BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada tahun 2013, pemerintah membuat terobosan baru yakni dengan memberlakukan kurikulum baru yang diberi nama kurikulum 2013 sebagai lanjutan dari kurikulum sebelumnya (KTSP). Alasan diberlakukanya kurikulum ini salah satunya adalah diharapkan adanya perubahan proses pembelajaran (dari peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mencari tahu) dan proses penilaian (dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output). Oleh karena itu, guru dan peserta didik diharapkan dapat mengimplementasikan dari kurikulum baru ini. Pada kurikulum 2013 khususnya pada pelajaran matematika tingkat SMP dan sederajat, pemerintah sudah menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yakni 67 atau 2,66.
SMP Negeri 03 Batu juga sudah menerapkan kurikulum 2013 yang dikhususkan pada peserta didik kelas VII, sedangkan peserta didik kelas VIII dan IX menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Diterapkanya kurikulum 2013 ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas peserta didik maupun guru di SMPN 03 Batu, baik dilihat dari proses pembelajaran maupun dari hasil belajar. Adapun Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang digunakan oleh SMPN 03 Batu untuk pelajaran matematika sesuai dengan yang ditentukan oleh pemerintah yakni 75 atau 3,00. Di dalam proses pembelajaran, guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pembelajaran. Karena guru dalam proses pembelajaran diibaratkan sebagai sutradara yang mana mengatur semua jalanya proses pembelajaran. Oleh sebab itu, guru harus membuat perencanaan pembelajaran untuk meningkatkan kesempatan belajar bagi peserta didik dan memperbaiki kualitas mengajarnya serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
SMPN 03 Batu masih rendah yakni 13 dari 27 peserta didik yang nilainya memenuhi KKM. Diperoleh presentasi ketuntasan klasikal sebesar 48,15 %, sehingga dapat dianalisisi bahwa ketuntasan klasikal masih tergolong rendah. Menurut peneliti, nilai tersebut masih tergolong rendah dan faktor penyebabnya adalah minat belajar peserta didik kurang dan cenderung malas belajar sehingga hasil yang dicapai kurang maksimal, serta kurang adanya inovasi guru dalam proses belajar mengajar sehingga peserta didik merasa jenuh, bosan dan kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Dihimbau untuk para pendidik agar menciptakan suasana belajar yang lebih menarik supaya peserta didik lebih nyaman dalam mengikuti proses belajar mengajar dan memahami materi yang sedang disampaikan oleh guru.
Strategi TS-TS (Two-Stay Two-Stray) pertamakali dikembangkan oleh Speaker Kagan (dalam Miftahul, 2013) dengan sintaks, peserta didik dibentuk kelompok dengan beranggotakan empat orang setelah itu diberikan permasalahan yang harus dipecahkan bersama dengan kelompoknya, setelah selesai dua orang dari masing-masing kelompok bertamu ke kelompok lain dan dua orang lainya menjaga di kelompoknya, setelah selesai berkunjung kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan temuan mereka. Berdasarkan uraian di atas, menurut peneliti strategi TS-TS sangat cocok untuk mengatasi masalah tersebut, dikarenakan tersebut merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan agar peserta didik dapat saling bekerja sama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah, dan saling mendorong satu sama lain untuk berprestasi. Sehingga peneliti berkeingin untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Hasil belajar Pada Materi Persamaan Linear Satu Variabel (PLSV) Menggunakan Strategi TS-TS (Two-Stay Two-Stray) Pada Peserta Didik Kelas VII-I Tahun Ajaran 2013-2014 Di SMPN 03 Batu”.
1.2 Rumusan Masalah
03 Batu kelas VII-I tahun ajaran 2013-2014 pada materi persamaan linear satu variabel ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada permasalahan di atas, maka tujuan yang diharapkan dalam mengadakan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mendiskripsikan penerapan strategi pembelajaran kooperatif tipe TS-TS (Stay Two-Stray) dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik di SMP Negeri 03 Batu kelas VII-I tahun ajaran 2013-2014 pada materi persamaan linear satu variabel.
1.4 Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian tindakan kelas ini hanya akan membahas masalah dalam ruang lingkup:
1. Peserta didik kelas VII-I di SMP Negeri 03 Batu semester genap tahun ajaran 2013-2014.
2. Materi pokok yang dibahas dalam penelitian tindakan kelas ini pada persamaan linear satu variabel.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu kontribusi yang berarti dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VII-I di SMP Negeri 03 Batu, khususnya terhadap kegiatan pembelajaran matematika. Adapun manfaat penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Bagi Peserta didik
Mempermudah peserta didik dalam mempelajari dan memahami materi yang disampaikan oleh guru, serta untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. 2. Bagi Guru
3. Bagi Sekolah
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Definisi Belajar
Menurut Datyanto (dalam Chandra, 2013) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamanya sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya. Sedangkan menurut Syah (dalam Chandra, 2013) belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa definisi belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi lingkungan yang melibatkan aspek kognitif.
Smith dan Ragan (dalam Chandra, 2013) mengemukakan beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Faktor-faktor tersebut adalah efektif, efisien, dan menarik, sedangkan kriterianya, yakni.
1) Peran aktif peserta didik (active participation)
Proses belajar akan berlangsung efektif jika peserta didik terlibat secara aktif dalam tugas-tugas yang bermakna, dan berinteraksi dengan materi pelajaran secara intensif.
2) Latihan (practice)
Latihan yang dilakukan dalam berbagai konteks dapat memperbaiki tingkat daya ingat atau retensi.
3) Perbedaan individual (individual differences)
4) Interaksi sosial (social interaction)
Interaksi sosial sangat diperlukan oleh peserta didik agar dapat memperoleh dukungan sosial dalam belajar. Interaksi yang berkesinambungan dengan sejawat atau sesama peserta didik akan memungkinkan peserta didik untuk melakukan konfirmasi terhadap pengetahuan dan keterampilan yang sedang dipelajari.
2.2 Pembelajaran Kooperatif
Menurut Slavin (2005) menyatakan, “in cooperative learning method, student work together in four memver tean to master materian initially presented by the teacher”. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa didalam pembelajaran kooperatif peserta didik bekerja bersama-sama dalam kelompok untuk membahas materi yang sudah disampaikan oleh guru.
Model pembelajaran koopeatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Peserta didik bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari peserta didik dengan kemampuan heterogen, yaitu peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda.
d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada individu.
Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
a. Para peserta didik harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama.”
c. Para peserta didik harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.
d. Para peserta didik membagi tugas dan berbagi tanggungjawab di antara para anggota kelompok.
e. Para peserta didik diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.
f. Para peserta didik berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.
g. Setiap peserta didik akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Pada pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, peserta didik diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan [ CITATION RSl05 \l 1057 ].
2.3 Pembelajaran Kooperatif Tipe TS-TS (Two-Stay Two-Stray)
Model pemelajaran kooperatif tipe TS-TS (Two-Stay Two-Stray) dikembangkan oleh Spencer Kagan (dalam Miftahul, 2013). Metode ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia peseta didik. Metode TS-TS (Two-Stay Two-Stray) merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan agar peserta didik dapat saling bekerja sama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah, dan saling mendorong satu sama lain untuk berprestasi. Metode ini juga melatih peserta didik untuk bersosialisasi dengan baik.
2.3.1 Sintaks metode TS-TS (Two-Stay Two-Stray)
Berikut adalah rincian tahap-tahap strategi pembelajaran TS-TS :
dari 1 peserta didik berkemampuan tinggi, 2 peserta didik berkemampuan sedang, dan 1 peserta didik berkemampuan rendah. Hal ini dilakukan karena pembelajaran kooperatif tipe TS-TS ( Two-Stay Two-Stray) bertujuan untuk memberikan kesempatan pada peserta didik untuk saling membelajarkan (Peer Tutoring) dan saling mendukung.
2) Guru memberikan subpokok bahasan bersama-sama dengan kelomppok masing-masing.
3) Peserta didik bekerja sama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang. Hel ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses berfikir. 4) Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok
meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lainya. 5) Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil
kerja dan informasi mereka kepada temu dari kelompok lain.
6) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompoknya masing-masing untuk melaporkan temuan meraka dari kelompok lain.
7) Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka. 2.3.2 Kelebihan dan kekurangan strategi pembelajaran TS-TS
(Two-Stay Two-Stray)
Kelebihan strategi pembelajaran TS-TS (Two-Stay Two-Stray). 1) Dapat diterapkan pada semua kelas/tingkatan.
2) Lebih berorientasi pada keaktifan dan kreativitas peserta didik. 3) Diharapkan peserta didik akan berani menggungkapkan
pendapatnya.
4) Menambah kekompakan, kreatifitasa dan rasa percaya diri peserta didik.
5) Peserta didik dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh. 6) Peserta didik yang pandai dapat mengajari peserta didik yang kurang
7) Peserta didik dapat saling membantu satu sama lain dan saling mendorong untuk berprestasi.
Kekurangan strategi pembelajaran TS-TS (Two-Stay Two-Stray). 1) Membutuhkan waktu yang lama.
2) Peserta didik cenderung tidak mau belajar dalam kelompok.
3) Bagi guru, membutuhkan banyak peersiapan (materi, dana dan tenaga).
4) Guru cenderung kesulitan dalam mengelolah kelas.
2.4 Hasil belajar peserta didik
Kegiatan belajar tidak dapat dipisahkan dengan hasil belajar, kegiatan belajar merupakan proses dan hasil belajar merupakan hasil belajar. Menurut Purwanto (dalam Yulia, 2012) hasil belajar adalah perubahan perilaku pesert didik akibat belajar. Perubahan perilaku disebabkan karena dia mencapai penguasaaan atas sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar. Menurut Sudjana (2012), penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai peserta didik dengan kriteria tertentu. Pengolahan hasil penilaian melalui nilai rata-rata, melalui rapor hasil belajar peserta didik selama periode tertentu dapat diketahui perkembanganya. Mereka yang memiliki hasil belajar yang tinggi nilai rapornya selalu di atas rata-rata, serta menunjukkan adanya peningkatan prestasi. Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan seseorang dalam menerima ilmu dan ditunjukkan dengan adanya ketercapaian pada indikator yang telah ditetapkan.
Penilaian hasil belajar dan proses belajar saling berkaitan satu sama lain sebab hasil belajar merupakan akibar dari proses. Penilaian proses belajar adalah upaya memberi nilai tehadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh peserta didik dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan guruan. Pada penilaian ini dilihat sejauh mana keefektifan dan efisiennya dalam mencapai tujuan guruan atau perubahan tingkah laku peserta didik.
1) Untuk mengetahui tercapai-tidaknya tujuan instruksional. 2) Umpan balik bagi perbaikan prosses belajar-mengajar.
3) Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar peserta didik kepada orang tua.
Adapunfaktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Slameto (2010) dapat dibagi menjadi dua macam yaitu faktor yang berasal dari diri peserta didik (intern) dan fakfor yang berasal dari luar diri peserta didik (ekstern).
1) Faktor Internal
a. Faktor jasmani, seperti: kesahatan, cacat tubuh.
b. Faktor psikologi, seperti: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan, dan cara belajar.
c. Faktor kelelahan, seperti: kelelahan jasmani dan rohani.
2) Faktor Eksternal
a. Faktor keluarga, seperti: cara mendidik anak, relasi antara keluarga, keadaan ekonomi keluarga.
b. Faktor sekolah, seperti: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan peserta didik, relasi peserta didik dengan peserta didik, disiplin sekolah, waku sekolah, standart pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah.
c. Faktor masyarakat, seperti: kegiatan peserta didik dalam masyarakat, mass media (bioskop, radio, TV, dll), teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat.
2.5 Materi Pembelajaran 1. Kalimat Tertutup
Kalimat tertutup adalah kalimat berita yang dapat dinyatakan nilai kebenarannya, bernilai benar atau salah, dan tidak keduanya.
a) Palembang adalah ibukota Propinsi Sumatera Selatan. (Benar) b) Pencipta lagu Indonesia Raya adalah Kusbini. (Salah)
c) Siapa pencipta lagu Indonesia Raya ? (tidak keduanya) 2. Kalimat Terbuka
Kalimat terbuka adalah kalimat yang belum dapat ditentukan nialai kebenarannya.
Contoh:
a) Ibu kota negara Indonesia adalah x b) b+20=34
3. Persamaan Linier Satu Variable (PLSV)
PLSV adalah kalimat terbuka yang dihubungkan oleh tanda sama dengan (=) dan hanya mempunyai satu variable berpangkat satu.
Contoh: a) x+7=9
Fakta-fakta dari kalimat terbuka di atas: - Memiliki satu variable, yaitu x
- Dihubungkan dengan relasi sama dengan (¿) - Pangkat tertinggi x adalah 1
- Jika x diganti menjadi 2, maka 2 + 7 = 9 merupakan pernyataan yang bernilai benar.
- Jika x diganti menjadi 3, maka 3 + 7 = 9 merupakan pernyataan yang bernilai salah.
4. Menentukan Penyelesaian PLSV
Contoh:
a) Tentukan penyelesaian persamaan 3y−2=13 , jika y variable pada bilangan bulat.
Jawab:
3y−2=13
3y−2+2=13+2 (kedua ruas ditambah 2)
3y=15
1
3×3y= 1
3×13 (kedua ruas dikalikan 1 3 )
atau 33y=15
3 (kedua ruas dibagi 3)
y=5
Jadi himpunan penyelesaiannya adalah {5} 5. Persamaan yang ekuivalen/ Setara
Dua atau lebih persamaan linier dikatakan setara atau ekuivlen jika himpunan penyelesaian persamaan itu tetapi bentuk persamaannya berbeda, dilambangkan dengan
Contoh:
3y−2=13 dengan 2y−2=8 , memiliki himpunan penyelesaian yang sama yaitu {5}. Dengan demikian kedua persamaan diatas bisa dikatakan setara atau ekuivalen. Ditulis dengan lambang sebagai berikut :
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karena merupakan pengkajian terhadap masalah praktis dalam kelas dengan tujuan menentukan tindakan yang tepat dalam mengatasi permasalahan di kelas. Penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian partisipan, yaitu peneliti terlibat secara penuh dan langsung dalam proses penelitian mulai dari awal sampai akhir dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika.
3.2 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas VII-I semester genap tahun pelajaran 2013-2014 di SMP Negeri 03 Batu yang terdiri dari 27 peserta didik dengan 11 laki-laki dan 16 perempuan.
3.3 Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMPN 03 Batu yang beralamatkan di Jalan Raya Beji No. 08 Telp. / Fax. (0341) 592084 Junrejo Batu. Website : www.smp3batu.net dan Email : [email protected]. Proses penelitian dan pengambilan data dilaksanakan pada pembelajaran Semester Genap Tahun Pelajaran 2013-2014 dan disesuaikan dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung di kelas VII-I SMP Negeri 03 Batu.
3.4 Prosedur Penelitian
(reflecting). Untuk mengatasi suatu permasalahan di kelas, peneliti memerlukan lebih dari satu siklus. Siklus-siklus tersebut saling berkaitan dan berkelanjutan. Apabila pada siklus pertama masih ada hal-hal yang kurang maka dilaksanakan siklus kedua, dan begitu juga pada siklus-siklus berikutnya. Tahapan dalam siklus ini adalah sebagai berikut.
Gambar 3.1 Tahapan Siklus PTK (buku pandual PPL, 2013) Berikut ini adalah penjelasan dari tahapan gambar siklus di atas. 1) Perencanaan (Planning)
Pada tahap ini, kegiatan yang harus dilakukan adalah:
(a) Melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada peserta didik dengan menggunakan stategi TS-TS (Two-Stay Two-Stray).
(b) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menggunakan stategi TS-TS (Two-Stay Two-Stray).
(d) Membuat instrumen yang digunakan dalam siklus penelitian tindakan kelas.
(e) Menyusun alat evaluasi pembelajaran. 2) Pelaksanaan (Acting)
Pada tahap ini, kegiatan yang harus dilakukan adalah: (a) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
(b) Guru menyampaikan materi pelajaran mengenai materi persamaan linear satu variabel (PLSV).
(c) Peserta didik dibagi kelompok.
(d) Guru memberikan tugas dalam bentuk LKS dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
(e) Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/ mengetahui jawabannya.
(f) Hasil diskusi kelompok di tempel pada mading masing-masing kelompok. (g) Dua orang dari masing-masing kelompok berkunjung ke mading dari
kelompok lain dan memberikan komentar mereka mengenai materi yang sedang dibahas. Dua orang lainya menjaga di kelompoknya.
(h) Setelah berkunjung, dua orang dari masing-masing kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing dan mendiskusikan hasil yang diperoleh. (i) Guru dan peserta didik membahas materi yang kurang dimengerti, serta
menyimpulkan.
(j) Guru memberi evaluasi. (k) Penutup.
3) Pengamatan (Observating)
Pada tahap ini, kegiatan yang harus dilakukan adalah: (a) Mengamati situasi kegiatan pembelajaran di kelas.
(b) Mengamati keaktifan dan sikap peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
(c) Mengamati kemampuan peserta didik dalam kegiatan diskusi kelompok. (d) Memantau hasil belajar peserta didik terhadap penguasaan materi
4) Refleksi (Reflecting)
Pada tahap ini, kegiatan yang harus dilakukan adalah: (a) Mancatat hasil observasi.
(b) Mengevaluasi hasil observasi. (c) Menganalisis hasil pembelajaran
(d) Mencatat hal-hal yang masih kurang untuk dijadikan perbaikan pada siklus berikutnya.
3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
1) Silabus
Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai kegiatan pembelajaran, pengolahan kelas, dan penilaian hasil belajar.
2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan seperangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk setiap pertemuan. Masing-masing RPP berisi kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kegiatan belajar mengajar di kelas dan penilaian.
3) Lembar Kegiatan Peserta didik (LKS)
Lembar Kegiatan Peserta didik (LKS) digunakan untuk membantu proses pengumpulan data hasil penelitian.
4) Lembar Observasi
Tes digunakan untuk melihat tingkat penguasan peserta didik dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan stategi TS-TS (Stay Two-Stray). Tes hasil belajar ini dilakukan dalam bentuk kuis individu yang diberikan setelah pembelajaran berlangsung.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian tindakan kelas ini menggunakan teknik tes yang dilakukan untuk memperkuat hasil pengamatan terhadap hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
1) Kuis
Kuis yang digunakan berbentuk tes tulis dan digunakan untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari. Selain itu, kuis juga digunakan untuk mengetahui keberhasilan dari stategi TS-TS (Stay Two-Stray) yang telah dilaksanakan, sehingga hasil yang diperoleh dapat digunakan untuk evaluasi pembelajaran selanjutnya.
2) Observasi
Observasi dilaksanakan agar penggunaan stategi TS-TS (Two-Stay Two-Stray) yang dilaksanakan sesuai dengan rancanagan pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. Selain itu, observasi juga digunakan sebagai evaluasi guru dalam pembelajaran, sehingga dalam penilaiannya diisi oleh observer atau guru matematika lainnya. Berikut adalah tabel lempar penelitian observer (buku panduan PPL, 2013).
Keterangan : 1 = sangat tidak baik 3 = kurang baik 5 = sangat baik
2 = baik 4 = baik
3) Catatan Lapangan
NO INDIKATOR / ASPEK YANG DIAMATI SKOR
A. Pembuka Pelajaran
1. Mengecek kehadiran peserta didik
1 2 3 4 5 2. Memeriksa kesiapan peserta didik dalam proses
pembelajaran 1 2 3 4 5
3. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai 1 2 3 4 5
4. Melakukan kegiatan apersepsi dan motivasi
1 2 3 4 5
B. Kegiatan Inti Pembelajaran
1. Mengkaitkan materi dengan pengetahuan peserta didik 1 2 3 4 5
2. Menyampaikan konsep materi pokok dengan jelas
1 2 3 4 5 3. Menguasai kelas dengan strategi TS-TS 1 2 3 4 5
4. Melaksanakan pembelajaran sesuai alokasi waktu 1 2 3 4 5
5. Menumbuhkan keceriaan dan antusias peserta didik
dalam belajar 1 2 3 4 5
6. Melakukan penilaian selama proses pembelajaran
sesuai kompetensi 1 2 3 4 5
7. Menggunakan bahasa lisan dan tulisan dengan baik
dan benar 1 2 3 4 5
C. Penutup
1. Membuat kesimpulan materi bersama peserta didik
1 2 3 4 5 2. Memberikan arahan dan tugas sebagai bagian remidi,
pengayaan, serta memberikan penguatan 1 2 3 4 5
Catatan lapangan merupakan catatan yang dibuat oleh peneliti setelah proses pembelajaran berakhir. Catatan ini digunakan sebagai bahan pertimbangan pembelajaran selanjutnya yang berisi mengenai hal-hal yang ditemukan selama proses pembelajaran menggunakan stategi TS-TS (Two-Stay Two-Stray). Berikut adalah bentuk catatan lapang.
Petunjuk!
Tuliskan segala sesuatu yang sesuai dengan pengamatan anda selama kegiatan berlangsung
3.7 Teknik Analisis Data
Analisis data digunakan untuk menentukan ada tidaknya peningkatan hasil belajar peserta didik pada setiap siklus, skor tes dari setiap siklus dibandingkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) perseorangan dan klasikal. Skor yang diperoleh peserta didik setiap akhir siklus selanjutnya dinyatakan dalam bentuk presentase yang menyatakan ketuntasan belajar secara klasikal.
1. Secara perseorangan peserta didik telah tuntas belajar apabila kriteria ketuntasan minimal mencapai skor tes minimal 75 untuk mengetahui ketuntasan belajar secara individual digunakan rumus sebagai berikut.
Nilai=Skor yang Diperoleh Skor Maksimal ×100
2. Secara klasikal dianggap tuntas belajar apabila telah mencapai 80% dari jumlah peserta didik yang telah mengikuti tes yang mendapatkan nilai yang Hari/Tanggal :
Jam :
memenuhi KKM. Ketuntasan belajar klasikal peserta didik dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut ini.
Persentase ketuntasan klasikal= jumlahsiswa yang tuntas jumlah siswa seluruhnya×100 Tabel 3.2 Kriteria Keberhasilan Penelitian
Persentase Keberhasilan (%) Kriteria
91 – 100 Sangat Baik
81 – 90 Baik
65 – 80 Cukup
50 – 64 Kurang
25 – 49 Rendah
0 – 24 Gagal
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Pra-siklus
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan berdasarkan hasil observasi dan pengumpulan data dari kondisi awal kelas VII-I semester genap tahun ajara 2013-2014 di SMP Negeri 03 Batu. Observasi ini dilaksanakan sesuai dengan kondisi kelas tersebut, sehingga pelaksanaan stategi TS-TS (Two-Stay Two-Stray) yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Observasi ini dilakukan pada materi Persamaan Linear Satu Variabel (PLSV). Pada tahap observasi yang dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2014 didapat nilai matematika peserta didik kelas VII-I semester genap tahun ajara 2013-2014 di SMP Negeri 03 Batu hanya 13 dari 27 peserta didik yang nilainya memenuhi KKM. Diperoleh presentasi ketuntasan klasikal sebesar 48,15 %, sehingga dapat dianalisisi bahwa ketuntasan klasikal masih tergolong rendah. Melihat dari Dari data tersebut, maka peneliti akan menerapkan stategi peembelajaran TS-TS (Two-Stay Two-Stray) untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus yaitu siklus I yang dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2014 dengan alokasi waktu 3x 40 menit dan siklus II dilaksanakan pada tanggal 17 dan 19 Maret 2014 dengan alokasi waktu 5 x 40 menit.
4.2 Deskripsi Siklus I
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I dilaksanakan satu kali pertemuan dengan dua jam pelajaran. Tepatnya pada hari Rabu tanggal 12 Maret 2014 pada jam ke 3-4 (08.20-09.40). Berikut adalah tahapan pelaksanaan pada siklus I.
1) Perencanaan (Planning)
PLSV. Adapun kompetensi dasarnya yaitu 1. menyelesaikan persamaan dan pertaksamaan linear satu variable. 2. membuat dan menyelesaikan model matematika dari masalah nyata yang berkaitan dengan persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel. Sedangkan indikator pembelajarya yakni menemukan konsep kalimat tertutup, kalimat terbuka, serta mengenal PLSV dalam berbagai bentuk dan variable. Materi yang disampaikan adalah kalimat tertutup, kalimat terbuka, dan persamaan linear satu variabel. Waktu yang diperlukan adalah 2 jam pelajaran yakni pada jam ke 3-4 (08.20-09.40).
Membuat lembar kerja siswa (LKS) berupa soal uraian dengan jumlah soal lima butir soal (Lampiran 10). Lembar kerja siswa (LKS) dikerjakan secara berkelompok dengan satu kelompok terdiri dari empat peserta didik. Alokasi waktu yang digunakan untuk berdiskusi menyelesaikan LKS 25 menit.
Menyusun tes hasil belajar, yakni guru memberikan pengarahan kepada setiap kelompok dalam menyelesaiakan masalah. Selain itu, guru juga membimbing kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah yang telah diberikan. Hasil belajar peserta didik diambil dari nilai tes yang diberikan oleh guru setelah proses pembelajaran berlangsung. Pada siklus I ini, jumlah soal tes sebanyak 4 soal pilihan ganda dan 3 soal uraian. Alokasi waktu yang dibutuhkan untuk tes adalah 10 menit.
Menyusun pedoman observasi mengenai hasil belajar peserta didik yang diisi oleh observer atau guru matematika yang lain (Lampiran 3). Penilainya mulai dari pembukaan pembelajaran, kegiatan inti pembelajran, dan penutup. Observer yang menilai pada proses pembelajaaran sebanyak 1 orang observer.
2) Pelaksanaan (Acting)
kelompok dengan satu kelompok terdiri dari empat peserta didik yang memiliki kemampuan randome. Peserta didik berdiskusi bersama dengan kelomoknya dengan alokasi waktu 25 menit, setelah itu hasil diskusi masing-massing kelompok di tempel pada mading kelompoknya masing-masing. Dua orang dari masing-masing kelompok berkunjung ke mading dari kelompok lain dan memberikan komentar mereka mengenai materi yang sedang dibahas. Dua orang lainya menjaga di kelompoknya. Setelah berkunjung, dua orang dari masing-masing kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing-masing-masing dan mendiskusikan hasil yang diperoleh. Guru dan peserta didik membahas materi yang kurang dimengerti, serta menyimpulkan, setelah itu guru membagikan soal tes pada peserta didik. Masuk ke kegiatan penutup yakni guru memberikan evaluasi tentang materi yang sudah disampaikan dan menyuruh peserta didik untuk mempelajari materi untuk pertemuan selanjutnya.
3) Pengamatan (Observating)
Pada tahap pengamatan siklus I, guru memberikan pengarahan kepada setiap kelompok dalam menyelesaiakan masalah. Selain itu, guru juga membimbing kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah yang telah diberikan. Pada pembelajaran ini kebanyakan peserta didik kesulitan dalam menentukan koefisien, variabel, dan konstant pada Persamaan Linear Satu Variabel (PLSV), serta ketika peserta didik diskusi kelompok (menyelesaikan LKS) memerlukan waktu lebih lama dari yang sudah ditentukan sebelumnya.
Hasil dari tes yang sudah dilakukan oleh peserta didik menunjukkan bahwa 19 dari 27 peserta didik yang nilainya memenuhi KKM. Kebanyakan kesalahan peserta didik dalam menjawab terletak pada soal pilihan ganda no 2 dan 4, yakni tentang fakta-fakta dari PLSV dan menentukan koefisien, variabel, dan konstant padaPLSV. Sedangkan pada soal uraian dia atas 80% jawaban peserta didik sudah benar.
4) Refleksi (Reflecting)
dianalisisi bahwa ketuntasan klasikal sudah termasuk dalam kriteria cukup. Dengan melihat kelemahan peserta didik di atas, maka dibutuhkan penjelasan yang mendasar pada peserta didik yang mengalami hambatan tersebut dengan cara diskusi antar teman dalam kelompoknya dan melakukan kunjungan antar kelompok, serta guru harus bisa memperkirakan waktu yang tepat untuk peserta didik berdiskusi supaya tidak melebihi waktu yang sudah diperkirakan.
4.3 Deskripsi Siklus II
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada siklus II dilaksanakan dua kali pertemuan dengan lima jam pelajaran. Tepatnya pada hari Senin tanggal 17 Maret 2014 pada jam ke 1-3 (08.00-10.00) dan hari Rabu tanggal 19 Maret 2014 pada jam ke 3-4 (08.20-09.40) . Berikut adalah tahapan pelaksanaan pada siklus II. 1) Perencanaan (Planning)
Pada tahap perencanaan siklus II, kegiatan yang dilakukan peneliti adalah membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tentang menentukan konsep PLSV. Adapun kompetensi dasarnya yaitu 1. menyelesaikan persamaan dan pertaksamaan linear satu variable. 2. membuat dan menyelesaikan model matematika dari masalah nyata yang berkaitan dengan persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel. Sedangkan indikator pembelajarya yakni menenentukan penyelesaian dan bentuk setara atau ekuivalen dari PLSV dengan cara kedua ruas ditambah, dikurangi, dikalikan atau dibagi dengan bilangan yang sama. Materi yang disampaikan adalah penyelesaan PLSV dan bentuk setara atau ekuivalen PLSV. Pada siklus II ini membutuhkan 2 kali pertemuan dengan alokasi waktu yang diperlukan adalah 5 jam pelajaran yani hari Senin tanggal 17 Maret 2014 jam ke 1-3 (08.00-10.00).dan hari Rabu 19 Mater 2014 jam ke 3-4 (08.20-09.40).
diberikan oleh guru setelah proses pembelajaran berlangsung. Pada siklus I ini, jumlah soal tes sebanyak 2 soal uraian. Alokasi waktu yang dibutuhkan untuk tes adalah 15 menit.
Menyusun pedoman observasi mengenai hasil belajar peserta didik yang diisi oleh observer atau guru matematika yang lain (Lampiran 6). Penilainya mulai dari pembukaan pembelajaran, kegiatan inti pembelajran, dan penutup. Observer yang menilai pada proses pembelajaaran sebanyak 1 orang observer.
2) Pelaksanaan (Acting)
Pada tahap pelaksanaan siklus II dilaksanakan pada hari Senin tanggal 17 Maret 2014 dan hari Rabu 19 Mater 2014 dengan waktu yang diperlukan adalah 5 jam pelajaran. Pada pertemuan ke-1 hari Senin 17 Maret 2014 jam ke 1-3 (08.00-10.00) materi yang disampaikan adalah menentukan penyelesaian PLSV. Pertemuan ke-2 hari Rabu 19 Maret 2014 jam ke 3-4 (08.20-09.40) materi yang disampaikan adalah menentukan bentuk setara atau ekuivalen PLSV.
Pelaksanaan pembelajaran pertemuan ke-2 adalah guru membuka pelajaran dengan dan memeriksa kehadiran peserta didik serta membacakan tujuan pembelajaran. Selanjutnya masuk ke kegiatan inti, yakni guru menyampikan materi setelah selesai guru menyuruh peserta didik untuk berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Peserta didik berdiskusi bersama dengan kelomoknya untuk mencari 6 persamaan linear satu variabel yang setara tau ekuivalen dengan alokasi waktu 25 menit, setelah itu hasil diskusi masing-massing kelompok di tempel pada mading kelompoknya masing-masing. Dua orang dari masing-masing kelompok berkunjung ke mading dari kelompok lain dan memberikan komentar mereka mengenai materi yang sedang dibahas. Dua orang lainya menjaga di kelompoknya. Setelah berkunjung, dua orang dari masing-masing kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing dan mendiskusikan hasil yang diperoleh. Guru dan peserta didik membahas materi yang kurang dimengerti, serta menyimpulkan, setelah itu guru membagikan soal tes pada peserta didik. Masuk ke kegiatan penutup yakni guru memberikan evaluasi tentang materi yang sudah disampaikan dan menyuruh peserta didik untuk mempelajari materi untuk pertemuan selanjutnya.
3) Pengamatan (Observating)
Pada tahap pengamatan siklus II, terlihat bahwa peserta didik sangat antusias dalam berdiskusi menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Dari hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan, setiap peserta didik dipastikan dapat mengerjakan/mengetahui jawabannya kemudian guru memulai proses berkunjung dari masing-masing kelompok dan tugas guru yaitu memantau jalanya proses berkunjung antar kelompok. Dari hasil pengamatan diperoleh sebagian kecil peserta didik masih kurang memahami cara penyelesaian PLSV.
Hasil dari tes yang sudah dilakukan oleh peserta didik menunjukkan bahwa 23 dari 27 peserta didik yang nilainya memenuhi KKM. Peserta didik sudah memahami materi yang telah disampaikan sehinngga nilai yang diperoleh sudah bagus dan tergolong baik. Tetapi dalam mengerjakan soal masih ada yang peserta didik kurang teliti dalam menghitung sehingga hasil yang diperoleh salah.
Pada tahap refleksi, tes hasil belajar siklus II didapatkan nilai peserta didik kelas VII-I adalah 23 dari 27 peserta didik yang nilainya memenuhi KKM. Terlihat adanya peningkatan peserta didik yang nilainya di atas KKM yakni 3 orang peserta didik. Dari nilai hasil tes individu diperoleh presentasi ketuntasan klasikal sebesar 85,19%, sehingga dapat dianalisisi bahwa ketuntasan klasikal sudah termasuk dalam kriteria baik. Melihat dari hasil tes peserta didik yang menunjukkan indikasi kurang telitinya peserta didik dalam mengerjakan soal, maka guru menyuruh pesarta didik untuk melakukan banyak latihan soal dan memerikasa jawaban sebelum dikumpulkan pada guru.
4.4 Pembahasan
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan mulai dari pengamatan awal sampai pelaksanaan tindakan pada siklus II didapat gambaran sebagai berikut:
Diagram 4.1 Nilai Hasil Belajar Peserta Didik
Pra-siklus Siklus I Siklus II 0
5 10 15 20 25
Tuntas Tidak Tuntas
Berdasarkan diagran 4.1 terlihat adanya peningkatan hasil belajar peserta didik setelah menggunakan strategi TS-TS (Two-Stay Two-Stray) yakni 13 peserta didik yang nilianya memenuhi KKM pada Pra-siklus, sedangkan pada siklus I ada 20 peserta didik dan siklus II ada 23 peserta didik. Jika dibentuk dalam
Jumlah Pesarta Didik
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Strategi TS-TS (Two-Stay Two-Stray) denga sintaks pembelajarannya yakni peserta didik dibentuk kelompok dengan beranggotakan empat orang setelah itu diberikan permasalahan yang harus dipecahkan bersama dengan kelompoknya, setelah selesai dua orang dari masing-masing kelompok bertamu ke kelompok lain dan dua orang lainya menjaga di kelompoknya, setelah selesai berkunjung kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan temuan mereka. Strategi TS-TS ternyata mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik dari siklus I ke siklus II sebesar 14,82%.
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Chandra. 2013. Pengertian Hasil Belajar, (Online), (http://misterchand89.blogspot.com, diakses pada 27 maret 2014).
Lembaga PPL. 2013. Panduan Praktik Pengalaman Lapangan di Sekolah. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Miftahul Huda. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Puataka Pelajar.
Yulia. 2012. Hasil Belajar, (Online), (http://eprints.uny.ac.id, diakses pada 27 maret 2014).
Slavin, R. 2005. Cooperative Learning Theory, Recearch and Pracice. New Batson: Allyn and Bacon.