• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM PENGADILAN AGAMA KELAS I A PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III GAMBARAN UMUM PENGADILAN AGAMA KELAS I A PADANG"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

51 BAB III

GAMBARAN UMUM PENGADILAN AGAMA KELAS I A PADANG A. Sejarah Pengadilan Agama Kelas I A Padang

Dasar Hukum Pembentukan Pengadilan Agama Padang:

1. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1957 tentang Pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah di Luar Jawa dan Madura;

2. Penetapan Menteri Agama Nomor 58 Tahun 1957 tentang Pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah di Sumatera.

Pengadilan Agama Padang berdiri sejalan dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1957 tentang Pembentukan Peradilan Agama di Luar Jawa dan Madura yang sebelumnya dikenal dengan nama Mahkamah Syar’iyah. Mahkamah Syar’iyah telah ada berdasarkan Stb.1882 No.152 jo. Stb.1937 No.116 dan 610 yang mengatur tentang Peradilan Agama di Jawa dan Madura. Sementara untuk daerah Kalimantan diatur dengan S.1937 No.638 dan 639. Untuk daerah luar Jawa dan Madura berdasarkan beberapa peraturan yang berbeda-beda dan tersendiri, baik berdasarkan pada peraturan kekuasaan militer Belanda dahulu, peraturan-peraturan presiden, undang-undang biaya, keputusan Wali Negara Sumatera Timur serta peraturan swapraja dan adat. (Pengadilan Agama Padang 2016)

Ketika pengadilan-pengadilan swapraja dan adat dihapuskan, kedudukan dan kelangsungan peradilan agama diragukan secara hukum. Oleh karena tidak adanya kepastian hukum tersebut, pemerintah merasa perlu untuk mengadakan peraturan pemerintah yang mengatur pembentukan Pengadilan Agama untuk luar Jawa dan Madura (termasuk Padang). Hal ini kemudian direalisasikan dengan keluarnya PP Nomor 45 Tahun 1957 tentang pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah di Luar Jawa dan Madura. Kemudian diatur lebih lanjut dalam Penetapan Menteri Agama No. 58 Tahun 1957 tentang pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah di Sumatera.

(2)

Dalam Penetapan Menteri Agama No. 58 Tahun 1957 tersebut diperintahkan pembentukan Pengadilan Agama untuk wilayah Sumatera Barat, termasuk di dalamnya Pengadilan Agama Padang. Di samping itu dalam penetapan Menteri Agama tersebut dinyatakan secara tegas bahwa wilayah hukum dari Pengadilan Agama adalah sama dengan wilayah hukum Pengadilan Negeri. (Pengadilan Agama Padang 2016)

Pengadilan Agama Padang diresmikan pada tanggal 18 Oktober 1959 di Jalan Jati Padang oleh K.H Moesleh yang ditunjuk oleh Menteri. Ketua Pengadilan Agama Ketika itu adalah Silahidin Yunus Datuk Hindun Sutan. Pada tahun 1960 kantor Pengadilan Agama Padang pindah ke rumah seorang yang berkebangsaan Taiwan bernama Pohok, namun tidak lama berselang pindah lagi ke Jalan Jati. Pengadilan Agama Padang pindah lagi ke Jalan Kuini No. 79 B Padang (Komplek Kanwil Depag Sumatera Barat). Tahun 1991 pindah ke Komplek Masjid Nurul Iman Jl. Thamrin Padang di gedung bekas Pengadilan Tinggi Agama Padang. Pada tanggal 24 April 1998 pindah ke Jl. Durian Tarung No. 1 Padang sampai sekarang. (Pengadilan Agama Padang) B. Struktur Organisasi Pengadilan Agama Kelas I A Padang

Struktur organisasi Pengadilan Agama Kelas I A Padang (Data pengadilan Agama Padang 2015)

No Nama NIP Jabatan

1 Drs.H.M.YUSUF, SH.,

MH 196112311992031006 Ketua PA. Padang/Hakim Utama Muda 2. Drs. HUSNIADI 195903121989031002 Wakil Ketua PA.

Padang/Hakim Utama Muda 3 Drs. Salwi,SH 195011281980031001 Hakim Madya Utama

4 Drs. Miatris 195603031981031008 Hakim Madya Utama 5 Drs. Januar 194907021976082001 Hakim Madya Utama 6 Drs. H. Syafruddin

Ahmad 195201051983021001 Hakim Madya Muda 7 Drs. H. Zainal Arifin,

SH, MA

195507121987031001 Hakim Madya Muda 8 Drs. Sabri Syukur MHI 195501101983021001 Hakim Madya Utama 9 Drs. H. Dasril,SH.,MH 195409031982032002 Hakim Madya Utama

(3)

10 Drs. H. Zuarlis Saleh,

SH 195204141983021001 Hakim Madya Muda 11 Drs. H. M. Zakaria, MH 196501231989031001 Hakim Madya Muda 12 Dra. Nurlen Afriza 196504151992032006 Hakim Madya Muda 13 Drs. Ahmad Anshary,

SH, MA 195612231983031003 Hakim Madya Muda 14 Drs. Adwar, SH 195912311992031022 Hakim Madya Muda 15 Dra. Hj. Khaeriyah, SH 196406271992032003 Hakim Madya Muda 16 Dra. Hj. Neliati, SH 195502131982032002 Hakim Madya Muda 17 Drs. H. M. Afnan

Damradli 195909221991031001 Hakim Madya Utama 18 Drs. Suhaimi 196407071994031008 Hakim Madya Muda 19 Dra. Nurhaida, M.Ag 195006211984031001 Hakim Madya Muda 20 Drs. Aprizal 196206261993031001 Panitera/Sekretaris 21 Hj. Ismiati AM,BA 195410101983031009 Wakil Panitera 22 Hendri B, SHI 196609091989031002 Wakil Sekretaris 23 Zulfadhli, SH 197501302000121003 Kasubag Umum 24 Oga Pertissa, SE 198104202006041002 Kasubag Keuangan 25 Jasril, SH 196912222003121002 Kasubag Kepegawaian 26 Yelti Mulfi, BA 195909241986032004 Panitera Muda Hukum 27 Drs. Daryamurni 196008281987031002 Panitera Muda Gugatan 28 Yuskal, SH 195808101980031009 Panitera Muda Permohonan C. Kewenangan Absolut dan Relatif Pengadilan Agama Kelas I A Padang

Adapun Kompetensi Pengadilan Agama dapat dirumuskan sebagai: Kekuasaan negara dalam menerima, memeriksa, mengadili dan memutuskan, dan menyelesaikan perkara-perkara tertentu antara orang-orang yang beragama Islam untuk mengakkan hukum dan keadilan (Pasal 2 UU No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama). Maksud kekuasaan negara adalah kekuasaan kehakiman. Sedangkan yang dimaksud dengan perkara-perkara tertentu adalah perkara-perkara yang disebut dalam undang-undang tentang peradilan Agama. Sedangkan Pengadilan Agama (PA) adalah pengadilan tingkat pertama dalam lingkungan Pengadilan Agama. Hal itu menunjukkan bahwa Pengadilan Agama adalah

(4)

satuan (unit) penyelenggara Peradilan Agama. Adapun satuan penyelanggara peradilan pada tingkat kedua (banding) adalah Pengadilan Tinggi Agama (PTA), sedangkan pada tingkat kasasi adalah Mahkamah Agung (MA). Dengan kata lain, bahwa pengadilan adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman untuk menegakkan hukum dan keadilan (UU No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama Pasal 1).

Penyelenggaraan kekuasaan kehakiman (judicial power) di Indonesia dilaksanakan oleh Mahkamah Konstitusi dan pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum termasuk peradilan khusus di bawahnya, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara yang berpuncak pada Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Negara Tertinggi (UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 2).

Pengadilan pada keempat lingkungan peradilan tersebut memiliki cakupan dan batasan pemberian kekuasaan untuk mengadili (attributi van rechtsmacht) itu, ditentukan oleh bidang yuridiksi yang dilimpahkan undang-undang kepadanya.

Pasal 4 Undang-undang N0. 7 Tahun 1989 berbunyi:

1. Pengadilan Agama berkedudukan di Kotamadya atau di Ibu kota Kabupaten, dan daerah hukumnya meliputi wilayah Kotamadya atau Kabupaten.

2. Pengadilan Tingga Agama berkedudukan di Ibukota Provinsi, dan daerah hukumnya meliputi wilayah Provinsi.

Berkenaan dengan hal itu, terdapat atribusi cakupan dan batsan kekuasaan Peradilan Agama. Pengadilan Agama merupakan pengadilan yang berkedudukan di Kota atau kabupaten dan memliki kewenangan hukum untuk mengadili perkara yang ada di wilayah Kota atau Kabupaten dimana pengadilan itu berada. Sedangkan Pengadilan Tinggi Agama adalah pengadilan yang berkedudukan di wilayah Ibukota Provinsi yang memiliki kewenangan sebagai pengadilan tingkat banding yang membawahi pengadilan agama-pengadilan agama yang berada di wilayah provinsi

(5)

tersebut untuk memeriksa perkara banding dari pengadilan agama yang ada di bawahnya.

Kekuasaan pengadilan pada masing-masing lingkungan terdiri atas kekuasaan relative (relative competentie) dan kekuasaan mutlak (absolute competentie). Kekuasaan relative berhubungan dengan daerah hukum suatu pengadilan, baik pengadilan tingkat pertama maupun pengadilan tingkat banding. Artinya cakupan dan batasan kekuasaan relatif pangadilan ialah meliputi daerah hukumnya berdasarkan peraturan perundang-undangan. (Bisri 2000, 218)

1. Kewenangan Absolut

Soedikno Mertokusumo, di dalam bukunya: Hukum Acara Perdata Indonesia menjelaskan kompetensi absolut atau kewenangna mutlak pengadilan yaitu wewenang badan pengadilan dalam memeriksa jenis perkara tertentu yang secara mutlak tidak dapat di periksa oleh badan pengadilan dalam lingkungan pengadilan lain. Kompetensi absolut atau kewenangan mutlak ini memberi jawaban atas pertanyaan : apakah peradilan tertentu itu pada umumnya berwenang memeriksa perkara tertentu yang diajukan kepadanya dan bukan wewenang pengadilan yang lain. Kompetensi absolut atau wewenag mutlak disebut juga atribusi kekuasaan kehakiman. (Mertokusumo 2008, 127)

Dengan kata lain yang dimaksud dengan kompetensi absolut adalah kekuasaan pengadilan yang berhubungan dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau tingkatan pengadilan, dalam perbedaannya dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau tingkatan pengadilan lainnya, misalnya Pengadilan Agama berkuasa atas perkara perkawinan bagi mereka yang beragam Islam sedangkan yang selain Islam menjadi kekuasaan Peradilan Umum. (A Rasyid 2006, 27)

Batas-batas kewenangan mengadili antar lingkungan Peradilan tersebutlah yang dimaksud dengan “kompetensi absolut”. Artinya apa yang telah ditegaskan menjadi porsi setiap lingkungan peradilan, secara mutlak menjadi kewenangannya untuk memeriksa dan memutus perkaranya.

(6)

Lingkungan peradilan lain secara mutlak tidak berwenang untuk mengadilinya. (Harahap 2007, 138)

Kompetensi absolut pengadilan dalam lingkungan Pengadilan Agama diatur dalam Pasal 2 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, dimana dibangun atas azaz Personalitas Keislaman, yang mana dalam Pasal 2 disebutkan bahwa Peradilan Agama merupakan salah satu pelaksanaan kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara-perkara tertentu.

Kekuasaan absolut Pengadilan Agama Padang adalah berdasarkan yang diatur dalam pasal 49 Undang-undang No. 50 tahun 2009 tentang perubahan kedua Undang-undang No. 7 tahun1989 tentang Peradilan Agama yaitu: perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah dan ekonomi syari’ah. (Profil Pengadilan Agama Padang)

2. Kewenangan Relatif

Kewenangan relatif adalah untuk menjawab pertanyaan kepada pangadilan manakah gugatan atau tuntutan harus diajukan. Kekuasaan relatif diartikan sebagai kekuasaan pengadilan yang satu jenis dan satu tingkatan, dalam perbedaanya dengan kekuasaan pengadilan yang sama jenis dan sama tingkatan lainnya (A Rasyid 2007, 25). Misalnya antara Pengadilan Agama Padang dengan Pengadilan Agama Pariaman. Kompetensi relatif ini pada dasarnya berkaitan dengan wilayah hukum suatu pengadilan.

Pasal UU No. 7 Tahun 1989 ayat (1) menyebutkan: Pengadilan Agama berkedudukan di Kotamdya atau di ibukota Kabupaten dan penjelasan Pasal 4 ayat (1) diterangkan bahwa tidak tertutup kemungkinan adanya pengecualian. Oleh karena Hukum Acara Perdata yang dinyatakan berlaku bagi Pengadilan dalam lingkungan Pengadilan Agama adalah Hukun Acara Perdata yang berlaku bagi Peradilan Umum (Pengadilan Negeri) yaitu HIR/RBG, maka pada dasarnya ketentuan-ketentuan di dalam HIR/RBG, yang mengatur ke pangadilan dimana

(7)

gugatan harus diajukan, berlaku juga bagi Pengadilan Agama, termasuk kewenangan Pengadilan Tinggi untuk memutuskan untuk tingkat pertama dan terakhir dalam hal terjadi sengketa wewenang antar pengadilan tingkat pertama yang menyangkut kewenangang relatif.

Kekuasaan relatif Pengadilan Agama Padang meliputi 11 Kecamatan (Data Pengadilan Agama Padang) yaitu sebagai berikut:

No Kecamatan Kelurahan

1 Bungus Teluk Kabung 1 Bungus Barat 2 Bungus Timur 3 Bungus Selatan 4 Teluk Kabung Utara 5 Teluk Kabung Tengah 6 Teluk Kabung Selatan

2 Nanggalo 1 Surau Gadang

2 Kampung Lapai 3 Kampung Olo 4 Gurun Laweh 5 Kurao Pagang

6 Tabiang Banda Gadang

3 Pauh 1 Cupak Tangah

2 Koto Lua 3 Pisang 4 Piai Tangah 5 Kapalo Koto

(8)

6 Lambuang Bukik

7 Binuang Kampuang Dalam 8 Limau Manis Selatan 9 Limau Manis

4 Lubuk Kilangan 1 Bandar Buat 2 Tarantang 3 Baringin 4 Padang Besi 5 Indarung 6 Batu Gadang 7 Koto Lalang 5 Lubuk Begalung 1 Cengkeh Nan XX

2 Kampung Baru 3 Lubuk Begalung 4 Tanjung Aur 5 Gurun Laweh 6 Koto Baru 7 Banuaran

8 Parak Laweh Pulau Aia 9 Pampangan

10 Tanah Sirah Piai 11 Tanjung Saba Pitameh

(9)

12 Batung Tabu 13 Kampung Jua

14 Pegambiran/Ampalu 15 Gates

6 Kuranji 1 Pasar Ambacang

2 Anduriang 3 Lubuk Lintah 4 Ampang 5 Kalumbuk 6 Korong Gadang 7 Kuranji 8 Gunuang Sariak 9 Saungai Sapiah 7 Padang Utara 1 Air Tawar Timur

2 Air Tawar Barat 3 Ulak Karang Utara 4 Ulak Karang Selatan 5 Lolong Belanti 6 Gunung Pangilun 7 Alai Parak Kopi 8 Padang Selatan 1 Belakang Pondok

(10)

3 Ranau Parak Rumbio 4 Pasa Gadang 5 Batang Arau 6 Sebarang Palinggam 7 Sebarang Padang 8 Mata Air 9 Rawang 10 Teluk Bayur 11 Air Manis 12 Gado-gado

9 Padang Timur 1 Jati

2 Jati Baru 3 Sawahan

4 Sawahan Timur 5 Simpang Haru 6 Andalas

7 Gantiang Parak Gadang 8 Parak Gadang Timur 9 Kubu Marapalam

10 Kubu Dalam Parak Karakah 10 Padang Barat 1 Flamboyan Baru

(11)

3 Ujung Gurun 4 Purus 5 Padang Pasir 6 Olo 7 Kampung Jao 8 Belakang Tangsi 9 Kampung Pondok 10 Berok Nipah

11 Koto Tangah 1 Balai Gadang

2 Lubuk Minturun 3 Aia Pacah

4 Dadok Tuggul Hitam 5 Koto Panjang Ikur 6 Koto

7 Batipuh Panjang 8 Koto Pulai

9 Batang Kabung Gantiang 10 Bungo Pasang

11 Lubuk Buaya 12 Padang Sarai 13 Parupuk Tabiang 14 Pasia Nan Tigo

(12)

Adapun perkara-perkara kewarisan yang dicabut di Pengadilan Agama Kelas IA Padang (Data Pengadilan Agama Padang) yaitu sebagai berikut :

No Tahun Jumlah Perkara Yang masuk

Jumlah Perkara Yang dicabut

1 2012 14 Perkara 4 Dicabut

2 2013 21 Perkara 4 Dicabut

3 2015 2 Perkara _

4 2016 2 Perkara 1 Dicabut

Berdasarkan tabel di atas bahwa perkara kewarisan yang dicabut di Pangadilan Agama Kelas IA Padang dari Tahun 2012 hingga 2016 lebih sedikit bila dibandingkan pada Tahun 2014.

Referensi

Dokumen terkait

Menyerahkan berkas perkara pidana yang telah diregister dan dilengkapi dengan formulir penetapan penunjukan Majelis Hakim kepada Wakil Panitera untuk diserahkan

Hendaknya dilakukan pemeriksaan serta peninjauan terhadap keefektifan pasal ini serta hendaknya agar segera dibentuk peraturan guna yang terpenting Pengadilan Agama perlu

Berkas perkara banding diterima oleh petugas pelayanan pendaftaran perkara pada PTSP Pengadilan Tinggi Agama Padang dan diteruskan kepada subbagian tata usaha dan

Menurut hakim Pengadilan Agama Kabupaten Malang dengan adanya program sidang keliling perkara itsbat nikah inilah maka akan tercipta asas pengadilan agama yaitu

154 tahun 1991 pada pasal 47 ayat (1) Buku 1 Hukum Perkawinan; Maka dari itu Penggugat mengajukan permohonan kepada pengadilan agama malang yang diwakilkan

Selama tahun 2017, Pengadilan Agama Padang Kelas IA telah mengeluarkan berbagai macam keputusan yang bertujuan untuk mengelola perubahan-perubahan yang terjadi dalam praktek

Implikasi dari putusan Pengadilan Agama Mojokerto tentang hak asuh anak dengan Verstek yang dalam ketetapan putusannya yang menetapkan bahwa hakim menolak seluruh

4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, “Penyelenggaraan kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam