• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II STUDI PUSTAKA. Pada awal 1900-an seorang sarjana Jerman bernama Hertz menemukan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II STUDI PUSTAKA. Pada awal 1900-an seorang sarjana Jerman bernama Hertz menemukan"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

5

STUDI PUSTAKA

2.1. Jenis-jenis Frekuensi Radio

Pada awal 1900-an seorang sarjana Jerman bernama Hertz menemukan gelombang- gelombang radio untuk digunakan sebagai gelombang pembawa informasi yang dapat mengangkut sinyal-sinyal informasi dari satu tempat ke tempat yang lain.

Kemudian dalam perkembangannya lebih lanjut, orang menyepakati untuk membagi spektrum frekuensi radio dengan mengelompokkan gelombang tesebut ke dalam beberapa jalur tingkat dengan nama-nama yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut:

a. Frekuensi yang berada antara 10 sampai 30 kiloHertz, disebut frekuensi sangat rendah (VLF = Very Low Frequency);

b. Frekuensi antara 30 sampai 300 kiloHertz disebut frekuensi rendah (LF = Low Frequency);

c. Frekuensi yang terletak pada spektrum 300 sampai 3000 kiloHertz disebut frekuensi tengah (MF = Middle Frequency);

d. Frekuensi yang terletak pada spektrum 3 MHz sampai 30 MHz disebut frekuensi tinggi (HF = High Frequency);

e. Frekuensi yang terletak pada spektrum 30 sampai 300 MHz disebut frekuensi sangat tinggi (VHF = Very High Frequency).

f. Frekuensi yang terletak pada spectrum 300 MHz sampai 3000 MHz ( 3GigaHertz ),

(2)

disebut frekueni ultra tinggi (UHF = Ultra High Frequency); g. Frekuensi yang berada pada kisaran 3 sampai 30 GHz disebut

frekuensi super tinggi (SHF = Super High Frequency);

h. Frekuensi yang besarnya lebih dari 30 GHz disebut frekuensi luar biasa tinggi

(EHF = Extremely High Frequency).

Gambar 2.1. Jenis-jenis Frekuensi Radio

Jenis frekuensi e, f, g, dan h memiliki kemampuan saluran informasi yang besar, tetapi jarak tempuh yang terbatas (pendek). Dengan sendirinya masing-masing jalur frekuensi mempunyai sifat rambat (propagasi) yang berlainan, serta jarak tempuh yang berbeda.

Demikian pula ditinjau dari segi perambatannya, sering mendapat gangguan listrik. Oleh sebab itu menentukan jenis frekuensi mana yang akan

(3)

digunakan sebelumnya haruslah dilakukan penyelidikan, terutama ditinjau dari segi kepekaan terhadap pengaruh kondisi udara, kekuatan pancar sinar matahari dan sebagainya.

Jadi, gelombang yang terbaik untuk dipakai dalam media transmisi dalam teknologi telekomunikasi adalah gelombang yang dengan daya sekecil-kecilnya dapat mengadakan komunikasi yang sebaik-baiknya. Bila kita amati dari segi jarak tempuhnya, semua sistem frekuensi di atas mempunyai jarak tempuh berbeda satu sama lain, misalnya jenis frekuensi HF dapat menempuh jarak yang jauh. Tetapi frekuensi VHF, UHF, dan SHF jarak tempuhnya terbatas sekali. Demikian pula bila dilihat dari segi jumlah percakapan (informasi) yang dapat dikirimkan, frekuensi HF kemampuan salurnya kecil sekali. Sebaliknya frekuansi VHF, UHF, dan SHF memiliki kemampuan salur relatif besar dibandingkan dengan frekuensi pertama tadi. Karena mempunyai ban frekuensi yang lebih lebar.

2.2. Perambatan Gelombang Mikro

Gelombang mikro yang menggunakan frekuensi SHF (Super High

Frequency) ternyata mendekati frekuensi gelombang cahaya, sehingga

kedua gelombang itu (gelombang mikro dan cahaya) mempunyai banyak persamaan sifat dan karakter. Tentang sifat gelombang cahaya dapat dipelajari dalam ilmu optika (ilmu yang mempelajari cahaya). Karena keduanya mempunyai perilaku yang sama, semua dalil dan ketentuan yang berlaku pada cahaya berlaku pula pada propagasi atau perambatan gelombang mikro. Yang peling penting adalah sifat refleksi, refraksi, dan difraksinya.

(4)

Gambar 2.2. Propagasi atau Perambatan Gelombang Mikro

Gelombang mikro dapat dipantulkan (reflected) dari permukaan yang licin untuk dipusatkan oleh sebuah reflektor atau sebuah lensa. Ketika gelombang lewat dari suatu media ke media yang lain (seumpama dari udara kering ke udara lembab), arahnya dibengkokkan atau dibiaskan seperti juga dengan gelombang cahaya yang dibiaskan oleh sebuah lensa atau prisma. Gelombang mikro dimaksud cenderung membengkok, sekitar rintangan (obstacle) yang kuat dalam lintasannya. Proses ini disebut difraksi.

Kadang-kadang gelombang mikro juga dihamburkan oleh partikel-partikel yang terdapat di udara seperti butiran-butiran hujan atau salju. Masing-masing sifat ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada kekuatan sinyal yang diterima di antena penerima. Oleh karena itu, sifat ini turut diperhitungkan dalam sistem gelombang mikro yang digunakan sebagai salah satu alat penyalur informasi.

2.3. Sistem Gelombang Mikro

Gelombang mikro (microwave) dapat diartikan sebagai suatu sistem pelaksanaan hubungan (komunikasi) radio dengan menggunakan gelombang-gelombang pendek (micro). Memang, gelombang-gelombang mikro ini mempunyai panjang gelombang yang lebih pendek dibandingkan dengan sistem radio komunikasi

(5)

biasa (hanya beberapa sentimeter). Karena itu, sistem ini memiliki frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipakai oleh radio biasa (HF) tadi. Seperti diketahui bahwa semakin tinggi frekuensi yang digunakan dalam suatu komunikasi semakin pendek panjang gelombangnya, karena panjang gelombang suatu frekuensi berbanding terbalik dengan frekuensinya sendiri.

Jika dilihat dari sifat perambatan gelombangnya, gelombang mikro hampir mendekati sifat gelombang cahaya (sinar). Justru sebab itulah komunikasi radio semacam ini sering pula disebut sebagai sistem kommunikasi radio sinar. Maka, komunikasi radio yang menggunakan frekuensi yang lebih rendah, misalnya antara 30 sampai 300 MHz, dengan panjang gelombang antara 1 sampai 10 meter sudah dinamakan sebagai hubungan radio sinar.

Berhubung sifatnya yang hampir bersamaan dengan sifat gelombang sinar,pemantulan (refleksi). Bila ada suatu benda seperti bangunan tinggi, gedung tinggi dan lain sebagainya, yang menghalangi jalannya perambatan gelombang ini, akan terjadi pemantulan gelombang. Proses kedua adalah pembiasan (refraksi), seperti juga terjadi pada cahaya. Ada lagi sifat pembelokan (difraksi) atau interferensi (saling mengganggu) dan sebagainya.

Dari berbagai sifat yang dimiliki gelombang mikro seperti disebut di atas serta melengkungnya permukaan bumi kita, jarak tempuh yang dapat dicapainya terbatas sekali. Dengan kata lain, jarak antara pemancar dan pemerimanya tidak terlalu jauh, diperkirakan sekitar 70 km saja. Oleh sebab itu, bila kita mengadakan hubungan radio antara dua tempat yang letaknya

(6)

berjauhan melalui sistem gelombang mikro ini, perlu didirikan sejumlah stasiun repeater (pengulang) di antara tempat-tempat yang akan dibangun atau dilewati itu.

Gambar 2.3. Jalur Gelombang Mikro dengan Repeater

Karena stasiun-stasiun repeater yang didirikan itu berfungsi menerima dan meneruskan sinyal-sinyal gelombang mikro dari stasiun ke stasiun berikutnya, perlu dipilih tempat (site) yang cocok untuk sistem dimaksud, agar dapat memenuhi syarat, baik teknis maupun ekonomis. Dari segi teknis terutama diperlukan agar:

a. Antar stasiun satu dengan stasiun yang lain tidak ada penghalang (obstacles). Oleh sebab itu, repeater itu didirikan di tempat-tempat yang tinggi. Bila tidak ada tempat demikian, dipakai menara (tower) antena yang tinggi, sehingga kedua antena masing-masing repeater seolah-olah bisa saling melihat (line of sight);

b. Biasa jalur yang dibangun tidak merupakan garis lurus, tapi zig-zag untuk menghindari penghalang tadi, dan juga mencegah terjadinya saling interferensi (gangguan) antara stasiun, atau antara frekuensi yang digunakan. Pengaturan ini dimaksudkan agar pancaran dari satu stasiun dapat sampai ke stasiun berikutnya tanpa mengalami

(7)

ganggunan;

c. Stasiun-stasiun tersebut diusahakan tidak melewati rawa-rawa (berair), agar gangguan gelombang pantul dari permukaan berrawa dapat dihindari;

d. Stasiun repeater yang satu dengan yang lainnya, dibangun ditempat yang tidak sama tingginya, sehingga gelombang mikro tidak banyak dibelokkan oleh adanya perubahan lapisan udara yang disebabkan perubahan cuaca.

Sedangkan syarat ekonomis yang perlu diperhatikan bagi suatu stasiun

repeater adalah:

a. Letaknya harus sedemikian rupa agar aman dari gangguan atau kejadian yan tidak diingini, misalnya tidak dekat gunung berapi, terhindar dari kemungkinan longsor, kebakaran hutan atau sumber gas yang berbahaya;

b. Sedapat mungkin didirikan dekat jalan umum, sehingga mudah dicapai. Sedapat mungkin didirikan dekat jalan umum, sehingga mudah dicapai. Seddapat mungkin juga dekat perkampungan, dekat sumber air bersih dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar memudahkan pengawasan, dan para petugas tidak menemui kesulitan dalam memenuhi keperluannya.

Karena gelombang mikro memiliki sifat sinar, gelombang ini pun dapat diarahkan pancarannya sekehendak kita, seperti sinar lampu.

Untuk mengarahkan ini digunakan antena terarah. Jenis antena yang biasa dipakai, adalah bentuk parabola, yang mempunyai diameter rata-rata 3,2

(8)

meter, malah ada yang sampai 4 meter, bergantung pada jarak dan keadaan dan lokasinya, sebab semakin besar diameternya, pancarannya semakin runcing dan kuat. Oleh karena itu pancarannya diarahkan, tidak banyak gelombang yang memancar kearah yang tidak dikehendaki, sehingga daya pancar cukup kecil saja, tidak lebih dari 3Watt sampat 4,5 Watt. Coba bandingkan dengan pesawat pemancar radio biasa (HF) yang biasa bekerja pada daya pancar beratus watt bahkan berpuluh ribu kilowatt.

Satu keuntungan paling menonjol dari sistem gelombang mikro ini adalah kemampuan yang besar dalam menyalurkan informasi.

Karena lebar dan frekuensinya yang dapat dipancarkan 3-30 GHz, dalam melaksanakan komunikasi radio, system ini sanggup menyalurkan sinyal 2700 percakapan telepon sekaligus, tanpa saling mengganggu.Suatu kemampuan yang luar biasa yang dimiliki sistem ini dibandingkan dengan pemakaian sistem komunikasi radio biasa yang hanya dapat menyalurkan beberapa percakapan saja.

Penambahan peralatan pun relatif lebih mudah dilakukan, karena sistem ini dapat diperluas sampai 2 atau 3 kali lipat, supaya dapat pula digunakan untuk menyalurkan program televisi, baik hitam putih maupun berwarna.

Dengan demikian dapat pula menyalurkan sinyal-sinyal telegrap, teleks, faksimile dan data komputer.Di negara-negara yang sudah maju telah digunakan lebih dari dua seri (gugus – bearer) sistem gelombang mikro ini. Bila bearer pertama (main beare) beroperasi, yang lain berperan sebagai cadangan (standby bearer). Gugus cadangan ini sewaktu-waktu dapat

(9)

menyalurkan program-program televisi bila dikehendaki. Untuk mengetahui adanya gangguan atau kerusakan, sistem gelombang mikro ini benar-benar andal, karena pesawat tersebut deilenggkapi dengan sistem alarm dan lampu yang amat efektif. Dengan demikian, pengawasan dapat dilakukan dari jarak jauh (remote control).

Bila ada alarm berbunyi atau lampu menyala, dapat diketahui repeater mana atau bagian mana dari perangkat yang mengalami ganggguan (trouble). Dengan sistem alarm dan lampu yang demikian memungkinkan suatu stasiun repeater dapat diawasi dari jauh, walaupun lokasinya terpencil dari pusat keramaian, dan dapat bekerja tanpa dijaga oleh petugas (un-attended). Pengontrolan hanya dilakukan dari stasiun terminal (supervisory station). Namun demikian, dipandang dari segi keamanan gedung, dan masih kurang tersedianya sumber daya listrik dilokasi-lokasi stasiun, penjagaan suatu repeater masih diperlukan. Apalagi bila kita ingat tingkat kesadaran sebagian masyarakat kita belum bisa memadai untuk dapat memahami untuk apa pembangunan repeater itu ditempat-tempat terpencil itu. Penjagaan gedung, pagar, serta perangkat lainnya masih perlu dilindungi dan dari ancaman bahaya perusakan dan pencurian. Kiranya, kesadaran untuk memelihara apa yang telah dibangun seperti ini, harus ditingkatkan, sehingga masyarakat dapat lebih memahami betapa peran sarana stasiun gelombang mikro itu dalam mempercepat informasi.

(10)

2.3.1. Peristiwa Refraksi

Pembiasan (refraction) terjadi karena gelombang radio menjalar dengan kecepatan berbeda pada media yang berlainan. Dalam kehidupan kita sehari-hari dapat dilihat bila sebuah tongkat dicelupkan ke dalam air, bagian yang berbeda di dalam air, tampaknya seolah-olah membengkok, dibandingkan dengan bagian yang berada di luar air (udara). Di sini tongkat tersebut, berada dalam dua media yang berbeda, yaitu air dan udara. Peristiwa pembengkokan ini disebut refraksi (pembiasan).

Gambar 2.4. Pembiasan pada batas antara dua media yang berlainan

Di udara bebas (vakum) kecepatan gelombang elektromagnetik rata-rata sebesar 300.000 km/detik. Dalam media jenis lain. Bagaimana juga gelombang tersebut menjalar lebih lambat. Seperti terlihat pada gambar 2.4 diatas, hal mana gelombang lewat dari udara yang padat ke udara yang lebih renggang, sehingga terlihat arahnya berubah.

Kalau bagian gelombang yang lebih atas memasuki udara yang lebih renggang, gelombang ini mulai mengalir lebih cepat daripada bagian lapisan yang lebih bawah, meskipun gelombang itu masih berada pada lapisan udara yang padat. Terlihat bahwa lintasan gelombang seolah-oleh dibengkokkan atau dibiaskan. Bila pembiasan gelombang radio itu dianggap

(11)

melalui atmosfer yang normal, permukaan bumi dianggap padat, dan pada ketinggian yang lebih tinggi semakin titip (renggang).

Perubahan kepadatan lapisan udara di atas bumi menyebabkan gelombang radio dekat permukaan bumi menjalar lebih pelan daripada dipermukaan yang lebih atas. Akibat perbedaan kecepatan ini adalah terjadi pembengkokan arah perjalanan gelombang. Hal ini menyebabkan pula gelombang cenderung mengikuti lengkungan permukaan bumi itu sendiri.

Dalam keadaan luar biasa, atmosfer berlapis-lapis, dengan batas antara lapisannya mempunyai kerapatan (density) yang berlainan pula. Hal seperti itu menyebabkan lintasan gelombang radio berbengkok di lapisan pertama, dan kemudian naik, sehingga gelombang seakan-akan masuk kedalam suatu bagian udara yang lebih padat. Seolah-olah gelombang itu dituntun sepanjang lapisan udara, seperti halnya perjalanan gelombang mikro dalam bumbung gelombang (wave guide). Lapisan udara padat menyebabkan gelombang radio berperilaku seperti di atas disebut sebagai duct (celah, selokan).

(12)

Selokan-selokan tersebut dibentuk oleh lapisan-lapisan atmosfer bumi. Duct ini cenderung menyebabkan gelombang radio menjalar mengikuti lengkungan permukaan bumi. Adanya selokan seperti itu dapat saja menambah atau mengurangi sinyal yang diterima. Hal ini bergantung pada apakah duct itu menuntun gelombang ke arah atau menjauhkannya dari antena penerima yang akan ditujunya.

Namun, demikian selokan udara tersebut lebih sering terjadi dekat di atas tempat yang berair banyak, atau pada daearah yang temperaturnya sering berubah-ubah. Duct yang bersangkutan dapat pula menyebabkan timbulnya fading yang berpengaruh besar untuk menentun gelombang radio dengan baik di luar jalur line of sight, sehingga dapat dirasakan oleh stasiun-stasiun repeater yang jauh. Jenis interferensi ini dapat dicegah dengan mengubah frekuensi pancar pada repeater dan menempatkan stasiun repeater itu sepanjang jalur yang zig zag (berbelok-belok).

Contoh duct yang biasa terjadi dapat dilihat pada bagian Gambar 2.5 di atas.

2.3.2. Sifat Refleksi

Gelombang radio yang sangat pendek, berarti frekuensinya tinggi. Biasanya difokuskan oleh sebuah reflektor yang terbuat dari logam

berbentuk mangkok atau parabola. Dengan demikian, reflektor itu mengumpulkan semua energi ke dalam suatu sorotan sempit yang dapat

diarahkan seperti layaknya sorotan cahaya dari sebuah lampu mobil. Pemutusan energi oleh reflektor ini akan memberikan dorongan jangkauan yang lebih jauh,

(13)

sehingga daya pancar yang diperlukan jauh lebih sedikit, dibandingkan dengan antena yang tidak terarah atau yang bukan reflektor tadi.

Dengan demikian, kemampuan memantulkan gelombang mikro amat diperlukan agar dapat terpusat seperti suatu sorotan. Pemantulan seperti ini juga merupakan sumber pertama dari perubahan sinyal yang diterima, yang terjadi pada saat gelombang radio itu mengenai permukaan air atau permukaan benda lainnya. Dalam keaadaan ini, pancaran gelombang yang diterima di antena pemerima terdiri atau dua macam perambatan gelombang, yaitu berupa gelombang langsung (direct wave) dari antena pemancar dan gelombang pantul (reflected wave). Jika kedua gelombang itu mungkin saja terlambat satu sama lain, sehingga sedikit banyak akan mengurangi kekuatan sinyal yang diterima.

Bergantung pada panjangnya lintasan gelombang yang dipantulkan terhadap lintasan gelombang langsung, yang pertama mungkin sampai pada antena penerima, sefase, berlainan fase atau sebagian saja yang berbeda fase dengan gelombang langsung tadi. Walaupn keadaan permukaan pemantul amat licin, kedua gelombang ini sebenarnya tidak akan sefase, sampai pada penerima. Gelombang pantul mungkin saja agak terlambat sampainya, daripada yang lain, sehingga menyebabkan suatu fade (gangguan, kerugian) yang amat besar bagi kekuatan sinyal yang diterima.

Kerugian tersebut amat terasa bila umpamanya permukaan pemantul itu air yang tenang, tanah yang lembab atau lapisan udara panas yang titip yang terletak di atas permukaan gurun tandus di siang hari.

(14)

Idealnya, gelombang terpantul seperti ini,tidaklah dikehendaki. Perubahan kualitas bias udara yang dilewati kedua gelombang diatas menyababkan bergesernya titik pantul. Hal ini dapat mengakibatkan perubahan besar pada kekuatan sinyal yang diterima.

Tanah yang kesat, seumpama setumpuk batu karang atau daerah yang berhutan lebat, umumnya amat kuat bertindak sebagai reflektor yang baik terhadap gelombang radio. Tetapi sebaliknya komponen-komponen itu banyak menyerap energi radio atau penghambatnya, sehingga energi terebut banyak terpantul dan sedikit sekali yang mencapai antena penerima. Dengan demikian, jelas bahwa lintasan gelombang terpantul yang titik pantulnya berupa permukaan yang kesat mempunyai interferensi yang amat kecil.

2.4. Link Budget Radio Gelombang Mikro Terrestrial

2.4.1. Free Space Loss

Dalam telekomunikasi, free space loss adalah kehilangan kekuatan sinyal dari gelombang elektromagnetik yang diakibatkan dari sisi line of

sight (saling berhadapan langsung) melalui ruang ruang kosong (free space),

tanpa penghalang disekitarnya yang menyebabkan refleksi ataupun difraksi. Tidak termasuk faktor penguatan (gain) antena yang digunakan pada

transmitter (pemancar) dan receiver (penerima) ataupun loss yang disebabkan

(15)

Gambar 2.6. Link Budget

Afs = 92.4 + 20 log d + 20 log f (2.1) dimana:

Afs = Free space loss; d = jarak, dalam satuan

f = frekuensi, dalam satuan GHz.

2.4.2. Fade Margin

Fading Margin adalah perbedaan antara sinyal yang diterima pada

input receiver (penerima) dengan minimum tingkat sinyal yang ditentukan untuk beroperasi, dalam satuan dB. Fade Margin yang lebih tinggi, yang menjadikan transmisi lebih handal. Besarnya Fade Margin yang tepat diperlukan, tergantung pada keandalan transmisi yang diinginkan.

Berapa besar Fade Margin yang kita perlukan? Agar transmisi dapat berfungsi dengan baik, receiver (penerima) harus menerima fade margin di atas 0 yang berarti bahwa sinyal yang diterima sama atau lebih besar dari

(16)

pada ambang (threshold). Untuk membuat transmisi yang diandalkan, umumnya disarankan mendapatkan 25 sampai 40 dB dari fade margin.

M = Lrx - Lthresh (2.2) dimana :

Lrx = Besarnya sinyal yang diterima, dalam satuan dB; Lthresh = Besarnya ambang penerima, dalam satuan dB.

Fade Margin > Rain Fading + Multipath Fading. Rain Fading, dominan

penyebab fading pada transmisi dengan frekuensi diatas 10 GHz, sedangkan Multipath Fading dominaan penyebab fading pada transmisi dengan frekuensi dibawah 10 GHz.

2.4.3. Signal Level

Signal level atau receiver power (Lrx) didapatkan setelah

dikehahui besarnya transmitted power (Ltx), antenna gain atau penguatan antena (Gant), feeder loss (Afeeder), dan free space loss (Afs).

Lrx = Ltx + 2Gant - 2Afeeder – Afs (2.3)

2.5. Penetapan Rute

Keseluruhan faktor yang mempengaruhi perambatan gelombang radio seperti yang kita sebutkan diatas, akan meminta perhatian utama dalam menetapkan dan merekomendasikan jalur (rute) radio yang tepat.

Dalam beberapa hal, pengkajian secara visual dari peta (map

survey) dan ramalan cuaca sepanjang rute akan menentukan kemungkinan

penempatan stasiun-stasiun repeater dan tinggi tower (menara) untuk antena yang diperlukan. Disamping itu, digunakan pula profile chart untuk

(17)

menentukan lokasi (site) yang tepat dari setiap stasiun seperti yang diinginkan. Demikian pula bila perlu, dilengkapi lagi dengan mengadakan berbagai percobaan (test) lebih dahulu agar jalur yang akan digunakan itu betul-betul mendekati line of sight. Kalau map survey menunjukkan bahwa lintasan itu baik, atau sebagian melewati daratan atau tempat-tempat yang agak berawa-rawa misalnya, titik pantul gelombang yang dipancarkan ditentukan melalui

profile chart tadi.

Dalam hal ini titik refleksi ditempatkan yaitu dimana sidit gelombang pancar dibuat sama dengan sudut gelombang pantul permukaan bumi.

Jika titik refleksi itu diperoleh pada permukaan yang licin, misalnya, seperti lapangan yang rata atau tempat-tempat berair,dilakukan pergeseran atau perubahan ketinggian antenna pemancar atau penerima.

Sering pula penempatan suatu antena diancar-ancar sedemikian rupa agar tepat berada padagaris line of sight dengan antena lain, sebenarnya fading itu hanya dapat ditentukan secara pasti melalui pengalaman yang agak lama, yang mengakibatkan terjadinya perubahan kekuatan sinyal frekuensi radio yang diterima. Dalam praktek, penyelidikan terhadap fading yang bekerja dalam frekuensi di bawah 1.000 MHz menunjukkan batas-batas 0,5 sampai 1,3 dB per mil (bergantung pada kekuatan tanah) yang memberikan keandalan transmisi sebesar 99,99%. Jika dibandingkan dengan yang diperoleh sistem saluran kabel, kondisi di atas cukup memuaskan.

Dengan keandalan demikian, bila perencanaan dan penentuan rute gelombang mikro tersebut oleh yang berkepentingan dilakukan lebih matang, tentu dapat diharapkan fade itu akan terjadi kurang dari satu jam

(18)

per tahun saja.

Faktor-faktor yang mempengaruhi propagasi gelombang radio mikro yang kita kemukakan di atas masing-masing berbeda, tetapi memiliki efek yang sama terhadap kualitas transmisi dan keandalannya.

Ternyata sebagian besar penyebabnya adalah perubahan ionosfer, perubahan temperatur dan lain sebagainya. Tiap-tiap faktor yang mempengaruhi propagasi tersebut di atas tentu saja ikut menentukan perubahan kekuatan sinyal yang diterima, teristimewa dalam memperkecil pengaruh fading walaupun akibatnya sama sekali tidak mungkin dapat dihilangkan.

Dalam sistem komunikasi gelombang mikro, terputusnya jalur komunikasi dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor, misalnya dapat disebabkan oleh merosotnya nilai catuan listrik, rusaknya atau tidak berfungsinya perangkat sebagaimana mestinya, atau adanya fading berlintas banyak (multifath fading) pada saat proses propagasi sedang berlangsung.

Fading adalah semacam ganggunan atmosfer dalam perambatan gelombang

mikro di udar bebas.

Ketiga macam gangguan di atas dianggap paling serius yang dapat mengganggu kelanjutan proses komunikasi dalam sistem gelombang mikro.

Gangguan catu daya misalnya dapat diatasi dengan menggunakan sumber listrik cadangan (diesel, generator, baterai, dan sebagianya). Penyebab tidak berfungsinya perangkat, akan dapat diatasi dengan cara

(19)

menggantinya secara otomatis atau manual dengan komponen-komponen

standby (cadangan) berkualitas tingggi.

Bila gugus utama (main bearer) terganggu. Namun, gangguan terbesar sering berasal dari munculnya fading. Fading ini munculnya secara tiba-tiba tanpa dapat diketahui atau diramalkan sebelumnya, dan sukar ditangkap dengan indera. Tetapi hasil rintangannya, dapat memperkecil level sinyal penerimaan sampai jauh di bawah standar normal.

Multipath fading sering terjadi pada malam hari, dalam proses yang amat

cepat. Hal ini disebabkan oleh tidak sefasanya energi yang dipantulkan atau dibiaskan dengan energi yang langsung (direct) sampai pada antena penerima.

Masalah utama adalah bagaimana seharusnya energi gelombang mikro cukup untuk mencatu antena penerima. Fading berlintas banyak tadi akan mengurangi kekuatan sinyal hanya dalam beberapa dB saja, tetapi cukup membuat gangguan terhadap mutu penerimaan.

2.6. Efek Interferensi

2.6.1. Meminimalkan Near dan Far Interference

Istilah near interference merujuk ke konstribusi interferensi yang timbul dari pemancar dan penerima yang terletak pada site yang sama (collocation) atau di sekitarnya. Interferensi lain diistilahkan dengan far

interference.

Near interference (disebut juga dengan on-site interference) artinya

transmitter (pemancar) salah satu transmisi interferensi dengan receiver (penerima) transmisi lainnya di site yang sama. Intermodulasi adalah bentuk khas dari near

(20)

interference. Itu terjadi karena berbagai jenis proses nonlinear yang terjadi di

peralatan pemancar (transmitter) dan penerima (receiver).

Intermodulasi suatu sinyal yang dibentuk oleh penambahan sinyal

interferensi dan produk integer mereka. Gangguan intermodulasi pada umumnya tidak diharapkan untuk mempengaruhi radio link menggunakan waveguide dan antena parabola karena semakin tinggi tingkat isolasi antena untuk antena radio

link yang khas. Selain itu, intermodulasi produk, dan frekuensi sistem radio

beroperasi dalam pita frekuensi lain biasanya jatuh di luar pita frekuensi yang digunakan dalam komunikasi gelombang mikro.

Dengan mangalokasikan pita duplex yang sama (lower/upper) untuk semua pemancar (transmitter) di site yang sama, semua penerima (receiver) di site yang sama otomatis akan beroperasi dibagian lain dari pita duplex (upper/lower) dan

near interference, pada kebanyakan kasus dapat diabaikan.

Karakteristik penting lainnya yang harus dipertimbangkan ketika menghitung dampak near interference adalah kerugian alat penghubung dua antena harus sekitar 82 dB. Dalam kenyataan, hal ini akan tergantung pada jarak dan sudut antara dua antena.

(21)

Interference Gambar 2.8. Far Interference

Far interference (juga dikenal sebagai far-field interference), terjadi

ketika saat yang diterima adalah sinyal gangguan oleh sinyal yang dikirim pada kanal yang sama (co- channel interference) atau kanal yang berdekatan (adjacent-channel interference) dan yang dihasilkan oleh pemancar (transmitter) letaknya jauh dari penerima (receiver) (seperti pada gambar 2.10.). Pengaruh dari far interference adalah pertama selama kondisi fading sebagai kemerosotan tingkat ambang (threshold) penerima (receiver); yaitu sebagai penurunan dari jalannya fade margin yang hanya bergantung pada parameter jalannya.

Far interference sering menjadi faktor utama yang membatasi jumlah

jalur yang dapat diatur dalam suatu wilayah geografis. Perencanaan jaringan yang bebas interferensi (dalam hal ini, far interference) sebaiknya

(22)

pertimbangan hal-hal sebagai berikut:

Gambar 2.9. Pemisahan kanal (Channel separation)

 Pengetahuan tentang lokasi geografis dari site, tata letak, ukuran panjang lebar dan tinggi dari radio link;

 Data peralatan;

 Asignment frekuensi jaringan yang lama (existing)  Model perambatan gelombang radio yang cukup akurat.

Selama penerimaan dengan interferensi, perubahan fade margin, karena penerima yang diturunkan - asumsi bahwa perbandingan bit-error tidak berubah.

Ambang degradasi (threshold degradation) yang umumnya merupakan hasil dari dua konstribusi: hasil (total) tingkat interferensi pada penerima (receiver) dengan penerima tingkat kebisingan (noise). Biasanya threshold degradation <3 dB.

Masalah yang paling serius yang disebabkan oleh interferensi pemancar

(transmitter) terjadi ketika mengirimkan pada frekuensi yang digunakan penerima yang sesuai, menghasilkan co-channel interference.

(23)

Dalam beberapa kasus yang jarang, gangguan serius bahkan mungkin timbul ketika sinyal campur terletak di berdekatan dan kanal terpisah dari pada kanal yang di kehendaki sinyal (adjacent channel interference), tetapi masalah ini biasanya kecil kemungkinan terjadi pada jaringan gelombang mikro.

Gambar 2.10. Threshold degradation

Untuk kemampuan kanal digital untuk mentolerir interferensi tergantung pada skema demodulasi. Secara khusus, yang memerlukan skema C/I rendah untuk perbandingan bit-error tertentu dalam toleransi lain dari interferensi. Skema modulasi yang kuat, misalnya 2PSK dan 4PSK, sedangkan skema modulasi 128QAM lebih kompleks memerlukan nilai C/I yang lebih besar.

2.6.2. Jalannya Interferensi

Interferensi merupakan istilah umum untuk berbagai jenis gangguan radiasi pada sistem transmisi radio. Namun, dalam tulisan ini, hanya gangguan yang disebabkan oleh radiasi dari radio sistem yang akan dibahas. Pemerintah mengharuskan pengguna spektrum frekuensi radio untuk mengkoordinasikan rencana dan transmisi gelombang mikro yang sudah ada dengan spektrum frekuensi radio pengguna lainnya. Yaitu semacam koordinasi

(24)

yang merupakan prasyarat untuk setiap operator diajukan untuk mendapatkan lisensi penggunaan transmisi gelombang mikro.

Pemohon lisensi harus menentukan apakah dalam perencanaan pembuatan sistem transmisi gelombang mikro mengalami gangguan atau menyebabkan interferensi lain dengan perangkat transmisi yang sudah ada di lingkungan tersebut. Hasil perhitungan ini akan menunjukkan apakah ada potensi interferensi dan apakah desain kembali atau relokasi dari sistem transmisi yang direncanakan masih diperlukan. Disamping itu,banyak Negara yang memberlakukan persyaratan tertentu untuk pemasangan transmisi gelombang mikro.

Perencanaan kanal, maksimum daya pancar pada port antena dan persyaratan pengalokasian kanal bisa berbeda dari satu Negara dengan negara lainnya.Memperhitungkan hal dari satu pemancar (transmitter) dan satu penerim (receiver) (yang dapat digabungkan), interferensi dapat merambat melalui jalur sebagai berikut (seperti pada gambar 2.7):

(25)

1. Dari unit rangkaian dalam ruangan satu dengan unit lainnya, antara komponen rangkaian dalam kabinet yang sama, atau diantara unit lainya di ruangan telekomunikasi

2. Dari antena pemancar (transmitter) ke rangkaian dalam penerima (receiver).

3. Dari antena pemancar (transmitter) ke antena penerima (receiver).

4. Dari rangkaian dalam ruangan pemancar (transmitter) ke antena penerima (receiver).

5. Dari sinyal palsu (spurious) dalam sistem catu daya.

Hal ini diasumsikan bahwa, jika satu daerah berikut aturan dan peraturan dan melakukan instalasi sesuai prosedur, interferensi jalur 1, 2, 4, dan 5 akan dihapuskan. Pada asumsi bahwa hanya interferensi antara antena (kasus 3) sistem transmisi harus dipertimbangkan.

(26)

2.7. Perencanaan Frekuensi (Frequency Planning)

2.7.1. Channel Spacing

Pengalokasian Channel Spacing (pengaturan kanal frekuensi), yang diatur oleh International Telecommunication Union (ITU-R), frekuensi radio gelombang mikro dibagi ke dalam kanal yang berbeda dengan sesuai dengan besarnya frekuensi bandwidth, Pengaturan kanal frekuensi ini adalah agar tidak

menimbulkan interferensi antar transmisi yang sedang beoperasi.

Gambar 2.12. Pengalokasian kanal frekuensi

ITU-R yang merekomendasikan susunan kanal frekuensi menurut pola homogen diberikana sebagai berikut:

(27)

 Alternatif;

 Co-channel band reuse;

 Interleave band reuse;

 Efek dari sinyal interferensi dapat dilihat dari perubahan yang terjadi dari kinerja (performance) dimana hasilnya dalam bentuk Erroed

Second (ES), Severely Errored Second (SES), dan Unavailable Second (UAS) yang diterima oleh RF input power ke penerima

(receiver).

(28)

Dalam hal ini, administrasi-administrasi hendaknya berpedoman pada rekomendasi-rekomendasi ITU-R yang terakhir dan relevan. Sebelum

memberikan wewenang untuk pengujian-pengujian dan percobaan-percobaan pada setiap stasiun, dengan maksud untuk menghindari interferensi yang merugikan, setiap administrasi harus menentukan pengambilan segala tindakan pencegahan yang mungkin, seperti pemilihan frekuensi dan waktu serta

pengurangannya atau bila mungkin penekanan radiasi.

Setiap inteferensi yang merugikan yang ditimbulkan dari

pengujian-pengujian dan percobaan-percobaan tersebut harus ditiadakan dengan penundaan paling sedikit mungkin. Sinyal-sinyal untuk pengujian dan penyesuaian harus dipilih sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kerancuan mengenai suatu sinyal, singkatan dan sebagainya, yang mempunyai suatu pengertian khusus yang ditentukan menurut Peraturan Radio ini atau menurut Kode-kode Internasional dari Sinyal-sinyal.

Warn a Tabel 1 Penggolongan RxLev. GolonganWarna Rentang Nilai (dBm) Hijau Tua - 75 s/d 0 Hijau Muda - 85 s/d – 75 Kuning - 95 s/d – 85 Biru - 105 s/d - 95 Merah - 120 s/d -105

Perbandingan Proteksi (R.F.): Harga minimum dari perbandingan antara

sinyal yang dikehendaki dengan yang tidak dikehendaki pada input pesawat penerima, biasanya dinyatakan dalam desibel, yang ditetapkan untuk keadaan

(29)

tertentu sedemikian rupa sehingga mutu penerimaan yang disyaratkan dari sinyal yang dikehendaki masih dapat diperoleh pada output dari pesawat penerima. Di Wilayah 3, pita 7 350-7 450 kHz dialokasikan, sampai 29 Maret 2009, untuk dinas tetap dengan dasar penggunaan primer dan untuk dinas bergerak darat dengan dasar penggunaan sekunder. Setelah 29 Maret 2009, frekuensi-frekuensi di pita ini dapat digunakan untuk dinas-dinas tersebut di atas, untuk melakukan komunikasi hanya di dalam perbatasan negara di mana stasiun itu berada, dengan syarat tidak menimbulkan interferensi yang merugikan terhadap dinas siaran. Ketika menggunakan frekuensi-frekuensi tersebut untuk dinasdinas tersebut di atas, administrasi diminta untuk menggunakan daya minimum yang dibutuhkan dan mempertimbangkan penggunaan frekuensi musiman oleh dinas siaran yang dipublikasikan sesuai dengan Peraturan Radio

Gambar 2.14. Pengukuran performance dengan iManager T2000 Web LCT Hal-hal yang dilakukan untuk mengurangi interferensi pada bandwidth yang lebar, antara lain :

(30)

 Mengalokasikan kanal sub-band dengan benar;

 Mengganti polarisasi antena;

 Menggunakan frekuensi lain dengan indeks (sub-band) yang lain;

 Menurunkan posisi antena / memindahkan posisi site.

2.7.2. Teknik Modulasi

Teknik modulasi yang digunakan pada transmisi gelombang mikro terrestrial point - to-point dapat dilihat pada gambar 2.14. dibawah ini.

Gambar

Gambar 2.4. Pembiasan pada batas antara dua media yang berlainan
Gambar 2.9. Pemisahan kanal (Channel separation)
Gambar 2.10. Threshold degradation
Gambar 2.13. Alokasi frekuensi system komunikasi bergerak
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sesuai dengan hasil yang didapat dari penyesuai parameter pada tahap kalibrasi dengan nilai GW_Delay selama 178 hari 4 jam 48 menit yang menunjukkan bahwa untuk

tanduk. Frase berada di ujung tanduk pada kalimat di atas menyatakan bahwa sesuatu itu berada dalam situasi yang kritis atau keadaan genting, ataupun dalam keadaan bahaya.

Metode menyuntikkan nutrien berupa cairan ke dalam amnion embrio ( in ovo feeding) , menyebabkan embrio tersebut secara alami mengkonsumsi nutrien tersebut secara oral sebelum

Untuk umpan beracun (baiting gel) yang akan diteliti adalah BTX berbahan aktif imidakloprid dan MFF berbahan aktif fipronil terhadap hasil rearing kecoa amerika di

Nike yang merupakan merek besar dan terkenal menempati posisi pertama dalam top brand index sepatu olahraga dari beberapa merek ternama di atas, karena Nike memiliki

untuk mendesain web. Dari latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MACROMEDIA FLASH

Arifuddin Tompo (pPI-01) Anang Hari Kristanto (pBI-01) Gusti Ngurah Permana (pBT-01) Hari Nugroho Setiawan (pPI-02) Budi Iskandar Prisantosa (pBI-02) Indun Dewi Puspita (pBT-02).

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Ketua Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah Provinsi Daerah Khusus