Facebook

Transaksi dalam cybersociety biasanya diawali dengan berkenalan, hingga akhirnya melakukan transaksi dengan harga yang cukup mahal (Laksono, 2012). Dalam memperoleh partner dari media sosial facebook ini, waria pastilah menjalani proses atau tahapan-tahapan dari berkenalan di facebook hingga pada akhirnya bertemu secara langsung. Rata-rata waria Yogyakarta ini menjalani tahap-tahap yang sama dalam mendapatkan partnernya. Berikut ini beberapa tahapan yang akan di jelaskan di bawah ini:

1) Partner memulai obrolan terlebih dahulu

Tahapan ini merupakan tahapan yang paling awal dalam melakukan transaksi di facebook. Dari temuan di lapangan kebanyakan para pria-prialah yang terlebih dahulu memulai perkenalannya dibandingkan dengan waria yang terlebih dahulu. Karena waria juga memiliki sisi jual mahal seperti wanita pada umumnya.

2) Saling Bertukar Nomer Handphone atau Pin BB

Biasanya dalam melakukan interkasi saling bertukar nomer handphone menggunakan ruang privasi yang ada di facebook yaitu fasilitas perpesanan atau kotak masuk pada media sosial facebook. Bertukar nomer handphone ataupun pin bb merupakan bentuk dari partner menunjukkan keseriusannya kepada waria dan memperdalam hubungan antara waria dan partner. Selain itu hal tersebut juga untuk mengantisipasi agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

3) Mendiskusikan Tarif

Tahapan berikutnya adalah tawar-menawar mengenai tarif yang disetujui oleh kedua pihak. Biasanya pembicaraan mengenai hal ini dapat dibicarakan di awal perkenalan mereka atau saat mereka sudah sama-sama merasa saling kenal satu sama lain. Saat keduanya sudah saling kenal satu sama lain biasanya percakapan ini dilakukan melalui telepon, sms, maupun bbm. Tetapi bisa juga mereka melakukan pembicaraan ini melalui chatting di facebook apabila si partner memulai obrolan yang langsung mengarah ke arah prostitusi. Apabila tariff yang ditawarkan partner kepada waria sama-sama sesuai, maka proses untuk bertemu secara langsung pun akan cepat.

4) Janjian waktu dan tempat untuk bertemu

(7)

waria dan partner sudah harus menyepakati tariff yang akan di berikan partner kepada waria tersebut.

Manfaat Facebook Bagi Waria

1) Facebook Sebagai Media Informasi dan Komunikasi Bagi Waria Yogyakarta Konsepsi ruang publik dalam dunia informasi menurut Habermas (1996) adalah ruang publik paling tepat digambarkan sebagai jaringan untuk mengkomunikasikan informasi. Facebook juga dimanfaatkan oleh waria untuk berkomunikasi dengan rekan bisnis, rekan yang berada jauh di luar Yogyakarta serta facebook juga dimanfaatkan untuk berbagi informasi terkait tentang isu-isu seputar kehidupan sosial para waria. Meskipun kebanyakan waria menggunakan facebook sebagai media mencari partner atau prostitusi.

2) Waria Menggunakan Facebook Sebagai Media Prostitusi

Melalui media facebook inilah banyak waria menawarkan jasa seks dan menggunakan facebook sebagai tempat nyebong (jual diri) baik itu secara terbuka dengan menulis status di wall facebook ataupun secara tertutup dengan chatting. Meskipun bagi waria nyebong di facebook bukan merupakan prioritas yang utama tetapi beberapa waria juga sering mendapatkan partner dari facebook. Bagi mereka mendapatkan tamu dari facebook bisa dikatakan aji-mumpung karena mereka tidak memprioritaskan utama mendapatkan tamu dari facebook, karena kebanyakan mereka awalnya hanyalah iseng-iseng menanggapi ulah calon partner mereka.

Bisnis cyberprostitution memang menjanjikan keuntungan materi besar. Dengan memanfaatkan internet, praktek prostitusi ini sulit untuk dilacak oleh polisi (Laksono, 2012). Hal inilah yang menjadikan cyberprostitution berkembang pesat. Sehingga waria tertarik untuk mencari partnernya di facebook. Alasan lain yang menarik mereka untuk mencari partner di facebook adalah apabila di spot-spot yang biasanya mereka buat mangkal terjadi razia oleh satpol pp barulah mereka memanfaatkan facebook untuk mencari tamu.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Waria Menggunakan Facebook

Waria dalam menggunakan facebook pastilah dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu yang menyebabkan mereka memutuskan untuk menggunakan facebook. Faktor-faktor tersebut berasal dari dalam maupun luar. Berikut beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi waria menggunakan facebook.

1. Faktor Internal a) Bebas Beropini

(8)

beropininya sangatlah tinggi. Misalnya saja, mereka dengan bebas menulis status-status, bebas mengunggah foto-foto baik itu vulgar ataupun non vulgar. b) Adanya Ruang Privasi

Meskipun facebook merupakan publik sphere, tetapi facebook juga memiliki ruang-ruang privat yang berguna untuk membatasi orang-orang tertentu untuk membacanya. Tidak semua cyberspace itu public sphere, contohnya ketika masyarakat menulis pemikirannya di blog namun memilih opsi private untuk membatasi hanya orang tertentu saja yang dapat membaca (Emelia, 2013: 62). Dari temuan di lapangan adanya ruang privat untuk berkomunikasi antar individu termasuk faktor internal yang mempengaruhi waria menggunakan facebook. Seperti adanya perpesanan / layanan chatting tersebut mempermudah berkomunikasi antara waria dengan partnernya secara lebih pribadi tanpa diketahui oleh orang lain dan adanya opsi private untuk membatasi hanya orang tertentu saja yang dapat membaca status yag dibuat. Sehingga waria lebih senang menggunakan facebook karena ada ruang privasi tersebut.

c) Akses Mudah

Kemudahan dalam mengakses merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi waria dalam menggunakan facebook. Diantara banyak media-media sosial yang ada di internet, hanya media-media sosial facebook yang paling mudah untuk di akses. Mengakses facebook dapat dilakukan melalui handphone, smartphone, maupun komputer. Sehingga facebook dapat diakses kapanpun. Selain itu karena kecanggihan teknologi yang makin lama makin berkembang membuat pengetahuan waria dalam mengakses facebook semakin bertambah.

2. Faktor Eksternal a) Grup Komunitas

(9)

Sehingga pada akhirnya waria tersebut akan menggunakan facebook juga. Selain itu, pengaruh adanya grup komunitas ini sangatlah besar karena hal tersebut membuat daya saing mereka meninggi dalam mengonsumsi kecanggihan teknologi saat ini.

Permasalahan Waria Dan Upaya Yang Dilakukan Dalam Menentukan Partner Seksualnya di Facebook

1. Permasalahan Waria di Facebook dan di Ruang Nyata

Di satu sisi facebook merupakan sebuah public sphere dengan ditandai sebagai ruang tanpa kontrol dan tanpa dominasi, namun di sisi lain karena tanpa kontrol tersebut, sehingga facebook menjadi ruang anarkis tanpa aturan dan norma-norma (Laksono,2012). Sehingga seperti yang terjadi dalam kehidupan nyata banyak ditemukan beberapa kasus-kasus kriminal yang disebabkan karena facebook, seperti penipuan maupun penculikan. Begitu juga dengan waria dalam menentukan partner seksualnya di facebook seringkali mengalami beberapa permasalahan, baik itu permasalahan di ruang maya maupun masalah di ruang nyata. Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

a) Permasalahan Di Facebook 1) Multy Identity

Multy Identity merupakan seseorang yang memiliki identitas lebih dari satu. Dengan banyaknya pengguna multy identity di media sosial facebook ini menjadi suatu permasalahan bagi para waria Yogyakarta yakni sering sekali mereka tertipu oleh para partner yang tidak jelas identitasnya tersebut dan banyak juga waria yang merasa terganggu oleh pria-pria yang hanya iseng menggoda mereka.

2) Kekerasan Psikis

Kekerasan psikis adalah suatu tindakan penyiksaan secara verbal (seperti: menghina, berkata kasar dan kotor) yang mengakibatkan menurunnya rasa percaya diri, meningkatkan rasa takut, hilangnya kemampuan untuk bertindak dan tidak berdaya (Denger, 2012). Kekerasan Psikis merupakan permasalahan waria yang kerap terjadi di media sosial. Kekerasan psikis yang diterima waria ini berupa hinaan, caci maki, dan bully. Waria sering kali menjadi sasaran bully di media sosial oleh orang lain.

3) Kekerasan Simbolik

(10)

yang diperintahnya, misalnya saja dalam hal berpakaian harus mengikuti perintah yang diminta partner tersebut.

b) Permasalahan Waria Di Dunia Nyata Dalam Menentukan Partner Dari Facebook 1) Kekerasan Ekonomi

Dalam temuan di lapangan kekerasan ekonomi ini sering juga dialami waria ketika mendapatkan partner dari facebook maupun dari lapangan. Biasanya contoh dari kekerasan ekonomi yang dialami waria ini adalah ketidaksesuain bayaran mereka dengan yang dijanjikan, uang yang dirampas dan tidak dibayar setelah melakukan hubungan seksual.

2) Kekerasasn Fisik / Kekerasan Seksual

Kekerasan fisik ini terjadi saat berada di ruang nyata antara partner dan waria. Biasanya kekerasan ini dilakukan oleh partner terhadap waria. Ini dapat terjadi karena ada hubungannya dengan relasi kekuasaan antara partner dan waria. Yang mana waria merupakan pihak yang dikuasai, harus rela dan pasrah menerima kekerasan fisik atau kekerasan seksual ini. Contoh dari kekerasan seksual itu misalnya dalam berhubungan seksual, partner melakukan tindakan-tindakan yang kasar seperti memukul, menampar, dan lain-lain terhadap waria tersebut.

2. Upaya Yang Dilakukan Waria

Adanya permasalahan-permasalahan yang terjadi seperti yang dipaparkan di atas. Terdapat upaya-upaya pencegahan agar waria terbebas dari permasalahan baik itu masalah mengenai multy identity maupun masalah mengenai segala bentuk kekerasan. Upaya-upaya tersebut antara lain sebagai berikut :

a) Meminta Nomer Handphone Maupun Pin Bb

Salah satu upayanya seperti meminta nomer handphonenya maupun pin bbnya karena dengan meminta kontak partner, waria mempunyai identitas partner yang jelas. Sehingga hal ini akan meminimalisir segala bentuk permasalahan yang terjadi

b) Selektif Dalam Memilih Pertemanan Di Facebook

Antisipasi lainnya untuk meminimalisir terjadinya permasalahan tersebut adalah saat ini para waria lebih selektif memilih pertemanannya di facebook. Jadi mereka tidak asal mengkonfirmasi permintaan pertemanan di facebook, karena menurut mereka hal tersebut dapat meminimalisir terjadinya penipuan atau sebagai korban keisengan para partner.

c) Lebih Memilih Nyebong Di Lapangan Daripada Di Facebook

(11)

PEMBAHASAN

Habermas menjelaskan bahwa ruang publik itu bisa bersifat politis (dalam arti praktik kekuasaan) sejauh diskusi publik berkaitan dengan berbagai hal mengenai praktik negara. Pada era masyarakat masa kini, ruang publik sering kali telah menjadi objek kekuasaan kelas kapitalis yang berkuasa, yang kemudian mengubahnya dari lingkup perdebatan rasional yang terbuka dan bebas menjadi lingkup intervensi dominasi, manipulasi, dan juga pembiakan perilaku konsumtif masyarakat yang seolah tak pernah dapat terpuaskan. Dalam penelitian ini terkait dengan penggunaan ruang publik terdapat agen-agen yang memiliki kekuasaan. Pada dasarnya di dalam ruang publik maya ini setiap orang memiliki kekuasaan untuk menentukan pandangan hidupnya sendiri, untuk menyusun ideologinya sendiri, untuk merangkai identitasnya sendiri yang unik. Berdasarkan temuan di lapangan, waria maupun partner memiliki kebebasan dalam menuliskan segala bentuk identitas dirinya di facebook untuk memberikan kesan yang menarik kepada orang lain. Sedangkan pada kasus waria dalam mencari partner seksualnya di facebook, di sini waria memiliki kekuasaan atas tubuh yang dimilikinya sedangkan partner memiliki kekuasaan kapital. Selain itu, permasalahan-permasalahan yang dialami oleh waria dalam menggunakan facebook menunjukkan terbentuknya relasi kekuasaan pada media sosial ini. Misalnya saja dalam permasalahan terjadinya kekerasan simbolik dan kekerasan seksualitas/fisik menunjukkan bahwa partner yang memiliki kekuasaan penuh atas waria. Dalam ruang publik maya ini, facebook hanya digunakan sebagai media penghubung yang mempermudah kedua belah pihak untuk menjalin relasi yang lebih lanjut pada ruang nyata.

(12)

hegemoni yang di dalamnya terdapat perang-perang simbol (baik itu bahasa dalam status-status di facebook maupun foto-foto) yang digunakan untuk memperebutkan penerimaan publik atau dalam kasus ini adalah memperebutkan partner seksualnya. Waria berlomba-lomba mengunggah foto-foto, maupun status-status yang digunakan untuk menarik perhatian calon partner mereka. Waria (kelompok yang dikuasai) memiliki tujuan yang sama dengan partner (kelompok berkuasa) yakni sama-sama ingin merasakan kenikmatan saat berhubungan seksual, yang mana memiliki tujuan yang sama antara waria dan partner merupakan prinsip hegemoni tersebut. Disini waria merupakan subjek yang merelakan dirinyaa untuk dikuasai ketika partner yang berkuasa atas dirinya tersebut bersedia membayar waria saat bertemu langsung di ruang nyata.

Kajian Habermas masih dianggap benar, di mana facebook sebagai ruang publik yang di dalamnya memungkinkan setiap warga negara berbicara dan terlibat dalam berbagai silang pendapat serta bersama-sama membentuk pendapat umum. Selain itu ruang publik itu sendiri bersifat politis yakni adanya praktik kekuasaan. Pada kasus ini waria Yogyakarta memanfaatkan ruang publik facebook untuk membentuk jejaring sosial mereka karena dalam membentuk pendapat umum didalamnya banyak orang yang akan terlibat sehingga jejaring sosial antara partner dan waria yang terbentuk juga semakin besar. Besarnya jejaring yang akan terbentuk antara partner dan waria memperbesar pula praktik kekuasaan dalam hubungan mereka yang akhirnya mereka realisasikan di dunia nyata.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian dan analisis di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Ruang Publik merupakan suatu arena untuk berkumpul, berserikat secara bebas dan menyatakan serta menyalurkan opini-opini individu secara bebas. Pada ruang publik facebook ini waria menggunakanya untuk menjalin interaksi dengan orang lain secara bebas yang kemudian mereka membentuk suatu jejaring, jejaring itu yang dinamakan dengan Jejaring Sosial.

Jejaring Sosial secara umum merupakan suatu hubungan antar individu dengan individu lainnya yang saling berhubungan. Jejaring Sosial pada waria biasanya dapat terbentuk ketika mereka tergabung dalam sebuah group komunitasnya di facebook yang di dalamnya beranggotakan orang-orang secara umum yang kemudian mereka berinteraksi dan menjalin hubungan satu sama lain di facebook.

Dalam penelitian ini, jejaring yang terbentuk di media sosial ini adalah bentuk Jejaring Pertemanan dan Jejaring Kontak Seksual. Jejaring Pertemanan merupakan hubungan antara waria dengan waria lain atau orang lain yang terbentuk yang mana mereka saling mengenal satu dengan yang lainnya dan hubungan yang mereka jalani di facebook maupun di dunia nyata adalah sebagai teman. Sedangkan Jejaring Kontak Seksual yaitu hubungan atau ikatan antara waria dan partner yang terlibat dalam hubungan seksual yang mulanya terbentuk di dunia maya dan terealisasikan di dunia nyata.

(13)

Waria menggunakan media sosial facebook untuk mencari partner seksual karena mencari partner seksual di facebook akan lebih menguntungkan daripada mencari partner seksual di lapangan. Selain itu menggunakan media facebook untuk mencari partner akan memperkecil resiko mereka tertangkap razia Satpol PP. Mencari partner seksual di facebook juga dimanfaatkan oleh waria-waria yang sudah tidak lagi mencari partner di lapangan. Dengan kemudahan mengakses teknologi saat ini menjadikan beberapa waria menyukai mencari partner seksual di facebook karena akan memperluas relasi mereka. Tetapi tidak sedikit juga yang lebih memilih mencari partnernya di lapangan karena meskipun mendapatkan partner dari facebook lebih menguntungkan tetapi mencari partner di lapangan lebih pasti.

Permasalahan yang sering di alami para waria dalam menentukan partner seksualnya di facebook antara lain, multy identity, kekerasan psikis, dan kekerasan simbolik. Sedangkan permasalahan waria di dunia nyata antara lain, kekerasan ekonomi dan kekerasan fisik/seksual. Sehingga upaya yang dilakukan waria dalam menghadapi masalah tersebut biasanya waria meminta nomor handphone atau pin bb, serta lebih selektif dalam pertemanan, dan waria lebih mengutamakan mencari partner di lapangan daripada mencari partner di facebook.

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa, Putra dan Sri H. Eddy. 2001. Strukturalisme Levi-Straus Mitos dan Karya Sastra .Yogyakarta: Galang Press.

Al-aydrus, Muchammad Ishaq. 2012. Pengertian Jejaring Sosial. Ditelusur dari http://www.scribd.com/doc/Pengertian-Jejaring-Sosial pada tanggal 07 Juni 2014. Anonim. 2009. Waria Tidak Memiliki Kesempatan Bekerja Normal. Ditelusur dari

http://regional.kompas.com/read/2009/12/03/22225393/waria.tidak-miliki-kesempatan.bekerja.normal pada tanggal 18 September 2013.

Anonim. 2013. Pasangan Seksual. Ditelusur dari http://id.wikipedia.org/Pasangan_seksual pada tanggal 19 November 2014.

Atmojo, Kemala. 1986. Kami Bukan Lelaki: Sebuah Sketsa Kehidupan Waria. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi Di Masyarakat. Jakarta: Kencana.

Christakis, Nicholas A. dan James H. Flower. 2010. Connected: Dahsyatnya Kekuatan Jejaring Sosial Mengubah Hidup Kita. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Darmawan, Deni. Metode Penelitian Kuantitatif. 2013. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Denger. 2012. Pengertian Kekerasan Psikis. Ditelusur dari

(14)

Emelia, Fritska. 2013. Peran Media dalam Cyberspace, Informational Politics, dan Public Sphere. Jurnal Hubungan Internasional Volume VI, No. 1.

Habermas, Jurgen. 2012. Ruang Publik: Sebuah Kajian Tentang Kategori Masyarakat Borjuis. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Hardiman F, Budi. 2009. Menuju Masyarakat Komunikatif. Yogyakarta: Kanisius.

Juditha, Christiani. 2011. Hubungan Penggunaan Situs Jejaring Sosial Facebook Terhadap Perilaku Remaja Di Kota Makasar. Jurnal Penelitian IPTEK-KOM Volume 13, No. 1. Ditelusur dari https://www.academia.edu/6381401 pada Tanggal 07 Juni 2014.

Juju, Dominikus dan Feri Sulianta. 2010. Hitam Putih Facebook. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Kadir, Abdul Hatib. 2007. Tangan-Tangan Kuasa Dalam Kelamin. Yogyakarta: INSISTPress. Koeswinarno. 1998. Waria dan Penyakit Menular Seksual: Kasus Dua Kota di Jawa.

Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan. Koeswinarno. 2004. Hidup Sebagai Waria. Yogyakarta: LKiS.

Laksono, Puji. 2012. Cyber Prostitution: Bergesernya Masalah Sosial Ke Dalam Ruang Virtual. Makalah Pascasarjana Sosiologi Universitas Sebelas Maret. Ditelusur dari https//:www.academia.edu/4533910/…pada tanggal 18 September 2013. LSM KEBAYA. 2012. Data Informasi Strategis 2012.

Madcoms. 2010. Facebook, Twitter dan Plurk dalam Satu Genggaman. Yogyakarta: ANDI. Milles, Matthew B. dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif: Buku

Sumber Tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UI-Press.

Moleong, Lexy J. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Nazir, Barirah. 2012. Gender Patterns on Facebook: A Sociolinguistic Perspective.

International Journal of Linguistics ISSN 1948-5425 2012, Vol. 4, No. 3. Ditelusur dari www.macrothink.org/journal/index.php/ijl/article/viewFile/1899 pada tanggal 07 Juni 2014.

Nasution, S. 1996. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Neill, Shelly A. 2009. The Alternate Channel: How Social Media Is Challenging The Spiral Of Silence Theory In GLBT Communities Of Color. Research Project Submitted To The Faculty Of The Public Communication Graduate Program School Of Communication American University Washington, D.C. Ditelusur dari www.american.edu/.../09-Neill pada tanggal 07 Juni 2014

(15)

Putri, Mardha Tresnowaty dan Hadi Sutarmanto. 2009. Kesejahteraan Subjektif Waria Pekerja Seks Komersial. Jurnal Psikohumanika: Universitas Setia Budi Fakultas Psikologi. Ditelusur dari http://www.setiabudi.ac.id/jurnalpsikologi/JURNAL 4(1).pdf pada tanggal 18 September 2013.

Ramadhani, Jane. 2012. Mengapa Ada Lelaki “Normal” Menyukai Waria. Ditelusur dari https://janeontheblog.wordpress.com/2012/01/24/mengapa-ada-lelaki-normal-menyukai-waria pada tanggal 19 November 2014.

Riyantoro, Bagus dan Ati Harmoni. 2013. Efektivitas Iklan Melalui Jejaring Sosial Sebagai Salah Satu Strategi Pemasaran Keripik Pedas Maicih Dengan Metode EPIC. Jurnal Epic Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma Vol. 05 Oktober 2013 ISSN: 1858-2559. Ditelusur dari https://www.academia.edu/6262843/....pada tanggal 18 September 2013.

Roekhan. 2010. Kekerasan Simbolik Di Media Massa. Jurnal Bahasa Dan Seni Tahun 38 Nomor 2. Ditelusur dari https://sastra.um.ac.id/wp-content/uploads/.../11-Roekhan.pdf pada tanggal 24 Maret 2015.

Salim, Agus. 2006. Teori Dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana. Saputra, Ozzy. 2013. FAKTA - Negara Pengguna Facebook Terbesar di Dunia. Ditelusur dari

http://ozzy5.blogspot.com/2013/04/fakta-negara-pengguna-Facebook-terbesar.html pada tanggal 18 september 2013.

Sigit, Erwin. 2012. Pola Komunikasi Waria Sebagai Bentuk Eksistensi Diri (Studi Deskriptif Pola Komunikasi Waria Sebagai Bentuk Eksistensi Diri Di Lingkungan Masyarakat Kota Bandung). Ditelusur dari http://elib.unikom.ac.id pada tanggal 07 Juni 2014.

Susanto. 2006. Metode Penelitian Sosial. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan UNS dan UPT Penerbitan dan Pencetakan UNS.

Sumadiria, Haris. 2014. Sosiologi Komunikasi Massa. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Scott, John. 2012. Teori Sosial: Masalah-Masalah Pokok Dalam Sosiologi. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Slamet, Yulius. 2006. Metode Penelitian Sosial. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Wicaksono, Bangkit. 2011. Cybersociety (Masyarakat Cyber). Ditelusur dari

http://bangkitwicaksono.blogspot.ca/2011/04//pendidikan-agama-islam-sumber-hukum.html?zx=1a8e41f616cd5fb pada tanggal 18 September 2013.

Yin, Robert K. 2013. Studi Kasus Desain & Metode. Jakarta: RajaGrafindo Persada (Rajawali Perss).

Yoga, Yanuar. 2012. Dinamika Arus Informasi Dalam Media. Ditelusur dari

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan menghasilkan suatu aplikasi pengolahan data bimbingan dan pelanggaran siswa pada SMA Lampung Tengah sehingga dapat

 Laporan resmi yang diubah dalam bentuk jurnal (format menyesuaikan format jurnal resmi) yang telah di ACC dengan dibuktikan dengan paraf dosen pengampu,

Keuntungan penggunaan alat ini adalah tingkat keberhasilan blok lebih tinggi dengan volume anestetik lokal lebih sedikit dan dapat melihat langsung penyebaran obat anestesi pada

Setiap karyawan memiliki kinerja yang baik jika selalu termotivasi dengan baik pula, namun hal itu tidak dapat dilaksanakan dengan maksimal jika karyawan memiliki

Karya video musik Rannisakustik berjudul “Tot Namanya”, “Ibu”, dan “Putri Mencari” ini divisualisasikan menggunakan konsep tarian walaupun dengan porsi yang

terpenuhi karena kasus emboli merupaka sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh profesi dokter karena ini merupakan komplikasi yang merupakan resiko medis dalam setiap tindakan

ANALISIS PENGARUH PENERAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN TATA KELOLA RUMAH SAKIT TERHADAP REPUTASI DALAM RANGKA..

ANALISIS BIT ERROR RATE (BER) UNTUK MODULASI BPSK DAN QPSK PADA KINERJA JARINGAN WIMAX 802.16e.. Diajukan untuk