Potensi Energi
Indonesia
Membangun Sendiri
Turbin Angin
PLTN
Si “Energi Bungsu”
Yang Tetap Potensial
Bekerja untuk
adalah
kebutuhan
bukan sesuatu
yang dapat
dihamburkan!
Hemat BBM
dengan efisiensi
penggunaan kendaraan
dari sekarang...
6 editorial 7 kolom
Energi dan Sumber Daya Mineral untuk Kesejahteraan Rakyat 8 lensa • Pemerintah Meminta HISWANA MIGAS Menyiapkan SPBG • Diusulkan TDL Naik Secara Bertahap • 500 Mobil di Kementerian ESDM Telah Menggunakan Converter Kit • APBN-P 2012 Disepakati Pemerintah dan DPR • Pemerintah Memberikan Kompensasi untuk Kurangi Beban Masyarakat • Menteri ESDM Hadir dalam Acara Sarasehan Anak Negeri 10 sajian utama • Potensi Energi Indonesia 17 beranda
Desa Mandiri Energi
20 sosok
Bekerja untuk Kesejahteraan Rakyat, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik 24 profil unit Direktorat Jenderal mineral dan Batubara 26 energi mix Energi Panas Bumi, Energi Ramah Lingkungan 28 wacana UU Minerba, Landasan Menuju Kesejahteraan Rakyat 34 regulasi Plat Merah Dilarang Gunakan BBM Bersubsidi 36 MIGAS • Pemerintah Mengusulkan ICP Sebesar US$ 105/Barel • KKS Shale Gas Diharapkan Mencapai 30 Kontrak hingga Tahun 2015 • Rp. 2.1 Triliun Untuk Bangun Infrastruktur Gas • Tahun ini Ditargetkan 15 Proyek MIGAS dapat Berproduksi • Peraturan Menteri: Perpanjangan Kontrak KKS Ditargetkan Rampung Tahun ini • Dalam Rangka Konvensi BBM ke GAS: Pengisian Bahan Bakar Taksi dan Bus Dilakukan di Pool • Dibandingkan Negara Tetangga, Harga Premium Indonesia Lebih Murah • Harga BBM Tidak Naik, Konsumsinya Bisa Mencapai 47,0 juta kilo liter • Pemerintah Memberikan Insentif Menarik Bagi Investor MIGAS • Kendaraan Dinas Dilarang Gunakan Premium • Kilang Bontang Memasok LNG Bagi Pembangkit Di Pulau Jawa • Pemerintah Menawarkan 8 Wilayah Kerja CBM 42 LPE • Pemerintah Usulkan TDL Naik Bertahap
66
68
70
20
• Kerja Sama Pengembangan Mikroalgae dengan NREL • Coal Bed Methane CBM to Power • Deep Offshore Forum• Pembangkit Listrik Tenaga Angin Terbesar di Indonesia
• Deep Offshore Forum
64 pendidikan & pelatihan
• Diklat Drilling di Pusdiklat MIGAS • Sosialisasi Disiplin dan Kode Etik PNS • Diklat Kewirausahaan PNS Pra Purnabhakti • Pusdiklat Migas Siapkan Tenaga Pengajar Ke Luar Negeri 66 teknologi Membangun Sendiri Turbin Angin 68 lingkungan Atasi Krisis Energi dan Pemanasan Global dengan Go Green Listrik 70 potensi PLTN Si “Energi Bungsu” Yang Tetap Potensial 72 keselamatan
Health, Safety & Environment
(HSE) Sebuah Keniscayaan dalam Industri Energi 74 TIPS • Asosiasi Pengusaha Mineral Terbentuk • Bea Keluar Ekspor Minerba Mulai 6 Mei 52 EBT • Sumba Sebagai Pulau Ikonis Energi Terbarukan • Pemerintah Ajak Perbankan Nasional dalam Pengembangan EBT • Pemerintah Optimis Terhadap Masa Depan • Subsidi BBM Berkurang, Energi Alternatif Berkembang • Menteri ESDM ajak Lakukan Penghematan Energi • Energi Baru Terbarukan Suatu Kewajiban • Pemprov Jateng Optimalkan Pengembangan EBT • Pemerintah Dorong Penggunaan Surya Di Pemerintahan dan Swasta 58 BADAN GEOLOGI • Status Gunung Lamongan Naik dari Normal menjadi Waspada • Meningkatnya Aktivitas Gunung Ijen • Maluku diguncang Gempa 5.2 Skala Ritcher • Gunung Merapi Menyemburkan Abu Vulkanik 60 BALITBANG • Seleksi Litbang Inovatif 2012 • Kunjungan Dirjen Ketenagalistrikan ke PLTU Kep. Riau dan PLN Batam • Workshop Mengenai Sistem Tarif Listrik di Jepang • Nyepi, Listrik di Bali Hemat Empat Miliar
• Kampanye Earth Hour Hemat Listrik Hingga 462 MW • PLN Usulkan 3 Proyek PLTA 1300 MW di Luar Jawa Dibangun dengan Skema PPP • 2014, Kapasitas PLTU Bertambah 9.911 MW • Dirjen Ketenagalistrikan Buka 7th Indo Power 2012 • Dirjen Ketenagalistrikan Lantik Pejabat Eselon III dan IV • Kunjungan Kerja Dirjen Ketenagalistrikan Ke PLTU Lampung, UPB dan PLN Lampung • Sosialisasi Undang-Undang Ketenagalistrikan di Banjarmasin 48 MINERBA • Pengusaha Minerba Wajib Gunakan BBN • Batubara bisa Sumbang 90% Penerimaan Negara • KESDM Mantapkan Penerapan Regulasi • Potensi Mineral Jarang • Target Penerimaan Minerba Bertambah Rp 1 triliun • Pemerintah Terapkan Pajak Ekspor Tambang Mentah
c
ontents
Peluang menjadi negara yang memiliki ketahanan energi sebenarnya sudah
dikantongi oleh Indonesia mengingat sumber daya energi yang dimiliki
sangat melimpah dan beraneka ragam, mulai dari minyak bumi, gas alam,
batubara, hingga berbagai macam sumber energi alternatif.
Energi dan
Sumber Daya
Mineral untuk
Kesejahteraan
Rakyat
akibatnya? Masyarakat menjadi BBM-centered, mereka sulit beralih ke energi alternatif lainnya. Hal itu merupakan sebuah masalah mengingat BBM adalah sumber daya yang tak dapat diperbaharui dan cadangan minyak kita pun makin menipis. Imbas lainnya adalah pembengkakan pengeluaran pemerintah untuk subsidi BBM yang menggerogoti APBN kita.
Energi untuk Kesejahteraan
Pembangunan energi memang seharus-nya sudah melibatkan masyarakat luas sebagai pelaku utama pembangunan nasional. Pencapaian kemandirian energi perlu dilakukan secara integratif dan multisektoral agar dampaknya dapat dirasakan seluas-luasnya untuk kesejahteraan rakyat (society based energy).
Potensi lokal seperti aliran air sungai perlu dikelola sebagai sumber energi dengan menggunakan teknologi mikro/ pikohydro yang dapat memenuhi kebutuhan listrik masyarakat setempat. Selain pemerintah, program nasional dalam upaya mem bangun kemandirian energi perlu mendapat dukungan (political will) dari semua kepala daerah agar potensi alam di daerah tidak terbengkalai dan justru memberikan multiplier effect terhadap kesejahteraan rakyat.
I
ni juga yang digaungkan Kementerian ESDM di bawah kepemimpinan Jero Wacik, dengan misi `Energi dan Sumber Daya Mineral Untuk Kesejahteraan Rakyat`. Artinya, memang kekayaan alam Indonesia yang besar tersebut, harus dapat digunakan untuk menyejahterakan masyarakat.Ini juga merupakan serapan dari Pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi, kekayaan alam Indonesia yang amat banyak, harus digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun, bagaimana faktanya saat ini? Indonesia justru menjadi net importir energi hal ini karena pemanfaatan energi yang ada belum optimal.
Salah satu kondisi yang memprihatin-kan adalah masih terbatasnya akses masyarakat terhadap energi, sehingga sering terjadi kelangkaan dan ada daerah di Indonesia yang belum mendapatkan pasokan energi secara cukup. Hal ini disinyalir berhubungan erat dengan jalur akses energi di Indonesia yang masih terbatas.
Selain itu, masalah lain yang juga kita hadapi adalah pangsa konsumsi BBM yang sangat besar dibandingkan dengan sumber energi lainnya, yaitu mencapai 63% dari total konsumsi energi. Apa
Langkah-langkah kreatif seperti ini perlu ditumbuhkembangkan oleh segenap elemen bangsa. Bantuan pemerintah dalam bentuk BLSM harus efektif dan tepat sasaran kepada rakyat miskin. Dan, yang lebih penting lagi, pemerintah perlu menumbuhkan kreatifitas masyarakat dalam bidang energi, karena manfaatnya untuk jangka panjang. Wujud peran pemerintah salah satunya adalah dengan mewajibkan daerah dalam mendukung dan mengimplementasikan program ke-mandi rian energi.
Upaya mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan pada minyak bumi perlu biaya dan tenaga yang besar dalam bentuk penelitian, dukungan kebijakan yang kondusif, dan perhatian dari masyarakat secara bersama. Yang tidak kalah penting adalah penciptaan jaringan infrastruktur, terutama sistem dan sarana transportasi yang efektif dan efisien yang mampu menekan konsumsi BBM yang cenderung boros. Dengan demikian, harapan besar bahwa cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan energi dan kesejahteraan rakyat tidak sekadar sebatas mimpi! “Cintai Negeri kita berjuang untuk tanah air, ESDM untuk kesejateraan Rakyat,” slogan Menteri ESDM.
Para pembaca yang kami hormati,
Hidup sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sejatinya merupakan kebanggaan dan
kehormatan tersendiri. Selain memiliki potensi sumber daya manusia yang sangat
luar biasa, Indonesia juga dikaruniai sumber daya alam yang sangat berlimpah. Tak
mengherankan apabila Indonesia sejak dahulu kala dikenal sebagai mutiara khatulistiwa
yang sangat memesona. Sedemikian berlimpahnya karunia alam ini, maka Indonesia tak
jarang disebut sebagai surga dunia dalam berbagai makna yang melingkupinya.
Kekayaan alam tersebut diantaranya berupa potensi sumber energi, baik yang tidak terbarukan maupun terbarukan. Meski pada kenyataannya sumber energi fosil di Indonesia, khususnya minyak bumi, kian tergerus habis, namun ragam sumber energi lainnya masih sangat potensial untuk terus berkembang dan dikembangkan. Sebut saja salah satunya potensi energi laut. Indonesia yang dua pertiga kawasannya adalah berupa perairan, memendam potensi sumber energi yang sangat besar dan juga beragam. Potensi sumber energi tersebut antara lain berupa energi angin laut, energi gelombang laut, energi pasang surut laut, dan juga energi arus laut.
Selain itu, masih banyak potensi sumber energi lain yang mampu digarap oleh Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan energi nasional yang selama ini sebagian besar bertumpu pada penggunaan energi minyak bumi. Potensi-potensi tersebut antara lain geothermal, batu bara, gas bumi, nuklir, biomassa, angin dan lain sebagainya.
Sebuah langkah strategis tentunya sangat diperlukan guna meningkatkan pemanfaatan potensi energi tersebut secara nyata. Dengan demikian, polemik ketahanan energi yang dewasa ini hanya berkutat pada energi fosil (minyak bumi) dapat terurai dengan harmonis, terutama sebagai sebuah solusi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan dan berkesinambungan.
Oleh karenanya, pada edisi kedua ESDM MAG ini, redaksi mencoba secara ringkas memaparkan berbagai fakta mengenai keberadaan potensi sumber energi alternatif tersebut. Bahan-bahan paparan kami olah dari berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Semoga saja sajian yang kami hadirkan disini dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan potensi energi alternatif di masa mendatang. Selain itu, sebagaimana edisi sebelumnya, pembaca juga dapat menyimak rangkaian artikel yang
mengetengahkan ragam berita yang terjadi di berbagai unit, maupun berita-berita aktual seputar masalah energi di Indonesia. Jangan lupa untuk membuka rubrik Wacana yang dalam edisi ini mengulas mengenai RUU Minerba yang mendapatkan banyak sorotan dari berbagai pihak.
Akhir kata, kami sampaikan selamat membaca. Semoga sajian redaksi dalam edisi ini mampu menghadirkan banyak manfaat. Terima kasih
Salam Redaksi
e
ditorial
KESDM
Penanggung Jawab Sekretaris Jenderal Pengarah Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Keuangan, Staf Ahli
Menteri Bidang Komunikasi dan Sosial Kemasyarakatan, Kepala Biro Hukum dan Humas, Pardamean Ronitua H., Buntje Harbunangin Redaktur Kepala Bagian Hubungan Masyarakat, Kepala Bagian Penelaahan Hukum, Kepala Bagian Bantuan Hukum, Kepala Bagian Penyusunan Peraturan Perundang-Undangan, Kepala Subbagian Peliputan dan Hubungan Media Editor Indra Tauhid Cahyandaru, Dian Eka Puspitasari, Vagunaldi, Dian Lorinsa, Arid Riza Abadi, Laksono Nur Brahmantyo Desainer Grafis Bambang Wijiatmoko, Pandu Satria Jati Fotografer Judhi Purdhiyanto, Arief Suryadi, Tursilowulan Wahyu Hastuti Sekretariat Hari Budiono, Lufti Ekaputra Setiadi, Bunga Adi Mirayanti, Subhana Nurhidayat, Safii, Khoiria Oktaviani Alamat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral - Jl. Medan Merdeka Selatan No.18, Jakarta 10110, Tromol Pos : 1344/ JKT 10013, Tel. / Faks. (021) 344 0649 , email. [email protected]
7
6
Seperti diantaranya kompensasi transportasi, misalnya dengan pemberian kupon ongkos angkot atau bus anak-anak sekolah, bantuan STNK dan KIR untuk angkutan umum, kompensasi pangan misalnya, menambah raskin baik volume maupun kuotanya serta kompensasi bantuan pendidikan antara lain dengan memberikan tambahan subsidi dan beasiswa siswa miskin. Demikian dikatakan Menteri ESDM, Jero Wacik usai Rapat Kerja terkait perubahan asumsi Makro APBN 2012 dengan Komisi VII DPR RI, Selasa, (13/03/2012). “Kompensasi merupakan upaya peme-rintah untuk mengurangi dampak yang timbul, terutama di lapisan masyarakat tingkat bawah. Berat rasanya, karena itu, mari kita tanggung bersama-sama,” ujar Jero Wacik.
Pemerintah Meminta HISWANA MIGAS
Menyiapkan SPBG
APBN-P 2012 Disepakati
Pemerintah dan DPR
Pemerintah Memberikan
Kompensasi untuk Kurangi
Beban Masyarakat
500 Mobil Di Kementerian ESDM
Telah Menggunakan
Converter Kit
Diusulkan TDL Naik Secara Bertahap
Menteri ESDM Jero Wacik dalam pem-bukaan Rakernas Himpunan Hiswana Migas, di Jakarta, Jumat (16/3/2012) mengatakan, ”Melalui program diver-sifikasi BBM ke BBG, pengusaha Hiswana juga harus bersiap-siap untuk menyiapkan SPBG dan bisnis energi terbarukan lainnya.”
“Kami usulkan kenaikan TDL 2012 dipecah menjadi tiga, yaitu Mei-Juli naik 3%, Agustus-Oktober naik 3% dan November-Desember naik 3%,” ujar Jero Wacik. Ditambahkan pula jika sebelumnya TDL diusulkan akan naik 10% pada 1 April. Namun mengingat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi diperkirakan akan naik 1 April, maka muncul pemikiran untuk memecah kenaikan TDL agar tidak terlalu memberatkan. Dengan usulan ini kenaikan TDL yang semula 10% menjadi 9%.
Dalam rangka mendukung program diversifikasi BBM ke BBG Pemerintah
meminta para pengusaha hilir migas yang tergabung dalam Himpunan
Wiraswasta Nasional Minyak Bumi dan Gas Bumi (Hiswana Migas)
untuk mempersiapkan Stasiun Pengisian
Bahan Bakar Gas (SPBG).
Pemerintah dengan Komisi VII DPR
RI telah menyepakati perubahan
beberapa poin APBN 2012 menjadi
APBN-P 2012, diantaranya adalah
besaran Indonesia Crude Price (ICP)
dan lifting minyak bumi.
Dampak buruk yang terjadi akibat kenaikan BBM sudah barang tentu
akan memberatkan sebagian masyarakat. Oleh karena itu untuk
mengurangi beban masyarakat maka Pemerintah memberikan berbagai
macam kompensasi.
Dalam rangka meningkatkan ketahanan energi serta mendukung
penggunaan energi yang lebih bersih maka perpindahan penggunaan
BBM ke BBG harus segera dilakukan. Dan pemanfaatan gas bagi sektor
transportasi akan didorong secara alami sesuai dengan ketersediaan gas
dan infrastruktur.
Menteri ESDM Jero Wacik hadir dalam rapat kerja dengan Komisi
VII DPR RI yang membahas Asumsi Dasar Subsidi Listrik dalam RUU
APBN-P 2012. Dalam kesempatan ini Menteri ESDM menyampaikan jika
Pemerintah mengusulkan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dilakukan
secara bertahap.
Menteri ESDM Jero Wacik dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Selasa (28/03/2012) lalu mengatakan, ”Saya merencanakan, sudah ada
“Pengusaha Hiswana jangan hanya fokus bikin pom bensin, ayo kita galakkan bisnis energi terbarukan,” tegas Jero Wacik. Ditambahkan pula oleh Jero Wacik bahwa pada saat ini jumlah minyak terus mengalami penurunan dan harganya pun melambung tinggi. Dengan demikian mau tidak mau kita harus mengucapkan goodbye pada BBM. Menteri Jero Wacik melanjutkan, persoalan BBM memang terus menjadi masalah di Indonesia yang masih menganut sistem subsidi. Sementara subsidi saat ini justru banyak dinikmati oleh kalangan mampu.
Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan bahwa hasil yang disepakati hari ini adalah ICP disetujui oleh Komisi VII 105 USD, lifting minyak bumi disetujui 930.000 barel per hari, subsidi LPG 3 Kg, disetujui 3,61 juta ton, subsidi BBN disetujui, untuk biodiesel Rp 3.000 per liter, untuk Bioethanol, Rp 3500 per liter, Alpha BBM bersubsdi, Rp 641,94 per liter, volume BBN dan BBM disetujui 40 juta Kl, kemudian subsidi LGV agar konversi BBM ke gas dapat dipercepat, disetujui Rp 1500 per liter. Dalam rapat kerja dengan DPR tersebut Menteri ESDM didampingi oleh Kepala BP Migas, R. Priyono serta seluruh pejabat Eselon I dan II dilingkungan Kementerian ESDM.
anggaran nya sekarang, bulan depan kita mulai, malah hari ini sudah dimulai secara sporadis, sudah ada kira-kira 500 mobil di Kementerian ESDM yang sudah menggunakan converter kit.”
Ditambahkan oleh Jero Wacik, jika kemampuan dalam negeri masih belum mampu mencukupi pengadaan converter kit karena itu pengadaanya masih dilakukan melalui proses impor. Oleh karena itu Pemerintah mempersilahkan produsen-produsen dalam negeri untuk membuat converter kit.
Menteri
ESDM Hadir
dalam Acara
Sarasehan
Anak Negeri
Menteri ESDM Jero Wacik pada
acara Sarasehan Anak Negeri
di MetroTV, Kamis (08/03/2012)
menegaskan jika Pemerintah
mendukung Pertamina dalam
upaya melakukan efisiensi untuk
menurunkan biaya pokok produksi
Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Untuk menurunkan cost, akan terus dilakukan efisiensi bila masih memungkinkan,” ujar Jero Wacik. Acara Sarasehan Anak Negeri ini menghadirkan 100 tokoh nasional termasuk diantaranya Menteri BUMN Dahlan Iskan, Dirut Pertamina Karen Agustiawan, Kepala BPMigas R. Priyono, Kwik Kian Gie, Effendi Simbolon, dan tokoh politik nasional lainnya.
Tidak berlebihan
jika Indonesia
memiliki
sebutan “Jamrud
Khatulistiwa”. Negeri
tercinta ini memiliki
ragam pesona dan
potensi yang sangat
luar biasa. Termasuk
diantaranya potensi
sumber daya energi
terbarukan yang
sangat beraneka
dan berlimpah ruah.
Potensi ini, sejatinya,
merupakan kunci sukses
bagi Indonesia untuk
terus bertumbuh dan
berkembang dimasa
mendatang.
L
aju perekonomian Indonesia terus menunjukkan per cepatan positif yang ditandai dengan kesejahteraan masyarakat yang kian meningkat. Kabar gembira ini tentu membutuhkan dukungan berkesinambungan berupa ketersediaan energi dari berbagai sumber yang ada. Sudah semestinya upaya pemenuhan energi ini mendapat perhatian serius dari segenap anak bangsa. Terlebih, Indonesia dan juga hampir seluruh negara lainnya dewasa ini tengah menghadapi berbagai tantangan dalam bidang energi yang cukup serius, yaitu semakin minimnya cadangan energi fosil, khususnya minyak bumi. Sementara itu, pada sisi lain kebutuhan terhadap jenis energi ini terus meningkat seiring dengan pertumbuhan aktifitas manusia diberbagai sisi.Meski upaya pencarian dan penam-bangan minyak bumi terus dilakukan secara intensif dengan menjunjung tinggi faktor efisiensi, namun bagaimana pun juga ketersediaan minyak bumi diperkirakan akan terus tergerus. Sehingga pada gilirannya nanti, sumber energi fosil yang disedot dari perut bumi dapat dipastikan akan habis tak tersisa. Bahkan pada saat ini banyak catatan ilmiah yang telah memprediksikan kapan manusia akan menghadapi habisnya cadangan minyak tersebut.
Alih-alih berdiam diri, dimulai sejak beberapa dekade lalu, umat manusia dari seluruh penjuru dunia telah serius mencari alternatif energi terbarukan yang mampu mengganti peran penting energi fosil tersebut. Upaya ini tampaknya berujung manis. Saat ini telah banyak dilansir beberapa informasi mengenai energi pengganti yang memiliki sifat terbarukan.
Indonesia sendiri memiliki ragam energi terbarukan jalam jumlah yang cukup signifikan. Hal ini tentu saja menjadi berita penting yang semestinya mampu membawa hembusan angin positif tersendiri. Ketersedian energi alternatif terbarukan di Indonesia ini salah satunya didukung oleh kondisi geografis yang sangat strategis.
Dalam sebuah paparan, hasil riset Forst & Sullivan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pasar energi baru dan terbarukan. Paparan tersebut didukung kenyataan bahwa Indonesia memiliki sumber daya energi potensial untuk membangun pembangkit listrik berbasis tenaga geothermal, tenaga air, biomassa, tenaga angin, tenaga surya serta energi gelombang laut.
Country Director Forst and Sullivan Indonesia, Eugene van de Weerd dalam
penjelasannya mengatakan, kenaikan harga minyak bakal mendorong berkembangnya industri energi baru dan terbarukan. “Hambatannya saat ini masih segi harga, pengembangan, permintaan pasar dan insentif yang menarik dari pemerintah,” ujar Eugene. Selaras, Asia Pasific Vice President, Energy & Power System Practice Forst and Sullivan, Ravi Krishnaswamy mengatakan bahwa perkembangan industri energi baru dan terbarukan di Indonesia sangat menjanjikan, terutama dengan hadirnya kerangka peraturan dan kebijakan seperti feed in tariff untuk menarik minat swasta di industri ini. Ditengarai pula bahwa Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan industri dalam negeri bahkan bersaing dengan negara-negara lain di dunia.
Peta Energi Terbarukan Indonesia
Dalam sebuah kesempatan, Direktur Bio Energi Kementerian ESDM, Maritje Hutapea mengatakan, saat ini pemerintah sedang menyusun road map bauran energi. Dua skenario yang sedang disusun oleh pemerintah adalah bauran energi dengan dan tanpa nuklir. Menurutnya, dalam kasus skenario tanpa nuklir, maka pada 2025 peran energi panas bumi perlu ditingkatkan menjadi 17 juta ton setara minyak (MTOE) atau
22 gigawatt (GW) dan gas metana batu bara (CBM) menjadi 14 MTOE. “Atau, dengan meningkatkan pemanfaatan tenaga air maupun biomassa di wilayah Jawa dan Sumatera,” katanya.
Jika, skenario pemanfaatan EBT tanpa nuklir tidak tercapai, kata Martije, pemerintah akan memaksimalkan porsi batubara hingga 33,4%. Maritje mengatakan, porsi EBT tanpa nuklir pada 2025 itu terdiri dari bahan bakar nabati (BBN) 6,7%, sampah 2,4% panas bumi 3,9 %, air 5,3 %, laut 0,3 %, matahari 2 %, angin 0,8 %, dan gas metana batu bara (CBM) 3,7 %.
Paralel, sebagaimana dijelaskan Direktur Jendral Listrik dan Konservasi Energi melalui Diskusi Kelompok Fokus pada Penawaran dan Permintaan Sumber Baru dan Terbarukan yang diselenggarakan oleh Pusdatin ESDM, bahwa Indonesia memiliki potensi energi besar dari yang baru hingga yang terbarukan. Potensi energi tersebut terdiri dari 450 MW dari mini/micro tenaga air, 50 GW dari Biomassa, 4,80 KWh/m2/hari tenaga matahari, 3-6 m/dtk tenaga angin, dan 3 GW tenaga nuklir.
Saat ini pengembangan energi terbaru-kan diatur dengan Keputusan Presiden No.5 / 2006 tentang kebijakan energi nasional. Keputusan ini menyatakan
In
donesia
10
11
bahwa kontribusi energi baru dan terbarukan dalam bauran energi primer nasional 2025 diperkirakan mencapai 17%, yang terdiri dari biofuel 5%, panas bumi 5%, biomassa, nuklir, air, dan angin, dan batubara juga dicairkan pada 2 %. Selaras, Pemerintah akan mengambil tindakan untuk menambah kapasitas pembangkit listrik Micro Hydro untuk 2.846 MW pada tahun 2025, Biomassa dari 180 MW pada tahun 2020, tenaga angin (Bayu pembangkit listrik) dari 0,97 GW pada tahun 2025, surya 0,87 GW pada 2024, dan tenaga nuklir dari 4,2 GW pada tahun 2024. Total investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan sumber energi baru dan terbarukan sampai tahun 2025 diproyeksikan mencapai US $ 13.197 juta.
Biomassa
Langkah yang diperlukan untuk pengembangan biomassa melibatkan daur ulang limbah dari pertanian dan industri kehutanan sebagai sumber energi yang terintegrasi dengan industri masing-masing, mengintegrasikan ngem bangan biomassa dengan pe-ngembangan ekonomi lokal, mening-kat kan fabrikasi teknologi konversi energi biomassa termasuk sektor pendukungnya, dan penelitian pe-ningkatan dan pengembangan daur ulang limbah, termasuk limbah kota, untuk energi.
Angin
Energi angin di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan. Potensi ini bukan hanya pada besarnya nilai energi yang dapat dihasilkan namun juga akan memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Dalam beberapa tahun mendatang diperkirakan dapat menjadi sumber energi tumpuan bagi Indonesia. Dengan skenario national perpaduan energi (energy mix), kebutuhan listrik yang disediakan dari energi angin dapat diperkirakan sebesar 1000 MW pada tahun 2025. Sedangkan menurut data
World Wind Energi Association Report (WWEA 2010), kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga angin di Indonesia sebesar 1,4 MW yang tersebar di Nusa Penida (Bali), Bangka Belitung, Yogyakarta dan Pulau Selayar (Sulawesi Utara).
Jumlah tersebut belum mencapai angka yang signifikan untuk memenuhi skenario energy mix 2025. Artinya pemerintah harus berusaha keras untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu dengan kapasitas total 1.000 MW hingga 13 tahun mendatang. Jumlah ini bukanlah mustahil untuk dipenuhi jika kita melihat potensi energi angin yang tersebar di seluruh pesisir nusantara. Indonesia yang memiliki total garis pantai mencapai 81.000 km dengan kecepatan angin
rata-rata 3-5 m/s, bahkan di beberapa tempat mencapai 10 m/s.
Kemudian dari data cetak biru (blue print) Energi Nasional departemen ESDM, total potensi energi angin diperkirakan mencapai 9 GW. Angka ini merupakan suatu potensi besar jika dapat dimanfaatkan untuk menuai energi angin demi terciptanya ketahanan energi nasional dalam beberapa waktu ke depan. Upaya untuk mengembangkan energi angin mencakup pengembangan untuk
listrik dan non listrik penggunaan (sebagai pompa untuk irigasi dan air bersih), pengembangan skala kecil (10 KW) dan skala menengah (50-100 MW) teknologi energi angin dan pabrik yang mendukung untuk memproduksi massal SKEA skala kecil dan menengah.
Salah satu implementasi pemanfaatan energi ini dilakukan pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) dengan menandatangani nota kesepahaman kerjasama (Memorandum of Undersatnding/MoU) dengan UPC Renewables Indonesia Limited untuk mengembangkan pusat listrik tenaga bayu (PLTB) di Indonesia.
Dirjen EBTKE Kardaya Warnika mengatakan tujuan dari penandatanganan MoU ini guna membantu dalam pelaksanaan feasibility study dalam rangka membantu persiapan program pembangunan PLTB di pantai Samas, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan kapasitas total 50 MW.
“Setelah feasibility study selesai di-laksanakan, diharapkan pihak UPC Renewables Indonesia Limited bersama partner lokal PT. Binatek Reka Energi
surya di Indonesia bisa lebih murah, karena iklim tropis di Indonesia lebih menguntungkan
Nuklir
Untuk mengembangkan energi nuklir, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah sosialisasi untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat dan berkoordinasi dengan beberapa negara untuk menguasai teknologi.
Mikrohidro
Dalam mengembangkan mikro-hidro, pemerintah perlu untuk mengintegrasikan pembangkit lis-trik mikrohidro bertenaga dengan ekonomi lokal, memaksimalkan potensi irigasi untuk pembangkit listrik dan mengembangkan industri mikrohidro dalam negeri, dan mengembangkan kemitraan beberapa pola pendanaan.
Panas Bumi
Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar. Potensi panas bumi Indonesia tercatat sekitar 29 ribu MW yang merupakan potensi panas bumi terbesar di dunia atau sekitar 40% dari potensi dunia dan sebesar 10.092 MW. Kapasitas terpasang PLTP saat ini tercatat sebesar 1.226 MW atau Selatan dan Madura sebab berdasarkan
hasil survei kedua daerah tersebut memiliki potensi angin yang cukup besar. ”Selain Sulsel dan Madura, saya juga dapat laporan kalau sekitar Bangka Belitung potensi anginnya cukup baik,”tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, Senior Vice President UPC Renewables Indonesia Limited, Chris A Caffyn men-jelaskan investasi yang dibutuhkan untuk proyek PLTB di Yogyakarta ini sekitar US$75-US$100 juta.”Dengan mempertimbangkan teknologi terakhir, lokal content yang digunakan dan memakai pekerja lokal investasi maka investasi yang dibutuhkan antara US$75-100 juta ,”pungkasnya.
Matahari
Pengembangan energi surya mencakup penggunaan pembangkit listrik ber-tenaga di daerah pedesaan dan kota, mendukung komersialisasi pembangkit listrik bertenaga surya dengan me-maksimalkan peran sektor swasta, pengembangan industri dalam negeri pembangkit listrik bertenaga surya, dan penciptaan sebuah pendanaan yang efisien sistem melalui keterlibatan sektor perbankan. Pembangunan energi dapat mengembangkan wind farm yang
direncanakan dengan kapasitas 50 MW di Dusun Patehan, Kecamatan Sanden, kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,”tutur dia.
Menurut Kardaya, proyek tersebut meliputi pembangunan 33 turbin angin dengan kapasitas masing-masing sebesar 1,5 Megawatt (MW) yang akan mulai dikerjakan setelah dilakukan penandatanganan power purchase agreement (PPA) dan direncanakan selesai dalam waktu 15 bulan.
Untuk kategori pembangkit listrik, lebih lanjut Kardaya menjelaskan, kapasitas 50 MW tergolong besar apalagi untuk pembangkit listrik dari energi baru terbarukan.
”Selama ini kita baru punya skala kecil ataupun masih dalam tahap pilot project, dengan ditandatangani proyek tersebut merupakan milestone bagi pembangunan pusat listrik tenaga angin dalam skala komersial,”papar Kardaya.
Setelah Yogyakarta, kata dia, wilayah lain yang dibidik pemerintah untuk mengembangkan PLTB yaitu Sulawesi
Image: Istimewa
4,2 persen dari potensi panas bumi Indonesia.
Regulasi Pendukung
Guna mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan, pemerintah telah mengeluarkan beberapa aturan dan peraturan, terdiri dari Keputusan Presiden Nomor 5/2006, tentang Kebijakan Energi Nasional, UU No 30/2007 tentang Energi, UU No 15/1985 pada listrik, Peraturan Pemerintah Nomor 10/1989 yang diperbaharui dengan Peraturan Pemerintah Nomor 03/2005 dan No.26 / 2006 tentang penyediaan dan penggunaan listrik, Peraturan Menteri No 002/2006 pada komersialisasi energi terbarukan skala menengah pembangkit listrik, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.1122k/30/MEM/2002 Dekrit tentang penyebaran pembangkit listrik skala kecil. Saat ini pemerintah sedang menyusun undang-undang tentang energi baru dan terbarukan yang meliputi penyediaan dan penggunaan energi baru dan terbarukan bersama dengan insentif tersebut.
Proyeksi pembangunan energi terbarukan (Renewable Resources) di Indonesia potensial merata untuk sumber-sumber seperti biofuel, geothermal, hydro dan solar (surya). Sumber tersebut hanya tinggal disesuaikan dengan situasi serta kemampuan penyediaannya.
Misalkan di daerah yang banyak kepulauannya seperti NTT (Nusa Tenggara Timur), potensial untuk proyeksi sumber energi surya dan hydro. Sementara di daerah yang daratan tinggi seperti di beberapa daerah di pulau Jawa, geothermal (panas bumi) sangat potensial. “Bahkan untuk sumber energi biofuel, Indonesia tidak kalah dibanding Thailand. Karena ada 15 perusahaan existing pemasok biofuel,” Principal Advisor untuk Program Pengembangan Energi Terbarukan (ASEAN-RESP) Rudolf Rauch.
Disebutkan bahwa beberapa perusahaan asal Jerman sedang menjajaki pengembangan potensi energi surya, existing-nya mencapai 2440 giga watt. Indonesia bisa mengembangkan energi surya sebagai alternatif mengurangi ketergantungan terhadap
energi fosil, terutama BBM (Bahan Bakar Minyak), batubara, dan lain sebagainya. “Bahkan sumber energi biomass (sampah), ocean juga bisa memperkaya alternative pengembangan energi terbarukan di Indonesia”.
Dari ujung barat sampai ujung timur, Indonesia memiliki potensi laut yang sangat berlimpah, terutama dalam bentuk energi. Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki wilayah laut terbesar. Sekitar dua per tiga wilayah Indonesia adalah laut. Indonesia memiliki pantai kedua terpanjang di dunia setelah Kanada, dimana panjang pantai Indonesia sekitar 80.000 kilometer (Km) dan luas lautnya adalah sekitar 52 juta km2. Energi tersebut dapat berasal dari gelombang laut, arus laut dan angin laut. Pembuatan pembangkit energi laut memang sangatlah mahal karena pengerjaan di laut memiliki risiko yang sangat besar. Selain mencari riset tentang bagaimana meningkatkan efisiensi dari pembangkit itu sendiri ada banyak pihak juga meneliti bagaimana membuat pembangkit listrik energi laut yang tidak memerlukan banyak biaya.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Asosiasi Energi Laut Indoneisa (ASELI), secara teoritis, total sumberdaya energi laut nasional sangat melimpah, meliputi energi dari jenis panas laut, gelombang laut dan arus laut, yaitu mencapai 727.000 MW. Namun demikian, potensi energi laut yang dapat dimanfaatkan dengan menggunakan teknologi sekarang dan secara praktis memungkinkan untuk dikembangkan, berkisar antara 49.000 MW. Diantara potensi sedemikian besar tersebut, industri energi laut yang paling siap adalah industri berbasis teknologi gelombang dan teknologi arus pasang surut, dengan potensi praktis sebesar 6.000 MW.
Nilai potensi sebesar itu dihasilkan dari perhitungan yang hati-hati berdsarkan survei
lapangan. Hal itu dibenarkan oleh Ir. Subaktian Lubis, Msc, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan. “Dalam kaitannya dengan eksplorasi sumberdaya energi laut PPPGL telah aktif melakukan penelitian dan pengembangan energi laut dibeberapa selat-selat potensial di Indonesia. Kegiatan ini dilakukan baik secara mandiri dilingkungan ESDM maupun bekerjasama dengan lembaga relevan yang lain. Hasil-hasil survei lapangan kami telah dipakai untuk memvalidasi perkiraan-perkiraan teoritis yang dikembangkan oleh para ahli”.
Selama ini sebagian orang ragu akan potensi itu oleh karena menganggap bahwa tantangan kesulitan di laut belum mampu dikelola dengan kemajuan teknologi yang ada. Menurut Dr. Ir. Erwandi, Kepala BPPH-BPPT, hal ini tidaklah benar. “Teknologi energi laut di dunia Internasional telah berkembang pesat. BPPT telah mulai melakukan pengkajian jenis-jenis teknologi ini untuk kemungkinan diterapkan di Indonesia,”katanya.
BPPT dan perguruan tinggi seperti ITS dan ITB juga telah mengembangan jenis teknologi energi laut dalam negeri untuk mengembangkan kemampuan nasional dibidang industri energi laut. “Kami optimis bahwa potensi energi laut yang telah diidentifikasi dan diratifikasi oleh para ahli ini dapat menjadi pegangan pemerintah dan dunia usaha untuk mempercepar realisasi pemanfaatan energi laut di Indonesia,”pungkas dia.
Gelombang Laut
Gelombang laut terjadi karena adanya hembusan angin serta dipengaruhi oleh kedalaman lautnya. Gelombang laut sering
digunakan sebagai media untuk menghasilkan listrik untuk pembangkit listrik energi laut. Ada yang memanfaatkan gelombang laut dengan turbin ataupun dengan menggunakan teknologi elektromagnetik. Bahkan ada pula yang memanfaatkannya dengan teknologi kimiawi. Semua dilakukan untuk mengeksplorasi energi gelombang menjadi energi laut. Energi gelombang lebih banyak memanfaatkan tingginya gelombang. Naik turunnya gelombang laut secara kontinu menyebabkan alat pengubah gelombang laut menjadi listrik bisa mendapatkan gerakan sehingga menghasilkan listrik.
Gelombang tercipta terutama akibat hembusan angin di permukaan laut. Selama ada perbedaan suhu udara disuatu daerah dengan dengan daerah lainnya akan menimbulkan angin yang membentuk gelombang jika melewati laut dan setiap lokasi kekuataannya bervariasi.
Daerah samudera Indonesia sepanjang pantai selatan Jawa sampai Nusa Tenggara adalah lokasi yang memiliki potensi energi gelombang cukup besar berkisar antara 10-20 kW per meter gelombang. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa titik di Indonesia bisa mencapai 70 kW per meter di beberapa lokasi. Karakteristik energi gelombang sangat sesuai untuk memenuhi kebutuhan energi kota-kota pelabuhan dan pulau-pulau terpencil di Indonesia.
Pengembangan teknologi pemanfaatan energi gelombang di Indonesia saat ini masih belum
optimal namun cukup menjanjikan. Pantai barat pulau Sumatera bagian selatan dan pantai selatan pulau Jawa bagian barat berpotensi memiliki energi gelombang laut sekitar 40 kW per meter. Meskipun penelitian untuk mendapatkan teknologi yang optimal dalam mengkonversi energi gelombang laut masih terus dilakukan, saat ini ada beberapa alternatif teknologi yang dapat dipilih. Alternatif teknologi yang diprediksikan tepat dikembangkan di pesisir pantai selatan pulau Jawa adalah Teknologi Tapered Channel (Tapchan).
Balai Pengkajian Dinamika Pantai (BPDP), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT) Yogyakarta melalui riset sejak tahun 2003 telah mampu mengembangkan pemanfaatan energi gelombang laut sebagai sumber alternatif energi listrik, dengan menggunakan teknologi OWCS,BPDP-BPPT telah membangun prototipe di pantai Parangracuk, Baron, Gunung Kidul, DIY dan berhasil memperoleh potensi daya sebesar 522 watt.
Kegiatan pengembangan dan penelitian teknologi pemanfaatan energi gelombang masih terus dilakukan oleh kalangan peneliti dan akademisi. Beberapa penelitian untuk meningkatkan daya pada sistem konversi energi gelombang laut jenis cavity resonator dengan memodifikasikan bentuk tabung silindernya. Hasil penelitian menunjukan bahwa apabila periode gelombang diperbesar, maka tekanan udara yang terjadi
orifice (lubang kecil diatas tabung) menjadi
cukup signifikan yaitu rata-rata sekitar 40 persen lebih besar dari sebelumnya. Selanjutnya jika tinggi gelombang diperbesar
maka tekanan yang terjadi menjadi besar signifikan yaitu rata-rata sekitar 200 persen.
Pasang Surut Laut
Energi pasang surut di wilayah Indonesia terdapat pada banyak pulau. Cukup banyak selat sempit yang membatasinya maupun teluk yang dimiliki masing-masing pulau. Hal ini memungkinkan untuk memanfaatkan energi pasang surut. Saat laut pasang dan surut aliran airnya dapat menggerakan turbin untuk membangkitkan listrik.
Arus laut
Arus laut Indonesia sangatlah deras, terutama di Indonesia bagian timur karena banyaknya pulau-pulau kecil. Arus terjadi karena adanya gaya gravitasi bulan dan sebagian kecil matahari. Berbagai macam desain turbin arus sudah dibuat oleh berbagai pihak untuk mengkonversi arus laut menjadi energi yang siap untuk dipergunakan.
Angin laut
Angin laut selain bisa menggerakkan gelombang juga bisa digunakan untuk menggerakkan turbin untuk dihasilkan listrik. Sudah banyak digunakan oleh negara-negara lain memanfaatkan angin laut untuk diubah menjadi energi listrik. Indonesia sangat mungkin menggunakan energi angin ini.
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa apabila Pulau Jawa dikelilingi pembangkit listrik tenaga angin, maka mungkin tidak perlu lagi menggunakan pembangkit listrik berbasis minyak bumi maupun batu bara yang ketersediaannya semakin menipis.
“Jalesveva Jayamahe”
14
15
Energi Hibrid Panas
Matahari dan Angin
2012 Adalah Tahun
Internasional Energi
Terbarukan
Indonesia tengah mengembangkan energi hibrid berbasis pada potensi panas matahari dan kekuatan angin. Pilot project pengembangan energi baru dan terbarukan ini adalah Pantai Pandansimo, Srandakan ,Bantul, yakni daerah berpasir dengan luas 37 hektare.
Untuk sementara pemanfaatan pembangkit listrik tenaga hibrid digunakan untuk penerangan kawasan wisata pantai. Tenaga hibrid sendiri tengah dicoba dimanfaatkan untuk pertanian di lahan berpasir yang memerlukan air ekstra tinggi.
Saat ini pembangkit listrik energi hibrid sudah terpasang 35 unit turbin angin dengan tinggi rata-rata 18 meter, terdiri 26 turbin angin berkapasitas 1 KW, 6 turbin angin 2,5 KW, 2 turbin angin 10 KW, dan satu turbin angin 50 KW. Ditambah juga 175 unit sel surya dengan kapasitas 17,5 KWp.
Pembangkit listrik tenaga hibrid sangat potensial dikembangkan di Indonesia sebagai negara kepulauan. Pasalnya, energi hibrid bisa dijadikan salah satu energi alternatif untuk penyediakan pasokan listrik.
2012 adalah Tahun Internasional Energi Terbarukan (International
Year of Sustainable Energy for All), demikian ditetapkan oleh PBB
(Perserikatan Bangsa-bangsa) dalam Sidang Umumnya bulan Desember silam. Secara resmi, PBB meluncurkan Program Energi Terbarukan pada 16 Januari 2012 silam di ajang World Future Energy Summit di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.Target penetapan tahun 2012 sebagai Tahun Internasional Energi Terbarukan adalah pada 2030, semua orang di dunia sudah menggunakan energi dari sumber-sumber terbarukan.
Tujuan dari penetapan tahun 2012 sebagai Tahun Internasional Energi Terbarukan adalah guna meningkatkan kepedulian masyarakat dunia pada isu kemiskinan energi dan menunjukkan bahwa akses ke energi bersih, aman dan terjangkau bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Energi Terbarukan. Konsep energi terbarukan mulai dikenal pada tahun 1970-an, sebagai upaya untuk mengimbangi pengembangan energi berbahan bakar nuklir dan fosil. Definisi energi terbarukan secara sederhana adalah sumber energi yang dapat dengan cepat dipulihkan kembali secara alami, dan prosesnya berkelanjutan. Macam atau sumber energi terbarukan di antaranya adalah tenaga matahari (surya), tenaga angin, energi panas bumi (geothermal), dll.
Tanpa adanya komitmen global untuk menggunakan energi terbarukan (Sustainable Energy), Lembaga Energi Internasional (International Energy Agency) memerkirakan, jumlah masyarakat dunia yang kekurangan listrik hanya akan berkurang dari 1,4 milliar pada saat ini menjadi 1,2 milliar pada 2030. Jumlah penduduk yang menggunakan sumber energi tradisional, seperti kayu, sekam, dedaunan dan sebagainya, justru akan naik dari 2,7 milliar saat ini ke 2,8 milliar pada 2030. Selain itu, masalah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang mendunia semakin menegaskan pentingnya dunia untuk beralih ke energi baru dan terbarukan.
Sebagai Solusi Perekonomian
Indonesia Masa Depan
Indonesia merupakan Negara besar dengan 33
provinsi dan memiliki tidak kurang dari 70 ribu
desa. Akan tetapi, saat ini 45% dari desa tersebut
dikategorikan sebagai Desa Tertinggal yang
ditandai dengan terbatasnya akses masyarakat
terhadap energi.
K
ementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai Kementerian teknis yang menangani energi telah melaksanakan program Desa Mandiri Energi, yaitu program penyediaan energi dengan memanfaatkan potensi energi setempat baik berbasis Bahan Bakar Nabati (BBN) maupun non-BBN, dengan teknologi yang dapat dioperasikan oleh masyarakat setempat.Desa Mandiri Energi
Dalam perkembangannya, Program Desa Mandiri Energi mulai memanfaatkan teknologi energi baru terbarukan, seperti mikrohidro, angin dan surya sebagai pembangkit energi alternatif. Awalnya, istilah yang digunakan oleh Kementerian ESDM adalah “Desa Energi Terbarukan”. Kemudian, beberapa Desa Energi Terbarukan yang dikembangkan oleh Kementerian ESDM tersebut berhasil mendapatkan penghargaan ditingkat ASEAN, di antaranya, PLTMH Cicurug Garut dan PLTMH Malang. Jadi, Desa Energi Terbarukan ini merupakan cikal bakal terbentuknya Desa Mandiri Energi.
Program Desa Mandiri Energi dimaksudkan untuk sebagai entry point dalam kegiatan ekonomi pedesaan, dimana pertama kali diluncurkan oleh Presiden RI di Desa Grobogan, Jawa Tengah pada tahun 2007 dan terus dilanjutkan di desa-desa lainnya. Diharapkan, target hingga akhir 2014 nanti mampu terbentuk 3.000 Desa Mandiri Energi.
Desa Mandiri Energi adalah desa yang masyarakatnya memiliki kemampuan untuk memenuhi lebih dari 60% kebutuhan energinya (listrik dan bahan bakar) dari energi terbarukan, yang dihasilkan melalui pendayagunaan potensi sumberdaya setempat. Secara nyata, Desa Mandiri Energi bertujuan untuk membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan menciptakan kegiatan ekonomi produktif.
Desa Mandiri
Energi
penting. Konsep pembangunan Desa Mandiri Energi adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana menerapkan pendekatan
pengembangan energi lokal tanpa merusak lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi produktif setempat dalam rangka terwujud nya Desa Mandiri Energi
2. Bagaimana mengembangkan kelem-bagaan untuk mendorong masyarakat yang bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan
3. Bagaimana mengembangkan peng-olahan dengan menggunakan paket teknologi konversi sumber energi terbarukan dalam konteks Desa Mandiri Energi.
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah dengan menghubungkan sistem pembangkit energi terbarukan dengan usaha bisnis dan lingkungan. Olahan energi terbarukan dapat dimanfaatkan oleh kegiatan ekonomi produktif yang memanfaatkan energi terbarukan untuk siang hari. Sedangkan, di malam hari dapat dipergunakan untuk kebutuhan dasar energi rumah tangga seperti penerangan.
Identifikasi komposisi masyarakat merupakan kegiatan pertama untuk membangun sebuah desa mandiri energi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik masyarakat sebagai dasar untuk pembentukan lembaga pengelola sistem pembangkit energi terbarukan. Karakteristik masyarakat yang perlu diketahui, antara lain tingkat pendidikan, mata pencaharian, waktu kerja, hierarki sistem hukum desa setempat, dan kebudayaan/ kebiasaan masyarakat. Langkah selanjutnya adalah pem-bangunan pembangkit sumber energi. Hal ini diawali dengan identifikasi potensi energi terbarukan di desa setempat, perancangan sistem pembangkit, dan pelaksanaan pembangunan sistem pembangkit. Untuk keberlangsungan sistem pembangkit dan jaringannya, dilakukan pelatihan yang melibatkan tokoh masyarakat, perangkat desa, dan
pengurus kelembagaan yang bertugas sebagai pengelola yang telah dibentuk sebelumnya.
Pelatihan yang diberikan meliputi prosedur perawatan yang terangkum dalam Standard Operating Procedure (SOP), cara penanggulangan kerusakan, dan pembukuan. Diharapkan melalui pelatihan tersebut, masyarakat mengetahui tugas dan tanggung jawabnya demi keberlangsungan sistem pembangkit energi.
Di samping itu, penataan tata ruang juga diperlukan untuk mewujudkan estetika dalam pemukiman. Hal ini bertujuan untuk memberikan rasa nyaman, sehingga penduduk akan betah tinggal di desa setempat. Selain itu, penataan tata ruang juga dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas Desa Mandiri Energi menjadi kawasan objek wisata. Pada dasarnya, unsur ruang Desa Mandiri Energi terdiri dari kawasan pemukiman penduduk; sistem pembangkit energi setempat, seperti tenaga surya, energi angin, energi air (mikrohidro), energi biomass, dan biofuel. Selain itu, kawasan industri pengolahan hasil serta industri pendukung; kawasan produksi hasil pertanian; serta kebun energi, yaitu pohon yang cepat tumbuh, tumbuhan penghasil minyak (jarak, kelapa, kelapa sawit, bunga matahari, dan lain-lain), juga termasuk bagian dari unsur ruang Desa Mandiri Energi.
Yang menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan Desa Mandiri Energi jika terdapat 5 indikator keberhasilan utama yang dikenal dengan istilah ‘The Magic Pentagon’. Indikator keberhasilan tersebut, yakni pertumbuhan (growth), tersedianya lapangan ker-ja yang memadai bagi segenap penduduk (employment), terciptanya pembangunan yang didasarkan atas partisipasi aktif masyarakat (participation), terciptanya masyarakat yang independen (independency), serta terciptanya kondisi kebersamaan dan keadilan (togetherness and justice).
Berdasarkan bahan baku sumber energi yang digunakan, Desa Mandiri Energi dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Desa Mandiri Energi yang berbasis pada sumber energi pertanian/ Bahan Bakar Nabati (BBN). Model desa mandiri ini adalah mengusahankan bahan bakar pengganti minyak dengan sumber energi, seperti biomassa dan biofuel yang berasal dari hasil pertanian dan hutan.
2. Desa Mandiri Energi yang berbasis pada sumber energi non pertanian/ non-BBN. Model desa mandiri ini adalah mengusahankan bahan bakar pengganti minyak dengan sumber energi, seperti surya (matahari), air, dan angin.
Desa Mandiri Energi merupakan alternatif solusi untuk perekonomian Indonesia, mengingat lokasi sumberdaya energi terbarukan umumnya berada
di pedesaan dan desa terpencil. Penyediaan energi konvensional di daerah ini memerlukan biaya tinggi, terutama karena biaya distribusi yang relatif tinggi, serta untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Pemanfaatan energi terbarukan tidak hanya untuk menyediakan energi bagi keperluan rumah tangga saja, akan tetapi juga untuk menambah penghasilan rumah tangga dengan memperkenalkan dan mengimplementasikan
kegiatan-kegiatan atau usaha untuk menambah penghasilan.
Konsep Desa Mandiri Energi
Konsep pembangunan Desa Mandiri Energi merupakan pembangunan yang berdasarkan potensi lingkungan untuk kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, pengamatan terhadap potensi lingkungan dan karakteristiknya sangat
19
18
Bekerja untuk
Kesejahteraan Rakyat
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Jero Wacik
Energi dan sumber daya mineral (ESDM) untuk kesejahteraan
rakyat. Itulah yang menjadi semacam tagline sejak Jero Wacik
menjabat sebagai menteri ESDM tahun 2011 silam. Kalimat itu
pulalah yang menjadi misi Kementerian ESDM.
T
agline di atas bersumber dari Pasal 33 UUD 1945. Maknanya adalah melimpahnya kekayaan alam Indonesia harus digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. “Itu berarti, ya geothermal-nya, emasnya, ya semuanya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” kata Jero Wacik.Win-win
Menurut Jero Wacik, investor memang harus memperoleh keuntungan dari bisnisnya. Namun, masyarakat pun harus mendapatkan keuntungan yang banyak dari kekayaan alam Indonesia. Karena itu, diperlukan kerjasama yang baik antara kedua belah
pihak.
“Jangan punya pikiran-pikiran yang pendek. Misalnya, ada perusahaan yang mengajak untuk mengakal-akali Republik Indonesia, maka jangan mau, harus win-win. Mereka memang perlu dapat untung yang pantas. Begitu pula sebaliknya, rakyat Indonesia harus dapat yang pantas. Makanya,
rukun-rukun kita,” ujar pria kelahiran Singaraja, Bali, 24 April 1949 itu.
Jero Wacik mengutarakan, para investor asing bidang energi terbuka untuk berinvestasi di Indonesia. “Masih banyak sumber daya energi yang belum tergarap dengan baik. Untuk itu, kami mengajak para investor asing di bidang energi, bukan hanya sektor batubara, tetapi sumber energi lainnya untuk melakukan investasi di Indonesia,” jelasnya.
Namun, Jero Wacik mengingatkan, para investor harus mematuhi konstitusi dan menaati empat pilar pembangunan yang ada di Indonesia. Konstitusi yang dimaksud adalah pasal 33 UUD 1945. Sementara empat pilar pembangunan di Indonesia, yakni pro growth, pro job, pro poor dan pro lingkungan.
“Amanat UUD 1945 ini bukan berarti asing tidak boleh berinvestasi di Indonesia. Orang asing diperbolehkan untuk berkiprah di Indonesia. Investor asing tetap diajak bekerja sama dan berbuat bagi kemakmuran rakyat. Jadi kalau ada kebijakan yang tidak menuju kemakmuran rakyat, maka investasi harus pantas disalahkan,” tegas alumnus
sosok
Teknik Mesin ITB dan Fakultas Ekonomi UI ini.
Mengenai isu lingkungan, Jero Wacik tak menampik masih ada pengusaha yang menyepelekan masalah lingkungan hidup dan sosial di sekitar lokasi tambang. Ia mengingatkan, agar semua pihak untuk peduli pada lingkungan. Jika ada investor yang lupa, harus diingatkan. “Ajaklah dan tekankan terus pada mereka, jagalah lingkungan hidup. Kalau mereka lupa, kita ingatkan,” ujarnya.
Komitmen
Jero Wacik berkomitmen bekerja demi kemakmuran rakyat. Meski terkadang
menuai kritik tajam, keputusan atau kebijakan yang diambilnya bertujuan untuk kemakmuran masyarakat. Ia menyadari, di era demokrasi ini tidak mungkin seratus persen orang mempunyai pemikiran sama atau menyetujui suatu keputusan.
‘’Tidak akan pernah ada, dan selalu akan ada orang yang tidak setuju,’’ akunya. Ambil contoh adalah keputusannya menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) No.7 Tahun 2012 Tentang Peningkatan Nilai Tambah Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral. Beleid yang diterbitkan 6 Februari 2012 ini mendapat penilaian kritis, terutama dari kalangan pengusaha bidang energi.
Secara singkat, Permen No.7/2012 menyebutkan, setiap jenis komoditas tambang mineral logam tertentu wajib diolah dan dimurnikan sesuai dengan batasan minimum. Pemerintah memiliki pertimbangan dan logika sendiri untuk melarang pengusaha pertambangan
mengekspor komoditas tambang serta mineral dalam keadaan mentah (raw material atau ore).
Larangan ekspor dalam aturan itu berlaku jika perusahaan tambang tidak menyerahkan rencana produksi jangka panjang dan pengolahannya paling lambat tiga bulan sejak peraturan itu diberlakukan. Jika belum menyerahkan rencana jangka panjangnya, kegiatan ekspor perusahaan tersebut dapat dihentikan.
Selama ini, pengusaha tambang seakan “dininabobokan” oleh kemudahan investasi. Berbagai pemda marak “mengobral” Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang didasarkan atas kepentingan sesaat tanpa melibatkan masyarakat luas. Indonesia kaya akan sumber daya alam. Tapi, belum tentu masyarakatnya sejahtera.
Dengan Permen No.7/2012, pemerintah– melalui Kementerian ESDM–ingin menegaskan kembali bahwa pengelolaan bumi air dan segala kekayaan alam di
dalamnya haruslah membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat luas, bukan hanya segelintir orang.
Jadi, aturan ini dapat mempersempit ruang para pengusaha “nakal”.
Kebijakan ini sesuai dengan tagline ESDM untuk kesejahteraan rakyat. Tagline itu disebar di semua kantor, termasuk BUMN yang bergerak di bidang ESDM. Jero Wacik meminta semua stakeholder sektor energi dan sumber daya mineral untuk berorientasi kepada kepentingan rakyat.
“Saya ingin memastikan, semua BUMN di lingkungan ESDM harus berorientasi kepada kesejahteraan rakyat. Kalau tidak, maka kita akan menuai kekecewaan rakyat. Energi dan sumber daya mineral untuk kesejahteraan rakyat,” tegasnya. Bila itu semua sudah tertanam di dalam hati, ia meneruskan, tidak akan ada lagi
kebijakan yang merugikan kepentingan rakyat.
”Jangan coba-coba membuat kontrak yang dapat untung besar adalah perusahaan asing, bukan rakyat kita. Kesetiaan kepada bangsa inilah yang membuat negara kita semakin besar kelak,” Jero Wacik menekankan.
“Asal ada niat memajukan negara. Tidak ada niat saya membuat bangkrut perusahaan. Tambang merupakan anugerah Tuhan untuk kemakmuran rakyat,” tuturnya.
Amanat UUD 1945 ini bukan berarti asing tidak boleh
berinvestasi di Indonesia. Orang asing diperbolehkan
untuk berkiprah di Indonesia. Investor asing tetap
diajak bekerja sama dan berbuat bagi kemakmuran rakyat.
Jadi kalau ada kebijakan yang tidak menuju kemakmuran
rakyat, maka investasi harus pantas disalahkan,”
22
23
Direktorat
Jenderal Mineral
dan Batubara
(Ditjen Minerba)
merupakan salah
satu unit kerja
Eselon I di bawah
Kementerian
Energi dan
Sumber Daya
Mineral (ESDM).
Ditjen Minerba terdiri dari 5 unit kerja, yakni:
• Sekretariat Direktorat Jenderal • Direktorat Pembinaan Program
Mineral dan Batubara
• Direktorat Pembinaan Pengusahaan Mineral
• Direktorat Pembinaan Pengusahaan Batubara
• Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara
Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara mempunyai tugas dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan, dan standarisasi teknis bidang mineral dan batubara. Ditjen Minerba memiliki tujuan strategis yang terdapat dalam Rencana Strategis Ditjen Minerba Tahun 2010 – 2014. Tujuan tersebut antara lain terjaminnya pasokan batubara dan mineral untuk bahan baku domestik, terlaksananya peningkatan investasi sub sektor minerba, terlaksananya peran penting sub sektor minerba dalam penerimaan negara, terlaksananya peningkatan peran sub sektor minerba dalam pembangunan daerah, serta terlaksananya peningkatan efek berantai/ ketenagakerjaan.
Terkait dengan tujuan-tujuan strategis tersebut, maka Ditjen Minerba menjabarkannya dalam beberapa sasaran, yakni meningkatkan kemampuan pasokan energi untuk domestik, meningkatkan investasi sub sektor pertambangan umum (mineral dan batubara), terwujudnya peran subsektor pertambangan umum (mineral dan batubara), terwujudnya peningkatan peran subsektor pertambangan umum dalam pembangunan daerah. Juga termasuk pada peningkatan industri jasa dan industri yang berbahan baku dari sub sektor pertambangan umum, serta terwujudnya pemberdayaan nasional. Tak hanya itu saja, sasaran tersebut juga tertuju kepada terwujudnya penyerapan tenaga kerja, terlaksananya kegiatan pertambangan mineral dan batubara yang memenuhi persyaratan lingkungan, dan terlaksananya kegiatan pertambangan mineral dan batubara yang memenuhi persyaratan keselamatan.
Dalam tugasnya, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara memiliki visi
guna terwujudnya ketahanan dan kemandirian energi batubara, serta peningkatan nilai tambah mineral yang berwawasan lingkungan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Di samping visi yang diusung tersebut, Ditjen Minerba juga mengemban misi yang tercakup dalam beberapa poin, di antaranya meningkatkan keamanan pasokan mineral dan batubara dalam negeri, mendorong keekonomian harga batubara untuk pengembangan energi batubara, dan mendorong peningkatan kemampuan dalam negeri dalam pengelolaan mineral dan batubara. Serta, meningkatkan nilai tambah mineral, meningkatkan pembinaan, pengawasan, pengelolaan dan pengendalian kegiatan pertambangan secara berdaya guna, berhasil guna, berdaya saing, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Untuk menjadi tolok ukur terhadap apa yang harus dicapai, maka Ditjen Minerba mengeluarkan beberapa kebijakan-kebijakan penting. Antara lain, melaksanakan prioritas pemenuhan mineral dan batubara untuk kebutuhan dalam negeri, memberikan kepastian dan transparansi didalam kegiatan pertambangan (regulasi pendukung UU Minerba, sanksi pelanggaran ketentuan, dan lain-lain), dan melaksanakan peningkatan pengawasan dan pembinaan.
Selain itu, kebijakan itu juga untuk mendorong peningkatan investasi dan penerimaan negara, mendorong pengembangan nilai tambah produk komoditi hasil tambang (seperti: pengolahan, pemurnian, local content, local expenditure, tenaga kerja dan CSR), serta mempertahankan kelestarian lingkungan melalui pengelolaan dan pemantauan lingkungan, termasuk reklamasi dan pascatambang).
Direktorat Jenderal
energi mix
M
elambungnya harga minyak ditambah cadangan minyak yang semakin menurun membuat kita berpaling untuk mencari energi lain yang ramah lingkungan serta dengan jumlah yang cukup besar. Salah satunya adalah energi panas bumi.Energi panas bumi, merupakan suatu energi panas yang tersimpan dalam batuan di bawah permukaan bumi dan fluida yang terkandung didalamnya. Energi panas bumi telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di Italy sejak tahun 1913 dan di New Zealand sejak tahun 1958. Sementara itu pemanfaatan energi panas bumi untuk sektor non‐listrik (direct use) telah berlangsung di Iceland sekitar 70 tahun. Meningkatnya kebutuhan akan energi serta meningkatnya harga minyak, terutama pada tahun 1973 dan 1979, telah memacu banyak negara untuk mengurangi ketergantungan mereka pada minyak dengan cara memanfaatkan energi panas bumi. Dewasa ini energi panas bumi telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di 24 Negara, termasuk Indonesia. Disamping itu
fluida panas bumi juga dimanfaatkan untuk sektor non‐listrik di 72 negara, antara lain untuk pemanasan ruangan, pemanasan air, pemanasan rumah kaca, pengeringan hasil produk pertanian, pemanasan tanah, pengeringan kayu, kertas dan sebagainya.
Potensi Energi Panas Bumi di Indonesia
Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 40% cadangan dunia, yaitu mencapai 27.000 MW. Jumlah yang sangat besar apabila dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk penyediaan listrik nasional. Namun seiring bergulirnya waktu pemanfaatan energi jenis ini belum maksimal, hanya sebesar 1.196 MW (4.4%) saja yang berasal dari 7 pembangkit listrik yaitu di Jawa, Sulawesi dan Sumatera Utara. Mengapa demikian? Dalam kebijakan energy-mix ditargetkan bahwa pada tahun 2025, Indonesia harus sudah dapat memanfaatkan panas bumi sebagai sumber energi minimum 5% (atau lebih dari 1.350 MW) terhadap konsumsi energi nasional.
Berdasarkan milestone-nya, sesuai yang termuat dalam Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2006-2025, diperlukan
penambahan lebih dari 5.000 MW Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) sebelum tahun 2015. Hal ini kemudian tertuang dalam Rencana Proyek Kelistrikan 10.000 MW Tahap Kedua antara tahun 2010-2015.
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi
Sistim panas bumi di Indonesia umumnya merupakan sistim hidrothermal yang mempunyai temperatur tinggi (>225°C), hanya beberapa diantaranya yang mempunyai temperatur sedang (150‐225°C). Oleh karena itu di Indonesia sangat potensial jika diusahakan untuk pembangkit listrik. Potensi sumber daya panas bumi Indonesia sangat besar, yaitu sekitar 27500 MWe , sekitar 30‐40% potensi panas bumi dunia.
Pada prinsipnya Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) sama dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Jika pada PLTU uap dibuat di permukaan menggunakan boiler, sementara itu pada PLTP uap berasal dari reservoir panasbumi. Apabila fluida di kepala sumur berupa fasa uap, maka uap tersebut dapat dialirkan langsung ke turbin, dan kemudian turbin
akan mengubah energi panas bumi menjadi energi gerak yang akan memutar generator sehingga dihasilkan energi listrik.
Selain itu masih ada beberapa sistem pembangkitan listrik dari fluida panas bumi lainnya yang telah diterapkan di lapangan, diantaranya: Single Flash Steam, Double Flash Steam, Multi Flash Steam, Combined Cycle, Hybrid/fossil–geothermal conversion system.
Energi Yang Ramah Lingkungan
Energi panas bumi merupakan energi yang ramah lingkungan karena fluida panas bumi setelah mengubah energi panas menjadi energi listrik maka fluida akan dikembalikan
ke bawah permukaan (reservoir) melalui sumur injeksi. Penginjeksian air kedalam reservoir merupakan suatu keharusan untuk menjaga keseimbangan masa sehingga memperlambat penurunan tekanan reservoir dan mencegah terjadinya subsidence. Sementara itu penginjeksian kembali fluida panas bumi setelah fluida tersebut dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, serta adanya recharge (rembesan) air permukaan, menjadikan energi panas bumi sebagai energi yang berkelanjutan (sustainable energy).
Dibandingkan minyak dan batubara emisi yang dihasilkan pembangkit listrik panasbumi sangat rendah. Oleh karenanya energi panasbumi memiliki kesempatan untuk memanfaatkan Clean Development
Mechanism (CDM) produk Kyoto Protocol. Mekanisme ini menetapkan bahwa negara maju harus mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 5.2% terhadap emisi tahun 1990, dapat melalui pembelian energi bersih dari negara berkembang yang proyeknya dibangun diatas tahun 2000. Dan panasbumi termasuk dalam energi bersih tersebut.
Pada umumnya lapangan panasbumi dikembangkan secara bertahap. Pada tahap awal dimana ketidakpastian tentang karakterisasi reservoir masih cukup tinggi, dibeberapa lapangan dipilih unit pembangkit berkapasitas kecil. Unit pembangkit digunakan untuk mempelajari
karakteristik reservoir dan sumur, serta kemungkinan terjadi masalah teknis lainnya. Prinsipnya, pengembangan lapangan panas bumi dilakukan dengan sangat hati‐hati dengan selalu mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi dan lingkungan.
Untuk memasok uap ke pembangkit listrik panas bumi perlu dilakukan pemboran sejumlah sumur. Untuk menekan biaya dan efisiensi pemakaian lahan, dari satu lokasi (well pad) umumnya tidak hanya dibor satu sumur, tapi beberapa sumur, yaitu dengan melakukan pemboran miring (directional drilling). Keuntungan menempatkan sumur dalam satu lokasi adalah akan menghemat pemakaian lahan, menghemat waktu untuk pemindahan menara bor (rig), menghemat biaya jalan masuk dan biaya pemipaan.
Sedangkan keunggulan lain dari geothermal energi adalah dalam faktor kapasitasnya (capacity factor), yaitu perbandingan antara beban rata‐rata yang dibangkitkan oleh pembangkit dalam suatu perioda (average load generated in period) dengan beban maksimum yang dapat dibangkitkan oleh PLTP tersebut (maximum load). Oleh karena itu faktor kapasitas dari pembangkit listrik panas bumi rata‐rata mencapai 95%. Nilai ini jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan faktor kapasitas dari pembangkit listrik yang menggunakan batubara, yang besarnya hanya berkisar 60‐70% (U.S Department of Energy).
Pemanfaatan Energi Panas Bumi di
Indonesia
Dalam ”Road Map Pengelolaan Energi Nasional”, Pemerintah menetapkan secara bertahap rencana peningkatan pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia, dari 807 MWe ditahun 2005 hingga 9500 MWe pada tahun 2025, yaitu 5% dari bauran energi tahun 2025 atau setara 167,5 juta barrel minyak. Untuk sekarang ini Indonesia kapasitas pembangkit listrik panas buminya baru mencapai 1.169 MW. Direncanakan pada tahun 2014 yang akan datang kapasitasnya akan ditingkatkan menjadi 4.733 MW, yaitu 2.137 MWe untuk area Jawa‐Bali dan 2.596 MW untuk area luar Jawa‐ Bali. Dilihat dari sisi potensi, Indonesia diperkirakan mempunyai sumberdaya panas bumi dengan potensi listrik sebesar 27.510 MWe atau sekitar 30‐40% potensi panas bumi dunia.
Untuk saat ini pengembangan panas bumi didominasi oleh perusahaan nasional, yaitu PT Pertamina Geothermal Energy (PT PGE) yang memiliki 15 WKP (Wilayah Kerja Pertambangan). 3 WKP diantaranya bekerja sama dengan mitra asing. Selain itu juga ada beberapa WKP panas bumi yang hak pengelolaannya ada pada PT PLN. Dan untuk mencapai target pada tahun 2014, Pemerintah telah/akan melelang 18 (delapan belas) WKP baru. Sedangkan untuk mengejar tahun 2025 masih banyak WKP lain yang akan dilelang, karena dari hasil eksplorasi pendahuluan mengindikasikan adanya 255 geothermal area di Indonesia yang sangat potensial untuk menjadi pembangkit listrik.
Energi Panas Bumi
Energi Ramah Lingkungan
Landasan Menuju
Kesejahteraan
Rakyat
U
ndang-undang tersebut mewajibkan pengusaha mengolah dan memurnikan bahan galian tambang dalam negeri sebelum diekspor. Jadi, tidak berupa bahan mentah (raw material). Aturan yang berlaku efektif tahun 2014 ini menuntut semua stakeholder pertambangan tanah air untuk berorientasi jangka panjang. Hal ini juga untuk mendukung ketersediaan bahan galian bagi generasi selanjutnya.Kritik
Larangan ekspor hasil tambang mentah inilah yang mendapat kritik tajam, terutama dari para pengusaha bidang energi. Mereka merasa terancam dari sisi peluang bisnis jika UU itu berlaku efektif. Sejumlah kalangan juga menilai UU Minerba dapat mengurangi nilai ekspor bahan mineral dalam negeri. Sebagian kalangan juga menilai UU Minerba membatasi ruang daerah untuk mengeruk pendapatan.