• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1. Kondisi Geografis Wilayah Perbatasan

4.1.1. Letak dan Luas

Menurut Badan Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah III Pontianak (2003), secara geografis wilayah perbatasan yang berhadapan langsung dengan Negara Bagian Serawak (Malaysia) terletak antara 00° 30’ - 02° 05’ Lintang Utara dan antara 109° 16’ - 114° 12’ Bujur Timur. Wilayah perbatasan Kalimantan Barat – Malaysia terbentang dari Tanjung Datuk di Kabupaten Sambas sampai dengan Gunung Cemaru di Kabupaten Kapuas Hulu sepanjang 847 km melintasi 97 Desa, 16 wilayah kecamatan di enam Kabupaten yaitu Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu ditambah dengan Kabupaten Landak (khususnya kawasan hutan Cagar Alam Nyiut – Penrissen). Wilayah perbatasan mempunyai luas keseluruhan 2.490.491 Ha, yang terdiri dari Kawasan Konservasi (Taman Nasional/TN, Cagar Alam/CA, Taman Wisata Alam/TWA) seluas 846.422 Ha, Kawasan Lindung seluas 599.571 Ha, Kawasan Budidaya (Hutan Produksi/HP, Hutan Produksi Terbatas/HPT, Hutan Produksi yang dapat di Konversi/HPK) seluas 492.533 Ha, dan Areal Penggunaan Lain (APL) seluas 551.965 Ha.

4.1.2. Tanah dan Topografi Wilayah

Jenis tanah wilayah perbatasan didominasi oleh podsolik merah kuning (PMK), sebagian be rupa brown forest litosol dan organosol. Tingkat kepekaan terhadap erosi berkisar antara sangat peka sampai dengan cukup peka

Topografi di Kabupaten Sambas dan Bengkayang pada umumnya landai hingga datar, Kabupaten Sanggau bertopografi cukup curam, membujur dari utara ke selatan, Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu bertopografi landai hingga datar. Kawasan hutan Taman Nasional Betung Kerihun di Kabupaten Kapuas Hulu pada umumnya memiliki topografi yang curam(Kalimantan Barat Dalam Angka, 2004). Dengan demikian, sebagian besar wilayah perbatasan berupa daerah berlereng yang berada di antara bukit, dengan topografi curam, berbukit hingga datar.

(2)

4.1.3. Iklim

Iklim termasuk ke dalam tipe A berdasarkan klasifikasi Schmidt-Fergusson, dengan rata-rata curah hujan tahunan berkisar 2.437 mm per tahun. Musim hujan terjadi hampir setiap bulan sepanjang tahun dengan curah hujan rata-rata tertinggi pada Bulan Juli dan terendah pada bulan Oktober (Kalimantan Barat Dalam Angka, 2004).

4.1.4. Aksesibilitas

Dari 5 kabupa ten yang ada di wilayah perbatasan Kalimantan Barat hanya Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau yang mempunyai akses jalan darat resmi yang menghubungkan antara Kalimantan Barat dan daerah Serawak-Malaysia. Secara umum, terdapat beberapa desa yang tingkat aksesibilitasnya sangat buruk, dengan hanya terdapat jalan setapak (tanah) yang menghubungkan desa tersebut dengan ibukota kecamatan. Aksesibilitasnya ke Serawak. Aksesibiltas beberapa desa di wilayah perbatasan justru relatif lebih mudah dicapai dengan me lalui jalur Serawak (dari negara tetangga) dari pada ditempuh melalui jalan darat dari sesama wilayah di perbatasan Kalimantan Barat. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi pembangunan infrastruktur jalan sebagai sarana yang vital untuk perkembangan suatu wilayah masih relatif minim dan menyebabkan ekonomi biaya tinggi (high cost economics) karena faktor transportasi.

Data akhir tahun 2001 menyebutkan, terdapat 50 jalur jalan setapak yang menghubungkan 55 desa di Provinsi Kalimantan Barat dengan 32 kampung di Serawak. Secara formal, kesepakatan jalur jalan setapak sebanyak 10 Desa di Provinsi Kalimantan Barat dengan 7 kampung di Serawak. Terdapat satu Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) resmi yaitu di Entikong (Kalimantan Barat) – Tebedu (Serawak). Saat ini telah mulai dirintis pembukaan Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) di Nanga Badau (Kapuas Hulu) – Lubuk Antu (Serawak) dan Aruk (Sambas) – Biawak (Serawak). Panjang jalan darat yang menghubungkan antar daerah di wilayah perbatasan sepanjang 872,14 km dengan kondisi 23,7 km baik, 312,64 km sedang, 244,38 km rusak, 203,92 rusak berat, dan 88,50 km belum terbuka (Kalimantan Barat Dalam Angka, 2004).

Berdasarkan rancangan KEPPRES Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perbatasan Kalimantan – Sarawak – Sabah (RTRKP KASABA), di Provinsi Kalimantan Barat direncanakan adanya jalan arteri primer (jalan negara), yakni:

(3)

• Jalur Singkawang – Sambas – Liku – Aruk – Jagoi Babang – Entikong – Jasa – Nanga Badau – Putussibau – Tiongohang – Long Pahangai – Long Boh – Maha Baru – Long Nawang – Long Alango – Tanjung Nanga – Pulau Sapi – Malinau – Mensalong – Simanggis – Nunukan;

• Singkawang – Bengkayang – Jagoi Babang; Tanjung – Entikong; Sintang – Simpang Merakai - Jasa; Simpang Merakai – Nanga Badau.

Berdasarkan kajian terhadap rencana jaringan jalan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten, terdapat usulan rencana pembangunan infrastruktur kewilayahan berupa jalan yang sejajar dengan batas negara dengan status jalan negara, dengan pertimbangan nilai strategis ketahanan negara dan percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta membuka keterisolasian. Jalur transportasi laut umumnya baik, karena terdapat pelabuhan yang menghubungkan Paloh (Kabupaten Sambas) dengan Lundu (Serawak). Meskipun demikian yang diminati. Sebagian besar masyarakat memilih menggunakan transportasi darat karena lebih murah dan lebih cepat.

4.1.5. Flora dan Fauna

Berdasarkan hasil Borneo Biodiversity Expedition to the Transboundary Conservation Area of Betung Kerihun National Park (Kapuas Hulu) and Lanjak Kentimau Wildlife Sanctuary (Sarawak) Tahun 2003, yang didanai ITTO terlihat bahwa wilayah perbatasan memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi baik berupa tumbuhan (flora) maupun hewan (fauna ). Tingginya tingkat keanekaragaman hayati di suatu wilayah mencerminkan bahwa ekosistem di wilayah tersebut memiliki kestabilan yang cukup tinggi dan memiliki nilai ekonomi untuk dikelola sebagai sumber pendapatan masyarakat. Jenis keanekaragaman hayati yang ditemukan di wilayah perbatasan adalah sebagai berikut:

• Pada kedua kawasan lindung tersebut ditemukan sejumlah tumbuhan yaitu genera Laxocarpus, Ardisa, Lepisanthes, Microtopis dan Jarandersonia . • Terdapat tumbuhan langka di taman nasional Betung Kerihun yakni

Cyrtranda mirabilis.

• Diidentifikasi 62 jenis palem, 2 diantaranya jenis baru.

Kaya akan jenis Dipterocarpaceae, terutama Lanjak Ketimau.

• Tercatat 125 jenis ikan dari 12 famili (91 jenis ditemukan di Kalimantan Barat 61 jenis di Sarawak), juga 2 jenis ikan dari genus Glaniopsis dan sejenis ikan gastromyzon ditemukan pertama kali di Kalimantan.

(4)

• Ditemukan 291 jenis burung dari 39 famili, dengan 20 jenis endemic dan 17 jenis migran, yang mewakili ± 70% avifauna hutan dataran rendah Kalimantan.

• Terdapat 41 jenis tumbuhan obat-obatan, 144 jenis tumbuhan yang menghasilkan bahan makanan, 38 jenis tumbuhan untuk upacara, 30 jenis tumbuhan untuk bahan bangunan dan 60 jenis tumbuhan untuk berbagai macam bangunan.

Ditemukan tumbuhan Hornstedtia spp yang digunakan untuk indikator bahwa areal bekas perladangan sudah bisa ditanami kembali.

4.2 Kondisi Permasalahan Pengelolaan Wilayah Perbatasan.

Selama beberapa puluh tahun ke belakang, masalah perbatasan masih belum mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah. Hal ini tercermin dari kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan wilayah perbatasan. Pembangunan lebih mengarah kepada wilayah-wilayah yang padat penduduk, aksesnya mudah dan potensial. Kebijakan pembangunan di wilayah perbatasan masih belum diprioritaskan. Sampai saat ini belum ada aturan yang jelas yang dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan wilayah perbatasan secara komprehensif dan terpadu. Kondisi tersebut mengakibatkan antara lain; terjadinya kesenjangan pembangunan di wilayah perbatasan, rendahnya ketersediaan sarana dan prasarana, tingg inya angka kemiskinan, rendahnya aksesbilitas menuju wilayah perbatasan, dan rendahnya kualitas SDM,

4.3. Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Budaya di wilayah Perbatasan

Paradigma pengelolaan kawasan perbatasan di masa lampau sebagai ”halaman belakang” wilayah NKRI membawa implikasi terhadap kondisi wilayah perbatasan saat ini yang terisolir dan tertinggal dari sisi sosial dan ekonomi. Munculnya paradigma ini disebabkan oleh sistem politik di masa lampau yang sentralistik dan menekankan pada stabilitas keamanan. Konsekwensinya, persepsi penanganqan wilayah perbatasan lebih didominasi pandangan untuk mengamankan perbatasan terhadap potensi ancaman dari luar (external threat) dan cenderung memposisikan kawasan perbatasan beserta potensinya sebagai sabuk keamanan (security belt). Hal ini telah mengakibatkan kurangnya pengelolaan wilayah perbatasan dengan pendekatan kesejahteraan melalui optimalisasi potensi sumberdaya alam khususnya sumberdaya hutan, khususnya yang dilakukan oleh investor.

(5)

Kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan relatif miskin. Kurangnya infrastruktur menyebabkan masyarakat tidak memiliki aksesibilitas yang baik. Tingginya angka kemiskinan dan jumlah keluarga pra-sejahtera, rendahnya mutu sumberdaya manusia serta belum optimalnya pemanfaatan sumberdaya alam mendorong masyarakat terlibat dalam kegiatan ekonomi illegal guna pemenuhan kebutuhan hidupnya. Di samping itu, kehidupan sosial ekonomi masyarakat pada umumnya berkiblat ke wilayah negara tetangga, karena ketersediaan fasilitas infrastruktur ya ng lebih baik serta pengaruh sosial ekonomi yang lebih kuat dari wilayah tetangga.

Dari aspek budaya, terdapat kesamaan adat istiadat dan keturunan (suku melayu dan dayak) di wilayah perbatasan Kalimantan Barat., Sebagian besar masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan adalah Suku Dayak. Secara umum, suku dayak yang tinggal di kawasan ini memiliki kaitan historis/kekerabatan dengan suku dayak di Serawak. Bahkan pada beberapa sub suku, batas negara ternyata tidak memisahkan sistem kekerabatan/adat. Pang lima yang tinggal di wilayah Serawak memiliki daerah kekuasaan sampai negara Indonesia, demikian juga sebaliknya. Sebagian besar (96%) mata pencaharian penduduknya adalah petani tradisional (peladang atau pekebun), sedangkan sisanya berada pada sektor jasa/perdagangan.

Ketersediaan fasilitas infrastruktur dan sarana prasarana perekonomian yang lebih baik serta kuatnya pengaruh sosial ekonomi negara tetangga mengakibatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat pada umumnya berkiblat ke wilayah negara tetangga.

Tabel.8. Beberapa perbedaan keadaan antara wilayah Kalimantan Barat – Serawak Malaysia

Indikator (Indonesia) Kalimantan Barat (Malaysia) Serawak • Luas wilayah • Jumlah Penduduk • PDB

• Upah rata -rata buruh • Kondisi infrastruktur jalan. • Energi (tenaga Listrik) • Harga kayu • Jarak perbatasan dari ibu kota Provinsi

146.897 Km² 3,9 Juta US $ 856 RM 36 (Rp.100.000) Jelek Besar Rendah Jauh 124.449 Km² 2,01 juta US $ 4.135 Rm 200 Baik Kecil Tinggi Dekat

(6)

Kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di wilayah perbatasan berbeda dengan kondisi di wilayah perkotaan (Kota Pontianak). Rendahnya aksesibilitas dari dan keluar wilayah perbatasan menuju pusat-pusat pertumbuhan memunculkan kecenderungan masyarakat untuk berinteraksi dengan masyarakat di wilayah Serawak. Secara lebih rinci kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di wilayah perbatasan dijelaskan sebagai berikut.

a. Kependudukan.

Kepadatan penduduk antar kecamatan di wilayah perbatasan terlihat cukup bervariasi. Kepadatan penduduk tertinggi te rdapat di Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau yaitu sekitar 28,31 jiwa per Km2, sedangkan kepadatan terendah terdapat di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu yaitu hanya 1,30 jiwa per Km2. Secara keseluruhan kepadatan penduduk di tiap kecamatan di wilayah perbatasan masih sangat jarang penduduknya jika dibandingkan dengan rata-rata kepadatan penduduk di Provinsi Kalimantan Barat yang mencapai 25,43 per Km2, sedangkan di wilayah perbatasan hanya mencapai 7,88 jiwa per Km2 (Kalimantan Barat Dalam Angka Tahun 2002). Rincian jumlah penduduk dan luas wilayah tiap kecamatan di wilayah perbatasan dapat dilihat pada Tabel 9

Tabel 9. Jumlah penduduk wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia Tahun 2002

No Kabupaten Kecamatan Jumlah

Desa Jumlah Penduduk Luas (Ha) Paloh 6 20.409 78.670 1. Sambas Sajingan Besar 5 7.525 61.978 Jagoi Babang 5 19.177 50.525 2. Bengkayang Seluas 6 13.369 57.000 Sekayam 10 44.318 59.233 3. Sanggau Entikong 5 12.337 60.000 Ketungau Tengah 13 23.894 221.500 4. Sintang Ketungau Hulu 9 17.595 189.000 Putussibau 8 31.026 418.423 Embaloh Hulu 8 4.668 147.559 Batang Lupar 7 4.375 147.276 Empanang 5 2.575 41.769 Badau 6 4.686 68.334 Puring Kencana 5 2.991 30.000 5. Kapuas Hulu Kedamin 13 2.012 613.011 J U M L A H 97 210.957 2.244.278

(7)

b. Institusi Sosial Kemasyarakatan.

Sebagai pendukung aktivitas pemerintahan, di masing-masing desa di wilayah perbatasan terdapat beberapa jenis kelembagaan sosial kemasyarakatan seperti Karang Taruna, organisasi PKK, arisan keluarga atau desa, dan kelompok adat. Berbagai aktivitas organisasi sosial kemasyarakatan tersebut dapat dijadikan wadah bagi pengembangan kualitas sumberdaya manusia dalam rangka dan mempererat hubungan sosial antar sesama warga masyarakat. Bukti yang menunjukkan masih begitu kuatnya hubungan sosial kemasayarakatan di wilayah perbatasan adalah kegiatan gotong -royong yang dilakukan oleh masyarakat untuk berbagai kegiatan. Dari 98 desa, sebanyak 86 desa (87,76%) masih melakukan gotong-royong dalam berbagai kegiatan.

c. Ketenagakerjaan.

Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2000, jumlah penduduk usia kerja ( > 15 tahun) yang tersebar di 14 kecamatan diperkirakan sebanyak 102.157 jiwa dengan rincian 85.897 jiwa termasuk kategori angkatan kerja. Dengan demikian Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di wilayah perbatasan sebesar 84,08 persen. Jumlah ini relatif lebih besar jika dibandingkan dengan TPAK di Provinsi Kalimantan Barat (75,92%). Kondisi ini menjadi tan tangan bagi masing-masing pemerintah kabupaten di wilayah perbatasan untuk dapat menyalurkan tenaga kerja yang tersedia atau penciptaan lapangan kerja baru sehingga terjadi peningkatan dinamika ekonomi di wilayah perbatasan.

Sektor pertanian masih mendominasi sebagai mata pencaharian sebagian besar penduduk di wilayah perbatasan. Hampir 80 persen usia kerja, bekerja pada sektor pertanian, khususnya sub sektor tanaman pangan yang mencapai 53,08 persen. Kegiatan usaha tani yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah perbatasan masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masing-masing keluarga petani itu sendiri (Bappeda dan BPS Kalimantan Barat, 2004).

d. Pendidikan.

Sarana dan prasarana pendidikan di wilayah perbatasan masih relatif minim. Fasilitas pendidikan formal berupa bangunan gedung sekolah untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) memang sudah tersebar pada setiap desa, namun untuk jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) apalagi Peruguruan Tinggi (PT), akses penduduk usia sekolah terhadap fasilitas pendidikan formal masih cukup sulit.

(8)

Rendahnya tingkat partisipasi sekolah masyarakat di wilayah perbatasan dipicu oleh peluang pekerjaan dari negara tetangga Malaysia sebagai buruh tani, buruh kasar atau pembantu rumah tangga. Dengan pekerjaan tersebut diperoleh penghasilan berkisar antara 150 – 400 Ringgit Malaysia atau setara dengan Rp. 350.000-, - Rp. 950.000 -, per bulan. Gaji yang cukup besar tersebut menjadi daya tarik bagi anak usia sekolah lebih memilih bekerja dari pada melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan untuk membiayai pendidikan. Di beberapa desa seperti Desa Jagoibabang, Pala Pisang, dan Bengkarung, terdapat orangtua yang menyekolahkan anaknya ke Malaysia. Alasan orang tua menyekolahkan anaknya ke Malaysia karena akses yang lebih mudah ke Malaysia dari pada ke daerah lain di dalam negeri, ada keluarga yang sudah menetap di Malaysia, dan masyarakat beranggapan kualitas pendidikan di Malaysia lebih baik dari pada dalam negeri.

e. Pariwisata.

Sektor pariwisata memiliki potensi besar untuk dikembangkan di wilayah perbatasan. Jumlah wisatawan terus meningkat dari tahun ke tahun yang berkunjung ke Pontianak melalui Pos Lintas Batas (PLB) Entikong. Ada beberapa objek pariwisata di wilayah perbatasan seperti sumber air panas di Jagoibabang, air terjun di Semanget, dan Sungai Seria, serta wisata pegunungan di Desa Janting. Namun kondisi objek pariwisata tersebut masih relatif minim fasilitasnya dan akses jalan untuk menuju lokasi wisata juga relatif sulit. Di Negara Malaysia, sebagai contoh kawasan perbatasan Lubuk Antu yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari Kecamatan Badau Kabupaten Kapuas Hulu, sudah memiliki hotel yang menyediakan air panas dan dingin untuk mandi serta pesawat televisi. Bahkan sekitar 30 kilometer dari Kabupaten Kapuas Hulu di Desa Batang Ai terdapat sebuah hotel berbintang lima yang dibangun menyerupai “Rumah Betang” atau rumah panjang suku Dayak. Obyek wisata yang ditawarkan adalah sumberdaya hutan baik hutan alam dan konservasi yang disulap menjadi hutan wisata, selain tradisi dan kebudayaan suku dayak (Bappeda dan BPS Kalimantan Barat, 2004).

f. Perdagangan.

Minimnya infrastruktur perdagangan di wilayah perbatasan antara lain sarana transportasi dan pasar mengakibatkan orientasi ekonomi dan perdagangan masyarakat cenderung terfokus ke daerah terdekat di Negara

(9)

tetangga. Kondisi ini memicu munculnya kegiatan-kegiatan ilegal di sektor perdagangan yang merugikan negara dari sisi pemasukan retribusi jasa dan cukai barang masuk. Ketersediaan fasilitas infrastruktur perdagangan di wilayah perbatasan Serawak seperti pasar dan Gudang di Tebedu, Lubok hantu, dan Biawak, telah menjadi pintu perdagangan berbagai komoditas dari wilayah perbatasan Kalimantan Barat seperti kayu, rotan, dan ikan segar. Komoditas tersebut setelah melalui proses pengelolahan lebih lanjut di Serawak Malaysia kemudian diekspor ke Singapura, Hongkong, dan Korea, sedangkan komoditas yang masuk ke wilayah perbatasan dari Serawak Malaysia antara lain gula, pupuk, produk pertanian (tanaman pangan dan holtikultura), baju bekas, biskuit, elektronik dan lain-lain. Hal ini antara lain disebabkan harga lebih murah dan suplay dalam negeri tidak memenuhi kebutuhan masyarakat.

Mata uang yang dipergunakan dalam transaksi perdagangan di wilayah perbatasan hampir seluruhnya adalah mata uang Ringgit Malaysia. Keuntungan dipergunakannnya mata uang Ringgit oleh masyarakat di wilayah perbatasan adalah nilai kurs yang cukup tinggi dan relatif stabil (relatif tidak berfluktuasi) terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

Berdasarkan Rancangan KEPPRES tentang RTRKP KASABA (Rencana Tata Ruang Kawasan Perbatasan Kalimantan – Sarawak – Sabah), direncanakan terdapat 5 (lima) Kabupaten di sepanjang perbatasan Kalimantan Barat sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang memiliki Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PLB), yakni Aruk di Kabupaten Sambas), Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang, Jasa di kabupaten Sintang, Entikong di kabupaten Sanggau, dan Nanga badau di Kabupaten Kapuas Hulu.

4.4. Kondisi Tata Guna Lahan di Wilayah Perbatasan.

Kondisi lahan di wilayah perbatasan hampir sama dengan kondisi lahan di daerah pedalaman Kalimantan pada umumnya, yaitu berupa hutan belantara. Hampir 50 % lebih wilayah perbatasan berupa hutan, baik hutan negara maupun hutan rakyat. Kabupaten Kapuas Hulu merupakan salah satu kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Serawak-Malaysia, memiliki potensi hutan paling luas dibandingkan dengan lima kabupaten lainnya di wilayah perbatasan Kalimantan Barat, yaitu sekitar 687. 000 hektar (Bappeda dan BPS Kalimantan Barat, 2004).

Lahan sawah di wilayah perbatasan hanya sekitar 14.425 hektar atau sekitar 0,71 % dari luas wilayah perbatasan secara keseluruahn (2.490.491 Ha).

(10)

Dari luas tersebut hanya 3.210 hektar yang memiliki sarana irigasi (semi teknis, sederhana, dan irigasi desa), sedangkan 11.215 hektar masih mengandalkan curah hujan sebagai sumber airnya. Sawah yang memiliki sarana irigasi belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Data statistik menunjukkan bahwa hanya 46,39 persen dari lahan sawah beririgasi yang dimanfaatkan untuk kegiatan usahatani padi dan palawija. Belum optimalnya pemanfaatan lahan di wilayah perbatasan juga tercermin dari luasnya lahan yang belum dimanfaatkan oleh masyarakat (lahan tidur). Dari 2.490.491 hektar luas lahan di wilayah perbatasan, ada sekitar 402 hektar (19,75%) berupa lahan tidur, yang terdiri atas 6.000 hektar lahan sawah dan 396.000 hektar bukan lahan sawah (BPS Kalimantan Barat, 2004).

Masih luasnya lahan produktif yang belum dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan usahatani menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah di masing-masing kabupaten di wilayah perbatasan. Dampak dari rendahnya produktivitas lahan akan bermuara pada rendahnya tingkat pendapatan masyarakat. Masyarakat yang berpenghasilan rendah dan tidak memiliki kegiatan usahatani tetap akan memiliki kecenderungan untuk mencari sumber penghasilan dari sumberdaya hutan terutama kayu secara ilegal.

4.5. Kondisi Kawasan Hutan di Wilayah Perbatasan.

Luas wilayah Kalimantan Barat adalah 14.680.700 hektar. Kalimantan barat memiliki sumberdaya hutan seluas 9.178.760 hektar. (Kalimantan Barat Dalam Angka, 2004). Menurut data Badan Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) wilayah III Kalimantan Barat, luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan status kawasan terdiri dari kawasan konservasi seluas 1.459.603 Ha, kawasan lindung seluas 2.436.925 Ha, dan kawasan produksi seluas 5.140.396 Ha, sedangkan luas kawasan non hutan yang dimanfaatkan sebagai areal penggunaan lain seluas 5.502.000 Ha. Sebagian besar wilayah perbatasan Kalimantan Barat merupakan kawasan hutan dengan prosentase 77% dari total wilayah darat yang ada.

Berdasarkan Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Wilayah Provinsi Kalimantan Barat luas kawasan hutan di wilayah perbatasan seluas 5.103.343 hektar dengan rincian, kawasan hutan produksi (HP) seluas 1.089.856 hektar , hutan produksi terbatas (HPT) 1.260.481 hektar, hutan lindung seluas 1.491.619 hektar, hutan lindung yang dapat dikonversi seluas 173.217 hektar,

(11)

cagar alam seluas 91.074 hektar, taman nasional seluas 960.199 hektar, dan taman wisata alam seluas 26.996 hektar (Tabel 10).

Tabel 10. Luas wilayah kawasan hutan berdasarkan fungsi/penggunaan berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No. 259/Kpts-II/2000. No. Peruntukan Kawasan Luas Kawasan

Hutan Kalimantan Barat

(Ha)

Luas Kawasan Hutan Wilayah Perbatasan (Ha) A. B. C. D. E

Kawasan suaka alam 1. Cagar Alam

2. Taman Nasional 3. Taman Wisata Alam Hutan Lindung

Hutan Produksi

Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi yang dapat di Konversi 153.275 1.252.895 29.310 2.307.045 2.265.800 2.445.985 514.350 91.074 960.199 26.996 1.491.619 1.089.856 1.260.481 173.217 Jumlah 9.178.760 5.103.343 Persentase 100% 55,61%

Sumber: Statistik Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, 2003

Dari lima Kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki wilayah yang berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia Timur, terdapat dua kabupaten yaitu Kabupaten Kapuashulu yang letaknya paling hulu, dan Kabupaten Sanggau yang letaknya di hilir dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Kapuas Hulu yang terletak dihulu sungai Kapuas merupakan salah satu kabupaten yang memiliki hutan yang luas. Luas wilayah Kabupaten Kapuas Hulu adalah 3.118.413 Ha atau 21,24 % dari luas Provinsi Kalimantan Barat (14.680.760Ha). Dari luas tersebut 774.569 Ha (24,84%) dari luas wilayah merupakan hutan produksi dan 832.612 Ha atau 26,69 % merupakan kawasan lindung serta kawasan konservasi sebesar 936.105 Ha (30,01 %.) (BPKH Wilayah III Provinsi Kalimantan Barat, 2004).

Luas kawasan hutan di wilayah perbatasan antara Kabupaten Kapuas Hulu dengan Malaysia Timur terdiri dari Taman Nasional 930.940 Ha (76,31 %), hutan lindung 103.173 Ha (8,43 %), Hutan produksi terbatas 38.440 Ha (3,15 %), hutan produksi 136.829 Ha (11,21%) dan hutan produksi konversi 10.624 Ha (9,87 %). (BPKH Wilayah III, 2004)

Sejak tahun 2003, Kabupaten Kapuas Hulu telah mencanangkan diri sebagai Kabupaten Konservasi. Luasnya wilayah yang dicanangkan sebagai kawasan konservasi menyebabkan terbatasnya wilayah yang

(12)

dapat dikembangkan untuk pembangunan daerah. Hal ini menjadi beban tersendiri bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Hulu karena hingga saat ini kondisi perekonomian masyarakat Kapuas Hulu, khususnya yang tinggal di sekitar wilayah hutan masih rendah dan tingkat ketergantungan mereka terhadap sumberdaya hutan sebagai sumber kehidupan sangat tinggi. Hal ini menjadi pendorong meningkatnya eksploitasi sumberdaya hutan. Akibatnya, berbagai macam kerusakan lingkungan terjadi. (Kabri, 2004).

Pada tahun 2002, luas lahan kritis mencapai 461.063 ha atau 15,5 % dari luas kabupaten. Sebesar 361.856 ha luas lahan kritis berada di dalam kawasan hutan, sedangkan 90.207 ha ada di luar kawasan hutan. Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Putussibau, kerusakan sumberdaya hutan pada tahun 2003 terutama disebabkan oleh aktivitas penebangan liar (illegal logging). (Kabri, 2004). Pada tahun 2002, kerusakan sumberdaya hutan telah mengakibatkan bencana tanah longsor di 5 kecamatan dan bencana banjir di 14 kecamatan. Kerusakan di daerah hulu akan berdampak pada daerah hilir.

Kabupaten Sanggau yang juga berbatasan langsung dengan Serawak Malasia Timur letaknya mendekati hilir dari Ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Luas wilayah Kabupaten Sanggau 1.262.476 Ha atau 8,60 % dari total luas Provinsi Kalimantan Barat. Dari luas tersebut kawasan konservasi seluas 1.214 Ha (0,10 %), kawasan lindung 93.929 Ha (7,44 %), kawasan produksi 483.094 Ha (38,26%) dan luas kawasan non hutan yang digunakan untuk areal lain seluas 684.239 Ha (54,20%). (BPKH Wilayah III Provinsi Kalimantan Barat, 2004).

Luas kawasan hutan di wilayah perbatasan Kabupaten Sanggau terdiri dari cagar alam 592 Ha (0,59 %), hutan lindung 35.984 (35,99 %), hutan produksi terbatas 22.063 Ha (22,07 %) dan hutan produksi 41.338 (41,35%).(BPKH wilayah III, 2004)

Keberadaan pintu gerbang (border gate) resmi dan aksesbilitas infrastruktur jalan yang dimiliki kabupaten ini untuk menuju border Entikong relatif baik. Penjualan kayu ilegal melalui wilayah perbatasan ini juga terus meningkat karena masih lemahnya penegakan hukum di wilayah perbatasan. Setiap harinya rata-rata terdapat 50 truk yang mengangkut kayu melintasi jalur Entikong untuk menuju Tebedu Serawak (Kusmayadi, 2003).

(13)

4.6. Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Perbatasan.

Berdasarkan konsep perwilayahan, Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terbentuk dari hulu-hulu sungai yang mengalir di wilayah perbatasan Kalimantan Barat – Serawak Malaysia terdiri dari dua DAS besar yakni DAS Kapuas dan DAS Sambas. DAS Sambas terdiri dari Sub DAS Sambas yang meliputi wilayah Kabupaten Sambas dan Bengkayang dan Sub DAS Paloh. DAS Kapuas terdiri dari Sub DAS Seka yam di wilayah Kabupaten Sanggau, Sub DAS Ketungau di Kabupaten Sintang, Sub DAS Kapuas Hulu, Sub DAS Ambalau dan Sub DAS Mandai.

Pengelolaan wilayah dengan pendekatan ekosistem akan mempermudah dalam melakukan pencegahan dan pengendalian dampak yang mungkin ditimbulkan dari berbagai macam kegiatan pembangunan yang dilakukan di wilayah tersebut, sehingga sumberdaya alam dan lingkungan di sekitar wilayah DAS dapat dimanfaatkan secara optimal dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah konservasi sumberdaya alam dan lingkungan. Pembagian luas wilayah berdasarkan luas Sub Das dari kedua DAS yang ada di wilayah perbatasan dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Luas wilayah perbatasan (ha) berdasarkan Sub DAS

No. Kabupaten

(DAS) Nama Sub DAS

Luas per Sub DAS (Ha) Total Luas Kabupaten (Ha) 1 2 3 4 5

1 Sambas a. Sub DAS Paloh 81.530

(DAS SAMBAS ) b. Sub DAS Sambas 360.140

c. Sub DAS Sebangkau 81.580 523.250 2 Bengkayang a. Sub DAS Sambas 272.340

(DAS Sambas & b. Sub DAS Sebangkau 218.410

DAS Kapuas ) c. Sub Das Landak 11.830 502.580

3 Landak a. Sub DAS Landak 497.790

(DAS KAPUAS ) b. Sub DAS Mempawah 101.670 599.460 4 Sanggau a. Sub DAS Sekayam 912.670

(DAS KAPUAS ) b. Sub DAS Sekadau 396.580 c. Sub DAS Sepauk 193.970

d. Sub DAS Ketungau Hilir 89.730 1.592.950

5 Sintang a. Sub DAS Sepauk 295.080

(DAS KAPUAS ) b. Sub DAS Melawi 1.229.500

c. Sub DAS Ketungau 415.990 1.940.570

6 Kapuas Hulu a. Sub DAS Ambalau 483.440 (DAS KAPUAS ) b. Sub DAS Mandai 811.050

c. Sub DAS Kapuas Hulu 107.450 1.401.940

Total 4.620.180

(14)

4.7. Kondisi Pemanfaatan ruang Wilayah Perbatasan

Pemanfaatan ruang di wilayah perbatasan dibagi menjadi lima kawasan pemanfaatan, yaitu: 1. Kawasan konservasi, 2). Kawasan Hak Pengusahaan Hutan ((HPH) / Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK), 3). Kawasan Hutan Kawasan Industri (HTI), 4). Kawasan Perkebunan, dan 5). Kawasan Transmigrasi. Penjelasan pemanfaatan masing-masing kawasan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Kawasan konservasi

Kawasan konservasi di wilayah perbatasan terdiri dari Taman Nasional (TN), Cagar Alam (CA), dan Taman Wisata Alam (TWA). Luas keseluruhan kawasan konservasi yang ada di wilayah perbatasan adalah seluas 1.080.550 Ha terletak di sebagian Kabupaten Sambas, Landak ,dan Kapuas Hulu. Rincian luas kawasan konservasi di wilayah perbatasan dan potensi keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya dapat di lihat pada Tabel 12

Tabe l 12. Kawasan konservasi wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia di Provinsi Kalimantan Barat

Surat Keputusan No Nama, luas kawasan

konservasi Pejabat No. dan Tanggal Potensi 1. TN Betung Kerihun,

luas = 800.000 Ha.

Menhut 467/Kpts-II/1999 5 September 1999

Owa, beruang madu, orang utan, panorama bentang alam 2. TN D. Sentarum, luas = 130.940 Ha. Menhut 059/Kpts-II/1988 4 Februari 1988 Orang utan, bekantan, owa 3. CA G. Nyiut – Penrissen, luas = 124.500 Ha. Menhut 34/Kpts-II/1999 4 Februari 1999

Ikan arwana, orang utan, bekantan, beruang masu, buaya. 4. Usulan TWA Asuansang, luas = 6.331 hektar Menhut 259/Kpts-II/2000 23 Agustus 2000 Koridor lintasan satwa dengan CA Samun Serawak 5. TWA Tj. Belimbing, luas = 1.290 Ha. Menhut 259/Kpts-II/2000 23 Agustus 2000 Punai, imbuk, beruang madu, bekantan, flora-fauna. 6. TWA Dungan, luas =

1.142 Ha. Menhut 259/Kpts-II/2000 23 Agustus 2000 Punai, imbuk, beruang madu, bekantan, flora-fauna. 7. TWA G. Melintang, luas = 16.347 Ha. Menhut 259/Kpts-II/2000 23 Agustus 2000 Punai, imbuk, beruang madu, bekantan, flora-fauna. Sumber : Laporan Tahunan Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah III

(15)

b. Kawasan Hak Pengusahaan Hutan ((HPH) / Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK)

Ada beberapa perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) yang beroperasi di wilayah perbatasan. Berdasarkan hasil laporan dari Dinas Kehutanan tahun 2004, ternyata semua IUPHHK hanya aktif secara administrasi. Secara umum tiga tahun terakhir semua IUPHHK tersebut tidak mendapatkan target produksi tahunan (RKTUPHHK). Penyebab dari menurunnya aktifitas lapangan ini antara lain permasalahan sosial dengan masyarakat sekitar, tunggakan iuran kehutanan, dan permasalahan internal perusahaan itu sendiri. Kondisi perusahaan seperti ini mengkhawatirkan, karena disinyalir kegiatan penanaman kembali tidak akan berjalan dengan baik, bahkan tata cara pengelolaan hutan dengan standar sustainable forest management (SFM) juga dipertanyakan tentang pelaksanaannya di lapangan. Pengalaman menunjukkan bahwa perusahaan yang mempunyai tunggakan dana reboisasi (DR) dan PSDH yang besar mempunyai kecenderungan untuk mempailitkan diri, sehingga terhindar dari kewajiban membayar DR dan PSDH. Gamba ran kondisi IUPHHK yang beroperasi di wilayah perbatasan dapat dilihat pada Tabel 13

Tabel 13. IUPHHK di wilayah perbatasan

No. Perusahaan Nama Lokasi Kabupaten Pencadangan Luas Status

1. PT. ANURAGA S. Engkenat, S. Sey Sanggau 51.000 Aktif Administrasi 2. PT. KUSUMA PERKASA INDAH TIMBER S. Sekayam, S. Landak Sanggau, Landak, Bengkayang 80.000 Aktif Administrasi 3. PT. BENUA INDAH S. Embaloh Hulu, S. Sunuk

Kapuas Hulu 51.300 Aktif

Administrasi 4. PT. LANJAK DERAS JAYA RAYA S. Embaloh,

S. Kapuas Kapuas Hulu 45.740

Aktif Administrasi 5. PT. TAWANG MERANTI A. Ketungau,

S. Tawang Kapuas Hulu 49.200

Aktif

Administrasi

Sumber : Laporan Tahunan Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar & Dishutbun Kabupaten, 2003.

(16)

c. Kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI)

Secara umum, kondisi perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang beroperasi di wilayah perbatasan masih aktif beroperasi. Terdapat 3 perusahaan yang mempunyai sebagian pencadangan arealnya di wilayah perbatasan, yaitu PT. Finantara, PT. Lahan Sukses, dan PT. Mayang Adiwana. Luas pencadangan areal dan status HTI yang ada di wilayah perbatasan dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. HTI di wilayah perbatasan

No. Nama Perusahaan Kabupaten Luas

Pencadangan Status

1. PT. FINNANTARA Sanggau,

Sintang

299.700 Aktif

2. PT. LAHAN SUKSES Sanggau 14.460 Tidak Aktif

3. PT. MAYANG ADIWANA Sintang 8.060 Tidak Aktif

Sumber : Laporan Tahunan Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar & Dishutbun Kabupaten 2003.

Satu-satunya perusahaan HTI yang aktif adalah PT Finantara yang memiliki areal pencadangan paling luas dibandingkan dengan dua perusahaan lainnya, yaitu 299.700 hektar. Walaupun statusnya aktif, dan telah memperoleh berbagai penghargaan baik dari presiden, menteri kehutanan, ISO 14.000, dan lain-lain, namun ternyata PT. Finantara menghadapi permasalahan yang cukup serius, antara lain: kondisi tanaman yang terpencar-pencar, tekanan sosial, tingginya biaya operasional, dan tidak mengalami penambahan luasan tanaman sejak tahun 2001.

d. Kawasan perkebunan

Perkembangan Perkebunan Besar di Provinsi Kalimantan Barat sampai dengan Desember 2003, yang diterbitkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat, ada lima perusahaan perkebunan besar yang beoperasi di wilayah perbatasan, yaitu : 1). PT. Plantana Razindo, 2). Yamaker sawit sari, 3). Rentang Nusa gemilang, 4). Satrindo Jaya Agri Palm, dan 5). PT. Usaha Malindo Jaya. Lima perusahaan perkebunan besar tersebut semuanya merupakan perkebunan sawit (Tabel 15).

(17)

Tabel 15. Perkembangan perkebunan besar di wilayah perbatasan No Nama Perusaha an Informasi Lahan Komodi

-tas Ijin Prinsip Ijin Lokasi Kondisi Sekarang 1. PT. Plantana Razindo 18 Maret 96 525/1120/ II-Bappeda 47.000 ha Kelapa Sawit PPUBP 7/3/1997 HK350/E51 53/03.97 22.000 ha 29-09 -99 20.000 ha • SP Menhut 29-09-2003 ttg tindaklanjut pelepasan kawasan hutan (ybs tdk memproses HGU). • Alamat tdk ada. • Tdk ada laporan. • Tdk ada aktivitas. • Disarankan dicabut 2. PT. Yamaker Sawit Sari 24 Juni 97 525/4720/ II-Bappeda 18.000 ha Kelapa Sawit PPUBP 6/01/97 KepMenTan 320/02/Ment an/II/97 20.000 ha 05/07/97 12.000 ha •

Ijin lokasi telah berakhir. • Alamat tdk ada. • Disarankan dicabut 3. PT. Rentang Nusa Gemilang 01 Nop 93 595/3097/ II-Bappeda 12.000 ha Kelapa Sawit IP April 95 HK350/E52 70/04.95 10.000 ha 20-06 -95 10.000 ha • Tdk ada realisasi tanam. • Alamat tdk ada.

• Ijin Lokasi telah berakhir. • Diusulkan dicabut 4. PT. Satrindo Jaya Gemilang 07 Nop 97 525/4067/ II-Bappeda 23.500 ha Kelapa Sawit PPUBP 5/12/97 HK350/E51 213/12.97 20.000 ha 23-09 -98 18.000 ha

• Ijin lokasi telah berakhir. • Tdk ada laporan. • Tdk ada aktivitas. • SP dr Gubernur. • Diusulkan dicabut 5. PT. Usaha Malindo Jaya. 07 Nop 97 525/4068/ II-Bappeda Kelapa Sawit PPUBP 5/12/97 HK350/E51 212/12.97 20.000 ha 23-09 -98 27.000 ha

• Ijin lokasi telah berakhir. • Tdk ada laporan • Tdk ada aktivitas. •SP. Gubernur. • Diusulkan dicabut Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat, 2003.

Perusahaan perkebunan di wilayah perbatasan belum dapat memberikan kontribusi secara optimal terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Pencadangan areal yang telah diberikan tidak mampu dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan Tabel 15, dapat dilihat bahwa semua perusahaan perkebunan yang memiliki sebagian arealnya di wilayah perbatasan

(18)

merupakan perusahaan yang bermasalah, bahkan diusulkan/disarankan untuk dicabut izinnya.

e. Kawasan transmigrasi

Wilayah perbatasan merupakan salah satu daerah tujuan transmigrasi dari Pulau Jawa dan Bali. Program transmigrasi akan mempercepat perkembangan ekonomi wilayah karena setiap program transmigrasi selalu disertai dengan pembangunan infrastruktur berupa fasilitas umum seperti pasar, sekolah, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Dari sisi lingkungan, program transmigrasi yang membutuhkan pencadangan areal yang cukup luas akan memberikan dampak berupa perubahan kondisi ekosistem setempat. Pembukaan lahan dalam jumlah besar akan menyebabkan hilangnya plasma nutfah baik berupa tumbuhan maupun hewan. Lokasi areal pencadangan untuk program transmigrasi di wilayah perbatasan dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Rencana dan realisasi pencadangan areal transmigrasi di wilayah perbatasan No. Lokasi WWP/SKP Kab. Luas (Ha) SK Pencadangan Realisasi KK Keterangan

1 Seluas Pisang Bengkayang 1.400

476 Tahun 1996 7 Oktober 1996 - Belum ada rea lisasi penempatan 2 Seluas Bengkayang 2.200 240 Tahun 1965 12 Agustus 1985 - Belum ada realisasi penempatan 3 Berjokong Sambas 4.750 241 Tahun 1985 12 Agustus 1985 - Belum ada realisasi penempatan 4 Sungai Dangin Sanggau 3.700 153 Tahun 1986 3 Juni 1986 478 Sudah selesai penempatan

5 Dua Petunggu Sintang 7.660

242 Tahun 1985 12 Agustus 1985 - Belum ada realisasi penempatan Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat, 2003.

4.8. Illegal logging sebagai isu utama di wilayah perbatasan

Aktifitas illegal logging di wilayah perbatasan Kalimantan Barat – Serawak menjadi salah satu topik yang selalu aktual dalam penyusunan rencana pengembangan kawasan perbatasan Indonesia – Malaysia. Hal ini tidak terlepas

(19)

dari fakta bahwa kegiatan illegal logging di sepanjang wilayah perbatasan telah menjelma menjadi salah satu puncak krisis pengelolaan sumberdaya hutan yang bersifat kompleks dan multidimensi. Illegal logging merupakan resultante dari interaksi tiga faktor utama di luar faktor-faktor teknis kehutana n, yaitu 1) krisis ekonomi berkepanjangan, 2) euforia reformasi dan 3) ketidakjelasan rancang bangun desentralisasi. Ketiga faktor utama tersebut berdampak nyata terhadap lahirnya ketidakpastian hukum, tiadanya jaminan keamanan berusaha serta berkembangnya sistem ekonomi biaya tinggi di sektor kehutanan. (Wibowo, 2006).

Menurut data Dinas Kehutanan Kalimantan Barat (2004) ada beberapa fakta yang tercatat dari kegiatan illegal logging selama ini antara lain :

1. Jenis kayu yang ditebang/dikerjakan antara lain jenis belian, meranti, dan bedaru.

2. Kayu hasil tebangan diolah menjadi kayu gergajian (sawn timber) dalam berbagai ukuran dan lebih dari 80 % dipasarkan ke luar negeri (Serawak Malaysia) dan sisanya untuk keperluan domestik di Pontianak dan sekitarnya. 3. Pengeluaran kayu ke Serawak Malaysia dilakukan dengan menggunakan jalur darat melalui jalan-jalan tikus atau melalui jalur laut menggunakan kapal. 4. Pola kerja yang diciptakan oleh aktor illegal logging sudah melibatkan banyak pihak. Di wilayah perbatasan sebagian besar kepala keluarga bekerja dalam aktifitas ini.

Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Putussibau, kerusakan sumberdaya hutan pada tahun 2003 terutama disebabkan oleh aktivitas penebangan liar (illegal logging) sebesar 47.837 truk atau setara 273.354 m3 kayu bulat (rendemen 70%). Kerugian karena kegiatan ini sekitar Rp. 50.625.160.000. Angka hampir sepuluh kali lipat lebih besar daripada PAD Kabupaten Kapuas Hulu. Kayu -kayu ini berasal dari Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan Eks HPH Yamaker. Kerusakan areal hutan di TNBK akibat aktivitas illegal logging saat ini sudah mencapai 928,47 hektar. (Kabri, 2004). Di samping itu, penjualan kayu illegal melalui wilayah perbatasan yang melintasi jalur perbatasan Entikong menuju Tebedu Serawak, setiap harinya rata-rata terdapat 50 truk (Kusmayadi, 2003).

(20)

4.9. Kondisi Pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan

Menurut Dinas Kehutanan Kalimantan Barat (2004) ada beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah perbatasan, yaitu:

1) Penyusunan RTRWK tidak sinkron dengan RTRWP dan peta penunjukan kawasan hutan.

2) Kebijaksanaan pemerintah kabupaten/kota dalam penggunaan sumberdaya hutan belum sesuai dengan ketentuan.

3) Banyak terjadi komplain dari masyarakat setempat terhadap pelaksanaan tata batas (TBT).

4) Adanya kecenderungan timbulnya kembali pengakuan hak-hak adat/ulayat dalam kawasan hutan.

5) Prosedur perijinan penggunaan, pelepasan dan pinjam pakai kawasan hutan dinilai masih sentralistis dan memerlukan waktu yang cukup lama.

6) Banyak terjadi perambahan kawasan hutan oleh masyarakat unutk lahan budidaya.

7) Hasil identifikasi enclave pada kawasan hutan belum ditindaklanjuti oleh Departemen Kehutanan.

8) Keberadaan kawasan hutan belum dapat dikelola secara optimal karena berlum tersedia data/peta kondisi dan potensi secara lengkap dan akurat.

Pengelolaan sumberdaya hutan belum dilakukan secara terpadu dengan mengintegrasikan seluruh sektor terkait dengan mengacu pada konsep pembangu nan berkelanjutan. Sampai saat ini, pengelolaan masih ditangani secara ad hoc, temporer dan parsial sehingga belum memberikan hasil yang optimal.

Kendala yang dihadapi dalam melakukan pengelolaan sumberdaya hutan dengan menggunakan konsep pembangunan berkelanjutan dapat diuraikan sebagai berikut; (a) Sulitnya melakukan assessment keberlanjutan terhadap pengelolaan sumberdaya hutan yang bersifat multi dimensi; (b) Bagaimana dampak dari assessment keberlanjutan terhadap formulasi kebijakan pengelolaan sumberdaya hutan di masa yang akan datang; (c) Bagaimana definisi yang operasional untuk mengelola sumberdaya hutan yang mencakup berbagai dimensi tersebut, karena selama ini ukuran operasional keberlanjutan pengelolaan sumberdaya hutan tidak ada.

Gambar

Tabel 9. Jumlah penduduk wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia Tahun 2002  No  Kabupaten  Kecamatan  Jumlah
Tabel 10. Luas wilayah kawasan hutan berdasarkan fungsi/penggunaan  berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No
Tabel 11.  Luas wilayah perbatasan (ha) berdasarkan Sub DAS  No.  Kabupaten
Tabe l 12. Kawasan konservasi wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia di  Provinsi Kalimantan Barat
+5

Referensi

Dokumen terkait

(2) Bakal Calon Direksi dapat berasal dari pelamar umum dan atau Direksi lama yang diusulkan Dewan Komisaris kepada Pemegang Saham paling lambat 90 (sembilan

Bapak Nyoman Sudarsana, S.Pd dari SMA Negeri 3 Singaraja dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik yaitu mengamati guru meminta peserta didik untuk membaca teks

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan penagihan pajak dengan surat paksa yang dilakukan oleh jurusita pajak negara yang berada di Kantor Pelayanan

Data pokok adalah data yang berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal trigonometri berdasarkan taksonomi bloom yang berupa hasil tes

Sedangkan menurut Munadi (2008: 8) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta

Untuk memudahkan pengelolaan surat menyurat maka penulis melakukan penelitian yang berjudul “Rancang Bangun Aplikasi Mobile Administrasi Pengelolaan Surat Masuk

(2) Pimpinan dan karyawan tersebut dalam ayat (1) diatas adalah pegawaii BKPD dengan mendapat gaji/penghasilan yang ditetapkan oleh Badan Pembina

Telah dilakukan penelitian untuk menguji aktivitas antioksidan dari ekstrak umbi bawang merah (Allium cepa L.) untuk dibandingkan dengan vitamin C (asam askorbat)