• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

46

A. Persiapan Penelitian 1. Ijin Penelitian

Perijinan dalam penelitian ini dilakukan secara formal. Hal ini dikarenakan penelitian ini melibatkan suatu institusi tertentu. Perijinan yang dilakukan peneliti pada awalnya yakni dengan memasukkan surat izin resmi kepada instansi yang berkaitan yakini Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dengan responden mahasiswa Psikologi angkatan 2011, 2012, 2013 dan 2014.

Pada pengumpulan data survai awal peneliti memberikan kuesioner pada mahasiswa angkatan 2011, 2012, 2013 dan 2014 melalui link google foam, setelah melakukan survai peneliti menghubungi responden untuk melakukan Focus Group Disscusion (FGD). Peneliti memilih responden pada angkatan 2011, 2012, 2013 dan 2014 dan mengutarakan maksud dan tujuan bahwa peneliti ingin meminta kesedian responden terkait pendapat selama proses pembelajaran PIO. Setelah respoden menyetujui peneliti kemudian menentukan waktu untuk melakukan Focus Group Disscusion (FGD) dihari yang telah disepakati bersama. Kemudian setelah Focus Group Disscusion (FGD) dilaksanakan agar penelitian ini tidak hanya dari satu sudut padang yakni mahasiswa saja peneliti melakukan wawancara kepada dosen mata kuliah Psikologi Industri dan Organisasi terkait pembelajaran Psikologi

(2)

Industri dan Organisasi, setelah mengutarakan maksud dan tujuan penelitian kepada dosen peneliti meminta kesedian waktu untuk dilakukan wawancara. Selain wawancara kepada dosen, wawancara juga dilakukan kepada peserta FGD sebagai data pendukung FGD.

2. Menentukan Responden Penelitian

Pada pengumpulan data survai peneliti menggunakan metode non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2013), purposive sampling adalah metode pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih sebagai sampel, dengan kata lain dalam pengambilan sampel populasi tidak dilakukan secara acak dan memiliki kategori tertentu. Sedangkan non probability sampling adalah teknik menentukan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan yang dikehendaki.

Pada pengumpulan data Focus Group Disscusion (FGD) peneliti telah mendapatkan beberapa informasi terkait dengan responden yang memenuhi kriteria. Saat melakukan penelitian peneliti menghubungi beberapa responden yang memenuhi kriteria pada awalnya peneliti hanya menghubungi 8 responden sesuai dengan aturan FGD minimal pelaksanaan adalah 8 orang, namun untuk mengantisipasi ketidakhadiran peserta peneliti menambah 4 orang responden dan meminta kesedian hadir untuk melakukan FGD.

Pada pengumpulan data wawancara peneliti mencoba menghubungi beberapa dosen mata kuliah Psikologi Industri dan Organisasi namun karena jumlah dosen yang terbatas, peneliti mewawancarai satu orang dosen

(3)

Psikologi Industri dan Orgaanisasi sesuai dengan kriteria penelitian. Sedangkan untuk responden wawancara pada mahasiswa peneliti memlilih responden yang telah banyak mengambil mata kuliah pilihan PIO.

B. Pelaksanaan Peneltian 1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Lokasi Penelitian ini terdiri dari beberapa tempat karena menyesuaikan dengan responden. Lokasi utama penelitian dilakukan di lingkungan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia. Penelitian Focus Group Disscusion (FGD) dilaksanakan diluar kampus mengingat kesibukan respoden sehingga waktu yang memungkinkan untuk dilaksanakan Focus Group Disscusion (FGD)adalah malam hari, sehingga peneliti memutuskan untuk melakukan FGD di Hotel Aryuka Yogyakarta Jl. Kaliurang KM 5 Yogyakarta. Selanjutnya untuk penelitian wawancara peneliti menemui dosen di Plaza Hotel Yogyakarta, Jl. Gejayan dan untuk wawancara dengan responden FGD peneliti melakukan wawancara di Lumer Café Yogyakarta.

(4)

2. Prosedur Pengambilan Data

Urutan proses pengambilan data yang dilakukan peneliti disusun dalam bentuk tabel dibawah ini:

Tabel 2 Jadwal Pengambilan Data

WAKTU TEMPAT PENGAMBILAN

DATA

3 Desember 2015 s/d

5 Desember 2015

Online Foam Survai Online

7 Desember 2015

Hotel Aryuka Yogyakarta

Focus Group Disscusion

10 Desember 2015 Plaza Hotel Yogyakarta Wawancara 30 Desember 2015 Lumer Café Yogyakarta Wawancara

Pengambilan data survai dilakukan selama tiga hari, sedangkan untuk FGD dan wawancara dilakukan pada satu kali. Prosedur pengambilan data FGD dibatasi waktu dengan maksimal 120 menit karena untuk memperhatikan kondisi dan situasi responden.

Prosedur pengambilan data survai online pada 3 Desember 2015 hingga 5 Desember 2015 melalui foam online, mengingat kesibukan responden pada angkatan 2011 dan 2012 yang susah ditemui di lingkungan kampus karena rata-rata sudah tidak mengambil mata kuliah. Setelah dirasa cukup pengumpulan data survai kemudian peneliti melakukan analisis data survai.

(5)

Pengambilan data FGD dilaksanakan pada tanggal 7Desember 2015 pukul 19.00, pengambilan data dilaksanakan pada malam hari mempertimbangkan kesibukan responden pada pagi hingga sore hari. Pengambilan data FGD dilaksanakan selama 120 menit dengan meminta pendapat responden terkait dengan pembelajaran yang sudaah dilaksanakan, kemudian peneliti memperkenalkan teknologi baru bernama Second Lifesebagai solusi kemudian peneliti meminta pendapat responden apakah teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan pembelajaran atau tidak.

Pengambilan data wawancara dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2015 dengan mempertimbangkan waktu luang dosen yang bersangkutan untuk ditemui. Wawancara dilakukan selama kurang lebih 20 menit sebagai data pendukung FGD. Selanjutnya wawancara kepada responden FGD dilakukan pada tanggal 30 Desember 2015 untuk memberikan data pendukung terkait dengan skenario pembelajaran yang diharapkan oleh mahasiswa dengan menggunakan Second Life.

3. Manajamen Data

Manajemen data dilakukan oleh peneliti dengan melakukan perekapan data hasil survai, FGD dan wawancara. Pada data survai peneliti menggunakan analisis dengan bantuan google foam untuk melihat persentase pembelajaran Psikologi Industri dan Organisasi. Kemudian data FGD dan wawancara peneliti melakukan perekapan data berupa verbatim, selanjutnya verbatim tersebut dilakukan pemberian koding. Koding adalah pemberian

(6)

kode pada satuan-satuan yang telah direduksi. Pemberian kode yang dilakukan peneliti berupa :

a) Penandaan jenis responden

Pada penelitian ini, kode yang diberikan kepada responden yaitu: F1 : Fasilitator 1 F2 : Fasilitator 2 F3 : Fasilitator 3 P1 : Peserta 1 P2 : Peserta 2 P3 : Peserta 3 P4 : Peserta 4 P5 : Peserta 5 P6 : Peserta 6 P7 : Peserta 7 P8 : Peserta 8 P9 : Peserta 9 P10 : Peserta 10 P11 : Peserta 11 Ir : Interviewer Ie : Interviewee

b) Penandaan letak baris di dalam verbatim.

Penandaan baris dalam verbatim dilakukan dengan menggunakan kode B untuk menunjukkan baris dan kode angka untuk menunjukkan

(7)

letak baris dalam verbatim. Contoh (B5-10) maka baris ke 5 sampai dengan baris ke 10.

C. Hasil Penelitian 1. Survai

Pengambilan data penelitian dilakukan pada bulan Desember 2015 terhitung sejak 3 Desember 2015 hingga 5Desember 2015 dengan menngunakan koesioner online atau google foam melibatkan 160 mahasiswa Psikologi angkatan 2011,2012, 2013 dan 2014.

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan oleh peneliti, diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 3 Identitas Responden Identitas Responden Penelitian

Jenis Kelamin Jumlah Presentase

Laki-laki 72 45%

Perempuan 88 55%

Usia Jumlah Presentase

18 16 10% 19 32 20% 20 32 20% 21 32 20% 22 35 21,8% 23 12 7,5%

(8)

25 1 0,6%

Angakatan Jumlah Presentase

2011 34 21,2%

2012 41 25,6%

2013 35 21,8%

2014 50 31,2%

Total Responden 160 100%

Survai terhadap pembelajaran Psikologi Industri dan Organisasi dapat dijelaskan melalui hasil analisis data yang telah dilakukan. Adapun hasil analisis data sesuai dengan pertanya-pertanyaan yang telah diberikan adalah sebagai berikut :

(9)

1. Metode pembelajaran dalam kuliah bidang PIO Tabel 4 Hasil Aitem 1

Sangat Baik 15 9,4 %

Baik 63 39,4%

Cukup 33 20,6%

Kurang 45 28,1 %

Sangat Kurang 4 2,5%

(10)

2. Penggunaan peraga edukatif dalam kuliah bidang PIO Tabel 5 Hasil Aitem 2

Sangat Baik 4 2,5 %

Baik 45 28,1 %

Cukup 37 23,1 %

Kurang 60 37,5 %

Sangat Kurang 14 8,8 %

(11)

3. Media pembelajaran yang digunakan dalam kuliah bidang PIO Tabel 6 Hasil Aitem 3

Sangat Baik 14 8,8 %

Baik 47 29,4 %

Cukup 40 25 %

Kurang 48 30 %

Sangat Kurang 11 6,9 %

(12)

4. Konteks materi yang disampaikan dalam kuliah bidang PIO Tabel 7 Hasil Aitem 4

Sangat Baik 21 13,1 %

Baik 56 35 %

Cukup 36 22,5 %

Kurang 36 22,5 %

Sangat Kurang 11 6,9 %

(13)

5. Visualisasi materi yang pernah dihadirkan di kelas Tabel 8 Hasil Aitem 5

Sangat Baik 8 15,6 %

Baik 27 16,9 %

Cukup 22 13,7 %

Kurang 78 48,8 %

Sangat Kurang 25 15,6 %

(14)

6. Menghadirkan ahli dalam kelas

Tabel 9 Hasil Aitem 6

Sangat Baik 8 5 %

Baik 23 14,4 %

Cukup 32 20 %

Kurang 80 50 %

Sangat Kurang 17 10,6 %

(15)

7. Ketersedian tenaga pengajar PIO

Tabel 10 Hasil Aitem 7

Sangat Baik 15 9,4 %

Baik 42 26,3 %

Cukup 32 20 %

Kurang 57 35,6 %

Sangat Kurang 14 8,8 %

(16)

8. Pemahaman anda terhadap mata kuliah PIO

Tabel 11 Hasil Aitem 8

Sangat Baik 7 4,4 %

Baik 53 33,1 %

Cukup 49 30,6 %

Kurang 38 23,7 %

Sangat Kurang 13 8,1 %

(17)

9. Secara keseluruhan saya puas dengan mutu pembelajaran pada mata kuliah PIO

Tabel 12 Hasil Aitem 9

Sangat Baik 13 8,1 %

Baik 45 28,1 %

Cukup 36 22,5 %

Kurang 51 31,9 %

Sangat Kurang 15 9,4 %

(18)

2. Hasil Penelitian FGD dan Wawancara

Berdasarkan teori analisis kebutuhan(Morison, 2011) tahapananalisis kebutuhan sistem pembelajaran adalah sebagai berikut :

Tahapan Analisis Kebutuhan Pembelajaran

Berikut merupakan hasil FGD (Focus Group Disscusion)yang telah dilaksanakan :

a) Metode Pembelajaran

Responden 7 dan Responden 1 menyatakan bahwa dosen mengajar hanya seperti membaca teks proklamasi (membaca power point) :

Entah ini sistemnya, dosennya atau sayanya sendiri di semester dua kemarin saya pas belajar PIO itu rasanya kurang feel gitu, mungkin karena apa ya. yang pertama saya rasakan itu dosennya cuma kayak baca proklamasi gitu, cuma ya saya gak berani sebut merk, Cuma ya kayak baca teks proklamasi. Walaupun ada cerita-ceritanya sedikit, tapi tu kayak gak ada cerita-cerita yang wow gitu, Cuma paling ya teks book gitu. (P7, L, B164-B172)

Perencanaan Pengumpulan Data Analisa Data Membuat Laporan Akhir

(19)

Sedangkan ada tuh dosen lain yang dikelas cuma membaca power point aja, habis itu kasih tugas kita kayak gak dapet hikmahnyalah istilahnya, kita kayak gak dapet apa sih yang dibilang sama ibu ini eehhh maksudnya. (P1, P, B358-B362)

Pembelajaran PIO dapat dipahami oleh mahasiswa tergantung dengan bagaimana dosen tersebut memahamkan : Namun kembali lagi ke metode pembelajaran bagaimana cara dosen itu memahamkan mahasiswanya untuk tanpa harus mengikuti alur yang sering dikatakan oleh banyak mahasiswa.(P4, P, B908-B912)

Responden 3 menyatakan bahwa bagaimana dosen memahamkan tergantung dengan bagaimana metode pembelajaran dosen tersebut :

kalau kemarin waktu reksel bu X kemarin ngajarinnya sampai mlotot dan bener-bener gak bisa lupa dan saya ngrsa ketika saya selesai rekesl itu saya ngrsa oh PIO itu cuma gitu-gitu aja gitu padahal beliau itu ngajarnya HRM HRP semua dibahas jadi sisanya itu cuma kayak eee apa basicnya udah tau gitu sekarang ngambil PMS sama destra cuma kayak ambil teknik-teknik rincinya gitu cuma ya kayak gitu ampek masuk ampek keluar gitu. Jadi emang bener tergantung bagaimana cara dosen itu sebenarnya PIO itu bisa dipelajari.(P3, L, B914-B925)

Responden 10 menyatakan bahwa pembelajaran selama 2,5 jam pasti akan membosankan jika terpaku dengan cara pembelajaran yang fokus dengan power point :

Jadi sebenarnya saya sama sih dengan mas reza dan wira juga kalau menurut saya pribadi ya kan PIO mata kuliah PIO kan ada di sks nah kalau dijamkan itu ada 2,5 jam ya itu kalau saya pikir, pertanyaannya tadi kan metode yang benar kalau menurut saya pribadi ya, seenak apapun dosen selama 2,5 jam 2,5 cuma dengerin dia tok apapun yang disampaikannya tetep ada bosennya saya yakin, apalagi jamnya siang sore gitu kan menurut saya dari sekian waktu itu dosen kan yang lebih tau mana waktu yang efektif, pas awalnya dikasih teori pas akhir atau penghabisan kelas pas itu

(20)

dikasih suatu kasus dimana dubahas dikelompok, jadi apa yang telah didapatkan itu langsung di praktekkan meskipun gak 100% tapi setidaknya ya istilahnya ngerti gitu apa yang dipraktekkan dari teori sebelumnya, cuma masalahnya hanya kepada sistem pembelajaran yang menurut saya terpaku seperti itu. (P10, L, B573-B586)

b) Ketersedian Tenaga Pengajar

Responden 3 menyatakan bahwa dosen tidak sama dalam menyampaikan materi :

Kalau menurut saya, tadi setuju juga dengan yang telah disampaikan oleh temen-temen saya, bahwa dosen disini kurang seragam cara penyampainnya. (P3, L, B205- B208

cuma karena kurang motivasi doang jadinya pidah ke klinis, jadi balik lagi tadi standarisasi dosen gimana cara diaa eee soalnya menurut saya PIO itu tadi bener yang dikatakan oleh mbaknya yang jilbab biru PIO itu butuh pemahaman bukan hafalan jadi dosen itu wajib banget ngasih ya saya rasa salah satu syarat jadi dosen UII harus berpengalaman lah ya, jadi bisa di share pengalamannya gak cuma kasus teori tok atau kasus yang ada di media tok jadi di share dia pernah ngapain jaadi tuh kita juga ekpresif. (P3, L, B547-B552)

Responden 9 menyatakan bahwa dosen adalah penentu segalanya, sehingga sanggat terlihat sekali perbedaan pemahaman ketika diajar oleh dosen yang berbeda :

Kalau metode ee metode ee yang di apa yang dilakukan dalam pembelajaran PIO itu yang pertama adalah seimbang antara teori dan nee magang praktek trus yang kedua itu adalah standarisasi dosen, karena apa semua disini megakui karena apa karena mislanya ada dosen dosen itu penentu segalanya gitu lo kalau misalnya kita dajar oleh dosen a bakal gimana dan kalau dosen B bakal gimana nah otomatis disini harus doperbaiki oleh FPSB itu adalah dosenya, dosen itu harus memiliki standarisasi bahwa setiap kelas akan diperlakukan seperti ini akan diajari seperti ini dan harus memiliki pencapaian dan pencapaiannya itu seperti ini, trus yang ketiga itu yang paling penting adalah menyangkut tentang sistem,(P9, P, B494-B503)

(21)

Ya kalau saya pribadi, semester 2 sudah klop sama dosen A ya dosen A terus, jadi minatnya kayak satu doang. Kesannya malah kayak, sorry to say kayak Zonk gitu. Jadi mungkin kurangnya variasi sama apa ini, kurangnya penyetaraan e gimana sih dosen yang ideal itu, apakah pulang cepet tugas sedikit. (P3, L, B 209-B217)

Responden 10 mengatakan bahwa jika menginginkan hasil yang maksimal maka sebaiknya dosen yang mengajar juga harus tepat :

Jadi kalau ibarat kita mau mancing kalau mau mancing ikan yang besar atau ikan yang kita inginkan itu umpannya harus sesuai. Jadi istilahnya itu kalau sesuatu kita bener-benar mau memahami itu, kita harus ditangani atau diajarkan oleh dosen yang tepat. Dosen itu semuaa baik, tapi yang tepat dan yang mengerti kita itu jarang, maksudnya yang bener-bener bisa kayak yang si citra tadi bilang yang menghidupakan suasana dikelas itu jarang. bisa interkasinya dengan mahasiswa bisa kepikiran apasih PIO gitu lo. Seperti itu.(P10, L, B155 – B166)

c) Visualisasi

Hanya subjek 8 yang menyatakan dosen menggunakan visualisasi film dan dapat membantu pemahamannya terhadap PIO : saya berdasarkan pengalaman yang saya rasakan itu, jadi kan saya baru semester tiga, jadi yang saya rasakan kemarin tuh ngambi PIO itu semester dua, nah disitu itu saya baru mengenal bahwa PIO itu seperti ini, kebetulan dosen saya itu mempunyai sistem dimana eee beliau ini menggunakan visualisasi ee visualisasi film sebagai pengambaran materi PIO dan juga observasi kepada ee seperti kayak orang-orang industry gitu, jadi selain kita tau visualisasinya kita juga tau ee bagaimana dengan eee kehidupan dunia kerja. (P8, P, B409-B420)

(22)

d) Sistem KRS

Beberapa responden juga menyatakan bahwa gagalnya keyin juga berpegaruh kepada pemahaman mereka terhadap mata kuliah PIO karena tidak bisa mengambil mata kuliah secara urut :

kebetulan saya fokus ke yang bener-bener PIO tidak bercabang kemanapun, yang saya keluhkan terkait dengan sistem KRS an itu, ketika mahasiswa itu ingin mengambil, kan katanya kalau mau mengambil PIO itu harus urut, setidaknya reksel, PMS, destra, remun, nah begini tapi saya terbalik saya mengambil PMS dahulu dan sekarang mengambil destra dan remun, karena tidak dapet kelas. itu masalah lagi tentang sistem itu, mungkin disini saya mengandai-andai bagaimana kalau mata kuliah pilihan ini dibikin blok saja. (P5, L, B274-B282)

karena ini kalau misalnya dari awal ada mahasiswa yang niatnya emang PIO tapi ternyata gak dapet kelas dan akhirnya pindah di klinis itu akhirnya banyak sekali sehingga menyebabkan daya minat di PIO secara konsumen itu menurun drastis ya kerana apa karena aku gak dapet kelas ya aku harus pilih kelas ya mana ya dari pada aku gak kuliah mendingan aku, kuliah tapi mayornya lain gitu jadi aku bisa klinis, pendidikan selain PIO lah pokokya. (P9, P, B467-B478)

cuma yang jadi masalahnya itu balik lagi tadi yang oca sampaiin kadang ada mahasiswa tu sebenaarnya minat ke PIO cuma karena gak dapet kelas pindah ke major yang lain padahal dia passionnya di PIO cuma karena gak dapet kelas akhirnya pindah ke klinis gitu. (P3, L, B543-B545)

e) Skenario/SettingSecond Life

Responden 8 menyatakan bahwa Second Life dapat diberikan untuk skenario atau gambaran bagaimana cara melakukan traning di sebuah perusahaan :

Kalau saya sih nerima-nerima aja soalnya kalau dari kegunaannya itu bisa membantu juga jadi yang saya ragukan itu ketika sebenarnya saya mikirnya setuju untuk dijadikan suatu metode

(23)

pembelajaran soalnya tu bisa membantu kalau kita gak paham misalnya gimana sih cara didalam perusahaan itu mentraning orang dan nanti bisa disosialisasikan. (P8, L, B1424-B1436)

Hal tersebut juga didukung dengan hasil wawancara bahwa responden menyatakan, Second Life bisa digunakan dalam pembelajaran dengan Desain Traning dengan skenario yang dijelaskan oleh responden :

Kalau desta ya, desain traningnya kalau di Second Life itu di desain seperti melihat traning di perusahaan secara langsung gitu lo dihadapkan sama bagaimana eee suasana traning di perusahaan tertentu gitu lo, seperti itu.(Ie, L, B25-B29)

Prosesnya, tahapanya mulai dari persiapan, pelaksanaan sampai ke setelah pelaksanaan itu apa yang mereka lakukan. (Ie, L, B35-B37) Itu kan jadi pembelajaran buat kita hal-hal apa saya yang perlu dipersiapkan dan saat berlangsungnya traning itu kita ngapain sebagai pelaksana, setelah itu mungkin setelah traning dilaksanakan bagaimana kita memproses data-data atau informasi yang kita dapet dari si calon karyawan. (Ie, L, B48-B54)

Yang lainnya itu emmmmm uji coba traning(Ie, L, B60-61)

Jadi eee misalnya gimana ya, dalam mata kuliah desain traning itu kan kita diminta dosen untuk melakukan sebuah traning kepada satu organisasi atau satu kelompok orang kita melaksanakan traning. Nah uji coba traning itu jadi sebelum kita memberikan traning kepada sekelompok orang itu tampil dulu dalam Second Life ini kita tampil di depan temen-temen yang sesama mahasiswaa bagaimana mana sihh eee kita melaksanakan traning nanti, jadi kan dari melakukan uji coba kita dapat masukaan, bisa dapet saran-saran eee harusnya seperti apa seperti itu.(Ie, L, B63-B76)

Kalau contohnya itu mungkin kepemimpinan, kalau kepemimpinan itu kan identik dengan ke outbond ya outbond ya, settingannya itu bisa kayak ke tempat tempat wisata, tempat wisata ya tempat outbond dimana biasanya kita melaksanakan kegiatan-kegiatan traning tersebut.(Ie, L, B89-B95)

(24)

Selain mata kuliah Desain Traning, mata kuliah Sistem Rekrutmen dan Seleksi juga dapat dijadikan skenario untuk Second Life :

kalau menurut saya pribadi mata kuliah yang cocok itu sistem rekrutmen dan seleksi jadi kita bisa bikin visual tentang job fair karena kalau turun ke lapangan langsung soalnya pass kita mengambil mata kuliah reksel itu eeee 3 bulan ya misalnya, 3 bulan itu ada jobfair di kayak pengalaman kemarin temen saya sampek harus ke semarang seperti itu, jadi kita bisa membuat settingan seperti di Job Fair trus yang mata kuliah berikutnya itu desain traning nah desain traning visualisasinya kita bisa menjadi pemateri kita praktek nah kayak traning gitu loo divisualkan seperti kita sedang training gitu. Kemudian kayaknya itu aja. (P6, L, B1527-B1540)

kalau saya itu yang saya dukung cuma reksel aja karena kalau dimata kuliah yang lain itu melihat dari fitur yang ditawarkan oleh Second Life itu gak akan match, kalau menurut saya di desain traning itu, inti dari desain tranig itu adalah kemmapuan trainee untuk menyampaikan jadi gimana dia bisa interest itu kalau di Second Life kayaknya kurang cocok aja. Dan yang lain sudah dikasih tau mas eka kayak di PO, HRIS dan sistem remun itu tidak match, kalau menurut saya sebaiknya tidak dimasukkan karena kenapa takutnya natinya mahasiswanya karena ketidakefetifan gak akan match ntar malah jadi gabut di ini ntar yang ada malah main gitu, malah making gabut. Jadi menurut saya yang paling cocok itu reksel aja. (P3, L, B1642-B642)

Kalau aku sepakat dengan wira tadi ya bahwa aku memilih simulasi bahwa dengan Second Life ini ada beberapa mata kuliah PIO yang memang harus masuk ke Second Life misalnya ada PIO nanti bakal ada ahli yang didatangkan secara langsung, jadi nanti tidak terus dosennya yang berbicara. Mungkin ada reksel seperti yang wira katakana mungkin juga aka nada beberapa perusahaan yang mengadakan job fair tapi secara online lalu, mungkin karena saya belum mengambil yang lainnya maka saya belum terlalu paham. Itu saja.(P4, P, B1681-B1691)

(25)

Hal tersebut juga didukung dengan hasil wawancara bahwa responden menyatakan, Second Life bisa digunakan dalam pembelajaran dengan Sistem Rekrutmen dan Seleksi dengan skenario yang dijelaskan oleh responden :

Mungkin kurang lebih sama kayak destra yang pertama itu jadi kita diperlihatkan bagaimana prose rekrutmen dan seleksi di perusaahaan tertentu, gitu loo. diperlihatkan tahapannya, prosesnya.(Ie, L, B107-B111)

Mungkin dilihat eeee ya apa yak kan kalau kita di Second Life itu kan kita dihadapkan sama secara langsung gitu loo, bagaimana kondisinya jadi tergambar jelas dari pada cuma diceritain.(Ie, L, B121-B1215)

Untuk reksel ituu mungkin eee wawancara kerja(Ie, L, B129-B130) Jadi wawancara kerja itu mungkin eee eee kita bisa meminta atau bekerjasama dengan HRD dari suatu perusahaan nah orang tersebut tidak harus datang ke kampus, orang tersebut bisa mengguankan Second Life tersebut. Jadi melalui Second Life dia berada di kantornyaa, kita berada di kampus kita bisa melakukan skenario wawancara kerja, bagaimana wawancara kerja itu berlangsung. (Ie, L, B132-B140)

Kalau langsung dengan HRD perusahaan itu mereka lebih tau, lebih selalu update juga, lebih tau dan selalu update mengenai permasalahan perusahaan yang ada gitu, apa kekurangan dari perusahaan itu sehingga dari wawancara yang mereka lakukan mereka bisa cepet menilai. (Ie, L, B147-B157)

Selain mata kuliah desain traning dan sistem rekrutmen dan seleksi, responden menyatakan bahwa sebenaarnya semua mata kuliah PIO dapat memanfaatkan Second Life sebagai metode pengajaran baru :

(26)

mungkin aku dari tadi itu kepikiran kalau itu bakal terealisasi ketika dosennya gak ada dan itu tuh kita ke lab jadi dosennya itu tetap bikin kayak online gitu lo nah itu mungkin bakal efektif. (P2, L, B1645-B1649)

Dan sebenarnya tadi kepikiran sih kalau untuk beberapa matkul tuh bisa aja lo kadang tuh ada beberapa dosen PIO yang sibuk banget jadi kita kan sebel kalau ada kuliah pengganti kenapa gak dicoba juga kita kuliahnya sambil video call sama kita juga kan bisa dari pada libur.(P1, P, B2072-B2077)

Skenario dalam Second Life dijelaskan lebih rinci oleh responden saat melakukan wawancara :

Sebenarnya semuanya bisa, terlebih untuk mata kuliah yang teoritis itu kita bisa dengan mendatangkan apa ya ahlinya atau enggak kalau misalnya dosen itu berhalangan hadir jadi dosen gak harus datang ke tempat kuliah tapi dosen bisa melakukan kuliah tapi melalui Second Life jadi kita di hubungkan satu sama lain antara dosen dengan mahasiswa dosen bisa memberikan kuliah dalam Second Life itu. (Ie, L, B179-B188)

Yaaa itu bisa seperti dalam kelas ada presentasi dari dosen pemberian power pointnya dalam bentuk power point.(Ie, L, B92-B94)

Bisa jadi, sangat sangat bisa saya sangat menyarakankan gitu loo ini bisa menjadi satu trobosan kedepannya. (Ie, L, B201-B203)

f) Saran atau masukanSecond Life

Kenapa sih kita bakal mikirin suatu settingan kan diakhirnya kita bakal melihat suatu settingan yang misalnya kita terapkan seperti yang dipaparkan oleh pennyaji tadi lebih banyak kekurangannya dari pada kebaikannya soalnya kalau dilihat dari dinamika psikologisnya itu membentuk suatu individu yang apa ya antisosial bukan antisosial sory maskudnya tidak ada interaksi secara antar sesama gitu, misalnya bisa kan kita bakal nerapin nih settingannya seperti apa tapi kenapa sih kita harus mikirin settingan dimana pada setiingan tersebut itu tidak membentuk pribadi yang mahasiswa psikologi yang sebenarnya, kenapa sih harus diomgin gitu lo.(P9, P, B 1366-1378)

(27)

Jadi saya setuju dengan oca, jadi kita harus melihat dari sisi dinamika psikologisnya kan tadi bilang kalau ini itu membantu orang yang berinteraksi tapi kan poinnya kita itu terjun ke lapangan kan berinteraksi dengan manusia dan yang harus diasah itu malah kemampuan berbicara di depan orang soalnya kan psikologi subjeknya kan manusia misalnya kan setiap hari harapannya diimbangi sama komputer iya interaksi dengan komputer iya nah ini buat mengantisipasi dia enjoy dengan Second Life nanti dia malah jadi primer life bukan Second Life. Nah aku komentarnya kayak gitu. (P3, L, B1411-B1422)

Kalau saya sendiri melihatnya dari segi kesiapan FPSB, apakah sudah siap ? karena berdasarkan pengalaman mata kuliah yang berbasis komputerisasi itu belum maksimal. (P11, L, B1406-B1409) Yah gimana kalau kayak gitu. Maksudnya itu udah dipertimbangkan apa belum ? Kalau dari saya mendukung, bener kata saya apakah FPSB sudah siap ? Kayak tadi syartnya aja harus internetnya kenceng sedangkan wifi di kampus kita itu kayak gimana sih, sedangkan wifi di didalam kelas aja gak ada jaringan, maksudnya udah siap sampai disitu belum ? (P1, P, B1488-B1496)

tadi ada yang memberikan argument kalau settingan yang seperti ini dengan FPSB fasilitas internetnya kurang memadai untuk apa dilanjutkan. (P5, L, B1599-B1601)

Tapi kan udah ada SAP sendiri, kita tuh di dalam kelas udah ada SAP sendiri kita belajar itu chapternya udah beda-beda lo. Itu tuh satu chapter wawancara itu, makannya saya bilang 2,5 jam itu. (P1, P, B2015-B2018)

g) Cara mewujudkanSecond Life

tapi kalau ditanya bagaimana strategi untuk mewujdukan Second Life jadi saya dapat memberikan masukan seperti berikut : yang pertama pastinya satu para pihak fakultas itu harus menentukan satu tentang letak setiap materi yang paling sulit untuk mahasiswa itu apa. Jadi dilihat satu-satu, rekrutmen kah atau performace kita harus menentuka letak yang paling susah kemudian dari yang paling susah tersebut kita memilih mana yang paling mudah untuk disimulasikan selain itu karena kita dasar konsepnya adalah ilmu sosial budaya kita juga harus melihat yang mana yang pantas untuk disimulasikan ya seperti itu setelah menentukan hal tersebut pihak fakultas juga harus mampu menjamin ketersediannya jadi harus bisa menentukan letaknya letak dimana mereka akan melakukan Second Life, fasilitasnya dan juga alokasi waktu karena susahnya nanti jika bentrok dengan teori dengan praktek walaupun gak setiap hari ya

(28)

tapi harus ada alokasi wakt yang jelas dan juga terakhir harus menentukan SAP dan SOP nya. Tadi mungkin ada yang membuat avatar tidak berjilbab ada mungkin yang pas belajar tiduran, nah itu SAP gimana SOP gimana kalau seperti itu reward dan punshmentnya seperti apa. kemudian ketika dilakukan Second Life pada hari itu tujuannya apa ? apa yang dinilai seperti itu, sekian. (P11, L, B1710-B1738)

Karena udah masuk settingan jadi saya semangat lagi, eeee kalau menurut saya settingan yang tepat adalah ini saya masuk settingan dulu ya baru matkul yang cocok. Jadi kalau menurut saya settigan yang tepat itu yang pertama memenuhi karakteristik dan budaya Indonesia, yang kedua karakteristik dan budaya di Universitas Islam Indonesia yang ketiga itu efisien dan tidak tidak mengurangi interaksi antar anggota kelompok yang keempat virtual akunnya itu emang bener-bener buat menolong helpful apa yang dibutuhkan jangan karena ini makannya jadi keterusan gitu dan kalau bisa hanya dibuka di kampus saja gak bisa dibuka dirumah, karena apa karena itu akan menyebabkan bias yang misalnya kalau dibuka dirumah itu akan menyebabkan bias yang misalnya itu orang akan kecenderungan bermain game oke kita Cuma bisa dibuka dikampus aja deh. Karena kalau misalnya dibuka dirumah itu ada efek negatifnya. Trus yang keenam ini kan semuanya 3 sks kan kecuali PIO misalnya dari 24x pertemuan hanya dipakai 4x dengan ambil 4x pertemuan tapi ada rangenya gitu lo diawal ditengah range atau gimana. Kalau yang ketujuh itu apa yang kita mainin di virtual akun harus sesuai dengan eee peraturan dan kebijakan dari kampus itu sendiri dari FPSB itu sendiri, itu ketujuh setting ya saya tawarkan kepada penyaji. Trus kalau untuk mata kuliah pilihanya itu sendiri saya setuju dengan temen-temen di rekrutmen dan seleksi dan desain traning karena apa, karena kalau misalnya di reksel itu kita bener-bener bisa kayak ngrsain walaupun bukan kayak ngrsain sih tapi kayak simulasi bikin job fair atau ke job fairnya langsung atau kita kayak wawancara tadi kan katanya bisa via suara kan nah itu bisa ngatih kita ngomg di depan orang gitu dan itu membantu gitu ya, trus kalau misalnya desain traning mungkin bisa diterapkan traning orang mungkin kita bisa ngomg dulu dan katanya kana da media suara gitu dan sifatnya ada yang publish dan private jadi bisa nglatih kita buat ngomg gitu loo jadi kalau misalnya destra itu bagaimana ngomg baik dan menarik kan ini responnya dua arah kalau gak salah sedangkan kalau aku ngomg kayak gini bakal di respon gimana dan kalau kayak gini responnya apa dan misalnya kalau aku ngomg responnya gimana dan sifatnya itu respon balik. (P9, P, B1865-B1911)

(29)

D. Pembahasan

Pembahasan ini berupaya untuk menjawab lebih luas tentang pertanyaan penelitian atau mendekripsikan serta membandingkan hasil temuan lapangan. Pembahasan ini mencakup serangkaian proses pengambilan data yang telah dilakukan oleh peneliti sampai pada akhrinya dapat mendeskripsikan gambaran kebutuhan mahasiswa dalam proses pembelajaran Psikologi Industri dan Organisasi serta tanggapan responden terhadap teknologi Second Life.

Seel dan Glasgow (1990) menjelaskan tentang pengertian analisis kebutuhan,kebutuhan itu pada dasarnya adalah kesenjangan (discrepancies) antara apa yang telah tersedia dengan apa yang telah tersedia dengan apa yang diharapkan, dan analisis kebutuhanadalah proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dari kesenjangan untuk dipecahkan.

Penelitian survai dilakukan untuk melihat seberapa besar masalah pembelajaran yang dihadapi oleh mahasiswa. Responden penelitian berjumlah 160 orang dengan laki-laki 72 orang dan 88 orang perempuan. Pada angkatan 2011 34 orang, 2012 41 orang, 2013 35 orang dan 2014 50 orang. Sedangkan pada FGD responden penelitian berjumlah 11 orang 4 orang perempuan dan 7 0rang laki-laki. Responen wawancara adalah satu orang dosen dan satu orang peserta FGD.

Pada hasil penelitian survai menyatakan persentase 39,9 % persen responden menyatakan metode pembelajaran pada bidang PIO adalah baik dan 28,1% menyatakan kurang selain metode pembelajaran 30% responden menyatakan bahwa bahwa media pembelajaran yang digunakan kurang, hal

(30)

tersebut digali lebih dalam FGD dan responden menyatkan bahwa metode pembelajaran dalam kuliah PIO terlalu teksbook dan dosen hanya terpaku dengan power point sehingga mahasiswa juga merasa kurang tertarik dalam mengikuti proses pembelajaran. Responden 10 juga menyatakan bahwa seenak apapun dosen jika pembelajaran selama 2,5 jam hanya mendegarkan saja hal tersebut pasti akan membosankan, sehingga mahasiswa memamang membutuhan metode pembelajaran baru.

Pentingnya visualisasi yang dihadikan didalam kelas sangat membantu pemahaman mahasiswa terhadap materi yang diajarkan, hal tersebut dinyatakan oleh responden 8, namun tidak semua dosen menggunakan visualisasi materi. Pada pembelajaran PIO responden 8 menyatakan visualisasi materi dengan menggunakan film sangat membantu memahami materi yang diajarkan, menjadikan responden lebih mudah memahami bagaimana materi tersebut, pernyataan responden juga didukung olehpenelitian survai menyatakan bahwa 48,8% menyatakan visualisasi materi yang dihadirkan di kelas kurang.

Selanjutnya, ketersedian tenanga pengajar menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran, pada hasil survai menyatakan bahwa ketersedian tenaga pengajar PIO masih kurang hal tersebut juga didukung dengan hasil FGD responden menyatakan bahwa dosen yang tersedia sedikit, sehingga tidak ada variasi. Dosen juga menjadi penentu segalanya sehingga jika diajarkan oleh dosen A akan seperti apa dan dosen B akan seperti apa karena tidak adanya standarisasi dosen, cara penyampaian dosen juga menjadi tidak seragam. Responden juga

(31)

menyatakan bahwa jika kita mengharapkan sesuatu atau hasil yang baik maka harus diajarkan oleh dosen yang sesuai atau dosen yang tepat.

Kendala lain dalam pembelajaran PIO adalah sistem KRS responden menyatakan bahwa dalam pengambilan mata kuliah pilihan PIO harus urut dengan alur, namun pada kenyatannya KRS menjadi penghambat mahasiswa untuk dapat mengambil mata kuliah secara urut dikarenakan mahasiswa tidak mendapatkan kelas pada mata kuliah pilihan yang seharusnya diambil, hal tersebut menjadi kendala bagi mahasiswa yang tidak dapat mengambil mata kuliah pilihan yang seharusnya diambil dan akhirnya pindah ke mata kuliah pilihan lain selain PIO, responden juga menyatakan hal tersebut menjadikan daya minat mahasiswa pada mata kuliah PIO menurun drastis.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran PIO yang sudah dilakukan sudah baik, namun ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan seperti metode pembelajaran baru, ketersedian tenanga pengajar dan menghadirkan visualisasi materi dalam pembelajaran karena dengan menghadirkan visualisasi materi dapat membantu pemahaman mahasiswa terhadap materi yang disampaikan pada saat itu. Selain hal utama tersebut kesulitan mahasiswa dalam memahami materi yang diajarkan dapat dipengaruhi oleh sistem KRS, bagaimana pada saat melakukan KRS mahasiswa tidak dapat mengambil mata kuliah secara urut.

Pada penelitian ini peneliti memperkenalkan teknologi baru berbasis virtual world. Virtual World atau dunia virtual adalah lingkungan komputer 3D yang mirip dengan dunia nyata, seringkali digunakan secara massal dan biasanya

(32)

terkoneksi dengan internet sehingga seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain (Mattsson & Barnes, 2008). Hingga saat ini, perkembangan Virtual World terus berkembang dan digunakan dalam banyak bidang antara lain : seperti pemasaran, hiburan dan edukasi.

Pada penelitian ini peneliti ingin memperkenalkan produk Virtual World yang bernama Second Life. Second Life adalah simulasi lingkungan nyata secara online yang menggunakan grafis 3-D yang memungkinkan para pengguna untuk dapat berinteraksi layaknya di kehidupan nyata (Bignell and Parson, 2010).Second Life merupakan suatu kemajuan di bidang teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Second Life merupakan suatu cara yang dapat meningatkan inovasi dan kreatifitas siswa. Selain itu, juga dapat mengajarkan kepada siswa untuk berpikir lebih jauh dalam menyelesaikan tugas. Second Life menawarkan pembelajaran yang lebih baik dari pada pembelajaran lingkungan virtual tradisional (Bignell and Parson, 2010).

Respoden menyatakan mendukung dengan adanya teknologi baru yang ditawarkan oleh peneliti dengan beberapa skenariopembelajaran yang bisa disajikan dalam Second Lifemisalnya pada mata kuliah Desain Traning, Sistem Rekrutmen dan Seleski. Pada penelitian survai mahasiswa menyatakan bahwa 50% responden menyatakan FPSB kurang mendatangkan ahli dalam kelas Second Life dapat dimanfaaatkan untuk mendatangkan ahli dalam kelas virtual, selain mendatangkan ahli responden juga menyatakan bahwa menyayangkan jika kuliah libur karena tidak ada dosen atau dosennya sedang berada diluar kota, hal tersebut

(33)

dapat dijadikan alternative sehingga kuliah tidak kosong namun dosen tetap hadir dalam kuliah virtual dalam Second Life.

Gambar 8 Skenario Second Life 1

Berdasarkan gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa realitanya ketika dosen berhalangan hadir kuliah kosong (tidak ada kuliah), sehingga dosen harus mengganti kuliah dilain hari dengan kesepakatan dengan mahasiswa, kuliah pengganti tersebut biasanya dilaksanakan pada sore hari ketika jam sudah tidak ada kuliah atau mengambil hari libur, pada saat tersebut dirasa tidak efektif, sehingga Second Life dapat dimanfaatkan ketika dosen tidak dapat hadir dalam kelas dengan memanfaatkan Second Lifemenggunakan avatar cerdas atau mendatangkan ahli dalam Second Life.

Pada mata kuliah Rekrutmen dan Seleksi responden juga menyatakan Second Lifedapat di manfaatkan untuk memperkenalkan proses rekrutmen dan seleksi dalam sebuah perusahaan, sehingga mahasiswa dapat mengetahui gambaran lebih jelas tentang jalannya rekrutmen dan seleski, selain itu dapat dimanfaatkan sebagai uji coba wawancara kerja, dalam hal ini fakultas KULIAH PENGGANTI DOSEN BERHALANGAN HADIR KELAS KOSONG KELAS MELALUI SECOND LIFE AVATAR CERDAS MENDATANGKAN AHLI TIDAK ADA KULIAH PENGGANTI

(34)

bekerjasama dengan perusahaan untuk mendatangkan ahli, kemudian mahasiswa diberikan kesempatan untuk melakukan wawancara kerja dengan HRD sebuah perusahaan kemudian diberikan nilai atas hasil wawancara tersebut, sehingga mahasiswa mendapatkan feedback dari wawancara yang telah dilakukan. (Skenario : Gambar 9)

Gambar 9 Skenario Sistem Rekrutmen dan Seleksi

START

Melihat Proses Rekrutmen dan Seleksi

Perusahaan “X” Mendatangkan Ahli untuk pembelajaran LOGIN SL Memasuki Perusahaan “X” Skenario Traning Mendapatkan Gambaran Proses Traning Wawancara Kerja Melalui SL Example Praktek Wawancara (Sebagai HRD) Melakukan Wawancara Kerja dengan HRD Mendapatkan feedback Mendapatkan feedback END END END

(35)

Pada mata kuliah Desain Traning Second Life dapat dimanfaatkan untuk memperlihatkan proses traning dalam sebuah perusahaan, sehingga diharapkan dengan melihat traning dalam perusahaan tersebut mahaiswa menjadi lebih tau bagaiman sebuah perusahaan dalam melakukan sebuah traning dan dapat menjadikan gambaran mahaiswa ketika memperoleh tugas membuat traning selain itu Second Life juga dapat digunakan sebagai uji coba traning yang telah didesain oleh mahasiswa sebelum mahasiswa benar-benar melakukan traning kepada sebuah organisasi tersebut, sehingga diharapkan melalui uji coba traning tersebut kelompok yang bersangkutan mendapatkan masukan dari dosen atau mahasiswa lainnya terkait bagaimana kekurangan traning yang akan dilakukan sehingga traning akan lebih maksimal. (Skenario : Gambar 10)

Second Life juga dapat diterapkan di mata kuliah PIO, Performace Management System, Human Resource Development System, Pengembangan Organisasi dan Psikologi Konsumen untuk mendatangkan ahli mengisi mata kuliah tersebut secara langsung tanpa harus datang ke kampus, karena menurut wawancara dengan dosen kendala selama ini dalam mendatangkan ahli adalah ketidakcocokan jadwal kuliah dengan ketersedian ahli tersebut untuk datang ke kampus. Second Lifejuga dapat menjadi alternative pembelajaran 2,5 jam yang dipandang membosankan oleh mahasiswa menjadi metode pengajaran yang baru, ketika dosen tidak dapat hadir secara langsung di kelas pembelajaran juga dapat diahlikan dalam Second Life.Skenario Second Life dalam pembelajaran PIO secara keseluruhan dapat dilihat pada gambar 11 pada kesimpulan skenario.

(36)

Gambar 10 Skenario Second Life 3 Melihat Proses Traning Perusahaan “X” Memasuki Perusahaan Skenario Traning Mendapatkan Gambaran Proses Traning LOGIN SL MEMBUAT

TRANING UJI COBA

Melalui SL Ex TEAMWORK Trainer menyiapkan skenario desain traning dalam SL Mahasiswa dalam kelas terlibat dalam traning tersebut Setelah mengikuti traning, mahasiswa dan dosen memberikan masukan dan saran

Melakukan Perbaikan

MELAKUKAN TRANING 1

Non Second Life

Non Second Life START

(37)

Gambar 11 Kesimpulan Skenario Second Life

Psikologi Industri

dan Organisasi

Sistem

Rekrutmen dan

Seleksi

Desain Traning

Performace

Management

System

Pengembangan

Organisasi

Psikologi

Konsumen

Human Resource

Information

System

Sistem

Remunerasi

Mendatangkan ahli

untuk memberikan

kelas dalam second life

Pembelajaran dosen

dilakukan dalam second

life, sebagai metode

pembelajaran baru

Misalnya : Pembelajaran

dilakukan di settingan taman,

perusahaan atau tempat

yang sekiranya mendukung

pembelajaran mendukung

proses pembelajaran

(38)

Berdasarkan skenario pada bebarapa gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa skenario yang dipaparkan mahasiswa adalah berdasarkan pengalaman dan pemahaman mahasiswa selama mengikuti kuliah, karena tidak menutup kemungkinan bahwa Second Life memiliki peluang dimata kuliah PIO yang lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dapat memunculkan dua skenario dalam mata kuliah Sistem Rekrutmen dan Seleksi dan Desain Traning, untuk mata kuliah yang lainnya mahasiswa menyatakan bahwa Second Life dapat dimanfaatkan untuk mendatangkan ahli dan menggantikan kehadiran dosen ketika berhalangan hadir untuk skenario detail pada mata kuliah lainnya mahasiswa tidak dapat memberikan gambaran skenario.

Pada penelitian yang dilakukan di Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia Second Life dapat diterima dengan baik oleh mahasiswa, namun Second Life yang diterapkan harus bersifat positif, artinya mempertimbangkan budaya Indonesia terutama kampus Universitas Islam Indonesia karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya Second Life merupakan teknologi baru di Indonesia, sehingga harus mempertimbangkan beberapa hal. Responden menyatakan Second Lifedikhawatirkan akan membentuk pribadi yang antisosial karena akan mengurangi interkasi dengan dunia nyata, sehingga penggunaan Second Life harus dibatasi ketika mata kuliah berlangsung saja dan tidak dapat diakses diluar jam mata kuliah tersebut. Selain faktor tersebut mahasiswa meragukan dengan kesiapan pihak fakultas, karena selama ini responden menyatakan bahwa FPSB belum siap dengan teknologi yang bersifat komputerisasi berbasis internet, kesiapan tenaga pengajar yang profesional juga

(39)

sangat dibutuhkan dalam realisasi Second Lifesehingga sebaiknya hal-hal tersebut diperhatikan oleh pihak fakultas untuk perbaikan pembelajaran.

Penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Suzanne C. Baker pada tahun 2009 mengungkapkan bahwa teknologi baru pada awalnya memang menimbulkan pro dan kontra seperti halnya kesedian mahasiswa untuk mencoba teknologi baru, kesedian mahasiswa untuk mencoba interaksi online, serta kecemasan mahasiswa dalam belajar menggunakan Second Life sehingga dalam penggunaannya memang harus mempertimbangkan beberapa hal seperti memberikan aturan-aturan dalam penggunaan Second Life bagaimana berprilaku dan menjaga privasi dalam Second Life. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan di FPSB UII, bahwa pada kenyataannya memang teknologi baru menimbulkan pro dan kontra, teknologi Second Life diterima dengan beberapa pertimbangan sebelum teknologi tersebut diterapkan dan harus bersifat positif (membantu).

Berikut merupakan beberapa masukan dan saran responden sebelum Second Life diterapkan sebagai media pembelajaran baru di FPSB UII :

1) Pihak fakultas harus mampu menjamin kesediannya (Fasilitas dan alokasi waktu)

2) Menentukan SAP dan SOP yang jelas dalam pembelajaran menggunakan Second Life.

3) Settingan pembelajaran menggunakan Second Lifeharus memenuhi karakteristik budaya Indonesia dan budaya universitas islam Indonesia.

(40)

4) Efisien dan tidak mengurangi interaksi antara anggota kelompok. 5) Virtual akun tidak disalahguankan, (log in hanya bisa dilakukan di

kampus)

Beberapa hal tersebut diharapkan dapat dipertimbangkan oleh pihak fakultas sebelum menerapkan Second Lifedi FPSB UII, agar nantinya juga dapat efektif dan efisien untuk membantu proses pembelajaran Psikologi Industri dan Organisasi di FPSB UII.

Gambar

Tabel 2 Jadwal Pengambilan Data
Tabel 3 Identitas Responden  Identitas Responden Penelitian
Diagram 2 Hasil Aitem 2
Diagram 3 Hasil Aitem 3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Konsep jual beli dalam Islam yang diutarakan oleh Abdu al-Rahman terdiri dari syarat dan rukun, baik menyangkut penjual dan pembeli, maupun barang.. yang

tampak bahwa nilai AIC untuk metode Kuadrat Terkecil Diperumum lebih kecil sehingga dapat dikatakan bahwa model yang paling cocok digunakan untuk data penyakit demam

Oleh Karena itu, peneliti menganggap pendekatan ini cocok digunakan dalam mengkaji representasi museum sejarah dalam gaya hidup remaja yang berfokus pada bagaimana pengunjung

Dari tabel 5 menunjukkan hasil uji statistik menggunakan korelasi Kendall Tau diperoleh nilai p = 0,003 yang berarti ρ < 0,05 dan untuk nilai koefisien korelasinya p

Pada bagian lain, Pak Harto mulai mengambil inisiatif untuk memeratakan hasil pembangunan dengan mendorong agar perusahaan-perusahaan konglomerat yang notabene telah meraup

Hasil uji statistik chi-square test dengan fisher’s exact test diperoleh nilai P = 0,606 (P > 0,05) dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan

Dalam film dokumenter “Teja Mengelam” yang penulis buat, akan menyajikan bagaimana kehidupan dari masyarakat Desa Paringan dan cara mereka mengatasi permasalahan

Berdasarkan parameter penurunan kandungan beta karoten, umur simpan sari wortel yang disimpan pada suhu dingin (10 °C) adalah 62 hari dan pada suhu ruang ( ±27 °C) adalah 38