1
PENGARUH PENDEKATAN INKUIRI TERBIMBING
DIPADU DENGAN DIAGRAM ALIR TERHADAP TINGKAT PEMAHAMAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPA SMA MUHAMMADIYAH JAYAPURA
PADA MATERI LAJU REAKSI
Febrian Andi Hidayat 1) dan Tiurlina Siregar 2)
1) Dosen STKIP Muhammadiyah Sorong 2) Dosen Universitas Cenderawasih
ABSTRACT
This study aims to determine : (1) the influence of guided inquiry approach combined with a flow diagram of the level of student understanding; (2) the influence of guided inquiry approach combined with a flow diagram of the student learning outcomes; and (3) improving student learning outcomes after learning use of guided inquiry approach combined with a flow chart. This study design was used descriptive and quasi-experimental research with this type of pre-test and post-test. The sample in this study were students of class XI IPA 2 SMA Muhammadiyah Jayapura on odd semester school year 2015/2016. Research note is the note level of understanding and student learning outcomes. The level of understanding were collected using an objective test which is equipped with a level of confidence about the answer to number 17. While the test results to learn as much as 7 questions in each lesson plan. The results showed that : (1) a significant difference between guided inquiry approach combined with a flow diagram of the level of understanding of students with count of sig. 0,000 < 5 %, as well as the influence of 98.6%. (2) a significant difference between guided inquiry approach combined with a flowchart of the learning outcomes 1, 2, and 3 with sig. of count 0.000 < 5 % with the average percentage of the influence is 67.8 %. (3) an increase in the average learning outcomes of students from all three meetings, including in the medium category with a value of n-Gain an average of 0.616.
Keywords : guided inquiry, flow charts, level of student understanding, learning outcomes.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pengaruh pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan diagram alir terhadap tingkat pemahaman siswa; (2) pengaruh pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan diagram alir terhadap hasil belajar siswa; dan (3) peningkatan hasil belajar siswa setelah dibelajari menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan diagram alir. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan quasi experimental dengan jenis pre test and post test. Sampel yang digunakan adalah siswa kelas XI IPA 2 SMA Muhammadiyah Jayapura pada semeseter ganjil tahun pelajaran 2015/2016. Data penelitian merupakan data tingkat pemahaman dan hasil belajar siswa. Tingkat pemahaman dikumpulkan menggunakan tes objektif yang dilengkapi dengan tingkat keyakinan jawaban dengan jumlah 17 soal. Sedangkan tes hasil belajar sebanyak 7 soal dalam masing-masing RPP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) terdapat pengaruh yang signifikan antara pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan diagram alir terhadap tingkat pemahaman siswa sebesar 98,6%. (2) terdapat pengaruh yang signifikan antara pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan diagram alir terhadap hasil belajar 1, 2, dan 3 dengan persentase rata-rata sebesar 67,8%. (3) peningkatan hasil belajar rata-rata siswa dari ketiga pertemuan termasuk dalam kategori sedang dengan nilai n-Gain rata-rata sebesar 0,616.
2 PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengaruh global, serta seni dan budaya sangat mempengaruhi perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Perkembangan dan perubahan yang terjadi menuntut adanya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui perbaikan dalam proses pembelajaran.
Proses pembelajaran mempunyai komponen-komponen yang mempengaruhi hasil belajar di dalamnya. Komponen-komponen dalam proses pembelajaran mencakup tujuan, bahan atau materi yang dipelajari, strategi, pendekatan, siswa dan guru, media pembelajaran dan penunjang proses pembelajaran lainnya (Sugandi, 2008: 28). Pendekatan pembelajaran menjadi salah satu komponen penunjang dalam proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang salah akan mengakibatkan kesalahan dalam menentukan strategi, model maupun metode yang digunakan dalam pembelajaran. Pendekatan yang membudaya dalam proses pembelajaran di Indonesia mengarah pada pendekatan pembelajaran dengan guru sebagai pusatnya (Teacher Centered Approach). Pembelajaran yang pendekatannya terpusat pada guru merupakan proses penanaman pengetahuan pada siswa, dan saat ini dinilai tidak sesuai seiring pesatnya perkembangan teknologi (Hamruni, 2011:42). Proses penanaman pengetahuan dalam pembelajaran menjadikan siswa sebagai objek belajar dan bukan subjek belajar. Siswa sebagai objek belajar mengarah pada anggapan bahwa siswa merupakan organisme yang pasif, sehingga segala informasi yang diberikan guru harus diterima oleh siswa.
Informasi yang diberikan pada siswa sepenuhnya merupakan pilihan guru, sebagai pendidik pilihan yang diterapkan terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan baik dari segi pengembangan bakat maupun minat siswa. Pengetahuan yang tidak sesuai dengan perkembangan bakat dan minat menimbulkan masalah tersendiri dalam proses
pembelajaran. Masalah yang timbul beragam bentuknya, mulai dari motivasi belajar yang kurang, tingkat pemahaman konsep yang rendah serta hasil belajar yang kurang memuaskan.
Tingkat pemahaman konsep dan hasil belajar terlihat secara langsung pada pencapaian siswa, baik dalam pembelajaran sehari-hari maupun selama satu semester. Mata pelajaran IPA, khususnya kimia menjadi salah satu pelajaran yang kurang diminati oleh sebagian besar siswa. Kurangnya minat siswa disebabkan karena pelajaran kimia terdiri dari konsep-konsep yang bersifat abstrak. Penelitian-Penelitian tentang analisis tingkat pemahaman konsep siswa pada pokok bahasan dalam materi kimia di Kota maupun Kabupaten Jayapura menunjukkan adanya miskonsepsi siswa dengan jumlah yang rendah, akan tetapi siswa yang tidak paham konsep lebih banyak dibanding siswa yang paham konsep.
Tingginya angka persentase siswa yang tidak paham konsep selain disebabkan oleh siswa itu sendiri, juga disebabkan oleh pendekatan dan model pembelajaran yang digunakan guru. Model maupun pendekatan yang digunakan guru dalam mengajar umumnya sama untuk setiap pokok bahasan yang diajarkan, sehingga terkadang tidak sesuai antara pendekatan dan model yang dipilih dengan pokok bahasan yang diajarkan. Pemilihan model dan pendekatan yang seringkali kurang tepat terjadi pada pembelajaran kimia pokok bahasan laju reaksi (Agustini, 2013: 1). Pembelajaran algoritmik lebih ditekankan dibandingkan pembelajaran kontekstual pada pokok bahasan ini, sehingga motivasi siswa rendah dan mempengaruhi tingkat pemahaman serta hasil belajarnya.
3 siswa (Student centered approach) yang bersifat mengatur lingkungan.
Inkuiri terbimbing merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengkonstruksi sendiri konsep-konsep yang dipelajari. Siswa dalam pembelajaran inkuiri terbimbing akan mudah memahami konsep yang dipelajari dengan adanya alat bantu yang salah satunya yaitu diagram alir. Diagram alir dalam pembelajaran inkuiri terbimbing bertujuan untuk membantu siswa dalam memahami cara kerja pada percobaan yang dilakukan dalam pokok bahasan laju reaksi. Djarwo (2012) dalam Penelitiannya memaparkan bahwa pembelajaran menggunakan inkuiri terbimbing dan dipadu dengan diagram alir dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Berdasarkan uraian di atas, tingkat pemahaman konsep yang kurang baik dapat dialami oleh siswa yang mempelajari materi laju reaksi. Kurangnya pemahaman konsep akan mempengaruhi hasil belajar siswa, sehingga pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing dipadu dengan diagram alir mampu meningkatkan pemahaman konsep dan memaksimalkan hasil belajar siswa, dengan demikian Peneliti telah melakukan Penelitian dengan judul
“Pengaruh Pendekatan Inkuiri Terbimbing
Dipadu dengan Diagram Alir Terhadap Tingkat Pemahaman Konsep dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA 1 pada Materi Laju Reaksi di SMA Muhammadiyah
Jayapura”.
.METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan quasi experimental dengan jenis Pre test and Post test. Rancangan deskriptif digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman konsep siswa selama pembelajaran menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing yang dipadu dengan diagram alir. Rancangan quasi eksperimental digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing yang dipadu dengan diagram alir.
Variabel dalam Penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu satu variabel bebas (independent variable) dan dua variabel terikat (dependent variabel). Variabel bebas adalah Pendekatan Inkuiri Terbimbing dipadu dengan Diagram Alir (X), sedangkan variabel terikat adalah Tingkat Pemahaman Konsep (Y1) dan Hasil Belajar Siswa (Y2).
Populasi dalam Penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI di SMA Muhammadiyah Jayapura dengan jumlah siswa 46 siswa yang terdistribusi menjadi dua kelas. Sampel dalam Penelitian ini diambil dengan Teknik purposive sampling yaitu siswa kelas XI IPA 2 SMA Muhammadiyah Jayapura Tahun Ajaran 2015/2016 yang berjumlah 22 orang.
Instrumen yang digunakan dalam Penelitian ini terdiri dari tiga macam, yaitu angket untuk melihat respon siswa, tes soal pilihan ganda pre dan pos test setiap RPP untuk melihat hasil belajar, serta soal tes yang digunakan untuk melihat tingkat pemahaman konsep siswa. Pengujian ketiga instrumen menggunakan uji validitas dan reliabilitas.
Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik statistik parametrik karena data yang didapatkan terdistribusi secara normal. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan taraf signifikan 5% ( = 0,05) dan uji regresi dilakukan berdasarkan keputusan apabila nilai sig. < 5% maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat.
4 Pada rumus tersebut, G adalah gain yang dinormalisasi (n-Gain) dari kedua model, Smaksimum adalah skor maksimum (ideal) dari tes awal dan tes akhir, Spostest adalah skor tes akhir, sedangkan Spretest adalah skor tes awal. Tinggi rendahnya gain yang dinormalisasikan (n-Gain) dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (1) jika G≥ 0,7, maka n-Gain yang dihasilkan termasuk kategori tinggi; (2) jika 0,7 > G ≥ 0,3, maka n-Gain yang dihasilkan termasuk kategori sedang, dan (3) jika G < 0,3 maka n-Gain yang dihasilkan termasuk kategori rendah.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tingkat Pemahaman Siswa
Hasil Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing yang dipadu dengan diagram alir mempengaruhi tingkat pemahaman siswa. Hal dapat dilihat pada uji hipotesis yaitu uji Regresi yang didapatkan persamaan Y1 = 10,129+0,917X +
ε
. Penentuan variabel bebas (inkuiri terbimbing dipadu dengan diagram alir) mempengaruhi variabel terikat (tingkat pemahaman konsep) ditentukan berdasarkan nilai t atau dari signifikansinya. Dalam hal ini nilai signifikansi yaitu 0,000 atau kurang dari 0,05 sehingga variabel bebas dalam Penelitian ini memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap variabel terikatnya.Uji selanjutnya yaitu uji F dengan melihat nilai signifikansi dari variabel variabel yang diuji. Hasil uji menunjukkan bahwa nilai Fhitung sebesar 1,458E3 yang memiliki tingkat sig. 0,000. Nilai sig. tersebut lebih kecil dari 5% sehingga dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran inkuiri terbimbing yang dipadu dengan diagram alir berpengaruh signifikan terhadap tingkat pemahaman siswa dan hipotesisnya diterima.
Koefisien determinasi selanjutnya dilihat pada nilai R square yang
menunjukkan nilai sebesar 0,986. Nilai R square mempunyai arti bahwa kemampuan variabel bebas untuk menjelaskan besarnya variasi dalam variabel terikat adalah sebesar 98,6% dan 1,4% lainnya dijelaskan variabel lain yang tidak masuk dalam persamaan. Jadi dapat dikatakan bahwa pendekatan inkuiri terbimbing mempengaruhi tingkat pemahaman siswa sebesar 98,6%.
Pengaruh yang besar ini dikarenakan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing berbasis konstruktivistik, dimana siswa dibimbing untuk menemukan konsep melalui pemberian masalah, menyusun hipotesis, melakukan percobaan, analisis data, evaluasi hipotesis dan pengambilan keputusan yang jika terus menerus dilakukan dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan tingkat pemahaman siswa. Pemberian tes tingkat pemahaman siswa dilakukan setelah siswa diberi pembelajaran menggunakan inkuiri terbimbing dipadu dengan diagram alir selama tiga pertemuan, sehingga siswa mulai terbiasa membangun pemahaman tentang materi yang dipelajari.
Hasil Belajar
Data hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran inkuiri terbimbing yang dipadu dengan diagram alir mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa baik hasil belajar 1, 2 maupun 3. Nilai signifikansi dari ketiga hasil belajar dapat dilihat pada tabel 4.7. Pada tabel 4.7 ditunjukkan bahwa ketiga hasil belajar mempunyai taraf signifikansi sebesar 0,000 atau kurang dari 5% (0,000 < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran inkuiri terbimbing yang dipadu dengan diagram alir mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa.
5 belajar 2 dan hasil belajar 3 yang sama-sama menunjukkan bahwa pendekatan inkuiri terbimbing mempengaruhi hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, data yang didapatkan dalam Penelitian ini sesuai dengan beberapa teori belajar. Bodner (dalam Kartini, 2007) bila dihubungkan dengan pengertian belajar menurut pandangan konstruktivisme, bahwa belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan oleh siswa atas dasar struktur kognitif yang telah ada sebelumnya. Proses konstruksi (membangun) dilakukan terus menerus dengan cara mengatur, menyusun, dan menata ulang pengalaman yang dikaitkan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa sehingga struktur tersebut sedikit demi sedikit dimodifikasi dan dikembangkan. Dalam pembelajaran konstruktivistik siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu, dan mengkonstruksikan pengetahuan siswa tersebut (Nurhadi, 2004). Dengan demikian belajar adalah merupakan modifikasi dari ide-ide atau gagasan yang dimiliki siswa.
Ide-ide yang disampaikan siswa berupa gambarkan yang mencerminkan suatu kegiatan proses kerja yang disebut diagram alir. Media adalah bentuk perantara yang digunakan untuk menyebarkan ide atau gagasan sehingga materi pembelajaran dapat diterima oleh siswa (Latuheru (dalam Jelita, 2003). Menurut Latuheru media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman materi pembelajaran yang disajikan. Pendapat ini didukung oleh Torkelson (dalam Sulaeman, dikutip oleh Jelita, 2003) bahwa media berfungsi sebagai agen utama untuk mengembangkan dan meningkatkan prestasi belajar. Berdasarkan pendapat tersebut dimungkinkah bahwa siswa yang menggunakan diagram alir sebagai media pembelajaran cenderung dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Peningkatan Hasil Belajar
Tujuan pembelajaran akan tercapai dengan pendekatan pembelajaran yang tepat. Indikator tercapainya suatu tujuan pembelajaran ditandai dengan hasil belajar
siswa. Hasil belajar siswa ditunjukkan dengan penguasaan konsep siswa terhadap konsep-konsep laju reaksi yang diajarkan. Hasil analisis uji n-Gain seperti pada gambar diagram berikut,
Diagram Hasil Uji N-Gain RPP 1, 2 dan 3
6 Diagram persentase nilai n-Gain hasil
belajar RPP 1
Pada RPP II peningkatan hasil belajar siswa semakin meningkat, meskipun nilai n-Gain tetap didominasi oleh n-n-Gain kategori sedang tetapi nilai n-Gain yang kurang dari 0,3 (kategori rendah) turun hingga 4%. Hal ini terjadi karena siswa sudah mulai bisa mengikuti pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing yang dipadu dengan diagram alir serta siswa mulai bisa mengkonstruk pengetahuan yang sedang dipelajari.
Diagram persentase nilai n-Gain hasil belajar RPP 2
Hasil peningkatan yang lebih baik terlihat pada RPP III, dimana peningkatan hasil belajar siswa tergolong tinggi. Angka peningkatan rata-ratanya mencapai > 0,710 dari batas atas kriteria 0,7 (tinggi). Nilai n-Gain hasil belajar siswa yang < 0,3 (kategori rendah) masih terdapat yaitu sebanyak 4%. Berbeda dengan pembelajaran RPP I dan RPPII, pembelajaran pada RPP III dilakukan praktikum dengan materi faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi, sehingga siswa jauh lebih bersemangat dan antusias terhadap materi yang dipelajari pada pertemuan ketiga tersebut. Sehingga terlihat peningkatan hasil belajarnya juga semakin tinggi.
Diagram persentase nilai hasil belajar RPP 3
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan pendekatan pembelajaran inkuiri terbimbing yang dipadu dengan diagram alir terhadap tingkat pemahaman konsep siswa, dimana nilai r sebesar 0,993 dan R2 sebesar 98,6%.
2. Ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan pendekatan pembelajaran inkuiri terbimbing yang dipadu dengan diagram alir terhadap hasil belajar siswa, dimana nilai r rata-rata sebesar 0,823 dan R2 sebesar 67,8%.
3. Ada peningkatan hasil belajar pada siswa yang dibelajari dengan pendekatan pembelajaran inkuiri terbimbing yang dipadu dengan diagram alir dengan nilai rata-rata hasil belajar 1, 2, dan 3 sebesar 0,616 atau tergolong sedang.
Saran
1. Penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing yang dipadu dengan diagram alir perlu dilanjutkan pada konsep-konsep kimia yang lain yang melibatkan kegiatan laboratorium, karena pembelajaran ini sangat membantu siswa dalam menganalisis langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum kegiatan eksperimen. 2. Pembelajaran inkuiri terbimbing yang
7 tingkat pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari meningkat. 3. Perlu dilakukan Penelitian lebih lanjut
tentang pengaruh diagram alir dalam pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi yang sama maupun berbeda dengan melibatkan subjek Penelitian yang lebih luas, karena adanya fase-fase dalam pembelajaran inkuiri terbimbing dan langkah-langkah yang ada pada diagram alir dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Agustini, Rina. 2013. Efektivitas Pembelajaran Kimia dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing Berbantuan Media Animasi Digital terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Laju Reaksi. Karya ilmiah dipublikasikan. Universitas Negeri Malang.
Arifin, M. (1997). Pengembangan Program Pengajaran Bidang Studi Kimia. Surabaya: Unair Press.
Arikunto, S. (2009). Dasar-da sar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Depdiknas. (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Djarwo, Catur Fathonah. (2012). Pengaruh Diagram Alir dalam Pembelajaran Inkuiri Terbimbing terhadap Kualitas Proses dan Ha sil Belajar Siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang Pada Materi Pokok Laju Reaksi. Tesis, Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.
Iriyanti, N. P. (2012). Identifikasi Miskonsepsi Pada Materi Pokok Wujud Zat Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Bawang Tahun Ajaran 2009/2010. Jurnal Pendidikan Kimia , 8-13.
Panjaitan, S. (2014). Analisis Miskonsepsi Siswa pada Pembelajaran Larutan
Asam dan Basa di SMA Negeri 3 Jayapura. Tesis S1 pada Prog Studi Kimia Universitas Cenderawasih: tidak diterbitkan.
Pratomo, Y. N. (2012). Efektivitas Pendekatan Inkuiri Terbimbing terhadap Keterampilan Proses Sains dan Kemampuan Kognitif C1 – C3 Siswa SMP dalam Pembelajaran IPA Materi Pemanasan Global. Tesis S1 pada Fakultas Matematika dan IPA Universitas Negeri Yogyakarta. Pribadi, B.A. (2009). Model Desain Sistem
Pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat. Purba, M. (2006). Kimia untuk SMA Kelas X.
Jakarta: Erlangga.
Purtadi, S. (2003). Analisis Miskonsepsi Konsep Laju dan Kesetimbangan Kimia Pada Siswa SMA. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Sanjaya, W. (2009). Perencanaan dan
Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Sugiyono. (2006). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Suparno, P. (2005). Miskonsepsi dan Perubahan Konsep Pendidikan Fisika. Jakarta: Grasindo.
Tayubi, R.T. (2005). Identifikasi Miskonsepsi pada Konsep-konsep Fisika Menggunakan Certainty of Response Index (CRI). Bandung: UPI.
Trianto. (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi pustaka.
Wahyuningrum, S. dan Suyono. (2013). P ola Pergeseran Konsepsi Siswa pada Struktur Atom setelah Pembelajaran dengan Strategi POGIL. Journal of Chemical Education. 2, (1), 43-50. Winataputra, dkk. (2008). Teori Belajar dan