POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK)
PENGOLAHAN IKAN
BERBASIS FISH JELLY PRODUCT
(OTAK-OTAK dan KAKI NAGA)
POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK)
PENGOLAHAN IKAN BERBASIS FISH JELLY PRODUCT
(OTAK-OTAK dan KAKI NAGA)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami penjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya Buku Pola Pembiayaan Pengolahan Ikan Berbasis Fish JellyProduct (otak-otak dan kaki naga) ini mampu diselesaikan. Penyusunan buku ini dilakukan dalam rangka mendukung pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), terutama untuk menyediakan informasi baik bagi perbankan, UMKM pengusaha maupun calon pengusaha yang berminat mengembangkan usaha tersebut. Informasi pola pembiayaan disajikan juga dalam Data dan Informasi Bisnis Indonesia (www.bi.go.id).
Buku Pola Pembiayaan Pengolahan Ikan Berbasis Fish Jelly Product mengambil sampel di kampung nelayan Muara Angke dan Muara Baru, Jakarta Utara. Penyusunan buku dilakukan melalui survei langsung ke lapangan dan in depth interview terhadap produsen otak-otak dan kaki naga, wawancara dan diskusi dengan dinas/instansi terkait serta dengan pihak perbankan.
Dalam penyusunan buku pola pembiayaan ini, Bank Indonesia bekerjasama dengan Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (DKP) dan memperoleh masukan dan saran dari banyak pihak antara lain PT. Bank Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero), Bukopin, Bank Niaga, Bank Permata, Bank Panin, Bank Internasional Indonesia, Bank Danamon serta narasumber yang terkait baik asosiasi maupun perorangan. Atas sumbang pikir dan bantuan kelancaran penyusunan buku pola pembiayaan Pengolahan Ikan Berbasis Fish Jelly Product, Bank Indonesia cq Biro Pengembangan UMKM - Direktorat Kredit, BPR dan UMKM (BUMKM - DKBU) menyampaikan terimakasih.
Sedangkan bagi pembaca yang ingin memberikan kritik, saran dan masukkan bagi penyempurnaan buku ini atau ingin mengajukan pertanyaan terkait dengan buku ini dapat menghubungi: Biro Pengembangan UMKM - Direktorat Kredit, BPR dan UMKM, Bank Indonesia dengan alamat:
Gedung Tipikal (TP), Lt. V
Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10110
Telp: (021) 381-8581, Fax: (021) 351 – 8951 Email: [email protected]
Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan UMKM.
Jakarta, Mei 2008 Direktorat Kredit, BPR dan UMKM
RINGKASAN EKSEKUTIF
PENGOLAHAN IKAN BERBASIS FISH JELLY PRODUCT (OTAK-OTAK dan KAKI NAGA)
No UNSUR PEMBINAAN URAIAN 1 Jenis Usaha Pengolahan Ikan Berbasis Fillet
2 Jumlah dana yang dibutuhkan : Biaya Investasi : Rp 100.000.000,– Biaya Modal Kerja : Rp 15.000.000,– Total Biaya : Rp 115.000.000,– 3 Sumber Dana Kredit dari Bank : Rp 80.500.000,–
Dana Sendiri : Rp 34.500.000,– 4 Plafon Kredit Kredit Investasi : Rp 70.000.000,–
Kredit Modal Kerja : Rp 10.500.000,– 5 Jangka Waktu Kredit 2 tahun
6 Suku Bunga 15 %
7 Mekanisme Pembayaran Kredit Angsuran pokok dan bunga kredit dibayarkan tiap bulan
8 Pola Usaha a. Periode Proyek b. Skala Usaha c. Siklus Usaha d. Tingkat Teknologi e. Produk yang dihasilkan f. Pemasaran Produk
5 tahun
215.999 pcs otak-otak dan 215.999 pcs kaki naga per bulan
Pembelian bahan baku sampai penjualan Semi-mekanis
Otak-otak dan kaki naga
Dijual langsung, pesanan, melalui pengecer dan pedagang besar/perantara 9 Kriteria Kelayakan Usaha
Net B/C NPV IRR PBP (Usaha) BEP Rata-rata Total Penjualan Rata-rata Produksi Penilaian 1,47 Rp 54.146.184,– 32,24% 3,34 tahun Rp. 734.186.287,– per tahun Rp. 842.394.735,– per tahun 5.183.968 pcs/tahun Layak dilaksanakan 10 Analisis Sensitivitas
(1) Dari sisi Pendapatan a. Penjualan turun 1.75 % Net B/C NPV IRR PBP (Usaha) Penilaian 1,04 Rp 4.729.022,– 16,57 % 4,84 tahun Layak dilaksanakan
No UNSUR PEMBINAAN URAIAN b. Penjualan turun 3 % Net B/C NPV IRR PBP (Usaha) Penilaian 0,74 Rp -30.568.950,– 4,44% > 5 tahun
Tidak layak dilaksanakan (2) Dari sisi Kenaikan Biaya
Operasional
a. Biaya operasional naik 1,75% Net B/C NPV IRR PBP (Usaha) Penilaian 1,06 Rp. 6.852.085,- 17,27 3,65 tahun Layak dilaksanakan b. Biaya operasional naik 2 %
Net B/C NPV IRR PBP (Usaha) Penilaian 0,76 Rp. -27.974.202,– 5,37 3,9 tahun
Tidak Layak dilaksanakan (3) Dari sisi Pendapatan dan Biaya
Operasional
a. Pendapatan turun 0,9% dan biaya operasional naik 0,9% Net B/C NPV IRR PBP (Usaha) Penilaian 1,04 Rp. 4.617.585,– 16,53 5,6 tahun Layak dilaksanakan b. Pendapatan turun 1.5 % dan
biaya operasional naik 1.5 % Net B/C NPV IRR PBP (Usaha) Penilaian 0,75 Rp. -28.646.294,– 5,13 5,9 tahun
DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ………...………...… i RINGKASAN EKSEKUTIF ……… ii DAFTAR ISI ………... iv DAFTAR TABEL ………..……. vi DAFTAR GAMBAR ………... vii BAB I PENDAHULUAN ...……….…………... 1BAB II PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN ...
3
2.1 Profil Usaha ... 3
2.2 Pola Pembiayaan ………... 4
BAB III ASPEK TEKNIS PRODUKSI ... 5 3.1 Lokasi Usaha ……….………..……… 5
3.2 Fasilitas Produksi dan Peralatan ………. 5
3.3 Bahan Baku ………...….………...…..………... 6
3.3.1 Bahan Baku Utama ………... 6
3.3.2 Bahan Baku Pembantu/Pelengkap ………. 7
3.4 Tenaga Kerja ………...………... 8
3.5 Teknologi ………..………... 8
3.6 Proses Produksi ………... 9
3.6.1 Otak-otak Ikan ………. 9
3.6.2 Kaki Naga ... 12
3.7 Jenis dan Mutu Produksi ………... 15
3.8 Produksi Optimum ……….. 15
3.9 Kendala Produksi ……… 16
BAB IV ASPEK PASAR DAN PEMASARAN ……… 17
4.1 Aspek Pasar ……….………... 17
4.1.1 Permintaan ... 17
4.1.2 Penawaran ... 17
4.2 Aspek Pemasaran ………... 18
4.2.1 Harga ... 18
4.2.2 Jalur Pemasaran ... 18
4.2.3 Kendala Pemasaran ... 19
BAB V ASPEK KEUANGAN ……….. 21 5.1 Pemilihan Pola Usaha ... 21
5.2 Asumsi dan Penentuan Waktu Analisis Keuangan ... 21
5.3 Komponen dan Struktur Biaya Investasi ... 22
5.4 Biaya Operasional ... 23
5.5 Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja ... 24
5.6 Produksi dan Pendapatan ... 25
5.7 Proyeksi Laba Rugi dan Break Event Point ... 26
5.8 Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek ... 27
5.9 Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha ... 28
BAB VI ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN DAMPAK LINGKUNGAN ……….. 31
6.1 Aspek Ekonomi dan Sosial ……… 31
6.2 Aspek Lingkungan ……….. 31
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ……… 33 7.1 Kesimpulan ………. 33 7.2 Saran ……… 33 DAFTRA PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Komposisi Ikan Segar per 100 gram Bahan ... 1
Tabel 1.2 Perkembangan Jumlah Pengusaha 2 Jenis Pengolahan Ikan 2004-2007 di Daerah Muara Angke dan Muara Baru ... 2
Tabel 3.1 Fasilitas Produksi dan Sarana Prasarana Pengolahan Otak-otak ... 6
Tabel 3.2 Formulasi Membuat Otak-otak per A Kg ... 7
Tabel 3.3 Formulasi Membuat Kaki Naga per A Kg ...………... 8 Tabel 4.1 Jumlah Rata-rata Permintaan Otak-otak dan Kaki Naga untuk Daerah Jabotabek ………. 17
Tabel 5.1 Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan Usaha ………. 21
Tabel 5.2 Rekap Jumlah Biaya Investasi ………. 23
Tabel 5.3 Jumlah Biaya Operasional per Tahun ……….…... 24
Tabel 5.4 Kebutuhan Dana untuk Investasi dan Modal Kerja ………. 25
Tabel 5.5 Produksi dan Pendapatan per Tahun ………... 25
Tabel 5.6 Proyeksi Laba Rugi Usaha Otak-otak dan Kaki Naga ... 26
Tabel 5.7 Proyeksi Break Event Point ………. 27
Tabel 5.8 Kelayakan Usaha Produk Pengolahan Fillet Ikan ……….. 28
Tabel 5.9 Hasil Analisis Sensitivitas Skenario I ………... 28
Tabel 5.10 Hasil Analisis Sensitivitas Skenario II ……… 29
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1 Aliran Proses Pembuatan Otak-otak ... 9
Gambar 3.2 Penggilingan fillet ikan menggunakan grinder ... 10
Gambar 3.3 Hasil Penggilingan fillet ikan berbentuk Pasta ... 10
Gambar 3.4 Pengadukan adonan menggunakan food processor ... 11
Gambar 3.5 Adonan Homogen yang Siap dicetak ... 11
Gambar 3.6 Otak-otak yang Telah Jadi ……...……. 12 Gambar 3.7 Aliran Proses Pembuatan Kaki Naga ….………... 13
Gambar 3.8 Kaki Naga ... 15
BAB I
PENDAHULUAN
Ikan merupakan salah satu bahan pangan yang sangat baik dan potensial untuk memenuhi kebutuhan protein bagi masyarakat. Beberapa jenis ikan mengandung omega 3 yang berfungsi untuk pertumbuhan otak manusia. Sedangkan protein yang dihasilkan dari ikan merupakan salah satu elemen penting bagi kesehatan tubuh manusia. Kandungan protein yang dimiliki dalam ikan segar dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1. 1 Komposisi Ikan Segar per 100 gram Bahan Komponen Kadar (%) Kandungan air
Protein Lemak
Mineral dan Vitamin Karbohidrat Bahan organik Edible position 66,00 – 68,00 15,00 – 24,00 0,1 – 22 2,52 - 4,50 1 – 3 0,8 – 2 45 – 50 Sumber : Suzuki, 1981.
Pemanfaatan daging ikan sebagai sumber protein bagi manusia sangat digalakkan. Selain dalam bentuk daging ikan yang langsung dapat dikonsumsi, daging ikan juga dapat diolah menjadi paste daging ikan (fish Jelly Produck) atau dalam bahasa jepang disebut kamaboko (Suzuki 1981). Paste daging ikan selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai makanan olahan lanjutan seperti bakso ikan, surimi, nugget, otak-otak dan kaki naga.
Otak-otak dan kaki naga merupakan hasil olahan yang cukup digemari yang saat ini tengah dikembangkan oleh masyarakat perikanan. Karena otak-otak dan kaki naga merupakan diversifikasi dari kamaboko yang merupakan bahan untuk surimi. Maka otak-otak dan kaki naga dapat mengikuti SNI surimi, berdasarkan SNI No. 01–2693-1992, maka otak-otak dan kaki naga adalah diversifikasi dari kamaboko, yang memiliki standar mutu dengan elastisitas berkisar antara 26,73% - 65,66%, kadar abu antara 0,44% – 0,69%, kadar protein antara 10,44% - 16,40%, dan kadar lemak antara 0,09% - 0,55% (Suzuki 1981).
Otak-otak dan kaki naga merupakan makanan hasil perikanan favorit semua kalangan masyarakat di Jakarta. Mengingat masyarakat Jakarta umumnya menyukai makanan yang praktis dan cepat saji. Keberagaman produk hasil olahan perikanan menjadikan konsumsi ikan di masyarakat menjadi semakin meningkat.
Pendahuluan
Pengusaha otak-otak dan kaki naga di Jakarta Utara tepatnya di kampung nelayan Muara Angke dan Muara Baru pada tahun 2004 berjumlah 20 pengusaha. Jumlah tersebut terus meningkat menjadi 31 pengusaha pada tahun 2007 (Tabel 1.2). Selain di daerah Muara Angke dan Muara Baru, pengusaha otak-otak dan kaki naga juga terdapat di daerah Palabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat.
Tabel 1. 2. Perkembangan Jumlah Pengusaha 2 Jenis Pengolahan Ikan 2004 – 2007 di Daerah Muara Angke dan Muara Baru
No Olahan 2004 2005 2006 2007 1 Otak-Otak 20 20 25 31 2 Kaki Naga 20 20 25 31 Sumber : Data primer diolah, 2007
Satu perusahaan umumnya memproduksi 2 macam produk berupa otak-otak dan kaki naga karena kedua produk tersebut menggunakan bahan baku utama yang sama berupa fillet ikan kuniran (Peuneus sp). Setiap hari perusahaan dapat menghasilkan otak-otak minimal 8.000 pieces dan maksimal 50.000 pieces, kaki naga minimal 8.000 pieces dan maksimal 40.000 pieces .
Bahan baku fillet lainnya yang dapat dijadikan bahan baku otak-otak dan kaki naga adalah fillet dari ikan mata goyang dan ikan mata besar. Namun yang paling banyak dipakai pengusaha untuk otak-otak dan kaki naga adalah fillet dari ikan kuniran.
BAB II
PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN
2.1. Profil Usaha
Usaha otak-otak dan kaki naga di Indonesia masih sedikit, sedangkan permintaan masyarakat terhadap otak-otak dan kaki naga cukup baik. Usaha ini mudah dilakukan karena tidak memerlukan ketrampilan khusus dan modal yang diperlukan tidak begitu besar, begitu pula dengan proses produksi mulai dari input sampai output mudah dilakukan.
Jumlah produsen otak-otak dan kaki naga di Muara Angke dan Muara Baru terus meningkat dari tahun 2004 sampai 2007 jumlah produsen yang ada sekarang adalah 31 produsen. Produsen lainnya berada di daerah Palabuhanratu yang hampir semuanya dikelola oleh Koperasi Mina. Pasar otak-otak dan kaki naga untuk produsen Muara Angke dan Muara Baru yang dituju untuk saat ini adalah untuk daerah Jabotabek. Sedangkan untuk produsen Palabuhan Ratu pasar yang ditujunya adalah untuk daerah Jawa Barat.
Otak-otak dan kaki naga merupakan produk makanan yang menggunakan bahan baku utama daging / fillet ikan yang diolah menjadi pasta gel protein yang disebut kamaboko (Suzuki 1981). Selanjutnya kamaboko dioleh menjadi otak-otak dan kaki naga. Bahan baku yang digunakan adalah fillet ikan segar seperti Ikan kuniran (Peuneus sp) yang memiliki daging berwarna putih dan tidak memiliki banyak duri. Daging ikan yang berwarna putih memiliki kandungan protein yang lebih baik. Kualitas dan kandungan protein ikan dapat berpengaruh terhadap tingkat kekenyalan otak-otak dan kaki naga (Suzuki 1981).
Fillet ikan kuniran yang digunakan para pengusaha dilapangan umumnya memiliki kualitas dibawah kualitas ekspor, karena masih masih terdapat campuran tulang dan duri yang harganya berkisar antara Rp. 4000,-/kg – Rp. 6000,-/kg. Sedangkan kualitas ekspor berkisar antara Rp. 22.000,-/kg – Rp. 80.000,-/kg. Walaupun ikan kuniran yang digunakan masih di bawah kualitas ekspor namun penanganan fillet ikan sudah cukup baik dan higienis untuk dijadikan otak-otak dan kaki naga.
Produsen otak-otak dan kaki naga di daerah Muara Angke dan Muara Baru dalam satu hari dapat menghasilkan 50.000 pcs/hari dengan bahan baku fillet ikan kuniran (Peuneus sp) sebanyak 500 – 600 kg/hari. Sedangkan kaki naga dapat diproduksi sebanyak 30.000 pcs/hari dengan bahan baku fillet sebanyak 300 – 400 kg/hari. Untuk bahan baku ikan fillet sebanyak 100 kg dapat menghasilkan 8.000 pcs otak-otak (4.000 pcs jenis bulat dan 4.000 pcs jenis panjang).
Profil Usaha dan Pola Pembiayaan
Sedangkan untuk kaki naga dengan bahan baku sebanyak 100 kg dapat menghasilkan 8.000 pcs kaki naga.
2.2. Pola Pembiayaan
Usaha pembuatan produk olahan ikan ini tidak memerlukan biaya yang besar. Untuk memulai usaha ini,. biaya investasi yang dibutuhkan kurang dari Rp. 100.000.000 ,-. Sedangkan untuk kebutuhan modal kerja diperkirakan sebesar Rp. 15.000.000,-. Umumnya pengusaha otak-otak dan kaki naga di Muara Baru dan Muara Angke belum dibiayai oleh bank. Namun dengan adanya kebutuhan pengembangan usaha, dapat dipenuhi dengan pinjaman bank.
Pembiayaan dari bank dapat digunakan untuk kebutuhan pembelian mesin dan peralatan serta modal kerja dengan menggunakan skim kredit bank yang sudah ada. Dengan adanya pemberian kredit dari bank diharapkan usaha otak-otak dan kaki naga dapat lebih berkembang.
BAB III
ASPEK TEKNIS PRODUKSI
Aspek teknis produksi yang terkait dengan usaha pengolahan otak-otak dan kaki naga yang dibahas antara lain yang menyangkut lokasi usaha, fasilitas produksi dan peralatan, bahan baku, tenaga kerja, teknologi serta proses produksi. Penjelasan dari masing-masing aspek sebagai berikut :
3.1. Lokasi Usaha
Lokasi usaha yang cocok untuk usaha pembuatan otak-otak dan kaki naga adalah yang posisinya dekat dengan lokasi bahan baku yaitu berupa ikan. Daerah yang cocok adalah yang dekat dengan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) karena hal ini mempermudah dalam memperoleh bahan baku maupun bahan pembantu dan pelengkap. Namun pada saat ini bahan baku berupa fillet ikan mudah diperoleh di pasar atau penyalur khusus fillet ikan, sehingga lokasi tidak harus dekat dengan TPI, melainkan yang memiliki daya dukung yang baik.
Daya dukung lingkungan yang baik untuk usaha ini terutama yang mempunyai sumber air bersih yang cukup, karena untuk sanitasi dan higienis sangat dibutuhkan air bersih. Daya dukung lain adalah sarana pembuangan limbah yang memadai, sehingga limbah hasil produksi yang dibuang tidak mengganggu lingkungan. Selain hal tersebut lokasi, usaha sebaiknya di tempat yang strategis untuk pemasaran dan mudah dicari konsumen. Lokasi yang strategis untuk pemasaran yaitu lokasi yang dekat dengan pasar dan pelanggan.
Daerah Muara Angke dan Muara Baru merupakan contoh daerah yang strategis untuk tempat pengolahan otak-otak dan kaki naga karena kemudahannya dalam hal memperoleh bahan baku, baik bahan baku utama maupun bahan pembantu dan pelengkapnya. Selain itu di lokasi tersebut jumlah sumberdaya manusia sebagai tenaga kerja masih banyak. Kelengkapan infrastruktur baik berupa mesin penggiling maupun pengaduk adonan dan peralatan produksi otak-otak mudah diperoleh di daerah Muara Angke dan Muara Baru. Untuk pemasaran Muara Baru dan Muara Angke dekat dengan pasar sehingga mudah untuk memasarkannya.
3.2. Fasilitas Produksi dan Peralatan
Untuk kegiatan produksi otak-otak dan kaki naga terdapat beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan produksi baik untuk proses pengolahan maupun untuk pemasaran. Peralatan kegiatan produksi termasuk dalam semi mekanik karena dalam pengerjaannya masih
Aspek Teknis Produksi
menggunakan tenaga manusia. Peralatan yang termasuk semi mekanik antara lain grinder, food processor, sealer machine, blender. Untuk kegiatan pemasaran fasilitas yang digunakan yaitu mobil box tertutup. Fasilitas produksi dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3. 1. Fasilitas Produksi dan Sarana Prasarana Pengolahan Otak-Otak
No. Fasilitas Keterangan
1. Fasilitas Produksi :
- Grinder (Penggiling daging ikan)
- Untuk melumatkan daging ikan yang telah di fillet sehingga membentu pasta
(Kapasitas 1,8 kg/menit). - Food processor (Pengaduk
adonan)
- Untuk mengaduk adonan daging yang sudah ada dalam bentuk pasta dan tepung tapioka serta bumbu dimasukan dalam food processor (waktu pengadonan = 45-60 menit; Kapasitas = 75-120 kg/jam) - Blender biasa - Menghancurkan bumbu
- Penggorengan, ukuran 1 x 1 meter
- Untuk mengoreng Otak-Otak yang baru dicetak
- Meja penirisan (dilengkapi dengan kipas angin) , ukuran 2 x 1 m
- Untuk meniriskan otak-otak setelah dimasak dalam penggorengan untuk mendinginkan dan menguragi kadar minyak dalam otak-otak
- Timbangan gantung - Kapasitas 250 kg
- Rak penyimpanan - Ukuran 1,5 x 1,5 x 0,6 meter - 2 Pisau, 5 Talenan, 4 ember, 5
ayakan, 5 baskom besar, 4 tabung gas (12,5 kg)
-
- Sealer machine - Menutup kemasan, ukuran 30 cm 2. Sarana Produksi : - Bangunan: o Ruang Penyimpanan bahan baku o Ruang pengolahan o Ruangpengemasan o Ruang admistrasi o Mes karyawan
- Sewa Bangunan Rp.750.000,- /Bulan
3. Prasaran :
- Mobil box kecil - Kegiatan Pemasaran untuk menampung otak-otak dan kaki naga dengan volume 1x1 meter sebanyak @ 4.000 pcs
3.3. Bahan-Baku
3.3.1. Bahan Baku Utama
Bahan baku untuk membuat otak-otak dan kaki naga berupa fillet ikan kuniran dan ikan mata goyang. Fillet ikan yang baik untuk bahan baku pembuatan otak-otak dan kaki naga sebaiknya memiliki tekstur daging kenyal dan berwarna putih. Daging ikan yang berwarna putih
memiliki kandungan protein yang baik dan memiliki sifat gel yang baik pula. Sehingga otak-otak yang dihasilkan akan memiliki kekenyalan yang baik dan tidak keras. Fillet ikan kuniran merupakan bahan baku yang bagus untuk otak-otak dan kaki naga. Dari segi rasa ikan mata goyang lebih enak dibandingkan ikan kuniran, namun ikan mata goyang memiliki duri yang lebih banyak dibandingkan ikan kuniran. Harga fillet ikan kuniran berkisar antara Rp 5.000,-/kg – Rp 6.000/kg sedangkan untuk mata goyang berkisar antara Rp 9.000,-/kg – Rp. 12.000.-/kg.
Bahan baku berupa fillet ikan kuniran lebih mudah didapat, sebagian besar fillet ikan tersebut dipasok dari Tegal, Cirebon, Belanakan, dan Indramayu.
3.3.2. Bahan Baku Pembantu/Pelengkap 1. Otak-otak ikan
Selain fillet ikan, bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat otak-otak ikan antara lain tepung tapioka dan telur sebagai bahan pengental. Bahan lainnya yang dugunakan ebagai penyedap dan bumbu seperti garam, santan, bawang merah, bawang putih, dan merica. Sedangkan bahan pembantu yang digunakan untuk pemasakan/pengorengan yaitu dengan menggunakan minyak sayur.
Formulasi untuk membuat otak-otak dengan perbandingan bahan baku fillet ikan sebanyak A Kg dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3. 2. Formulasi Membuat Otak-Otak per A Kg Bahan Persentase Daging Fillet ikan A Tepung Tapioka 12,5 - 20 % A Garam 2,5% A Gula 6,0% A Bawang Merah 1,0% A Bawang Putih 3,0% A Merica/lada 1,0% A
Santan Kental, Telur -
Minyak Sayur -
Sumber : Sunersih THP IPB, 2003.
Pada paraktek di lapangan (lokasi penelitian) penggunaan tepung tapioka yaitu perbandingan sebanyak 20% dari fillet ikan yang digunakan.
2. Kaki naga
Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat adonan kaki naga antara lain tepung terigu, maizena, susu dan telur untuk bahan pengikat. Sedangkan untuk bumbu kaki naga yaitu : garam, gula, bawang bombay, bawang putih, dan merica. Bahan lain yang digunakan dalam proses pemasakan/ pengorengan yaitu minyak sayur.
Aspek Teknis Produksi
Formulasi untuk membuat kaki naga dengan perbandingan bahan baku fillet ikan sebanyak A Kg dapat dilihat pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3. Formulasi Membuat Kaki Naga per A Kg Bahan Persentase Daging Fillet ikan A Tepung Terigu dan maizena 12,5 - 20 % A
Garam 1,5% A Gula 1% A Bawang Bombay 1% A Bawang Putih 2,2% A Merica/lada 0,4% A Susu, Telur - Minyak Sayur -
Sumber : Maghfiroh THP IPB, 2000.
Untuk formulasi batter yaitu 20 ml air, 20 gram tepung, 1 gram garam. Sedangkan untuk breading dapat menggunakan tepung roti secukupnya.
3.4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk usaha otak-otak dan kaki naga antara lain untuk produksi, pemasaran dan manajerial/keuangan. Tenaga produksi sebanyak 7 orang, pemasaran 1 orang, dan untuk kegiatan manajerial/keuangan sebanyak 2 orang. Sedangkan untuk berhubungan langsung dengan pelanggan dan transaksi, dilakukan langsung oleh pemilik.
Tenaga kerja diperoleh dari sekitar lokasi usaha. Upah tenaga kerja berupa gaji pokok sebesar Rp. 975.000,-/bulan termasuk dengan uang makan perhari sebesar Rp. 17.500,-/hari. Output produksi yang dihasilkan yaitu sebanyak 8000 – 10.000 pcs/hari otak-otak dan kaki naga sebanyak 8.000 – 10.000 pcs/hari
3.5. Teknologi
Teknologi yang digunakan adalah campuran mekanik (mesin) dan manual (tenaga manusia). Beberapa peralatan yang digunakan antara lain grinder, food processor, blender dan sealer machine. Grinder digunakan untuk penggilingan daging sehingga daging lebih halus dan berbentuk pasta gel. Penggunaan grinder masih memerlukan tenaga manusia.
Pengaduk adonan (food processor ) menggunakan tenaga motor berbahan bakar bensin. Umur teknis dari food processor yaitu 5 tahun, namun pulley pemutarnya mempunyai umur teknis 2-3 tahun.
Sedangkan untuk menghancurkan bumbu menggunakan blender yang menggunakan tenaga listrik. Sementara pengemasan menggunakan sealer machine yang menggunakan energi listrik.
3.6. Proses Produksi 3.6.1. Otak-otak ikan
Proses produksi pembuatan otak-otak ikan dimulai dari penerimaan bahan baku berupa fillet Ikan, kemudian dilanjutkan dengan proses penggilingan, pengadukkan adonan, pemasakan, penirisan. Aliran proses produksi dapat dilihat sebagai berikut :
Gambar 3. 1. Aliran Proses Pembuatan Otak-Otak. Fillet ikan
Penggilingan daging ikan
Pencetakan
(dibuat bulat lonjong atau panjang) Pengadonan
(Penambahan tepung tapioka, santan dan bumbu)
Pemasakan
(dimasak menggunakan minyak sayur dan air) 15 – 30 menit
Penirisan
(mendinginkan dan mengurangi kadar minyak didalamnya)
Aspek Teknis Produksi
1. Fillet Ikan
Fillet ikan merupakan bahan baku utama. Sebelum digiling Fillet ikan ditaruh dalam ember ataupun bak penampungan selanjutnya diberi es agar fillet ikan tetap segar dan tidak mengeras.
2. Penggilingan daging ikan
fillet ikan yang sudah dicuci kemudian dimasukkan ke dalam grinder untuk digiling sehingga berbentuk pasta. Pada saat penggilingan ditambahkan garam secukupnya. Garam diberikan pada awal penggilingan guna meningkatkan kerekatan pasta ikan, jika dilakukan pada akhir penggilingan sifat kerekatan pasta akan menurun. Proses penggilingan fillet ikan dengan grinder dapat dilihat pada Gambar 3.2. Sedangkan hasil penggilingan fillet berupa pasta dapat dilihat pada Gambar 3.3.
Gambar 3. 2. Penggilingan fillet ikan menggunakan grinder
3. Pengadonan
Daging yang sudah berbentuk pasta dimasukkan ke dalam food processor untuk dilakukan pengadonan dengan penambahan bahan baku lainnya seperti tepung tapioka, santan dan telur yang berguna untuk menjaga kualitas kekenyalan otak-otak. Selanjutnya adonan ditambahkan bumbu berupa garam, gula, bawang merah, bawang putih dan merica yang sebelumnya telah dihaluskan dengan blender. Waktu pengadonan kurang lebih selama 45 menit. Hasil adonan yang telah selesai dimasukkan ke dalam ember untuk dilakukan pencetakkan. Pengadukan adonan menggunakan food processor dapat dilihat pada Gambar 3.4.
Gambar 3. 4. Pengadukan adonan menggunakan food processor
Adonan yang sudah selesai diaduk menghasilkan adonan yang homogen yang siap dibentuk menjadi otak-otak. Gambar hasil adonan yang sudah diaduk dapat dilihat pada Gambar 3.5.
Gambar 3. 5. Adonan homogen yang siap dicetak.
4. Pencetakkan
Pencetakkan adonan menggunakan tangan dan sendok atau garpu. Proses pencetakkan berlangsung cepat, adonan yang telah dicetak langsung dimasukan ke dalam penggorengan untuk dimasak.
Aspek Teknis Produksi
5. Pemasakan
Pemasakan adonan dilakukan diatas penggorengan dengan menggunakan minyak sayur yang dicanpur dengan air dengan suhu yang tidak terlalu panas (deep fat frying). Adonan harus terendam minyak, proses pemasakan berlangsung sampai otak-otak matang sekitar 70-80% dan menjaga agar tidak terlalu matang sehingga otak-otak tidak berwarna kuning.
6. Penirisan
Penirisan dilakukan untuk mendinginkan otak-otak yang telah masak dan mengurangi kadar minyak yang terdapat dalam otak-otak setelah dimasak. Penirisan dilakukan di meja penirisan yang berukuran panjang 2 meter x lebar 1 meter. Pada bagian lebar meja penirisan dipasang kipas yang berguna untuk mempercepat proses penirisan. Gambar Otak-otak ikan dapat dilihat pada Gambar 3.6.
Setelah otak-otak yang ditiriskan selesai otak-otak tersebut dikemas dalam plastik menggunakan sealer machine untuk menutup kemasan. Pengemasan dilakukan untuk menjaga agar otak-otak tidak mudah rusak ketika dalam proses pemasaran.
(a). Jenis Panjang (b). Jenis bulat Gambar 3. 6. Otak-otak ikan yang telah jadi 3.6.2. Kaki Naga
Proses produksi pembuatan kaki naga ikan dimulai dari penerimaan bahan baku berupa fillet ikan, kemudian dilanjutkan dengan proses penggilingan, pengadukan adonan, pemasakan, penirisan, batter, dan breading. Aliran proses produksi dapat dilihat pada Gambar 3.7.
Gambar 3. 7. Aliran Proses Pembuatan Kaki Naga.
1. Fillet Ikan
Fillet ikan merupakan bahan baku utama. Fillet ikan yang baru diterima dimasukkan dalam ember atau bak penampungan dan diberi es fillet tetap segar dan tidak mengeras.
Fillet ikan
Penggilingan daging ikan
Pengadonan
(Penambahan tepung terigu, maizena, susu, telur dan bumbu)
Pencetakan (dibuat bulat)
Perebusan
(dimasak 15-30 menit menggunakan air dan minyak sayur)
Penirisan
Penggulingan dalam batter
Dicelupkan ke dalam telur kocok
Pelumuran dalam tepung roti dan penusukan potongan sumpit
Aspek Teknis Produksi
2. Penggilingan daging ikan
Fillet yang sudah dicuci kemudian dimasukan ke dalam grinder untuk digiling sehingga berbentuk pasta. Pada saat penggilingan harus diberikan garam secukupnya. Garam diberikan pada awal penggilingan berguna untuk meningkatkan kerekatan pasta ikan. jika dilakukan pada akhir penggilingan sifat kerekatan pasta akan menurun.
3. Pengadonan
Daging yang sudah berbentuk pasta dimasukkan ke dalam food processor untuk dilakukan pengadonan dengan penambahan bahan baku lainnya seperti tepung terigu, maizena, susu dan telur yang berguna untuk menjaga kualitas kekenyalan kaki naga, kemudian adonan dimasukan bumbu berupa garam, gula, bawang bombay, bawang putih dan merica yang sudah dihaluskan sebelumnya. Waktu pengadonan dilakukan selama 45 menit agar dapat menghasilkan adonan yang betul-betul homogen. Hasil adonan yang telah selesai dimasukkan ke dalam ember besar untuk dilakukan pencetakan.
4. Pencetakan
Pencetakkan adonan digunakan menggunakan tangan dan sendok atau garpu. Proses pencetakkan berlangsung cepat, adonan yang telah dicetak langsung dimasukan ke dalam penggorengan untuk dimasak.
5. Pemasakan
Pemasakan adonan dilakukan di atas penggorengan, adonan yang telah dicetak kemudian dimasak dengan menggunakan minyak sayur yang telah dicampur dengan air dengan suhu yang tidak terlalu panas (deep fat frying). Adonan harus terendam minyak, proses pemasakan berlangsung sampai kaki naga matang sekitar 70% - 80%.
6. Penirisan
Penirisan dilakukan untuk mendinginkan kaki naga dan mengurangi kadar minyak yang terdapat dalam otak-otak setelah dimasak. Penirisan dilakukan di meja penirisan yang berukuran 2 meter x 1 meter. Pada bagian lebar meja penirisan dipasang kipas yang berguna untuk mempercepat proses penirisan.
7. Penggulingan dalan batter
Penggulingan dalam batter dilakukan setelah penirisan, dengan tujuan untuk menambah rasa gurih pada bagian luar kaki naga sebelum pelumuran dengan tepung roti.
8. Pencelupan ke dalam telur kocok
Pencelupan untuk memudahkan perekatan tepung roti pada kaki naga.
Pelemuran dengan tepung roti, dimaksudkan agar kaki naga terasa lebih renyah, biasanya kaki naga sering dicampur dengan kunir sebagai bahan pewarna dan pengawet alami.
10. Penusukan dengan sumpit kayu
Penusakan dengan sumpit kayu merupakan tahapan akhir dari proses pembuatan kaki naga.
Gambar 3. 8. Kaki naga 3.7. Jenis dan Mutu Produksi
Otak-otak yang diproduksi, dibuat dalam dua bentuk yaitu panjang dan bulat lonjong. Untuk menjaga kestabilan rasa dan tidak cepat basi, maka pembuatan otak-otak dan kaki naga harus menggunakan bahan baku yang segar serta bahan-bahan pembantu yang berkualitas, diolah dengan higienis serta formulasi yang satandar. Setiap periode tertentu sebaiknya perlu dilakukan uji laboratorium, untuk lebih meyakinkan kualitas mutu produk. Standar mutu yang bagus yaitu : elastisitas berkisar antara 26,73% - 65,66%, kadar abu antara 0,44% – 0,69%, kadar protein antara 10,44% - 16,40%, dan kadar lemak antara 0,09% - 0,55%.
3.8. Produksi Optimum
Kapasitas kemampuan mesin dapat mengolah adanon 120 kg per jam. Kapasitas maksimum mesin yaitu 600 kg selama 5 jam, dengan output produksi sekitar maksimum 50.000 pcs/hari dan dengan penggunaan tenaga kerja produksi sebanyak 7 orang dengan jam kerja selama 10 jam. Produksi optimum umumnya disesuaikan jumlah pemesanan.
Pengusaha otak-otak di Muara Angke dan Muara Baru minimal dapat memproduksi 8.000 pcs/hari otak-otak dan 8.000 pcs/hari kaki naga dengan bahan baku fillet sebanyak 100 kg . Namun jika hari raya dan natal produksi optimum dapat mencapai 30.000 pcs dengan bahan baku 300 kg.
Aspek Teknis Produksi
3.9. Kendala Produksi
Kendala produksi yang dihadapi yaitu sifat bahan baku fillet ikan mudah busuk, maka dari itu bahan baku paling lama dalam penyimpanan sekitar 2 hari. Output produk mudah basi, otak-otak dan kaki naga tahan paling lama sekitar dua hari karena tidak menggunakan bahan pengawet. Apabila tidak terjual oleh pelanggan maka akan dikembalikan lagi kepada penjual, sehingga masuk ke dalam produk reject. Selain itu untuk kemudahan dalam sertifikasi produk para pengusaha otak masih belum mengetahui cara untuk mendaftarkan produk makanan otak-otak kepada BP-POM.
BAB IV
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN
4.1. Aspek Pasar 4.1.1. Permintaan
Sebagai besar permintaan otak-otak dan kaki naga adalah dari wilayah Jabotabek. Sedangkan permintaan lainnya berasal dari luar Jabotabek seperti Bandung, Banten dan daerah lainnya. Permintaan otak-otak untuk satu pelanggan tetap rata-rata memesan 5.000 pcs per hari sedangkan kaki naga rata-rata memesan 2.500 pcs per hari. Untuk satu produsen otak-otak dan kaki naga rata-rata memiliki minimal 5 pelanggan tetap. Dalam satu hari satu produsen memiliki jumlah permintaan otak-otak sebesar 50.000 pcs/hari, dan kaki naga sebesar 40.000 pcs/hari.
Tabel 4. 1. Jumlah Rata-rata Permintaan Otak-Otak dan Kaki Naga untuk Daerah Jabotabek
Tahun 2004 2005 2006 Otak-Otak (pcs) 72.000.000 72.000.000 90.000.000 Kaki naga (pcs) 57.600.000 57.600.000 72.000.000
Sumber : Data diolah 2006
4.1.2. Penawaran
Jumlah produsen otak-otak dan kaki naga di daerah Muara Angke dan Muara Baru berjumlah kurang lebih 31 produsen pada tahun 2007. Tiap produsen selalu dapat memenuhi kebutuhan pelanggan, namun karena jumlah permintaan yang terus meningkat sedangkan kapasitas produksi yang terbatas, menyebabkan produsen otak-otak dan kaki naga belum bisa secara penuh memenuhi permintaan dari Jabotabek dan luar Jabotabek. Selain dari Muara Angke dan Muara Baru produsen lainnya berasal dari Palabuhanratu yang yang tergabung dan dikelola oleh Koperasi Mina.
Rata-rata jumlah diproduksi dalam satu hari oleh satu produsen di daerah Muara Angke dan Muara Baru yaitu sebanyak 50.000 pcs/hari untuk otak otak, dan kaki naga sebesar 40.000 pcs/hari.
4.1.3. Persaingan dan Peluang Pasar
Persaingan usaha otak-otak dan kaki naga masih sedikit, karena yang berusaha di bidang ini masih sedikit. Persaingan yang paling banyak berada di Muara Angke dan Muara Baru.
Aspek Pasar dan Pemasaran
Persaingan usaha sejenis lainnya saat ini berasal dari Palabuhan Ratu yang usahanya dikelola oleh Koperasi Mina namun jumlahnya masih sedikit. Persaingan usaha otak-otak dan kaki naga umumnya tidak saling merugikan karena produsen sudah memiliki pelanggan masing-masing dan harga jual produknya relatif sama. Sehingga tidak ada persaingaan harga antara perusahaan sejenis yang saling menjatuhkan.
Peluang pasar untuk usaha pembuatan otak-otak dan kaki naga masih sangat besar, karena selain pesaing masih sangat sedikit, jumlah permintaan makin bertambah. Jumlah konsumen dari daerah luar Jabotabek makin bertambah sedangkan jumlah produsen masih sedikit. Beberapa tempat yang cukup strategis untuk membuka usaha otak-otak dan kaki naga antara lain di daerah Pangandaran, Cirebon, Banyuwangi dan daerah strategis lainnya.
4.2. Aspek Pemasaran 4.2.1. Harga
Harga jual otak-otak dan kaki naga kepada agen atau pelanggan dihitung per peaces. Harga otak-otak dan kaki naga adalah sebagai berikut:
(1) otak-otak bentuk Panjang Rp. 250,-/pcs. (isi 12 Rp. 3.000,-/ kemasan),
(2) otak-otak bentuk bulat lonjong Rp. 100,-/pcs. (isi 50 Rp. 5.000,- / kemasan), (3) kaki naga Rp. 150,-/pcs. (isi 10Rp.1.500,- / kemasan).
Harga Jual produk ditangan konsumen untuk otak-otak dan kaki naga berkisar Rp. 500,-/pcs sampai dengan harga Rp. 1.000,-pcs
4.2.2. Jalur Pemasaran
Produsen otak-otak dan kaki naga melakukan pemasaran secara pasif yaitu pelanggan datang langsung atau memesan langsung kepada produsen. Pelanggan otak-otak sebagian besar adalah agen atau pedagang. Adapun jalur pemasaran dari produsen otak-otak di Muara Angke dan Muara Baru adalah sebagai berikut :
Gambar 4. 1. Jalur Pemaran Otak-Otak Ikan Produsen
Otak-Otak Ikan dan Kaki naga
Konsumen Pelanggan :
Agen atau Pedagang Otak-Otak Ikan dan
Kegiatan pemasaran untuk mengirimkan produk otak-otak kepada pelanggan dapat menggunakan sepeda motor atau dengan menggunakan mobil box untuk partai yang lebih besar dan jarak jauh. Umumnya pengiriman dilakukan sesuai dengan pemesanan.
4.2.3. Kendala Pemasaran
Kendala yang paling besar dihadapi produsen otak-otak dan kaki naga adalah proses pembayaran. Sebagian besar pelanggan melakukan pembayaran dengan sistem retur yaitu pembayaran dilakukan ketika pemesanan kedua. Bahkan beberapa pelanggan membayar setelah pengiriman ketiga dan keempat.
Kendala lain adalah sifat produk yang tidak tahan lama. Pelanggan biasanya mengembalikan produk apabila telah lebih dari 2 – 3 hari yang disebabkan karena produk sudah rusak atau basi, sehingga produsen menanggung kerugian dari barang yang dikembalikan karena sistem pembayarannya retur. Namun persentase yang reject atau dikembalikan hanya sekitar 5% dari jumlah retur pemesanan.
Aspek Pasar dan Pemasaran
BAB V
ASPEK KEUANGAN
5.1. Pemilihan Pola Usaha
Pemilihan usaha otak-otak dan kaki naga dilakukan karena bahan baku utama berupa fillet ikan kuniran mudah didapatkan antara lain dari Tegal, Belanakan, dan Indramayu. Sedangkan jumlah permintaan otak-otak dan kaki naga cenderung bertambah tiap tahunnya, sehingga dapat memberikan pemasukan yang konstan. Selain itu teknologi untuk memproduksi otak-otak dan kaki naga mudah didapat. Jumlah output otak-otak dan kaki naga ditentukan oleh teknologi yang digunakan. Teknologi yang digunakan dalam proses produksi adalah teknologi semi mekanik (grinder, food processor, blender), dengan kapasitas produksi 8.000 pcs/hari (otak-otak) dan kaki naga sebanyak 8.000pcs/hari.
5.2. Asumsi dan Penentuan Waktu Analisis Keuangan
Analisis keuangan, proyeksi penerimaan dan biaya didasarkan pada asumsi yang terangkum dalam Tabel 5.1. Periode proyek adalah 5 tahun. Tahun ke nol sebagai dasar perhitungan nilai sekarang (present value) adalah tahun ketika biaya investasi awal dikeluarkan. Dengan menggunakan mesin/peralatan dan jumlah tenaga kerja seperti yang tercantum dalam tabel asumsi. Seorang pengusaha produk pengolahan ikan mampu mengolah 100 kg/hari bahan baku fillet ikan untuk memproduksi bersih 8.000 pcs/hari otak-otak dan 8.000pcs/hari kaki naga, sehingga selama sebulan dapat memproduksi bersih 215.999 pcs otak-otak dan 215.999 pcs kaki naga. Dengan asumsi harga produk yaitu otak-otak bentuk panjang Rp. 250,-/pcs. (isi 12 Rp. 3.000,- / kemasan), otak-otak bentuk bulat lonjong Rp. 100,-/pcs. (isi 50 Rp. 5.000,- / kemasan), dan kaki naga Rp. 150,-/pcs. ( isi 10 Rp.1.500,- / kemasan).
Tabel 5. 1. Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan Usaha
No Asumsi Satuan Jumlah/
Nilai Keterangan
1 Periode proyek tahun 5
2 Hari kerja
a. Per bln hari 27
b. Bulan per thn hari 12
c. HK Per tahun hari 324
3 Skala Produksi Proses produksi setiap hari a. Produksi kotor per hari berat per pcs 50 gr
1. Otak otak pcs 8.421 160 kg
Aspek Keuangan
No Asumsi Satuan Jumlah/ Nilai Keterangan
b. Produk gagal (reject) % 5%
- Jumlah otak otak pcs 421
- Jumlah kaki naga pcs 421
c. Produksi bersih per hari
1. Otak otak pcs 8.000
2. Kaki naga pcs 8.000
4 Penjualan produk
a. Kemasan otak otak per hari :
1. Kemasan 1 : bentuk bulat pcs/bks 50
2. Kemasan 2 : bentuk panjang pcs/bks 12
3. Komposisi produk (1) dan (2) % 50%
b. Kemasan kaki naga per hari :
1. Kemasan 3 pcs/bks 10
c. Penjualan produk per hari
1. Kemasan 1 bks 80 2. Kemasan 2 bks 333 3. Kemasan 3 bks 800 5 Harga produk a. Otak otak 1. Kemasan 1 Rp/bks 5.000 Rp.100,-/pcs 2. Kemasan 2 Rp/bks 3.000 Rp. 250,-/pcs b. Kaki naga 1. Kemasan 3 Rp/bks 1.500 Rp. 150,-/pcs 6 Harga produk a. Otak otak Rp/pcs 100 b. Kaki naga Rp/pcs 150
7 Bahan baku ikan kuniran fillet
a. Utk otak otak kg/hr 100
b. Utk kaki naga kg/hr 100
c. Komposisi bhn baku (a) dan (b) % 50
8 Harga bahan baku Rp/kg 6.000
9 Discount Factor % 15
5.3. Komponen dan Struktur Biaya Investasi
Biaya investasi termasuk komponen biaya tetap yang besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan. Biaya investasi untuk usaha pengolahan ikan ini terdiri dari : biaya perijinan, sewa tanah dan bangunan, serta pembelian mesin/peralatan produksi dan peralatan pendukung lainnya. Jenis, nilai pembelian dan penyusutan dari masing-masing biaya investasi yang dibutuhkan untuk memulai usaha pengolahan ikan ini disajikan pada Tabel 5.2 di bawah.1
Biaya perijinan meliputi ijin usaha yang diperlukan yaitu : Surat Izin Tempat Usaha (SITU), Surat Izin Usaha Pengolahan (SIUP), Izin Usaha Industri, Tanda Daftar Perusahaan (TDP), izin dari
Depkes, SPH (Surat Pengolahan Hasil), dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Masa berlaku masing-masing surat izin tersebut bervariasi dengan total biaya yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 2 juta. Sewa tanah dan bangunan dibayarkan tiap tahun, sehingga setiap tahun harus dikeluarkan biaya untuk komponen biaya sewa. Pada tahun-tahun tertentu dilakukan reinvestasi untuk pembelian mesin atau peralatan produksi yang umur ekonomisnya kurang dari 5 tahun. Jumlah biaya investasi keseluruhan pada tahun 0 adalah Rp 100.595.000,- yang seluruhnya dibiayai dari dana sendiri pengusaha. Perincian Biaya Investasi Lampiran 1.
Tabel 5. 2. Rekap Jumlah Biaya Investasi
No Jenis Biaya Nilai Penyusutan
1 Perijinan 2.000.000
2
Sewa Tanah dan
Bangunan 10.000.000 10.000.000
3 Mesin/Peralatan Produksi 12.295.000 3.800.000
4 Peralatan lain 1.300.000 1.060.000
5 Prasarana pemasaran 75.000.000 7.500.000
Jumlah Biaya Investasi 100.595.000 22.360.000
Jml biaya investasi
dibulatkan 100.000.000
6
Sumber Dana Investasi
dari % Rp
Kredit 70% 70.000.000
Dana Sendiri 30% 30.000.000
5.4. Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan biaya variabel, sehingga besar kecilnya dipengaruhi oleh jumlah produksi. Komponen dari biaya operasional antara lain : pengadaan bahan baku, bahan pembantu, bahan pendukung, biaya pemasaran, upah tenaga kerja, BOP, peralatan operasional, biaya transportasi, listrik dan telepon, serta upah tenaga kerja.
Berdasarkan hasil wawancara survei, biaya operasional yang diperlukan selama satu tahun mencapai Rp 792.095.160. Biaya bahan baku merupakan komponen biaya operasional paling besar yaitu sekitar 49 % dari total biaya operasional per tahun. Tenaga kerja yang digunakan terdiri dari 1 orang pimpinan dan 10 orang tenaga kerja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel 5.3.
Aspek Keuangan
Tabel 5. 3 Jumlah Biaya Operasional Per Tahun No Jenis Biaya Nilai (Rp)
1 Bahan Baku 388.800.000 2 Bahan Pembantu 212.680.080 3 Bahan Pendukung 54.600.480 4 Biaya Pemasaran 39.414.600 5 Biaya Tenaga kerja 89.400.000 6 Biaya overhead pabrik 6.600.000 7 Biaya administrasi & umum 600.000 Jumlah Biaya Operasional 792.095.160
5.5. Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja
Kebutuhan investasi maupun modal kerja sebenarnya tidak harus dipenuhi sendiri. Jumlah modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha pengolahan ikan sebesar ini adalah sebesar Rp 15.592.500,-. Seluruh kebutuhan dana untuk investasi tersebut berasal dari dana pengusaha sendiri. Hal ini berdasarkan fakta bahwa pada saat dilakukan penelitian di lapangan, tidak ada satupun pengusaha pengolahan ikan yang memperoleh kredit investasi dari lembaga keuangan.
Modal kerja para pengusaha pengolahan ini seluruhnya menggunakan dana sendiri. Hal ini ditetapkan berdasarkan kebutuhan dana awal untuk satu kali siklus produksi. Usaha pengolahan ikan mempunyai siklus produksi (dari pembuatan sampai memperoleh penerimaan dari penjualan) kurang lebih selama 52 minggu. Sehingga jumlah kredit modal kerja yang dibutuhkan adalah :
Kebutuhan modal kerja = (siklus produksi/52 minggu) x biaya operasional 1 tahun = (1/52) x Rp.792.095.160,- = Rp 15.532.599
Keterangan : siklus untuk modal kerja menjadi 52 minggu karena sistem pembayaran yang dilakukan pembeli dengan cara retur selama 2 sampai 3 hari.
Sumber dana untuk kebutuhan modal kerja tersebut sepenuhnya dibiayai dana yang berasal dari pengusaha itu sendiri.
Tabel 5. 4. Kebutuhan Dana Untuk Investasi dan Modal Kerja Rincian Biaya Proyek Total Biaya Dana investasi yang bersumber dari
a. Kredit 70.000.000
b. Dana sendiri 30.000.000 Jumlah dana investasi 100.000.000 Dana modal kerja awal yang bersumber
dari
a. Kredit 10.500.000
b. Dana sendiri 4.500.000 Jumlah dana modal kerja 15.000.000 Total dana proyek yang bersumber dari
a. Kredit 80.500.000
b. Dana sendiri 34.500.000 Jumlah dana proyek 115.000.000
5.6. Produksi dan Pendapatan
Produksi otak-otak dan kaki naga bersih per tahun yaitu 5.183.968 pcs/tahun. Dengan laba kotor sebesar Rp. 842.394.753,-. Rincian produksi otak-otak dan kaki naga dapat dilihat pada Tabel 5.5.
Tabel 5. 5 Produksi dan Pendapatan per tahun
No Uraian Satuan Jumlah Harga Nilai (Rp)
satuan
1 Produksi bersih per hari a. Otak-otak pcs 8.000 - Kemasan 1 bks 80 5.000 399.998 - Kemasan 2 bks 333 3.000 999.994 b. Kaki naga pcs 8.000 - Kemasan 3 bks 800 1.500 1.199.993 Jumlah 2.599.984 2
Produksi gagal (reject) per
hari*)
a. Otak-otak pcs 421 0 b. Kaki naga pcs 421 0
Jumlah 0
3 Penjualan Produk per tahun a. Produk bersih Rp 842.394.735 Jumlah penjualan Rp 842.394.735
Aspek Keuangan
5.7. Proyeksi Laba Rugi dan Break Event Point
Tingkat keuntungan atau profitabilitas dari usaha yang dilakukan merupakan bagian penting dalam analisis keuangan dari rencana kegiatan investasi. Keuntungan dihitung dari selisih antara penerimaan dan pengeluaran tiap tahunnya. Tabel 5.6, menunjukkan keuntungan (surplus) selama periode proyek.
Hasil perhitungan proyeksi laba rugi menunjukkan bahwa pada tahun pertama usaha ini telah untung sebesar Rp 16.143.795. Namun demikian laba ini mengalami kenaikan untuk tahun-tahun berikutnya yang dikarenakan pada tahun ke tiga dan tahun berikutnya tidak ada pembayaran bunya kredit. Namun demikian kenaikan pada pendapatan ini tidak terlalu besar. Sehingga tidak terlalu mempengaruhi tingkat laba penerimaan laba per-tahunnya. Laba rata-rata selama periode proyek adalah Rp 21.744.233 per tahun. Profit margin rata-rata per tahun sebesar 2,58 %.
Tabel 5. 6. Proyeksi Laba Rugi Usaha Otak-otak dan Kaki Naga
No Uraian T A H U N Rata-rata 1 2 3 4 5 1 Pendapatan 842.394.735 842.394.735 842.394.735 842.394.735 842.394.735 842.394.735 2 Biaya Operasional 792.095.160 792.095.160 792.095.160 792.095.160 792.095.160 792.095.160 3 Laba Kotor 50.299.575 50.299.575 50.299.575 50.299.575 50.299.575 50.299.575 5 Bunga Kredit 8.946.875 2.843.750 0 0 0 2.358.125
6 Laba setelah dipotong kredit 41.352.700 47.455.825 50.299.575 50.299.575 50.299.575 47.941.450
7 Biaya Penyusutan 22.360.000 22.360.000 22.360.000 22.360.000 22.360.000 22.360.000
8 Laba sebelum Pajak 18.992.700 25.095.825 27.939.575 27.939.575 27.939.575 25.581.450
9 Pajak 15% 2.848.905 3.764.374 4.190.936 4.190.936 4.190.936 3.837.218
Laba Bersih 16.143.795 21.331.451 23.748.639 23.748.639 23.748.639 21.744.233
Profit margin (%) 1,92 2,53 2,82 2,82 2,82 2,58
Dengan mempertimbangkan biaya tetap, biaya variabel dan hasil penjualan produk olahan ikan tersebut, dari hasil analisis diperoleh BEP rata-rata selama 5 tahun untuk usaha ini adalah sebesar Rp. 734.186.287. Proyeksi Break Event Point untuk usaha otak-otak dan kaki naga dapat dilihat pada tabel 5.7
Tabel 5. 7 Proyeksi Break Event Point
No Uraian
T A H U N
1 2 3 4 5
1 Hasil Penjualan Produk 842.394.735 842.394.735 842.394.735 842.394.735 842.394.735
2 Biaya Variabel Bahan Baku 388.800.000 388.800.000 388.800.000 388.800.000 388.800.000 Bahan Pembantu 212.680.080 212.680.080 212.680.080 212.680.080 212.680.080 Bahan Pendukung 54.600.480 54.600.480 54.600.480 54.600.480 54.600.480 Biaya Pemasaran 39.414.600 39.414.600 39.414.600 39.414.600 39.414.600 Pajak Keuntungan 2.848.905 3.764.374 4.190.936 4.190.936 4.190.936 Total Biaya Variabel 698.344.065 699.259.534 699.686.096 699.686.096 699.686.096
3 Biaya Tetap
Biaya Tenaga kerja Tetap 89.400.000 89.400.000 89.400.000 89.400.000 89.400.000
Biaya overhead pabrik
(BOP) 6.600.000 6.600.000 6.600.000 6.600.000 6.600.000
Biaya administrasi &
umum 600.000 600.000 600.000 600.000 600.000
Angsuran Pokok 20.000.000 20.000.000 0 0 0
Bunga Kredit 8.946.875 0 0 0 0
Total Biaya Tetap 125.546.875 116.600.000 96.600.000 96.600.000 96.600.000 BEP Nilai Penjualan (Rp) 734.186.287 686.226.905 570.220.080 570.220.080 570.220.080
BEP Jumlah Penjualan
(pcs) 142 132 110
110 110
BEP Persentase Penjualan
(%) 87,15 81,46 67,69 67,69 67,69 BEP Rp/pcs berdasarkan : - Biaya Operasional 153 153 153 153 153 - Biaya Total 159 157 154 154 154 BEP Rata-rata 1 Nilai penjualan (Rp) 626.214.686 2 Jumlah Penjualan (kg) 121 3 Persentase Penjualan (%) 74,34 4 Rp/kg berdasarkan : - Biaya Variabel 153 - Biaya Total 155
5.8. Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek
Berdasarkan analisis arus kas, dilakukan perhitungan B/C ratio, Net B/C ratio, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Pay Back Period (PBP). Sebuah usaha berdasarkan kriteria investasi di atas dikatakan layak jika B/C ratio atau Net B/C ratio > 1, NPV > 0 dan IRR > discount rate.
Aspek Keuangan
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa usaha produk pengolahan ikan layak dilaksanakan, bahkan menguntungkan, karena pada tingkat suku bunga (discount rate) 15% per tahun, net B/C ratio sebesar 1,47 (> 1) dan NPV sebesar Rp 54.146.184,- (> 0). Dengan nilai IRR 32,24 % (> discount rate), artinya : proyek ini layak dilaksanakan meskipun tingkat suku bunga (discount rate) mencapai 32,24 % per tahun.
Tabel 5. 8 Kelayakan Usaha produk pengolahan Fillet Ikan
No Kriteria Kelayakan Nilai 1 Net B/C ratio pada DF 10 % 1,47 2 NPV pada DF 10 % (Rp) 54.146.184
3 IRR (%) 32,24%
4 PBP (usaha) 3,34 tahun
Sumber : Lampiran 7
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan seluruh biaya investasi usaha (PBP usaha) adalah 3,34 tahun. Dengan demikian usaha ini layak dilaksanakan karena jangka waktu pengembalian investasi lebih pendek dari periode proyek.
5.9. Analisis Sensitivitas Kelayakan Usaha
Dalam analisis proyek investasi usaha pengolahan ikan berbasis fillet ini tentulah terdapat ketidakpastian yang akan mempengaruhi hasil perhitungan. Analisis sensitivitas akan dilakukan untuk menguji seberapa jauh proyek yang dilaksanakan sensitif terhadap perubahan jumlah dan harga-harga input dan output. Dalam analisis sensitivitas ini digunakan 3 skenario, yaitu :
1. Skenario I
Pendapatan proyek mengalami penurunan sedangkan biaya investasi dan biaya operasional dianggap tetap. Penurunan pendapatan bisa diakibatkan oleh penurunan harga otak-otak maupun kaki naga, jumlah permintaan yang menurun ataupun jumlah produksi yang menurun. Hasil analisis sensitivitas disajikan dalam Tabel berikut:
Tabel 5. 9 Hasil Analisis Sensitivitas Skenario I No Kriteria Kelayakan Pendapatan Turun 1.75% 1 Net B/C ratio pada DF 15 % 1,04 2 NPV pada DF 15 % (Rp) 4.729.022 3 IRR (%) 16,57% 4 PBP (usaha) 4,84 tahun
No Kriteria Kelayakan
Pendapatan Turun 3% 1 Net B/C ratio pada DF 15 % 0,74 2 NPV pada DF 15 % (Rp) -30.568.950
3 IRR (%) 4,44
4 PBP (usaha) > 5 tahun
Sumber : Lampiran 9
2. Skenario II
Biaya operasional mengalami kenaikan sedangkan biaya investasi dan penerimaan proyek investasi tetap. Kenaikan biaya operasional bisa terjadi akibat kenaikan harga input untuk operasional; seperti bahan baku, peralatan operasional, dll.
Hasil analisis sensitivitas disajikan dalam Tabel berikut :
Tabel 5. 10. Hasil Analisis Sensitivitas Skenario II No Kriteria Kelayakan Biaya Operasional
Naik 1.75 % 1 Net B/C ratio pada DF 15 % 1,06 2 NPV pada DF 15 % (Rp) 6.852.085
3 IRR (%) 17,27
4 PBP (usaha) 3,65 tahun No Kriteria Kelayakan Biaya Operasional
Naik 2 % 1 Net B/C ratio pada DF 15 % 0,76 2 NPV pada DF 15 % (Rp) -27.974.202 3 IRR (%) 5,37 4 PBP (usaha) > 5 tahun Sumber : Lampiran 10
3. Skenario III
Skenario ini merupakan gabungan dari skenario I dan skenario II, yaitu : diasumsikan penerimaan proyek mengalami penurunan dan biaya operasional mengalami kenaikan, sedangkan biaya investasi tetap.
Hasil analisis sensitivitas disajikan dalam Tabel berikut
Tabel 5. 11. Hasil Analisis Sensitivitas Skenario III
No Kriteria Kelayakan Pendapatan turun 0.9% dan Biaya Operasional Naik 0.9% 1 Net B/C ratio pada DF 10 % 1,04
2 NPV pada DF 10 % (Rp) 4.617.585
3 IRR (%) 16,53
Aspek Keuangan
No Kriteria Kelayakan Pendapatan turun 1.5% dan Biaya Operasional Naik 1.5% 1 Net B/C ratio pada DF 10 % 0,75
2 NPV pada DF 10 % (Rp) -28.646.294
3 IRR (%) 5,13
4 PBP (usaha) > 5 tahun Sumber : Lampiran 11
BAB VI
ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN DAMPAK LINGKUNGAN
6.1. Aspek Ekonomi dan Sosial
Dari aspek ekonomi usaha ini memberikan keuntungan dengan jumlah permintaan rata-rata 8.000 pcs/hari dan maksimum dapat mencapai 50.000 pcs/hari. Dengan permintaan sebanyak 8.000 pcs/hari otak-otak dan 8.000 pcs/hari kaki naga, usaha ini dapat memberikan keuntungan bersih rata sebesar Rp 21.744.233,-per/tahun. Sedangkan jumlah permintaan tiap tahunnya terus bertambah, sehingga secara ekonomi usaha ini menguntungkan.
Dari aspek sosial usaha ini dapat menyerap tenaga kerja minimal dapat terserap sebanyak 8 orang dengan gaji sebesar Rp. 975.000,-. Dan kapasitas produksi kotor yang dihasilkan sebanyak 8.421 pcs/hari. Usaha ini dapat menyerap tenaga kerja yang berada sekitar TPI (Tempat Pelelangan Ikan), sehingga dapat memajukan ekonomi masyarakat sekitar pantai diantaranya para nelayan.
6.2. Aspek Lingkungan
Mengenai pengaruhnya terhadap lingkungan, usaha ini dinilai tidak terlalu berbahaya terhadap lingkungan sekitar. Disamping karena limbah yang dihasilkan tidak terlalu banyak. Limbah yang biasa di hasilkan oleh usaha ini adalah air kotor sisa perebusan ataupun pencucian yang secara langsung dialirkan ke laut. Kalaupun ada yang berbentuk padat. Sedangkan untuk limbah minyak bekas penggorengan sudah ada yang menampung untuk disuling kembali kemudian dijual. Sedangkan untuk limbah produk berupa otak-otak yang reject atau tidak terjual sehingga kadaluarsa maka dibuang ke tempat sampah.
Aspek Ekonomi, Sosial dan Dampak Lingkungan
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
a. Usaha pengolahan otak-otak dan kaki naga di Wilayah DKI Jakarta, tepatnya di Muara Angke dan Muara Baru Jakarta Utara belum dikembangkan menjadi sektor usaha andalan, mengingat usaha tersebut dapat menyerap tenaga kerja yang cukup banyak.
b. Sebagian besar usaha pengolahan ikan otak-otak dan kaki naga masuk dalam kategori usaha kecil dan menengah dan merupakan usaha perorangan yang perlu mendapatkan perhatian dari dunia perbankan untuk mengembangkan usahanya.
c. Usaha pembuatan otak-otak dan kaki naga dapat menghasilkan limbah yang berbau kurang sedap bila tidak ditangani dengan baik, sehingga perlu penanganan yang baik dengan sumber air bersih yang cukup agar senantiasa kebersihan terjaga.
d. Berdasarkan analisis kelayakan finansial terhadap usaha pembuatan otak-otak dan kaki naga pada tingkat suku bunga (discount rate) 15% per tahun, diperoleh hasil net B/C ratio sebesar 1,47 (> 1) dan NPV sebesar Rp 54.146.184 (> 0). Dengan nilai IRR 32,24% (> discount rate), yang berarti usaha pengolahan pembuatan otak-otak dan kaki naga layak dilaksanakan, meskipun tingkat suku bunga (discount rate) mencapai 32,24 % per tahun.
e. Analisis sensitivitas terhadap perubahan penerimaan menunjukkan bahwa proyek ini sensitif terhadap penurunan pendapatan di atas 2% dan kenaikan biaya operasional di atas 2%. Analisis sensitivitas terhadap perubahan pendapatan sekaligus kenaikan biaya operasional menunjukkan bahwa proyek ini sensitif terhadap penurunan pendapatan sekaligus kenaikan biaya operasional masing-masing sebesar 1% dan 1%.
7.2. Saran
a. Untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu produk yang dihasilkan, maka pengusaha perlu memperbaiki teknik produksi, teknologi, serta memperhatikan sanitasi dan higienis.
b. Untuk mengatasi masalah kurang tercukupinya bahan baku fillet ikan untuk pembuatan otak-otak dan kaki naga, dapat juga dikembangkan kemungkinan penggunaan jenis ikan lain, termasuk bahan baku berupa ikan air tawar seperti ikan nila, ikan sapu-sapu dll.
c. Secara finansial proyek ini layak dibiayai, namun bank masih perlu melakukan analisis kredit yang lebih komprehensif berdasarkan prinsip kehati-hatian.
Kesimpulan dan Saran
DAFTAR PUSTAKA
Maghfiroh, I. 2000. Pengaruh Pemakaian Bahan Pengikat terhadap Karakteristik Nugget dari Ikan Patin (Pangasius hipothalmus). Skripsi. Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.
Suzuki, T. 1981. Fish and Krill Protein : Procesing Technology. Applied Science Publisher Ltd., London.
Surnesih. 2003. Pengembangan Diversifikasi Produk Tradisional Otak-otak dari Ikan Sapu-Sapu (Hyposaraus pardalis). Skripsi. Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor
Daftar Pustaka
LAMPIRAN
Lampiran 1. Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan Usaha
No Asumsi Satuan Jumlah/ Keterangan
Nilai
1 Periode proyek Tahun 5
2 Hari kerja
a. Per bln Hari 27
b. Bulan per thnPer bulan hari 12
c. HK Per tahun hari 324
3 Skala Produksi
Proses produksi
setiap hari
a. Produksi kotor per hari berat per pcs 50 gr
1. Otak otak pcs 8.421 160 kg
2. Kaki naga pcs 8.421 160 kg
b. Produk gagal (reject) % 5%
- Jumlah otak otak pcs 421
- Jumlah kaki naga pcs 421
c. Produksi bersih per hari
1. Otak otak pcs 8.000
2. Kaki naga pcs 8.000
4 Penjualan produk
a. Kemasan otak otak per hari :
1. Kemasan 1 : bentuk bulat pcs/bks 50 2. Kemasan 2 : bentuk panjang pcs/bks 12 3. Komposisi produk (1) dan (2) % 50%
b. Kemasan kaki naga per hari :
1. Kemasan 3 pcs/bks 10
c. Penjualan produk per hari
1. Kemasan 1 bks 80 2. Kemasan 2 bks 333 3. Kemasan 3 bks 800 5 Harga produk a. Otak otak 1. Kemasan 1 Rp/bks 5.000 Rp.100,-/pcs 2. Kemasan 2 Rp/bks 3.000 Rp. 250,-/pcs b. Kaki naga 1. Kemasan 3 Rp/bks 1.500 Rp. 150,-/pcs 6 Harga produk a. Otak otak Rp/pcs 100 b. Kaki naga Rp/pcs 150
7 Bahan baku ikan kuniran fillet
a. Utk otak otak kg/hr 100
b. Utk kaki naga kg/hr 100
c. Komposisi bhn baku (a) dan (b) % 50
8 Harga bahan baku Rp/kg 6.000
Lampiran
Lampiran 2. Biaya Investasi Usaha
No Jenis Biaya Satuan Jml Harga/ Nilai Umur Penyusutan/ Reinvest Nilai Sisa
satuan Rp ekon (Thn) thn Rp Rp
1 Perijinan
• SIUP 1 300.000 300.000
• SITU 1 300.000 300.000
• Izin Usaha Industri 1 300.000 300.000
• Wajib Daftar Perusahaan 1 300.000 300.000
• Izin Depkes 1 300.000 300.000 5
• NPWP 1 250.000 250.000
• SPH 1 250.000 250.000
Sub jumlah 2.000.000
2 Sewa tanah dan bangunan m2 200 50.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000
3 Mesin/Peralatan Produksi
• Mesin giling (Grinder) unit 1 2.500.000 2.500.000 5 500.000 500.000
• Food processor unit 1 5.000.000 5.000.000 5 1.000.000 1.000.000
• Blender Unit 2 500.000 1.000.000 5 200.000 200.000
• Sealer unit 2 400.000 800.000 5 160.000 0
• Meja Penirisan unit 2 500.000 1.000.000 5 200.000 200.000
• Penggorengan unit 4 300.000 1.200.000 5 240.000 0
• Baskom ukuran besar unit 4 65.000 260.000 5 520.000 0
• Ayakan unit 5 10.000 50.000 5 100.000 0
• Garpu pres/sendok set 1 50.000 50.000 5 10.000 0
• Pisau set 2 5.000 10.000 5 20.000 0
• Talenan unit 5 5.000 25.000 selamanya 50.000 0
• Rak Penyimpanan unit 2 200.000 400.000 5 800.000 0
Sub jumlah 12.295.000 3.800.000
4 Peralatan lain
a. Timbangan 25 kg unit 1 300.000 300.000 5 60.000 100.000
b. Tabung gas (12.5 kg/tab) unit 4 250.000 1.000.000 10 1.000.000 1.000.000
Sub jumlah 1.300.000 1.060.000
5 Prasarana Pemasaran
. Mobil Bak tertutup unit 1 75.000.000 75.000.000 10 7.500.000 25.000.000
Lampiran 3. Rekap Jumlah Biaya Investasi
No Jenis Biaya Nilai Penyusutan 1 Perijinan 2.000.000 2
Sewa Tanah dan
Bangunan 10.000.000 10.000.000 3 Mesin/Peralatan Produksi 12.295.000 3.800.000 4 Peralatan lain 1.300.000 1.060.000 5 Prasarana pemasaran 75.000.000 7.500.000 Jumlah Biaya Investasi 100.595.000 22.360.000 Jml biaya investasi dibulatkan 100.000.000 6 Sumber Dana Investasi dari % Rp Kredit 70% 70.000.000 Dana Sendiri 30% 30.000.000
Lampiran
Lampiran 4. Biaya Operasional Usaha
No Jenis Biaya Satuan Jumlah/ Jumlah Harga/ Nilai/
satuan 1 thn satuan thn (Rp)
A Biaya Variabel
1 Bahan baku fillet ikan kuniran
- Pembuatan otak-otak kg/hari 100 32.400 6.000 194.400.000 - Pembuatan kaki naga kg/hari 100 32.400 6.000 194.400.000
Sub-sub total 388.800.000 2 Bahan Pembantu/bumbu a, Pembuatan Otak-otak Tepung Tapioka kg 20,0 6.480 6.000 38.880.000 Garam kg 2,5 810 2.200 1.782.000 Gula Pasir kg 6,0 1.944 6.000 11.664.000 Bawang Merah kg 1,0 324 6.500 2.106.000 Bawang Putih kg 3,0 972 8.000 7.776.000 Merica/lada kg 1,0 324 80.000 25.920.000
Kelapa untuk santan butir 50,0 16.200 1.500 24.300.000
Telur kg 3,3 1.069 8.200 8.767.440
Sub-sub total 121.195.440
b. Pembuatan kaki naga
Tepung terigu kg 20,0 6.480 5.000 32.400.000 Maizena kg 10,0 3.240 5.000 16.200.000 Susu liter 1,0 324 8.000 2.592.000 Bawang Bombay kg 2,0 648 6.000 3.888.000 Tepung Roti kg 2,0 648 10.000 6.480.000 Garam kg 1,5 486 2.200 1.069.200 Gula Pasir kg 1,0 324 6.000 1.944.000 Bawang Putih kg 3,0 972 8.000 7.776.000 Merica/lada kg 0,4 130 80.000 10.368.000 Telur kg 3,3 1.069 8.200 8.767.440 Sub-sub total 91.484.640 3 Bahan Pendukung
- Tabung Gas (utk 4 penggorengan)*) Tabung/hr 4,0 648 55.000 35.640.000
- Bensin liter/hr 0,5 162 4.500 729.000
- Es Balok Balok/hr 5,0 1.620 8.000 12.960.000
- Sabun Balok/hr 0,3 107 1.000 106.920
- Tusuk Bambu Kaki Naga set/hr 10,0 3.240 1.000 3.240.000 - Kantong plastik kemasan Kg/hr 0,3 107 18.000 1.924.560
Sub-sub total 54.600.480
4 Biaya Pemasaran
• Biaya cetak label lembar/hr 333 107.892 50 5.394.600 • Biaya Transportasi (motor dan mobil) Rp/hr 105.000 34.020.000 34.020.000
No Jenis Biaya Satuan Jumlah/ Jumlah Harga/ Nilai/
satuan 1 thn satuan thn (Rp)
B Biaya Tetap 39.414.600
1 Biaya Tenaga Kerja
• Pimpinan Orang 1 12 1.100.000 13.200.000
• Tenaga kerja manajer Orang 2 12 500.000 12.000.000 • Tenaga kerja produksi Orang 8 12 450.000 43.200.000 • Biaya Makan Tenaga Kerja Orang 10 12 175.000 21.000.000
Sub-sub total 89.400.000
Biaya listrik Rp/Bulan 300.000 12 3.600.000
Biaya telepon Rp/Bulan 150.000 12 1.800.000
Biaya Pemeliharaan Rp/Bulan 100.000 12 1.200.000
Sub total 6.600.000
2 Biaya administrasi & umum Rp/Bulan 50.000 12 600.000
Sub total 600.000
Total Biaya Operasional 792.095.160