• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI KEBIJAKAN WAJIB TANAM LIMA PERSEN BAGI IMPORTIR BAWANG PUTIH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EVALUASI KEBIJAKAN WAJIB TANAM LIMA PERSEN BAGI IMPORTIR BAWANG PUTIH"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

i

LAPORAN ANALISIS KEBIJAKAN

EVALUASI KEBIJAKAN WAJIB TANAM LIMA PERSEN

BAGI IMPORTIR BAWANG PUTIH

Tim Peneliti: Bambang Sayaka Dewa K.S. Swastika Yonas Hangga Saputra

PUSAT SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN

SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN PERTANIAN

(2)

i KATA PENGANTAR

Program swasembada bawang putih yang dicanangkan oleh Kementerian

Pertanian akan dicapai tahun 2021. Berbagai program ditempuh antara lain bantaun sarana produksi usahatani bawang putih melalui program APBN-P 2017 dan APBN 2018. Program ini masih akan diteruskan pada tahun 2019 di berbagai kabupaten/kota yang layak untuk usahatani bawang putih.

Wajib tanam bagi importir bawang putih sebanyak 5% dari pengajuan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) diatur oleh Menteri Pertanian melalui Permentan No. 38/2017 yang kemuidan diubah menjadi Permentan No. 24/2018. Importir bawang putih diwajibkan menanam dan menghasilkan 5 persen dari volume impor dengan cara bermitra dengan petani bawang putih di dalam negeri yang harus dipenuhi setahun setelah persetujuan RIPH.

Upaya peningkatan luas tanam melalui Program APBN dan wajib tanam bagi importer bawang putih menghadapi berbagai hambatan, antara lain ketersediaan benih bersertifkat dan berkualitas. Jumlah benih bawang putih yang memenuhi syarat untuk menambah luas tanam tidak tersedia dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Petani belum sepenuhnya bersedia menanam bawang putih di lahan yang cocok karena umur panen yang cukup lama (4 bulan) dan harga jual bawang putih kurang bersaing disbanding komditas sayuran lainnya.

Penelitian ini dilakukan di tiga provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tim Peneliti mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu selama penelitian berlangsung hingga penulisan laporan penelitian.

Bogor, Desember 2018 Kepala Pusat, Dr. Ir. Abdul Basit, MS NIP 196109291986031003

(3)

ii LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul RPTP/RDHP/RKTM : Evaluasi Kebijakan Wajib Tanam Lima Persen Bagi Importir Bawang Putih 2. Unit Kerja : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan

Pertanian

3. Alamat Unit Kerja : Kampus Pertanian Jl. Tentara Pelajar No. 3B Cimanggu, Bogor

4. Sumber Dana : DIPA 2018

5. Status Penelitian (L/B) : B 6. Penanggung Jawab :

a. Nama : Dr. Bambang Sayaka

b. Pangkat/Golongan : IV/d

c. Jabatan : Peneliti Ahli Utama

7. Lokasi : Jawa

8. Agroekosistem : Lahan kering

9. Tahun Mulai : 2018

10. Tahun Selesai : 2018

11. Output Tahunan : Rekomendasi kebijakan

12. Output Akhir : Rekomendasi kebijakan

13. Biaya : Rp 55.860.000,-

Kepala Bidang Progam dan Penanggung Jawab

Evaluasi RPTP/RDHP/RKTM

Dr. Ir. Sumedi, MS Dr. Bambang Sayaka

NIP 19730203 199903 1002 NIP 19640430 198903 1001

Mengetahui, Kepala Unit Kerja

Dr. Ir. Abdul Basit, MS NIP 196109291986031003

(4)

iii RINGKASAN EKSEKUTIF

PENDAHULUAN Latar Belakang

1. Kebutuhan bawang putih nasional terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk. Luas panen dan produksi bawang putih terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1995 luas panen bawang putih adalah 21.896 ha dengan produksi 152 ribu ton. Pada tahun 2017 luas tanam panen bawang putih tinggal 2.143 ha dengan produksi sekitar 19.000 ton. Untuk memenuhi permintaan bawang putih dilakukan impor hingga 95% dari kebutuhan nasional atau 580.000 ton pada tahun 2018.

2. Kementerian Pertanian mendorong petani menanam bawang putih melalui program APBN sejak 2015. Disamping itu untuk menekan impor bawang putih, Kementerian Pertanian menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) melalui Permentan No. 38/2017 yang diubah menjadi Permentan No. 24/2018. Importir bawang putih diwajibkan menanam dan menghasilkan 5% dari volume impor melalui kemitraan dengan petani bawang putih di dalam negeri. Dinas Pertanian diperkuat fungsinya dalam mendukung wajib tanam bagi importir bawang putih. Ada sangsi bagi importir bawang putih jika tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut. Walaupun demikian pencapaian wajib tanam oleh importir jauh dari yang diharapkan karena berbagai kendala.

Tujuan

3. Kajian ini dilakukan untuk mengevaluasi kebijakan wajib tanam lima persen bagi importir bawang putih. Secara khusus tujuan kajian ini adalah: (a) Mendeskripsikan perdagangan bawang putih di tingkat internasional; (b) Mengevaluasi sertifikasi benih bawang putih oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB TPH); (c) Mengkaji rencana dan realisasi wajib tanam oleh importir; (d) Mengidentifikasi peluang dan tantangan wajib tanam bawang putih; dan (e) Menganilisis minat petani dalam pengembangan bawang putih

METODOLOGI

4. Penelitian dilakukan di Jawa Timur (Surabaya dan Kabupaten Malang), Jawa Tengah (Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung), dan Jawa Barat (Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Cianjur). Data primer dikumpulkan dari BPSB, importir, kelompok tani, staf Dinas Pertanian Kabupaten, dan produsen benih. Data sekunder diperoleh dari Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat (Direktorat Jenderal Hortikultura), BPSB, dan Dinas Pertanian Kabupaten.

(5)

iv HASIL PENELITIAN

Perdagangan Internasional Bawang Putih

5. Produksi bawang putih dunia rata-rata selama periode 2006-2016 adalah 22,9 juta ton. Produsen bawang putih terbesar adalah Cina, yaitu 79,7% dari produksi dunia, diikuti oleh India (4,7%), Korea Selatan (1,4%), dan Rusia (1,0%). Indonesia memiliki pangsa produksi 0,07%.

6. Volume ekspor bawang putih dunia relatif kecil, yaitu 1,87 juta ton per tahun atau hanya sekitar 8% dari produksi global. Cina mendominasi ekspor bawang putih global, yaitu 81,7% diikuti oleh Spanyol 8,7%, Argentina 4,1%, dan Belanda 1,6%.

7. Indonesia merupakan importir terbesar umbi bawang putih, yaitu 24,6% dari impor global, diikuti oleh Brasil 9,6%, Vietnam 8,6%, dan Malaysia 7,7%. Pada tahun 2018 Indonesia impor bawang putih sebanyak 581.000 ton bernilai hampir 494 juta dolar.

Sertifikasi Benih Bawang Putih

8. Berdasarkan Kepmentan No. 15/2018, sertifikasi benih bawang putih dilakukan melalui empat cara. Pertama, sertifikasi produksi benih yang dihasilkan oleh produsen benih. Kedua, pemurnian varietas yang berasal dari umbi konsumsi namun ada surat pernyataan dari breeder/pemulia/ DinasPertanian setempat bahwa varietas tersebut varietas lokal. Pemurnian ada 2 macam: (a) pemurnian yang menghasilkan benih sumber dengan luas maksimal 0,1 ha; (b) pemurnian untuk menghasilkan benih sebar yang luasnya maksimal 1 ha. Ketiga, pemeriksaan umbi di gudang atau Tidak Diperiksa Lapang (TDL) yaitu calon benih di gudang diperiksa umbi dan disertifikasi serta harus ada surat keterangan bahwa benih tersebut asal usulnya jelas. Keempat, labeling yaitu umbi diperiksa dan diberi label Relabeling benih bawang putih impor dilakukan melalui pemeriksaan umbi dengan dasar surat ijin pemasukan dari Kementerian Pertanian dan telah lolos atau diberi izin dari Badan Karantina, Kementerian Pertanian.

9. Sertifikasi benih bawang putih oleh BPSB menghadapi berbagai kendala. UPT PSB Jawa Timur mengalami beberapa masalah berikut: (i) produsen penerima rekomendasi dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur tidak melaporkan secara tertulis realisasi pemasukan dan penggunaan benihnya secara terperinci; (ii) penggunaan benih bawang putih secara lengkap terperinci dalam rangka RIPH di Jawa Timur tidak dapat dimonitor karena tidak ada laporan penggunaan benih beserta penanaman; (iii) Permentan Nomor 17 Tahun 2018 Pasal 15 butir (d) berkaitan rekomendasi dari Dinas Provinsi atau Dinas Kabupaten dirasa kurang tepat karena ada yang ditolak permohonan di Dinas Provinsi tetapi bisa terbit rekomendasi di tingkat Dinas Kabupaten; (iv) Perlunya masa berlaku benih

(6)

v

bawang putih baik dalam rangka sertifikasi maupun pelabelan ulang benih impor.

10. Masalah lain dalam sertifikasi benih bawang putih di BPSB wilayah Kedu, Jawa Tengah adalah: (i) sumber benih belum tersedia, (ii) gudang benih belum ada, (iii) produsen benih masih kurang kesadaran untuk mengajukan sertifikasi, (iv) penangkar belum punya surat kompetensi sebagai produsen benih, dan (v) produsen kurang aktif dan tidak terbiasa urusan administrasi. 11. BPSB menghadapi kendala dalam pengawasan benih yang digunakan oleh

petani. Pada awal tahun 2018 terjadi kasus benih bersertifikat tetapi tidak tumbuh baik setelah ditanam oleh petani yang bermitra dengan importir. Hal ini karena sertifikat tidak sesuai dengan kualitas dan varietas benih.

12. Volume benih yang disertifikasi oleh BPSB masih relatif sedikit dibandingkan dengan kebutuhan yang ada, baik untuk wajib tanam maupun program APBN. Sertifikasi di UPT PSB Jawa Timur sebanyak 3.690 kg benih sebar yang terdiri dari varietas Lumbu Kuning (2.150 kg) dan varietas Lumbu Hijau (1.540 kg). Tahun 2018 benih kelas BR yang disertifikasi sebanyak 90.025 kg yang terdiri dari varietas Lumbu Hijau 48.385 kg dan varietas Lumbu Kuning sebanyak 4.160 kg. Pemberian rekomendasi impor benih bawang putih sebanyak 104.000 kg tetapi bermasalah, yaitu sebagian direlokasi ke Sulawesi Utara, sebagian tidak ada laporan realisasi, dan sebagian lagi rusak sebanyak 80%. Pleabelan ulang benih bawang putih sebanyak 1.007,435 dengan rincian dikirim ke Temanggung (619,310 kg) dan ke Cirebon (388,125 kg).

13. BPSB Jawa Tengah Wilayah Kedu (Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung) selama beberapa tahun terakhir telah melakukan sertifikasi benih bawang putih sebanyak 543,33 ton. Varietas benih bawang putih yang disertifikasi meliputi Lumbu Kuning, Lumbu Hijau, dan Tawang Mangu Baru. Di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Kedu pada tahun 2017 seluas 7,3 ha tanaman bawang putih menggunakan benih bersertifikat dan tahun 2018 bertambah menjadi 221,47 ha. Sertfikasi TDL di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung pada tahun 2018 masing-masing sebanyak 77,4 ton dan 465,9 ton.

14. Realisasi sertifikasi bawang putih oleh BPSB Jawa Barat untuk musim tanam 2017/2018 tercatat 18.050 kg. Benih bawang putih tersebut terdiri dari varietas Lumbu Hijau yang disertifikasi TDL (550 kg), varietas Sangga Sembalun kelas BR (10.000 kg) dan TDL (7.500 kg). Pada tahun 2018 usulan pemurnian bawang putih oleh BPTP Jawa Barat dan Balitsa seluas 2,68 ha sebanyak 12 petak. Rincian pemurnia varietas tersbut adalah pengajuan oleh BPTP Jawa Barat yang ditanam di Kabupaten Sukabumi meluputi 5 varietas, yaitu (i) Sangga Sembalun (0,013 ha), Tawangmangu Baru (0,013 ha), Lumbu Putih (0,025 ha), Lumbu Kuning (0,019 ha) dan Lumbu Hijau (0,025 ha). Pemurnian di kabupaten Cianjur oleh BPTP Jawa Barat meliputi 5

(7)

vi

varietas, yaitu Sangga Sembalun, Tawangmangu Baru, dan Lumbu Putih masing-masing 0,113 ha, Lumbu Kuning 0,094 ha, dan Lumbu Hijau 0,150 ha. Balitsa melakukan pemurnian di Kabupaten Bandung Barat untuk varietas Lumbu Putih seluas 2,0 ha.

Rencana dan Realisasi Wajib Tanam Lima Persen oleh Importir

15. Berdasarkan Permentan No. 38/2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dinyatakan bahwa pelaku usaha yang melakukan impor bawang putih wajib melakukan pengembangan penanaman bawang putih di dalam negeri. Penanaman bawang putih tersebut dilakukan sendiri maupun bekerja sama dengan kelompok tani. Disarankan penanaman bawang putih dilakukan pada lahan baru dan penanaman dilakukan paling lama 1 tahun setelah impor dilakukan. Importir akan dipertimbangkan untuk mendapatkan RIPH berikutnya jika telah menyerahkan perjanjian kerjasama dan rencana tanam. Luas tanam bawang putih oleh importir adalah 5% dari volume yang diajukan dalam RIPH selama satu tahun. Rata-rata hasil usahatani bawang putih adalah 6 ton/ha umbi kering konsumsi. Importir wajib melampirkan realisasi tanam dan produksi bawang putih untuk pengajuan RIPH berikutnya. Permentan No.24/2018 adalah perubahan Permentan No. 38/2017 tentang RIPH. Fungsi Dinas Pertanian dalam pendampingan wajib tanam dan wajib menghasilkan bawang putih adalah menjamin ketersediaan lahan, akses benih, dan calon petani. Pelanggaran oleh importir bawang putih kewajiban akan mendapat sangsi, antara lain penghentian RIPH untuk importir selama 1-2 tahun, pengusulan pengurangan volume impor ke Kementerian Perdagangan, dan penarikan produk hortikultura dari pasar. 16. Hingga tanggal 7 September 2018 Kementerian Pertanian sudah

menerbitkan 149 RIPH sebanyak 1.692.507 ton. Dari volume impor tersebut, importir harus menanam bawang putih seluas 13.854 ha, terdiri dari 8.335 ha pada tahun 2018 dan 5.519 ha untuk tahun 2019. Realisasi wajib tanam hingga September 2018 untuk RIPH 2017 adalah 1.361 ha (16,3%) dan RIPH 2018 seluas 870 ha (17,0%) atau total 2.231 ha (16,1%). Informasi terakhir bahwa hingga akhir Desember 2018 wajib tanam RIPH 2017 adalah 8.335 ha dan RIPH 2018 seluas 7.665 ha. Realisasi wajib tanam RIPH 2017 sebanyak 35,5% (2.960,6 ha) dan RIP 2018 mencapai 26,3% (2.013,8 ha) atau total wajib tanam RIPH 2017 dan 2018 sebanyak 31,1% (4.974,4 ha). 17. Wajib tanam di beberapa daerah juga tidak sesuai dengan rencana. Masalah

yang banyak dijumpai adalah benih yang ditanam oleh petani tumbuh baik tetapi hingga umur lima bulan tidak berumbi. Masalah lain adalah benih yang akan ditanam petani bsebagian busuk atau tidak tumbuh dan sebagian lagi tidak tumbuh dengan baik karena kualitas yang tidak memadai. Wajib tanam bagi importir bawang putih menimbulkan pelanggaran (moral hazard) yang dilakukan oleh oknum importir maupun okunum Dinas Pertanian setempat. Pelanggaran yang terjadi pemberian benih tidak berkualitas kepada petani berasal dari impor maupun benih lokal. Oknum Dinas Pertanian secara tidak-hati menunjuk kelompok tani untuk bermitra dengan importir dengan mmberikan benih tidak berkualitas dan tanpa pendampingan yang memadai.

(8)

vii

Ada kasus menunjukkan bahwa importir menyerahkan sepenuhnya kepada Oknum Dinas Pertanian untuk bermitra dengan kelompok tani dna tidak pernah menemui kelompok tani tersebut.

18. Skema bagi hasil antara kelompok tani dengan importir beragam. Importir menyediakan benih sekitar 400-600 kg per hektar untuk ditanam petani dan memberi bantuan saprodi bernilai sekitar Rp 1,5 juta per hekatar. Kewajiban petani adalah menegmbalikan benih yang diberikan oleh importir dan hasil selebihnya dibagi antara importir dengan kelompk tani dengan perbandingan 20:80, 25:75, 30:70 atau 40:60. Bahkan ada importir yang tidak minta bagi hasil sama sekali kepada petani. Sebagian importir menugaskan pegawainya untuk mengawal wajib tanam hingga panen bawang putih. Ada juga importir yang menyewa lahan petani dan menanam sendiri bawang putih sendiri dengan mendatangkan tenaga kerja dari daerah lain yang sudah biasa menanam bawang putih.

19. Dinas Pertanian yang harus membantu importir untuk bermitra dengan petani juga melaksanakan program produksi bawang putih dengan dana APBN. Data dari BBSDL menyebutkan bahwa terdapat lahan seluas 725.027 ha yang sesuai untuk menanam bawang putih tersebar di 50 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Pada tahun 2018 pengembangan bawang putih dengan dana APBN dilaksanakan di 23 kabupaten dengan luas 5.949 ha. Dengan terbatasnya petani yang bersedia menanam bawang putih dan lahan yang siap diolah dan ditanami bawang putih program APBN, Dinas Pertanian memiliki tugas tambahan yaitu memfasilitasi wajib tanam bagi importir. Pada taraf tertentu Dinas Pertanian lebih mengutamakan pelaksanaaan program APBN.

Peluang dan Tantangan Wajib Tanam

20. Wajib tanam oleh importir akan meningkatkan produksi bawang putih jika berhasil. Hal ini akan menjadi peluang bagi importir untuk memasarkan bawang putih lokal jika produksi dalam negeri semakin meningkat dan impor semakin sedikit. Juga aka nada peluang mengekspor dalam bentuk umbi kering atau olahan jika produksi dalam negeri melebihi kebutuhan nasional. 21. Tantangan saat ini bagi importir dalam menanam bawang putih relatif

banyak. Ketersediaan benih yang berkualitas dan siap tanam menjadi hambatan bagi importir. Bneih yang ada relatif sedikit, biasanya disertifikasi secara TDL dan kurang bagus kualitasnya khususnya banyak varietas campuran. Program pemurnian untuk menghasilkan benih sumber maupun benih sebar masih sangat terbatas. Persaingan dengan tanaman sayuran lain yang lebih mudah menanam dan memasarkannya merupakan tantangn tersendiri bagi petani untuk bermitra dengan importir. Persaingan antar importir dalam wajib tanam dengan memberi bagian haisl lebih banyak kepada petani atau bahkan memberikan hibah juga merupakan hambatan bagi importir dalam melaksanakan wajib tanam. Banyak lahan yang sesuai

(9)

viii

untuk menanam banwag putih tetapi biaya pembukaan lahan sebelum ditanami sangat mahal dan bis amencapai Rp 10 juta per hektar.

Minat Petani dalam Pengembangan Bawang Putih

22. Petani berminat menanam bawang putih selama hasilnya mudah dipasarkan dan menguntungkan. Bawang putih cukup lama (4 bulan) baru dapat dipanen atau lebih lama dibanding tanaman sayuran lainnya seperti bawang merah, cabai, dan petsai. Akhir-akhir ini petani berminta menanam bawang putih karena ada program APBN dan wajib tanam bagi importir. Hasil panen petani banyak diminati pedagang karena akan digunakan lagi untuk benih. Jika swasembada bawang putih sudah tercapai, permintaan bawang putih lokal belum pasti tetap tinggi seperti saat ini.

SARAN KEBIJAKAN

23. Perdagangan bawang putih melalui ekspor relatif kecil dibanding produksi dunia. Di sisi lain Indonesia sebagai negara pengimpor terbesar bawang putih. Manajemen pasokan bawang putih perlu dilakukan secara baik untuk menjaga gejolak harga, tetapi upaya untuk mencapai swasembada perlu dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan segala factor social, ekonomi dan teknis.

24. Pasokan benih bawang putih berkualitas harus disiapkan dalam jumlah mencukupi agar tersedia sesuai kebutuhan untuk mencukupi kebutuhan wajib tanam maupun swadaya dan program APBN. Pembatasan luas maksimal pemurnian varietas maupun produksi benih perlu ditinjau kembali mengingat kemurnian benih dan penyediaan benih berkualitas sangat diperlukan dalam pmenunjang peningkatan produksi bawang putih saat ini. Penyediaan benih varietas lokal perlu diutamakan dibanding impor mengingat benih impor sering mengalami masalah. Sebaliknya, benih varietas lokal jauh lebih baik hasilnya. Dinas Pertanian harus memastikan bahwa importir menyediakan benih bersertifikat dalam wajib tanam. Dinas Pertanian Kabupaten/Kota harus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi dan BPSB terkait label ulang benih.

25. Pencapaian sasaran realisasi tanam jauh dari sasaran yang terutama terhambat oleh ketersediaan benih, lahan yang sesuai dan minat petani. Wajib tanm bagi importir harus bersaing dengan program APBN yang memerlukan benih, lahan, dan petani dalam jumlah yang jauh lebih besar. Perlu ada alternatif bagi importir, misalnya wajib beli hasil panen bawang putih petani untuk dipasarkan sebagai benih maupun dijual untuk konsumsi ke pasar lokal.

(10)

ix DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

RINGKASAN EKSEKUTIF ... iii

DAFTAR ISI ... ix DAFTAR TABEL ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi I PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 2 II METODOLOGI ... 3

III HASIL DAN PEMBAHASAN ... 4

3.1. Perdagangan Bawang Putih ... 4

3.1.1. Dinamika Produksi Bawang Putih Dunia ... 4

3.1.2. Dinamika Perdagangan Bawang Putih Dunia .... 5

3.2. Konsentrasi Negara Eksportir ... 5

3.3. Konsentrasi Negara Importir ... 6

IV SERTIFIKASI BENIH BAWANG PUTIH ... 8

V RENCANA DAN REALISASI WAJIB TANAM LIMA PERSEN OLEH IMPORTIR ... 14

5.1. Rencana dan Realisasi ... 14

5.2. Studi Kasus ... 17

VI PELUANG DAN TANTANGAN WAJIB TANAM BAWANG PUTIH 35 VII MINAT PETANI DALAM PENGEMBANGAN BAWANG PUTIH … 39 VIII KESIMPULAN DAN SARAN ... 42

8.1. Kesimpulan ... 42

8.2. Saran Kebijakan ... 43

DAFTAR PUSTAKA ... 45

(11)

x DAFTAR TABEL

TABEL Halaman

1 Perkembangan Areal dan Produksi Bawang Putih Dunia,

2006-2016 ... 4 2 Rataan Areal Dan Produksi Bawang Putih Beberapa Negara

Produsen, 2006-2016 ……… 5

3 Sepuluh Negara Eksportir Utama Bawang Putih, 2016 ……… 6

4 Sepuluh Negara Importir Bawang Putih Dunia, 2018 ………… 7

5 Volume dan Nilai Impor Bawang Putih, 2012-2018 ……… 7

6 Volume RIPH dan Realisasi Wajib Tanam Importir Bawang

Putih, 2017-2018 ……… 15

7 Importir Penerima RIPH yang Sudah Selesai Wajib Tanam,

2018 ……… 15

8 Rencana Luas Tanam dan Produksi Bawang Putih,

2017-2021 ……… 16

9 Potensi Lahan Yang Sesuai Untuk Budidaya Bawang Putih,

2017 ……… 17

10 Biaya Dan Pendapatan Petani Bawang Putih (Kemitraan) Di

Desa Bendosari, Kabupaten Malang, 2018 (0,2 ha) ……… 20 11 Biaya Usahatani Bawang Putih di Kabupaten Malang, 2017

(per ha) ……… 22

12 Luas Tanam Bawang Putih Program APBN 2018 di Kabupaten

Malang, Jawa Timur ... 24 13 Luas Tanam dan Produksi Bawang Putih di Kabupaten

Magelang, Jawa Tengah, 2015-2018 ……… 25

14 Rencana dan Realisasi Wajib Tanam Importir di Kabupaten

Magelang, 2017 ……… 26

15 Rencana dan Realisasi Wajib Tanam Importir di Kabupaten

(12)

xi DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN Halaman

1 Tata Cara Pemurnian Varietas Bawang Putih ……… 46

2 Rekapitulasi Produksi Benih Hortikultura Semusim di UPT

PSB Jawa Timur, Tahun 2017 ……… 51

3 Rekapitulasi Benih Bawang Putih di UPT PSB Jawa Timur,

2018 ……… 52

4 Rekap Pemeriksaan Umbi Bawang Putih di Gudang di

Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang, 2018 56 5 Realisasi Sertifikasi dan Pemurnian Bawang Putih BPSB

Jawa Barat, September 2018 ……… 57

6 Kasus Benih Bawang Putih Tidak Berkualitas di BPSB jawa

Barat, 2018 ……… 58

7 Kontrak Kemitraan Wajib Tanam di Kabupaten Malang,

Jawa Timur, 2018 ……… 60

8 Kontrak Kemitraan Wajib Tanam di Kabupaten Magelang,

2018 ………. 65

9 Kontrak Kemitraan Wajib Tanam di Kabupaten Cianjur

Jawa Barat, 2018 ……… 70

10 Kontrak Kemitraan Wajib Tanam di Kabupaten Cianjur,

Jawa Barat, 2018 ……… 76

11 Kontrak Kemitraan Wajib Tanam di Kabupaten

Majalengka, Jawa Barat, 2018 ……… 83

12 Lokasi Pengembangan Bawang Putih Program APBN,

2015-2108 (ha) ……… 87

13 Biaya dan Pendapatan Usahatani Bawang Putih di

Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (per ha) ……… 90

14 Biaya dan Pendapatan Usahatani Bawang Putih di

Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (per ha) ……… 91

15 Analisa Usahatani Bawang Putih di Kabupaten Kabupaten

Temanggung, Jawa Tengah, 2018 (per ha) ……… 92

16 Analisa Usahatani Bawang Putih di Kabupaten Kabupaten

Cianjur, Jawa Barat, 2018 (per ha) ……… 93

17 Luas Tanam Bawang Putih Program APBNP 2017 di

Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ……… 95

18 Luas Tanam Bawang Putih Program Bawang Putih APBN

2018 di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 96

19 Luas Tanam Bawang Putih APBNP 2017 di Kabupaten

Temanggung, Jawa Tengah ……… 97

20 Luas Tanam Bawang Putih Program APBN 2018 di

Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah ……… 98

21 Daftar Calon Peserta/Calon Lokasi Program Bawang Putih

APBN 2018 Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 99

22 Realisasi Wajib Tanam Bawang Putih oleh Importir di

(13)

xii

23 Realisasi Wajib Tanam Bawang Putih Kerjasama Importir

di Kabupaten Majalengka, Agustus 2018 ……… 101

24 Realisasi Wajib Tanam Bawang Putih di Kabupaten

(14)

1 I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kebutuhan bawang putih nasional terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk. Pada tahun 2012 konsumsi bawang putih sebesar 0,307 ons per kapita per tahun dan terus meningkat hingga 0,339 ons per kapita per tahun. Pada tahun 2016 konsumsi bawang putih nasional sebesar 465.100 ton dan pada tahun 2017 diperkirakan melonjak menjadi 482.190 ton.

Luas panen dan produksi bawang putih terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1995 luas panen bawang putih adalah 21.896 ha dengan produksi 152 ribu ton. Pada tahun 2017 luas tanam panen bawang putih tinggal 2.143 ha dengan produksi sekitar 19.000 ton. Pada periode yang sama produktivitas meningkat dari 4,59 ton/ha menjadi 8,79 ton/ha.

Volume ekspor bawang putih selama periode 2012-2016 bertambah dari 221 ton menjadi 349 ton. Nilai ekspor bawang putih pada tahun 2012 sebesar US$ 76,000 dan pada tahun 2016 sebesar US$ 183,000. Ekspor bawang putih sebagian besar dalam bentuk olahan. Pada tahun 2012 impor bawang putih sebanyak 418.408 ton (US$ 247,4 juta) dan tahun 2016 impor bawang putih naik menjadi 448.481 ton (US$ 448,6 juta). Hal ini seiring pembebasan impor komoditas ini tanpa disertai perlindungan kepada petani bawang putih dalam negeri sehingga produksi nasional bawang putih terus menurun dan impor makin lama makin tinggi.

Untuk menekan impor bawang putih, Kementerian Pertanian menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) melalui Permentan No. 38/2017 yang selanjutnya mengalami perubahan menjadi Permentan No. 24/2018. Importir bawang putih diwajibkan menanam dan menghasilkan 5 persen dari volume impor dengan cara bermitra dengan petani bawang putih di dalam negeri. Dinas Pertanian diperkuat fungsinya dalam mendukung wajib tanam dan wajib berproduksi bagi importir bawang putih. Akan ada sangsi bagi importir bawang putih jika tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut. Sangsi berupa pencabutan ijin impor selama 1-2 tahun, pengurangan volume impor, dan penarikan produk impor dari pasar. Wajib tanam bagi importir bawang putih yang semula paling lambat Juli 2018 diundur menjadi Desember 2018.

(15)

2

Kebijakan wajib tanam akan sangat mendukung peningkatkan produksi bawang puith nasional. Kajian ini dilakukan untuk melakukan evaluasi kebijakan tersebut guna memberi masukan agar kebijakan wajib tanam 5 persen bagi importir bawang putih dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Tujuan

Tujuan umum kajian ini adalah untuk mengevaluasi kebijakan wajib tanam lima persen bagi importir bawang putih. Secara khusus tujuan kajian ini adalah:

a) Mendeskripsikan perdagangan bawang putih di tingkat internasional

b) Mengevaluasi sertifikasi benih bawang putih oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB TPH).

c) Mengkaji rencana dan realisasi wajib tanam oleh importir

d) Mengidentifikasi peluang dan tantangan wajib tanam bawang putih e) Menganilisis minat petani dalam pengembangan bawang putih

(16)

3 II. METODOLOGI

Kajian ini akan dilaksanakan selama dua bulan, yaitu September sampai Desember 2018. Responden dalam kajian ini meliputi pengambil kebijakan di instansi terkait, yaitu Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat dan Pusdatin Kementerian Pertanian di Jakarta, Balai Penelitian Sayuran (Lembang, Jawa Barat). Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tingkat Kabupaten, dan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Tanaman Pangan dan Hortikultura. Selain itu responden juga meliputi kelompok tani, importir bawang putih, dan Penyuluh Pertanian Lapang (PPL).

Lokasi penelitian dilaksanakan di pusat pengembangan bawang putih, yaitu Jawa Tengah (Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung), Jawa Timur (Kabupaten Malang), dan Jawa Barat (Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Majalengka), serta Yogyakarta sebagai tempat pertemuan Direktorat Jenderal Hortikultura dengan para importir bawang putih dan Kepala Dinas Kabupaten/Kota dimana wajib tanam bawang putih bagi importir dilaksanakan. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dari importir dan petani bawang putih. Data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait, yaitu Balai Pengkajian dan sertifikasi Benih (BPSB), Dinas Pertanian Kabupaten, Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat (Direktorat Jenderal Hortikultura), dan Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Analisis data dilakukan secara deskriptif sesuai dengan tujuan penelitian.

(17)

4 III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Perdagangan Bawang Putih

3.1.1. Dinamika Produksi Bawang Putih Dunia

Data FAO (2018) menunjukkan bahwa produksi bawang putih dunia selama dekade terakhir terus meningkat dari 15,32 juta ton pada tahun 2006 menjadi 26,57 juta ton pada tahun 2016, atau meningkat rata-rata 5,66 persen per tahun. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan produktivitas sebesar 3,32 persen dan peningkatan luas areal panen sebesar 2, 27 persen per tahun. Tingginya peningkatan produktivitas mencerminkan makin majunya teknologi budidaya bawang putih dunia. Secara lebih rinci, perkembangan areal dan produksi bawang putih dunia selama dekade terakhir disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Perkembangan areal dan produksi bawang putih dunia, 2006-2016

Sumber: FAOSTAT, 2018. Diolah

Tiga negara produsen utama bawang putih di dunia selama satu dekade terakhir, adalah China, India dan Korea Selatan. Ketiga negara ini mempunyai pangsa lebih dari 85 persen produksi bawang putih dunia. China mendominasi dengan pangsa produksi sekitar 79,73 persen dari produksi bawang putih dunia. Indonesia tidak masuk dalam 20 negara penghasil bawang putih, dengan produksi rata-rata 2.332 ton per tahun dengan pangsa sekitar 0,07 persen dari produksi dunia, seperti disajikan pada Tabel 2.

Tahun Areal (000 ha) Produksi (000 t) Produktivitas (t/ha)

2006 1.174 15.318 13,05 2007 1.304 20.111 15,42 2008 1.404 22.778 16,23 2009 1.321 22.074 16,71 2010 1.338 22.579 16,88 2011 1.385 23.088 16,67 2012 1.446 23.408 16,19 2013 1.430 24.250 16,96 2014 1.417 25.018 17,65 2015 1.489 26.783 17,99 2016 1.469 26.573 18,09 Pertumbuhan (%/th) 1.380 2,27 22.907 5,66 16,60 3,32

(18)

5

Tabel 2. Rataan Areal Dan Produksi Bawang Putih Beberapa Negara Produsen, 2006-2016

Negara Areal panen Produksi Produktivitas

Rataan Pangsa Pertumb Rataan Pangsa Pertumb Rataan Pertumb (ha) (%) (%/th) (ton) (%) (%/th) (ton/ha) (%/th) China 776.923 56,32 1,99 18.264.331 79,73 6,31 23,51 4,24 India 206.899 15,00 6,82 1.066.352 4,66 8,87 5,15 1,92 Korea Selatan 25.532 1,85 (3,15) 329.561 1,44 (1,83) 12,91 1,37 Bangladesh 42.736 3,10 8,57 222.660 0,97 14,06 5,21 5,05 Russia 27.678 2,01 0,07 239.714 1,05 0,87 8,66 0,80 USA 10.061 0,73 (1,81) 185.566 0,81 (2,89) 18,44 (1,10) Indonesia 2.332 0,17 (2,52) 16.810 0,07 0,05 7,21 2,63 Dunia (total) 1.379.562 100,00 2,27 22.907.167 100,00 5,66 16,60 3,32

Sumber: FAOSTAT, 2018. Diolah.

Tingginya pertumbuhan produksi bawang putih dunia terutama disumbang oleh tingginya pertumbuhan areal dan produksi di China, India dan Bangladesh yang berturut-turut tumbuh rata-rata 6,31 persen, 8,87 persen dan 14,06 persen per tahun selama periode 2006-2016 (Tabel 2). Dengan pangsa produksi 79,73 persen dari produksi bawang putih dunia, maka pertumbuhan produksi sebesar 6,31 persen per tahun selama dekade terakhir mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi peningkatan produksi bawang putih dunia.

3.1.2. Dinamika Perdagangan Bawang Putih Dunia

Perbedaan kondisi agro-klimat menyebabkan perbedaan kesesuaian untuk menghasilkan suatu komoditas pertanian, sehingga masing-masing negara terdorong untuk melakukan spesialisasi menghasilkan produk unggulannya, dan mengimpor komoditas lain dari negara lain. Adanya spesialisasi produk pertanian mendorong terjadinya perdagangan komoditas dari wilayah/negara surplus ke wilayah/negara defisit. Dengan kata lain, perbedaan harga menjadi insentif bagi pelaku usaha untuk melakukan perdagangan, baik antar pulau, wilayah maupun antar negara (Swastika et al. 2007). Negara produsen bawang putih akan mengekspor produknya dan mengimpor komoditas lain dari pasar internasional.

3.2. Konsentrasi Negara Eksportir

Tiga negara produsen utama bawang putih dunia tidak dengan serta merta menjadi eksportir utama. Hanya China yang konsisten sebagai negara produsen dan eksportir terbesar dengan pangsa ekspor 81,66 persen dari ekspor dunia tahun 2016. India sebagai produsen terbesar kedua menempati urutan ekspor kelima

(19)

6

dengan pangsa hanya 1,15 persen dari total ekspor bawang putih dunia. Korea Selatan sebagai produsen ketiga terbesar, tidak masuk dalam 20 negara eksportir bawang putih dunia. Ini berarti bahwa semua bawang putih yang diproduksi di Korea Selatan dikonsumsi di dalam negerinya.

Tiga negara eksportir terbesar bawang putih dunia adalah China, Spanyol dan Argentina dengan pangsa pasar sebesar 94,46 persen dari total ekspor bawang putih dunia. China mendominasi pasar ekspor dengan pangsa 81,66 persen dari total ekspor bawang putih dunia. Spanyol dan Argentina yang masing-masing menempati urutan ke 9 dan ke 11 produksen, menempati urutan masing-masing kedua dan ketiga negara eksportir. Dari total produksi bawang putih dunia sebesar 22,91 juta ton hanya sekitar 1,87 juta ton atau sekitar 7,88 persen yang dipasarkan di pasar internasional (Tabel 3). Hal ini berarti bahwa pasar internasional bawang putih sangat tipis (thin market). Sebagian besar (92,12%) produksi bawang putih dikonsumsi oleh negara produsen. Kecilnya pangsa ekspor terhadap produksi dapat menimbulkan kerawanan atau kelangkaan bagi negara-negara importir dalam hal ketersediaan.

Tabel 3. Sepuluh Negara Eksportir Utama Bawang Putih, 2016

Negara Volume ekspor (ton) Share (%)

China 1.530.719 81,66 Spain 162.268 8,66 Argentina 77.675 4,14 Netherlands 30.658 1,64 India 21.534 1,15 Mexico 15.659 0,84 France 14.653 0,78 Peru 12.589 0,67 Egypt 11.420 0,61 Chile 10.469 0,56 Dunia 1.874.489 100,00

Sumber: FAOSTAT 2018. Diolah.

3.3. Konsentrasi Negara Importir

Negara importir bawang putih terbesar dunia adalah Indonesia. Data FAO menunjukkan bahwa pada tahun 2016 Indonesia mengimpor bawang putih sebesar 444 ribu ton atau sekitar 24,61 persen dari total impor bawang putih dunia. Tiga negara importir berikutnya adalah Brazil, Viet Nam, dan Malaysia dengan pangsa

(20)

7

masing-masing 9,59 persen, 8,55 persen dan 7,69 persen. Dengan demikian, sekitar 50,44 persen dari total impor bawang putih dunia diimpor oleh empat negara yaitu Indonesia, Brazil, Viet Nam, dan Malaysia. Beberapa negara importir utama bawang putih dunia disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Delapan Negara Importir Bawang Putih Dunia, 2018.

Negara Volume impor Pangsa impor (%)

Indonesia 444.301 24,61 Brazil 173.044 9,59 Viet Nam 154.387 8,55 Malaysia 138.772 7,69 USA 87.366 4,84 UAE 60.760 3,37 Philippines 58.755 3,25 Pakistan 51.372 2,85 Dunia 1.805.220 100,00

Sumber: FAOSTAT 2018. Diolah.

Impor bawang putih Indonesia cenderung meningkat selama beberapa tahun terakhir. Impor bawang putih Indonesia mulai meningkat tajam terjadi pembebasan impor pada era krisis moneter tahun 1998. Pada tahun 2012 impor bawang putih sebesar 212.000 ton dan tahun 2018 menjadi lebih dari 580.000 ton. Harga CIF juga cenderung naik rata lebih dari 7% per tahuan (dalam dolar) atau rata-rata hampir 20% per tahun (dalam rupiah). Sementara itu harga eceran cenderung naik sebesar 13% per tahun (Tabel 5).

Tabel 5. Volume dan Nilai Impor Bawang Putih, 2012-2018 Tahun Volume (ton) Nilai (ribu $) Harga CIF ($/kg) Harga CIF (Rp/kg) Harga Eceran (Rp/kg)*) Marjin (%) 2012 414,958 242,344 0.584 5,528 14,966 171 2013 439,912 360,860 0.820 8,573 20,398 138 2014 491,103 349,580 0.712 8,455 14,843 76 2015 479,941 342,675 0.714 9,562 19,595 105 2016 444,301 436,090 0.982 13,061 34,853 167 2017 555,976 583,216 1.049 14,040 35,200 151 2018 581,077 493,913 0.850 12,100 26,817 122 Pertumbuhan (%) 6.67 17.30 7.59 19.81 13.20 (4.79)

Catatan: *) Jawa Barat

(21)

8 IV. SERTIFIKASI BENIH BAWANG PUTIH

Benih bawang putih yang akan ditanam oleh petani dalam program wajib tanam oleh importir melalui kemitraan maupun Program APBN harus berlabel benih sebar. Sertifikasi dan label untuk benih bawang putih diperoleh dari BPSB setempat. Di Kabupaten Temanggung terjadi pengecualian untuk penanaman bawang putih Program APBN 2018, yaitu petani tidak diwajibkan menggunakan benih bawang putih bersertifikat. Alasannya adalah petani sudah biasa menanam benih bawang putih yang disimpan dari hasil panen musim sebelumnya dan tumbuh baik. Alasan sebenarnya adalah Dinas Pertanian kesulitan menyediakan benih bawang putih untuk Program APBN seluas lebih dari 2.000 ha atau sekitar 100 ton.

UPT PSB Jawa Timur di Surabaya

UPT Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT PSB TPH) Provinsi Jawa Timur menerima pengajuan sertifikasi (relabel) benih bawang putih oleh importir. Sebelum otonomi daerah lembaga ini bernama BPSB TPH. Semula UPT PSB Provinsi Jawa Timur menolak bawang putih impor yang dibawa oleh importir untuk dimintakan sertifikasi sebagai benih bawang putih. Alasan UPT PSB Provinsi Jawa Timur menolak permintaan importir tersebut karena umbi bawang putih impor tersebut tidak memiliki sertifikasi benih tetapi untuk konsumsi. Karena desakan dari Ditjen Tanaman Pangan, umbi bawang putih tersebut di –relabel oleh UPT PSB Provinsi Jawa Timur.

Importir swasta telah mengimpor benih sebesar 1.007,400 ton benih terbagi dua importir atau produsen swasta, yaitu; (1) PT Tajie Pratama merupakan perusahaan importir bawang putih yang tedaftar di Jakarta, namun untuk proses relabeling diserahkan oleh kantor cabangnya yang telah terdaftar di Provinsi Jawa Timur, dan (2) PT Karya Tani Semesta (Kabupaten Probolinggo). Menurut laporan importir tersebut, benih bawang putih telah didistribusikan di wilayah Provinsi Jawa Barat. Walaupun dmeikian sampai sekarang belum ada laporan dari importir benih tersebut akan ditanam di daerah mana. Proses relabeling dilakukan oleh UPT PSB Provinsi Jawa Timur tanpa melakukan pemeriksaan uji tumbuh dan hanya melihat tingkat kerusakan benih tersebut karena terdesak oleh program pemerintah.

Prosedur sertifikasi benih bawang putih menurut Kepmentan No. 15 Tahun 2018 dilakukan melalui 4 Tahap :

(22)

9

1) Sertifikasi: pemeriksaan sumber benih yang bersertifikat dan/atau kelas benih yang sama.

2) Pemurnian Varietas: bisa kelas benih konsumsi namun ada surat pernyataan dari breeder/pemulia/Dinas setempat bahwa varietas tersebut varietas lokal. Pemurnian ada 2 macam: (a) pemurnian yang menghasilkan benih sumber dengan luas maksimal 0,1 ha; (b) pemurnian untuk menghasilkan benih sebar yang luasnya maksimal 1 ha (Lampiran 1).

3) Pemeriksaan umbi di gudang atau Tidak Diperiksa Lapang (TDL): calon benih di gudang diperiksa umbi dan disertifikasi serta harus ada surat keterangan bahwa benih tersebut asal usulnya jelas.

4) Labeling: diperiksa dan diberi label.

Relabeling benih bawang putih impor: pemeriksaan umbi dengan dasar surat ijin pemasukan dari Kementerian Pertanian dan telah lolos atau diberi izin dari Badan Karantina, Kementerian Pertanian.

Di Jawa Timur beberapa importir bawang putih sekaligus bertindak sebagai produsen benih bawang putih. Pada tahun 2017 benih bawang putih yang disertifikasi oleh UPT PSB Jawa Tumur berasal dari 3 produsen, yaitu: (1) Gapoktan Sinar Tani di Malang menghasilkan benih bawang putih varietas Lumbu Hijau kelas benih sebar sebanyak 800 kg yang diperiksa tanggal 10 November 2017; (2) PB Karim Jaya di Probolinggo menghasilkan varietas lumbu hijau sebanyak 740 kg, umbi diperiksa tanggal 9 November 2017, dan (3) UD Tunas Unggul Abadi di Malang memproduksi varietas Lumbu Kuning kelas benih sebar sebanyak 2.150 kg, umbi diperiksa tanggal 10 November 2017.

Pada tahun 2018 ada 4 produsen benih bawang putih yang mengajukan sertifikasi kepada UPT PSB Jawa Timur. Pertama, CV Arjuna Flora beralamat di Batu mengajukan benih varietas Lumbu Hijau kelas benih sebar dengan pemeriksaan umbi tanggal 23 Juli dan 14 Agustus yang jumlahnya sebanyak 4.425 kg. Masa berlaku label adalah 6 bulan atau sampai 17 Februari 2019. Kedua, CV Sekartika Jati Kencana beralamat di Batu mengajukan sertifikasi benih varietas Lumbu Hijau sebanya 25.820 dan pemeriksaan umbi dilakukan tanggal 26 Juli 2018. Ketiga, CV Sinar Padang Sejahtera beralamat di Surabaya mengajukan sertifikasi benih varietas Lumbu Hijau kelas sebar sebanyak 20.160 kg dan Lumbu Kuning kelas sebar

(23)

10

sebanyak 53.600 kg. Keempat, UPBS BPTP Jawa Timur beralamat di Malang mengajukan benih varietas Lumbu hijau dan Lumbu Kuning yang terdiri dari beberapa kelas benih sebanyak 3.424 kg, yaitu Lumbu Kuning kelas benih dasar 32 kg, kelas benih pokok 42 kg, kelas benih sebar 1.384 kg, dan Lumbu Hijau kelas benih dasar 163 kg dan kelas benih sebar 1.077 kg. Pemeriksaan umbi dari UPBS BPTP Jawa Timur dilakukan pada tanggal 13 September 2018.

Disamping itu di Jawa Timur juga ada produsen benih bawang putih lainnya, yaitu: (1) PT Sinar Padang Sejahtera dengan lahan dikelola sendiri dengan cara sewa lahan seluas 145 Ha dan ditanam seluas 116 Ha di Kabupaten Banyuwangi dengan Varietas Lumbu Hijau dan Lumbu Kuning dengan produksi sekitar 120 ton, dan (2) PT Cahaya Sukses Makmur bermitra dengan petani penangkar di lereng Gunung Bromo (Kabupaten Probolinggo). Produksi benih tidak berhasil karena kendala iklim, yaitu saat tanaman bawang putih tumbuh baik tetapi pada akhir pertumbuhan kekurangan air. Secara rinci rekapitulasi sertfikasi benih bawnag puti oleh UPT PSB Jawa Timur pada tahun 2017 dan 2018 tercantum pada Lampiran 2 dan 3.

Permasalahan yang dialami importir adalah terkait kesulitan memperoleh lahan untuk kemitraan. Sebelum mendapatkan RIPH pihak importir harus mendapatkan SIP untuk penanaman. Sebelum terbit SIP, importir harus mendapatkan rekomendasi dari Dinas Pertanian Kabupaten/Kota berupa calon petani dan calon lokasi (CPCL). Setelah mendapatkan data CPCL ternyata lahan yang akan digunakan pihak importir menanam bawang putih telah ditanami komoditas lain oleh petani. Lahan tersebut tumpang tindih. Disamping itu banyak petani belum berpengalaman menanam bawang putih.

UPT PSB Jawa Timur menyatakan jika importir tersebut telah melakukan penanaman bawang putih dan hasilnya akan dijadikan benih kembali. Seharusnya importir tersebut yang melakukan proses sertifikasi ke UPT PSB Jawa Timur. Bukan petani yang melakukan sertifikasi benih bawang putih namun pihak importir/produsen yang harus bertanggung jawab melakukan proses sertifikasi ke BPSB setempat karena salah satu syarat bahwa produsen tersebut mempunyai gudang yang layak.

(24)

11 BPSB Jawa Tengah Wilayah Kedu

BPSB Jawa Tengah Wilayah Kedu yang meliputi Kabupaten Magelang dan

Kabupaten Temanggung selama beberapa tahun terakhir telah melakukan sertifikasi benih bawang putih sebanyak 543.330 kg (543,33 ton). Varietas benih bawang putih yang disertifikasi meliputi Lumbu Kuning, Lumbu Hijau, dan Tawang Mangu Baru yang semuanya merupakan varietas lokal. Di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Kedu pada tahun 2017 seluas 7,3 ha tanaman bawang putih menggunakan benih bersertifikat dan tahun 2018 bertambah menjadi 221,47 ha. Sertfikasi TDL di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung pada tahun 2018 masing-masing sebanyak 77,4 ton dan 465,9 ton (Lampiran 4).

Tahapan sertifikasi benih bawang putih untuk kelas benih sebar (BR) adalah 2 kali pemeriksaan di lapang, yaitu pertama pada umur 40-50 hari setelah tanam (HST) dan kedua umur 110-115 HST (menjelang panen). Ketiga adalah pemeriksaan umbi di gudang. Keempat, jika benih lulus pemeriksaan maka akan mendapatkan sertifikat dan label Biaya sertifikasi adalah Rp 25.000/ha per meriksaan di lapang dan Rp 25/kg untuk pemeriksaan umbi di gudang. Walaupun demikian dengan aturan diperbolehkannya pemberian TDL (Tidak Diperiksa di Lapang), sebagian pemberian sertifikasi hanya dilakukan di gudang setelah umbi bawang putih dipanen tanpa pemeriksaan lapang. Dampaknya adalah cukup banyak benih bawang putih dengan varietas campuran yang diketahui setelah benih tumbuh di lapang.

Varietas bawang putih yang ditanam petani di wilayah Kedu adalah Sangga Sembalun yang terbatas di Kabupaten Magelang dengan benih sumber bantuan berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Barat sebanyak 4,0%, Varietas lainnya yang banyak ditanam adalah Lumbu Hijau (37,2%), Lumbu Kuning (53,0%), Lumbu Putih (3,7%) dengan sertifikasi TDL, dan Tawangmangu Baru (2,2%).

Konversi berat umbi bawang putih basah menjadi umbi kering untuk konsumsi berkurang 25-30%. Dari umbi basah menjadi kering benih berat umbi bawang putih berkurang 35-40%. Tidak semua benih bawang putih yang ditanam untuk kemitraan importir dan petani menggunakan benih bersertifikat. Alasan penggunaan benih tidak bersertifikat adalah kurangnya pasokan benih bersertifikat dibanding permintaan yang ada. Disamping itu sebagian bawang putih hasil

(25)

12

kemitraan dijual untuk kebutuhan konsumsi, bukan untuk benih. Demikian juga, petani bawang putih swadaya umumnya menanam benih tidak bersertifikat yang merupakan hasil panen sendiri dan disimpan untuk musim tanam berikutnya. Petani tidak menggunakan benih bersertifikat karena hasil panennya dijual untuk keperluan konsumsi. Dismaping itu dengan benih tidak bersertifikat hasil panen sendiri maka akan lebih murah biaya produki yang dikeluarkan.

Masalah sertifikasi bawang putih adalah: (i) sumber benih belum tersedia, (ii) luas produksi benih sebar dibatasi maksimal 1 ha untuk setiap pengajuan sertifikasi, (iii) gudang benih belum ada, (iv) kesadaran untuk mengajukan sertifikasi benih bawang putih masih rendah, (v) belum punya surat kompetensi sebagai produsen benih, dan (vi) produsen benih bawang putih masih kurang aktif dan belum terbiasa dengan urusan administrasi. Walaupun demikian ada peluang dalam sertifikasi bawang putih. Alasan pertama adalah mengembalikan kejayaan bawang putih di sentra produksi pada lahan yang ketinggiannya sesuai varietas yang akan ditanam. Kedua, menumbuhkan penangkar dan produsen bawang putih menuju swasembada bawang putih.

BPSBTPH Jawa Barat

Realisasi sertifikasi bawang putih oleh BPSB Jawa Barat untuk musim tanam 2017/2018 tercatat 18.050 kg. Benih bawang putih tersebut terdiri dari varietas Lumbu Hijau yang disertifikasi TDL (550 kg), varietas Sangga Sembalun kelas BR (10.000 kg) dan TDL (7.500 kg). Pada tahun 2018 usulan pemurnian bawang putih oleh BPTP Jawa Barat dan Balitsa seluas 2,68 ha sebanyak 12 petak. Rincian pemurnian varietas tersbut adalah pengajuan oleh BPTP Jawa Barat yang ditanam di Kabupaten Sukabumi meluputi 5 varietas, yaitu (i) Sangga Sembalun (0,013 ha), Tawangmangu Baru (0,013 ha), Lumbu Putih (0,025 ha), Lumbu Kuning (0,019 ha) dan Lumbu Hijau (0,025 ha). Pemurnian di kabupaten Cianjur oleh BPTP Jawa Barat meliputi 5 varietas, yaitu Sangga Sembalun, Tawangmangu Baru, dan Lumbu Putih masing-masing 0,113 ha, Lumbu Kuning 0,094 ha, dan Lumbu Hijau 0,150 ha. Balitsa melakukan pemurnian di Kabupaten Bandung Barat untuk varietas Lumbu Putih seluas 2,0 ha. Secara rinci jumlah sertifikasi dan pemurnian varietas bawang putih di BPSB Jawa Barat dicantumkan pada Lampiran 5.

(26)

13

BPSBTPH Jawa Barat juga menangani kasus benih bawang putih seperti yang trejadi provinsi lainnya. Berawal dari kerjasama antara Gapoktan Multi Tani Jaya Giri (MTJG) di Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur dengan importir bawang putih PT Bumi Agro Transport (BAT) dalam program wajib tanam bawang putih. PT BAT mengirim benih bawang putih sebanyak 2.600 kg dalam 3 tahap, yaitu tahap pertama sebanyak 600 kg (7 Maret 2018), tahap kedua 1.000 kg (16 April 2018), dan tahap ketiga 1.000 kg (20 April 2018). Karung untuk wadah benih bawang putih tersebut tidak disertai label, tetapi penerimaan benih bawang putih disertai sertifikat benih yang diterbitkan oleh Kepala BPSB Provinsi Sulawesi Utara dan dikirim melalui Whatsapp setelah benih diterima oleh Gapoktan MTJG. Dalam sertifikat disebutkan bahwa benih bawang putih tersebut adalah varietas Lumbu Putih (Suren), kelas benih sebar, tanggal panen 4 juli 2017 dan tanggal periksa 18 Desember 2017, dihasilkan oleh penangkar/produsen Kleompok Tani Asapu Monja Modayag Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Benih sebanyak 600 kg telah ditanam pada tanggal 14 Maret 2018 untuk lahan seluas 1,0 ha dan sebanyak 50 kg ditanam pada lahan seluas 0,15 ha pada tanggal 21 April 2018. Benih yang berukuran kecil hingga berumur 60 HST tumbuh bagus tetapi belum umbi. Benih yang berukuran besar tumbuh tidak seragam dan sebagian membusuk saat ditanam. Sisa benih tidak ditanam oleh Gapoktan (Lampiran 6). Hal ini menunjukkan bahwa importir bawang putih kesulitan memperoleh benih bawang putih bersertifikat untuk program wajib tanam. Importir dengan segala cara memperoleh sertifikat untuk benih bawang putih yang akan diserahkan kepada kelompok tani mitra.

(27)

14 V. RENCANA DAN REALISASI WAJIB TANAM LIMA PERSEN

OLEH IMPORTIR

Berdasarkan Permentan No. 38/2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) pasal 32 ayat 1 yang menyatakan bahwa pelaku usaha yang melakukan impor produk hortikultur bawang putih wajib melakukan pengembangan penanaman bawang putih di dalam negeri. Ayat 2 menyatakan bahwa penanaman bawang putih tersebut dilakukan sendiri maupun bekerjasama dengan kelompok tani. Pasal 33 (ayat 1) disarankan penanaman bawang putih dilakukan pada lahan baru dan (ayat 2) penanaman dilakukan paling lama 1 tahun setelah impor dilakukan. Importir akan dipertimbangkan untuk mendapatkan RIPH berikutnya jika telah menyerahkan perjanjian kerjasama dan rencana tanam.

Luas tanam bawang putih oleh importir adalah 5% dari volume yang diajukan dalam RIPH selama satu tahun. Importir wajib melampirkan realisasi tanam dan produksi bawang putih untuk pengajuan RIPH berikutnya (Pasal 36). Teknis pelaksanaan wajib tanam bawang putih oleh importir diatur melalui Keputusan Direktorat Jenderal Hortikultura No. 221/2017 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan Bawang Putih oleh Pelaku Usaha Impor Produk Hortikultura.

Permentan No.24/2018 adalah tentang perubahan Permentan No. 38/2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH). Dalam hal ini fungsi Dinas Pertanian dalam pendampingan wajib tanam dan wajib menghasilkan bawang putih, yaitu ketersediaan lahan, akses benih, dll. Pelanggaran oleh importir bawang putih kewajiban akan mendapat sangsi, antara lain RIPH untuk importir selama 1-2 tahun, pengusulan pengurangan volume impor ke Kementerian Perdagangan, dan penarikan produk hortikultura dari pasar. Penyelesaian wajib tanam untuk RIPH tahun 2017 yang semula paling lambat bulan Juli 2018 menjadi bulan Desember 2018. Kemitraan antara importir dengan kelompok tani dalam program wajib tanam tertuang dalam perjanjian kerjasama. Contoh kerjasama atau kontrak atara importir dengan kelompok tani di jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat tercantum pada Lampiran 7-11.

5.1. Rencana dan Realisasi

Hingga tanggal 7 September 2018 Kementerian Pertanian sudah menerbitkan 149 RIPH sebanyak 1.692.507 ton (Tabel 6). Dari volume impor

(28)

15

tersebut, importir harus menanam bawang putih seluas 13.854 ha, terdiri dari 8.335 ha pada tahun 2018 dan 5.519 ha untuk tahun 2019. Realisasi wajib tanam hingga September 2018 untuk RIPH 2017 adalah 1.361 ha (16,3%) dan RIPH 2018 seluas 870 ha (17,0%) atau total 2.231 ha (16,1%).

Informasi terakhir bahwa hingga akhir Desember 2018 wajib tanam RIPH 2017 adalah 8.335 ha dan RIPH 2018 seluas 7.665 ha. Realisasi wajib tanam RIPH 2017 sebanyak 35,5% (2.960,6 ha) dan RIP 2018 mencapai 26,3% (2.013,8 ha) atau total wajib tanam RIPH 2017 dan 2018 sebanyak 31,1% (4.974,4 ha).

Tabel 6. Volume RIPH dan Realisasi Wajib Tanam Importir Bawang Putih,2017-2018

No. Uraian RIPH 2017 RIPH 2018 Total

1 Jumlah Importir 81 68 149

2 Total volume pengajuan (RIPH), ton 1.000.193 692.314 1.692.507 3 Total luas wajib tanam (ha) 8.335 5.119 13.854 4 Realisasi tanam (ha) 1.361

(16,3%) (17,0%) 870 (16,1%) 2.231

5 Sisa wajib tanam (ha) 6.974 4.649 11.623

Sumber: Suwandi (2018)

Sebagian importir yang memperoleh RIPH tahun 2017 dan 2018 sudah menyelesaikan kewajibannya menanam bawang putih. Importir tahun 2017 sebanyak 16 perusahaan telah lunas dan importir tahun 2018 sebanyak 3 perusahaan (Tabel 7). Hingga tanggal 7 September 2018 masing-masing ada 40 importir yang memperoleh RIPH bawang putih. Dengan demikian jumlah importir yang telah menyelesaikan wajib tanam bawang putih memang masih relatif sedikit. Tabel 7. Importir Penerima RIPH yang Sudah Selesai Wajib Tanam, 2018

No. RIPH 2017 Persentase No. RIPH 2017 Persentase

1 Hidup Sukses Bersama 118,8 11 Saudara Kusuma 100,2 2 Oscar Karunia Cemerlang 115,4 12 Amanah Jaya Abadi 100,0 3 Pertani (Persero) 104,8 13 Karunia Alam Segar 100,0 4 Segar Prima Jaya 103,7 14 Bumi Citra Bersama 100,0 5 Exindokarsa Agung 102,1 15 Agung Makmur Lestari 100,0 6 Femarse Inti Mulia 102,0 16 Jakarta Tudutole Datna 100,0 7 Parkarsa Alam Segar 102,0 RIPH 2018

8 Mustikatama Jaya Makmur 100,8 1 Binagloria Enterprindo 120,0 9 Ridho Sribumi Sejahtera 100,5 2 Lumbung Mineral 103,2 10 Tajie Pratama Indonesia 100,2 3 Pertani (Persero) 100,1 Sumber: Suwandi (2018)

(29)

16

Sasaran Direktorat Jenderal Hortikultura untuk pencapaian swasembada bawang putih adalah tahun 2021. Luas tanam tahun 2018 diharapkan seluas 5.114 ha yang akan menghasilkan benih sebanyak 10.000 ton. Secara rinci sasaran tiap tahun adalah sebagai berikut (Tabel 8):

Tabel 8. Rencana Luas Tanam dan Produksi Bawang Putih, 2017-2021

Tahun Luas Tanam (ha) Produksi Benih (ton)

2017 5.114 10.000 2018 18.378 30.000 2019 38.868 60.000 2020 58.580 100.000 2021 78.500 600.000 Sumber: Suwandi (2018)

Realisasi luas tanam bawang putih pada tahun 2018 diharapkan seluas 18.378 ha yang berasal dari APBN seluas 5.949 ha tersebar di 79 kabupaten. Tahun 2017 luas tanam bawang putih program APBN adalah 3.273 hektare di 8 kabupaten. Realisasi luas wajib tanam oleh importir hanya 5.974 ha (detik.com 2018). Total luas tanam bawang putih tahun 2018 adalah sekitar 11.923 ha, jauh dari yang direncanakan yaitu 18.378 ha. Tahun 2019 direncanakan luas tanam dengan biaya APBN adalah 2019 ha (HKTI Media Center 2019).

Menurut BB SDLP (2017) dalam Suwandi (2018) potensi kesesuaian lahan bawang putih di indonesai mencakup 51 kabupaten/kota. Potensi lahan tersebut mencakup 725.027 ha yang meliputi Sumatera 227.087 ha, Jawa 107.982 ha, Sulawesi 114.099 ha, dan lainnya 275.859 ha.

Berdasarkan tabel kesesuaian lahan (Tabel 9) tampaknya sangat menjanjikan, yaitu lahan yang tersedia masih cukup luas. Lahan yang diperlukan untuk mencapai swasembada bawang putih hanya seluas 78.500 ha, potensi yang ada mencapai 725.000 ha. Mungkin lahan yang sesuai tersebut saat ini sudah ditanam dengan tanaman sayuran lain yang relatif bersaing. Sebagian lahan tidak ditanami atau terlantar yang memerlukan pengolahan lahan untuk persiapan tanam bawang putih. Lokasi lahan dari petani juga akan menentukan apakah potensi lahan tersebut bisa efektif atau tidak. Pada tahun 2015-2018 program APBN dilaksanakan di 78 kabupaten dan 1 kota (Lampiran 12).

(30)

17

Tabel 9. Potensi Lahan Yang Sesuai Untuk Budidaya Bawang Putih, 2017

No. Kabupaten/Kota Luas (ha) No. Kabupaten/Kota Luas (ha)

1 Karo 643 26 Lumajang 200

2 Agam 43.434 27 Kota Batu 250

3 Tanah Datar 9.027 28 Bangli 5.572

4 Kerinci 25.308 29 Tabanan 878

5 Solok 11.958 30 Karangasem 1.997

6 Kepahilang 9.271 31 Bima 4.443

7 Lebong 18.474 32 Lombok Timur 1.162

8 Pagaralam 2.314 33 Sumbawa 217

9 Tanggamus 9.343 34 Sumbawa Timur 13.841

10 Lampung Barat 1.908 35 TTS 166.172

11 Samosir 23.298 36 TTU 53.809

12 Humbahas 72.109 37 Belu 2.860

13 Bandung 21.875 38 Ende 4.984

14 Garut 31.516 39 Bolmong Timur 3.028

15 Cianjur 30.108 40 Minahasa Selatan 6.304

16 Sukabumi 60 41 Kota Tomohon 4.861

17 Majalengka 3.540 42 Banggai 3.037

18 Temanggung 5.815 43 Poso 44.123

19 Karanganyar 3.126 44 Sigi 4.688

20 Sleman 1.928 45 Tana Toraja 16.319

21 Brebes 200 46 Enrekang 31.299

22 Magelang 300 47 Bantaeng 440

23 Probolinggo 1.864 48 Buru 291

24 Pasuruan 5.337 49 Buru Selatan 33.000

25 Banyuwangi 500 50 Manokwari 22.425

26 Malang 300 TOTAL 725.027

Sumber: BB SDLP (2017) dalam Suwandi (2018)

5.2. Studi Kasus

Importir bawang putih jarang yang berhubungan langsung dengan petani mitra untuk menanam bawang putih. Importir bertemu dengan petani melalui Dinas Pertanian setempat. Importir menyampaikan keinginan untuk bermitra melalui pimpinan/staf Dinas Pertanian. Jika Dinas Pertanian setempat sudah menemukan petani/kelompok tani yang bersedia bermitra dengan importir untuk menanam bawang putih dengan persyaratan yang disepakati, akan disiapkan kontrak tertulis oleh Dinas Pertanian yang berlaku selama satu musim.

Dalam kontrak umumnya disebutkan bahwa petani mendapat bantuan benih bawang putih, tetapi sarana produksi lain seperti pupuk, pestisida, tenaga kerja dan lahan akan disiapkan oleh petani. Skim yang diusulkan importir adalah bagi hasil, yaitu petani mendapat 60% dan importir 40%. Ada juga importir yang mengusulkan skim supaya petani mengembalikan benih yang diterima petani dari importir.

(31)

18

Importir menyiapkan benih dalam bentuk uang, artinya petani harus membeli benih sendiri, misalnya di Kabupaten Cianjur (Jawa Barat) dan Kabupaten Temanggung (Jawa Tengah). Kadang-kadang uang untuk membeli benih diberikan kepada pegawai Dinas Pertanian yang selanjutnya diberikan kepada petani dalam bentuk benih bawang putih untuk ditanam seperti di Kabupaten Magelang (Jawa Tengah). Sebagian importir juga memberikan benih bawang putih langsung kepada petani mitra untuk ditanam, misalnya di Kabupaten Malang. Tidak semua importir dapat bermitra dengan petani untuk menanam bawang putih. Banyak petani tidak bersedia menanam bawang putih karena belum berpengalaman, artinya petani juga tidak mengetahui berapa lama umur tanaman waktu dipanen dan berapa harga jualnya. Di Kabupaten Majalangka (Jawa Barat), importir menyewa lahan petani dengan sebesar Rp 20-40 juta per tahun. Sewa lahan bervariasi tergantung kondisi awal lahan apakah sudah siap tanam atau harus membersihkan semak-semak dan pepohonan sebelum diolah. Importir yang menugaskan seorang pengawas lapang juga menyewa tenaga kerja selama budidaya berlangsung hingga musim panen.

Pendampingan kepada petani umumnya dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) di kecamatan setempat. PPL memantau perkembangan tanaman bawang putih yang dilakukan oleh petani mitra. PPL juga mengawal petani yang menanam dengan dana APBN maupun swadaya. Masalah yang dihadapi petani yang bermitra dengan importir antara lain sangat jarang petani yang bersedia menanam secara monokultur. Hal ini dilakukan petani untuk menghindari kerugian jika bawang putih sebagai tanaman utama gagal panen. Umur panen yang relatif lama, yaitu 4 bulan, juga menjadi alasan petani menanam tanaman selingan atau tumpangsari. Misalnya, tanaman selingan untuk bawang putih di Kabupaten Malang adalah bawang merah yang bisa dipanen 60 hari setelah tanam. Juga ada tanaman selingan cabai yang ditanam setelah bawang putih umur 8 minggu. Setelah bawang putih dipanen, umur 4 bulan setelah tanam, tanaman cabai juga sduah mulai bisa dipanen secara bertahap.

Kabupaten Malang

Wilayah pertanian di Kabupaten Malang, khususnya di dataran tinggi, cocok untuk budidaya bawang putih. Sejak tahun 2017 hingga 2018 beberapa importir

(32)

19

bawang putih melakukan kemitraan dengan petani atau kelompok tani untuk menanam komoditas ini.

Setelah panen dan disimpan selama 4 bulan calon benih bawang putih bisa dijadikan benih dengan cara diperiksa gudang (TDL) kemudian disertifikasi oleh BPSB. Hal tersebut sudah cukup memenuhi syarat untuk dijadikan benih. Dahulu petani di Kabupaten Malang banyak yang berpengalaman dalam berusahatani bawang putih karena merupakan salah satu sentra komoditas ini yang tersebar di beberapa kecamatan, antara lain di tiga kecamatan, yaitu Pujon, Ngantang dan Kasembon. Dahulu komoditas bawang merah tidak banyak yang menanam tanaman bawang merah semula hanya sebagai komoditas tambahan yang ditanam sebagai tanaman pinggir atau tanaman sela.

Untuk kegiatan kemitraan antara importir dan petani rata rata pembagian hasilnya adalah 70% bagi petani dan 30% importir. Dalam hal ini importir menyediakan benih dan sarana produksi lainnya seperti pupuk organik maupun pupuk anorganik dan mulsa. Petani mitra hanya menyediakan lahan dan tenaga kerja, setelah panen benih yang sudah dipinjamkan akan dikembali ke pihak importir.

Di Kabupaten Malang masih ada beberapa petani sawadaya menanam bawang putih lokal namun hanya sedikit, yaitu seluas 2 ha. Minat petani menanam bawang putih berkurang karena harga bawang putih lebih mahal, serta bentuk dan warnanya kurang menarik dibanding bawang putih impor.

Pada tahun 2017 importir bawang putih, yaitu PT Tri Sumber Rejeki (TSR) bermitra dengan petani menanam bawang putih di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, seluas 18 ha dan di Kecamatan Poncokusumo seluas 5 ha atau total 23 ha. Sayangnya semua tanaman bawang putih kemitraan PT TSR dengan petani gagal. Tanaman tumbuh bagus tetapi hingga umur 5 bulan belum berumbi. Benih yang digunakan adalah benih konsumsi yang diimpor dari Cina, atau varietas Great Black Leaf (GBL). Informasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Malang petani mitra memperoleh ganti rugi karena kegagalan tersebut.

Pada tahun 2018 ada 3 importir yang menanam bawang putih melalui kemitraan dengan petani di Kabupaten Malang. PT Sedap Agro Makmur sudah menanam seluas 10,05 ha di Kecamatan Ngantang dan akan panen pada minggu

(33)

20

ke-4 Oktober 2018. PT Maju Makmur Jaya Kurnia menanam di Kecamatan Kasembon seluas 7,85 ha dan di Kecamatan Pujon 13,55 ha dan akan panen pada tanggal 29 Oktober 2018. Kedua importir tersebut bermitra dengan produsen benih. BUMD Puspa Agro menanam bawang putih 2 ha di desa Pandesari, Kecamatan Pujon, bermitra dengan kelompok tani Sumber Tani I. Analisis usaha tani salah satu petani dari kelompok tani tersebut ditampilkan pada Tabel 10.

Tabel 10. Biaya Dan Pendapatan Petani Bawang Putih (Kemitraan) Di Desa Bendosari, Kabupaten Malang, 2018 (0,2 ha)

No. Biaya/Pendapatan Satuan Volume Nilai (Rp)

I Sarana produksi 1 Benih 80 Kg 3,200,000 2 Mulsa 80,000 3 Pupuk kimia a. ZA 50 Kg 70,000 b. SP-36 50 Kg 100,000 c. Phonska 50 Kg 115,000 d. BAS 50 Kg 430,000 e. Pupuk daun

4 Pupuk kandang 40 Sak 720,000

5 Pestisida a. Antracol 0.25 Kg 25,000 b. Pastac 0.5 L 40,000 c. Gol 0.1 L 28,000 6 Kapur 10 sak (20 kg) 140,000 7 Tenaga kerja a. Mengolah tanah 400,000 b. Bedengan 4 HOK 160,000 c. Tanam 8 HOK 240,000

d. Pengendalian OPT 5 HOK 250,000

e. Penyiangan 6 HOK 180,000

f. Penyiraman 2,000,000

g. Panen 20 HOK 600,000

h. Pasca panen 2 HOK 80,000

i. Memotong daun 2 HOK 60,000

8 TOTAL Biaya Produksi 8,918,000

9 Total biaya tunai*) 2,718,000

II Produksi

a. Hasil panen 1,200 kg 24,000,000

b. Bagi hasil**) 7,200,000

c. TOTAL Pendapatan (a-b) 16,800,000

III Keuntungan (IIc-I9) 14,082,000

Catatan: *) bantuan dari importir = benih (Rp 3.200.000) + sarana produksi (Rp 3.000.000) **) 30% hasil untuk importir (400 kg umbi bawang putih = Rp 7.200.000)

(34)

21

Untuk tiap hektar lahan petani, importir memberi bantuan benih sebanyak 400 kg biasanya dalam bentuk uang atau disediakan benih melalui Dinas Pertanian setempat. Benih bawang putih yang ditanam tidak bersertifikat, walaupun seharusnya bersertifikat untuk program kemitraan wajib tanam. Disamping itu petani mendapat bantuan biaya pembelian sarana produksi sebesar Rp 15 juta selama satu musim tanam. Biaya pembelian sarana produksi diberikan tiga kali, yaitu sebelum tanam, setelah tanam, dan menjelang panen. Dengan demikian petani mendapat bantuan dari importir sebanyak Rp 18.200.000/ha. Kewajiban petani mitra adalah memberikan 30% dari hasil panennya kepada importir.

Salah seorang petani mitra importir mengelola lahan seluas 0,2 ha dan mendapat bantuan benih 80 kg dengan nilai Rp 3.200.000 dan biaya sarana produksi (Rp 3.000.000) atau total Rp 6.200.000. Dengan total biaya produksi (tanpa memperhitungkan sewa lahan) sebesar Rp 8.918.000, maka biaya tunai yang dikeluarkan petani adalah Rp 2.718.000 selama satu musim tanam. Produksi umbi bawang putih kering untuk konsumsi adalah 1.200 kg (setara 6 ton/ha) dengan harga jual Rp 20.000/kg. Petani harus memberikan 30% (360 kg) dari hasil yang diperoleh sehingga bagian petani adalah 840 kg bernilai Rp 16.800.000. Dengan demikian keuntungan yang diperoleh petani adalah Rp 14.082.000.

Petani tersebut mulai menanam bawang putih sejak tahun 1993, tetapi luas tanam semakin berkurang hanya tinggal 200 m2 sejak 1996 ketik harga bawng putih

mulai anjlok. Mulai tahun 2018 setelah adanya kemitraan dengan importir bawang putih, petani tersebut mulai menanam seluas 0,2 ha. Sebenarnya menyiapkan lahan 0,4 ha tetapi benih yang tersedia hanya cukup untuk 0,2 ha. Pada akhir tahun 2018 petani tersebut mendapat bantuan APBN dan menanam bawang putih 0,4 ha.

Hasil analisis usahatani oleh DPTPH Kabupaten Malang tidak jauh berbeda dengan hasil di tingkat petani (Tabel 11). Biaya total per hektar adalah Rp 74.290.000 dengan hasil 6 ton kering askip berharga Rp 23.000/kg atau bernilai Rp 138.000.000. Dengan demikian keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 63.710.000. Analisis usahatani bawang putih di Kabupaten Temanggung, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Cianjur dicantumkan pada Lampiran 13-16.

(35)

22

Tabel 11. Biaya Usahatani Bawang Putih di Kabupaten Malang, 2017 (per ha)

No. Uraian Volume Satuan (Rp/satuan) Harga Nilai (Rp)

A Biaya Tetap

Sewa Lahan 1 Musim 4.500.000

B Biaya Tidak Tetap

1 Biaya Tenaga Kerja Pengolahan lahan-siap tanam 20 HKP 35.000 700.000 Penanaman 15 HKW 25.000 375.000 Pemupukan 18 HKP 35.000 630.000 Penyiangan dan pembubunan ke-1 9 HKP 35.000 315.000 Penyiangan dan pembubunan ke-2 9 HKP 35.000 315.000 Pengendalian hama dan penyakit 12 HKP 35.000 420.000 Panen 21 HKP 35.000 735.000 Pengangkutan ke jalan 85 HKW 5.000 425.000 Penjemuran 25 HKP 35.000 875.000

Angkutan truk 2 Kali 500.000 1.000.000

2 Sarana Produksi Benih 600 kg 65.000 39.000.000 Pupuk organic 10.000 kg 1.000 10.000.000 Urea 500 kg 4.000 2.000.000 SP 36 300 kg 4.000 1.200.000 NPK 800 kg 11.000 8.800.000 Pestisida 3.000.000 BIAYA TOTAL 74.290.000 C Pendapatan Produksi 6.000 kg 23.000 138.000.000 D Keuntungan (B-A) 63.710.000

Sumber: Dinas TPHP Kabupaten Malang (2017)

Bawang putih di desa Bendosari dapat ditanam di ladang maupun di sawah mengingat ketinggian lahan sekitar 800 m dari permukaan laut. Pola tanam saat ini di lahan sawah adalah padi-bawang putih-cabai/sawi. Pola tanam di ladang adalah bawang putih-bawang merah-kubis/sawi/jagung. Jarang petani yang menanam bawang putih monokultur, tetapi ditumpangsarikan dengan cabai, sawi atau bawang merah. Varietas bawang putih yang ditanam adalah Lumbu Kuning. Petani juga menanam varietas lain (Saigon) dalam jumlah sedikit (3 m x 2 m). Hasil panen

(36)

23

petani dari basah jika dikonversi menjadi kering (umbi untuk konsumsi) berkurang sekitar 25%. Dari basah menjadi kering untuk benih bobot umbi berkurang 50%.

Petani bersedia menanam bawang putih karena benih disediakan serta diberi biaya untuk membeli sarana produksi oleh importir. Tanaman sayuran lainnya yang menjadi saingan bawang putih adalah bawang merah dengan hasil sekitar 7,5 ton/ha dengan biaya produksi sekitar Rp 5.000/kg. Bawang merah bisa dipanen lebih cepat dari bawang putih, yaitu pada umur 50-60 hari setelah tanam.

Masalah yang dihadapi oleh petani dalam budidaya bawang putih adalah ketersediaan benih sangat terbatas. Benih yang ada umumnya tidak bersertifikat, tetapi benih yang bersertifikat pun memeiliki kualitas yang tidak berbeda yaitu kemurnian varietas rendah atau campuran varietas lain sangat banyak. Disamping itu petani perlu modal yang banyak karena umur panen bawang putih cukup lama, yaitu sekitar 4 bulan. Pada musim sebelumnya menanam bawang putih kemitraan dengan importir mengalami kegagalan karena benih yang ditanam bisa tumbuh bagus tetapi tidak berumbi. Untuk program bantuan APBN juga mengalami kendala ketersediaan benih dalam jumlah yang mencukupi dan kualitas kurang bagus. Agar petani bersedia menanam bawang putih disarankan agar pemerintah menyediakan benih yang berkualitas. Perlu bantuan cultivator sebanyak 5 unit untuk satu kelompok tani (25 ha) mengingat biaya mengolah lahan saat ini cukup mahal. Disamping itu harga jual bawang putih tingkat petani harus menguntungkan dan bersaing dengan tanaman sayuran lainnya.

Program APBN di Kabupaten Malang untuk penanaman bawang putih dimulai tahun 2018. Penanaman dimulai bulan November 2018 pada awal musim hujan yang meliputi 6 kelompok tani di 3 kecamatan (Tabel 12). Luas lahan yang akan ditanami bawang putih adalah 5 ha per kelompok tani atau total 30 ha. Luas tanam bawang putih program APBNP 2017 dan APBN 2018 di Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Cianjur dicantumkan pada Lampiran 17-21.

Gambar

Tabel 1. Perkembangan areal dan produksi bawang putih dunia, 2006-2016
Tabel 3.  Sepuluh Negara Eksportir Utama Bawang Putih, 2016
Tabel 6. Volume RIPH dan Realisasi Wajib Tanam Importir Bawang Putih,2017-2018
Tabel 14. Rencana dan Realisasi Wajib Tanam Importir di Kabupaten           Magelang, 2017

Referensi

Dokumen terkait